VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. yudikatif tidak jelas. Untuk kasus yang kecil-kecil. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. di peraturan itu belum ada. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. wewenang dan anggaran. unsur pemerintahan eksekutif. dukungan masyarakat. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. anggaran desa itu seperti darimana saja. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. namun ada problem-problem empiris. aturan dibuat untuk dilanggar. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. kemampuan perangkat. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Komentar Pak Ibnu. desa dan pilkada. tapi belum dilaksanakan. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. peradilan desa itu sudah ada preseden. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. legislatif. kalau kita pilih self governing community. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. dia bisa membuat peraturan. Ciri otonomi. administrasi. Franky Saya setuju. walaupun itu bertentangan dengan hokum. Sudah ada perda tentang bondo desa. Sofyan Mekanisme kewenangan. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. pertanggungjawaban. masyarakat tidak dihargai. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. karena yang dihadapi adalah SDM. Mnurut saya. saya setuju desa punya kewenangan. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. infrastruktur. syaratnya dirubah. masyarakat dikebiri oleh pejabat. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. tidak perlu detail. Kita pernah menantang IMB. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. ini perlu didorong dan didefinisikan.

ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa.adatnya. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. Yuni–Asppuk. Widyohari–STPMD ”APMD”. akan terjadi pertarungan dengan negara. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. UU dalam ranah desa. Wai. Wafi–BPD. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Joana–World Bank. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. hubungan sektoral berbenturan. Hans Antlov-LGSP. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Agus R. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. ibu-ibu. Rahma–LIPI. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA. dan itu menjadi pertarungan yang riel. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. tanahnya. 2. akhirnya dicabut kewenangannya. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan. mana yang baik dan tidak baik. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. Fasilitator Bapak-bapak. Marhaban-PMD Depdagri. kalau perlu ada departemen khusus agraria. • Demokrasi. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Adnan–LP3ES. hubungan antar sektor. • Implementasi Pancasila. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. Widya-FPPM. Datuk–Asosiasi Nagari. Menggagas Desa Masa Depan 51 . Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. Aturan sering bertubrukan. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. Abu–Persepsi. Dahlia–TTS SoE. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. UU 32/2004.Lakpesdam. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. termasuk kultur. pengaturannya bukan sektoral lagi.

Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. permasalahan diantara mereka. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung. • Persoalan quorum menjadi masalah. Menggagas Desa Masa Depan 52 . implementasi dan pengawasan. euforia politik. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. Wafi • Kaitan dalam hal ini. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. kaitannya dengan psikologi demokrasi. musrenbang tidak ada artinya. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. dengan harapan yang lain akan melengkapi. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. melainkan kontrol.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. maka merujuk pada 3 aspek: 1. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. masyarakat belum. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. maka pemilihan kades juga dibiayai. saya lebih optimis. polanya masih top down. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. dipilih langsung. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. • Keuangan. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. mengontrol pembangunan di desa. jadi tidak perlu ada batasan quorum. artinya harus dengan target sekian orang. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. Dari beberapa hal tersebut. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3.

yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. Saya pahami bahwa peran warga desa. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. Menurut saya. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. negara. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. alim ulama. Representative demokrasi bukan ada di kita. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan. menampung. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. silahkan. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). ninik mamak.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. Nah. yang punya uang yang menang. BPD dan lembaga lain di desa. pemuda. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. kelompok perempuan. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Apa yang disampaikan Joana perlu. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. perencanaan pembangunan masih top down. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. Amerika. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. Australia. Tana Toraja. pemuda. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. Proyek PPK di daerah. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. Hebatnya demokrasi. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). maka masyarakat akan diam. istrinya carik ya. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. Kanada. sehingga kades. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. tapi perlu tupoksi yang jelas. politik (Pembuatan Perdes). Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. Secara umum. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. tapi kita tawarkan kepada yang lain. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. provinsi. alim ulama. Kalau di desa Sumba Timur. jadi tidak memaksakan keinginan kita. seperti freedman. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. ninik mamak. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi. masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan.

Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. perwakilan. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). dan lain-lain. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. itu harus dilembagakan. saya setuju dengan Pak Sus. Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. Yang penting 3 (tiga) itu. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Kades. ada mekanisme kontrol internal di desa. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. eksekutif. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. Kerena itu. ada badan legislatif. menjadi grup politik masyarakat. Saya mengkritik teman-teman di PMD. masih sebagian bergantung pada pemerintah. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. kalau tidak ada. Dari prosedur itu tidak menjamin. tapi masih ada celah-celah. siapa saja: buruh. PPK bagus. juga pengalaman negara lain yang berhasil. petani. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. partisipasi di desa adalah milik elit desa. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. Apapun bentuknya tidak masalah. wali nagari/kades memiliki masyarakat. sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. sesepuh. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. Partisipasi menjadi titik demokrasi. ini parah. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. Barat tahu persis otonomi daerah itu. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. Problemnya. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. meskipun bukan satusatunya problem di desa. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. sehingga tepat kita mencari demokrasi. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. ada rapat/rembug desa. Kendala yang perlu diperhatikan. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. kemudian tidak lahir dari masyarakat. Dalam proyek PPK. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. karena itu murni dari adat. masing-masing desa berbeda. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. tetapi sekarang tidak. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin.

sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. ini dan itu. Contoh. Itu bukan Eropa. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. ada kebutuhan. jadi kendalanya struktural dan kultural. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa.. demokrasipun kalah. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. Pancasila dan UUD 1945. Banyak pendapat tentang partisipasi. keterwakilan partisipasi. permusyawaratan – perwakilan. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. dananya. pemikirannya terbatas. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. pikirannya. tapi negara Asia. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. Dana disiapkan. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal. Jadi masyarakat perlu kita latih. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional.. pengangguran. tidak masyarakat. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. adanya penokohan. kita fasilitasi. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. persoalan budaya. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi. silahkan. Membandingkan dengan yang di atas. sehingga dia akan kuat.insidential. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. Kalau di pemerintahan. Menggagas Desa Masa Depan 55 . LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. kepentingan. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. kehadirian fisik. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara.. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan. itu diseimbangkan. Kalau BPD. • Musrenbang sebenarnya ada masalah. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. Filipina. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. • Kades di TTS seperti alat politik. tenaga. pengkulturan masyarakat. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. India. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. ada potensi. Negara tetangga lain. diwadahi dalam forum. Saya hanya mengkritisi itu. Amerika. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. orangnya terbatas. lebih mementingkan proyek. bagi saya tidak masalah. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. parpolpun tidak mewakili masyarakat. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. kelompok dan lainlain. mereka bisa.

diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. sabtu.. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. kalau bukan kebutuhan. Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat. jadi hanya hari sabtu saja.. injecting participating in local.. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. cuma hari sabtu saja yang demokratis. kita semua membicarakan hal yang sama.. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. senin-jum’at tidak demokratis. mandul. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari.. elit-elit menyelewengkan demokrasi. karena oranya tidak demokratis. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu. sikap elitis. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. Demokrasi hanya satu hari. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik.hhahaahhaaa. hanya kata-katanya yang berbeda. BPN tidak berfungsi. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 . Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis.

Tumpak-PMD. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. karakter dan budaya setempat bisa masuk. ada PP 72/2005. kemudian ADD untuk apa?. Adri Warsena-FPPD. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. 5. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. 3. Perda-perda dan perdes. Kewenangan desa harus jelas. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi.00 – 13. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. yaitu: 1. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. Bambang Hudayana 2. dalam kaitan ADD. Mengapa kabupaten tidak responsif?. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. Kasmuin-CePAD. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. Joana-World Bank. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. maksudnya bendahara desa.Hari/Tanggal : Senin. merujuk PP 72/2005. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. Datu-As Wali Nagari. Syamsul-Bina Swagiri. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. pendapatan desa rendah. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. sehingga ada kejelasan potensi. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Sukoco-Kades Wiladeg. Ade-KDP World Bank. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. Dahlia-PMD TTS. Menggagas Desa Masa Depan 57 . dengan skala prioritas.5 Milyar. 3 Juli 2006 Pukul : 11. Abu-Persepsi. 2. 4. Kamardi-Perekat Ombara.00 3. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. alasannya 1) SDM tidak mampu. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik.

walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. Efek ADD luar biasa. Catatan lebih jauh. dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. faktor APBD kabupaten belum siap. Mungkin juga faktor politik. kalau tidak ya tidak. Menggagas Desa Masa Depan 58 .kemungkinannya adalah. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. ada yang pakai peraturan Bupati. jadi berbeda sumbernya. Dana yang pertama itu 10 Milyar. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. pembangunan dan lain-lain. mestinya 23 Milyar. DAU yang dipotong anggaran rutin. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. 3. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. maka akan memindah budaya korupsi di desa. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. faktor politik (karena tidak milih). Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan. Sepertinya itu masih terjadi. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. memang nilai asli desa ada gotong royong. dengan presentase sekian % untuk BPD. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. 2. kalau itu tidak disiapkan di desa. Yang menjadi orientasi ke depan. Ini yang selama itu belum jelas. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. 1. kalau diukur dari PP masih jauh.

Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. Honor kades. Yang ditanyai Bandes. Disini juga ada tim pengawas. sehingga menguntungkan pihak luar. Yang baik itu PPK. Contoh di Ngada. PP 72/2005 di kabupaten. jalan dll. datang kontraktor di atas kertas swakelola. bertahap. 3. ada soal dengan kabupaten induk. Bupati mengakali 50 juta per desa. 1. Menggagas Desa Masa Depan 59 . kalau rata maka 75 juta per desa. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. 2. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. tidak ada mark up. dan baru menerima PP 72/2005. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. di desa itu tidak ada Bandes. kriterianya sangat banyak. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. dananya harus memadai. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. DPRD dan lain-lain. ADD seharusnya didahului RPJMDes. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. Mekanisme pencairan dana cukup baik. 10 % DAU maka harusnya 15 M. tetapi hanya rambu. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. Betapa pentingnya kewenangan desa. PMD. dan kabag hukum. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. Sejak berpisah dari Deli Serdang. itu sudah mendarah daging. hanya beberapa desa. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. sehingga mereka bisa bikin pasar. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Ada kecenderungan berbeda. porsinya tidak ditentukan. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. ADD tidak merata ke seluruh desa. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera. Pembangunan sendiri belum. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa.Fasilitator ADD itu hak desa. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. Pembangunan oleh desa lebih efektif. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa.

Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. 4. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. Arah pembangunan ke 5 sasaran. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. misalnya best bracticenya diungkap disini. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. Pembangunan kemasyarakatan. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. Bagaimana kita melakukan penguatan. Instrumen akan sangat berharga. Perlunya needs assesment di desa. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. Sumber Daya Alam. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat.Fasilitator Jadi skenarionya. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. Instrumen kebijakan. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. kalau tidak ya ada batas minimum. yaitu : 1. Peningkatan SDM. Menggagas Desa Masa Depan 60 . Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. perlu komitmen di tingkat nasional. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. 10% dari APBD. yang itu berasal dari kabupaten. dana pemberdayaan. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. Pedoman level pusat belum ada regulasi. 2. Di desa itu banyak uang. 5. 3. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. masih perlu dukungan masyarakat. 2. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Pembangunan infrastruktur. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. DAKN. Ekonomi kerakyatan. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. kabupaten hanya memberi acuan saja. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri.

Indikatornya: a. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. 1. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. Masalah. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. Sumber pendapatan desa belum jelas. sehingga dapat independen. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. walaupun itu difasilitasi oleh negara. Itu dikarenakan adanya PP. Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. sehingga jumlahnya masih kecil. 7. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. maka desalah yang perlu mendetailkannya. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. b. keterbatasan PAD. masalah politik 5. 5. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. dalam bentuk block grant. SE Mendagri dan peraturan yang ada. akan tetapi daerah masih setengah hati. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. 4. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. 4. 6. 3. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. Catatan juga dari kami bahwa : 1. Menggagas Desa Masa Depan 61 . kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. 6. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. Kabupaten enggan untuk ADD 2. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. Pemda berhenti membuat perda. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. 3.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada.

Dony-DPRD Sumedang. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. apa keuangan desa. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 . Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. Susmanto-FPPD/LGSP.7. yaitu prinsip transparansi. Yuni Pristiwati . 9. problematikanya. Pengalaman-pengalaman praktis. 4. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. Erni-FPPD. Transparansi. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. Edward Lubis-YIPD Jakarta. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Agus R Rahman-LIPI. peserta memperkenalkan jati dirinya. pembagunan. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Firsty Husbany-DRSP. kita eksplorasi pandangan. usaha kecil. Sofyan-Akatiga. Untoro-PMD. aktivitasnya. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. Widya PujiFPPM. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Yusuf-Sajogyo Sains. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. dan bagi pemerintah itu sendiri. M. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. keberlajutan. 8. Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil.ASPPUK 2. Sebelum mengerucut. dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). Silahkan. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Suharman-PSPK UGM. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. Barori-STPMD “APMD”.

