VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. pertanggungjawaban. aturan dibuat untuk dilanggar. infrastruktur. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Franky Saya setuju. Sudah ada perda tentang bondo desa. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. saya setuju desa punya kewenangan. legislatif. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. anggaran desa itu seperti darimana saja. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . Kita pernah menantang IMB. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. desa dan pilkada. tapi belum dilaksanakan. wewenang dan anggaran. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. karena yang dihadapi adalah SDM. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. Komentar Pak Ibnu. dukungan masyarakat. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. ini perlu didorong dan didefinisikan. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. peradilan desa itu sudah ada preseden. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. Untuk kasus yang kecil-kecil. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. kemampuan perangkat.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. administrasi. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. tidak perlu detail. masyarakat tidak dihargai.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. dia bisa membuat peraturan. yudikatif tidak jelas. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. namun ada problem-problem empiris. di peraturan itu belum ada. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. Sofyan Mekanisme kewenangan. walaupun itu bertentangan dengan hokum. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. masyarakat dikebiri oleh pejabat. unsur pemerintahan eksekutif. Mnurut saya. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. Ciri otonomi. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. kalau kita pilih self governing community. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. syaratnya dirubah. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur.

apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. hubungan antar sektor. Wai. tanahnya. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. hubungan sektoral berbenturan. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Fasilitator Bapak-bapak. pengaturannya bukan sektoral lagi. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Yuni–Asppuk. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. dan itu menjadi pertarungan yang riel. Widya-FPPM. • Implementasi Pancasila. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. Datuk–Asosiasi Nagari.Lakpesdam. Adnan–LP3ES. UU 32/2004. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Joana–World Bank. • Demokrasi. Widyohari–STPMD ”APMD”. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. Menggagas Desa Masa Depan 51 . Rahma–LIPI.adatnya. Abu–Persepsi. 2. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. akan terjadi pertarungan dengan negara. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Wafi–BPD. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Dahlia–TTS SoE. ibu-ibu. Aturan sering bertubrukan. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. mana yang baik dan tidak baik. akhirnya dicabut kewenangannya. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. termasuk kultur. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Marhaban-PMD Depdagri. kalau perlu ada departemen khusus agraria. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. UU dalam ranah desa. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. Hans Antlov-LGSP. Agus R.

Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. implementasi dan pengawasan. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. artinya harus dengan target sekian orang. polanya masih top down. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. jadi tidak perlu ada batasan quorum.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. saya lebih optimis. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. euforia politik. kaitannya dengan psikologi demokrasi. maka pemilihan kades juga dibiayai. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. permasalahan diantara mereka. mengontrol pembangunan di desa. Dari beberapa hal tersebut. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. melainkan kontrol. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. • Keuangan. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. dipilih langsung. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. • Persoalan quorum menjadi masalah. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Wafi • Kaitan dalam hal ini. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. dengan harapan yang lain akan melengkapi. Menggagas Desa Masa Depan 52 . Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. masyarakat belum. musrenbang tidak ada artinya.

Kanada. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. negara. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Menggagas Desa Masa Depan 53 . masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. ninik mamak. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). Representative demokrasi bukan ada di kita. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. Proyek PPK di daerah. kelompok perempuan. provinsi. sehingga kades. pemuda. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. perencanaan pembangunan masih top down. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). Menurut saya. Amerika. yang punya uang yang menang. BPD dan lembaga lain di desa. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. alim ulama. alim ulama. Australia. tapi perlu tupoksi yang jelas. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. tapi kita tawarkan kepada yang lain. Saya pahami bahwa peran warga desa. maka masyarakat akan diam. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. jadi tidak memaksakan keinginan kita. politik (Pembuatan Perdes). demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. Nah. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. Secara umum. ninik mamak. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. Kalau di desa Sumba Timur. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. Tana Toraja. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. seperti freedman. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. menampung. Apa yang disampaikan Joana perlu. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. Hebatnya demokrasi. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. istrinya carik ya. pemuda. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). silahkan. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok.

