Você está na página 1de 18

MAGNOLIALES

MAGNOLIACEAE
Agung Sedayu (Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Negeri Jakarta)
Nama cempaka berasal dari bahasa Sansakerta (Sanskrit): “campaka”.
Cempaka atau cempaka kuning (Michelia champaca L.) dikenal dengan beragam
nama seperti jeumpa (Aceh), campaga (Minangkabau), campaka, campaka koneng
(Sunda), kantil (Jawa), pecari, locari (Jawa Timur), bunga eja (Makassar) atau
capaka goraci (Ternate).
Pohon cempaka adalah tanaman pekarangan yang sangat populer bukan saja
di Indonesia, namun hampir di seluruh negara-negara Asia Timur, dan dihargai untuk
bunganya yang memiliki aroma yang kuat. Di negara-negara lainpun pohon ini
dipanggil dengan nama yang hampir-hampir mirip, menandakan sejak dahulu bunga
dari pohon ini dimanfaatkan dan dihargai oleh keseluruhan komunitas masyarakat di
negara-negara Asia. Pohon ini dikenal dengan nama champaka, sampaka (Filipina),
champa (Laos), champa, champa-khao (Thailand) atau champak (Inggris). Bahkan
negara Laos, pada zaman dahulu dikenal dengan nama “negeri champa”.
Cempaka kemungkinan berasal dari India, kemudian menyebar ke berbagai
tempat di Asia hingga Cina Barat Daya, Indocina, Semenanjung Malaya, Sumatra,
Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil, tidak ditemukan di Sulawesi dan Papua.
Kemungkinan awalnya tumbuhan ini merupakan tumbuhan pekarangan, namun
ternaturalisasi menjadi tumbuhan hutan yang sangat mudah dijumpai di hutan-hutan
primer atau tepi hutan, hingga ketinggian 2100 m. Di Jawa ditanam sebagai tanaman
penghijauan atau pohon peneduh di tepi jalan. Jenis ini juga ditanam sebagai tanaman
hias di belahan dunia lain. Di Brazil tumbuhan ini ternaturalisasi dengan baik di
habitat lokal, bahkan menjadi pakan 19 jenis burung hutan. Beberapa ahli
mengkhawatirkan cempaka sebagai jenis invasif.
Cempaka kuning berasal dari hutan dan didomestikasi sebagai tanaman hias.
Tumbuhan ini berupa pohon besar hingga tinggi 50 m dan diameter pangkal batang
1,8 m, ranting menggundul. Daun tersusun spiral; daun penumpu menggala pada
tangkai daun paling tidak sepertiganya; tangkai daun berbulu balig (pubescent),

1
dengan langgang penumpu (stipular scar) panjang; lamina bundar telur-melancet
hingga lonjong-melanset; pangkalnya membulat hingga membaji-menirus; ujungnya
dengan penajaman (acumen) sepanjang 1—2,5 cm; vena 14—23 pasang; berbulu
balig di bagian bawah, khususnya di ibu tulang daun. Tunas-pendek (brachyblast)
dengan panjang 0,5—2,5 cm dengan 2—3 buku, berbulu balig; pedicel hingga
panjang 2 cm, berbulu balig; daun gagang (bract) menyeludang (spathaceous),
berbulu balig, menyelubungi kuntum bunga. Bunga kuning terang waktu muda dan
menjadi oranye tua pada saat mekar, wangi; tepal 12—20, biasanya 15, tersusun
dalam pusaran yang tidak nyata, membulat telur sungsang, menyelaput; benang sari
banyak, dengan panjang 6—8 mm, embelan konektif 1 mm; daun buah sekitar 30
buah, pada tangkai (ginofor) yang berambut balig. Daun buah yang menjadi buah
bebas, menggala pada sumbu atau bertangkai pendek; buah bumbung memipih, bulat
telur hingga hampir bulat, mengayu, coklat pucat dengan bintil putih, mengandung 2
—6 biji. Biji bulat telur, merah-coklat, jika buah bumbung pecah biji menggantung
pada funikulus tipis. Penyerbukannya dibantu oleh kumbang, sedangkan biji dibantu
pemencarannya oleh burung.
Cempaka kuning ditanam dan diperdagangkan untuk bunganya yang harum.
Bunganya diletakkan dalam lipatan baju, ditaburkan di ranjang pengantin,
dikalungkan pada mempelai dalam perkawinan, ditaburkan pada bak mandi sebagai
aroma therapy dan banyak kegunaan lainnya. Di Myanmar kulit batangnya yang
pahit digunakan untuk mengobati demam kambuhan, bunganya untuk mengobati
lepra, dan daunnya untuk mengobati kolik. Kayu cempaka berkualitas cukup baik dan
sering digunakan sebagai furniture karena memiliki struktur yang indah, namun di
Indonesia kayunya jarang diperdagangkan karena orang lebih menghargai bunganya
yang harum. Kayu yang dipergunakan biasanya berasal dari pohon yang sudah tidak
berbunga.
Ekstrak Michelia champaca memiliki indikasi kuat aktivitas terhadap
karsinoma epidermoid manusia. Bahan aktif dalam yang terkandung di dalamnya
adalah lakton sesquiterpen, yang teridentifikasi sebagai partenolida (C15H20O3) dan
costunolida (C15H20O2).

