Você está na página 1de 3

Apakah saya lebih baik dari orang lain ( Merasa paling benar) Anda kenal istilah 'ge-er'?

Ini singkatan dari gede rasa, terlalu percaya diri, atau lebih tepatnya merasa diri berlebihan hebatnya daripada orang kebanyakan. Penyakit 'ge-er' ini rasanya semakin hari semakin jadi dengan kecenderungan manusia zaman sekarang yang semakin narsis (mencintai diri sendiri secara berlebihan). Apalagi dengan media-media sosial melalui internet memungkinkan orang membangun citra diri yang jauh lebih hebat daripada aslinya. Apa masalahnya dengan sikap tersebut? Bukankah orang beragama memang diajarkan untuk saleh, bermoral, baik hati? Masalahnya ada pada kata merasa. Orang yang merasa baik, belum tentu benar-benar baik. Akibatnya, karena merasa baik, ia menolak nasihat; ketika mendengar nasihat, tidak terpikir bahwa ia yang membutuhkannya. Pernah suatu ketika saya berkhotbah tentang jangan menghakimi. Sesudahnya, seorang menghampiri dan mengatakan bahwa khotbah saya bagus, sayangnya orang-orang yang seharusnya mendengarnya tidak datang hari itu. Semoga saya tidak menghakimi, tapi bukankah itu sudah merupakan sikap menghakimi? Bacaan: Yohanes 4:5-42 Diatas langit, masih ada langit lagi, diatas yang berpengetahuan, masih ada lagi yang jauh lebih berpengatahuan "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" ( Mat. 20: 26- 27 ). " Manusia yang sombong akan direndahkan", demikian firman Tuhan dalam Yesaya 2: 11 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------"Jadilah orang pintar, tetapi jangan merasa pintar". "Jadilah orang benar, tetapi jangan merasa benar". Kedua pepatah itu mengandung nasehat dan anjuran. Orang yang menghayati arti pepatah itu, kemudian menerapkannya dalam kehidupannya bermasyarakat, niscaya akan mendatangkan rasa tenteram bagi lingkungannya. Keinginan seseorang untuk menunjukkan kemampuan dirinya adalah hal yang wajar, tetapi kadang- kadang yang muncul bukan sekadar menunjukkan kemampuannya, melainkan ingin menonjolkan dirinya kepada orang lain. Penonjolan diri dapat terwujud dalam beberapa bentuk, misalnya: merasa bahwa dirinya yang paling benar, paling pintar, paling bisa, paling dihargai, dan seterusnya. Sebagai contoh, kita dapat melihat penonjolan diri yang demikian dalam kehidupan orang- orang Farisi. Dirinya selalu ingin dipuji, merasa paling tinggi, paling saleh karena menguasai hukum Taurat, paling terhormat karena persembahan yang diberikannya. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku (Lukas 18:9-14).

Kalau ada pepatah Tak ada gading yang tak retak, sepertinya ini tidak berlaku bagi orang Farisi. Mereka benar-benar berusaha mengikuti peraturan agama hingga detil terkecil. Bahkan Yesus sendiri menjadikan mereka sebagai pembanding untuk perbuatan orang-orang yang mengaku beriman kepada-Nya (Mat. 5:20). Namun Tuhan Yesus hanya membandingkan supaya mereka yang menyebut diri murid-Nya memiliki perbuatan yang membuktikan iman mereka. Selebihnya, Tuhan Yesus mengecam orang Farisi. Termasuk di sini Yesus mengecam orang Farisi dan justru membenarkan pemungut cukai yang berdoa dari kejauhan sambil memukul dirinya dan berkata, Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Kecaman diberikan kepada orang Farisi karena mereka merasa bahwa perbuatan baik mereka cukup untuk membenarkan diri mereka, membuat mereka layak di hadapan Allah. Pada saat mereka merasa diri cukup benar untuk diterima Allah, di sinilah masalahnya. Masalah ini dinyatakan di awal cerita itu yaitu mereka memandang diri paling benar dan merendahkan orang lain karena tidak sebaik mereka (Luk. 18:9). Orang yang merasa diri paling benar adalah orang-orang yang bukan hanya tinggi hati tetapi juga tidak membutuhkan pengampunan dan pembenaran dari Allah sendiri berdasarkan anugerah Allah. Mereka tidak merasa pernah melakukan kesalahan sehingga juga merasa tidak membutuhkan pembenaran Allah. Kalaupun butuh pembenaran Allah, maka itu didasarkan pada perbuatan baik mereka bukan pengorbanan Yesus. Dalam kehidupan sehari-hari, orang seperti ini anti kritikan tetapi suka mengkritik karena merasa paling benar. Ia suka membandingkan dirinya dengan orang lain, dan tentu saja ia menjadi pahlawannya, dan orang lain berada di bawahnya. Para guru Kristen, pendeta, pembimbing rohani, pemimpin kelompok kecil, dan orang-orang Kristen lainnya yang merasa rohani sangat rentan dengan sikap merasa benar ini. Karena merasa diri benar berdasarkan perbuatan-perbuatannya, ia sulit menyadari kesalahan dan dosa-dosanya. Jika tidak sadar akan dosa-dosanya, sulit baginya meminta ampun kepada Allah, dan akibatnya sulit juga baginya merasakan kebesaran anugerah dan kekudusan Allah. Karena itu orang yang menyadari dan merasakan betapa ia telah berdosa dan tidak layak di hadapan Allah, seperti pemungut cukai itu, juga akan menjerit dalam hatinya bahwa dia memang benar-benar membutuhkan pengampunan Allah saja melalui Yesus Kristus. Ia bukan hanya merasakan anugerah Allah yang besar itu sehingga ia akan merasa malu untuk berbuat dosa lagi, tetapi ia juga akan menerima anugerah itu. Sering mawas diri, menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, berdoa meminta Roh Kudus menyingkapkan dosa-dosa yang tersembunyi, tidak menganggap orang lain lebih rendah, tidak mendasarkan pembenaran pada perbuatan baik, dan membaca Alkitab secara benar agar tahu hal-hal yang bisa disebut dosa adalah cara-cara untuk melawan sikap merasa diri paling benar ini. Paulus bahkan berkata bahwa di antara orang yang berdosa di dunia ini, dia paling berdosa (1 Tim. 1:15-16). Allah akan siap mengampuni orang-orang yang dengan rendah hati mengakui keberdosaannya dan bersandar pada karya Yesus di Salib untuk membenarkannya.

Ada beberapa hal mengenai bagaimana kita bisa memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain: 1. Perlakukan mereka sebagaimana Anda ingin mereka bertingkah laku Mari belajar dari Yesus. Kemana pun Yesus pergi, Dia melihat potensi di dalam orangorang yang tidak mereka lihat di dalam diri mereka sendiri. Yesus tidak fokus pada kelemahan/kesalahan mereka. Dia melihat potensi mereka di masa depan. Kuncinya adalah: Jangan fokus pada diri mereka sekarang tetapi pada potensi mereka di masa depan. Sebagai contoh, jika Anda memiliki seorang saudara atau teman yang malas; jangan fokus pada kelemahan mereka. Perlakukan mereka seperti pekerja keras. Temukan satu hal di mana Anda bisa memujinya dan mulai menguatkannya dengan itu. Petrus adalah seorang yang emosional, keras, gegabah tetapi itu tidak menghalangi Yesus. Sebaliknya, Yesus bekerja dengan Petrus untuk memaksimalkan potensi dalam dirinya. Semuanya telah ada di dalam dirinya sehingga Yesus harus mengeluarkan seluruh potensinya. Anda tidak akan pernah bisa memaksimalkan seseorang (Pasangan/anak-anak/orang tua/pembantu/teman/tetangga) dengan mengutuk dan mengkritik, atau menjatuhkannya dgn perkataan. 2. Belajar untuk memuji satu dengan lain Manusia juga meresponi suatu tindakan khususnya ketika kita dipuji, dikagumi dan dihargai. Perlu waktu untuk memuji. Pujian yang singkat, tulus, dan alami bisa menjaga kuatnya suatu hubungan. Ingat, pikiran Anda tidak memberkati siapa pun tetapi Anda sendiri. Anda harus mengungkapkan dengan kata-kata dari pikiran tersebut; ucapkan dan berilah pujian. Mari kita tidak mengabaikan satu dengan yang lain. Pujian satu dengan yang lain seperti perekat yang merekatkan hubungan.

3. Jadilah seorang pemberi bukan penerima Alkitab berkata, Besi menajamkan besi. Cara kita hidup dengan yang lain harus menguatkan orang lain untuk menjadi lebih baik. Tanyakan diri Anda, Apakah orang-orang di dalam hidup saya lebih baik atau lebih buruk karena saya? Apakah saya membangun mereka dalam percakapan kami, dan memaksimalkan potensi mereka, atau . Apakah saya membawa mereka jatuh? Apakah saya percaya pada orang-orang? Apakah saya percaya mereka bisa meningkatkan hidup mereka? Atau apakah saya fokus pada diri saya sendiri? Jika Anda fokus memaksimalkan potensi orang lain, Tuhan akan memaksimalkan potensi Anda.