Você está na página 1de 6

Laporan Praktikum Biokimia Klinis

Hari/Tanggal : Rabu/16 Maret 2011 Waktu : 13.00-16.00 WIB PJP : Dimas Andrianto, S.Si. M.Si. Asisten : Rahmi Maydina

FOSFOR DARAH
Kelompok 18

Rian Triana Annisa Rosiana Ines Marisya

G84080004 G84080038 G84080083

DEPARTEMEN BIOKIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2011

Pendahuluan Mineral merupakan senyawa anorganik dan tidak disintesis dalam tubuh. Mineral yang dibutuhkan oleh tubuh diperoleh melalui makanan. Tidak seperti karbohidrat, lemak, dan protein, mineral tidak menghasilkan energi. Sebagian besar mineral larut dalam air sehingga mudah untuk diabsorbsi dan mudah untuk diekskresikan dalam urin maupun feses. Sekitar 20-30 g mineral diekskresikan tiap hari. Mineral dibagi menjadi dua kelompok yaitu mineral makro nutrien dan mikro nutrien. Mineral makro nutrien dibutuhkan oleh tubuh dalam jumLah besar (lebih dari 100 mg per hari) sedangkan mineral mikro nutrien dibutuhkan dalam jumLah sedikit (kurang dari 100 mg per hari). Natrium, kalsium, kalium, klorida, fosfor, dan magnesium termasuk ke dalam mineral makro nutrien. Besi, zink, tembaga, iodin, fluorin, selenium, mangan, molybdenum, kobalt, dan kromium termasuk ke dalam mineral mikro nutrien (Rao 2006). Salah satu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah banyak adalah fosfor. Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak di dalam tubuh setelah kalsium, yaitu 1% dari berat badan. Seseorang yang memiliki berat badan 65 kg kurang lebih mengandung fosfor dalam tubuhnya sebanyak 600 g (Koolman 2005). Fosfor merupakan anion utama dalam cairan intraseluler. Sekitar 85% fosfor terletak dalam tulang dan gigi, 14% dalam jaringan lunak, dan kurang dari 1% dalam cairan ekstraseluler (Mima M dan Horne 2001). Fosfor terdapat juga di dalam semua sel tubuh, baik di dalam otot maupun di dalam cairan ekstraselular. Kadar normal serum fosfor berkisar 2,5 dan 4,5 mg/dL dan dapat setinggi 6 mg/dL pada bayi dan anak-anak. Fosfor dalam tubuh ada yang berupa fosfolipid sebagai komponen struktural dinding sel dan juga sebagai fosfat organik yang berperan dalam penyimpanan atau pelepasan energi dalam bentuk Adenin Trifosfat (ATP) (Almatsier 2004). Fosfor penting untuk fungsi otot dan sel-sel darah merah, pembentukan adenosine trifosfat (ATP) dan 2,3-difosfogliserat (DPG), dan pemeliharaan keseimbangan asam-basa, juga untuk sistem saraf dan perantara metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak (Mima M dan Horne 2001). Selain itu, Fosfor berperan pula dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa (Pudjiadi 2000) dan untuk pembentukan tulang dan gigi (Winarno 1992).

Dalam bahan pangan, fosfor terdapat dalam berbagai bahan organik dan anorganik. Sumber utama fosfor bagi tubuh adalah makanan berupa daging, susu, sayuran, dan sereal. Biji-bijian terutama bagian lembaganya dan biji-bijian yang utuh (pecah kulit) juga banyak mengandung fosfor. Bahan pangan yang kaya protein dan kalsium biasanya juga kaya akan fosfor (Winarno 1992). JumLah fosfor yang dibutuhkan oleh tubuh per harinya kurang lebih 0.8 g (Koolman 2005). Enzim dalam saluran pencernaan membebaskan fosfor yang anorganik dari ikatannya dengan bahan organik. Sebagian besar fosfor diserap tubuh dalam bentuk anorganik, khususnya di bagian atas duodenum yang bersifat kurang alkalis 70% yang dicerna akan diserap (Winarno 1992).

Tujuan Percobaan ini bertujuan menganalisis fosfor darah sehingga mahasiswa mengerti prinsip biokimia yang terjadi dalam proses analisis tersebut.

Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada percobaan antara lain tabung reaksi, pipet volumetrik, tabung sentrifugasi, mesin sentrifugasi, vortex, dan spektrofotometer. Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan antara lain reagen campuran antara larutan molibdovanadat dan HCl 5M (1 : 1), larutan fosfor standar, serum darah sapi, dan larutan TCA 5%.

Prosedur percobaan Standar fosfor dibuat dengan konsentrasi 0.1, 0.25, dan 0.5 mg/mL. Sebanyak 2 mL tiap standar tersebut ditambahkan 6 mL akuades dan 2 mL reagen campuran molibdovanadat dan HCl. Kemudian serapannya dibaca pada panjang gelombang 400 nm. Data yang diperoleh dibuat kurva standarnya. Sampel dibuat dari 1 mL serum sapi dan ditambahkan 4 mL TCA 5%. Tabung dihomogenasi dengan vortex lalu di sentrifugasi pada 3000 rpm selama 15 menit. Supernatan yang terbentuk diambil sebanyak 2 mL lalu ditambahkan 6 mL akuades serta reagen campuran molibdovanadat dan HCl sebanyak 2 mL. Serapannya dibaca pada panjang gelombang 400 nm.

Hasil Pengamatan Tabel 1 Konsentrasi fosfor darah


Larutan Blanko Standar 0.010 mg/mL Standar 0.025 mg/mL Standar 0.050 mg.mL Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 Absorban 0.000 0.077 0.182 0.753 0.248 0.181 0.173 Kadar fosfor sebenarnya (mg/dL) 5.0 12.5 25.0 11.6220 9.7085 9.4805 Rata-rata (mg/dL)

10.2703

Contoh perhitungan: Persamaan garis y = 0.1751x 0.159; r = 97.24% Sampel 1 (A=0.248) 0.248 = 0.1751x 0.159 0.248 + 0.159 = 0.1751x 0.407 = 0.1751x x = 2.3244 mg/dL Kadar fosfor sebenarnya = x mg/dL x FP = 2.3244 mg/dL x 5 = 11.6220 mg/dL Rata-rata
0.8 0.7 0.6 Absorban 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 1 2 3 Kadar fosfor (mg/dl) 4 5 6 y = 0.1751x - 0.158 r = 97.24%

= 10.2703 mg/dL

Gambar 1 Kurva hubungan konsentrasi standar dengan absorban

Pembahasan Percobaan yang dilakukan, yaitu menentukan kadar fosfor dalam plasma darah sapi. Hasil pengukuran fosfor dalam plasma darah sapi menunjukkan jumlah rata-ratanya, yaitu 10.2703 mg/dL. Kadar fosfor normal pada plasma darah sapi adalah 5.34 7.38 mg/dL. Penentuan kadar fosfor berdasarkan reaksi antara fosfor yang terkandung dalam plasma dengan molibdovanadat dan HCl sehingga menimbulkan kompleks warna yang dapat diukur dengan

spektrofotometer pada panjang gelombang 400 nm. Prinsip penentuan kadar fosfor dengan spektrofotometer adalah berdasarkan hukum Lambert-Beer. Hukum ini menyatakan bahwa konsentrasi larutan standar berbanding langsung dengan nilai serapan cahaya (absorban) (Bintang 2010). Fungsi fosfor bagi tubuh, yaitu: (1) penyusun tulang dan gigi sebagai hidroksiapatit; (2) dibutuhkan dalam sintesis asam nukleat; (3) komponen buffer darah; (4) dibutuhkan dalam sintesis fosfolipid; (5) komponen senyawa berenergi tinggi seperti ATP, GTP, dan lain-lain; (6) berperan dalam modifikasi berbagai macam enzim dan protein seluler; (7) dibutuhkan dalam pembentukan koenzim vitamin larut air seperti piridoksin dan tiamin; (8) komponen dalam metabolic antara seperti glukosa-6-fosfat; (9) dibutuhkan dalam sintesis protein susu kasein yang merupakan fosfoprotein; dan (10) merupakan komponen secondary messenger seperti cAMP, cGMP, dan lain-lain (Rao 2006). Jumlah normal fosfor anorganik plasma dalam tubuh adalah 2.5-4.5 mg. Pada anak-anak jumlahnya dapat mencapai 4-6 mg. Fosfor merupakan komponen pada berbagai makromolekul sehingga menjaganya pada tingkat normal dalam plasma merupakan hal yang penting. Tingkat fosfor plasma setara dengan

berbagai macam faktor pada kondisi normal seperti yang diperlihatkan pada gambar 2. Meskipun demikian, PTH, kalsitonin, dan kalsitriol adalah faktor utama yang mempengaruhi kadar fosfor plasma. Ketiganya menjaga kadar fosfor plasma dengan bekerja pada ginjal. PTH dan kalsitonin mengurangi reabsorbsi fosfor sedangkan kalsitriol meningkatkan reabsorbsi fosfor dalam tubula ginjal (Rao 2006). Kekurangan fosfat terjadi akibat adanya gangguan pada absorbsi atau kehilangan berlebih pada ginjal. Kekurangan fosfor dalam tubuh disebut

Gambar 2 Faktor-faktor yang mengatur kadar fosfor plasma

hipofosfatemia. Kadar fosfor plasma berkurang pada kasus kelebihan hormon paratiroid, sindrom Fanconi, dan kekurangan vitamin D. Kelebihan insulin juga dapat mengakibatkan kadar fosfor plasma rendah. Kelebihan fosfor disebut hiperfosfatemia. Kelainan ini terjadi ketika ginjal gagal membuang fosfor dari dalam tubuh. Hiperfosfatemia terjadi pada nefritis kronis yang merupakan gejala gagal ginjal. Hipoparatiroid dan hipervitaminosis dari vitamin D merupakan penyakit yang juga menyebabkan hiperfosfatemia (Rao 2006). Simpulan Kadar fosfor pada plasma darah sapi didapat 11.6220, 9.7085, dan 9.4805 mg/dL dengan rata-rata 10.2703 mg/dL. Kadar fosfor yang berbeda dengan literatur mungkin diakibatkan adanya gangguan kesehatan pada sapi tersebut. Fosfor merupakan mineral yang memiliki banyak fungsi dalam tubuh. Kekurangan fosfor akan menyebabkan penyakit hipofosfatemia sedangkan kelebihan fosfor akan menyebabkan hiperfosfatemia.

Daftar pustaka Almatsier S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Bintang M. 2010. Biokimia-Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga. Koolman J dan Roehm KH. 2005. Color Atlas of Biochemistry, 2nd Edition. New York: Thieme Stuttgart. Mima M dan Horne. 2001. Keseimbangan Cairan Elektrolit dan Asam. Jakarta: EGC. Rao NM. 2006. Medical Biochemistry. New Delhi: New Age International (P) Ltd. Winarno FG. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.