Você está na página 1de 3

ANAK DALAM LINGKARAN PORNOGRAFI

(Solusi Untuk Preventifikasi Bahaya Pornografi)


Febri Nurrahmi, S.Sos*

Penelitian terbaru dari Yayasan Kita dan Buah Hati memperlihatkan bahwa 67 persen dari 2.818
siswa kelas 4-6 sekolah dasar di kawasan Jabodetabek sudah pernah menyaksikan materi
pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya lewat komik, 18 persen
melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14 persen melalui film, dan sisanya melalui VCD
dan DVD, telepon seluler, majalah dan koran. Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia (2006)
bahkan menyatakan bahwa Indonesia selain menjadi negara tanpa aturan yang jelas tentang
pornografi, juga mencatat rekor sebagai negara kedua “surga” pornografi terbesar di dunia
setelah Rusia.

Jadi wajar jika pornografi semakin memprihatinkan bagi para orangtua. Kecanggihan teknologi
seperti internet hingga telepon seluler berperangkat multimedia membuat pornografi dengan
mudah masuk ke ruang pribadi anak.

Lalu, sejauh mana bahaya pornografi? Pakar adiksi pornografi dari Amerika, Mark Kastleman,
mengungkapkan bahwa stimulasi oleh pornografi merangsang pelepasan hormon dopamin dan
endorfin. Jika paparan pornografi diteruskan, otak akan membutuhkan dopamin semakin besar
guna mempertahankan kadar rasa senang yang sama. Dalam kondisi normal, dopamin dan
endorfin akan sangat bermanfaat untuk membuat orang sehat dan menjalankan hidup dengan
lebih baik saat normal. Namun dalam konteks pornografi, otak mengalami rangsangan
berlebihan. Akibatnya otak tidak dapat bekerja dengan normal lalu akan mengecil dan rusak.
Sehingga anak dan remaja akan mudah mengalami bosan, merasa sendiri, marah, tertekan dan
lelah. Dampak yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan prestasi akademik dan
kemampuan belajar, serta berkurangnya kemampuan pengambilan keputusan.

Selain kerusakan otak, pornografi juga menimbulkan hasrat untuk melakukan hubungan seksual
dan membangkitkan kecenderungan untuk melakukan serta meniru. Dari survei yang dilakukan
terhadap 1.017 remaja berusia antara 12 hingga 14 tahun di Amerika Serikat diperoleh hasil
bahwa media yang banyak menampilkan gambaran seks meningkatkan nafsu para remaja untuk
melakukan hubungan seks.

Tidak hanya itu. Berdasarkan penelitian Flood yang bertajuk The Australian Research Centre in
Sex, Health and Society, anak-anak yang akrab dengan tayangan film porno akan tumbuh
menjadi orang dewasa yang menganggap kekerasan seksual sebagai hal biasa. Dalam riset yang
dilakukannya, ia juga menemukan bahwa anak-anak penggemar film porno ini di usia dewasa
sering gagal membina hubungan dengan pasangan. Mereka juga lebih sering melakukan
hubungan seksual tanpa ikatan.

Menyadari seberapa hebat dan mudahnya pornografi juga menghancurkan masa depan seorang
anak, orang tua seyogyanya menempuh beberapa tindakan preventif. Orang tua, baik ayah
maupun ibu, harus lebih terlibat dalam pengasuhan anak-anak mereka sejak belia. Kurangnya
peran ayah dalam pengasuhan anak pada usia dini, khususnya pada anak lelaki, mengakibatkan
terputusnya jembatan komunikasi antara orang tua dan anak. Hal ini membuat banyak anak
memilih mencari informasi dari luar rumah yang bisa jadi malah menjerumuskan mereka dalam
dunia pornografi.

Di samping itu, orang tua jangan gaptek (gagap teknologi). Orang tua harus mampu
mengimbangi kemampuan teknologi anaknya sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan.
Sayangnya, tidak banyak orangtua mau melakukannya. Mereka sering tidak sadar dan tidak acuh
terhadap efek perkembangan teknologi. Padahal mengabaikan teknologi merupakan salah satu
faktor pemicu timbulnya kecanduan pornografi pada anak dan remaja.

Ketidaksadaran itu tampak dengan memanjakan anaknya dengan perangkat gadget yang tidak
sesuai kapasitas mereka. Hal itu terjadi karena dari sisi orangtua, malu kalau anaknya belum
punya gadget, takut anaknya minder, takut gaptek, takut tidak bisa bersaing di masa depan.
Mereka sama sekali tidak tahu apa yang mereka berikan bisa memberi dampak karena terlalu
berprasangka baik pada teknologi. Kita hidup di revolusi teknologi yang kecepatannya melebihi
desah napas kita. Hindari menggunakan cara 20 hingga 30 tahun lalu.
Terakhir, para orangtua seyogyanya memberikan pendidikan seks yang benar dan sehat agar
anak tidak memilih mencari informasi dari luar rumah yang bisa menjerumuskan mereka dalam
dunia pornografi. Hal ini wajib dilakukan para orangtua mengingat ada faktor yang hilang pada
penyuluhan tentang seksualitas bagi anak-anak dan remaja saat ini. Pemerintah menyatakan
pendidikan seks dimulai sejak umur 13 hingga 21 tahun karena dianggap anak tersebut telah
memasuki fase dewasa. Padahal kenyataannya, 52 persen anak perempuan menstruasi pada usia
9 tahun, 48 persen anak laki-laki mimpi basah umur 10-11 tahun.

Anak adalah generasi penerus bangsa. Bisa dibayangkan apa jadinya masa depan bangsa ini jika
generasi penerusnya rusak karena pornografi. Pornografi sejatinya merupakan—meminjam
istilah Psikolog Elly Risman—“bencana nasional" yang harus kita tanggulangi bersama.
Sekarang! Sebelum semua terlambat.

*Penulis adalah alumnus ilmu komunikasi FISIP UI. Peneliti di Pusat Kajian Komunikasi
(PUSKAKOM) FISIP UI