2
Kerabat dekat cempaka kuning yang sering juga kita jumpai adalah cempaka
putih (Michelia alba DC.) yang dikenal dengan nama jeumpa gadeng (Aceh),
campaka putieh (Minangkabau), campaka bodas (Sunda), bunga eja mapute (Bugis),
capaka babudo (Ternate) atau Capaka babulo (Tidore). Cempaka putih dapat dengan
mudah dibedakan dengan cempaka kuning dari bunganya yang berwarna putih,
cuping tajuk bunga berjumlah lebih sedikit (8—12) dan bakal buah dengan jumlah
kurang dari 15.
Cempaka termasuk dalam suku Magnoliaceae, suku yang terdiri
dari tumbuhan berupa pohon atau semak yang mengandung
terpenoid aromatik, dengan alkaloid yang biasanya tipe benzil-
isoquinolin. Daun berseling atau spiral, tunggal, kadang
bercuping, tepi rata, dengan bintik transparan; daun penumpu
menyelubungi kuncup daun. Perbungaan dengan bunga tunggal
yang terminal, sering kelihatan aksiler. Bunga biseksual,
aktinomorf, dengan reseptakulum yang memanjang. Daun tenda
(tepal) 6 hingga banyak, jelas, kadang 3 yang terluar
termodifikasi seperti daun kelopak (sepal), menyirap. Benang
sari banyak, tangkai sari tebal, pendek, tidak terdiferensiasi
menjadi kepala sari yang jelas; serbuk sari monosulkat
(monosulcate). Bakal buah banyak, jelas, pada reseptakulum
yang memanjang, menumpang, dengan plasentasi lateral. Bakal
biji biasanya dua tiap bakal buah, kadang-kadang banyak. Tidak
ada kelenjar madu. Buah ganda atau bumbung, kadang
berdaging,; biji dengan selaput biji berdaging berwarna merah
atau jingga; embrio kecil; endosperma homogen.

Magnoliaceae tersebar di daerah beriklim sedang, hingga daerah tropis di


Amerika Utara-Timur, Asia Timur dan Amerika Selatan. Biasanya jenis-jenis suku
Magnoliaceae secara alami tumbuh di hutan yang lembab.
Penelitian dengan menggunakan data DNA mengungkapkan kemungkinan
bahwa suku Magnoliaceae sebenarnya polifiletik; bahkan Michelia juga parafiletik.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa suku Magnoliaceae dapat dibagi menjadi
dua anak-suku, yaitu Liliodendroideae (Liliodendron) dan Magnolioideae. Dalam
anak-suku Magnolioideae terdapat tiga kelompok (clade) yaitu (1) marga Manglietia,
(2) anak-marga Magnolia dan (3) anak-marga Yulania yang terdiri dari Michelia,

3
Paramichelia, Tsoongiodendron, Alcimandra, Kmeria, Parakmeria dan
Mangletiastrum.
Suku Magnoliaceae termasuk salah satu suku yang mempertahankan karakter
plesiomorfik, yaitu benang sari dan karpel yang banyak (indefinite), jelas, tersusun
spiral, ovarium menumpang, biji dengan embrio kecil dan endosperma yang banyak
(besar), sehingga dianggap sebagai bagian dari nenek moyang kompleks
Angiospermae, atau sebagai clade basal dalam Angispermae.
Selain cempaka putih dan kuning, ada beberapa marga lain yang cukup
umum, seperti manglit (Manglietia glauca) dan Magnolia (Magnolia grandiflora).
Manglit dapat ditemui di hutan-hutan basah di Jawa Barat hingga Jawa Tengah,
sedangkan Magnolia merupakan tanaman hias yang menghiasi rumah-rumah
perisyirahatan di pegunungan berhawa dingin, berasal dari dari Amerika Utara.

ANNONACEAE
Fitmawati (Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Riau)
Priyanti (Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Islam Negeri Jakarta)
Sirsak atau Durian Belanda (Annona muricata)
Berasal dari Amerika Selatan dibawa oleh bangsa Spanyol ke daerah tropik.
Tanaman sirsak di Pilipina telah dilakukan penanaman dalam skala perkebunan,
sedangkan di Indonesia belum dibudidayakan dalam skala perkebunan. Tanaman ini
cocok tumbuh pada iklim tropik, pada ketinggian 1000 m dpl. Buah segar dapat
dikonsumsi langsung, dibuat es kream, jus, dibuat syrup, dibuat dodol atau permen.
Ekstrak bijinya dapat digunakan sebagai pengendali hayati untuk membrantas ulat
yang menyerang tanaman kubis.
Tanaman sirsak berperawakan perdu atau pohon kecil dengan tinggi 3-10 m,
percabangan dekat pangkal. Daun melonjong-membulat telur sungsang, panjang 8-16
cm, lebar 3-7 cm, ujung meruncing, panjang tangkai daun 3-7 cm. Bunga beraturan,
1-2 bunga dalam satu tandan bunga. Berwarna kuning kehijauan, tangkai bunga 2.5
cm. Kelopak 3, menyegitiga, permanen, panjang 4 cm. Perhiasan bunga 6, dalam dua
lingkaran, 3 bagian luar lebih lebar dan membundar telur, panjang 3-5 cm, lebar 2-4

4
cm, 3 bagian dalam panjang 2-4 cm, lebar 1.5-3.5 cm, dengan cakram pendek pada
bagian pangkal. Benang sari banyak dalam beberapa baris, panjang 4-5 mm. Tangkai
sari berambut padat. Buah merupakan buah semu berambut padat, bakal buah banyak,
setiap karpel menghasilkan buah dan bersatu, membulat telur melebar atau
melonjong, panjang 10-20 cm, lebar 15-35 cm, warna hijau tua dan ditutupi oleh duri
yang panjangnya 6 mm, berdaging, manis seger, berair berwarna putih. Biji banyak,
membulat telur terbalik, panjang 2 cm lebar 1 cm, warna coklat kehitaman, dan
berbentuk pipih. Jumlah kromosom 2n=2x=14. Sistim penyerbukannya terbuka dan
pembentukan buahnya rumit dengan umur polen yang pendek serta mempunyai
mekanisme polinasi yang sulit.
Annonaceae adalah suku tumbuhan yang melingkupi sirsak dan kerabat-
kerabatnya, beranggotakan 126 marga dan 1200 jenis tersebar di daerah tropik dan
subtropik di area Afrika, Amerika, Asia, Australia dan Eropa. Marga-marga tersebut
diantaranya; Xylopia lebih kurang berjumlah 150 jenis. Uvaria lebih kurang 100
jenis, Polyalthia lebih kurang 100 jenis, Friesoldia lebih kurang 50 jenis, Artabotrys
lebih kurang 100 jenis (liana atau perdu tegak dengan perbungaan muncul dari
gagang berbentuk cakram), Annona lebih kurang 100 jenis (beberapa di Afrika), dan
Monanthotaxis lebih kurang 56 jenis di Afrika dan Madagaskar.
Jenis-jenis dalam suku ini menghasilkan obat-obatan dan farfum seperti
senyawa asetogenins, sumber kayu berkualitas, tanaman hias, bumbu masakan, dan
menghasilkan buah. Cananga Odorata banyak dibudidayakan di Indonesia sebagai
tanaman hias dan bunganya juga digunakan sebagai bahan pembuatan parfum.
Cymbopetalum penduliflorus, Xylopia, dan Monodora myristica digunakan sebagai
bumbu dan obat-obatan. X. villosa kayunya digunakan sebagai bahan bangunan
karena tahan terhadap serangan rayap. Beberapa jenis diketahui dapat dimakan
buahnya, seperti Annona squamosa (srikaya), A. muricata (sirsak), A. cherimola
(cherimoya) dan beberapa jenis Artabotrys
Annonaceae. Perdu, kadang-kadang berupa liana, licin atau berambut
tunggal, membintang atau mengusta. Pepagan biasanya licin, abu-abu pucat
atau cokelat. Cabang-cabang sering kemerahan sampai ungu tua, berambut

5
pubis atau menggimbal (jarang gundul) ketika muda, empulur bersekat,
terdapat sel minyak. Daun berseling dalam dua deret, utuh, urat daun
menyirip, menyelaput sampai menjangat, tanpa daun penumpu. Bunga
terminal atau di ketiak daun, tunggal atau berpasangan sampai bergerombol
atau perbungaan terbatas, pada batang yang muda atau tua, duduk atau
bergantilan jarang, jarang yang bergagang, aktinomorf, berkelamin ganda atau
jarang yang berkelamin tunggal, sering berbau harum. Kelopak 3 (2), biasanya
mengatup saat kuncup, bebas atau bersatu. Mahkota 6 (4) dalam dua
lingkarang atau satu lingkarang (Jarang dalam satu lingkaran mahkota 6, 4
atau 3), menyirap atau mengatup (jarang membuka) pada kuncup, bebas atau
bersatu di pangkal, biasanya letak berseling dengan kelopak. Benang sari
banyak, tersusun seperti spiral, atau 6-12 dan dalam lingkaran kadang-kadang
steril dengan kepala sari memita sampai agak membulat, di tepi atau memutar
(jarang di ujung), lobus kepala sari biasanya memanjang di luar ruang sari,
dengan ujung rompong, asimetris, mementol, melengkung, mengerucut;
tangkai sari biasanya sangat pendek atau tidak ada, bebas, jarang lebih
panjang dan bersatu dalam satu runjung di atas ginesium (Xylopia). Putik 1-
banyak bebas atau bersatu di pangkal atau bersatu membentuk 1-lokus kepala
putik (Monodora); bakal buah 1-banyak, tangkai putik bebas atau bersatu atau
tidak ada. Buah apokarpus dengan buah-buah yang masak membuni
(berdaging atau keras) atau jarang merekah, bertangkai atau duduk, atau
sinkarp dengan berkelompok, 1-banyak biji. Biji vertikal atau horisontal,
kadang-kadang beraril, dengan endosperma termamah berlimpah; embrio
rapat.

6
MYRISTICACEAE
Keluarga Pala (Myristicaceae)
Fitmawati (Jurusan Biologi FMIPA Universitas Riau)
Tanaman pala asli Indonesia, berasal dari pulau Banda dan Maluku,
menyebar ke Pulau Jawa, Sulawesi, Sumatera. Pala tumbuh baik pada ketinggian
500-700 m dpl, suhu 20-30○C, membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan
tinggi dan agak merata, serta tergolong tanaman yang tahan terhadap musim kering
selama beberapa bulan. Tanaman pala memiliki beberapa jenis, antara lain: 1)
Myristica fragrans Houtt, 2) Myristica argentea Ware., 3) Myristica fattua Houtt., 4)
Myristica specioga Ware., 5) Myristica sucedona BL., 6) Myristica malabarica Lam.
Jenis pala yang banyak diusahakan adalah M. fragrans, karena mempunyai nilai
ekonomi lebih tinggi daripada jenis lainnya. M. fragrans mempunyai beberapa nama
sinonim yaitu M. officinalis L., M. moschata Thunb., M. aromatic Lam., M. laurella
Gand., M. pilippinensis Gand. dan M. amboinencis Gand. Dijumpai berbagai sebutan
nama daerah untuk tanaman Pala seperti; Pala, Pala (Melayu), Falo (Nias), Pala
(Jawa) Paala (Madura), Kapala (Bima), Bubula (Roti), Pal (Timor), Pala (Makasar),
Pala (Bugis), Pahalo (Ambon) dan Gosora (Ternate).
Pala umumnya dikenal sebagai tanaman rempah, kegunaan lainnya, pala juga
berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang digunakan dalam industri
pengalengan, minuman dan kosmetik. Kulit batang dan daun batang/kayu pohon pala
yang disebut dengan “kino” dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun
tanaman pala dapat juga menghasilkan minyak atsiri. Fuli adalah bagian yang
menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala, disebut “bunga
pala” juga menghasilkan minyak atsiri. Daging buah pala digemari oleh masyarakat
dalam bentuk makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai
pala, dan kristal daging buah pala. M. fragrans mengandung beberapa senyawa
bioaktif seperti kamphene, elemisin, eugenol, isoelemisin, isoeuglenol,
methoxyeugenol, pinene, sabinene, safrol, asam myristat, myristisin, elimisin dan
senyawa lignin. Ekstrak buah pala mempunyai aktivitas antibacterial dan antiviral
termasuk terhadap rotavirus, antikanker, obat insomnia, serta mampu menekan

