Você está na página 1de 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai konsep dari pola asuh orangtua dan perilaku remaja. Dimana konsep-konsep ini akan membantu dalam menjelaskan mengenai hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku seksual remaja.

A. Pola Asuh Orangtua 1. Pengertian Pola Asuh Orangtua Pengasuhan menurut (Schochib,2000, hlm.15) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin, atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud di sini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minum, pakaiannya, dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian diatas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan, yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya. Pengertian pola asuh orang tua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan yang berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan setempat dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga, mengajar, mendidik, serta memberi contoh bimbingan kepada anak-anak untuk mengetahui, mengenal, mengerti, dan akhirnya dapat menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan

Universitas Sumatera Utara

nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Pola asuh yang ditanamkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. Hal ini tergantung dari pandangan pada diri tiap orang tua (Gunarsa, 2002, hlm. 86). 2. Tipe Pola Asuh Orang tua Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya mengasuh putra-putrinya. Dalam mengasuh anak, orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada dilingkungannya. Disamping itu, orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena orangtua mempunyai pola pengasuhan tertentu.(Tarmuji, 1991). Tipe pola asuh terdiri dari dua dimensi perilaku yaitu Directive Behavior dan Supportive Behavior. Directive Behavior melibatkan komunikasi searah di mana orangtua menguraikan peran anak dan memberitahu anak apa yang harus mereka lakukan, di mana, kapan, dan bagaimana melakukan suatu tugas. Supportive Behavior melibatkan komunikasi dua arah di mana orang tua mendengarkan anak, memberikan dorongan, membesarkan hati, memberikan teguran positif dan membantu mengarahkan perilaku anak.(Shochib, 2000, 117) Menurut Bernhard (1964: 31) sebagai pengasuh dan pembimbing dalam

keluarga, orang tua sangat berperan dalam meletakkan dasar-dasar perilaku bagi anaknya. Orang tua jugadapat merealisasikan dan menciptakan situasi dan kondisi yang dihayati anak-anaknya agar memiliki dasar-dasar dalam pengembangan diri. Dengan upaya ini berarti orang tua telah merealisasikan pelaksanaan undang-undang No.11 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang menyebutkan pendidikan dalam keluarga memberikan keyakinan agama, nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan, ketrampilan, dan sikap hidup

Universitas Sumatera Utara

yang mendukung kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan. Menurut Wayson (1964 : 229) anak yang disiplin diri memiliki keteraturan diri berdasarkan nilai agama, nilai budaya, aturan-aturan pergaulan, pandangan hidup, dan sikap hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara. Artinya, tanggung jawab orang tua adalah mengupayakan agar anak berdisiplin diri untuk melaksanakan hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya, dirinya sendiri, sesama manusia, dan lingkungan alam dan mahkluk hidup lainnya berdasarkan nilai moral. Orang tua yang mampu berprilaku seperti diatas, berarti mereka telah mencerminkan nilai-nilai moral dan bertanggung jawab untuk mengupayakannya (Shochib, 2000, hlm.3). Beberapa pendapat mengenai tipe pola asuh orang tua diantaranya sebagai berikut: a. Tipe pola asuh menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke, 1999) terdiri dari dua tipe yaitu: 1. Pola Asuh Otoriter Menurut Baumrind (dalam Parke & Locke) pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua atau kontrol yang ditujukan kepada anak untuk mendapatkan ketaatan dan kepatuhan. Pola asuh otoriter adalah pengasuhan yang kaku, dictator, dan memaksa anak untuk selalu mengikuti orangtua tanpa banyak alasan. Perilaku orangtua dalam berinteraksi dengan anak bercirikan tegas, suka menghukum, anak dipaksa untuk patuh terhadap aturan-aturan yang diberikan oleh orangtua tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan dibalik aturan tersebut, serta cenderung mengekang keinginan anaknya. Pola asuh otoriter dapat berdampak buruk pada anak, yaitu anak merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak

Universitas Sumatera Utara

terlatih untuk berinisiatif ( kurang berinisiatif), selalu tegang, cenderung ragu, tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk), kemampuan komunikasinya buruk serta mudah gugup, akibat seringnya mendapat hukuman dari orang tua. Anak menjadi tidak disiplin dan nakal, pola asuh seperti ini anak

diharuskan untuk berdisiplin karena keputusan dan peraturan ada ditangan orang tua. 2). Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang bercirikan adanya hak dan kewajiban orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi, anak dilatih untuk bertanggung jawab dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdiplin. Menurut Shochib (dalam yuniati, 2003) orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat keputusan secara bebas, berkomunikasi dengan lebih baik, mendukung anak untuk memiliki kebebasan sehingga anak mempunyai kepuasan sedikit menggunakan hukuman badan untuk

mengembangkan disiplin. Pola asuh demokratis dihubungkan dengan tingkah laku anakanak yang memperlihatkan emosional positif, sosial, dan pengembangan kognitif. Teori sistem keluarga menjelaskan bahwa penting di dalam sosialisasi seorang anak tidak hanya erat hubungan dengan keluarga, tetapi keseluruhan kombinasi dari tingkah laku tersebut (Parke & Locke, 1999). Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya ialah mengasuh putra-putrinya. Dalam mengasuh anak, orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. Di samping itu, orang tua diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing dan

mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada kepada anaknya yang berbeda-beda, karena orang tua mempunyai pola asuhan tertentu. Pola asuhan itu menurut Baumrind (1991) (dalam Parke & Locke) terdiri dari tiga tipe,

Universitas Sumatera Utara

otoriter, demokratis, dan permissive .Kemudian tiga pengasuhan ini dikembangkan oleh Maccoby dan Martin (1993) dengan menambah tipe pola asuh yang keempat, yaitu uninvolved parenting ( Parke & Locke, 1999). b. Tipe Pola Asuh menurut Hoffman (1970) (dalam Garliah, 2003), terdiri atas tiga tipe yaitu : 1). Pola asuh bina kasih Adalah suatu teknik disiplin dimana orangtua memberi penjelasan atau alasan mengapa anak harus mengubah perilakunya. Pada tipe asuh seperti ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi. 2). Pola asuh unjuk kuasa Adalah perilaku orangtua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan

eksterivenal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan orangtua. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah. 3). Pola asuh lepas kasih Adalah pertanyaan-pertanyaan nonfisik dari rasa dan sikap tidak setuju orangtua terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih saying sampai anak merubah perilakunya. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah.

c. Tipe Pola Asuh menurut Hersey dan Blanchard (1978) (dalam Garliah & Sary, 2005), terdiri dari empat tipe yaitu:

Universitas Sumatera Utara

1). Telling Perilaku orang tua yang directive-nya tinggi dan supportive rendah disebut dengan telling, karena dikarasteristikkan dengan komunikasi satu arah antara orangtua dengan anak. Di mana orang tua menentukan peran anak dan mengatakan apa, bagaimana, kapan dan di mana anak harus melakukan berbagai tugas. 2). Selling Perilaku orang tua yang directive dan supportive tinggi disebut dengan selling, karena sebahagian besar arahan yang ada diberikan oleh orang tua. Orang tua juga berusaha melalui komunikasi dua arah yang membolehkan anak untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan dukungan serta dorongan. 3). Participating Perilaku orangtua yang directive-nya rendah dan supportive tinggi disebut participating, karena orangtua dan anak saling berbagi dalam membuat keputusan melalui komunikasi dua arah. Anak memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk berbagi ide tentang bagaimana suatu masalah itu dipecahkan dan membuat kesepakatan dengan orangtua apa yang harus dilakukan. 4). Delegating Perilaku orangtua yang directive dan supportive rendah disebut dengan delegating, karena meskipun orang tua tetap menetapkan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi suatu masalah, namun anak diperbolehkan untuk menjalankan apa yang diinginkannya dan memutuskan kapan, di mana dan bagaimana mereka melakukan satu hal.

Universitas Sumatera Utara

Konsep dari keempat pola ini mempunyai arti yang sama dengan ketiga pola asuh yang dikemukakan oleh Baumrind (1991) yaitu pola asuh otoriter, demokrasi, dan permessive (Parke & Locke, 1999), serta neglectful oleh Maccoby dan Martin (1983)

B.

Remaja 1. Pengertian remaja menurut WHO (World Health Organization ), adalah suatu masa di mana : 1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekunder sampai saat ia mencapai pematangan seksual. 2) Individu mengalami psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa 3) Terjadi peralihan dan ketergantungan sosial ekonomi yang penuh dengan keadaan yang relatif lebih mandiri. WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. Dengan

membagi menjadi 2 bagian dimana remaja awal pada usia 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun (Sarwono, 2010, hlm. 11-12) Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia sama sulitnya dengan menetapkan definisi secara umum. Masalahnya adalah Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat, dan tingkatan sosial-ekonomi maupun pendidikan. Walaupun demikian, sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut a. Usia 11 tahun adalah di mana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik)

Universitas Sumatera Utara

b. Masyarakat Indonesia, usia 11 tahun tidak diperlakukan lagi seperti anak-anak baik menurut adat maupun agama (kriteria sosial) c. Pada usia 21 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa, seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral (kriteria psikososiologi) d. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orangtua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi). Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Karena itu remaja dibatasi khusus untuk yang belum menikah. (Hurlock, 2006, hlm. 92-93) 2. Tahap Perkembangan Remaja : Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap perkembangan remaja : a. Remaja awal (Early Adolescence) Remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perrubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terang secara erotis. Pada remaja awal sulit mengerti dan dimengerti orang dewasa.

Universitas Sumatera Utara

b. Remaja Madya (Middle Adolescence) Pada tahap remaja ini sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia sangat senang kalau banyak teman yang menyukainya. Ada kecendrungan narcictis, yaitu mencintai diri sendiri. c. Remaja Akhir (Late Adoloscence) Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal berikut ini: 1). Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek. 2). Mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru. 3). Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi 4). Egosentrisisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain) 5). Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya dengan masyarakat umum (Sarwono, 2010, hlm.30-31 ). 3. Teori Remaja menurut Kurt Lewin, Menggambarkan tingkah laku-tingkah laku yang menurut pendapatnya akan selalu terdapat pada remaja : a. Pemalu dan perasa, tetapi sekaligus juga cepat marah dan agresif b. Remaja terus menerus merasakan pertentangan antar sikap, nilai, ideologi, dan gaya hidup. Keadaan ini remaja yang berada diambang peralihan antara masa anak-anak dan dewasa, sehingga ia dapat disebut manusia maginal (dalam arti: anak bukan, dewasa pun bukan). c. Konfilk sikap, nilai, dan ideologi tersebut diatas muncul dalam bentuk ketegangan emosi yang meningkat.

Universitas Sumatera Utara

d. Ada kecendrungan pada remaja untuk mengambil posisi yang sangat ekstrem dan mengubah kelakuannya secara drastis, akibatnya sering muncul tingkah laku radikal dan memberontak dikalangan remaja. e. Bentuk-bentuk khusus dari tingkah laku remaja pada berbagai individu yang berbeda-beda akan ditentukan oleh sifat (Sarwono, 2010, hlm. 5253). 4. Kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja adalah : a. usia kematangan b. Remaja yang matang lebih awal, yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa, mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik. c. Penampilan diri Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik. d. Kepatutan seks Kepatutan seks dalam penampilan diri, minat dan perilaku membantu remaja mencapai konsep diri yang baik. Ketidak patutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini memberikan buruk pada perilakunya. e. Hubungan keluarga Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasi diri dengan orang lain, dan ingin mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya

Universitas Sumatera Utara

f. Teman sebaya Sangat mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara : yang pertama, konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-temannya tentang dirinya, yang kedua, ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan cirri-ciri kepribadian g. Kreativitas Remaja yang semasa anak-anak didorong untun kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademisnya, mengembangkan perasaan

individualitas dan identitas yang pengruh yang baik tentang konsep diri (Hurlock, 2006, hlm. 235).

C. Perilaku Seksual Remaja 1. Pengertian Perilaku Seksual Remaja Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bias bermacam-macam mulai perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu dan bersenggama. Objek seksualnya bias orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa terutama jika ada akibat fisik atau sosial yang dapat di timbulkan. Tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain dampak bias cukup serius, seperti perasaan salah, depresi, dan marahmarah.

2. Faktor yang sering dicurigai disebut sebagai pendorong perilaku seksual adalah: a. Faktor agama yaitu merosotnya kepercayaan pada agama

Universitas Sumatera Utara

b. Perbedaan jenis kelamin c. Kampanye Keluarga Berencana (KB) d. Faktor sosial ekonomi, seperti rendahnya pendapatan dan taraf pendidikan, besarnya keluarga dan rendahnya bersangkutan. e. Citra diri yang menyangkut keadaan tubuh (body images) dan control diri ( Sarwono, 2010) Agar seseorang dapat membuat keputusan yang penting tentang seks, mau melakukannya, dan siapa pasangannya , dia banyak membutuhkan banyak informasi. Orang juga harus belajar untuk membuat keputusan sendiri dan tidak terpaksa melakukan sesuatu yang tidak mereka kehendaki atau sesuatu yang belum pasti. Yang paling penting , orang seharusnya merasa senang terhadap diri mereka dan tubuh mereka sendiri.( Darvill, 2005) nilai agama dimasyarakat yang

3. Tugas-tugas perkembangan perilaku seksual remaja Secara rinci, Havighurst tahun (1961) menjelaskan adalah sebagai berikut: a) Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif b) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya c) Mencapai suatu hubungan dan pergaulan yang lebih matang d) Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminine e) Berperilaku sosial yang bertanggung jawab

Universitas Sumatera Utara

f)

Mempersiapkan diri untuk memiliki karier atau pekerjaan yang memiliki

konsekuensi ekonomi dan financial g) Mempersiapkan perkawinan dan membentuk keluarga h) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku ) Dari berbagai hasil studi disimpulkan bahwa masalah seksualitas pada remaja timbul karena faktor-faktor berikut yaitu : 1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkat hasrat seksual (libido seksualitas) remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu. 2. Penyaluran itu tidak dapat dilakukan karena adanya penundaan perkawinan, baik secara hukum karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia menikah sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria. 3. Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah 4. Kecendrungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya teknologi canggih. 5. Orang tua sendiri, baik karena ketidak tahuannya maupun karena sikapnya yang mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka terhadap anak, malah cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah yang satu ini sesuai dengan norma yang ada dimasyarakat (Hurlock, 2006, hlm.

Universitas Sumatera Utara

6. Dipihak lain, tidak dapat di ingkari adanya kecendrungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria (Sarwono, 2010, hlm. 187-188) D. Faktor-faktor Keluarga Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja 1. Peranan dan fungsi keluarga Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya

mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu dari Maslow, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut 2. Status Sosial Ekonomi Keadaan sosial-ekonomi mempunyai peranan terhadap perkembangan psikososial anak. Apabila perekonomian keluarga cukup, maka lingkungan material yang dihadapi remaja didalam keluarganya itu lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat dicapai apabila tidak ada alat-alatnya. Orang tua dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam kepada pendidikan anaknya apabila kehidupan manusia. 3. Keutuhan Keluarga Salah satu faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual remaja ialah faktor keutuhan keluarga. Yang dimaksud dengan keutuhan keluarga ialah, pertamatidak disulitkan dengan perkara kebutuhan-kebutuhan primer

Universitas Sumatera Utara

tama keutuhan dalam struktur keluarga, yaitu bahwa didalam keluarga itu adanya ayah disamping , adanya ibu dan anak-anaknya. Apabila tidak ada ayahnya atau ibunya atau kedua-duanya, maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. Selain keutuhan dalam struktur keluarga, dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga, jadi bahwa didalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). 4. Sikap dan Kebiasaan Orang tua Cara-cara dan sikap-sikap yang ditanamkan orangtua dirumah memegang peranan yang penting dalam pergaulan anak. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan-tujuan, struktur, norma-norma, dinamika kelompok, termasuk dinamika kepemimpinannya, yang sangat

mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut. Caracara bertingkah laku orangtua yang dalam hal ini menjadi pimpinan kelompoknya, sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga, dan dapat merangsang

perkembangan ciri-ciri tertentu pribadi anaknya. 5. Status Anak Status anak juga berperan sebagai suatu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan psikososialnya didalam keluarganya. Yang dimaksud status anak ialah kedudukan anak didalam keluarga, seperti anak tunggal, anak sulung, atau anak bungsu diantara saudara sekandungnya.

Universitas Sumatera Utara