Você está na página 1de 12

AGAR TIDAK TERPERANGKAP DALAM SU-UL KHATIMAH

Khutbah Jum‟at, 27 Rabi‟ Tsani 1432 H = 1 April 2011 M

Oleh

Syekh Ali Abdurrahman Al-Hudzaifi (Hudzaifi)

Imam Masjid Nabawi

KHUTBAH 1

Segala puji milik Allah SWT, Dzat yang Maha Mengetahui, yang sangat mendalam pengetahuan-
Nya. Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Mengetahui berbagai hal dari berbagai
sisinya, dan Menghitung satu persatu segala sesuatu.

Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, kepada-Nya tempat kembali segala sesuatu.
Aku puji Tuhanku dan bersyukur kepada-Nya, aku bertaubat dan meminta pengampunan-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Dzat yang Maha Esa,
tidak ada sekutu bagi-Nya, Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Besar, dan aku bersaksi bahwa
nabi kita, pemimpin kita, Muhammad SAW adalah hamba dan Rasul-Nya, yang membawa
berita gembira dan membawa peringatan. Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam serta
keberkahan kepada hamba dan Rasul-Mu, Muhammad SAW, juga kepada seluruh keluarga
beliau, yaitu mereka-mereka yang telah memiliki jasa yang sangat besar.

Amma ba‟du:

Bertakwalah kalian – wahai para hamba Allah – dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.
Selalu bersegeralah dalam menggapai pengampunan dan ridha-Nya. Terbukti telah beruntung
dan berbahagia mereka yang kembali dan menghadap kepada Tuan-nya, dan terbukti merugi
dan menyesal mereka yang memperturutkan hawa nafsunya serta berpaling dari akhiratnya.

Wahai para hamba Allah ..

Sesungguhnya Tuhan kalian tidak memiliki keperluan kepada kalian, bagi-Nya maksiat orang-
orang yang bermaksiat tidak mengganggu-Nya, sebagaimana ketaatan mereka yang taat tidak
memberi manfaat bagi-Nya, sebagaimana Firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan sampai ke tingkat mengganggu dan
menimpakan madharat kepada-Ku, dan tidak akan pula sampai ke tingkat memberi manfaat
kepada-Ku. (HR Muslim [2577], dari Abu Dzar RA).

Dan sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an:

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka
tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak
akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka
azab yang besar (Q.S. Ali Imran: 176).
Jadi, segala bentuk amal saleh adalah penyebab segala bentuk kebaikan di dunia dan akhirat,
dan yang paling agung serta paling mulia dari sekian banyak amal saleh itu adalah:

• Amalan-amalan hati, semisal ikhlas, iman, tawakkal, takut Allah, berharap kepada Allah
dan kehendak untuk meraih ridha-Nya.

Termasuk juga rasa gentar kepada Allah, mencintai segala yang dicintai-Nya, membenci segala
hal yang dibenci dan tidak disukai-Nya, kebergantungan hati hanya kepada-Nya semata, baik
dalam hal menarik dan mendapatkan manfaat maupun dalam hal menolak kemudharatan.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an:

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat
menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada
yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-
Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(Q.S. Yunus: 107).

• Sementara amalan-amalan pisik bersifat mengikut kepada amalan-amalan hati,


sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Bahwasanya segala amal perbuatan bergantung kepada niat-niatnya, dan bahwasanya setiap
orang memiliki niatnya masing-masing (Muttafaqun „alaih).

Dan bahwasanya amal-amal buruk adalah penyebab bagi segala keburukan di dunia dan
akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an:

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Q.S. Asy-Syura:
30).

Dan sebagaimana firman Allah SWT pada ayat yang lain:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi,
supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. Ar-Rum: 41).

Perlu diketahui bahwa semua manusia diperintahkan untuk melakukan berbagai bentuk
ketaatan dan dilarang melakukan berbagai hal yang diharamkan, kapan saja dan di mana saja.

Perlu juga diketahui bahwa perintah untuk melakukan amal saleh itu menjadi semakin menguat
saat seseorang semakin mendekati ajal dan mendekati waktu kematiannya. Rasulullah SAW
bersabda:

Bahwasanya segala amal perbuatan itu sangat bergantung kepada amal-amal yang dilakukan
pada akhir atau penghujung kehidupannya (HR Bukhari [6607] dari hadits Sahl bin Sa‟d RA).

Oleh karena itu, siapa saja yang mendapatkan taufiq dari Allah SWT untuk melakukan amal
saleh di akhir hayatnya dan bahkan pada saat-saat terakhir dari kehidupannya, maka ia telah
tercatat sebagai orang yang husnul khatimah.
Sebaliknya, seseorang yang tidak mendapatkan taufiq dari Allah SWT, sehingga ia melakukan
perbuatan buruk di akhir hayatnya, dan bahkan ia melakukan perbuatan yang menjadikan Allah
SWT murka kepadanya pada saat-saat terakhir dari kehidupannya, na‟udzu billah min dzalik,
berarti ia telah mengakhiri kehidupannya dengan su-ul khatimah, na‟udzu billah.

Allah SWT dalam Al-Qur‟an telah mendorong kita semua untuk meraih husnul khatimah. Allah
SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya;
dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S. Ali
Imran: 102).

Bekerja dan berusaha untuk mendapatkan husnul khatimah adalah cita-cita semua orang saleh
dan impian para hamba yang bertakwa. Dan itulah harapan orang-orang yang senantiasa
diliputi rasa takut kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur‟an:

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub.
(Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. (Q.S. Al-Baqarah: 132).

Dan saat Allah SWT menjelaskan sifat orang-orang yang disebut-Nya sebagai Ulul Albab, Allah
SWT berfirman:

Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-
kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (Q.S. Ali Imran:
193).

Dan saat menceritakan tentang orang-orang yang bertaubat, Allah SWT berfirman:

"Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan
sebagai orang-orang Islam yang berserah diri (kepada-Mu)". (Q.S. Al-A‟raf: 126).

Diriwayatkan dari Abdullah bin „Amr RA, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda:

Sesungguhnya hati anak manusia semuanya berada di antara dua jari jemari Allah SWT yang
Maha Pengasih, seakan hanyalah satu hati saja, Dia membolak-balikkannya sekehendak-Nya.
Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati, posisikan hati
kami selalu dalam posisi taat kepada-Mu”. (HR Muslim [2657]).

Oleh karena itu, siapa saja yang mendapatkan taufiq Allah SWT untuk mendapatkan husnul
khatimah, maka sungguh ia telah mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan celaka
selamanya,dan selamanya ia tidak akan mendapatkan kesusahan setelah mendapatkan taufiq
tersebut.

Sebaliknya, siapa saja yang akhir hayatnya ditutup dengan su-ul khatimah, maka sungguh ia
telah merugi di dunia dan akhirat, na‟udzu billah min dzalik.

Orang-orang saleh, adalah orang-orang yang selalu memberi perhatian untuk melakukan segala
amal saleh kapan saja, sebagai prolog dan pemulus jalan baginya untuk mendapatkan husnul
khatimah, dan bersama hal itu, mereka pun selalu berusaha dengan sungguh-sungguh dalam
mengupayakan husnul khatimah di akhir hayatnya. Karenanya, mereka selalu memperbaiki
kualitas pelaksanaan amal salehnya, meningkatkan kualitas raja‟ (harapan) dan zhan
(persangkaannya) kepada Allah SWT, serta selalu su-uzh-zhan (berburuk sangka) terhadap
dirinya sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan
Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah: 218).

Dan siapa saja yang shidq (benar) dalam niatnya dan konsisten dengan sunnah Rasulullah
SAW, serta mengikuti petunjuk para sahabatnya, maka ia telah masuk dalam garis sunnatullah
dalam hal penutupan akhir hayatnya dengan husnul khatimah. Allah SWT berfirman dalam Al-
Qur‟an:

Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak
khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan
haknya. (Q.S. Thaha: 112).

Juga firman-Nya:

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. (Q.S. Al-Baqarah: 143).

Dan diantara sebab husnul khatimah adalah:

• Niat yang baik

• Ikhlas karena Allah SWT, serta

• Mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Sebab niat dan ikhlas serta mengikuti sunnah Rasulullah SAW adalah syarat diterimanya suatu
amal.

Dan diantara penyebab husnul khatimah adalah:

• Senantiasa menjaga pelaksanaan shalat lima waktu secara berjamaah.

Tersebut dalam hadits:

Siapa yang selalu menjaga shalat dua waktu dingin, niscaya ia masuk surga (Muttafaqun „alaih,
lihat Bukhari [574] dan Muslim [635]).

Yang dimaksud dengan dua shalat di waktu dingin adalah shalat Asar dan shalat Shubuh.
Pelaksanaan shalat-shalat lainnya, tentulah tercakup di dalamnya, sebab, kalau yang dingin saja
dilakukannya, apalagi yang lainnya.

Dan diantara penyebab mendapatkan taufiq Allah SWT untuk husnul khatimah adalah:
• Keimanan, dan

• Melakukan segala tindakan ishlah, yaitu tetap berbuat saleh saat yang lain berbuat
kerusakan, atau memperbaiki apa yang telah dirusak oleh yang lain, atau memperbaiki segala
kerusakan yang ada.

Allah SWT berfirman:

Maka yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al-An‟am: 48).

Dan diantara sebab mendapatkan taufiq Allah SWT dengan husnul khatimah adalah bertakwa
kepada Allah SWT, baik saat sendirian maupun saat ramai-ramai, dengan cara melaksanakan
perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya, serta konsisten dalam ketakwaan ini.

Allah SWT berfirman:

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang
yang bertaqwa. (Q.S. Al-Qashash: 83).

Dan diantara penyebab taufiq Allah SWT dalam husnul khatimah adalah menjauhi segala dosa
besar.

Allah SWT berfirman:

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya,
niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan
kamu ke tempat yang mulia (surga). (Q.S. An-Nisa‟: 31).

Dan diantara penyebab untuk mendapatkan taufiq Allah SWT dalam husnul khatimah adalah
komitmen dan konsisten dengan petunjuk nabi Muhammad SAW, serta mengikuti jalan orang-
orang muhajirin dan anshar dari para sahabat nabi – radhiyallahu „anhhum - serta megikuti
jalan para tabi‟in – rahimahumullah –

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah. (Q.S. Al-Ahzab: 21).

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya. (Q.S. At-Taubah: 100).

Dan diantara sebab agar mendapatkan taufiq Allah SWT dengan husnul khatimah adalah
menghindar dan menjauhi tindakan menzhalimi manusia, tidak melampaui batas-batas hak
mereka, tidak melakukan tindakan permusuhan kepada mereka, baik dalam urusan jiwa, harta
maupun kehormatan dan harga diri.
Rasulullah SAW bersabda:

Seorang muslim adalah seseorang dimana kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan
tangannya, sedangkan yang disebut muhajir (seseorang yang berhijrah) adalah mereka yang
menjauhi segala hal yang diharamkan Allah SWT. (Muttafaqun „alaih dari Abdullah bin „Amr
bin al-„Ash RA, lihat Bukhari [10, 6484], dan Muslim [40]).

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

Dan takutlah kamu kepada do‟a orang yang terzhalimi, sebab, tidak ada penghalang antara do‟a
dia dan Allah SWT. (Muttafaqun „alaih, lihat Bukhari [1496, 2448, 4347], Muslim [19]).

Tersebut dalam sebuah hadits:

Tidak ada satu dosa yang Allah SWT lebih layak untuk Allah SWt percepat hukumannya di
dunia di samping yang masih tersimpan di akhirat yang melebihi dosa melanggar hak orang lain
dan memutuskan silaturrahim (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibnu Hibban [456], Syekh
Nashiruddin Albani menilainya sebagai hadits shahih, lihat silsilah hadits shahih [915]).

Dan diantara sebab taufiq Allah SWT untuk mendapatkan husnul khatimah adalah berbuat baik
kepada sesama makhluq.

Allah SWT berfirman:

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan
terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al-Baqarah: 274).

Perlu juga kita ketahui bahwa sifat derma dan jiwa yang toleran, jika dua sifat ini menyatu
dengan Islam, maka dua sifat ini menjadi salah satu penyebab agar seseorang mendapatkan
taufiq Allah SWT dalam husnul khatimah.

Rasulullah SAW bersabda:

Tindakan-tindakan kebaikan menjaga kematian-kematian buruk (HR Ath-Thabarani dalam al-


Mu‟jam al-Kabir [8014], al-Mu‟jam al-Ausath [943, 6086] dan dinilai sebagai hadits hasan
lighairihi oleh Syekh Nashiruddin Albani, lihat shahih at-Targhib wat-Tarhib [889, 890]).

Dan diantara penyebab husnul khatimah adalah sikap menjauhi bid‟ah, sebab bahaya bid‟ah
sangat besar, kerusakan yang ditimbulkan olehnya juga serius. Bid‟ah inilah yang merusak hati,
menghancurkan agama dan mengurai ikatan Islam satu demi satu.

Allah SWT berfirman:

Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang
yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Q.S.
An-Nisa‟: 69).
Dan mereka yang disebut sebagai mun‟amun „alaihim (orang-orang yang dianugerahi ni‟mat
oleh Allah) adalah orang-orang yang terbebas dari segala bentuk bid‟ah.

Dan diantara penyebab husnul khatimah adalah berdo‟a agar diri ini mendapatkannya.

Allah SWT berfirman:

Dan Rabbmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.


Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka
Jahannam dalam keadaan hina dina". (Q.S. Ghafir: 60).

Tersebut dalam sebuah hadits:

Kehati-hatian dan kewaspadaan tidak akan menyelematkan seseorang dari kodar, sedangkan
do‟a bermanfaat terhadap kodar yang telah turun dan kodar yang belum turun. (HR Ahmad
[22044]). Penilaian terakhir Syekh Nashirudin Albani terhadap hadits ini adalah: dha‟if jiddan,
lihat: silsilah hadits dha‟if [6764].

Dan do‟a seorang muslim untuk sesama muslim agar saudaranya mendapatkan husnul
khatimah adalah do‟a mustajab.

Tersebut dalam sebuah hadits:

Tidak ada seorang muslim yang berdo‟a untuk sesama muslim dari kejauhan kecuali malaikat
berkata: Amin, dan untukmu, seperti yang kamu do‟akan untuknya. (Hadits shahih,
diriwayatkan oleh Ibnu Hibban [989], lihat pula: silsilah hadits shahih [1339]).

Oleh karena itu, perluas usahamu – semoga Allah SWT merahmatimu – dalam upaya
mendapatkan sebab-sebab husnul khatimah, supaya Allah SWT memberikan taufiq kepadamu
untuk hal itu, dan hindari serta waspadailah sebab-sebab su-ul khatimah, sebab su-ul khatimah
merupakan musibah terbesar, petaka luar biasa, kecelakaan yang tidak dapat disembuhkan,
serta kerugian yang nyata, semoga Allah SWT melindungi kita semua dari su-ul khatimah ini.

Saat kita membaca sirah salaf saleh, kita menemukan bahwa mereka sangat takut terhadap su-
ul khatimah dengan ketakutan yang amat sangat.

Dalam kitab shahih-nya, Imam Bukhari berkata: berkata Ibnu Abi Mulaikah:

Saya mendapati 30 sahabat nabi SAW, semuanya sangat mengkhawatirkan terjadinya


kemunafikan pada dirinya sendiri, tidak satu pun dari mereka mengatakan bahwa keimanannya
seperti keimanan malaikat Jibril dan Mikail (Shahih Bukhari, juz. 1, hal. 18).

Ibnu Rajab berkata: “Sufyan Tsauri – rahimahullah – sangat mencemaskan masa lalu dan akhir
kehidupannya nanti, ia selalu menangis dan berkata: “Saya khawatir, jangan-jangan di Lauh
Mahfuzh tertulis sebagai orang yang celaka”. Dan ia juga berkata: “Saya takut jangan-jangan
keimananku tercabut dariku di saat aku meninggal dunia”.

Sebagian salaf berkata: “Tidak ada yang membuat mata ini menangis sejadi-jadinya yang
melebihi kalau mengingat adanya catatan di sisi Allah SWT yang sudah ada semenjak dahulu
kala”.
Ada pendapat mengatakan: “Sesungguhnya hati al-abrar (orang-orang yang baik) bergantung
kepada akhir hayatnya, mereka berkata: Dengan apa akhir hayat kita diakhiri? Sedangkan hati
al-muqarrabun (orang-orang yang senantiasa dekat dan didekatkan kepada Allah SWT)
bergantung kepada masa lalu, sehingga mereka berkata: “Apa yang telah tercatat terkait dengan
diri kita?

Malik bin Dinar berdo‟a saat ia melakukan qiyamullail : “Ya Allah, Engkau telah mengetahui
siapa penghuni surga dan siapa pula penghuni neraka, terus si Malik (maksudnya: dirinya)
menjadi penghuni yang mana?

Pandangar Salaf terkait su-ul khatimah sangatlah banyak, dan siapa saja diantara kita yang
berkesempatan mentelaah dan mengikuti berita tentang orang-orang yang sedang sakaratul
maut dan menyaksikan sebagian dari mereka, niscaya akan menguatlah keinginan seorang
muslim untuk mendapatkan sebab-sebab husnul khatimah, agar ia dapat menyertai mereka-
mereka yang telah mendapatkan taufiq Allah SWT dengan husnul khatimah.

Diantara mereka ada yang saat sakaratul maut berkata: “Selamat datang kepada wajah-wajah
yang bukan wajah manusia dan bukan pula wajah jin.

Dan diantara mereka yang sedang sakaratul maut “mengumandangkan”: la ilaha illallah,
bukankah Rasulullah SAW bersabda:

Siapa yang kalimat terakhirnya di dunia La ilaha illaLlah, masuklah ia ke dalam surga. (Hadits
shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud [3116]).

Dan diantara mereka, saat sakaratul maut membaca Al-Qur‟an, ada juga yang sedang
memecahkan suatu masalah ilmu faraidh (ilmu waris), atau menjelaskan bidang ilmu syar‟I
tertentu.

Ada diantara mereka yang berkata: “Kalian jangan mengkhawatirkan saya, sungguh, sekarang
ini saya sedang mendapatkan berita gembira akan mendapatkan surga.

Sebagian ahli ilmu berkata: “Penutup suatu amal itu adalah warisan dari amal-amalnya di masa
lalu”.

Oleh karena itu, wahai para hamba Allah, jadilah kalian orang-orang yang selalu bersama
mereka-mereka yang selalu mendapatkan taufiq Allah, karena, siapa saja yang berjalan di jalan
mereka, maka ia akan digiring dan dikumpulkan bersama mereka, dan “seseorang itu bersama
orang yang dicintainya”, dan janganlah kalian menempuh jalan orang-orang yang binasa, yang
tidak mendapatkan taufiq dari Allah SWT, yaitu mereka-mereka yang akhir hayatnya ditutup
dengan su-ul khatimah, na‟udzu billah min dzalik.

Abdul Aziz bin Ruwwad berkata: “Saya pernah menyaksikan seseorang yang sedang sakaratul
maut, dan saat ia di-talqin dengan kalimat: La ilaha illaLlah, ia malah mengucapkan kata-kata
kufr dan ia meninggal dunia dengan penutupan kata kufr itu, na‟udzu billah, dan saat
ditanyakan tentang keadaannya, ternyata, dulunya ia adalah seorang pecandu minuman keras”.

Ada lagi yang sat saat di-talqin dengan kalimat: La ilaha illaLlah, ia malah berkata: “Sepuluh
berbanding sebelas”. Rupanya ia adalah tukang renten, tukang riba.
Ada yang lagi yang saat sakaratul maut disuruh menyebut nama Allah, ia malah menjawab:
“Meraih ridha anak kecil yang ganteng yang bernama si fulan lebih aku cintai daripada meraih
ridha Allah SWT”, na‟udzu billah, rupanya, ia adalah seorang pelaku homoseks.

Ada pula yang saat di-talqin dengan kalimat La ilaha illaLlah, ia malah bersenandung:

Duhai wanita yang saat kecapekan mencari-cari lalu berkata: “Mana sih pemandian Minjab?”

Saat ditelusuri, rupanya dia pernah menipu seorang wanita muda nan cantik yang bermaksud
pergi ke pemandian Minjab, lalu ia tipu dan ia masukkan rumahnya, yang kebetulan rumahnya
memiliki kemiripan dengan pemandian umum itu. Hal ini ia maksudkan agar ia dapat berbuat
zina dengannya, lalu, saking girangnya setelah berhasil menggiring gadis itu ke rumahnya, ia
tidak mampu lagi mengendalikan akalnya, alias gila, dan ia selalu mengucapkan kalimat
tersebut sampai akhir hayatnya, dan itulah kalimat terakhir dia di dunia ini, na‟udzubillah.

Ada lagi yang saat di-talqin dengan kalimat La ilaha illaLlah, ia malah menjawab: “mana rokok,
mana rokok”. Rupanya ia adalah seorang pecandu rokok.

Wahai para hamba Allah..

Penyebab su-ul khatimah sangat banyak, diantaranya: meninggalkan ibadah fardhu, menerjang
perbuatan-perbuatan yang diharamkan, meninggalkan shalat berjamaah dan Jum‟atan, dan
bisa jadi dosa itu menguasai dan mendominasi kehidupan seseorang, dan telah mencengkeram
hatinya, dan saat kematian tiba, ia sedang kekeh dalam kemaksiatan, lalu ia dikuasai oleh
syetan saat terjadi sakaratul maut sedangkan ia sedang dalam keadaan lemah, bingung dan
shock, maka meluncurlah kosa kata atau kalimat yang sudah sangat biasa diucapkannya, dan
itulah penutup hayatnya, na‟udzu billah min dzalik.

Dan diantara penyebab su-ul khatimah adalah perbuatan-perbuatan bid‟ah yang dilakukannya
yang tidak pernah disyari‟atkan oleh Rasulullah SAW, padahal bid‟ah itu pembawa kesialan dan
keburukan bagi pelakunya, dan ia termasuk dosa besar yang paling besar.

Tersebut dalam hadits:

Akan banyak manusia dari umatku yang mendatangi telaga, saya mengenal mereka, namun
mereka terusir oleh para malaikat, dan para malaikat itu berkata: “Sesungguhnya engkau –
wahai Muhammad SAW – tidak mengetahui bid‟ah-bid‟ah yang mereka munculkan
sepeninggalmu”, lalu aku (nabi Muhammad SAW) bersabda: “Jauhkanlah mereka, jauhkanlah
mereka yang telah melakukan perubahan (terhadap agama) sepeninggalku. (Hadits yang
semakna dengan ini sangat banyak, diantara diriwayatkan oleh Bukhari [6582, 6583, 6584,
7049] dan Muslim [2295, 2297]).

Dan diantara penyebab su-ul khatimah adalah menzhalimi orang lain, melanggar hak-hak
mereka, baik dalam hal darah, harta, harga diri dan kehormatan, maupun tanah.

Juga menzhalimi diri sendiri dengan salah satu bentuk perbuatan syirik.

Allah SWT berfirman:


Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. (Q.S. Al-An‟am:
21).

Diantara penyebab su-ul khatimah adalah pelit dalam berbuat kebaikan, tidak memberi
manfaat bagi kaum muslimin, ogah-ogahan dalam berdo‟a, sehingga tidak pernah mengajukan
permohonan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan-perempuan, sebagian dari sebagian yang lain
adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan
mereka mengenggamkan tangannya, Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan
mereka. (Q.S. At-Taubah: 67).

Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu
memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena
akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam,
sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah
menghapuskan (pahala) amalnya. (Q.S. Al-Ahzab: 19).

Dan diantara penyebab su-ul khatimah adalah cenderung kepada dunia dengan segala
kesenangan dan pernak-perniknya, tidak mempedulikan akhirat dan mendahulukan mencintai
dunia daripada akhirat.

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami,
dan merasa puas dengan kehidupan di dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan
orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan
apa yang selalu mereka kerjakan. (Q.S. Yunus: 7 – 8).

Dan diantara penyebab su-ul khatimah adalah adanya penyakit-penyakit hati, seperti: al-kibr
(kesombongan), hasad (iri), hiqd (dendam), ghill (menyimpan keburukan dalam hati terhadap
sesama), ujub, meremehkan orang lain, culas, khianat, makar (melakukan tipu daya kepada
sesama), menipu, menjebak, membenci yang dicintai Allah dan mencintai yang dibenci Allah
SWT.

Allah SWT berfirman:

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (yaitu) di hari harta dan
anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang
bersih. (Q.S. Asy-Syu‟ara: 87 – 89).

Dan diantara penyebab su-ul khatimah adalah durhaka kepada kedua orang tua dan
memutuskan silaturrahim.

Allah SWT berfirman:

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan
ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Q.S. Muhammad : 22 –
23).

Dan diantara penyebab su-ul khatimah adalah adanya wasiat yang zhalim yang bertolak
belakang dengan syari‟at.

Allah SWT berfirman:

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua
dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna
terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya. (Q.S. Al-
Baqarah : 281).

KHUTBAH KEDUA

Maka bertakwalah kalian kepada Allah SWT dengan tetap kosisten dalam taat kepada-Nya, dan
menjauhi segala yang diharamkan-Nya, niscaya kalian selamat dari adzab-Nya, dan beruntung
mendapatkan surga-surga-Nya.

Allah SWT berfirman:

Hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu)
seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong
bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali
kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan
kamu dalam (mentaati) Allah". (Q.S. Luqman: 33).

Dari Ibnu Mas‟ud Ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan
perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah
ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke
dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga
jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan,
dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Muttafaqun „alaih,
lihat Bukhari [3332, 4207, 6594, 7454] dan Muslim [2643] dan redaksi yang dipakai adalah
redaksi yang di Shahih Muslim).

Oleh karena itu, carilah husnul khatimah dengan cara selalu menjaga intensitas ketaatan
kepada Tuhan kalian dan dengan cara menjauhi maksiat terhadap-Nya, sungguh agung cita-cita
mendapatkan husnul khatimah itu, dan betapa mulia pencarian husnul khatimah itu.

Dan ingatlah bahwa tetap istiqamah di atas jalan agama adalah jaminan untuk mendapatkan
husnul khatimah.

Allah SWT berfirman:


Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah", kemudian mereka tetap
istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
(Q.S. Al-Ahqaf : 13).