7
produksi asam lambung berlebihan. Selain itu, myristisin yang diperoleh dari ekstrak
M. fragrans memberikan dampak sytotoxik dan apoptotik pada neuroblastoma
manusia.
M. fragrans memiliki 44 kromosom somatik (2n) yang bersifat holokinetik.
Bersifat berumah dua kadang berumah satu. Seluruh tanaman bersifat fragrans atau
beraroma khas. Tanaman pala berperawakan pohon berukuran sedang, tajuk
umumnya konikal (kerucut) atau semi-pyramid, tinggi ± 15 m, tegak, berkayu, bulat,
percabangan simpodial, lentisel tidak jelas. Batang mengandung cairan sel berwarna
coklat kemerahan. Daun hijau berukuran 5-15 cm, lebar 2-7 cm, tersusun berseling,
permukaan daun licin mengkilap, mengertas atau tipis menjagat, bentuk membundar
telur – eliptik- oblong, dasar daun runcing, ujung runcing- meruncing, bagian atas
daun olivaceous, bawah berwana pucat, olivaceous atau putih keabu-abuan, rambut
mudah luruh dan tidak mencolok, 0.1 mm; ibu tulang daun menonjol, tulang daun
lateral 6-12 pasang, sudut 60-80○ terhadap ibu tulang daun, datar atau tenggelam,
garis yang menghubungkan antar tulang daun biasanya tidak jelas, venasi pada bagian
bawah daun samar atau jelas. Tangkai daun, panjang 7-12mm, lebar 0.7-1.5mm,
tunas daun panjang 5-10mm, lebar 1mm, berambut panjang 1mm. Perbungaan
tumbuh antara daun (axilaris) biasanya berbentuk malai. Bunga panjang 1cm, wangi,
warna perhiasan kuning muda dan berlilin. Pada bunga jantan tangkai bunga tipis
panjang 5-20mm, berjumlah 1-3. Bunga betina tangkai bunga tipis panjang 5 mm, 1-3
bunga; Daun pelindung kecil, luruh. Bunga dan perbungaan terpencar, terselimuti,
rambut berwarna coklat pucat panjang 0.1 mm atau licin. Penyerbukan bunga dibantu
oleh ngengat dan semut. Buah tunggal, bentuk paer atau membulat, panjang 6-9cm,
terdapat belahan longitudinal dan adanya stigma yang persisten (pseudostal),
berwarna kuning. Tangkai buah menebal pada pangkal buah, kulit buah berwarna
kuning, lunak, aril (selubung biji=fuli) selubung biji merah tercabik-cabik, hitam
kecoklatan. Biji berbentuk menjorong atau membulat telur, coklat keunguan.
Penyerbukan dibantu oleh serangga, bunganya sering mekar pada malam hari, . Biji
disebarkan oleh burung dan primata yang tertarik pada warna buah dan arilnya

8
Myristicaceae mewadahi tetumbuhan berkayu yang umumnya berbentuk
pohon dan semak, getah berwarna merah dan tumbuh tersebar di daerah tropik
(pantropical). Daun tunggal, selalu hijau (evergreen). Bunga kecil, unisexual,
tumbuh pada ketiak daun (axilaris) racemosa, soliter (tunggal). Perhiasan
bunga 2-4 lobus (kebanyakan 3 lobus). Benang sari 3 – 30 bh, extrorse,
tangkai sari biasanya bersatu membentuk satu colum atau disc. Carpel
tunggal, 1 lokul, 1 ovulat. Buah berbentuk drupe, sering terpisah menjadi dua
belahan. Biji besar, biasanya diselimuti oleh aril berwarna merah. Embrio
kecil, endosperm ruminate. Tanaman yang paling dikenal dari suku ini adalah
Pala.

MEDANG-MEDANGAN (LAURACEAE)
Deby Arifiani (Herbarium Bogoriense, Puslit Biologi LIPI)
Ibnu Hajar (Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman)

Adpukat (Persea americana) merupakan satu-satunya jenis Lauraceae yang


buahnya dapat dimakan dan merupakan buah tropis yang sangat penting dan banyak
dikonsumsi serta diperdagangkan oleh masyarakat di seluruh dunia. Adpukat diduga
berasal dari bagian selatan Mexico dan kemudian dikembangkan dari Rio Grande
sampai daerah pusat Peru jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa ke Peru
Tengah. Pada abad ke-17 jenis ini dikembangkan dan dikonsumsi oleh masyarakat
Kepulauan Karibia dan pada abad ke-19 tersebar sampai Asia Tenggara (Indonesia
dan Filipina). Saat ini adpukat sudah dikembangkan dan dikonsumsi di berbagai
daerah tropis dan subtropis.
Tumbuhan ini mempunyai perawakan pohon besar berbentuk menyerupai
kubah, hijau sepanjang tahun, tingginya bisa mencapai 20 m atau lebih dengan
diameter antara 30-60 cm. Banir tidak ada. Daun tunggal, berseling atau tersusun
spiral, halus atau rata. Helaian daun menjorong sampai melanset, membundar telur
atau membundar telur sungsang, berukuran 5-40 cm x 3-15 cm, berwarna kemerahan
saat muda dan menjadi hijau tua, permukaan atas daun berlilin, putih keabu-abuan di

