Você está na página 1de 1

Faktor penyebab dinasti politik:

Motif yang paling kita sering temukan dalam dinasti politik adalah untuk memperkokoh
kekuasaan keluarga bukan untuk membela kepentingan rakyat. Politik dinasti mengandaikan
kepemimpinan berada pada tangan segelintir orang yang masih mempunyai hubungan
kekerabatan . Dinasti politik ditandai dengan tersebarnya jejaring kekuasaan melalui para
pendahulunya dengan cara penunjukan anak, istri, paman, atau anggota keluarga lainnya untuk
memegang jabatan-jabatan strategis dalam lembaga politik.

Biasanya ini adalah cara agar sanak famili tersebut bisa dengan mudah meraih jabatan publik
baik sebagai bupati/wakil bupati (eksekutif) maupun sebagai anggota perwakilan Rakyat/DPRD.
Dalam lembaga politik seperti partai mereka yang masih mempunyai hubungan dekat dengan
keluarga acap kali mendapatkan keistimewaan (privilege) untuk menempati pelbagai posisi
penting dalam puncak hirarki kelembagaan organisasi. Di sisi lain ada juga praktek dinasti
politik dengan melakukan pemecahan kongsi kekuatan politik dalam keluarga.

Biasanya hal ini ditunjukan dengan salah satu anggota keluarga bergabung dengan partai lain
untuk memperebutkan posisi politik seperti Bupati, Gubernur, bahkan Presiden sekali pun. Jadi,
dalam satu keluarga bisa ada persaingan sebagaimana diawal cerita tulisan ini. Di dalam keluarga
mereka bersatu. Akan tetapi di luar mereka saling berseberangan.

Tak bisa dipungkiri praktik politik dinasti dalam banyak kasus membahayakan demokrasi.
Politik dinasti membuka ruang yang cukup menganga akan potensi menancapnya pengaruh
politik untuk kepentingan keluarga. Dinasti politik bisa menjadi absolut manakala ruang kritik
kemudian tertutup rapat sehingga mekanisme keputusan dan regulasi yang dibuat cenderung
ekslusif.

Dalam praktik kenegaraan kondisi ini pada gilirannya membuat negara menjadi kaku dan otoriter
sebab arah pemerintahan hanya bertumpu pada kepentingan keluarga dan kroni-kroninya. Di sisi
lain politik dinasti semakin menjadi ancaman manakala seseorang yang menerima mandat
kekuasaan dari keluarganya ternyata tidak mempunyai kompetensi yang memadai.