Você está na página 1de 1

$9 f

AkUN1AN5| FORN5|k & AUD|1 |NV51|CA1|F


O|eh : AR|AN1O L. kUDDV
N|M : IOO2O1OIIIOOs

Tugas Terstruktur Individu (TST-I)
BI Akui Banyak Bank DiboboI Karena Pengawasan InternaI MembIe

Bank ndonesia (B) mengakui banyaknya kasus fraud atau pembobolan bank akhir-akhir ini
disebabkan karena lemahnya pengawasan internal. Bank sentral meminta bank untuk introspeksi
serta membenahi pengendalian internal dengan mengoptimalkan manajemen risiko.
"Kasus-kasus yang terjadi merupakan kesempatan perbankan ndonesia untuk introspeksi
untuk menyempurnakan pengawasan ke arah yang lebih berbasis risiko. Juga fokus pada aspek
kepatuhan dan fungsional terutama risiko operasional untuk memitigasi risiko termasuk internal
auditor, ujar Deputi Gubernur Bank ndonesia Halim Alamsyah disela diskusi mengenai banking
efficiency award 2011 di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (22/6/2011).
Dicontohkan Halim, beberapa kasus besar industri perbankan global misalnya saja di
Singapura beberapa waktu lalu juga dikarenakan lemahnya pengawasan internal dan level top
manajemen. Kasus di ndonesia, sambung Halim tidak jauh dari hal tersebut dimana terdapat
beberapa kelemahan.
"Antara lain level top manajemen dalam melakukan review secara berkala terhadap
kebijakan sistem prosedur SOP dan pengendalian internal, kemudian pengawasan internal yang
kurang optimal serta adanya kelemahan implementasi kebijakan sistem dan prosedur serta SDM
yang kurang menjalankan prinsip Know Your Employee, paparnya.
"Ditambah ada beberapa pejabat yang kelewat batas dengan dapat mudahnya
memodifikasi data nasabah yang tidak diketahui pimpinan bank sehingga terjadi penarikan tanpa
diketahui, imbuh Deputi Bidang Pengawasan B ini.
Maka dari itu, Halim menyampaikan B akan menyempurnakan sejumlah aturan untuk
memperkuat good corporate governance dalam melindungi kepentingan nasabah dan industri
perbankan. Aturan yang digodok antara lain menyempurnakan kontrol internal yang efektif,
ketersediaan standard operational procedure yang memadai dan mendorong pengawasan aktif dari
direksi dan komisaris.
Selain itu, bank sentral juga akan menyempurnakan pengawasan dengan penguatan fungsi
Direksi Kepatuhan yang lebih optimal dan satuan kerja audit internal dan manajemen risiko yang
dapat beroperasi secara independen.
"Semuanya itu antara lain lapisan pertahanan pertama pada bank kalau semuanya dilakukan dapat
mengurangi risiko operasional, ujarnya.
Disamping pengguatan GCG di internal bank, menurut Halim, bank sentral juga akan
mendorong pengawasan masyarakat dan kantor akuntan publik yang mengaudit bank. "ni
merupakan lapisan kedua sehingga ada jaminan yang baik terhadap perlindungan dana nasabah
dan bank itu sendiri sebagai industri, ujarnya.

Referensi:
http://mukhsonrofi.wordpress.com/

http://www.vibiznews.com/news/banking_insurance/2011/06/22/bi-banyak-kasus-fraud-di-bank-karena-
lemahnya-pengawasan-internal-/

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/11/kasus-fraud-di-indonesia/

Program Hagister ALnntansi
JaLnltas JLonomi Jniersitas Lrawija,a
Qndd, Jiles