Você está na página 1de 19

Audit Investigatif

Audit Investigatif adalah: 1. "Serangkaian kegiatan mengenali (recogni:e mengidentiIikasi


(identify dan menguji (examine secara detail inIormasi dan Iakta-Iakta yang ada untuk
mengungkap kejadian yang sebenarnya dalam rangka pembuktian untuk mendukung proses
hukum atas dugaan penyimpangan yang dapat merugikan keuangan suatu entitas
(perusahaan/organisasi/negara/daerah." 2. "a search for the truth, in the interest of fustice and in
accordance with specification of law" (di negara common law
Jadi audit itu adalah suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut:
1. !roses pengumpulan dan evaluasi bahan bukti
2. InIormasi yang dapat diukur. InIormasi yang dievaluasi adalah inIormasi yang dapat
diukur. Hal-hal yang bersiIat kualitatiI harus dikelompokkan dalam kelompok yang
terukur sehingga dapat dinilai menurut ukuran yang jelas seumpamanya Baik Sekali
Baik Cukup Kurang Baik dan Tidak Baik dengan ukuran yang jelas kriterianya.
3. Entitas ekonomi. Untuk menegaskan bahwa yang diaudit itu adalah kesatuan baik berupa
!erusahaan Divisi atau yang lain.
4. Dilakukan oleh seseorang (atau sejumlah orang yang kompeten dan independen yang
disebut sebagai Auditor.
5. Menentukan kesesuaian inIormasi dengan kriteria penyimpangan yang ditemukan.
!enentuan itu harus berdasarkan ukuran yang jelas. Artinya dengan kriteria apa hal
tersebut dikatakan menyimpang.
6. Melaporkan hasilnya. Laporan berisi inIormasi tentang kesesuaian antara inIormasi yang
diuji dan kriterianya atau ketidaksesuaian inIormasi yang diuji dengan kriterianya serta
menunjukkan Iakta atas ketidaksesuaian tersebut.
http://id.wikipedia.org/wiki/Audit

AUDIT INVESTIGATIF

Ringkasan Mata Kuliah - AUDIT INVESTIGATIF
MUHAMAD BASRI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
Audit InvestigatiI adalah audit yang berhubungan dengan kecurangan (Iraud. Jika Financial
Audit (Audit Keuangan dan !erIormance Audit (Audit kinerja telah dikenal relatiI lama dalam
khazanah audit maka Audit InvestigatiI baru dikenal pada abad ke 20 yang diawali dengan
adanya pembentukan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan dunia bisnis. !eraturan-
peraturan tersebut dibuat seiring dengan semakin meningkatnya penyelewengan pada kontrak-
kontrak pemerintah dan semakin merebaknya tindak kejahatan kerah putih (White Collar Crime
terhadap kepentingan publik.
Hari ini kebutuhan akan Audit InvestigatiI tidak hanya berkaitan dengan pemborosan
penyelewengan yang merugikan institusi pemerintahan atau perusahaan milik negara saja tetapi
juga berkaitan dengan peraturan-peraturan yang secara umum mengikat semua pihak yang ada
dalam sebuah negara. Keahlian atas Audit yang berkaitan dengan tindakan kecurangan (Fraud
sangat diperlukan di sektor dunia usaha (bisnis guna mencegah mendeteksi dan
mengungkapkan semakin maraknya tindak kecurangan seperti penggelapan salah saji laporan
keuangan pembakaran dengan sengaja properti untuk mendapatkan keuntungan (insurance
Iraud pembangkrutan usaha dengan sengaja kecurangan dalam investasi kecurangan
perbankan komisi yang terselubung mark-up proyek penyuapan dalam bisinis kecurangan
dengan menggunakan teknologi InIormasi dan lain sebagainya.
Secara garis besar Audit InvestigatiI mirip dengan istilah Fraud Examination sebagaimana yang
di maksud dalam Fraud Examination Manual yang diterbitkan oleh Association oI CertiIied
Fraud Examiners (ACFE. Menurut panduan/manual para Iraud examiners tersebut yang
dimaksud dengan Audit InvestigatiI:
methodologi for resolving fraud allegations from inception to disposition. More specifically,
fraud examination involves obtaining evidence and taking statements, writing reports, testifying
findings and assisting in the detection and prevention of fraud&rdquo,
Sebelum dibahas lebih lanjut ada beberapa aksioma yang menarik terkait dengan Iraud
examiners/audit investigatiI yaitu:
OKecurangan itu tersembunyi (Fraud is Hidden
Kecurangan memiliki metode untuk menyembunyikan seluruh aspek yang mungkin dapat
mengarahkan pihak lain menemukan terjadinya kecurangan tersebut. Upaya-upaya yang
dilakukan oleh pelaku kecurangan untuk menutupi kecurangannya juga sangat beragam
dan terkadang sangat canggih sehingga hampir semua orang (bahkan Auditor InvestigatiI
sekalipun juga dapat terkecoh.
OMelakukan pembuktian dua sisi (Reverse !rooI.
Auditor harus mempertimbangkan apakah ada bukti-bukti yang membuktikan bahwa dia
tidak melakukan kecurangan. Demikian juga sebaliknya jika hendak membuktikan
bahwa seseorang tidak melakukan tindak kecurangan maka dia harus
mempertimbangkan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan melakukan tindak kecurangan.
OKeberadaan suatu Kecurangan (Existence oI Fraud.
Adanya suatu tindak kecurangan atau korupsi baru dapat dipastikan jika telah diputuskan
oleh hakim melalui proses pengadilan. Dengan demikian dalam melaksanakan Audit
InvestigatiI seorang auditor dalam laporannya tidak boleh memberikan opini mengenai
kesalahan atau tanggung jawab salah satu pihak jawab atas terjadinya suatu tindak
kecurangan atau korupsi.
Auditor hanya mengungkapkan Iakta dan proses kejadian beserta pihak-pihak yang terkait
dengan terjadinya kejadian tersebut berdasarkan bukti-bukti yang telah dikumpulkannya.
METODOLOGI AUDIT INVESTIGATIF
Metodologi ini digunakan oleh Association oI CertiIied Fraud Examiners yang menjadi rujukan
internasional dalam melaksanakan Fraud Examination. Metodologi tersebut menekankan kepada
kapan dan bagaimana melaksanakan suatu !emeriksaan InvestigatiI atas kasus yang memiliki
indikasi tindak kecurangan dan berimplikasi kepada aspek hukum serta bagaimana tindak
lanjutnya.
!emeriksaan InvestigatiI yang dilakukan untuk mengungkapkan adanya tindak kecurangan
terdiri atas banyak langkah. Karena pelaksanaan pemeriksaan investigatiI atas kecurangan
berhubungan dengan hak-hak individual pihak-pihak lainnya maka harus pemeriksaan
investigatiI harus dilakukan setelah diperoleh alasan yang sangat memadai dan kuat yang
diistilahkan sebagai predikasi.
!redikasi adalah suatu keseluruhan kondisi yang mengarahkan atau menunjukkan adanya
keyakinan kuat yang didasari oleh proIessionalisme dan sikap kehati-hatian dari auditor yang
telah dibekali dengan pelatihan dan pemahaman tentang kecurangan bahwa Iraud/kecurangan
telah terjadi sedang terjadi atau akan terjadi. Tanpa predikasi !emeriksaan InvestigatiI tidak
boleh dilakukan. Hal ini menyebabkan adanya ketidakpuasan dari berbagai kalangan yang
menyangka bahwa jika suatu institusi audit menemukan satu indikasi penyimpangan dalam
pelaksanaan Iinancial audit-nya maka institusi tersebut dapat melakukan !emeriksaan
InvestigatiI.
!emeriksaan InvestigatiI belum tentu langsung dilaksanakan karena indikasi yang ditemukan
umumnya masih sangat prematur sehingga memerlukan sedikit pendalaman agar diperoleh bukti
yang cukup kuat
untuk dilakukan !emeriksaan InvestigatiI.
Garis besar proses !emeriksaan InvestigatiI secara keseluruhan dari awal sampai dengan akhir
dipilah pilah sebagai berikut:
A. !enelaahan InIormasi Awal
!ada proses ini pemeriksa melakukan: pengumpulan inIormasi tambahan penyusunan Iakta
& proses kejadian penetapan dan penghitungan tentative kerugian keuangan penetapan
tentative penyimpangan dan penyusunan hipotesa awal.
B. !erencanaan !emeriksaan InvestigatiI
!ada tahapan perencanaan dilakukan: pengujian hipotesa awal identiIikasi bukti-bukti
menentukan tempat/sumber bukti analisa hubungan bukti dengan pihak terkait dan
penyusunan program pemeriksaan investigatiI.
C. !elaksanaan
!ada tahapan pelaksanaan dilakukan: pengumpulan bukti-bukti pengujian Iisik konIirmasi
observasi analisa dan pengujian dokumen interview penyempurnaan hipotesa dan review
kertas kerja.
D. !elaporan
Fase terakhir dengan isi laporan hasil !emeriksaan InvestigatiI kurang lebih memuat: unsur-
unsur melawan hukum Iakta dan proses kejadian dampak kerugian keuangan akibat
penyimpangan/tindakan melawan hukum sebab-sebab terjadinya tindakan melawan hukum
pihak-pihak yang terkait dalam penyimpangan/tindakan melawan hukum yang terjadi dan
bentuk kerja sama pihak-pihak yang terkait dalam penyimpangan/tindakan melawan hukum.
Khusus untuk lembaga B!K di Indonesia proses penyusunan laporan ini terdiri dari
beberapa kegiatan sampai disetujui oleh B!K untuk disampaikan kepada Komisi
!emberantasan Korupsi atau kepada Kejaksaan Agung yang Iasenya sbb: penyusunan
konsep awal laporan presentasi hasil pemeriksaan investigatiI di B!K melengkapi bukti-
bukti terakhir Iinalisasi laporan dan penggandaan laporan
E. Tindak Lanjut
!ada tahapan tindak lanjut ini proses sudah diserahkan dari tim audit kepada pimpinan
organisasi dan secara Iormal selanjutnya diserahkan kepada penegak hukum. !enyampaian
laporan hasil Audit InvestigatiI kepada pengguna laporan diharapkan sudah memasuki pada
tahap penyidikan. Berkaitan dengan kesaksian dalam proses lanjutan dalam peradilan tim
Audit InvestigatiI dapat ditunjuk oleh organisasi untuk memberikan keterangan ahli jika
diperlukan.
AUDIT INVESTIGATIF DALAM !RAKTIK
Audit InvestigatiI secara konstitusional dikenal dengan !emeriksaan InvestigatiI yang
merupakan salah satu jenis audit yang dilakukan oleh Badan !emeriksa Keuangan (B!K RI
sebagaimana tertuang dalam UU Nomor: 15 Tahun 2004 tentang !emeriksaan !engelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara. Berdasarkan pasal 13 dinyatakan bahwa : !emeriksa dapat
melaksanakan pemeriksaan investigatiI guna mengungkap adanya indikasi kerugian
negara/daerah dan/atau unsur pidana. UU ini berlaku eIektiI pada tanggal 19 Juli 2004. Sebelum
diterbitkannya UU tersebut B!K tidak sepenuhnya melakukan audit investigatiI dan tidak secara
khusus menjadikan pengungkapan indikasi kerugian negara/daerah dana atau unsur pidana
sebagai tujuan audit (audit objective. B!K melakukan Audit Keuangan dan Audit Kinerja yang
jika menemukan penyimpangan yang mengarah atau berindikasi kepada suatu unsur pidana
maka indikasi tersebut dilaporkan kepada penegak hukum (Kejaksaan dan Kepolisian.
Audit InvestigatiI yang dilaksanakan di sektor swasta seringkali tidak menjadi perhatian umum
karena disamping biasanya tidak berskala besar juga pihak perusahaan atau entitas yang menjadi
korban enggan untuk mengekspose. Sebaliknya Audit InvestigatiI yang melibatkan entitas publik
dan berkaitan dengan dana public (keuangan negara dari sisi nominal biasanya cukup besar dan
bagi entitas tersebut menjadi sebuah tuntutan transparansi ditambah lagi sekarang ini dengan
iklim reIormasi dengan pemberantasan korupsi sebagai lokomotiInya menjadikan perhatian
publik sangat besar. Hal ini pulalah yang menjadikan mengapa kasus pengungkapan korupsi
pada Komisi !emilihan Umum menjadi perhatian publik.
Audit InvestigatiI B!K atas !engadaan Logistik pada Komisi !emilihan Umum. Audit
investigatiI yang dilaksanakan oleh B!K pada Komisi !emilihan Umum (K!U menurut penulis
adalah bentuk ideal dari suatu tanggung jawab dan mandat konstitusional B!K. !roses ini jelas
merupakan praktik yang telah mengacu pada international best practices. Sesuai dengan rencana
kegiatan pemeriksaan yang disusun telah ditentukan bahwa B!K akan melakukan audit pada
K!U dengan jenis audit atas hal-hal yang berkaitan dengan keuangan (FIRA Financial Related
Audit yang bertujuan untuk menilai eIisiensi ekonomis serta ketaatan pada peraturan yang
berlaku atas kegiatan operasional Biaya Operasional
!enyelenggaraan !emilu 2004.
Tim Audit kurang lebih menemukan sekitar lima puluh temuan yang dapat dikategorikan pada
penyimpangan-penyimpangan yang bersiIat administratiI proses yang improper ketidaktaatan
pada peraturan juga termasuk temuan-temuan yang berindikasi adanya kerugian negara. Selain
itu untuk beberapa temuan sudah ada dugaan awal terjadinya tindakan yang melawan hukum
dengan mengarah kepada adanya upaya untuk menguntungkan pihak yang melakukan
penyimpangan dan mengakibatkan kerugian atas keuangan negara.
Hasil pemeriksaan tersebut kemudian ditelaah oleh B!K untuk ditindaklanjuti dengan
memperdalam temuan-temuan yang berindikasi kuat telah terjadi tindakan melawan hukum yang
berakibat kepada kerugian negara.
Berdasarkan penelaahan yang dilakukan diperoleh sekitar 15 (lima belas permasalahan yang
berindikasi kuat telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana korupsi sebagaimana yang tertuang
dalam Undang-undang Nomor: 31 Tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-
undang Nomor: 20 Tahun 2001 yaitu: dapat diindikasikan pihak yang melakukan penyimpangan
adanya penyimpangan yang diindikasikan terjadi adanya pihak-pihak yang diduga diuntungkan;
dan terindikasinya kerugian keuangan negara.
Setelah hasil telaahan dibuat maka dipresentasikan di depan pimpinan B!K untuk mendapatkan
respons dan persetujuan apakah temuan tersebut layak untuk dilanjutkan dengan audit
investigatiI. Audit investigatiI kemudian dimulai dengan penyusunan program audit investigatiI
atas temuan-temuan yang memenuhi predikasi. Menurut penulis pendekatan yang dilakukan ini
sekali lagi sudah mengacu kepada international best practices dimana audit investigatiI dilakukan
hanya atas permasalahan yang memenuhi predikasi saja dan sepenuhnya didukung penuh secara
institusional. Financial Auditor Look at the Figures, but Investigative Auditor Look Behind the
Figures adalah !rinsip yang juga harus selalu dipegang dalam melaksanakan audit investigatiI.
!rinsip ini akan menjadikan auditor tidak akan puas dengan apa yang bersiIat Iormal. Selain itu
juga akan mengarahkan Auditor untuk mengembangkan teknik-teknik pengungkapan yang
bersiIat investigatiI. !erlu diingat kembali sebagaimana aksioma audit investigatiI bahwa Fraud
Is Hidden.
Berkaitan dengan pelaporan sangat diperlukan skema-skema yang menggambarkan Fakta dan
!roses Kejadian atas hasil audit. Dalam kasus K!U penulis berupaya untuk menuangkannya
dalam laporan walaupun ini belum lazim dipraktikkan di B!K sebagai contoh bentuk dari
ilustrasi indikasi bentuk kecurangan pengadaan kotak suara adalah sebagai berikut:
Ilustrasi
ini bertujuan agar pihak-pihak yang berkaitan dengan penegakan hukum dapat dengan mudah
memahami kasus yang sedang diungkapkan. Ini merupakan salah satu upaya untuk memenuhi
karakteristik &nderstandable dalam pelaporan hasil Audit InvestigatiI. Selain itu dapat juga
memasukkan skema Aliran Dana dan juga dokumen-dokumen penting guna
mendukung pembuktian.
!erlu juga diperhatikan bahwa produk audit investigatiI ini bukan merupakan produk hukum
yang menentukan bahwa ada tindakan penyimpangan yang melawan hukum secara pasti. Hasil
Audit InvestigatiI ini merupakan suatu indikasi atas adanya dugaan kecurangan atau korupsi.
!elaporan Indikasi Unsur !idana dalam Suatu !emeriksaan Kalau kita ikuti kronologis kejadian
mulai dari pemeriksaan awal oleh B!K atas operasional K!U yang kemudian dilanjutkan dengan
pemeriksaan investigatiI sampai terjadinya penangkapan Mulyana Wira Kusumah yang diakhiri
dengan penyerahan hasil pemeriksaan investigatiI kepada D!R ada hal-hal penting yang
terkesan kontradiktiI. Kesan kontradiktiI itu adalah adanya inisiatiI untuk melaporkan kepada
K!K tentang adanya indikasi unsur pidana penyuapan oleh Mulyana Wira Kusumah di satu sisi
dengan tidak disampaikannya Hasil !emeriksaan InvestigatiI pengadaan Logistik !emilu yang
diduga kuat berindikasi Tindak !idana Korupsi kepada pemerintah atau melaporkannya kepada
instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan di sisi
lainnya.
Sementara itu terdapat pernyataan yang terang-terangan dari B!K kepada pers bahwa terdapat
indikasi adanya unsur pidana dalam hasil pemeriksaan investigatiI atas lima pengadaan logistik
pemilu pada K!U. Atas temuan yang berindikasi unsur pidana tersebut ternyata B!K pada
kesempatan pertama hanya menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut kepada D!R saja dengan
mengabaikan penyampaian kepada penegak hukum.
Hal ini dilakukan dengan dengan pertimbangan bahwa pemeriksaan dilakukan berdasarkan
permintaan dari Ketua D!R kepada B!K pada bulan Juni tahun 2004. Jika ditelisik lebih jauh
maka penyerahan hasil audit investigatiI yang berindikasi pada adanya unsur pidana hanya
kepada D!R saja dengan mengabaikan penyerahan pada kesempatan pertama kepada penegak
hukum patut menjadi pertanyaan besar.
Bagaimanakah perlakuan yang seharusnya dilakukan oleh B!K?
Berdasarkan UUD 1945 karena posisi yang yang setara dengan D!R maka hasil pemeriksaan
B!K tidak dilaporkan kepada D!R melainkan diserahkan kepada D!R D!D dan D!RD sesuai
dengan kewenangannya. Selain itu karena jika digunakan kata melaporkan akan mengesankan
adanya hubungan antara atasan dengan bawahan. Khusus untuk hal-hal yang berkaitan dengan
adanya unsur pidana maka sebagaimana di atur dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1973
tentang Badan !emeriksa Keuangan pasal 3 menyebutkan: Apabila suatu pemeriksaan
mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan sangkaan tindak pidana atau perbuatan yang
merugikan keuangan Negara maka Badan !emeriksa Keuangan memberitahukan persoalan
tersebut kepada !emerintah. Dalam penjelasannya yang dimaksud dengan pemerintah adalah
Kepolisian dan Kejaksaan Agung. Selain itu dalam Undang-Undang Nomor: 15 Tahun 2004
pasal 14 ayat (1 disebutkan: Apabila dalam pemeriksaan ditemukan unsur pidana B!K segera
melaporkan hal tersebut kepada instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Jelas sekali B!K berkewajiban untuk segera melaporkan unsur pidana tersebut kepada instansi
yang berwenang selain juga menyampaikan hasil pemeriksaan kepada D!R.
Kata-kata yang digunakan pun adalah segera melaporkan; bukan; menyampaikan; sehingga
penekanan untuk segera ditindaklanjuti oleh instansi yang berwenang menjadi sangat kental
dengan tanggung jawab partisipasi aktiI berada pada B!K. Aturan konstitusional ini dipertegas
lagi oleh Baharudin Aritonang (Anggota B!K dalam tulisannya di Suara !embaruan Daily yang
berjudul Menyoal Hasil !emeriksaan B!K tanggal 7 April 2005.
Suatu pertanyaan besar timbul ketika hasil pemeriksaan investigatiI B!K yang terang-terangan
menyatakan adanya indikasi kuat telah terjadi kerugian keuangan negara kemudian disampaikan
hanya kepada D!R. B!K tidak memberitahukan hal ini kepada Kejaksaan atau sebagaimana
Undang-undang Nomor: 15 Tahun 2004 tidak melaporkan dengan segera unsur pidana tersebut
kepada instansi yang berwenang yang jika mengacu kepada !ernyataan Baharudin Aritonang
adalah kepada Kepolisian atau Kejaksaan atau juga K!K.
Alasan pimpinan B!K yang menyatakan bahwa permintaan pemeriksaan investigatiI tersebut
datang dari D!R sehingga tidak perlu menyampaikan kepada pihak-pihak lain kecuali hanya
D!R juga perlu dipertanyakan. Adakah ini suatu tindakan yang lazim dilakukan oleh B!K?
Menurut penulis jawabannya adalah tidak lazim!. Berdasarkan praktik pemeriksaan investigatiI
yang pernah dilakukan oleh B!K atas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia B!K selain
menyampaikan hasil pemeriksaan ke D!R juga menyerahkan kepada Jaksa Agung dan Kapolri.
Dalam Siaran pers B!K tanggal 23 Mei 2001 Tentang Hasil Audit Investigasi Atas !engelolaan
(!enguasaan !engurusan Dan !enjualan Jaminan BLBI !ada Badan !enyehatan !erbankan
Nasional jelas disebutkan: Oleh karena hasil audit investigasi ini mengungkapkan hal-hal yang
menimbulkan sangkaan tindak pidana atau perbuatan yang merugikan keuangan negara maka
sesuai pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1973 tentang Badan
!emeriksa Keuangan Laporan Audit Investigasi ini diberitahukan pula kepada Jaksa Agung RI
dan Kapolri”. !erlu diketahui juga bahwa pemeriksaan investigatiI atas BLBI ini juga
merupakan permintaan dari D!R kepada B!K.
Antara Sikap B!K dan !elaporan Indikasi Tindak !idana Korupsi oleh Auditor.
!ada pemeriksaan InvestigatiI pengadaan logistik K!U Auditor memiliki kewenangan dan tugas
serta tanggung jawab pada proses perencanaan dan pelaksanaan serta sebagian dalam pelaporan.
Sedangkan kewenangan dan tanggung jawab Anwar Nasution ada pada pelaporan dan tindak
lanjut. Terkait dengan tindak pidana yang diduga terdapat dalam pelaksanaan audit yang
dilakukan oleh Auditor yang bersangkutan telah berupaya dengan mengacu kepada Undang-
undang No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001
tentang !emberantasan Tindak !idana Korupsi pasal 41 yang menyatakan bahwa Masyarakat
dapat berperan serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.
!osisi pelaporan yang dilakukan oleh Auditor pada saat itu tidak berkaitan dengan tujuan audit
sebagaimana yang dituangkan dalam program !emeriksaan InvestigatiI. Tujuan audit investigatiI
adalah sebagai mana !asal 2 ayat (1 dari Undang-undang Anti Korupsi sementara yang
dilaporkan adalah yang berkaitan dengan upaya penyuapan yang dilakukan oleh Anggota K!U.
Yang bersangkutan adalah auditor yang tidak dalam posisi dapat berhubungan secara
kelembagaan dengan lembaga Negara lainnya. Sehingga apa yang dilakukannya adalah dengan
melaporkan sebagai individu yang merupakan bagian dari masyarakat. !erlu dicermati bahwa
Auditor juga memiliki tanggung jawab terkait dengan pelaksanaan Audit.
Secara proIesional jika seorang Auditor menemukan adanya indikasi kepada pelangaran hukum
maka auditor tersebut diharuskan melaporkan kepada penyidik atau penegak hukum. Mengacu
kepada Standar Audit !emerintahan butir 6.24 yang menyatakan bahwa dalam keadaan tertentu
peraturan perundang-undangan atau kebijakan dapat mengharuskan auditor untuk dengan segera
melaporkan indikasi berbagai jenis ketidakberesan atau unsur perbuatan melanggar/melawan
hukum tertentu kepada penegak hukum atau kepada pihak penyidik yang berwenang.
Sumber: Audit InvestigatiI oleh Khairiansyah Salman; (Investigative Audit Specialist Auditor
and Trainer
Manajer !endidikan dan !emberdayaan pada Unit Anti Korupsi Badan Rehabilitasi dan
Rekonstruksi NAD Nias.
Mantan Ketua Subtim Audit InvestigatiI B!K atas !engadaan Kotak Suara !emilu di K!U.
http://blog.beswandjarum.com/muhamadbasri/2010/01/13/rmk-audit-investigatiI/

Selasa 19/01/2010 0806 Wl8
AudlL lnvesLlgasl CenLury 8k Salah Label Se[ak Awal
Nurseff| Dw| Wahyun| deLlkllnance

akarta Pasll audlL lnvesLlgasl 8adan emerlksa keuangan (8k) LenLang ballouL 8ank CenLury 8p 67
Lrlllun kemball memunculkan konLroversl AudlL yang dllakukan 8k aLas permlnLaan u8 LersebuL
dlanggap sebagal hasll audlL blasa dan bukan audlL lnvesLlgaLlf

lnspekLur !enderal ueparLemen keuangan Peklnus Manao mengaLakan pemerlksaan yang dllakukan
oleh 8k LenLang 8ank CenLury hanya pendalaman blasa dan sama sekall Lldak ada unsur lnvesLlgaslnya

Peklnus yang [uga pernah men[adl Wakll keLua dalam penyusunan drafL uu nomor 13 Lahun 2004
mengenal uu emerlksaan dan 1anggung !awab keuangan dan [uga uu nomor 13 Lahun 2006 mengenal
8k mengaLakan dalam audlL lnl seharusnya ada nllal keruglan negara dan pelanggaran hukum aLau
Llndakan melawan hukum dl dalamnya

AnggoLa uewan komlsloner Lembaga en[amln Slmpanan (LS) uarmln nasuLlon kemarln [uga
mengkrlLlk hasll audlL 8k LersebuL LeruLama unLuk poln yang menyebuLkan LS dlduga merekayasa
aLuran unLuk menggelonLorkan ballouL 8ank CenLury

uarmln menekankan pada hasll audlL 8k yang menudlng LS merekayasa aLuran ualam hasll audlL
lnvesLlgasl sebelumnya 8k menyaLakan perubahan eraLuran LS (LS) no3/LS/2006 men[adl LS
no3/LS2008 LenLang perubahan aLas LS no3/LS/2006 LenLang penanganan bank gagal yang
berdampak slsLemlk Langgal 3 uesember 2008 paLuL dlduga dlrekayasa dalam rangka memenuhl
permlnLaan MS (enyerLaan Modal SemenLara) darl 8ank CenLury unLuk pemenuhan kebuLuhan
llkuldlLasnya

uarmln menegaskan saaL proses audlL hal LersebuL sudah dlbahas dengan audlLor 8k uarmln
mengaku memlllkl bukLl bahwa 8k Lelah menyaLakan LS benar dan sesual uu

1apl apa yang Ler[adl? 1anpa bllang Lanpa mlnLa komenLar ke audlLee muncul dl flnal reporL dlLengaral
paLuL dlduga merekayasa aLuran Legas uarmln dalam rapaL pansus Senln (18/1/2010)

8agalmana sebenarnya audlL lnvesLlgasl 8k lLu dl maLa pe[abaL yang pernah menyusun uu 8k dan uu
emerlksaan dan 1anggung !awab keuangan negara? 8erlkuL wawancara det|kI|nance dengan Peklnus
yang [uga merupakan lr[en uepkeu dl lanLal 4 Cedung !uanda kanLor ueparLemen keuangan !akarLa
Senln (18/1/2010)

8aga|mana anda me||hat has|| aud|t |nvest|gas| 8k mengena| 8ank Century |n|?

