VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. aturan dibuat untuk dilanggar. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. masyarakat dikebiri oleh pejabat. di peraturan itu belum ada. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. anggaran desa itu seperti darimana saja. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Sudah ada perda tentang bondo desa. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. kalau kita pilih self governing community. syaratnya dirubah. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. walaupun itu bertentangan dengan hokum. namun ada problem-problem empiris. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. infrastruktur. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. administrasi. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Mnurut saya. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. Kita pernah menantang IMB. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. Sofyan Mekanisme kewenangan. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. yudikatif tidak jelas. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. unsur pemerintahan eksekutif. masyarakat tidak dihargai. wewenang dan anggaran. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. pertanggungjawaban. ini perlu didorong dan didefinisikan. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. desa dan pilkada. Komentar Pak Ibnu. saya setuju desa punya kewenangan. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. Ciri otonomi. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. Untuk kasus yang kecil-kecil. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. peradilan desa itu sudah ada preseden. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. dia bisa membuat peraturan. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. kemampuan perangkat. legislatif. tapi belum dilaksanakan. karena yang dihadapi adalah SDM. Franky Saya setuju. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. tidak perlu detail. dukungan masyarakat. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik.

UU 32/2004. UU dalam ranah desa. Marhaban-PMD Depdagri. Yuni–Asppuk. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. • Demokrasi. ibu-ibu. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. kalau perlu ada departemen khusus agraria. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. Rahma–LIPI. Menggagas Desa Masa Depan 51 . Adnan–LP3ES. akhirnya dicabut kewenangannya.adatnya. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. Hans Antlov-LGSP. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Agus R. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. mana yang baik dan tidak baik. Dahlia–TTS SoE. hubungan sektoral berbenturan. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. akan terjadi pertarungan dengan negara. Joana–World Bank. Fasilitator Bapak-bapak. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Datuk–Asosiasi Nagari. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. sehingga terjadi benturan kelembagaan.Lakpesdam. dan itu menjadi pertarungan yang riel. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. tanahnya. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. • Implementasi Pancasila. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Wai. 2. Abu–Persepsi. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. Aturan sering bertubrukan. Widya-FPPM. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. Wafi–BPD. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. termasuk kultur. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Widyohari–STPMD ”APMD”. pengaturannya bukan sektoral lagi. hubungan antar sektor.

Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. saya lebih optimis. euforia politik. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. Dari beberapa hal tersebut. permasalahan diantara mereka. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. maka merujuk pada 3 aspek: 1. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. mengontrol pembangunan di desa. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. dengan harapan yang lain akan melengkapi. tidak hanya dalam pengambilan keputusan.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. polanya masih top down. • Keuangan. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. kaitannya dengan psikologi demokrasi. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. maka pemilihan kades juga dibiayai. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. artinya harus dengan target sekian orang. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. jadi tidak perlu ada batasan quorum. Wafi • Kaitan dalam hal ini. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Menggagas Desa Masa Depan 52 . implementasi dan pengawasan. melainkan kontrol. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. • Persoalan quorum menjadi masalah. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. dipilih langsung. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. masyarakat belum. musrenbang tidak ada artinya. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas.

saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. BPD dan lembaga lain di desa. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. Proyek PPK di daerah. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. Amerika. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. maka masyarakat akan diam. Secara umum. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. pemuda. negara. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Nah. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). alim ulama. Kalau di desa Sumba Timur. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. politik (Pembuatan Perdes). ninik mamak. Tana Toraja.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. Australia. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. tapi perlu tupoksi yang jelas. pemuda. Hebatnya demokrasi. silahkan. Apa yang disampaikan Joana perlu. sehingga kades. kelompok perempuan. Menurut saya. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. tapi kita tawarkan kepada yang lain. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. provinsi. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. istrinya carik ya. ninik mamak. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. seperti freedman. Representative demokrasi bukan ada di kita. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). Saya pahami bahwa peran warga desa. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. yang punya uang yang menang. jadi tidak memaksakan keinginan kita. perencanaan pembangunan masih top down. alim ulama. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. Kanada. menampung.

saya setuju dengan Pak Sus. Apapun bentuknya tidak masalah. tetapi sekarang tidak. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. ini parah. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. Yang penting 3 (tiga) itu.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. Dalam proyek PPK. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. ada rapat/rembug desa. perwakilan. itu harus dilembagakan. Kades. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Kerena itu. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Barat tahu persis otonomi daerah itu. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. petani. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Dari prosedur itu tidak menjamin. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. meskipun bukan satusatunya problem di desa. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Juga dalam penguatan masyarakat di desa. tapi masih ada celah-celah. wali nagari/kades memiliki masyarakat. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. karena itu murni dari adat. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. siapa saja: buruh. partisipasi di desa adalah milik elit desa. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. PPK bagus. dan lain-lain. Saya mengkritik teman-teman di PMD. Kendala yang perlu diperhatikan. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. Problemnya. masing-masing desa berbeda. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. masih sebagian bergantung pada pemerintah. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. juga pengalaman negara lain yang berhasil. ada mekanisme kontrol internal di desa. kemudian tidak lahir dari masyarakat. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. menjadi grup politik masyarakat. ada badan legislatif. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. sesepuh. eksekutif. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. kalau tidak ada. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal.

. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. tenaga. pengangguran. Menggagas Desa Masa Depan 55 . Saya hanya mengkritisi itu. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. Jadi masyarakat perlu kita latih. adanya penokohan. Kalau BPD. Membandingkan dengan yang di atas. kepentingan. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. keterwakilan partisipasi. itu diseimbangkan. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. Contoh. Itu bukan Eropa. kehadirian fisik. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. ada kebutuhan. silahkan. Banyak pendapat tentang partisipasi. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. Negara tetangga lain. jadi kendalanya struktural dan kultural. • Kades di TTS seperti alat politik. permusyawaratan – perwakilan. lembaga dari luar yang ada di tempat kami.insidential.. pikirannya. Kalau di pemerintahan.. kelompok dan lainlain. Dana disiapkan. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. India. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. ini dan itu. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. ada potensi. Filipina. Amerika. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. kita fasilitasi. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. tidak masyarakat. sehingga dia akan kuat. parpolpun tidak mewakili masyarakat. dananya. diwadahi dalam forum. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. bagi saya tidak masalah. persoalan budaya. demokrasipun kalah. tapi negara Asia. pemikirannya terbatas. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. pengkulturan masyarakat. orangnya terbatas. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. Pancasila dan UUD 1945. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. lebih mementingkan proyek. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. mereka bisa.

BPD sebagai tool untuk check and balances 2. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. BPN tidak berfungsi.. hanya kata-katanya yang berbeda. Demokrasi hanya satu hari. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi.. senin-jum’at tidak demokratis. cuma hari sabtu saja yang demokratis. injecting participating in local. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1.hhahaahhaaa. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. elit-elit menyelewengkan demokrasi. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat.. mandul.. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. jadi hanya hari sabtu saja. kalau bukan kebutuhan. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. karena oranya tidak demokratis. sikap elitis. sabtu. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. kita semua membicarakan hal yang sama. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . Bagaimana ditingkat kabupaten/kota..

Kewenangan desa harus jelas. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. alasannya 1) SDM tidak mampu. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. pendapatan desa rendah. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. 2. merujuk PP 72/2005. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Joana-World Bank. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. Dahlia-PMD TTS. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. Bambang Hudayana 2. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. dalam kaitan ADD. Tumpak-PMD. dengan skala prioritas. Sukoco-Kades Wiladeg.5 Milyar. Abu-Persepsi. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. Adri Warsena-FPPD. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. Kasmuin-CePAD. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. karakter dan budaya setempat bisa masuk. Kamardi-Perekat Ombara. ada PP 72/2005. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. Syamsul-Bina Swagiri. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Ade-KDP World Bank. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. Menggagas Desa Masa Depan 57 .Hari/Tanggal : Senin. kemudian ADD untuk apa?. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. maksudnya bendahara desa. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. 4. Mengapa kabupaten tidak responsif?. 3. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. 3 Juli 2006 Pukul : 11. 5. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. Datu-As Wali Nagari. sehingga ada kejelasan potensi.00 3. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD.00 – 13. yaitu: 1. Perda-perda dan perdes. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa.

Menggagas Desa Masa Depan 58 . kalau diukur dari PP masih jauh. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. DAU yang dipotong anggaran rutin. Dana yang pertama itu 10 Milyar. Ini yang selama itu belum jelas. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. Yang menjadi orientasi ke depan. 1. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. maka akan memindah budaya korupsi di desa. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. jadi berbeda sumbernya. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. memang nilai asli desa ada gotong royong. 2. Mungkin juga faktor politik. dengan presentase sekian % untuk BPD. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. 3.kemungkinannya adalah. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. kalau tidak ya tidak. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. pembangunan dan lain-lain. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. mestinya 23 Milyar. faktor APBD kabupaten belum siap. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. kalau itu tidak disiapkan di desa. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. ada yang pakai peraturan Bupati. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Catatan lebih jauh. faktor politik (karena tidak milih). Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. Efek ADD luar biasa. Sepertinya itu masih terjadi.

lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Yang ditanyai Bandes. kalau rata maka 75 juta per desa. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. Ada kecenderungan berbeda. sehingga menguntungkan pihak luar. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. 3. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. Honor kades. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. jalan dll. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. PP 72/2005 di kabupaten. tetapi hanya rambu. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. ADD tidak merata ke seluruh desa. Bupati mengakali 50 juta per desa. di desa itu tidak ada Bandes. dan kabag hukum. Yang baik itu PPK. dananya harus memadai. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. porsinya tidak ditentukan. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera.Fasilitator ADD itu hak desa. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. kriterianya sangat banyak. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. tidak ada mark up. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. 1. ADD seharusnya didahului RPJMDes. Pembangunan oleh desa lebih efektif. Betapa pentingnya kewenangan desa. Menggagas Desa Masa Depan 59 . PMD. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. Sejak berpisah dari Deli Serdang. sehingga mereka bisa bikin pasar. ada soal dengan kabupaten induk. 10 % DAU maka harusnya 15 M. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. hanya beberapa desa. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. dan baru menerima PP 72/2005. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. 2. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. Pembangunan sendiri belum. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. itu sudah mendarah daging. bertahap. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Disini juga ada tim pengawas. DPRD dan lain-lain. datang kontraktor di atas kertas swakelola. Contoh di Ngada. Mekanisme pencairan dana cukup baik. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes.

Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Arah pembangunan ke 5 sasaran. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. masih perlu dukungan masyarakat. Pedoman level pusat belum ada regulasi. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. Ekonomi kerakyatan. Bagaimana kita melakukan penguatan. Menggagas Desa Masa Depan 60 . DAKN. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan SDM. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. kabupaten hanya memberi acuan saja. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. 4. perlu komitmen di tingkat nasional. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. yang itu berasal dari kabupaten. Instrumen akan sangat berharga. Sumber Daya Alam. Pembangunan kemasyarakatan. dana pemberdayaan. 3. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. 10% dari APBD. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. Perlunya needs assesment di desa. Di desa itu banyak uang. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. kalau tidak ya ada batas minimum. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. yaitu : 1. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. 2. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. 2. Pembangunan infrastruktur. misalnya best bracticenya diungkap disini.Fasilitator Jadi skenarionya. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. Instrumen kebijakan. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. 5.

tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. Sumber pendapatan desa belum jelas. Masalah. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. Pemda berhenti membuat perda. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Itu dikarenakan adanya PP. Menggagas Desa Masa Depan 61 . Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. 3. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. sehingga dapat independen. dalam bentuk block grant. walaupun itu difasilitasi oleh negara. 6. 7.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. 1. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. Kabupaten enggan untuk ADD 2. 6. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. Indikatornya: a. 3. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. b. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. masalah politik 5. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. akan tetapi daerah masih setengah hati. 4. keterbatasan PAD. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. sehingga jumlahnya masih kecil. 5. Catatan juga dari kami bahwa : 1. 4.

Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Dony-DPRD Sumedang. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. pembagunan. peserta memperkenalkan jati dirinya.7. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Agus R Rahman-LIPI. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Edward Lubis-YIPD Jakarta. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. 9. kita eksplorasi pandangan. apa keuangan desa. Yuni Pristiwati . Pengalaman-pengalaman praktis. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Erni-FPPD. Sofyan-Akatiga. usaha kecil. dan bagi pemerintah itu sendiri. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. yaitu prinsip transparansi. problematikanya. Silahkan. M. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Barori-STPMD “APMD”. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Sebelum mengerucut. Widya PujiFPPM. aktivitasnya. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Yusuf-Sajogyo Sains. keberlajutan. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. 4. 8. Susmanto-FPPD/LGSP. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Transparansi. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Firsty Husbany-DRSP.ASPPUK 2. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. Suharman-PSPK UGM. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Untoro-PMD. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa.

Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. merdeka. bargaining posititionnya kuat. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. Artinya. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Ketika bicara keuangan desa. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. Micro finance menurut pandangan saya. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. Salah satu dalam pasal itu. masyarakat sekarang ini justru senang. Barori Pak Lubis juga benar. Jadi uang itu muter. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. Menggagas Desa Masa Depan 63 . Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. sistem kelembagaanya sehat. dari segi system micro finance itu sehat. Ketika desa membiayai sendiri. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. dst. produk skala umum. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. itu otonom. pembangunan dan kemasyarakatannya. Tantangan kedepan adalah produk desa. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. Karena dibutuhkan tambahan modal. Komentar saya. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. Persoalannya. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. Teknologi itu mahal. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. belum dalam konteks yang lebih positif. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. Dia punya idealisasi. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Jika disepakati.

dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. Kita memang berfokus pada BUMDes. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. pokoknya uangannya kembali. Kita bisa belajar. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. jangan sampai seperti sekarang. Jasa ini penting. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). karena pendekatannya efisiensi. Ke depan. tidak dalam sektor keuangan di desa. Sidoarjo. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. dll). meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. keuangan dari sisi pemerintahan desa. pembiayaan sampai pemasaran. Tawaran untuk diskusi awal. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. sampai tingkat pasar dilepas. pasal 7881…. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. produksi dilepaskan. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. tidak setengah-setengah. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. kita focus ke sektor keuangan di desa. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. Pada saat panen PPL sembunyi. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. Kita perlu pengawasan eksternal. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. lebih luas daripada kredit. baik bagi orang yang mau menabung. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Micro finance dan BUMDes. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. memang dua hal ini sangat erat. sudah ada Permendagri. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. dia harus bersaing disana. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. Stefan Saya usul. secara teknis harus untung (saved uang). Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . Kami mereka-reka. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”.

bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. ATK). Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. manakala go public pihak perbankan belum merespon. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. dan warung nasi. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. sama yang kami buat. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. dan ada yang masih dalam perjalanan. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. diangkat menjadi pengurus BUMDes. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). bahkan kalau sudah jalan. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . UEP PKK. Disepakati. Setelah terbentuknya BUMDes. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes.000. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. harus ada akta notaris. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. tapi satu sama lain saling mengkait. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. BUMDes bisa menjadi PAD desa.besar. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. Permasalahan. pertokoan (fotocopy. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. Oleh karena itu. Jadi kita mengadopsi. lumbung desa. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. seperti usaha simpan pinjam. dari APBDes ke BUMDes. tinggal di akta notariskan. sementara Perda turun belakangan. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. kedudukannya sama dengan UU. ada yang sudah berjalan. Status badan hukumnya masih PERDES. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. jarang yang simpan. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Ada aturan BUMDes. banyak pinjamnya. apalagi di pedesaan. UEP PPK. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. satu desa ada 60 juta. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana.

hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. Tanpa itu. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. Mungkin ini control. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. tidak haya aturan teknis saja. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. dll. puskesmas. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. maka saya penekanannya pada tabungan. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. Ada pengalaman saya. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. maka dia tidak bisa menabung. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Kalau di pertanian jelas. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. dan saya pribadi setuju. Kita juga harus lihat ini. Agus Dalam hal BUMDes. Persoalannya. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. bukan hanya kebijakan. Kalau petani tidak mau mengubahnya.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. tetapi dengan pertimbangan. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. Ada 12. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. Dalam diskusi ini. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. sekolah. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa.ada peningkatan pelayanan masyarakat. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. ini tentu akan sulit. 53 juta/tahun). tidak semata-mata orientasi bisnis. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. maka tanahnya diambil. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. Sofyan Persoalan. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. Maksud saya.

juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. Semua ini pendekatan insidental. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). saya lihat petani juga semakin parah. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. semuanya harus affirmative. Apakah dengan BUMDes.03% GNP. Misalnya kasus UU Perbankan. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. Contohnya di seminar 2 hari ini. Usulan. tidak dari daerah. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. 70% dikuasi elit desa. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%).Mengenai BUMDes. termasuk skema kreditnya. Kalau tidak. petani kita hancur. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. Belajar dari pengalaman itu. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). Walaupun Depdagrinya jungkir balik. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . untuk apa? Tetap saja petani mati. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. karena ada problem seperti ini. misalnya soal pupuk. Tidak usah bicara partisipasi. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. BUMDes itu sesuatu yang bagus. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. (terjadinya dept capital). kearifan desa disana. harus lebih jelas. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. apapun bentuknya. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. jangan sampai ada penyeragaman. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. masing-masing mempunyai institusi sendiri. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. saya kira Indonesia sudah makmur. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan.

harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses.Jenis usaha. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. siapa mau berobat. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Tentang kehutanan. bukan dipaksakan muncul. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. misalUU kehutanan. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. tiap desa harus muncul BUMDes. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. Itu nanti justru akan menjadi konflik. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. 10. sehingga dikembalikan. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). ini tidak pas. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. Kita coba memakai kelompok tani hutan. bahwa nanti akan ada Perda. cukup “kamu jualan disitu. afirmatifnya seperti apa?. Persoalan tentang micro finance. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. saya menulis “Bupati versus rentenir”. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. Menggagas Desa Masa Depan 68 . belum terselesaikan. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. Saya berpikir. Kasus yang menarik. dia jalan menggunakan mekanisme bank. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. ini cukup Rp. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa.000. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. nanti kembali sekian”. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. silahkan gratis.

misalnya hutan. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Menggagas Desa Masa Depan 69 . dan pusat hanya kebijakan.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. oleh dan untuk anggota. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Mengenai hutan. Prinsipnya. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. itu yang kita lindungi. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. Nanti konsekuensinya. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Informasinya di Bantul BPRnya maju. Mengenai tanah kas desa. Prinsipnya. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. maka tidak akan ada masalah rentenir. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. tidak dipaksa. jadi BUMDes saja. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. Kalau itu bisa. “Bupati vs rentenir” di Bantul. Kepemilikan. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. kurang terpayungi secara hukum. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). tidak dijual. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah).

Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. Prinsipnya. koperasi itu bukan bank. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. asetnya sudah 1 milyar lebih. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. mereka menerima uang di masyarakat. Jadi perlu disisipkan. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. sehingga mereka rajin mengembalikan. masyarakat langsung control. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). Kalau kita lihat draft UU LKM. dasar hukum LKM harus ada. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Ini menjadi ramburambu. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Pengawasan juga kuat seperti bank. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. bagaimana cara mengelola kredit mikro. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. kepastian hukum. Strateginya. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. salah satu problemnya itu. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. pemerintah bekerjasama dengan NGO.Barori Masalah kelembagaan. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). lebih memberdayakan pada perempuan. Seperti ini ada linkage program. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. Apakah ini perpanjangan tangan. Menggagas Desa Masa Depan 70 . Kalau ini membahayakan harus ditolak. Solusinya. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Widya Bagi saya. Sebagaimana bank yang lain. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan.

• ada kejelasan tatalaksana manajemen. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). • ada pengawasan yang jelas. Dari sisi LKM atau BUMDes. termasuk affirmative action lintas sektoral. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. Menggagas Desa Masa Depan 71 . • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. • kepemilikan oleh rakyat. Dari pengalaman itu.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. • sebagai affimative action. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). pelatihan. • ada alokasi dari dana APBD. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan.

pola kerjanya bagaimana. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi.. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. Haryo Habirono – FPPD 2.5. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. Widyohari-STPMD “APMD”.. kan begitu. Dua pembicara Pak Prof. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. hubungan kerja. • konsep-konsep perwakilan daerah. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. Untuk itu. Jayus-UNEJ. dan ada komunitas-komunitas tertentu. inkonsistensi. Tetapi yang terjadi dalam praktek. Pak Sadu sudah panjang lebar. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi.. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting... Elke Rapp-DRSP. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. Jadi ini dilema. Saya kira itu. bukan hanya sekedar pemerintah desa. Salini-DSF. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. berpendapat. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. untuk tidak mengatakan salah. Sadu–STPDN. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. yang penting yang harus dirubah. Wa’i-Lakpesdam. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. Franky-AMAN. karena tadi waktunya pendek. saya kira dengan yang kita bahas tadi. Sadu Terima kasih. kami persilahkan saja. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. BPD. mungkin saya sampaikan. Azam-Pemdes Kebumen. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Menggagas Desa Masa Depan 72 . supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. Toro-STPMD “APMD”. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. sesuai saja. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. . juga ditangan pemerintah desa. dibuat mengambang. Steny-HUMA. nanti diskusi akan berkembang lagi. Nurwafi-BPD. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. Widya-FPPM. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. Ibnu–Unibraw.. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Mas Ibnu sudah panjang lebar.

bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. dia tidak digaji.Desentralisasi kepada daerah jelas. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. Jadi sebelumnya. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. Saya menawarkan gagasan. yang dipungut adalah iuran. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. Mohon maaf. bukannya masyarakat adat tidak prnting. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. Saya bertanya. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . bisa mengatur pilkades yang baik. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. tapi kedudukannya tidak jelas. Nah ini akan menjadi dilema. kewajiban-kewajiban pemerintah. sekarang tidak ada. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. larinya pengganti ekonomi. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. kalau dulu masih ada pengganti asusila. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. hanya hal itu tidak dilaksanakan. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. anggaran banyak. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. Fasilitator Saya potong sedikit. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. akhirnya gubernur setuju.. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. nah ini menjadi babak baru. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. Ini lebih memberi peluang. tapi kalau kita lihat data.. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. Dan untuk desa diminta naskah akademik. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. khususnya untuk pengaturan. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. saya tidak tahu. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret.. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda.

Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. jangan terlalu detail. Fasilitator Ya. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. Karena kalau semua sudah diatur. saya pikir apa konsekuensinya. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. ada self community governance. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. bisa dengan penurunan pangkat. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. local self government. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. Dari dulu desa deperti ini terus. ada local state governance. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. dari bawah. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. lima struktur itu bebas saja. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Konsultasi publik saya tahu. dan self government community. Dalam undang-undang nanti. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. step by step. Artinya mekanisme ini tolong.yang khusus. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. local self governance. untuk melihat struktur apa akan dipakai. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. sudah jenuh juga. tidak serta merta langsung kita berhentikan. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. Sekarang saya melakukan perubahan perda. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. kecamatan. saya kebetulan dari orang pemerintah. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. ini agak beda. dari legislasi. Azam Terima kasih. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. Elke Usulan tadi bagus sekali. dimana desa yang masih homogen. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. Kalau kita mulai dari tingkat desa. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Menggagas Desa Masa Depan 74 . ada sanksi disitu. masa jabatan tidak usah diatur. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Kita diskusi mengenai local state government. kita kembali ketiga tipe desa. apakah local self governance. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. minimal kalau ada sekian provinsi. local state governance. adatnya masih kuat. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. tapi itu masih kurang. atau self community governance. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi.

yang prinsip bagaimana hak-hak. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. Nurwafi Terima kasih. apa mau kawan-kawan di level bawah. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. Nurwafi Prinsipnya. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. Atau sebaliknya. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. Kemudian sentralistik. selama ini hanya instruktur. mungkin dalam pikiran normatif.. komando. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. penyeragaman. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional.. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin.

karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. Oh. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. atau kalau ada investasi. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. pendidikan dan sebagainya. Fasilitator Kalau saya menangkap. Wa’i Terima kasih. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Saya kira begitu aja. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini.kewenangan desa. kabupaten lebih khusus lagi. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Ketiga. begitu? Provinsi lebih umum. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. Kedua. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. lebih spesifik lagi. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. dan lainnya untuk daerah mana. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. perijinan dan sebagainya masuk. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten.

itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. Kedua. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. Kedua. Sekarang mengenai desa otonom. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. karena pengalamannya Jawa. Sutoro Mengulang yang kemarin. jadi kategorinya jelas. Itu posisinya jelas. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. Pertama. Kembali pada SDM. Karena pengalamannya sudah lebih baik. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. Tadi Mas Franky dari AMAN. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. kepegawaian. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. BPD-nya sudah lebih siap. tidak pernah serius dilaksanakan. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. pembinaan kapasitas dan seterusnya. itu bisa kita petakan secara jelas. itu artinya yang namanya penyerahan. ganti konsep alokasi. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. dan desa. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. saya ingin bertanya. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Ketiga. melakukan supervisi. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. Pak Azam bicara tentang desa otonom. kabupaten. dia sedang berbicara tentang desa adat. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. tapi ya begitu saja. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. kemudian Mas Wafi. Ini peran pemerintah. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. membina. tapi tidak pernah terlaksana. Nah ini persoalannya sekarang. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak.sebagainya). sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. disamakan sajalah. Hanya berhenti disitu. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Saya agak kurang setuju dengan Prof. Mas Toro silahkan. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada.

apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Menggagas Desa Masa Depan 78 . meninggal harus cari tempat lain. Soal istilah. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. keuntungan untuk desa sekian. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. nanti saya pikirkan. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. sekarang penghargaan sosial tidak ada. dia bisa ditolak di-aben disitu. bunyi pasalnya wajib. akarnya sudah tercabut. itu difasilitasi di pasal berikutnya. karena konfliknya disitu. yang dikejar harga ekonomi. intinya satu yaitu wajib. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. kalau semua bisa jadi satu. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa.tiga ya harus konsisten. Steny Konkretnya. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. Saya juga bingung. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. tadi saya terima kasih diberikan saran. Kalau desa itu tidak jelas. kuatnya begitu. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. hak dan kewajibannya jelas. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. tidak perlu ada administrasi. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. jadi larinya pada penghasilan. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. tidak perlu ada pemerintahan. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Bagaimana dengan yang begitu. sekarang tidak kesitu yang dikejar. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. ia kehilangan hak-hak sosial. supervisi. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. makanya mereka menghargai betul pada adat. itu bukan harus. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. Saya mau menambahkan saja.

apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. biar nanti kalau terkait dengan desa. hanya orang desanya sendiri. jadi tidak pernah tahu padahal ada. Soal ADD. kita masih akan terus menambahkan. mekanisme keluhan. Apa ada relawan. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan.. Pak Toro selama belum ada amandemen. ditaruh didalam meja. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas.. kalau masih ada ide-ide. UU 22/99 demikian pula.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. kita lihat lagi th 48. coba kita lihat th 65. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat.. Fasilitator Ya. Elke Saya hanya ingin. Fasilitator Saya kira ini cukup. soal hak-hak desa itu ada. kalau kiranya cukup. itu yang pertama. Fasilitator Oleh karena itu. Kedua. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. itu berkaitan dengan sanksi. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. Menggagas Desa Masa Depan 79 . Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. nanti dalam diskusi pleno presentasi. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah.

Selain jaminan kewenangan. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Konsistensi implementasi dari policy. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. Barori 1. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 8. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. 5. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. 4. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. Oleh karena itu. Bahkan. fasilitasi. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya.2. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. capacity building menyangkut desa. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. 3.00 Moderator : M. 2. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat.00 – 17. fasilitasi. 3 Juli 2006 Pukul : 16.

Saya dari Limapuluh Kota. hanya perlu good will dari semua unsur. Dan dengan demikian. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. regulasi tidak terlalu banyak. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. kita kembalikan ke masyarakat. atau dimensi kultural). beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. 5 unsur dari pemuda. mekanisme. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. ada juga 1500 orang. 5 unsur dari bundo kandung. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. jadi tidak perlu regulasi baru. pemilihannya tentu per jorong. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. 5 unsur dari pemuda. 5 unsur dari nini mamak. Berdasarkan pengalaman. silahkan. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. Oleh karena itu. Oleh karena itu pula. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. bagaimana keterwakilan. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. bagaimana keterwakilan kelompok lain. kami ada 7 jorong. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. 1 jorong ada penduduknya 700. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. lebih besar dari 3000 25 orang. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. pemilihan itu bagaimana bentuknya.

Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. substansi adalah menghindari elit desa. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. lalu pemerintah membuat perda yang baru. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. contoh di penjelasan. Soal jumlah. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. jadi seolah sama. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. bahwa BPDnya tetap seperti semula. sikap elitis. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . 2. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. perlu ditambahkan. Masalah regulasi. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. 1. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004.

tetapi institusi yang mewakili desa. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. bisa pemilu atau yang lainnya. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. BPD sinergis. sehingga netralitas calon kades. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. Biaya pilkades itu kecil. kades. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. bagaimana APBD itu membiayai juga. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. Contoh di Jepara. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. yang jadi mahal itu money politic. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. yang saya usulkan itu DPD. tapi ad hoc saja. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. Itu perlu dinormakan. tapi tidak serta merta mewakili desa. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. bagaimana lembaga di desa. Mekanisme di pusat sudah ada. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. sehingga demokrasinya bisa berjalan.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. government for the people. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. Menormakan ini tidak bisa seragam. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. mekanismenya terserah.

Di desa itu ada deliberatif demokrasi. masyarakat.kabupaten/kota. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. keluarga. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD.15 Moderator : Sumarjono 3. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. demokrasi harus dimulai dari yang terendah.00 – 15. Hari/Tanggal : Selasa. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. Penguatan kelembagaan. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif.

artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. Marhaban Kita di PMD. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. ini memang strategi pemberdayaan. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. 4. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. Dengan demikian ADD menjadi problem. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. maka 80% langsung ke masyarakat. karena desa itu sudah di bawah negara. Ini memang dalam perspektif yang mikro. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Saya persilahkan tanggapannya.

7. provinsi. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. Deskripsi singkat : 6. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. Bumi. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. 2) separated. fasilitasi. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. 8. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. capacity building yang menyangkut desa.• Konsistensi implementasi dari policy. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. delegatif dan kewenangan lain-lain. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. tanah. 9. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Di UU ada kewenangan atributif. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. walaupun secara yuridis formal belum nampak. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. pilihan. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Justru dengan otonomi desa. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Bahkan. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. kenapa justru ada eksploitasi. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Ketiga overlap. capacity building menyangkut desa. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. koncuren. 10. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. dan 3) overlap. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. fasilitasi. Menggagas Desa Masa Depan 86 . Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan.

kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. Pasal 1 negara memberi pengaturan. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Negara-negara baru (Amerika Serikat. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. kalau saya melihat lebih ke politik. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. Saya pilih ke istilah kontrol. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. eksternalitas. fasilitator. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. oleh karena itu terbit UU sektoral. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. Saya kira disana ada politik. tetapi juga persoalan politik. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. teknologi. nampaknya yang diberikan itu urusan. karena pengawasan ikut mengarahkan. ini yang menjadi tali sentralistik. 2. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. 5. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. di UU 32/2004 itu urusan. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. dan pemasaran. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. apalagi mau kita bawa ke desa.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. Negara-negara old model (Jerman. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. padahal kalau residual teori itu wewenang. UU 22/99 wewenang. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. UU 5/74 itu wewenang. Australia. maka perlu modal. Skandinavia. dan efisiensi.

Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. Menggagas Desa Masa Depan 88 . tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. nelayan. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. untuk rakyat (petani. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD).

sehingga perlu pembinaan. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. BUMDes itu akan dibiayai APBD. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan.nelayan. Kita harus tegas mengatur ini. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. mau memberikan waktu. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. tenaga dan pikiran. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. perdes mengacu perda. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. Di tingkat II. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. Pengawasan. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. rakyat miskin (petani. siapa yang akan mengontrol BUMDes. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. Menggagas Desa Masa Depan 89 . panjang sekali prosesnya. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. dll). sebagai komisaris. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. agar perda itu baik dan benar. perda mengacu UU. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. termasuk monitoring dan pengawasan. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa.

Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. seperti ADD. BUMDes yang lemah payung hukumnya. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. Moderator Diskusi ini kita akhiri. menggagas desa masa depan. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. ke bank misalnya. Menggagas Desa Masa Depan 90 . lebih banyak ke perangkat desanya. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. Payung hukum yang ada adalah yang umum. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. maka tidak bisa ke sana nanti. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Lebih fundamental lagi.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. bukan khusus untuk BUMDes.