Você está na página 1de 11

A.

TUJUAN
1. Memahami stoikhiometri reaksi antara logam tembaga dengan larutan besi
(III).
2. Mampu meramalkan ion tembaga yang dihasilkan dari reaksi tersebut.

B. DASAR TEORI
Reaksi kimia pada hakekatnya merupakan proses yang melibatkan perubahan
struktur, komposisi, dan energi setiap spesies yang berperan serta di dalamnya dalam
skala molekular, bahkan kadang-kadang atomik.
Suatu persamaan kimia meringkas sejumlah besar informasi mengenai zat-zat
yang terlibat dalam reaksi. Persamaan itu tidaklah sekedar pernyataan kualitatif yang
menguraikan zat-zat yang terlibat, tetapi juga pernyataan kuantitatif, yang menjelaskan
berapa banyak pereaksi dan hasil reaksi terlibat.
Proses membuat perhitungan yang didasarkan pada rumus-rumus dan persamaan-
persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri (dari kata Yunani : stoicheion, unsur
dan –metria, ilmu pengukuran).
Hukum-hukum yang mendasari stoikiometri :
1. Hukum kekekalan massa
Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov-
Lavoisier adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan
konstan meskipun terjadi berbagai macam proses di dalam sistem tersebut. Pernyataan
yang umum digunakan untuk menyatakan hukum kekekalan massa adalah massa
dapat berubah bentuk tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Untuk suatu
proses kimiawi di dalam suatu sistem tertutup, massa dari reaktan harus sama dengan
massa produk.
Hukum kekekalan massa digunakan secara luas dalam bidang-bidang seperti
kimia, teknik kimia, mekanika, dan dinamika fluida. Berdasarkan ilmu relativitas
spesial, kekekalan massa adalah pernyataan dari kekekalan energi. Massa partikel
yang tetap dalam suatu sistem ekuivalen dengan energi momentum pusatnya. Pada
beberapa peristiwa radiasi, dikatakan bahwa terlihat adanya perubahan massa menjadi
energi. Hal ini terjadi ketika suatu benda berubah menjadi energi kinetik/energi
potensial dan sebaliknya. Karena massa dan energi berhubungan, dalam suatu sistem
yang mendapat/mengeluarkan energi, massa dalam jumlah yang sangat sedikit akan
tercipta/hilang dari sistem. Namun demikian, dalam hampir seluruh peristiwa yang
melibatkan perubahan energi, hukum kekekalan massa dapat digunakan karena massa
yang berubah sangatlah sedikit.
Contoh hukum kekekalan massa
Hukum kekekalan massa dapat terlihat pada reaksi pembentukan hidrogen dan
oksigen dari air. Bila hidrogen dan oksigen dibentuk dari 36 g air, maka bila reaksi
berlangsung hingga seluruh air habis, akan diperoleh massa campuran hidrogen dan
oksigen sebesar 36 g. Bila reaksi masih menyisakan air, maka massa campuran
hidrogen, oksigen dan air yang tidak bereaksi tetap sebesar 36 g.
Air -> Hidrogen + Oksigen (+ Air)
(36 g) (36 g)
Sejarah Hukum Kekekalan Massa
Hukum kekekalan massa diformulasikan oleh Antoine Lavoisier pada tahun
1789. Oleh karena hasilnya ini, ia sering disebut sebagai bapak kimia modern.
Sebelumnya, Mikhail Lomonosov (1748) juga telah mengajukan ide yang serupa dan
telah membuktikannya dalam eksperimen. Sebelumnya, kekekalan massa sulit
dimengerti karena adanya gaya buoyan atmosfer bumi. Setelah gaya ini dapat
dimengerti, hukum kekekalan massa menjadi kunci penting dalam merubah alkemi
menjadi kimia modern. Ketika ilmuwan memahami bahwa senyawa tidak pernah
hilang ketika diukur, mereka mulai melakukan studi kuantitatif transformasi senyawa.
Studi ini membawa kepada ide bahwa semua proses dan transformasi kimia
berlangsung dalam jumlah massa tiap elemen tetap.
Kekekalan massa vs. penyimpangan
Ketika energi seperti panas atau cahaya diijinkan masuk ke dalam atau keluar
dari sistem, asumsi hukum kekekalan massa tetap dapat digunakan. Hal ini disebabkan
massa yang berubah karena adanya perubahan energi sangatlah sedikit. Sebagai
contoh adalah perubahan yang terjadi pada peristiwa meledaknya TNT. Satu gram
TNT akan melepaskan 4,16 kJ energi ketika diledakkan. Namun demikian, energi
yang terdapat dalam satu gram TNT adalah sebesar 90 TJ (kira-kira 20 miliar kali
lebih banyak). Dari contoh ini dapat terlihat bahwa massa yang akan hilang karena
keluarnya energi dari sistem akan jauh lebih kecil (dan bahkan tidak terukur) dari
jumlah energi yang tersimpan dalam massa materi.
Penyimpangan
Penyimpangan hukum kekekalan massa dapat terjadi pada sistem terbuka
dengan proses yang melibatkan perubahan energi yang sangat signifikan seperti reaksi
nuklir. Salah satu contoh reaksi nuklir yang dapat diamati adalah reaksi pelepasan
energi dalam jumlah besar pada bintang. Hubungan antara massa dan energi yang
berubah dijelaskan oleh Albert Einstein dengan persamaan E = m.c2. E merupakan
jumlah energi yang terlibat, m merupakan jumlah massa yang terlibat dan c
merupakan konstanta kecepatan cahaya. Namun, perlu diperhatikan bahwa pada
sistem tertutup, karena energi tidak keluar dari sistem, massa dari sistem tidak akan
berubah.
2. Hukum perbandingan berganda
Dalam kimia, hukum perbandingan berganda adalah salah satu hukum dasar
stoikiometri. Hukum ini juga kadang-kadang disebut hukum Dalton (diambil dari
nama kimiawan Inggris John Dalton), tapi biasanya hukum Dalton merujuk kepada
hukum tekanan parsial. Hukum ini menyatakan bahwa apabila dua unsur bereaksi
membentuk dua atau lebih senyawa, maka perbandingan berat salah satu unsur yang
bereaksi dengan berat tertentu dari unsur yang lain pada kedua senyawa selalu
merupakan perbandingan bilangan bulat sederhana. Misalnya karbon bereaksi dengan
oksigen membentuk karbondioksida (CO2) dan karbon-monoksida (CO). Jika jumlah
karbon yang bereaksi pada masing-masing adalah 1 gram, maka diamati bahwa pada
karbonmonoksida yang terbentuk akan terdapat 1,33 gram oksigen dan 2,67 gram
oksigen pada karbondioksida. Perbandingan massa oksigen mendekati 2:1, yang
perbandingan bilangan bulat sederhana, mematuhi hukum perbandingan berganda.
Pengamatan serupa juga terjadi pada reaksi-reaksi lain, seperti hidrogen dan oksigen
membentuk air (H2O) dan hidrogen peroksida (H2O2). Jika hidrogen yang bereaksi
masing-masing 1 gram, H2O yang terbentuk akan mengandung 4 gram oksigen, dan 8
gram pada H2O2.
John Dalton pertama kali mengemukakan pengamatan ini pada 1803. Beberapa
tahun sebelumnya, kimiawan Perancis telah mengemukakan hukum perbandingan
tetap. Dalton merumuskan hukum ini berdasarkan pengamatan-pengamatan terhadap
nilai-nilai perbandingan Proust. Kedua hukum ini merupakan penemuan penting untuk
menjelaskan bagaimana senyawa terbentuk dari atom-atom. Selanjutnya pada tahun
yang sama, Dalton mengajukan teori atom yang merupakan dasar dari konsep rumus
kimia dalam senyawa.
3. Hukum perbandingan tetap
Dalam kimia, hukum perbandingan tetap atau hukum Proust (diambil dari nama
kimiawan Perancis Joseph Proust) adalah hukum yang menyatakan bahwa suatu
senyawa kimia terdiri dari unsur-unsur dengan perbandingan massa yang selalu tepat
sama. Dengan kata lain, setiap sampel suatu senyawa memiliki komposisi unsur-unsur
yang tetap. Misalnya, air terdiri dari 8/9 massa oksigen dan 1/9 massa hidrogen.
Bersama dengan hukum perbandingan berganda (hukum Dalton), hukum
perbandingan tetap adalah hukum dasar stoikiometri.
Sejarah
Perbandingan tetap pertama kali dikemukakan oleh Joseph Proust, setelah
serangkaian eksperimen di tahun 1797 dan 1804. Hal ini telah sering diamati sejak
lama sebelum itu, namun Proust-lah yang mengumpulkan bukti-bukti dari hukum ini
dan mengemukakannya. Pada saat Proust mengemukakan hukum ini, konsep yang
jelas mengenai senyawa kimia belum ada (misalnya bahwa air adalah H2O dsb.).
Hukum ini memberikan kontribusi pada konsep mengenai bagaimana unsur-unsur
membentuk senyawa. Pada 1803 John Dalton mengemukakan sebuah teori atom, yang
berdasarkan pada hukum perbandingan tetap dan hukum perbandingan berganda, yang
menjelaskan mengenai atom dan bagaimana unsur membentuk senyawa.
Penyimpangan dari hukum Proust
Perlu diketahui bahwa sekalipun hukum ini amat berguna dalam dasar-dasar
kimia modern, hukum perbandingan tetap tidak selalu berlaku untuk semua senyawa.
Senyawa yang tidak mematuhi hukum ini disebut senyawa non-stoikiometris.
Perbandingan massa unsur-unsur pada senyawa non-stoikiometris berbeda-beda pada
berbagai sampel. Misalnya oksida besi wüstite, memiliki perbandingan antara 0.83
hingga 0.95 atom besi untuk setiap atom oksigen. Proust tidak mengetahui hal ini
karena peralatan yang ia gunakan tidak cukup akurat untuk membedakan angka ini.
Selain itu, hukum Proust juga tidak berlaku untuk senyawa-senyawa yang
mengandung komposisi isotop yang berbeda. Komposisi isotop dapat berbeda sesuai
sumber dari unsur yang membentuk senyawa tersebut. Perbedaan ini dapat digunakan
untuk penanggalan secara kimia, karena proses-proses astronomis, atmosferis,
maupun proses dalam samudera, kerak bumi dan Bumi bagian dalam kadang-kadang
memiliki kecenderungan terhadap isotop berat ataupun ringan. Perbedaan yang
diakibatkan amat sedikit, namun biasanya dapat diukur dengan peralatan modern.
Selain itu, hukum Proust juga tidak berlaku pada polimer, baik polimer alami maupun
polimer buatan.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat :
• Gelas beker 600 mL • Botol timbang
• Gelas beker 250 mL • Labu takar
• Gelas beker 150 mL • Corong gelas
• Erlenmeyer 125 mL • Pengaduk gelas
• Gelas ukur 50 mL • Propipet
• Pipet gondok 5 mL • Pipet tetes
• Pipet gondok 15 mL • Pinset
• Pipet gondok 25 mL
2. Bahan :
• Serbuk tembaga (Cu) • Larutan H2SO4 2,5 M
• Kristal H2C2O4 • Larutan standar KMnO4
• Larutan Fe(NH4)(SO4)2 0,2 M • Akuades

D. CARA KERJA
1. Standardisasi larutan 0,02 M KMnO4

Ditimbang 0,63 gram asam


oksalat (H2C2O4.2H2O)

Dilarutkan dalam labu takar 100 mL dan


diencerkan dengan akuades sampai tanda

Diambil 5 mL

Erlenmeyer 20 mL H2SO4 2,5 M

Dititrasi dengan larutan standar


KMnO4 yang akan distandardisasi

Dilakukan titrasi sebanyak 2 kali


2. Stoikhiometri reaksi logam Cu dengan garam Fe (III)

15 mL larutan Gelas beker 250 mL 30 mL larutan


H2SO4 2,5 mL besi (III) 0,2 M

Ditimbang tepat 0,2 g serbuk


logam Cu dengan botol timbang

Botol timbang dan isinya dimasukkan ke dalam gelas


beker. Diusahakan semua serbuk masuk dalam larutan

Gelas beker ditutup dengan gelas arloji kemudian didihkan sampai


semua tembaga larut sempurna. Bila perlu sekali-sekali diaduk agar
tidak ada tembaga yang menempel pada dinding gelas

Setelah reaksi berhenti, botol timbang diambil dengan


penjepit dan larutan dididihkan ± 10 menit lagi untuk
meyakinkan bahwa tembaga telah bereaksi sempurna

Larutan didinginkan pada air dingin dan secara kuantitatif dipin-


dahkan ke dalam labu takar 100 mL lalu diencerkan sampai tanda

Diambil 25 mL larutan dengan pipet gondok kemudian


dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL

Dititrasi dengan larutan standar 0,02 M KMnO4

Dilakukan titrasi sebanyak dua kali


E. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Standardisasi larutan 0,02 M KMnO4
Reaksi yang terjadi (dalam suasana asam) :
C2O42- 2CO2 + 2e- x5
MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O x2
5C2O42- + 2MnO4- + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O
massa H 2 C 2 O4 .2 H 2 O
mol H2C2O4.2H2O =
BM H 2 C 2 O4 .2 H 2 O
0,63 gr
= 126 gr / mol = 5 x 10-3 mol = 5 mmol

1000
Konsentrasi H2C2O4.2H2O = × mol H2C2O4.2H2O
100
1000
= × 5 mmol = 0,05 M
100
Menurut persamaan di atas, 5 mol C2O42- sebanding dengan 2 mol MnO4-
− − 2− 2−
M1V1 = M2V2 ⇒ 5 M MnO 4 .V MnO 4 = 2 M C2O4 .V C2O4
Titrasi 1 Titrasi 2
− −
5 x M MnO 4 x 5 mL = 2 x 0,05 M x 5 5 x M MnO 4 x 5,1 mL = 2 x 0,05 M x 5
mL mL
− −
M MnO 4 = 0,02 M M MnO 4 = 0,019607 M
− 0,02 M + 0,019607 M
M MnO 4 rata- rata = 2 = 0,0198 M ≈ 0,02 M

Pada percobaan standardisasi KMnO4, titrasi dilakukan secara terbalik. Larutan


KMnO4 yang akan dicari konsentrasinya diletakkan pada buret, sedangkan larutan
standar asam oksalat ditempatkan pada erlenmeyer. Hal ini dilakukan agar lebih mudah
dalam mengamati perubahan warna yang terjadi karena reaksi/ perubahan warna yang
terjadi berjalan tidak terlalu cepat/ lambat.
Dalam percobaan ini juga ditambahkan asam sulfat ke dalam asam oksalat.
Kegunaannya adalah sebagai pemberi suasana asam dan untuk mempercepat laju reaksi.
Asam sulfat yang berfungsi sebagai pemberi suasana asam tidak dapat digantikan oleh
asam-asam yang lain seperti HCl, HI, HBr, atau HNO3 karena asam tersebut (HCl, HI,
HBr) akan dioksidasi sendiri oleh KMnO4. Sedangkan HNO3 tidak dapat digunakan
karena HNO3 sendiri merupakan oksidator.
2. Stoikiometri reaksi logam Cu dengan garam Fe (III)
Reaksi :
Reaksi I : jika Cu+ yang terjadi
Fe3+ + e- Fe2+
Cu Cu+ + e-
Fe3+ + Cu Fe2+ + Cu+
Reaksi II : jika Cu2+ yang terjadi
2 Fe3+ + 2 e- 2 Fe2+
Cu Cu2+ + 2 e-
2 Fe3+ + Cu 2 Fe2+ + Cu2+
Reaksi pada proses titrasi Fe2+ dengan KMnO4
Fe2+ Fe3+ + e- x5
MnO4- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O x1
5Fe2+ + MnO4- + 8H+ 5Fe3+ + Mn2+ + 8H2O
Dari reaksi terlihat bahwa : 1 mol Fe2+ = 1 grek Fe2+
1 mol MnO4- = 5 grek MnO4-
Sesuai dengan konsep mol, titik ekivalen dicapai bila :
Grek penitran = grek yang dititrasi ⇒ grek MnO4- = grek Fe2+
Maka dapat disimpulkan : 1 mol MnO4- sebanding dengan 5 mol Fe2+

N KMnO 4 = 5 M KMnO 4

= N KMnO 4 .V KMnO
2+ 2+
N1V1 = N2V2 ⇒ N Fe .V Fe 4

Titrasi 1 Titrasi 2
2+ 2+
N Fe x 25 mL = 0,1 N x 15 mL N Fe x 25 mL = 0,1 N x 15,1 mL
2+ 2+
N Fe = 0,06 N N Fe = 0,0604 N
2+ 0,06 N + 0,0604 N
N Fe rata-rata = 2
= 0,0602 N ≈ 0,06 N

100
×
2+
Dalam 100 mL larutan grek Fe2+ = N Fe rata-rata
1000
100
= × 0,06 N = 6 x 10-3 grek
1000
Karena 1 mol Fe2+ sama dengan 1 grek Fe2+ maka mol Fe2+ = 6 x 10-3 mol = 6 mmol
Seperti dalam percobaan standardisasi KMnO4, dalam percobaan ini titrasi juga
dilakukan secara terbalik untuk mempermudah dalam pengamatan perubahan warna.
Selain itu juga digunakan asam sulfat yang berfungsi sebagai pemberi suasana asam dan
mempercepat laju reaksi. Penetapan ion Fe2+ dengan larutan standar KMnO4 harus
dilakukan dalam suasana asam karena pada suasana basa/ netral, sebagian KMnO4
diubah menjadi MnO2 yang menyebabkan larutan berwarna coklat dan menyulitkan
dalam penentuan titik akhir titrasi.
Pada percobaan ini, campuran logam Cu dan garam Fe (III) dipanaskan.
Fungsinya adalah untuk mempercepat laju reaksi karena reaksi antara logam Cu dan
garam Fe (III) merupakan reaksi yang berjalan secara lambat. Sedangkan tujuan gelas
beker ditutup (dengan gelas arloji) adalah agar tidak ada zat-zat yang keluar/masuk yang
mungkin dapat mengganggu reaksi. Contohnya, dalam udara terbuka, Cu dapat
bersenyawa dengan oksigen membentuk CuO.
3. Menghitung harga r
Cu yang bereaksi sebesar 0,05 gram.
massa Cu 0,05 gr
mol Cu = BM Cu
= 63 ,55 gr / mol = 7,867 x 10-4 mol ≈ 0,79 mmol

mmol Fe 2 + yang bereaksi mmol Fe 2+ hasil 6 mmol


r = mmol Cu yang terpakai = = 0,79 mmol = 7,59
mmol Cu

Dari hasil perhitungan, didapat harga r sebesar 7,59. Hal ini tidak sesuai dengan
teori yang menyatakan harga r sebesar 1 sampai dengan 2. Harga r yang tidak sesuai
dengan teori ini mungkin dikarenakan reaksi yang terjadi belum sempurna sehingga
masih ada sebagian logam Cu yang belum bereaksi. Jika semua logam Cu telah
bereaksi, maka mol Cu akan lebih besar. Akibatnya, faktor pembagi (penyebut) dalam
nilai r akan lebih besar sehingga nilai r akan lebih kecil (semakin mendekati nilai 1-2).
Kemungkinan yang lain adalah kesalahan dalam pengamatan atau alat dan bahan yang
sudah tidak sesuai standar.
4. Perbandingan [Cu+] dan [Cu2+]
Menurut teori, untuk mengetahui reaksi mana yang lebih banyak terjadi,
digunakan data potensial elektroda standar.
Reaksi I : jika Cu+ yang terjadi
Fe3+ + e- Fe2+ Eo = - 0,520 V
Cu Cu+ + e- Eo = + 0,771 V
Fe3+ + Cu Fe2+ + Cu+ Eo = + 0,251 V
Reaksi II : jika Cu2+ yang terjadi
2 Fe3+ + 2 e- 2 Fe2+ Eo = - 0,337 V
Cu Cu2+ + 2 e- Eo = + 0,771 V
2 Fe3+ + Cu 2 Fe2+ + Cu2+ Eo = + 0,434 V
Dari harga potensial elektroda standar (Eo), keduanya bernilai positif. Karenanya, kedua
reaksi di atas dapat dimungkinkan terjadi/berlansung. Akan tetapi, potensial elektroda
reaksi II lebih besar dari pada reaksi I, sehingga dapat disimpulkan reaksi II lebih
banyak terjadi.
[Cu + ] 2 −r 2 −7,59
2+ = r −1 = 7,59 −1 = 0,848
[Cu ]

Dari hasil perhitungan di atas diketahui nilai perbandingan konsentrasi Cu+ : Cu2+
sebesar 0,8 : 1 yang berarti konsentrasi Cu2+ yang terbentuk lebih banyak dari pada Cu+
yang terbentuk. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan Cu2+ lebih banyak
terbentuk dibandingkan Cu+.
F. KESIMPULAN
1. Konsentrasi larutan KMnO4 standar adalah 0,02 M.
2. Kuantitas Fe2+ rata-rata sebesar 6 mmol.
3. Kuantitas Cu yang bereaksi sebesar 0,79 mmol.
4. Nilai r sebesar 7,59.
[Cu + ]
5. Nilai sebesar 0,848
[Cu 2+ ]

6. Cu2+ yang terbentuk lebih banyak dari pada Cu+ yang terbentuk.

G. DAFTAR PUSTAKA
Brady, J.E., 1999, General Chemistry, Principle and Structure, Jilid 2, Bina Rupa
Aksara : Jakarta
Cotton and Wilkmson, 1989, Kimia Anorganik Dasar, Cetakan I, UI Press : Jakarta
Ebbing, Darrel, 1987, General Chemistry, Second Edition, Houghton Mifflin
Company : Massachusetts
Keenan, C.W., Kleinfelter, D.C., Wood, J.H., 1996, Ilmu Kimia untuk Universitas, Edisi
keenam, Jilid 1, Erlangga : Jakarta
Mudjiran, 2002, Diktat Kuliah Kimia Analitik, FMIPA UGM : Yogyakarta
id.wikipedia.com

Yogyakarta, 6 November 2007


Asisten Praktikan

Tita Dewi R. Fiby Achmad V.