dan lain-lain. ada rapat/rembug desa. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. itu harus dilembagakan. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. PPK bagus. tetapi sekarang tidak. petani. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. Saya mengkritik teman-teman di PMD. perwakilan.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. eksekutif. ini parah. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. saya setuju dengan Pak Sus. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. sehingga tepat kita mencari demokrasi. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. siapa saja: buruh. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. partisipasi di desa adalah milik elit desa. Dalam proyek PPK. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. ada mekanisme kontrol internal di desa. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. masih sebagian bergantung pada pemerintah. sesepuh. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. ada badan legislatif. wali nagari/kades memiliki masyarakat. tapi masih ada celah-celah. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. menjadi grup politik masyarakat. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. kalau tidak ada. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. kemudian tidak lahir dari masyarakat. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. Partisipasi menjadi titik demokrasi. tidak memadainya apa yang ada di BPD. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. Dari prosedur itu tidak menjamin. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. masing-masing desa berbeda. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. meskipun bukan satusatunya problem di desa. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. Kerena itu. Barat tahu persis otonomi daerah itu. Yang penting 3 (tiga) itu. Problemnya. karena itu murni dari adat. Kendala yang perlu diperhatikan. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Kades. Apapun bentuknya tidak masalah.

demokrasipun kalah. kepentingan. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. jadi kendalanya struktural dan kultural. ada potensi. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. adanya penokohan. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. kehadirian fisik. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. keterwakilan partisipasi. pengkulturan masyarakat. mereka bisa. orangnya terbatas. Kalau di pemerintahan. ini dan itu. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. India. pikirannya. Membandingkan dengan yang di atas. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. bagi saya tidak masalah.. kita fasilitasi. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. silahkan. Dana disiapkan. pemikirannya terbatas. sehingga dia akan kuat. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. Amerika. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. kelompok dan lainlain. permusyawaratan – perwakilan. Itu bukan Eropa.insidential. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. tidak masyarakat. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. parpolpun tidak mewakili masyarakat. • Kades di TTS seperti alat politik. Contoh. Saya hanya mengkritisi itu. tenaga. Pancasila dan UUD 1945. Jadi masyarakat perlu kita latih. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. Negara tetangga lain. persoalan budaya. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. diwadahi dalam forum. itu diseimbangkan. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. Kalau BPD. pengangguran. Filipina. dananya. Banyak pendapat tentang partisipasi.. lebih mementingkan proyek. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. Menggagas Desa Masa Depan 55 . tapi negara Asia. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara.. ada kebutuhan.

kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. injecting participating in local. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. jadi hanya hari sabtu saja. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. BPD sebagai tool untuk check and balances 2.. BPN tidak berfungsi. kita semua membicarakan hal yang sama. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota.. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi.. sabtu. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. cuma hari sabtu saja yang demokratis.hhahaahhaaa. karena oranya tidak demokratis. mandul. kalau bukan kebutuhan. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. sikap elitis. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. senin-jum’at tidak demokratis. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. Demokrasi hanya satu hari. elit-elit menyelewengkan demokrasi. hanya kata-katanya yang berbeda. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat.. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput..

sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. 2. dengan skala prioritas. Datu-As Wali Nagari. Kamardi-Perekat Ombara. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. Ade-KDP World Bank. karakter dan budaya setempat bisa masuk. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11.5 Milyar. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Dahlia-PMD TTS. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. pendapatan desa rendah. yaitu: 1. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. Syamsul-Bina Swagiri. Bambang Hudayana 2. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik.Hari/Tanggal : Senin. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. Joana-World Bank. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. 3. 5. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Sukoco-Kades Wiladeg. ada PP 72/2005. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. sehingga ada kejelasan potensi. Menggagas Desa Masa Depan 57 . merujuk PP 72/2005. Kasmuin-CePAD. Abu-Persepsi. Adri Warsena-FPPD. kemudian ADD untuk apa?. 3 Juli 2006 Pukul : 11. Tumpak-PMD. Perda-perda dan perdes. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. 4.00 – 13. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. alasannya 1) SDM tidak mampu. dalam kaitan ADD. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. Mengapa kabupaten tidak responsif?. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. maksudnya bendahara desa. Kewenangan desa harus jelas. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa.00 3.

lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. kalau itu tidak disiapkan di desa. kalau tidak ya tidak. DAU yang dipotong anggaran rutin. 3. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. faktor APBD kabupaten belum siap. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. Mungkin juga faktor politik. Dana yang pertama itu 10 Milyar. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. kalau diukur dari PP masih jauh. Sepertinya itu masih terjadi. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. ada yang pakai peraturan Bupati. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. mestinya 23 Milyar. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. dengan presentase sekian % untuk BPD. memang nilai asli desa ada gotong royong. maka akan memindah budaya korupsi di desa. Yang menjadi orientasi ke depan. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. faktor politik (karena tidak milih).kemungkinannya adalah. Ini yang selama itu belum jelas. Menggagas Desa Masa Depan 58 . ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. Catatan lebih jauh. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. jadi berbeda sumbernya. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. 1. pembangunan dan lain-lain. 2. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. Efek ADD luar biasa. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. setelah ADD jalan desa sudah hotmix.

Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. Disini juga ada tim pengawas. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. bertahap. DPRD dan lain-lain. kalau rata maka 75 juta per desa. Ada kecenderungan berbeda. Honor kades.Fasilitator ADD itu hak desa. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. hanya beberapa desa. di desa itu tidak ada Bandes. Mekanisme pencairan dana cukup baik. ADD seharusnya didahului RPJMDes. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Contoh di Ngada. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. Pembangunan sendiri belum. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. Bupati mengakali 50 juta per desa. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. Betapa pentingnya kewenangan desa. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. 1. dananya harus memadai. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. Menggagas Desa Masa Depan 59 . ADD tidak merata ke seluruh desa. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. datang kontraktor di atas kertas swakelola. itu sudah mendarah daging. 10 % DAU maka harusnya 15 M. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. sehingga menguntungkan pihak luar. PP 72/2005 di kabupaten. tetapi hanya rambu. Yang ditanyai Bandes. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. dan baru menerima PP 72/2005. 2. PMD. kriterianya sangat banyak. sehingga mereka bisa bikin pasar. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. tidak ada mark up. Pembangunan oleh desa lebih efektif. 3. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. Yang baik itu PPK. dan kabag hukum. jalan dll. ada soal dengan kabupaten induk. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. Sejak berpisah dari Deli Serdang. porsinya tidak ditentukan.

Menggagas Desa Masa Depan 60 . perlu komitmen di tingkat nasional. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. 5. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. 4. kalau tidak ya ada batas minimum. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. Instrumen kebijakan. yang itu berasal dari kabupaten. dana pemberdayaan. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Pembangunan kemasyarakatan. 10% dari APBD. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%.Fasilitator Jadi skenarionya. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Perlunya needs assesment di desa. misalnya best bracticenya diungkap disini. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. 2. 2. Di desa itu banyak uang. Peningkatan SDM. Ekonomi kerakyatan. Arah pembangunan ke 5 sasaran. Instrumen akan sangat berharga. Bagaimana kita melakukan penguatan. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. Pedoman level pusat belum ada regulasi. Pembangunan infrastruktur. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. masih perlu dukungan masyarakat. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. yaitu : 1. kabupaten hanya memberi acuan saja. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. Sumber Daya Alam. DAKN. 3. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa.

Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Indikatornya: a. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. b. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. 1. 3. sehingga dapat independen. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. Sumber pendapatan desa belum jelas. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. 6. dalam bentuk block grant. akan tetapi daerah masih setengah hati. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. Itu dikarenakan adanya PP. 4. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. masalah politik 5.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. Menggagas Desa Masa Depan 61 . Catatan juga dari kami bahwa : 1. 5. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. walaupun itu difasilitasi oleh negara. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. keterbatasan PAD. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. 3. 7. 6. 4. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. sehingga jumlahnya masih kecil. Kabupaten enggan untuk ADD 2. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Pemda berhenti membuat perda. Masalah. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah.

