Você está na página 1de 13

5 VAKSIN IMUNISASI DASAR BAYI Untuk imunisasi dasar yang harus diberikan pada bayi antara lain.

Vaksin Polio; Bibit penyakit yang menyebabkan polio adalah virus, vaksin yang digunakan oleh banyak negara termasuk Indonesia adalah vaksin hidup (yang telah diselamatkan) vaksin berbentuk cairan. pemberian pada anak dengan meneteskan pada mulut. Kemasan sebanyak 1 cc / 2 cc dalam 1 ampul. Vaksin Campak; Bibit penyakit yang menyebabkan campak adalah virus. Vaksin yang digunakan adalah vaksin hidup. Kemasan dalam flacon berbentuk gumpalan yang beku dan kering untuk dilarutkan dalam 5 cc pelarut. Sebelum menyuntikkan vaksin ini, harus terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut vaksin (aqua bidest). Disebut beku kering oleh karena pabrik pembuatan vaksin ini pertama kali membekukan vaksin tersebut kemudian mengeringkannya. Vaksin yang telah dilarutkan potensinya cepat menurun dan hanya bertahan selama 8 jam. Vaksin BCG; Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri. Bentuknya vaksin beku kering seperti vaksin campak berbentuk bubuk yang berfungsi melindungi anak terhadap penyakit tuberculosis (TBC). Dibuat dari bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan, ditemukan oleh Calmett Guerint. Sebelum menyuntikkan BCG, vaksin harus lebih dulu dilarutkan dengan 4 cc cairan pelarut (NaCl 0,9%). Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam. Vaksin akan mudah rusak bila kena sinar matahari langsung. Tempat penyuntikan adalah sepertinya bagian lengan kanan atas. Vaksin Hepatitis B; Bibit penyakit yang menyebabkan hepatitis B adalah virus. Vaksin hepatitis B dibuat dari bagian virus yaitu lapisan paling luar (mantel virus) yang telah mengalami proses pemurnian. Vaksin hepatitis B akan rusak karena pembekuan dan pemanasan. Vaksin hepatitis B paling baik disimpan pada temperatur 2,8C. Biasanya tempat penyuntikan di paha 1/3 bagian atas luar. Vaksin DPT; Terdiri toxoid difteri, bakteri pertusis dan tetanus toxoid, kadang disebut triple vaksin. Berisi vasin DPT, TT dan DT. Vaksin DPT disimpan pada suhu 2,8C kemasan yang digunakan : Dalam - 5 cc untuk DPT, 5 cc untuk TT, 5 cc untuk DT. Pemberian imunisasi DPT, DT, TT dosisnya adalah 0,5 cc. Dalam pemberiannya biasanya berupa suntikan pada lengan atau paha.

IV. IMUNISASI WAJIB PROGRAM PENGEMBANGAN IMUNISASI (PPI)

Jenis imunisasi ini mencakup vaksinasi terhadap 6 penyakit utama, yaitu BCG, DPT, Polio dan Campak. Harus menjadi perhatian dan kewajiban orang tua untuk memberi kesempatan kepada anaknya mendapat imunisasi lengkap, sehingga sasaran Pemerintah agar setiap anak mendapat imunisasi dasar terhadap 6 penyakit utama pada tahun 1990 dapat tercapai. 1. Vaksin BCG Vaksinasi dan jenis vaksin: pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG mengandung kuman BCG (Bacillus Calmette guerin) yang masih hidup. Jenis kuman TBC ini telah dilemahkan. Penjelasan penyakit: di Indonesia dan di negara sedang berkembang lainnya, TBC masih merupakan penyakit rakyat yang sangat mudah menular. Di negara yang sudah berkembang, penyakit ini sudah sangat jarang ditemukan, karena dilaksanakannya imunisasi BCG dengan luas, pengawasan ketat terhadap penderita TBC dan perbaikan keadaan sosial ekonomi. Seorang anak akan menderita TBC karena terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman TBC, yang berasal dari orang dewasa berpenyakit TBC. Mungkin juga bayi sudah terjangkit penyakit TBC sewaktu lahir. Ia terinfeksi kuman TBC sewaktu masih dalam kandungan, bila ibu mengidap penyakit TBC. Tetapi hal ini jarang terjadi. Pada anak yang terinfeksi, kuman TBC dapat menyerang berbagai alat tubuh. Yang diserangnya ialah paru (paling sering), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati atau selaput otak. TBC selaput otak merupakan jenis TBC yang paling berat. Salah satu dari sekian banyak upaya pemberantasan penyakit TBC ialah imunisasi BCG. Dengan imunisasi BCG diharapkan penyakit TBC dapat diberantas dan kejadian TBC yang berat dapat dihindari. Cara imunisasi: pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan ketika bayi baru lahir sampai berumur 2 bulan. Setiap 5 tahun imunisasi diulang 9lihatlah jadwal pemberian imunisasi, hal 61). Pada anak yang berumur lebih dari 2 bulan, dianjurkan untuk melakukan uji Mantoux sebelum imunisasi BCG. Gunanya untuk mengetahui apakah ia telah terjangkit penyakit TBC. Seandainya hasil uji Mantoux positif, anak tersebut selayaknya tidak mendapat imunisasi BCG. Tetapi bila imunisasi BCG akan dilakukan secara massal (misalnya di sekolah, RT/RW, perusahaan, pabrik), maka pemberian suntikan BCG dilaksanakan secara langsung tanpa uji Mantoux terlebih dahulu. Hal ini dilakukan mengingat pengaruh beberapa faktor, seperti segi teknis penyuntikan BCG, keberhasilan program imunisasi, segi epidemiologik dan lain-lain. Penyuntikan BCG tanpa dilakukan uji Mantoux pada dasarnya tidaklah membahayakan. Namun