9
permukaan bawah dengan pertulangan daun menonjol dan menjala. Tangkai daun
panjangnya 1.5-5 cm. Perbungaan malai dari perbungaan terbatas, pada ujung
tangkai. Bunga banyak, berkelamin dua, harum, kehijauan, bertangkai. Tenda bunga
6, panjangnya kira-kira 5 mm, tomentose rapat. Benang sari 9, tersusun dalam 3
lingkaran, masing-masing benang sari pada lingkaran terdalam dilengkapi dengan
sepasang nektarium yang berwarna oranye pada bagian pangkalnya. Staminodia 3
terdapat pada lingkaran ke-4. Kepala sari berlokul 4. Bakal buah berongga 1, kepala
putik sendiri, berpappil, bertangkai ramping. Buah berry, besar, berdaging, berbentuk
seperti pir, oval atau agak membulat, panjang 7-33 cm, lebar 15 cm, hijau kekuningan
sampai marun dan ungu, berat antara 50 g sampai 1 kg; eksokarp tebalnya 1-3 mm,
hijau kekuningan, hijau tua, ungu kemerahan, atau ungu tua sampai hampir hitam,
halus atau berbintil; mesokarp hijau kekuningan, padat seperti mentega. Biji 1 per
buah, mengerucut, membulat, panjang 5-6.4 cm, dilapisi oleh 2 lapisan biji dan 2
kotiledon yang besar dan berdaging, menyelubungi embrio.
Alpukat mempunyai pembungaan dikogami yang unik, dimana bunganya
membuka dua kali, hari pertama berfungsi sebagai bunga betina dan hari berikutnya
sebagai bunga jantan. Sehingga dikenal bunga tipe ‘A’ dimana bunga-bunga sebagai
bunga betina saat pagi hari dan sebagai bunga jantan pada siang di hari berikutnya
dan bunga tipe ‘B’ dimana bunga membuka sebagai bunga betina di siang hari dan
sebagai bunga jantan pada pagi hari berikutnya. Dengan demikian penyerbukan
sendiri akan jarang terjadi, hanya akan terjadi bila membukanya bunga jantan dan
betina dalam satu pohon bersamaan.
Secara botani, terdapat 3 varitas adpukat yang dikenal di dunia, yaitu: Persea
americana Mill. var. americana (P. gratissima Gaertn.), P. americana Mill. var.
drymifolia Blake (P. drymifolia Schlecht. & Cham.), P. nubigena var. guatemalensis
L. Wms. Nama ‘Avocado’ sendiri, berasal dari nama Aztec yang berarti ‘pohon
testikel’ (karena bentuk buahnya yang seperti testikel).

10
Nama-nama lokal yang dikenal adalah: alpukat, adpukat, avokad (Ind.),
avocado, alligator pear, midshipman’s butter, vegetable butter, butter pear (En.),
avocado, apukado (Malaysia), bata (Papua New Guinea: Pidgin), avocado
(Philippines), awokado (Thai), aguacate, cura, cupandra, atau palta (Spa.), abacate
(Portuguese), avocatier (French).
Contoh lain dari suku ini adalah Ulin dengan nama ilmiah Eusyderoxylon
zwagery. Jenis ini merupakan salah satu jenis pohon hutan Kalimantan yang
memiliki nilai ekonomi tinggi. Jenis ini merupakan bagian dari penyusun hutan
hujan tropis sekunder tua dan primer yang tergolong jenis tumbuhan dilindungi.
Berbagai kegiatan eksploitasi terhadap jenis ini umum terjadi, mengingat tingginya
nilai manfaat dari ulin menyebabkan penebangan secara ilegal juga terjadi di
kawasan-kawasan konservasi, seperti Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Cagar
Alam dan Suaka Margasatwa sehingga keberadaan jenis ini sudah semakin sedikit di
alam.
Jenis ini tergolong sebagai kayu bernilai ekonomi tinggi disamping jenis-jenis
dari suku Dipterocarpaceae. Manfaat jenis ulin berdasarkan produk yang
dihasilkannya dapat dikelompokkan menjadi dua yakni manfaat kayu dan manfaat
non kayu. Manfaat kayu dari jenis ini antara lain adalah sebagai bahan bangunan,
kayu sirap, bahan ukiran, kayu gergajian, bahan mebel/furniture, dll. Sedangkan
manfaat non kayu dari jenis ini antara lain adalah sebagai bahan obat, pakan satwa,
tempat hidup/tempat bersarang satwa dan manfaat jasa lingkungan. Sebagai bahan
obat, ulin telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit
seperti sebagai obat bengkak, obat ginjal, muntah darah serta penyubur rambut dan
menghitamkan rambut/semir rambut (obat rambut).
Ulin merupakan pohon yang tingginya dapat mencapai 40-50 m. Batang
utama lurus, bebas cabang hingga 20 m, diameternya mencapai 150-220 cm, berbanir,
membulat sampai pangkal batang, di tempat-tempat yang basah sering pangkal batang
tertutup oleh akar-akar kecil. Permukaan pepagan merah atau coklat-kelabu dengan
retakan-retakan halus, mengelupas dalam potongan-potongan bersegi empat. Tajuk
membulat, tebal, ranting-ranting licin, agak bersegi. Kulit dalam berwarna kuning

