VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. tapi belum dilaksanakan. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. infrastruktur. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. Mnurut saya. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. Komentar Pak Ibnu. Sudah ada perda tentang bondo desa. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. unsur pemerintahan eksekutif. legislatif. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. dukungan masyarakat. di peraturan itu belum ada. Kita pernah menantang IMB. kemampuan perangkat. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. karena yang dihadapi adalah SDM. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. wewenang dan anggaran. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Untuk kasus yang kecil-kecil. tidak perlu detail. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. Franky Saya setuju. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. dia bisa membuat peraturan. ini perlu didorong dan didefinisikan. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. aturan dibuat untuk dilanggar. saya setuju desa punya kewenangan. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. peradilan desa itu sudah ada preseden. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. kalau kita pilih self governing community. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. yudikatif tidak jelas. Ciri otonomi. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. anggaran desa itu seperti darimana saja. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. pertanggungjawaban. syaratnya dirubah. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. desa dan pilkada. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. namun ada problem-problem empiris. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. masyarakat dikebiri oleh pejabat. administrasi. masyarakat tidak dihargai. Sofyan Mekanisme kewenangan. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. walaupun itu bertentangan dengan hokum. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa.

Datuk–Asosiasi Nagari. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. UU dalam ranah desa. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Adnan–LP3ES. Wai. Abu–Persepsi. tanahnya. akhirnya dicabut kewenangannya. Rahma–LIPI. Yuni–Asppuk. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. dan itu menjadi pertarungan yang riel. hubungan antar sektor. Menggagas Desa Masa Depan 51 . walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. pengaturannya bukan sektoral lagi. Fasilitator Bapak-bapak. Joana–World Bank. UU 32/2004. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Widya-FPPM. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. kalau perlu ada departemen khusus agraria. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. hubungan sektoral berbenturan. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas.Lakpesdam. mana yang baik dan tidak baik. Agus R. Hans Antlov-LGSP. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Dahlia–TTS SoE. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. • Demokrasi. Widyohari–STPMD ”APMD”. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Marhaban-PMD Depdagri. Wafi–BPD. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan.adatnya. • Implementasi Pancasila. ibu-ibu. akan terjadi pertarungan dengan negara. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. termasuk kultur. sehingga terjadi benturan kelembagaan. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. 2. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Aturan sering bertubrukan.

Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. dengan harapan yang lain akan melengkapi. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. maka pemilihan kades juga dibiayai. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. • Persoalan quorum menjadi masalah. kaitannya dengan psikologi demokrasi. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. permasalahan diantara mereka. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. saya lebih optimis. artinya harus dengan target sekian orang. euforia politik. Wafi • Kaitan dalam hal ini. Menggagas Desa Masa Depan 52 . Dari beberapa hal tersebut. • Keuangan. dipilih langsung. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. melainkan kontrol. mengontrol pembangunan di desa. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. implementasi dan pengawasan. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. polanya masih top down. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. masyarakat belum. musrenbang tidak ada artinya.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. jadi tidak perlu ada batasan quorum. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung.

BPD dan lembaga lain di desa. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. maka masyarakat akan diam. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. Secara umum. Representative demokrasi bukan ada di kita.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. tapi perlu tupoksi yang jelas. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. seperti freedman. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. Nah. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. Kalau di desa Sumba Timur. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). silahkan. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. alim ulama. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. jadi tidak memaksakan keinginan kita. alim ulama. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. kelompok perempuan. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. sehingga kades. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. tapi kita tawarkan kepada yang lain. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. Apa yang disampaikan Joana perlu. politik (Pembuatan Perdes). saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. ninik mamak. pemuda. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. Amerika. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. Saya pahami bahwa peran warga desa. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. Menurut saya. istrinya carik ya. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. negara. Proyek PPK di daerah. Tana Toraja. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. yang punya uang yang menang. ninik mamak. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. perencanaan pembangunan masih top down. Hebatnya demokrasi. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Kanada. menampung. provinsi. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. Menggagas Desa Masa Depan 53 . sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. Australia. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. pemuda.

Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Dalam proyek PPK. Yang penting 3 (tiga) itu. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. karena itu murni dari adat. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. sesepuh. tapi masih ada celah-celah. kalau tidak ada. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Dari prosedur itu tidak menjamin. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. petani. siapa saja: buruh. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. Problemnya. Kerena itu. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. juga pengalaman negara lain yang berhasil. perwakilan. kemudian tidak lahir dari masyarakat. partisipasi di desa adalah milik elit desa. ada rapat/rembug desa. Partisipasi menjadi titik demokrasi. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. itu harus dilembagakan. masing-masing desa berbeda. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. ada mekanisme kontrol internal di desa. Kades. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. dan lain-lain. menjadi grup politik masyarakat. Apapun bentuknya tidak masalah. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. PPK bagus. meskipun bukan satusatunya problem di desa. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. Saya mengkritik teman-teman di PMD. saya setuju dengan Pak Sus. masih sebagian bergantung pada pemerintah. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. Kendala yang perlu diperhatikan. eksekutif. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. ini parah. ada badan legislatif. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 .Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. tetapi sekarang tidak. Barat tahu persis otonomi daerah itu. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. wali nagari/kades memiliki masyarakat. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. sehingga tepat kita mencari demokrasi. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan.

ada potensi. Pancasila dan UUD 1945. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. demokrasipun kalah. sehingga dia akan kuat. Contoh. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. adanya penokohan. Itu bukan Eropa. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. pikirannya. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. • Partisipasi dalam berbagai bentuk.insidential. jadi kendalanya struktural dan kultural. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. India. kehadirian fisik.. pengkulturan masyarakat. Banyak pendapat tentang partisipasi. bagi saya tidak masalah. Saya hanya mengkritisi itu. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. diwadahi dalam forum. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. pengangguran. Jadi masyarakat perlu kita latih. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat.. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. Kalau BPD. silahkan. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. Negara tetangga lain.. ini dan itu. kelompok dan lainlain. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. permusyawaratan – perwakilan. Menggagas Desa Masa Depan 55 . tenaga. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. mereka bisa. tidak masyarakat. Dana disiapkan. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. lebih mementingkan proyek. • Kades di TTS seperti alat politik. Kalau di pemerintahan. parpolpun tidak mewakili masyarakat. Filipina. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. keterwakilan partisipasi. tapi negara Asia. Membandingkan dengan yang di atas. persoalan budaya. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. pemikirannya terbatas. orangnya terbatas. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. itu diseimbangkan. kita fasilitasi. Amerika. dananya. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. kepentingan. ada kebutuhan.

karena oranya tidak demokratis. mandul. BPN tidak berfungsi. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. hanya kata-katanya yang berbeda. sabtu.. kalau bukan kebutuhan...hhahaahhaaa. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. Demokrasi hanya satu hari. injecting participating in local. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. BPD sebagai tool untuk check and balances 2.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. senin-jum’at tidak demokratis. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik.. jadi hanya hari sabtu saja. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. sikap elitis. cuma hari sabtu saja yang demokratis. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. kita semua membicarakan hal yang sama. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter.. elit-elit menyelewengkan demokrasi. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan.

mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Abu-Persepsi. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. Menggagas Desa Masa Depan 57 . karakter dan budaya setempat bisa masuk. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Perda-perda dan perdes. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. alasannya 1) SDM tidak mampu. 5.00 3. sehingga ada kejelasan potensi. pendapatan desa rendah. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja.Hari/Tanggal : Senin. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. 4. dalam kaitan ADD. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. Bambang Hudayana 2. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Dahlia-PMD TTS. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. 3 Juli 2006 Pukul : 11. kemudian ADD untuk apa?. Kewenangan desa harus jelas. Kamardi-Perekat Ombara. Syamsul-Bina Swagiri. Mengapa kabupaten tidak responsif?. merujuk PP 72/2005. Sukoco-Kades Wiladeg. 3. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Joana-World Bank. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. Adri Warsena-FPPD. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. maksudnya bendahara desa. ada PP 72/2005. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. Ade-KDP World Bank. yaitu: 1. Datu-As Wali Nagari.5 Milyar. dengan skala prioritas. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. 2. Tumpak-PMD. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11.00 – 13. Kasmuin-CePAD. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan.

Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. Catatan lebih jauh. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. ada yang pakai peraturan Bupati. 1. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. Efek ADD luar biasa. jadi berbeda sumbernya. kalau diukur dari PP masih jauh. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. 3. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. mestinya 23 Milyar. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. maka akan memindah budaya korupsi di desa. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. 2. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. pembangunan dan lain-lain. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. faktor APBD kabupaten belum siap. dengan presentase sekian % untuk BPD. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. memang nilai asli desa ada gotong royong.kemungkinannya adalah. Yang menjadi orientasi ke depan. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. faktor politik (karena tidak milih). yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. Dana yang pertama itu 10 Milyar. kalau itu tidak disiapkan di desa. Sepertinya itu masih terjadi. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. Mungkin juga faktor politik. Ini yang selama itu belum jelas. DAU yang dipotong anggaran rutin. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. kalau tidak ya tidak. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. Menggagas Desa Masa Depan 58 .Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa.

dan baru menerima PP 72/2005. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Ada kecenderungan berbeda.Fasilitator ADD itu hak desa. dan kabag hukum. Yang ditanyai Bandes. Menggagas Desa Masa Depan 59 . Betapa pentingnya kewenangan desa. Contoh di Ngada. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. dananya harus memadai. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. Pembangunan oleh desa lebih efektif. itu sudah mendarah daging. hanya beberapa desa. PP 72/2005 di kabupaten. Honor kades. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. PMD. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. 10 % DAU maka harusnya 15 M. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. tetapi hanya rambu. ADD seharusnya didahului RPJMDes. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. kriterianya sangat banyak. Pembangunan sendiri belum. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. datang kontraktor di atas kertas swakelola. DPRD dan lain-lain. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. sehingga mereka bisa bikin pasar. Bupati mengakali 50 juta per desa. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. 3. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. ada soal dengan kabupaten induk. kalau rata maka 75 juta per desa. bertahap. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. di desa itu tidak ada Bandes. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. ADD tidak merata ke seluruh desa. porsinya tidak ditentukan. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. sehingga menguntungkan pihak luar. 1. Sejak berpisah dari Deli Serdang. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. tidak ada mark up. Yang baik itu PPK. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Disini juga ada tim pengawas. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. Mekanisme pencairan dana cukup baik. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. 2. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. jalan dll. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD.

semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. Sumber Daya Alam. Pembangunan infrastruktur. 2. Peningkatan SDM. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. 10% dari APBD. 2. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. kalau tidak ya ada batas minimum. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. misalnya best bracticenya diungkap disini. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. 3. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. yang itu berasal dari kabupaten. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. Perlunya needs assesment di desa. Pedoman level pusat belum ada regulasi. DAKN. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. perlu komitmen di tingkat nasional. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. Bagaimana kita melakukan penguatan. Arah pembangunan ke 5 sasaran. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. dana pemberdayaan. Ekonomi kerakyatan. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan.Fasilitator Jadi skenarionya. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. 4. 5. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. Menggagas Desa Masa Depan 60 . Instrumen akan sangat berharga. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. Pembangunan kemasyarakatan. Di desa itu banyak uang. masih perlu dukungan masyarakat. Instrumen kebijakan. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. yaitu : 1. kabupaten hanya memberi acuan saja. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa.

Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. Catatan juga dari kami bahwa : 1. sehingga jumlahnya masih kecil. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. dalam bentuk block grant. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. 6. 5. masalah politik 5. walaupun itu difasilitasi oleh negara. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. Kabupaten enggan untuk ADD 2. keterbatasan PAD. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. 4. sehingga dapat independen. Itu dikarenakan adanya PP. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. 3. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. 1. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. Indikatornya: a. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. akan tetapi daerah masih setengah hati. Pemda berhenti membuat perda. 4. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Sumber pendapatan desa belum jelas. 3. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. Masalah. Menggagas Desa Masa Depan 61 . b. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. 7. maka desalah yang perlu mendetailkannya. SE Mendagri dan peraturan yang ada. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. 6.

Edward Lubis-YIPD Jakarta. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. M. kita eksplorasi pandangan. yaitu prinsip transparansi. usaha kecil. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Suharman-PSPK UGM. Yusuf-Sajogyo Sains. Silahkan. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Yuni Pristiwati . pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). apa keuangan desa. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Transparansi. dan bagi pemerintah itu sendiri. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. aktivitasnya. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. 9. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Dony-DPRD Sumedang.7. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Sofyan-Akatiga. Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. Agus R Rahman-LIPI. 4. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Firsty Husbany-DRSP. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Widya PujiFPPM. Susmanto-FPPD/LGSP. keberlajutan. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. Erni-FPPD. Pengalaman-pengalaman praktis. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. Untoro-PMD. peserta memperkenalkan jati dirinya. Barori-STPMD “APMD”. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. problematikanya. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. pembagunan. 8. Sebelum mengerucut. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil.ASPPUK 2.

“kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Dia punya idealisasi. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. Jadi uang itu muter. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). itu otonom. produk skala umum. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. pembangunan dan kemasyarakatannya. Ketika bicara keuangan desa. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Ketika desa membiayai sendiri. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. Teknologi itu mahal. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. merdeka. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Tantangan kedepan adalah produk desa. sistem kelembagaanya sehat. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. Jika disepakati. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. Komentar saya. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. Menggagas Desa Masa Depan 63 . semakin banyak akses kepada uang semakin senang. ini dimaksudkan supaya lebih focus. belum dalam konteks yang lebih positif. Karena dibutuhkan tambahan modal. dari segi system micro finance itu sehat. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Kita kembali pada topik yang akan dibahas.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. Artinya. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. dst. Micro finance menurut pandangan saya. Persoalannya. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. Salah satu dalam pasal itu. Barori Pak Lubis juga benar. masyarakat sekarang ini justru senang. bargaining posititionnya kuat. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes.

Sidoarjo. Kita memang berfokus pada BUMDes. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Kami mereka-reka. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Jasa ini penting. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Pada saat panen PPL sembunyi. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. pembiayaan sampai pemasaran. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. lebih luas daripada kredit. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. kita focus ke sektor keuangan di desa. Tawaran untuk diskusi awal. sampai tingkat pasar dilepas. secara teknis harus untung (saved uang). tidak setengah-setengah. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). baik bagi orang yang mau menabung. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. Ke depan. pasal 7881…. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. sudah ada Permendagri. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. Micro finance dan BUMDes. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. memang dua hal ini sangat erat. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. pokoknya uangannya kembali. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. berdasarkan peraturan perundang-undangan. dll). Diskusi seperti ini sudah cukup lama. dia harus bersaing disana. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. produksi dilepaskan. Kita perlu pengawasan eksternal. tidak dalam sektor keuangan di desa. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. Kita bisa belajar. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. jangan sampai seperti sekarang. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Stefan Saya usul. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. karena pendekatannya efisiensi. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”.

BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. apalagi di pedesaan. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. BUMDes bisa menjadi PAD desa. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. manakala go public pihak perbankan belum merespon. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . pertokoan (fotocopy. Jadi kita mengadopsi. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. sementara Perda turun belakangan. dan ada yang masih dalam perjalanan. harus ada akta notaris. tapi satu sama lain saling mengkait. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. satu desa ada 60 juta. UEP PPK. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. Oleh karena itu. kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. bahkan kalau sudah jalan. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. Status badan hukumnya masih PERDES. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. seperti usaha simpan pinjam. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. Ada aturan BUMDes. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. jarang yang simpan. lumbung desa. UEP PKK. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. Setelah terbentuknya BUMDes. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. diangkat menjadi pengurus BUMDes. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. banyak pinjamnya. ATK). Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. tinggal di akta notariskan. Disepakati. dari APBDes ke BUMDes. dan warung nasi. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. kedudukannya sama dengan UU. ada yang sudah berjalan. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. sama yang kami buat. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank.besar. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui.000. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. Permasalahan. sedangkan keputusan bupati turun th 2003.

Agus Dalam hal BUMDes. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. Ada 12. Sofyan Persoalan. dll. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. Kita juga harus lihat ini. Dalam diskusi ini. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. tidak haya aturan teknis saja. maka tanahnya diambil. tidak semata-mata orientasi bisnis. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. bukan hanya kebijakan. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. dan saya pribadi setuju. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. tetapi dengan pertimbangan. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. maka dia tidak bisa menabung. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. maka saya penekanannya pada tabungan. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. Persoalannya. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. Ada pengalaman saya. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. Kalau petani tidak mau mengubahnya. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. Kalau di pertanian jelas. puskesmas. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . Tanpa itu.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. sekolah. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Maksud saya. Mungkin ini control. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. 53 juta/tahun). Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. ini tentu akan sulit. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp.

