VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. administrasi. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. infrastruktur. ini perlu didorong dan didefinisikan. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. tapi belum dilaksanakan. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. di peraturan itu belum ada. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. walaupun itu bertentangan dengan hokum. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. tidak perlu detail. saya setuju desa punya kewenangan. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. kemampuan perangkat. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. yudikatif tidak jelas. Mnurut saya. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. Sudah ada perda tentang bondo desa. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. peradilan desa itu sudah ada preseden. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. unsur pemerintahan eksekutif. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. masyarakat dikebiri oleh pejabat. legislatif. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. namun ada problem-problem empiris. dia bisa membuat peraturan.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. anggaran desa itu seperti darimana saja. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. Kita pernah menantang IMB. dukungan masyarakat. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. Franky Saya setuju. syaratnya dirubah. desa dan pilkada. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. Komentar Pak Ibnu. Sofyan Mekanisme kewenangan. kalau kita pilih self governing community. Untuk kasus yang kecil-kecil. aturan dibuat untuk dilanggar. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. karena yang dihadapi adalah SDM. Ciri otonomi. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. masyarakat tidak dihargai. pertanggungjawaban. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . wewenang dan anggaran.

Widya-FPPM. UU dalam ranah desa. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. Menggagas Desa Masa Depan 51 . tanahnya. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. Dahlia–TTS SoE. ibu-ibu. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. • Implementasi Pancasila. Adnan–LP3ES. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. Marhaban-PMD Depdagri. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. Yuni–Asppuk. Rahma–LIPI. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Widyohari–STPMD ”APMD”. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. UU 32/2004. 2. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. akan terjadi pertarungan dengan negara.adatnya. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. Abu–Persepsi. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Joana–World Bank. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. • Demokrasi. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. mana yang baik dan tidak baik. akhirnya dicabut kewenangannya. Hans Antlov-LGSP. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. kalau perlu ada departemen khusus agraria. Wafi–BPD. hubungan sektoral berbenturan. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. termasuk kultur. Wai. dan itu menjadi pertarungan yang riel. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Fasilitator Bapak-bapak. hubungan antar sektor. Datuk–Asosiasi Nagari. pengaturannya bukan sektoral lagi. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Aturan sering bertubrukan. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA.Lakpesdam. Agus R. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis.

mengontrol pembangunan di desa. kaitannya dengan psikologi demokrasi. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. melainkan kontrol. implementasi dan pengawasan. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. artinya harus dengan target sekian orang. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. musrenbang tidak ada artinya. dipilih langsung. • Persoalan quorum menjadi masalah.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Menggagas Desa Masa Depan 52 . implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. saya lebih optimis. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. jadi tidak perlu ada batasan quorum. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. dengan harapan yang lain akan melengkapi. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. • Keuangan. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. euforia politik. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. permasalahan diantara mereka. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Dari beberapa hal tersebut. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. Wafi • Kaitan dalam hal ini. polanya masih top down. maka pemilihan kades juga dibiayai. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. masyarakat belum. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan.

sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). perencanaan pembangunan masih top down. Australia. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. yang punya uang yang menang. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. jadi tidak memaksakan keinginan kita. BPD dan lembaga lain di desa. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). Apa yang disampaikan Joana perlu. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). kelompok perempuan. Menurut saya. provinsi. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. pemuda. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. Tana Toraja. Representative demokrasi bukan ada di kita. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. Kalau di desa Sumba Timur. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. Amerika. alim ulama. tapi kita tawarkan kepada yang lain. negara. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. sehingga kades. Proyek PPK di daerah. ninik mamak. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. Secara umum. pemuda. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. Nah. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. alim ulama. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. politik (Pembuatan Perdes). itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. silahkan. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. ninik mamak. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. Hebatnya demokrasi. Saya pahami bahwa peran warga desa. maka masyarakat akan diam. Kanada. menampung. seperti freedman. tapi perlu tupoksi yang jelas. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. istrinya carik ya. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan.

Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. Problemnya. Yang penting 3 (tiga) itu. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. sesepuh. Kades. masih sebagian bergantung pada pemerintah. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. wali nagari/kades memiliki masyarakat. dan lain-lain. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. petani. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. Kendala yang perlu diperhatikan. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. kemudian tidak lahir dari masyarakat. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Kerena itu. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. siapa saja: buruh. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. saya setuju dengan Pak Sus. karena itu murni dari adat. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. Dari prosedur itu tidak menjamin. meskipun bukan satusatunya problem di desa. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. tetapi sekarang tidak. ini parah. kalau tidak ada. perwakilan. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. Barat tahu persis otonomi daerah itu. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Dalam proyek PPK. Partisipasi menjadi titik demokrasi. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. tapi masih ada celah-celah. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. ada mekanisme kontrol internal di desa. Apapun bentuknya tidak masalah. menjadi grup politik masyarakat. itu harus dilembagakan. partisipasi di desa adalah milik elit desa. PPK bagus. masing-masing desa berbeda. ada badan legislatif. ada rapat/rembug desa. Saya mengkritik teman-teman di PMD. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. tidak memadainya apa yang ada di BPD. eksekutif.

Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. adanya penokohan. kehadirian fisik. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. Menggagas Desa Masa Depan 55 . kelompok dan lainlain. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. Dana disiapkan. Kalau di pemerintahan. ini dan itu. tapi negara Asia. itu diseimbangkan. Amerika. parpolpun tidak mewakili masyarakat. dananya. kepentingan. pengangguran. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. Filipina. pemikirannya terbatas. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. permusyawaratan – perwakilan. • Kades di TTS seperti alat politik. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. Itu bukan Eropa. tidak masyarakat. demokrasipun kalah. Jadi masyarakat perlu kita latih. persoalan budaya. keterwakilan partisipasi. lembaga dari luar yang ada di tempat kami.. jadi kendalanya struktural dan kultural. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. Contoh. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. tenaga. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. diwadahi dalam forum. India. silahkan. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. kita fasilitasi. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. lebih mementingkan proyek. bagi saya tidak masalah. pengkulturan masyarakat. ada kebutuhan. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. sehingga dia akan kuat. Kalau BPD. Negara tetangga lain. Pancasila dan UUD 1945. orangnya terbatas. Membandingkan dengan yang di atas. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. mereka bisa. ada potensi. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. Saya hanya mengkritisi itu.insidential. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. pikirannya... Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. Banyak pendapat tentang partisipasi.

BPN tidak berfungsi.. kalau bukan kebutuhan. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. sabtu. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. hanya kata-katanya yang berbeda. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 .Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. cuma hari sabtu saja yang demokratis.. injecting participating in local. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. sikap elitis. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. Demokrasi hanya satu hari. elit-elit menyelewengkan demokrasi. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1.hhahaahhaaa. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. karena oranya tidak demokratis. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan.. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. kita semua membicarakan hal yang sama. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. BPD sebagai tool untuk check and balances 2.. mandul.. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. jadi hanya hari sabtu saja. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. senin-jum’at tidak demokratis. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat.

Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. 5. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. maksudnya bendahara desa. dengan skala prioritas. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11.00 3. Tumpak-PMD. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Datu-As Wali Nagari. 3 Juli 2006 Pukul : 11. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. 4. alasannya 1) SDM tidak mampu.5 Milyar. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. sehingga ada kejelasan potensi. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik.00 – 13. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Kasmuin-CePAD. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. Adri Warsena-FPPD. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. pendapatan desa rendah. Syamsul-Bina Swagiri. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Mengapa kabupaten tidak responsif?.Hari/Tanggal : Senin. Sukoco-Kades Wiladeg. Bambang Hudayana 2. Joana-World Bank. 2. Dahlia-PMD TTS. Menggagas Desa Masa Depan 57 . Abu-Persepsi. Perda-perda dan perdes. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. dalam kaitan ADD. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. Ade-KDP World Bank. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Kewenangan desa harus jelas. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. kemudian ADD untuk apa?. yaitu: 1. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. merujuk PP 72/2005. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. Kamardi-Perekat Ombara. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. karakter dan budaya setempat bisa masuk. 3. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. ada PP 72/2005.

Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. Yang menjadi orientasi ke depan. Menggagas Desa Masa Depan 58 . pembangunan dan lain-lain.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. Ini yang selama itu belum jelas. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. Dana yang pertama itu 10 Milyar. Sepertinya itu masih terjadi. 3. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. kalau itu tidak disiapkan di desa. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. dengan presentase sekian % untuk BPD. 2. faktor APBD kabupaten belum siap. memang nilai asli desa ada gotong royong. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. 1. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. mestinya 23 Milyar. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. kalau diukur dari PP masih jauh. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. Mungkin juga faktor politik.kemungkinannya adalah. maka akan memindah budaya korupsi di desa. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. Efek ADD luar biasa. ada yang pakai peraturan Bupati. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. DAU yang dipotong anggaran rutin. jadi berbeda sumbernya. faktor politik (karena tidak milih). dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. Catatan lebih jauh. kalau tidak ya tidak. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1.

Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. kriterianya sangat banyak. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. itu sudah mendarah daging. DPRD dan lain-lain. bertahap.Fasilitator ADD itu hak desa. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. 10 % DAU maka harusnya 15 M. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. dan baru menerima PP 72/2005. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. Yang ditanyai Bandes. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. jalan dll. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. dananya harus memadai. ADD seharusnya didahului RPJMDes. tetapi hanya rambu. 3. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. 1. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Betapa pentingnya kewenangan desa. ada soal dengan kabupaten induk. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. sehingga menguntungkan pihak luar. ADD tidak merata ke seluruh desa. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. Disini juga ada tim pengawas. Menggagas Desa Masa Depan 59 . datang kontraktor di atas kertas swakelola. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. Pembangunan oleh desa lebih efektif. Ada kecenderungan berbeda. dan kabag hukum. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. Sejak berpisah dari Deli Serdang. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. Bupati mengakali 50 juta per desa. Yang baik itu PPK. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. PP 72/2005 di kabupaten. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. tidak ada mark up. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. sehingga mereka bisa bikin pasar. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. PMD. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. Pembangunan sendiri belum. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. porsinya tidak ditentukan. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Honor kades. hanya beberapa desa. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. di desa itu tidak ada Bandes. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. kalau rata maka 75 juta per desa. Mekanisme pencairan dana cukup baik. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. 2. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. Contoh di Ngada.

Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. 5. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. 4. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. 10% dari APBD. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan infrastruktur. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. Sumber Daya Alam. 3. Menggagas Desa Masa Depan 60 . Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. yang itu berasal dari kabupaten. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. masih perlu dukungan masyarakat. kalau tidak ya ada batas minimum. misalnya best bracticenya diungkap disini. 2. kabupaten hanya memberi acuan saja.Fasilitator Jadi skenarionya. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. DAKN. Arah pembangunan ke 5 sasaran. Ekonomi kerakyatan. Di desa itu banyak uang. Bagaimana kita melakukan penguatan. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. perlu komitmen di tingkat nasional. Instrumen akan sangat berharga. Perlunya needs assesment di desa. Instrumen kebijakan. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. dana pemberdayaan. 2. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. Peningkatan SDM. Pedoman level pusat belum ada regulasi. Pembangunan kemasyarakatan. yaitu : 1.

kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. Indikatornya: a. Pemda berhenti membuat perda. masalah politik 5. Menggagas Desa Masa Depan 61 . Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Kabupaten enggan untuk ADD 2. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. 5. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. sehingga dapat independen. Sumber pendapatan desa belum jelas. 3. 4. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. b. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. 4. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. Masalah. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. akan tetapi daerah masih setengah hati. Catatan juga dari kami bahwa : 1. maka desalah yang perlu mendetailkannya. walaupun itu difasilitasi oleh negara. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. sehingga jumlahnya masih kecil. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. 6. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. dalam bentuk block grant. 6. 7. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. 3. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. keterbatasan PAD. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Itu dikarenakan adanya PP. 1. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect.

Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil.7. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Yuni Pristiwati . 4. Untoro-PMD. Edward Lubis-YIPD Jakarta. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Erni-FPPD. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. apa keuangan desa. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Widya PujiFPPM. pembagunan. Transparansi. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. Pengalaman-pengalaman praktis. Sofyan-Akatiga. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. yaitu prinsip transparansi. Firsty Husbany-DRSP. Agus R Rahman-LIPI. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). 9. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Susmanto-FPPD/LGSP. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . keberlajutan. M. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. problematikanya. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Barori-STPMD “APMD”. kita eksplorasi pandangan. 8. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. dan bagi pemerintah itu sendiri. Suharman-PSPK UGM. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Silahkan. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). aktivitasnya. peserta memperkenalkan jati dirinya. usaha kecil. Sebelum mengerucut. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan.ASPPUK 2. Yusuf-Sajogyo Sains. Dony-DPRD Sumedang. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita.

Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. Karena dibutuhkan tambahan modal. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. masyarakat sekarang ini justru senang. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. Menggagas Desa Masa Depan 63 . Teknologi itu mahal. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. Tantangan kedepan adalah produk desa. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. sistem kelembagaanya sehat. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. belum dalam konteks yang lebih positif. Ketika bicara keuangan desa. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Micro finance menurut pandangan saya. bargaining posititionnya kuat. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. produk skala umum.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). merdeka. itu otonom. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Artinya. pembangunan dan kemasyarakatannya. Jika disepakati. Ketika desa membiayai sendiri. dari segi system micro finance itu sehat. Persoalannya. Dia punya idealisasi. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Jadi uang itu muter. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. Salah satu dalam pasal itu. dst. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Barori Pak Lubis juga benar. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. Komentar saya. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas.

karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Stefan Saya usul. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. pasal 7881…. Kita bisa belajar. Jasa ini penting. kita focus ke sektor keuangan di desa. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Sidoarjo. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. sudah ada Permendagri. tidak dalam sektor keuangan di desa. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. dia harus bersaing disana. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. secara teknis harus untung (saved uang). Kita perlu pengawasan eksternal. Tawaran untuk diskusi awal. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. berdasarkan peraturan perundang-undangan. lebih luas daripada kredit. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). Kita harus memperhatikan yang seperti ini. jangan sampai seperti sekarang. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. produksi dilepaskan. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. baik bagi orang yang mau menabung. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. pembiayaan sampai pemasaran. Micro finance dan BUMDes. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Ke depan. dll). Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. pokoknya uangannya kembali. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. memang dua hal ini sangat erat. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. Kita memang berfokus pada BUMDes. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. Kami mereka-reka. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. Pada saat panen PPL sembunyi. tidak setengah-setengah. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. sampai tingkat pasar dilepas. karena pendekatannya efisiensi. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas.

sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. lumbung desa.besar. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Setelah terbentuknya BUMDes. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. ada yang sudah berjalan. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . dan warung nasi. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. seperti usaha simpan pinjam. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. harus ada akta notaris. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. Permasalahan. Ada aturan BUMDes. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. jarang yang simpan. tinggal di akta notariskan. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. satu desa ada 60 juta. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. UEP PPK. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). Disepakati. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. banyak pinjamnya. diangkat menjadi pengurus BUMDes. tapi satu sama lain saling mengkait. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. ATK). kedudukannya sama dengan UU. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. manakala go public pihak perbankan belum merespon. pertokoan (fotocopy. UEP PKK. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. dari APBDes ke BUMDes. Status badan hukumnya masih PERDES. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes.000. bahkan kalau sudah jalan. BUMDes bisa menjadi PAD desa. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. sementara Perda turun belakangan. sama yang kami buat. dan ada yang masih dalam perjalanan. Oleh karena itu. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. Jadi kita mengadopsi. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. apalagi di pedesaan.

Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. Persoalannya. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. maka saya penekanannya pada tabungan. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. Dalam diskusi ini. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. dan saya pribadi setuju. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. Ada 12. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Tanpa itu. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. Sofyan Persoalan. puskesmas. Agus Dalam hal BUMDes. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. tidak semata-mata orientasi bisnis. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. dll. Kita juga harus lihat ini. maka dia tidak bisa menabung. ini tentu akan sulit. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. Maksud saya. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. Kalau petani tidak mau mengubahnya. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. Mungkin ini control. sekolah. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . tidak haya aturan teknis saja. maka tanahnya diambil. tetapi dengan pertimbangan. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. bukan hanya kebijakan. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. 53 juta/tahun). Kalau di pertanian jelas. Ada pengalaman saya.

paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. 70% dikuasi elit desa. masing-masing mempunyai institusi sendiri. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. Contohnya di seminar 2 hari ini. BUMDes itu sesuatu yang bagus. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. Semua ini pendekatan insidental. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. semuanya harus affirmative. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. jangan sampai ada penyeragaman. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. Misalnya kasus UU Perbankan. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). kalau pupuk di lepas dipasar bebas. termasuk skema kreditnya. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. saya kira Indonesia sudah makmur. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. (terjadinya dept capital). Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. apapun bentuknya.Mengenai BUMDes. Usulan. untuk apa? Tetap saja petani mati. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. Belajar dari pengalaman itu. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . misalnya soal pupuk. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. karena ada problem seperti ini. petani kita hancur. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. Kalau tidak. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. harus lebih jelas. Tidak usah bicara partisipasi. kearifan desa disana. Apakah dengan BUMDes. saya lihat petani juga semakin parah. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. tidak dari daerah. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta.03% GNP. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang.

Persoalan tentang micro finance. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. ini tidak pas. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. Tentang kehutanan. ini cukup Rp.Jenis usaha. bukan dipaksakan muncul. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Kasus yang menarik. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. afirmatifnya seperti apa?. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin.000. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. sehingga dikembalikan. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. Kita coba memakai kelompok tani hutan. Menggagas Desa Masa Depan 68 . misalUU kehutanan. Saya berpikir. Itu nanti justru akan menjadi konflik. belum terselesaikan. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. cukup “kamu jualan disitu. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. saya menulis “Bupati versus rentenir”. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. tiap desa harus muncul BUMDes. nanti kembali sekian”. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. bahwa nanti akan ada Perda. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. siapa mau berobat. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. silahkan gratis. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. dia jalan menggunakan mekanisme bank. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. 10.

Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Kepemilikan. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. “Bupati vs rentenir” di Bantul. kurang terpayungi secara hukum. Menggagas Desa Masa Depan 69 . hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Prinsipnya. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. oleh dan untuk anggota. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. itu yang kita lindungi. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Nanti konsekuensinya. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. tidak dijual. tidak dipaksa. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Mengenai hutan. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. misalnya hutan. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. dan pusat hanya kebijakan. jadi BUMDes saja. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Mengenai tanah kas desa. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. maka tidak akan ada masalah rentenir. Prinsipnya. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Informasinya di Bantul BPRnya maju. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). Kalau itu bisa. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank.

Prinsipnya. pemerintah bekerjasama dengan NGO. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. bagaimana cara mengelola kredit mikro. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. Widya Bagi saya. Sebagaimana bank yang lain. asetnya sudah 1 milyar lebih. koperasi itu bukan bank. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. dasar hukum LKM harus ada. kepastian hukum. masyarakat langsung control. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Strateginya. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. lebih memberdayakan pada perempuan. salah satu problemnya itu. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. mereka menerima uang di masyarakat. sehingga mereka rajin mengembalikan. Kalau kita lihat draft UU LKM. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. Apakah ini perpanjangan tangan. Seperti ini ada linkage program. Ini menjadi ramburambu. Kalau ini membahayakan harus ditolak. Menggagas Desa Masa Depan 70 . sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia.Barori Masalah kelembagaan. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Jadi perlu disisipkan. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. Solusinya. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Pengawasan juga kuat seperti bank. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan.

• Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. • ada pengawasan yang jelas. • kepemilikan oleh rakyat. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. Menggagas Desa Masa Depan 71 . pelatihan. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. Dari pengalaman itu. • ada alokasi dari dana APBD. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • ada kejelasan tatalaksana manajemen.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. termasuk affirmative action lintas sektoral. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. Dari sisi LKM atau BUMDes. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • sebagai affimative action. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat.

kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. berpendapat. • konsep-konsep perwakilan daerah. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua.. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. Wa’i-Lakpesdam. Franky-AMAN. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Steny-HUMA. juga ditangan pemerintah desa. Salini-DSF. Dua pembicara Pak Prof. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. Sadu–STPDN. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi.. sesuai saja. pola kerjanya bagaimana. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. Pak Sadu sudah panjang lebar. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. Toro-STPMD “APMD”. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. hubungan kerja. bukan hanya sekedar pemerintah desa. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi.. Untuk itu. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. yang penting yang harus dirubah. mungkin saya sampaikan.. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa.5. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. Azam-Pemdes Kebumen. Jayus-UNEJ. Sadu Terima kasih. nanti diskusi akan berkembang lagi. BPD. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. dibuat mengambang. Nurwafi-BPD. . Menggagas Desa Masa Depan 72 . topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. inkonsistensi. dan ada komunitas-komunitas tertentu. Saya kira itu. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. Haryo Habirono – FPPD 2. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Ibnu–Unibraw. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. Jadi ini dilema. kami persilahkan saja. untuk tidak mengatakan salah. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. Widya-FPPM. Elke Rapp-DRSP. karena tadi waktunya pendek.. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. kan begitu. Mas Ibnu sudah panjang lebar.. Tetapi yang terjadi dalam praktek. saya kira dengan yang kita bahas tadi. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. Widyohari-STPMD “APMD”.

sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. kewajiban-kewajiban pemerintah. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Saya menawarkan gagasan. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. Nah ini akan menjadi dilema. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. dia tidak digaji. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. akhirnya gubernur setuju. Fasilitator Saya potong sedikit. khususnya untuk pengaturan. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. Dan untuk desa diminta naskah akademik. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas.. Ini lebih memberi peluang. sekarang tidak ada. Saya bertanya. anggaran banyak. saya tidak tahu. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. tapi kalau kita lihat data. hanya hal itu tidak dilaksanakan. bukannya masyarakat adat tidak prnting. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. kalau dulu masih ada pengganti asusila. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. bisa mengatur pilkades yang baik. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. larinya pengganti ekonomi. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 .. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret.. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. Jadi sebelumnya. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. tapi kedudukannya tidak jelas.Desentralisasi kepada daerah jelas. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. Mohon maaf. nah ini menjadi babak baru. yang dipungut adalah iuran. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus.

Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. local self government. adatnya masih kuat. Kita diskusi mengenai local state government. tapi itu masih kurang. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. dari bawah. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. ada local state governance. Menggagas Desa Masa Depan 74 . kemudian struktur organisasipun jangan diatur. ada self community governance. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Konsultasi publik saya tahu. dimana desa yang masih homogen. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. local state governance. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Dalam undang-undang nanti. saya pikir apa konsekuensinya. apakah local self governance. masa jabatan tidak usah diatur. kita kembali ketiga tipe desa. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. minimal kalau ada sekian provinsi. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. Sekarang saya melakukan perubahan perda. Azam Terima kasih. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. Fasilitator Ya. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. lima struktur itu bebas saja. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. step by step. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. ini agak beda. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. ada sanksi disitu. jangan terlalu detail. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Kalau kita mulai dari tingkat desa.yang khusus. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. sudah jenuh juga. bisa dengan penurunan pangkat. atau self community governance. dari legislasi. Dari dulu desa deperti ini terus. dan self government community. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. local self governance. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. kecamatan. Elke Usulan tadi bagus sekali. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. Karena kalau semua sudah diatur. Artinya mekanisme ini tolong. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. untuk melihat struktur apa akan dipakai. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. saya kebetulan dari orang pemerintah. mungkin struktur ini akan berbeda lagi.

komando. apa mau kawan-kawan di level bawah. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Nurwafi Prinsipnya. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah.. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi.. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. mungkin dalam pikiran normatif. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. selama ini hanya instruktur. Nurwafi Terima kasih.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Kemudian sentralistik. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. Atau sebaliknya. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. yang prinsip bagaimana hak-hak. penyeragaman. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip.

Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. pendidikan dan sebagainya. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. atau kalau ada investasi. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Kedua. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. dan lainnya untuk daerah mana. Contoh di diskusi kemarin soal inpres.kewenangan desa. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. Wa’i Terima kasih. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. perijinan dan sebagainya masuk. lebih spesifik lagi. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Fasilitator Kalau saya menangkap. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. begitu? Provinsi lebih umum. Ketiga. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. Oh. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. kabupaten lebih khusus lagi. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. Saya kira begitu aja. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan.

pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Tadi Mas Franky dari AMAN. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. Nah ini persoalannya sekarang. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. Ketiga. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. disamakan sajalah. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. dan desa. itu bisa kita petakan secara jelas. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. kabupaten. tapi ya begitu saja. kemudian Mas Wafi. melakukan supervisi. tidak pernah serius dilaksanakan. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Itu posisinya jelas. Kembali pada SDM. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Saya agak kurang setuju dengan Prof. Ini peran pemerintah.sebagainya). kepegawaian. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. BPD-nya sudah lebih siap. Pak Azam bicara tentang desa otonom. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. karena pengalamannya Jawa. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. pembinaan kapasitas dan seterusnya. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. saya ingin bertanya. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. tapi tidak pernah terlaksana. Mas Toro silahkan. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. Karena pengalamannya sudah lebih baik. jadi kategorinya jelas. Hanya berhenti disitu. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. Kedua. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Pertama. Kedua. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. ganti konsep alokasi. dia sedang berbicara tentang desa adat. itu artinya yang namanya penyerahan. Sekarang mengenai desa otonom. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . membina. Sutoro Mengulang yang kemarin.

sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. peran pemerintah sebagai fasilitasi. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. itu difasilitasi di pasal berikutnya. sekarang tidak kesitu yang dikejar. Bagaimana dengan yang begitu. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. tidak perlu ada administrasi. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. meninggal harus cari tempat lain. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. dia bisa ditolak di-aben disitu. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. sekarang penghargaan sosial tidak ada. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. hak dan kewajibannya jelas. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. ia kehilangan hak-hak sosial. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. keuntungan untuk desa sekian. intinya satu yaitu wajib. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu.tiga ya harus konsisten. jadi larinya pada penghasilan. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. Soal istilah. Menggagas Desa Masa Depan 78 . kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Steny Konkretnya. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. akarnya sudah tercabut. karena konfliknya disitu. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. bunyi pasalnya wajib. tidak perlu ada pemerintahan. yang dikejar harga ekonomi. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. kalau semua bisa jadi satu. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. nanti saya pikirkan. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. kuatnya begitu. tadi saya terima kasih diberikan saran. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. supervisi. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Kalau desa itu tidak jelas. Saya juga bingung. makanya mereka menghargai betul pada adat. Saya mau menambahkan saja. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. itu bukan harus. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa.

Apa ada relawan. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis.. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. kalau masih ada ide-ide. biar nanti kalau terkait dengan desa. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. itu yang pertama.. kita lihat lagi th 48. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. hanya orang desanya sendiri. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. UU 22/99 demikian pula. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. Pak Toro selama belum ada amandemen. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. nanti dalam diskusi pleno presentasi. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. Fasilitator Oleh karena itu. mekanisme keluhan. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. Soal ADD.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. kita masih akan terus menambahkan. kalau kiranya cukup. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. Fasilitator Ya. Kedua. itu berkaitan dengan sanksi. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. Menggagas Desa Masa Depan 79 . coba kita lihat th 65. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. Fasilitator Saya kira ini cukup. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca.. Elke Saya hanya ingin. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. jadi tidak pernah tahu padahal ada. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. soal hak-hak desa itu ada. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. ditaruh didalam meja.

Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. 5. Selain jaminan kewenangan. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. 3. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa.00 – 17. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Konsistensi implementasi dari policy. 8. fasilitasi. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan.00 Moderator : M. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. capacity building menyangkut desa. 4. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. Bahkan. 2. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. fasilitasi. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. 3 Juli 2006 Pukul : 16. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya.2. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. Barori 1. Oleh karena itu.

Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. atau dimensi kultural). bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. bagaimana keterwakilan. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. silahkan. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. 1 jorong ada penduduknya 700. mekanisme. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. Oleh karena itu pula. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. jadi tidak perlu regulasi baru. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. Oleh karena itu. 5 unsur dari pemuda. 5 unsur dari bundo kandung. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. pemilihan itu bagaimana bentuknya. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. 5 unsur dari pemuda. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. kami ada 7 jorong. 5 unsur dari nini mamak. Dan dengan demikian. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. regulasi tidak terlalu banyak. ada juga 1500 orang. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. pemilihannya tentu per jorong.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. lebih besar dari 3000 25 orang. kita kembalikan ke masyarakat. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . Saya dari Limapuluh Kota. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. hanya perlu good will dari semua unsur. bagaimana keterwakilan kelompok lain. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. Berdasarkan pengalaman.

saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. sikap elitis. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. jadi seolah sama. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. 2. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. lalu pemerintah membuat perda yang baru. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. bahwa BPDnya tetap seperti semula. contoh di penjelasan. Soal jumlah. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. perlu ditambahkan. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. substansi adalah menghindari elit desa. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . 1. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. Masalah regulasi. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga.

Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. mekanismenya terserah. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. yang jadi mahal itu money politic. bagaimana APBD itu membiayai juga. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. BPD sinergis. Mekanisme di pusat sudah ada. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. Menormakan ini tidak bisa seragam. bisa pemilu atau yang lainnya. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. tetapi institusi yang mewakili desa. yang saya usulkan itu DPD. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. Itu perlu dinormakan. tapi ad hoc saja. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. sehingga demokrasinya bisa berjalan. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . kades.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. government for the people. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. sehingga netralitas calon kades. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. bagaimana lembaga di desa. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. Contoh di Jepara. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. tapi tidak serta merta mewakili desa. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. Biaya pilkades itu kecil.

contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. keluarga. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. masyarakat. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis.kabupaten/kota. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. Hari/Tanggal : Selasa. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. 4 Juli 2006 Pukul : 14. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. Penguatan kelembagaan. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa.15 Moderator : Sumarjono 3. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 .00 – 15. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil.

Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. Marhaban Kita di PMD. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. maka 80% langsung ke masyarakat. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Dengan demikian ADD menjadi problem. 4. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. Ini memang dalam perspektif yang mikro. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Saya persilahkan tanggapannya. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. karena desa itu sudah di bawah negara. ini memang strategi pemberdayaan. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten.

Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. walaupun secara yuridis formal belum nampak. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. fasilitasi. capacity building menyangkut desa. Menggagas Desa Masa Depan 86 . Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. koncuren. delegatif dan kewenangan lain-lain. Justru dengan otonomi desa. tanah. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Ketiga overlap. 7. 10. Bumi. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. 9. dan 3) overlap. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. pilihan. provinsi. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. Di UU ada kewenangan atributif. fasilitasi. Bahkan. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu.• Konsistensi implementasi dari policy. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. 8. capacity building yang menyangkut desa. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. 2) separated. Deskripsi singkat : 6. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. kenapa justru ada eksploitasi.

UU 5/74 itu wewenang. apalagi mau kita bawa ke desa. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. eksternalitas. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. padahal kalau residual teori itu wewenang. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. oleh karena itu terbit UU sektoral. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. tetapi juga persoalan politik. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Australia. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. ini yang menjadi tali sentralistik. 2. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. fasilitator. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. Pasal 1 negara memberi pengaturan. karena pengawasan ikut mengarahkan. Saya kira disana ada politik. Negara-negara old model (Jerman.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. dan efisiensi. nampaknya yang diberikan itu urusan. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . Negara-negara baru (Amerika Serikat. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. dan pemasaran. Saya pilih ke istilah kontrol. UU 22/99 wewenang. kalau saya melihat lebih ke politik. Skandinavia. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. 5. maka perlu modal. di UU 32/2004 itu urusan. teknologi.

• Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. nelayan. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. Menggagas Desa Masa Depan 88 . Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. untuk rakyat (petani.

Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. dll). BUMDes itu akan dibiayai APBD. agar perda itu baik dan benar. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. mau memberikan waktu. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). tenaga dan pikiran. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. perdes mengacu perda. siapa yang akan mengontrol BUMDes. panjang sekali prosesnya. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. Di tingkat II. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. perda mengacu UU. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah.nelayan. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. Menggagas Desa Masa Depan 89 . sebagai komisaris. Pengawasan. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. rakyat miskin (petani. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. termasuk monitoring dan pengawasan. Kita harus tegas mengatur ini.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. sehingga perlu pembinaan. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes.

menggagas desa masa depan. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. maka tidak bisa ke sana nanti. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. Menggagas Desa Masa Depan 90 . bukan khusus untuk BUMDes. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. seperti ADD.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Lebih fundamental lagi. ke bank misalnya. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. BUMDes yang lemah payung hukumnya. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Payung hukum yang ada adalah yang umum. lebih banyak ke perangkat desanya. Moderator Diskusi ini kita akhiri. Kasmuin Membandingkan gagasan itu.