11
hingga merah jambu, tidak bergetah. Kayu gubal coklat kekuning, bila segar berbau
asam. Daun tunggal tersusun berselang-seling tetapi pada tunas batang spiral,
tunggal, bertepi rata, menjangat, jorong hingga berbentuk jantung, ujung tumpul
hingga lancip pendek, permukaan atas licin, permukaan bawah berbulu pada
pertulangan utama, tangkai daun 6 – 15 mm, stipula tidak ada. Pembungaan di ketiak
daun berbentuk malai dan menjuntai dengan panjang 10 – 20 cm serta berbulu pendek
yang rapat. Bunga berkelamin dua, setangkup tunggal, panjang 3 – 11 mm. buah
berupa buah batu pada dengan jumlah 1 sampai 2 buah pada setiap malai. Buah
berwarna hijau kekuningan ketika masih muda dan setelah tua berwarna merah
sampai akhirnya kehitaman, agak mengkilap bila masak dan berisi satu biji. Biji
berada dalam buah yang tebal dengan kulit biji yang keras dan beralur, bervariasi
betuknya.
Suku Lauraceae mewadahi tumbuhan yang umumnya mempunyai perawakan
pohon atau perdu dan hanya satu marga yang berupa herba yang memanjat
(Cassyta). Daun berhadapan, atau berseling dan kadang-kadang mengumpul;
tunggal; berkelenjar minyak, atau tidak ada kelenjar minyak; simetris; halus
atau rata; umumnya kaku. Daun penumpu tidak ada. Pertulangan tulang daun
menyirip, atau berurat tiga. Pertulangan tepi daun tidak ada. Indumentum ada
atau tidak ada. Tangkai daun tidak membengkak. Domatia ada atau tidak ada.
Perbungaan umumnya terbatas, di ketiak; bermalai atau memayung kadang-
kadang perbungaan yang memayung dibalut oleh daun gagang. Bunga
umumnya kecil, berdiameter (1-)2-8(-20) mm, kehijauan, kekuningan atau
putih, jarang kemerahan, aktinomorf, biseksual atau uniseksual, umumnya
berkelipatan tiga, jarang berkelipatan dua. Perhiasan bunga berupa tenda
bunga, umumnya 6. Benang sari tersusun dalam 4 lingkaran, berjumlah
(2-)3-9(-18), bertangkai atau tidak, kadang-kadang terdapat sepasang kelenjar
pada pangkal benang sari. Kepala sari berlokul 2 atau 4, terbuka oleh katup.
Bakal buah berdaun buah 1, 1 rongga. Bakal biji 1, anatrop. Buah berry,
berbiji satu, takbengang. Reseptakulum dan tangkai buah jarang membesar,
atau membentuk kupul yang berdaging atau berkayu yang membalut dasar

12
buah atau menyelubungi seluruh bagian buah. Selaput biji tipis; tidak ada
endosperma; embrio tegak, berkembang sempurna.

Lauraceae atau yang dikenal sebagai suku medang-medangan atau Laurel


Family merupakan salah satu kelompok tumbuhan yang banyak dijumpai di daerah
tropis terutama di dataran rendah atau di daerah pegunungan. Daerah penyebaran
utama famili Lauraceae adalah di hutan-hutan tropis di Asia Tenggara dan di
Amerika dimana Lauraceae merupakan salah satu komponen utamanya (Whitmore,
1996). Lauraceae terdiri dari kurang lebih 50 marga dan sekitar 2500-3500 spesies
yang tersebar di seluruh dunia (Rohwer, 1993). Beberapa marga dalam Lauraceae
mempunyai manfaat ekonomis.

SIRIH-SIRIHAN (PIPERACEAE)
Rani Asmarayani (Herbarium Bogoriense, Puslit Biologi – LIPI)
Satu hingga dua dekade silam, fenomena bibir yang memerah dan gigi yang
menghitam akibat makan sirih (betel chewing) dialami oleh seluruh ras manusia dan
seperlima dari seluruh populasi dunia. Kebiasaan ini terdapat di seluruh Asia dan
hampir tidak ditemukan di luar benua. Berakar dan berkembang dari budaya kuno
Asia, kebiasaan ini melibatkan sirih (Piper betle L.) sebagai komponen utamanya, di
samping buah pinang (Areca catechu L.) dan kapur.
Sirih berasal dari Malaysia bagian tengah dan timur, terbukti ditemukannya
tipe liar dari tumbuhan ini, dimana buah sirih sangat mudah dijumpai. Dalam
perjalanan waktu, tumbuhan ini kemudian dibudidaya selama lebih dari 2500 tahun
lalu di seluruh Asia hingga Madagaskar dan Afrika Timur. Di India, dan di Asia pada
umumnya, nilai penting daun sirih terletak pada hubungannya dengan setiap segi
kehidupan manusianya termasuk sosial, budaya, agama, dan bahkan kehidupan
sehari-hari sampai saat ini. Sebagai contoh adalah kebiasaan makan sirih, yang
dianggap dapat menyegarkan mulut dan menambah tenaga, secara rutin dilakukan
pada acara-acara sosial, budaya, dan agama seperti perkawinan dan kematian. Daun