untuk apa? Tetap saja petani mati. kearifan desa disana. Belajar dari pengalaman itu. apapun bentuknya. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. masing-masing mempunyai institusi sendiri. Semua ini pendekatan insidental. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. misalnya soal pupuk. harus lebih jelas. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . Walaupun Depdagrinya jungkir balik. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. saya kira Indonesia sudah makmur. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. 70% dikuasi elit desa. Kalau tidak. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. jangan sampai ada penyeragaman. saya lihat petani juga semakin parah. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. petani kita hancur. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. tidak dari daerah. Misalnya kasus UU Perbankan. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan.03% GNP. termasuk skema kreditnya. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. Tidak usah bicara partisipasi. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). BUMDes itu sesuatu yang bagus.Mengenai BUMDes. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. (terjadinya dept capital). Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). semuanya harus affirmative. karena ada problem seperti ini. Contohnya di seminar 2 hari ini. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. Usulan. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. Apakah dengan BUMDes. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes.

Tentang kehutanan. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. misalUU kehutanan. Kita coba memakai kelompok tani hutan. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. belum terselesaikan. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya.Jenis usaha. Kasus yang menarik. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. saya menulis “Bupati versus rentenir”. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. siapa mau berobat. afirmatifnya seperti apa?. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Itu nanti justru akan menjadi konflik. Saya berpikir. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. sehingga dikembalikan. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. ini cukup Rp. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. cukup “kamu jualan disitu. nanti kembali sekian”. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Persoalan tentang micro finance. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. dia jalan menggunakan mekanisme bank. tiap desa harus muncul BUMDes. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. Menggagas Desa Masa Depan 68 . dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. bahwa nanti akan ada Perda. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. ini tidak pas. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. bukan dipaksakan muncul. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu.000. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. silahkan gratis. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. 10. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa.

dan pusat hanya kebijakan. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. tidak dipaksa. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. bahkan assetnya sudah 1 milyar. “Bupati vs rentenir” di Bantul. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Prinsipnya. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Informasinya di Bantul BPRnya maju. Prinsipnya. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. maka tidak akan ada masalah rentenir. itu yang kita lindungi. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. tidak dijual. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. misalnya hutan. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. Nanti konsekuensinya. Kalau itu bisa. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Menggagas Desa Masa Depan 69 . jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. Mengenai tanah kas desa. Mengenai hutan. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Kepemilikan. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. kurang terpayungi secara hukum. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. jadi BUMDes saja. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. oleh dan untuk anggota.

Menggagas Desa Masa Depan 70 . karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. bagaimana cara mengelola kredit mikro. Apakah ini perpanjangan tangan. Pengawasan juga kuat seperti bank. koperasi itu bukan bank. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. asetnya sudah 1 milyar lebih. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. lebih memberdayakan pada perempuan. Sebagaimana bank yang lain. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. pemerintah bekerjasama dengan NGO. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. Kalau ini membahayakan harus ditolak. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. Jadi perlu disisipkan. Prinsipnya. Strateginya.Barori Masalah kelembagaan. kepastian hukum. Kalau kita lihat draft UU LKM. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. sehingga mereka rajin mengembalikan. dasar hukum LKM harus ada. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). Solusinya. masyarakat langsung control. Seperti ini ada linkage program. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Ini menjadi ramburambu. salah satu problemnya itu. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. mereka menerima uang di masyarakat. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. Widya Bagi saya. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan.

• memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. pelatihan. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. Dari pengalaman itu. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. • ada alokasi dari dana APBD. • kepemilikan oleh rakyat. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • ada pengawasan yang jelas. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. Menggagas Desa Masa Depan 71 . • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. Dari sisi LKM atau BUMDes.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. • sebagai affimative action. termasuk affirmative action lintas sektoral.

Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum.. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. • konsep-konsep perwakilan daerah. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. Menggagas Desa Masa Depan 72 . Widyohari-STPMD “APMD”. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Mas Ibnu sudah panjang lebar. BPD. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Salini-DSF. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. kami persilahkan saja. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. mungkin saya sampaikan. Jadi ini dilema. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. yang penting yang harus dirubah. Haryo Habirono – FPPD 2.. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Saya kira itu. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. untuk tidak mengatakan salah. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Wa’i-Lakpesdam. Azam-Pemdes Kebumen. Franky-AMAN. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. dibuat mengambang. karena tadi waktunya pendek. pola kerjanya bagaimana. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. Sadu Terima kasih. Sadu–STPDN. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. Untuk itu.. berpendapat. Jayus-UNEJ. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. Elke Rapp-DRSP. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. kan begitu. sesuai saja. nanti diskusi akan berkembang lagi. juga ditangan pemerintah desa. Toro-STPMD “APMD”. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. .. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua.5. Dua pembicara Pak Prof. saya kira dengan yang kita bahas tadi. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. Nurwafi-BPD. Steny-HUMA. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. Tetapi yang terjadi dalam praktek. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1.. Pak Sadu sudah panjang lebar. dan ada komunitas-komunitas tertentu.. inkonsistensi. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. bukan hanya sekedar pemerintah desa. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. hubungan kerja. Widya-FPPM. Ibnu–Unibraw.

Fasilitator Saya potong sedikit. khususnya untuk pengaturan. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa.. tapi kedudukannya tidak jelas.Desentralisasi kepada daerah jelas. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. nah ini menjadi babak baru. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. kewajiban-kewajiban pemerintah. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini.. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. akhirnya gubernur setuju. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. tapi kalau kita lihat data. apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. larinya pengganti ekonomi. sekarang tidak ada. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. kalau dulu masih ada pengganti asusila. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Jadi sebelumnya. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. hanya hal itu tidak dilaksanakan. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. Saya bertanya. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. yang dipungut adalah iuran. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. dia tidak digaji. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. Saya menawarkan gagasan. bukannya masyarakat adat tidak prnting. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. Ini lebih memberi peluang. Nah ini akan menjadi dilema. Mohon maaf. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. bisa mengatur pilkades yang baik. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. Dan untuk desa diminta naskah akademik.. saya tidak tahu. anggaran banyak. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus.

Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. ada local state governance. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. Elke Usulan tadi bagus sekali. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. ada sanksi disitu. Dari dulu desa deperti ini terus. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. apakah local self governance. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. dan self government community. Karena kalau semua sudah diatur. jangan terlalu detail. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. atau self community governance. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. Fasilitator Ya. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. Sekarang saya melakukan perubahan perda. dimana desa yang masih homogen. Konsultasi publik saya tahu. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. Azam Terima kasih. tapi itu masih kurang. local self government. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. ada self community governance. bisa dengan penurunan pangkat. dari bawah. saya pikir apa konsekuensinya. local self governance. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. adatnya masih kuat. masa jabatan tidak usah diatur. Dalam undang-undang nanti. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. local state governance. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. sudah jenuh juga. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. saya kebetulan dari orang pemerintah. dari legislasi. ini agak beda. Menggagas Desa Masa Depan 74 . Kita diskusi mengenai local state government. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. kita kembali ketiga tipe desa.yang khusus. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. untuk melihat struktur apa akan dipakai. Artinya mekanisme ini tolong. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. minimal kalau ada sekian provinsi. step by step. Kalau kita mulai dari tingkat desa. kecamatan. lima struktur itu bebas saja. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis.

penyeragaman. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. apa mau kawan-kawan di level bawah. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. Nurwafi Prinsipnya. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. mungkin dalam pikiran normatif. Atau sebaliknya. selama ini hanya instruktur. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Kemudian sentralistik. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan.. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . Nurwafi Terima kasih. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. komando. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini.. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. yang prinsip bagaimana hak-hak. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu.

perijinan dan sebagainya masuk. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. pendidikan dan sebagainya. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. Oh. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. atau kalau ada investasi. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Ketiga. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. Kedua. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. Wa’i Terima kasih. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu.kewenangan desa. Fasilitator Kalau saya menangkap. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Saya kira begitu aja. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. kabupaten lebih khusus lagi. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. lebih spesifik lagi. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. begitu? Provinsi lebih umum. dan lainnya untuk daerah mana.

melakukan supervisi. Hanya berhenti disitu. pembinaan kapasitas dan seterusnya. ganti konsep alokasi. Ketiga. membina. Tadi Mas Franky dari AMAN. disamakan sajalah. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. Kembali pada SDM. kabupaten. Pak Azam bicara tentang desa otonom. itu bisa kita petakan secara jelas. jadi kategorinya jelas. Nah ini persoalannya sekarang. saya ingin bertanya. Sekarang mengenai desa otonom. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. Karena pengalamannya sudah lebih baik. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. tapi tidak pernah terlaksana. Sutoro Mengulang yang kemarin. Kedua. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. kepegawaian. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. Kedua. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. tapi ya begitu saja. Mas Toro silahkan. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan. Itu posisinya jelas. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. itu artinya yang namanya penyerahan. Saya agak kurang setuju dengan Prof. kemudian Mas Wafi. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. BPD-nya sudah lebih siap. karena pengalamannya Jawa.sebagainya). Pertama. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . dia sedang berbicara tentang desa adat. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. tidak pernah serius dilaksanakan. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. dan desa. Ini peran pemerintah. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”.

hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi.tiga ya harus konsisten. kuatnya begitu. meninggal harus cari tempat lain. ia kehilangan hak-hak sosial. supervisi. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. nanti saya pikirkan. tidak perlu ada pemerintahan. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. Menggagas Desa Masa Depan 78 . Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. intinya satu yaitu wajib. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. jadi larinya pada penghasilan. karena konfliknya disitu. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. itu bukan harus. dia bisa ditolak di-aben disitu. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. akarnya sudah tercabut. hak dan kewajibannya jelas. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Steny Konkretnya. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. tadi saya terima kasih diberikan saran. kalau semua bisa jadi satu. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. makanya mereka menghargai betul pada adat. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. tidak perlu ada administrasi. sekarang penghargaan sosial tidak ada. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Saya juga bingung. keuntungan untuk desa sekian. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. Kalau desa itu tidak jelas. bunyi pasalnya wajib. Bagaimana dengan yang begitu. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. itu difasilitasi di pasal berikutnya. sekarang tidak kesitu yang dikejar. Saya mau menambahkan saja. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. Soal istilah. yang dikejar harga ekonomi. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar.

Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita.. Apa ada relawan. Pak Toro selama belum ada amandemen. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. kalau kita tanya kenyataan di lapangan.. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. Elke Saya hanya ingin. ditaruh didalam meja. kalau masih ada ide-ide. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. itu yang pertama. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada.. UU 22/99 demikian pula. coba kita lihat th 65. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. jadi tidak pernah tahu padahal ada. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. Kedua. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. kita masih akan terus menambahkan. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. Fasilitator Ya. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. kalau kiranya cukup. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. soal hak-hak desa itu ada. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. mekanisme keluhan. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. nanti dalam diskusi pleno presentasi. itu berkaitan dengan sanksi. Fasilitator Oleh karena itu. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. Fasilitator Saya kira ini cukup. Soal ADD. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. biar nanti kalau terkait dengan desa. Menggagas Desa Masa Depan 79 . kita lihat lagi th 48. hanya orang desanya sendiri.

Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. 3 Juli 2006 Pukul : 16. capacity building menyangkut desa. Bahkan. fasilitasi. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. 2. 4. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Konsistensi implementasi dari policy. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya.00 – 17. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Selain jaminan kewenangan.2. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. Oleh karena itu. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. Barori 1. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. 5. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. 8. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . 3.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. fasilitasi. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa.00 Moderator : M. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat.

perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. atau dimensi kultural). masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. 5 unsur dari nini mamak. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. regulasi tidak terlalu banyak. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. Berdasarkan pengalaman. bagaimana keterwakilan. hanya perlu good will dari semua unsur. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. kami ada 7 jorong. 5 unsur dari pemuda. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. mekanisme. kita kembalikan ke masyarakat. 1 jorong ada penduduknya 700. jadi tidak perlu regulasi baru. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. Saya dari Limapuluh Kota. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. silahkan. 5 unsur dari bundo kandung. lebih besar dari 3000 25 orang. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. Dan dengan demikian. Oleh karena itu. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. bagaimana keterwakilan kelompok lain.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. ada juga 1500 orang. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. Oleh karena itu pula. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. 5 unsur dari pemuda. pemilihannya tentu per jorong. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. pemilihan itu bagaimana bentuknya. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah.

Masalah regulasi. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. bahwa BPDnya tetap seperti semula. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. lalu pemerintah membuat perda yang baru. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. 2. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. sikap elitis. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. contoh di penjelasan. jadi seolah sama. substansi adalah menghindari elit desa. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. 1. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. perlu ditambahkan. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . Soal jumlah. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung.

tapi ad hoc saja. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. mekanismenya terserah. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. tapi tidak serta merta mewakili desa. government for the people. yang jadi mahal itu money politic. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. tetapi institusi yang mewakili desa. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. bagaimana APBD itu membiayai juga. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. Menormakan ini tidak bisa seragam. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. kades. Itu perlu dinormakan. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. Contoh di Jepara. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. bagaimana lembaga di desa. yang saya usulkan itu DPD. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. sehingga demokrasinya bisa berjalan. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. bisa pemilu atau yang lainnya. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. sehingga netralitas calon kades. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. Mekanisme di pusat sudah ada. BPD sinergis. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. Biaya pilkades itu kecil.

soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat.00 – 15. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . demokrasi harus dimulai dari yang terendah. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. masyarakat. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. keluarga. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. Di desa itu ada deliberatif demokrasi.kabupaten/kota.15 Moderator : Sumarjono 3. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Hari/Tanggal : Selasa. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. Penguatan kelembagaan. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi.

Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. Menggagas Desa Masa Depan 85 . kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. 4. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. Ini memang berbenturan dengan tata negara. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. karena desa itu sudah di bawah negara. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. ini memang strategi pemberdayaan. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. Dengan demikian ADD menjadi problem. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Ini memang dalam perspektif yang mikro. maka 80% langsung ke masyarakat. Marhaban Kita di PMD. Saya persilahkan tanggapannya. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik.

8. provinsi. delegatif dan kewenangan lain-lain. fasilitasi. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. capacity building menyangkut desa. 7. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. Bahkan. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Bumi. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. 9. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. fasilitasi. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Ketiga overlap. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. pilihan. Di UU ada kewenangan atributif. tanah. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. Menggagas Desa Masa Depan 86 . saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. koncuren. dan 3) overlap. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. walaupun secara yuridis formal belum nampak. 10. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. 2) separated. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. kenapa justru ada eksploitasi. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi.• Konsistensi implementasi dari policy. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. capacity building yang menyangkut desa. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. Deskripsi singkat : 6. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. Justru dengan otonomi desa. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation.

Negara-negara old model (Jerman. dan efisiensi. di UU 32/2004 itu urusan. tetapi juga persoalan politik. Pasal 1 negara memberi pengaturan. kalau saya melihat lebih ke politik. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. nampaknya yang diberikan itu urusan. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). Skandinavia. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. Negara-negara baru (Amerika Serikat. fasilitator. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Saya kira disana ada politik. oleh karena itu terbit UU sektoral. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. itu yang berkaitan dengan yang strategis.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. padahal kalau residual teori itu wewenang. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. Australia. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. eksternalitas. ini yang menjadi tali sentralistik. karena pengawasan ikut mengarahkan. dan pemasaran. 5. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. teknologi. UU 22/99 wewenang. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. maka perlu modal. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. apalagi mau kita bawa ke desa. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. 2. Saya pilih ke istilah kontrol. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. UU 5/74 itu wewenang. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat.

Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. nelayan. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. untuk rakyat (petani. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. Menggagas Desa Masa Depan 88 . • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet.

dll). • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. perda mengacu UU. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. perdes mengacu perda. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. agar perda itu baik dan benar. mau memberikan waktu. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. Menggagas Desa Masa Depan 89 . sebagai komisaris. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. Di tingkat II. Kita harus tegas mengatur ini. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). tenaga dan pikiran. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. panjang sekali prosesnya. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. siapa yang akan mengontrol BUMDes.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM.nelayan. termasuk monitoring dan pengawasan. rakyat miskin (petani. BUMDes itu akan dibiayai APBD. Pengawasan. sehingga perlu pembinaan. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes.

Moderator Diskusi ini kita akhiri. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. Payung hukum yang ada adalah yang umum. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. Lebih fundamental lagi. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. maka tidak bisa ke sana nanti. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. lebih banyak ke perangkat desanya. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. BUMDes yang lemah payung hukumnya.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. seperti ADD. bukan khusus untuk BUMDes. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. ke bank misalnya. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. menggagas desa masa depan. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Menggagas Desa Masa Depan 90 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful