Você está na página 1de 18

AKHLAK MADZMUMAH

A. PENDAHULUAN Ajaran islam adalah ajaran yang bersumber pada wahyu Allah, Al-Quran dalam penjabarannya terdapat pada hadis Nabi Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam Islam mendapat perhatian yang sangat besar. Berdasarkan bahasa, akhlak berarti sifat atau tabiat. Berdasarkan istilah, akhlak berarti kumpulan sifat yg dimiliki oleh seseorang yang melahirkan perbuatan baik dan buruk. Konsep Akhlak menurut Al-Ghazali adalah sifat yg tertanam dalam jiwa seseorang, darinya lahir perbuatan yang mudah tanpa pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Akhlak meliputi jangkauan yang sangat luas dalam segala aspek kehidupan. Akhlak meliputi hubungan hamba dengan Tuhannya (vertikal) dalam bentuk ritual keagamaan dan berbentuk pergaulan sesama manusia (horizontal) dan juga sifat serta sikap yang terpantul terhadap semua makhluk (alam semesta). Bagi seorang muslim, akhlak yang terbaik ialah seperti yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW karena sifat-sifat dan perangai yang terdapat pada dirinya adalah sifat-sifat yang terpuji dan merupakan uswatun hasanah (contoh teladan) terbaik bagi seluruh kaum Muslimin. Allah SWT sendiri memuji akhlak Nabi Muhammad SAW di dalam Al-Quran sebagaimana firman-Nya: Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak agung. (AlQalam:4) Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk berakhlak baik seperti yang terkandung dalam hadis: Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. B. PENTINGNYA AKHLAK DALAM PRIBADI MUSLIM Bidang akhlak adalah bidang yang amat penting dalam sIstem hidup manusia. Ini disebabkan oleh nilai manusia itu pada hakikatnya terletak pada akhlak dirinya. Semakin tinggi nilai akhlak diri seseorang itu maka makin tinggi pula nilai kemanusian pada dirinya. Akhlak ini jugalah yang membedakan antara insan dengan hewan dari segi perilaku, tindak-tanduk dan tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang tidak berakhlak adalah sama tarafnya dengan hewan malah lebih rendah dari itu. Firman Allah subhaanahu wa taaala: Dan sesugguhnya kami telah sediakan untuk neraka banyak sekali golongan jin dan manusia yang mana mereka mempunyai hati tetapi tidak mau mengerti dengannya, mempunyai mata tetapi tidak mau melihat dengannya, mempunyai telinga tetapi tidak mau mendengar dengannya, mereka itu seperti binatang malah lebih sesat, mereka ialah orang-orang yang lalai. (AlAraf:179). Akhlak mempunyai kedudukan paling tinggi dalam hirarki tamaddun ummat manusia. Oleh itu, masyarakat yang tidak mempunyai nilai akhlak tidak boleh dianggap sebagai masyarakat yang baik dan mulia walaupun mempunyai kemajuan yang dalam bidang ekonomi, teknologi dan

sebagainya. Akhlak terbagi menjadi dua : Akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah. Akhlak mahmudah seperti beribadah kepada Allah, mencintai-Nya dan mencintai makhluk-Nya karena Dia, dan berbuat baik serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah dan memulai berbuat sholeh dengan niat ikhlas, berbakti kepada kedua orangtua dan lainyya. Sedangkan akhlak madzmumah seperti ujub, sombong, riya', dengki, berbuat kerusakan, bohong, bakhil, malas, dan lain sebagainya. Akhlak mahmudah adalah sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang meridhoilah Allah dan mencintailah keluarga dan seluruh manusia dan diantara kehidupan mereka kepada seorang muslim. Sebaliknya akhlak madzmumah adalah asal penderitaan di dunia dan akhirat. D. AKHLAK MADZMUMAH Selain menjaga akhlak mahmudah, seorang muslim juga harus menghindari akhlak madzmumah yang meliputi: tergesa-gesa, riya (melakukan sesuatu dengan tujuan ingin menunjukkan kepada orang lain), dengki (hasad), takabbur (membesarkan diri), ujub (kagum dengan diri sendiri), bakhil, buruk sangka, tamak dan pemarah. Tahukah antum (pembaca) apa itu akhlak madzmumah? Akhlak madzmumah adalah akhlak yang dikendalikan oleh Syetan dan kita sama sekali tidak boleh memiliki akhlak yang demikian, karena akhlak madzmumah adalah akhlak yang tercela dan sangat-sangat harus kita jauhi. Kenapa? Karena ia bisa membuat hati kita membusuk dan sulit disembuhkan. Tubuh kita mungkin saja akan tetap terlihat sehat ketika kita berakhlak madzmumah ini, tetapi hati dan jiwa kita menderita dan tersiksa. Sebab ia bukanlah penyakit fisik, melainkan penyakit hati! Lalu, seperti apa sih penyakit hati itu? Seberapa besar bahaya yang dibawanya? Dan bagaimana cara menanggulanginya? Wabah penyakit hati lebih berbahaya dari penyakit apapun.. Saudaraku, jangan sampai terjangkit oleh wabah penyakit hati yang sangat ganas ini. Naudzubillah, summa naudzubillah! Bersabda Rasulullah SAW: Ketahuilah, didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, seluruhnya baik dan apabila daging itu buruk, buruklah seluruhnya Ketahuilah olehmu bahwa segumpal daging itu adalah kalbu (hati). (HR. Bukhari) Pernah dengar kisah putra Nabi Adam AS yang bernama Qabil dan Habil ? Qabil adalah sosok manusia pertama didunia yang terkena penyakit hati (madzmumah). Ketika ia hendak dikawinkan dengan saudara kembar Habil yang tidak cantik, sementara saudara kembarnya sendiri (Qabil) yang cantik yang bernama Iqlima akan dikawinkan dengan Habil, ia merasa iri. Kemudian Qabil protes kepada ayahnya sehingga akhirnya Nabi Adam AS menyuruh kedua anaknya itu untuk berkurban dengan catatan siapa yang kurbannya diterima oleh Allah SWT maka dialah yang berhak mengawini Iqlima. Kemudian ketika ternyata kurban Habil yang diterima, Qabil merasa dengki sehingga ia membunuh adiknya sendiri. Penyakit hati yang diderita oleh Qabil telah menobatkan dirinya menjadi manusia pertama didunia yang melakukan

kejahatan yaitu membunuh. Kita tentu tidak ingin menjadi pengikut Qabil bukan? Penyakit hati antara lain disebabkan karena ada perasaan iri: 1. Pengertian Iri Iri adalah sikap kurang senang melihat orang lain mendapat kebaikan atau keberuntungan. Sikap ini kemudian menimbulkan prilaku yang tidak baik terhadap orang lain, misalnya sikap tidak senang, sikap tidak ramah terhadap orang yang kepadanya kita iri atau menyebarkan isu-isu yang tidak baik. Jika perasaan ini dibiarkan tumbuh didalam hati, maka akan muncul perselisihan, permusuhan, pertengkaran, bahkan sampai pembunuhan, seperti yang terjadi pada kisah Qabil dan Habil. 2. Sebab-sebab Timbulnya Sifat Iri: Kalau kita cermati dari kisah Qabil dan Habil, kita dapat melihat bahwa sifat iri ini muncul karena : a. Adanya rasa sombong didalam diri seseorang b. Kurang percaya diri c. Kurang mensyukurui nikmat Allah d. Tidak merasa cukup terhadap sesuatu yang telah dimilikinya. e. Tidak percaya kepada qadha dan qadar. 3. Akibat (berbahayanya) sifat Iri : Sifat iri tidak pernah membawa kepada kebaikan, bahkan pasti membawa akibat buruk. Akibat dari sifat iri tersebut antara lain : a. Merasa kesal dan sedih tanpa ada manfaatnya bahkan bisa dibarengi dosa. b. Merusak pahala ibadah c. Membawa pada perbuatan maksiat, sebab orang yang iri tidak bisa lepas dari perbuatan menyinggung, berdusta, memaki, dan mengumpat. d. Masuk Neraka e. Mencelakakan orang lain f. Menyebabkan buta hati g. Mengikuti ajakan syetan h. Meresahkan orang lain i. Menimbulkan perselisihan dan perpecahan j. Meruntuhkan sendi-sendi persatuan masyarakat k. Menimbulkan ketidaktentraman dalam diri, keluarga, masyarakat, atau orang lain. 4. Cara menghindari sifat Iri : Diantara cara-cara menghindari sifat iri sebagai berikut : a. Menumbuhkan kesadaran didalam diri bahwa kenikmatan itu pemberian Allah SWT, sehingga wajar apabila suatu saat Allah memberi nikmat kepada seseorang dan tidak memberikannya kepada orang lain. b. Membiasakan diri bersyukur kepada Allah SWT dan merasa cukup terhadap segala sesuatu yang telah diterimanya. c. Menjalin persaudaraan dengan orang lain, sehingga terhindar dari perasaan benci dan tidak senang apabila orang lain mendapatkan keberuntungan (kesenangan).

d. Membiasakan diri ikut merasa senang apabila orang lain mendapat keuntungan (kesenangan). Penyakit hati disebabkan karena perasaan dengki. 1. Definisi Dengki. Dengki artinya merasa tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan dan berusaha agar kenikmatan tersebut cepat berakhir dan berpindah kepada dirinya, serta merasa senang kalau orang lain mendapat musibah. Sifat dengki ini berkaitan dengan sifat iri. Hanya saja sifat dengki sudah dalam bentuk perbuatan yang berupa kemarahan, permusuhan, menjelek-jelekkan, menjatuhkan nama baik orang lain. Orang yang terkena sifat ini bersikap serakah, rakus, dan zalim. ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, bahkan tidak segansegan berbuat aniaya (zalim) terhadap sesamanya yang mendapatkan kenikmatan agar cepat kenikmatan itu berpindah kepada dirinya. Setentang sikap buruk yang namanya dengki ini, simak Hadist tersebut ini : Bersabda Nabi SAW : Dengki itu memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Daud) Dan Nabi SAW juga bersabda : Menimpa kepadamu suatu penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu benci-membenci dan dengki. Dialah pencukur agama, bukan sekedar pencukur rambut. (HR. Turmudzi) Saudaraku, Hadist yang pertama menjelaskan bahwa dengki itu memakan kebaikan seperti api yang memakan kayu bakar. Disini jelas bahwa dengki itu suatu hal yang berlawanan dengan kebaikan, bahkan menjadi musuhnya. Sedangkan Hadist yang kedua menjelaskan bahwa jika suatu masyarakat telah terjangkiti penyakit dengki, maka agama akan hancur, tatanan dan hukum yang ada tidak akan berguna. Oleh karena itu, jika sifat ini tidak dihindari, tatanan kehidupan bermasyarakat akan kacau dan rusak, bahkan agama tidak lagi dijadikan pedoman hidup. 2. Penyakit Dengki Diatas sudah dijelaskan bahwa penyakit dengki berpangkal dari iri dan marah, sehingga penyebab dari iri juga merupakan penyebab dari penyakit iri, ditambah hal-hal sebagai berikut : a. Kalah bersaing dalam merebut simpati orang atau dalam usaha. b. Sifat kikir yang berlebihan c. Cinta dunia dan sejenisnya. d. Merasa sakit jika orang lain memiliki kelebihan e. Tidak beriman kepada qadha dan qadar. 3. Bahaya Penyakit Dengki Semua penyakit, apapun namanya, pasti mendatangkan bahaya bagi orang yang dihinggapinya. Demikian juga penyakit hati yang dibawa oleh penyakit dengki ini antara lain sebagai berikut : a. Mendorong untuk berbuat maksiat seperti menggunjing, berbohong, marah, senang jika orang lain mendapat musibah. Rasulullah SAW bersabda : Manusia akan senantiasa mampu berbuat kebajikan selama tidak saling hasud satu sama lain.

(HR. Thabrani) b. Mencelakakan orang lain c. Merugikan diri sendiri dan orang lain d. Kebutaan hati dalam menerima kebenaran, karena sibuk memikirkan bagaimana cara mencelakakan orang lain. e. Tidak akan diakui sebagai umat Rasulullah SAW dan tidak akan mendapat syafaatnya pada hari Kiamat nanti. Bersabda Rasulullah SAW Bukanlah dari golonganku orang yang memiliki kedengkian. (HR. Thabrani). f. Masuk Neraka tanpa dihisab terlebih dahulu. Nabi SAW Bersabda : Ada 6 (enam) kelompok orang yang akan masuk Neraka sebelum dihisab amalnya, disebabkan oleh enam perkara. Yaitu : 1. Penguasa karena ke zalimannya 2. Orang Arab (atau ras lainnya) yang fanatik dengan kesukuannya 3. Para tokoh, karena kesombongannya 4. Para pedagang karena kecurangannya 5. Orang-orang awam karena kebodohannya 6. Para ulama karena hasudnya. (HR. Dailami) 4. Bagaimana Cara Menghindari Penyakit Dengki ? Adapun cara yang bisa ditempuh untuk menghindari penyakit dengki, antara lain : a. Menjauhi semua penyebabnya. b. Mewaspadai bahayanya. c. Membiasakan diri untuk memberikan dukungan positif terhadap apa yang dialami saudara kita. d. Mempererat tali persaudaraan sehingga terjalin kerukunan dan persaudaraan. e. Selalu berdzikir, sehingga hati merasa dekat dengan Allah SWT. f. Ilmu dan amal. Hasud. 1. Pengertian Hasud Hasud adalah sikap suka menghasud dan mengadu domba terhadap sesama. Menghasud adalah tindakan yang jahat dan menyesatkan, karena mencemarkan nama baik dan merendahkan derajat seseorang dan juga karena mempublikasikan hal-hal jelek yang sebenarnya harus ditutupi. Saudaraku (sidang pembaca) tahukah antum, bahwa iri, dengki dan hasud itu adalah suatu penyakit. Pada mulanya iri yaitu perasaan tidak suka terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Kemudian, jika dibiarkan tumbuh, iri hati akan berubah menjadi kedengkian. Penyakit kedengkian jika dibiarkan terus akan berubah menjadi penyakit yang lebih buruk lagi, yaitu hasud.

2. Akibat Penyakit Hasud Penyakit hasud adalah penyakit hati sama berbahanya dengan penyakit iri dan dendam. Sehingga dalam bahasa Arab iri, dengki dan hasud mempunyai arti kata yang sama yaitu hasad. Perbuatan iri dapat menghancurkan persatuan dan persaudaraan. Orang yang bertetangga dan bersaudara dapat bertengkar dan berselisih bahkan sampai pecah, bila termakan hasutan. Sehingga putuslah persaudaraan mereka. Nabi SAW pernah bersabda : Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan (menghabiskan) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR. Abu Daud) Dan Bersabda Rasulullah SAW : Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Tahukah kalian orang yang muflis (pailit/bangkrut) itu? Para Sahabat menjawab :Orang yang tidak mempunyai harta sama sekali. Lalu Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya orang yang paling pailit dari umatku ialah orang yang datang pada hari Kiamat kelak dengan membawa shalat, puasa dan zakat, tetapi ia telah mencaci maki orang lain, menuduh orang ini, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang-orang yang telah dianiaya ini diberi kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum dilunasi semua dosa-dosanya, maka diambillah kesalahan-kesalahan orang-orang (yang pernah dianiaya) dan ditumpahkan semuanya kepada dia, kemudian dia dilempar kedalam Neraka. (HR. Muslim) Dengan demikian, kalau kita rinci akibat penyakit hasud ini kurang lebih sebagai berikut : a. Merugikan diri sendiri dan orang lain. b. Menimbulkan perpecahan dan perselisihan. c. Meruntuhkan sendi-sendi persatuan dan kerukunan dalam masyarakat. d. Mencelakakan orang lain. e. Menghilangkan amal perbuatan baik. f. Masuk Neraka 3. Penyebab Penyakit Hasud. Penyebab penyakit hasud tidak jauh berbeda dengan penyakit iri dan dendam, ditambah hal-hal sebagai berikut : a. Permusuhan dan Kemarahan. b. Sikap tidak rela orang lain lebih baik darinya. c. Sombong d. Tamak dan rakus dunia. e. Lemahnya iman. f. Mudah diprovokasi orang lain. 4. Bagaimana Cara Menghilangkan Penyakit Hasud? Untuk menghilangkan penyakit ini, cara yang bisa dilakukan antara lain sebagai berikut : a. Menumbuhkan kesadaran bahwa permusuhan dan kemarahan akan membawa petaka dan kesengsaraan baik lahir maupun bathin. b. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. c. Jadilah orang yang mempunyai pendirian tidak mudah di provokasi.

d. Mengamalkan ajaran agama. E. PENUTUP Bermula dari zaman Nabi Adam a.s, manusia sudah ditakdirkan untuk menjalani peringkat hidup duniawi di atas muka bumi ini. Sedari detik itu sehingga kini, manusia terus menjalani hidup dengan berbagai cara dan peristiwa yang membentuk sejarah dan tamaddun manusia. Sifat dan keperibadian manusia penuh pertentangan dan beraneka ragam. Manusia bukan makhluk sosial semata-mata malah bukan jua diciptakan untuk mementingkan diri sendiri semata-mata. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam diutuskan kepada manusia untuk menyempurnakan akhlak sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis Rasulullah SAW. Dengan akhlak Rasulullah memenuhi kewajiban dan menunaikan amanah, menyeru manusia kepada tauhid dan dengan akhlak jualah baginda menghadapi musuh di medan perang. Dengan akhlak baginda memimpin rakyat dalam perjuangan mencapai cita-cita serta membangunkan Negara yang berdaulat dan merdeka. Sesungguhnya akhlak yang mulia melengkapkan sendiiman untuk menuju kepada kesempurnaan kepribadian manusia sebagaimana keterangan hadis yang berbunyi: Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: Paling sempurna keimanan orang-orang mukmin ialah yang lebih baik akhlaknya. (HR At-Tirmizi dari Abu Hurairah). Dalam konteks pengamalan syariat iaitu yang meliputi pengabdian hamba terhadap Allah, dapat dilihat pada rukun Islam yang lima dan juga dalam hal muamalah, akhlak berperanan untuk melengkapinya. Manakala dalam hal ibadah, kita akan dapati antara hikmah ibadah-ibadah yang dianjurkan oleh Islam terdapat pertautan yang erat antara akhlak dan ibadah meskipun ibadah itu berlainan pada rupa dan bentuknya tetapi kesemuanya menuju kepada satu sasaran yang digariskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya: Aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak. Sembahyang, puasa, zakat, haji dan lain-lain amalan yang diperintahkan di dalam Islam adalah merupakan anak tangga untuk mendaki kemuncak kesempurnaan dan sebagai strategi untuk melindungi diri dai kerosakan dan kerendahan moral. Dengan sebab ciri-ciri itu maka ibadahibadah tersebut terletak di tempat yang tinggi dalam agama. Persiapan umat Islam untuk menjadi Ummatan Wasathon harus dilengkapi dengan tuntutan untuk dijadikan alat komunikasi dengan sesama manusia. Tuntutan itu berupa ajaran akhlak mulia, yang diharapkan untuk mewarnai segala aspek kehidupan manusia. Kerana itu, sesungguhnya ilmu komunikasi yang paling hebat adalah ilmu yang didasarkan kepada akhlak yang mulia.

AL-AKHLAQ AL-MADZMUMAH
Akhlak Tercela
AL-AKHLAQ AL-MADZMUMAH 1. Zalim Zalim biasanya dikontraskan dengan adil. Karenanya dengan mempelajari bahasan adil dalam alAkhlaq al-Karimah kita sudah bisa menangkap makna zalim. Keduanya selalu mempunyai arti yang berlawanan. Dalam bahasa Inggris zalim biasanya diartikan dengan injustice atau ketidakadilan. Walaupun, zalim dalam istilah al-Quran bukan satu-satunya yang menunjuk pada makna ketidakadilan. Dalam al-Quran kata zalim dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 315 kali. Ini menunjukkan bahwa kata ini merupakan salah satu konsep sentral dalam al-Quran. Toshihiko Izutsu, sebagaimana dikutip dawam Rahardjo, menyatakan bahwa merupakan varian dari sikap dan perilaku kufur atau ingkar. merupakan segi atau dimensi kekufuran. Sebagaimana konsep adil, yang bersifat multidimensional, zalim juga mempunyai cakupan makna yang cukup luas. Pertama, kezaliman atau ketidakadilan menyangkut masalah hak, yaitu apakah seseorang memperoleh haknya atau tidak. Kezaliman terjadi bila hak-hak seseorang diingkari atau dilanggar. Pengertian ini dapat ditarik dari firman Allah dalam surat Taha, 20: 112;

)111( Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. Kedua, kezaliman dimaknai sebagai perilaku yang berat sebelah. Hal sebagaimana terekam dalam surat al-Baqarah, 2: 182; )181( (Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam ayat di atas dinyatakan orang yang membuat suatu wasiat dengan berat sebelah (janafa)sehingga bertentangan dengan syara. Janafa merupakan kata lain dalam al-Quran untuk menyebut ketidakadilan atau kezaliman, selaian hadlama sebagaimana dalam surat Taha di atas. Jadi kezaliman timbul karena seseorang berpikir, bersikap dan bertindak berat sebelah, seperti dalam membuat wasiat atas hartanya. Ketiga, kezaliman juga bermakna pelanggaran terhadap hukum, atau tindakan tanpa dasar. Sebaliknya keadilan sering dimaknai sebagai pelaksanaan yang setia terhadap hukum yang berlaku. Pelanggaran terhadap hak dan tindakan yang berat sebelah sering kali disebabkan karena seseorang berbuat tidak didasarkan pada aturan dan hokum yang berlaku, akan tetapi lebih didasarkan pada pertimbangan dan kepentingan subyektif. Hal inilah yang yang disebut dengan sikap dan perilaku yang sewenang-wenang, sikap dan perilaku yang tidak didasarkan nilai dan aturan. Keempat, kezaliman juga berarti kebohongan. Orang yang berbuat zalim adalah orang yang merekayasa kebohongan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-An`am, 6: 21; )11( Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.

Kedustaan terhadap Allah adalah mengatakan dirinya beriman, padahal ingkar, mengatakan dirinya berbuat baik, tetapi sebenarnya berbuat jahat/salah. Mendustakan ayat-ayat Allah adalah menentang prinsip-prinsip kebajikan yang telah diajarkan agama. Keduanya adalah perbuatan yang pada esensinya berseberangan dengan prinsip keadilan, keduanya adalah kezaliman. Begitu rendah dan hinanya kezaliman, Islam memberikan panduan terhadap mereka yang dizalimi bagaimana merespon tindakan tersebut. Pertama, bahwa al-Quran memberikan dispensasi untuk mengkritik tindakan kezaliman secara terbuka dan secara pedas sekalipun. Ini tergolong istimewa,

karena pada dasarnya agama melarang membongkar keburukan orang lain secara terbuka yang dimungkinkan bisa mempermalukan orang lain. Dalam surat al-Nisa`, 4: 148 dinyatakan: )148( Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kedua, al-Quran memberi izin kepada yang terzalimi untuk mengangkat senjata/berperang melawan kezaliman. Izin ini juga merupakan pengecualian, karena pada dasarnya Islam melarang berperang. Izin inilah yang dijadikan dasar politik pertahanan atau politik perang dan damai dalam konteks kenegaraan. Allah berfirman dalam surat al-Hajj, 22: 39; )99( Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.

Sunnah Allah menggariskan bahwa kezaliman atau ketidakadilan dalam skala kecil atau besar cepat atau lambat akan mengalami kehancuran. Karena kezaliman telah melawan prinsip keseimbangan. Agama begitu konsen dengan prinsip ini, karena pada dasarnya segala hal tidak terlepas dari prinsip ini, termasuk penciptaan alam raya. Dalam hal ini ada gambaran kosmologis dari surat al-Rahman, 55: 7 9; )9( (7) (8)

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

1. Takabbur Menurut Imam al-Ghazali, seorang yang takabbur adalah yang memandang selainnya dengan pandangan rendah dan hina sebagaimana pandangan raja terhadap hamba sahaya. Orang seperti ini mempunyai persepsi bahwa keagungan, kebesaran dan kebaikan hanyalah miliknya. Seorang mutakkabir, dalam kadar yang tinggi, merasa menyamai Tuhan bahkan berani melawan-Nya, sebagaimana sejarah Firaun. Seorang mutakkabir tidak pernah melakukan introspeksi terhadap dirinya secara obyektif. Ia hanya mengenali sisi-sisi kelebihan dirinya dan tidak pernah mampu menyelami dan mengakui potensi dan

perasaan orang lain. Mutakabbir mempunyai ego dan subyektivitas yang sangat dominan sehingga dirinya sendiri tidak mampu mengontrolnya. Ia tidak menyadari bahwa pada awalnya tercipta dari setitik air (nutfah) dan pada akhirnya nanti menjadi bangkai yang menjijikkan. Sementara dalam hidupnya, ia senantiasa membawa urine dan kotoran yang menusuk hidung. Demikian Quraish Shihab mengilustrasikan. Seorang yang takabbur mengabungkan dalam dirinya kebodohan dan kebohongan. Kebodohan karena pada dasarnya ia tidak mengetahui bahwa kebesaran hanya milik Allah dan sekaligus tidak mengetahui kemampuan riel dirinya. Kebohongan karena ia telah membohongi Tuhan, sesamanya dan terutama dirinya sendiri. Seorang yang takabbur juga telah menciptakan keburukan di atas keburukan. Keburukan dalam dirinya ia taburkan terhadap sesama yang pada akhirnya menimbulkan dendam, antipati, kebencian dan yang lainnya. Karena itulah Allah secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak menyukai orang yang mempunyai karakter seperti ini: (81) )19( an janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. Nabi S.a.w. juga bersabda: Tidak akan masuk surga seseorang yang terdapat dalam hatinya sebesar zarrah keangkuhan Sebagaimana diketahui bahwa Allah mempunyai sifat al-Mutakabbir. Persoalannya bagaimana meneladani sifat ini, karena ada perintah Takhallaqu bi Akhlaqillah. Meneladani sifat ini diizinkan dalam dua keadaan, yakni ketika seseorang menghadapi orang yang sombong terhadap dirinya dan ketika berkecamuknya perang menghadapi musuh. Rasul pernah melihat orang yang berjalan dengan angkuh dan congkak dalam situasi seperti ini, kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya ia adalah cara jalan yang dibenci oleh Allah, kecuali dalam situasi seperti ini. Menurut Imam al-Ghazali seseorang yang meneladani sifat Allah al-Mutakkabir adalah dia yang zahid dan arif. Yaitu dia yang meninggalkan kesenangan materi dan dunia kemudian menyibukkan diri berkomunikasi dengan Allah. Seorang yang mutakabbir (bagi yang meneladani sifat Allah) adalah yang memandang dirinya lebih agung dan besar dari segala sesuatu kecuali Allah. Karena itu ia tidak disibukkan dengan apapun dalam memandang Allah. 1. Larangan Mengolok-olok, Banyak Prasangka, meneliti kelemahan sesama, Panggilan dengan Gelar yang Jelek. Islam bukanlah agama yang hanya mementingkan komunikasi manusia dengan Tuhannya (hubungan vertical) akan tetapi juga komunikasi manusia dengan sesamanya (hubungan horizontal). Dalam surat Ali

Imran ayat 112, misalnya, dinyatakan bahwa kehinaan akan menerpa siapapun dimanapun ia berada bila tidak menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya dan dengan Tuhannya. Hal ini semakin nyata, dalam konteks hubungan manusia dengan sesamanya, dengan adanya larangan tegas al-Quran terhadap perilaku mengolok-olok, banyak prasangka dan yang semisalnya yang bisa memperkeruh hubungan manusia dengan sesamanya. Dalam surat al-Hujurat (49): 11 12 dinyatakan: (11) )11(

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Dalam teks al-Quran di atas ada beberapa akhlak tercela yang harus dijauhi, yaitu; mengolok-olok, mencela, panggilan dengan gelar-gelar yang buruk, buruk sangka, mencari-cari kesalahan dan menggunjing orang lain. Al-Quran juga menampilkan alasan mengapa perilaku-perilaku tersebut terlarang. Mengolok-olok sesama yang dilakukan oleh siapapun itu terlarang karena, antara lain, kemungkinan yang diolol-olok itu lebih baik dari pada yang mengolok-olok. Alasan ini juga bisa berlaku terhadap akhlak-akhlak yang lain dalam ayat di atas. Alasan ini cukup mengena, karena biasanya olok-olok yang dilontarkan hanya didasarkan pada pertimbangan subjektif karena factor dislike. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dinyatakan: Sesungguhnya Allah tidak akan melihat rupamu dan hartamu, akan tetapi melihat hati dan perbuatanmu.