kita eksplorasi pandangan. apa keuangan desa. Barori-STPMD “APMD”. Transparansi. Dony-DPRD Sumedang. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Susmanto-FPPD/LGSP. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). dan bagi pemerintah itu sendiri. Yuni Pristiwati . Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. 8. pembagunan. M. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. Sofyan-Akatiga. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). peserta memperkenalkan jati dirinya. keberlajutan. aktivitasnya. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Sebelum mengerucut. yaitu prinsip transparansi. Firsty Husbany-DRSP. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Untoro-PMD. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Erni-FPPD. problematikanya. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. 4. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa.7. Widya PujiFPPM. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Edward Lubis-YIPD Jakarta. Agus R Rahman-LIPI. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pengalaman-pengalaman praktis. usaha kecil. 9. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Yusuf-Sajogyo Sains. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Silahkan. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. Suharman-PSPK UGM. baik untuk mikro finance maupun BUMDes.ASPPUK 2. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa.

mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. masyarakat sekarang ini justru senang. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. Ketika bicara keuangan desa. Jadi uang itu muter. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. Jika disepakati.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. pembangunan dan kemasyarakatannya. sistem kelembagaanya sehat. belum dalam konteks yang lebih positif. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. produk skala umum. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. dari segi system micro finance itu sehat. Ketika desa membiayai sendiri. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Karena dibutuhkan tambahan modal. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. itu otonom. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. Barori Pak Lubis juga benar. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. Tantangan kedepan adalah produk desa. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Artinya. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Persoalannya. bargaining posititionnya kuat. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Micro finance menurut pandangan saya. Teknologi itu mahal. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. Dia punya idealisasi. Menggagas Desa Masa Depan 63 . Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. Komentar saya. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. Salah satu dalam pasal itu. merdeka. dst.

karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. Ke depan. sampai tingkat pasar dilepas. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Pada saat panen PPL sembunyi. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). tidak setengah-setengah. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. secara teknis harus untung (saved uang). dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. tidak dalam sektor keuangan di desa. Kita bisa belajar. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. produksi dilepaskan. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. Tawaran untuk diskusi awal. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. pasal 7881…. jangan sampai seperti sekarang. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. Kita memang berfokus pada BUMDes. lebih luas daripada kredit. Sidoarjo. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. karena pendekatannya efisiensi. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . Jasa ini penting. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. dll). dia harus bersaing disana. Micro finance dan BUMDes. memang dua hal ini sangat erat. baik bagi orang yang mau menabung. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. Kami mereka-reka. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. kita focus ke sektor keuangan di desa. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. Stefan Saya usul. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. Kita perlu pengawasan eksternal. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. pembiayaan sampai pemasaran. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. sudah ada Permendagri. pokoknya uangannya kembali.

dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. diangkat menjadi pengurus BUMDes. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. banyak pinjamnya. Status badan hukumnya masih PERDES. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. tapi satu sama lain saling mengkait. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. Permasalahan. apalagi di pedesaan. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). pertokoan (fotocopy. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. ATK). dan ada yang masih dalam perjalanan. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. Jadi kita mengadopsi. UEP PPK. sementara Perda turun belakangan. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. Setelah terbentuknya BUMDes. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. manakala go public pihak perbankan belum merespon. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. lumbung desa. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). Ada aturan BUMDes. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. BUMDes bisa menjadi PAD desa. harus ada akta notaris. sama yang kami buat. kedudukannya sama dengan UU. bahkan kalau sudah jalan. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. satu desa ada 60 juta. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. Disepakati. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. UEP PKK. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Oleh karena itu. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. tinggal di akta notariskan. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes.besar. jarang yang simpan. dari APBDes ke BUMDes. seperti usaha simpan pinjam. ada yang sudah berjalan.000. dan warung nasi.

Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. 53 juta/tahun). rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. Persoalannya. Tanpa itu. Dalam diskusi ini.ada peningkatan pelayanan masyarakat. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. ini tentu akan sulit. Kita juga harus lihat ini. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. Sofyan Persoalan. bukan hanya kebijakan. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Kalau di pertanian jelas. Agus Dalam hal BUMDes. maka dia tidak bisa menabung. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. dll. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. dan saya pribadi setuju. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. sekolah. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Kalau petani tidak mau mengubahnya. tidak semata-mata orientasi bisnis. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. maka tanahnya diambil. Mungkin ini control. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. puskesmas. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . Ada 12. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. Ada pengalaman saya. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. maka saya penekanannya pada tabungan. tidak haya aturan teknis saja. tetapi dengan pertimbangan. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. Maksud saya. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah.

