Você está na página 1de 21

ANGGARAN DASAR

Bab I Nama, Waktu dan Kedudukan Pasal 1 Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Al Washliyah disingkat dengan nama HIMMAH Pasal 2 Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) didirikan di Medan, Sumatera Utara pada bulan Zulqaedah 1328 H, bertepatan dengan 30 November 1959 M untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya dan berkdudukan di ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta. Bab II Asas Organisasi ini berasaskan Islam Pasal 3

Bab III Sifat dan Fungsi Pasal 4 Sifat HIMMAH merupakan organisasi otonom dari Al Jamiyatul Washliyah yang bersifat mandiri dengan status independen. HIMMAH adalah organisasi kemahasiswaan yang berakidah Islam berlandaskan Al Quran dan Sunnah Rasulullah. Pasal 5 HIMMAH berfungsi sebagai wadah kaderisasi yang bertangung jawab terhadap proses regenerasi dalam organisasi Al Jamiyatul Washliyah (Al Washliyah) dan mengembangkannya menjadi kader-kader bangsa yang berkualitas, berketerampilan, serta mampu menyerap dan menyalurkan aspirasi mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakata, berbangsa dan bernegara. Bab IV Tujuan dan Usaha Pasal 6 Tujuan HIMMAH bertujuan untuk mewujudkan terbinanya mahasiswa sebagai kader Islam yang memiliki kesadaran ilmiah, bertaqwa, berakhlak mulia dan bertanggungjawab kepada agama, bangsa dan negara.

Pasal 7 Usaha Untuk mencapai tujuan, HIMMAH menyelesaikan dan menyelaraskan usaha bagi atau dengan: Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat); Panca Amal HIMMAH (Pendidikan, Dakwah, Sosial, Kesejahteraan dan Amar Maruf Nahi Munkar) Usaha-usaha lain yang sesuai dengan identitas dan asas organisasi. Bab V Keanggotaan Pasal 8 Untuk dapat menjadi anggota HIMMAH adalah mahasiswa Islam yang terdaftar pada Perguruan Tinggi. Bab VI Struktur Organisasi Pasal 9 Pimpinan Organisasi dipegang oleh Pimpinan Pusat (PP), Pimpinan Wilayah (PW), Pimpinan Cabang (PC), dan Pimpinan Komisariat (PK). Pasal 10 Kekuasaan Kekuasaan dipegang oleh Muktamar, Konferensi Wilayah (Konferwil), Konferensi Cabang (Konfercab), dan terakhir Musyawarah Komisariat (Muskom). Bab VII Pengambilan Keputusan Pasal 11 Bentuk pengambilan keputusan dilakukan melalui: Muktamar Konfrensi Musyawarah Rrapat Bab VIII Keuangan Pasal 12 Uang Pangkal dari iuran anggota. Usaha-usaha lain yang halal dan tidak mengikat. Bab IX Perubahan Anggaran Dasar dan Pembubaran Organisasi Pasal 13 Perubahan Anggaran Dasar dan pembubaran organisasi hanya dapat dilakukan oleh Muktamar.

Bab X Ketentuan Umum Pasal 14 Perubahan AD/ART Perubahan AD/ART dilakukan oleh dan dalam Mukatamar. Rencana perubahan AD/ART harus disampaikan kepada Wilayah-wilayah dan Cabang-cabang minimal 1 (satu) bulan sebelum Muktamar dilaksanakan. Pasal 15 Pembubaran Organisasi ini tidak dapat dibubarkan kecuali setengah lebih dari satu anggota biasa menghendakinya yang diputuskan dalam Muktamar dan sengaja dibuat untuk itu. Bab XI Aturan Tambahan Pasal 16 Penjelasan dan penjabaran AD dirumuskan dalam ART HIMMAH. Setelah AD/ART ini ditetapkan, maka setiap anggota HIMMAH dianggap telah mengetahui seluruh isinya. Setiap anggota harus mentaati AD/ART ini sebagaimana diatur dan disetujui bersama. Hal-hal yang belum diatur akan diatur kemudian oleh Pimpinan Pusat dengan menjiwai dan berlandaskan pada AD/ART HIMMAH.

ANGGARAN RUMAH TANGGA


Bab I Keanggotaan Anggota Anggota Anggota Anggota HIMMAH terdiri atas: Muda Biasa Kehormatan Pasal 1

Pasal 2 Anggota Muda adalah mahasiswa Islam yang setuju dengan perhimpunan ini dan telah mengikuti Masa Silaturrahmi Mahasiswa (Masima). Anggota Biasa adalah mahasiswa Islam yang setuju dengan perhimpunan ini dan telah mengikuti Latihan Kadar Dasar (LKD). Anggota Kehormatan adalah mahasiswa atau cendikiawan muslim yang telah berjasa terhadap organisasi ini. Pasal 3 Syarat-syarat keanggotaan: Setiap mahasiswa Islam yang ingin menjadi anggota harus mengajukan permohonan secara tertulis untuk mengikuti Masa Silaturahmi Mahasiswa Al-Washliyah (Masima) dan menjalankan AD/ART serta peraturan-peraturan lainnya kepada komisariat setempat dan ditetapkan sebagai anggota muda oleh Pimpinan Cabang. Apabila ayat 1 telah terpenuhi, yang bersangkutan dapat mengikuti Latihan Kader Dasar (LKD) HIMMAH dan dapat dinyatakan sebagai anggota biasa. Setiap anggota sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan 2 dapat diberikan Kartu Tanda Anggota (KTA) yang dikeluarkan oleh Pimpinan Cabang. Pasal 4 Hak dan Kewajiban Anggota

Hak anggota: Anggota muda mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pertanyaan dengan lisan atau tulisan kepada pengurus, mengikuti latihan-latihan kader organisasi dan kegiatankegiatan lainnya yang bersifat umum. Anggota biasa di samping mempunyai hak sebagaimana pada ayat 1 juga mempunyai hak untuk memilih dan dipilih. Anggota muda, anggota biasa, dan anggota kehormatan mempunyai hak untuk dapat membela diri apabila diberhentikan dari anggota. Kewajiban anggota: Taat menjalankan ajaran dan syariat Islam. Mentaati AD/ART serta keputusan HIMMAH yang telah diambil dengan sah. Membayar uang pangkal dan iuran anggota yang besarnya ditentukan

oleh pimpinan setempat Berpartisipasi dalam setiap kegiatan organisasi. Menjunjung tinggi kehormatan dan nama baik organisasi. Pasal 5 Masa Keanggotaan Anggota muda dinyatakan berakhir masa keanggotaannya disebabkan karena: Tidak mengikuti latihan kader dasar Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (LKD HIMMAH) setelah 1 (satu) tahun mengikuti masa silaturahmi mahasiswa Al Washliyah (Masima) Telah dinyatakan lulus mengikuti latihan kader dasar Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (LKD HIMMAH) Anggota biasa dinyatakan berakhir masa keanggotaannya setelah 5 (lima) tahun wisuda, status keanggotaan akan kembali apabila melanjutkan studi pada jenjang di atasnya. Bab II Jabatan Rangkap dan Skorsing Pasal 6 Jabatan Rangkap Pengurus HIMMAH tidak dibenarkan rangkap jabatan pada organisasi bagian Al Washliyah dan organisasi kemahasiswaan berbasis kader lainnya. Anggota dan pengurus HIMMAH yang mempunyai kedudukan pada organisasi lain harus menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan AD/ART HIMMAH. Pasal 7 Skorsing dan Pemberhentian Anggota HIMMAH kehilangan status keanggotaannya karena: Meninggal dunia. Telah habis masa keanggotaannya. Atas permintaan sendiri. Diberhentikan atau dipecat Anggota dapat diskor atau diberhentikan karena: Bertindak yang bertentangan dengan AD/ART HIMMAH Bertindak dengan sengaja yang merugikan dan mencemarkan nama organisasi. Pasal 8 Tata Cara Skorsing dan Pemberhentian Pengusulan skorsing dan pemberhentian pengurus komisariat dapat diajukan oleh Pimpinan Komisariat dan disampaikan kepada Pimpinan Cabang untuk ditetapkan melalui rapat pleno Pimpinan Cabang. Pengusulan skorsing dan pemberhentian pengurus cabang dapat diajukan oleh Pimpinan Cabang dan disampaikan kepada Pimpinan wilayah untuk ditetapkan melalui rapat pleno Pimpinan Wilayah. Pengusulan skorsing dan pemberhentian pengurus wilayah dapat diajukan oleh Pimpinan Wilayah dan disampaikan kepada Pimpinan Pusat untuk ditetapkan melalui rapat pleno Pimpinan Pusat. Pengusulan skorsing dan pemberhentian pengurus pusat dapat diajukan

dalam rapat pleno Pimpinan Pusat yang dihadiri dan disetujui oleh sekurang-kurangnya n + 1 anggota pleno Pimpinan Pusat. Pasal 9 Pembelaan Pengurus yang diskorsing atau diberhentikan diberi kesempatan untuk membela diri dalam rapat pleno sesuai tingkatannya. Bab III Pengkaderan Pasal 10 Dalam rangka mencapai tujuannya, HIMMAH melakukan pengkaderan dengan jenjang: Masa Silaturahmi Mahasiswa Al-Washliyah (MASIMA) oleh Pimpinan Komisariat Latihan Kader Dasar (LKD) oleh Pimpinan Komisariat Latihan Kader Menengah (LKM) oleh Pimpinan Cabang Latihan Kader Instruktur(LKI) oleh Pimpinan Wilayah Latihan Kader Nasional (LKN) oleh Pimpinan Pusat Latihan-latihan kader atau kegiatan lainnya yang bersifat meningkatkan kualitas anggota. Bab IV Struktur Organisasi Pasal 11 Status pimpinan pusat Pimpinan Pusat adalah pimpinan tertinggi dalam organisasi HIMMAH. Masa Jabatan pimpinann Pusat adalah 3 (tiga) tahun sejak keputusan ditetapkan. Pasal 12 Personalia Pimpinan Pusat Formasi Pimpinan Pusat terdiri dari 1 (satu) orang Ketua Umum, dibantu 6 (enam) orang Wakil Ketua, 1 (satu) orang Sekretaris Jenderal dibantu 6 (enam) orang Wakil Sekretaris Jenderal, serta 1 (satu) orang Bendara Umum dibantu oleh 2 orang Wakil Bendahara. Personalia Pimpinan Pusat disahkan oleh Mandataris Muktamar. Yang dapat menjadi Pimpinan Pusat adalah anggota biasa yang pernah menjadi Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, dan atau Pimpinan Cabang HIMMAH. Pasal 13 Tugas dan Kewajiban Melaksanakan hasil-hasil Muktamar HIMMAH. Menetapkan dan melaksanakan peraturan/ ketentuan tentang hal-hal yang belum diatur dalam AD/ ART HIMMAH. Pimpinan Pusat Bertanggung jawab terhadap Muktamar. Dalam keadaan tertentu Pimpinan Pusat (PP) dapat menyempurnakan personalia kepengurusan. Bab V Pasal 14

Status Pimpinan Wilayah Pimpinan Wilayah merupakan kesatuan organisasi yang dibentuk di tingkat propinsi yang struktur susunan kepengurusan disahkan oleh Pimpinan Pusat. Masa jabatan Pimpinan Wilayah adalah 3 (tiga) tahun terhitung sejak disahkan dan dilantik oleh Piminan Pusat. Pasal 15 Personalia Pimpinan wilayah Formasi Pimpinan Wialyah terdiri dari 17 orang yakni 1 orang Ketua dibantu oleh 6 orang Wakil Ketua. 1 orang sekretaris Jenderal dibantu 6 orang Wakil Sekretaris dan 1 orang Bendahara Umum dan dibantu 2 orang Wakil Bendahara. Yang menjadi Pimpinan Wilayah adalah anggota biasa yang pernah menjadi anggota wilayah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Komisariat. Pasal 16 Tugas dan Kewajiban Melaksanakan hasil-hasil dari Konferensi Wilayah serta mengembangkan kebijakan Pimpinan Pusat tentang berbagai masalah organisasi di wilayahnya. Mewakili Pimpinan Pusat dalam upaya menyelesaikan persoalan intern di wilayahnya. Memberi bimbingan, membina, mengkoordinir, dan mengawasi setiap kegiatan Cabang dan Komisariat di wilayahnya. Meminta laporan kegiatan Cabang dalam wilayahnya. Menyampaikan laporan kegiatan dalam satu tahun sekali kepada Pimpinan Pusat. Pimpinan Wilayah bertanggung jawab atas serah terima jabatan dan Pimpinan Domisioner. Pasal 17 Status Pimpinan Cabang Pimpinan Cabang merupakan kesatuan organisasi yang dibentuk di tingkat-tingkat kabupaten/kota yang susunan kepengurusannya disahkan oleh Pimpinan Wilayah. Masa jabatan Pimpinan Cabang adalah 2 (dua) tahun terhitung sejak disahkan oleh Pimpinan Wilayah. Pasal 18 Personalia Pimpinan Cabang Formasi Pimpinan Cabang terdiri dari 17 orang terdiri dari 1 orang ketua umum dibantu 6 orang wakil ketua. 1 orang Sekretaris Jenderal dibantu 6 orang Wakil Sekretaris dan Bendahara Umum dibantu 2 Wakil Bendahara. Yang dapat menjadi Pimpinan Cabang adalah anggota biasa yang pernah menjadi Pimpinan Cabang dan atau Pimpinan Komisariat. Pasal 19 Tugas dan Kewajiban Melaksanakan hasil-hasil ketetapan Konferensi Cabang serta ketentuanketentuan organisasi lainnya. Memberikan bimbingan, membina, mengkoordinasikan dan megawasi

kegiatan Komisariat dalam lingkungan kerjanya. Membentuk Komisariat dalam wilayah kerjanya. Meminta laporan dari kegiatan Komisariat dalam setiap satu semester kepada Pimpinan Wilaiyah. Pimpinan cabang sangat bertanggng jawab kepada Konferensi Cabang. Pasal 20 Status Pimpinan Komisariat Komisariat adalah merupakan kesatuan organisasi yang dibentuk pada satu atau beberapa Fakultas/Akademi dalam lingkungan Universitas/ Perguruan Tinggi dan atau yang sederajat dengan itu. Masa jabatan Pimpinan Komisariat adalah 1 tahun terhitung sejak disahkan oleh Pimpinan Cabang. Pasal 21 Personalia Pimpinan Komisariat Formasi kepengurusan Pimpinan Komisariat sekurang-kurangnya terdiri dari 5 (lima) orang yakni Ketua Umum, dibantu 1 (satu) orang Ketua Bidang, Sekretaris Umum dibantu 1 (satu) orang Wakil Sekretaris dan Bendahara. Adapun yang dapat menjadi Pimpinan Komisariat adalah anggota biasa. Pasal 22 Tugas dan Kewajiban Melaksanakan setiap dari hasil-hasil keputusan dan ketatapan Musyawarah Komisariat. Menyampaikan seluruh laporan kegiatan setiap 3 bulan sekali kepada Pimpinan Cabang. Pimpinan Komisariat sangat bertanggung jawab kepada Musyawarah Komisariat (MUSKOM). Bab VI Kekuasaan Tertinggi Pasal 23 Muktamar Muktamar memegang kekuasaan tertinggi di dalam organisasi HIMMAH. Mukatamar merupakan musyawarah utusan Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang dan Pimpinan Pusat HIMMAH. Muktamar dilaksanakan 3 tahun sekali. Dalam keadaan luar biasa Muktamar dapat diadakan atas inisiatif dari satu wilayah dengan sekurang-kurangnya mendapat persetujuan lebih dari setengah jumlah wilayah yang ada.

Pasal 24 Kekuasaan dan Wewenang Menetapkan AD/ART dan Garis Garis Besar Program Kerja (GBPK) tingkat pusat, serta ketentuan-ketentuan lain/pedoman pokok organisasi. Ketua Umum Pimpinan Pusat HIMMAH dipilih secara langsung oleh peserta Muktamar HIMMAH. Ketua Umum yang telah terpilih merupakan ketua formatur/ mandataris yang dibentuk oleh Muktamar. Memilih calon-calon tempat pelaksanaan Muktamar berikutnya. Pasal 25 Tata Tertib Muktamar Peserta Muktamar terdri dari Pimpinan Pusat, utusan dan peninjau dari Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang serta undangan Pimpinan Pusat. Pimpinan Pusat adalah penanggungjawab atas pelaksanaan Muktamar. Peserta utusan (Wilayah dan Cabang) mempunyai hak suara dan bicara, sedangkan pemantau mampunyai hak bicara. Pimpinan Sidang Pleno Muktamar dipilih dari dan oleh peserta Muktamar. Muktamar dapat dikatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah utusan Willayah dan Cabang. Apabila ayat 5 tidak terpenuhi, maka Muktamar ditunda 1 x 24 jam dan setelah itu dinyatakan sah. Setelah laporan pertanggungjawaban Pimpinan Pusat diterima, maka Pimpinan Pusat dinyatakan domisioner. Pasal 26 Konferensi Wilayah merupakan musyawarah

Konferensi Wilayah utusan Cabang dan Komisariat Konferensi Wilayah diselenggarakan 3 tahun sekali. Dalam keadaan luar biasa, Konferensi Wilayah dapat diadakan atas inisiatif satu cabang dengan persetujuan sekurang-kurangnya lebih dari setengah jumlah Cabang yang ada. Pasal 27 Kekuasaan dan Wewenang Menetapkan Garis-Garis Besar Program Kerja (GBPK) tingkat Wilayah Ketua Pimpinan Wilayah dipilih secara langsung oleh peserta konferensi. Memilih calon-calon tempat untuk pelaksanaan konferensi berikutnya. Pasal 28 Tata Tertib Wilayah Konferensi Wilayah terdiri dari Pimpinan Wilayah, utusan dan peninjau dari Cabang dan Komisariat serta undangan Pimpinan Wilayah. Pimpinan Wilayah adalah merupakan penanggungjawab atas penyelenggaraan konferensi. Peserta utusan (Cabang dan Komisariat) mempunyai hak suara dan bicara, sedangkan peninjau mempunyai hak bicara. Pimpinan Sidang Pleno Konferensi Wilayah dipilih dari dan oleh peserta.

Konferensi Wilayah baru dapat dikatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah peserta. Apabila ayat 5 tidak terpenuhi, maka Konferensi Wilayah ditunda 1 x 24 jam dan setelah itu dinyatakan sah. Setelah laporan pertanggungjawaban Pimpinan Wilayah diterima, Pimpinan Wilayah dinyatakan domisioner. Pasal 29 Konferensi Cabang Konferensi Cabang merupakan musyawarah utusan Komisariat. Konferensi Cabang diselenggarakan 2 tahun sekali. Bagi Cabang yang sama sekali tidak mempunyai Komisariat diselenggarakan melalui cara musyawarah anggota Cabang. Dalam keadaan luar biasa, Konferensi Cabang dapat diadakan atas inisiatif satu Komisariat dengan persetujuan sekurang-kurangnya lebih setengah dari jumlah Komisariat atau anggota Cabang. Pasal 30 Kekuasaan dan Wewenang Menetapkan Garis-Garis Besar Program Kerja (GBPK) tingkat Cabang. Ketua Pimpinan Cabang dengan jalan memilih ketua yang merangkap sebagai formatur/mandataris dan kemudian dua mide formatur. Pasal 31 Tata Tertib Konferensi Cabang Peserta Konferensi Cabang tediri dari pengurus Cabang, Utusan dan Peninjau dari Komisariat serta undangan Pimpinan Cabang. Pimpinan Cabang adalah merupakan penanggungjawab atas penyelenggaraan Konferensi Cabang. Peserta utusan (Komisariat) mempunyai hak suara dan bicara, sedangkan Peninjau mempunyai hak bicara. Pimpinan Sidang Pleno Konferensi Cabang dipilih dari dan oleh Konferensi. Konferensi Cabang baru dapat dikatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah peserta utusan Komisariat. Apabila ayat 5 tidak terpenuhi, maka Konferensi Cabang ditunda 1 x 24 jam dan setelah itu dinyatakan sah. Banyaknya peserta utusan Komisariat dan Peninjau ditetapkan oleh Pimpinan Cabang. Setelah laporan pertanggung jawaban diterima, maka Pimpinan Cabang dinyatakan domisioner. Pasal 32 Musyarawarah Komisariat Musyawarah Komisariat ini merupakan musyawarah anggota biasa Komisariat. Musyawarah Komisariat diadakan 1 tahun sekali. Dalam keadaan luar biasa, Musyawarah Komisariat dapat diadakan atas inisiatif satu orang anggota dengan persetujuan sekurangkurangnya lebih dari setengah anggota biasa. Pasal 33 Kekuasaan dan Wewenang Menetapkan berbagai Program Kerja Organisasi (PKO) Komisariat. Memilih Pimpinan Komisariat dengan jalan memilih ketua

yang

merangkap sebagai formatur/mandataris dan kemudian memilih dua orang mide formatur. Pasal 34 Tata Tertib Musyawarah Komisariat Peserta Musyawarah Komisariat tediri dari Pimpinan Komisariat, anggota Komisariat (anggota muda, anggota biasa dan anggota kehormatan) serta undangan Pimpinan Komisariat. Pimpinan Komisariat adalah penanggungjawab atas penyelenggaraan MUSKOM. Peserta utusan adalah Anggota Biasa sedangkan Anggota Muda, Anggota Kehormatan dan undangan Pimpinan Komisariat adalah peserta Peninjau. Peserta utusan (Anggota Biasa) mempunyai hak suara dan bicara, sedangkan Peninjau mempunyai hak bicara. Pimpinan Sidang Pleno Musyawarah Komisariat dipilih dari dan oleh peserta dengan berbentuk Presedium Sidang. MUSKOM baru dapat dikatakan sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah Anggota Biasa. Apabila ayat 5 tidak terpenuhi, maka MUSKOM ditunda selama 1 x 30 jam dan setelah itu dinyatakan sah. Setelah laporan pertanggung jawaban diterima, maka Pimpinan Komisariat dinyatakan domisioner. Bab VII Pengambilan Keputusan Pasal 35 Rapat Kerja adalah rapat yang dilaksanakan untuk menyusun dan menetapkan program kerja. Rapat Kerja dilaksanakan oleh Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Komisariat. Rapat Kerja dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali dalam periode kepengurusan. Pasal 36 Rapat Pleno Rapat Pleno adalah rapat yang dihadiri oleh Pengurus Harian dan Departemen-Departemen. Pasal 37 Rapat Pimpinan Nasional Rapat Pimpinan Nasional adalah rapat yang dihadiri oleh Pimpinan Pusat dan seluruh Pimpinan Wilayah.

Pasal 38 Rapat Harian Rapat Harian adalah rapat yang dihadiri oleh Pengurus Harian dan Ketua-ketua Departemen. Bab VIII Departemen-Departemen Pasal 39 Status dan Bentuk Departemen adalah pelaksana tugas dan pimpinan yang bertanggung jawab kepada Ketua Bidang. Departemen ada di tingkat Pusat, Wilayah, Cabang dan Komisariat Bentuk-bentuk Deparetemen Departemen Pendidkan dan Kaderisasi. Departemen Hubungan Organisasi Kemahasiswaan dan Pemuda. Departemen Dakwah dan Pers. Departemen Penelitian dan Pengembangan Organisasi. Departemen Ekonomi dan Amal Sosial. Departemen Pemberdayaan dan Peranan Perempuan. Tugas dan wewenang dari tiap-tiap Departemen ditentukan dalam rapat kerja yang dijiwai oleh AD/ART dan PO Organisasi. Pengurus Departemen sekurang-kurangnya terdiri dari seorang Ketua, Sekretaris dan dibantu oleh dua orang anggota. Jika pimpinan merasa perlu dapat merubah departemen sesuai kebutuhan. Bab IX Hak Milik dan Wakaf Pasal 40 Pengaturannya Setiap yang dibeli oleh atau atas nama HIMMAH atau yang diusahakan/ diserahkan kepadanya, maka benda tersebut menjadi milik HIMMAH. Setiap benda yang diperoleh dengan jalan wakaf, maka HIMMAH yang menjadi nazirnya. Segala pemindahan hak atau milik organisasi harus seizin pimpinan pada tingkatnya masing-masing. Jika terjadi pembubaran organisasi pada suatu daerah atau tempat, maka segala inventarisnya dikuasai pimpinan di atasnya. Jika Himpunan dibubarkan, segala harta benda yang dimiliki dan wakaf yang dinazirnya diserahkan dan dipergunakan untuk keperluan umat Islam.

Bab X Atribut Organisasi Pasal 41 Bendera, Lambang dan Lagu Bendera HIMMAH adalah bulan sabit berbintang lima berwarna putih dengan tulisan HIMMAH di bawahnya dalam perisai puncak lima dengan dasar hijau, ukuran panjang 120 cm dan lebar 90 cm. Lambang Organisasi adalah bulan sabit berbintang lima warja putih dengan tulisan HIMMAH dibawahnya dalam perisai berpuncak lima dengan dasar berwarna hijau. Lagu wajib organisasi adalah Mars HIMMAH gubahan H.M. Ridwan Ibrahim Lubis. Atribut organisasi lainnya yang belum tercantum dan penjelasannya akan dimuat dalam PO HIMMAH.

PERATURAN ORGANISASI
Pengangkatan Dewan Pembina, Dewan Penasehat dan Biro Instruktur Pasal 1 Dewan Pembina, Dewan Penasehat, dan Pembentukan Biro Instruktur adalah alat kelengkapan organisasi dalam menjalankan kegiatan kaderisasi dan mitra dialog bagi masing-masing tingkatan. Pasal 2 Kedudukan dan Fungsi Kedudukan Dewan Pembina, Dewan Penasehat, dan Biro Instruktur berkedudukan di tingkat Pusat, Wilayah, Cabang dan Komisariat. Fungsi dan Tugas: Memberikan masukan kepada seluruh pengurus di masing-masing tingkatan. Menyusun Tim Instruktur dan materi LKD, LKM, dan LKI untuk dibuat Surat Keputusan oleh masing-masing tingkatan. Pasal 3 Usaha Berdasarkan pengertian dan fungsi di atas, maka usaha yang harus dicapai: Mengembangkan pola/bentuk pikir dan orientias, meningkatkan potensi dan kualitas kader HIMMAH terhadap pelaksanaan bangunan nasional dan daerah. Memotivasi kader HIMMAH dalam mengembangkan inisiatif dan kreativitasnya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Pasal 4 Pengangkatan Dewan Pembina Dewan Pembina HIMMAH adalah terdiri atas Pemprov/Pemko/ Pemkab, sesuai dengan tingkatan dan wilayah kerja masing-masing. Susunan/format Dewan Pembina disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tingkat organisasi. Pasal 5 Pengangkatan Dewan Penasehat Dewan Penasehat HIMMAH terdiri dari senioran HIMMAH, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda di tingkat Nasional, Wilayah, Cabang yang setuaju dengan AD/ART HIMMAH yang disusun berdasarkan kebutuhan. Dewan Pembina dan Dewan Penasehat memberikan masukan-masukan tentang setiap permasalahan intern HIMMAH di masing-masing tingkatakan. Pasal 6 Pembentukan Biro Instruktur Biro Instruktur merupakan biro independen yang tidan terikat dalam struktur pengurus harian dan departemen di tingkat Pusat, Wilayah, dan Cabang yang ditetapkan oleh masing-masing tingkatan.

Struktur/format Biro Instruktur terdiri dari 1 orang wakil ketua, 1 orang sekretaris, 2 orang wakil sekretaris, 1 orang bendahara dan beberapa anggota. Keuangan Biro Instruktur disusun oleh pengurus Biro Instruktur melalui persentasi dari panitia LKD, LKM, LKI dan LKN. Biro Instruktur pada tingkat Wilayah merupakan wadah dialog/diskusi bagi Biro Instruktur Cabang yang berkenaan dengan materi dan sistem kaderisasi. Pasal 7 Kurikulum Kaderisasi Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan kurikulum kaderisasi di lingkungan HIMMAH telah terlampir di akhir Peraturan Organisasi ini. Pasal 8 Ketentuan Umum Dalam rangka memudahkan koordinasi pelaksanaan program kaderisasi, maka Biro Instruktur itu dapat membuat berbagai kebijakan/ketentuan dalam rangka pelaksanaan kaderisasi dan disahkan oleh pimpinan di masing-masing tingkatan. Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Organisasi ini akan ditetapkan kemudian oleh Pimpinan Pusat HIMMAH. Pelaksanaan Konferwil, Konfercab dan Muskom Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Konferensi Wilayah, Konferensi Cabang dan Musyawarah Komisariat adalah pemegang kedaulatan tertinggi HIMMAH di tingkat propinsi, kabupaten/kota dan komisariat yang selanjutnya dalam PO ini disebut Konferwil, Konfercab, dan Muskom yang diadakan setiap 3 tahun sekali untuk tingkat Wilayah, 2 tahun sekali untuk tingkat Cabang, dan 1 tahun sekali untuk tingkat Komisariat. Bab II Tugas dan Wewenang Pasal 2 Adapun tugas dan Wewenang Konferwil, Konfercab dan Muskom adalah: Menyusun program Wilayah, Cabang, dan atau Komisariat dalam rangka pelaksanaan program umum organisasi sesuai dengan wilayah kerja masing-masing. Menentapkan susunan Dewan Pembina dan Dewan Penasehat di masing-masing tingkatan. Menilai dan mengesahkan laporan pertanggungjawaban pimpinan di masing-masing tingkatan. Memilih, mengangkat dan menyusun formasi pimpinan di masingmasing tingkatan.

Bab III Penyelenggaraan Pasal 3 Konferwil diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Konfercab diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muskom diselenggarakan oleh Pimpinan Komisariat. Pasal 4 Adapun penyelenggara/pelaksana Konferwil, Konfercab dan Muskom bertanggungjawab atas: Ketertiban dan kelancaran penyelenggaraan Konferwil, Konfercab dan Muskom. Berlangsungnya Konferwil, Konfercab dan Muskom dalam suasana kebersamaan demi permusyawaratan dan kemufakatan. Bab IV Peserta dan Peninjau Pasal 5 Konferwil, Konfercab dan Muskom dihadiri peserta dan peninjau Peserta Konferwil, Konfercab, dan Muskom terdiri dari: Konferwil dihadiri oleh: Pimpinan Pusat HIMMAH Pengurus Harian dan Anggota Pleno Pimpinan Wilayah Pimpinan Cabang HIMMAH Pimpinan Komisariat HIMMAH Konfercab HIMMAH terdiri oleh: Pimpinan Wilayah HIMMAH Pengurus Harian dan Anggota Pleno Pimpinan Cabang Cabang Pimpinan Komisariat HIMMAH Muskom dihadiri oleh: Pimpinan Cabang HIMMAH Pengurus Harian Komisariat Jumlah Peserta dan Peninjau Konferwil, Konfercab, dan Muskom ditentukan oleh Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Komisariat yang disesuaikan dengan tingkat organisasinya masingmasing. Peninjau Konferwil dan Konfercab: Dewan Pembina Dewan Penasehat Ketua Organisasi Bagian Al-Washliyah di masing-masing tingkatan. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda dan Mahasiswa Undangan Lainnya. Peninjau Muskom adalah Komisariat yang ada di wilayah kerja Pimpinan Cabang setempat dan atau undangan lainnya. Pasal 6 Hak Suara dan Bicara Peserta Konferwil, Konfercab, dan Muskom berhak: Atas satu suara yang dapat dipergunakan dalam keputusan.

pengambilan

Mengajukan pertanyaan, usul, atau pendapat, baik lisan maupun tulisan atas seizin pimpinan sidang. Setiap utusan mempunyai hak, kesempatan dan kebebasan yang sama untuk mengeluarkan pendapat dan atau kritik yang bersifat membangun. Pasal 7 Peninjau berhak: Mengajukan pertanyaan, usul, atau pendapat baik lisan maupun tulisan atas seizing pimpinan sidang. Setiap peninjau mempunyai hak, kesempatan dan kebebasan yang sama untuk mengeluarkan pendapat atau kritik yang membangun Bab V Waktu dan Tempat Pasal 8 Pelaksanaan Konferwil, Konfercab dan Muskom disesuaikan dengan periodesasi kepengurusan masing-masing, kecuali ada hal-hal tertentu yang sangat mendesak bagi pengembangan organisasi, Konferwil, Konfercab, dan Muskom dapat ditunda dengan seizin pimpinan di atasnya. Konferwil, Konfercab, dan Muskom tersebut dapat dilaksanakan di tiaptiap wilayah kerjanya masing-masing. Bab VI Konferensi Luar Biasa Pasal 9 Materi Konferensi Luar Biasa (Konferlub) dipersiapkan oleh pimpinan HIMMAH di atasnya sekaligus sebagai penanggungjawab dan menunjuk panitia pelaksana. Konferlub dapat dilaksanakan jika diputuskan dalam rapat pleno di masing-masing tingkatakan yang dihadiri oleh lebih dari setengah pengurus harian dan diusulkan secara tertulis oleh Pimpinan di bawahnya lebih dari setengah jumlah yang ada. BAB VII Alat-Alat Kelengkapan Konferensi Pimpinan Konferensi Panitia Pengarah Panitia Sidang Pimpinan sidang Sidang Pleno Sidang Komisi-komisi Formatur Konferensi Sidang Formatur Pasal 10

Pasal 11 Adapun Pimpinan Konferensi adalah penanggungjawab komperensi di masing-masing tingkatan. Pimpinan Konferensi mempunyai tugas: Menjaga ketertiban, kelancaran, dan kesuksesan serta kebersamaan Konferensi. Dalam hal tertentu, Pimpinan Konferensi dapat bertindak sebagai pimpinan organisasi yang bersifat sementara. Panitia Pengarah (SC) dibentuk berdasarkan SK pimpinan di masingmasing tingkatan yang bertugas menyiapkan dan mengarahkan materi yang akan dibahas dan disahkan dalam konferensi sekaligus sebagai pimpinan sidang sementara. Panitia Pelaksana (OC) dibentuk berdasarkan SK pimpinan masingmasing tingkatan yang bertugas menyiapkan teknis penyelenggara agar berjalan tertib dan lancar. Pimpinan sidang dipilih dari dan oleh peserta Konferensi yang berjumlah 5 orang yang bekerja secara kolektif. Pimpinan Sidang bertugas memimpin seluruh sidang pleno II dan VII dan masing-masing tingkatan. Pimpinan Sidang untuk Konferwil, 2 orang dari Wilayah, 2 orang dari Cabang, dan 1 orang dari Komisariat. Pimpinan Sidang untuk Konfercab, 1 orang dari Wilayah, 2 orang dari Cabang, dan 2 orang dari Komisariat. Pimpinan Sidang untuk Muskom 2 dan Cabang dan 3 orang dari Komisariat. Pimpinan Sidang Sementara hanya bertugas memimpin sidang Pleno I. Komisi-komisi Konferensi terdiri dari: a. Komisi A membidangi Konsolidasi Organisasi b. Komisi B membidangi Program Kerja c. Komisi C membidangi Rekomendasi Tim Perumus sidang Komisi adalah yang diangkat dari dan oleh anggota masing-masing Komisi yang bertugas merumuskan hasil-hasil Sidang Komisi di hadapan Sidang Pleno. Sidang-sidang dan rapat-rapat Konferensi terdiri: a. Sidang Pleno b. Sidang Komisi c. Sidang Formatur Pimpinan Sidang terdiri dari 1 orang ketua, 1 orang sekretaris dan 3 orang anggota yang disepakati sebagai peserta Konferensi. Pimpinan Sidang merupakan satu kesatuan yang bersifat kolektif. Pimpinan Sidang berkewajiban: Memimpin persidangan agar tetap dalam suasana kebersamaan sehingga dapat berjalan dengan lancar dan tertib. Berusaha dan berupaya mempertemukan pendapat, menyimpulkan pembicaraan dan persoalan pada proporsinya serta meluruskan masalah yang berkembang sesuai dengan alur pembicaraan. Bab VII Tata Cara Pemilihan Ketua Pasal 11

Pemilihan Ketua dilaksanaan dengan tahap sebagai berikut: Inventarisasi/pencalonan bakal calon Ketua. Penilaian persyaratan bakal calon melalui Pimpinan Sidang. Pengesahan bakal calon Ketua adalah hak Pimpinan Sidang setelah memperhatikan ayat 2. Calon Ketua dipilih dan ditetapkan oleh peserta dalam Sidang Pleno. Pemilihan Ketua oleh peserta secara langsung, bebas dan rahasia. Sebelum pemilihan Ketua dilaksanakan, maka para calon Ketua tersebut harus diberikan kesempatan untuk menyampaikan konsep pokokpokok program. Pasal 12 Prasyarat Ketua Persyaratan Calon Ketua Komisariat: Beragama Islam. Anggota Biasa Prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela secara moral. Masih terdaftar sebagai mahasiswa aktif. Pernah mengikuti dan memiliki sertifikat MASIMA HIMMAH. Persyaratan Calon Ketua Cabang Beragama Islam. Prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela secara moral. Masih terdaftar sebagai mahasiswa aktif. Berumur maksimal 25 tahun. Pernah mengikuti dan memiliki sertifikat LKM HIMMAH. Pernah aktif menjadi pengurus harian Komisariat atau cabang satu periode penuh. Mendapat mandat/rekomendasi dari salah satu Komisariat. Minimal didukung oleh 3 orang. Memiliki KTA HIMMAH yang masih berlaku. Persyaratan calon Ketua Wilayah: Pernah aktif menjadi pengurus harian cabang dan Wilayah HIMMAH satu periode penuh. Berusia Maksimal 30 tahun Prestasi, dedikasi,loyalitas, tidak tercela secara moral. Beriman dan bertaqwa. Bersedia mengembangkan amanah AD/ART hingga akhir periode. Pernah mengikuti dan memiliki sertifikat LKM. Didukung minimal oleh 5 orang peserta. Masih Anggota Biasa HIMMAH. i. Mendapat rekomendasi dari PW, PC dan atau PK yang ada. Bab IX Tata Cara Pemilihan Formulir Pasal 13 Pemilihan Formatur dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: Formatur dipilih dari dan oleh peserta yang disahkan di dalam Sidang Pleno. Komposisi Formatur terdiri dari seorang Ketua merangkap anggota, seorang Sekretaris merangkap anggota dan anggota-anggota Formatur. Formatur Konferwil ditetapkan sebanyak 5 orang terdiri dari: Unsur Wilayah HIMMAH domisioner satu orang Unsur Cabang dua orang

Unsur Komisariat satu orang Ketua terpilih satu orang 4. Formatur Konfercab ditetapkan sebanyak 5 orang terdiri dari: Unsur Wilayah HIMMAH satu orang Unsur Cabang Domisioner satu orang Unsur Komisariat dua orang Ketua terpilih satu orang Formatur mempunyai wewenang penuh untuk menyusun komposisi pengurus dengan memperhatikan rekomendasi dari pimpinan masing-masing tingkatan. Bab X Pelantikan Pasal 14 Hal-hal lyang berkaitan dengan pelantikan pengurus tingkat Wilayah, Cabang, dan Komisariat akan diatur tersendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing tingkatan yang dilanjutkan dengan Rapat Kerja. Bab XI Rapat Kerja Nasional, wilayah, dan Cabang Pasal 15 Tugas, Fungsi, Waktu dan Peserta adalah: Menjabarkan seluruh pokok-pokok Program Nasional, Wilayah dan Cabang hasil dari Muktamar, Konferwil, Konfercab kedalam bentuk program kerja. Mengadakan berbagai evaluasi dan penilaian terhadap pelaksanaan program-program kerja sebelumnya, serta menetapkan programprogram kerja dan pelaksanaan selanjutnya. Rapat Kerja Nasional dan Wilayah diadakan minimal dua kali di antara dua Muktamar, dan Rapat Kerja Cabang diadakan minimal satu kali di antara dua Konfercab. Jumlah Peserta ditetapkan oleh rapat Pleno di masing-masing tingkatan. Peninjau adalah Organisasi Bagian Al-Washliyah yang memiliki hak bicara. Administrasi