Você está na página 1de 4

AKHLAK MULIA DEFINISI DAN KEUTAMAANNYA

Ust. Asy`ari Masduki, MA Misi utama Rasulullah adalah mengajak umat manusia untuk memeluk agama Islam, satu-satunya agama samawi dan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah ta`ala. Raasulullah mengajak umat manusia untuk hanya menyembah Allah ta`ala dan tidak mensekutukan-Nya dengan makhluk. Selain akidah, beliau juga mengemban misi membenahi akhlak umat manusia.Rasulullah -shallallahu`alaihi wasallam- bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (H.R al Baihaqi) Dalam Islam, kemulliaan akhlak menjadi barometer (alat pengukur) kekuatan iman seseorang. Rasulullah -shallallahu`alaihi wasallam- bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang palling baik akhlaknya".(H.R at Thabarani) Orang yang berakhlak mulia dijamin dengan -shallallahu`alaihi wasallam-, Beliau bersabda : surga oleh Rasulullah

"Aku jamin dengan sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang memperbaiki akhlaknya". (H.R al Baihaqi) Menurut Allah, kedudukan orang yang berakhlak mulia setara dengan orang yang senantiasa melakukan puasa sunnah pada siang hari dan senantiasa melaksanakan shalat sunnah pada malam harinya. Rasulullah -shallallahu`alaihi wasallam- bersabda : "Sesungguhnya dengan kemuliaan akhlaknya, seseorang benar - benar dapat sampai pada derajat as shaim (orang yang berpuasa sunnah terus menerus pada siang hari) dan derajat al Qiam(orang yang shalat sunnah terus menerus setiap malam)"(H.R al Baihaqi) Definisi Akhlak Mulia Pada prinsipnya seseorang dianggap telah berakhlak mulia apabila telah melakukan tiga kriteria berikut ini: 1. Berbuat baik kepada siapa pun (tanpa pandang bulu), orang yang dikenalnya maupun yang tidak dikenalnya, orang yang baik terhadapnya maupun orang yang jahat terhadapnya. Seseorang belum disebut sebagai orang yang berakhlak mulia apabila hanya berbuat baik kepada orang yang dikenalnya saja, atau apabila hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadanya saja,

sebaliknya kepada orang yang jahat terhadapnya ia membalas dengan kejahatan serupa atau bahkan yang lebih jahat. Sebab akhlak semacam itu juga bisa dilakukan oleh seekor binatang. Seekor anjing apabila ia diurus dan diberi makan dengan baik, maka ia akan membalasnya dengan kebaikan, membantu pekerjaan dan menjaga rumahnya. Sebaliknya, apabila dia diperlakukan denngan tidak baik, maka anjing itupun akan jahat, menggigit dan menerkamnya. Berbuat baik tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu ini hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang dalam berbuat baik hanya mengharapkan ridha Allah. Sebab seseorang yang mengharapkan pujian dan imbalan manusia dari perbuatan baik dan imbalan manusia dari perbuatan baik yang ia lakukan, maka tentu ia akan memilih-milih dalam berbuat baik, memilih orang yang kira-kira bisa membalas dengan kebaikan yang serupa atau kalau bisa bahkan orang yang bisa membalas kebaikannya tersebut dengan kebaikan yang jauh lebih besar. 2. Mengekang hawa nafsunya dari berbuat jahat terhadap orang lain. ia harus mengekang tangannya dari menyakiti orang lain(seperti membunuh, memukul, menakut-nakuti dengan senjata atau mengambil hak orang lain). Ia harus mengekang lisanya dari menyakiti orang lain (seperti mengumpat, mengadu domba atau mencaci orang lain). Ia juga harus mengekang semua anggota badannya dari menyakiti orang lain. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: "Seorang muslim yang sempurna adalah apabila umat Islam selamat dari perlakuan jahat tangan dan lisannya".(H.R al Bukhari, Muslim, dan lainnya) 3. Bersabar ketika mendapatkan perlakuan jahat dari orang lain. Ia harus mampu mengekang hawa nafsunya untuk tidak membalas perlakuan jahat orang lain kepadanya. Sebaliknya dia harus berusaha membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Aqabah bin Amir menceritakan bahwa Rasulullah -shallallahu`alaihi wasallam- menjelaskan kepadanya tentang akhlak penduduk langit dan bumi yang paling mulia. Beliau bersabda : "Yaitu menyambung tali silaturrahim orang yang memutus tali silaturrahim danganmu, memberikan sesuatu orang yang tidak sudi memberimu sesuatu dan memberi maaf orang yang mendzallimimu" (H.R at Thabarani) Berhias Diri dengan Akhlak yang Baik. Ketahuilah, menghiasi diri dengan akhlak yang baik termasuk unsur-unsur ketakwaan, dan tidak sempurna ketakwaan seseorang itu kecuali dengan akhlak yang baik. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:(Surga itu) disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imron: 133-134) Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa taala menganggap bahwa bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik termasuk pilar-pilar ketakwaan. Ketahuilah, diantara keutamaan akhlak adalah :

Pertama : Akhlak yang baik termasuk tanda kesempurnaan iman seseorang, sebagaimana

sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. (Dishahihkan oleh Syaikh AlAlbani dalam Shohihul Jami, No. 1241) Kedua : Dengan akhlak yang baik, seorang hamba akan bisa mencapai derajat orangorang yang dekat dengan Allah Taala, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sabda beliau: Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan qiyamul lail. (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami, No. 1937) Ketiga : Akhlak yang baik bisa menambah berat amal kebaikan seorang hamba di hari kiamat, sebagaimana sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam : Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika diletakkan di timbangan amal (di hari akhir) selain akhlak yang baik. (Shahihul Jami, No. 5602) Keempat : Akhlak yang baik merupakan sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah ketika ditanya tentang apa yang bisa memasukkan manusia ke dalam surga. Beliau menjawab: Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik. (Riyadhus Shalihin) Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu ?

Imam Hasan Al-Bashri berkata : Akhlak yang baik diantaranya: menghormati, membantu dan menolong. Ibnul Mubarak berkata: Akhlak yang baik adalah: berwajah cerah, melakukan yang maruf dan menahan kejelekan (gangguan). Imam Ahmad bin Hambal berkata: Akhlak yang baik adalah jangan marah dan dengki. Al-Imam Muhammad bin Nashr mengatakan: Sebagian ulama berkata: Akhlak yang baik adalah menahan marah karena Allah, menampakkan wajah yang cerah berseri kecuali kepada ahlul bidah dan orang-orang yang banyak berdosa, memaafkan orang yang salah kecuali dengan maksud untuk memberi pelajaran, melaksanakan hukuman (sesuai syariat Islam) dan melindungi setiap muslim dan orang kafir yang terikat janji dengan orang Islam kecuali untuk mengingkari kemungkaran, mencegah kedzaliman terhadap orang yang lemah tanpa melampaui batas.(Iqadhul Himam, hal. 279) Bagaimana memperbaiki akhlak seorang hamba :

Akhlak seorang hamba itu bisa baik bila mengikuti jalannya (sunnahnya) Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, sebab beliaulah orang yang terbaik akhlaknya. Allah Taala berfirman: Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam: 4). Allah Taala juga menegaskan: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yakni) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (datangnya) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab: 21) Maka sudah selayaknya bagi setiap muslim mempelajari riwayat hidupnya dari setiap sisi

kehidupan beliau (secara menyeluruh), yakni bagaimana beliau beradab dihadapan Rabbnya, kelurganya, sahabatnya dan terhadap orang-orang non muslim. Salah satu cara untuk mempelajari itu semua adalah sering duduk (bergaul) dengan orang-orang yang bertakwa. Sebab seseorang itu akan terpengaruh dengan teman duduknya. Nabi bersabda: Seseorang itu dilihat dari agama teman dekatnya. Karena itu lihatlah siapa teman dekatnya.(HR Tirmidzi) Kemudian wajib juga bagi setiap muslim untuk menjauhi orang yang jelek akhlaknya. Mudah-mudahan dengan begitu kita termasuk hamba-hamba Allah yang menghiasi diri kita dengan akhlak yang baik.