Você está na página 1de 2

Pahala yang Tetap Mengalir Ketika ruh seseorang itu telah keluar dari jasadnya, tentu ia tidak bisa

berbuat apa-apa melainkan hanya menunggu pengadilan Allah setelah ia dibangkitkan kembali. Seluruh aktivitasnya terhenti seiring dengan terhentinya nafas. Harta, kedudukan, kekuasaan, keluarga, saudara, dan teman yang ia miliki tidak akan pernah sanggup untuk menghentikan ruh yang telah dicabut oleh malaikat maut. Keluarga dan sanak saudaranya menghantarkan jenazahnya hingga ke tempat pemakamannya. Di alam kubur ia sendirian, tidak ada yang menemaninya kecuali hanya amal perbuatannya saat di dunia. Jika ia sering melakukan amalan yang baik, maka ia akan bahagia bersama dengan amalnya itu. Jika ia sering melakukan amalan-amalan yang buruk ketika ia masih hidup, maka ia akan menderita hingga Allah membangkitkan kembali. Tiga hal yang mengiringi jenazah. Yang dua kembali, sedangkan yang satu tetap tinggal bersama dirinya. Jenazah diiringi oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap menemaninya. (HR Bukhari dan Muslim). Apabila keturunan Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakan kepadanya. (HR Muslim dari Abu Hurairah). Makna hadits tersebut adalah bahwa semua amal yang dilaksanakan oleh si mayit/jenazah terputus disebabkan kematiannya dan terputus pula pemberian pahala baginya, kecuali tiga hal yaitu : Yang pertama sedekah jariyah. Sedekah jariyah adalah harta yang digunakan untuk kemuliaan agama Allah dan syariatnya, lalu setelah ia meninggal, harta tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang banyak yang masih hidup. Selama harta tersebut digunakan untuk kebaikan, ia akan tetap mendapatkan balasan pahalanya. Contoh amalan yang termasuk sedekah jariyah adalah berwakaf. Seperti mewakafkan tanah, masjid, madrasah, mushaf, sumur, dan benda-benda lain yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak dalam jangka waktu yang cukup lama. Banyak orang yang tertipu dengan hartanya, sehingga menggunakannya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat atau bahkan ia mendapatkan hartanya dari jalan yang tidak halal. Kemudian ia menumpuknya, mengumpulkannya untuk ahli warisnya, sedangkan ia di alam kubur tidak mendapatkan apa-apa dari harta tersebut. Ketika harta yang ia tinggalkan itu digunakan oleh ahli warisnya untuk sesuatu yang melanggar syariat Allah, maka ia pun akan mendapatkan dosa. Harta yang digunakan untuk kemaksiatan atau disimpan lalu tidak dibelanjakan di jalan Allah, maka harta tersebut di hari kiamat kelak akan diwujudkan ular oleh Allah, kemudian ular tersebut mengejar, melilit, dan memakannya, lalu ular itu berkata, akulah hartamu, akulah harta simpananmu. (HR. Bukhari dan Muslim). Jika harta itu berupa emas atau perak, maka ia akan dijadikan seperti setrika yang digunakan untuk membakar dirinya, lantas disetrikakan ke dahi, rusuk, dan dahinya. (HR.Bukhari dan Muslim). Sederhananya, banyak manusia yang terlena dengan harta ketika di dunia. Ia banyak mengumpulkan harta tapi jarang ia belanjakan di jalan Allah.

Yang kedua adalah Ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang dapat memberikan petunjuk kepada umat manusia menuju kebaikan dunia dan akhirat, bagi pemiliknya ataupun juga untuk orang lain. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengajarkan ilmu kepada manusia tentang agam Islam. Semua orang yang mempunyai ilmu tentu mampu melakukannya. Rasulullah bersabda, Sampaikanlah dariku (kepada orang lain) walaupun hanya satu ayat. (HR. Bukhari) Adapun mereka yang tidak memiliki ilmu bisa melakukannya dengan cara ikut serta di dalamnya, berupa mencetak kitab-kitab yang bermanfaat atau membelinya lalu ia membagikan atau meletakkan di masjid sebagai perpustakaan. Hal ini sebagai bentuk penyampaian ilmu yang bermanfaat kepada orang lain yang mungkin belum mengetahuinya. Siapa saja yang mengajak orang lain menuju hidayah (Allah), maka ia mendapatkan pahala, dan juga pahala orang-orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi sedikitpun dari pahalanya. (HR. Muslim) Yang ketiga adalah anak shalih. Seorang anak menjadi agar menjadi anak yang shalih adalah tanggungjawab dan kewajiban orang tuanya. Apabila orangtuanya berhasil mendidik anaknya menjadi anak yang shalih, maka mereka akan mendapatkan pahala setiap kali anak tersebut melakukan kebaikan, bahkan doa yang diucapkan oleh orang lain yang pernah mendapatkan kebaikan dari anak tersebut akan ikut mengalir kepada orangtuanya. Dalam hadist tersebut juga terdapat anjuran untuk mendidik anak agar menjadi shalih dalam ajaran Islam. Karena apa yang telah kita lakukan akan menjadi investasi besar ketika tubuh sudah tak bernyawa. Selain itu, dalam hadist tersebut juga menunjukkan bahwa seorang anak disyariatkan mendoakan orangtuanya bersamaan dengan doa untuk dirinya sendiri baik setelah sholat maupun ketika kita sedang tidak melakukan sholat. Semua yang diuraikan tersebut adalah inti dari firman Allah dalam QS. Yaasin: 12 yang artinya, sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang telah mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan, dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).