Você está na página 1de 9

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses menua (aging) merupakan suatu perubahan

progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan, intrinsik dan bersifat irreversibel serta menunjukkan

adanya kemunduran sejalan dengan waktu. Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik,

psikologis maupun sosial saling berinteraksi satu sama lain. Proses menua yang terjadi Pada lansia secara linear dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu, kelemahan

(impairement), limitation),

keterbatasan ketidakmampuan

fungsional

(functional dan

(disability)

keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersama dengan proses kemunduran (Bondan p, 2006). Pandangan sebagai manusia sebagian yang masyarakat mampu, menganggap lemah dan lansia sakit

tidak

sakitan menyebabkan mereka memperlakukan lansia sebagai manusia yang tidak berdaya, sehingga segala aktivitaspun sangat dibatasi yang berakibat untuk menjaga pada menurunnya lansia banyak bagi untuk

produktivitas, baik secara

padahal

kesehatan harus

fisik

maupun

jasmani

lansia yang

melakukan

aktivitas-aktivitas Lanjut usia

berguna mampu

kehidupannya.

diharapkan

menyesuaikan

diri

dengan

menurunnya

kemampuan

dan

kesehatan secara bertahap. Berubah menjadi lansia bukan merupakan suatu

penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Penurunan

kemampuan berbagai organ, fungsi dan system tubuh itu bersifat alamiah atau fisiologis. Penurunan tersebut

disebabkan berkurangnya jumlah dan kemampuan sel tubuh disamping akibat perubahn-perubahan organ lainnya. Pada umumnya tanda proses menua mulai tampak sejak usia 45 tahun dan akan menimbulkan masalah pada usia sekitar 60 tahun, dimana pada usia ini berbagai penyakit

degenerative seperti penyakit sistem paru, kardiovaskuler cepat terjadi akibat dari peningkatan usia. Penduduk lanjut usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat

Statistika NTB pada tahun 2006,

Saat ini di seluruh

dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta orang dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di Amerika

Serikat pertambahan orang lanjut usia 1000 orang perhari pada tahun 1985. Di Indonesia sendiri Pada tahun 1990

jumlah penduduk lansia di Indonesia sebanyak 12.767.709 jiwa, dan pada jiwa. tahun Pada 2000 tahun jumlah 2020 meningkat menjadi akan

17.767.121

diperkiraan

mencapai 28.822.879 jiwa. Sedangkan di NTB sendiri jumlah penduduk lansia tahun 2008 mencapai 126.736 jiwa dan pada tahun 2009 terjadi peningkatan jumlah lansia yaitu 280. 938 jiwa dari total penduduk NTB yang berjumlah 4.434.012 jiwa. Meningkatnya jumlah penduduk lansia maka tidak

sedikit masalah yang bisa timbul sebagai dampak penuaan. Masalah keperawatan yang menonjol pada kelompok lansia adalah meningkatnya pada disability merupakan fungsional. respon Disability sejalan

fungsional

lansia

tubuh

dengan bertambahnya umur seseorang dan proses kemunduran yang diikuti dengan munculnya gangguan fisiologis,

gangguan afektif, gangguan kognitif, dan penurunan fungsi yang salah satunya adalah kemampuan aktivitas. Secara umum kegiatan pelayanan perawatan kesehatan selain ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan,

juga lebih diarahkan pada peningkatan derajat kemandirian usia lanjut. Diharapkan para usia lanjut mampu

melaksanakan aktivitas seharihari sesuai dengan keadaan fisiknya. Namun pada kenyataannya sebagian besar dari

lansia masih memerlukan bantuan dalam memerlukan kegiatan sehari hari. Program rekresai bagi lansia sbagai salah

satu pelayanan yang terkait dengan pendekatan budaya.

sosial

Jenis pelayanan ini sangat bervariasi, mengingat

heterogennya populasi lansia yang ada yang disertai aspek fungsional individu lansia yang tergantung pada fisik, psikis dan sosial ekonomi, maka akan terdapat banyak

segi program rekreasi bagi lansia. Hasil penelitian oleh Endrik Hendriko di Dususn

Gamping Lor Sleman Yogyakarta menunjukkan hubungan sosial yang salah satunya adalah rekreasi berpengaruh besar

terhadap kemampuan lansia dalam melakukan aktivitas dasar sehri-hari. Peran keluarga juga sangat diperlukan 61,4% lansia mandiri dalam melakukan aktivitas dasar seharihari, dimana salah satu dukungan keluarga berupa dukungan sosial, penghargaan terhadap lansia (Hendriko, 2009). Rekreasi dapat menyegarkan otak, pikiran dan

melemaskan otot yang telah lelah karena aktivitas seharihari. Rekreasi tidak harus mahal, dapat disesuaikan

dengan kondisi dan kemampuan. Rekreasi dapat dilakukan di pantai dekat rumah, taman dekat rumah atau halaman rumah jika mempunyai halaman yang luas bersama keluarga dan anak cucu, duduk bersantai di alam terbuka. Dari Artikel Terapi Bernyanyi Oleh Imam Subagio (2009), dikatakan

bahwa kegiatan karaoke yang intinya adalah bernyani di Jepang digunakan untuk terapi pasien stroke supaya cepat sembuh dan begitu juga halnya untuk lansia, karena dengan

terapi bernyanyi pasien dapat mengurangi ketegangan dan bisa menggembirakan hati dan ritme musik dapat membantu otak mengenali ritme internal pada otak sehingga

aktivitas lansia dapat lebih baik. Berdasarkan data terahir yang diperoleh dari PSTW Puspakarma Mataram, jumlah lansia pada bulan Desember

2010 adalah sebanyak 82 orang, dimana lakilaki sebanyak 30 orang dan perempuan 52 orang. Dari jumlah tersebut lansia yang aktivitas sehariharinya mandiri sebanyak 70 orang, dan yang aktivitas sehari-harinya dibantu sebanyak 12 orang, baik dibantu ringan, moderat, berat dan total. Untuk meningkatkan derajat kesehatan lansia, pelayanan yang ada Di Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram adalah pengasramaan, pelayanan sandang dan pangan,

pelayanan kesehatan, bimbingan fisik, dan mental seperti senam dua kali seminggu, bimbingan kerohanian,

keterampilan mengisi waktu luang, rekreasi atau ziarah yang dilakukan sekali dalam setahun. Melihat aktivitas lansia yang semakin menurun akibat bertambahnya umur,

seharusnya lansia lebih

banyak meluangkan waktu untuk seperti rekreasi

melakukan aktivitas yang menyenangkan bernyanyi

yang bertujuan untuk membentuk, meningkatkan

kembali kesegaran fisik, mental, pikiran dan mempertinggi daya kreasi dalam bekerja serta meningkatkan kepercayaan diri pada lansia, sehingga lansia lebih bersemangat

dalam

melakukan

aktivitas

sehari-harinya.

Khususnya

rekreasi bernyanyi yang memiliki manfaat yang baik untuk otak dan fisik. Oleh karena itu peneliti bermaksud

mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai Efektifitas Rekreasi bernyanyi terhadap Perubahan Aktivitas Seharihari Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma

Mataram. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat

dirumuskan permasalahan sebagi berikut: Apakah Rekreasi Bernyanyi hari Efektiv Di terhadap Perubahan Aktivitas SehariSosial Tresna Werdha Puspakarma

Lansia

Panti

Mataram ? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui efektivitas Rekreasi Bernyanyi Terhadap Perubahan Aktivitas Sehari-hari pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram. 2. Tujuan khusus a. Mengidentifikasi kemampuan aktivitas sehari-hari

pada lansia sebelum dan setelah rekreasi bernyanyi dilakukan

b. Menganalisis terhadap lansia. D. Manfaat Penelitian Adapun hasil

efektivitas

rekreasi

bernyanyi pada

perubahan

aktivitas

sehari-hari

penelitian

ini

diharapkan

dapat

memberi manfaat bagi : 1. Bagi peneliti Bagi peneliti, penelitian ini bermanfaat untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang ilmu keperawatan gerontik dan meningkatkan pengetahuan dalam memberikan asuhan keperawatan gerontik. 2. Bagi Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram Bagi Mataram Panti Sosial Tresna bahan Werdha masukan Puspakarma yang dapat

akan

mendapatkan

digunakan dalam meningkatkan pelayanan dan perawatan klien lansia dan sebagai menggunakan salah satu institusi ini untuk

pendidikan

dapat

penelitian

menambah dan mengembangkan literatur dalam pendidikan keperawatan gerontik. 3. Institusi pendidikan Bagi institusi pendidikan Sebagai salah satu referensi, untuk meningkatkan pengetahuan dan riset

keperawatan pada Sekolah Tinggi Kesehatan Mataram.

4. Bagi peneliti lain Sebagai data awal untuk penelitian selanjutnya. E. Keaslian Penelitian Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Made Tama Endrawan (2006), yang meneliti tentang Hubungan

Pelayanan Keperawatan Kesehatan Lansia dengan Peningkatan Kemandirian Puspakarma deskriptif. wawancara, Lansia Di Panti Sosial Tersna Werdha

Mataram yang menggunakan metode penelitian Cara pengumpulan data yaitu sampel dengan metode

tehnik

pengambilan

proporsional

systematic random sampling, dan untuk mengetahui hubungan pelayanan keperawatan kesehatan lansia dengan peningkatan kemandirian lansia maka, dilakukan uji analisis range

spearmen dengan tingkat signifikan 0,01. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan pelayanan perawatan

kesehatan dengan kemandirian usia lanjut. Pada penelitian kali ini tentang Efektifitas

Rekreasi bernyanyi Terhadap Peningkatan Aktivitas Seharihari Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Puspakarma Mataram. Penelitian ini mengguanakan metode penelitian pre eksperimen sampling yang (one yaitu group pre post test) dengan

metode

sampling yaitu

jenuh, pedoman

dan

instrument dan

penelitian

digunakan

observasi

pedoman wawancara, analisa data yang digunakan yaitu uji t berpasangan (paired t-test).