Você está na página 1de 2

Brill hematoma Brill hematoma.

Brill hematoma dapat disebabkan adanya fraktur basis kranii yang menyebabkan pecahnya arteri oftalmika yang menyebabkan darah masuk kedalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita. Akibatnya darah tidak dapat menjalar lanjut karena dibatasi septum orbita kelopak maka terbentuk gambaran hitam kemerahan pada kelopak seperti seseorang yang memakai kacamata. Karena pada kedua mata terjadi pembengkakan palpebra superior dan inferior mata menjadi berat dan susah untuk dibuka (ptosis). Konjungtiva palpebra merupakan membrane mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permuksaan posterior kelopak mata. System vascular dari konjungtiva palpebra berasal dari arteri palpebralis yang apabila pada palpebra mengalami trauma pada mata, pembuluh darah dapat pecah kemudian terjadi edema konjungtiva (kemosis konjungtiva). Selain itu arteri palpebralis juga merupakan salah satu cabang arteri oftalmika, yang apabila terjadi fraktur basis kranii dapat pula pecah dan menjadi edema konjungtiva (kemosis konjungtiva). Bila edema ini besar atau banyak menyebabkan mata tidak bisa tertutup (lagoftalmus) dan konjungtiva dapat terpapar dengan udara luar yang bisa menimbulkan infeksi. Diagnosa brill hematoma dapat ditegakkan secara klinis. Diagnosa pada pasien ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik. Pada anamnesa didapatkan pasien pasca mengalami trauma tumpul pada mata atau terkena benturan pada kepalanya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kedua kelopak mata bengkak, nyeri, warna merah keunguan seperti kacamata. Pada brill hematom penanganannya dengan kompres air dingin selama 5 hari untuk menghentikan perdarahan kemuadian dilanjutkan dengan kompres air panas agar darah dapat terabsorbsi. Terapi untuk cedera kepalanya dapat dilakukan tirah baring selama 7-10 hari,

pemberian anti edema ceerebri, anti perdarahan dan pengobatan simptomatik. Pada pasien ini terjadi mual, ingin muntah (antiemetic, cimitidin), nyeri kepala (analgesic, paresetamaol atau asam mefenamat), rinore dan otore (anti perdarahan, kortikosteroid). Dilakukan operasi bila ada komplikasi. KESIMPULAN Pasien berumur 20 tahun dengan riwayat cedera kepala ringan karena kecelakaan. Datang ke rumah sakit dengan hematoma palpebra, edema konjungtiva, mata terbuka dan sukar menutup dengan visus 2/60. Maka dapat diagnosis dengan brill hematoma (hematoma kacamata) di sertai kemosis konjungtiva dan lagoftalmus pada post trauma tumpul. Penanganannya yaitu dengan kompres air dingin dilanjutkan dengan kompres air panas.