?ang harus dlperhaLlkan oleh klLa semua Lermasuk 8k lnl yalLu uu nomor 13 1ahun 2004 mengenal
emerlksaan engelolaan dan 1anggung[awab keuangan dalam pasal 13 yang berbunyl emerlksa (8k
red) dapaL melaksanakan pemerlksaan lnvesLlgaLlf guna mengungkap adanya lndlkasl keruglan
negara/daerah dan/aLau unsur pldana

ad| baga|mana anda me||hat has|| aud|t |n|?

lnl kalau dlbaca yang namanya pemerlksaaan lnvesLlgaLlf harus mengungkapkan adanya keruglan
negara daerah dan aLau unsur pldana

Maksudnya?

klLa harus llhaL dulu akar masalahnya dalam bab pendahuluan laporan hasll pemerlksaan lnvesLlgasl
aLas kasus 1 8ank CenLury 1bk dlsebuLkan bahwa pemerlksaan audlL lnvesLlgasl kasus 1 8ank CenLury
selaln

dllakukan berdasarkan uu nomor 13 1ahun 2004 mengenal uu emerlksaan dan 1anggung !awab
keuangan dan [uga uu nomor 13 Lahun 2006 mengenal 8adan emerlksa keuangan [uga berdasarkan
suraL uewan erwakllan 8akyaL (u8) noW/3487/u88l/lx/2009 Langgal 1 SepLember 2009 mengenal
permlnLaan audlL lnvesLlgasl/ pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu Lerhadap 8ank CenLury

Sesual dengan suraL LersebuL pemerlksaan lnl mellpuLl dasar hukum krlLerla dan proses pengambllan
kepuLusan yang dlgunakan pemerlnLah dalam meneLapkan sLaLus 8ank CenLury yang berdampak
slsLemlk !umlah dan penggunaan enyerLaan Modal SemenLara (MS) yang Lelah dlberlkan Lembaga
en[amln Slmpanan (LS) unLuk menyelamaLkan 8ank CenLury SLaLus dan dasar hukum pengucuran
dana seLelah eraLuran emerlnLah engganLl undangundang (erppu) nomor 4 1ahun 2008 LenLang
!arlng engaman SlsLem keuangan (!Sk) dlLolak u8

ad| anda mengkr|t|k has|| aud|t |n|?

Ada krlLlk saya dl slnl MesLlnya dla (8k) Lldak boleh memblarkan u8 darl awal unLuk memlnLa audlL
lnvesLlgaLlf karena Llga permlnLaan LersebuL Lldak ada permlnLaan unLuk audlL yang lLu Ladl meruglkan
negara dan ada unsur pldana MesLlnya darl awal 8k menyuraLl u8 bahwa audlL lnl Lldak Lergolong
audlL lnvesLlgasl karena Lldak sesual dengan pasal 13 nomor 13 Lahun 2004

lLu saLu langkah yang darl awal sudah kellru ?ang dl sana (u8) karena Lldak Lahu aLurannya mlnLa
audlL lnvesLlgasl yang punya undangundangnya (8k) dlam sa[a dan dla lakukan audlL lnvesLlgasl
adahal yang dlmlnLa nggak unsur lnvesLlgasl seperLl unsur keruglan dan ada pldananya !adl sudah
salah label darl awal

ad| menurut anda |n| tergo|ong aud|t b|asa?

emerlksaan pendalaman blasa bukan lnvesLlgasl uarl awal menuruL saya 8k lkuL menenggelamkan
dlrl dalam pemlklran bahwa lnl mesLl harus ada keruglan negara dan harus ada unsur pldananya aLau
Lldak sadar SeLelah lLu dldalaml keLemu ya sudah 8lsa menlngkaL kalau lnl sa[a slh lnl pemerlksaan
Lu[uan LerLenLu blasa lnl pendalaman bukan lnvesLlgasl

1ap| ada p|hakp|hak yang menyak|n| ba||out Century sen||a| kp 67 tr|||un tersebut merug|kan negara?

Marl klLa mellhaL Lemuannya keruglan negara lLu harus ada unsur pldana keruglan negara blasa kayak
kalau klLa bayar unLuk bencana lLu keruglan negara Lapl Lldak ada pldananya kan?

keruglan negara harus ada unsur pldana ada pelanggaran hukum kebeLulan darl slLu (Laporan laporan
hasll pemerlksaan lnvesLlgasl aLas kasus 1 8ank CenLury 1bkred) yang ada kalLannya dengan uepkeu
hanya saLu yalLu hanya 1emuan nomor 4 slsanya kan berkalLan 8l LS 1emuan nomor 4 lnl yang
berbunyl penenLuan 8ank CenLury sebagal bank gagal berdampak slsLemlk Lldak dldasarkan pada daLa
dan lnformasl yang lengkap dan mukLakhlr darl 8ank lndonesla mengenal kondlsl 8ank CenLury yang
sesungguhnya uan menuruL saya lnl bukan Lemuan audlL lnvesLlgasl

kenapa anda beranggapan dem|k|an?

ula harus mengaLakan ada keruglan negara dan ada pelanggaran hukum aLau Llndakan melawan hukum
1emuan LersebuL [uga mempermasalahkan penggunaan daLa dan lnformasl yang Lldak lengkap dan
mukLahlr erLanyaan saya apa krlLerla daLa dan lnformasl yang lengkap dan muLakhlr? Adakah ru[ukan
keLenLuan hukum yang [elas Lerhadap krlLerla LersebuL? ula Lldak pernah blsa menyebuLkan soal lLu
Mlsalnya yang menyaLakan daLa mukLahlr lLu kok pakal 30 CkLober lLu melanggar uu mesLlnya
semlnggu sebelumnya saLu harl sebelumnya ada Lldak uunya

Laglpula yang dlsebuL lnvesLlgasl harus ada unsur pldana aLau melawan hukum Pukum apa yang
dllawan dl slnl Laglpula beLul dalam laporan semenLara (lnLerlm) 8k yang berulangulang dlsampalkan
oleh ak Anwar (manLan keLua 8k) lnlkan kebl[akan kaml Lldak audlL kebl[akan dan Lldak ada peluang
dalam uu nomor 13 1ahun 2004 lnl yang menyebuLkan bahwa 8k mengaudlL kebl[akan Panya Llga
audlL yang blsa dllakukan 8k
sebagalmana LercanLum dalam pasal 4 uu nomor 13 Lahun 2004 emerlksaan yang dllakukan 8k
Lerdlrl aLas pemerlksaan keuangan pemerlksaan klner[a dan pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu

uan dalam pemerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu Lldak ada rlnclan bahwa ada pemerlksaan kebl[akan
emerlksaan dengan Lu[uan LerLenLu lnl ada dl pen[elasan uu LersebuL yang menyebuLkan emerlksaan
dengan Lu[uan LerLenLu mellpuLl anLara laln pemerlksaan aLas halhal laln dl bldang keuangan
pemerlksaan lnvesLlgaLlf dan pemerlksaan aLas slsLem pengendallan lnLern pemerlnLah

!adl Lldak ada yang namanya pemerlksaan kebl[akan dan kebl[akan lLu Lldak pernah melanggar
keLenLuan Mlsalnya ada uang dlbagl 10 orang kecllkecll leblh balk dlbagl ke dua orang sa[a karena
kalau ke 10 orang Lldak ada arLlnya lLu namanya kebl[akan aLau ada uang apakah cukup hanya blkln
[embaLan Lapl ada dua [embaLan yang rusak kebl[akan adalah apakah memlllh apakah [embaLan yang
dlbangun dl daerah A aLau daerah 8 1apl dasarnya LeLap ada anggaran dapaL dlgunakan ada
landasannya

Laglpula 1emuan nomor 4 LersebuL adalah Lemuan kebl[akan dan Lldak ada unsur melawan hukum
seperLl yang dlaLur dalam pasal 13 LersebuL Sehlngga dengan demlklan audlL lnvesLlgasl 8k aLas kasus
8ank CenLury berLenLangan dengan uu nomor 13 1ahun 2004 LenLang pemerlksaaan pengelolaan dan
Langgung [awab keuangan negara Selaln lLu Lemuan nomor 4 LenLang peneLapan 8ank CenLury sebagal
bank gagal yang berdampak slsLemlk oleh kSSk gagal membukLlkan Lelah Llmbulnya keruglan negara
secara melawan hukum


%dn|]qom)
http://Iinance.detik.com/read/2010/01/19/080601/1281230/459/audit-investigasi-century-bpk-
salah-label-sejak-awal
A. !ENDAHULUAN
Audit Investigasi merupakan bagian dari manajemen kontrol yang dilaksanakan dalam kegiatan
internal audit di samping audit lainnya seperti audit keuangan dan audit kepatuhan atau
complience audit. Dalam tata cara pemeriksaan dan siIat pemeriksaannya audit investigasi lebih
dikenal dengan istilah Iraud audit atau pemeriksaan kecurangan. Fraud audit adalah kombinasi
aspek audit Iorensik/investigasi Iorensik/uji menyeluruh semua materi pemeriksaan dengan
teknik internal kontrol dalam tata cara internal audit.
B. METODOLOGI
Menurut metodologi internal audit Fraud Auditor dalam melakukan Audit Investigasi berkaitan
dengan beberapa hal termasuk teori penunjang aturan main wawancara pengujian materi atau
bahan bukti peraturan normatiI seorang Iraud auditor haruslah sangat cakap di bidangnya.
Apabila terjadi dugaan Iraud atau kejahatan di bidang logistik seorang Iraud auditor harus
memiliki pengetahuan tentang kelogistikan aturan pelaksanaan tender sistem Iinansial
termasuk lalu lintas barang dan sistem ekspedisi sebelum dapat menyelidiki atau melakukan
audit investigasi pada bidang logistik tersebut. Bila tidak punya pengetahuan dan pengalaman
yang cukup sang auditor lebih baik mundur dalam menerima tugas itu karena bila ia memaksa
untuk menerimanya ada kemungkinan hasil investigasi tidak akan maksimal dan kemungkinan
dia akan goyah dan akhirnya 'dibeli oleh orang yang diaudit (auditee.
Garis besar proses !emeriksaan InvestigatiI secara keseluruhan dari awal sampai dengan akhir
dipilah-pilah sebagai berikut:
1. !enelaahan InIormasi Awal
!ada proses ini pemeriksa melakukan: pengumpulan inIormasi tambahan penyusunan Iakta &
proses kejadian penetapan dan penghitungan tentative kerugian keuangan penetapan tentative
penyimpangan dan penyusunan hipotesa awal.
2. !erencanaan !emeriksaan InvestigatiI
!ada tahapan perencanaan dilakukan: pengujian hipotesa awal identiIikasi bukti-bukti
menentukan tempat/sumber bukti analisa hubungan bukti dengan pihak terkait dan penyusunan
program pemeriksaan investigatiI.
3. !elaksanaan
!ada tahapan pelaksanaan dilakukan: pengumpulan bukti-bukti pengujian Iisik konIirmasi
observasi analisa dan pengujian dokumen interview penyempurnaan hipotesa dan review
kertas kerja.
4. !elaporan
Fase terakhir dengan isi laporan hasil !emeriksaan InvestigatiI kurang lebih memuat: unsur-
unsur melawan hukum Iakta dan proses kejadian dampak kerugian keuangan akibat
penyimpangan/tindakan melawan hukum sebab-sebab terjadinya tindakan melawan hukum
pihak-pihak yang terkait dalam penyimpangan/tindakan melawan hukum yang terjadi dan
bentuk kerja sama pihak-pihak yang terkait dalam penyimpangan/tindakan melawan hukum
Khusus untuk lembaga B!K di Indonesia proses penyusunan laporan ini terdiri dari beberapa
kegiatan sampai disetujui oleh B!K untuk disampaikan kepada Komisi !emberantasan Korupsi
atau kepada Kejaksaan Agung yang Iasenya sbb: penyusunan konsep awal laporan presentasi
hasil pemeriksaan investigatiI di B!K melengkapi bukti-bukti terakhir Iinalisasi laporan dan
penggandaan laporan
5. Tindak Lanjut
!ada tahapan tindak lanjut ini proses sudah diserahkan dari tim audit kepada pimpinan
organisasi dan secara Iormal selanjutnya diserahkan kepada penegak hukum. !enyampaian
laporan hasil Audit InvestigatiI kepada pengguna laporan diharapkan sudah memasuki pada
tahap penyidikan. Berkaitan dengan kesaksian dalam proses lanjutan dalam peradilan tim Audit
InvestigatiI dapat ditunjuk oleh organisasi untuk memberikan keterangan ahli jika diperlukan.
C. TEKNIK INVESTIGASI
Untuk mendapatkan hasil investigasi yang maksimal seorang Iraud auditor harus juga
menguasai beberapa teknik investigasi antara lain:
O Teknik penyamaran atau teknik penyadapan.
O Teknik wawancara apabila akan menghadapi sang auditee orang-orang yang diduga
memiliki inIo yang dibutuhkan atau bahkan sang bosnya si auditee.
O Teknik merayu untuk mendapatkan inIormasi apakah dengan memakai kesanggupan
sendiri atau dengan bantuan orang lain.
O Mengerti bahasa tubuh dalam membaca posisi si auditee bohong atau jujur.
O Dapat dilakukan dengan bantuan soItware seperti CAAT (computer assisted audit tools.
Fraud auditor dapat melakukan pembacaan data atau penyitaan berkas yang diduga mempunyai
kaitan dengan Iraud yang sedang diselidiki atau dengan memotret ruangan atau benda yang
diduga memiliki kaitan dengan peristiwa.
!ekerjaan Iraud auditor mirip dengan pekerjaan penyelidikan atau penyidikan kepolisian di
mana penyidikan kepolisian dipakai untuk suatu projustisia sedangkan Iraud audit investigasi
digunakan untuk keperluan internal.
Apabila seorang audit B!K misalnya ia harus melaporkan hasil audit investigasi kepada Ketua
B!K dalam bentuk laporan rahasia yang memuat kesimpulan hasil audit atau opini lengkap
dengan semua berkas bukti Ioto hasil wawancara bukti material dan lain sebagainya sesuai
dengan maksud audit Iorensik tersebut.
D. HASIL INVESTIGASI
Hasil audit investigasi tidak boleh dibocorkan kepada pihak yang tidak berhak mengetahuinya di
mana hasil ini biasanya telah diklariIikasi dan dibacakan ulang kepada si auditee agar auditee
mengerti sejauh mana investigasi dan eksaminasi dilakukan dan hasil yang didapatkan.
Disebut keperluan internal karena sang auditor terikat dengan audit metodologi dengan
melaporkan apa adanya suatu hasil investigasi dan auditor Iree to comment kepada atasannya
dalam mengemukakan pendapatnya sebagai seorang auditor berdasarkan temuan dan
dikategorikan preliminary summary (hasil sementara.
Hasil atau kesimpulan sementara ini akan disikusikan dengan bos sang auditor sebelum
dibuatkan keputusan Iinal dan keputusan Iinal hasil audit yang disebut executive summary akan
dibuat oleh kepala audit kepada siapa sang auditor bertanggung jawab.
Hasil audit investigasi dapat dianggap dan digunakan sebagai bukti awal untuk menunjang suatu
pembuatan BA! oleh kepolisian atau kejaksaan atau bukti pendahuluan bagi Komisi
!emberantasan Korupsi bila memang suatu Iraud diduga terjadi yang mengarah kepada suatu
peristiwa kriminal atau crime acts dalam hal ini adalah korupsi.
Audit investigasi adalah sebuah pekerjaan proIesional atau expert works. Oleh karena itu
seorang Iraud auditor harus mempunyai pengetahuan yang cukup dan selayaknya seorang Iraud
auditor adalah seorang auditor yang telah diakui kecakapannya dengan mengantongi CFE
(CertiIied Fraud Examiner yang dikeluarkan Instute oI Internal Auditor (IIA melalui tahapan
penguasaan beberapa modul yang telah dipersyaratakan secara internasional.
E. KASUS
JAKARTA !asca meledaknya travo dalam gardu induk atau Gas Insulated Switchgear (GIS
!T !LN (!ersero di Cawang Menneg BUMN SoIyan Djalil menginstruksikan agar !LN
melakukan audit investigasi secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab ledakan travo
tersebut.
Menurut SoIyan Djalil secara teori gardu induk meledak bisa saja terjadi kapan pun. Di sarankan
oleh SoIyan Djalil unuk melakukan audit investigasi secara menyeluruh biar diketahui pasti
penyebabnya. Menurutnya dalam laporan awalnya !LN hanya mengindikasikan adanya
kesalahan teknis sebagai penyebab kejadian tersebut. Tapi lanjutnya jika nanti ditemukan
human error maka akan diambil tindakan berupa disiplin bagi karyawan atau bisa diberi
tindakan kepada yang bertanggung jawab sebaliknya jika teknical force sebaiknya dijadikan
pelajaran. 'Untuk sementara hanya masalah teknikal saja terangnya.
Gardu induk !LN yang terletak di Cawang yang merupakan pusat pengaturan dan penyaluran
beban wilayah listrik Jawa-Bali Region Jakarta dan Banten Jakarta Timur ini terbakar Selasa
(29/9 dan tidak jauh dari pusat grosir Cililitan (!GC.
Ledakan menyebabkan dua dari enam traIo terbakar yang berdampak pada padamnya listrik di
wilayah Jakarta !usat Timur dan Selatan meliputi Gambir Kuningan Manggarai Cikini
!ulomas Cililitan Mampang Cawang dan Jatinegara. Masing-masing travo memiliki kapasitas
500.000 volt.
F. KESIM!ULAN
Menurut saya audit investigasi sangat perlu dilakukan karena suatu masalah bisa diselesaikan
dengan audit investigasi dan tahu apa penyebab permasalahan yang terjadi.
Untuk mendapatkan hasil investigasi yang maksimal seorang Iraud auditor harus juga
menguasai beberapa teknik investigasi antara lain:
O Teknik penyamaran atau teknik penyadapan.
O Teknik wawancara apabila akan menghadapi sang auditee orang-orang yang diduga
memiliki inIo yang dibutuhkan atau bahkan sang bosnya si auditee.
O Teknik merayu untuk mendapatkan inIormasi apakah dengan memakai kesanggupan
sendiri atau dengan bantuan orang lain.
O Mengerti bahasa tubuh dalam membaca posisi si auditee bohong atau jujur.
O Dapat dilakukan dengan bantuan soItware seperti CAAT (computer assisted audit tools.
G. DAFTAR !USTAKA
http://www.reindo.co.id
http://www.wikipedia.org/wiki/Audit
2009 Audit investigasi` www.dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii
2004 !encegahan dan !endeteksian Kecurangan oleh Internal Auditor`
http://www.bpkp.go.id
http://diantrilestari.wordpress.com/2010/05/23/audit-investigasi/

Standar Pelaksanaan Audit Investigasi
Bagian I

Standar pelaksanaan pekerjaan audit investigatif mendeskripsikan sifat kegiatan audit
investigatif dan menyediakan kerangka kerja untuk melaksanakan dan mengelola pekerjaan
audit investigatif yang dilakukan oleh auditor investigatif.

Standar pelaksanaan audit investigatif bagi APP mengatur tentang:
1. Perencanaan
. Penetapan sasaran, ruang lingkup, dan alokasi sumber daya
2. Pertimbangan dalam perencanaan
. Supervisi

3. PengumpuIan dan Pengujian Bukti
. Pengumpulan bukti
2. Pengujian bukti
. Dokumentasi


PERENCANAAN
alam setiap penugasan audit investigatif, auditor investigatif harus menyusun rencana audit.
Rencana audit tersebut harus dievaluasi, dan bila perlu, disempurnakan selama proses audit
investigatif berlangsung sesuai dengan perkembangan hasil audit investigatif di lapangan.
Perencanaan audit investigatif dibuat dengan tujuan untuk meminimalkan tingkat risiko
kegagalan dalam melakukan audit investigatif serta memberikan arah agar pelaksanaan audit
investigatif efisien dan efektif.

Rencana audit investigatif dibuat untuk setiap penugasan audit investigatif berdasarkan
informasi yang diterima. Sumber informasi dapat berasal dari pengaduan masyarakat,
pengembangan hasil audit kinerja maupun audit lainnya, permintaan instansi aparat penegak
hukum serta permintaan instansi lainnya.

Setelah diterima, tiap informasi harus dianalisis dan dievaluasi tentang dugaan adanya kasus
penyimpangan dengan pendekatan Apa, Siapa, imana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana
atau yang lebih populer disebut pendekatan:

5W + 1H (What, Who, Where, When, Why, dan How).
%ujuan analisis dan evaluasi ini adalah untuk menentukan tiga keputusan yaitu: melakukan
audit investigatif, meneruskan ke pejabat yang berwenang, atau tidak perlu menindaklanjuti.
Jika keputusannya adalah untuk melakukan audit investigatif, APP harus menentukan rencana
tindakan yang berupa langkah-langkah berikut:
. menentukan sifat utama pelanggaran;
2. menentukan fokus perencanaan dan sasaran audit investigatif;
3. mengidentfikasi kemungkinan pelanggaran hukum, peraturan, atau perundang-
undangan, dan memahami unsur-unsur yang terkait dengan pembuktian atau standar;
4. mengidentifikasi dan menentukan prioritas tahap-tahap audit investigatif yang diperlukan
untuk mencapai sasaran audit investigatif;
5. menentukan sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan audit
investigatif;
. melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang, termasuk instansi penyidik,
apabila perlu.
Selain itu, analisis dan evaluasi informasi akan menghasilkan hipotesis, yaitu anggapan atas
tindakan dan aktivitas tertentu yang mungkin telah terjadi, dimana data atau informasi yang
tersedia sangat terbatas. Hipotesis tersebut dijadikan dasar penyusunan program audit.

Rencana audit yang telah ditetapkan tidaklah bersifat final. Perkembangan hasil audit
investigatif mungkin mengharuskan auditor investigatif untuk memperluas audit sehingga
rencana yang telah disusun sebelumnya harus dimutakhirkan. Hal-hal yang dapat menjadi
pertimbangan perlunya pemutakhiran rencana audit antara lain:
. bukti yang diperoleh tidak mengarah pada sasaran audit yang semula ditetapkan;
2. pihak-pihak yang semula direncanakan untuk memberikan bukti tidak kooperatif;
3. waktu yang semula direncanakan untuk melaksanakan suatu prosedur ternyata tidak
mencukupi.
Penetapan Sasaran, Ruang Lingkup dan
Alokasi Sumber Daya dalam Audit Investigasi


alam membuat rencana audit, auditor harus menetapkan sasaran, ruang lingkup, dan alokasi
sumber daya.

Sasaran
Sasaran audit investigatif adalah terungkapnya kasus penyimpangan yang berindikasi dapat
menimbulkan terjadinya kerugian keuangan negara/daerah.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup audit investigatif meliputi pengungkapan fakta dan proses kejadian, sebab dan
dampak penyimpangan, dan penentuan pihak-pihak yang diduga terlibat dan atau bertanggung
jawab atas penyimpangan.

AIokasi Sumber Daya
%ujuan penetapan alokasi sumber daya pendukung audit investigatif adalah agar kualitas audit
investigatif dapat dicapai secara optimal.
Kebutuhan sumber daya yang harus ditentukan antara lain terkait dengan personil, pendanaan,
dan sarana atau prasarana lainnya.
Alokasi personil dalam audit investigatif harus mendapatkan perhatian secara khusus karena
tim audit investigatif secara kolektif merupakan gabungan dari berbagai disiplin, keahlian, dan
pengetahuan profesional seorang auditor, akuntan, ahli hukum, investigator, pewawancara
(interviewer), pengumpul informasi (information collector), ahli teknologi, dan riset.

Pertimbangan dalam Perencanaan

alam penyusunan rencana audit investigatif, auditor investigatif harus mempertimbangkan
berbagai hal.
Berbagai hal yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan rencana audit investigatif antara
lain:
. sasaran, ruang lingkup dan alokasi sumber daya;
2. pemahaman mengenai akuntabilitas berjenjang;
3. aspek-aspek kegiatan operasi auditi dan aspek pengendalian intern.
4. jadwal kerja dan batasan waktu;
5. hasil audit periode atau periode-periode sebelumnya dengan mempertimbangkan tindak
lanjut terhadap rekomendasi atas temuan sebelumnya;
. teknik-teknik pengumpulan bukti audit yang tepat;
7. mekanisme koordinasi antara auditor, auditi, dan pihak terkait lainnya.
http://auditorinternalpemerintah.blogspot.com/2010/11/standar-pelaksanaan-audit-
investigasi.html

PKP Lakukan 8 Audit Investigatif
kamls 27 !anuarl 2011 | 1430 Wl8
8esar kecll normal

Dirjen !erimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Mardiasmo yang akan dilantik sebagai
Kepala Badan !engawasan Keuangan dan !embangunan (B!K!. (TEM!O/Zulkarnain
TEMPO 3907,91 akarta -Badan !engawasan Keuangan dan !embangunan telah melakukan
audit investigasi sebanyak 487 kasus selama tiga tahun terakhir. Dari sekian banyak kasus
tersebut negara dirugikan sebesar Rp 93904 miliar dan US 1166 juta dolar.

Menurut Deputi Bidang Investigasi B!K! Suradji kasus-kasus tersebut terjadi di pusat maupun
daerah. "Audit investigasi dilakukan terhadap kegiatan tertentu yang berindikasi tindak pidana
korupsi" kata dia.

Dari sejumlah kasus tersebut baru sedikit kasus yang telah diputus oleh pengadilan. "Baru 95
kasus atau 1951 persen" katanya. Menurutnya kegiatan investigasi investigatiI atau yang sering
disebut investigasi Iorensik memang membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan.

Selain itu selama tiga tahun terakhir B!K! memberikan bantuan penghitungan negara kepada
penyidik sebanyak 1.333 kasus dugaan tindak pidana korupsi. Sedangkan yang saat ini telah
diputus di pengadilan baru 428 kasus.

Dia merinci dari bantuan penghitungan tersebut kerugian negara mencapai Rp 533 triliun.
Sedangkan kerugian negara dalam mata uang asing meliputi US 4679 juta dolar; 422 juta
ringgit Malaysia; 0002 juta poundsterling; 1028 juta yuan dan 525 juta Baht.
AHMAD RAFIQ
http://www.tempo.co/hg/perbankankeuangan/2011/01/27/brk20110127-309330id.html