Você está na página 1de 8

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Tasawwuf adalah salah satu khasanah intelektual muslim yang


kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan khasanah pemikiran dan
pandangannya, dibidang tasawwuf itu kemudian menemukan momentum
pengembangannya dalam sejarah, yang antara lain ditandai oleh
munculnya sejumlah ulama’ besar dalam era tasawwuf.

Di samping tasawwuf akhlaqi yang membahas moralitas yang


terukur, seperti kejujuran, keikhlasan, dan perkataan yang benar, ada juga
tasawwuf irfani yang tingkatannya lebih tinggi lagi. Ini tidak hanya
membahas soal keikhlasan dalam hubungan antar manuisa, tetapi lebih
jauh menetapkan bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya tidak
pernah kita lakukan. Ini tingakatan ikhlas yang paling tinggi. Kita tidak
ingin dipuji, atau jika dipujipun, tidak pernah berubah, dan bila di caci-maki
pun tak pernah berubah. Semuanya adalah untuk Allah.

Dzu al-Nun al-Mishri merupakan salah satu tokoh sufi yang termasuk
dalam aliran tasawwuf irfani. Dalam bidang tasawwuf beliau di anggap
penting, karena beliau adalah orang pertama di Mesir yang membahas
masalah maqamat dan ahwal para wali. Serta memahami definisi tauhid
dengan pengertian yang bercorak tasawwuf.

2. Rumusan Masalah

1. Siapakah Dzu al-Nun al-Mishri itu ?

2. Bagaimana pemikiran tasawwuf menurut Dzu al-Nun Al-Mishri ?

3. Apa corak pemikiran Dzu al-Nun Al-Mishri ?

4. Apa saja karya Dzu al-Nun Al-Mishri itu ?

1
Demikian rumusan masalah yang dapat saya tulis, adapun
tujuannya terdapat pada bab terakhir pembahasan makalah.

BAB II

PEMBAHASAN

3. Biografi

Dzu al-Nun Al-Mishri nama lengkapnya adalah Abu al-Faidl Tsauban


bin Ibrahim Dzu al-Nun al-Mishri al-Akhmami Qibthy. Beliau dilahirkan di
Ikhmim, dataran tinggi Mesir tahun 180 H/796 M dan meninggal pada tahun
246 H/856 M.1 Julukan Dzu al-Nun al-Mishri diberikan kepada beliau
sehubungan dengan berbagai kekeramatan yang Allah berikan kepada
beliau. Salah satunya beliau pernah mengeluarkan seorang anak dari perut
buaya di sungai Nil dalam keadaan selamat. Beliau disebut-sebut oleh orang
banyak sebagai sufi tersohor dan terkemuka diantara sufi-sufi yang lain
pada abad ke-3 Hijriyah.

Asal mula al-Mishri tidak banyak diketahui, tetapi menurut riwayat


hidup para sufi beliau dikenal sebagai seorang sufi yang ilmunya luas,
rendah hati, dan berbudi pekerti yang baik. Dalam perjalanan hidupnya
beliau berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Ia pernah
menjelajahi beberapa daerah Mesir, mengunjungi Bait al-Maqdis, Baghdad,
Makkah, Hijaz, Syiria, pegunungan Lebanon, Anthokiah, dan lembah
Kan’an.2 Hal ini yang menyebabkan beliau memperoleh banyak
pengalaman.

Beliau hidup pada masa munculnya sejumlah ulama terkemuka


dalam bidang ilmu fiqih, ilmu hadits, dan guru sufi sehingga dapat
berhubungan dan mengambil pelajaran dari mereka. Al-Mishri pernah
mengikuti pengajian Ahmad bin Hanbal. Ia mengambil riwayat hadits dari
Malik, La’its, dan lain-lain. Adapun yang pernah mengambil riwayat darinya,
antara lain Al-Hasan bin Mush’ibh An-Nakha’iy. Gurunya dalam bidang

1. Rosihon Anwar, Akhlak tasawuf, Bandung: pustaka setia. 2009, Hlm. 144
2. Ibid.

2
tasawwuf adalah Syaqran al-‘Abd atau Israfil al-Maghribiy.3 Hal ini
memungkinkan bagi beliau untuk menjadi seorang yang alim, baik dalam
ilmu syari’at maupun tasawuf.

Pandangan hidupnya yang cukup sensitif barangkali yang


menyebabkan banyak yang menetangnya. Tidak sampai disitu, bahkan para
fuqaha Mesir mengadukannya kepada Khalifah al-Mutawakkil yang
menuduhnya sebagai orang yang zindiq.4 Namun pada akhirnya ia
dibebaskan dengan penuh penghormatan.

1. Pemikiran Taswuf

Dzu al-Nun al-Misri memiliki sistematika sendiri tentang jalan


menuju tingkat ma’rifat. Dari teks ajarannya, Abdul Halim Mahmud
menggambarkan sistematika Al-Mishri sebagai berikut:

1. Ketika ditanya tentang siapa sebenarnya orang bodoh itu, Al-Mishri


menjawab, “orang yang tidak mengenal jalan menuju Allah dan tidak
ada usaha untuk mengenal-Nya.”

2. Al- Mishri mengatakan bahwa jalan menuju Allah itu ada dua macam,
yaitu

a. Thariq al-inabah: jalan yang harus dimulai dengan cara yang ikhlas
dan benar.

b. Thariq al-ithiba’:jalan yang tidak mensyaratkan apapun kecuali


kepada Allah semata.

3. Beliau juga menyatakan bahwa manusia terdiri atas dua macam, yaitu:

a. Darij: orang yang berjalan menuju iman

b. Wasil:orang yang berjalan (melayang) di atas kekuatan ma’rifat.5

3. Ibid.

4. Drs.Mustofa H.A, Akhlak tasawuf, Bandung: pustaka setia 1997, Hlm. 222
5. Rosihon Anwar, Akhlak tasawuf, Bandung: pustaka setia. 2009, Hlm. 148

3
Menurut pengalaman beliau, sebelum sampai pada maqam ma’rifat,
Al-Mishri melihat Tuhan melalui tanda-tanda kebesarannya yang terdapat di
alam semesta. Suatu ungkapan putisnya yang menyangkut hal ini adalah:
“Ya Rabbi, aku mngenal-Mu melalui bukti-bukti karya-Mu dan tindakan-Mu.
Tolonglah aku, Ya Rabbi, dalam mencari ridlo-Mu dengan ridloku, dengan
semangat Engkau dalam kecintaan-Mu, dengan kesentosaan, dan niat
teguh.”6 Dan ketika ditanya bagaimana cara memperoleh ma’rifat, al-Mishri
menjawab, “Aku mengenal Tuhan dangan (bantuan) Tuhan, kalau bukan
karena bantuan-Nya, aku tidak mungkin mengenal-Nya.(‘Araftu Rabbi bi
Rabbi wa laula Rabbi lamma ‘araftu Rabbi)”

Ungkapan di atas menunjukkan bahwa ma’rifat tidak diperoleh


brgitu saja, tetapi merupakan pemberian Tuhan, ni’mat dan rahmat-Nya.

Pandangan al-Mishri tentang maqamat dikemukakan pada beberapa


hal saja, yaitu:

- at-taubah - at-tawakkal

- ash-shabar - ar-ridha

Berkenaan dengan ahwal, al-Mishri menjadikan mahabbah (cinta


kepada Tuhan) sebagai urutan pertama dari empat ruang lingkup
pembahasan tentang tasawuf. Sebab, tanda-tanda orang yang mencintai
Allah adalah mengikuti kekasih-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW. dalam
akhlak, perbuatan, segala perintah dan sunnahnya. Artinya, orang-orang
yang mencintai Allah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Rasul,
tidak mengabaikan syari’at.

Al-Mishri adalah pelopor paham ma’rifat. Penilaian ini sangatlah


tepat karena berdasarkan riwayat Al-Qathti dan Al-mas’udi – yang kemudian
di analisis Nicholson - dan Abd. Al-Qadir dalam Falsafah Ash-Shufiyyah fi Al-
Islam, Al-Mishri berhasil memperkenalkan corak baru tentang ma’rifat dalam
bidang sufisme Islam, yaitu:

6. Ibid.

4
1. Beliau membedakan antara:

A. Ma’rifat sufiyyah: pendekatan yang biasa digunakan oleh para sufi


melalui hati

B. Ma’rifat aqliyyah: pendekatan yang biasa digunakan para teolog


melalui akal

2. Menurut al-Mishri, ma’rifat sebenarnya adalah musyahadah qalbiyyah


(penyaksian hati) sebab ma’rifat merupakan fitrah dalam hati manusia
sejak azali.

3. Teori-teori ma’rifat Al-Mishri merupakan gnosisme Neo-platonik. Tori-


teorinya kemudian dianggap sebagai jembatan menuju teori-teori
wahdat asy-syuhud dan ittihad. Ia pun dipandang sebagai orang yang
pertama kali memasukkan unsur falsafah dalam tasawuf.7

Disamping itu dia juga pelopor doktrin al-ma’rifah. Dalam hal ini ia
membedakan antara pengetahuan dnaa keyakinan. Menurutnya,
pengetahuan merupakan hasil pengamatan indrawi, yaitu apa yang ia dapat
diterima melalui panca indera. Sedangkan keyakinan adalah adalah hasil
dari apa yang dipikirkan dan atau diperoleh melalui intuisi.

2. Corak Pemikiran

Corak pemikiran beliau termasuk dalam kategori tassawuf ‘irfani,


karena dalam fenomena ini merupakan gejala yang sulit dan tidak mudah
didefinisikan, doktrinal irfani ini merupakan pengalaman rohani seseorang
yang lebih menekankan penggunaan dzauq daripada rasio, sehingga
sifatnya sangat personal dan subyektif.

‘Irfan diidentikkan dengan makrifat sufistik. Orang yang


‘irfan/ma’rifat kepada Allah adalah yang benar-benar mengenal Allah
melalui dzauq & kasyf. ‘Irfan diperoleh oleh seseorang melalui jalan al-idrak
al-mubasyir al-wujdani (penangkapan langsung secara emosional).8

7. Ibid,. Hlm. 146

5
3. Karya-karya Dzu al-Nun al-Mishri

Di antara buku-buku (referensi) yang saya baca tidak ditemukan


karya-karya (kitab/buku) dari Dzu al-Nun al-Mishri. Dzu al-Nun al-Mishri
hanya berkarya tentang pemikiran-pemikirannya dalam dunia tasawwuf
seperti yang sudah di sebutkan di atas.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

a. Dzu al-Nun al-Mishri adalah nama julukan bagi seorang sufi yang hidup
disekitar pertengahan abad ketiga Hijriah. Nama lengkapnya adalah
Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim Dzu al-Nun al-Mishri al-Akhmami
Qibthy. Beliau dikenal sebagai salah seorang yang luas ilmunya ,
kerendahan hatinya dan budi pekertinya yang baik.

b. Pemikiran Dzu al-Nun al-Mishri adalah mensistemasikan jalan menuju


ma’rifat secara mendetail agar para sufi lebih mudah untuk memahami
ajarannya, beliau menyebutkan ada dua macam jalan untuk mencapai
ma’rifat, yaitu:

1. Thariq al-inabah

8. M. Sholihin, Ilmu tasawwuf, Bandung: Pustaka Setia, 2008. Hlm. 145

6
2. Thariq al-ithiba’

c. Corak pemikiran dari Dzu al-Nun al-Mishri itu tergolong aliran irfani
yang identik dengan menetapkan bahwa apa yang kita lakukan
sesungguhnya tidak pernah kita lakukan. Ini adalah tingkatan ikhlas
paling tinggi.

d. Karya beliau yang paling terkenal adalah mengklasifikan ma’rifat


menjadi tiga bagian:

1. Ma’rifat orang awam

2. Ma’rifat para teolog, ulama’, filosofis

3. Ma’rifat para wali dan muqarrabin

Dan sebagai peletak dasar tentang jenjang perjalanan sufi menuju


ma’rifat yang disebut maqamat dan ahwal. Ajarannya memberi petunjuk
arah jalan menuju kedekatan dengan Allah sesuai dengan pandangan sufi.

2. Daftar Pustaka

1. Mustofa,H.A. Drs, akhlak tasawuf, Bandung: pustaka setia, 1997.

2. Anwar, rosihon,DR,M.Ag, akhlak tasawuf, Bandung: pustaka setia,


2009.

3. Isa, ahmad, tokoh-tokoh sufi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.

4. Jumantoro, totok, kamus ilmu tasawuf, Amzam.

5. Sholihin, M, ilmu tasawwuf, Bandung: Pustaka Setia, 2008.

6. http://aftanet.blogspot.com/2009/09/tasawuf-sunni-pemikiran-dan-
tokoh.html

7. http://agushidayat89.blogspot.com/2009/01/bab-i-pendahuluan.html

7
8