seandainya orang tua merasa bimbang karena anak anda dengan tidak terduga mendapat imunisasi BCG di sekolah, sebaiknya anda bertanya kepada dokter atau petugas kesehatan lain. Bila pemberian imunisasi BCG itu berhasil, setelah beberapa Minggu di tempat suntikan akan terdapat benjolan kecil. Tempat suntikan itu kemudian berbekas. Kadang-kadang benjolan tersebut bernanah, tetapi akan menyembuh sendiri meskipun lambat. Biasanya penyuntikan BCG dilakukan di lengan kanan atas. Karena luka suntikan meninggalkan bekas dan mengingat segi kosmetiknya, pada bayi perempuan dapat diminta suntikan di paha kanan atas. Kekebalan : Seperti telah diuraikan di atas, jaminan imunisasi tidaklah mutlak 100% bahwa anak anda akan terhindar sama sekali dari penyakit TBC. Seandainya bayi yang telah mendapat imunisasi terjangkit juga penyakit TBC, maka ia akan menderita penyakit TBC ini dalam bentuk yang ringan. Ia pun akan terhindar dari kemungkinan mendapat TBC yang berat, seperti TBC paru yang parah, TBC tulang atau TBC selaput otak yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup dan membahayakan jiwa anak anda. Reaksi imunisasi: biasanya setelah suntikan BCG bayi tidak akan menderita demam. Bila ia demam setelah imunisasi BCG umumnya disebabkan oleh keadaan lain. Untuk hal ini dianjurkan agar anda berkonsultasi dengan dokter. Efek samping: umumnya pada imunisasi BCG jarang dijumpai akibat samping. Mungkin terjadi pembengkakan kelenjar getah bening setempat yang terbatas dan biasanya menyembuh sendiri walaupun lambat. Bila suntikan BCG dilakukan di lengan atas, pembengkakan kelenjar terdapat di ketiak atau leher bagian bawah. Suntikan di paha dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar di selangkangan. Komplikasi pembengkakan kelenjar ini biasanya disebabkan arena teknik penyuntikan yang kurang tepat, yaitu penyuntikan terlalu dalam. Dalam masalah komplikasi yang ringan ini, bila terdapat keraguan dipersilahkan anda berkonsultasi dengan dokter. Indikasi kontra: tidak ada larangan untuk melakukan imunisasi BCG, kecuali pada anak yang berpenyakit TBC atau menunjukkan uji Mantoux positif.

Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan sedini-dininya, dalam waktu beberapa hari setelah bayi lahir. Cara pemberian imunisasi BCG bagi perorangan berlainan dengan pemberian secara massal. Imunisasi BCG secara massal tanpa didahului uji Mantoux, tidak membahayakan.

Dengan imunisasi BCG akan anda akan bebas terjangkit penyakit TBC. Setidak-tidaknya ia terhindar dari penyakit TBC yang berat dan parah.

2. Vaksin DPT (Difteriaa, Pertusis, Tetanus) Vaksin dan jenis vaksin: manfaat pemberian imunisasi ini ialah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis (batuk rejan) dan tetanus. Dalam peredaran di pasaran terdapat 3 jenis kemasan vaksin ketiga penyakit ini. Anda dapat memperolehnya dalam bentuk kemasan tunggal khususnya bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), dan kombinasi DPT (dikenal pula sebagai vaksin tripel). Cara imunisasi: imunisasi dasar diberikan 2-3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan jarak waktu antara 2 penyuntikan 4-6 minggu. Imunisasi dasar dengan 3 kali penyuntikan lebih baik daripada dengan 2 kali penyuntikan. Untuk imunisasi massal (di sekolah, RT/RW), biasanya cukup diberikan 2 kali penyuntikan. Imunisasi ulang lazimnya diberikan ketika anak berumur 1 2 tahun, menjelang umur 5 tahun (sebelum masuk sekolah dasar), dan menjelang umur 10 tahun (sebelum keluar Sekolah Dasar), masing-masing hanya diberi 1 kali suntikan. Dalam hal imunisasi ulang ini anda tidak perlu cemas, seandainya anak mendapat suntikan ulang sebelum waktunya. Kejadian demikian sering dialami para ibu. Dokter harus memberikannya bila terjadi kontak antara anak dengan penderita lain, misalnya penyakit difteria atau batuk rejan. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus. Demikian pula dalam keadaan yang meragukan atau mencurigakan, biasanya dokter akan memberikan suntikan ulang. Para ahli telah sepakat, bahwa lebih baik memberikan imunisasi berlebih daripada kurang. Reaksi imunisasi: reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1 2 hari. Efek samping: kadang-kadang terdapat akibat samping yang lebih berat, seperti demam tinggi atau kejang, yang biasanya disebabkan oleh unsur pertusisnya. Bila hanya diberikan DT (difteria dan tetanus) tidak akan menimbulkan akibat samping demikian. Indikasi kontra: imunisasi DPT tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah, pernah menderita kejang atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imunologik). Sakit batuk, pilek, demam atau diare yang sifatnya ringan, bukan merupakan indikasi kontra yang mutlak. Dokter akan mempertimbangkan pemberian imunisasi, seandainya anak anda sedang menderita sakit ringan. 3. Vaksin DT (difteria, Tetanus) Jenis vaksin: vaksin ini dibuat untuk keperluan khusus. Misalnya anak anda tidak diperbolehkan atau tidak lagi memerlukan imunisasi pertusis, tetapi masih memerlukan imunisasi difteria atau tetanus. Cara imunisasi: pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan pada imunisasi DPT.

Efek samping: akibat samping biasanya tidak ada atau hanya berupa demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat suntikan selama 1 2 hari. Indikasi kontra: hanya pada anak yang sakit parah atau sedang menderita demam tinggi. Dengan pengawasan dokter, anak yang pernah kejang masih dapat diberikan imunisasi DT. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara terinci mengenai masing-masing vaksin difteria, tetanus dan pertusis. 4. Vaksin Difteria Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin difteri terbuat dari toksin kuman difteri yang telah dilemahkan (=toksoid). Biasanya diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DPT. Penjelasan penyakit: Di Indonesia difteri masih banyak dijumpai, bahkan mungkin timbul secara luas dalam waktu bersamaan. Di negara maju pun difteri masih belum lenyap, misalnya di Amerika Serikat masih terdapat di pelosok perkotaan yang penduduknya padat dan kurang mampu. Penyakit difteri disebabkan oleh sejenis bakteria yang disebut Corynebacterium diphtheriae. Sifatnya sangat ganas dan mudah menular. Seorang anak akan terjangkit difteri bila ia berhubungan langsung dengan anak lain sebagai penderita difteri atau sebagai pembawa kuman (carrier), yaitu dengan terhisapnya percikan udara yang mengandung kuman. Bila anak nyata menderita difteri dapat dengan mudah dipisahkan. Tetapi seorang carrier akan tetap berkeliaran dan bermain dengan temannya yang belum pernah mendapat imunisasi akan tertular penyakit difteri yang diperoleh dari temannya sendiri yang menjadi carrier. Anak yang terjangkit difteri akan menderita demam tinggi. Selain itu pada tonil (amandel) atau tenggorok terlihat selaput putih kotor. Dengan cepat selaput ini meluas ke bagian tenggorok sebelah dalam dan menutupi jalan nafas, sehingga anak seolah-olah tercekik dan sukar bernafas. Kegawatan lain pada difteri ialah adanya racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Racun ini dapat menyerang otot jantung, ginjal dan beberapa serabut saraf. Kematian akibat difteri sangat tinggi; biasanya disebabkan anak tercekik oleh selaput putih pada tenggorok atau karena lemah jantung akibat racun difteri yang merusak jantung. Cara imunisasi: pemberian imunisasi difteri biasanya dilakukan bersama-sama dengan tetanus (Vaksin DT) dan batuk rejan (vaksin DPT), sejak bayi berumur 2 bulan (lihatlah jadwal imunisasi hal. 61). Mula-mula diberikan dalam bentuk imunisasi dasar sebanyak 2-3 kali suntikan dengan jarak waktu antara 2 suntikan 4-6 minggu. Kemudian disusul dengan imunisasi ulang pada umur 1 2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun. Imunisasi ulang sewaktu diperlukan juga bila anak anda berhubungan dengan anak lain yang

menderita difteri. Jadi bila anak terjangkit difteri, maka anak lain yang tinggal serumah harus mendapat imunisasi ulang meski pun belum waktunya. Kekebalan: Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80-95%. Reaksi imunisasi: Jarang terjadi, mungkin berupa demam ringan selama 1-2 hari. Efek samping: biasanya tidak ada Indikasi kontra: Hanya pada anak yang menderita demam tinggi atau sakit parah. 5. Vaksin tetanus Vaksinasi dan jenis vaksin: Seperti telah dikemukakan, terhadap penyakit tetanus dikenal 2 jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif ialah toksoid tetanus, yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu bentuk kemasan tunggal, kombinasi dengan vaksin difteri (vaksin DT), atau kombinasi dengan vaksin difteri dan pertusis (vaksin DPT). Vaksin untuk imunisasi pasif dikenal dengan ATS (Anti Tetanus Serum). Serum anti tetanus ini diperoleh dengan pengolahan serum yang berasal dari kuda yang mendapat imunisasi aktif tetanus. Serum kuda yang telah diolah itu mengandung banyak zat anti tetanus. Jenis vaksin ini dapat dipakai untuk pencegahan (imunisasi pasif), maupun pengobatan. Penjelasan penyakit: penyakit tetanus masih terdapat di seluruh dunia, karena kemungkinan anak mendapat luka tetap ada, misalnya terjatuh, luka tusuk, luka bakar, koreng, gigitan binatang, gigi bolong, radang telinga. Luka tersebut merupakan pintu masuk kuman tetanus yang dikenal sebagai Clostridium tetani. Kuman ini akan berkembang biak dan membentuk racun yang berbahaya. Racun inilah yang merusak sel susunan saraf pusat tulang belakang yang menjadi dasar timbulnya gejala penyakit. Gejala tetanus yang khas adalah kejang dan kaku secara menyeluruh, otot dinding perut yang teraba keras dan tegang seperti papan, mulut kaku dan sukar dibuka, serta muka yang menyeringai serupa setan. Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak terdapat di negara yang sedang berkembang, terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum). Penyakit ini terjadi karena kuman Clostridium tetanimemasuki tubuh bayi baru lahir melalui tali pusat yang kurang terawat. Dukung memotong tali pusat dengan memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan, abu, daun-daunan dan sebagainya. Oleh karena itu untuk mencegah kejadian tetanus neonatorum ini, secara berkala Departemen Kesehatan mengadakan kursus perawatan ibu dan bayi terhadap para dukun. Upaya lain untuk pencegahannya ialah pemberian imunisasi aktif kepada ibu hamil pada trimester akhir yang persalinannya diduga akan ditolong oleh dukun.

Seandainya seorang ibu melahirkan bayi yang ditolong oleh dukun dan sebelumnya tidak pernah mendapat imunisasi tetanus, maka seharusnya bayi itu segera dibawa ke dokter/Puskesmas. Gunanya untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit tetanus dengan pemberian Serum Anti Tetanus(ATS). Cara perlindungan terhadap bayi baru lahir ini merupakan contoh suatu imunisasi pasif. Angka kematian tetanus masih sangat tinggi, yaitu pada bayi baru lahir sebesar 80-90%, pada anak berumur 2-7 tahun sebesar 20-70%, dan pada anak berumur 8-12 tahun adalah 60%. Angka kematiannya pada orang dewasa juga masih tinggi, yaitu 70-80%. Cara imunisasi: Imunisasi dasar dan ulang pada anak diberikan sama dengan imunisasi difteria (lihatlah jadwal imunisasi, hal. 61). Pada imunisasi tetanus, setelah anak berumur 10 tahun masih harus tetap mendapat suntikan ulang secara berkala setiap 5 tahun selama masa hidup selanjutnya. Pada ibu hamil pemberian imunisasi tetanus dilakukan sebanyak 2 kali, masing-masing pada kehamilan bulan ke-7 dan ke-8. sevaksinasi (vaksinasi ulang) dilakukan secara berkala setiap 5 tahun. Untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir: Imunisasi aktif dengan toksoid tetanus pada ibu hamil menjelang kelahiran bayi.

Seandainya kelahiran seorang bayi ditolong oleh dukun, bayi secepatnya dibawa ke dokter/puskesmas untuk mendapat imunisasi pasif dengan serum anti tetanus.

Pertanyaan yang sering diajukan oleh ibu tentang imunisasi tetanus ialah: Bagaimana tindakan seorang ibu seandainya anak mendapat luka karena kecelakaan. Dalam menghadapi masalah ini sebaiknya anda berkonsultasi kepada dokter/Puskesmas, meskipun anak anda pernah mendapat imunisasi tetanus. Dokter akan mempertimbangkan beberapa kemungkinan tindakan seperti berikut: (1) Anak tidak perlu mendapat imunisasi tetanus (2) Anak hanya mendapat toksoid tetanus (3) Anak mendapat toksoid tetanus dan ATS bersama-sama Selain luka, di Indonesia sumber utama lain tempat masuknya kuman Clostridium tetanipada anak ialah radang telinga. Orang Jakarta mengatakan congean. Gejalanya berupa keluarnya cairan berbau khas dari liang telinga. Bagi anak yang sering menunjukkan gejala keluarnya cairan dari liang telinga dan belum pernah mendapat imunisasi tetanus, sangat dianjurkan untuk

mendapatkannya. Karena bila anak terinfeksi tetanus tidak jarang akan berakhir dengan suatu kematian, yang pasti akan sangat disesalkan hanya karena gara-gara congean! Kekebalan: daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95%. Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi aktif tetanus biasanya tidak ada. Mungkin terdapat demam ringan atau rasa nyeri, rasa gatal dan pembengkakan ringan di tempat suntikan yang berlangsung selama 1-2 hari. Efek samping: Pada imunisasi aktif dengan toksoid tetanus hampir tidak efek samping. Pada pemberian imunisasi pasif dengan ATS mungkin terjadi reaksi yang lebih serius, seperti gatal seluruh tubuh, nyeri kepala, bahkan renjatan (shock). Oleh karena itu penyuntikan ATS seyogianya di bawah pengamatan dokter. Indikasi kontra: tidak ada, kecuali pada anak yang sakit parah. 6. Vaksin Pertusis (Batuk rejan, Pertussis) Vaksinasi dan jenis vaksin: Vaksin terbuat dari kuman Bordetella pertusis yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama dengan vaksin difteria dan tetanus (vaksin DPT, vaksin tripel). Penjelasan penyakit: penyakit batuk rejan, atau lebih dikenal dengan batuk 100 hari, disebabkan oleh kuman Bordetella pertusis. Penyakit ini cukup parah bila diderita oleh anak balita, bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi berumur kurang dari 1 tahun. Gejalanya sangat khas, yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan kadang-kadang sampai muntah. Karena batuk yang sangat keras, mungkin akan disertai dengan keluarnya sedikit darah. Batuk akan berhenti setelah ada suara melengking pada waktu menarik nafas. Kemudian anak nampak letih dengan wajahnya yang lesu. Batuk semacam ini terutama terjadi malam hari. Bila penyakit ini diderita oleh seorang bayi, terutama yang baru berumur beberapa bulan, akan merupakan keadaan yang sangat berat dan dapat berakhir dengan kematian akibat suatu komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi ialah kejang. Kerusakan otak atau radang paru. Batuk rejan jarang berakhir dengan kematian bila terjadi pada anak yang lebih besar, dengan ketentuan kesehatan anak tersebut ada di bawah pengamatan dokter atau petugas kesehatan yang berwenang. Cara imunisasi: Imunisasi biasanya dilakukan bersama dengan vaksinasi difteria dan tetanus, dengan cara penyuntikan vaksin DPT. Karena perjalanan penyakit pada anak berumur lebih dari 5 tahun tidak parah dan mengingat kemungkinan efek samping imunisasi pertusis pada golongan umur lanjut lebih buruk, ada pendapat untuk tidak memberikan sevaksinasi pertusis pada anak berumur lebih dari 5 tahun. Dengan demikian, imunisasi ulang hanya diberikan pada umur 1 2 tahun dan ketika menjelang umur 5 tahun.

Kekebalan: Daya proteksi vaksin pertusis masih rendah, yaitu 50-60%. Oleh karena itu tidak jarang anak yang telah mendapat imunisasi pertusis masih terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan. Oleh para sarjana masih sedang diteliti untuk mendapatkan jenis vaksin yang lebih murni dan berdaya proteksi lebih tinggi. Reaksi imunisasi: Reaksi akibat imunisasi dapat berupa demam selama 1-2 hari atau pembengkakan lokal di tempat suntikan. Efek samping: walaupun jarang terjadi, mungkin dijumpai efek samping berupa kejang. Indikasi kontra: imunisasi pertusis tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah, anak dengan gejala penyakit saraf, atau anak yang pernah kejang, juga tidak boleh diberikan kepada anak dengan batuk yang diduga mungkin sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal, atau pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan. 7. Vaksin Poliomielitis Vaksinasi dan jenis vaksin: imunisasi diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomielitis. Terdapat 2 jenis vaksin dalam peredaran, yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II dan III, yaitu: (1) Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan III yang sudah dimatikan (vaksin Salk). Cara pemberian vaksin ini ialah dengan penyuntikan. (2) Vaksin yang mengandung virus polio tipe I, II, dan II yang masih hidup, tetapi dilemahkan (vaksin Sabin). Cara pemberiannya ialah melalui mulut dalam bentuk pil atau cairan. Di Indonesia yang lazim diberikan ialah vaksin jenis Sabin. Kedua jenis vaksin tersebut mempunyai kebaikan dan kekurangannya. Kekebalan yang diperoleh sama baiknya. Karena cara pemberiannya lebih mudah melalui mulut, maka lebih sering dipakai jenis Sabin. Di beberapa negara dikenal Tetra vaccine yang mengandung 4 jenis vaksin, yaitu kombinasi DPT dan polio, cara pemberiannya dengan suntikan. Penjelasan penyakit: Poliomielitits ialah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus polio. Telah dikenal 3 jenis polio, yaitu tipe I, II dan III. Virus polio akan merusak bagian anterior (bagian muka) susunan saraf tulang belakang. Penyakit ini terutama banyak terdapat di negara yang sedang berkembang. Di Indonesia di Semarang tahun 1954, di Medan tahun 1957. Gejala penyakit ini sangat bervariasi, dari gejala ringan sampai timbul kelumpuhan, bahkan mungkin suatu kematian. Gejala yang umum dan mudah dikenal ialah anak mendadak menjadi lumpuh pada salah satu anggota geraknya, setelah ia menderita demam selama 2-5 hari. Bila kelumpuhan itu terjadi pada otot pernafasan, mungkin anak akan meninggal karena sukar bernafas. Penyakit ini dapat langsung menular dari seorang penderita polio atau dengan melalui makanan.

Cara imunisasi: di Indonesia dipakai vaksin Sabin yang diberikan melalui mulut. Imunisasi dasar diberikan ketika anak berumur 2 bulan, sebanyak 2-3 kali. Jarak waktu antara 2 pemberian ialah 4-6 minggu. Sevaksinasi diberikan ketika anak berumur 1 2 tahun, menjelang umur 5 tahun dan menjelang umur 10 tahun (lihatlah jadwal imunisasi, hal 61). Vaksin polio dapat diberikan bersama dengan vaksin DPT. Pada pemberian vaksin polio perlu diperhatikan bayi yang masih mendapat ASI. Karena ASI mengandung zat anti terhadap polio, maka dalam waktu 2 jam setelah minum vaksin polio bayi tersebut tidak diberi ASI dahulu. Zat anti yang terdapat dalam ASI akan menghancurkan vaksin polio, sehingga imunisasi polio menjadi gagal. Sebenarnya masalah ini masih dipertentangkan. Pada saat ini, banyak sarjana berpendapat bahwa tidak ada pengaruh ASI terhadap imunisasi polio. ASI dapat diberikan seperti biasa, karena sifat dan jenis antibodi pada ASI berlainan. Masalah lain yang sering dipertanyakan adalah tentang perlunya pemberian imunisasi ulang seandainya seorang anak pernah terjangkit polio. Jawabannya: Ya, masih diperlukan imunisasi ulang. Alasannya adalah mungkin anak yang menderita polio ini hanya terjangkit oleh virus polio tipe I. Artinya, bila penyakitnya telah menyembuh ia hanya mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe I, tetapi tidak memungkinkan kekebalan terhadap jenis virus polio tipe II dan III. Sehingga untuk mendapat kekebalan terhadap kedua jenis virus tersebut perlu diberikan imunisasi ulang polio. Kekebalan: Daya proteksi vaksin polio sangat baik, yaitu sebesar 95-100%. Reaksi imunisasi: biasanya tidak ada, mungkin pada bayi akan terdapat berak-berak ringan. Efek samping: Pada imunisasi polio hampir tidak terdapat efek samping. Bila ada, mungkin berupa kelumpuhan anggota gerak seperti pada penyakit polio sebenarnya. Indikasi kontra: Pada anak dengan diare berat atau yang sedang sakit parah, imunisasi polio sebaiknya ditangguhkan. Demikian pula pada anak yang menderita penyakit defisiensi kekebalan tidak diberikan polio. Alasan untuk tidak memberikan vaksin polio pada keadaan diare berat ialah kemungkinan terjadinya diare yang lebih parah. Pada anak dengan penyakit batuk, pilek, demam atau diare ringan, imunisasi polio dapat diberikan seperti biasanya. 8. Vaksin Campak (Morbili) Vaksinasi dan jenis vaksin: Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secar aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering di kombinasi dengan vaksin gondong/bengok (mumps) dan rubela (campak Jerman). Di Amerika Serikat kemasan terakhir ini dikenal dengan nama MMR (Measles Mumps-Rubela Vaccine).

Penjelasan penyakit: istilah asing untuk penyakit campak ialah Marbilli (Latin), Measles(Inggris). Penyakit ini sangat mudah menular. Kuman penyebabnya ialah sejenis virus yang termasuk ke dalam golongan paramyxo virus. Gejala yang khas yaitu timbulnya bercak-bercak merah di kulit (eksantem), 3-5 hari setelah anak menderita deman, batuk atau pilek. Bercak merah ini mula-mula timbul di pipi di bawah telinga. Kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota gerak. Pada stadium berikutnya bercak merah tersebut akan berwarna cokelat kehitaman dan akan menghilang dalam waktu 7-10 hari kemudian. Tahap penyakit ketika timbul gejala demam disebut stadium katarak. Tahap ketika kemudian timbul bercak merah di kulit disebut stadium eksantem. Pada stadium katarak penyakit campak sangat mudah menular kepada anak lain. Daya tular ini menjadi berkurang pada stadium eksantem. Pada waktu stadium katarak dan stadium eksantem anak nampak sakit berat, lesu dan tidak ada nafsu makan. Sebenarnya penyakit campak sendiri merupakan penyakit yang terbatas dan dapat sembuh sendiri, tetapi sering diikuti oleh komplikasi yang cukup berat. Komplikasi penyakit campak yang berbahaya ialah radang otak (ensefalitis atau ensefalopati), radang paru, radang saluran kemih dan menurunnya keadaan gizi anak. Terutama pada anak yang kurang gizi, sering terdapat komplikasi radang paru yang mungkin dapat mengakibatkan kematian. Menurunnya berat badan anak akibat penyakti campak akan menyebabkan merendahnya daya tahan, sehingga ia dengan mudah dihinggapi penyakit lain. Penyakit ini juga akan menyebabkan lebih menurunnya berat badan dan begitulah seterusnya. Maka terdapat lingkaran setan antara menurunnya berat badan, merendahnya daya tahan tubuh dan kejadian infeksi. Keadaan ini mungkin berakhir dengan kematian. Dengan memperhatikan komplikasi penyakit campak yang cukup berat ini, sebenarnya tidaklah tepat pendapat tradisional bahwa sebaiknya anak itu dibiarkan menderita campak secara alamiah. Atau dengan istilah awam: kalau anak sakit, biarkan supaya capkanya keluar. Cara imunisasi: Bayi yang baru lahir telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dari ibunya ketika ia dalam kandungan. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Waktu berumur 6 bulan biasanya bayi itu tidak mempunyai kekebalan pasif lagi. Dengan adanya kekebalan pasif ini sangatlah jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang dari 6 bulan. Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup dilakukan dengan 1 kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah ia berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan revaksinasi lagi. Di Indonesia keadaannya berlainan. Kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak ketika ia berumur antara 6-9 bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur 9 bulan untuk mendapat vaksinasi campak seperti yang dianjurkan WHO. Dengan memperhatikan kejadian ini, sebenarnya imunisasi campak dapat diberikan sebelum bayi berumur 9 bulan, misalnya pada umur antara 6-7 bulan ketika kekebalan pasif yang diperoleh

dari ibu mulai menghilang. Akan tetapi kemudian ia harus mendapat satu kali suntikan ulang setlah berumur 15 bulan. Bila ada seorang anak terjangkit campak, apakah imunisasi terhadap anak lain serumah yang belum pernah campak perlu diberikan? Pertanyaan ini sering dikemukakan oleh para ibu. Vaksinasi terhadap anak serumah yang mempunyai kontak dengan penderita campak dapat diberikan dalam waktu 5 hari setelah terjadi kontak. Bila diberikan setelah hari ke-5, vaksinasi tidak akan bermanfaat, karena anak sudah ketularan lebih dahulu dari anak penderita campak tadi. Yang menjadi masalah ialah kesulitan menentukan waktu yang tepat terjadinya kontak. Untuk hal ini sebagai patokan dapat diambil hari pertama terjadinya demam yang timbul pada penderita campak tersebut, sebelum timbul bercak merah di kulit. Seperti diuraikan di atas masa penularan yang paling berbahaya ialah pada awal penyakit, yaitu pada stadium katarak sebelum keluar bercak merah. Dengan demikian dapat disimpulkan, bila seorang anak diketahui menderita penyakit campak, yang biasanya dikenal ibunya karena timbulnya bercak merah, maka pada saat ini tidak manfaatnya lagi untuk melakukan imunisasi pada anak lainnya. Saat kejadian ini biasanya telah melampaui batas waktu 5 hari dari hari pertama terjadinya demam. Seandainya anak serumah yang sudah ditulari virus campak, karena suatu hal tetap mendapat imunisasi campak, hal ini tidak akan memperberat atau memperingan keadaan anak bila dalam beberapa hari kemudian ia akan menderita campak yang sebenarnya. Masalah lain yang sering timbul pada pihak ibu adalah perlukah vaksinasi campak diulang pada anak yang telah menderita campak karena infeksi alamiah. Sebenarnya bila anak tersebut benarbenar telah menderita sakit campak, maka vaksinasi campak tidak perlu diberikan lagi. Masalahnya adalah apakah anak tersebut benar-benar menderita campak? Biasanya seorang ibu mendasarkan dugaan sakit anaknya itu hanya karena adanya demam yang disertai dengan timbulnya bercak merah di kulit. Gejala demam dengan bercak merah tidak hanya terjadi pada penyakit campak, tetapi dapat pula dijumpai pada penyakit lain, seperti penyakit demam 3 hari, demam berdarah, campak Jerman, dan sebagainya. Kekebalan: Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi, yaitu 96-99%. Menurut penelitian, kekebalan yang diperoleh ini berlangsung seumur hidup, sama langgengnya dengan kekebalan yang diperoleh bila anak terjangkit campak secara alamiah. Reaksi imunisasi: Biasanya tidak terdapat reaksi akibat imunisasi. Mungkin terjadi demam ringan dan nampak sedikit bercak merah pada pipi di bawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. Mungkin pula terdapat pembengkakan pada tempat suntikan. Efek samping: Sangat jarang, mungkin terdapat kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke 10-12 setelah penyuntikan. Selain itu dapat terjadi radang otak, berupa ensefalitis atau ensefalopati, dalam waktu 30 hari setelah imunisasi. Tetapi kejadiannya sangat jarang, yaitu 1 diantara 1 juta suntikan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan kejadian radang otak akibat penyakit campak alamiah yang sebesar 1 diantara 250 kasus. Dengan demikian risiko

untuk terjadinya radang otak akibat infeksi alamiah 2.500 kali lebih besar daripada akibat imunisasi (lihatlah tabel 1 pada hal. 12). Demikian pula dapat terjadi akibat samping lain pada jaringan otak yang dikenal dengan istilah SSPE (subacute sclerosing panencephalitis). Kejadiannya sangat jarang (1 diantara 1 juta penderita campak). Dari kenyataan angka-angka tersebut dapat disimpulkan, bahwa mengenai risiko terjadinya kelainan otak akibat imunisasi ini tidak perlu terlampau dirisaukan, karena kejadiannya sangat jarang. Selain itu, seandainya anak tersebut tidak mendapat imunisasi dan kemudian terjangkit penyakit campak secara alamiah, maka ia tetap akan terjangkit kelainan otak serupa. Bahkan dalam bentuk yang lebih parah. Indikasi kontra: Menurut WHO (1963), indikasi kontra hanya berlaku terhadap anak yang sakit parah, yang menderita TBC tanpa pengobatan, atau yang menderita kurang gizi dalam derajat berat. Vaksinasi campak sebaiknya juga tidak diberikan pada anak dengan penyakit defisiensi kekebalan. Juga tidak diberikan pada anak yang menderita penyakit keganasan atau sedang dalam pengobatan penyakit keganasan. Karena belum terkumpulnya cukup informasi ilmiah, sebaiknya imunisasi campak pada ibu hamil ditangguhkan. Pada anak yang pernah kejang, imunisasi campak dapat diberikan seperti biasanya, asalkan dengan pengawasan dokter.