Você está na página 1de 89

TINJAUAN YURIDIS ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK SERTA BEBERAPA

A PERMASALAHAN HUKUM YANG TIMBUL APABILA TERJADI TRANSAKSI E-COMMERCE BESERTA PENYELESAIANNYA APABILA TERJADI SENGKETA DAN PENGAMANANNYA

SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat akhir guna memperoleh gelar Sarjana Hukum

Disusun Oleh : Nama Mahasiswa NIM Program Peminatan : Ardha Fadlan : 2004 50 155 : Ekonomi Bisnis

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA JAKARTA 2008

Persetujuan Skripsi TINJAUAN YURIDIS ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK SERTA BEBERAPA PERMASALAHAN HUKUM YANG TIMBUL APABILA TERJADI TRANSAKSI E-COMMERCE BESERTA PENYELESAIANNYA APABILA TERJADI SENGKETA DAN PENGAMANANNYA

Diajukan Oleh : Nama Mahasiswa NIM Program Peminatan : Ardha Fadlan : 2004 50 - 155 : Ekomomi Bisnis

Telah disetujui Dosen Pembimbing

Thomas Suwignyo, SH, MH.

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertandatangan di bawah ini : Nama NIM : Ardha Fadlan : 2004 50 155

Menyatakan bahwa Skripsi ini merupakan hasil karya saya sendiri, dan bukan merupakan duplikasi ataupun plagiasi (jiplakan) dari hasil penelitian orang lain. Sepengetahuan saya, topic/judul dari Skripsi ini belum pernah ditulis oleh orang lain. Apabila Skripsi ini terbukti merupakan hasil duplikasi atau plagiasi (jiplakan) dari hasil Ujian Komprehensif orang lain, saya bersedia mengambil kembali mata kuliah Penulisan Hukum.

Demikian Surat Pernyataan ini saya buat sebenar benarnya.

Yang Menyatakan,

(Ardha Fadlan)

Pengesahan Skripsi

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Uian Komprehensif Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Pada 25 November 2008 dan dinyatakan LULUS Tim penguji Ketua

( Dedy Yudistira, SH., MH.)

Penguji I

Penguji II

( Sri Subiandini Gultom, SH., MH. ) Mengesahkan

( Thomas Suwignyo, SH., MH )

Dekan Fakultas Hukum Unika Atma Jaya

( Dr. Yanti Fristikawati, SH, MH)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan anugerah dan karuniaNYa, sehingga penyusunan skripsi dengan judul TINJAUAN YURIDIS ATAS UNDANG UNDANG INFORMASI DAN TRANSAKSI HUKUM NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG ELEKTRONIK TIMBUL SERTA APABILA BEBERAPA TERJADI

PERMASALAHAN

YANG

TRANSAKSI E-COMMERCE BESERTA PENYELESAIANNYA APABILA TERJADI SENGKETA DAN PENGAMANANNYA, yang disusun guna

memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Katolik Atma Jaya dapat selesai tepat waktu. Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada pihak pihak yang telah memberikan dukungan kepada penulis. Persembahan terima kasih ini penulis berikan kepada :

1. Papa dan Mama tercinta yang telah memberikan doa, motivasi, semangat, dan kasih sayang kepada penulis. Semoga cinta yang penulis tuangkan dalam kerja keras ini dapat menjadi kebanggaan untuk Papa dan Mama. 2. Ibu Dr. Yanti Fristikawati, SH., MH., Selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, yang telah membantu penulis selama masa perkuliahan 3. Bapak Johanes Sardadi, SH., MH., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, yang telah membantu penulis selama masa perkuliahan.

ii 4. Ibu Asmin Fransiska, SH., LLM., selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, yang telah membantu penulis selama masa perkuliahan. 5. Bapak Samuel Hutabarat, SH., MH., selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, yang telah membantu penulis selama masa perkuliahan. 6. Bapak Dedy Yudistira, SH., MH., selaku Kepala Bagian Peminatan Ekonomi Bisnis Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, yang telah membantu penulis selama masa perkuliahan dan memberikan masukan serta saran kepada penulis didalam membuat Skripsi ini. 7. Bapak Thomas Suwignyo, SH., MH., selaku Pembimbing Skripsi penulis yang sangat banyak membantu penulis didalam memberikan bimbingan dan arahan pada penulisan Skripsi ini. 8. Ibu Bernadetta Tjandra Wulandari, SH., MH., selaku Pembimbing Akademik yang senantiasa memberi nasihat dan semangat kepada penulis selama penulis menjalani pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. 9. Seleruh Dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, yang telah meberikan begitu banyak ilmu kepada penulis, selama penulis menjalani kuliah. 10. Seluruh Karyawan Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, yang telah banyak membantu penulis selama menjalani kuliah.

iii 11. Acca dan Dean Kedua adik tercinta penulis yang telah memberikan bantuan doa dan motivasi kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 12. R.A. Koes Partini Sri Ratna Maharani, yang telah meberikan cinta, kasih sayang, dan motivasi kepada penulis didalam menyelesaikan Skripsi ini 13. Seluruh rekan rekan FH khususnya angkatan 2004 yang telah menemani penulis selama masa kuliah. 14. Bapak Irawan Effendy Sekretaris Asosiasi Internet Indonesia, yang telah memberikan waktu dan informasi kepada penulis didalam menyelesaikan Skripsi ini.. 15. Bapak Drs. Sarwono Hadinoto, MH. Managing Partner Kantor Hukum Amanah, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan praktek kerja lapangan (magang). 16. Seluruh rekan rekan Kantor Hukum Amanah, yang banyak membantu penulis didalam menyelesaikan Skripsi ini. 17. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih jauh dari kata sempurna. Namun semua itu hendaknya menjadi bahan pembelajaran kepada penulis agar semakin berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal. Akhir kata, semoga Skripsi ini dapat berguna bagi siapapun yang akan membacanya.

Penulis

iv

ABSTRAK (A) Ardha Fadlan (2004-501-155) (B) Tinjauan Yuridis Atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik Serta Beberapa Permasalahan Hukum Yang Timbul Apabila Terjadi Transaksi E-Commerce Beserta Penyelesaiannya Apabila Terjadi Sengketa Dan Pengamanannya (C) Kata Kunci : E-Commerce, Masalah, Penyelesaian (D) Daftar acuan (literatur) : 19 (1985-2008) (E) Ringkasan Penulisan Hukum : Bahwa adanya Undang - Undang yang mengatur mengenai informasi dan transaksi elektronik pada saat ini sudah tidak bisa ditawar tawar lagi. Mengingat begitu pesatnya perkembangan ilmu dan perangkat baik lunak maupun keras di bidang teknologi dan informasi. Perkembangan di bidang ilmu dan perangkat baik lunak maupun keras di bidang teknologi informasi khususnya di bidang transaksi elektronik (e-commerce) tidak hanya berdampak positif tetapi juga menimbulkan berbagai masalah hukum. Berbagai masalah hukum yang perlu segera diberikan jalan keluarnya atau penyelesainnya. Dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ternyata berbagai masalah hukum tersebut diatas belum bisa terselesaikan oleh karena pada kenyataannya Undang Undang tersebut juga masih mempunyai beberapa kelemahan dan beberapa kelemahan tersebut tentu saja akan menimbulkan berbagai ketidakpastian hukum.Untuk mengatasi berbagai permasalahan hukum yang timbul sehubungan dengan dilakukannya transaksi elektronik (e-commerce) maka menjadi sangat penting peran dari lembaga penyelesaian baik lembaga pengadilan maupun lembaga penyelesaian di luar pengadilan (Alternative Dispute Resolution). Dan demi tuntasnya penyelesaian semua permasalahan hukum tersebut diatas, maka perlu kiranya dilakukan tindakan yang bersifat preventif, yakni melalui pengamanan terhadap perjanjian(e-commerce) yang berkaitan dengan aspek - aspek Confidentiality, Integrity, Authorization, Availability, Authenticity, Non-repudiability / Non-repudiation, Auditability, beserta tekniknya tekninya. (F) 2008

v DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .. ABSTRAK DAFTAR ISI .

i iv v 1 1 10 11 11 12 12 13

BAB I PENDAHULUAN .... A. B. C. D. E. F. G. Latar Belakang .

Rumusan Masalah

Pembatasan Masalah . Maksud Dan Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian .

Metode Penelitian Sistimatika Penulisan ..

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG E- COMMERCE BERDASARKAN UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASIDANTRANSAKSIELEKTRONIK ....... 15 A. C. Tinjauan Umum Tentang E-Commerce 15

Ketentuan E-Commerce Menurut Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik 1. Pengertian 23 23

2. Informasi, Dokumen, Dan Tanda Tangan Elektroknik ... 3. Transaksi Elektronik

24 28

vi

B.

Perjanjian Pada Umumnya 1. Pengertian Perjanjian 2. Asas Asas Perjanjian

..... .

30 30 31 35 36 38 41 41

3. Subjek Perjanjian 4. Syarat Sahnya Perjanjian

5. Jenis Jenis Perjanjian .. 6. Akibat Hukum Dari Perjanjian ... 7. Wanprestasi Dan Akibat Akibatnya 8. Pembatalan Perjanjian

42

BAB III BEBERAPA PERMASALAHAN HUKUM YANG DAPAT TIMBUL APABILA TERJADI TRANSAKSI E-COMMERCE SEHUBUNGAN DENGAN DIUNDANGKANNYA UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 SERTA PENYELESAIANNYA APABILA TERJADI SENGKETA .......................................................................................... A. Permasalahan Hukum Yang Timbul Sehubungan 44

Dengan

Diundangkannya Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik Yang Berkaitan Dengan Transaksi Elektronik (E-Commerce) 1. Permasalahan Hukum Yang Berkaitan Dengan Proses Penyusunan 45 44

2. Permasalahan Huku D Yang Berkaitan Deng

..

47

vii 3. Permasalahan Hukum Yang Berkaitan Dengan Adanya Beberapa Pasal Yang Tidak Konsisten . 48 49

4. Permasalahan Hukum Yang Berkaitan Dengan Yurisdiksi . B. Penyelesaian Apabila Terjadi Sengketa Beserta Cara

Pengamanannya .. 50 1. Penyelesaian Sengketa . 50 53 59

2. Cara Pengamanan E-Commerce Secara Umum .. 3. Cara Pengamanan Dengan Cryptography . ..

BAB IV

PENUTUP A. Kesim pulan B. Saran

73 73 74

..

DAFTAR PUSAKA LAMPIRAN

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Menurut Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2000 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 2009 menyatakan bahwa, Pembangunan ekonomi yang telah dihasilkan di masa lalu telah menghasilkan berbagai kemajuan yang cukup berarti namun sekaligus juga mewariskan berbagai masalah yang mendesak untuk diselesaikan. Penitikberatan pembangunan masa lalu hanya kepada tercapainya tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah menciptakan peningkatan pendapatan perkapita, penurunan jumlah kemiskinan dan pengangguran, dan perbaikan kualitas hidup manusia secara rata-rata1. Meskipun demikian pembagunan ekonomi yang sangat berorientasi kepada peningkatan produksi nasional, tidak disertai oleh pembangunan dan perkuatan institusiinstitusi baik publik maupun institusi pasar terutama institusi keungan yang seharusnya berfungsi melakukan alokasi sumber daya secara efisien dan bijaksana. Bahkan proses pembangunan ekonomi yang ditopang oleh sistem represi dan ketertutupan telah melumpuhkan berbagai institusi startegis seperti sisem hukum dan peradilan untuk menjamin kepastian hukum dan keadilan, sistem politik untuk terciptanya mekanisme kontrol dan keseimbangan (check and balances),dan sistem sosial yang diperlukan untuk memelihara kehidupan yang harmonis dan damai2.

Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2000 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 2009, hlm 9 Ibid, hlm 83

2 Hasil pembangunan yang dicapai justru menimbulkan akibat negatif dalam bentuk kesenjangan antar golongan pendapatan, antar wilayah, dan antar kelompok masyarakat. Sementara itu erosi dan kelumpuhan berbagai sistem dan lembaga strategis di atas telah menghasilkan kondisi yang rapuh serta sangat rawan terhadap guncangan baik dari dalam negeri maupun dari dunia internasional akibat arus globalisasi. Krisis ekonomi tahun 1997/98 telah memberikan pelajaran yang sangat mahal namun berharga bagi bangsa Indonesia. Krisis telah memaksa Indonesia melakukan perubahan yang perlu dalam rangka koreksi kelemahan dan kesalahan masa lalu. Ekonomi, politik, sosial, dan hukum mengalami transformasi dan reformasi menuju pada sistem baru yang diharapkan akan lebih berkeadilan, andal, dan berkelanjutan. Meskipun demikian, transformasi dan reformasi yang telah menghasilkan berbagai perubahan tersebut masih belum mencapai hasil yang memuaskan. Bahkan berbagai langkah transformasi dan reformasi awal telah menghasilkan berbagai implikasi rumit yang harus dan terus menuntut pemecahan masalah yang lebih sistematis dan konsisten. Permasalahan dan tantangan pembangunan yang dihadapi dalam 5 (lima) tahun kedepan akan menetukan agenda, sasaran, serta program pembangunan yang juga harus bersifat lintas kaitan dan lintas koordinasi. Pasal 1 ayat (3) Bab I, Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945, menegaskan kembali bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Artinya bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan (machtstaat), dan pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi (hukum dasar), bukan absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Sebagai konsekuensi dari pasal 1 ayat (3) Amandemen ketiga Undang-Undang Dasar 1945, 3 (tiga) prinsip dasar wajib dijunjung oleh

3 setiap warga negara yaitu supremasi hukum; kesetaraan dihadapan hukum; dan penegakan hukum dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan hukum3. Peraturan perundang-undangan yang baik akan membatasi, mengatur, dan sekaligus memperkuat hak warganegara. Pelaksanaan hukum yang transparan dan terbuka di satu sisi dapat menekan dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh tindakan warga negara sekaligus juga meningkatkan dampak positif dari aktivitas warga negara. Dengan demikian hukum pada dasarnya memastikan munculnya aspek-aspek positif dari kemanusiaan dan menghambat aspek negatif dari kemanusiaan. Penerapan hukum yang ditaati dan diikuti akan menciptakan ketertiban dan memaksimalkan ekspresi potensi masyarakat. Dengan demikian, penegakan hukum dan ketertiban merupakan syarat mutlak bagi upaya-upaya penciptaan Indonesia yang aman dan sejahtera. Apabila hukum ditegakkan dan ketertiban diwujudkan maka kepastian rasa aman, tenteram, ataupun kehidupan yang rukun akan dapat terwujud. Ketiadaan penegakan hukum dan ketertiban akan menghambat pencapaian masyarakat yang berusaha dan bekerja dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut menunjukan adanya keterkaitan yang erat antara damai, adil, dan sejahtera. Untuk itu perbaikan pada aspek keadilan akan memudahkan pencapaian kesejahteraan dan kedamaian. Permasalahan dalam penyelenggaraan sistem dan politik hukum pada dasarnya meliputi substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum. Pengadilan yang tidak memihak (impartial). Cetak biru (blueprint) yang dibuat dalam rangka mendukung Mahkamah Agung untuk melaksanakan pembinaan satu atap lembaga peradilan telah dibuat secara komperehensif. Ini dimaksudkan untuk menetapkan langkah-langkah prioritas dalam pembenahan lembaga peradilan.
Ibid, hlm 85

4 Pembenahan sistem dan politik hukum dalam lima tahun mendatang diarahkan pada kebijakan untuk memperbaiki substansi (materi) hukum, struktur (kelembagaan) hukum, dan kultur (budaya) hukum, melalui upaya4: 1. Menata kembali substansi hukum melalui peninjauan dan penataan kembali

peraturan perundang-undangan untuk mewujudkan tertib perundang-undangan dengan memperhatikan asas hukum dan hierarki perundang-undangan; dan menghormati serta memperkuat kearifan lokal dan hukum adat untuk memperkaya sistem hukum dan peraturan melalui pemberdayaan yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi hukum nasional. 2. Melakukan pembenahan struktur hukum melalui penguatan kelembagaan dengan meningkatkan profesionalisme hakim dan staf peradilan serta kualitas sistem peradilan yang terbuka dan transparan; menyederhanakan sistem peradilan, meningkatkan transparasi agar peradilan dapat diakses oleh masyarakat dan memastikan bahwa hukum diterapkan dengan adil dan memihak pada kebenaran ; memperkuat kearifan lokal dan hukum adat untuk memperkaya system hukum dan peraturan melalui pemberdayaan yurisprudensi sebagai bagian dari upaya pembaruan materi hukum nasional; 3. Meningkatkan budaya hukum antara lain melalui pendidikan dan sosialisasi berbagai peraturan perundang-undangan serta perilaku keteladanan dari kepala negara dan jajarannya dalam mematuhi dan menaati hukum serta penegakan supremasi hukum.

Ibid, hlm 89

5 Disisi lain pemanfaatan Teknologi Informasi, media, dan komunikasi telah mengubah baik perilaku masyarakat maupun peradaban manusia secara global. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah pula menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat. Teknologi Informasi saat ini menjadi pedang bermata dua karena selain memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana efektif perbuatan melawan hukum. Saat ini telah lahir suatu rezim hukum baru yang dikenal dengan hukum siber atau hukum telematika. Hukum siber atau cyber law, secara internasional digunakan untuk istilah hukum yang terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Demikian pula, hukum telematika yang merupakan perwujudan dari konvergensi hukum

telekomunikasi, hukum media, dan hukum informatika. Istilah lain yang juga digunakan adalah hukum teknologi informasi (law of information technology), hukum dunia maya (virtual world law), dan hukum mayantara. istilah-istilah tersebut lahir mengingat kegiatan yang dilakukan melalui jaringan sistem komputer dan sistem komunikasi baik dalam lingkup lokal maupun global (Internet) dengan memanfaatkan teknologi informasi berbasis sistem komputer yang merupakan sistem elektronik yang dapat dilihat secara virtual. Permasalahan hukum yang seringkali dihadapi adalah ketika terkait dengan penyampaian informasi, komunikasi, dan/atau transaksi secara elektronik, khususnya dalam hal yang terkait dengan perbuatan hukum yang dilaksanakan melalui sistem elektronik.

6 Yang dimaksud dengan sistem elektronik adalah sistem komputer dalam arti luas, yang tidak hanya mencakup perangkat keras dan perangkat lunak komputer, tetapi juga mencakup jaringan telekomunikasi dan/atau sistem komunikasi elektronik. Perangkat lunak atau program komputer adalah sekumpulan instruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila digabungkan dengan media yang dapat dibaca dengan komputer akan mampu membuat komputer bekerja untuk melakukan fungsi khusus atau untuk mencapai hasil yang khusus, termasuk persiapan dalam merancang instruksi tersebut. Sistem elektronik juga digunakan untuk menjelaskan keberadaan sistem informasi yang merupakan penerapan teknologi informasi yang berbasis jaringan telekomunikasi dan media elektronik, yang berfungsi merancang, memproses, menganalisis, menampilkan, dan mengirimkan atau menyebarkan informasi elektronik. Sistem informasi secara teknis dan manajemen sebenarnya adalah perwujudan penerapan produk teknologi informasi ke dalam suatu bentuk organisasi dan manajemen sesuai dengan karakteristik kebutuhan pada organisasi tersebut dan sesuai dengan tujuan peruntukannya. Pada sisi yang lain, sistem informasi secara teknis dan fungsional adalah keterpaduan sistem antara manusia dan mesin yang mencakup komponen perangkat keras, perangkat lunak, prosedur, sumber daya manusia, dan substansi informasi yang dalam pemanfaatannya mencakup fungsi input, process, output, storage, dan communication. Sehubungan dengan itu, dunia hukum sebenarnya sudah sejak lama memperluas penafsiran asas dan normanya ketika menghadapi persoalan kebendaan yang tidak berwujud, misalnya dalam kasus pencurian listrik sebagai perbuatan pidana. Dalam kenyataan kegiatan siber tidak lagi sederhana karena kegiatannya tidak lagi dibatasi oleh teritori suatu negara,

7 yang mudah diakses kapan pun dan dari mana pun. Kerugian dapat terjadi baik pada pelaku transaksi maupun pada orang lain yang tidak pernah melakukan transaksi, misalnya pencurian dana kartu kredit melalui pembelanjaan di Internet. Di samping itu, pembuktian merupakan faktor yang sangat penting, mengingat informasi elektronik bukan saja belum terakomodasi dalam sistem hukum acara Indonesia secara komprehensif, melainkan juga ternyata sangat rentan untuk diubah, disadap, dipalsukan, dan dikirim ke berbagai penjuru dunia dalam waktu hitungan detik. Dengan demikian, dampak yang diakibatkannya pun bisa demikian kompleks dan rumit. Permasalahan yang lebih luas terjadi pada bidang keperdataan karena transaksi elektronik untuk kegiatan perdagangan melalui sistem elektronik (electronic commerce) telah menjadi bagian dari perniagaan nasional dan internasional. Kenyataan ini menunjukkan bahwa konvergensi di bidang teknologi informasi, media, dan informatika (telematika) berkembang terus tanpa dapat dibendung, seiring dengan ditemukannya perkembangan baru di bidang teknologi informasi, media, dan komunikasi. Kegiatan melalui media sistem elektronik, yang disebut juga ruang siber (cyber space), meskipun bersifat virtual dapat dikategorikan sebagai tindakan atau perbuatan hukum yang nyata. Secara yuridis kegiatan pada ruang siber tidak dapat didekati dengan ukuran dan kualifikasi hukum konvensional saja sebab jika cara ini yang ditempuh akan terlalu banyak kesulitan dan hal yang lolos dari pemberlakuan hukum. Kegiatan dalam ruang siber adalah kegiatan virtual yang berdampak sangat nyata meskipun alat buktinya bersifat elektronik. Dengan demikian, subjek pelakunya harus dikualifikasikan pula sebagai Orang yang telah melakukan perbuatan hukum secara nyata. Dalam kegiatan e-commerce antara lain dikenal adanya dokumen elektronik yang

8 kedudukannya disetarakan dengan dokumen yang dibuat di atas kertas. Berkaitan dengan hal itu, perlu diperhatikan sisi keamanan dan kepastian hukum dalam pemanfaatan teknologi, informasi, media, dan komunikasiagar dapat berkembang dengan optimal. Di masa yang akan datang teknologi informasi akan menjadi alternatif dalam menyelenggarakan kegiatan bisnis (e-bussines) maupun pemerintahan (e government) yang selama ini dijalankan di dunia nyata (the real world). Cara ini dipilih karena diyakini bahwa pemanfaatan teknologi informasi yang lintas batas wilayah di tingkat nasional maupun negara (boderless world) akan meningkatkan efisiensi dan kecepatan penyelengaraan bisnis dan pemerintahan. Pemikiran positif ini bukan berarti menafikan akses-akses negatif pemanfaatan teknologi informasi. Ada dua hal yang mendasar dan perlu untuk diperhatikan dalam mengantisipasi dampak negatif dari kegiatan melalui teknologi informasi. Pertama, teknologi informasi merupakan hasil temuan manusia yang tentunya senantiasa mempunyai kelemahan-kelemahan dalam sistem teknisnya. Kedua, teknologi informasi selain memiliki kelemahan dalam teknisnya juga tidak mempunyai ketidakpastian dalam segi jaminan kepastian hukum. Dengan memperhatikan dua hal di atas, dapatlah kiranya dalam membicarakan masalah perlindungan bagi pemanfaatan teknologi informasi ini harus didekati tidak saja dari segi hukum, tetapi juga harus memperhatikan pada aspek keberadaan teknologinya sendiri. Teknologi menjadi sangat penting mengingat kedekatan teknologi merupakan langkah preventif terhadap upaya-upaya penyalahgunaan teknologi yang bersangkutan, di mana hal itu belum tentu dapat diselesaikan melalui pendekatan hukum. Kemudian, pendekatan hukum

9 dapat dijadikan sebagai langkah preventif dan represif apabila ada pelanggaran-pelanggaran dalam penggunaan teknologi informasi. Saat ini, banyak Negara yang telah membuat regulasi hukum yang berkaitan dengan masalah aktivitas yang menggunakan teknologi informasi, misalnya, Singapura yang sekarang telah memiliki The Electronic Transanction Act; Amerika Serikat dengan The Digital Signature Act of 1999; Australia melalui The Electronic Transaction Bill 1999. Di samping melalui regulasi hukum ini, dapat dikatakan bahwa dipandang dari segi teknologi informasi, mereka juga sudah mempunyai tingkat kemapanan tertentu. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur hukum yang diimbangi dengan pembangunan infrastuktur dalam bidang teknologi informasi merupakan suatu keharusan. Bagi Indonesia, permasalahan teknologi informasi masih dikatakan sebagai hal yang relatif baru. Kalau pun di beberapa kota terasa masyarakat sangat antusias dalam memanfaatkan teknologi ini, pada kenyataannya pemanfaatan itu hanya untuk hal-hal yang kurang produktif bagi kepentingan teknologi dan pemerintahan. Oleh karena itu, isu mengenai arti penting pengaturan hukum dalam hal teknologi informasi harusnya disikapi dengan penuh kearifan, baik dari pihak swasta maupun pihak pemerintahan. Artinya, pengaturan hukum ini tidak hanya memperhatikan pada aspek yuridis semata, tetapi juga harus memperhatikan aspek kemapanan teknologi informasi yang ada di Indonesia. Apabila hal ini menjadi perhatian bersama, maka pengaturan hukum dalam masalah teknologi informasi akan dapat direalisasikan dengan efektif, yakni melalui Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Selanjutnya apabila ada sengketa-sengketa hukum yang diakibatkan dari aktivitas yang memanfaatkan

10 teknologi informasi, maka Undang Undang tersebut dapat diterapkan. Lebih dari itu, pengaturan hukum ini diharapkan juga dapat mendorong proses pembangunan ekonomi bangsa. Namun demikian walaupun saat ini kegiatan e-commerce sudah diatur dengan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tidak berarti menjadi tanpa masalah, karena pada kenyataannya ternyata kegiatan e-commerce ini masih memungkinkan timbulnya berbagai masalah. Melihat kenyataan tersebut di atas,maka penulis tertarik untuk mempelajari lebih lanjut melalui penelitian tentang beberapa permasalahan yang berkaitan hal tersebut di atas serta menuangkannya dalam bentuk skripsi dengan judul : TINJAUAN YURIDIS ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK SERTA BEBERAPA PERMASALAHAN HUKUM YANG TIMBUL APABILA TERJADI TRANSAKSI E-COMMERCE BESERTA PENYELESAIANNYA APABILA TERJADI SENGKETA DAN PENGAMANANNYA.

B. Perumusan Masalah Bedasarkan latar belakang yang sudah penulis uraikan sebelumnya, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah: 1. Permasalahan hukum apa saja yang dapat timbul apabila terjadi transaksi e-commerce sehubungan dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik? 2. Bagaimana penyelesaiannya apabila terjadi sengketa ?

11

C. Maksud Dan Tujuan Penelitian Maksud diadakannya penelitian ini adalah untuk 1. Memberikan gambaran yang utuh, menyeluruh serta sistimatis mengenai gambaran tentang permasalahan yang dapat timbul dalam praktek, sehubungan dengan dilakukannya transaksi elektronik (e-commerce) menurut Undang

Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, serta memberikan gambaran bagaimana seharusnya sistem pengamanan terhadap transaksi e-commerce dalam prespektif hukumnya. 2. Mengetahui dan memahami mengenai beberapa alternatif penyelesaian yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan permasalahan hukum yang timbul berkaitan dengan hal tersebut diatas 3. Mengetahui dan memahami mengenai sistem pengamanan apa saja yang dapat digunakan untuk mencegah atau mengatasi agar tidak terjadi atau mengurangi timbulnya permasalahan permasalahan hukum di atas dikemudian hari.

D. Kegunaan Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan atau sumbangan baik secara teoritis maupun praktis, yakni : 1. Kegunaan/Sumbangan Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan/sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan cyber law pada khususnya, terutama masalah yang berkaitan dengan transaksi elektronik (e- commerce).

12

2. Kegunaan/Sumbangan Praktis Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat luas pada umumnya, dan para ahli hukum serta praktisi hukum pada khususnya, dalam rangka mengatasi dan mencegah timbulnya masalah hokum sehubungan dengan dilakukannya transaksi elektronik (e- commerce) khususnnya di Indonesia.

E. Metode Penelitian Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah menggunakan metode pendekatan yuridis normatif yang menitikberatkan penelitian terhadap data kepustakaan atau disebut data sekunder, dan mencoba untuk menginfentarisir dan mengkaji asas dan norma hukum yang terdapat dalam kitab Undang Undang, dan berbagai peraturan lainnya, yurisprudensi serta hukum kebiasaan yang berlaku dimasyarakat. dan hasil penelitiannya kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif analisis, karena bertujuan untuk memberi gambaran mengenai fakta fakta disertai analisis yang akurat mengenai peraturan perundang undangan yang berlaku dengan teori teori hukum dan ptaktek dari pelaksanaan transaksi elektronik (e-commerce), dan dikaitkan dengan perkembangan hukum di masa yang akan datamg, dan untuk mendapatkan data data dalam penelitian ini penulis mencari data melalui : 1. Library Research (Penelitian Kepustakaan) Penulis mencari data berdasarkan buku buku mengenai hukum, khususnya mengenai transaksi elektronik (e-commerce), sesuai dengan materi

13

penulisan hukum

yang diambil oleh penulis,

kemudian disesuaikan dengan

Undang Undang yang berlaku. Selain itu penulis juga mencari data melalui beberapa skripsi ini. 2. Field Research (Penelitian Lapangan) Tehnik lain yang digunakan penulis dalam mengumpulkan data adalah dengan cara mencari kasus kasus yang berkaitan dengan judul skripsi ini ke innstansi- instansi yang berkaitan dengan masalah yang penulis teliti .dengan tujuan mendapatkan data yang akurat. media lain yang mendukung dan ada kaitannya dengan penulisan

F. Sistimatika Penulisan Penulisan skripsi ini disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut : Bab I PENDAHULUAN Pada Bab ini penulis menguraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, maksud dan tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan. Bab II TINJAUAN UMUM TENTANG E- COMMERCE BERDASARKAN UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK. Di dalam bab ini, penulis menguraikan e-commerce pada umumnya, ketentuan umum transaksi elektronik e-commerce, ketentuan mengenai informasi,

dokumen, dan tandatangan elektronik, dan transaksi elektronik serta menguraikan mengenai perjanjian pada umumnya.

14

Bab III

BEBERAPA PERMASALAHAN HUKUM YANG DAPAT TIMBUL APABILA TERJADI TRANSAKSI E-COMMERCE SEHUBUNGAN

DENGAN DIUNDANGKANNYA UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 SERTA PENYELESAIANNYA APABILA TERJADI

SENGKETA Dalam Bab ini penulis mengguraikan mengenai beberapa permasalahan hukum yang timbul sehubungan dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008, serta penyelesaiannya apabila terjadi sengketa. Bab IV PENUTUP A. Kesimpulan Pada bagian ini penulis mengemukakan mengenai beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari keseluruhan pembahasan yang telah penulis uraikan dalam skripsi ini. B. Saran Pada bagian ini penulis mengemukakan beberapa saran yang dianggap perlu berdasarkan semua permasalahan serta penyelesaiannya yang telah penulis kemukakan pada skripsi ini.

15 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG E- COMMERCE BERDASARKAN UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK .

A. Tinjauan Umum tentang E-Commerce Seiring dengan berkembangnya jaman, kemajuan teknologi yang merupakan hasil cipta dan karya manusia juga turut berkembang. Perkembangan bidang teknologi, sebagai bidang yang kemajuannya sangat pesat. Kemajuan teknologi yang demikian pesat pada dasarnya adalah merupakan jawaban dari tuntutan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin kompleks khususnya kebutuhan di bidang ekonomi. Kemajuan teknologi yang sangat pesat ini dapat dilihat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dalam dunia informasi dan komunikasi ini dikatakan merupakan bidang yang teknologinya mengalami loncatan kemajuan yang sangat signifikan. Salah satu tonggak dari kemajuan teknologi ini ketika manusia menemukan piranti keras atau hardware yang dinamakan komputer, yang selanjutnya diikuti dengan penemuan piranti lunak yang juga disebut sebagai piranti lunak (software) atau program-program. Dengan diketemukannya komputer serta program-program tersebut tingkat peradaban manusia semakin meningkat, karena alat tersebut membuat pekerjaan manusia semakin mudah dan semakin cepat dengan menghasilkan produksi yang berlipat-lipat. Contohnya komputer beserta program lunaknya sangat membantu usaha di bidang pendidikan, perbankan, kedokteran dan lain-lain.

16 Manusia menemukan teknologi terbaru yang diaplikasikan menggunakan komputer, yaitu berupa teknologi internet. Teknologi intenet adalah teknologi yang paling canggih dalam kehidupan manusia di dunia, karena dengan teknologi internet ini dunia dibuat seolaholah sempit (kecil) dan sangat dekat dengan si pemakai teknologi internet ini. Teknologi internet ini membuat batas-batas antar Negara yang riil menjadi seolah-olah hilang yang terkadang disebut dengan dunia tanpa batas. Perkembangan teknologi di bidang internet yang sangat pesat telah membuka dimensi baru dalam kehidupan manusia, oleh karena media internet telah membawa perubahan pada aktivitas manusia dalam upaya untuk memenuhi kebutuhannya. Internet tumbuh dan berkembang sangat pesat menyentuh segala bidang kehidupan manusia, membuka cakrawala dunia yang begitu luas dan menyediakan segala macam informasi dan fasilitas yang dibutuhkan manusia. Karakteristik internet adalah beroperasi secara virtual atau maya dan tidak mengenal batas-batas territorial, atau yang lebih dikenal dengan istilah cyber space atau ruang maya. Pada perkembangan selanjutnya seiring dengan meluasnya penggunaan internet, istilah cyber space kemudian dipergunakan untuk istilah ruang elektronik yaitu suatu masyarakat virtual yang terbentuk melalui komunikasi yang terjalin melalui jaringan komputer. Lahirnya aktivitas-aktivitas baru dalam bidang kehidupan manusia yang dapat dilakukan melalui jaringan internet menimbulkan perubahan terhadap tata cara dalam melakukan transaksi perdagangan. Perubahan tersebut meliputi penawaran barang dan atau jasa oleh pelaku usaha melalui website di internet, korespondensi para pihak melali e-mail dan sebagainya.

17 Cyber space5 adalah ruang yang multi dimensi dan tidak memiliki batas-batas fisik, bahkan tidak memiliki perwujudan fisik sama sekali, namun cyber space memiliki kemampuan yang besar untuk mewadahi kegiatan-kegiatan manusia sama seperti diruang fisik6. Cyber space lahir dan tercipta dalam internet, yang merupakan sebuah produk akhir kecanggihan telekomunikasi7. Cyber space selalu bertambah luas setiap saat, dan semakin banyak kebutuhan manusia yang ditawarkan pemenuhannya dalam dunia virtual ini. Dampak dari kehadiran cyber space terhadap kehidupan fisik belum begitu terasa tetapi kehadirannya telah merasuk ke dalam aspek sosial dan kultural. Sejalan dengan itu sesuai dengan kebutuhan manusia yang selalu ingin bermasyarakat dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Cyber space juga mampu memenuhi kebutuhan ini, sehingga dalam waktu yang singkat terbentuk komunitas-komunitas masyarakat virtual di cyber space dan dunia maya atau (virtual world) bagi mereka yang melakukan aktivitas di cyber space8. Saat ini ada beberapa aktivitas utama yang banyak dilakukan di cyber space seperti electronic commerce (e-commerce), commercial on line service, bulletin board system, confereneing system, internet relay chat, usenet, e-mail list, dan enfertainment. Salah satu aktivitas yang saat ini marak dilakukan adalah e-commerce. E-commerce secara umum dapat dipahami sebagai suatu transaksi perdagangan baik barang dan atau jasa melalui media elektronik9.

Dikdik M. Arif Mansur Dan Elisatris Gultom memberikan terjemahan dari istilah Cyber space sebagai dunia maya, dalam buku, cyber law, Aspek Hukum Teknologi Informasi, Refika Aditama, Bandung, Mei 2005, hlm. 7 Tim Penelitian Dan Pengembangan Ilmu & Teknologi Kepolisian Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PPITK-PTIK), Tindak Pidana Teknologi Komunikasi Informasi/Cyber Crime Dan Upaya Penanggulangannya, Desember 2003, hlm. 20 Ibid, hlm. 20 Ibid, hlm. 21 Isis Ikhwansyah, Seri Dasar hukum Ekonomi 12, Cyber Law, Suatu Pengantar, Prinsip-Prinsip Universal Bagi Kontrak Melalui E-Commerce Dan Sistem Hukum Pembuktian Perdata Dalam Teknologi Informasi, Elips II, April 2002, hlm. 28

18 Dalam transaksi e-commerce perjanjian yang digunakan oleh para pihak disebut electronic contract. E-contract adalah perjanjian yang dibuat dan dilakukan dalam sebuah cyber space dengan menggunakan sarana internet. E-contract yang digunakan pada transaksi e-commerce telah membuka babak baru dalam perkembangan ilmu hukum, di mana pada perjanjian tradisional, perjanjian dicantumkan di atas kertas yang dikuatkan dengan tanda tangan para pihak dalam perjanjian. Sedangkan e-contract tidak dibuat di atas kertas. Dalam perniagaan, tanda tangan digunakan untuk menyatakan sebuah transaksi. Kalau di Indonesia, tanda tangan ini biasanya disertai dengan materai. Dalam trnsaksi yang dilakukan secara elektronik, terdapat sistem Digital signature yang merupakan pengganti dari tanda tangan yang biasa10. Hal yang penting bahwa digital signature tidak sama dengan mengambil image dari tanda tangan konvensional yang biasa, kemudian mengkonversikannya menjadi scanned image. Kalau yang ini namanya digitalized signature. Digital signature berbasis kepada teknolgy kriptografi (cryptography). Keamanan dari digital signature sudah dapat dijamin. Bahkan kemanannya lebih tinggi dari tanda tangan biasa. Justru disini banyak orang yang tidak mau terima mekanisme elektronik karena menghilangkan peluang untuk kongkalikong11. Berkaitan dengan digital signature ini, Danrivanto Budhijanto, dalam tulisan berjudul, Aspek Hukum Digital Siganture Dan Certification Authorities Dalam Transaksi E-Commerce, melihat Digital Siganeture melalui 2 perspektif yaitu:12

Makalah karya Budi Rahardjo, Beberapa pokok pemikiran tentang Cyberlaw, dimuat dalam www.Securityfocus.com, 25 Juni 2008 Ibid, Budi Rahardjo, dalam www.Securityfucos.com , Mieke Komar Kantaatmadja.et All,Cyber Law: Suatu Pengantar, dalam makalah tulisan,Danrivanto Budhijanto Yang berjudul Aspek HukumDigital Signature Dan Certification Authorities dalam Transsaksi ECommerce, Penerbit Elips II,2002, Bandung, hlm. 68

19

1.

Perspektif Hukum sebagai sebuah pengaman pada data digital yang dibuat dengan kunci tanda tangan pribadi (private signature key) yang kebolehan penggunaannya tergantung pada kunci publik (public key) yang menjadi pasangannya.

2.

Perspektif Teknis sebagai sebuah nilai numerik yang dipadankan dengan sebuah data, dengan menggunakan sebuah prosedur matematika yang diketahui oleh pemilik kunci kriptografi. Fakta tersebut terlihat adanya perbedaan bentuk dan tata cara dalam membuat

perjanjian yang dilakukan secara tradisional dan perjnjian pada commerce, di mana pada perjanjian tradisional bentuk dan tata caranya semua dibuat secara konvensional, sedangkan pada e-contract, bentuk dan tata caranya seluruhnya dilakukan dan dibuat secara digital. Dengan adanya perbedaan bentuk serta tata cara ini tidak jarang bahkan dapat dikatakan banyak memunculkan berbagai kesulitan serta permasalahan-permasalahan menyangkut transaksi e-commerce ini. Masalah dalam transaksi e-commerce timbul karena secara obyektif para pihak tidak bertatap muka secara langsung sebagaimana dalam perjanjian biasa atau konvensional Dengan tidak bertatap muka secara langsung penerapan syarat-syarat sahnya perjanjian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 KUHPerdata banyak menemui kesulitan. Umumnya transaksi e-commerce ini membuat para pihak yang membuatnya merasa khawatir terhadap perjanjian yang dibuatnya berkaitan dengan pemenuhan prestasi karena secara prinsip pengenalan terhadap patner kerjasama dalam transaksi e-commerce sangat minimal sekali. Pemakaian internet dan bisnis melalui internet dewasa ini berkembang sangat pesat sehingga sektor hukum pun, termasuk hukum pembuktian diminta untuk turun tangan ini

20 sehingga bisnis melalui internet seperti itu dapat dicapai ketertiban dan kepastian, di samping tercapai pula unsur keadilan bagi para pihak. Berbisnis lewat internet (dengan menggunakan perangkat elektronik) ini sering disebut dengan electronic commerce (e-commerce) atau electronic business (e-budiness). Istilah e-commerce adalah suatu proses berbisnis dengan memakai teknologi elektronik yang menghubungkan antar perusahaan, konsumen dan masyarakat dalam bentuk transaksi eletronik, dan pertukaran/penjualan barang, servis dan informasi secara elektronik.13 Prinsipnya bisnis dengan e-commerce merupakan kegiatan bisnis tanpa warkat (papaerless trading). Antara istilah e-commerce dan istilah e-business sering dipertukarkan meskipun sebenarnya terdapat perbedaan yang prinsipil di antara kedua istilah tersebut. Istilah ecommerce dalam arti sempit didefinisikan sebagai suatu transaksi jula beli atas suatu produk barang, jasa, atau informasi antar mitra bisnis dengan menggunakan jaringan komputer yang berbasiskan pada internet. Adapun e-commerce dalam arti luas diartikan sama dengan istilah e business , yakni tidak hanya mencakup transaksi online, tetapi termasuk juga layanan pelanggan, hubungan dagang dengan mitra bsinis, dan transaksi internal dalam sebuah organisasi.14 Kegiatan e-commerce dilakukan dengan orientasi-orientasi sebagai berikut :15 1. pembelian on line (on line transaction); 2. komunikasi digital (digital communication), yaitu suatu komunikasi secara elektronik;

Ibid, hlm. 152 Ibid, hlm. 153 Ibid, hlm. 153

21 3. penyediaan jasa (servis), yang menyediakan informasi tentang kualitas produk dan informasi instant terkini; 4. proses bisnis, yang merupakan sistem dengan sasaran untuk meningkatkan otomatisasi proses berbisnis; 5. market of one, yang memungkinkan proses customization produk dan jasa untuk diadaptasikan pada kebutuhan bisnis. Apabila ditinjau dari sudut para pihak dalam bisnis e-commerce yang merupakan jenisjenis transaksi dari suatu kegiatan e-commerce adalah sebagai berikut :16 Business to Business Transaksi business to business ini merupakan bisnis e-commerce yang paling banyak dilakukan. Business to business ini terdiri atas : a. Transaksi inter-organizational sistems (IOS), misalnya, transaksi extranets, electronic funds transfer, electronic forms, integrated massaging, share data based, supply chain management, dan lain-lain. b. Transaksi pasar elektronik (electronic market transaction) Business to Consumer Business to consumer merupakan transaksi ritel dengan pembeli individual. Dalam hal ini memiliki pengertian bahwa di pembeli adalah orang-perorangan dan tidak dalam bentuk kumpulan orang-orang. Consumer to Consumer Consumer to consumer merupakan transaksi di mana konsumen menjual produk secara langsung kepada konsumen lainnya. Juga, seorang individu yang mengiklankan produk, baik berupa barang, jasa, pengetahuan, maupun keahlainnya di salah satu lelang.
Op. Cit, Didik M. Arif Mansur Dan Elisatris Gultom, hlm 170-171

22 Consumer to Business Consumer to business merupakan individu yang menjual produk atau jasa kepada organisasi dan individu yang mencari penjual dan melakukan transaksi. Nonbusiness Electronic Commerce Dalam hal ini, Nonbusiness electronic commerce meliputi kegiatan non-bisnis, seperti kegiatan lembaga pendidikan, organisasi nirlaba, keagamaan, dan lain-lain. Intrabusiness (Organizational) Electronic Commerce Kegiatan ini meliputi semua aktivitas internal organisasi melalui internet untuk melakukan pertukaran barang, jasa, dan informasi, menjual produk perusahaan kepada karyawan, dan lain-lain. Transaksi e-commerce melalui internet memberikan kemudahan dan kepraktisan sehingga cara bertransaksi ini banyak dipilih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Keuntungan potensial yang diperoleh dengan melakukan e-commerce menurut Greenstein dan Feinman17 adalah : 1. e-commerce mampu menjangkau lebih banyak bidang usaha bisnis dibandingkan dengan perdagangan konvensional; 2. biaya modal dan biaya penjualan dapat diperkecil; 3. waktu perputaran bisnis lebih cepat; 4. konsumen dapat memperkecil biaya pembelian 5. jangkauan perdagangan lebih luas; 6. pelaku usaha tidak memerlukan lokasi fisik untuk menjalankan usaha bisnisnya;

Greenstein & Feinman, Electronic Commerce Security, sebuah kumpulan makalah Risk Management and Control. 2000 hlm. 2

23 7. para pihak dalam e-commerce tidak perlu terlibat secara fisik dalam melakukan transaksi; 8. konsumen memiliki lebih banyak pilihan terhadap barang atau jasa dengan

perbandingan harga yang kompetitif dibandingkan dengan pola perdagangan konvensional.

B. Ketentuan E-Commerce Menurut Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Sesuai dengan judul penulisan skripsi ini maka di dalam Undang undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transakasi Elektronik terdapat beberapa pengertian serta pasalpasal yang penulis anggap penting, dan pengertian pengertian serta pasal- pasal tersebut di antaranya adalah : 1. Pengertian18 a. Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya. b. Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. c. Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

Lampiran Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, hlm 2

24 d. Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas Informasi Elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan Informasi Elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi. e. Penanda Tangan adalah subjek hukum yang terasosiasikan atau terkait dengan Tanda Tangan Elektronik. Kontrak Elektronik adalah perjanjian para pihak yang dibuat melalui Sistem Elektronik. 2. Informasi, Dokumen, Dan Tanda Tangan Elektornik. a. Informasi Elektronik Mengenai informasi elektronik Pasal 5 menyatakan bahwa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah. Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud. merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di Indonesia. Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UndangUndang ini. Ketentuan mengenai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud tidak berlaku untuk: a. surat yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam bentuk tertulis; dan b. surat beserta dokumennya yang menurut Undang- Undang harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta. b. Dokumen Elektronik Mengenai dokumen elektronik pasal 6 dan pasal 7 mengatakan bahwa Dalam hal terdapat ketentuan lain selain yang diatur dalam Pasal 5 ayat (4) yang mensyaratkan bahwa suatu informasi harus berbentuk tertulis atau asli, Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dianggap sah sepanjang informasi yang

25 tercantum di dalamnya dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan. Setiap Orang yang menyatakan hak, memperkuat hak yang telah ada, atau menolak hak Orang lain berdasarkan adanya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik harus memastikan bahwa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang ada padanya berasal dari Sistem Elektronik yang memenuhi syarat berdasarkan Peraturan Perundangundangan. Demikian juga menurut pasal 8 ayat (1) sampai dengan ayat (4) mengatakan bahwa kecuali diperjanjikan lain, waktu pengiriman suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik ditentukan pada saat Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik telah dikirim dengan alamat yang benar oleh Pengirim ke suatu Sistem Elektronik yang ditunjuk atau dipergunakan Penerima dan telah memasuki Sistem Elektronik yang berada di luar kendali Pengirim. Kecuali diperjanjikan lain, waktu penerimaan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik ditentukan pada saat Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki Sistem Elektronik di bawah kendali Penerima yang berhak. Dalam hal Penerima telah menunjuk suatu Sistem Elektronik tertentu untuk menerima Informasi Elektronik, penerimaan terjadi pada saat Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki Sistem Elektronik yang ditunjuk.

26 Dalam hal terdapat dua atau lebih sistem informasi yang digunakan dalam pengiriman atau penerimaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik, maka : a. Waktu pengiriman adalah ketika Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki system informasi pertama yang berada di luar kendali Pengirim; b. Waktu penerimaan adalah ketika Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki system informasi terakhir yang berada di bawah kendali Penerima. Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan. c. Tanda Tangan Elektronik Mengenai tanda tangan elektronik pasal 11 ayat (1) poin a sampai dengan poin f mengatakan bahwa Tanda Tangan Elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah selama memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik terkait hanya kepada Penanda Tangan; b. Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada saat proses penandatanganan elektronik hanya berada dalam kuasa Penanda Tangan; c. Segala perubahan terhadap Tanda Tangan Elektronik yang terjadi setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;

27

d.

Segala perubahan terhadap Informasi Elektronik yang terkait dengan Tanda Tangan Elektronik tersebut setelah waktu penandatanganan dapat diketahui;

e.

Terdapat cara tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa Penandatangannya; dan

f.

Terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa Penanda Tangan telah memberikan persetujuan terhadap Informasi Elektronik yang terkait.

Demikian juga pasal 12 ayat (1) sampai dengan ayat (3) mengatakan bahwa Setiap Orang yang terlibat dalam Tanda Tangan Elektronik berkewajiban memberikan pengamanan atas Tanda Tangan Elektronik yang digunakannya. Pengamanan Tanda Tangan Elektronik sebagaimana dimaksud sekurang-kurangnya harus meliputi: a. Sitem tidak dapat diakses oleh Orang lain yang tidak berhak; b. Penanda Tangan harus menerapkan prinsip kehatihatian untuk menghindari penggunaan secara tidak sah terhadap data terkait pembuatan Tanda Tangan Elektronik; c. Penanda Tangan harus tanpa menunda-nunda, menggunakan cara yang dianjurkan oleh penyelenggara Tanda Tangan Elektronik ataupun cara lain yang layak dan sepatutnya harus segera memberitahukan kepada seseorang yang oleh Penanda Tangan dianggap memercayai Tanda Tangan Elektronik atau kepada pihak pendukung layanan Tanda Tangan Elektronik jika: 1. Penanda Tangan mengetahui bahwa data pembuatan Tanda Tangan Elektronik telah dibobol; atau

28 2. Keadaan yang diketahui oleh Penanda Tangan dapat menimbulkan risiko yang berarti, kemungkinan akibat bobolnya data pembuatan Tanda Tangan Elektronik; dan d. Dalam hal Sertifikat Elektronik digunakan untuk mendukung Tanda Tangan Elektronik, Penanda Tangan harus memastikan kebenaran dan keutuhan semua informasi yang terkait dengan Sertifikat Elektronik tersebut. 3. Transaksi Elektronik Tentang transaksi elektronik pasal 17 ayat (1) dan (2) mengatakan bahwa penyelenggaraan Transaksi Elektronik dapat dilakukan dalam lingkup publik ataupun privat.Para pihak yang melakukan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud wajib beriktikad baik dalam melakukan interaksi dan/atau pertukaran Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik selama transaksi berlangsung. Sedangkan menurut pasal 18 ayat (1) sampai dengan ayat (5) mengatakan bahwa transaksi Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik mengikat para pihak Parapihak memiliki kewenangan untuk memilih hukum yang berlaku bagi Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya. Jika para pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam Transaksi Elektronik internasional, hukum yang berlaku didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional. Para pihak memiliki kewenangan untuk menetapkan forum pengadilan, arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari Transaksi Elektronik internasional yang dibuatnya. Jika para pihak tidak melakukan pilihan forum sebagaimana dimaksud, penetapan kewenangan pengadilan, arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya

29 yang berwenang menangani sengketa yang mungkin timbul dari transaksi tersebut, didasarkan pada asas Hukum Perdata Internasional. Demikian juga pasal 19 mengatakan bahwa para pihak yang melakukan

Transaksi Elektronik harus menggunakan Sistem Elektronik yang disepakati.dan pasal 20 ayat (1) dan (2) mengatakan bahwa kecuali ditentukan lain oleh para pihak, Transaksi Elektronik terjadi pada saat penawaran transaksi yang dikirim Pengirim telah diterima dan disetujui Penerima. persetujuan atas penawaran Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud harus dilakukan dengan pernyataan penerimaan secara elektronik. Dan pasal 21 ayat (1) sampai dengan (4) mengatakan bahwa pegirim atau Penerima dapat melakukan Transaksi Elektronik sendiri, melalui pihak yang dikuasakan olehnya, atau melalui Agen Elektronik. Pihak yang bertanggung jawab atas segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud diatur sebagai berikut : a. Jika dlakukan sendiri, segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab para pihak yang bertransaksi; b. Jika dilakukani pemberian kuasa, segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab pemberi kuasa; atau c. Jika dlakukan melalui Agen Elektronik, segala akibat hukum dalam pelaksanaan Transaksi Elektronik menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik. Jika kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat tindakan pihak ketiga secara langsung terhadap Sistem Elektronik, segala akibat ukum menjadi tanggung jawab penyelenggara Agen Elektronik.

30 Dan jika apabila kerugian Transaksi Elektronik disebabkan gagal beroperasinya Agen Elektronik akibat kelalaian pihak pengguna jasa layanan, segala akibat hukum menjadi tanggung jawab pengguna jasa layanan.

C. Perjanjian Pada Umumnya 1. Pengertian Perjanjian Pasal 1313 KUH Perdata mendefinisikan perjanjian adalah sebagai berikut : Suatu Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Definisi yang diberikan oleh KUH Perdata ini kurang memberikan kepuasan bagi para sarjana hukum, hal ini dikarenakan definisi tersebut tidak lengkap dan sangat luas. R. Setiawan mengatakan bahwa pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUH Perdata tersebut tidak lengkap karena hanya menggunakan kata perbuatan yang dapat mencangkup perwakilan sukarela dan perbuatan melawan hukum.19 Berkaitan dengan itu, maka yang dimaksud dengan perbuatan di sini adalah merupakan perbuatan hukum, sedangkan yang dimaksud dengan kata mengikatkan diri harus diartikan bahwa kedua belah pihak saling mengikatkan diri satu sama lainnya. Berdasarkan hal tersebut di atas maka perumusan dalam Pasal 1313 KUH Perdata menjadi Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum dimana, satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.20 Adapun Abdulkadir Muhammad berpendapat bahwa unsur-unsur perjanjian adalah :21 a. ada pihak-pihak, sedikitnya dua orang; b. ada persetujuan antara pihak-pihak itu;

R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, P.T. Bina Cipta, Bandung, 1999, hlm. 49. Ibid, hlm. 49 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perikatan, P.T. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990, hlm. 79-80

31 c. ada tujuan yang akan dicapai; d. ada prestasi yang akan dilaksanakan; e. ada bentuk tertentu, lisan atau tulisan; f. ada syarat-syarat tertentu sebagai isi perjanjian. 2. Asas-asas perjanjian Dalam buku III KUH Perdata dikenal lima (5) asas penting dalam perjanjian yaitu, asas kebebasan berkontrak, asas konsensualisme, asas pacta sunt servanda (asas kepastian hukum), asas itikad baik, dan asas kepribadian.22 Penjelasan kelima asas tersebut adalah sebagai berikut :23 a. Asas Kebebasan Berkontrak Asas kebebasan berkontrak merupakan asas yang didasarkan pada ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang berbunyi : Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk : 1) Membuat atau tidak membuat perjanjian; 2) Mengadakan perjanjian dengan siapapun; 3) Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya; 4) Menentukan bentuk perjanjiannya, yaitu tertulis atau lisan. Latar belakang lahirnya asas kebebasan berkontrak adalah adanya paham individualisme yang secara embrional lahir pada jaman Yunani, yang diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat pada jaman renaissance melalui

Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat Di Indonesia, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2003, hlm. 9 Ibid, hlm 9-13

32 antara lain ajaran-ajaran Hugo de Groth, Thomas Hobbes, John Locke, dan Rosseau.24 Menurut paham individualisme, system setiap orang bebas untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Dalam hukum kontrak asas ini diwujudkan dalam bentuk asas kebebasan berkontrak. Azas kebebasan berkontrak (freedom of contact) ini merupakan konsekuensi dari berlakunya azas kontrak sebagai hukum mengatur. Azas kebebasan berkontrak ini dibatasi oleh rambu-rambu hukum sebagai berikut :25 1) Harus memenuhi syarat sebagai suatu perjanjian,; 2) Tidak dilarang oleh undang-undang; 3) Tidak bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku; 4) Harus dilaksanakan dengan itikad baik. b. Asas Konsensualisme Asas konsensualisme merupakan asas yang didasarkan pada ketentuan Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata. Dalam Pasal tersebut ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian, adalah adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas konsesualisme merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan merupakan persesuaian antar kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak. Asas konsensualisme muncul karena diilhami dari hukum Romawi dan hukum Jerman. Di dalam hukum Jerman tidak dikenal asas konsesualisme, tetapi yang dikenal adalah perjanjian riil dan perjanjian formil. Perjanjian riil adalah

Mariam Badrulzaman, Perjanjian Baku (Standars) Perkembangannya Di Indonesia, Alumni Bandung, 1997, hlm. 19-20 Ibid, hl 20

33 suatu perjanjian yang dibuat dan dilaksanakan secara nyata (dalam hukum disebut dengan kontan), sedangkan yang disebut perjanjian formil adalah suatu perjanjian yang telah ditentukan bentuknya, yaitu tertulis (baik berupa akta autentik maupun akta dibawah tangan). Dalam hukum Romawi dikenal istilah Contractus verbis Literis dan Contractus Innominaat. Dengan demikian, terjadinya perjanjian apabila memenuhi bentuk yang telah ditetapkan. Asas konsesualisme dikenal dalam KUHP Perdata adalah berkaitan dengan bentuk perjajian. c. Asas Pacta Sunt Servanda Asas Pacta Sunt Servanda merupakan asas yang didasarkan pada ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHP Perdata, bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang. Asas Pacta Sunt Servanda atau disebut juga dengan asas kepastian hukum merupakan asas yang berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas Pacta Sunt Servanda adalah asas yang menyatakan bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang. Asas Pacta Sunt Servanda pada mulanya dikenal di dalam hukum gereja. Dalam gereja disebutkan bahwa terjadinya suatu perjanjian apabila ada kesepakatan kedua belah pihak dan dikuatkan dengan sumpah. Hal ini mengandung makna bahwa setiap perjanjian yang diadakan oleh kedua pihak merupakan perbuatan yang sakral dan dikaitkan dengan unsur keagamaan. Namun, dalam perkembangannya asas Pacta Sunt Servanda diberi arti pactum, yang berarti sepakat tidak perlu dikuatkan dengan sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Sedangkan nudus pactum sudah cukup dengan sepakat saja .

34 d. Asas Itikad Baik (Goede Trouw) Asas itikad baik merupakan asas yang didasarkan pada ketentuan Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata, yang berbunyi : Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Asas itikad baik merupakan asas yang menyatakan bahwa para pihak dalam suatu perjanjian harus melaksanakan substansi kontrak kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak. Asas Itikad baik dibagi menjadi dua macam, yaitu Itikad baik nisbi dan mutlak. Pada Itikad baik nisbi, orang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subyek. Pada itikad baik yang mutlak, penilaiannya terletak pada akal sehat dan keadilan, dibuat ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang obyektif. e. Asas Kepribadian (Asas Personalitas) Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat pada Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUH Perdata. Pasal 1315 KUH Perdata berbunyi, pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri. Inti ketentuan ini bahwa seseorang yang mengadakan perjanjian hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Pasal 1340 KUH Perdata berbunyi, perjanjian hanya berlaku antar pihak yang membuatnya. Ini berarti bahwa perjanjian yang dibuat oleh para hanya berlaku bagi mereka yang mambuatnya. Namun demikian ketentuan ini ada pengecualiannya, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1317 KUH Perdata, yang maksudnya adalah, dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak

35 ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu. Pasal 1317 KUH Perdata ini mengkonstruksikan bahwa seseorang dapat mengadakan perjanjian untuk kepentingan pihak ketiga, dengan suatu persyaratan yang ditentukan. Sedangkan pada Pasal 1318 KUH Perdata, tidak hanya mengatur perjanjian untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan ahli warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh hak dari padanya. Apabila dibandingkan kedua pasal itu maka dalam Pasal 1317 KUH Perdata mengatur tentang perjanjian untuk pihak ketiga, sedangkan dalam Pasal 1318 KUH Perdata kepentingan : a. dirinya sendiri, b. ahli warisnya, dan c. orang-orang yang memperoleh hak dari padanya Pasal 1317 KUH Perdata mengatur tentang pengecualiannya, sedangkan Pasal 1318 KUH Perdata, ruang lingkupnya lebih luas. Dalam setiap kontrak atau perjanjian yang dibuat oleh para pihak, pasti dicantumkan identitas dari subyek hukum, yang meliputi nama, umur, tempat domisili, dan kewarganegaraan. 3. Subjek Perjanjian Subjek perjanjian ialah pihak-pihak yang terikat dengan suatu perjanjian.26 Pada dasarnya, tidak seorangpun dapat meminta ditetapkannya suatu janji, kecuali untuk dirinya sendiri. Pasal 1318 KUH Perdata menyatakan bahwa : Jika seorang minta diperjanjikan sesuatu hal, akan dianggap bahwa itu adalah untuk ahli waris - ahli warisnya dan orang-orang yang memperoleh hak dari padanya, kecuali untuk

Mariam Darus Badrulzaman, Op. Cit, hlm. 22

36 jika dengan tegas ditetapkan atau dapat disimpulkan dari sifat perjanjian, bahwa tidak demikianlah maksudnya. Dengan demikina, maka tiga golongan yang tersangkut pada perjanjian, yaitu : 27 a.Para pihak yang mengadakan perjanjian itu sendiri b.Para ahli waris mereka dan mereka yang mendapat hak dari padanya c.Pihak ketiga 4. Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian Dalam Pasal 1320 KUH Perdata disebutkan bahwa syarat sahnya perjanjian yaitu : adanya kesepakatan yang mengikatkan dirinya, adanya kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu, suatu sebab yang halal atau kausa halal. a.Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya (consensus) Sepakat atau persetujuan kehendak adalah seiya sekatanya antara para pihak mengenai pokok perjanjian yang dibuat itu, yaitu mengenai objek dan syarat perjanjian.28 Persetujuan atas persesuaian kehendak itu haruslah bersifat bebas dan betul-betul atas kemauan sukarela para pihak, tanpa paksaan dari pihak manapun. Berkaitan dengan syarat ini Pasal 1321 KUH Perdata menyatakan bahwa : tiada kata sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan. Undang-undang membedakan dua jenis kekhilafan : yaitu mengenai orang (error inpersonal) dan mengenai pokok perjanjian (error insubstansial). Paksaan itu terjadi apabila seseorang tidak bebas untuk menyatakan kehendaknya. Paksaan dapat berupa kekerasan jasmani atau ancaman (akan membuka rahasia) yang menimbulkan ketakutan pada seseorang sehingga terpaksa
Ibid, hlm 22 Abdul Kadir Muhammad, Op. Cit, hlm. 89

37 membuat perjanjian , hal demikian diatur dalam ketentuan Pasal 1323-1327 KUH Perdata. Penipuan terjadi apabila salah satu pihak dengan tipu muslihat berhasil sedemikian rupa sehingga pihak yang lain bersedia untuk membuat suatu perjanjian dan perjanjian itu tidak akan terjadi tanpa adanya tipu muslihat tersebut, hal demikian diatur dalam ketentuan Pasal 1328 KUH Perdata. b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan (capacity) Cakap (bekwaam) merupakan syarat umum untuk dapat melakukan perbuatan hukum secara sah, yaitu harus sudah dewasa, sehat akal dan fikiran serta tidak dilarang oleh suatu peraturan perundang-undangan untuk melakukan suatu perbuatan hukum tertentu.29 Pada umumnya dewasa berarti telah mencapai umur 21 tahun atau sudah kawin walaupun belum berumur 21 tahun. Menurut Pasal 1330 KUH Perdata, dikatakan tidak cakap membuat perjanjian ialah orang yang belum dewasa, orang ditaruh di bawah perbuatan

pengampauan, dan wanita bersuami. Mereka ini apabila melakukan hukum harus diwakili oleh wali mereka dan bagi istri ada izin dari suami. Namun menurut

hukum Indonesia saat ini, wanita bersuami sudah dinyatakan

cakap melakukan perbuatan hukum.30 c. Suatu hal tertentu (a certain subject matter) Suatu hal tertentu merupakan pokok perjanjian, yakni prestasi yang perlu dipenuhi dalam suatu perjanjian atau disebut sebagai objek perjanjian. Prestasi itu tertentu atau setidak-tidaknya dapat ditentukan, hal demikian diatur dalam

Riduan Syahrani, Seluk Beluk Dan Asas-Asas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 1995, hlm. 217 Abdul Kadir Muhammad, Op, Cit, hlm.. 92-93

38

ketentuan Pasal 1333

KUH Perdata. Menurut Pasal 1332 KUH Perdata

menentukan bahwa barang-barang yang dapat dijadikan objek perjanjian hanyalah barang-barang yang dipergunakan untuk kepentingan umum dianggap sebagai barang di luar perdangan.31 d. Suastu sebab yang halal atau kausa yang halal Sebab di dalam Pasal 1320 KUH Perdata bukanlah dimaksudkan sebagai sesuatu yang mendorong orang membuat suatu perjanjian, melainkan sebab dalam arti isi perjanjian itu sendiri, yaitu tujuan yang ingin dicapai para pihak.32 Pasal 1337 KUH Perdata menentukan bahwa suatu sebab dalam perjanjian tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum. Syarat consensus dan capacity disebut sebagai syarat subjektif, karena menyangkut subyek yang mengadakan perjanjian. Sedangkan syarat a certain subject matter dan legal cause disebut syarat objektif karena mengenai perjanjian itu sendiri. Dalam hal syarat subjektif tidak terpenuhi, maka perjanjian dapat dibatalkan oleh hakim atas permintaan pihak yang tidak cakap atau yang memberikan kesepakatan secara tidak bebas. Hal ini dibatasi dalam waktu 5 tahun berdasarkan Pasal 1454 KUH Perdata.33 Apabila syarat objektif terpenuhi, maka perjanjian batal demi hukum 5. Jenis-Jenis Perjanjian Ada beberapa jenis perjanjian, yang uraiannya adalah sebagai berikut : a. Perjanjian timbal balik dan perjanjian sepihak Perjanjian timbal balik (bilateral contract) adalah perjanjian yang memberikan hak dan kewajiban kepada kedua belah pihak, atau perjanjian

Ridwan Syahrini, Op. Cit, hlm. 219 Abdul Kadir Muhammad, Op. Cit, hlm. 94 Riduan Syahrini, Op. Cit, hlm. 222

39 yang menimbulkan kewajiban pokok bagi kedua belah pihak, misalnya perjanjian jual beli. Perjanjian sepihak adalah perjanjian yang memberikan kewajiban kepada satu pihak dan hak kepada pihak lain, misalnya perjanjian hibah.34 b. Perjanjian bernama dan tidak bernama Perjanjian bernama sebagai perjanjian yang mempunyai nama sendiri, yang dikelompokkan sebagai perjanjian- perjanjian khusus, karena jumlahnya terbatas. Sedangkan menurut R. Setiawan perjanjian bernama sebagai persetujuan-persetujuan, yang oleh undang-undang telah diatur secara

khusus. Diatur dalam BW (KUH Perdata) Bab V s/d XVIII ditambah title VII A; dalam KUHD persetujuan-persetujuan asuransi dan pengangkutan.35 Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang tidak mempunyai nama tertantu dan jumlahnya tidak terbatas, atau perjanjian yang tidak diatur secara khusus. Menurut Miriam Darus Badrulzaman berbeda dengan pandangan dengan dua pendapat di atas, Miriam Darus Badrulzaman mengkatagorikan perjanjian bernama atas perjanjian bernama di dalam KUH Perdata dan KUH Dagang, dan perjanjian bernama di luar KUH Perdata dan KUHD, yaitu perjanjian keagenan, distributor, dan perjanjian pembiayaan yang mencakup di dalamnya perjanjian sewa guna usaha, perjanjian anjak piutang (Faktoring), perjanjian modal ventura, perjanjian kartu kredit, perjanjian pembiayaan konsumen,

Abdul Kadir Muhammad, Op. Cit. hlm. 86 R. Setiawan, Op. Cit. hlm. 51

40 perjanjian simpanan, perjanjian kredit, pejanjian penitipan, dan perjanjian bagi hasil.36 c. Perjanjian Campuran Dalam hal terdapat suatu perjanjian atau persetujuan yang tidak dapat dikatagorikan sebagai perjanjian bernama atau tidak bernama yang memiliki berbagai unsur dari berbagai perjanjian, maka perjanjian tersebut

diklasifikasikan sebagai perjanjian campuran. Mislanya dalam Pasal 1604 c KUH Perdata.37 d. Perjanjian Kebendaan dan Perjanjian Obligatior Perjanjian kebendaan (zakelijke overeenkomst/delivery contract) adalah perjanjian untuk memindahkan hak milik dalam perjanjian jual beli, sedangkan perjanjian obligatior adalah perjanjian yang menimbulkan hak dan kawajiban bagi para pihak. Perjanjian kebendaan merupakan pelaksanaan dari suatu perjanjian obligatior.

e.

Perjanjian Konsensual dan Perjanjian real Perjanjian konsensual adalah perjanjian yang timbul karena adanya persetujuan kehendak antar pihak-pihak, atau perjanjian yang terjadi dengan kata sepakat. Sedangkan dalam perjanjian real selain adanya persetujuan kehendak, juga harus terdapat penyerahan secara nyata.

f.

Perjanjian-perjanjian lain yang istimewa sifatnya yaitu :38

Miriam Darus Badrulzaman, Op. Cit. hlm. 30-34 R. Setiawan, Loc cit Miriam Darus Badrulzaman, Op. Cit. hlm. 21-22

41 1) Perjanjian liberatoir, yaitu perjanjian para pihak yang membebaskan diri dari kewajiban yang ada, misalnya pembebasan hutang (Pasal 1438n KUH Perdata). 2) Perjanjian pembuktian (bewijsovereekomst), yaitu perjanjian antara para pihak untuk menentukan pembuktian apakah yang berlaku di antara mereka. 3) Perjanjian untung-untungan ; misalnya perjanjian asuransi (Pasal 1774 KUH Perdata) 4) Perjanjian publik : yaitu perjanjian yang sebagian atau seluruhnya oleh hukum publik karena salah satu pihak bertindak sebagai penguasa, misalnya perjanjian pengadaan barang. 6. Akibat Hukum dari Perjanjian Berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata, jika sesuatu perjanjian memenuhi ketentuan syarat-syarat dalam Pasal 1320 KUH Perdata, maka perjanjian tersebut mengikat para pihak sebagai undang-undang, dan tidak dapat ditarik kembali tanpa persetujuan kedua belah pihak atau karena alas an - alasan yang cukup menurut undang-undang, dan harus dilaksanakan dengan itikad baik.39 7. Wanprestasi dan akibat-akibatnya Prestasi adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan yang pemenuhannya merupakan hakekat dari perikatan. Kewajiban pemenuhan prestasi ini selalu disertai dengan tanggung jawab (liability), artinya debitur mempertaruhkan harta kekayaannya sebagai jaminan pemenuhan utangnya kepada kreditur.

Badul Kadir Muhammad, Op. Cit, hlm. 96

42 Apabila debitur tidak memenuhi prestasi dan bukan karena keadaan memaksa, maka debitur disebut wanprestasi. Wanprestasi sendiri berasal dari istilah bahasa belanda wanprestatie, yang artinya tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam perjanjian, baik perikatan yang timbul karena perjanjian maupun perikatan yang timbul karena undang-undang. Wanprestasi yang dilakukan oleh debitur bukan karena keadaan memaksa dapat berupa : 40 a. b. c. d. sama sekali tidak memnuhi prestasi; tidak tunai memnuhi prestasi; terlambat memnuhi prestasi; keliru memenuhi prestasi Terhadap kelalaian atau kealpaan si debitur ini, diancamkan beberapa sanksi atau hukuman atau yang dapat dikatagorikan sebagai akibat akibat dari wanprestasi yaitu :41 a. b. c. d. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau dinamakan ganti rugi Pembatalan perjanjian Peralihan resiko Membayar biaya perkara, kalau sampai diperkarakan di depan hakim.

8. Pembatalan Perjanjian Pembatalan perjanjian terjadi karena 2 hal : a. Pembatalan karena tidak memenuhi syarat-syarat subyektif Pembatalan karena tidak terpenuhinya syarat subyektif dapat dilakukan oleh hakim atas permintaan pihak yang tidak cakap atau yang memberikan kesepakatan secara

Riduan Syahrini, Op. Cit, hlm. 228 Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 1985, hlm. 45

43 tidak bebas. Hak untuk meminta pembatalan perjanjian ini dibatasi dalam waktu 5 tahun sebagaimana diatur dalam Pasal 1454 KUH Perdata. Selama perjanjian tersebut tidak dibatalkan, maka perjanjian tersebut tetap mengikat.42 b. Pembatalan karena ada wanprestasi dari pihak debitur Adapun syarat supaya pembatalan dapat dilakukan adalah : 1) 2) 3) Perjanjian harus bersifat timbale balik. Harus ada wanprestasi. Harus dengan putusan hakim

Wanprestasi tidaklah membatalkan perjanjian, namun putusan hakimlah yang membatalkan perjanjian dengan didasarkan pada gugatan pembatalan karena adanya wanprestasi. Bahkan meskipun syarat batal dicantumkan dalam perjanjian, pembatalan harus tetap dimintakan putusan hakim, sebagaimana diatur dalam Pasal 1266 KUH Perdata.43

Riduan Syahrini, Op. Cit, hlm. 222 Abdul Kadir Muhammad, Op. Cit, hlm. 130

44 BAB III BEBERAPA PERMASALAHAN HUKUM YANG DAPAT TIMBUL APABILA TERJADI TRANSAKSI E-COMMERCE SEHUBUNGAN DENGAN DIUNDANGKANNYA UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 SERTA PENYELESAIANNYA APABILA TERJADI SENGKETA

A. Permasalahan Hukum Yang Timbul Sehubungan Dengan Diundangkannya Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik Yang Berkaitan Dengan Transaksi Elektronik (E-Commerce). Pada tanggal 25 Maret Tahun 2008 Pemerintah tealah mengundangakan Undang Undang yang mengatur mengenai Transaksi Elektronik (e-commerce) yang tujuannnya adalah agar supaya terdapat kepastian hukum di bidang kegiatan Transaksi Elektronik ecommerce namun pada kenyataanya Undang Undang tersebut ternyata belum sempurna karena undang undang tersebut memiliki banyak kelemahan dan beberapa kelemahannya diantaranya adalah44 : 1. Permasalahan Hukum Yang Berkaitan Dengan Proses Penyusunan Permasalahan hukum pertama dari Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik terletak dari cara penyusunannya itu

sendiri, yang menimbulkan kontradiksi atas apa yang berusaha diaturnya. Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik yang

merupakan Undang Undang pertama yang mengatur suatu teknologi moderen, yakni teknologi informasi, masih dibuat dengan menggunakan prosedur lama yang sama sekali tidak menggambarkan adanya relevansi dengan teknologi yang berusaha diaturnya.
Kesimpulan wawancara dengan Irawan Effendy, Sekretaris Asosiasi Internet Indonesia.

45 Singkat kata, Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik waktu masih berupa Rancangan Undang - Undang relatif tidak disosialisasikan kepada masyarakat dan penyusunannya masih dipercayakan pada kalangan yang amat terbatas, serta peresmiannya dilakukan dengan tanpa terlebih dahulu melibatkan secara meluas komunitas yang akan diatur olehnya. Padahal, dalam Undang - Undang ini menyebutkan bahwa menurut pasal 1 ayat (3) Teknologi Informasi adalah suatu teknik untuk menyimpan, memproses, mengumumkan, mengumpulkan, menganalisis, dan/atau menyiapkan, menyebarkan

informasi. Ini berarti seyogyanya dalam penyusunan Undang - Undang ini memanfaatkan teknologi informasi dalam mengumpulkan draftnya, pendapat menyimpan mengenai data kebutuhan

perundangannya,

menyiapkan

elektroniknya,

mengumumkannya secara terbuka, menganalisis reaksi masyarakat terhadapnya setelah menyebarkan informasinya, sebelum akhirnya mencapai sebuah hasil akhir dan meresmikan hasil akhir tersebut sebagai sebuah Undang - Undang permasalahan hukum yang pertama ini adalah permasalahan fatal, yang terbukti secara jelas bahwa akibat tidak dimanfaatkannya teknologi informasi dalam proses penyusunan Undang - Undang ini, maka isi dari Undang - Undang ini sendiri memiliki celah-celah hukum yang mana dalam waktu kurang dari sebulan peresmiannya telah menimbulkan gejolak di kalangan pelaku usaha teknologi informasi, yang diakibatkan oleh ketidakpastian yang ditimbulkannya itu.

46 2. Permasalahan Hukum Yang Berkaitan Dengan Definisi Pasal 1 ayat (1) mengatakan bahwa, Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. Sedangkan ayat (4) mengatakan bahwa, Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital,elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. Definisi Informasi Elektronik menggambarkan tampilan, bukan data; dari kenyataan ini terlihat jelas bahwa penyusun definisi ini belum memahami bahwa data elektronik sama sekali tidak berupa tulisan, suara, gambar atau apapun yang ditulis dalam definisi tersebut. Sebuah data elektronik hanyalah kumpulan dari bit-bit digital, yang mana setiap bit digital adalah informasi yang hanya memiliki dua pilihan, yang apabila dibatasi dengan kata elektronik maka pilihan itu berarti tinggi dan rendah dari suatu sinyal elektromagnetik. Bila tidak dibatasi dengan kata tersebut, maka bit digital dapat berupa kombinasi pilihan antonim apapun seperti panjang dan pendek, hidup dan mati, hitam

47 dan putih dan sebagainya. Pada definisi Dokumen Elektronik, bahkan ditemukan suatu keanehan dengan membandingkan antara analog, digital dengan elektromagnetik, optikal, seakan-akan antara analog dan elektromagnetik adalah dua bentuk yang merupakan pilihan ini atau itu. Lebih jauh lagi, penggunaan kata analog adalah suatu kesalah kaprahan karena analog sebagai suatu bentuk hanya dapat diartikan sebagai benda yang dibuat menyerupai bentuk aslinya, dan ini sama sekali tidak ada relevansinya dengan tujuan definisi yang diinginkan berhubung bentuk analog dari sebuah peta misalnya, adalah sebuah peta juga dan tidak mungkin dikirimkan lewat jaringan elektronik. 3. Permasalahan Hukum Yang Berkaitan Dengan Adanya Beberapa Pasal Yang Tidak Konsisten. Permasalahan hukum ini terdapat di beberapa pasal dan ayat, salah satunya adalah Pasal 8 ayat 2 yang mengatakan bahwa, Kecuali diperjanjikan lain, waktu penerimaan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik ditentukan pada saat Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik memasuki Sistem Elektronik di bawah kendali Penerima yang berhak. Tampaknya ayat ini dibuat dengan logika berbeda dengan ayat 1 dalam pasal yang sama, di mana ayat 1 telah dengan benar menggunakan kriteria Sistem Elektronik yang ditunjuk atau dipergunakan, pada ayat 2 muncul kerancuan di bawah kendali. Suatu account e-mail yang berada di Yahoo atau Hotmail misalnya, tidak dapat dikatakan sebagai suatu Sistem Elektronik di bawah kendali karena yang dikendalikan oleh Penerima hanyalah bentuk virtualisasinya. Pasal 15 ayat (2)Penyelenggara Sistem Elektronik bertanggung jawab terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektroniknya. Sedangkan ayat 3 mengatakan bahwa, Ketentuan

48 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik. Ayat 3 mengatakan bahwa ayat 2 tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa. Lalu keadaan memaksa yang seperti apa yang dimaksud didalam pasal tersebut. Kalau kita bicara soal komputer maka keadaan memaksa ini bias berarti apa saja mulai dari gangguan listrik, kerusakan komputer, terkena virus, dan sebagainya yang pada intinya gangguan apapun dapat dikatakan sebagai keadaan memaksa; lantas untuk apa ayat 2 itu dibuat apakah yang dimaksud disini sebagai keadaan memaksa adalah definisi lazim dari force majeure kita tidak bisa menyimpulkannya begitu saja, karena di bagian penjelasan dikatakan bahwa ayat ini cukup jelas. 4. Permasalahan Hukum Yang Berkaitan Dengan Yurisdiksi Pasal 37 mengatakan bahwa, Setiap Orang dengan sengaja melakukan perbuatan yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 36 di luar wilayah Indonesia terhadap Sistem Elektronik yang berada di wilayah yurisdiksi Indonesia. Mungkin pasal 37 ini dibuat agar dalam kondisi dimana seorang yang berada di Indonesia atau seorang warga negara Indonesia melakukan penipuan terhadap warga negara lain dengan menggunakan server yang ada di negara lain, orang tersebut dapat dijerat dengan undang-undang ini. Akan tetapi karena pasal 27 mengatur tindakantindakan yang tidak memiliki standar yang sama di negara lain, ditambah dengan pasal 34 yang mengatur masalah penjualan perangkat keras dan lunak, pasal 37 otomatis menghasilkan konflik yurisdiksi.

49 Contohnya adalah apabila seorang warga negara Indonesia memproduksi perangkat lunak komputer khusus untuk perjudian selama berada di Las Vegas, Amerika Serikat, dan perangkat lunak tersebut dikirim ke Indonesia untuk diinstall di komputer yang berada di Indonesia, untuk diekspor ke Amerika Serikat, lalu orang tersebut kembali ke Indonesia, maka berdasarkan pasal 37, pasal 34 dan pasal 27 orang ini dapat dikenakan sanksi karena ia melakukannya bukan untuk tujuan kegiatan penelitian atau pengujian. Karena di daerah yurisdiksi hukum dimana tindakan itu dilakukan, sama sekali tidak terjadi pelanggaran hukum, pasal 37 ini telah mengabaikan yurisdiksi hukum dan dengan demikian Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ini memiliki cacat hukum. Mungkin masih ada kelemahan lain yang terluput namun intinya, kelemahankelemahan ini bisa ada karena tidak dilibatkannya masyarakat pengguna teknologi informasi secara meluas dalam penyusunan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ini, yang mana diharapkan kesalahan ini tidak terulang lagi di kemudian hari demi tercapainya kemajuan bersama yang diharapkan sebagai tujuan penyusunan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Dengan adanya beberapa kelemahan yang terdapat didalam Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan transaksi Elektronik tersebut diatas maka akan mengakibatkan timbulnya masalah hukum yakni ketidak pastian didalam hal yang berkaitan dengan definisi atau definisi dari ketidakkonsistenan dari beberapa pasal dan yurisdiksi.

50

B. Penyelesaian Apabila Terjadi Sengketa Beserta Cara Pengamanannya. 1. Penyelesaian Sengketa Sesuai dengan ketentuan pasal 17 ayat (1) Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, yang mengatakan bahwa penyelenggaraan elektronik dapat dilakukan dalam lingkup publik maupun privat. Sedangakan menurut penjelasan pada pasal 17 ayat (1) Undang undang ini memberikan peluang terhadap pemanfaatan teknologi informasi oleh penyelenggara negara, orang, badan usaha, dan atau masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi harus dilakukan secara baik, bijaksana, bertanggung jawab, efektif, dan esien agar dapat diperoleh manfaat yang sebesar besarnya dalam masyarakat. Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, maka dengan kata lain dapat penulis jelaskan sebagaimana berikuti : Dilihat dari segi pelaku atau parapihaknya maka transaksi elektronik (e-commerce) dapat dilakukan oleh pihak publik atau privat demikian juga apabila dilihat dari segi obyeknya maka transaksi elektronik (e-commerce) bisa bersifat public atau privat (bersifat menganudung pidana maupun unsur perdata). Oleh karena itu penyelesaian sengketanya maupun lembaga peradilan yang menyelesaikannya juga bisa dilakukan oleh lembaga peradilan yang menyelesaikan masalah masalah yang bersifat publik ataupun masalah masalah yang bersifat privat. Demikian juga apabila para pelakunya atau parapihak yang melakukan transaksi elektronik (e-commerce) tersebut masing masing mempunyai yurisdiksi hukum yang berbeda maka penyelesaian sengketanya dapat dilakukan oleh lembaga peradilan nasional maupun internasional baik secara public maupun privat.

51 Bentuk penyelesaiaan sengketa yang amat dikenal dan sudah lama digunakan orang adalah penyelesaian sengketa melalui Lembaga Peradilan Umum. Penyelesaian sengketa bisnis melalui Lembaga Peradilan Umum seringkali menimbulkan permasalahan : a. b. Lamanya proses beracara di persidangan perkara perdata Panjang dan lamanya tahap penyelesaian sengketa dari tingkat pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, hingga Kasasi, dan Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung. c. Lama dan panjangnya proses penyelesaian melalui pengadilan membawa akibat pada tingginya biaya penyelesaian sengketa tersebut (legal cost). d. Persidangan dilakukan secara terbuka, padahal sisi kerahasian merupakan sesuatu yang diutamakan dalam kegiatan bisnis. e. Hakim yang memeriksa perkara tersebut seringkali dilakukan olh hakim yang kurang menguasai substansi permasalahan yang berkaitan dengan perkara yang bersangkutan. f. Adanya citra peradilan di Indonesia yang tidak begitu baik.

Transaksi elektronik (e-commerce) adalah merupakan transaksi yang bersifat bisnis yang menghendaki segala sesuatunya dapat dilakukan dengan ekonomis dan efisien, sehingga tentu saja apabila terjadi sengketa penyelesaiannya juga hendaknya bersifat ekonomis dan efisien. Di lain pihak transaksi elektronik (e-commerce) sebagai transaksi bisnis umumnya didasari pada hubungan simbiosis mutualis, kepercayaan (trust) di antara para pihak, namun hal itu tetap tidak akan dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya perselisihan di antara para pihak. Perselisihan tersebut dapat menimbulkan sengketa yang

52 tentunya memerlukan penyelesaian hukumnya. Karena itu penyelesaian yang paling cocok untuk sengketa bisnis adalah melalui penyelesaian sengketa di luar pengadilan contohnya adalah melalui arbitrase. Mengingat penyelesaian sengketa melalui arbitrase diyakini memiliki banyak kelebihan dibandingkan melalui pengadilan, dan kelebihan kelebihan tersebut antara lain adalah : a. b. c. d. e. Keahlian yang dimiliki para arbiter Cermat dan hemat biaya Bersifat rahasia Putusan arbitrase bersifat non-preseden Kepekaan arbiter, walaupun para hakim arbiter menerapkan ketentuan hukum untuk membantu penyelesaian perkara yang dihadapi, dalam hal hal yang relevan, arbiter akan memberikan perhatian terhadap keinginan, realitas, dan praktek bisnis para pihak, bahkan sekarang berkembang arbitrase On-Line yakni penyelesaian sengketa secara on-line. Di lain pihak perlu diketahui bahwa dari ketentuan Pasal 2 , Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik nampaknya didesain untuk dapat menjadi payung hukum bagi perselisihan hukum yang lintas negara. menekankan

Karena itu, dalam hal terjadi sengketa, Undang Undang tersebut

diberlakukannya asas hukum perdata internasional. Mengenai kontrak elektronik lintas negara diatur dalam Pasal 18, pasal ini menjelaskan bahwa, para pihak memiliki

kewenangan untuk memilih hukum yang berlaku bagi transaksi yang dibuatnya.

53 Jika para pihak tidak secara spesifik melakukan pilihan hukum, maka yang diberlakukan adalah hukum yang berazaskan hukum perdata internasional. Jika timbul sengketa, para pihak juga memiliki kewenangan menetapkan forum pengadilan, arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa lainnya. Dan, jika para pihak tak menetapkan pilihannya, lagi-lagi yang berperan adalah pengadilan, lembaga arbitrase atau lembaga lainnya yang menerapkan azas hukum perdata internasional. 2. Cara Pengamanan Terhadap E-Commerce Secara Umum. Adapun alternatif lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah masalah hukum yang timbul sehubungan dengan dilakukannya transaksi elektronik (ecommerce) adalah melalui system pengamanan dan sistem pengamanan terhadap komunikasi elektronik, harus dapat memberikan perlindungan terhadap hal-hal sebagai berikut : a. Pengubahan, penambahan, atau perusakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap data dan informasi, baik selama dalam penyimpanan maupun selama proses transmisi oleh pengirim kepada penerima, dan b. Perbuatan pihak yang tidak bertanggung jawab yang berusaha memperoleh informasi yang dirahasiakan, baik secara langsung dari penyimpanannya maupun ketika ditransmisikan oleh pengirim kepada penerima (upaya penyadapan). Berhubung dengan itu, sistem pengamanan komunikasi elektroik harus mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan pengaman yang berkaitan dengan aspek-aspek45 : 1. Confidentiality;
Jurnal Hukum Bisnis, Volume 18, Maret 2002, hlm 6.

54 2. Integrity; 3. Authorization; 4. Availability; 5. Authenticity; 6. Non-repudiability / Non-repudiation; 7. Auditability. Masing-masing aspek tersebut di atas adalah sebagaimana dijelaskan dibawah ini46 : Ad 1. Confidentiality. Confidentiality menyangkut kerahasiaan data dan/atau informasi, dan

perlindungan informasi tersebut terhadap pihak yang tidak berwenang. Informasi seharusnya dilindungi terhadap pihak luar yang tidak berwenang, terhadap para hackers, dan terhadap intersepsi atau gangguan selama transmisi melalui jaringan komunikasi sedang berlangsung. Caranya adalah dengan membuat informasi itu tidak dapat dipahami (unintelligible) oleh pihak-pihak yang tidak berwenang atau tidak

bertanggung jawab itu. Untuk membuat informasi itu tidak dapat dipahami isi dari informasi itu harus di transformasikan sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipahami (tidak decipherable) oleh siapapun yang tidak mengetahui prosedur transformasi itu. Untuk E-Commerce, confidentiality sangat penting untuk melindungi, misalnya, data keuangan suatu organisasi atau perusahaan, informasi menyangkut product development, dan berbagai jenis informasi rahasia lainnya terhadap pihak-pihak yang tidak berwenang atau terhadap pihak siapa rahasia itu ingin dirahasiakan. Bagi bank, misalnya, data mengenai simpanan nasabah pada bank tersebut harus dapat dirahasiakan sebagaimana hal itu diwajibkan oleh undang-undang.
Ibid, hlm 7

55 Dalam dunia E-Commerce, informasi yang dikaitkan dengan waktu, kerahasiaan informasi itu sangat penting. Daftar harga atau laporan penelitian menghendaki tingkat kerahasiaan yang tinggi selama suatu jangka waktu tertentu. Rahasia itu perlu dijaga karena menyangkut daya saing perusahaan tersebut terhadap para pesaingnya. Setelah jangka waktu tersebut lewat, informasi tersebut boleh diperoleh secara bebas karena tidak perlu lagi dirahasiakan. Terjadinya kebocoran terhadap suatu informasi yang dipercayakan oleh pihak lain tidak mustahil dapat menimbulkan tuntutan ganti rugi dari pihak yang mempercayakan informasi itu kepada kita. Pembocoran rahasia perusahaan oleh orang dalam dapat mengakibatkan hancurnya daya saing perusahaan tersebut, yang lebih lanjut dapat menimbulkan kerugian finansial yang besar. Ad 2. Integrity. Integrity menyangkut perlindungan data terhadap usaha memodifikasi data itu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, baik selama data itu disimpan atau selama data itu dikirimkan kepada pihak lain. Sistem pengamanan harus mampu memastikan bahwa pada waktu diterima oleh penerima, informasi itu harus muncul sama seperti ketika informasi itu disimpan atau dikirimkan. Sistem pengamanan yang dibangun harus memungkinkan untuk mengetahui apabila terhadap isi yang asli dari informasi yang dikirimkan itu telah terjadi modifikasi, tambahan, atau penghapusan. Sistem tersebut juga harus dapat mencegah dimainkannya kembali (re-played) informasi itu, misalnya fresh copy dari data tersebut dikirimkan lagi dengan menggunakan otoritasi yang semula dipakai ketika pesan yang sesungguhnya itu dikirimkan.

56 Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu mekanisme yang dapat memastikan kebenaran isi pesan yang dikirimkan itu dan untuk dapat memastikan otentikasi atas pembuatan salinan dari pesan tersebut, yaitu otentikasi bahwa salinan itu sesuai dengan aslinya. Ad 3. Authorization. Authorization menyangkut pengawasan terhadap akses kepada informasi tertentu. Transaksi-transaksi tertentu mungkin hanya dapat diakses oleh pihak-pihak tertentu saja, sedangkan transaksi-transasi yang lain tidak. Authorization dimaksudkan untuk membatasi perbuatan oleh pihak-pihak yang tidak berwenang untuk dapat berbuat sesuatu di dalam lingkungan jaringan informasi itu. Pembatasan tersebut tergantung pada security level dari pihak yang bersangkutan. Pembatasan itu menyangkut sampai sejauh mana pihak yang diberi kewenangan untuk melakukan akses terhadap hal itu diberi kewenangan untuk melakukan akses terhadap hal itu diberi wewenang untuk dapat melakukan hal-hal sebagai berikut : a.Memasukkan data/informasi; b.Membaca data/informasi; c.Memodifikasi, menambah, atau menghapus data/informasi; d.Mengekspor atau mengimpor data/informasi; e.Menge-print data/informasi. Hak-hak istimewa tersebut dapat dikendalikan atau diawasi, baik oleh petugas tertentu atau oleh suatu unit tertentu yang ditugasi khusus untuk kerperluan tersebut, dengan cara menggunakan access control list (ACL). ACL adalah satu daftar yang memuat siapa-siapa saja yang memiliki akses kepada data/informasi tertentu dan

57 tingkat kewenangan dari masing-masing orang atau pejabat tersebut untuk mengakses data itu. Ad 4. Availability. Informasi yang disimpan atau ditransmisikan melalui jaringan komunikasi harus dapat tersedia sewaktu-waktu apabila diperlukan. Sistem perlindungan itu harus dapat mencegah timbulnya sebab-sebab yang menghalangi tersedianya informasi yang diperlukan itu. Kesalahan-kesalahan jaringan (network errorsi), listrik mati (power outages), kesalahan-kesalahan operasional (operational errors), kesalahan-kesalahan yang bersangkutan dengan aplikasi piranti lunak yang digunakan (software application), masalah-masalah yang menyangkut piranti keras (hardware problems), dan virus merupakan beberapa sebab yang dapat membuat informasi yang diperlukan itu menjadi tidak tersedia ketika dibutuhkan (unavailability of information). Ad 5. Authenticity. Authenticity atau authentication menyangkut kemampuan seseorang, organisasi, atau komputer untuk membuktikan identitas pemilik informasi tersebut yang sesungguhnya. Semua pihak yang terlibat dalam suatu transaksi harus merasa aman dan pasti bahwa para pihak berhubungan dengan pihak-pihak yang sesungguhnya diinginkan dan benar mengenai informasi yang dipertukarkan di antara mereka. Apabila suatu pesan diterima, maka penerima harus dapat memverifikasi bahwa pesan itu benar-benar dikirimkan oleh orang atau pihak yang sesungguhnya. Sebaliknya juga, harus dapat dipastikan bahwa pesan tersebut memang telah dikirimkan kepada dan telah diterima oleh pihak yang sesungguhnya dituju.

58 Ad 6. Non-repudiation of Origin. Non-repudiation of Origin atau Non-Repudiability menyangkut perlindungan terhadap suatu pihak yang terlibat dalam suatu transaksi atau kegiatan komunikasi yang di belakang hari pihak tersebut menyanggah bahwa transaksi atau kegiatan tersebut benar terjadi. Sistem Non-Repudiation of Origin atau Non-Repudiability harus dapat membuktikan kepada pihak ketiga yang independen mengenai originalitas dan mengenai pengiriman data yang dipersoalkan itu. Setelah suatu pesan dikirimkan kepada pihak lain, pengirim harus tidak mungkin dapat membantah bahwa dia telah mengirimkan pesan tersebut. Sebaliknya juga, penerima pesan tersebut seharusnya tidak mungkin dapat membantah bahwa yang bersangkutan telah menerima pesan tersebut. Ad 7. Auditability. Data tersebut dicatat sedemikian rupa bahwa terhadap data itu semua syarat-syarat confidentiality dan integrity yang diperlukan telah terpenuhi, yaitu bahwa pengiriman data tersebut telah dienkripsi (encrypted) oleh pengirimnya dan telah didekripsi (decrypted) oelh penerimanya sebagaimana mestinya. 3. Cara Pengamanan Dengan Cryptography47 Aspek-aspek pengamanan sebagaimana diterangkan di atas itu dapat di berikan oleh apa yang disebut cryptography sebagaimana dijelaskan di bawah ini. a. Encryption Dan decriypsion Apakah yang dimaksudkan dengan cryptography? Dalam Oxford Advanced Learners Dictionary, cryptography yang diberi arti the art of writing or solving codes. yaitu seni untuk menulis dan memecahkan sandi.
Ibid, hlm 8

59 Cryptography terdiri atas dua unsur, yaitu encyptio dan decryption. Encryption adalah proses untuk membuat informasi menjadi tidak dapat dipahami ( unintelligible) bagi pembaca yang tidak berwenang. Decryption adalah proses untuk membalik encryption agar infornmasi tersebut dapat dibaca kembali. Secara tradisional, cryptography dilakukan oleh pengirim dengan menggunakan kode rahasia (secret code) atau kunci rahasia (secret key) untuk melakukan enkripsi (encryption) tarhadap informasi tersebut. Dengan menggunakan kode rahasia atau kunci rahasia yang sama, penerima informasi tersebut melakukan dekrisip (decryption) terhadap informasi tersebut. Teknik-teknik cryptosystem bukan merupakan hal yang baru di dunia. Teknik tersebut telah di gunakan sejak Julius Caesar. Sandi Caesar menggunakan cara mengubah suatu huruf dengan huruf lain. Caranya pengganti huruf lain pada urutan ketiga di dalam alfabet itu. Huruf A menjadi D, C menjadi F, dan T menjadi W. dengan demikian CAT menjadi tertulis FDW. Orang bank sudah terbiasa menggunakan Kode-kode rahasia atau Kunci-kunci rahasia tersebut. Misalnya untuk pengirim uang yang dilakukan oleh satu cabang bank atas permintaan nasabahnya kepada cabang lain untuk penerima kirimam uang dilakukan pengirimannya dengan menggunakan test key. Atau pengiriman berita oleh kantor pusat bank kepada seluruh cabang bank tersebut atau oleh suatu kantor cabang kepada kantor cabang lain di lakukan dengan menyamarkan kata-kata dalam berita itu, baik seluruh kata-kata nya atau terbatasannya kepada kata-kata yang penting saja, dengan menggunakan Petterson code. Sebagaimana telah di kemukakan diatas, pada zaman Romawi orang

60 menggunakan Caesar code untuk pengiriman informasi atau surat rahasia. Contohcontoh di atas merupakan contoh-contoh aplikasi yang sederhana dari apa yang di sebut cryptography. Ada dua jenis sistem cryptograpy (cryptogrhic systems atau cryptosystem). Kedua sitem itu ialah symmetric cryptosystem dan asymmetric cryptosystem. Symmetric system, atau yang disebut juga key crypthosystem, didasarkan pada single secret key yang digunakan oleh kedua belah pihak yang terlibat dalam suatu hubungan komunikasi. Dengan kata lain, kunci yang sama digunakan oleh kedua belah pihak, yaitu pihak pengirim menggunakan kunci itu untuk melakukan enkripsi (encryption) sedangkan pihak penerima menggunakan kunci itu untuk melakukan deskripsi (decryption). Asymmetric cryptosystem, atau yang disebut pula dengan sebutan public cryptosystem, adalah cryptosystem yang mendasarkan pada penggunaan sepasang kunci. Kedua kunci yang berpasangan itu adalah private key dan public key. b. Symmetric Criptosystem Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa pada symmetric

cryptosystem atau secret key cryptosystem kedua belah pihak menggunakan kunci atau kode yang sama. Oleh karena dalam symmetric cryptosystem kunci rahasia yang sama digunakan oleh kedua belah pihak, maka adalah penting untuk memastikan bahwa tukar menukar kunci yang digunakan harus tetap terjamin kerahasiaannya. Kebocoran kerahasiaan tersebut dapat terjadi karena ada orang, yang tidak seharusnya mengetahui kunci rahasia tersebut, ternyata baik sengaja maupun tidak sengaja berhasil mengetahui kunci rahasia tersebut.

61 Dapat pula kebocoran itu terjadi karena pada waktu pengriman kunci rahasia tersebut oleh salah satu pihak kepada pihak yang lain telah hilang dicuri dalam pengirimannya. Misalnya, berkenaan dengan test key arrangement antara Bank BNI dan Citibank. Untuk keperluan hubungan korespondensi dan transaksi antara Bank BNI dengan Citibank disusun suatu buku test key oleh Bank BNI. Pada waktu Kantor Besar Bank BNI di Jakarta mengirimkan buku test key tersebut kepada Kantor Pusat Citibank di New York untuk digunakan sebagai kode rahasia apabila Bank BNI, baik Kantor Besar maupun kantor-kantor cabang Bank BNI di seluruh dunia, mengirimkan dokumen transaksi kepada Citibank, baik kepada Kantor Pusatnya di New York maupun kantor-kantor cabangnya di seluruh dunia, maka pengiriman buku test key tersebut ternyata hilang di tengah jalan. Dengan demikian buku itu berarti sudah jatuh ke tangan pihak lain yang tidak terkait, sehingga dengan demikian test key tersebut sudah bocor. Sebagai jawaban terhadap kerentanan bentuk-bentuk symmetric cryptosystem yang tradisional, sistem-sistem modern telah dirancang menggantikan system yang tradisional tersebut, yaitu dengan menggunakan teknik-teknik matematik

(mathematical techniques). Salah satu generasi baru dari cryptographic technique tersebut mulai digunakan dalam dunia komersial pada tahun 1977 ketika Data Encryption Standard (DES) digunakan sebagai suatu United State Federal Standard. DES bekerja berdasarkan konsep satu kunci yang sama digunakan untuk kedua pihak yang melakukan komunikasi. Sebagaimana dikemukakan di atas, masalah yang

62 sering dihadapi adalah pengamanan terhadap key tersebut. Hal itu tidak mudah dilakukan, karena tingkat kebocorannya yang cukup tinggi. c. Asymetric Cryptosystem Suatu bentuk cryptography yang sama sekali baru, diperkenalkan pada tahun 1976 oleh dua ahli matematik, Diffie dan Hellman. Bentuk baru ini disebut Asymmetric Cryptosystem atau disebut pula Public Key Cryptosystem. Asymmetric Cryptosystem dirancang berdasarkan penguatan dua kunci yang berpasangan, yaitu public key dan private key atau secret key oleh masing-masing pihak yang melakukan komunikasi rahasia. Public key cryptosystem adalah suatu sistem dimana pesan yang telah dienkripsi dengan menggunakan kunci yang satu tidak mungkin didekripsi apabila tidak menggunakan kunci kedua yang menjadi pasangannnya, demikian pula sebaliknya. Dengan kata lain, apabila suatu pesan dienkripsi dengan menggunakan private key dari pengirim, maka pesan tersebut hanya mungkin didekripsi dengan menggunakan public key pengiriman yang diketahui oleh penerima sebaliknya, apabila pesan tersebut dienkripsi dengan menggunakan public key dari penerima, maka pesan tersebut hanya mungkin didekripsi dengan menggunakan private key dari penerima. Kapan pengiriman pesan dienkripsi oleh pengirim dengan menggunakan private key-nya sendiri atau kapan dienkripsi dengan menggunakan public key penerima, adalah tergantung kepada isi dari sifat pesan yang akan dikirimkan dan tergantung pula pada bagaimana perjanjian diantara para pihak yang berkomukasi.

63 Konsep asymmetric cryptography atau public key yang telah dikembangkan oleh Diffie dan Hellman telah berhasil diaplikasikan oleh tiga orang ahli matematik, Rivest, Shamir dan Adleman dengan menciptakan RSA system. Nama sistem tersebut diambil dari huruf depan nama-nama mereka masing-masing. Sistem dengan menggunakan algoritma matematika (mathematical algorithm) yang sama telah digunakan pula oleh sistemnya yang diciptakan oleh Phil Zimmerman yang disebut PGP (Pretty Good Privacy). Seperti telah ditunjukkan oleh namanya, public key dapat dan boleh diketahui oleh setiap orang, sedangkan private key hanya diketahui oleh pemiliknya saja. Prosedur yang digunakan untuk memperoleh kedua kunci tersebut adalah sedemikian rupa sehingga apabila salah satu kunci tersebut digunakan untuk mengenkripsi suatu pesan, hanya kunci lain pasangannya yang dapat digunakan mendekripsi pesan tersebut. Dengan kata lain menggunakan private key yang lain tidak memecahkan kode tersebut. Meskipun kedua kunci tersebut berkaitan satu dengan yang lain, dan meskipun pubic key-nya dapat diketahui oleh orang lain, namun tidak mungkin bagi siapapun untuk dapat mengetahui atau memperoleh private key yang digunakan, kecuali oleh pemiliknya sendiri. Dengan hanya mengetahui suatu pubic key tidak mungkin dapat diketahui / dipecahkan apa yang menjadi private key yang merupakan pasangan public key tersebut. Demikian sulitnya memecahkan kunci rahasia berdasarkan public key

cryptosystem atau aymmetric cryptosystem, sehingga telah diestimasi bahwa tidak ada satu komputerpun yang mampu memecahkan kunci tersebut sekalipun dalam

64 jangka waktu ribuan tahun. Memang pernah dilakukan demonstrasi, yaitu pernah dicoba sebanyak 350 komputer yang dihubungkan melalui jaringan internet untuk mencari kombinasi yang tepat. Komputer-komputer tersebut bekerja dengan kecepatan 1_triliun kunci kombinasi per jam. Ternyata baru dalam waktu 302 jam komputer-komputer tersebut berhasil menemukan kunci yang tepat. Dari penjelasan tersebut di atas dapat diketahui betapa lama waktu dan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mampu memecahkan public key atau asymetric cryptosystem tersebut. Oleh karena itu, sistem ini dianggap paling aman. Asymmetric cryptosystem atau public key cryptosystems digunakan untuk menjamin confidentiality, authentication, dan non-repudiation pesan yang dikirimkan. Menggunakan public key cryptosystem bukan tanpa resiko bagi

penggunanya. Apabila kunci-kunci tersebut hilang, maka data yang sangat berharga menjadi tidak mungkin dapat diakses. Bagaimana cara bekerjanya asymmetric cyptosystem dengan

mengaplikasikan private key dan public key yang berpasangan. Ada 2 ( dua ) cara yang dapat diaplikasikan. Cara pertama adalah melakukan enkripsi oleh pengirim dengan menggunakan public key penerima dan dekripsi oleh penerima dilakukan dengan menggunakan private key penerima. Cara kedua adalah pengirim mengekripsi pesan yang akan dikirim dengan menggunakan private key

pengirim dan ketika penerima melakukan dekripsi pesan yang diterimanya itu, penerima melakukan dekripsi itu dengan menggunakan public key pengirim.

65 Apabila pengirim menginginkan hanya penerima yang boleh mengetahui isi pesan yang dikirimkan, maka pengiriman pesan itu harus dilakukan dengan cara pertama, yaitu pengirim mengenkripsi pesan tersebut dengan menggunakan public key penerima karena pesan tersebut hanya dapat dipahami oleh penerima saja dengan cara mendekripsi pesan tersebut dengan mengguanakan private key penerima yang hanya dimiliki penerima saja d. Digital signature Dalam kehidupan transaksi yang menggunakan kertas (paper-based transaction), sebagaima selama itu kita kenal, banyak hal dokumem-dokumen yang digunakan untuk transaksi itu ditandatangani oleh atau untuk dan atas nama para pihak yang bertransaksi. Tujuan utama pembubuhan tanda tangan tersebut adalah betul berasal dari atau telah disetujui oleh orang yang membubuhkan tanda tangan itu. Setelah adanya computer dan internet, timbulah masalah : Bagaimana para pihak yang terlibat dalam transaksi E-commerce dapat membubuhkan tanda tangan mereka masing-masing sebagai otentikasi dokumen-dokumen elektronik yang dibuat antara mereka ? Mungkinkah ada cara bagi para pihak itu untuk menggantikan fungsi tanda tangan diatas kertas dalam hal mereka melaksanakan transaksi mereka secara elektronik ? Implementasi pemecahan terhadap masalah-masalah pengamanan dalam bidang informasi dan teknologi sebagaimana telah dikemukakan diatas dan memecahkan masalah pembubuhan tanda tangan dokumen-dokumen elektronik dalam transaksi E-commerce dipecahkan dengan cara menggunakan teknik-teknik cryptography sebagaimana telah diterangkan diatas.

66 Selain pengamanan dilakukan dengan cara melakukan enkripsi terhadap pesan yang dikirimkan, pengirim dapat pula menyertakan digital signature pengirim pesan yang bersangkutan bersama dengan pengiriman pesan itu sendiri. Apakah yang dimaksud dengan digital signature atau electronic signature ? Kalau signature dalam konteks ini sangat mengesankan. Signature yang

dimaksudkan dalam konteks ini bukan merupakan digitized image of handwritten signature . Signature di sini bukan tanda tangan yang dibubuhkan oleh seorang dengan tangannya diatas dokumen-dokumen, antara lain dokumen-dokumen kertas, seperti yang lazim dilakukan. Digital signature diperoleh dengan terlebih dahulu menciptakan suatu message digest atau hash, yaitu mathematical summary dokumen yang akan dikirimkan melalui cyberspace. Bagaiman proses penciptaan message digest atau hash, apa yang dimaksudkan dengan mesasage digest atau hash, dan bagaimana kemudian dari message digest atau hash tersebut tercipta digital signature, akan diterangkan dibawah nanti. Pencantuman digital signature pada suatu electronic document (dokumen elektronik) oleh perngirim adalah untuk lebih memberikan kepastian kepada penerima mengenai stentikasi pengirim dari electronic document tersebut. Dengan demikian penerima dokumen elektronik atau pesan tersebut tidak seimbang mengenai siapa pengirim yang sebenarnya dari dokumen elektronik atau pesan tersebut. Fungsi suatu digital signature sama dengan fungsi sidik jari seseorang. Digital signature merupakan alat untuk mengidentifikasi suatu pesan yang dikirimkan. Dengan kata lain pembubuhan digital signature disamping bertujuan

67 untuk memastikan bahwa pesan tersebut akan dikirimkan oleh orang lain, tetapi memang dikirimkan oleh pengirim yang dimaksud, juga bertujuan untuk dapat dijadikan alat bukti kuat secara hukum bahwa isi pesan yang telah dikirimkan oleh pengirim itu disetujui oleh pengirimnya. RSA algoritma (RSA algorithm) digunakan secara luas untuk

mengimplementasikan digital signature. Algoritma lain yang juga populer digunakan adalah digital signature algorithm (DSA) yang dikembangkan oleh the US National Institute of Standard and Technology. Dasar algoritma yang dipakai oleh DSA untuk memberikan aspek-aspek pengamanan berbeda apabila dibandingkan dengan RSA, namun metode implementasi digital signature dari keduanya boleh dikatakan sama. Untuk dapat menandatangani pesan (message), pertama-tama pengirim harus menciptakan suatu message digest atau suatu hast. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan RSA algoritma (RSA algorithm). Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa RSA algoritma telah digunakan secara luas untuk mengimplementasikan digital signature. Pesan yang asli, yaitu yang belum dienkripsi (orginal plaintext), dilewatkan melalui hash function, misalnya SHA-1. Hash function akan menyamarkan pesan asli itu. Secure Hash Algorithm-1 atau SHA-1, adalah hash function yang pada saat ini digunakan oleh SET.SET, atau Secure Electronic Transaction, adalah suatub protocol yang dikembangkan oleh MasterCard dan Visa yang dirancang untuk memberikan kepastian kepada pedagang (merchants) dan pemegang kartu (cardholders) untuk dapat melaksanakan bisnis secara aman di internet. SET

68 menggunakan cryptography untuk memberikan confidentiality dan security, untuk memastikan payment integrity, dan untuk memberikan otentikasi mengenai pedagang (merchant) dan pemegang kartu (cardholder) yang bertransaksi. Dengan cara pesan asli tersebut dilewatkan hash function, seperti SHA-1 yang digunakan oleh SET, maka diperoleh message digest yang dimaksud. Dengan kata lain, suatu digital signature adalah message digest yang dienkripsi dengan menggunakan private signing key daqri pengirimnya. Tegasnya, yang dienkripsi bukan pesan aslinya tetapi message digest yang diperoleh dari pesan asli yang telah dilewatkan pada hash function. Mengenai siapa pengirim pesan yang ditandatangani dengan menggunakan private (signing) key, hanya dapat diverifikasi dengan menggunakan public (signing) key dari pengirim tersebut. Jadi, misalnya Aristoteles membuat digital signature nya pada suatu message digest dengan menggunakan private (signing) key, maka Plato hanya dapat memverifikasi tanda tangan tersebut dengan menggunakan public (signing) key Aristoteles. Dengan demikian, pembuatan suatu digital signature ditempuh melalui dua tahap. Tahap pertama adalah membuat message digest, dan tahap berikutnya mengenkripsi message digest tersebut private key dari pengirim. Sedangkan untuk memverifikasi digital signature tersebut untuk memastikan bahwa digital signature itu memang benar merupakan bukti identitas pengirim pesan yang sebenarnya. Artinya bukan orang lain yang mengirimkan pesan tersebut, hanya dapat dilakukan dengan menggunakan public key pengririm pesan.

69 Oleha karena pembuatan digital signature dilakukan dengan menggunakan teks asli pesan yang dikirimkan sebagai masukan (input) bagi algoritme enkripsi (encryption algorithm) yang digunakan, maka apabila pesan tersebut diubah, sekalipun hanya sedikit saja perubahan yang dilakkan, digital signature tersebut tidak mungkin dapat didekripsi dengan benar. Apabila hasil dekripsi tidak benar, maka berarti pesan tersebut telah dibah pada waktu berlangsungnya pengirima atau bahwa digital signature tersebut telah dipalsu dengan meng-copy digital signature itu dari suatu pesan yang lain. Suatu digital signature yang di-copy dari sesuatu message tidak dapat dipakai untuk mengotentikasi pesan lain, sekalipun pengirim pesan adalah orang yang sama. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa untuk setiap pesan yang berbeda, message digest-nya berbeda pula. Sebagaiman telah diterangkan di atas, message digest diperoleh dari teks dari pesan asli yang dikirimkan. Jadi, apabila bunyi pesannya berbeda, maka sudah barang tentu message digest-nya akan berbeda, sehingga berbeda pula untuk digital signature untuk pesan tersebut. Dengan kata lain, digital signature pengirim pesan yang sama, berbeda bentuknya tergantung kepada bunyi pesan yang dikirimkan. Digital signature tidak hanya dipakai untuk memverifikasi otentisitas pesan yang dikirimkan dan identitas pengirimnya, tetapi juga untuk memverifikasi integritas pesan itu sendiri ( to ferify message integrity ). Didalam sistemnya, penerima pesan tersebut tidak boleh memilki kemungkinan untuk dapat menggunakan digital signature yang diterimanya untuk secara palsu

menandatangani pesan-pesan yang dikirimkan seakan-akan dalam menandatangani

70 itu dia bertindak untuk dan atas nama pengirim yang sesungguhnya memiliki tanda tangan itu. Dengan kata lain, hanya pemilik digital signature yang sesungguhnya itu saja yang mungkin menggunakan tanda tangan itu. Mengirim suatu pesan dengan disertai digital signature, dilakukan dengan menggunakan dua pasang kunci asymmetric, yaitu satu pasang dipakai untuk melakukan enkrisi ( encription ) dan dekripsi ( decryption ) terhadap pesan yang dikirimkan, dan satu pasang yang lain dipakai untuk melakukan enkripsi dan dekripsi tanda tangan. Dengan kata lain, bahwa untuk pesan yang dikirimkan maupun untuk tanda tangan pengirim, pengamanannya dilakukan dengan menggunakan public key cryptosystem atau asymmetric cryptosystem. Cara bekerjanya pengiriman pesan yang disertai dengan pencantuman digital signature. apabila A bermaksud untuk mengirimkan pesan rahasia kepada B, akan mengenkripsi pesan tersebut dengan menggunakan public key yang digunakan oleh B, yaitu PKB. Pada waktu pesan yang telah dienkripsi oleh A itu diterima oleh B, B akan mendekripsi pesan tersebut dengan menggunakan secret key atau private key milik B, yaitu SBK. Dengan cara itu, confidentiality pesan tersebut dijamin karena secret key atau private key yang digunakan oleh B tidak dapat diketahui oleh orang lain, karena tentunya secret key atau private key tersebut akan dijaga oleh dengan sebaik-baiknya olehnya. Siapapun juga apabila tidak mengetahui secret key atau private key yan digunakan oleh B, maka tidak mungkin bagi pihak tersebut untuk dapat membaca pesan yang telah dienkripsi dan dikirimkan oleh A dengan menggunakan public key dari B.

71 Apabila A bermaksud untuk menyertakan digital signature-nya sebagai otentikasi, maka A akan mengirimkan pesan tersebut di atas dengan menyertakan digital signature-nya dengan menggunakan secret key atau private key-nya, yaitu SKA. Bagi B yang menerima pesan rahasia A yang telah diotentikasi oleh A dengan menggunakan secret key atau priate key A itu, akan mengenkripsi pesan tersebut dengan menggunakan public key dari A, yaitu PKA. Pada saat pesan tersebut diterima, B akan mendekripsi pesan tersebut dengan menggunakan public key A yang secara luas dapat diketahui oleh siapapun juga. e. Public Key Certificate Pada public key cryptosystems, private key tidak digunakan bersama dengan pihak lain. Private key hanya diketahui, disimpan dan digunakan sendiri oleh pemilik kunci tersebut. Sementara itu, public key yang merupakan pasang private key tersebut memang tidak perlu dirahasiakan. Artinya, siapa saja yang berhubunga atau berkomunikasi dengan pemilik private key tersebut, berkomunikasi denga pemilik private key tersebut, boleh mengetahui apa public key pemilik private key tersebut. Apa yang penting dalam public key system adalah bahwa pemakai public key itu harus yakin benar bahwa public key tersebut adalah memang public key dari pihak dengan siapa dia berkomunikasi secara rahasia. Public key cryptosystem, tidak akan bekerja dengan baik kecuali apabila ada suatu otoritas yang ditugasi untuk memverifikasi identitas dari orang yang memiliki public key tersebut dan otoritas itu mempublikasi identitas pemilik public key tersebut. Otoritas tersebut harus merupakan pihak ketiga yang independent. Pihak

72 ketiga yang independent yang bertindak sebagai otoritas yang dimaksud disebut Certificate Authorities atau CA. Biasanya public key dibagikan dalam bentuk sertifikat (certificate) yang diterbitkan oleh Certificate Authorities atau CA. CA yang bersangkutan menandatangani sertifikat tersebut yang secara yuridis mengikat sebagai bukti bagi kepemilikan public key oleh pemiliknya yang sesungguhnya. Hanya mereka yang dapat menunjukkan sertifikat tersebut adalah pemilik public key yang sesungguhnya, dan yang bersangkutan adalah pemilik dan penyimpan private key yang menjadi pasangan public key dalam sertifikat itu. Perlunya sertifikat itu adalah untuk mencegah pihak yang tidak bertanggung jawab untuk dapat bertindak seakanakan adalah dia yang menjadi pihak yang berhak. Sertifikat tersebut memastikan bahwa hanya public key yang berasal dari sertifikat itu saja yang merupakan public key yang benar.

73 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan 1. Bahwa adanya Undang - Undang yang mengatur mengenai informasi dan transaksi elektronik pada saat ini sudah tidak bisa ditawar tawar lagi. Mengingat begitu pesatnya perkembangan ilmu dan perangkat baik lunak maupun keras di bidang teknologi dan informasi. Perkembangan di bidang ilmu dan perangkat baik lunak maupun keras di bidang teknologi informasi khususnya di bidang transaksi elektronik (e-commerce) tidak hanya berdampak positif tetapi juga menimbulkan berbagai masalah hukum. Berbagai masalah hukum yang perlu segera diberikan jalan keluarnya atau penyelesainnya. 2. Dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik ternyata berbagai masalah hukum tersebut diatas belum bisa terselesaikan oleh karena pada kenyataannya Undang Undang tersebut juga masih mempunyai beberapa kelemahan dan beberapa kelemahan tersebut tentu saja akan menimbulkan berbagai ketidakpastian hukum.Untuk mengatasi berbagai permasalahan hukum yang timbul sehubungan dengan dilakukannya transaksi elektronik (e-commerce) maka menjadi sangat penting peran dari lembaga penyelesaian baik lembaga pengadilan maupun lembaga penyelesaian di luar pengadilan (Alternative Dispute Resolution). Dan demi tuntasnya penyelesaian semua permasalahan hukum tersebut diatas, maka perlu kiranya dilakukan tindakan yang bersifat preventif, yakni melalui pengamanan terhadap perjanjian(e-commerce) yang berkaitan dengan aspek - aspek Confidentiality, Integrity, Authorization, Availability, Authenticity, Non-repudiability / Non-repudiation,

Auditability, beserta tekniknya tekninya.

74 B. Saran 1. Perlu dikembangkan secara terus menerus peraturan yang menyangkut transaksi elektronik (e-commerce). 2. Perlu dilakukan peningkatan pengetahuan dan kempuan serta wawasan para penegak hukum khususnya yang berkaitan dengan transaksi elektronik (e-commerce). 3. Perlu adanya harmonisasi di bidang perundang undangan khususnya yang berkaitan dengan kegiatan bisnis dan teknologi informasi. 4. Perlu adanya kerjasama yang baik antara Lembaga Legislatif sebagai pembuat undang undang beserta pemerintah, kalangan bisnis, serta masyarakat pengguna sarana teknologi informasi. 5. Perlu diterapkan berbagai sarana pengamanan yang bisa digunakan demi amannya kegiatan transaksi elektronik (e-commerce) baik secara nasional maupun internasional.

DAFTAR PUSTAKA Buku Badrulzaman, Mariam, Perjanjian Baku (Standard) Perkembangannya di Indonesia, Alumni, Bandung, 1997. Budhijanto, Danrivanto, Seri Dasar Ilmu Ekonomi 12, Cyber Law Suatu Pengantar, Aspek hukum Digital Signature dan Certification Authorities Dalam Transaksi E-Commerce, Ellips 2, April 2002. Greenstein & Feinmen, Electronic Commerce Security 2000. , Risk Management and Control,

H.S., Salim, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat Di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2003. Ikhwansyah, Isis, Seri Dasar Ilmu Ekonomi 12, Cyber Law Suatu Pengantar, PrinsipPrinsip Universal Bagi Kontrak melalui E-Commerce Dan Sistem Hukum Pembuktian Perdata Dalam Teknologi Informasi, Ellips 2, April 2002. Jovan, F.N, Pembobolan Kartu Kredit , Media Kita Jogyakarta, 2006. Kantaatmadja, Mieke Komar, Seri Dasar Ekonomi 12, Cyber Law Suatu Pengantar, Ellips 2, April 2002. Mansur, Dikdik M. Arif dan Gultom, Elistaris, Cyber Law, Aspek Hukum Teknologi Informasi, Refika Aditama, Bandung. Mei 2005. Muhammad, Abdul Kadir, Hukum Perikatan , P.T. Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1990.

Setiawan, R., Pokok-Pokok Hukum Perikatan, P.T. Bina Citra, Bandung, 1999. Subekti, Hukum Perjanjian , Intermasa Jakarta, 1985.

Syahrani, Ridwan Seluk Beluk Dan Dasar Asas-Asas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 1995. Tim Penelitian dan Pengembangan Ilmu Dan Teknologi Kepolisian Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PPITK-PTIK), Tindak Pidana Teknologi Komunikasi Informasi/Cyber Crime Dan Upaya Penanggulangannya, Desember 2003.

Jurnal dan Majalah Sjahdeini, Sutan Remy, Sistem Pengamanan E-Commerce, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 18, Maret 2002 Internet Makalah karya Budi Rahardjo, Beberapa pokok pemikiran tentang Cyberlaw, www.securityfocus.com, 25 Juni 2008 Irawan Effendy, Mengulas Kelemahan UU ITE, http://www.isocid.net, 30 Juli 2008 Peraturan Perundangan-Undangan Undang-undang Dasar 1945 Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 2009