P. 1
Proposal ( Bab 1,2,3 )

Proposal ( Bab 1,2,3 )

|Views: 795|Likes:
Publicado porIsmail Andi Baso

More info:

Published by: Ismail Andi Baso on Jul 28, 2011
Direitos Autorais:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2013

pdf

text

original

Sections

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit infeksi menular yang sudah ada sejak dahulu kala. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan organ tubuh lainnya seperti tulang sendi, usus, kelenjar limfa, selaput otak dan lainnya. Penyakit tuberkulosis (TBC) masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) dalam Annual Report on Global TB Control 2003 menyatakan terdapat 22 negara dikategorikan sebagai high-burden countries terhadap TB. Indonesia termasuk peringkat ketiga setelah India dan China dalam menyumbang TB di dunia. Menurut WHO estimasi insidence rate untuk pemeriksaan dahak didapatkan basil tahan asam (BTA) positif adalah 115 per 100.000 (WHO, 2003). Penyakit ini menjadi penting dibicarakan karena menurut data WHO bahwa pada sekitar 10 tahun yang lalu saja kuman

mycobacterium tuberculosis (kuman Tb) telah menginveksi penduduk dunia. Masalah kesehatan paru, lanjutnya, merupakan masalah kesehatan penting di dunia. Dewasa ini sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi TB. Ada sekitar delapan juta penderita baru TB di

2

seluruh dunia per tahun dan hampir tiga juta meninggal akibat TB setiap tahun. Artinya, setiap detik akan ada satu orang yang terinfeksi TB dan setiap 10 detik akan ada satu orang yang meninggal karena penyakit ini. Penyakit paru merupakan salah satu masalah kesehatan bagi bangsa Indonesia saat ini. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga (SKRT) yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan, sekitar 30-40 persen penyakit dan penyebab kematian di Indonesia adalah penyakit tubercolosis paru dengan berbagai bentuknya. Buku SEAMIC Health Statistic 2002 menunjukan bahwa setidaknya tiga penyakit paru merupakan bagian dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia, yakni pneumonia, tuberkolosis (TB), dan bagian dari neoplasma ganas. Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan

masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB di dunia. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insiden kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk (Depkes RI 2008). Jumlah penderita tubercolosis paru di Kalimantan Timur

diperkirakan meningkat 0,15 persen per tahun. Tahun 2006 diperkirakan jumlahnya meningkat 2 kali lipat, sekitar 75 persen penderita TB merupakan usia produktif. Sementar suspect TB 2006 / 2007 terjadi

3

peningkatan 13,5 persen. Untuk data penderita Tuberkulosis pada tahun 2007 berjumlah 1.889 orang, kemudian penderita Tuberkulosis meningkat pada tahun 2008 menjadi 1.993 orang (P2M Dinkes Prop. Kaltim, 20072008). Penderita TB paru dengan BTA positif yang terdeteksi di sarana pelayanan kesehatan di Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2006 ada 184 penderita dan pada tahun 2007 ada 192 penderita,sedangkan di tahun 2008 terjadi peningkatan kasus dengan ditemukannya klinis TB Paru sebanyak 419 kasus dengan 318 BTA positif. Dilihat trend yang cukup terpola dari tahun 2004 sampai tahun 2008, yakni terjadi penurunan kasus pada tahun sebelumnya kemudian terjadi lagi peningkatan kasus pada tahun berikut. Jika dikaitkan dengan kondisi lingkungan perumahan dan sosial ekonomi masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara saat ini, maka kasus TB paru bisa saja akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Di Kabupaten Kutai Kartanegara pada tahun 2008 jumlah penderita Tuberkulosis klinis pada pasien paru sebanyak 419 orang Kasus dengan penderita Tuberkulosis Paru BTA positif sebanyak 318 orang. Sedangkan pada tahun 2009 , kasus penderita Tuberkulosis klinis pada pasien paru adalah sebanyak 132 orang dan penderita Tuberkulosis BTA positif

sebanyak 81 orang (Narasi profile Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara 2008-2009).

4

Pada wilayah kerja Puskesmas Loa Duri tahun 2008 jumlah penderita Tuberkulosis klinis sebanyak 22 orang dengan penderita Tuberkulosis Paru BTA positif sebanyak 9 orang, kemudian pada tahun 2009 kasus penderita tuberkulosis klinis 21 orang dengan penderita Tuberkulosis Paru BTA positif sebanyak 10 orang, pada tahun 2010 terjadi peningkatan kasus penderita tuberkulosis klinis 34 orang dengan penderita Tuberkulosis Paru BTA positif sebanyak 18 orang (Register TBC Puskesmas Loa Duri , 2008, 2009 dan 2010). Penyakit TB berkaitan erat dengan faktor perilaku hidup bersih dan sehat dari masyarakat maupun individu dan didukung juga dengan pengetahuan, sikap dan tindakan. Seperti kita ketahui cara penularan kuman TB melalui percikan dahak yang mengandung kuman TB (droplet) yang dikeluarkan lewat batuk, bersin dan meludah. Untuk mencegah penularan maka dianjurkan untuk menutup mulut dengan sapu tangan pada waktu batuk dan bersin. Penderita TB dan PMO ( Pengawasan Menelan Obat ) serta keluarga perlu diberikan konseling TB agar dapat mencegah penularan, mendeteksi awal jika ada yang mengalami gejala TB serta mengawasi dan mendorong penderita agar berobat secara teratur sampai dinyatakan sembuh. Kesembuhan bukan hanya dengan obat saja, akan tetapi perubahan perilaku mutlak diperlukan. TBC adalah suatu penyakit Dahak yang pasien disebabkan TBC oleh basil

Mycobacterium

tuberculosa.

yang

dibuang

5

sembarangan di tanah, mengering, terbang bersama debu, kemudian terhirup oleh orang yang berada di sekitarnya. Perilaku sehari-hari yang kurang sehat dan pengetahuan yang kurang, sikap dan tindakan yang tidak sehat cenderung mengakibatkan penularan dan peningkatan kasus Tuberkulosis paru. Berdasarkan kenyataan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang prilaku pencegahan penularan penyakit tuberkulosis Paru yang dilakukan oleh penderita di Wilayah kerja

Puskesmas Loa Duri, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dimana pada wilayah Kerja puskesmas tersebut tercatat data dari Register TBC Puskesmas Loa Duri , 2008, 2009 dan 2010. B. Rumusan Masalah Dari penjelasan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ³Bagaimana pengetahuan, sikap dan tindakan pencegahan penularan penyakit Tuberkulosis Paru pada penderita di Wilayah kerja Puskesmas Loa Duri Kabupaten Kutai Kartanegara´ C. Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum Untuk mendapatkan gambaran Pengetahuan, sikap dan

tindakan pencegahan penularan penyakit Tuberkulosis paru pada

6

penderita Di Wilayah Kerja Puskesmas Loa Duri Kabupaten Kutai Kartanegara. b. Tujuan khusus 1. Memperoleh gambaran pengetahuan tentang pencegahan

penularan penyakit Tuberkulosis paru pada penderita di wilayah kerja Puskesmas Loa Duri Kabupaten Kutai Kartanegara. 2. Memperoleh gambaran Sikap tentang pencegahan penularan penyakit Tuberkulosis paru pada penderita di wilayah kerja Puskesmas Loa Duri Kabupaten Kutai Kartanegara. 3. Memperoleh gambaran Tindakan tentang pencegahan penularan penyakit Tuberkulosis paru pada penderita di wilayah kerja Puskesmas Loa Duri Kabupaten Kutai Kartanegara. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman Dapat menjadi bahan refrensi untuk penelitian mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman selanjutnya. 2. Manfaat Bagi Institusi Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi pemerintah dan instansi terkait khususnya Dinas

Kesehatan Propinsi Kalimantan Timur sebagai petunjuk dalam mengambil kebijakan di bidang kesehatan. 3. Manfaat Bagi Ilmu Pengetahuan

7

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasana ilmu pengetahuan dan berikutnya. 4. Manfaat Bagi Peneliti Bagi peneliti merupakan pengalaman berharga dalam memperluas wawasan keilmuan dan pengetahuan tentang perilaku pencegahan merupakan salah satu bacaan bagi peneliti

tubercolosis di Puskesmas melalui penelitian di lapangan. 5. Bagi Masyarakat Masyarakat dapat mengetahui perilaku yang baik dalam

pecegahan Tubercolosis khususnya di wilayah kerja Puskesmas Loa Duri .

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Tinjauan Umum Tuberculosis a. Defenisi Tuberkulosis Paru Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang

disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Tuberkulosis Paru adalah Tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus (Depkes RI 2008,). Kuman M. Tuberkulosis pada penderita TB paru dapat terlihat langsung dengan mikroskop pada sedian dahaknya (BTA positif) dan sangat infeksius. Sedangkan penderita yang

kumannya tidak dapat dilihat langsung dengan mikroskop pada sedian dahaknya (BTA negatif) dan sangat kurang menular. Penderita TB BTA positif mengeluarkan kuman-kuman di udara dalam bentuk droplet yang sangat kecil pada saat bersin atau batuk. Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhisap orang lain. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam paru orang yang menghirupnya, kuman mulai membelah diri (berkembang biak) dan

9

terjadi infeksi. Orang yang serumah dengan penderita TB BTA positif adalah orang yang besar kemungkinannya terpapar kuman Tuberkulosis (Notoatmodjo 2007,). b. Kuman Tuberkulosis Kuman penyebab Tuberkulosis ini berbentuk batang

ramping lurus atau sedikit bengkok dengan kedua ujungnya membulat. Koloninya yang kering dengan permukaan berbentuk bunga kol dan berwarna kuning tumbuh secara lambat walaupun dalam kondisi normal. Diketahui bahwa pH optimal untuk pertumbuhannya adalah antara 6,8 - 8,0. Untuk memelihara virulensinya harus dipertahankan kondisi pertumbuhannya pada pH 6,8. Sedangkan untuk merangsang pertumbuhannya

dibutuhkan karbondioksida dengan kadar 5-10%. Umumnya koloni baru Nampak setelah kultur berumur 14-28 hari, tetapi biasanya harus ditunggu sampai berumur 8 minggu (Misnadiarly 2006,). M. Tuberculosis memproduksi katalase, tetapi ia akan berhenti memproduksi bila dipanaskan pada suhu 65oC selama 20 menit dalam kadar fosfat. Mycobacterium Tuberkulosis yang resisten terhadap obat anti Tuberkulosis INH, tidak memproduksi katalase. Kuman ini tahan asam pada pewarnaan dan berukuran kira-kira 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron (Misnadiarly 2006, hal).

10

c. Gejala dan Tanda Penyakit Tuberkulosis Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB dan perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis langsung (Depkes RI 2008,). d. Penularan penyakit Tuberkulosis Kebanyakan penularan penyakit Tuberkulosis ini melalui inhalasi kuman Tuberkulosis yang terdapat di udara. Pada perjalanannya kuman ini banyak mengalami hambatan antara lain di hidung (terhambat oleh bulu hidung) dan lapisan lendir yang melapisi seluruh saluran pernafasan dari atas sampai ke kantong alveoli. dahak secara

11

Bila

penderita

baru

pertama

kali

ketular

kuman

Tuberkulosis ini, terjadilah suatu proses dalam tubuhnya (paruparu) yang disebut Primary Complex of Tuberkulosis (PCT). PCT ini terdiri dari fokus di paru-paru dimana terjadi eksudasi dari sel karena proses dimakannya kuman Tuberkulosis oleh sel macropag. Lesi dapat terjadi pada kelenjar getah bening, yang disebabkan karena lepasnya kuman pada saluran lymphe. Proses pemusnahan kuman TB oleh akan menimbulkan kekebalan macropag ini akhirnya terhadap kuman

spesifik

Tuberkulosis. PCT dapat terjadi pada semua umur. Di negara dimana prevalensi TB tinggi kebanyakan anak-anak sudah ´terinfeksi oleh penyakit Tuberkulosis´ pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya. Namun yang kemudian menjadi penyakit TBC sedikit saja. Selanjutnya ada 2 kemungkinan yang terjadi menyusul

pembentukan PCT ini, yaitu: 1. Dapat sembuh dengan sendirinya karena adanya proses penutupan fokus primer oleh kapsul membran yang akhirnya akan terjadi ´perkapuran´. 2. Beberapa kuman akan ikut terlepas ke dalam pembuluh darah dan dapat berkembang menginfeksi organ-organ yang

12

terkena.

Infeksi

yang

demikian

disebut

Post

Primary

Tuberkulosis (PTT). PTT ini akan dapat berupa: Infeksi pada paru-paru, larynx dan telinga tengah, kelenjar getah bening dileher, saluran pencernaan dan lubang dubur, saluran kemih, tulang dan sendi. Berkembangnya jumlah penderita yang terinfeksi kuman Tuberkulosis dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain : keadaan rendahnya sosial latar ekonomi belakang masyarakat, pendidikan kekurangan (buta huruf) gizi, dan

kepadatan penduduk.(Misnadiarly 2006,) e. Riwayat terjadinya penyakit Tuberkulosis 1. Infeksi Primer Infeksi primer terjadi saat seorang terpapar pertama kali dengan kuman TB, droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosiler bronkus dan terus menerus berjalan sehingga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara membelah diri paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman TB ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan

kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu.

13

2. Tuberkulosis pasca Primer (Post Primary TB) Ciri khas dari Tuberkulosis pasca Primer adalah

kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitasi atau efusi pleura. Tuberkulosis pasca Primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau setahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi buruk. (Depkes RI 2002,) f. Penemuan penderita penyakit Tuberkulosis 1. Penemuan penderita pada orang dewasa Tujuan penemuan kasus adalah untuk menentukan sumber infeksi dalam masyarakat yang berarti mencari orang yang mengeluarkan basis Tuberkulosis untuk diobati.

Penemuan penderita pada orang dewasa dilaksakan secara pasif, artinya penyaringan penderita tersangka TB Paru yang dilaksakan pada mereka yang datang ke unit pelayanan kesehatan, ini sangat dipengaruhi oleh faktor individu

penderita untuk berkunjung ke pelayanan kesehatan. Kegiatan ini harus didukung oleh penyuluhan secara aktif baik oleh petugas kesehatan maupun oleh masyarakat untuk

meningkatkan cakupan penemuan, cara ini disebut passive promotive case finding. 2. Penemuan penderita pada anak-anak

14

Penemuan penderita pada anak sebagian besar didasarkan pada gambaran klinis, foto rontgen dan uji tuberculin (Depkes RI 2002,) g. Penegakan Diagnosa Untuk menegakkan diagnosis penyakit Tuberkulosis

dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menemukan BTA positif. Pemeriksaan kultur lain bakteri, yang dilakukan yaitu dengan dan

pemeriksaan

namun

biayanya

mahal

hasilnya lama (Widoyono 2008, hal. 16). 2. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan a. Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil ³tahu´ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo,2007). b. Domain Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yakni :

15

1. Tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalah mengigat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang yang telah diterima. 2. Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu dipelajari atau rangsangan

kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (Application) diartikan sebagai kemampuan

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dalam konteks atau situasi yang lain. 4. Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk

menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponenkomponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (syntesis) menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

16

6. Evaluasi (evaluation) adalah berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justipikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek berdasarkan kriteria yang ditentukan. Pengalaman dan penelitian membuktikan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih lama atau langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap yang berurutan sebagai berikut : 1. Awareness (kesadaaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadpa stimulus (objek). 2. Interest (merasa tertarik), terhadap stimulus atau objek

tersebut. Di sini sikap subjek sudah mulai timbul. 3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. 4. Trial, di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menayakan tentang isi materi yang ingin diukur dari objek penelitian atau responden. Data yang bersifat kualitatif

17

digambarkan dengan kata-kata sedangkan data yang bersifat kuantitatif pengukuran berwujud dapat angka-angka, diproses hasil perhitungan cara atau

dengan

dijumlahkan,

dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh persentase, setelah dipersentasekan lalu ditapsirkan kedalam kalimat yang bersifat kualitatif. 1. Kategori baik yaitu menjawab benar 76-100 % dari yang diharapakan. 2. Kategori cukup yaitu menjawab benar 56-75 % dari yang diharapakan. 3. Kategori kurang yaitu menjawab benar dibawah 56 % dari yang diharapakan (Notoatmodjo,2003) Faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan

(deficient knowledge) terdiri dari: kurang terpapar informasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan/knowledge seseorang di tentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut: 1. Keterpaparan terhadap informasi; 2. Daya ingat; 3. Interpretasi informasi; 4. Kognitif;

18

5. Minat belajar; 6. Kefamiliaran akan sumber informasi. (Nanda,2005) Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan

sebelumnya. Pengetahuan tentang keadaan sehat dan sakit adalah pengalaman seseorang tentang keadaan sehat dan sakitnya

seseorang yang menyebabkan seseorang tersebut bertindak untuk mengatasi masalah sakitnya dan bertindak untuk mempertahankan kesehatannya atau bahkan meningkatkan status kesehatannya. Rasa sakit akan menyebabkan seseorang bertindak pasif dan atau aktif dengan tahapan-tahapannya. (Wikipedia,2007) 3. Tinjauan Umum Tentang Sikap a. Pengertian Sikap Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Batasan sikap dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo,2007). Selain itu sikap memiliki arti tokoh/bentuk tubuh, cara berdiri (tegak, teratur, atau dipersiapkan untuk bertindak), perbuatan yang

19

berdasarkan pada pendirian atau keyakinan, prilaku, gerak-gerik, dan pandangan hidup. Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi asasnya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi adalah merupakan ³pre-disposisi´ tindakan atau reaksi terbuka tingkah laku yang terbuka. Lebih dapat dijelaskan lagi bahwa sikap merupakn reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. (Notoatmodjo, 2003). b. Tingkatan Sikap Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terjadi dari berbagai tingkatan yakni : 1. Menerima (receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). 2. Merespon (responding) yaitu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

20

3. Menghargai (valuing) adalah mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat 3. 4. Bertanggung jawab (responsible) atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. c. Faktor Utama Sikap Konsep umum yang digunakan untuk mendiagnosis

perilaku/sikap adalah konsep dari Lawrence green (1980). Menurut Green, perilaku dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor utama, yakni : 1. Faktor predisposisi yaitu faktor ± faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang. Factor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap halhal yang berkaitan dengan kesehatan, system nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat social ekonomi dan sebagainya. 2. Faktor pemungkin yaitu faktor-faktor yang memungkinkan atau yang atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat misalnya : air bersih, tempat pembuangan

21

sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan yang bergizi dan sebagainya. 3. Faktor ± faktor penguat adalah faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku, meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2003) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yakni : 1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek. 2. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek. 3. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini , pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi sangat berpegang peranan penting. 4. Tinjauan Umum Tentang Tindakan

22

Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan (praktik), sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana. Praktek atau tindakan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya, yaitu : a. Praktek terpimpin Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tuntutan atau menggunakan panduan. Misalnya seorang anak kecil menggosok gigi namun masih selalu diingatkan oleh ibunya, adalah masih disebut praktek atau tindakan terpimpin. b. Praktek secara mekanisme Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau

mempraktekkan sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktek atau tindakan mekanis. Misalnya seorang anak secara otomatis menggosok gigi setelah makan, tanpa disuruh oleh ibunya. c. Adopsi Adopsi adalah suatu berkembang. rutinitas atau Artinya, tindakan atau praktik yang sudah apa yang saja, dilakukan tetapi tidak sekedar dilakukan

mekanisme

sudah

23

modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang berkualitas. Misalnya menggosok gigi, bukan sekedar gosok gigi melainkan dengan teknik ± teknik yang benar. Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui dua cara, secara langsung, maupun secara tidak langsung. Pengukuran secara langsung yaitu mengamati tindakan dari subjek dalam rangka memelihara kesehatannya. Untuk mengukur pengetahuan kesehatan secara langsung adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara

langsung (wawancara) atau melalui pertanyaan-pertanyaan tertulis atau angket. Indikator pengetahuan kesehatan adalah ³tingginya pengetahuan´ Informan tentang kesehatan, atau besarnya

persentase kelompok informan atau masyarakat tentang variablevariabel atau komponen kesehatan.(Notoadmojo,2005). Tindakan adalah menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang berbentuk rangkaian siklus kegiatan. Tindakan bisa terjadi karena seseorang itu memiliki motifasi yang didapat dari pengetahuan manusia itu sendiri. Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu

24

munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi yang pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara meotivasi dari dalam ialah motivasinya muncul dari inisiatif diri kita. Orang yang bertindak pada kemampuan yang dimilikinya (mastery oriented people), menyadari bahwa kesuksesan yang ia raih tergantung kepada keterampilan yang dimilikinya, lebih berorientasi pada kemandirian yang ia miliki, bekerja keras, berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam setiap penampilannya dan lebih tertarik pada aktivitas-aktivitas yang mendukung

tercapainya tujuan yang diharapkan. Agar motivasi yang dimiliki itu lebih efektif, harus difokuskan pada tugas-tugas yang dianggap penting serta mendukung tercapainya tujuan yang diharapkan. 5. Tinjauan Umum Penggunaan Jendela kaca Dikamar Penderita Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama cahaya mata hari di samping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup terlalu dan berkembangnya cahaya di bibit-bibit dalam penyakit. akan

Sebaliknya

banyak

rumah

menyebabkan silau, dan akhirnya dapat merusakkan mata. Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni:

25

1. Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat penting, karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya baksil TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Seyogianya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang¬kurangnya 15 % sampai 20% dari luas lantai yang terdapat di dalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan di dalam membuat jendela

diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela di sini, di samping sebagai ventilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya. dan Lokasi penempatan agar jendela sinar pun harus lama

diperhatikan

diusahakan

matahari

menyinari lantai (bukan menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah tinggi dinding (tembok). Jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca. Genteng kaca pun dapat dibuat secara

sederhana, yakni dengan melubangi genteng biasa waktu pembuatannya,kemudian menutupnya dengan pecahan kaca. 2. Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang ,tapi bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya. Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari, diperlukan luas jendela kaca minimum 20% luas lantai. Jika peletakan jendela

26

kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca. Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Intensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60 lux., kecuali untuk kamar tidur diperlukan cahaya yang lebih redup. Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses mematikan kuman untuk setiap

jenisnya..Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB Paru relatif tidak tahan pada sinar matahari. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang.( Joko Suryo, 2010 ) 6. Tinjauan Umum Pemisahan Tempat Tidur Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal (Lubis, 1989). Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan biasa dinyatakan dalam m² per orang. Luas minimum per orang sangat relatif, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk perumahan sederhana, minimum 10 m²/orang. Untuk kamar tidur diperlukan minimum 3 m²/orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni > 2 orang, kecuali untuk suami

27

istri dan anak dibawah dua tahun. Apabila ada anggota keluarga yang menjadi penderita penyakit tuberkulosis sebaiknya tidak tidur dengan anggota keluarga lainnya. Kamar adalah pembagian ruangan / sekat dalam rumag tersebut apa bila ruamah tersebut tidak terdapat kamar atau

ruangan, maka akan lebih mudah terjadi penularan penyakit. Sebagai contah bial rumah tersebut ada sumber penularan ( penderita TBC atau pun ISPA ), maka potensi penularan akan penyakit tersebut dapa lebih mudah dan cepat terhadap orang yang tinggal bersama dalam satu ruangan tersebut. Jumlah ruangan dalam suatu rumah disesuaikan dengan fungsi ruangan tersebut, seperti ruang tidur, ruang tamu, ruang makan, ruang dapur dan ruang MCK.

Banyaknya ruangan dalam rumah tergantu kepada jumlah penghuni. Banyaknya penghuni dalam satu rumah akan menuntut jumlah ruangan yang banyak terutama ruang tidur tetapi pada umumnya jumlah ruangan disesuaikan dengan fungsi ruangan seperti ruang tidur, ruang tamu, ruangan makan, dapur gudang dan lain-lain. Rumah yang sehat harus memiliki ruangan khusus untuk tidur minimal 9 m3 untuk setiap orang berumur 5 tahun keatas atau dewasa dan 4,5 m3 untuk anak-anak berumur di bawah 5 tahun

28

dengan luas lantai minimal 3,5 m3 untuk setiap orang dengan tinggi langit-langit tidak kurang dari 2,75 m.

Luas

rumah

yang

tidak

sebanding

dengan

jumlah

penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabakan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, terutama tuberkulosis akan mudah menular kepada

anggota keluarga yang lain (Lubis, 1989; Notoatmodjo, 2003).

Menurut penelitian Atmosukarto dari Litbang Kesehatan (2000), didapatkan data bahwa :

a. Rumah tangga penderita Mempunyai kebiasaan tidur dengan balita mempunyai resiko terkena TB 2,8 kali dibanding dengan yang tidur terpisah. b. Tingkat penularan TB di lingkungan keluarga penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumahnya c. Besar resiko terjadinya penularan untuk rumah tangga dengan penderita lebih dari 1 orang adalah 4 kali dibanding rumah tangga dengan hanya 1 orang penderita TB. 7. Tinjauan Umum Pemakaian Alat Makan.

29

Pengertian higiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu subyeknya.

Misalnya mencuci tangan untuk melindungi kebersihan tangan, cuci piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan.(Depkes RI,2002)

Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu atau kesehatan, mulai dari sebelum makanan

diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana makanan dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat atau .

Berhubungan dengan penyakit sering dipindahkan melalui piring, cangkir, gelas, dan sebagainya maka sanitasi tempattempat makan pada umum sekarang ini telah dikembangkan atas dasar penelitian secara ilmiah. Kebanyakan restoran besar telah menggunakan alat pencucian piring yang sekaligus mendisinfeksi piring-piring itu secara mekanik. Pada restoran-restoran kecil atau rumah tangga pencucian dilakukan dengan air panas bersama deterjen yang baik. (Depkes RI,2002)

30

8. Tinjauan Umum Kebersihan Dan Penjemuran Kasur Memang penyakit Tb Paru adalah penyakit infeksi dan menular yang disebabkan oleh kuman, akan tetapi dengan hygiene dan sanitasi yang jelek akan lebih memperburuk orang yang menderita penyakit tersebut. Misalnya saja, kebiasaan membuang ludah sembarangan, rumah yang tidak punya ventilasi yang cukup, kamar tidur yang pengap, kurangnya pencahayaan di dalam rumah, polusi udara karena asap rokok, industri dan lain±lain. Semua itu tentunya akan berdampak tidak baik bagi kesehatan manusia, apalagi kuman penyakit ini sangat senang dengan kondisi-kondisi seperti itu. Oleh karena itu menjaga kesehatan diri dan lingkungan merupakan hal yang mutlak bagi setiap manusia sehingga penyakit-penyakit menular akibat lingkungan bisa

diminimalisasi dan bahkan bisa dieliminasi, termasuk penyakit Tb Paru. Sinar matahari langsung membunuh TB dalam waktu lima menit, maka pemanfaatan sinar matahari adalah cara yang paling cocok untuk dilakukan didaerah tropis. Penjemuran kasur, bantal dan seprai dapat membunuh TB, panas dapat memusnahkan TB dalam waktu 20 menit pada suhu 60° C dan 5 menit dalam suhu 70° C. (Tetapi kuman-kuman dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun di tempat gelap : mungkin dapat terjadi di rumah atau gubuk yang gelap). Menjemur diudara dan dibawah sinar

31

matahari semua bahan-bahan selimut, wol, katun dan lain-lain. Merupakan metode yang baik dan sederhana, terutama didaerah tropis .( John Crofton. 2001) 9. Tinjauan Umum Tentang Penampungan Dahak a. Pengertian Dahak Secara Umum Dahak manusia adalah sumber yang paling penting. Batuk, berbicara dan meludah memproduksi percikan sangat kecil berisi TB yang melayang-layang di udara. Kuman ini dapat terhirup napas dan menyebabkan penyakit. Pasien-pasien dengan dahak positif pada hapusan langsung (d.h.i TB tampak dibawah mikroscop) jauh lebih menular, karena mereka lebih banyak memproduksi lebih banyak TB dibandingkan dengan meraka yang hanya positif pada pembiakan. Makin dekat seseorang berada dengan pasien, makin banyak dosis Tb yang mungkin akan dihirupnya.( John Crofton. 2001) Biakan dahak dapat meningkatkan jumlah yang

positif, tetapi mungkin memerlukan 4-8 minggu sebelum anda mendapatkan hasilnya. Pada penyakit yang lebih ringan dan sedikit TB, hapusan mungkin negatif, tetapi biakan positif. Namun, biakan membutuhkan fasilitas laboraturium lebih

terampil yang mungkin tidak anda miliki. Ketika menunggu hasil

32

biakan. Anda harus memutuskan pengobatan berdasarkan keadaan klinis. b. Penampungan Dahak Wadah hendaknya kokoh untuk menghindarkan ketika dibawa. Wadah hendaknya bermulut lebar, hendaknya bertutup ulir yang kuat untuk menghindarkan dahak mengering atau merembes keluar. Metode sterilisasi sesudah pakai, tergantung pada bahan tempat itu, beberapa bisa dibakar. Wadah dari bahan gelas harus direbus selama 10 menit kemudian

dibersihkan dengan seksama.( John Crofton. 2001) c. Petunjuk Bagi Petugas Pengumpulan Dahak 2. Bila mungkin laksanakan tugas tersebut di udara terbuka. Bila tidak mungkin, gunakan sebuah ruangan terpisah untuk keperluan ini. 3. Jelaskan mengapa pemeriksaan ini penting. Jelaskan

bagaimana cara batuk untuk menghasilkan dahak yang berasal dari dalam dada. 4. Periksalah apakah dahak mengandung bagian-bagian kental atau bernanah. 10. Tinjauan Umum Tentang Kebiasaan Menutup Mulut a. Kebiasaan Menutup Mulut Sumber penularan adalah penderita Tb paru pada waktu batuk atau bersin, penderita menyabarkan kuman ke udara dalam

33

bentuk droplet ( percikan Dahak ). Orang disekeliling penderita dapat tertular karena menghirup udara yang mengandung kuman TB. Oleh karena itu, penderita harus menutup mulut saat batuk atau bersin dan jangan membuang dahak disembarang tempat. Jelaskan pula bila ada anggota keluarga yang menujukan gejala TB (batuk berat, badan menurun, demam berkeringan malam hari, batuk dengan dahak campur darah). Sebaiknya segera

memeriksakan diri ke unit pelayanan puskesmas. Alat yang digunakan saat menutup mulut yaitu : 1. masker 2. Saputangan atau Kain 3. Tisu kering Seperti kita ketahui cara penularan kuman TB melalui percikan dahak yang mengandung kuman TB (droplet) yang dikeluarkan lewat batuk, bersin dan meludah. Untuk mencegah penularan maka dianjurkan untuk menutup mulut dengan sapu tangan pada waktu batuk dan bersin. Penderita TB dan PMO (pengawasan menelan obat) serta keluarga perlu diberikan

konseling TB agar dapat mencegah penularan, mendeteksi awal jika ada yang mengalami gejala TB serta mengawasi dan mendorong penderita agar berobat secara teratur sampai

dinyatakan sembuh. Kesebuhan bukan hanya dengan obat saja,

34

akan tetapi perubahan perilaku mutlak diperlukan. (Home Artikel Kesehatan Paru) 11. Tinjauan Umum Tentang Perilaku Pengertian Perilaku Perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh mahluk hidup. Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (mahluk hidup yang bersangkutan). Oleh sebab itu semua mahluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan sampai dengan manusia berperilaku, oleh karena mereka mempunyai aktifitas masing-masing (Notoatmojo 2007).

Menurut Skiner dalam Notoatmojo, perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon. Teori Skiner ini lebih dikenal dengan teori S-O-R (stimulus-organisme-respon). Skiner membedakan adanya dua respon :

1. Respondent respon atau reflexive, yakni respon yang di timbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu, stimulus

semacam ini disebut elicting stimulation karena menimbulkan

35

respon-respon yang relatif tetap. Hal ini juga berlaku untuk perilaku emosi seseorang.

2. Operant respon atau instrumental respons, yakni proses yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcer karena memperkuat respons.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Perilaku tertutup, respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung/ tertutup. Respons ini masih terbatas pada perhatian, presepsi, kesadaran dan sikap yang terjadi pada seseorang yang menerima stimulus tersebut, dan belum bisa diamati secara jelas oleh orang lain (cover behavior).

2. Perilaku terbuka, respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindajan atau praktek yang dengan mudah dapat diamati oleh orang lain (over behavior) (Notoatmojo 2007).

Perilaku Kesehatan

36

Perilaku kesehatan adalah

segala respon seseorang atau

orgainsme atau stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok yaitu :

1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance) Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk

penyembuhan bilamana sakit. 2. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat

menderita penyakit dan atau kecelakaan.

3. Perilaku kesehatan lingkungan. Yaitu bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan lainnya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. (Notoatmojo 2000) B. Kerangka Teori Berdasarkan teori tentang Perilaku, maka perilaku

seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh

37

pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, niat dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu

ketersediaan fasilitas ± fasilitas atau sarana dan prasarana kesehatan seperti puskesmas atau Rumah Sakit , obat ± obatan maupun tindakan (perilaku) dan sikap petugas kesehatan, tokoh masyarakat serta peran keluarga juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku seseorang. Adapun kerangka teori dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut : Faktor Predisposisi  Pengetahuan  Sikap  Kepercayaan  Keyakinan  Niat  Nilai ± Nilai

Faktor Pendukung  Fasilitas / Sarana Kesehatan  Lingkungan Fisik

Perilaku

Faktor Pendorong  Sikap dan Perilaku Petugas Kesehatan  Tokoh Masyarakat

(Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo, 2005)

38

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Lexy J. Moleong (2000) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Dari kajian tentang definisi-definisi penelitian kualitatif, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya. (Moleong, 2006) Penelitian ini dikatakan sebagai penelitian kualitatif karena penelitian ini bermaksud melihat perilaku pencegahan penularan penyakit tubercolosis yang dilakukan oleh penderita. B. Waktu Dan Lokasi Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian Pengetahuan, Sikap, Tindakan Pencegahan Penularan Penyakit Tuberkulosis Paru Yang Dilakukan Oleh Penderita yang berada di wilayah kerja Puskesmas Loa Duri dengan

39

menggunakan Metode Kualitatif akan dilakukan pada bulan April 2011. 2. Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada masyarakat yang berkedudukan di wilayah kerja Puskesmas Loa Duri, Khususnya masyrakat yang menderita Tuberkulosis Paru yang terdaftar di buku register Puskesmas Loa Duri dalam proses pengobatan. C. Informan a. Informan Pengambilan informan dilakukan dengan tehnik Perposive

Sampling (Non Random) yakni jumlah penderita TB Paru yang diambil sebanyak 34 orang penderita TB paru klinis dengan

penderita 18 orang TB paru BTA positif yang terdaftar pada buku register TBC tahun 2011 di Puskesmas Loa Duri, Kabupaten Kuati kartanegara D. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori yang digunakan maka disusunlah pola pikir variabel yang diteliti sebagai berikut : Pengetahuan Perialku pencegahan penularan penyakit Tubercolosis yang dilakukan oleh penderita

Sikap

Tindakan

40

Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian E. Definisi konsep Definisi konsep dari beberapa variabel yang diteliti, yaitu sebagai berikut : 1. Pengetahuan, informan tentang pencegahan TB Paru Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimiliki ( mata, hidung, telinga, dan sebagainya ). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. ( Notoatmojo, 2005 ) 2. Sikap informan tentang pencegahan TB Paru Sikap adalah Juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau ojek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat atau emosi yang bersangkutan ( senang - tidak senang, setuju ± tidak setuju, baik ± tidak baik, dan sebagainya ) Yakni ³ Andifidual¶s attitude is syndrome of response consistensy with regard to object´ Jadi jelas, disini dikatakan bahwa sikap itu suatu sindroma atau kumpulan gejala dan merespons stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan,

perhatian,dan gejala kejiwaan yang lain. ( Allport, 1954 ) 3. Tindakan informan tentang pencegahan TB Paru

41

Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa sikap adalah cenderung bertindak ( praktik ). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain yaitu adanya fasilitas atau sarana dan prasarana. Tindakan adalah menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang berbentuk rangkaian siklus kegiatan. Tindakan bisa terjadi karena seseorang itu memiliki motifasi yang didapat dari pengetahuan manusia itu sendiri. Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari dalam diri. ( Notoatmojo, 2005 ) F. Sumber Data 1. Data primer didapat dari informan melalui wawancara mendalam dengan orang-orang tertentu atau telah ditentukan sebelumnya yang dapat memberikan keterangan dari data yang diinginkan. Pengumpul data juga dapat menggunakan alat Bantu seperti tape recorder, gambar, brosur, dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar. (Esterberg, 2002) 2. Data sekunder meliputi : a. Dokumen Dokumen adalah cara memperoleh data dengan mengambil hasil dari dokumentasi yang tersedia (arsip, laporan, dan sebagainya) saat penelitian berlangsung.

42

b. Kepustakaan Pengumpulan data melalui buku-buku dan sumber bacaan lainnya sebagai tinjauan pustaka yang memuat tentang

beberapa pendapat pakar yang berkaitan dengan penelitian guna mendukung penulisan maupun pembahasan skripsi ini. G. Teknik Pengambilan Data Ada empat macam teknik yang digunakan untuk

mengumpulkan data yaitu sebagai berikut : a. Wawancara Mendalam Jenis wawancara yang akan dilakukan yaitu wawancara terstruktur, karena dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat Bantu seperti tape recorder, gambar, dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan

wawancara menjadi lancar. (Esterberg, 2002) Wawancara menggunakan wawancara). dilakukan bantuan Wawancara secara mendalam dengan orang(panduan dengan

pertanyaan-pertanyaan pendahuluan dilakukan

mewawancarai orang yang dinilai dapat memeberikan informasi yang diperlukan kemudian diteruskan dengan informan-informan berikutnya sesuai dengan permasalahan. b. Panduan Wawancara

43

Panduan wawancara telah disiapkan untuk informan yang dipilih yaitu penderita/keluarga dari penderita tersebut dan beberapa masyarakat, dan petugas kesehatan. e. Dokumentasi Gambaran-gambaran kegiatan-kegiatan berlangsung. H. Proses Analisis Data Analisis data sangat penting dalam suatu penelitian karena didalam analisis data dilakukan pengorganisiran terhadap data yang terkumpul dilapangan. Menurut Patton (dalam Moleong 2000) bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam satu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Analisis data yang digunakan disini adalah analisis data sesuai dengan yang dikemukanan oleh Miles dan Hubermen (1992) bahwa analisis data kualitatif terdiri atas empat komponen yaitu : 1. Pengumpulan data Pengumpulan data merupakan proses awal yang berusaha yang nyata telah mengenai dilakukan proses saat serta

penelitian

mengumpulkan data awal atau data mentah yang diperoleh di lapangan untuk diteliti. 2. Penyederhanaan data Yaitu proses memilih, memfokuskan, menyederhanakan dengan membuat abstraksi. Mengubah data mentah yang dikumpulkan dari

44

penelitian kedalam catatan yang telah disortir atau diperiksa. Tahap ini merupakan tahap analisis data yang mempertajam atau memusatkan, membuat dan sekaligus dapat dibuktikan. 3. Penyajian Data Yaitu menyusun atau informasi dengan cara tertentu sehingga atau

diperlukan

memungkinkan

penarikan

kesimpulan

pengambilan tindakan. Penyajian data ini membantu memahami peristiwa yang terjadi dan mengarah pada analisa atau tindakan lebih lanjut berdasarkan pemahaman. 4. Penarikan kesimpulan Yaitu merupakan langkah ketiga meliputi makna yang telah disederhanakan, disajikan dalam pengujian data dengan cara mencatat keteraturan, pola - pola penjelasan hubungan sebab akibat melalui hukum - hukum empiris. Seperti pada gambar berikut: Gambar 3 : Analisa Model Interaktif

Pengumpulan Data

Penyajian Data

Reduksi Data

Penarikan kesimpulan Verivikasi

Sumber : Miles dan Huberman (1992)

45

I. Pengujian Validitas Penelitian Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Triangulasi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Triangulasi Sumber Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui

beberapa sumber. 2. Triangulasi Waktu Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, Belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, obsrvasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi berbeda. Triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan

perbedaan-perbedaaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat mengecek temuannya dengan jalan

46

membandingkannya dengan berbagai sumber, metode, atau teori. (Moleong, 2006)

You're Reading a Free Preview

Descarregar
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->