Você está na página 1de 4

AUTISME MASA KANAK (F84.

0)
DEFINISI : Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun.

EPIDEMIOLOGI :
Autisme terjadi pada rata-rata 5 kasus per 10000 kelahiran hidup. Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1.

ETIOLOGI
Penyebab yang pasti dari autisme tidak diketahui, Menurut Lumbantobing (2000), penyebab dari autisme dapat dipengaruhi oleh : 1.Faktor keluarga dan psikodinamik 2.Kelainan organo-biologi-neurologi Berhubungan dengan lesi neurologi, rubella kongenital, cytomegalovirus, ensefalitis, meningitis, fenilketonuria, tuberous sclerosis, epilepsi dan fragilee X syndrome. 3.Faktor genetic 4.Faktor imunologi Terdapat beberapa bukti mengenai inkompatibilitas antara ibu dan fetus, dimana limfosit fetus bereaksi terhadap antibodi ibu, sehingga kemungkinan menyebabkan kerusakan jaringan syaraf embrional selama masa gestasi. 5.Faktor perinatal Tingginya penggunaan obat pada selama kehamilan, respiratory disstres syndrome, anemia neonatus 6.Penemuan biokimia Pada sepertiga dari penderita autisme ditemukan peninggian serotonin plasma. Selain itu terdapat peninggian asam homovanilik pada cairan liquor cerebrospinal.

MANIFESTASI KLINIK
Pada autisme ini, gejala yang timbul merupakan gangguan perkembangan pada bidang : 1.Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik a. Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontakmata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju, apabila dipanggil tidak menengok Perilaku anak autistik sering menunjukkan emosi yang tidak sesuai. Beberapa anak menjerit atau tertawa dengan sedikit atau tanpa provokasi, b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya, senang menyendiri c. Kurangnya hubungan timbal balik sosial dan emosional d. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain Anak austistik seringkali menggunakan isyarat, meraba dan mengambil barang bukan dengan jarinya tapi menganggap orang lain sebagai benda misalnya dengan memegang tangan orang itu dan menempatkan pada suatu barang yang diinginkan. Setelah tujuan tercapai, anak austistik kurang mampu untuk melanjutkan pada aktifitas lain, tetapi biasanya mengulang kembali aktifitas yang semula. e. Kurangnya kemampuan untuk bisa membagi kegembiraan dan kesenangan pada orang lain. 2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi a. Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal. b.Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang dapat meniru 3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan a. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang khas dan berlebihan b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya c. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang d. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda (IQ-EQ,2001) 4. Adanya gangguan emosi a. Tertawa, menangis, marah-marah tanpa sebab

b.Emosi tidak terkendali c. Rasa takut yang tidak wajar 5. Adanya gangguan persepsi sensorik a. Menjilat-jilat dan mencium-cuim benda b. Menutup telinga bila mendengar suara keras dengan nada tertentu c. Tidak suka memakai baju dengan bahan yang kasar d. Sangat tahan terhadap sakit

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Kriteria Usia Kemampuan komunikasi Interaksi social perilaku autisme 0-3 tahun Sangat buruk, biasanya belum bisa berbicara sesuai usianya Sangat buruk, bertatapan mata sangat sulit dilakukan perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulangulang dan stereotipik Sindrom asperger Biasanya > 3 th Perkembangan bicara tak terganggu, namun kurang bisa komunikasi timbal balik Buruk, sulit berinteraksi dengan teman sebaya jarang yang menunjukkan gerakangerakan motorik yang aneh seperti mengepak-ngepak atau melompatlompat atau stimulasi diri, namun Perilakunya kadang-kadang tidak mengikuti norma sosial Autisme tak khas bervariasi Tak seburuk autisme, masih bisa bergurau Ringan, masih bisa bertatap mata Lebih ringan daripada autisme

Patofisiologi

imunologi

Factor keluarga

Infeksi virus

Disfungsi neurotransmiter otak( serotonin)

genetic

Penyalahgunaan obat dan keracunan logam

Gangguan neurobiologist pada susunan saraf pusat

Gangguan komunikasi

Gangguan perilaku

Gangguan interaksi sosial

autisme

Penatalaksanaan 1. Terapi Psikofarmaka a.Haloperidol digunakan dalam dosis 0,20 mg b.Fenfluramin Suatu obat yang mempunyai efek mengurangi kadar serotonin darah yang bermanfaat pada beberapa anak autisme c.Naltrexone d.Clompramin digunakan dalam dosis 3,75 mg e.Lithium f.Ritalin Untuk menekan hiperaktifitas g.Risperidon dengan dosis 2 x 0,1 mg telah dapat mengendalikan perilaku dan konvulsi. 2.Terapi Perilaku Metode yang digunakan adalah metode Lovass. Metode Lovass adalah metode modifikasi tingkah laku yang disebut dengan Applied Behavioral Analysis (ABA). ABA juga sering disebut sebagai Behavioral Intervension atau Behavioral Modification. Dasar pemikirannya, perilaku yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan bisa dikontrol atau dibentuk dengan system reward dan punishment. 3. Terapi bicara 4. Kemampuan praakademis Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan permainan yang mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan (irregularities), dan stimulus-stimulus di lingkungannya seperti bunyibunyian serta melatih anak untuk mengembangkan imajinasinya lewat media seni seperti menggambar benda-benda yangada di sekitarnya (Lovass dkk,1996). 5. Kemampuan mengurus diri sendiri (Self Help Skill) 6. Terapi okupasional Melatih anak untk menghilangkan gangguan perkembangan motorik halusnya dengan memperkuat otot-otot jari supaya anak dapat menulis atau melakuakan ketrampilan lainnya. 7. Pendidikan Khusus Anak autistik mudah sekali teralih perhatiannya, karena itu pada pendidikan khusus satu guru menghadapi satu anak dalam ruangan yang tidak luas dan tidak ada gambar-gambar di dinding atau bendabenda yang tidak perlu, yang dapat mengalihkan perhatian anak. Setelah ada perkembangan mulai dilibatkan dalam lingkungan kelompok kecil, kemudian baru kelompok yang lebih besar. Bila telah mampu bergaul dan berkomunikasi mulai dimasukkan pendidikan biasa di TK dan SD untuk anak normal (Soemarno,1992) 8. Diet a. Hindari makanan yang mengandung casein dan protein tepung (glutein) b. Berikan Sinbiotik yaitu gabungan probiotik dan prebiotik. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dimakan untuk memperbaiki secara menguntungkan keseimbangan mikroflora usus c. Berikan vitamin C sebagai antioksidan. d.Hindari makanan yang mengandung pengawet. 9. Terapi Alternatif. a. Terapi detoksifikasi b. The Option Method Tujuan utama metode ini adalah meningkatkan kebahagiaan penyandang autisme dengan membantu mereka menemukan sistem kepercayaan diri masing-masing c. Sensory Integration Therapy Kemampuan integrasi sensoris adalah kemampuan untuk memproses impuls yang diterima dari berbagai indera secara stimulan. Prognosis

Pada gangguan autisme, anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa mempunyai prognosis yang baik,. Kira-kira dua pertiga orang dewasa autisme bergantung sepenuhnya atau setengah bergantung pada keluarga atau di rumah sakit jiwa. Hanya 1-2% dapat hidup normal dan berstatus independent, dan 5-20% mendapat status normal borderline. Komplikasi Anak autis yang tidak terdeteksi secara dini akan mengalami gangguan bicara, interaksi social dan perilaku yang menetap. .