Você está na página 1de 16

(Assalamualaikum)

Kelompok 3 Ayu Putri Handini Eko Rokhmatika Farikha Ita Indah Lestari Seno pamungkas

Materi yang akan kita sampaikan adalah.... Sewa-menyewa Mudzarabah

Sewa-menyewa
Istilah dalam Islam Sewa-menyewa dalam Islam biasa disebut ijarah semua barang yang mungkin diambil manfaatnya dengan tetap zatnya, sah untuk disewakan, apabila kemanfaatannya itu dapat ditentukan dengan salah satu dari dua perkara, yaitu dengan masa dan perbuatan.

Makna Sewa-menyewa dan Ijarah


Sewa-menyewa artinya melakukan akad mengambil manfaat sesuatu yang diterima dari orang lain dengan jalan membayar sesuai dengan perjanjian yang telah ditentukan. Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyah) atas barang itu sendiri.

Rukun dan Syariat Ijarah Rukun-rukun dan syarat-syarat ijarah adalah sebagai berikut: 1. Adanya Mujir dan Mustajir yaitu orang yang melakukan akad sewa-menyewa atau upah mengupah. 2. Ijab kabul antara mujir dan mustajir, ijab kabul sewa-menyewa dan upah-mengupah. 3. Adanya saksi dari kedua belah pihak..

Makna dan syarat Mujir dan Mustajir


Mujir adalah orang yang memberikan upah dan yang menyewa. Mustajir adalah orang yang menerima upah untuk melakukan sesuatu dan yang menyewa sesuatu Syarat untuk menjadi mujir dan mustajir adalah baligh, berakal, cakap melakukan tasharuf (mengendalikan harta).

Contoh Melakukan Ijarah


Ijab kabul sewa-menyewa misalnya : Andi (mujir) menyewakan mobil kepada Ali (mustajir).Andi menyerahkan upah-mengupah kepada Ali untuk dicangkuli dengan upah setiap hari Rp 5000, kemudian Ali menjawab: aku akan kerjakan pekerjaan itu sesuai dengan apa yang engkau ucapkan .

Pembatalan dan Berakhirnya Ijarah


Di dalam ijarah, akad tidak membolehkan adanya fasakh pada salah satu pihak, karena ijarah merupakan akad pertukaran, kecuali bila didapati hal-hal yang di wajibkan fasakh (batal). Ijarah akan menjadi batal (fasakh) bila ada hal-hal sebagai berikut: Terjadi cacat pada barang sewaan yang kejadian itu terjadi pada tangan penyewa rusaknya barang yang disewakan, seperti rumah menjadi runtuh dan sebagainya rusaknya barang yang diupahkan karena baju yang diupahkan untuk dijahitkan terpenuhinya manfaat yang diakadkan, berakhirnya masa yang telah ditentukan menurut Hanafiah, boleh terjadi fasakh (batal) dari salah satu pihak seperti yang menyewa toko untuk dagang kemudian dagangannya ada yang mencuri, maka ia dibolehkan memfasakh sewaan itu.

1.

2.
3. 4. 5.

Manfaat dan resiko yang harus diantisipasi


Manfaat dari transaksi al-Ijarah untuk bank adalah keuntungan sewa dan kembalinya uang pokok. Adapun resiko yang mungkin terjadi dalam al-Ijarah adalah sebagai berikut: Default : Nasabah tidak membayar cicilan dengan sengaja Rusak : Aset ijarah rusak sehingga menyebabkan biaya pemeliharaan bertambah, terutama bila disebutkan dalam kontrak bahwa pemeliharaan harus dilakukan oleh bank. Berhenti : Nasabah berhenti di tengah kontrak dan tidak mau membeli aset tersebut. Akibatnya, bank harus menghitung kembali keuntungan dan mengembalikan sebagian kepada nasabah.

Mudzarabah
Makna Mudzarabah
Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul amal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian di awal. Bentuk ini menegaskan kerja sama dengan kontribusi seratus persen modal dari pemilik modal dan keahlian dari pengelola.

Ketentuan dalam Mudzarabah


Transaksi Mudzarabah tidak mewajibkan adanya wakil dari shahibul maal dalam suatau kerjasama. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi akibat kelalaian dan tujuan penggunaan modal untuk usaha halal. Sedangkan, shahibul maal diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba yang optimal.

Tipe-Tipe Mudzarabah

Mudharabah Mutlaqah

Mudharabah Muqayyadah

Syarat-syarat Mudzarabah
1. Berdasarkan prinsip berbagi hasil dan berbagi risiko, diantaranya: Keuntungan dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya Kerugian finansial menjadi beban pemilik dana sedangkan pengelola tidak memperoleh imbalan atas usaha yang telah dilakukan. 2. Pemilik dana tidak diperbolehkan mencampuri pengelolaan bisnis sehari-hari.

(Alhamdulillah)

( Wassalamualaikum)