Apakah dengan BUMDes. saya kira Indonesia sudah makmur. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. saya lihat petani juga semakin parah. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). kalau pupuk di lepas dipasar bebas.03% GNP. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). untuk apa? Tetap saja petani mati. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. Kalau tidak. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. (terjadinya dept capital). bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. apapun bentuknya. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. kearifan desa disana. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. karena ada problem seperti ini. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. semuanya harus affirmative. harus lebih jelas. BUMDes itu sesuatu yang bagus. jangan sampai ada penyeragaman. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. misalnya soal pupuk. 70% dikuasi elit desa. Contohnya di seminar 2 hari ini. petani kita hancur. Semua ini pendekatan insidental. Tidak usah bicara partisipasi. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. termasuk skema kreditnya. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. Usulan. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. Misalnya kasus UU Perbankan. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. tidak dari daerah. masing-masing mempunyai institusi sendiri. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank.Mengenai BUMDes. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. Belajar dari pengalaman itu. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang.

Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. siapa mau berobat. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. Kita coba memakai kelompok tani hutan. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. jangan sampai itu hanya urusannya PMD.Jenis usaha. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. ini cukup Rp. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. Saya berpikir. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan.000. ini tidak pas. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. saya menulis “Bupati versus rentenir”. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. dia jalan menggunakan mekanisme bank. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. afirmatifnya seperti apa?. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. 10. silahkan gratis. bahwa nanti akan ada Perda. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. Kasus yang menarik. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. belum terselesaikan. Itu nanti justru akan menjadi konflik. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. cukup “kamu jualan disitu. Tentang kehutanan. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. nanti kembali sekian”. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. sehingga dikembalikan. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. Menggagas Desa Masa Depan 68 . Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. misalUU kehutanan. tiap desa harus muncul BUMDes. bukan dipaksakan muncul. Persoalan tentang micro finance. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran.

Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Informasinya di Bantul BPRnya maju. tidak dijual. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. Prinsipnya. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Mengenai hutan. tidak dipaksa. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. itu yang kita lindungi. Nanti konsekuensinya. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. misalnya hutan.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. dan pusat hanya kebijakan. Kepemilikan. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. kurang terpayungi secara hukum. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). maka tidak akan ada masalah rentenir. “Bupati vs rentenir” di Bantul. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Prinsipnya. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. Mengenai tanah kas desa. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Kalau itu bisa. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. jadi BUMDes saja. oleh dan untuk anggota. Menggagas Desa Masa Depan 69 .

lebih memberdayakan pada perempuan. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Widya Bagi saya. asetnya sudah 1 milyar lebih. Seperti ini ada linkage program. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). Pengawasan juga kuat seperti bank. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. kepastian hukum. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. koperasi itu bukan bank. masyarakat langsung control. Jadi perlu disisipkan. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. Kalau kita lihat draft UU LKM. Solusinya. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. bagaimana cara mengelola kredit mikro. Apakah ini perpanjangan tangan. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Ini menjadi ramburambu. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Sebagaimana bank yang lain.Barori Masalah kelembagaan. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. Menggagas Desa Masa Depan 70 . (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. sehingga mereka rajin mengembalikan. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. dasar hukum LKM harus ada. salah satu problemnya itu. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. Strateginya. Prinsipnya. pemerintah bekerjasama dengan NGO. mereka menerima uang di masyarakat. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Kalau ini membahayakan harus ditolak. jangan disamaratakan perempuan itu lemah.

• ada kejelasan tatalaksana manajemen. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. • sebagai affimative action. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. Menggagas Desa Masa Depan 71 . • ada pengawasan yang jelas. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. termasuk affirmative action lintas sektoral. • kepemilikan oleh rakyat. Dari sisi LKM atau BUMDes. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. • ada alokasi dari dana APBD. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. Dari pengalaman itu.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. pelatihan. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut.

mungkin saya sampaikan. kami persilahkan saja. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. Sadu Terima kasih. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. . nanti diskusi akan berkembang lagi. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. bukan hanya sekedar pemerintah desa. sesuai saja. dibuat mengambang. Menggagas Desa Masa Depan 72 . juga ditangan pemerintah desa. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. Toro-STPMD “APMD”. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Steny-HUMA. • konsep-konsep perwakilan daerah. saya kira dengan yang kita bahas tadi. hubungan kerja. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. berpendapat. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. Franky-AMAN. Haryo Habirono – FPPD 2. Widyohari-STPMD “APMD”. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Elke Rapp-DRSP. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. dan ada komunitas-komunitas tertentu. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi.. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. BPD. Salini-DSF. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Jayus-UNEJ. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. Ibnu–Unibraw. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Nurwafi-BPD. Saya kira itu.... Jadi ini dilema.5. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita.. inkonsistensi. Wa’i-Lakpesdam.. Dua pembicara Pak Prof. Tetapi yang terjadi dalam praktek. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Pak Sadu sudah panjang lebar. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. untuk tidak mengatakan salah. Azam-Pemdes Kebumen. Mas Ibnu sudah panjang lebar. karena tadi waktunya pendek. pola kerjanya bagaimana. Sadu–STPDN. yang penting yang harus dirubah. Untuk itu. kan begitu. Widya-FPPM. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu.

Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. tapi kedudukannya tidak jelas. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. kewajiban-kewajiban pemerintah. dia tidak digaji.. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. Saya bertanya.. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. Saya menawarkan gagasan. hanya hal itu tidak dilaksanakan. akhirnya gubernur setuju. Mohon maaf. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. nah ini menjadi babak baru. Nah ini akan menjadi dilema. larinya pengganti ekonomi.Desentralisasi kepada daerah jelas. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. bukannya masyarakat adat tidak prnting. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. sekarang tidak ada. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. khususnya untuk pengaturan. kalau dulu masih ada pengganti asusila. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. anggaran banyak. Jadi sebelumnya. yang dipungut adalah iuran. Fasilitator Saya potong sedikit. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. saya tidak tahu. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa.. tapi kalau kita lihat data. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Dan untuk desa diminta naskah akademik. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. bisa mengatur pilkades yang baik. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. Ini lebih memberi peluang.

Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. dimana desa yang masih homogen.yang khusus. Karena kalau semua sudah diatur. Kita diskusi mengenai local state government. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. untuk melihat struktur apa akan dipakai. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. adatnya masih kuat. saya kebetulan dari orang pemerintah. tapi itu masih kurang. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. lima struktur itu bebas saja. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. Konsultasi publik saya tahu. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. dari bawah. jangan terlalu detail. ada self community governance. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. Menggagas Desa Masa Depan 74 . Dalam undang-undang nanti. step by step. Artinya mekanisme ini tolong. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. bisa dengan penurunan pangkat. minimal kalau ada sekian provinsi. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. local state governance. Azam Terima kasih. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. saya pikir apa konsekuensinya. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. local self government. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. dan self government community. ada local state governance. Dari dulu desa deperti ini terus. local self governance. atau self community governance. ini agak beda. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. dari legislasi. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. Elke Usulan tadi bagus sekali. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. kita kembali ketiga tipe desa. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. masa jabatan tidak usah diatur. ada sanksi disitu. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. kecamatan. Fasilitator Ya. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. Kalau kita mulai dari tingkat desa. sudah jenuh juga. Sekarang saya melakukan perubahan perda. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. apakah local self governance.

kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. Atau sebaliknya. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. mungkin dalam pikiran normatif. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. Nurwafi Terima kasih. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. komando. penyeragaman. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi.. selama ini hanya instruktur. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. Kemudian sentralistik. yang prinsip bagaimana hak-hak. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak.. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. apa mau kawan-kawan di level bawah. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. Nurwafi Prinsipnya. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip.

perijinan dan sebagainya masuk. Kedua. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. dan lainnya untuk daerah mana. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Saya kira begitu aja. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Wa’i Terima kasih. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat.kewenangan desa. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. kabupaten lebih khusus lagi. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. begitu? Provinsi lebih umum. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. atau kalau ada investasi. lebih spesifik lagi. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Fasilitator Kalau saya menangkap. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. pendidikan dan sebagainya. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. Oh. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Ketiga. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi.

Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. Saya agak kurang setuju dengan Prof. itu bisa kita petakan secara jelas. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. saya ingin bertanya. Hanya berhenti disitu. Itu posisinya jelas. tapi ya begitu saja. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. tidak pernah serius dilaksanakan. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. karena pengalamannya Jawa. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. tapi tidak pernah terlaksana. kemudian Mas Wafi. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. ganti konsep alokasi. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. Sekarang mengenai desa otonom. Tadi Mas Franky dari AMAN. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. Sutoro Mengulang yang kemarin.sebagainya). Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. Ketiga. dia sedang berbicara tentang desa adat. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. disamakan sajalah. BPD-nya sudah lebih siap. Ini peran pemerintah. kabupaten. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. melakukan supervisi. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Kedua. Kembali pada SDM. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. itu artinya yang namanya penyerahan. Mas Toro silahkan. dan desa. Kedua. membina. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Karena pengalamannya sudah lebih baik. kepegawaian. pembinaan kapasitas dan seterusnya. Nah ini persoalannya sekarang. jadi kategorinya jelas. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. Pertama. Pak Azam bicara tentang desa otonom. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah.

perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. yang dikejar harga ekonomi. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. supervisi. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. Saya juga bingung. akarnya sudah tercabut. hak dan kewajibannya jelas. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. kalau semua bisa jadi satu. Bagaimana dengan yang begitu. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. peran pemerintah sebagai fasilitasi.tiga ya harus konsisten. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. sekarang tidak kesitu yang dikejar. meninggal harus cari tempat lain. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. sekarang penghargaan sosial tidak ada. karena konfliknya disitu. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. ia kehilangan hak-hak sosial. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. bunyi pasalnya wajib. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. jadi larinya pada penghasilan. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. dia bisa ditolak di-aben disitu. Soal istilah. tadi saya terima kasih diberikan saran. kuatnya begitu. keuntungan untuk desa sekian. itu difasilitasi di pasal berikutnya. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. makanya mereka menghargai betul pada adat. tidak perlu ada administrasi. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. intinya satu yaitu wajib. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. nanti saya pikirkan. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. tidak perlu ada pemerintahan. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. Menggagas Desa Masa Depan 78 . Kalau desa itu tidak jelas. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. Saya mau menambahkan saja. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. itu bukan harus. Steny Konkretnya. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen.

biar nanti kalau terkait dengan desa. Menggagas Desa Masa Depan 79 . UU 22/99 demikian pula. Fasilitator Ya.. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. itu berkaitan dengan sanksi. itu yang pertama. Elke Saya hanya ingin.. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. hanya orang desanya sendiri. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. Soal ADD. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. nanti dalam diskusi pleno presentasi. kita masih akan terus menambahkan. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. soal hak-hak desa itu ada. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. ditaruh didalam meja.. Apa ada relawan. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. kalau masih ada ide-ide. Pak Toro selama belum ada amandemen. Fasilitator Oleh karena itu. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. kalau kiranya cukup. mekanisme keluhan. Fasilitator Saya kira ini cukup.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. Kedua. coba kita lihat th 65. kita lihat lagi th 48. jadi tidak pernah tahu padahal ada. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca.

Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. capacity building menyangkut desa.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Barori 1. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Konsistensi implementasi dari policy. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Selain jaminan kewenangan.00 – 17. fasilitasi. 8. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin.2. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. 3. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. Bahkan. 5. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. 2. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. Oleh karena itu. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. 4. fasilitasi. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal.00 Moderator : M. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut.

lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. hanya perlu good will dari semua unsur. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. 5 unsur dari pemuda. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. jadi tidak perlu regulasi baru. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. Oleh karena itu pula. 1 jorong ada penduduknya 700. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. 5 unsur dari bundo kandung. bagaimana keterwakilan kelompok lain. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. mekanisme. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. lebih besar dari 3000 25 orang. 5 unsur dari nini mamak. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. Saya dari Limapuluh Kota.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. Berdasarkan pengalaman. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. pemilihannya tentu per jorong. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. pemilihan itu bagaimana bentuknya. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. Oleh karena itu. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. Dan dengan demikian. ada juga 1500 orang. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . bagaimana keterwakilan. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. silahkan. regulasi tidak terlalu banyak. kita kembalikan ke masyarakat. 5 unsur dari pemuda. kami ada 7 jorong. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. atau dimensi kultural). masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang.

2. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. contoh di penjelasan. lalu pemerintah membuat perda yang baru. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. bahwa BPDnya tetap seperti semula. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. BPD sebagai tool untuk check and balances 2.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. substansi adalah menghindari elit desa. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. sikap elitis. jadi seolah sama. perlu ditambahkan. 1. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Soal jumlah. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. Masalah regulasi. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3.

BPD sinergis. Biaya pilkades itu kecil. government for the people. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. tapi tidak serta merta mewakili desa. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. tapi ad hoc saja. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. Contoh di Jepara. yang saya usulkan itu DPD. tetapi institusi yang mewakili desa. bagaimana APBD itu membiayai juga. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. sehingga demokrasinya bisa berjalan. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. bisa pemilu atau yang lainnya. Itu perlu dinormakan. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. mekanismenya terserah. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. Mekanisme di pusat sudah ada. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. sehingga netralitas calon kades. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. bagaimana lembaga di desa. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. kades. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. yang jadi mahal itu money politic. Menormakan ini tidak bisa seragam. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR.

tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. keluarga. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas.00 – 15. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Penguatan kelembagaan. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. masyarakat.15 Moderator : Sumarjono 3. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. Hari/Tanggal : Selasa. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat.kabupaten/kota. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan.

Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Dengan demikian ADD menjadi problem. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. 4. Ini memang dalam perspektif yang mikro. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. maka 80% langsung ke masyarakat. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Saya persilahkan tanggapannya. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. Marhaban Kita di PMD. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. ini memang strategi pemberdayaan. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. karena desa itu sudah di bawah negara.

karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. Ketiga overlap. kenapa justru ada eksploitasi. walaupun secara yuridis formal belum nampak. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. 9. pilihan. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. 8. delegatif dan kewenangan lain-lain. 7. fasilitasi. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. koncuren. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. fasilitasi. Di UU ada kewenangan atributif. dan 3) overlap. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. 10. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Justru dengan otonomi desa. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi.• Konsistensi implementasi dari policy. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. provinsi. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. Bahkan. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. Menggagas Desa Masa Depan 86 . Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Deskripsi singkat : 6. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. capacity building yang menyangkut desa. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Bumi. capacity building menyangkut desa. tanah. 2) separated.

UU 22/99 wewenang. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. karena pengawasan ikut mengarahkan. Skandinavia. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. ini yang menjadi tali sentralistik. nampaknya yang diberikan itu urusan. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. Pasal 1 negara memberi pengaturan.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. eksternalitas. UU 5/74 itu wewenang. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). Saya kira disana ada politik. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. oleh karena itu terbit UU sektoral. maka perlu modal. teknologi. Negara-negara old model (Jerman. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . tetapi juga persoalan politik. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. di UU 32/2004 itu urusan. apalagi mau kita bawa ke desa. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. dan efisiensi. Australia. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. padahal kalau residual teori itu wewenang. dan pemasaran. Negara-negara baru (Amerika Serikat. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. Saya pilih ke istilah kontrol. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. kalau saya melihat lebih ke politik. 5. fasilitator. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. 2.

• Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. untuk rakyat (petani. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. nelayan.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. Menggagas Desa Masa Depan 88 .

rakyat miskin (petani. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. agar perda itu baik dan benar. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). BUMDes itu akan dibiayai APBD. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. Menggagas Desa Masa Depan 89 .• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini.nelayan. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. termasuk monitoring dan pengawasan. mau memberikan waktu. sehingga perlu pembinaan. dll). Pengawasan. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. Di tingkat II. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. panjang sekali prosesnya. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. perda mengacu UU. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. tenaga dan pikiran. Kita harus tegas mengatur ini. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. perdes mengacu perda. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. siapa yang akan mengontrol BUMDes. sebagai komisaris. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes).

ke bank misalnya. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. seperti ADD. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. Payung hukum yang ada adalah yang umum. maka tidak bisa ke sana nanti. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Lebih fundamental lagi. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. Menggagas Desa Masa Depan 90 . Moderator Diskusi ini kita akhiri. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. menggagas desa masa depan. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. BUMDes yang lemah payung hukumnya. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. lebih banyak ke perangkat desanya. bukan khusus untuk BUMDes.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful