VIII.

DISKUSI KELOMPOK TERFOKUS

8.1. Diskusi Kelompok
Hari/Tanggal : Senin, 3 Juli 2006 Pukul : 13.30 – 15.30

1. Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA
Fasilitator Peserta : 1. Arie Sujito 2. Bambang Hudayana : M. Barori-STPMD “APMD”, Alit-Majelis Madya Gianyar, MaryunaniFE Unibraw, Steny-HUMA, Sulikanti-Bappenas, Yusuf-SAINS, Lubis-YIPD, Suharman-PSPK UGM, Kamardi-Perekat Ombara, Franky-AMAN, Ibnu-FH Unibraw, Toto-BPMKS Sumedang, AzamPemdes Kebumen, Sofyan-Akatiga, Matt Stephan-World Bank, Vitristaf DPD, Kasmuin-CePAD, Adri Warsena-FPPD.

Fasilitator Sesi ini kita akan mengeksplorasi pemikiran menjadi lebih dalam, set up diskusi kelompok ini diharapkan akan muncul pemikiran-pemikiran, ide-ide tentang otonomi dan kewenangan desa itu seperti apa? Pilihan-pilihan yang visible. Tadi sudah banyak disampaikan Pak Toro dan Simatupang telah mengesplorasi banyak hal pilihan-pilihan berangkat dari peta normatif maupun empiris hubungan antara pusat, provinsi, kabupaten dan desa. Secara prinsip kita punya kebutuhan melalui otonomi dan desentralisasi, maka ini lebih memungkinkan terjadinya demokrasi. Pak Simatupang juga bicara banyak secara sangat normatif dan reduktif. Pak Toro tadi mengungkap beberapa pilihan seperti local self goverment, itu bagian terpenting dari otonomi dan demokrasi. Kita bisa belajar dari review, tapi yang lebih penting itu adalah penataan dan kelembagaannya ke depan seperti apa? Barori Ada pandangan tentang pemberdayaan masyarakat desa itu dibingkai dalam desentralisasi, kita pahami dulu konteks desentralisasi. Ada 3 domain dengan asumsi desa adalah sebagai wilayah pemerintahan yang di dalamnya ada pemerintahan dan pembangunan, domain ini yang perlu kita sepakati dengan bingkai itulah pemerintahan desa diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintahannya, sehingga pemerintahan yang desentalistik dan pembangunan yang desentralistik menjadi prasyarat pemberdayaan masyarakat desa. Pemberdayaan masyarakat desa itu mencakup 3 hal yaitu: 1) pemerintahan yang desentralistik, 2) pembangunan yang desentralistik, dan 3) desentralistik fiscal. Secara normatif hal ini sudah kita temukan dalam UU 32/2004 maupun di PP 72/205, persoalannya kita memantapkan itu, apa yang menjadi kewenangan desa. Masyarakat desa akan berdaya kalau ada kewenangan yang melikupi dirinya, yang harus kita kedepankan adalah sebuah ketentuan bahwa level pemerintahan kita harus mempunyai otonomi pemerintahan sendiri-sendiri. Oleh karena itu kewenangan desa harus kita sepakati dan pahami bersama dan secara normatif UU dan PP sudah mendorong ke sana. Sejauh mana kewenangan itu bisa dijadikan posisi baru desa dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan? Desentralisasi harus diikuti dengan otonomi desa yang nilainya sama dengan otonomi di tingkat kabupaten, provinsi
Menggagas Desa Masa Depan

46

maupun pusat. Otonomi dimaknai juga dengan kewenangan desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan. Perangkat untuk disana sudah kita punyai, pembangunan yang desentralistik, perencanaan pembangunan yang berhenti di tingkat desa. Fasilitator Otonomi desa diletakkan dalam 3 hal: pemerintahan, kewenangan dan keuangan desa. Memahami otonomi dengan diletakkan hubungan antara desa, kabupaten, provinsi dan pusat. Tadi di diskusi ada hal penting, meskipun belum dilihat spesifik. Alit Anggap contoh bangunan, dasarnya kuat, perlu porsi yang jelas menyangkut kewenangan desa. Di UU 32/2004 pasal 200 itu sudah, menyangkut kewenangan desa pasal 206 perlu dirujuk ke tingkat kabupaten. Rujukan ini ditindaklanjuti di tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa, sehingga posisinya jelas, mana hak-hak desa. Sebab kita tahu, desa kita karakternya berbeda-beda, apa yang sudah ada kita kembangkan, rujukannya berdasarkan UU yang sudah ada, bagaimana kejelasan porsinya. Tentang keuangan, pendapatan asli desa, perlu diperjelas, mana saja yang boleh sehingga desa itu bisa diberdayakan sesuai dengan semangat otonomi. Fasilitator Maksud Pak Alit, itu perlu dirinci lagi dalam Perda. Maryunani Otonomi dan kewenangan, saya ingin menambahkan satu muatan bahwa otonomi itu adalah sebuah sistem yang hirarki vertikal dan horizontal. Kalau bicara otonomi desa bisa kita tangkap hirarkhi horisontalnya, bahwa desentralisasi fiskal perlu diikuti dengan kewenangan, desentralisasi fiskal yang di PP 72/2005 ada 3 komponen besar, bagaimana desa mampu dalam pendanaan dalam pembangunannya, kemudian diikuti desa itu mampu mengelola sendiri dana dan pembangunannya, dan diarahkan ke kegiatan ekonomi produktif, maka kemandirian itu ada disitu. Persoalannya, apa betul desa desentralisasi itu ada? Pengalaman di kabupaten/kota di Jawa Timur, desentralisasi yang ada ini desentralisasi yang sentralistik, dimana posisi desa itu memiliki bargaining position dengan kabupaten atau sebaliknya sejauh mana kabupaten ini memberikan good will-nya, sehingga sinergitas keduanya ini belum ada. Persoalan bukan pada normatifnya tetapi pada good will kabupaten. Sejauh mana regulasi ini diikuti good will agar sampai ke desa? Stenly Soal tawaran dari Mas Toro, dari pilihan itu mesti dipilah lagi ke level yang lebih konkret, dengan memilih salah satu atau meramu ke tiga hal itu apa saja kewenangannya yang akan menjadi turunannya. Kita tidak bisa bicara kewenangan secara konkrit kalau tidak memilih dari 3 model itu, atau mengacu ke UU yang ada. Kalau mengacu ke UU, pertanyaannya adalah apakah sudah cukup, kalau tidak cukup dengan model itu apa yang akan kita pilih? Melihat perkembangan politik mungkin hanya model local self government yang konkrit, model seperti ini khan tergantung masing-masing daerah, kalau mau milih 3 hal itu dipecah dan turunan-turunan dari model itu. Usul saya, yang masyarakat adat maka akan self governing community. Sulikanti Regulasi ini masih baru, saya tidak yakin itu sudah dilaksanakan pemerintah daerah. Daripada kita mengganti yang ada, kita laksanakan itu dahulu, kadang kita bagus di konsep, pelaksanaannya amburadul. Bentuk apa saja ke depan, lebih baik kita identifikasi dari pelaksanaannya yang maju yang mana? Apakah self governing community, yang jadi
Menggagas Desa Masa Depan

47

pertanyaanya masuk tidak kita ke masyarakat adat. Kita tidak mudah menentukan 3 itu, kita perlu merenung posisi dimana, sehingga bisa melihat/ambil yang mana? Semakin banyak aturan semakin tidak benar, biarkan mereka mengatur sendiri. Fasilitator Yang perlu kita bahas adalah mana yang perlu diatur dan mana yang tidak. Pak Hans tadi mengatakan, kalau negara tidak beres bukan berarti negara tidak dibutuhkan. Kalau kita setir sedikit dari Pak Sutoro dari 3 model, kalau local state government itu pernah dijalankan masa orde baru. Persoalannya desa itu akan dispesifikasikan dengan UU sendiri atau tidak, tetapi memastikan ada pengakuan negara atas desa. Perlu diidentifikasi otonominya seperti apa? Kelembagaanya seperti apa, lalu solusinya seperti apa? Yusuf Bagaimana self goverment community itu bisa menghadapai tantangan pluralitas? Fasilitator Pertanyaan ini penting ketika Pak Syamsudin Haris mengatakan ada tuntutan untuk tidak menyeragamkan. Lubis Bicara otonomi dan kewenangan desa ada 2 hal: 1. Kewenangan yang diberikan kepada desa, belum benar-benar kepada desa, sehingga kita tidak optimal dalam pemberdayaan desa. Sudah saatnya memberikan kewenangan perijinan kepada masyarakat bukan hanya KTP saja tetapi juga seperti pemungut retribusi, penanganan retribusi sampah, warungwarung kecil, sehingga desa dapat diberdayakan, mendapat income untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan desa. 2. Jangan sampai kewenangan yang diberikan itu tidak ada kontrol, karena akan menghambat investasi di daerah, jangan sampai kebablasan memungut retribusi yang tidak mendukung investasi. Suharman Berhubungan dengan fiskal, otonomi dan kewenangan untuk mengelola sumbersumbernya perlu dipahami: 1. Otonomi dan kewenangan itu bukan di ruang hampa, tarik menarik dengan pasar. Banyak bondo desa berubah menjadi ruko, bondo desa yang telah menjadi uang mudah sekali menjadi elitis sifatnya, misalnya untuk membiayai pamong desa. Di Kampung Naga masyarakat menolak menjadi obyek wisata tetapi tidak memperoleh hasil serupiahpun dari kegiatan wisata itu. 2. Tidak sterilnya faktor politik di bawah. Contohnya, Bupati menganggarkan dana APBD dan disalurkan ke desa pendukungnya. Pasar dan politik menjadi eksternal environment yang harus diperhatikan dari otonomi dan kewenangan desa. Kita tidak perlu pesimis, dengan regulasi kita bisa menata/mengukur eksternal environment. 3. Persoalan kontrol dan elitis, otonomi dan kewenangan desa, kontrol itu bagaimana mekanismenya? Format itu perlu dikedepankan. Kamardi Kita sudah membahas konsep ideal tentang desa, paling tidak ada 3 hal untuk didesakkan yaitu : 1. Akses pengelolaan sumber daya masyarakat adat di desa, di UU 22/99 dan UU 32/2004 SDA yang dikelola kabupaten tidak boleh dikelola desa sebaliknya yang dikelola desa tidak boleh dikelola kabupaten, faktanya tidak demikian. Pergeseran seperti itu juga APBDes, perda perlu mengakui adat di desa. Hambatan lain itu di daerah, pusat dan daerah tidak sinkron, mereka saling lempar tanggung jawab.
Menggagas Desa Masa Depan

48

2. Hak konservasi, termasuk tata nilai, adat itu sepotong dipahami di desa. Normanorma itu kalau bisa diadopsi di desa untuk membuat sistem hukum adapt, dan perda perlu mengakui itu. Saya mendukung perlu adanya pendetailan UU ke dalam perda. 3. Kewenangan ini ketika di desa, harus dipertegas pemerintahan itu lebih ke administrasi, tetapi pengaturan tata nilai, sistem, roh kehidupan di desa jangan diintervensi, jangan dicampur aduk. 4. Untuk PP 72/2005 pasal 68, desa paling sedikit mendapat 10% dari retribusi, ayat C desa mendapat 10% dari DAU, ini yang disebut ADD. Ketika ADD turun maka yang bagian dari retribusi tidak diberikan. Franky Bicara kewenangan, akses SDA, saya merasa tidak bijaksana kalau tidak kita undang departemen lain, misalnya kehutanan, perkebunan, tambang dll, karena regulasi itu banyak benturan. Ibnu Kita tidak diskusi membagi kewenangan per sektoral, yang perlu kita rumuskan bagaimana memberi/membagi kewenangan. Kita tidak mungkin per sektoral, itu pun per daerah berbeda-beda. Konstitusi sudah memberikan kewenangan, pasal 18 ayat 5 amandmen UUD, sayangnya konstitusi tidak mengatur desa. Dari rumusan, pusat itu ada 5, namun ada urusan wajib daerah yang menyangkut kesejahteraan rakyat, misalnya ketenagakerjaan, pendidikan dll. Kalau di luar itu maka bisa dilakukan daerah maupun kabupaten. Dari UU 22/99 keluar PP 25 yang membagi per sektor, yang tidak diatur di PP 25 maka kewenangan kabupaten. Problemnya bagaimana mengatur kewenangan desa yang tidak ada di konstitusi. Kewenangan desa itu ada yang asli, dan ada yang dari kabupaten, yang dianut ini tidak konsisten dengan UUD. Kalau desa kewenangannya diatur kabupaten, sedangkan kewenangan kabupaten sepanjang tidak diatur pusat. Sekarang kita mau pakai, apakah kabupaten mengatur seperti pusat mengatur kabupaten atau kabupaten minta kepada desa, formula apa yang akan kita pakai? apakah model konstitusi atau desa melist dulu, ini tidak bisa diseragamkkan, ini hanya bisa buat kriteria. Problemnya ada sektor pendidikan, kesehatan, ini bisa dirinci. Yang dimaksud kewenangan itu adalah menjalankan sebagian kewenangan pemerintahan. Pembagian selama ini tidak pernah dilakukan dengan baik, semuanya remang-remang. Formula apa yang akan kita pakai untuk kita berikan desa? Kalau menurut konstitusi maka daerah membuat perda tentang kewenangan. Sebenarnya kewenangan itu tergantung model otonomi seperti apa yang kita anut. Toto Barangkali sudah kita kenal namanya desa itu tumbuh dari adat istiadat, asal usul, prinsip ini yang harus kita pegang, kemudian timbul dan tumbuh dari bawah, idealnya menggali dari bawah. Contohnya, kita mengenal tanah adat dan tanah sertifikat, yang punya kewenangan tanah adat adalah desa, jadi menggalinya dari bawah, kita tinggal membuat rambu untuk dilaksanakan kabupaten. Otonomi yang kita gali, kewenangannya sejauh mana desa itu mampu melaksanakan sendiri? Fasilitator Yang belum clear itu kewenangannya seperti apa? Itu tadi proses otonomi dan kewenangannya. Azam Pendapat itu sangat dipengaruhi lingkungan. Saya dari lingkungan birokrat, berkaitan masalah kewenangan, tanah bengkok desa yang berubah menjadi ruko. Itu menjadi kewenangan desa, desa boleh menjual dan mengalihkan. Kalau sampai bendo desa
Menggagas Desa Masa Depan

49

Kita pernah menantang IMB. Komentar Pak Ibnu.diambil oleh pemerintah tanpa ganti rugi maka itu sudah kebodohan desa. namun ada problem-problem empiris. Matt Stephen Otoritas desa untuk menyelesaikan masalah. kalau spirit tidak homogen maka kewenangan yang kita address kita ke sana seperti apa? Ide pak Ibnu menarik. Sofyan Mekanisme kewenangan.sebaiknya tetap masuk ke pemerintahan daerah. Maka perlu ada penilian terhadap kabupaten. bagaimana kalau desa? Lalu kita akan training untuk IMB. Franky Saya setuju. infrastruktur. namun perlu dipisah peradilan desa dan komunitas. maka kita bisa melihat wewenang desa akan seperti apa. Apakah model konstitusi atau desa yang menentukan. lalu dia menjustifikasi bahwa di wilayahnya ada hutan Menggagas Desa Masa Depan 50 . Vitri Indonesia terlalu banyak aturan. hanya itu harus diberikan kriteria secara bertahap. Mnurut saya. walaupun itu bertentangan dengan hokum. desa dan pilkada. tapi belum dilaksanakan. kepala desa ini harusnya standar minimal SMA. kewenangan yang asli tidak perlu kita atur. jadi penting bicara kewenangan adalah kemampuan desa membuat peraturan tetapi desa juga punya otoritas untuk membuat keputusan. anggaran desa itu seperti darimana saja. karena akan ada tarik menarik dengan kabupaten dan provinsi. kemampuan perangkat. Dari RUU harus jelas pemerintahannya. dia bisa membuat peraturan. Oleh karena itu ada formula dan tahapan yang harus dilaksanakan. ini perlu didorong dan didefinisikan. Pertanyaannya adalah mempertimbangkan konteks daerah. yang perlu diatur adalah kewenangan dari pemerintah. wewenang dan anggaran. aturan dibuat untuk dilanggar. yudikatif tidak jelas. dukungan masyarakat. syaratnya dirubah. kalau kita pilih self governing community. Ibnu Yang perlu kita diskusikan itu mekanisme. kades dipilih masyarakat tetapi tanggung jawab kepada bupati melalui camat. Untuk bisa meletakkan wewenang desa. Fasilitator Normatif regulasi sudah ada. administrasi. Benturan terjadi antara kabupaten dengan desa. masyarakat tidak dihargai. UU 32/2004 akan dibagi 3 yaitu pemerintahan daerah. Ciri otonomi. pertama harus memilih dulu model pemerintahan. Kita sudah membuat perda kewenangan desa. legislatif. Dari struktur pemerintahnya juga sangat kurang. pertanggungjawaban. karena otonomi itu mengatur dan mengurus. peradilan desa itu sudah ada preseden. Untuk kasus yang kecil-kecil. bagaimana interaksi dengan peradilan formal dan sebagai pengakuan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Desa bisa menyelesaikan peradilan desa yang informal. sehingga hanya berhenti di tingkat kabupaten. unsur pemerintahan eksekutif. Desa di Kebumen tidak punya tanah bengkok dan di Banyumas ada dan luas sehingga penghasilannya sangat banyak dan bisa mengatur pembangunan di desa. misalnya di Minangkabau sudah ada surat edaran untuk peradilan tinggi untuk peradilan negeri di Minangkabau agar mengacu ke peradilan desa. karena yang dihadapi adalah SDM. di peraturan itu belum ada. Kewenangan itu sangat sulit dilaksanakan. masyarakat dikebiri oleh pejabat. penyelesaian konflik itu menjadi kewenangan di desa. kalau mereka tidak mampu maka jangan diberikan kewenangan. Sudah ada perda tentang bondo desa. pihak yang memakai bondo desa harus mengganti minimal sesuai dengan harganya. saya setuju desa punya kewenangan. saya mengusulkan pertanggungjawaban kades. tidak perlu detail. Peradilan komunitas itu bisa di dalamnya peradilan adat. kita berangkat dari mana? Konstitusi tidak jelas mengatur tentang desa.

Menggagas Desa Masa Depan 51 . Terkait kewenangan harus dikembalikan ke konstitusi. walaupun intinya ada pengembangan kapasitas itu menjadi perhatian khusus. IKPM bilang jelas bahwa itu kewenangannya Papua. Adnan–LP3ES. Kasus riel pertentangan RUU PA Aceh dengan Otsus Papua. Datuk–Asosiasi Nagari. hubungan sektoral berbenturan. Dahlia–TTS SoE. hubungan antar sektor. mana yang baik dan tidak baik. pembinaan dan pengawasan itu dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah dan tanggung jawab pelaksanaan. sehingga terjadi benturan kelembagaan. Fasilitator Tadi muncul satu pendapat bahwa ini pengalaman praktis. Wafi–BPD. Fasilitator Bapak-bapak. 2. dan itu menjadi pertarungan yang riel. ibu-ibu. Mengkaitkan apa yang disampaikan di depan.Lakpesdam. termasuk kultur. tanahnya. • Demokrasi. Marhaban-PMD Depdagri. Haryo Habirono – FPPD : Ade–PPK. Aturan sering bertubrukan. Abu–Persepsi. Irwan–Letmindo/GTZ Aceh. ada beberapa yang hal perlu dicermati dalam diskusi kelompok kita sebagai berikut: • Transformasi UU 32/2004 berpengaruh pada sisi demokrasi desa. Widya-FPPM. Kelompok: DEMOKRASI DESA Fasilitator Peserta : 1. akan terjadi pertarungan dengan negara. Yuni–Asppuk. Syamsul Hadi–Bina Swagiri. namun departemen kehutanan bilang itu haknya departemen. Kalau bicara kewenangan yang sudah ada sejak awal itupun harus diikuti pengembangan kapasitas dan pembinaan paradigma. • Implementasi Pancasila. Widyohari–STPMD ”APMD”. • Bahwa kesenjangan demokrasi pada aras desa berpengaruh pada kebijakan desa. Kasmuin Saya sepakat seperti tidak perlu ada penyeragaman. UU 32/2004. Rahma–LIPI.adatnya. UU dalam ranah desa. Wai. Riawan Tjandra – Atmajaya Yogyakarta 2. resolusinya apakah membentuk UU baru atau bagaimana? Kewenangan ini harus dipastikan. kalau perlu ada departemen khusus agraria. Joana–World Bank. Susmanto–Letmindo/GTZ Aceh/ LGSP. SDA yang sudah diatur dalam UU sektoral. itu tidak akan selesai kalau tidak duduk dalam satu meja. pengaturannya bukan sektoral lagi. apakah mungkin menjadi suatu pilihan yang cocok (bottom up)/ internalisasi nilai. kalau itu sudah dikaji maka kita butuh sistematika perundang-undangannya seperti apa? Setelah itu kita sebarkan ke seluruh daerah untuk mensikapi mana yang baik mana yang tidak. Fasilitator Persoalan kewenangan tidak cukup tetapi juga kapasitas. akhirnya dicabut kewenangannya. Hans Antlov-LGSP. Bapak kita mencoba mengelaborasi UU 16/69 tentang desa praja sampai dengan UU 32/2004. Agus R. sisi yang lain normatifnya saja sangat sulit. Ade Regulasi perlu ada keharusan pelaksanaan UU PA.

artinya harus dengan target sekian orang. Ade Sulit menjawab demokrasi dengan model yang mana. Menjadi penting adanya demokrasi di desa/kelurahan adalah dipilih langsung. • Keuangan. Dengan aturan saat ini belum berati demokrasi sudah berjalan di desa. dipilih langsung. permasalahan diantara mereka. implementasi maka masyarakat merasa bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan. dipilih dan menjadi badan penyeimbang. Bila masyarakat terlibat dalam proses perencanan. Tetapi dengan demokrasi perwakilan yang ada sebelumya. Berangkat dari program pengembangan seperti yang dilakukan dalam PPK. Dengan keluarnya UU 32/2004 terbelalak. Eksperimentasi demokrasi desa dihindari karena tidak match dengan demokrasi. • Demokrasi yang cocok yang bagaimana? Demokrasi tidak perlu dicocok-cocokan. Dari beberapa hal tersebut. Saya lebih tertarik pada bagaimana demokrasi ada di desa. tapi cenderung melihat apa yang dibutuhkan desa. Ada BPD yang belum berperan dalam fungsinya – check and balances. euforia politik. • Persoalan quorum menjadi masalah. Saya lebih cenderung kembali ke UU 22/99. Tetapi selain itu ternyata lembaga itu sendiri tidak cukup untuk melahirkan nilai-nilai demokrasi di desa. maka pemilihan kades juga dibiayai. Tidak setuju BPD akan mempreteli kekuatan desa seperti kata Syamsudin Haris tadi. Pada dasarnya masalah desa/masyarakat desa adalah mereka tidak terlibat dalam proses perencanan. musrenbang tidak ada artinya. Sehingga musrenbang desa mentok di Kabupaten. maka merujuk pada 3 aspek: 1. implementasi dan pengawasan. jadi tidak perlu ada batasan quorum. Basis kewenangan desa adalah desentraslisasi sedangkan otonomi desa dari masyarakat. adanya fakta kasuskasus harus dibenarkan. mengontrol pembangunan di desa. polanya masih top down. Belum ada kepastian mewakili kepentingan masyarakat. Kendala-kendala yang perlu diperhatikan! Pada akhir pertemuan akan disepakati wakil yang akan menyampaikan presentasi. sehingga tidak ada raja-raja kecil di desa. tidak hanya dalam pengambilan keputusan. Wafi • Kaitan dalam hal ini. BPD menjadi Badan Perwakilan Desa. masyarakat belum. Joana Pada prinsipnya setuju BPD – perwakilan yang mewakili prinsip-prinsip demokrasi. Melihat fakta kelemahankelemahan BPD ya. kaitannya dengan psikologi demokrasi. Sebagai pelaku perwakilan di desa saya sendiri sedang bersemangat dengan proses demokrasi di desa. dengan harapan yang lain akan melengkapi. Demokrasi apa yang paling cocok di Indonesia? 2. dengan adanya pemilihan Presiden/Bupati dibiayai oleh APBN/APBD. tetapi juga dalam menyalurkan aspirasi masyarakat/cari input. sehingga seorang kandidat kepala desa tidak perlu manggung di desa. Bagaimana bisa melibatkan masyarakat lebih luas. fungsinya diberangus dengan dalih-dalih. Menggagas Desa Masa Depan 52 . Jadi perlu ada ketegasan masyarakat dalam proses pembangunan. Masih ada kecenderungan elit desa yang menentukan.• • • Kaitan demokrasi dengan skala kebutuhan masyarakat. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung demokrasi? 3. melainkan kontrol. saya lebih optimis. • Perlu juga dipikirkan pendidikan politik di desa. melihat nilai demokrasi yang ada di di desa dengan model perwakilan yang dipilih langsung.

masyarakat harus dilibatkan dalam pembangunan. Di desa yang diperlukan adalah self community governing + inclusive demokrasi. demokrasi yang diserahkan pada tingkat ‘state’. Keikutsertaaan masyarakat dalam pemeliharaan pembangunan di desa saat ini agak lemah. kemudian ada buku Freedman ”alternative development” dengan konsep political democracy-inclusive democracy adalah demokrasi yang kita bahas. pemuda. Representative demokrasi bukan ada di kita. yaitu penyelengaranggan negara diserahkan kepada elit dan limited government – terbatas. seperti freedman. Apa yang disampaikan Joana perlu. negara. Kalau dipilih langsung bagaimana keterwakilan unsurunsur masyarakat. saat ini diserahkan kepada desa/swakelola. Itu bagaimana? Teringat pertemuan forum warga di Surabaya. Kanada. tapi perlu tupoksi yang jelas. ada tiga area demokrasi: bidang pembangunan (perencanaan). yaitu demokrasi modern – representatif dengan 2 prinsip dasar: prinsip representative government. BPD dan lembaga lain di desa. yang punya uang yang menang. Proyek PPK di daerah. Marhaban Demokrasi yang bagaimana? Bagi saya pribadi dilihat dari literatur ada dua macam demokrasi. Nah. tetapi terkadang ada pesanpesan dari daerah. silahkan. ninik mamak. serta masyarakat tidak ada inisiatif mengontrol pembangunan di desa/nagari. alim ulama. Menggagas Desa Masa Depan 53 . Syamsul Hadi Keterwakilan BPD dalam UU 32/2004 belum baik juga. provinsi. berbeda dengan desa-desa di Jawa dan di luar Jawa. Secara umum. kalau masyarakatnya kumpul tetapi ada raja. yang ’mbok bakulan’ (not: ibu-ibu yang berjualan) tidak ada. politik (Pembuatan Perdes). Hebatnya demokrasi. Demokrasi seperti apa yang disepakati? Misalnya pemilihan langsung. Tana Toraja. Kalau di desa Sumba Timur. akhirnya ada porsi presentase untuk perempuan. maka masyarakat akan diam. Pemikiran dan wacana tadi sangat menambah perspektif bagi kita. sehingga kades. Fasilitator Kita menawarkan beberapa pemikiran. Australia. sosial (kontrol jalannya pemerintahan di desa). perencanaan pembangunan masih top down. jadi tidak memaksakan keinginan kita. is there any democracy? Dewan morokaki di Banten dipilih dari ketokohan. bagaimanapun proses pemilihannya tidak terlalu persoalkan. bagi yang kalah masih diberikan kesempatan untuk memberi kritik. Keberagaman dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005 masih umum. di nagari pemilihannya dengan cara perwakilan kelompok. saya yang termasuk mendambakan demokrasi terutama di desa. itu ada pada Kabupaten/Kota ke atas. alim ulama. sehingga semua bisa dicek dengan jelas. menampung. istrinya carik ya. Sinyalir kolusi di BPD ada kemungkinan. Bagaimana desa yang mempunyai dana untuk dapat membeli hasil-hasil panen? Kebutuhan basis desa jangan dikesampingkan. tapi kita tawarkan kepada yang lain. ada keberhasilan dalam keterlibatan masyarakat menentukan keputusan. Pemdes di daerah belum betul-betul mau kewenangan diserahkan ke desa. Masyarakat desa saat ini belum diberdayakan.Datu Apa yang disinyalir saat ini sangat setuju. ninik mamak. kelompok perempuan. Menurut saya. Kalau secara antropogis barangkali desa lebih tua dibanding dengan kabupaten/kota. di nagari disebut BPN (Badan Perwakilan Nagari). tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Amerika. Susmanto Menyinggung tentang BPD berkontradiksi dengan pemerintah desa. Saya pahami bahwa peran warga desa. pemuda. disini adalah self community governing + inclusive demokrasi.

Fungsi negara menjamin bagaiman masyarakat teribat dalam proses pembangunan di desa. wali nagari/kades memiliki masyarakat. Saya mengkritik teman-teman di PMD. Kalau kepala daerah memiliki wilayah. Aspek persamaan itu perempuan dibelakangkan. Demokrasi desa dibangun ala kelokalan setempat. Dari prosedur itu tidak menjamin. sesepuh. PPK bagus.Widyohari Saya sebetulnya sepakat dengan Pak Sus. jangan ada kabijakan jeruk makan jeruk. karena itu murni dari adat. Berapa persen orang yang menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap BPD? Menjadi pertentangan tersendiri di masyarakat bagaimana menyalurkan aspirasinya. tetapi juga harus memberikan ruang bagi lokal. Barat tahu persis otonomi daerah itu. desa boleh memasukan unsur permusyawatan. Abu Apapun demokrasi yang diusung adalah demokrasi yang menjamim kemandirian di desa. Yang penting 3 (tiga) itu. Oleh karena itu BPD ada tetapi harus ada mekanisme lain yang sifatnya Menggagas Desa Masa Depan 54 . tapi masih ada celah-celah. wali nagari tidak perlu untuk menjadi pengurus parpol. harus menjamin keberlangsungan lembaga-lembaga lokal di desa. Kedepan perlu ditempatkan suatu forum di desa. Kerena itu. mayarakat dilibatkan dalam proses perencanaan hingga pengawasan. semangat demokrasi di desa menurut saya sangat berbeda dengan masyarakat di tingkat atas. tetapi sekarang tidak. eksekutif. ini parah. Negara silahkan mengatur regulasai tentang desa. itu harus dilembagakan. tidak memadainya apa yang ada di BPD. Perlu dimasukan unsur-unsur/aspek penyetaraan dan lain-lain. Menyinggung yang disampaikan Pak Sus. Wa’i Ada kemunduran BPD menjadi bamus (badan musyawarah). sehingga BPD tidak cukup mewakili sebagai institusi perwakilan di desa – kelompok-kelompok di desa. meskipun bukan satusatunya problem di desa. masih sebagian bergantung pada pemerintah. Tidak ada sistem check and balances – itu sulit. Datu Kalau saya diminta untuk mewakili partai di desa tidak setuju. menjadi grup politik masyarakat. masing-masing desa berbeda. siapa saja: buruh. sehingga tepat kita mencari demokrasi. Eropa barat menyerahkan otonomi se-grass root mungkin. Sangat mahal bagi negara untuk representatif demokrasi. romantisme bahwa demokrasi desa diserahkan saja kepada desa. Kendala yang perlu diperhatikan. Apapun bentuknya tidak masalah. Dalam proyek PPK. Kades. Marhaban Saya beda dengan apa yang disampaikan Hans tadi. kemudian tidak lahir dari masyarakat. yaitu partisipasi merupakan kendala yang terbesar di desa. Problemnya. BPD sebagai institusi menjadi cek and balances bagi pemerintah desa. perwakilan. maka elit-elit diluar Jawa akan tersisih. empowerment yang ditumbuhkan dibunuh kembali. meskipun BPD mewakili masyrakat di desa. partisipasi di desa adalah milik elit desa. ada mekanisme kontrol internal di desa. ada rapat/rembug desa. ada badan legislatif. Karena teori apa saja di Indonesia tidak jalan. tetapi juga tidak sepenuhnya mewakili masyarakat. kalau cair sama sekali juga memiliki kelemahan. dan lain-lain. saya setuju dengan Pak Sus. Ini perlu dikembangan untuk melakukan check and balances di desa. dulu ada forum di desa yang memenuhi ini. Partisipasi menjadi titik demokrasi. kalau tidak ada. Masa yang lalu ada demokrasi di desa. juga pengalaman negara lain yang berhasil. Juga dalam penguatan masyarakat di desa. Tetapi BPD pada banyak desa menjadi alat legitimasi aparat desa. Sulitnya minta ampun untuk melibatkan masyarakat dalam partisipasi di desa. petani.

keterwakilan partisipasi. jadi kendalanya struktural dan kultural. Filipina. Hans Saya tidak setuju demokrasi terlalu mahal.. modul disiapkan seperti dulu sebelum ada otonomi. lebih mementingkan proyek. diwadahi dalam forum. India. lembaga dari luar yang ada di tempat kami. tapi tidak bisa dilantik karena kepentingan poltik di tingkat atas. Apapapun bentuk demokrasinya kalau tidak ada suara perempuan maka tidak demokratis. Kalau di pemerintahan. orangnya terbatas. mengapa Indonesia tidak bisa? Olahraga kalah. • Pemimpin formal di masyarakat pasti diikuti masyarakatnya. • BPD dan Kades itu alat negara? Widyohari Lembaga independent silahkan masyarakat bentuk sendiri. Negara tetangga lain. persoalan budaya.. seolah bentuk lebih bagus daripada isinya. Menggagas Desa Masa Depan 55 . Adnan Seringkali kita memperjuangkan bentuk daripada isi. pengangguran. mereka bisa. Amerika. sehingga dia akan kuat. silahkan. kita fasilitasi. ini dan itu. tapi negara Asia. Dana disiapkan. jangan-jangan partisipasinya terpimpin atau terbina. bagi saya yang penting unsur keterwakilannya dari aspek kewilayahan. Kalau BPD. Membandingkan dengan yang di atas. contohnya sesudah pemilihan dan terpilih. ada kebutuhan. Saya hanya mengkritisi itu. adanya penokohan. dananya. Contoh. Setahu saya Eropa dan Amerika hanya ada di kabupaten/kota. tenaga. Jadi masyarakat perlu kita latih. pemikirannya terbatas. Itu bukan Eropa. pengkulturan masyarakat. kehadirian fisik. Perlu mengacu pada prinsip-prinsip pokok dalam membangun sistem demokrasi di desa seperti human right. Pancasila dan UUD 1945. kepentingan. LPM sebagai lembaga induk yang membawahi lembaga-lembaga di masyarakat. Bagaimana kearifan lokal bisa timbul kembali? Dahlia • Bagi saya perlu ada lembaga demokrasi di desa. pikirannya. • Musrenbang sebenarnya ada masalah.. ada potensi. Selama ini banyak dikatakan kita sudah. kelompok dan lainlain. bagi saya tidak masalah. Widya Bagi saya demokrasi seperti apa? Kembali pada kearifan lokal. • Partisipasi dalam berbagai bentuk. dan lain-lain sebagaimana yang tercantum dalam covenantcovenant Internasional. Kita terjebak dengan panyakit partisipasi.insidential. permusyawaratan – perwakilan. Banyak pendapat tentang partisipasi. • Kades di TTS seperti alat politik. sehingga seharusnya ada kursi kosong di DPRD. itu diseimbangkan. tidak masyarakat. Kalau dalam parpol terwakili 60%-70% maka ada 30% yang tidak memilih. demokrasipun kalah. Fasilitator Karena waktu tinggal 15 menit masih ada 7 orang yang belum bicara. Apa masyarakat tahu bagaimana membaca APBDes? Ketika dalam perumusan perencanan mereka tidak semua terlibat. parpolpun tidak mewakili masyarakat. Yuni Saya mau ikuti yang sudah ada. • Usul: perlu ada pelatihan bagi LPM untuk perencanaan pembangunan.

Bagaimana menanamkan demokrasi di masyarakat.Agus • Demokrasi kebutuhan di desa. Fasilitator Sulit menggabungkan semua wacana. Musrenbang hanya dilaksanakan satu hari. pandangan pragmatis) • Focus pada pembentukan lembaga bukan membangun esensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat • Trauma pengalaman berdemokrasi yang “mboten up” tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat contoh masyarakat Menggagas Desa Masa Depan 56 .. • Peguatan kelembagaan banyak kendala. cuma hari sabtu saja yang demokratis. ada yang mengusulkan ada kursi kosong-golput. Bagaimana ditingkat kabupaten/kota. diawali di rumah tangga? Apa itu sudah kita lakukan? • Kasus di Palembayan. banyak kendala menciptakan masyarakat demokratis. elit-elit menyelewengkan demokrasi. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. hanya kata-katanya yang berbeda. injecting participating in local. senin-jum’at tidak demokratis.. sabtu. sikap elitis.. kita sepakati siapa yang mewakili untuk menyampaikan diskusi kita? Marhaban Sedikit saja. karena oranya tidak demokratis. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan local dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena sistem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik. kalau bukan kebutuhan. BPN tidak berfungsi. Demokrasi hanya satu hari. Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3... BPD sebagai tool untuk check and balances 2. siapa yang bisa disepakati untuk mewakili? Jadi Pak Datuk dan Ibu Ade untuk mewakili. contohnya beberapa anggota BPN tinggal di Bukittinggi. Benang Merah Pemikiran: Demokrasi yang cocok bagi desa: Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance masyarakat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan 1.hhahaahhaaa. Fasilitator Biar saja semuanya pemikiran masuk. kalau tidak demokrasi maka akan menjadi otoriter. kita semua membicarakan hal yang sama. jadi hanya hari sabtu saja. mandul. bagaimana kalau kita mengundang petani untuk mengikuti musrenbang. sedangkan kalau mereka ke sawah mendapatkan sepuluhribu.

pendapatan desa rendah. Kewenangan desa harus jelas. dengan adanya ADD masyarakat punya kemampuan untuk mengelola ADD. 2) orang desanya tidak tahu bahwa ada UU 32/2004. Alit Asmara Terkait informasi dari teman Deli Serdang tadi saya konsentrasi di desa. ada PP 72/2005. Tumpak-PMD. Datu-As Wali Nagari. Mengapa kabupaten tidak responsif?. bagaimana menghubungkan ADD dengan pelayanan publik? ADD selalu memakan belanja rutin kabupaten. Ini sebenarnya ada keberatan tersendiri dari Pemkab. seharusnya sesuai ADD 43 Milyar harus diserahkan kepada desa. Arie Sujito : Ninuk-BPD Deli Serdang. alasannya 1) SDM tidak mampu. kalau ada uangnya ADD mereka menanganinya.5 Milyar. sehingga dapat memberikan semacam apresiasi terhadap masyarakat dan karakter masyarakat itu sendiri. sehingga ada kejelasan potensi. terkait dengan UU 32/2004 ada beberapa hal yang perlu kita sikapi bersama seperti ada beberapa UU yang baru itu menarik ke pusat dan posisi daripada BPD perlu memperoleh perhatian kita bersama. Ade-KDP World Bank. 4. dengan skala prioritas. Fasilitator Itu fenomena di Deli Serdang.00 3. Perda-perda dan perdes. Menggagas Desa Masa Depan 57 .00 – 13. karakter dan budaya setempat bisa masuk. kemudian ADD untuk apa?. mereka minta supaya ADD dapat dilaksanakan sendiri oleh orang desa. 3. Joana-World Bank. Adri Warsena-FPPD. Betapa ADD yang menjadi masa depan desa masih terbatas. mungkin kita harus menentukan kriteria kepala desa itu seperti apa. karena selama ini yang menjadi bendahara desa adalah kaur umum yang merangkap jabatan. Alit Asmara-Majelis Madya Gianyar. Abu-Persepsi. 2. Soekirman-Wakil Bupati Sergai. merujuk PP 72/2005. Sebelumnya kita melakukan pertemuan dengan beberapa desa. persoalannya mengapa ADD tidak bisa cepat dilaksankan? Saya pikir banyak kabupaten tidak rela menyerahkan uang sekian banyak. terkait juga dengan aspirasi masyarakat ketika perda atau perdes itu disusun. Sukoco-Kades Wiladeg.Hari/Tanggal : Senin. Di Deli Serdang baru dianggarkan 11. Bambang Hudayana 2. yaitu: 1. sehingga ini terkait dengan kewenangan desa. 5. Legitimasi pemerintahan desa ini perlu proses yang demokrasi. Syamsul-Bina Swagiri. yaitu digunakan untuk pembangunan fisik. Dahlia-PMD TTS. Kelompok: ADD (ALOKASI DANA DESA) Fasilitator Peserta : 1. ada 4 permasalahan yang kita perhatikan. Kamardi-Perekat Ombara. Fasilitator ADD menjadi harapan di desa. Kesiapan kelembagaan nanti menyangkut SDM yang ada. 3 Juli 2006 Pukul : 11. dalam kaitan ADD. sosialisasi dari kedua UU dan PP tidak sampai kepada kepala desa. Perencanaan di tingkat desa perlu dikelola melalui SDM di tingkat desa. maksudnya bendahara desa. Ninuk Kita di DPRD Deli Serdang sedang membuat Raperda yang saat ini sudah menjadi perda tentang ADD. Sumber pendapatan desa harus jelas apa-apa saja. Masukkan dari 4 desa yang kami lakukan. Kasmuin-CePAD.

Yang menjadi orientasi ke depan. Catatan lebih jauh. Efek ADD luar biasa. Dari teman Deli Serdang tadi ada ketidakrelaan pemerintah kota untuk memberikan porsi kepada desa. Kamardi Soal ADD itu selain perda mengawali kebijakan karena konsekwensi PP 72/2005 sudah dijelaskan ADD itu. kalau tidak ya tidak. bagaimana ADD itu mutlak kewenangan desa. sudah jelas bagian desa itu paling kecil 10% dari retribusi daerah dan ADD itu merupakan dana perimbanagn yang diberikan pusat kepada daerah. ada yang pakai peraturan Bupati.kemungkinannya adalah. maka akan memindah budaya korupsi di desa. Sukoco Ilustrasi di Gunung Kidul. Perlu disiapkan resolusi managemen konflik di desa 2. Menggagas Desa Masa Depan 58 . dia memandang bahwa kapasitas dan potensi desa belum siap. Disamping ada keuntungannya ADD juga ada sisi buruknya. Dana yang pertama itu 10 Milyar. Syamsul Kenapa kabupaten tidak iklas memberikan ADD. lha bagaimana mengelola itu? Bagaimana menyiapkan kelembagaan di desa itu? 1. 3. Jadi ADD itu benar-benar mutlak untuk desa. Alasan dari Bupati adalah untuk langkah awal dan nanti kedepannya tidak akan diatur. Mungkin juga faktor politik. yang harus diperjelas dalam perda itu bahwa itu harus dipisahkan dengan PAD atau APBD itu sendiri. kalau kami loyal maka dananya dapat turun. Fasilitator Jadi ADD itu bukan identik dengan pengembalian dana 10% yang berasal dari retribusi itu ya? Kamardi Ya bukan.Dukungan dan partisipasi dari masyarakat seperti apa. sehingga kalau ada ketentuan dari pusat maka mereka tidak dapat menolak. Ini yang selama itu belum jelas. faktor politik (karena tidak milih). termasuk juga dalam perencanaan dan juga kegiatan-kegiatan yang menyangkut desa. mestinya 23 Milyar. penduduk desa paling tidak mendapatkan bagian 10% dari retribusi daerah. yang mengatur kabupaten tapi hanya pedoman umum saja dan teknisnya diserahkan ke desa. misalnya perda yang mengatur sekian % dari APBD harus dilakukan untuk ADD. sehingga ada ketergantungan dari peraturan Bupati. memang nilai asli desa ada gotong royong. DAU yang dipotong anggaran rutin. jadi berbeda sumbernya. partisipasi dan lain sebaginya tapi di ayat b. ADD ini dimanfaatkan untuk pencalonan Bupati bahwa nanti desa akan dialokasikan dana. faktor APBD kabupaten belum siap. Maka ADD keluar dengan peraturan Bupati saja tapi aturannya sangat ketat sekali. kalau diukur dari PP masih jauh. ada yang tidak tapi tiba-tiba ada bimbingan teknis. Desa tidak ada otorita mengatur sendiri. karena di PP itu 2 hal yang dimandatkan. itu perda yang mengatur bukan hanya peraturan Bupati. setelah ADD jalan desa sudah hotmix. Saya sepakat dengan kawan dari Bali bahwa harus ada ketegasan hak dan wewenang yang harus dimilki oleh desa. dengan presentase sekian % untuk BPD. 1. maka dengan kesiapan ini kita dapat menuju kewenangan dan hak desa sehingga tidak ada alasan untuk tidak memberikan porsi itu kepada desa. Adanya regulasi yang tegas dan pro desa. Sepertinya itu masih terjadi. pembangunan dan lain-lain. kalau itu tidak disiapkan di desa. walaupun itu sudah dimentahi temen-teman lurah pada waktu itu. 2.

kalau rata maka 75 juta per desa. Kasmuin Ada semacam tindak lanjut saja. Sejak berpisah dari Deli Serdang. dananya harus memadai. Partisipasi masyarakat desa sangat turun. karena kecamatan memfasilitasinya dan yang paling mencolok adalah infrastruktur baik jalan desa maupun irigasi. lalu APBDes dan itu masih dilakukan oleh LSM. boleh memberi pedoman tapi tidak usah detail. Baru 10 bulan bupati dan wakil bupati hasil pemilihan langsung. mereka lebih percaya ke konsultan lokal. Ade Saya sependapat bahwa ADD diperlukan pengalaman selama ini. PMD. Fasilitator Penguatan bukan hanya pada aparat. PP 72/2005 harus dikuatkan dengan perda. di Ngada tidak terlalu percaya pengawas dari pemerintah. setiap tahapan harus dipertanggungjawabkan lebih dulu. Saya ingin menyampaikan bahwa ada 3 kebutuhan yang berbeda anatara di level desa dan kabupaten. karena tujuan ADD untuk mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa justru akan tertunda lebih jauh lagi karena banyaknya permasalahan yang muncul karena realisasi ADD dengan penguatan kapasitas itu. Disini juga ada tim pengawas. karena adanya fasilitator pendamping sehingga lebih tepat sasaran. porsinya tidak ditentukan. 10 % DAU maka harusnya 15 M. bertahap. Apakah kita perlu merumuskan dan mencari strategi untuk mendorong hambatan-hambatan mengapa ADD itu macet dilakukan daerah? misalnya kita mendorong class action apabila ADD tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Sebaiknya tidak ada pembatasan yang rigid. Proses pembuatan keputusan awal harus partisipatif. Di pemahaman tingkat kabupaten beda persepsi. Mekanisme pencairan dana cukup baik. 1. ada soal dengan kabupaten induk. karena orientasinya untuk diri mereka sendiri. sehingga menguntungkan pihak luar. tidak sama persepsi dan empati antara ketua Bappeda. PP 72/2005 di kabupaten. sehingga mereka bisa bikin pasar. yang seharusnya kabupaten induk memberikan kepada Serdai. di desa itu tidak ada Bandes. Contoh di Ngada. ADD tidak merata ke seluruh desa. kriterianya sangat banyak. Yang ditanyai Bandes. jalan dll. dan setiap desa memperoleh dana yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. yang jadi kebutuhan desa lagi itu adalah keputusan musbangdes. Sejak dahulu semua orang menghendaki supaya daerahnya mendapatkan sebesar-besar. Ada kecenderungan berbeda. dan baru menerima PP 72/2005. Menggagas Desa Masa Depan 59 . 3. karena akan menentukan besar kecilnya ADD kedepan. tidak ada mark up. tetapi hanya rambu. Honor kades. ADD seharusnya didahului RPJMDes. tapi juga pada masyarakat karena mereka punya kapasitas dan lebih mandiri. dan kabag hukum. Pembangunan sendiri belum. kemudian kami cetak dan dibagi ke semua kepala desa. Pembangunan oleh desa lebih efektif. Soekirman Sergai baru berjalan 2 tahun 6 bulan. itu sudah mendarah daging. hanya beberapa desa. Kalau ADD jalan dan proses perayuan dari pihak luar itu terus maka yang ada adalah pembunuhan terhadap inisiasi desa. Bupati mengakali 50 juta per desa. Betapa pentingnya kewenangan desa. kabupaten hanya memberi rambu-rambu saja. 2. Duit dari PKPS BBM itu seharusnya swakelola. saya sangat sepakat sekali antara realisasi ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa harus digarap bersama dan segera.Fasilitator ADD itu hak desa. rata-rata mereka mendapatkan sekitar 75 juta per desa. Yang baik itu PPK. kabupaten jangan terlalu mengatur penggunaan ADD. datang kontraktor di atas kertas swakelola. DPRD dan lain-lain.

3. Elemen di desa perlu mendapatkan penguatan untuk bersama-sama mendorong elemen di desa melek APBD dan APBDes. tentang ADD mengenai minimum yang harus disediakan desa. Perlunya needs assesment di desa. tapi belum ada pengalaman yang itu diinisiasi oleh masyarakat sendiri. perlu komitmen di tingkat nasional. sehingga dapat dijadikan bahan untuk pembuatan kebijakan bagi Depdagri. bagaimana mengaturnya? Karena itu kita juga harus mengetahui bahwa itu adalah uang hasil dari hutang. tujuan sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dana pemberdayaan. Menggagas Desa Masa Depan 60 . Arah pembangunan ke 5 sasaran. semua anggaran dari luar harus masuk APBDes sehingga ada pertanggungjawaban dilevel desa. Ekonomi kerakyatan. Di desa itu banyak uang. Sumber Daya Alam. Pedoman level pusat belum ada regulasi. Bagaimana kita melakukan penguatan. kabupaten hanya memberi acuan saja. Abu Dari pengalaman kami di Klaten untuk mengawal ADD di tingkat kabupaten tidak cukup pemdes dan kades. Inilah yang kita pilih dan kita prioritaskan.Fasilitator Jadi skenarionya. Ada satu masalah ditingkat nasional dengan adanya intervensi PP 72/2005. misalnya best bracticenya diungkap disini. tapi kalau di Nagari ada dana bagi hasil yang besarnya 35%. 5. Perlu komitmen yang lebih di tingkat nasional. DAKN. 10% dari APBD. Datu ADD itu kalau di Jawa tapi kalau di Sumatra Barat namanya DAUN. sasarannya kepada aparat dan masyarakat desa? Swakelola itu saya sepakat. Dan kalau itu tidak berhasil maka kami akan melakukan penguatan terhadap masyarakat diluar kecamatan untuk melaksanakan pengawasan apapun proyek didesa. Instrumen akan sangat berharga. Yang perlu kita minta pertama adalah komitmen kabupaten. sudah jelas di PP konsekwensi logisnya kalau ada urusan di desa. Jadi mestinya uang itu mengikuti fungsi-fungsi yang ada. Joana ADD adalah hak desa yang diterima untuk mengurus kepentingan diri sendiri. kalau tidak ya ada batas minimum. Tumpak Menurut kami dengan adanya ADD kita perlu cermati 2 hal yaitu: 1. 2. Instrumen apa yang kita gunakan untuk mengatur ADD itu. Fasilitator Saya ada info dari Pak Girsang bahwa ketika mensosialisasikan ADD. Kalau melihat dari 10% itu tidak cukup. urusan ini mesti ada fungsi dan juga anggarannya. selanjutnya pengalokasiannya bagaimana? Mungkin ada contoh dari beberapa kawan. sekarang ada juga ADD dari Provinsi. yaitu : 1. 4. masih perlu dukungan masyarakat. perlu prinsip keadilan di tingkat wilayah. Untuk daerah miskin perlu jumlah minimum yang perlu disediakan desa dan kalau itu masih kurang mungkin dapat di ambilkan dari APBN. ADD itu harus diintegrasikan kedalam APBDes. Sekarang ini kita juga mendapat mandat untuk memonitor PPK berbasis masyarakat tetapi skenario bagaimana setelah itu kita tidak tahu. Perlu ada intervensi dari pusat supaya daerah tidak gamang melaksanakan ini. Instrumen kebijakan. Pembangunan infrastruktur. 2. yang itu berasal dari kabupaten. Pembangunan kemasyarakatan. Peningkatan SDM. apakah sesuai dengan perda atau yang lainnya.

Jito (Fasilitator 2) Kita sudah petakan dari sejumlah pengalaman praktis bapak ibu semuanya. tetapi ini sudah menjadi kebijakan yang sifatnya daerah. b. keterbatasan PAD. Indikatornya: a. 4. Sumber pendapatan desa belum jelas. Fasilitator Ada beberapa catatan penting yang dapat kita tarik dari diskusi ini. untuk catatan ADD bukan lagi kebijakan populis Bupati. Masalah. Ada semacam keyakinan ADD itu membawa perubahan di desa. jadi bukan SE Bupati tapi sudah menjadi perda. Itu dikarenakan adanya PP. sebaiknya ini adalah bagian penting yang segera untuk diintervensi. Ada 3 kapasitas potensial desa yang belum siap. atau perlu dibuat peraturan-peraturan yang dapat lebih manjamin ADD bisa membuat perubahan-perubahan. Dari 10 juta menjadi 98-100 juta. maka dibutuhkan untuk mempersiapkan sistem pengelolaan ADD. Pentingnya terintegrasinya ADD dengan program lain yang masuk ke desa. 6. sehingga dapat independen. Ada trend kepedulian yang semakin meningkat di level daerah tentang pentingnya ADD sebagai haknya untuk menjalankan pemerintahannya. 6. forum tidak menghendaki tidak terlalu rigid. 1. akan tetapi daerah masih setengah hati. walaupun itu difasilitasi oleh negara. bagaimana ADD itu diserahkan ke desa. Jadi perlu ada petunjuk teknis dari pusat yang hanya berisi pokok-pokoknya saja dan untuk detailnya menyesuaikan di daerah. 5. Akses informasi masyarakat untuk mengetahui PP masih sangat terbatas. Karena kami sadar keterbatasn SDM yang ada di desa. Perlu juga dibentuk lembaga penguatan masyarakat yang partisipatif dan itu bentukkan dari masyarakat sendiri bukan dari pemerintah. Perlu ada intervensi positif agar proses tidak berhenti di tengah jalan. maka desalah yang perlu mendetailkannya. sekarang sudah ditetapkan tetapi sampai sekarang belum ada apa-apa. bukan kami tidak percaya tapi sampai sekarang ini belum diapa-apakan. 4. karena komitmen 10% kami hanya mendapatkan 7%. kurang serius menjalankan kebijakan ADD yang benar-benar dapat menjawab masalah yang dihadapi oleh desa yang menjadi kebutuhan desa. masalah politik 5. dalam bentuk block grant. Pemda berhenti membuat perda. supaya desa itu merasa memiliki atas policy. Problem manipulasi atau KKN atas pengelolaan ADD. 3. Menggagas Desa Masa Depan 61 . Fungsi dari pemerintah kabupaten atau pusat untuk memberikan dead line yang bersifat umum. Oleh karena itu perlu didorong langkah-langkah oleh semua komponen di desa. Catatan juga dari kami bahwa : 1. Bagaimana memperkuat ADD di level daerah supaya prosesnya lebih cepat. SE Mendagri dan peraturan yang ada. mekanisme pengucurannya seperti apa ? 2. 3. Jadi harus ada mekanisme kelembagaan. sehingga jumlahnya masih kecil. nanti akan kita buatkan petanya dan buat kesimpulannya. Satu hal yang penting dan relevan dengan apa yang kita bincangkan antara pusat dan daerah belum connect. Kewenangan kabupaten itu sampai detail apa tidak.Dahlia Saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan dan hanya akan menambahkan bahwa yang terjadi di kabupaten TTS ADD belum pernah ada. Kabupaten enggan untuk ADD 2. sehingga dapat dipertanggungjawabkan. 7. Pemda belum berani memberikan komitmen 10% yang menjadi semacam tolak ukurnya.

pembagunan. Dalam UU 32/2004 yang khusus bicara tentang keuangan desa yaitu pasal 213 tentang BUMDes menyebutkan: ayat (1) Desa dapat mendirikan BUMDes sesuai kebutuhan dan potensi desa. (3) BUMDes menjadi milik desa dapat melakukan aktivitas pinjaman sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pengalaman-pengalaman praktis.ASPPUK 2. Susmanto-FPPD/LGSP. Edward Lubis-YIPD Jakarta. profesional (harus dikelola dengan betul-betul). Kenapa dibatasi BUMDes? karena topiknya keuangan dan ekonomi desa. aktivitasnya.7. baik untuk mikro finance maupun BUMDes. Sunarti-Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Untoro-PMD. tadi sudah disampaikan oleh pak Dony). Kenapa tidak yang ruang lingkupnya lebih luas misalnya pendapatan desa? kalau BUMDes ruang lingkupnya terlalu kecil. (2) BUMDes sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-undangan (Bagaimana peraturan perundangundangan PP 72/2005. Widya PujiFPPM. bagaimana posisi dan bagaimana pengelolaannya? Ada prinsipprinsip yang harus dipenuhi dalam pengelolaan keuangan desa diantaranya adalah prinsip pemanfaatan karena dari manapun dan seperti apapun pengelolaan keuangan desa harus diorientasikan pemanfaatannya bagi masyarakat. pikiran dan pengalaman bapak/ibu tentang BUMDes. apa keuangan desa. Erni-FPPD. kita eksplorasi pandangan. yang didalamnya termasuk aktivitas mikro finance. Ada 4 penerima manfaat yang harus diperhatikan. Tadi pak Maryunani mengantarkan pada kita. Yuni Pristiwati . Sebelum mengerucut. M. Suharman-PSPK UGM. Toto Suharyana-BPMKS Sumedang. Empat prinsip ini paling tidak yang menjadi patokan kita bagaimana memberikan gagasan pada pengembangan keuangan desa. usaha kecil. 8. Yusuf-Sajogyo Sains. Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDes Fasilitator Peserta : 1. 4. Edward Kenapa BUMDes dan mikro finance? karena kita ketahui bahwa BUMDes adalah salah satu jenis pendapatan di desa. Tidak perlu ADD itu rigid meskipun kontrol sangat perlu dilakukan agar penggunaan ADD benar-benar sesuai dengan yang diharapkan. Stefan Jansen-GTZ Pro FI. problematikanya. Firsty Husbany-DRSP. Silahkan. kejelasan wewenang dan peran (pengelola dan kepala desa). dan apa cerita suksesnya (apa faktor masalah dan faktor pendukung). dan bagi pemerintah itu sendiri. Transparansi. Dony-DPRD Sumedang. Diskusi ini diharapkan bisa mempertajam pasal-pasal yang sudah ada disitu. keberlajutan. Kita bisa mulai dengan mengeksplorasi pengalaman saat ini. peserta memperkenalkan jati dirinya. Sofyan-Akatiga. Fasilitator Kita mengingat kembali apa yang telah dibahas. 9. yaitu prinsip transparansi. Barori-STPMD “APMD”. Agus R Rahman-LIPI. Perkenalan Untuk lebih mengakrabkan suasana. Sumarjono – STPMD “APMD” : Adnan-LP3ES. Apakah mikro finance nanti akan cenderung atau pengelolaannya diarahkan ke BUMDes? Menggagas Desa Masa Depan 62 .

Dimana mikro kredit ini salah satu aktivitasnya usahanya adalah BUMDes. Tambahan modal itu bisa merupakan kredit. Kita kembali pada topik yang akan dibahas. bagaimana menggali sumber-sumber pendapatan asli desa? Saya mengusulkan forum ini juga seperti itu. merdeka. sistem kelembagaanya sehat. Tentu saja forum ini nanti akan memberikan gagasan.Fasilitator Topik mikro kredit dan BUMDes. kita bicara tentang keuangan desa lebih luas dan kita bicara pengelolaan keuangan desa pada dua level yaitu yang berkaitan dengan desentralisasi fiscal (ADD) dan didalam bagaimana kita mengelola keuangan desa. micro finance yang saya buka ini dalam rangka untuk menangkal rentenir-rentenir di pasar sekitar. Menggagas Desa Masa Depan 63 . Barori Pak Lubis juga benar. sehingga ketika bicara micro finance tidak boleh lepas dari bicara konteks ekonomi secara lebih luas. sedangkan masyarakat mempunyai keterbatasan dalam mengakses teknologi. tunggakan kecil kalau itu menjadi indikatornya. Kita tidak dikungkung dengan dua topic ini. Bicara tentang ekonomi desa salah satu indikatornya adalah ketika desa itu mampu membiayai kegiatankegiatan pemerintahan. Salah satu dalam pasal itu. Kenapa? Karena ternyata uang yang dipakai disini untuk membayar cicilan disana. Paling tidak dari arahan SC/panitia tidak diarahkan kesana. Kegiatan produksi bagian dari kegiatan ekonomi pedesaan yang selama ini ada. maka dibutuhkan lembaga keuangan yang kuat. Teman saya di Minomartani membuka koperasi simpan pinjam diantara warga perumahan di sekitar Jogja. belum dalam konteks yang lebih positif. Micro finance menurut pandangan saya. Teknologi itu mahal. Tantangan kedepan adalah produk desa. tetapi pembicaraan kita adalah keuangan desa dan salah satu topiknya BUMDes. tetapi tidak apaapa kalau kita sepakat. alternatifnya bagaimana keuangan bisa dikelola. saya sudah buat seperti ini tetapi rentenir (pelepas uang) masih banyak berkeliaran. dst. dari segi system micro finance itu sehat. semakin banyak akses kepada uang semakin senang. Artinya. omsetnya sudah sampai 2 milyar lebih (dalam satu kecamatan di Minomartani). juga merespon apa yang telah disampaikan narasumber. Oleh karena itu lembaga keuangan yang akan dibentuk tidak bisa berdiri sendiri sebagai lembaga keuangan. wawasan pengalaman tentang dua hal seperti itu. “kuasai teknologi pasca panennya kemudian kita bicara proses usaha taninya”. dia tidak bisa membeli teknologi itu maka dia butuh tambahan modal. Dalam konteks desa yang kita lihat selama ini. Ketika desa membiayai sendiri. Jika disepakati. Dalam konteks itu micro finance bicara disitu. tetapi topic besarnya kita bicara tentang keuangan desa. Karena dibutuhkan tambahan modal. Oleh karena itu lembaga perkreditan dibutuhkan di desa dalam rangka mendukung produk yang berkualitas dan syarat dengan teknologi. tetapi yang lebih penting adalah tantangan ke depan. itu otonom. dimana salah satunya melalui BUMDes dan mikro kredit. kita tidak boleh lupa bahwa keuangan itu basisnya produksi. bargaining posititionnya kuat. Jadi uang itu muter. Ketika bicara keuangan desa. Lembaga keuangan yang ada selama ini seperti apa? Micro finance yang kita lihat selama ini sudah banyak di desa. produk skala umum. pembangunan dan kemasyarakatannya. adalah sebuah supporting system dalam sebuah perekonomian. Dia punya idealisasi. Komentar saya. tetapi biar pembahasan tidak terlalu melebar. mestinya produk yang kompetitif yang sarat dengan teknologi. Bahkan ada yang berpendapat bahwa paradigma pembangunan dibalik. Apakah pada skala individu yang memanfaatkan jasa micro finance juga meningkat kesejahteraan dan pendapatannya? Penelitian intensif tentang indivisuindividu sebagai nasabah utama belum dilakukan. ini dimaksudkan supaya lebih focus. Persoalannya. masyarakat sekarang ini justru senang. Turunan dari topik yang dibahas disana tadi adalah bahasan tentang micro finance dan ada mandat dari UU 32/2004 atau PP 72/2005 yang kemungkinan dibentuk BUMDes di tingkat desa. Bicara mengenai keuangan desa tentu saja ruang lingkupnya cukup luas.

Kita harus memperhatikan yang seperti ini. Dan untuk Perda itu dapat disusun. Ini yang disebut dengan pemberdayaan yang total. dan apa yang kita bicarakan disini kerangkanya tidak lepas dari apa yang tadi dibicarakan. pembentukan dan pengelolaan badan usaha di desa. Diskusi seperti ini sudah cukup lama. Sehingga yang namanya perlindungan terhadap petani/masyarakat kecil/pelaku ekonomi kita kelihatannya setengah hati. Kita perlu pengawasan eksternal. jangan sampai seperti sekarang. jangan sampai dia melunasi hutangnya bukan karena berdasarkan nilai tambah yang dia peroleh dari aktivitas ekonominya tetapi dari menjual aset-aset produksi sekedar untuk melunasi hutangnya. Nanti kita bisa mendengar pendapat dari bapak-bapak. produksi dilepaskan. Stefan Saya usul. apakah peran bank BPD menjadi penting didalam manajement BUMDes atau mungkin Bawasda atau ouditor publik ? atau mungkin tidak perlu karena bank BPD dimasa depan di desa menjadi lebih kuat akuntabilitasnya. tidak dalam sektor keuangan di desa. Keterkaitan BUMDes dangan mikro kredit. dan BRI hanya bisa mengejar untuk melunasi hutangnya. pembiayaan sampai pemasaran. Sebenarnya dalam PP tetang desa sudah lebih focus lagi. mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama bisa dikeluarkan sehingga pada saat daerah menyusun perda dapat digunakan. Micro finance dan BUMDes. beli bibitnya ke lembaga kredit (BRI). Dalam peraturan perundangundangan yang dimaksud disitu adalah Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pedoman tata cara. Sidoarjo. secara garis besar lembaga kuangan desa harus integrated. Kami mereka-reka. meminjam untuk tujuan investasi atau working capital apa saja. memang dari sisi keuangan menjadi sustainable. Untoro Tanpa membatasi pembicaraan. Kita memang berfokus pada BUMDes. Fungsi lembaga keuangan mikro terutama melakukan intermediasi keuangan di desa. memang dua hal ini sangat erat. Artinya ini sebuah boot yang mengakomodasi pelaku-pelaku ekonomi dalam melaksanakan produksi. bagaimana sebetulnya institutional rised membentuk kelembagaan ekonomi yang betul-betul komperhensif. kalau kita bicara keuangan desa memang sangat luas. lebih luas daripada kredit. baik bagi orang yang mau menabung. karena proses mengatur BUMDes sudah cukup maju. tetapi ketika sudah panen diserahkan kepada pasar bebas. Ini awal untuk memancing diskusi lebih lanjut. pasal 7881…. Ini beberapa point yang bisa menciptakan resiko untuk BUMDes. karena pendekatannya efisiensi. apakah mnicro finance tergantung juga pada roda perekonomian yang ada. Ke depan. Tawaran untuk diskusi awal. Pada saat panen PPL sembunyi. dia harus bersaing disana. kita focus ke sektor keuangan di desa. apakah namanya sustainable rural banking (dari kacamata teritoritik)? Kenapa sustainable rural banking ? karena hidup matinya (sustainable) bank. Kita bisa belajar. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Ketika petani bicara masalah teknis budidaya pertanian datangnya ke PPL. karena cukup luas kalau kita lihat tantangan di sector riel. sekarang di banyak daerah terutama di Jatim (Trenggalek. dll). sudah ada Permendagri. dan kita punya banyak anggota yang consent tentang itu. secara teknis harus untung (saved uang). pokoknya uangannya kembali. Artinya kelembagaan ekonomi mikro/keuangan desa menjadi untungnya sendiri. Tetapi kita harus hati-hati kalau kita menerimakan kepada sustainability. saat ini Dirjen PMD sedang mempersiapkan peraturan mendagri. tahun 80-an ada buku besar dari PSPK tentang Perkreditan Rakyat (almr Mubyarto dan Gunawan Sumodiningrat) mempertemuankan antara pendekatan efisiensi dan pendekatan efektivitas.petani/pelaku ekonomi di desa ada didalam berbagai macam “pembinaan”. BUMDes dengan usaha simpan pinjam dan omsetnya sudah Menggagas Desa Masa Depan 64 . keuangan dari sisi pemerintahan desa. Jasa ini penting. tidak setengah-setengah. Kita dasarnya adalah pasal 213 UU 32/2004. sampai tingkat pasar dilepas. karana BUMDes mempunyai potensi untuk menutup kesenjangan supplaydemand di tingkat desa.

kalau kita langsung mengenalkan BUMDesa. Yang dapat dimasukkan oleh kami ke BUMDes adalah unit simpan pinjam. baru dari APBDes masuk ke BUMDes. manakala go public pihak perbankan belum merespon. ATK). tapi setelah jalan menjadi pinjam simpan. Kenapa harus BUMDes? Karena untuk menjawab permasalahan. bahkan bantuan gubernur (tugas pembantuan) diakses. seperti usaha simpan pinjam. lumbung desa. sebab lebih dulu praktek dimasyarakat daripada peraturan. Kemudian untuk pemuda (karang taruna) untuk penagihan rekening air dan listrik dipayungi oleh BUMDes. nanti partial-partial yang ada di masyarakat bisa bubar. Bahkan dana perimbangan desa (ADD) ujinya di Sumedang. Status badan hukumnya masih PERDES. Itu merupakan salah satu unit usaha BUMDes di desa. apalagi di pedesaan. dari aspek legal dianggap tidak ada karena payung hukumnya tidak ada. banyak pinjamnya. sementara Perda turun belakangan. Ini harus kita ingat supaya tidak campur aduk. dan usaha lain seperti persewaan hand traktor. Keuangan desa dikelola melalui APBDes. BUMDes itu harus dengan Perdes tetapi tidak bisa berhubungan dengan lembaga perbankan karena harus ada akte notaris. dari yang telah kami praktekkan kami mencoba mengumpulkan lembaga-lembaga keuangan yang ada di desa cecara partial. Sesudah Perdes jadi dan BUMDes sudah jalan. karena BUMDes aturannya/payung hukumnya turun belakangan. Kami menyikapi bahwa untuk keuangan desa tidak sama dengan BUMDes. Jadi tidak serta merta keuangan itu masuk ke BUMDes. tinggal di akta notariskan. UEP PKK. sama yang kami buat. tetapi ADD itu masuk dulu ke APBDes di desa. Dengan regulasi kebijakan dari atas dapat diarahkan ke sana. bagaimana aturan dengan praktek yang sudah ada. mau beli lagi tetapi karena uang kurang maka harus pinjam ke bank. Kami mencoba mengangkat dari partial-partial yang ada karena di desa paling tidak ada >5 lembaga-lembaga ekonomi desa yang bisa dipayungi BUMDes. Padahal Perdes itu aturan hukum desa. yang boleh menghimpun dana masyarakat itu hanya bank atau harus berbentuk koperasi.000. rekening dari masyarakat dilebihkan 1. Galian pasir (galian C) juga dikelola oleh BUMDes. Disepakati. Jadi kita mengadopsi. Dengan itu maka Menggagas Desa Masa Depan 65 . Dari ADD disisihkan harus ada untuk modal BUMDes. dari APBDes ke BUMDes. bahkan kalau sudah jalan. diangkat menjadi pengurus BUMDes.besar. dan warung nasi. sehingga ekonomi yang tumbuh di desa itu sudah ada. kedudukannya sama dengan UU. BUMDes bisa menjadi PAD desa. UEP PPK. Setelah terbentuknya BUMDes. Ada aturan BUMDes. tetapi ini belum dipayungi oleh BUMDes. Toto Kami akan memberikan gambaran apa yang telah kami lakukan di Sumedang. jarang yang simpan. ada yang sudah berjalan. Permasalahan. satu desa ada 60 juta. pertokoan (fotocopy. Ini usaha-usaha BUMDes baik yang sedang kami rintis. Tadi disampaikan bahwa justru BUMDes ini yang jumlahnya puluhan ribu yang non bank dan non koperasi. Oleh karena itu. Pelaksanaan di kabupaten Sumedang. kalau lembagalembaga keuangan yang ada di pedesaan. dimana pembentukan BUMDes kami ambil dari partial-partial yang terbaik. harus ada akta notaris. Depdagri sedang konsen pada BUMDes. Contoh ada yang beli trakor dan laku disewakan. (aktivitas sudah jalan tetapi payung hukumnya belum ada). Tetapi manakala disodorkan ke bank tidak akui. NOleh karena itu nanti setelah terbentuk di Perdes. tapi satu sama lain saling mengkait. seperti ADD (di Sumedang disebut DADU: Dana Alokasi Desa Umum). dan ada yang masih dalam perjalanan. Lumbung desa juga merupakan salah satu unit usaha BUMDes. sedangkan keputusan bupati turun th 2003. dan khusus untuk lembaga keuangan mikro bulan Oktober 2006 akan dikeluarkan Peraturan Presiden tentang kebijakan nasional mengenai keuangan mokro untuk melindungi lembaga keuangan mikro yang nyata-nyata bisa menghadapi pelepas uang dan jumlahnya banyak untuk bisa beroperasional tanpa dianggap illegal.

Kita juga harus lihat ini. dll. maka dia tidak bisa menabung. rencana pembangunan gudang ini kemudian diprotes oleh warga. Kenapa control desa terhadap tanah/petani hanya sebatas persoalan bagaimana caranya agar tanah ini bisa menghasilkan pendapatan untuk desa. misalnya di desa ada mekanisme lelang tanah kas desa. dan saya pribadi setuju. puskesmas. Ada pengalaman saya. Apalagi adanya keharusan aturan dalam BUMDes bahwa yang melakukan usaha harus berbadan hukum. bagaimana usaha-usaha seperti ini yang tidak berbadan hukum bisa memperoleh akses kredit? Juga usaha yang dilakukan desa. sementara kepala desa berpikiran bahwa itu keuntungannya masuk desa. Sebenarnya fokus (tujuan) dari awalnya adalah untuk penanggulangan/ pengentasan kemiskinan. kalau di desa petani (pertanian) terjadi pelemahan nilai tukar produk pertanian terhadap produk industri. Widya Ada tanah kas desa yang dipakai dengan tujuan kembali ke masyarakat. hal ini sebenarnya bisa untuk BUMDes. bahwa melihat tujuan micro finance sebagai intermediary tabungan dan kredit. saya pribadi mengharapkan juga politik keberpihakan yang jelas pada petani. Jangan sampai nanti BUMDesnya berkembang dan yang menikmati hanya elit-elit desa saja. hampir tiap masa ada kelemahan nilai tukar terhadap industri. Kalau di pertanian jelas. bukan hanya kebijakan. di satu desa yang kepala desanya punya inisiatif membangun suatu gudang untuk menampung hasil bumi warga desanya. Dalam diskusi ini. maka saya penekanannya pada tabungan. tanpa ada kontribusi kepada masyarakat/warga desa. Oleh karena itu kalau akan dikembangkan micro finance harus didasari/diimbangi dengan politik keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan petani yang kehilangan nilai tukar. tetapi dengan pertimbangan. Masalah micro finance secara riel ini bagus sekali. kenapa orang di desa sulit mendapatkan usaha? Salah satunya kurang mendapatkan akses kredit. gagasan intermediary untuk menciptakan tabungan dan kredit di desa mustahil. Kalau kondisi petani yang terus mengalami nilai tukar produknya selalu melemah. 53 juta/tahun). tetapi ini tidak dimengerti oleh warganya. Tanpa itu. tidak haya aturan teknis saja. tetapi imbas (pemasukan) ke desa tidak pernah ada. warga punya pandangan bahwa kepala desa bisa mengontrol itu untuk kepentingan pribadinya. Mungkin ini control. Fasilitator Kalau kita bicara BUMDes. Agus Dalam hal BUMDes. walaupun usaha seperti ini sudah banyak. Ada 12. Selama ini banyak tanah-tanah kas desa yang dipakai oleh pemerintah pusat seperti untuk kantor polisi. Tadi dikatakan lumbung desa juga bisa menjadi badan usaha BUMDes. Maksud saya. sehingga pemiskinan akan terus berlangsung. ini tentu akan sulit. Bagaimana tanah yang dipakai itu dapat memberikan kontribusi pada desa? Menggagas Desa Masa Depan 66 . ada mekanisme control dan orientasi kemanfaat pada masyarakat juga menjadi pertimbangan. Apakah betul di desa sudah mampu untuk menabung? Ini masalah. Kalau petani tidak mau mengubahnya. maka tanahnya diambil. Persoalannya. Sofyan Persoalan. sekolah. karena gudang yang dibangun diatas tanah kas desa. tidak ada lagi persoalan belas kasih sosial desa terhadap petani.ada peningkatan pelayanan masyarakat.5 ha tanah kas desa yang didistribusikan kepada petani (hasilnya sekitar Rp. Ada keberpihakan politik yang melindungi nilai tukar. saya mewanti-wanti bahwa kepemilikan BUMDes ini hanya elit desa (kepala desa dan aparat desa) saja. Usaha-usaha di desa dilakukan tanpa harus berbadan hukum. tidak semata-mata orientasi bisnis.

Ini yang perlu dipertahankan (jenis usahanya). Hasil studi dari Bank Dunia membuktikan bahwa dengan memberikan pendidikan pada perempuan (meningkatkan pendidikannya dari SD—SMA) dapat meningkatkan 0. Apakah dengan BUMDes. Contohnya di seminar 2 hari ini. karena sepertinya yang bicara desa itu hanya Depdagri sementara departemen yang lain tidak pernah melakukan affirmative terhadap desa. pada sisi lain ada harapan kita apa yang seharusnya. harus ada skema khusus untuk kebutuhan-kebutuhan perempuan agar bisa memberikan nilai tambah. harus lebih jelas. juga soal tanah-tanah mati sehingga jangan salahkan orang Indramayu menjadi PSK di Jakarta. sudah harus menyangkut pada politik perUUan yang lebih konkrit terhadap desa. ya tunggu 15 tahun lagi Negara kita ini sudah selesai. Belajar dari pengalaman itu. kalau itu dikaitkan dengan micro finance bagi salah satu usaha BUMDes. jadi tidak hanya di formal saja tetapi juga non formal. misalnya soal pupuk. tidak dari daerah. kita sepakat tidak ingin menjadikan desa sebagai objek. Tidak usah bicara partisipasi. untuk apa? Tetap saja petani mati. (bagaimana akses perempuan) Fasilitator Saya menegaskan bahwa. karena ada problem seperti ini. atau mereka (di desa) yang bahkan tidak punya KTP. jangan sampai ada penyeragaman. semuanya harus affirmative. Studi LP3ES sekitar 10 th yll (dipimpin pak Dawam). artinya harus ada perhatian khusus terhadap perempuan. 70% dikuasi elit desa. apakah mereka menjadi objek atau subjek? Bagaimana kita menyikapinya? Skema kredit. termasuk skema kreditnya. Sebenarnya perempuan itu terbukti bahwa pengembalian kredit itu rajin (kemacetan 99%). Kalau tidak. apakah desa terutama masyarakat desa menjadi pemasaran produk-produk termasuk produk perbankan ? Dalam kegiatan ini. Pengalaman ini sudah ada dimana-mana. bahwa di lapangan 60% pelaku usaha mikro kecil itu perempuan tetapi mereka kesulitan dalam mengakases kredit. tetapi bagaimana menyikapi BUMDes sehingga bisa sesuai dengan realitanya. menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap pengambilan keputusan di desa. Otomatis mereka yang tidak punya KTP tidak bisa punya akses ke bank. 60% desa-desa di Jawa (Indramayu hanya 10% yang mengambil keputusan di desa itu) termasuk soal ekonomi. dimana agunan itu banyak dimiliki laki-laki. bagaimana kebijakan subsidi pupuk? Lebih parah lagi. masing-masing mempunyai institusi sendiri. UU Koperasi tidak ada yang menyentuh sampai ke masyarakat desa. Adnan Negara ini tidak sekedar memproteksi desa tetapi harus affirmative action sudah saatnya dilakukan.Mengenai BUMDes. saya lihat petani juga semakin parah. Jangan-jangan yang kita diskusikan ini apa yang sebenarnya menguntungkan elit desa. termasuk dari BPR pun atau MF yang paling kecil sekalipun selalu ada persyaratanpersyaratan yang sangat sulit diakses terutama oleh kaum perempuan. Usulan. paling tidak ada suatu realita yang kita harapkan. (terjadinya dept capital). kearifan desa disana. mungkin karena untuk mendapatkan kredit harus ada agunan. saya lebih sepakat kalau kita kembalikan pada kearifan local contoh kasus di Sumedang. Sunarti Menyoroti dari sisi perempuan. kembalikan saja ke masyarakat karena mereka yang lebih tahu tentang kondisinya daripada kita. Misalnya kasus UU Perbankan. Firsty Kita ada di 2 kutub yang sangat berlawanan. petani kita hancur. tetapi departemen lainnya pro liberalisasi pasar.03% GNP. saya kira Indonesia sudah makmur. kalau pupuk di lepas dipasar bebas. bagaimana menjembataninya? Menggagas Desa Masa Depan 67 . apapun bentuknya. Semua ini pendekatan insidental. Walaupun Depdagrinya jungkir balik. BUMDes itu sesuatu yang bagus.

kenapa Pemda Ngawi tidak gunakan BUMDes untuk mengatur micro finance di desa? Ini menarik untuk coba diaplikasikan. Justru kami akan menggunakan instrument itu sebagai sodoran. saya menulis “Bupati versus rentenir”. bagaimana seorang penggilingan beras bisa mendatangkan poliklinik dari luar untuk buka prakatek di sini. bukan sebaliknya menjadi instrumen pengisap kekayaan.000. kami sudah meneliti tentang rentenir sampai saya mengkritisi kebijakan bupati Bantul. afirmatifnya seperti apa?. jalan tidak? Indonesia itu tidak hanya Jawa. harus kita lihat kemampuan desa menjalankan BUMDes. jangan sampai itu hanya urusannya PMD. Itu nanti justru akan menjadi konflik. Saya berpikir. yang nanti akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia itu bukan hanya orang yang bisa membagian beras. karena terbukti (dari LP3ES) bahwa yang menguasai perekonomian desa hanyalah segelintir orang. bagaimana di daerah lain (Kalimantan)? Apakah mereka sudah mampu untuk mengalami proses monoterisasi. Bagaimana “bank” menurunkan kadar formalitasnya mendekati pola-pola rentenir? “kalau rentenirnya masuk angin. ada seorang ibu yang membuka penggilingan gabah di kecamatan Pleret. ini tidak pas. dia punya cukup banyak beras dan dibagikan ke petani tetangganya. dan betul-betul menjadi bagian dari supra ekonomi desa. bahwa nanti akan ada Perda. Kita coba memakai kelompok tani hutan. Jadi sistem ekonomi kerakyatan ini yang harus kita kawal. tiap desa harus muncul BUMDes. Menggagas Desa Masa Depan 68 . Kasus yang menarik. dia jalan menggunakan mekanisme bank. Saya menggarisbawahi bahwa: (1) jangan sampai BUMDes itu justru menjadi instrument bagi capital besar yang menghisap desa dan (2) BUMDes jangan sampai menjadi sebuah instruksi yang wajib dialkukan di tingkat desa tanpa ada kegiatan yang riel di masyarakat itu. tetapi tetangganya itu ditanya “apakah beras itu sudah sampai?” Dan mereka tersinggung. BUMDes jangan sampai menjadi instrument/kapitalisme di desa yang akan memporakporandakan tatanan di bawah. silahkan gratis. belum terselesaikan. Nanti hutan di Jawa juga habis karena kita tidak bisa mengelola ekonomi desa hutan. Kami berani menjamin bahwa itu pasti akan ada banyak ganjalan. bukan dipaksakan muncul. Mekanisme/trust seperti apa yang dibangun oleh rentenir sehingga mereka membangun jariangan cukup kuat? PSPK dengan Pemda Ngawai sedang membangun kerjasama untuk mencari pola-pola dasar (skim) dari micro finance. Karena dulu surat Mentri Kehutanan berkali-kali ganti sampai sekarang tidak ada kepastian tentang itu. Persoalan tentang micro finance. Saya sepakat dengan teman-teman bahwa jangan sampai kita nanti menjadi paket kebijakan. nanti kembali sekian”.Jenis usaha. Kerangkanya harus ekonomi kerakyatan. Bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada didesanya untuk menjadi usaha itu terhalang oleh aturan-aturan sektoral yang lain. Unit usaha BUMDes harus yang realitas muncul. 10. Kenapa? karena bupati menggunakan bank pasar (beroperasi pada level pasar-pasar desa). Ini kan lintah darat yang sangat manusiawi. dan ternyata kendalanya sama yaitu persoalan landasan hukum. Kemudian si ibu mendatangkan poliklinik di rumahnya. ini cukup Rp. Suharman Saya merespon tentang BUMDes dengan membandingkan kita dulu pernah punya KUD. cukup “kamu jualan disitu. mana yang kira-kira pas? Seperti yang disampaikan mas Untoro. tetapi rentenir tidak membutuhkan itu. Masih ada PR-PR bahwa dari tingkat nasional sampai ke desa yang sampai sekarang masih menjadi problematic. tetapi juga bisa mendatangkan poliklinik. dikerokin juga sama yang ngutangi!”. misalUU kehutanan. karena nanti yang terjadi hanya papan nama saja. Kalau nanti BUMDes masuk harus dibungkas dalam sebuah proses. Tentang kehutanan. 2 tahun terakhir saya bergulat dengan petani hutan dan desa-desa yang mengepung hutan itu miskinnya luar biasa sehingga mereka menjarah hutan. perlu ada koordinasi dengan sector-sektor yang lain. siapa mau berobat. Karena selama ini dana yang dikucurkan dari atas sampai ke bawah variasinya sangat luar biasa. sehingga dikembalikan. bagaimana memperlakukan uang sebagai pelaku bukan object? Itu yang harus kita perhatikan.

kabupaten (melalui bupati) harus mengalokasikan dananya (berapa % dari APBD) untuk pengembangan ekonomi yang dialokasikan untuk modal BUMDes. hutan itu milik Negara dan dikelola Negara. (2) harus ada kedaulatan rakyat (kedaulatan pangan terhadap sumber daya bersama). maka perlunya disini bagaimana bisa menjembatani ? Fungsi utama BUMDes adalah (1) fungsi social. Prinsipnya. sementara kalau bank kelemahannya pada persyaratan. Pengelolaanya bagaimana? Itu diserahkan daerah. UKM kurang bisa mengakses kredit bank. Usaha-usaha ekonomi masyarakat yang kurang terakomodasi. “Bupati vs rentenir” di Bantul. maka tidak akan ada masalah rentenir. Tetapi jangan sampai BUMDes itu komersil. Kalau itu bisa. Saat ini dalam UU baru dimana koperasi sudah diakui sebagai badan hukum yang legal untuk bisa mengakses ke bank. Sampai sekarang dari > 4500 BUMDes.Edward Untuk mengatasi monopoli kepemilikan. Justru Depdagri bertujuan menembus kebuntuan untuk mengatasi itu. Alur tembusnya melalui pasal 213 UU 32/2004 dan PP 72/2005. Nanti konsekuensinya. ekonomi masyarakat itu juga boleh bisnis. Celakanya dengan diserahkan ke daerah justru banyak dijumpai illegal logging. (3) tersedianya sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha sebagai asset penggerak perekonomian masyarakat dan (4) adanya unit-unit usaha masyarakat yang merupakan kegiatan ekonomi warga masyarakat yang dikelola secara paksa dan kurang terakomodasi. di Sidoarjo justru tanah kas desa ini yang digunakan sebagai modal BUMDes. dan pusat hanya kebijakan. kalau itu kekayaan desa harus dikembalikan ke desa karena banyak pasar desa yang sudah berkembang justru diambil kabupaten. Dan pengawasan keuangan oleh auditor independent. Permasalahn kredit sudah sejak lama. Di dalam PP 72/2005 disebutkan bahwa pembentukan BUMDes disesuakan kebutuhan dan potensi desa. tidak ada satupun yang mau menjadi BPR. Mengenai tanah kas desa. karena koperasi ada keterbatasannya hanya dari. Kalau pasar desa itu jelas merupakan kekayaan desa. bentuk yang tepat untuk dasar hukum BUMDes adalah koperasi. Untoro Kami menyusun PP itu berdasarkan kondisi di lapangan. jadi BUMDes saja. usaha ekonomi desa simpan pinjam juga maju. disitu menyebutkan tentang jasa keuangan. Pengawasan dilakukan oleh BPD dan Bawasda sepanjang bantuan modal/aset2 daerah). Yang dimaksud kebutuhan dan potensi desa ada 4 (empat) hal yaitu (1) Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. tapi juga berfungsi social (visi dan misi jelas). tidak dipaksa. Depdagri bertangungjawab terhadap LKM-LKM yang non bank dan non koperasi. Bisakah bupati/walikota memberikan jaminan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang dinilai layak untuk meminjam ke bank. (2) tersedianya sumber daya desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal terutama kekayaan desa. Menggagas Desa Masa Depan 69 . tidak dijual. yang cirinya adalah ekonomi yang berpihak pada rakyat. oleh dan untuk anggota. Untuk bisa mengoptimalkan peran BUMDes. Yusuf Saya sepakat bahwa harus ada mekanisme control untuk mengatur posisi modal. Karena ujung-ujungnya siapa yang berkuasa atas BUMDes? Apalagi ini rentan terhadap sumber daya bersama. misalnya hutan. itu yang kita lindungi. Jangan sampai kalau bisnis itu sudah kapitalis. Kemudian dimana mikro finance masuk? Tadi dikeluhkan bahwa permasalahnya tidak bisa akses ke bank. Informasinya di Bantul BPRnya maju. seharusnya sudah jadi BPR tetapi tidak mau. Ini yang di back up oleh GTZ ProFI. Mengenai hutan. kurang terpayungi secara hukum. bahkan assetnya sudah 1 milyar. jelas dikelola oleh pemerintah desa (sebagai penasihat) dan masyarakat. Prinsipnya. Kepemilikan. Ini juga diakui oleh Bank Indonesia.

Kalau sekarang ada pintu/jendela yang disediakan seperti LKM. koperasi itu bukan bank. dasar hukum LKM harus ada. Kalau ini membahayakan harus ditolak. Bagaimana keamanannya? Kalau nanti pintu masuknya hanya ke bank. (tanggung renteng) Fasilitator Kenapa PMD berani ? mungin karena ada support dari GTZ Pro FI. uang dari pemerintah diberikan langsung kepada NGO untuk dikelola. sehingga mereka dapat berhubungan secara legal dengan bank. Pemerintah Malaysia pernah memberikan dana untuk taskin tetapi dikelola sendiri. Mengenai BUMDes perlu ditambah dengan: 1) fasilitasi (dari Depdagri). Prinsipnya. Stefan Mengenai perlindungan tabungan. kalau asetnya sudah sekian juta harus menjadi BPR? Maka tawaran koperasi itu mungkin menarik. Sebagaimana bank yang lain. kepastian hukum. Dan rakyat/masyarakat tidak lagi menganggap bahwa itu uang rakyat. salah satu problemnya itu. Ketika masih pada skala kecil tidak apa2. Kalau kita lihat draft UU LKM. asetnya sudah 1 milyar lebih. Tiga ketua UPK di kecamatan adalah perempuan. Dalam micro finance harus ada rambu-rambu yang jelas. LKM hanya berfungsi seperti handle agency.Barori Masalah kelembagaan. kemudian di deposit (tabung) di bank (fungsi intermediasi). Sunarti Contoh pengalaman di Malaysia. karena survey membuktikan bahwa kredit usaha simpan pinjam yang dilaksanakan oleh perempuan lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh laki-laki. Apakah ini perpanjangan tangan. Jadi perlu disisipkan. bagaimana cara mengelola kredit mikro. tapi koperasi seperti apa? Toto Saya mendukung ibu dari pemberdayaan perempuan. 2) pelatihan dan 3) pendampingan (bisa dari Depdagri kontrak sarjana yang ada didesa sehingga bisa merekrut tenaga kerja di pedesaan). sedikit susah untuk LKM karena asetnya terlalu kecil. sehingga mereka rajin mengembalikan. apakah di BUMDes ketika terjadi pailit ada yang bisa bertangung jawab? Ini problematik yang tidak bisa diputuskan dalam forum ini. masyarakat langsung control. Pengawasan juga kuat seperti bank. pemerintah bekerjasama dengan NGO. mereka menerima uang di masyarakat. kalau berfungsi seperti ini otomatis ada perlindungan. Widya Bagi saya. Seperti ini ada linkage program. Karena ketika micro finance itu memudahkan kredit bagi perempuan justru nanti akan melemahkan perempuan. apa bedanya? Ini merupakan hal kritis yang perlu menjadi perhatian kita. Ini menjadi ramburambu. Suharman Simpan pinjam itu justru controlnya social. Apa yang terjadi? Mereka tidak mengembalikan karena mengaggap “itu uang rakyat”. Fasilitator Prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa usaha itu harus berpihak pada rakyat dalam kerangka ekonomi kerakyatan. Adnan Kebijakan tata pembaharuan desa termasuk micro finance harus link and match dengan upaya pengentasan kemiskinan. Solusinya. lebih memberdayakan pada perempuan. jangan disamaratakan perempuan itu lemah. Strateginya. Menggagas Desa Masa Depan 70 .

• ada mekanisme control dalam pelaksanaan dan mengedepankan manfaat untuk rakyat (kesejahteraan rakyat). harus dibentuk berdasarkan aktivitas riel. Dari pengalaman itu. sebagai pengembangan ekonomi desa untuk menghindari pertarungan modal besar • menjadi subjek dalam peksanaan pelayanan bukan menjadi objek. tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya pengembangan UKM (tidak ada “proteksi market”). termasuk affirmative action lintas sektoral. • kepemilikan oleh rakyat. Rambu-rambu BUMDes atau MF seperti apa? • dilihat dari basis pada kemampuan dan pengalaman desa agar tidak dibentuk berdasarkan penyeragaman. pelatihan. Menggagas Desa Masa Depan 71 . Kita mencoba membuat tawaran dengan dua institusi yaitu BUMDes yang salah satu didalamnya ada micro finance sebagai alternatif pengembangan ekonomi desa. • ada alokasi dari dana APBD. • ada kejelasan tatalaksana manajemen. • memberikan perhatian pada masalah-masalah perempuan. dan pendampingan maupun pemberian modal • berfungsi sebagai intermediasi (LKM) • harus diikuti dengan keberpihakan politik yang jelas • khusus untuk LKM ada skim khusus kredit yang dekat dengan rakyat (belajar dari rentenir) • ada jaminan afalis (kalau dibutuhkan) dari pihak-pihak tertentu untuk menghindari akses modal yang rendah • ada mekanisme dan komposisi kepemilikan modal yang jelas Semua itu tidak boleh lepas sebagai sebuah upaya sistemik dalam pengentasan kemiskianan. Dari sisi LKM atau BUMDes.Fasilitator Kesimpulan diskusi : • Identifiaski pengalaman terkait dengan bagaimana pengembangan ekonomi desa melalui BUMDes dan LKM. • sebagai affimative action. perpanjangan tangan usaha-usaha besar (bank) atau usaha lain. di masyarakat lokal tentu sudah banyak program-program yang terkait dengan dua hal itu. • Tidak ada aspek payung legal : koperasi dan bank • Akses terhadap modal dan informasi rendah Ini semua merupakan problem kemiskinan yang ada di desa. menghindari kooptasi elit • harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan local. • harus ada badan hukum yang jelas dengan orientasi kerakyatan. selain usaha bisnis harus ada: • pemberdayaan: bentuk bisa fasilitasi. • Problematika: selama ini masyarakat kecil khususnya perempuan tidak mendapat fasilitasi yang cukup. Dan ada anggapan bahwa uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. • Perlu adanya MONEV dalam pelaksanaan. • ada pengawasan yang jelas. • ada kejelasan hukum berbasis pada potensi ekonomi rakyat. • ada regulasi (peraturan) yang mendukung sehingga usaha pengembangan ekonomi desa ini bisa berlanjut.

. Saya kira itu.. Wa’i-Lakpesdam.. berpendapat. hubungan kerja. khususnya Depdagri dalam rangka menyusun naskah akademik tentang pengaturan mengenai desa. Sadu dan Pak Ibnu Tricahyo hadir bersama kita. Dua pembicara Pak Prof. Untuk itu. sedikit semampu saya membuat catatan ini ada beberapa point yang tadi juga telah disampaikan oleh moderator. Sadu–STPDN. melengkapi apa yang sudah disampaikan tadi. Sadu Terima kasih. Steny-HUMA. Ibnu–Unibraw. terima kasih atas kehadirannya di ruangan ini. mungkin saya sampaikan.. nanti diskusi akan berkembang lagi.5. juga ditangan pemerintah desa. Haryo Habirono – FPPD 2. kita akan bersama-sama menindaklanjuti diskusi yang sessi kedua tadi. sesuai saja.. kami persilahkan kalau ada yang ingin berkontribusi. inkonsistensi. Terus hubungan desa dengan supra desanya itu sendiri. dalam konteks tata hubungan desa dengan supra desa. Widyohari-STPMD “APMD”. desentralisasi dari pemerintah pusat itu seakan menimbulkan sentralisasi kekuasaan di pemerintah daerah. Elke Rapp-DRSP. Toro-STPMD “APMD”. kalau saya beri kesempatan lagi dia akan presentasi lagi. kami persilahkan saja. sementara di dalam kepanitiaan disini ada beberapa kisi yang mungkin juga mudah dipandu-arah diskusi kita. dari dulu saya tidak tahu ini kemana dan kaya apa. supaya out put yang kita hasilkan dari diskusi kelompok ini adalah bagaimana mempermudah kita dalam rangka membantu kita semua. bahwa: • pengaturan desa itu menjadi sangat penting. Dalam pengertian desa itu sendiri kita harus tahu ada pemerintah desa. tapi yang penting kita bicarakan adalah desa sebagai kesatuan masyarakat hukum. Jadi ini dilema. pola kerjanya bagaimana. Kalau Pak Sadu ingin menambahkan point-point yang lebih tegas. cuma desentralisasi dalam konteks desa ini arahnya kemana. • konsep-konsep perwakilan daerah. bukan hanya sekedar pemerintah desa. Mas Ibnu sudah panjang lebar. Ini tadi diskusi yang berkembang yang kita bahas di sessi kedua. dan ada komunitas-komunitas tertentu. Nurwafi-BPD. Jadi kalau bicara tentang pembangunan ekonomi dan sebagainya lebih banyak berkait dengan komunitas-komunitas itu. Irwan-Letmindo/GTZ Aceh Fasilitator Ibu dan bapak sekalian. Riawan Tjandra – UAJ Jogjakarta : Prof. nanti eksplorasi lebih jauh bisa kita lakukan. padahal kalau kita mau bicara desentralisasi ya daerah dan desa. BPD. Menggagas Desa Masa Depan 72 . Pak Sadu sudah panjang lebar. Tadi ini masih ada beberapa perbedaan kedudukan desa di dalam UUD 1945 yang diamandemen dengan kedudukan desa di dalam UU 32/2004 ini beda.. Silahkan kalau ada yang ingin berkontribusi menindaklanjuti hal itu. saya kira dengan yang kita bahas tadi. . Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Fasilitator Peserta : 1. Tetapi yang terjadi dalam praktek. Artinya kalau Pak Ibnu ingin mengatakan secara tata kenegaraan UU 32/2004 itu salah demi hukum. Salini-DSF. yang penting yang harus dirubah. Bagaimana seharusnya pengaturan hukum mengenai desa? Dalam bingkai NKRI sebaiknya dihapus saja dulu. topik kedua mengenai tata hubungan desa dengan supra desa. Widya-FPPM. • otonomi itu bentuknya bagaimana? • representasi desa itu bagaimana? • persoalan kedudukan desa. karena tadi waktunya pendek. Azam-Pemdes Kebumen. Franky-AMAN. kan begitu. untuk tidak mengatakan salah. Jayus-UNEJ. dibuat mengambang.

Fasilitator Jadi supaya kita lebih fokus. hanya hal itu tidak dilaksanakan. nah ini menjadi babak baru. Dan untuk desa diminta naskah akademik. munculnya undang-undang desa dan itu akan mendorong juga kedudukan desa yang lebih jelas. Jadi desa mengatur tentang kedudukan desa itu sendiri. tidak boleh memungut pajak dan retribusi atas dirinya sendiri. sekarang tidak ada... apakah pemerintah desa adalah organisasi pemerintah sesungguhnya? Dia menjalankan fungsi-fungsi. dan itu bisa nampak dari diberikannya ADD yang besar juga program-programnya. bukannya masyarakat adat tidak prnting. buktinya sudah ada tapi pemerintah daerah tidak bisa apa-apa. saya harus informasikan karena ini informasi juga saya dengar dari orang yang harus saya percaya yaitu dari Depdagri sendiri. Saya ngomong sama gubernur itu akan menjadi omong kosong kalau desanya tertinggal. kemudian siapa yang mau bekerja di desa? Padahal kita bayangkan ada pemberian kewenangan yang besar. Franky Menurut saya tidak hanya regulasi. bisa mengatur pilkades yang baik. bahwa undang-undang tentang Desa kedepan harus diinikan. kemudian begitu selesai ya selesai tidak ada pensiun. Kalau tidak salah SK Menteri Kehutanan menjelaskan soal masyarakat hukum adat. pegawai desa itu kedudukannya seperti apa? Ini sampai sekarang tidak jelas. Merupakan suatu keharusan kalau kita membiarkan desa seperti bentuk-bentuk yang lama. anggaran banyak. fungsi-fungsi yang sudah dijalankan oleh desa. tapi orang yang bekerja di desa adalah orang-orang yang mohon maaf kalau saya katakan tidak berkualitas. tapi kedudukannya tidak jelas. waktu itu Gubernur Jawa Barat bicara tentang provinsi termaju di Indonesia. Mohon maaf. kalau dulu masih ada pengganti asusila. karena orang-orang desa yang berkualitas sudah tidak mau jadi perangkat desa. kewajiban-kewajiban pemerintah. desentralisasi kepada desa itu bentuknya seperti apa. Pertemuan ini dimaksudkan dalam rangka mengisi. mungkin untuk memperkuat kedudukan tadi saya sepakat dengan Pak Ibnu. larinya pengganti ekonomi. sehingga bisa mengatur tentang pengaturan dan kedudukan desa. Fasilitator Saya potong sedikit.Desentralisasi kepada daerah jelas. kayaknya sebelumya membuat undang-undang tanpa naskah akademik. Barangkali ini bisa menjadi semacam model. Paling sedikit per-Oktober Mendagri mendapat PR dari Komisi II DPR untuk menyerahkan atau mempresentasikan draf awal naskah akademik. sudah ada komitmen politik bersama Komisi II DPR bahwa kedepan akan ada Undang-Undang tentang Desa. tetapi juga kebijakan yang lebih konkret. Kalau saya ngomong begitu mungkin tersingggung. otonomi desa yang sebenarnya juga akan semakin jelas. Ada beberapa di kabupaten yang seperti Sumedang dan Bandung. Ini lebih memberi peluang. Jadi sebelumnya. memberikan masukan sekaligus itu adalah ajang advokasi kita dalam penyusunan naskah akademik mengenai desa. Saya bertanya. artinya sudah ada regulasi mengenai keberadaan dan peran masyarakat adat. khususnya untuk pengaturan. Masyarakat hukum dengan masyarakat hukum adat berbeda. Nah ini akan menjadi dilema. dia menjadi mata rantai yang terlemah dan akan tersisihkan. yang dipungut adalah iuran. Saya menawarkan gagasan. Ini barangkali masalah pokoknya disini Widyohari Saya nyambung Prof. Cuma nanti kembali kalau kepada kedudukan organisasi yang tidak jelas. mengenai Undang-Undang tentang Desa ini.. dia tidak digaji. akhirnya gubernur setuju. saya tidak tahu. saya lihat visi dari kepala daerah dalam membangun kabupaten berbasis desa. tapi memang ini hal khusus yang dibicarakan mestinya dalam ruang dan waktu Menggagas Desa Masa Depan 73 . tapi kalau kita lihat data. Ini kayaknya konteks yang kita bahas berbeda.

Karena kalau semua sudah diatur. saya kebetulan dari orang pemerintah. Itu sudah ada usulan dari kawan-kawan. Jadi namanya desa nanti akan ada lima perangkat. tapi itu masih kurang. dan ini membuat undang-undang yang akan dilaksanakan dan bersifat nasional. itu menjadikan aspirasi ini apa artinya. Ini saya antisipasi kalau terjadi suatu permasalahan hukum. local self government. Pak Eko cukup jelas membuat tipologi desa dari hasil-hasil studinya. jangan terlalu detail. minimal kalau ada sekian provinsi. saya pikir apa konsekuensinya. ini agak beda. Kalau kita mulai dari tingkat desa. lima struktur itu bebas saja. katakanlah sekdes terkena masalah norma sosial. kemudian struktur organisasipun jangan diatur. Dalam undang-undang nanti. ada self community governance. Menggagas Desa Masa Depan 74 . Fasilitator Ya. Sekarang saya melakukan perubahan perda. mungkin struktur ini akan berbeda lagi. Dari dulu desa deperti ini terus. kaur umum dengan prestasi yang bagus bisa menjadi sekdes. apakah local self governance. Fasilitator Kalau tadi kita bicara tentang otonomi itu mungkin akan menjadi berbeda dengan yang kemarin. Artinya mekanisme ini tolong. Azam Terima kasih. apakah disitu adat istiadat masyarakat yang tradisional masih ada atau tidak ada lagi desa. apakah masih perlu atau mungkin dengan badan kerjasama antardesa atau langsung kabupaten. Kita pernah mencoba pada penyusunan perda 2004. adatnya masih kuat. tipe 2) Desa Campuran yang adatnya sudah mulai pudar. dan 3) Desa Teritorial yang adatnya sudah tidak jalan karena masyarakatnya heterogen. Kalau ada self gonernance kita harus lihat peran kecamatan. kecamatan. tidak serta merta langsung kita berhentikan. dari legislasi. Kalau ada desa langsung dari pemerintahan. Kita sedang membicarakan masyarakat hukum. dan self government community. kita kembali ketiga tipe desa. yang namanya kaur pembangunan selamanya kaur pembangunan. sudah jenuh juga. Akhirnya hal itu menjadi kekhawatiran dari masyarakat itu sendiri oleh UU 32/2004. kami melontarkan bahwa ada garis dalam struktur pemerintahan desa. ada local state governance. Konsultasi publik saya tahu. ada sanksi disitu. dimana desa yang masih homogen. yang namanya sekdes sampai mati tetap sekdes. ini mungkin kita bahas asas-asasnya saja. Kita diskusi mengenai local state government. Pak Prayitno mengenai kedudukan desa. local state governance. masa jabatan tidak usah diatur. local self governance. step by step. untuk melihat struktur apa akan dipakai. Sadu Kalau dilihat dari jenisnya ada tiga: 1) Desa Geneologis. bisa dengan penurunan pangkat. Ini lalu memang tipikal otonominya menjadi berbeda. tapi kita juga jelaskan juga usulan anda tidak bisa masuk kesini karena nanti akan berbenturan dengan peraturan. dari bawah. Franky Artinya itu mementahkan diskusi kita yang kemarin dengan Pak Eko. Usulan-usulan dari masyarakat banyak dan bagus dan itu saya masukan.yang khusus. apakah ini semua? Apa dan bagaimana struktur yang akan dilaksanakan. jadi semua provinsi bisa mengetahui kalau ada proses. Nah sekarang kita ingin fokuskan supaya kita mencapai apa yang tadi dilontarkan Pak Sadu dan Pak Ibnu. atau self community governance. Kalau kita mengembalikan self community governance apa gunanya kita diskusi tentang itu lagi. Elke Usulan tadi bagus sekali. kami mengundang sembilan ratus dua puluh orang.

penyeragaman. apakah yang disampaikan berdiri lepas dari sistem pemerintahan kabupaten atau masuk sebagai sub-sistem pemerintahan kabupaten? Kalau Pak Ibnu tadi tidak mengatakan. tapi saya justru melihat itu jangka panjang. bicara kualitas sumberdaya manusia itu penting.. tapi pasti ada asas-asas penting atau dinamika-dinamika lokal penting yang kira-kira akan keluar menjadi argumentasi kita di level nasional. tapi oleh perdes kemudian bisa diambil alih oleh Menggagas Desa Masa Depan 75 . bagi kami orang desa sebenarnya tidak tertalu prinsip. Saya kira desa dan pemerintah kabupaten tidak menerjemahkan kedua UU itu lurus-lurus seperti apa yang kita bayangkan. selama bisa memberikan suatu jaminan-jaminan hak desa bagi kita tidak terlalu prinsip. Nah itulah yang saya kira butuh kerja lebih keras lagi.. Atau sebaliknya. Saya hanya mau menghubungkan saja konsensi yang sudah dibicarakan itu dengan rencana atau kemauan kita kedepan. mereka punya suara dan bicara soal dinamika lokal seperti apa yang sudah mereka buat. komando. dan saya kira kawan-kawan dari pemerintahan desa ada disini. yang diharapkan adalah hak-hak prinsipnya yang diperoleh. Kemudian sentralistik. apa mau kawan-kawan di level bawah.Diharapkan dalam diskusi kelompok ini bagaimana nanti itu diatur dalam undangundang yang baru. mungkin dalam pikiran normatif. kami sebenarnya dari desa selalu memberikan masukan-masukan yang positif mengenai keberadaan lurah-desa. Dalam UU di level nasional misalnya justru dikatakan sebagai kewenangan pusat atau daerah. sehingga tidak perlu menyangkut nanti apakah undang-undang atau hanya sekedar revisi bukan hal yang seperti dulu lagi. kabupaten atau kecamatan bagaimana unsur-unsur itu sebagai fasilitator. Soal aturannya tidak perlu terlalu ‘jlimet’. selama ini hanya instruktur. bagaimana otonomi desa yang disebutkan dalam konteks pemerintahan kabupaten. Saya ambil contoh dibeberapa desa misalnya mereka buat perdes. Jadi kalau nanti dibawah atau bagian langsung dari kabupaten. kalau memang terpisah dan itu lebih memberikan keleluasaan terhadap hak-hak kita sebagai orang desa maka itu akan lebih bisa menjamin bagi desa. sehingga berhasilnya desa itu kuncinya memang di tingkat kabupaten. self governing community memang seperti yang dikatakan Pak Sadu. Nurwafi Terima kasih.istilahnya desa itu sangat tergantung kepada kabupaten. Itulah yang mungkin bagi kita selaku orang desa akan lebih mencerminkan hak-hak kita di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih terjamin? Sehingga kalau akan diturunkan sebuah undang-undang atau tidak. Fasilitator Saya ingin klarifikasi dari Pak Wafi. dan perdes itu sulit kita bayangkan dalam hal kewenangan. kami tidak terlalu pusing apakah sebuah bagian dari pemerintah daerah atau berdiri sendiri. sangat bagus menyangkut perbedaan antara desentralisasi kepada desa dan desentralisasi kepada daerah. Kaitannya dengan posisi desa dengan supra desa. Kepada desa itu kira-kira berdasarkan pengakuan mungkin lebih mirip dengan Pak Ibnu bahwa kepada desa itu berdasarkan hak. Steny Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dikemukakan. asas-asas yang sangat prinsip bisa kita terima sebagai hak. Nurwafi Prinsipnya. Coba berusaha lagi melihat dinamika seperti apa yang sudah dibangun selama ini pasca UU 22/99 dan pasca UU 32/2004. Kemudian kalau bicara soal desa berdasarkan pengakuan maka saya baru membayangkan kalau desa yang kita bicarakan kemarin. yang penting prinsip-prinsip sebagai sebuah desa itu tercover. tapi beberapa waktu sering mengatakan otonomi desa itu kan otonomi di dalam otonom. Oleh karena itu memang selama ini punya pengalaman bahwa bagian dari kabupaten adalah kecenderungan-kecenderungan yang. yang prinsip bagaimana hak-hak.

Jayus Sebenarnya persoalan desa itu kembali lagi pada persoalan konstitusi. Contoh di diskusi kemarin soal inpres. Saya kira begitu aja. taruhlah ada kebijakan-kebijakan yang harus ditempatkan proporsinya secara tepat. Titik temu atau kompromi antara support dengan titik kemandirian desa itulah yang sebetulnya menurut saya belum ketemu. Kedua. maka kira-kira awalnya harus melalui persetujuan dan ijin mereka. Dengan satu pengertian bahwa ini mengadopsi tiga hal tadi. begitu? Provinsi lebih umum. ini desa kita yang menggaruk gatal ditubuh sendiri tetapi muternya itu harus kemana-mana dulu. setelah tahu desa itu dapat berapa baru bisa. saya merasa bahwa pembicaraan ini sebenarnya mengenai tarik ulur antara support yang diberikan oleh supra desa dengan kemandirian desa. misalkan mana yang menjadi institusi desa sendiri dengan institusi sektoral di tingkat kabupaten. Jadi antara otonomi desa dengan segala kemampuannya meskipun tadi Prof mengatakan bahwa pada realitasnya SDM di desa sangat memprihatinkan. karena perda dalam satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak sama. sepanjang konstitusi itu tidak menempatkan desa menjadi yang harus diatur dalam konstitusi maka selamanya tidak akan menjadi keharmonisan. Ketiga. Memang desa memiliki perangkat organisasi yang seperti dimiliki oleh kabupaten.kewenangan desa. perijinan dan sebagainya masuk. Seandainya ada gagasan untuk melapaskan. kalau tadi menjadi sebuah muatan yang akan menjadi bagian dari peraturan daerah saya justru sangat sependapat. lebih spesifik lagi. atau kalau ada investasi. Ini menyedihkan dari satu sisi aspek kemandirian. Jadi ini nanti secara aspek politis juga harus dipertimbangkan bahwa desa sebagai satu kesatuan hukum memiliki aspirasi (dalam musrenbang dan Menggagas Desa Masa Depan 76 . Jadi self governing community itu berlaku untuk daerah mana. Pada sisi yang lain kemudian memang bersilangan dengan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sektoral di tingkat kabupaten. dan banyak pegawai kecamatan menyusun program desa dan dirumuskan setelah ada ketentuan atau ketetapan mengenai APBD. artinya kita menyerahkan pengaturan desa kepada kabupaten atau provinsi. Wa’i Terima kasih. orang akan mengatakan ini semacam cek kosong. Itu dinamika lokal dan yang begitu jelas kebutuhan dari bawah. lalu mau kita apakan dalam konteks kewenangan dalam struktur yang mau kita implementasikan? Saya hanya mau mengatakan satu hal penting yang sering keluar dalam self governing community selama ini. Ini juga yang kemudian harus dimasukan dalam kebijakan bagaimana menumbuhkan desa dalam struktur ini. pendidikan dan sebagainya. Pemerintah provinsi dan kabupaten sudah harus bisa melihat itu. Nah ini nanti juga akan menimbulkan persoalan baru. karena di banyak desa program-program desa disusun atau dirumuskan hanya oleh institusi di atasnya. Fasilitator Kalau saya menangkap. Jadi impian saya kalau kita bicara dari self governing community maka pembicaraan soal hak otoritas mereka itu menjadi salah satu muatan dalam UU kalau kita mau merekomendasikan. Jadi mereka tidak bisa menyusun program dengan kolom-kolom yang kosong. kabupaten lebih khusus lagi. adalah keinginan mereka misalnya kalau ada orang luar masuk. Anda itu tidak bisa merusmuskan sendiri. tapi hal yang tidak ada dalam bagian dari UU itu perlu diatur dalam perda. kalau sudah bicara persoalan dilepas pasti saya akan berpikir beda lagi. Oh. Saya kira bisa menjadi rekomendasi kita kedepan bagaimana mengatur hubungan antara komunitas-komunitas lokal yang disebut self governing community dengan pemerintah daerah. kami cocok menggunakan ini dan seterusnya. saya tidak punya suatu keyakinan apakah pembuat UU nanti berkenan. dan lainnya untuk daerah mana. Oleh karena itu didalam UU nanti yang hendak diatur adalah hal yang dianggap penting secara umum dalam UU tentang desa. meskipun itu birokrasi di tingkat desa. yang merupakan kewenangan pemerintah kabupaten memberikan ijin. bahwa struktur desa tidak akan bisa dilepas dari persoalan kabupaten.

Ini peran pemerintah. Kemudian tugas pemerintah yang lebih tinggi memfasilitasi. itu bisa kita petakan secara jelas. tapi tidak pernah terlaksana. Meskipun Direktorat Jenderal PMD yang mengenai desa ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Karena pengalamannya sudah lebih baik. jadi dia sebagai desa yang otonom tapi tidak bisa semua desa di Indonesia kita perlakuan sama. karena tujuan akhir dari RUU Desa adalah bagaimana desa itu dengan otonominya bisa bangkit dan mandiri. melakukan supervisi. artinya desa harus lepas dari kabupaten meskipun ada hirarki tapi tidak seperti yang sekarang menjadi bagian atau sub-sistem pemerintah kabupaten. Sutoro Mengulang yang kemarin. Sadu Apapun yang kita lakukan kepada desa tentu terkait dengan sistem pemerintahan nasional. kepegawaian. kabupaten. alokasi atau pembagian itu berarti desa punya hak. disamakan sajalah. tapi ya begitu saja. Saya agak kurang setuju dengan Prof. apakah dengan otonomi desa itu lalu SDM akan segera up-grade atau sebenarnya sekarang ini kondisinya didalam UU juga PP 72/2005 atau kemarin ada Kepmendagri 64/1999 yang diacu untuk pengaturan mengenai desa. kalau kita mau mendorong desa yang otonom maka NKRI dibagi provinsi. ganti konsep alokasi. harus konsisten dengan sistem di tingkat nasional. karena pengalamannya Jawa. Kalau nasional pakai umum satu-duaMenggagas Desa Masa Depan 77 . jadi konsep bantuan itu sudah kita tolak. Kedua. bagaimana kedudukan desa itu dalam otonominya. jadi kategorinya jelas. Ini yang kita hadapi sekarang dalam UUD 1945 pasal 18A dan 18B. itu artinya yang namanya penyerahan. pemberdayaanpemberdayaan itu sudah ada. Kedua. Sadu yang selalu membedakan antara otonomi pemberian dengan otonomi asli. mereka bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan seterusnya. kemudian berkaitan dengan SDM di desa yang lemah. Itu posisinya jelas. bagaimana kepada desa? Kalau tadi Wafi sudah menyebutkan sebagai fasilitator. jangan sampai kita membuat UU bertabrakan dengan konstitusi. mempermudah saja supaya tidak campur aduk. Sekarang mengenai desa otonom. Mas Toro silahkan. Nah ini persoalannya sekarang. adalah Local Self Government itu yang namanya desa umum atau desa teritorial. Fasilitator Pertama yang ingin disampaikan. Itu mungkin yang saya bisa katakan bahwa titik kompromi itu yang belum ketemu. Nah sekarang yang namanya konsep pemberian harus diganti dengan konsep pembagian atau penyerahan. Pertama. sebut saja yang namanya Self Governing Community itu sebagai desa adat atau desa geneologis. pembinaan kapasitas dan seterusnya. kemudian Mas Wafi. membina. pada sisi lain masyarakat desa juga sebagai konstituen dari partai politik. yang menurut saya sudah siap didorong untuk menjadi desa yang otonom. Pertanyaannya adalah apakah konstitusi ini yakin menjadi modelnya pemerintah? Ini harus jelas dulu. Ini ada dua jalur yang sebetulnya bisa dimainkan oleh masyarakat desa. Pak Azam bicara tentang desa otonom. itu kan diawal pembicaraan tadi Prof Sadu menyampaikan bahwa desa itu sebagai obyek politik terus dan selalu dimarginalkan. Local State Government adalah desa administratif atau kelurahan.sebagainya). otonomi pemberian itu sama dengan konsep bantuan. saya ingin bertanya. dia sedang berbicara tentang desa adat. Nanti masing-masing pilihan ini akan mempunyai konsekuensi terhadap administrasi. Tadi Mas Franky dari AMAN. Kembali pada SDM. BPD-nya sudah lebih siap. hubungan dengan supra desa dan seterusnya. Oleh karena itu dalam konteks ini kalau kita lihat UU 32/2004 pasal 1 ada bunyi ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi wilayah provinsi dan kabupaten”. Menurut saya istilah itu sekarang sudah tidak relevan. tidak pernah ada pemberdayaan yang konkret baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Hanya berhenti disitu. Ketiga. tidak pernah serius dilaksanakan. dan desa.

Seperti dulu ada di Sumatera Barat rancu. apakah diteruskan seperti itu saja atau perlu ada suatu klausul atau satu peran juga yang boleh kita katakan sebagai negosiasi perijinan yang juga dimiliki oleh pemerintah desa terhadap ijin-ijin yang masuk ke wilayah desa. nanti saya pikirkan. Kalau tiba-tiba ada orang datang bawa secarik kertas bahwa saya akan membuka tambang disini lalu masyarakat desa terima sampahnya. Urusan desa adat orang lebih patuh ketimbang desa dinas. dulu dia punya kekayaan besar kemudian dipecah-pecah. itu difasilitasi di pasal berikutnya. Jadi kalau kita diundang dalam kegiatan adat tanpa alasan yang jelas tidak datang. kalau semua bisa jadi satu. sekarang penghargaan sosial tidak ada. Bagaimana dengan yang begitu. itu yang mesti didudukan dulu karena berangkatnya dari situ. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang kedua. Sutoro Saya kira pasal 18B itu sudah ketinggalan zaman. Desa-desa yang adatnya masih kuat berikan kesempatan. meninggal harus cari tempat lain. Saya juga bingung. keuntungan untuk desa sekian. Saya mau menambahkan saja. Setelah wajib pihak kepala desa dan BPD dan juga lembaga kemasyarakatan disitu harus stakeholders dulu yang memutuskan ya atau tidak. jadi ya kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi. Kemudian SDM lemah itu kembali dari organisasi yang tidak jelas. bunyi pasalnya wajib. tidak perlu ada administrasi. karena konfliknya disitu. kalau tidak ada upaya-upaya hukumnya. Jadi sebelumya stakeholders harus dikumpulkan dulu. Fasilitator Kalau dalam UU 22/99 pasal 110 ada pihak ketiga yang ingin membangun atau mengeksploitasi desa itu harus mendapat persetujuan dari masyarakat desa melalu kepala desa dan BPD. Soal istilah. yang dikejar harga ekonomi. intinya satu yaitu wajib. itu bukan harus. peran pemerintah sebagai fasilitasi. makanya dia membedakan ada desa dinas dan desa adat. akarnya sudah tercabut. hanya sekali lagi jangan membuat aturan yang berlaku untuk seluruh desa padahal ada kategorisasi yang cukup tajam. sekarang mau disatukan lagi sudah tidak bisa. Steny Konkretnya. tapi kalau pakai size ada besar-sedang-kecil ya konsisten. dia bisa ditolak di-aben disitu. ia kehilangan hak-hak sosial. Dulu lebih banyak pada penghargaan-penghargaan sosial. sebagian besar obyek perijinan adalah pertambangan.tiga ya harus konsisten. adat sudah tidak lagi punya kekuatan. jadi larinya pada penghasilan. tadi sudah disinggung dan bicara soal tata hubungan desa dengan supra desa. kabupaten sekian atau bicara pada level yang lebih mendasar. tidak perlu ada pemerintahan. tadi saya terima kasih diberikan saran. penyeragaman kemudian merusak akar-akar yang ada. Tapi pertanyaannya tadi 18A-18B itu dipisahkan. perhutanan dan sebagainya dan itu ada di wilayah desa. hak dan kewajibannya jelas. perijinan itu juga harus melibatkan mereka dalam persetujuan. sekarang tidak kesitu yang dikejar. Kalau kita menerima pasal 18B semua self governing communty saja. makanya mereka menghargai betul pada adat. supervisi. kuatnya begitu. apakah kita kemudian hanya bicara soal presentase. Menggagas Desa Masa Depan 78 . Dari sekian ijin yang diberikan di Indonesia. Kalau dulu orang itu rebutan jadi kepala desa karena gengsinya luar biasa-status sosial. Nurwafi Di PP 72/2005 itu malah lebih jelas. Kalau Bali saya lihat meskipun sudah modern tapi adatnya-agama masih kuat. Kalau desa itu tidak jelas. Orang diundang adat tanpa alasan yang jelas. Kecuali desa-desa yang memang masyarakatnya sudah sangat heterogen. persoalan selama ini yang sering terjadi adalah kita kurang mencermati kewenangan administrasi pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten begitu besar di level desa. kalau organisasi ini jelas kita bisa membuat sistem seleksi.

Itu akan menjadi sebuah muatan disamping adanya persoalan. kalau kiranya cukup. kita lihat lagi th 48. Soal ADD. jadi tidak pernah tahu padahal ada. Fasilitator Kalau tidak diterapkan itu persoalannya juga banyak orang tidak baca. hal itu perlu menjadi sebuah pemikiran yang lebih jelas. kemarin kita sudah mengangkat seorang bapak kedudukan desa.Fasilitator Dalam konteks diskusi kita ini posisinya ada dimana. kita masih akan terus menambahkan. Nurwafi Salah satu kelemahan adalah sanksi. hanya orang desanya sendiri. hak-haknya belum maksimal bisa diupayakan. Fasilitator Saya kira ini cukup. apa bisa ditulis dalam flipchart topik-topik yang akan disampaikan? Fasilitator Apakah ini perlu saya tuliskan? Sutoro Saya kira perlu Pak dituliskan garis besarnya. karena saya yakin didalam UU 32/2004 ada yang baik dan ada yang tidak baik. kalau masih ada ide-ide. ditaruh didalam meja. itu berkaitan dengan sanksi. Saya minta mas Wafi bersama kami melengkapi ini. soal hak-hak desa itu ada. Elke Saya hanya ingin. Jadi saya kira memang kawan-kawan dari desa yang lebih tahu persis. mekanisme keluhan. biar nanti kalau terkait dengan desa. Untuk itu kita cukupkan sekian dulu diskusi kita. tetap saja bunyi pasal 18 juga tidak akan berubah.. Kedua. Apa ada relawan. coba kita lihat th 65. Fasilitator Ya. Pak Toro selama belum ada amandemen. Ini tugas kita semua terutama pemerintah daerah bagaimana memfaslitasi orang baca. bukankah begitu? Sekarang saya hanya ingin mengingatkan waktunya. Fasilitator Oleh karena itu. apakah hubungan desa dengan warga desanya? Steny Itu hubungan dari pemerintah daerah sama pemerintah pusat. saya ingin mengundang salah seorang teman untuk mempresentasikan hasil diskusi kita. Menggagas Desa Masa Depan 79 .. padahal sosialisasi sudah sekali-dua kali. nanti dalam diskusi pleno presentasi. itu yang pertama. kalau kita tanya kenyataan di lapangan. disitukan ada di UU tapi tidak diterapkan.. UU 22/99 demikian pula. Nanti kita akan bantu merapikan hasil-hasil. UU 5/79 saya pikir itu bagus kontruksinnya cuma persoalannya pada sentralistis. Jayus Alangkah bijak kalau kita mau mencoba membaca hal baik dan tidak baik dari peraturanperaturan UU yang pernah ada.

Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. fasilitasi. 3 Juli 2006 Pukul : 16. tetapi forum lebih banyak menaruh perhatian pada posisi desa sbg local self government. tetapi di daerah tidak direspon dengan baik dan cepat. • • • Menggagas Desa Masa Depan 80 .Benang Merah Pemikiran : • • • • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya. capacity building menyangkut desa Deskripsi singkat : 1. Selama ini good will pemda masih dipertanyakan karena banyak ide tentang kewenangan muncul di pusat. Konsistensi implementasi dari policy. Bahkan. 2. fasilitasi.00 Moderator : M. 8. Ada pendapat yang melihat pasal 18A konstitusi justru sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. UU 32/2004 sejauh ini belum banyak ditindaklanjuti oleh kabupaten dalam menjamin desa memiliki otonomi. agenda kedepan adalah mendorong kabupaten untuk menyusun perda dan program untuk mewujudkan desa yang memiliki kewenangan yang jelas dan mendorong kemampuan mereka untuk menjalankan kewenangan tersebut. capacity building menyangkut desa. pembangunan dan tatanan kehidupan masyarakat dan budaya lokal. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam state.2. Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa Bentuk organisasi ---) berkaitan dengan SDM. 5. Otonomi dan kewenangan harus diberikan kepada desa. Presentasi Kelompok: OTONOMI DAN KEWENANGAN DESA Disampaikan oleh: Kamardi • • • Masalah Kewenangan desa: Pilihan tentang posisi desa sejauh ini belum jelas. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. Diperlukan adanya konsistensi implementasi dari policy. Presentasi Hasil Diskusi Kelompok Hari/Tanggal : Senin. karena desa merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan.00 – 17. ke depan perlu penguatan kapasitas desa untuk mampu menjalankan kewenangan (aparat dan masyarakat) dengan baik. Barori 1. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. 4. 3. Oleh karena itu. Salah satu tolok ukur desa mampu menjalankan kewenangan adalah mampu menyusun dan menjalankan peraturan desa secara konkrit. Selain jaminan kewenangan. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa.

biasanya kalau ada pemilihan kita perhitungkan aspek kemasyarakatan.• • • • • • • Untuk merumuskan kewenangan desa. atau dimensi kultural). Perlu penataan ulang (khususnya di pemerintahan pusat) tentang pemberian kewenangan kepada desa yang tidak konsisten antar sektor (menghindari tubrukan antar sektor). terdiri 5 unsur dari cerdik pandai. Tanggapan Datu Kita mau menambahkan sedikit untuk BPD. bagaimana keterwakilan kelompok lain. Berkenaan dengan kewenangan desa dalam kelola dan penyelesaian masalah. 5 unsur dari nini mamak. Menurut PP 72/2005 dibatasi 5-11. ada juga 1500 orang. Saya dari Limapuluh Kota. regulasi tidak terlalu banyak. silahkan. ini bagaimana menurut pendapat Bapak? Dahlia Agenda ke depan. lebih besar dari 3000 25 orang. 1 jorong ada penduduknya 700. Bapak Seandainya akan memekarkan diri itu bagaimana? Menggagas Desa Masa Depan 81 . perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. perlu adanya kepastian melalui regulasi atau kebijakan yang membuat bahwa otonomi desa dengan kewenangannnya tersebut tidak dimanipulasi oleh kepentingan elit desa. Sementara itu pihak kabupaten lebih berkaitan dengan urusan keadministrasian. perlu disusun indikator dan acuan pengembangan otonomi desa melalui pentahapan. menurut Perda Sumbar kalau penduduknya 1600 maka wakilnya ada 16 orang. Berdasarkan pengalaman. desa masa depan ditandai oleh adanya otonomi desa yang berorientasi pada penjaminan kesejahteraaan dan keadilan dalam bingkai yang lebih demokratis dan partispatif. jadi kalau ada tanggapan dari kelompok demokrasi desa. Bagi saya regulasi atau kebijakan itu sudah ada yang mengakomodir. masalah kewenangan desa mengatur peradilan informal harus diakui dan sekaligus disinkronkan dengan peradilan formal. perlu adanya kewenangan yang luas bagi desa. seperti misalnya dalam kasus mengelola peradilan informal. pemilihannya tentu per jorong. bagaimana jalan keluarnya? Menurut PP 72/2005 itu 5-11 orang. Dan dengan demikian. jadi tidak perlu regulasi baru. Oleh karena itu pula. dan dukungan administrasi keuangan dan kelembagaaan. 5 unsur dari pemuda. Perlu pengkajian tentang masalah otonomi asli dengan belajar dari sejarah perkembangan desa. 5 unsur dari bundo kandung. Problemnya adalah masih ada masalah benturan legalitas karena peradilan formal belum mengakomodasinya. Oleh karena itu. Datuk kita kumpulkan lalu kita pilih wakil. masalah kewenangan desa harus memperhatikan konteks daerah masing-masing Agenda ke depan. kita kembalikan ke masyarakat. 5 unsur dari pemuda. ulamanya kita kumpulkan lalu kita pilih satu. Moderator Kita tuntaskan dulu kelompok ini. hanya perlu good will dari semua unsur. mekanisme. lebih dari 1600 s/d 3000 21 orang. kami ada 7 jorong. bagaimana keterwakilan. dalam kaitan itu khususnya desa adat punya akses mengelola di SDA dan urusan komunitas nilai-nilai (roh. pemilihan itu bagaimana bentuknya. beliau tadi ada keinginan BPD dipilih langsung oleh masyarakat. Terdapat bukti bahwa desa mampu mengurusi urusannya sendiri.

Harus mengacu pada analisis kebutuhan desa 3. Barangkali pemerintah kabupaten tetap mengacu UU 32/2004 dan PP 72/2005. pandangan pragmatis) • Fokus pada Pemda dan desa masih sebatas pada pembentukan lembaga. Kendala-kendala yang penting diperhatikan Demokrasi yang cocok bagi desa: • Inclusive demokrasi perlu menjadi pertimbangan utama dalam rangka membentuk self community governance yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dapat terlibat secara luas dalam proses pengambilan keputusan. bahwa BPDnya tetap seperti semula. artinya perda yang baru mengacu ke UU khususnya pasal 206. contoh di penjelasan. Masalah regulasi. kalau regulasi tersumbat maka UU tidak akan jalan. sikap elitis. tetapi bagaimana partisipasi dan demokrasi di masyarakat. substansi adalah menghindari elit desa. Demokrasi yang paling cocok untuk ditawarkan bagi pengaturan desa di Indonesia? 2. 1. Keterwakilan lembaga kemasyarakatan lainnya Fungsi lembaga-lembaga: • Lembaga di desa terdiri dari lembaga formal dan non formal • Fungsi lembaga desa bervariasi: sebagai fungsi legislasi. perlu ditambahkan. sehingga nanti yang menjadi hak asal usul itu tidak diintervensi lagi. yang dimaksud Badan Permusyawaratan Desa adalah BPD dalam UU no 10. 2. Kamardi Kalau belajar di UU 32/2004 ini frustasi juga. Soal jumlah. Soal pemekaran ini dijamin oleh UU. tetapi kembali jangan sampai pemekaran itu kemauan elit desa. bagaimana kita menghindari dominasi elit desa. dulu ada kelipatan dari jumlah penduduk. saya sampaikan bahwa pasal 206 UU 32/2004.Alit Terkait dengan aturan/perda setempat. BPD sebagai tool untuk check and balances 2. lalu pemerintah membuat perda yang baru. Toto Hak asal usul di pasal 206 UU 32/2004. Fungsi lembaga-lembaga yang mampu mengusung/melaksanakan demokrasi desa 3. bagaimanapun akan memberikan cipratan langsung. belum menyentuh bagaimana membangun essensi check and balances • Kemampuan ekonomi masyarakat yang bervariasi berkorelasi pada tingkat partisipasi Menggagas Desa Masa Depan 82 . jadi seolah sama. Presentasi Kelompok: DEMOKRASI DESA Disampaikan oleh : Ade Kisi-kisi: 1. pemekaran itu semata-mata untuk pelayanan publik. kontrol dan pelaksana • Bentuk diserahkan pada kearifan dan keunikan lokal dengan acuan dari pusat • Lembaga itu harus mampu mewakili semua aspirasi masyarakat • BPD dan lembaga kemasyarakatan yang ada harus ditopang dengan capacity building yang memadai Kendala-kendala: • Keterbatasan partisipasi masyarakat antara lain karena ssstem yang belum mendukung (structural) • Kendala cultural (misalnya budaya patrialistik.

karena demokrasi itu menghendaki prosedural. mekanismenya terserah. yang jadi mahal itu money politic. Bapak Apa yang digambarkan Pak Ibnu seolah-olah desa itu menjadi satu kesatuan dengan kepala desanya. sinergi ini yang perlu dirumuskan dengan baik. problemnya adalah masyarakat desa yang selalu terus menerus menjadi marginal yang ditinggalkan kepala desanya yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah di atasnya. Menormakan ini tidak bisa seragam. Contoh di Jepara. kades menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa. untuk menghilangkan jago itu membiayai sendiri. tetapi institusi yang mewakili desa.• Trauma pengalaman berdemokrasi yang tidak memihak kepada kebutuhan masyarakat. Itu perlu dinormakan. Datu Pertanyaan masih ada yaitu desa masa depan itu seperti apa? Ibnu Demokrasi yang paling cocok tentang pengaturan desa di Indonesia. tetapi baru sebatas pada elit-elit desa Tanggapan Widyohari Anggaran Pilkades masuk APBN dan turun melalui APBD. sedangkan masalah bentuk kelembagaan itu sudahlah. tapi ad hoc saja. yang penting mendesak pemerintah di atas desa untuk menjamin nilai-nilai lokal. maka ditopang dengan mekanisme lain yang berangkat dari inisiatif masyarakat sendiri. saat pusat membuat UU maka disana sudah ada DPD yang mewakili daerah. tapi itu pembaruan tatanegara karena dibentuk BPD yang melaksanakan fungsi legislasi. apakah tidak kita pikirkan semacam Dewan Perwakilan Desa yang mewakili desa untuk membuat perda? Masalah dengan Syamsudin Haris yang dipreteli. bagaimana APBD itu membiayai juga. Kabupaten membuat perda ada yang merepresentasi desa. Tadi ada kerancuan dengan sistem yang berlaku di nasional dengan Menggagas Desa Masa Depan 83 . tapi bukan dipreteli dalam pembaruan tatanegara. bisa pemilu atau yang lainnya. mekanisme demokrasi seperti apa untuk jalan keluar. bagaimana kita membuat regulasi desa dengan memangkas itu? Bapak Format kelembagaan itu. Tadi Pak Ibnu lebih menekankan soal perwakilan desa di DPR. ini sebetulnya ada gejala yang sudah muncul dengan paguyuban-paguyuban pamong desa. menghendaki lembaga-lembaga yang kompetansi di situ. Bahwa DPD itu tidak cukup mewakili masyarakat. Ibnu Itu bukan wakil pemerintah desa. sehingga demokrasinya bisa berjalan. bagaimana lembaga di desa. oleh karena itu kita perlu menemukan kearifan-kearifan. tapi tidak serta merta mewakili desa. karena kabupaten yang mengatur desa tidak ada representasi desa mewakili desa saat membuat perda. Problem demokrasi selanjutnya adalah dalam melaksanakan tugasnya dengan tata cara yang demokratis. Marhaban Waktu kita merumuskan demokrasi kita kembali ke sejarah demokrasi itu. kades. selama ini yang mengatur pusat dan kabupaten. BPD sinergis. yang saya usulkan itu DPD. Biaya pilkades itu kecil. Kalau akan ada dewan perwakilan desa justru konsolidasi kepala desa berhadapan dengan kepala desa di tingkat bawah. Mekanisme di pusat sudah ada. government for the people. sehingga netralitas calon kades.

4 Juli 2006 Pukul : 14. tetapi aturan teknis dilakukan desa Mengkaitkan antara ADD dengan penguatan kapasitas kelembagaan desa Tidak perlu ada pembatasan yang rigit dalam kelola ADD. Kita harus tempatkan demokrasi good and clear governance di tingkat II karena di situ ada konstituen political. Di desa itu ada deliberatif demokrasi. tetapi perlu memperhatikan konteks daerah dan desa Perlu intervensi positif (kebijakan) oleh pemerintah pusat Perlu membangun kesadaran kritis atas kelola uang berbasis loan and project • • • • • • • • • • • • • • • • • Menggagas Desa Masa Depan 84 . kalau masyarakat tidak demokratis itu akan menjadi fasisme. masyarakat. keluarga. itu budaya demokrasi kuno yang disebut open deliberation. tetapi harus ada ramburambu umum yang prinsip Proses perencanaan. demokrasi harus dimulai dari yang terendah. kalau kulturnya sudah bagus dan mandiri maka itu bisa dikendalikan. Hari/Tanggal : Selasa. karena dalam institusi demokrasi itu adalah membangun komunitas politik tetapi non praktis. soal check and balance itu tidak kita khawatirkan.kabupaten/kota. melibatkan seluruh elemen masyarakat Informasi penggunaan dana harus transparan (diumumkan kepada publik) dan ada mekanisme pertanggungjawaban pada publik (Pengalaman Ngada): tidak semua desa diberikan ADD. sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang jelas terutama pemetaan bagi desa yang diprioritaskan mendapatkan ADD Perbedaan persepsi antar sektor di level kabupaten atas ADD ADD hendaknya diintegrasikan dengan APBDes (RPJMDes) Problem-problem dari PP perlu ditindaklanjuti dengan Perda Manipulasi atas ADD akan membunuh partisipasi desa Perlu memetakan best practice untuk menjadi referensi dan replikasi.15 Moderator : Sumarjono 3.00 – 15. masyarakat berkumpul untuk memutuskan berbagai hal. contoh kepala desa minta untuk ikut jadi pengurus partai politik dan negara menolak dengan tegas. pelaksanaan dan pelestarian dari ADD harus partisipatif. Self Governing Community itu dikaitkan dengan demokrasi bagus sekali. Harus ada kemudahan-kemudahan demokrasi di tingkat masyarakat. karena ADD adalah dana perimbangan Perlu pedoman umum dari pemda. Kalau Dewan Perwakilan Desa itu saya dukung. diatur oleh Perda Semestinya ADD tidak identik bagi hasil. Presentasi Kelompok: ADD (ALokasi Dana Desa) Disampaikan oleh: Dahlia • • • • Sebagian besar kabupaten enggan (keberatan) melaksanakan kebijakan ADD Akses masyarakat untuk mengetahui informasi PP dan ADD sangat terbatas Masyarakat desa belum jelas dengan sumber-sumber pendapatan desa Ada 3 faktor penghambat pelaksanaan ADD yaitu: − Kapasitas potensial desa yang belum siap − Keterbatasan APBD (PAD) − Masalah politis yaitu tarik ulur kepentingan politik di daerah Ada pengalaman desa yang sudah menyiapkan kelembagaan (sistem) dan bisa berjalan dengan baik Terlalu kakunya pengelolaan ADD oleh kabupaten Pengelolaan ADD semestinya mutlak oleh desa. Penguatan kelembagaan.

• Bentuk otonomi dan kewenangan desa mencakup hubungan desa dengan supra desa • Bentuk organisasi pemerintahan desa berkaitan dengan SDM. Marhaban Kita di PMD. ini konsekuensi pilihan yang kita lakukan. Menggagas Desa Masa Depan 85 . Perlu ada audit independen (dipilih masyarakat) dari stakeholders Moderator Kelompok diskusi ADD telah membuat kesimpulan-kesimpulan terkait dengan pelaksanaan ADD yang belum seluruh kabupaten/kota melaksankan ADD. Ini memang dalam perspektif yang mikro. kalau desa diatur sendiri maka tidak boleh diatur dalam perimbangan kabupaten. delegasi dan wewenang tanpa resources itu adalah omong kosong. Dahlia Kalau desa tidak inheren dalam kabupaten maka tidak bisa mendapatkan ADD.• • • • • Perlu pendidikan bagi masyarakat untuk advokasi pada level kabupaten. Ketentuan 10% dari APBD tidak cukup. artinya desa tidak lagi inheren dalam kabupaten. maka 80% langsung ke masyarakat. melakukan kritik dan usulan-usulan agar ADD dapat dilakanakan dengan baik. 4. Tanggapan Ibnu Kita ini menggagas desa masa depan. dalam kebijakan ADD Perlu ada penguatan kapasitas aparat dan kelembagaan serta elemen-elemen masyarakat desa dengan pendekatan partisipatif Perlu ada intervensi dari pusat tentang batasan alokasi yang akan diberikan ke desa supaya dana yang dikucurkan ke desa mencukupi untuk pembangunan di desa Perlu ada komitmen yang lebih besar lagi di tingkat nasional. Moderator Untuk selanjutnya saya persilahkan kelompok tata hubungan desa dengan supra desa. Ini memang berbenturan dengan tata negara. Dengan demikian ADD menjadi problem. Saya persilahkan tanggapannya. Presentasi Kelompok: TATA HUBUNGAN DESA DENGAN SUPRA DESA Disampaikan oleh: Nurwafi Diskusi kita adalah hubungan antara desa dengan supra desa dalam NKRI. yang kami sampaikan ini hanya pokok-pokoknya saja. mulai kemarin rumusannya desa diatur dengan UU tersendiri. Menurut World Bank agar uang tidak nyangkut di elit. karena desa itu sudah di bawah negara. ini memang strategi pemberdayaan. kalau kita ambil 10% itu hanya acuan tetapi APBN yang membiayai. karena ADD itu 10% dari dana kabupaten. Pak Ibnu melihat makro dari hukum tata Negara. bagi saya kalau sudah tidak inheren maka PP itu akan gugur. wacana ini muncul dalam kerangka pemberdayaan. Benang Merah pemikiran yg perlu dipresentasikan dlm pleno: • Kedudukan desa dalam konstitusi dan derivasinya.

Bentuk organisasi desa perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tipologi desa. 10. Ini harus diperjelas dulu landasan akademik kita apa? Di dalam inter government relation. Diperlukan adanya konsistensi pemerintah pusat dan daerah dalam praktek pelaksanaan setiap kebijakan. Ada pendapat yang melihat pasal 18A UUD 45 (konstitusi) sebenarnya menjadi dasar untuk mendesain desa otonom dan 18B sebagai basis pengaturan bagi desa adat. Perlu ada ruang yang jelas bagi desa dalam kewenangan perijinan. Yang inklusif itu ada hubungan antar desa yang harus melaksanakan. Moderator Silahkan untuk dijawab Wafi Logika berpikirnya di balik.• Konsistensi implementasi dari policy. Menggagas Desa Masa Depan 86 . 7. Justru dengan otonomi desa. Separated itu maksudnya adalah ada pembedaan yang tegas antara kabupaten. jelas ada 3 model yaitu: 1) inklusif otorelation. Saya kira pasal ini pasal yang tidak dirubah. tetapi untuk hubungan desa dengan supra desa ini harus tegas. Di UU ada kewenangan atributif. karena dulu tidak pernah melibatkan desa maka akan terjadi kehancuran-kehancuran itu. sangat penting pula desa diberikan legal standing dan kemampuan menjalankan class action dalam judicial process. Pengaturan relasi antara desa dengan supra desa tetap harus mengacu pada dasar konstitusi dan derivasinya. capacity building yang menyangkut desa. Deskripsi singkat : 6. delegatif dan kewenangan lain-lain. 2) separated. Saya justru berpikir optimis akan memberikan kemakmuran. 9. pusat sampai dengan aturan main keuangannya. Untuk kelompok lain silahkan tanggapannya. Yang harus kita pertegas adalah otonomi yang berpihak masyarakat desa dan ada jaminan untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. saya tidak bisa membayangkan otonomi itu diberikan di desa tanpa ada pemberdayaan di desa. kenapa justru ada eksploitasi. Ketiga overlap. capacity building menyangkut desa. Bahkan. semua level harus bertanggung jawab untuk mengatasi itu. di UU 32/2004 itu diatur urusan wajib. setiap eksploitasi akan melibatkan masyarakat desa. tanah. 8. walaupun secara yuridis formal belum nampak. dan 3) overlap. Hal ini berkaitan dengan desa otonom dan desa adat. Bumi. namun sudah ada kebijakan pemerintah yang mengarah ke kepedulian terhadap desa. Kasmuin Pasal 33 UUD 45. Moderator Desa menjadi obyek supra desa. Tanggapan Tumpak Kalau bicara hubungan desa dengan supra desa maka akan terkait dengan kewenangan. koncuren. Tipologi desa perlu dicermati dalam mendesain pengaturan mengenai kedudukan desa dalam negara. dimana desa tidak boleh mengklaim bahwa ini kewenangannya. yang terjadi adalah dengan otonomi selama ini SDA sudah cepat habis. provinsi. air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat. fasilitasi. pilihan. fasilitasi. Untuk kelompok ini harus clear model mana yang akan diadopsi.

Saya kira disana ada politik. 5. kita harus kita pisahkan kontrol dan pengawasan. Pasal 1 negara memberi pengaturan. Saya pilih ke istilah kontrol. kalau pengawasan maka ikut mengarahkan. Moderator Dari awal memang ada cara pandang yang berbeda antara ketentuan hukum dengan nilainilai filosofis hukum yang akan diberlakukan di Indonesia. selanjutnya dari wakil kelompok BUMDes. Negara-negara baru (Amerika Serikat. otonomi ini yang diambil berdasarkan persoalan politik. oleh karena itu terbit UU sektoral. kalau sudah diberikan urusan maka berhak atas wewenang. kayaknya ini lebih dekat dengan delegatoris. Dalam pasal 18 residual teori yang dipakai tetapi yang dipakai urusan. pada tingkat lokal itu begitu mahal demokrasi kita. Kalau kontrol itu hanya melakukan uji. ini pada akhirnya digunakan untuk kemakmuran rakyat. fasilitator. Newe Zealand) meletakkan otonomi level di urus di tingkat state (politik). nampaknya yang diberikan itu urusan. di UU 32/2004 itu urusan. sehingga terbit banyak SE yang mengatur daerah. itu yang berkaitan dengan yang strategis. ini yang menjadi tali sentralistik. Hubungan wewenang yang diatur pasal 18 a itu. Kita harus jelas apakah kontrol atau pengawasan. Presentasi Kelompok: MIKRO KREDIT DAN BUMDES Disampaikan oleh: Adnan Sumber hukum PP 72/2005 Pasal 78 s/d 201 • Mikro kredit berkait dengan produksi. apalagi mau kita bawa ke desa. supra desa itu seperti apa? Apakah dia supervisi. Perancis) urusan politik dibawa sedekat mungkin dengan rakyat. apakah dalam bentuk semacam Rural Banking sustainable Usulan diberi nama BUMDes • Perlu manajemen yang profesional • BUMDES perlu pengakuan dengan payung hukum • Kegiatan mikro finance selama ini yang berkembang di pedesaan adalah usaha simpan pinjam Menggagas Desa Masa Depan 87 . dan pemasaran. Skandinavia. teknologi. tetapi juga persoalan politik. eksternalitas. karena di Australia ada banyak UU otonomi daerah. Kalau kita baca otonomi daerah dan desentralisasi ada 2 cara : 1. dan efisiensi. Negara-negara old model (Jerman. UU 22/99 wewenang. Australia. kalau saya melihat lebih ke politik. karena pengawasan ikut mengarahkan. Saya tidak mengerti Pak Ryaas belajar di Amerika tahu persis otonomi itu.Ibnu Masalah urusan dan wewenang. padahal kalau residual teori itu wewenang. ada pemisahan yang tegas karena ada pendekatan akuntabilitas. • Untuk pengelolaan modal maka perlu Lembaga Mikro Kridit • Lembaga Mikro Kredit seperti apa yang ada desa ? Lembaga Keuangan Desa perlu ada kerangka kerja yang baik. Berkaitan dengan pasal 33 ayat 2 negara sebagai pelaku. Marhaban Otonomi bukan hanya persoalan hukum. maka perlu modal. Moderator Tampaknya sudah cukup waktu. UU 5/74 itu wewenang. yang dipakai dalam pasal 18 ayat 5 itu hanya urusan. Oleh karena itu gagasan apa yang akan kita sampaikan. 2.

• Kebijakan antar sektor belum saling mendukung untuk pengembangan ekonomi desa • Lebih dari 60% ekonomi desa dikuasai oleh kelompok elit dan pemilik modal besar. Ditingkat desa BUMDes itu dibentuk berdasarkan Perdes. Menggagas Desa Masa Depan 88 . • BUMDes harus memberikan perhatian pada masalah perempuan • Pembentukan BUMDes bukan penyeragaman dan pemaksaan (pengalaman KUD). terbatas pada Bank dan Koperasi • Rendahnya akses modal bagi masyarakat miskin dan perempuan • Ada pandangan masyarakat kalau uang dari pemerintah tidak perlu dikembalikan – sehingga banyak kredit program macet. • Ada alokasi modal dari APBD untuk pengembangan BUMDes. untuk rakyat (petani. P4K • Simpan pinjam desa • Lumbung desa • Koperasi desa Perempuan terbukti sebagai nasabah yang baik dalam kredit dan penerima program yang efektif. tetapi dinas lain terkait harus melakukan hal tersebut. Tawaran tentang Pengembangan Ekonomi Desa (BUMDes dan LKM) • BUMDes dan LKM harus menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan. oleh karena itu disarankan untuk berbadan hukum/diaktekan. dll) untuk menghindari pertarungan dengan pemodal dan elit desa. nelayan. juga bukan instrumen kapital besar yang mengancam ekonomi pedesaan.Pengalaman Layanan Keuangan di Masyarakat Jenis layanan kredit di Desa • Program kredit dari PPK. Pengalaman Kabupaten Sumedang: Yang dimasukkan ke dalam BUMDes: • Alokasi anggaran simpan pinjam • Unit usaha simpan pinjam menjadi bagian BUMDes • Lumbung Desa • Kegiatan penarikan rekening listrik • Penyewaan hand traktor • Unit toko untuk pelayanan masyarakat (berbagai produk dan jasa) • Warung nasi dsb. • Untuk mengatasi monopoli elit dalam BUMDes maka bentuk hukum yang diusulkan koperasi yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. (kebijakan ini tidak hanya dilakukan Depdagri/Ditjen PMD. • Bagaimana dengan kepemilikan BUMDes (Masyarakat dan harus dihindari kepentingan dan kooptasi elit desa • Jenis usaha dan model BUMDes harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal Problem • Tidak ada fasilitasi sistemik untuk pengembangan usaha kecil di desa • Tidak ada perlindungan pasar untuk pelaku usaha kecil • Belum ada payung hukum yang jelas untuk LKM. • Perlu ada afirmative action dalam pengembangan ekonomi di desa. Perempuan terbukti sebagai pelaku ekonomi yang tanggung dan mayoritas di desa. Tetapi dasar ini belum bisa akses ke lembaga perbankan. • BUMDes dibentuk berdasarkan aktivitas ekonomi yang telah ada di tingkat lokal dan untuk melindungi ekonomi lokal.

Di tingkat II. dll). agar tidak bertabarakan dengan UU lain maka harus di luar LKM dan koperasi. Tanggapan Maryunani Berbagi pengalaman. supaya tidak gamang dalam mengatur itu. untuk tingkat desa apa? Di PP 72/2005 ditetapkan perdes. • Ada mekanisme dan skema kredit yang sesuai dengan kondisi masyarakat (belajar dari pengelaman “bank plecit” ). pemerintah Jawa Timur sudah menunjukkan good will. kita tidak yakin kalau di APBD nya tidak ada. • Ada jaminan/afalis untuk PUK yang mengalami kesulitan dalam akses modal (baik dari pemerintah-lembaga lain). Dalam pengelolaan itu bagaimana rakyat desa itu komit. tenaga dan pikiran. perda mengacu UU. Pemda sudah membuat tim pembina BUMDes. perdes mengacu perda. • Dalam LKM harus diikuti dengan pendampingan. Kita harus tegas mengatur ini. siapa yang akan mengontrol BUMDes. termasuk monitoring dan pengawasan. BUMDes itu akan dibiayai APBD.• • • • • • Jenis usaha harus memberi ruang dan bertumpu pada inisiatif dan kearifan lokal.nelayan. Moderator Langsung saja dari kelompok lain yang akan menanggapi atau memberi masukkan. LKM (Lembaga Keuangan Mikro) • Keberadaan LKM tidak lepas dari upaya menyediakan layanan modal bagi pelaku ekonomi untuk pengembangan usaha. Ada affirmative action dalam layanan usaha BUMDes kepada perempuan. panjang sekali prosesnya. • Ada mekanisme monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan LKM. sehingga kalau kita membuat BUMDes harus dihindari yang menyangkut LKM dan koperasi. sebagai komisaris. Rakyat harus menjadi subyek dalam kegiatan BUMDes (mengedepankan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam rangka kedaulatan ekonomi rakyat). sehingga perlu pembinaan. kalau kita bandingkan dengan BUMD itu bentuknya perusahaan daerah. • Perlu dibangun pola dasar dan skema yang memungkinkan akses masyarakat miskin dan perempuan mendapatkan layanan secara mudah. Ada kejelasan tentang kewenangan desa dalam pengelolaan sumberdaya ekonomi. • Ada kejelasan bentuk hukum untuk melindungi dana rakyat yang disimpan. Pengawasan. Sebenarnya tidak ada perintah di PP untuk membuat pedum. Menggagas Desa Masa Depan 89 . • LKM bukan menjadi perpanjangan tangan usaha kapital besar maupun intermediasi dari bank komersial yang ada. agar perda itu baik dan benar. Ini ada yang menarik dari Pak Maryunani dan Stefan. dana itu bila didistribusikan setelah eksekutif bertemu dengan legislatif. Ini agak rumit membagi payung hukum untuk BUMDes. rakyat miskin (petani. fasilitasi pengembangan produksi dan pasar sebagai satu sistem pengelolaan. ini ada UU yang mengatur LKM dan koperasi. Tumpak PMD sudah mencoba payung hukum untuk BUMDes ini. karena semua akan menjadi bemper ekonomi desa. Perlu ada kejelasan dan dibangun sinergi kebijakan antar sektor dalam pengembangan ekonomi desa (BUMDes). mau memberikan waktu. Perlu ada kejelasan tatalaksana dan manajemen profesional. karena di PP 72/2005 itu akan dikelola pemerintah desa.

Di daerah kami ada pasar desa yang besar tetapi tidak memberikan kontribusi kepada desa. maka tidak bisa ke sana nanti. Yang awalnya untuk meningkatkan pendapatan desa. Sehingga pedoman seperti Pak Tumpak itu benar. seperti ADD. Lebih fundamental lagi. PR menghadang kita sesuai dengan profesi kita masing-masing dalam upaya kita untuk membela desa. BUMDes yang lemah payung hukumnya. Jadi tergantung pilihan masyarakat disitu maunya seperti apa. bukan khusus untuk BUMDes. keahliannya apa dan mengacu UU yang sudah ada. lebih banyak ke perangkat desanya. menggagas desa masa depan. Pengalaman di Sumedang dengan perdes mereka tidak cukup melakukan akses bisnis. ini akan menjadi ladang baru bagi percepatan proses korupsi di desa. Moderator Diskusi ini kita akhiri. dan itu diputuskan dengan keputusan desa. Menggagas Desa Masa Depan 90 . saya cenderung untuk merumuskan badan hukum tersendiri dalam BUMDes. Kasmuin Membandingkan gagasan itu. Payung hukum yang ada adalah yang umum.Yuni Sengaja kita tidak mengusulkan satu jenis badan hukum. Desa senantiasa menjadi ajang tempur untuk mencari keadilan dalam kehidupan negara kita masih panjang. Kalau kita menganut badan hukum koperasi. bukan soal ADDnya tetapi bagaimana kita mengelola ADD itu. itu milik bersama dan hasilnya akan dibagi bersama dalam anggotanya. ke bank misalnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful