Você está na página 1de 1

Nama Kelas

: Samuel Damiki : 5A

ASAL MULA SALATIGA


Dulu, Kabupaten Semarang termasuk wilayah Kesultanan Demak. Daerah ini diperintah oeh seorang bupati bernama Ki Ageng Pandanaran. Beliau seorang bupati yang ditaati rakyat. Selain berwibawa, beliau juga kaya raya. Akan tetapi, lama-kelamaan beliau makin gila kekayaan. Makin hari, ia semakin memperkaya diri sendiri. Rakyat tidak diperdulikan lagi. Sunan Kalijaga, penasihat Sultan Demak, bermaksud mengingatkan sang Bupati. Dengan berpakaian compang-camping, beliau menyamar sebagai pedagang rumput. Gusti, hamba membawa rumput yang hijau. Sudikah Gusti membeli? tawar Sunan Kalijaga kepada sang bupati. Jika boleh dibeli dengan harga murah, bolehlah, Jawab Ki Ageng. Mengapa Gusti tidak bisa menghargai jerih payah orang miskin? tanya Sunan. Heh, lancing kamu! Pergilah, atau saya suruh prajurit menangkapmu! bentak Ki Ageng tersinggung. Baik, saya akan pergi, Gusti. Akan tetapi, jika gusti ingin kekayaan, hamba bisa menunjukkan cara yang lebih mudah, kata Sunan. Hai, orang miskin! Jangan bicara sembarangan di depan Bupati! Saya bisa menghukummu. Akan tetapi, baiklah. Jika kamu bisa menunjukkan cara mencari kekayaan dengan mudah, ayo, tunjukkan! Akan tetapi, ingat! Jika kamu bohong, hukuman mati harus kamu terima, kata Ki Ageng. Baik, Gusti. Tolong hamba minta sebuah cangkul! pinta Sunan Kalijaga. Sunan kalijaga lalu mencangkul tanah di depan kabupaten. Ki Ageng kaget begitu melingkah bongkahan emas sebesar kepala kerbau dibalik tanah yang dicangkul Sunan Kalijaga. Ki Ageng lalu memperhatikan dagangan rumput itu dengan seksama. Setelah tahu siapa sebenarnya, ia pun terkejut. Maafkan, Sunan! Hamba salah, hamba siap dihukum, sembah Ki Ageng kepada Sunan. Baik, Adipati. Saya minta Adipati bisa kembali memerintah dengan cara yang benar. Pentingkan rakyat dan ingatlah kehidupan akhirat, ujar Sunan Kalijaga. Hamba laksanakan, Sunan, sahut Ki Ageng. Sejak kejadian itu, hidup Ki Ageng menjadi gelisah. Beliau lalu memutuskan untuk menebus kesalahannya. Beliau meninggalkan jabatan bupati. Beliau ingin mengikuti jejak Sunan Kalijaga menjadi penyiar agama. Nyai Ageng, sesuai dengan saran Sunan Kalijaga, aku harus pergi ke arah selatan. Setelah sampai di Gunung Jabalkat, aku akan mendirikan pesantren. Besok aku berangkat, kata Ki Ageng kepada istrinya. Ki, aku ikut, jawab Nyai Ageng. Boleh, tetapi Nyai tidak boleh membawa harta benda, kata Ki Ageng. Pada waktu yang ditentukan, Nyai Ageng belum siap. Beliau masih sibuk. Nyai Ageng ternyata mengatur perhiasan yang akan dibawanya dalam tongkat bamboo. Ki Ageng lalu berangkat duluan. Setelah siap, Nyai Ageng lalu menyusul. Di tengah jalan, Nyai Ageng dicegat tiga perampok yang meminta hartanya. Akhirnya, semua perhiasan yang dibawa diberikannya kepada para perampok. Nyai Ageng menysul Ki Ageng. Setelah bertemu, Nyai Ageng menceritakan peristiwa yang telah dialaminya. Tadi sudah saya katakana, jangan membawa harta benda. Itulah akibatnya. Akan tetapi, baiklah, Nyai. Sebentar lagi, kita akan sampai. Kelak, tempatmu dirampok tadi akan bernama Salatiga, berasal dari kata salah dan tiga, yaitu tiga orang yang bersalah, ujar KiAgeng.