Persoalannya. Barori Pak Lubis juga benar. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. Ketika bicara keuangan desa. Tantangan kedepan adalah produk desa. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. belum dalam konteks yang lebih positif. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. Karena dibutuhkan tambahan modal. masyarakat sekarang ini justru senang. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. Jika disepakati. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. merdeka. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Micro finance menurut pandangan saya. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. ini dimaksudkan supaya lebih focus. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. Dia punya idealisasi. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. itu otonom. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. dst. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. Ketika desa membiayai sendiri. Komentar saya. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. Artinya. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. Salah satu dalam pasal itu. dari segi system micro finance itu sehat. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. bargaining posititionnya kuat. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Jadi uang itu muter. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. Menggagas Desa Masa Depan 63 . Teknologi itu mahal. Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. sistem kelembagaanya sehat. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan. produk skala umum. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. pembangunan dan kemasyarakatannya. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola.

apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. Kita memang berfokus pada BUMDes. Pada saat panen PPL sembunyi. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. karena pendekatannya efisiensi. sampai tingkat pasar dilepas. secara teknis harus untung (saved uang). dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. Kita harus memperhatikan yang seperti ini. tidak dalam sektor keuangan di desa. jangan sampai seperti sekarang. Kita bisa belajar. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. produksi dilepaskan. sudah ada Permendagri. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. memang dua hal ini sangat erat. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. Micro finance dan BUMDes. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. kita focus ke sektor keuangan di desa. tidak setengah-setengah. Sidoarjo. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. Ke depan. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. lebih luas daripada kredit. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. pokoknya uangannya kembali. pasal 7881…. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Dan untuk Perda itu dapat disusun. baik bagi orang yang mau menabung. pembiayaan sampai pemasaran. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. Kita perlu pengawasan eksternal. dll). Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. keuangan dari sisi pemerintahan desa. Tawaran untuk diskusi awal. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. Jasa ini penting. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Kami mereka-reka. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. Stefan Saya usul. dia harus bersaing disana. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. berdasarkan peraturan perundang-undangan.

000. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. jarang yang simpan. rekening dari masyarakat dilebihkan 1.besar. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. tinggal di akta notariskan. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. Permasalahan. dan ada yang masih dalam perjalanan. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. manakala go public pihak perbankan belum merespon. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. satu desa ada 60 juta. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. ada yang sudah berjalan. Oleh karena itu. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. ATK). sama yang kami buat. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. dan warung nasi. harus ada akta notaris. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. tapi satu sama lain saling mengkait. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. seperti usaha simpan pinjam. Disepakati. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. kedudukannya sama dengan UU. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi. Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. banyak pinjamnya. Jadi kita mengadopsi. bahkan kalau sudah jalan. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. Status badan hukumnya masih PERDES. dari APBDes ke BUMDes. UEP PPK. BUMDes bisa menjadi PAD desa. apalagi di pedesaan. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. lumbung desa. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. Ada aturan BUMDes. pertokoan (fotocopy. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. sementara Perda turun belakangan. UEP PKK. diangkat menjadi pengurus BUMDes. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Setelah terbentuknya BUMDes. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan.

Dalam diskusi ini. tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Mungkin ini control. Ada pengalaman saya. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. Agus Dalam hal BUMDes. puskesmas. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. tetapi dengan pertimbangan. 53 juta/tahun). di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. bukan hanya kebijakan. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. Kita juga harus lihat ini. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. Sofyan Persoalan. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. Maksud saya. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Kalau petani tidak mau mengubahnya. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. Kalau di pertanian jelas.ada peningkatan pelayanan masyarakat. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. Tanpa itu. Persoalannya. ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. maka tanahnya diambil. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. ini tentu akan sulit. Ada 12. tidak haya aturan teknis saja. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . dan saya pribadi setuju. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. dll. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. maka dia tidak bisa menabung. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. maka saya penekanannya pada tabungan. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. sekolah. tidak semata-mata orientasi bisnis. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri.

Contohnya di seminar 2 hari ini. kearifan desa disana. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. harus lebih jelas. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar. untuk apa? Tetap saja petani mati. (terjadinya dept capital). Tidak usah bicara partisipasi. Semua ini pendekatan insidental. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. misalnya soal pupuk. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). jangan sampai ada penyeragaman. masing-masing mempunyai institusi sendiri. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. saya kira Indonesia sudah makmur. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. Belajar dari pengalaman itu. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. BUMDes itu sesuatu yang bagus. Apakah dengan BUMDes. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. Usulan. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. termasuk skema kreditnya. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). Kalau tidak. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. karena ada problem seperti ini. Misalnya kasus UU Perbankan. 70% dikuasi elit desa.Mengenai BUMDes. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. semuanya harus affirmative. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. petani kita hancur. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. apapun bentuknya. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. saya lihat petani juga semakin parah.03% GNP. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. tidak dari daerah. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank.

Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. sehingga dikembalikan. bahwa nanti akan ada Perda. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan. silahkan gratis. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang.Jenis usaha. belum terselesaikan. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. siapa mau berobat. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. Tentang kehutanan. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan. Menggagas Desa Masa Depan 68 . misalUU kehutanan. 10. bukan dipaksakan muncul. saya menulis “Bupati versus rentenir”. Saya berpikir. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. afirmatifnya seperti apa?. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. dia jalan menggunakan mekanisme bank. nanti kembali sekian”. tiap desa harus muncul BUMDes. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. ini cukup Rp. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. ini tidak pas. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. Kita coba memakai kelompok tani hutan. kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. Persoalan tentang micro finance. cukup “kamu jualan disitu. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul.000. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Itu nanti justru akan menjadi konflik. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. Kasus yang menarik. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret.

ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Prinsipnya. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. tidak dijual. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. jadi BUMDes saja. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. dan pusat hanya kebijakan. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Kalau itu bisa. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Informasinya di Bantul BPRnya maju. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. Menggagas Desa Masa Depan 69 . tidak dipaksa. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. “Bupati vs rentenir” di Bantul. Prinsipnya. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. oleh dan untuk anggota. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. kurang terpayungi secara hukum. misalnya hutan. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Nanti konsekuensinya. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). Kepemilikan. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Mengenai tanah kas desa. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. maka tidak akan ada masalah rentenir. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes. Mengenai hutan. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. bahkan assetnya sudah 1 milyar. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. itu yang kita lindungi.

Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. LKM hanya berfungsi seperti handle agency. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Kalau kita lihat draft UU LKM. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. asetnya sudah 1 milyar lebih. bagaimana cara mengelola kredit mikro. Widya Bagi saya. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. salah satu problemnya itu. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Ini menjadi ramburambu. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. Jadi perlu disisipkan. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Strateginya. masyarakat langsung control. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. lebih memberdayakan pada perempuan. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri).Barori Masalah kelembagaan. mereka menerima uang di masyarakat. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. Apakah ini perpanjangan tangan. sehingga mereka rajin mengembalikan. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). Menggagas Desa Masa Depan 70 . Solusinya. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. kepastian hukum. dasar hukum LKM harus ada. Kalau ini membahayakan harus ditolak. Pengawasan juga kuat seperti bank. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. Prinsipnya. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. pemerintah bekerjasama dengan NGO. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. Seperti ini ada linkage program. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. Sebagaimana bank yang lain. Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. koperasi itu bukan bank.

• memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. • ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • sebagai affimative action. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. termasuk affirmative action lintas sektoral. Menggagas Desa Masa Depan 71 . • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. Dari sisi LKM atau BUMDes. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. • ada pengawasan yang jelas. • kepemilikan oleh rakyat. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. • ada alokasi dari dana APBD. Dari pengalaman itu. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. pelatihan.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. • ada kejelasan tatalaksana manajemen.