13
sirih juga digunakan sebagai sajian khusus bagi tamu dalam rangka menunjukkan rasa
hormat.
Sirih merupakan tumbuhan memanjat berumah dua, atau kadang-kadang
berumah satu, berkayu, gundul, dengan tinggi 5-15 m. Ada dua macam percabangan
pada sirih, yaitu percabangan utama yang tumbuh ke atas atau disebut percabangan
ortotropik, yang selalu menghasilkan bagian vegetatif dan memiliki akar lekat untuk
keperluan memanjat, dan anak cabang yang muncul dari percabangan ortotropik, atau
disebut percabangan plagiotropik yang menghasilkan bagian generatif dan tidak
memiliki akar. Pada kedua macam percabangan tersebut, buku-buku batangnya
membengkak. Daun tunggal, berseling, helaian membundar telur atau membundar
telur menjorong berukuran 5-20.5 cm x 2-13.4 cm, berpangkal menjantung, berujung
meruncing, bertepi rata, berdaging seperti tulang namun lembut, dan berpermukaan
gundul atau berbulu pada bagian pertulangan bawah daunnya. Tulang daun berjumlah
2-3 pasang, 1 pasang di antaranya berpangkal dari ibu tulang daun dan sisanya dari
pangkal daun. Perbungaan sirih berkelamin tunggal, tumbuh menggantung
berhadapan dengan daun, dengan ukuran mencapai 12 cm pada perbungaan jantannya
atau 5.5 cm pada betinanya. Bunga sirih berukuran sangat kecil dan tidak memiliki
perhiasan bunga, alat kelamin bunga hanya dilindungi oleh braktea. Braktea sering
menjadi ciri penting dalam taksonomi Piper. Pada sirih, brakteanya duduk dan
melekat pada ibu tangkai bunga pada satu titik, dengan helaian menjorong atau
membundar telur sungsang atau membundar dan bertepi gundul serta bergigi pendek
atau tidak. Braktea ini melindungi dua benang sarinya yang pendek atau putiknya
yang berkepala 3-5. Buah berupa massa berdaging berbentuk silinder dan berwarna
hijau yang sebenarnya merupakan kumpulan banyak buah buni yang menyatu. Biji
sirih agak membulat dan berukuran sangat kecil.
Dalam kondisi liarnya, sirih tumbuh di hutan hujan tropis. Seperti umumnya
jenis-jenis Piper lainnya, sirih lebih menyukai naungan yang teduh dan terlindung
dari angin serta tumbuh dengan subur di lingkungan hutan yang lembab dengan
kelembaban tanah yang cukup. Budidaya umumnya dilakukan pada tempat-tempat
dengan ketinggian 0-900 m di atas permukaan laut dengan curah hujan tahunan 2250-

14
4750 mm. Piper pada umumnya, dan sirih pada khususnya, mudah diperbanyak
dengan cara menanam dua buku-buku terbawah dari ujung cabang ortotropiknya yang
dipotong sepanjang 30-45 cm dan memiliki 3-5 buku-buku. Setelah mulai bertunas
dan menjalar, stek tersebut diikat pada penyangga.
Melihat pentingnya daun. Saat ini dikenal kurang lebih 100 varietas sirih.
Sumber keragaman ini antara lain dapat dijelaskan dengan sifat berumah duanya.
Selain itu, umumnya sirih merupakan tumbuhan poliploid (x=13) dengan perbedaan
tingkat poliploidi dalam jenis. Varietas-varietas itu dibedakan dari ukuran, bentuk dan
warna daun, serta kelembutan, kepedasan, aroma dan bleaching response. Di India,
sirih merupakan tanaman penting dalam kehidupan masyarakatnya. Beberapa varietas
tertentu, bunga jantannya yang dikembangkan melalui seleksi, sedangkan tumbuhan
betinanya jarang menghasilkan buah karena iklimnya. Di Indonesia sendiri dikenal
ada varietas siriboa yang bagian buahnya dipakai sebagai pengganti daun. Varietas
ini memiliki rasa dan bau yang lebih kuat daripada sirih pada umumnya dan banyak
dibudidaya di bagian bagian timur nusantara, antara lain di Maluku dan Papua.
Kebiasaan makan sirih saat ini tampak makin berkurang daya tariknya bagi
generasi muda di Asia Tenggara, setidaknya di daerah perkotaan. Di Indonesia
kebiasaan merokok telah menggantikan kebiasaan makan sirih ini. Meskipun
demikian, sirih masih merupakan tanaman yang mudah dijumpai di pekarangan atau
kebun rumah. Hal ini disebabkan oleh kedudukan lain sirih dalam masyarakat yang
dihubungkan dengan kesehatan dan penyembuhan. Zat yang berkhasiat obat pada
sirih ini adalah minyak atsiri yang komposisinya bervariasi antar varietas. Kandungan
penting minyak atsiri daun sirih adalah eugenol, kavikol, metil kavikol (estragol) dan
kavibetol (betelfenol, isomer dari eugenol). Kavikol memberikan bau khas sirih dan
memiliki daya pembunuh bakteri lima kali daripada fenol biasa. Selain bersifat
antiseptik, minyak dari daun dan akar sirih ini juga mempunyai sifat-sifat
menghambat tumor.
Di samping sirih, anggota jenis Piper lainnya yang terkenal adalah lada
(Piper nigrum L.), salah satu rempah-rempah yang paling umum dan sering
digunakan di Eropa dan Amerika daripada rempah-rempah lainnya. Dua produk P.

15
nigrum yang dikenal luas dan diperdagangkan secara internasional adalah lada hitam
dan lada putih. Lada hitam dibuat dengan mengeringkan buah yang belum masak,
sedangkan lada putih dibuat dengan mengupas kulit buah masak.
Lada mudah dibedakan dari sirih melalui daun, bunga dan buahnya. Daun lada
memiliki daging seperti tulang dan lebih tebal, dengan permukaan gundul di kedua
sisinya serta pertulangan yang lebih jelas. Perbungaan lada berkelamin tunggal,
berumah satu atau berumah dua atau banci (umum terdapat pada banyak varietas
akibat seleksi dengan campur tangan manusia). Pada bentuk perbungaan banci ini,
penyerbukan sendiri terjadi tanpa bantuan hujan atau angin. Brakteanya duduk dan
memiliki tempat perlekatan yang lebar dengan ibu tangkai bunga, dengan helaian
memanjang, berdaging, dan berpermukaan gundul. Braktea melindungi 2-4 benang
sarinya yang bertangkai tebal dan atau putiknya yang berkepala 2-5 (umumnya 3-4)
dan berdaging. Buah duduk, dan tidak seperti sirih, buah lada bebas, berbentuk bulat
atau sedikit lonjong, dan berwarna merah bila masak.
P. nigrum berasal dari Ghats Barat, negara bagian Kerala, India, terbukti
masih ditemukannya tipe liar tumbuhan ini di daerah pegunungan. Tumbuhan ini
mencapai Asia Tenggara pada 100 SM yang dibawa oleh orang-orang Hindu dari
India ke Indonesia dan negara-negara lainnya. Sebagai negara asal lada, India
merupakan pusat keanekaragaman gen lada dan dikenal lebih dari 75 varietas. Di
Indonesia sendiri ada lebih dari 5 varietas yang diusahakan secara komersial di pusat-
pusat perkebunan lada di Lampung, Bangka, Kalimantan Timur dan Kalimantan
Barat. Varietas-varietas ini dibedakan antara lain berdasarkan kelamin bunga,
kecepatan pemasakan buah dalam satu perbungaan, ukuran buah, keragaman daun,
kecepatan pertumbuhan, dan perawakan.
Peperomia bukan merupakan tumbuhan asli Indonesia. Peperomia berasal dari
Amerika Tengah dan Selatan. Salah satu jenis Peperomia yang paling mudah
dijumpai di Indonesia adalah Peperomia pellucida (L.) Kunth (Jawa: suruh-suruhan,
Sunda: sasaladaan). Tumbuhan ini berasal dari Amerika Selatan dan telah
ternaturalisasi secara luas di Asia Tenggara. Ia mudah dijumpai di habitat yang
terganggu hingga mencapai 1000 m di atas permukaan laut dan merupakan gulma

16
yang umum di ladang, pekarangan dan tepi-tepi jalan di sela-sela bebatuan atau
dinding yang lembab dan ternaungi.
P. pellucida merupakan terna berdaging dan gundul dengan tinggi mencapai
30 cm. Mulanya batangnya tumbuh tegak namun kemudian menjalar disertai dengan
kemunculan akar pada buku-bukunya. Daunnya tunggal, tersusun spiral, dengan
helaian membundar telur sempit sampai lebar atau hampir segitiga, berpangkal
membundar atau rata, berujung runcing, bertepi rata, menyerupai selaput ketika
kering, berpermukaan mengkilap di bagian atas dan pucat di bagian bawah. Tulang
daun berjumlah 5 dan berpangkal dari pangkal daun. Tidak seperti Piperaceae pada
umumnya, jenis ini, dan semua Peperomia, tidak memiliki daun penumpu.
Perbungaan banci, tumbuh soliter atau kadang-kadang 2 di ketiak daun atau di ujung
cabang, gundul, dengan ukuran 1-6.5 cm. Braktea duduk dengan helaian membundar.
Braktea ini melindungi dua benang sarinya dan bakal buahnya yang superior. Buah
pelok, berbentuk membulat dan berwarna hijau.
Di Jawa, remasan daun suruh-suruhan ini diketahui memiliki khasiat sebagai
obat luar untuk mengobati pusing atau demam. Selain itu, cairan hasil perasannya
diminum untuk obat sakit perut. Tumbuhan ini juga memiliki aktivitas antijamur dan
antibakteri yang tinggi. Selain berkhasiat obat, jenis-jenis Peperomia umumnya
memiliki daun yang cantik sehingga banyak dari jenisnya yang dimanfaatkan sebagai
tanaman hias, di antaranya yang umum dijumpai adalah P. caperata Yunck., P.
obtusifolia A.Dietr., dan P. argyreia E.Morr.
P. betle dan P. nigrum merupakan bagian dari suku Piperaceae
yang sejatinya mencakup empat marga. Piper merupakan marga
terbesar (hampir 2000 jenis), diikuti oleh Peperomia (kurang
lebih 1700 jenis), Manekia (4 jenis), dan Zippelia (1 jenis).
Piperaceae mewadahi tumbuhan tropis berperawakan pohon,
semak, liana, terna dan epifit. Piper dapat berumah satu atau
berumah dua atau banci, sedangkan tiga marga lainnya
merupakan banci. Jenis-jenis Piperaceae memiliki pembuluh
yang tersebar, buku-buku batang yang membengkak, dan

17
umumnya bau yang aromatis dengan sel minyak membulat. Daun
tunggal dengan tangkai, tersusun berseling, berhadapan, spiral,
atau terkumpul di pangkal, memiliki tepi rata, dan memiliki
daging atau menyerupai selaput. Perbungaan bertangkai, berupa
bulir atau tandan, dan terletak di ketiak, ujung, atau berhadapan
dengan daun. Bunga sangat kecil dan tidak memiliki perhiasan
bunga, alat kelamin bunga hanya dilindungi oleh sebuah braktea.
Benang sari bebas dan berjumlah 2-6. Bakal buah superior,
beruang satu dengan sebuah bakal biji. Buah buni atau pelok. Biji
dengan perisperma bertepung banyak.

18