P. 1
Diskusi_Kelompok_Terfokus

Diskusi_Kelompok_Terfokus

|Views: 432|Likes:

More info:

Published by: muhammad irfan islamy on Mar 22, 2011
Direitos Autorais:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

Sections

  • 1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
  • 2. Kelompok: DEMOKRASI DESA
  • 3. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA)
  • 4. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes
  • 5. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA
  • 8.2. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok

VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. karena yang dihadapi adalah SDM. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. masyarakat tidak dihargai. aturan dibuat untuk dilanggar. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. wewenang dan anggaran. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. Ciri otonomi. Sudah ada perda tentang bondo desa. di peraturan itu belum ada. peradilan desa itu sudah ada preseden. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. yudikatif tidak jelas. Sofyan Mekanisme kewenangan. unsur pemerintahan eksekutif. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. anggaran desa itu seperti darimana saja. syaratnya dirubah. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. tapi belum dilaksanakan. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. infrastruktur. desa dan pilkada. administrasi. Franky Saya setuju. dia bisa membuat peraturan. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. dukungan masyarakat. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. walaupun itu bertentangan dengan hokum. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. kemampuan perangkat. legislatif. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. Mnurut saya. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. ini perlu didorong dan didefinisikan. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. Kita pernah menantang IMB. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. masyarakat dikebiri oleh pejabat. namun ada problem-problem empiris. Komentar Pak Ibnu. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. Untuk kasus yang kecil-kecil. tidak perlu detail. pertanggungjawaban. kalau kita pilih self governing community. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. saya setuju desa punya kewenangan.

hubungan antar sektor. Widyohari–STPMD ”APMD”. Dahlia–TTS SoE. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Aturan sering bertubrukan. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. Wai. kalau perlu ada departemen khusus agraria. • Demokrasi. hubungan sektoral berbenturan. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. akan terjadi pertarungan dengan negara. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. sehingga terjadi benturan kelembagaan. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Abu–Persepsi. 2. Rahma–LIPI. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. pengaturannya bukan sektoral lagi. tanahnya. Fasilitator Bapak-bapak. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. Wafi–BPD. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. Joana–World Bank. ibu-ibu. dan itu menjadi pertarungan yang riel. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. UU dalam ranah desa. Widya-FPPM.adatnya. UU 32/2004. akhirnya dicabut kewenangannya. Marhaban-PMD Depdagri.Lakpesdam. Agus R. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. Datuk–Asosiasi Nagari. termasuk kultur. mana yang baik dan tidak baik. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Hans Antlov-LGSP. Yuni–Asppuk. Menggagas Desa Masa Depan 51 . SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. • Implementasi Pancasila. Adnan–LP3ES.

sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. kaitannya dengan psikologi demokrasi. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. maka pemilihan kades juga dibiayai. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. mengontrol pembangunan di desa. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. maka merujuk pada 3 aspek: 1. dipilih langsung. polanya masih top down. masyarakat belum. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. musrenbang tidak ada artinya. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. • Keuangan. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. jadi tidak perlu ada batasan quorum. dengan harapan yang lain akan melengkapi. euforia politik. • Persoalan quorum menjadi masalah. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. permasalahan diantara mereka. saya lebih optimis. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. Wafi • Kaitan dalam hal ini. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. Dari beberapa hal tersebut. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. melainkan kontrol. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. artinya harus dengan target sekian orang. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. Menggagas Desa Masa Depan 52 . implementasi dan pengawasan. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa.

Hebatnya demokrasi. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. ninik mamak. Kalau di desa Sumba Timur. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. BPD dan lembaga lain di desa. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. perencanaan pembangunan masih top down. sehingga kades. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). Apa yang disampaikan Joana perlu. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. Saya pahami bahwa peran warga desa. jadi tidak memaksakan keinginan kita. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. kelompok perempuan. tapi perlu tupoksi yang jelas. Proyek PPK di daerah. Amerika. politik (Pembuatan Perdes). pemuda. istrinya carik ya. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. Kanada. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. silahkan. negara. Representative demokrasi bukan ada di kita. Nah. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. Secara umum. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). tapi kita tawarkan kepada yang lain. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. seperti freedman. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. Tana Toraja. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. maka masyarakat akan diam. Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. yang punya uang yang menang. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. ninik mamak. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. pemuda. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. menampung. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. provinsi. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. alim ulama. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. Menurut saya. Australia. alim ulama.

itu harus dilembagakan. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. Apapun bentuknya tidak masalah. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. Barat tahu persis otonomi daerah itu. partisipasi di desa adalah milik elit desa. ada rapat/rembug desa. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. Kades. PPK bagus. petani. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Saya mengkritik teman-teman di PMD. siapa saja: buruh. masih sebagian bergantung pada pemerintah. eksekutif. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. Dari prosedur itu tidak menjamin. Kerena itu. ada badan legislatif. meskipun bukan satusatunya problem di desa. Kendala yang perlu diperhatikan. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Dalam proyek PPK.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. Partisipasi menjadi titik demokrasi. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . masing-masing desa berbeda. ini parah. tetapi sekarang tidak. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. wali nagari/kades memiliki masyarakat. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. kemudian tidak lahir dari masyarakat. ada mekanisme kontrol internal di desa. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. menjadi grup politik masyarakat. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. sesepuh. kalau tidak ada. tapi masih ada celah-celah. Problemnya. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. dan lain-lain. perwakilan. karena itu murni dari adat. saya setuju dengan Pak Sus. Yang penting 3 (tiga) itu. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya.

lebih mementingkan proyek. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. orangnya terbatas. kita fasilitasi. dananya. bagi saya tidak masalah. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. sehingga dia akan kuat. Menggagas Desa Masa Depan 55 . ada potensi. keterwakilan partisipasi. ini dan itu. adanya penokohan. Amerika. Pancasila dan UUD 1945. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. silahkan. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. pengangguran. Jadi masyarakat perlu kita latih. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. Dana disiapkan. pengkulturan masyarakat. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. persoalan budaya. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya.insidential. tapi negara Asia. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. tidak masyarakat.. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. ada kebutuhan. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. pemikirannya terbatas. India. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. tenaga. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. Kalau di pemerintahan. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. Kalau BPD. permusyawaratan – perwakilan. mereka bisa. Filipina. kehadirian fisik. Itu bukan Eropa. diwadahi dalam forum. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. jadi kendalanya struktural dan kultural. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. Membandingkan dengan yang di atas. pikirannya. kepentingan. Negara tetangga lain. kelompok dan lainlain. itu diseimbangkan. demokrasipun kalah. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. Contoh. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. • Kades di TTS seperti alat politik.. Saya hanya mengkritisi itu. Banyak pendapat tentang partisipasi. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. parpolpun tidak mewakili masyarakat.. • Musrenbang sebenarnya ada masalah.

sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. Demokrasi hanya satu hari... Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. kita semua membicarakan hal yang sama. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. karena oranya tidak demokratis.hhahaahhaaa. sikap elitis.. elit-elit menyelewengkan demokrasi. cuma hari sabtu saja yang demokratis. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . • Peguatan kelembagaan banyak kendala. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. sabtu. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. hanya kata-katanya yang berbeda. injecting participating in local. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. senin-jum’at tidak demokratis. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter.. BPN tidak berfungsi. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. kalau bukan kebutuhan. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis.. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. jadi hanya hari sabtu saja.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. mandul. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. BPD sebagai tool untuk check and balances 2.

Mengapa kabupaten tidak responsif?. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. kemudian ADD untuk apa?. yaitu: 1. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. Joana-World Bank.00 3. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. ada PP 72/2005. pendapatan desa rendah. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. alasannya 1) SDM tidak mampu. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11.00 – 13. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. karakter dan budaya setempat bisa masuk. Syamsul-Bina Swagiri. sehingga ada kejelasan potensi. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. 3. Ade-KDP World Bank. dalam kaitan ADD. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. Sukoco-Kades Wiladeg. Datu-As Wali Nagari. Tumpak-PMD. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. 5. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan.Hari/Tanggal : Senin. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. dengan skala prioritas. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa.5 Milyar. Abu-Persepsi. merujuk PP 72/2005. Bambang Hudayana 2. Kamardi-Perekat Ombara. Kewenangan desa harus jelas. Kasmuin-CePAD. Menggagas Desa Masa Depan 57 . Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. Adri Warsena-FPPD. Perda-perda dan perdes. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. Dahlia-PMD TTS. 4. 2. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. 3 Juli 2006 Pukul : 11. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. maksudnya bendahara desa. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak.

ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. Efek ADD luar biasa. kalau diukur dari PP masih jauh. DAU yang dipotong anggaran rutin. faktor politik (karena tidak milih). kalau tidak ya tidak. Sepertinya itu masih terjadi. Menggagas Desa Masa Depan 58 . sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. 3.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. memang nilai asli desa ada gotong royong. ada yang pakai peraturan Bupati. kalau itu tidak disiapkan di desa. Yang menjadi orientasi ke depan. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur.kemungkinannya adalah. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. pembangunan dan lain-lain. jadi berbeda sumbernya. mestinya 23 Milyar. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. Ini yang selama itu belum jelas. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. maka akan memindah budaya korupsi di desa. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. 1. Dana yang pertama itu 10 Milyar. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. 2. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. Catatan lebih jauh. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. Mungkin juga faktor politik. faktor APBD kabupaten belum siap. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. dengan presentase sekian % untuk BPD. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap.

3. dan baru menerima PP 72/2005. ADD seharusnya didahului RPJMDes. Mekanisme pencairan dana cukup baik. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Ada kecenderungan berbeda. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. tetapi hanya rambu. 1. Bupati mengakali 50 juta per desa. Disini juga ada tim pengawas. ada soal dengan kabupaten induk. datang kontraktor di atas kertas swakelola. Betapa pentingnya kewenangan desa. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. tidak ada mark up. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. bertahap. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. kalau rata maka 75 juta per desa. Contoh di Ngada. PMD. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. itu sudah mendarah daging. Sejak berpisah dari Deli Serdang. dan kabag hukum. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. Menggagas Desa Masa Depan 59 . kriterianya sangat banyak. sehingga menguntungkan pihak luar. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. ADD tidak merata ke seluruh desa. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Yang baik itu PPK. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. hanya beberapa desa.Fasilitator ADD itu hak desa. 2. porsinya tidak ditentukan. PP 72/2005 di kabupaten. dananya harus memadai. di desa itu tidak ada Bandes. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. Pembangunan sendiri belum. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. sehingga mereka bisa bikin pasar. Yang ditanyai Bandes. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. Honor kades. 10 % DAU maka harusnya 15 M. jalan dll. Pembangunan oleh desa lebih efektif. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. DPRD dan lain-lain. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar.

apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. yang itu berasal dari kabupaten. Pembangunan infrastruktur. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. 5. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. Bagaimana kita melakukan penguatan. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes.Fasilitator Jadi skenarionya. kalau tidak ya ada batas minimum. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Perlunya needs assesment di desa. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. Menggagas Desa Masa Depan 60 . 10% dari APBD. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Pembangunan kemasyarakatan. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. Ekonomi kerakyatan. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. 2. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. Di desa itu banyak uang. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. perlu komitmen di tingkat nasional. kabupaten hanya memberi acuan saja. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Arah pembangunan ke 5 sasaran. masih perlu dukungan masyarakat. DAKN. dana pemberdayaan. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. Sumber Daya Alam. Pedoman level pusat belum ada regulasi. 2. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. yaitu : 1. Instrumen akan sangat berharga. misalnya best bracticenya diungkap disini. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. 4. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. Peningkatan SDM. 3. Instrumen kebijakan.

Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. sehingga dapat independen. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. 6. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. 6. dalam bentuk block grant. akan tetapi daerah masih setengah hati. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. SE Mendagri dan peraturan yang ada. keterbatasan PAD. Menggagas Desa Masa Depan 61 . karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. Itu dikarenakan adanya PP. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. sehingga jumlahnya masih kecil. 3. Pemda berhenti membuat perda. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. Masalah. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. 5. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. Indikatornya: a. 3. Catatan juga dari kami bahwa : 1. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. walaupun itu difasilitasi oleh negara. 4. masalah politik 5. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. b. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Sumber pendapatan desa belum jelas. 4. 1. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. 7. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. Kabupaten enggan untuk ADD 2. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa.

problematikanya. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Sofyan-Akatiga.7. peserta memperkenalkan jati dirinya. Yusuf-Sajogyo Sains. apa keuangan desa. Widya PujiFPPM. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. dan bagi pemerintah itu sendiri. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. Suharman-PSPK UGM. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Susmanto-FPPD/LGSP. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. 4. Agus R Rahman-LIPI. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). Pengalaman-pengalaman praktis. yaitu prinsip transparansi. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. kita eksplorasi pandangan. Sebelum mengerucut. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan.ASPPUK 2. Silahkan. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. Firsty Husbany-DRSP. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. 9. 8. M. usaha kecil. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). keberlajutan. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. Erni-FPPD. pembagunan. Dony-DPRD Sumedang. aktivitasnya. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Transparansi. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Barori-STPMD “APMD”. Untoro-PMD. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. Edward Lubis-YIPD Jakarta. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Yuni Pristiwati .

Komentar saya. Ketika desa membiayai sendiri. Karena dibutuhkan tambahan modal. Menggagas Desa Masa Depan 63 . Salah satu dalam pasal itu. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Persoalannya. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. Dia punya idealisasi. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Ketika bicara keuangan desa. merdeka. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. Tantangan kedepan adalah produk desa. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. pembangunan dan kemasyarakatannya.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. Barori Pak Lubis juga benar. Jika disepakati. Micro finance menurut pandangan saya. Jadi uang itu muter. bargaining posititionnya kuat. dari segi system micro finance itu sehat. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. sistem kelembagaanya sehat. belum dalam konteks yang lebih positif. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. masyarakat sekarang ini justru senang. Artinya. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. itu otonom. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. produk skala umum. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. Teknologi itu mahal. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. dst. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi.

secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. Kami mereka-reka. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. dia harus bersaing disana. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. baik bagi orang yang mau menabung. kita focus ke sektor keuangan di desa. Kita bisa belajar. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. Tawaran untuk diskusi awal. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. Sidoarjo. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. Dan untuk Perda itu dapat disusun. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. Micro finance dan BUMDes. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Jasa ini penting. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. tidak setengah-setengah. Stefan Saya usul. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. pokoknya uangannya kembali. keuangan dari sisi pemerintahan desa. memang dua hal ini sangat erat. sampai tingkat pasar dilepas. pembiayaan sampai pemasaran. pasal 7881…. Kita memang berfokus pada BUMDes. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. secara teknis harus untung (saved uang). produksi dilepaskan. tidak dalam sektor keuangan di desa. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. karena pendekatannya efisiensi. sudah ada Permendagri.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pada saat panen PPL sembunyi. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . Ke depan. Kita perlu pengawasan eksternal. jangan sampai seperti sekarang. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. dll). pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. lebih luas daripada kredit. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi.

kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. sementara Perda turun belakangan. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. ATK). jarang yang simpan. lumbung desa. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. tapi satu sama lain saling mengkait. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. dan ada yang masih dalam perjalanan. harus ada akta notaris. satu desa ada 60 juta. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. BUMDes bisa menjadi PAD desa. apalagi di pedesaan. Oleh karena itu. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang.besar. kedudukannya sama dengan UU. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. Jadi kita mengadopsi. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). pertokoan (fotocopy. dan warung nasi. UEP PKK. seperti usaha simpan pinjam. dari APBDes ke BUMDes. Setelah terbentuknya BUMDes. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. diangkat menjadi pengurus BUMDes. bahkan kalau sudah jalan. Status badan hukumnya masih PERDES. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Permasalahan. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. Ada aturan BUMDes. UEP PPK.000. Disepakati. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. tinggal di akta notariskan. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. sama yang kami buat. manakala go public pihak perbankan belum merespon. ada yang sudah berjalan. banyak pinjamnya. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam.

Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. maka dia tidak bisa menabung. maka saya penekanannya pada tabungan. Persoalannya. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. Kalau di pertanian jelas. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. tidak semata-mata orientasi bisnis. Tanpa itu. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. Dalam diskusi ini. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. tidak haya aturan teknis saja. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . Mungkin ini control. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. Agus Dalam hal BUMDes. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. Maksud saya. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. tetapi dengan pertimbangan. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. 53 juta/tahun). Kalau petani tidak mau mengubahnya. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. dll. puskesmas. ini tentu akan sulit. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Ada 12. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. Kita juga harus lihat ini.ada peningkatan pelayanan masyarakat. bukan hanya kebijakan. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. Ada pengalaman saya. maka tanahnya diambil. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. sekolah. Sofyan Persoalan. dan saya pribadi setuju.

dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. Usulan. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. saya kira Indonesia sudah makmur. apapun bentuknya. kearifan desa disana. saya lihat petani juga semakin parah. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. Semua ini pendekatan insidental. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. untuk apa? Tetap saja petani mati. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. Tidak usah bicara partisipasi. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. termasuk skema kreditnya. artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. Contohnya di seminar 2 hari ini. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. harus lebih jelas. 70% dikuasi elit desa. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. BUMDes itu sesuatu yang bagus. misalnya soal pupuk. Misalnya kasus UU Perbankan. petani kita hancur. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. masing-masing mempunyai institusi sendiri. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. Belajar dari pengalaman itu. Kalau tidak. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). semuanya harus affirmative. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal.Mengenai BUMDes. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0.03% GNP. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). tidak dari daerah. karena ada problem seperti ini. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. (terjadinya dept capital). apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. Apakah dengan BUMDes. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. jangan sampai ada penyeragaman. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan.

Persoalan tentang micro finance. siapa mau berobat. Tentang kehutanan. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. sehingga dikembalikan. misalUU kehutanan. Kita coba memakai kelompok tani hutan. bukan dipaksakan muncul. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum.000. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya.Jenis usaha. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. bahwa nanti akan ada Perda. tiap desa harus muncul BUMDes. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. ini cukup Rp. Itu nanti justru akan menjadi konflik. nanti kembali sekian”. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. cukup “kamu jualan disitu. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. Kasus yang menarik. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. Saya berpikir. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. saya menulis “Bupati versus rentenir”. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. silahkan gratis. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. Menggagas Desa Masa Depan 68 . bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. 10. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. ini tidak pas. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. belum terselesaikan. dia jalan menggunakan mekanisme bank. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. afirmatifnya seperti apa?. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya.

Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. kurang terpayungi secara hukum. oleh dan untuk anggota. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. tidak dijual. Kepemilikan. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. jadi BUMDes saja. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. “Bupati vs rentenir” di Bantul. misalnya hutan. Prinsipnya. Mengenai hutan. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Permasalahn kredit sudah sejak lama. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. Informasinya di Bantul BPRnya maju. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Mengenai tanah kas desa. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). bahkan assetnya sudah 1 milyar. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. Menggagas Desa Masa Depan 69 . Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. itu yang kita lindungi. Nanti konsekuensinya. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. Prinsipnya. maka tidak akan ada masalah rentenir. dan pusat hanya kebijakan. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. tidak dipaksa. Kalau itu bisa. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas).

Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. Apakah ini perpanjangan tangan. bagaimana cara mengelola kredit mikro. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. Solusinya. Sebagaimana bank yang lain. Seperti ini ada linkage program. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. masyarakat langsung control. sehingga mereka rajin mengembalikan. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. dasar hukum LKM harus ada. koperasi itu bukan bank. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Pengawasan juga kuat seperti bank.Barori Masalah kelembagaan. salah satu problemnya itu. Kalau kita lihat draft UU LKM. kepastian hukum. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. lebih memberdayakan pada perempuan. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Ini menjadi ramburambu. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. Jadi perlu disisipkan. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Menggagas Desa Masa Depan 70 . tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. Kalau ini membahayakan harus ditolak. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. pemerintah bekerjasama dengan NGO. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. asetnya sudah 1 milyar lebih. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. mereka menerima uang di masyarakat. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. Prinsipnya. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Strateginya. Widya Bagi saya. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan).

• Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). • sebagai affimative action. • kepemilikan oleh rakyat. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. Dari pengalaman itu. termasuk affirmative action lintas sektoral. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • ada alokasi dari dana APBD. pelatihan. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. • ada pengawasan yang jelas. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. Menggagas Desa Masa Depan 71 . • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. Dari sisi LKM atau BUMDes. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM.

Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. Pak Sadu sudah panjang lebar. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. • konsep-konsep perwakilan daerah. hubungan kerja. Tetapi yang terjadi dalam praktek. Ibnu–Unibraw. Saya kira itu. Wa’i-Lakpesdam. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita.. pola kerjanya bagaimana. Haryo Habirono – FPPD 2. Widya-FPPM. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. yang penting yang harus dirubah. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Azam-Pemdes Kebumen. karena tadi waktunya pendek. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. saya kira dengan yang kita bahas tadi. Toro-STPMD “APMD”. Widyohari-STPMD “APMD”. Elke Rapp-DRSP. untuk tidak mengatakan salah.. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana.. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Nurwafi-BPD. dan ada komunitas-komunitas tertentu. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. Dua pembicara Pak Prof. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Menggagas Desa Masa Depan 72 . kami persilahkan saja. Salini-DSF. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. inkonsistensi. Jadi ini dilema. sesuai saja. kan begitu. Franky-AMAN. mungkin saya sampaikan. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. Steny-HUMA. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. Sadu Terima kasih. Untuk itu. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. bukan hanya sekedar pemerintah desa. juga ditangan pemerintah desa. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. nanti diskusi akan berkembang lagi. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa.. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah.5. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri.. Sadu–STPDN. dibuat mengambang. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. Mas Ibnu sudah panjang lebar.. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. BPD. . berpendapat. Jayus-UNEJ. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa.

tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. khususnya untuk pengaturan. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. sekarang tidak ada. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan.Desentralisasi kepada daerah jelas. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. dia tidak digaji. Dan untuk desa diminta naskah akademik. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. Nah ini akan menjadi dilema. bisa mengatur pilkades yang baik. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. bukannya masyarakat adat tidak prnting. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. akhirnya gubernur setuju. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. larinya pengganti ekonomi. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. yang dipungut adalah iuran. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa.. Saya menawarkan gagasan. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. tapi kedudukannya tidak jelas. saya tidak tahu. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. Fasilitator Saya potong sedikit. Mohon maaf. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas.. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. tapi kalau kita lihat data. Ini lebih memberi peluang. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. hanya hal itu tidak dilaksanakan. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. nah ini menjadi babak baru. anggaran banyak. Jadi sebelumnya. Saya bertanya. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. kewajiban-kewajiban pemerintah. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. kalau dulu masih ada pengganti asusila..

katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. local self governance. saya pikir apa konsekuensinya. atau self community governance. Kita diskusi mengenai local state government. dari legislasi. kecamatan. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. step by step. tapi itu masih kurang. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. local self government. jangan terlalu detail. Elke Usulan tadi bagus sekali. ada self community governance. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. masa jabatan tidak usah diatur. Kalau kita mulai dari tingkat desa. dari bawah. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. Azam Terima kasih. Sekarang saya melakukan perubahan perda. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. dimana desa yang masih homogen. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. ini agak beda. apakah local self governance. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. Fasilitator Ya. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. lima struktur itu bebas saja. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. ada local state governance.yang khusus. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. dan self government community. Konsultasi publik saya tahu. saya kebetulan dari orang pemerintah. bisa dengan penurunan pangkat. adatnya masih kuat. untuk melihat struktur apa akan dipakai. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. Dari dulu desa deperti ini terus. ada sanksi disitu. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. Karena kalau semua sudah diatur. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. sudah jenuh juga. local state governance. kita kembali ketiga tipe desa. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. minimal kalau ada sekian provinsi. Dalam undang-undang nanti. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Artinya mekanisme ini tolong. Menggagas Desa Masa Depan 74 .

selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Nurwafi Terima kasih. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. yang prinsip bagaimana hak-hak. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu.. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. selama ini hanya instruktur. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. mungkin dalam pikiran normatif. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. Atau sebaliknya. apa mau kawan-kawan di level bawah. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Nurwafi Prinsipnya. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. penyeragaman.. Kemudian sentralistik. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. komando. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator.

orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Ketiga. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. pendidikan dan sebagainya. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. lebih spesifik lagi. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Oh. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. perijinan dan sebagainya masuk. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Saya kira begitu aja. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa.kewenangan desa. begitu? Provinsi lebih umum. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. Kedua. Fasilitator Kalau saya menangkap. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. dan lainnya untuk daerah mana. atau kalau ada investasi. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. Wa’i Terima kasih. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. kabupaten lebih khusus lagi. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan.

dia sedang berbicara tentang desa adat. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan.sebagainya). mempermudah saja supaya tidak campur aduk. Mas Toro silahkan. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. Kedua. tapi tidak pernah terlaksana. kepegawaian. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. Pertama. Sekarang mengenai desa otonom. dan desa. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. jadi kategorinya jelas. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. Saya agak kurang setuju dengan Prof. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. Pak Azam bicara tentang desa otonom. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Karena pengalamannya sudah lebih baik. karena pengalamannya Jawa. Kedua. membina. Tadi Mas Franky dari AMAN. BPD-nya sudah lebih siap. itu artinya yang namanya penyerahan. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. Sutoro Mengulang yang kemarin. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . kemudian Mas Wafi. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. ganti konsep alokasi. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. Ini peran pemerintah. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. Kembali pada SDM. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. kabupaten. melakukan supervisi. tidak pernah serius dilaksanakan. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. Nah ini persoalannya sekarang. Hanya berhenti disitu. tapi ya begitu saja. pembinaan kapasitas dan seterusnya. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. saya ingin bertanya. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Ketiga. disamakan sajalah. itu bisa kita petakan secara jelas. Itu posisinya jelas. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional.

sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. meninggal harus cari tempat lain. Bagaimana dengan yang begitu. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. keuntungan untuk desa sekian. intinya satu yaitu wajib. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. tadi saya terima kasih diberikan saran. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. kuatnya begitu. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. Saya juga bingung. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. karena konfliknya disitu. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. hak dan kewajibannya jelas. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. itu difasilitasi di pasal berikutnya. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. nanti saya pikirkan. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Menggagas Desa Masa Depan 78 . Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. dia bisa ditolak di-aben disitu. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. sekarang tidak kesitu yang dikejar. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Kalau desa itu tidak jelas. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. bunyi pasalnya wajib. tidak perlu ada pemerintahan. supervisi. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. akarnya sudah tercabut. jadi larinya pada penghasilan. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. Saya mau menambahkan saja. tidak perlu ada administrasi. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. ia kehilangan hak-hak sosial. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. kalau semua bisa jadi satu. Soal istilah. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. Steny Konkretnya. yang dikejar harga ekonomi. sekarang penghargaan sosial tidak ada. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak.tiga ya harus konsisten. makanya mereka menghargai betul pada adat. itu bukan harus.

Soal ADD. kalau masih ada ide-ide. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. soal hak-hak desa itu ada. itu yang pertama. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. biar nanti kalau terkait dengan desa. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. nanti dalam diskusi pleno presentasi. Fasilitator Oleh karena itu. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi.. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. coba kita lihat th 65. Menggagas Desa Masa Depan 79 . saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. kita masih akan terus menambahkan. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. Elke Saya hanya ingin. UU 22/99 demikian pula. itu berkaitan dengan sanksi. Fasilitator Saya kira ini cukup. hanya orang desanya sendiri. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. jadi tidak pernah tahu padahal ada. Pak Toro selama belum ada amandemen. mekanisme keluhan. Kedua.. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. kita lihat lagi th 48. ditaruh didalam meja. kalau kiranya cukup. Fasilitator Ya.. Apa ada relawan.

tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. Oleh karena itu.2. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. 3 Juli 2006 Pukul : 16.00 – 17. Konsistensi implementasi dari policy. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Selain jaminan kewenangan. 8. Bahkan. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. 5. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. fasilitasi. Barori 1. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . 2. capacity building menyangkut desa. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. 4. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. fasilitasi. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. 3. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas.00 Moderator : M.

ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. regulasi tidak terlalu banyak. 5 unsur dari bundo kandung. jadi tidak perlu regulasi baru. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. Oleh karena itu. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. atau dimensi kultural). seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. bagaimana keterwakilan. Oleh karena itu pula. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. silahkan. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. pemilihannya tentu per jorong. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. mekanisme. hanya perlu good will dari semua unsur. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. ada juga 1500 orang. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. 5 unsur dari pemuda. 5 unsur dari pemuda. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. bagaimana keterwakilan kelompok lain. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. lebih besar dari 3000 25 orang. 1 jorong ada penduduknya 700. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). Saya dari Limapuluh Kota. kami ada 7 jorong. 5 unsur dari nini mamak. Berdasarkan pengalaman. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. Dan dengan demikian. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . kita kembalikan ke masyarakat. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. pemilihan itu bagaimana bentuknya.

BPD sebagai tool untuk check and balances 2. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. sikap elitis. perlu ditambahkan. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. 1. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. Soal jumlah. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. bahwa BPDnya tetap seperti semula. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. Masalah regulasi. contoh di penjelasan. 2. lalu pemerintah membuat perda yang baru. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. jadi seolah sama. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. substansi adalah menghindari elit desa. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004.

tapi ad hoc saja. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. BPD sinergis. bisa pemilu atau yang lainnya. sehingga demokrasinya bisa berjalan. Contoh di Jepara. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. kades. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. yang saya usulkan itu DPD. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. tapi tidak serta merta mewakili desa. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. yang jadi mahal itu money politic. Mekanisme di pusat sudah ada. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. Biaya pilkades itu kecil. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. bagaimana lembaga di desa. government for the people. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. bagaimana APBD itu membiayai juga. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. Itu perlu dinormakan. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. tetapi institusi yang mewakili desa. mekanismenya terserah. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. sehingga netralitas calon kades. Menormakan ini tidak bisa seragam.

tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. Hari/Tanggal : Selasa. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. demokrasi harus dimulai dari yang terendah.kabupaten/kota. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda.15 Moderator : Sumarjono 3. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. 4 Juli 2006 Pukul : 14. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political.00 – 15. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. keluarga. masyarakat. Penguatan kelembagaan.

4.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Marhaban Kita di PMD. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. karena desa itu sudah di bawah negara. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. ini memang strategi pemberdayaan. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Ini memang dalam perspektif yang mikro. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. maka 80% langsung ke masyarakat. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Dengan demikian ADD menjadi problem. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. Saya persilahkan tanggapannya.

fasilitasi. Bahkan. provinsi. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. delegatif dan kewenangan lain-lain. Justru dengan otonomi desa. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Di UU ada kewenangan atributif. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. 9. tanah. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. capacity building yang menyangkut desa. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. pilihan. 7. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis.• Konsistensi implementasi dari policy. dan 3) overlap. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. capacity building menyangkut desa. 10. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. walaupun secara yuridis formal belum nampak. kenapa justru ada eksploitasi. Menggagas Desa Masa Depan 86 . Ketiga overlap. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. Bumi. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. fasilitasi. 2) separated. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. 8. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. Deskripsi singkat : 6. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. koncuren.

kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . karena pengawasan ikut mengarahkan. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). Pasal 1 negara memberi pengaturan. Skandinavia. dan pemasaran. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. padahal kalau residual teori itu wewenang. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. 2. UU 5/74 itu wewenang. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. di UU 32/2004 itu urusan. Saya pilih ke istilah kontrol. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. kalau saya melihat lebih ke politik. Australia. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. tetapi juga persoalan politik. oleh karena itu terbit UU sektoral. teknologi. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. Saya kira disana ada politik. 5. apalagi mau kita bawa ke desa. dan efisiensi. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. nampaknya yang diberikan itu urusan. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. ini yang menjadi tali sentralistik. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. UU 22/99 wewenang. fasilitator. maka perlu modal. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Negara-negara old model (Jerman. eksternalitas. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. Negara-negara baru (Amerika Serikat.

juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. nelayan. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. untuk rakyat (petani. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. Menggagas Desa Masa Depan 88 . dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif.

ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. panjang sekali prosesnya. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. Di tingkat II. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. perdes mengacu perda. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). Pengawasan. sebagai komisaris. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. mau memberikan waktu. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM.nelayan. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). tenaga dan pikiran. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. Kita harus tegas mengatur ini. perda mengacu UU. pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. dll). Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. rakyat miskin (petani. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. agar perda itu baik dan benar. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. sehingga perlu pembinaan. BUMDes itu akan dibiayai APBD. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. termasuk monitoring dan pengawasan. siapa yang akan mengontrol BUMDes. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. Menggagas Desa Masa Depan 89 . kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan.

seperti ADD. maka tidak bisa ke sana nanti. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. Lebih fundamental lagi. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. bukan khusus untuk BUMDes. Payung hukum yang ada adalah yang umum. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. Menggagas Desa Masa Depan 90 . PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. menggagas desa masa depan. lebih banyak ke perangkat desanya. ke bank misalnya. Moderator Diskusi ini kita akhiri.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. BUMDes yang lemah payung hukumnya. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa.

You're Reading a Free Preview

Descarregar
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->