dan ada komunitas-komunitas tertentu. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. bukan hanya sekedar pemerintah desa. Salini-DSF.. Mas Ibnu sudah panjang lebar. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. BPD. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. . kami persilahkan saja. Dua pembicara Pak Prof. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. inkonsistensi. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua.5. hubungan kerja. juga ditangan pemerintah desa.. • konsep-konsep perwakilan daerah. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. Widyohari-STPMD “APMD”. Wa’i-Lakpesdam. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. Tetapi yang terjadi dalam praktek. mungkin saya sampaikan. saya kira dengan yang kita bahas tadi. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. kan begitu. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. Jayus-UNEJ. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. pola kerjanya bagaimana. nanti diskusi akan berkembang lagi. Saya kira itu. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu.. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. Elke Rapp-DRSP.. Widya-FPPM. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Ibnu–Unibraw. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. Jadi ini dilema. Untuk itu.. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. yang penting yang harus dirubah. Azam-Pemdes Kebumen.. Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. karena tadi waktunya pendek. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. sesuai saja. Haryo Habirono – FPPD 2. Toro-STPMD “APMD”. untuk tidak mengatakan salah. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. Menggagas Desa Masa Depan 72 . berpendapat. Sadu–STPDN. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. dibuat mengambang. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. Pak Sadu sudah panjang lebar. Sadu Terima kasih. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. Steny-HUMA. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. Nurwafi-BPD. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. Franky-AMAN. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting.

apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. sekarang tidak ada. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. hanya hal itu tidak dilaksanakan. Mohon maaf. Fasilitator Saya potong sedikit. Jadi sebelumnya. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. Ini lebih memberi peluang. anggaran banyak.. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. bukannya masyarakat adat tidak prnting. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. akhirnya gubernur setuju. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. khususnya untuk pengaturan. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. nah ini menjadi babak baru. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. kewajiban-kewajiban pemerintah. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. Dan untuk desa diminta naskah akademik.. yang dipungut adalah iuran. Saya bertanya. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. bisa mengatur pilkades yang baik. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa.Desentralisasi kepada daerah jelas. tapi kedudukannya tidak jelas. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. kalau dulu masih ada pengganti asusila. Saya menawarkan gagasan. dia tidak digaji. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Nah ini akan menjadi dilema. saya tidak tahu. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. tapi kalau kita lihat data. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. larinya pengganti ekonomi. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal.. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi.

dimana desa yang masih homogen. Sekarang saya melakukan perubahan perda. sudah jenuh juga. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Azam Terima kasih. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. adatnya masih kuat. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang. Fasilitator Ya. kita kembali ketiga tipe desa. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. kecamatan. saya kebetulan dari orang pemerintah. dan self government community. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. saya pikir apa konsekuensinya. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. local self governance. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan. dari bawah. apakah local self governance. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. minimal kalau ada sekian provinsi. ada sanksi disitu. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. Elke Usulan tadi bagus sekali. step by step. Konsultasi publik saya tahu. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. Artinya mekanisme ini tolong. ada self community governance. Dalam undang-undang nanti. local state governance. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. Kita diskusi mengenai local state government. Menggagas Desa Masa Depan 74 . tapi itu masih kurang. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. bisa dengan penurunan pangkat. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. Karena kalau semua sudah diatur. atau self community governance. local self government. jangan terlalu detail. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. Dari dulu desa deperti ini terus. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. lima struktur itu bebas saja.yang khusus. ada local state governance. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. dari legislasi. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. tidak serta merta langsung kita berhentikan. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. ini agak beda. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. untuk melihat struktur apa akan dipakai. masa jabatan tidak usah diatur. Kalau kita mulai dari tingkat desa.

tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa.. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini.. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. mungkin dalam pikiran normatif. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. penyeragaman. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. selama ini hanya instruktur. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. Kemudian sentralistik. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. Atau sebaliknya. Nurwafi Terima kasih. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. komando. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. yang prinsip bagaimana hak-hak. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. Nurwafi Prinsipnya. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. apa mau kawan-kawan di level bawah.

sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. Fasilitator Kalau saya menangkap. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. kabupaten lebih khusus lagi. begitu? Provinsi lebih umum. Oh. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. Ketiga. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. pendidikan dan sebagainya. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Kedua. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. lebih spesifik lagi. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Wa’i Terima kasih. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. perijinan dan sebagainya masuk. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. atau kalau ada investasi.kewenangan desa. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Saya kira begitu aja. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. dan lainnya untuk daerah mana.

itu bisa kita petakan secara jelas. kemudian Mas Wafi. tidak pernah serius dilaksanakan.sebagainya). Kedua. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. itu artinya yang namanya penyerahan. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. Kedua. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. membina. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. kabupaten. Ketiga. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Sekarang mengenai desa otonom. jadi kategorinya jelas. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Kembali pada SDM. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. Karena pengalamannya sudah lebih baik. dan desa. karena pengalamannya Jawa. saya ingin bertanya. Mas Toro silahkan. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Tadi Mas Franky dari AMAN. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. dia sedang berbicara tentang desa adat. tapi ya begitu saja. Saya agak kurang setuju dengan Prof. kepegawaian. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. Sutoro Mengulang yang kemarin. Ini peran pemerintah. melakukan supervisi. Pertama. pembinaan kapasitas dan seterusnya. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. Pak Azam bicara tentang desa otonom. disamakan sajalah. Hanya berhenti disitu. tapi tidak pernah terlaksana. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Nah ini persoalannya sekarang. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. Itu posisinya jelas. BPD-nya sudah lebih siap. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. ganti konsep alokasi. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan.

tiga ya harus konsisten. tidak perlu ada pemerintahan. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. Saya juga bingung. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. kuatnya begitu. tidak perlu ada administrasi. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. itu difasilitasi di pasal berikutnya. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. bunyi pasalnya wajib. Menggagas Desa Masa Depan 78 . Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. ia kehilangan hak-hak sosial. Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. tadi saya terima kasih diberikan saran. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan. karena konfliknya disitu. Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. sekarang tidak kesitu yang dikejar. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. makanya mereka menghargai betul pada adat. keuntungan untuk desa sekian. Steny Konkretnya. Kalau desa itu tidak jelas. kalau semua bisa jadi satu. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. meninggal harus cari tempat lain. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. yang dikejar harga ekonomi. akarnya sudah tercabut. intinya satu yaitu wajib. dia bisa ditolak di-aben disitu. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. jadi larinya pada penghasilan. supervisi. Bagaimana dengan yang begitu. Soal istilah. nanti saya pikirkan. hak dan kewajibannya jelas. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. sekarang penghargaan sosial tidak ada. Saya mau menambahkan saja. peran pemerintah sebagai fasilitasi. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. itu bukan harus. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada.

disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa. mekanisme keluhan. nanti dalam diskusi pleno presentasi. ditaruh didalam meja. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada. soal hak-hak desa itu ada. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. Fasilitator Oleh karena itu. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis.. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. coba kita lihat th 65. Apa ada relawan. jadi tidak pernah tahu padahal ada.. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. Elke Saya hanya ingin. Pak Toro selama belum ada amandemen. kita masih akan terus menambahkan. Menggagas Desa Masa Depan 79 . itu berkaitan dengan sanksi. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah. Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. biar nanti kalau terkait dengan desa. Fasilitator Saya kira ini cukup. kalau masih ada ide-ide. UU 22/99 demikian pula. hanya orang desanya sendiri. Kedua. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas.. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. itu yang pertama. Fasilitator Ya. kita lihat lagi th 48. Soal ADD. kalau kiranya cukup. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya.

Barori 1. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa.00 – 17. Selain jaminan kewenangan. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. 8. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 . Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi.00 Moderator : M. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. 3 Juli 2006 Pukul : 16. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. 3. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut.Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. 2. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Oleh karena itu. fasilitasi. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. fasilitasi. Konsistensi implementasi dari policy. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. 5. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state. capacity building menyangkut desa.2. 4. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. Bahkan.

perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. terdiri 5 unsur dari cerdik pandai.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. 1 jorong ada penduduknya 700. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Oleh karena itu pula. bagaimana keterwakilan. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . silahkan. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. bagaimana keterwakilan kelompok lain. regulasi tidak terlalu banyak. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. Saya dari Limapuluh Kota. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. pemilihannya tentu per jorong. kami ada 7 jorong. kita kembalikan ke masyarakat. 5 unsur dari pemuda. Oleh karena itu. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. pemilihan itu bagaimana bentuknya. Berdasarkan pengalaman. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Dan dengan demikian. jadi tidak perlu regulasi baru. ada juga 1500 orang. 5 unsur dari bundo kandung. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. lebih besar dari 3000 25 orang. mekanisme. Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). hanya perlu good will dari semua unsur. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. 5 unsur dari nini mamak. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. 5 unsur dari pemuda. atau dimensi kultural). bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh.

Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. perlu ditambahkan.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. Soal jumlah. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . 2. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. lalu pemerintah membuat perda yang baru. jadi seolah sama. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. contoh di penjelasan. Masalah regulasi. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. substansi adalah menghindari elit desa. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. bahwa BPDnya tetap seperti semula. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. sikap elitis. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. 1. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. BPD sebagai tool untuk check and balances 2.

mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. tetapi institusi yang mewakili desa. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. karena demokrasi itu menghendaki prosedural. tapi ad hoc saja. sehingga demokrasinya bisa berjalan. bagaimana APBD itu membiayai juga. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. Contoh di Jepara. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. Itu perlu dinormakan.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. government for the people. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. Mekanisme di pusat sudah ada. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. Biaya pilkades itu kecil. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. bagaimana lembaga di desa. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. tapi tidak serta merta mewakili desa. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. sehingga netralitas calon kades. BPD sinergis. yang jadi mahal itu money politic. yang saya usulkan itu DPD. tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. kades. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. bisa pemilu atau yang lainnya. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . Menormakan ini tidak bisa seragam. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. mekanismenya terserah. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda.

4 Juli 2006 Pukul : 14.15 Moderator : Sumarjono 3. kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. masyarakat.kabupaten/kota. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. keluarga. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. Hari/Tanggal : Selasa. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. Penguatan kelembagaan. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal.00 – 15. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat.

Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Marhaban Kita di PMD. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. Dengan demikian ADD menjadi problem. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. ini memang strategi pemberdayaan. • Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. Menggagas Desa Masa Depan 85 . karena ADD itu 10% dari dana kabupaten.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. karena desa itu sudah di bawah negara. 4. maka 80% langsung ke masyarakat. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Ini memang dalam perspektif yang mikro. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD. Saya persilahkan tanggapannya.

Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. 8. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. capacity building menyangkut desa. 2) separated. 9. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. walaupun secara yuridis formal belum nampak. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. pilihan. koncuren. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Menggagas Desa Masa Depan 86 . tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Ketiga overlap. fasilitasi. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. dan 3) overlap. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. delegatif dan kewenangan lain-lain. 7. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. 10. Bumi. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Deskripsi singkat : 6. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. Justru dengan otonomi desa. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. Di UU ada kewenangan atributif. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik. fasilitasi. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. kenapa justru ada eksploitasi. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. capacity building yang menyangkut desa. Bahkan. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. provinsi.• Konsistensi implementasi dari policy. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. tanah.

Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. dan efisiensi. 2. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. fasilitator. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. Pasal 1 negara memberi pengaturan. UU 22/99 wewenang. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. dan pemasaran. nampaknya yang diberikan itu urusan. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Negara-negara old model (Jerman. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. padahal kalau residual teori itu wewenang. tetapi juga persoalan politik. Saya pilih ke istilah kontrol. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. eksternalitas. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu. teknologi. 5. Saya kira disana ada politik. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. itu yang berkaitan dengan yang strategis. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. Skandinavia. di UU 32/2004 itu urusan. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. maka perlu modal. kalau saya melihat lebih ke politik. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. karena pengawasan ikut mengarahkan. Australia. ini yang menjadi tali sentralistik. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. Negara-negara baru (Amerika Serikat.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. apalagi mau kita bawa ke desa. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. oleh karena itu terbit UU sektoral. UU 5/74 itu wewenang. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia.

untuk rakyat (petani. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. Menggagas Desa Masa Depan 88 . • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. nelayan. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. • Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD).

• Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. Kita harus tegas mengatur ini. sehingga perlu pembinaan. Menggagas Desa Masa Depan 89 . perdes mengacu perda. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. dll). kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. mau memberikan waktu. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). Pengawasan. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi.nelayan. BUMDes itu akan dibiayai APBD. Di tingkat II. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. panjang sekali prosesnya. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal. rakyat miskin (petani. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. perda mengacu UU. tenaga dan pikiran. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. termasuk monitoring dan pengawasan. siapa yang akan mengontrol BUMDes. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. sebagai komisaris. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa. Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). agar perda itu baik dan benar. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi.

BUMDes yang lemah payung hukumnya. dan itu diputuskan dengan keputusan desa.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. Payung hukum yang ada adalah yang umum. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. Moderator Diskusi ini kita akhiri. seperti ADD. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. lebih banyak ke perangkat desanya. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. maka tidak bisa ke sana nanti. menggagas desa masa depan. ke bank misalnya. bukan khusus untuk BUMDes. Lebih fundamental lagi. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. Menggagas Desa Masa Depan 90 . Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful