Você está na página 1de 19

PENGELOLAAN LAHAN PERTANIAN

A. PENDAHULUAN
Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting
untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan
manusia, seperti untuk pertanian, daerah industri, daerah pemukiman, jalan
untuk transportasi, daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi
alamnya untuk tujuan ilmiah. Sumberdaya lahan (land resources) sebagai
lingkungan fisik terdiri dari iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda
yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan.
Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena
adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan
tersebut dengan lingkungannya.
Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang
terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin
tinggi, pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak
mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga
kelestariannya semakin terancam. Akibatnya, sumberdaya lahan yang
berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada
sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). Hal ini
berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan, tingkat dan
intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. Dengan
demikian, secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem
pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun.
Untuk itu perlu pengelolaan lahan yang efektif, efisien dan optimal sehingga
kelestarian lahan juga dapat terjaga dan kebutuhan manusia akan lahan dapat
tercukupi.
B. Pengertian lahan
Lahan (land) atau sumberdaya lahan (land resources) adalah
lingkungan fisik yang terdiri dari iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta
benda yang ada diatasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan
tanah.
Sering kali terjadinya kerancuan penggunaan istilah lahan (land)
dengan tanah (soil), karena sering penggunaan istilah ini dianggap memiliki
arti yang sama. Tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas
komponen-komponen padat, cair dan gas dan mempunyai sifat serta perilaku
yang dinamik. Benda alami ini terbentuk oleh hasil kerja interaksi anatara
iklim (i) dan jasad hidup (o) terhadap suatu benda induk (b) yang dipengaruhi
oleh relif tempatnya terbentuk (r) ditambah waktu (w).
C. Pengelolaan Lahan Pertanian
Pengelolaan lahan pertanian adalah segala tindakan atau perlakuan
yang diberikan pada suatu lahan untuk menjaga dan mempertinggi
produktivitas lahan tersebut dengan mempertimbangkan kelestariaannya.
Tingkat produktivitas lahan sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah, curah
hujan, suhu, kelembaban, sistem pengelolaan lahan, serta pemilihan landcover
(Djaenuddin , 2006). Pengelolaan lahan sebagai salah satu komponen
pengelolaan teknologi pertanian diperlukan dalam sistem pertanian
berkelanjutan karena sistem pertanaman intensif bisa mengarah pada trade-off
antara manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan kerusakan lingkungan
seperti degradasi kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Tujuan pengelolaan lahan adalah :
a. Mengatur pemanfaatan sumber daya lahan pertanian secara optimal
b. Mendapatkan hasil maksimal
c. Mempertahankan kelestarian sumber daya lahan

Sistem pengelolaan lahan dan permasalahannya


Sistem pengelolaan lahan meliputi pola tanam, sistem tanam,
pengolahan lahan, pengairan atau irigasi, pemupukan, pemberantasan hama
penyakit tanaman dan konservasi tanah dan air yang diterapkan pada lahan
tersebut.
a. Pola tanam
Pola tanam tanaman pangan yang diterapkan umumnya terdiri atas:
padi-padi-palawija; padi-palawija-palawija; dan padi-palawija-bera. Berikut
ini adalah contoh pola tanam berdasarkan sebaran hujan di wilayah Kabupaten
Trenggalek :
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
basah kering Basah
Tanaman Semusim
padi gogo palawija bera Padi
Tanaman Tahunan
masa pertumbuhan masa pemeliharaan (penyiraman) Tanam

Sumber : Soemarno, 2009

b. Sistem tanam
Beberapa jenis sistem tanam yang sering diterapkan :
a. Kebun Pekarangan
Merupakan kebun campuran yang tidak teratur antara tanaman tahunan
(buah-buahan) dan tanaman semusim di sekitar pekarangan dengan fungsi
penyediaan karbohidrat, vitamin dan mineral, serta obat-obatan sepanjang
tahun
b. Sistem perkebunan/ mokokultur
Merupakan penanaman satu jenis komoditas tanaman dengan maksud
untuk meningkatkan produksi dan produktivitas dalam usaha tani.
Komoditas yang dikembangkan adalah komoditas tanaman pohon, yang
mempunyai sistem perakaran yang dalam, seperti tanaman buah-buahan,
disamping juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi Biasanya
menggunakan input sarana produksi yang tinggi (intensifikasi). Dalam
penanaman monokultur perlu diikuti oleh upaya konservasi antara lain :
o Pada lahan yang bergelombang/ miring perlu pembuatan teras-
teras dan guludan untuk menghambat aliran permukaan air dan
mengurangi erosi, serta menampung dan menyalurkan aliran air
dengan kekuatan yang tidak merusak.
o Pengolahan tanah minimum, dilakukan secara terbatas/
seperlunya pada lobang tanam saja
o Tanaman utama misalnya komoditas buah-buahan seperti jeruk,
durian, mangga dll, pada teras ditanam menurut sabuk gunung atau
memotong lereng
o Penanaman rumput-rumputan pada guludan dan lereng-lereng/
tebing untuk mencegah erosi
c. Talun-kebun
Merupakan pertanian-hutan tradisional dimana berbagai macam tanaman
ditanam secara spatial dan urutan temporal. Lokasinya jauh dari
pekarangan, dengan fungsi (1) penyediaan subsisten karbohidrat, protein,
vitamin dan mineral, (2) produksi komoditas komersial, (3) konservasi
tanah dan genetic, (4) sosial (penyediaan kayu baker bagi desa, (5)
peningkatan ekonomi masyarakat dari hasil komoditas komersial.
Pertanian talon-kebun ini telah berhasil dikembangkan di daerah Jawa
Barat.
d. Tumpang sari
Tumpang sari bertujuan untuk mengintensifkan kegiatan Pertanian,
pemanfaatan sumber daya secara optimal, serta menyelamatkan sumber
daya lahan dan air, serta mengurangi resiko kegagalan panen. Prinsip
tumpang sari adalah keanekaragaman vegetasi, dengan penanaman
bermacam-macam tanaman, berupa tanaman keras/ kayu-kayuan dan
buah-buahan, dengan intercrop tanaman semusim seperti tanaman pangan,
tanaman obat-obatan, tanaman penutup dll.
e. Rumput-hutan
Merupakan usahatani campuran antara kehutanan dan peternakan
(sylvopasture), dimana rumput ditanam di bawah pohon damar, pinus dan
Albisia sp. Pengembangan system ini dapat berhasil di daerah yang
petaninya mempunyai ternak, tapi tidak ada ladang untuk penggembalaan.
Selain sebagai pakan ternak, rumput berfungsi sebagai pencegah erosi
yang ditanam sebagai penutup tanah, penguat teras dan guludan serta
penguat tebing-tebing pada tanah yang miring. Dalam usaha Pertanian,
rumput dapat dimanfaatkan sebagai mulsa dan pupuk kompos.
f. Pertanaman lorong
Merupakan penanaman tanaman semusim atau tanaman pangan di lorong
antara barisan pagar tanaman pohon. Tanaman pagar dijaga agar tetap
rendah agar tanaman semusim tidak ternaungi, kecuali jika tidak ada
tanaman semusim maka tanaman pagar dibiarkan tumbuh bebas. Pada
tanah yang berlereng, tanaman pagar dan tanaman semusim ditanam
mengikuti kontur agar erosi dapat tercegah dengan baik.
c. Pengolahan lahan
Berikut ini beberapa bentuk pengolahan lahan :
o Pengolahan tanah menurut kontur/ memotong lereng
Pengolahan tanah yang dilakukan menurut kontur atau sabuk
gunung, baik dengan pembajakan, pencangkulan atau perataan, sehingga
terbentuk alur-alur dan jalur-jalur tumpukan tanah yang searah dengan
kontur. Alur tanah tersebut akan merupakan penghambat erosi.
Pengolahan tanah menurut kontur ini sebainya diikuti dengan penanaman
dalam baris-baris memotong lereng.

Gambar ilustrasi pengolahan tanah menurut kontur


o Pembuatan guludan, teras, dan saluran/ pembuangan air.
Beberapa cara dikenal guludan biasa, teras (teras guludan, teras
kredit/sederhana dan teras bangku). Sedangkan saluran air berupa
saluranpembuangan dan got buntu/rorak.
o Guludan biasa
Guludan biasa dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng
dibawah 6%, dimaksudkan untuk aliran permukaan yang mengalir
menurut arah lereng. Dibuat menurut kontur, sedikit miring yang
menuju saluran pembuangan. Pada guludan sebaiknya ditanami rumput
penguat guludan dan tanaman tahuan penguat teras seperti lamtoro.
o Teras guludan dan teras kredit
Teras guludan dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng 6-
15%, arah memanjang sejajar kontur dan menuju ke saluran. Teras
kredit merupakan penyempurnaan dari teras guludan yang
memungkinkan daya tampung lumpur lebih besar lagi.
o Teras bangku
Teras bangku dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng 8-
30%. Teras bangku memiliki bentuk khas, antar bidang olah teras
dibatasi oleh terjunan. Teras bangku terdiri dari beberapa bagian utama
yaitu bidang olah, talut, guludan atau galengan dan saluran
pembuangan air.
d. Pengairan atau irigasi
Air sangat di perlukan bagi tanaman. Kekurangan air dalam
pemeliharaan turgor sel tanaman dalam menghambat pertumbuhan
vegetatif tanaman karena penurunan turgor sel dapat mengakibatkan
menutupnya stomata sehigga segingga proses fotosintesis terhambat
(Arifin, 2002). Pengelolaan air dibedakan dalam:
1. Pengelolaan air makro yaitu penguasaan air di tingkat kawasan
reklamasi. Pengelolaan air makro ini bertujuan untuk membuat lebih
berfungsi yaitu dengan :
o Jaringan drainase - irigasi: navigasi, primer, sekunder.
o Kawasan retarder, kawasan sempadan, dan saluran intersepsi.
o Kawasan tampung hujan.
2. Pengelolaan air mikro yaitu pengaturan tata air di tingkat
petani.
e. Pemberantasan hama penyakit tanaman
Pemberantasan hama penyakit tanaman dilakukan melalua PHT
(pengendlian Hama Terpadu). PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara
berfikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan
ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang
berwawasan lingkungan yang terlanjutkan. Sasaran PHT adalah : 1)
produktivitas pertanian yang mantap dan tinggi, 2) penghasilan dan
kesejahteraan petani meningkat, 3) populasi OPT dan kerusakan tanaman
karena serangannya tetap berada pada aras yang secara ekonomis tidak
merugikan, dan 4) pengurangan risiko pencemaran lingkungan akibat
penggunaan pestisida. Strategi PHT adalah memadukan secara kompatibel
semua teknik atau metoda pengendalian OPT didasarkan pada asas ekologi
dan ekonomi.
f. Konservasi tanah dan air
Konservasi tanah dan air merupakan upaya pengawetan dan
pemeliharaan tanah dan air yang diterapkan pada suatu lahan. Teknik
konservasi tanah dan air yang dapat diterapkan diantaranya pembuatan teras,
penerapan multi cropping pada suatu lahan, penanaman tanaman rumput
sebagai penguat teras dan disekitar aliran sungai sebagi filter, pembuatan
saluran pembuangan air. (Kartasapoetra,2005)

Gambar pengelolaan lahan tanpa memperhatikan konservasi tanah dan air

Permasalahan pada sistem pengelolaan lahan


Permasalahan pada sistem tanam, pengolahan lahan sangat berkaitan
dengan teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan pada lahan tersebut.
Sitem tanam monokultur tanaman semusim yang di tanam pada lahan
berlereng tanpa menggunakan teras (Gambar diatas) dapat menyebabkan tanah
mudah tererosi. Selain itu pada teras-teras yang dibuat seringkali tidak
diimbangi dengan bangunan penguat teras ataupun tanaman penguat teras
sehingga sering menyebabkan longsor tebing teras. Pada musim hujan oleh
air, pada musim kemarau oleh angin. Jika lapisan atas tanah yang banyak
mengandung unsur hara terosi dan terkena limpasan permukaan oleh air,
secara otomatis tanah pada lahan tersebut enjadi kurang subur. Banyaknya
limpasan permukaan juga mengurangi peluang air masuk ke dalam tanah
(infiltrasi) sehingga ketersediaan air abaik di musim penghujan maupun
musim kemarau sangat kecil. Hal ini dapat menyebabkan penurunan
produktivitas lahan akibat adanya degradasi lahan sehingga lahan tersebut
mengalami penurunan daya dukung yang tidak dapat dimanfaatkan secara
berlanjut.
D. Rekomendasi sitem pengelolaan lahan berkelanjutan
1. Evaluasi kesesuaian lahan
Dalam sistem ini menyesuaikan antara karakteristik lahan, kondisi sosial
ekonomi dan jenis tanaman. Kesesauaian ini sangat penting untuk
menentukan kelas kemapuan lahan yang nantinya akan disesuaikan dengan
tanaman atau vegetasi yang tumbuh diatasnya agar tetap dapat berproduksi
optimal. Tentang metode yang digunakan sangat bervariasi. Teknik
manual yang mengacu pada Djaenuddin, dkk (2003), selai itu juga dapat
menggunakan sistem ALES.
2. Penerapan teknik konservasi tanah dan air
Dalam hal ini penerapan teknik konservasi tanah dan air lebih mengacu
pada cara penanggulangan erosi karena jika erosi sermakin besar dan tidak
ditanggulangi maka kesuburan tanah akan berkurang dan meyebabkan
degradsai lahan. Teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan dapat
melalui dua cara yaitu secara vegetatif dan mekanik.
a. Secara vegetatif
Tanaman dapat menurunkan energi kinetik air hujan yang
sampai permukaan tanah melalui intersepsi mahkota daun pada saat
yang sama dengan meningkatnya kekasaran permukaan oleh sisa
tanaman yang menutup tanah atau rumput penutup tanah maka limpasan
permukaan akan berkurang. Terciptanya ruang pori oleh akar tanaman
dapat meningkatkan kapasitas infiltrasi dan perkolasi tanah. Sehingga
jumlah air yang masuk ke dalam tanah lebih besar dari pada run off
berkurangnya kecepatan dan volume limpasan permukaan akan
menurunkan tingkat erosi suatu lahan.
Berikut ini merupakan tanaman-tanaman yang dapat ditanam
untuk melindungi tanah dari erosi, meningkatkan bahan organik tanah
serta produktivitas lahan. Berdasarkan habitus pertumbuhannya
tanaman penutup tanah dapat digolongkan menjadi 3 yaitu:
1) Tanaman penutup tanah rendah, meliputi Centrocema pubersens Bth
(Kacangan), Poeraria lobata (Kudzu), Mimosa invisa (Baret/Putri
Malu Besar), Ageratum conyzoides (Bandotan/Wedusan), Panicum
maximum jachi (Rumput Lempuyangan), Pennisentum purpureum
Sch (Rumput Gajah). Yang ditanam pada pola yang rapat pada
barisan, untuk memperkuar tebing saluran air dan teras.
2). Tanaman penutup tanah sedang meliputi Clibadium surinamense
(Kiangsrat), Lantana camara (Tahi Ayam/Telekan), Leucaena
glauca (Petai Cina), Tithonia tagetiflora Dsp (Tithonia), Gliricidae
sepium (Glirisida) yang ditanam pada barisan tanah utama, sebagai
pagar dan sumber bahan organik.
3). Tanaman penutup tanah tinggi
Selain itu pada lahan pertanian perlu dilakukan teknik
pengelolaan lahan untuk pengendalian erosi antara lain:
1. Pengolahan tanah yaitu diolah seperlunya pada saat
kandungan air yang tepat, dilakukan sejajar dengan garis kontur dan
dilakukan pemberian mulsa, dan pembuatan guludan sejajar dengan
garis tinggi (menyabuk gunung).
2. Penanaman dalam strip adalah cara bercocok tanam
dengan beberapa tanaman yang ditanam dalam setrip secara
berselang seling pada sebidang tanah dengan memotong arah lereng.
3. Multiple cropping atau pola tanam ganda selain dapat
menekan laju erosi juga dapat meningkatkan produktivitas lahan
yang dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu pergiliran tanaman dan
tumpang sari.
4. Pengelolaan tanaman dapat dilakukan dengan cara
intensifikasi yang tepat.
5. Alley Cropping merupakan metode strip cropping namun
dengan menggunakan tanaman pohon seperti lamtoro dan
Gliricidae.
6. Mulsa dalam hal ini sisa-sisa tanaman yang dikembalikan
lagi ketanah.
Gambar Strip vegetasi : penanaman tanaman sehingga membentuk barisan atau
strip sepanjang garis kontur.
b. Secara Mekanik
1. Saluran pemisah, berfungsi sebagai penahan limpasan permukaan
dari lahan atasnya.
2. Teras, berfungsi untuk mengurangi panjang dan kemiringan lereng
sehingga mempercil limpasan permukaan. Teras dibagi menjadi 4
bentuk yaitu teras gulud, teras saluran, teras bangku, teras irigasi.

Gambar Teras gulud (kiri) dan teras bangku (kanan)


3. Jalan air, berfungsi untuk menghidari agar aliran permukaan tidak
terkumpul pada sembarang tempat. Bangunan ini juga disebut sebagai
saluran pembuangan air (SPA)
Gambar Saluran pembuangan air
4. Bangunan terjunan, berfungsi untuk menghindari kerusakan dasar
saluran air karena adanya lereng curam. Pada bangunan ini perlu
dibuat penguat yang berasal dari bambu atau batu.

Gambar 1. Bangunan penguat tebing atau teras

Gambar 2. Penguat tebing atau teras


5. Dam penghambat, berfungsi menghambat kecepatan aliran dan
tempat pengendapan tanah yang terbawah oleh aliran air.

Gambar Dam penghambat Dam penghambat erosi


6. Rorak, berfungsi untuk menangkap air permukaan serta air yang
tererosi.
Gambar Rorak pada lahan berbasis kopi
3. Pemupukan organik dengan memanfaatkan
sistem reuse,reduse, dan recycle
Pengembalian bahan organik dari residu tanaman akhir-akhir ini
telah menjadi suatu keharusan dalam suatu praktek usah tani. Alternatif
teknik produksi dengan masukan bahan organic atau pupuk organik, yang
sering disebut pertanian organik, mengandalkan hara tanaman sepenuhnya
dari bahan organic. Teknik produksi yang menganjurkan penggunaan
pupuk organic dan pupuk anorganik secara komplementer dalam
agroekoteknologi juga menempatkan pentingnya pengembalian sisa
tanaman, termasuk jerami sebagai sumber hara dan pemeliharaan
kesuburan tanah. Sumarno (2006) dalam Pemanfaatan jerami untuk pupuk
kandang (2009) menyebutkan bahwa salah satu tindakan UPTL (Usaha
Pertanian Tanpa Limbah) adalah menggunakan jerami sebagai pakan
ternak dan mengembaliakan pupuk kandang ke areal pertanian sebagai
pupuk.
Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber pupuk organik sangat
mendukung usaha pertanian. Berdasarkan data yang ada, dari sekian
banyak kotoran ternak yang terdapat di daerah sentra produksi ternak
banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal, sebagian diantaranya
terbuang begitu saja, sehingga sering merusak lingkungan akibat
menghasilkan bau yang tidak sedap. Satu ekor sapi dewasa dapat
menghasilkan 23, 59 kg kotoran tiap harinya. Pupuk organik yang berasal
dari kotoran ternak dapat menghasilkan beberapa unsur hara yang sangat
dibutuhkan tanaman (Ridwan, 2006), seperti terlihat pada Tabel
Tabel Kandungan unsur hara pada pupuk kandang yang berasal dari
beberapa jenis ternak
Unsur Hara (kg/ton)
Jenis Ternak
N P K
Sapi perah 22,0 2,6 13,7
Sapi potong 26,2 4,5 13,0
Domba 50,6 6,7 39,7
Unggas 65,8 13,7 12,8
Disamping menghasilkan unsur hara mikro, pupuk kandang juga
menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo, Mn, Cu, dan
Mo. Jadi dapat dikatakan bahwa, pupuk kandang ini dapat dianggap
sebagai pupuk alternatif untuk mempertahankan produksi tanaman.
Berikut ini merupakan efisiensi masing-masing pupuk organik
yang berasal dari sisa hasil panen yang langsung digunakan sebagai
kompos dan yang melalui pupuk kandang (digunakan sebagai pakan
ternak) menurut Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2005).
Jerami
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jerami 5 t/ha
secara nyata dapat meningkatkan produksi padi dan mampu mensubstitusi
pupuk KCl 50 kg/ha. Apabila jerami dikomposkan terlebih dahulu, takaran
anjuran kompos jerami adalah 2 t/ha. Penyusutan dari jerami segar
menjadi kompos berkisar 40-50%. Berdasarkan data luas panen padi
sawah tahun 2002 sekitar 10,4 juta hektar dengan produksi jerami 5 t/ha,
maka jerami segar yang tersedia sebesar 52,36 juta ton. Namun demikian,
tidak semua jerami dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik,
karena jerami digunakan pula sebagai pakan ternak, media jamur, bahan
baku kertas dan sebagainya. Apabila jerami dikomposkan, sebagai
konsekuensinya akan memerlukan waktu lebih lama, membutuhkan
tempat pengomposan, dan menambah biaya produksi. Apabila
diasumsikan semua produksi jerami segar dapat dipakai untuk pupuk
organik maka lahan yang dapat dipupuk jerami segar dengan takaran 5 t/ha
mencapai 10,4 juta hektar, atau 15,7 juta hektar apabila jerami
dikomposkan. Pengangkutan sekitar 50% jerami ke luar lahan akan
menurunkan luas lahan sawah yang dipupuk hingga setengahnya.
(Anynomous, 2006)
Kotoran Ternak
Dari berbagai jenis kotoran ternak, umumnya petani lebih
menyukai kotoran ayam, karena kandungan nitrogennya lebih tinggi
dibandingkan kotoran ternak lain. Kotoran sapi biasanya digunakan
dengan dicampur bahan lain dan dikomposkan. Ternak sapi dewasa, kuda,
dan kerbau dapat memproduksi kotoran rata-rata 3 kg/hari, kambing dan
domba 0,5 kg/hari, dan ayam 200 g/hari. Apabila kotoran tersebut
dikomposkan maka akan terjadi penyusutan sekitar 50%. Berdasarkan data
populasi ternak pada tahun 2002 (Tabel 1) maka dalam kurun waktu satu
tahun dapat diproduksi kotoran ternak basah 57,88 juta ton. Apabila
kotoran tersebut dikomposkan dapat diproduksi sekitar 29 juta ton kompos
per tahun. Apabila kompos tersebut dimanfaatkan sebagai sumber pupuk
organik untuk tanaman pangan, maka untuk setiap musim tanam tersedia
sekitar 14,5 juta ton kompos pupuk kandang. Dengan asumsi takaran
pupuk organik sekitar 2 t/ ha, makan luas lahan yang dapat dipupuk
mencapai 7,25 juta hektar. (Anynomous, 2005)
4. Penerapan Pengendalian Hama Terpadu
Pemakaian Pestisida kimia, biasanya digunakan petani untuk
memberantas hama dan penyakit tanaman. Reaksinya cepat sehingga
petani sering menggunakannya tanpa melihat atau menyesuaikan
penyemprotan dengan besarnya jumlah hama. Mereka cenderung
mencegah dengan menyemprotkan pestisida sebelum hama dan penyakit
itu datang. Akibatnya banyak hama dan penyakit yang tidak lagi terbasmi
oleh pestisida tersebut. Semakin banyak konsumsi pestisida maka akan
semakin banyak pula biaya produksinya. Dengan demikian ditawarkan
sebuah solusi tentang pengendalian hama terpadu dengan menggunakan
musuh alami untuk menuju pertanian yang berkelanjutan.
Solusi pengendalian hama jangka panjang dibutuhkan untuk
mengembalikan keseimbangan alam di lahan pertanian, perkebunan dan
lingkungan alami. Ini tentu saja memerlukan waktu bertahun-tahun,
sehingga PHT juga meliputi solusi pengendalian hama jangka pendek,
termasuk penggunaan pestisida alami.
PHT menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama,
untuk:
• Mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama
• Mengurangi jumlah permasalahan hama jika sudah terjadi
• Menggunakan pengendalian alami untuk mengatasi permasalahan yang
sudah terjadi

Sistem PHT akan membantu untuk:


• Mengurangi penggunaan sumber daya dan produk yang mahal, karena
lahan akan “merawat” dirinya sendiri secara terus-menerus, serta sumber
daya yang dibutuhkan lebih banyak berasal dari sumber daya lokal
• Memperbaiki kualitas tanah, tumbuhan dan lingkungan
• Meningkatkan produksi dari tanah secara keseluruhan
• Meningkatkan keanekaragaman dan daya tahan terhadap hama, penyakit
dan cuaca ekstrim
• Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitarnya
Pengendalian Hama Terpadu dapat diterapkan di kebun rumah
skala kecil, kebun untuk pasar, hingga lahan pertanian skala besar seperti
padi, tanaman buah-buahan dan juga untuk keseluruhan sistem.
Untuk menjadi sehat dan kuat, tanaman membutuhkan kondisi
yang baik untuk tumbuh, yang meliputi:
• Tanah yang subur
• Air yang cukup
• Sinar matahari yang cukup
Jenis tanaman yang satu dengan yang lainnya membutuhkan
kondisi yang berbedabeda. Beberapa jenis tanaman menyukai tanah yang
sangat kering, beberapa menyukai tanah yang lembab, beberapa menyukai
tempat yang teduh, beberapa menyukai sinar matahari yang berlebihan dll.
Ada berbagai macam ‘musim mikro’ dalam setiap lahan, jika tanaman
cocok dengan kondisi yang dibutuhkan, mereka akan tumbuh dengan baik
dan memiliki daya tahan yang kuat terhadap penyakit.
PHT memiliki banyak aspek, yang bermanfaat untuk mencegah
permasalahan hama secara alami:
1. Tanah yang sehat dan hidup – Memperkuat daya tahan tanaman
2. Predator hama alami – Mengontrol jumlah hama
3. Lingkungan yang sehat – Menjaga keseimbangan hama dan mendorong
pertumbuhan predator hama
4. Penyerbukan terbuka, benih non-hibrida – Memperkuat daya tahan
terhadap hama
Pengelolaan tanaman yang baik, meliputi:
1. Rotasi tanaman – Mengisi unsur hara dalam tanah
2. Pola-pola alami untuk berbagai macam bentuk kebun - Mencegah
serangan hama
3. Tanaman campuran, bukan monokultur - Mengurangi jumlah
perkembangan hama
4. Tanaman penghambat hama - Memperlambat serangan berbagai macam
hama
5. Penanaman berpasangan – Tanaman akan saling membantu satu sama lain
6. Membuat & menggunakan umpan serta perangkap – Menjaga rendahnya
jumlah hama
7. Menggunakan binatang untuk mengontrol hama – Metode yang efektif dan
efisien untuk mengontrol hama
8. Membuat & menggunakan pestisida alami – Mendukung lingkungan yang
lebih sehat
9. Kontrol biologis – Mekanisme pengontrolan hama alami dalam skala yang
lebih luas
1. DAFTAR PUSTAKA

Anynomous. 2005. Pupuk organik tingkatkan produksi pertanian. Available at


http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr276057.pdf
Sumarno. 2006. Pemanfaatan jerami untuk pupuk kandang. Available at
http://www.litbang.deptan.go.id/download/one/2/file/Bagian-Ketiga.pdf
Ariffin. 2002. Cekaman air dan kehidupan tanaman. Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya. Malang
Djaenuddin, D., H. Marwan, H. Subagyo, A. Mulyani, N. Suharta. 2003. Kriteria
kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat. Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian. Bogor
Kartasapoetra, G., A.G. Kartasapoetra, M.M. Soetedjo. 2005. Teknologi
konservasi tanah dan air. Rineka Cipta. Jakarta
Ridwan. 2006. Kotoran ternak sebagai pupuk dan sumber energy. Available at
http://www.disnak.jabarprov.go.id/data/arsip/Kotoran%20ternak%20sebagai
%20pupuk%20dan%20sumber%20energi.pdf