VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. Franky Saya setuju. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. wewenang dan anggaran. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. legislatif. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. peradilan desa itu sudah ada preseden. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. namun ada problem-problem empiris. di peraturan itu belum ada. yudikatif tidak jelas. walaupun itu bertentangan dengan hokum. kalau kita pilih self governing community. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . syaratnya dirubah. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. pertanggungjawaban. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. Sudah ada perda tentang bondo desa. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. dukungan masyarakat. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. kemampuan perangkat. saya setuju desa punya kewenangan. anggaran desa itu seperti darimana saja. Mnurut saya. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. tidak perlu detail. aturan dibuat untuk dilanggar. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. desa dan pilkada. unsur pemerintahan eksekutif. masyarakat dikebiri oleh pejabat. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. karena yang dihadapi adalah SDM. infrastruktur. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. Komentar Pak Ibnu. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Kita pernah menantang IMB. Ciri otonomi. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. ini perlu didorong dan didefinisikan. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. Sofyan Mekanisme kewenangan. administrasi. dia bisa membuat peraturan. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. masyarakat tidak dihargai. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. Untuk kasus yang kecil-kecil.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. tapi belum dilaksanakan.

ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. Widyohari–STPMD ”APMD”. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. Wai. • Demokrasi. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. 2. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. Menggagas Desa Masa Depan 51 . Aturan sering bertubrukan. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1.Lakpesdam. UU dalam ranah desa. Datuk–Asosiasi Nagari. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Abu–Persepsi. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman.adatnya. Joana–World Bank. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. akan terjadi pertarungan dengan negara. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. pengaturannya bukan sektoral lagi. Marhaban-PMD Depdagri. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. kalau perlu ada departemen khusus agraria. • Implementasi Pancasila. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. mana yang baik dan tidak baik. akhirnya dicabut kewenangannya. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. Yuni–Asppuk. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Wafi–BPD. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Hans Antlov-LGSP. Dahlia–TTS SoE. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. dan itu menjadi pertarungan yang riel. ibu-ibu. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Fasilitator Bapak-bapak. Rahma–LIPI. Agus R. UU 32/2004. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. hubungan antar sektor. hubungan sektoral berbenturan. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. tanahnya. Widya-FPPM. termasuk kultur. Adnan–LP3ES.

tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. jadi tidak perlu ada batasan quorum. Dari beberapa hal tersebut. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. artinya harus dengan target sekian orang. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. musrenbang tidak ada artinya. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. mengontrol pembangunan di desa. Menggagas Desa Masa Depan 52 . melainkan kontrol. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. euforia politik. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. dengan harapan yang lain akan melengkapi. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. • Persoalan quorum menjadi masalah. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. masyarakat belum. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. permasalahan diantara mereka. kaitannya dengan psikologi demokrasi. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. Wafi • Kaitan dalam hal ini. maka pemilihan kades juga dibiayai. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. • Keuangan. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. saya lebih optimis. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. maka merujuk pada 3 aspek: 1. implementasi dan pengawasan. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. polanya masih top down. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. dipilih langsung. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan.

Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. perencanaan pembangunan masih top down. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. Nah. Apa yang disampaikan Joana perlu. Kanada. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. Tana Toraja. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. sehingga kades. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. ninik mamak. silahkan. Australia. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. BPD dan lembaga lain di desa. Menurut saya. politik (Pembuatan Perdes). sehingga semua bisa dicek dengan jelas. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. Saya pahami bahwa peran warga desa. negara. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. seperti freedman. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. istrinya carik ya. Secara umum. tapi kita tawarkan kepada yang lain. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. provinsi. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. alim ulama.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. pemuda. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. kelompok perempuan. maka masyarakat akan diam. Hebatnya demokrasi. pemuda. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. Proyek PPK di daerah. jadi tidak memaksakan keinginan kita. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. Kalau di desa Sumba Timur. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). menampung. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. yang punya uang yang menang. ninik mamak. tapi perlu tupoksi yang jelas. alim ulama. Representative demokrasi bukan ada di kita. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. Amerika.

Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. ada rapat/rembug desa. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. wali nagari/kades memiliki masyarakat. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. partisipasi di desa adalah milik elit desa. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. saya setuju dengan Pak Sus. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. Yang penting 3 (tiga) itu. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . sesepuh. Barat tahu persis otonomi daerah itu. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. ini parah. ada badan legislatif. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. perwakilan. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. Kades. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. masing-masing desa berbeda. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. tapi masih ada celah-celah. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. tidak memadainya apa yang ada di BPD.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. ada mekanisme kontrol internal di desa. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. siapa saja: buruh. sehingga tepat kita mencari demokrasi. masih sebagian bergantung pada pemerintah. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. karena itu murni dari adat. dan lain-lain. PPK bagus. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. kalau tidak ada. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. Kendala yang perlu diperhatikan. Problemnya. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. juga pengalaman negara lain yang berhasil. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. tetapi sekarang tidak. meskipun bukan satusatunya problem di desa. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. eksekutif. Dalam proyek PPK. Kerena itu. kemudian tidak lahir dari masyarakat. petani. Apapun bentuknya tidak masalah. itu harus dilembagakan. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Saya mengkritik teman-teman di PMD. menjadi grup politik masyarakat. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. Dari prosedur itu tidak menjamin.

Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. adanya penokohan. Membandingkan dengan yang di atas. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. silahkan. Kalau BPD. jadi kendalanya struktural dan kultural. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. lebih mementingkan proyek. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. pemikirannya terbatas. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. kelompok dan lainlain. parpolpun tidak mewakili masyarakat. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. orangnya terbatas. dananya. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. permusyawaratan – perwakilan. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. Banyak pendapat tentang partisipasi. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. pengangguran.. Jadi masyarakat perlu kita latih.. sehingga dia akan kuat. ada kebutuhan. kita fasilitasi. ada potensi. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. Saya hanya mengkritisi itu. persoalan budaya. Kalau di pemerintahan. keterwakilan partisipasi. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. Menggagas Desa Masa Depan 55 .. kehadirian fisik. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. Filipina. demokrasipun kalah. tidak masyarakat.insidential. ini dan itu. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. Pancasila dan UUD 1945. mereka bisa. bagi saya tidak masalah. kepentingan. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. • Kades di TTS seperti alat politik. tenaga. tapi negara Asia. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. Negara tetangga lain. pengkulturan masyarakat. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. Contoh. Dana disiapkan. pikirannya. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. Amerika. Itu bukan Eropa. itu diseimbangkan. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. India. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. diwadahi dalam forum. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina.

Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. cuma hari sabtu saja yang demokratis. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan.hhahaahhaaa. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi.. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. kita semua membicarakan hal yang sama. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. Demokrasi hanya satu hari. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. jadi hanya hari sabtu saja. injecting participating in local. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili... Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. BPN tidak berfungsi. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. mandul. kalau bukan kebutuhan. hanya kata-katanya yang berbeda.. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik.. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. sabtu. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. elit-elit menyelewengkan demokrasi. karena oranya tidak demokratis. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. senin-jum’at tidak demokratis. sikap elitis.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa.

Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. maksudnya bendahara desa. kemudian ADD untuk apa?. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. Menggagas Desa Masa Depan 57 . 5. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. Tumpak-PMD. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. Dahlia-PMD TTS. Ade-KDP World Bank. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. Kamardi-Perekat Ombara. Abu-Persepsi. Sukoco-Kades Wiladeg.Hari/Tanggal : Senin. ada PP 72/2005. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. Joana-World Bank. dengan skala prioritas.00 – 13. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. 4. Bambang Hudayana 2. merujuk PP 72/2005. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. yaitu: 1. Adri Warsena-FPPD.5 Milyar.00 3. 2. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. dalam kaitan ADD. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. Mengapa kabupaten tidak responsif?. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. 3 Juli 2006 Pukul : 11. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. 3. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. Perda-perda dan perdes. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. Datu-As Wali Nagari. karakter dan budaya setempat bisa masuk. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. Kasmuin-CePAD. Syamsul-Bina Swagiri. alasannya 1) SDM tidak mampu. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. pendapatan desa rendah. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Kewenangan desa harus jelas. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. sehingga ada kejelasan potensi.

Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. memang nilai asli desa ada gotong royong. kalau diukur dari PP masih jauh. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. 3. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. ada yang pakai peraturan Bupati. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. jadi berbeda sumbernya. Yang menjadi orientasi ke depan. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. Mungkin juga faktor politik. 1. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. DAU yang dipotong anggaran rutin. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. dengan presentase sekian % untuk BPD. Efek ADD luar biasa. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. Menggagas Desa Masa Depan 58 . Ini yang selama itu belum jelas. pembangunan dan lain-lain. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. Dana yang pertama itu 10 Milyar. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan.kemungkinannya adalah. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. faktor politik (karena tidak milih). Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. kalau itu tidak disiapkan di desa. Sepertinya itu masih terjadi. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. mestinya 23 Milyar. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. kalau tidak ya tidak. 2. maka akan memindah budaya korupsi di desa. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. faktor APBD kabupaten belum siap. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. Catatan lebih jauh.

yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. Ada kecenderungan berbeda. tidak ada mark up. ADD tidak merata ke seluruh desa. 3. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. ADD seharusnya didahului RPJMDes. porsinya tidak ditentukan. Pembangunan sendiri belum. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. bertahap. Bupati mengakali 50 juta per desa. kriterianya sangat banyak. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. sehingga mereka bisa bikin pasar. tetapi hanya rambu. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. DPRD dan lain-lain. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. dan baru menerima PP 72/2005. Mekanisme pencairan dana cukup baik. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. PMD. PP 72/2005 di kabupaten. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. sehingga menguntungkan pihak luar.Fasilitator ADD itu hak desa. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. itu sudah mendarah daging. 10 % DAU maka harusnya 15 M. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. kalau rata maka 75 juta per desa. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Yang baik itu PPK. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. dan kabag hukum. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. 1. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. jalan dll. Yang ditanyai Bandes. di desa itu tidak ada Bandes. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. Menggagas Desa Masa Depan 59 . Betapa pentingnya kewenangan desa. Contoh di Ngada. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. 2. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. Disini juga ada tim pengawas. Honor kades. datang kontraktor di atas kertas swakelola. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. hanya beberapa desa. ada soal dengan kabupaten induk. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Sejak berpisah dari Deli Serdang. dananya harus memadai. Pembangunan oleh desa lebih efektif.

Pembangunan infrastruktur. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. yaitu : 1. 2. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. 4. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. Pembangunan kemasyarakatan. Sumber Daya Alam. Instrumen akan sangat berharga. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. Instrumen kebijakan. kabupaten hanya memberi acuan saja. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Peningkatan SDM. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. Arah pembangunan ke 5 sasaran. Di desa itu banyak uang. kalau tidak ya ada batas minimum. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Fasilitator Jadi skenarionya. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. Pedoman level pusat belum ada regulasi. DAKN. 10% dari APBD. masih perlu dukungan masyarakat. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. Ekonomi kerakyatan. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. dana pemberdayaan. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. Perlunya needs assesment di desa. perlu komitmen di tingkat nasional. 3. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. misalnya best bracticenya diungkap disini. 2. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Menggagas Desa Masa Depan 60 . Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. yang itu berasal dari kabupaten. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. Bagaimana kita melakukan penguatan. 5.

Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. Pemda berhenti membuat perda. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. 6. Menggagas Desa Masa Depan 61 . Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. sehingga jumlahnya masih kecil. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. Sumber pendapatan desa belum jelas. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. Indikatornya: a. keterbatasan PAD.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. 1. 3. masalah politik 5. dalam bentuk block grant. 3. 4. maka desalah yang perlu mendetailkannya. SE Mendagri dan peraturan yang ada. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. walaupun itu difasilitasi oleh negara. Masalah. sehingga dapat independen. akan tetapi daerah masih setengah hati. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. 7. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. 6. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. 5. Catatan juga dari kami bahwa : 1. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. Itu dikarenakan adanya PP. 4. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. Kabupaten enggan untuk ADD 2. b. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah.

Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. 9. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). kita eksplorasi pandangan. Dony-DPRD Sumedang. Erni-FPPD. 8. aktivitasnya. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Silahkan. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. peserta memperkenalkan jati dirinya. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. Widya PujiFPPM. Yusuf-Sajogyo Sains. Sebelum mengerucut. problematikanya. Agus R Rahman-LIPI. apa keuangan desa. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). pembagunan. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. M. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Yuni Pristiwati . Barori-STPMD “APMD”. Edward Lubis-YIPD Jakarta. keberlajutan. Transparansi. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1.7. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. 4. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Untoro-PMD. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. usaha kecil. dan bagi pemerintah itu sendiri. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Firsty Husbany-DRSP.ASPPUK 2. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Sofyan-Akatiga. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. yaitu prinsip transparansi. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Pengalaman-pengalaman praktis. Susmanto-FPPD/LGSP. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Suharman-PSPK UGM. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa.

Karena dibutuhkan tambahan modal. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. Ketika bicara keuangan desa. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Persoalannya. produk skala umum. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. merdeka. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. Barori Pak Lubis juga benar. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. Micro finance menurut pandangan saya. Komentar saya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. sistem kelembagaanya sehat. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Menggagas Desa Masa Depan 63 . kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. pembangunan dan kemasyarakatannya. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. Salah satu dalam pasal itu. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. Artinya. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). Jadi uang itu muter. belum dalam konteks yang lebih positif. dari segi system micro finance itu sehat. Dia punya idealisasi. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. masyarakat sekarang ini justru senang. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. itu otonom. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. Ketika desa membiayai sendiri. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. Teknologi itu mahal. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. dst. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. ini dimaksudkan supaya lebih focus. bargaining posititionnya kuat. Jika disepakati. Tantangan kedepan adalah produk desa. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat.

Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. baik bagi orang yang mau menabung. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. Stefan Saya usul. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. secara teknis harus untung (saved uang). sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . pembiayaan sampai pemasaran. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. Ke depan. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. lebih luas daripada kredit. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. pokoknya uangannya kembali. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Jasa ini penting. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. Kita bisa belajar. Kita memang berfokus pada BUMDes. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. dll). kita focus ke sektor keuangan di desa. karena pendekatannya efisiensi. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Pada saat panen PPL sembunyi. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. Tawaran untuk diskusi awal. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. sudah ada Permendagri. produksi dilepaskan. jangan sampai seperti sekarang. memang dua hal ini sangat erat. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Micro finance dan BUMDes. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. Sidoarjo. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. sampai tingkat pasar dilepas. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. tidak setengah-setengah. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. tidak dalam sektor keuangan di desa. dia harus bersaing disana. Kami mereka-reka. pasal 7881…. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Kita perlu pengawasan eksternal.

karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. kedudukannya sama dengan UU. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. dari APBDes ke BUMDes. tapi satu sama lain saling mengkait. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. BUMDes bisa menjadi PAD desa. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. harus ada akta notaris. dan warung nasi. jarang yang simpan. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). Oleh karena itu. satu desa ada 60 juta. UEP PKK. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. Permasalahan. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. sama yang kami buat. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. lumbung desa. ATK). sedangkan keputusan bupati turun th 2003. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. sementara Perda turun belakangan. bahkan kalau sudah jalan. tinggal di akta notariskan. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. Ada aturan BUMDes. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. UEP PPK. pertokoan (fotocopy. Disepakati. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. apalagi di pedesaan. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. Setelah terbentuknya BUMDes. ada yang sudah berjalan. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. seperti usaha simpan pinjam. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan.000. Jadi kita mengadopsi. manakala go public pihak perbankan belum merespon. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. diangkat menjadi pengurus BUMDes. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes.besar. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. Status badan hukumnya masih PERDES. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. dan ada yang masih dalam perjalanan. banyak pinjamnya. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank.

puskesmas. Maksud saya. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Persoalannya. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. Kalau petani tidak mau mengubahnya. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. dll. tetapi dengan pertimbangan. Kalau di pertanian jelas. Mungkin ini control. Ada pengalaman saya. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. 53 juta/tahun). Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. dan saya pribadi setuju. ini tentu akan sulit. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. Tanpa itu. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. maka dia tidak bisa menabung. tidak semata-mata orientasi bisnis. maka tanahnya diambil. maka saya penekanannya pada tabungan. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. Agus Dalam hal BUMDes. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. tidak haya aturan teknis saja. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. sekolah. bukan hanya kebijakan. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. Sofyan Persoalan. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. Dalam diskusi ini.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Kita juga harus lihat ini. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. Ada 12. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum.

Belajar dari pengalaman itu. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. Contohnya di seminar 2 hari ini. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. termasuk skema kreditnya. kearifan desa disana. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. masing-masing mempunyai institusi sendiri. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. saya kira Indonesia sudah makmur. harus lebih jelas. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. Misalnya kasus UU Perbankan. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. jangan sampai ada penyeragaman. misalnya soal pupuk.Mengenai BUMDes. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini.03% GNP. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). Semua ini pendekatan insidental. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. 70% dikuasi elit desa. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. untuk apa? Tetap saja petani mati. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. Usulan. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. tidak dari daerah. semuanya harus affirmative. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. Kalau tidak. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. apapun bentuknya. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. petani kita hancur. (terjadinya dept capital). Apakah dengan BUMDes. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. BUMDes itu sesuatu yang bagus. saya lihat petani juga semakin parah. karena ada problem seperti ini. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. Tidak usah bicara partisipasi. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan.

Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan.000. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. cukup “kamu jualan disitu. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain.Jenis usaha. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. bahwa nanti akan ada Perda. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. Itu nanti justru akan menjadi konflik. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. Kasus yang menarik. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. ini cukup Rp. Persoalan tentang micro finance. dia jalan menggunakan mekanisme bank. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. saya menulis “Bupati versus rentenir”. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. bukan dipaksakan muncul. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. Saya berpikir. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. sehingga dikembalikan. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. Tentang kehutanan. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. silahkan gratis. belum terselesaikan. Menggagas Desa Masa Depan 68 . Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. ini tidak pas. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. misalUU kehutanan. siapa mau berobat. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. 10. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. Kita coba memakai kelompok tani hutan. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. nanti kembali sekian”. afirmatifnya seperti apa?. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. tiap desa harus muncul BUMDes. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. tidak dijual. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Prinsipnya. Informasinya di Bantul BPRnya maju. Nanti konsekuensinya. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. tidak dipaksa. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. Kalau itu bisa. Menggagas Desa Masa Depan 69 . ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. misalnya hutan. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. kurang terpayungi secara hukum. maka tidak akan ada masalah rentenir. itu yang kita lindungi. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. Prinsipnya. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Mengenai hutan. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. bahkan assetnya sudah 1 milyar. jadi BUMDes saja. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Kepemilikan. Mengenai tanah kas desa. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Permasalahn kredit sudah sejak lama. dan pusat hanya kebijakan. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. “Bupati vs rentenir” di Bantul. oleh dan untuk anggota. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa.

Sebagaimana bank yang lain. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. Menggagas Desa Masa Depan 70 . Pengawasan juga kuat seperti bank. Ini menjadi ramburambu. Solusinya. koperasi itu bukan bank. lebih memberdayakan pada perempuan. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. mereka menerima uang di masyarakat. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. Kalau kita lihat draft UU LKM. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Seperti ini ada linkage program. pemerintah bekerjasama dengan NGO. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi).Barori Masalah kelembagaan. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. salah satu problemnya itu. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Apakah ini perpanjangan tangan. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Strateginya. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Prinsipnya. Jadi perlu disisipkan. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. asetnya sudah 1 milyar lebih. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. bagaimana cara mengelola kredit mikro. kepastian hukum. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. Kalau ini membahayakan harus ditolak. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. masyarakat langsung control. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). dasar hukum LKM harus ada. Widya Bagi saya. sehingga mereka rajin mengembalikan. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. Stefan Mengenai perlindungan tabungan.

• Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. termasuk affirmative action lintas sektoral. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. pelatihan. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. Dari sisi LKM atau BUMDes. • ada pengawasan yang jelas. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. Dari pengalaman itu. • kepemilikan oleh rakyat. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. • ada alokasi dari dana APBD. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. • sebagai affimative action. Menggagas Desa Masa Depan 71 . Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat.

Menggagas Desa Masa Depan 72 . khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Jadi ini dilema. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. dibuat mengambang. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. bukan hanya sekedar pemerintah desa. Sadu–STPDN. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. juga ditangan pemerintah desa. pola kerjanya bagaimana. karena tadi waktunya pendek. kan begitu. . cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. Salini-DSF.. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. Mas Ibnu sudah panjang lebar. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. untuk tidak mengatakan salah. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. kami persilahkan saja. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Pak Sadu sudah panjang lebar. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. Sadu Terima kasih. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Steny-HUMA. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. nanti diskusi akan berkembang lagi. Saya kira itu. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. yang penting yang harus dirubah. Ibnu–Unibraw. • konsep-konsep perwakilan daerah. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa.. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Azam-Pemdes Kebumen. Untuk itu. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi.. hubungan kerja.. berpendapat. Dua pembicara Pak Prof. Widyohari-STPMD “APMD”. Toro-STPMD “APMD”. Franky-AMAN. mungkin saya sampaikan. Nurwafi-BPD. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. saya kira dengan yang kita bahas tadi. sesuai saja. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. Tetapi yang terjadi dalam praktek. Widya-FPPM. Wa’i-Lakpesdam.5. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum.. dan ada komunitas-komunitas tertentu. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. Jayus-UNEJ. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi.. BPD. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. Haryo Habirono – FPPD 2. inkonsistensi. Elke Rapp-DRSP.

tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. Saya bertanya. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. anggaran banyak. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. Saya menawarkan gagasan. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. yang dipungut adalah iuran. kewajiban-kewajiban pemerintah. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. nah ini menjadi babak baru. khususnya untuk pengaturan. tapi kalau kita lihat data. saya tidak tahu. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas.. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa.. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. larinya pengganti ekonomi. akhirnya gubernur setuju. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. Fasilitator Saya potong sedikit. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. kalau dulu masih ada pengganti asusila. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas.Desentralisasi kepada daerah jelas. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. hanya hal itu tidak dilaksanakan. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Jadi sebelumnya. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. tapi kedudukannya tidak jelas.. Mohon maaf. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. Nah ini akan menjadi dilema. sekarang tidak ada. bisa mengatur pilkades yang baik. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. bukannya masyarakat adat tidak prnting. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. Ini lebih memberi peluang. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. dia tidak digaji. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. Dan untuk desa diminta naskah akademik.

Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. ada local state governance. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. Dari dulu desa deperti ini terus. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. local self government. dari bawah. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. Elke Usulan tadi bagus sekali. ada sanksi disitu. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. kecamatan. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. minimal kalau ada sekian provinsi. Menggagas Desa Masa Depan 74 . Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. dan self government community. jangan terlalu detail. sudah jenuh juga. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. local state governance. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Azam Terima kasih. dari legislasi. Dalam undang-undang nanti. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. saya pikir apa konsekuensinya. Karena kalau semua sudah diatur. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. bisa dengan penurunan pangkat. kita kembali ketiga tipe desa. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. tapi itu masih kurang. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. tidak serta merta langsung kita berhentikan. atau self community governance. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. Kita diskusi mengenai local state government. step by step. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. Sekarang saya melakukan perubahan perda. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. ada self community governance. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. adatnya masih kuat. Kalau kita mulai dari tingkat desa. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. saya kebetulan dari orang pemerintah. lima struktur itu bebas saja. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. Fasilitator Ya. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. untuk melihat struktur apa akan dipakai. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. Konsultasi publik saya tahu. ini agak beda. dimana desa yang masih homogen. local self governance. masa jabatan tidak usah diatur. apakah local self governance.yang khusus. Artinya mekanisme ini tolong.

sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting.. penyeragaman. selama ini hanya instruktur. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. Nurwafi Prinsipnya. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. yang prinsip bagaimana hak-hak. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. Atau sebaliknya. mungkin dalam pikiran normatif. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. apa mau kawan-kawan di level bawah. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . Kemudian sentralistik. Nurwafi Terima kasih. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri.. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. komando. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes.

Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. Oh. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Wa’i Terima kasih. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. kabupaten lebih khusus lagi. begitu? Provinsi lebih umum. lebih spesifik lagi. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. Saya kira begitu aja. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. pendidikan dan sebagainya. Ketiga. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. Kedua.kewenangan desa. Fasilitator Kalau saya menangkap. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. perijinan dan sebagainya masuk. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. atau kalau ada investasi. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. dan lainnya untuk daerah mana.

Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. Tadi Mas Franky dari AMAN. jadi kategorinya jelas. karena pengalamannya Jawa. itu bisa kita petakan secara jelas. Ini peran pemerintah. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. Kembali pada SDM. Nah ini persoalannya sekarang. Itu posisinya jelas. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. Kedua. kepegawaian. kabupaten. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. Saya agak kurang setuju dengan Prof. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. saya ingin bertanya. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. dan desa. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. itu artinya yang namanya penyerahan.sebagainya). jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. kemudian Mas Wafi. Pertama. Mas Toro silahkan. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. ganti konsep alokasi. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. Ketiga. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. disamakan sajalah. tapi ya begitu saja. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. membina. tidak pernah serius dilaksanakan. pembinaan kapasitas dan seterusnya. Sutoro Mengulang yang kemarin. dia sedang berbicara tentang desa adat. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. Karena pengalamannya sudah lebih baik. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . Pak Azam bicara tentang desa otonom. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. Hanya berhenti disitu. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. tapi tidak pernah terlaksana. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Kedua. Sekarang mengenai desa otonom. melakukan supervisi. BPD-nya sudah lebih siap. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten.

Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. yang dikejar harga ekonomi. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. tadi saya terima kasih diberikan saran. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. tidak perlu ada pemerintahan. meninggal harus cari tempat lain. hak dan kewajibannya jelas. sekarang penghargaan sosial tidak ada. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. keuntungan untuk desa sekian. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. supervisi. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Steny Konkretnya. Saya juga bingung. nanti saya pikirkan. Kalau desa itu tidak jelas. Saya mau menambahkan saja. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. itu difasilitasi di pasal berikutnya. makanya mereka menghargai betul pada adat. dia bisa ditolak di-aben disitu. kuatnya begitu. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. jadi larinya pada penghasilan. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. akarnya sudah tercabut. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. ia kehilangan hak-hak sosial. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas.tiga ya harus konsisten. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. bunyi pasalnya wajib. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. karena konfliknya disitu. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Bagaimana dengan yang begitu. Soal istilah. intinya satu yaitu wajib. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. Menggagas Desa Masa Depan 78 . tidak perlu ada administrasi. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. sekarang tidak kesitu yang dikejar. itu bukan harus. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. kalau semua bisa jadi satu. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja.

kalau kiranya cukup. kalau masih ada ide-ide. biar nanti kalau terkait dengan desa. soal hak-hak desa itu ada. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. Soal ADD. mekanisme keluhan.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. jadi tidak pernah tahu padahal ada. hanya orang desanya sendiri. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa.. nanti dalam diskusi pleno presentasi. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. Fasilitator Oleh karena itu. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. UU 22/99 demikian pula. ditaruh didalam meja. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. Kedua. kita lihat lagi th 48. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. Apa ada relawan. itu berkaitan dengan sanksi. Elke Saya hanya ingin. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. itu yang pertama. Pak Toro selama belum ada amandemen. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali.. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas.. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. Fasilitator Saya kira ini cukup. Menggagas Desa Masa Depan 79 . kita masih akan terus menambahkan. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. Fasilitator Ya. coba kita lihat th 65. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan.

Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. Bahkan. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Selain jaminan kewenangan.2. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 5. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. 2. 3. fasilitasi. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. fasilitasi. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. capacity building menyangkut desa. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1.00 – 17. Konsistensi implementasi dari policy. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. 8.00 Moderator : M. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. 4.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Barori 1. Oleh karena itu. 3 Juli 2006 Pukul : 16. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin.

hanya perlu good will dari semua unsur. pemilihan itu bagaimana bentuknya.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. kami ada 7 jorong. bagaimana keterwakilan. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. jadi tidak perlu regulasi baru. 5 unsur dari pemuda. kita kembalikan ke masyarakat. lebih besar dari 3000 25 orang. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. Saya dari Limapuluh Kota. silahkan. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. 5 unsur dari bundo kandung. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. Oleh karena itu. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. Berdasarkan pengalaman. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. atau dimensi kultural). 1 jorong ada penduduknya 700. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . Oleh karena itu pula. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. pemilihannya tentu per jorong. regulasi tidak terlalu banyak. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. ada juga 1500 orang. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. mekanisme. bagaimana keterwakilan kelompok lain. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Dan dengan demikian. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. 5 unsur dari nini mamak. 5 unsur dari pemuda. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang.

substansi adalah menghindari elit desa. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . perlu ditambahkan. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Masalah regulasi. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. jadi seolah sama. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. 2. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. bahwa BPDnya tetap seperti semula. lalu pemerintah membuat perda yang baru. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. contoh di penjelasan. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. Soal jumlah. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. sikap elitis. 1. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat.

karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. bisa pemilu atau yang lainnya. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. Itu perlu dinormakan. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. BPD sinergis. sehingga demokrasinya bisa berjalan. tetapi institusi yang mewakili desa. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. yang saya usulkan itu DPD. Mekanisme di pusat sudah ada. tapi ad hoc saja. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. bagaimana APBD itu membiayai juga. Biaya pilkades itu kecil. government for the people. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. Menormakan ini tidak bisa seragam. yang jadi mahal itu money politic. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. tapi tidak serta merta mewakili desa. mekanismenya terserah. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. bagaimana lembaga di desa. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. kades. sehingga netralitas calon kades. Contoh di Jepara. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa.

Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Penguatan kelembagaan. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. Hari/Tanggal : Selasa. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. keluarga. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. masyarakat. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD.15 Moderator : Sumarjono 3.kabupaten/kota.00 – 15. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 .

wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. Saya persilahkan tanggapannya. Ini memang dalam perspektif yang mikro.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. karena desa itu sudah di bawah negara. ini memang strategi pemberdayaan. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Ini memang berbenturan dengan tata negara. maka 80% langsung ke masyarakat. Marhaban Kita di PMD. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. Dengan demikian ADD menjadi problem. 4. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. Menggagas Desa Masa Depan 85 .

tanah. Bahkan. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. 7. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. fasilitasi. Di UU ada kewenangan atributif.• Konsistensi implementasi dari policy. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. 10. pilihan. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. 9. Bumi. capacity building menyangkut desa. kenapa justru ada eksploitasi. Deskripsi singkat : 6. 2) separated. 8. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. fasilitasi. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. delegatif dan kewenangan lain-lain. dan 3) overlap. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. Menggagas Desa Masa Depan 86 . Justru dengan otonomi desa. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. capacity building yang menyangkut desa. Ketiga overlap. provinsi. koncuren. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. walaupun secara yuridis formal belum nampak. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan.

UU 5/74 itu wewenang. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Skandinavia. karena pengawasan ikut mengarahkan. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. Negara-negara baru (Amerika Serikat. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. apalagi mau kita bawa ke desa. Saya pilih ke istilah kontrol. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. dan pemasaran. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. ini yang menjadi tali sentralistik.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. di UU 32/2004 itu urusan. Australia. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. Negara-negara old model (Jerman. kalau saya melihat lebih ke politik. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. teknologi. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. 5. nampaknya yang diberikan itu urusan. Saya kira disana ada politik. itu yang berkaitan dengan yang strategis. tetapi juga persoalan politik. UU 22/99 wewenang. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. eksternalitas. dan efisiensi. maka perlu modal. fasilitator. padahal kalau residual teori itu wewenang. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. 2. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. Pasal 1 negara memberi pengaturan. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. oleh karena itu terbit UU sektoral. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas.

Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. nelayan. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. untuk rakyat (petani. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. Menggagas Desa Masa Depan 88 . • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD).

Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. BUMDes itu akan dibiayai APBD. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. rakyat miskin (petani. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. Di tingkat II. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. Menggagas Desa Masa Depan 89 . pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. mau memberikan waktu. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). sebagai komisaris. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. dll). sehingga perlu pembinaan. Pengawasan. perdes mengacu perda. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. tenaga dan pikiran. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). termasuk monitoring dan pengawasan. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. siapa yang akan mengontrol BUMDes. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. agar perda itu baik dan benar. perda mengacu UU. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. panjang sekali prosesnya. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. Kita harus tegas mengatur ini.nelayan. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi.

lebih banyak ke perangkat desanya. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. bukan khusus untuk BUMDes. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. Menggagas Desa Masa Depan 90 . Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. maka tidak bisa ke sana nanti. Moderator Diskusi ini kita akhiri. menggagas desa masa depan. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Payung hukum yang ada adalah yang umum. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. seperti ADD. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. BUMDes yang lemah payung hukumnya. Lebih fundamental lagi. ke bank misalnya. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful