Você está na página 1de 2

Edisi 5/Th.

2 (Januari-Pebruari 2007)
Diterbitkan oleh:

biocert@biocert.or.id Media Informasi Standar, Regulasi dan Info Pasar Produk Organik

www.biocert.or.id

Tren Konsumen Organik di Jepang


Jepang didominasi oleh penduduk yang berumur lebih dari 60 tahun. Tidak heran mengapa kelompok konsumen tua ini lebih banyak memilih produk organik dibandingkan produk konvensional karena bebas bahan kimia, aman dikonsumsi dan dipercaya dapat meningkatkan kesehatan. Pasar organik Jepang sangat dipengaruhi oleh tren gaya hidup (life style) penduduknya. Masyarakatnya didominasi oleh orang tua, kaum muda yang cenderung hidup sendiri atau mempunyai keluarga kecil dengan satu orang anak. Konsumen yang hidup sendiri dan tidak punya banyak waktu untuk memasak, akan cenderung memilih produk organik yang segar dan siap dimakan (olahan). Sedangkan konsumen yang hidup berkeluarga dengan satu orang anak (keluarga kecil) akan cenderung memilih produk organik yang berukuran tidak terlalu besar. Harga produk organik yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga produk non-organik tidaklah menjadi penghalang bagi masyarakat Jepang untuk mengkonsumsinya. Masyarakat Jepang percaya bahwa dengan mengkonsumsi produk organik, mereka mendapatkan kehidupan yang harmoni dengan alam dan sekaligus berperan aktif di dalam pelestarian lingkungan. Perilaku Pasar Organik Jepang merupakan pasar produk pangan organik terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS). Produk sayuran organik segar yang populer di Jepang adalah kentang, lobak, wortel, bawang, ubi, bayam, selada, kubis, tomat, mentimun, paprika hijau, labu dan terung. Sementara jeruk, apel, stroberi, melon dan semangka merupakan buah-buahan yang favorit di pasar Jepang. Hanya saja, Jepang amat membatasi produk organik impor karena konsumen Jepang mengkhawatirkan terkontaminasinya pestisida dalam produk organik tersebut. Konsumen Jepang berpendapat bahwa standar keamanan produk organik luar negeri tidak seketat standar organik yang berlaku di Jepang, meskipun peraturan AS mengenai penggunaan pestisida untuk produk pertanian konvensional lebih ketat dan memaksa dibandingkan dengan peraturan Jepang. Berbeda halnya dengan produk olahan organik, pasar Jepang bergantung pada impor karena permintaan produk olahan organik di negeri ini melebihi persediaan sementara produksi lokalnya sangat terbatas. Permintaan produk olahan organik di Jepang meliputi daging sapi, wine, mie, tempe, pasta, minyak, saus dan ingredien organik. Harga jual produk organik di Jepang rata-rata 10 20% lebih tinggi dari harga jual produk konvensional. Harga jual bervariasi tergantung pada aliran distribusi. Harga jual produk organik akan lebih murah apabila langsung dibeli dari produsen, namun akan lebih tinggi 40% apabila dibeli di supermarket. Meningkatnya permintaan produk olahan organik tersebut disebabkan oleh kepercayaan konsumen Jepang terhadap produk olahan organik sebagai produk yang aman dikonsumsi. Selain itu, konsumen Jepang umumnya menganggap produk olahan organik juga baik untuk kesehatan, rasanya lebih enak dan lebih bergizi. **(fns)

Jepang:

Indonesia:

Pengawasan dan Labelisasi Pangan Olahan Organik


Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) akan mengawasi produk olahan organik. Produk olahan yang dapat dilabel sebagai Produk Organik bila produk lahan tersebut mengandung ingredien organik sekurang-kurangnya 95% dari total berat/volume produk, tidak termasuk air dan garam. Persyaratan tersebut sesuai dengan SNI yang membatasi penggunaan ingredien nonorganik di dalam produk pangan olahan organik. Selain itu, pelabelan pangan organik juga diatur. Pangan olahan organik boleh mencantumkan label Organik dengan ukuran huruf tidak lebih besar dari ukuran huruf nama produk olahan yang bersangkutan. Labelisasi tidak membolehkan pencantuman keterangan yang menunjukkan kelebihan pangan seperti lebih sehat, lebih aman, lebih ramah lingkungan, bebas pestisida, no pesticide, pesticide free atau istilah lain yang bermakna sama. Demikian beberapa butir hasil Sosialisasi Rancangan Peraturan Kepala Badan POM tentang Pengawasan Pangan Olahan Organik dan Pedoman Pelabelan Pangan Olahan Organik di Jakarta, 13 dan 15 Desember 2006. Muncul usulan-usulan mengenai Rancangan Peraturan Kepala BPOM tersebut, diantaranya peraturan ini akan mengacu pada SNI jika SNI diwajibkan (mandatory), namun bila tidak diwajibkan, maka peraturan tersebut akan mengacu pada Codex. Selain itu, mengemuka juga usulan mengenai pencantuman nama lembaga sertifikasi yang mensertifikasi produk olahan organik yang dihasilkan. Namun, sosialisasi tersebut belum memperoleh suatu kesepakatan mengenai mengenai apa yang dimaksud dengan produk olahan organik dan seperti apa pengolahan organik, sehingga harus terjadi pemisahan SNI menjadi SNI Pangan Segar Organik dan SNI Pangan Olahan Organik. **(mmd)

Newsletter TRUST In Organic Penerbit: BIOCert. Pemimpin Redaksi: Familia NS. Staf redaksi: Agung Prawoto, MM Diyan. Design Grafis: Andreas Setiawan. Alamat: Jl. Portibi M II No.2 Perum Cimanggu Permai I Bogor 16313-INDONESIA. Telp/Fax. (62251) 325605. Email: biocert@biocert.or.id. Website: www.biocert.or.id.

Didukung oleh:

Uni Eropa:

Jerman:

Revisi Kebijakan Impor Ke Eropa


Pada akhir bulan Desember 2006, Komisi Uni Eropa mempublikasikan peraturan baru tentang impor produk organik. Prosedur baru tersebut mulai diberlakukan pada bulan Januari 2007 dan juga akan diadaptasikan dalam Regulasi Umum Uni Eropa yang baru sampai pada tahun 2009.

Diskon Produk Organik di Pasar Lokal


Harga produk organik di Jerman 17% lebih tinggi dibandingkan dengan produk konvensional. Tetapi pada tahun 2005, tokotoko eceran produk organik mulai memberlakukan diskon yang cukup tinggi terhadap produk organik yang dijualnya. Potongan harga tersebut ternyata menarik minat konsumen untuk membeli produk organik. Penjualan produk organik yang didiskon meningkat. Di tahun 2005, penjualan produk organik yang memperoleh diskon mencapai 75% dan meningkat menjadi 80% di tahun 2006. Sejak saat itu, diskon produk organik tetap diberlakukan di hampir semua toko eceran. Diskon produk organik di Jerman telah membentuk perilaku konsumen yang bermacam-macam. Hampir separuh konsumen produk organik diskon merupakan kelompok kosumen coba-coba, sepertiganya merupakan kelompok konsumen yang ikut-ikutan, dan sisanya adalah kelompok konsumen utama. Kelompok pertama ingin mencoba coba mengkonsumsi produk organik hanya pada saat ada diskon, sedangkan kelompok yang kedua akan membeli produk organik dalam jumlah yang sangat besar pada saat ada diskon. Kelompok konsumen yang ketiga adalah konsumen produk organik sejati yang tidak terpengaruh oleh diskon dan tetap membeli produk organik meskipun tidak ada diskon.**(fns)

Revisi prosedur impor tersebut menggantikan sistem otoritas impor yang berlaku sekarang (sementara) mengenai sistem penerimaan lembaga inspeksi yang ada di negara-negara di luar Uni Eropa. Sistem penerimaan tersebut dikenal sebagai Daftar Negara Ketiga Dalam revisi regulasi ini, produk impor harus disertifikasi oleh lembaga atau otoritas inspeksi yang diakui oleh Komisi Uni Eropa. Uni Eropa akan menerbitkan daftar lembaga / otoritas inspeksi dan negaranegara ketiga yang diakui di dalam tiga daftar berbeda. Daftar pertama berisi lembaga-lembaga inspeksi yang telah terakreditasi berdasarkan EN 45011/ISO 65 dan menerapkan sistem inspeksi dan peraturan produksi sesuai dengan regulasi Uni Eropa. Daftar kedua mengenai lembaga-lembaga inspeksi yang menerapkan sistem inspeksi dan standar produksi yang sama dengan regulasi Uni Eropa. Dan daftar ketiga mengenai daftar negara-negara yang mempunyai sistem produksi yang memenuhi kesetaraan dengan ketentuan produksi dan inspeksi Uni Eropa. Pada daftar pertama dan kedua, lembaga inspeksi yang berasal dari negara-negara di dalam dan di luar Uni Eropa akan memberikan laporan penilaian yang dikeluarkan oleh lembaga otoritas akreditasi atau yang sejenis mengenai evaluasi rutin di lapangan, monitoring dan penilaian tahunan dari kegiatan lembaga-lembaga inspeksi kepada Komisi Uni Eropa. Komisi Uni Eropa kemudian menugaskan ahli untuk melakukan penilaian di lapangan guna memastikan bahwa pengawasan dilakukan dengan rutin dan sesuai dengan kriteria Uni Eropa. Dengan asumsi ini, Uni Eropa tidak akan selalu mengawasi lembaga inspeksi namun mempercayakan pada laporan yang diberikan oleh lembaga kompeten seperti lembaga akreditasi nasional atau IOAS (International Organic Accreditation Services). Untuk pilihan kedua dan ketiga, produk impor harus memiliki sertifikat inspeksi. Sementara kedepannya, Codex Alimentarius akan mempertimbangkan penilaian kesetaraan untuk pilihan kedua dan ketiga ini. Uni Eropa belum memiliki peraturan penerapan prosedur impor yang baru, termasuk bagaimana dan kapan lembaga inspeksi boleh mendaftarkan pengakuan dan kapan daftar pertama lembaga-lembaga inspeksi yang telah diterima akan dipublikasikan. Namun negaranegara anggota Uni Eropa dapat menjadi otoritas impor mulai 1 Januari 2007 dan berakhir selama 12 bulan setelah publikasi pertama daftar lembaga dan otoritas inspeksi yang diakui.**(fns) Sumber: Beate Huber-FiBL Jerman

INFO PRODUK

Hubungi

Menyediakan Mete Kacipan dan Gelondongan

JPKP BUTON

INFO PASAR
Sekelompok pengusaha Amerika membutuhkan bibit kentang dan sayuran organik untuk dikembangkan di Amerika Serikat. Syarat: bibit berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan/atau Jawa Timur. Informasi lebih lanjut hubungi Indonesian Trade Promotion Centre-Los Angeles dengan Mia (itpcla@sbcglobal.net).***(sny)

Jl. Sipanjonga No. 12, Bau-bau, Sulawesi Tenggara 93725. E-mail: jpkpbuton@yahoo.com; Telp.: 081341527125. Penghubung: Andi Ahmad Yani.

INFO PRODUK, media informasi produk organik dan produk ramah lingkungan. Untuk pemuatan informasi produk Anda, silahkan menghubungi Familia NS di 0251-325605/ familia@biocert.or.id. Untuk menjamin keorganikan produk, pastikan kemasan produk organik memiliki logo ini

Layanan komunikasi online BIOCert melalui Yahoo!messenger di: biocert_indo dan biocert_lso 2