Dalam Tafsir al-Qurthubi dinyatakan, berdasar hadis di atas, bahwa seseorang hendaknya tidak cepat menilai sesama dengan penilaian yang negatif/jelek hanya didasarkan pada tampilan luar perbuatan/perilaku manusia. Seseorang yang tampaknya melakukan perbuatan baik sekalipun, Tuhan kemungkinan menilai sebaliknya, karena melihat adanya motivasi jelek dalam hatinya yang membuat perbuatan tersebut menjadi tidak sah. Begitupun sebaliknya, orang yang melakukan perbuatan yang jelek, akan tetapi justru diampuni oleh Tuhan karena dalam hatinya terkandung sifat yang mulia. Perbuatan hanyalah tanda-tanda lahiriah yang bersifat zanni, tidak bersifat pasti. Karena itulah kita tidak boleh mudah tertipu dengan perbuatan yang mungkin tampak baik, dan tidak boleh cepat menarik kesimpulan orang lain sebagai jelek/jahat karena perbuatannya kita lihat jelek. Yang dapat kita katakan adalah bahwa perbuatan tersebut salah, buruk atau menurut hemat kita tidak sesuai dengan tuntunan agama kemudian menegur pelakunya. Akan tetapi kita tidak boleh langsung menarik kesimpulan bahwa pelakunya itu sendiri buruk. Barang kali ia tidak tahu, salah tafsir/perhitungan atau yang lainnya. Larangan berikutnya memakai redaksi wa la talmizu anfusakum, (Janganlah kamu mencela diri sendiri). Makna dari redaksi di atas adalah, Janganlah sebagian kamu mencela sebagian yang lain. Bentuk ini sama dengan firman Allah yang lain, wa taqtulu anfusakum yang bermakna janganlah sebagian kamu membunuh sebagaian yang lain. Hikmah yang dapat diambil adalah bahwa seorang yang berakal tidak akan mencela dirinya sendiri, karenanya tidak seharusnya ia mencela sesamanya. Sebab mencela sesamanya laksana mencela dirinya sendiri. Bukankah Nabi s.a.w. telah bersabda bahwa orang-orang mumin laksana tubuh yang satu, jikalau salah satu anggotanya mengaduh kesakitan yang lain akan turut merasakan sakit. Dikatakan juga bahwa sangat beruntung orang yang disibukkan dengan introspeksi aibnya sendiri dari pada mencari ain orang lain. Akhlak yang tercela yang ketiga adalah panggilan dengan gelar yang buruk. Menurut Ibn Abbas panggilan yang buruk (al-tanabuz bi al-alqab) adalah berlaku terhadap orang yang dahulunya berbuat kesalahan/kejahatan kemudian bertobat. Maka, Allah melarang untuk mengungkit kembali kesalahan yang telah dilakukan dengan panggilan yang buruk. Hal ini sebagaimana terjadi ketika ayat di atas diturun. Orang menyapa dengan panggilan, Wahai seorang yang fasik, Wahai seorang yang munafik, Wahai orang yang kafir, dan lainnya. Padahal sebenarnya predikat tersebut sudah tidak pantas karena yang dipanggil telah bertobat. Sebaliknya, panggilan dengan gelar-gelar yang baik yang disukai oleh yang dipanggil, agama membolehkannya. Ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi sendiri. Beliau memberi gelar terhadap sahabat-sahabat beliau dengan, misalnya, al-Shiddiq untuk Abu Bakr, al-Faruq untuk Umar, Asadillah untuk Hamzah, Saifullah untuk Khalid. Dan pada kenyataannya, sedikit sekali orang-orang elit pada masa jahiliyyah dan Islamiyyah yang tidak mempunyai panggilan atau gelar tertentu. Akhlak yang keempat adalah buruk sangka. Buruk sangka dalam konteks ayat di atas adalah mirip dengan tuduhan, yakni tuduhan yang tidak didasarkan alasan dan bukti-bukti konkrit. Ulama telah bersepakat bahwa persangkaan yang buruk terhadap orang yang pada lahirnya baik tidak dibolehkan, sebaliknya dibolehkan terhadap orang yang nyatanya melakukan perbuatan jelek. Nabi s.a.w. bersabda:

Yang kelima adalah meneliti dan mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus). Agama sangat meperhatikan privasi dan kehormatan seseorang, karenanya meneliti kesalahan hanya layak dilakukan terhadap diri sendiri sebagai upaya perbaikan dan pengembangan diri. Meneliti kesalahan orang lain biasanya hanya untuk menjegal dan menebar nama buruk bagi yang bersangkutan. Nabi bersabda bahwa orang yang mencari-cari kesalahan orang lain berarti menghancurkan atau nyaris menghancurkan oaring lain. Yang terakhir adalah ghibah. Ghibah adalah menyebut seseorang dengan apa yang tidak disukainya, walaupun hal yang tidak disukainya benar-benar ada dalam dirinya. Allah mengumpamakan ghibah layaknya memakan bangkai. Karena bangkai mayat tidak akan mengetahui kalau dagingnya dimakan sebagaimana seseorang yang hidup tidak mengetahui kalau ada orang lain yang meng-ghibah dirinya. Kalau memakan bangkai itu sebagai hal yang haram dan menjijikkan, maka begitu juga ghibah, haram menurut agama dan menunjuk pada kejelekan jiwa. Sebagaimana ghibah itu haram, maka mendengarkannya juga diharamkan. (Abid Rohmanu: dari berbagai sumber)

Tiga Pilar Utama Sumber Segala Dosa


(Oleh Sugeng Hariyanto)

Allah memberikan kepada manusia sifat baik dan tercela yang lebih dikenal dengan al akhlaq al Mahmudah (akhlak yang baik) dan akhlaq al madzmumah.(akhlak tercela). Pertanyaan yang muncul adalah kita mau ke surga atau ke neraka?. Jika kita mengharapkan ke surga maka kita jauhi akhlaq al madzmumah.(akhlak tercela). Dalam kesempatan ini saya akan uraikan diantara akhlak tercela yang bisa menyebabkan kesalahan dan merupakan sumber dari segala dosa, yaitu : 1. Takabbur (sombong) 2. Hasad (dengki) 3. Tamak (rakus) Ketiga sifat tersebut oleh ummat muslim haruslah dijauhi agar terhindar dari kesalahan yang lebih besar. Takabbur Takabbur atau sombong yang dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dari yang lain. Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu alaihi wa salllam,

Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. [H.R. Muslim, no. 2749, dari 'Abdullah bin Mas'd] Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri). Sifat ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang. Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 18: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dalam surat al Hadiid ayat 23 disebutkan :

Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. [H.R. Muslim, no. 2749, dari 'Abdullah bin Mas'd] Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri). Sifat ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang. Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 18: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dalam surat al Hadiid ayat 23 disebutkan : (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah. Untuk menghilangkan kesombongan memanglah sangat sulit pada diri kita, namun ketika kita bisa instropeksi diri, insyaAllah kesombangan akan hilang dengan perlahan. Dalam sebuah artikel disebutkan bahwa sebab-sebab kesombongan diantaranya adalah ujub, merendahkan orang lain, suka menonjolkan diri (taraffu), dan mengikuti hawa nafsu.

Ujub merupakan perkara yang membinasakan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, : Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub seseorang terhadap dirinya. [Silsilah Shahihah, no. 1802] Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat. [HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim] Hasad Hasad, iri, dengki merupakan istilah yang hampir sama berarti menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Asal sekedar benci orang lain mendapatkan nikmat itu sudah dinamakan hasad, itulah iri. Kata Ibnu Taimiyah, Hasad adalah sekedar benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat. Hasad seperti inilah yang tercela. Adapun ingin agar semisal dengan orang lain, namun tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, maka ini tidak mengapa. Hasad model kedua ini disebut oleh para ulama dengan ghibthoh. Yang tercela adalah hasad yang pertama. Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Quran dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya. Tamak Tamak atau yang lebih dikenal dengan istilah rakus adalah suatu sifat ingin menguasai atau mendapatkan bahagian lebih banyak daripada orang lain. Nama lain bagi sifat tamak ini ialah loba atau serakah. Pada umumnya, sifat tamak itu berkenaan dengan perkara kepuasan dan kemewahan hidup didunia. Tamak terhadap harta benda dengan jalan mengumpulkan harta benda dan kekayaan dengan sebanyaknya. Tidak peduli apakah dengan cara yang halal mahupun dengan cara yang haram merampas hak orang lain, merugikan kepentingan umum dan sebagainya. Nabi Isa a.s. pernah mengatakan bahawa tamaknya manusia terhadap harta benda itu tak ubah seperti orang yang sedang minum minuman yang memabukkan semakin diminum semakin berkurang rasanya dan tak puas-puas. Barulah mereka akan berhenti minum kalau sudah mabuk atau tidak sedar diri.

Sejarah telah menunjukkan bahawa tamak tehadap harta benda atau tamak terhadap kekuasaan itu tidak akan bertahan lama, dan pada tingkat terakhir pasti akan mengalami kejatuhan sebab tidak sesuai dengan menilai-nilai keadilan dan kemanusian. Islam mengendalikan hawa nafsu terhadap harta benda itu dengan mengadakan batasan. Dalam muslimah.or.id disebutkan bahwa ada 5 cara untuk mengobati penyakit tamak ini, yaitu: 1. Ekonomis dalam kehidupan dan arif dalam membelanjakan harta. 2. Jika seseorang bisa mendapatkan kebutuhan yang mencukupinya, maka dia tidak perlu gusar memikirkan masa depan, yang bisa dibantu dengan membatasi harapan-harapan yang hendak dicapainya dan merasa yakin bahwa dia pasti akan mendapatkan rezeki dari Allah. Jika sebuah pintu rezeki tertutup baginya, sesungguhnya rezeki akan tetap menunggunya di pintu-pintu yang lain. Oleh karena itu hatinya tidak perlu merasa gusar. Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-Ankabut: 60) 3. Hendaklah dia mengetahui bahwa qana`ah itu adalah kemuliaan karena sudah merasa tercukupi, dan dalam kerakusan dan tamak itu ada kehinaan karena dengan kedua sifat tersebut, dia merasa tidak pernah cukup. Barangsiapa yang lebih mementingkan hawa nafsunya dibandingkan kemuliaan dirinya, berarti dia adalah orang yang lemah akalnya dan tipis imannya. 4. Memikirkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, orang-orang yang hina dan bodoh karena tenggelam dalam kenikmatan. Setelah itu hendaklah dia melihat kepada para nabi dan orang shalih, menyimak perkataan dan keadaan mereka, lalu menyuruh akalnya untuk memilih antara makhluk yang mulia di sisi Allah ataukah menyerupai penghuni dunia yang hina. 5. Dia harus mengerti bahwa menumpuk harta itu bisa menimbulkan dampak yang kurang baik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian. (Hadits riwayat Muslim) Hadits ini berlaku dalam urusan dunia. Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaklah setiap muslim berlomba-lomba untuk mencapai derajat kedudukan tertinggi. Penopang urusan ini adalah sabar dan membatasi harapan serta menyadari bahwa sasaran kesabarannya di dunia hanya berlangsung tidak seberapa lama untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi, seperti orang sakit yang harus menunggu pahitnya obat saat menelannya, karena dia mengharapkan kesembuhan selama-lamanya. Demikian mudah-mudahan menjadikan kita lebih baik di bulan Ramadhan ini. Amin.