Você está na página 1de 96

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI MEDAN

ANALISIS PENGARUH KREDIT PERBANKAN, LAMA USAHA DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP OMSET PENGUSAHA KECIL ROTAN DI KECAMATAN MEDAN BARAT MEDAN

Skripsi

Diajukan Oleh :

ELSA ASTARINA GINTING 040501011 Ekonomi Pembangunan

Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Medan 2008
Elsa Astarina Ginting : Analisis Pengaruh Kredit Perbankan, Lama Usaha Dan Tingkat Pendidikan Terhadap, 2008 USU Repository 2009

2 ABSTRACT

The principal purposes of research to know as much asbig the influence of credit banking, long time of industry and education on the exchange income of small industrialist rattan in Subdistrict West Medan. From research to find that small industry rattan have powerful and weakness in matter potential growth and continuity industry. The growth will increase income and decrease poverty. The data in this research are primary and secondary explanation. Gathering of explanation, did by interview, observation and questioner that related with this script. The model analysisi is linear regression modelwith employs the Ordinary Least Square (OLS) method. Data was processed by Eviews 4.1. In the equation model, income is the dependent variableand credit banking, long time of industry and education is independent variables. The quantitative analysis recommends that income is influenced by credit banking, long time of industry and education have influence is significant to income small industrialist rattan. This matter can be seen from R-squared 0,98. It means that credit banking, long time of industry and education, have and effecton equal to 98%, to income small industrialist rattan and 2% explained by other variable is not packed in to model estimation.

Key words : income, credit banking, long time of industry and education.

3 ABSTRAK

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kredit perbankan, lama usaha dan tingkat pendidikan terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat Medan. Dari penelitian menemukan bahwa Usaha kecil kerajina rotan memiliki kekuatan dan kelemahan dalam hal potensi pengembangan dan keberlanjutan usaha. Pengembangan itu akan meningkatkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpula data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan kuisioner yang berhubunga dengan penelitian ini. Model analisis data adalah regresi linier berganda dengan memakai metode Ordinary Least Square (OLS). Data yang diproses menggunakan Eviews 4.1. Dalam persamaan model, omset adalah sebagai variabel terikat sedangkan kredit perbankan, lama usaha dan tingkat pendidikan adalah sebagai variabel bebas. Dari hasil penelitian dengan menggunakan Eviews 4.1, maka dapat diketahui bahwa variabel-variabel independen yaitu kredit perbankan, lama usaha dan tingkat pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap omset pengusaha kecil rotan. Hal ini dapat dilihat dari R-square 0.98. Hal ini berarti bahwa kredit perbankan, lama usaha dan tingkat pendidikan berpengaruh sebesar 98% terhadap omset pengusaha kecil rotan, sedangkan sisanya 2% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam estimasi model.

Kata Kunci : Pendapatan (omset), kredit perbankan, lama usaha dan tingkat pendidikan.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugrahkan rahmat, berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat bagi penulis untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Departemen Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara. Skripsi yang disusun penulis berjudul : Analisis Pengaruh Kredit Perbankan, Lama Usaha dan Tingkat Pendidikan terhadap Omset Pengusaha Kecil Rotan di Kecamatan Medan Barat Medan. Selama mengerjakan skripsi ini, penulis banyak memperoleh bantuan, dukungan materil, spirituil dan doa dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis dengan rendah hati menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, SE, M.Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara 2. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec selaku Ketua Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Drs. Rujiman, MA selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, membantu dan mangarahkan penulis dalam penyempurnaan skripsi ini. 4. Bapak Drs. Jonathan Sinuhaji, M.Si dan Bapak Paidi Hidayat, SE, M.Si selaku dosen pembanding yang telah banyak memberikan masukan hingga skripsi ini selesai. 5. Seluruh Staff Pengajar dan Staff Pegawai di Fakultas Ekonomi khususnya Departemen ekonomi Pembangunan yang telah mendidik, membimbing dan memperluas wawasan penulis selama masa perkuliahan. 6. Dengan rasa hormat dan sayang skripsi ini penulis persembahkan kepada Ayahanda (J. Ginting) dan Ibunda (T. br Bangun) yang selalu mendukung dengan doa, kasih sayang dan perhatian yang sangat besar. Dan juga buat adik-adikku (Amos, Yopie dan Mona) serta keluarga besar, I love you so much.

5 7. Teman-teman seperjuangan penulis: Diana, Netty, Tia, Sarma, Neva, Ciol, Julina, Inces, Eva, Era dan juga Kak Eva terima kasih atas segala perhatian, semangat, bantuan dan kasihnya selama ini 8. Semua teman-teman mahasiswa Departemen Ekonomi Pembangunan khususnya stambuk 04, Good luck for you all dan tetap semangat!!! 9. Teman-teman Penulis : Rosa, Frina, Dewi, Yanti, Loka, Lamria dan teman-teman semuanya yang telah membantu penulis dan memberikan semangat, bantuan, perhatian dan doanya sampai skripsi ini selesai, God bless you all. 10. Semua pihak yang ikut membantu sampai skripsi ini dapat diselesaikan, Thank you very much. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang dapat membangun kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat berguna sebagaimana yang diharapkan pembaca.

Medan,

Maret 2008

Penulis

(Elsa Astarina Ginting)

NIM: 040501011

DAFTAR ISI

ABSTRACT . ..i ABSTRAK ....ii

KATA PENGANTAR .iii DAFTAR ISI .v DAFTAR TABEL ..viii DAFTAR GAMBAR ...ix DAFTAR SINGKATAN .xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .1

1.2 Perumusan Masalah .5 1.3 Hipotesis ..6 1.4 1.5 Tujuan Penelitian .7 Manfaat Penelitian ...7

BAB URAIAN TEORITIS 2.1 Kredit ..8 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 Pengertian Kredit 8 Unsur-Unsur Kredit 8 Fungsi Kredit 10 Tujuan Kredit 11 Jenis-jenis Kredit ..12 Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit .16

7 2.1.7 2.2 Jaminan Kredit ..18

Pendidikan ..19 2.2.1 2.2.2 2.2.3 Pengertian Pendidikan ..19 Bentuk-Bentuk Pendidikan .. 20 Pentingnya Pendidikan Dikalangan Pengusaha Kecil ..23

2.3

Pendapatan 25 2.3.1 2.3.2 Pengertian Pendapatan ..25 Sebab-Sebab Ketimpangan Pendapatan 28

2.4

Pengusaha Kecil . ..30 2.4.1 2.4.2 2.4.3 2.4.4 Pengertian Pengusaha Kecil...30 Peran Usaha Kecil .33 Bentuk-Bentuk Usaha Kecil .34 Keberhasilan dan Kegagalan Usaha Kecil 35

BAB II METODE PENELITIAN 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 Lokasi Penelitian 37 Jenis dan Sumber Data ..37 Populasi/Responden ...37 Pengolahan Data 38 Model Analisis Data ......38 Uji Kesesuaian Data ...39 3.6.1 3.6.2 3.6.3 Koefisien Determinasi...39 Uji t-statistik ......................39 Uji F-statistik ...41

8 3.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik..42 3.7.1 3.8 Multicolinearity..42

Defenisi Operasional...43

BAB IV DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Kecamatan Medan Barat...44 4.1.1 4.1.2 4.2 4.3 Sejarah Singkat Kecamatan Medan Barat..44 Letak Geografis Kecamatan Medan Barat.46

Penduduk dan Tenaga Kerja...47 Potensi Ekonomi.48

BAB V HASIL ESTIMASI DAN INTERPRETASI 5.1 5.2 5.3 Kinerja Usaha Kecil dalam Pertumbuhan Ekonomi...52 Hasil Penelitian melalui Penelitian.53 Hasil Estimasi dan Interpretasi...59 5.3.1 5.3.2 5.3.3 5.3.4 Pengujian Pengaruh Variabel Bebas terhadap Variabel Terikat59 Interpretasi Model Linier...60 Uji Kesesuaian...61 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik.66

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 6.2 Kesimpulan.68 Saran...69

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN SURAT PERNYATAAN

DAFTAR TABEL

No.Tabel 4.1 4.2 4.3 4.4 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 5.7

Judul

Halaman

Banyaknya Lingkungan RW,RT,dan Blok Sensus Dirinci Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Barat..46 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Barat..47 Banyaknya Lembaga Keuangan Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Barat ...48 Banyaknya Perusahaan Industri Besar,Sedang,Kecil,Kerajinan Rumah Tangga Menurut Keluraha di Kecamatan Medan Barat...50 Modal Sendiri ...54 Usia Responden.................................55 Lama Usaha...56 Tingkat Pendidikan57 Kredit Perbankan...58 Pendapatan.....59 Hasil Analisa Regresi.....60

10

DAFTAR GAMBAR

No Gambar 3.1 3.2 5.1 5.2 5.3 5.4

Judul Halaman Kurva Uji t-statistik.....41 Kurva F-statistik..42 Kurva F-statistik Data..63 Kurva Uji t-statistik terhadap Kredit Perbankan.....64 Kurva Uji t-statistik terhadap Lama Usaha.65 Kurva Uji t-statistik terhadap Pendidikan...66

11

DAFTAR SINGKATAN
BI BPR BPS GBHN GNP IK PDB PP = = = = = = = = Bank Indonesia Bank Perkreditan Rakyat Badan Pusat Statistik Garis-Garis Besar Haluan Negara Gross National Product Industri Kecil Produk Domestik Bruto Peraturan Pemerintah Program Pembangunan Nasional Propinsi Sumatera Utara Republik Indonesia Rumah Tangga Sumber Daya Manusia Usaha Kecil dan Menengah Undang-Undang

PROPENAS = PSU RI RT SDM UKM UU = = = = = =

12 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Posisi usaha kecil di dalam perekonomian Indonesia menjadi semakin penting terutama setelah krisis melanda Indonesia. Krisis telah membuktikan bahwa daya tahan usaha kecil lebih tangguh bila dibandingkan dengan kebanyakan usaha besar. Kelompok usaha ini jika dapat dibina dengan baik, maka dapat menyerap tenaga kerja yang jumlahnya besar sehingga dapat membantu perkembangan sektor industri kita Secara umum, perhatian kepada usaha kecil di Indonesia memang bukan hal yang baru di dalam kebijakan pemerintah. Akan tetapi, meskipun sudah lama didengungkan, perhatian kepada usaha kecil di Indonesia belum pernah secara efektif benar-benar di lakukan. Berbagai penelitian di tingkat mikro sendiri menunjukkan bahwa berbagai program pengembangan usaha kecil yang disalurkan pemerintah hampir tidak dirasakan efektivitasnya oleh pelaku usaha kecil. Tedapat beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya efektivitas berbagai program tersebut. Pertama, program dukungan untuk pengembangan usaha kecil terbatas pada isu atau program kredit; program-program itu juga ternyata tidak secara nyata meningkatkan pertumbuhan usaha kecil. Kedua, kelemahan dan keterbatasan kapasitas individu pelaku usaha kecil dipercaya sebagai penyebab dari tidak berkembangnya usaha kecil di Indonesia, terutama kapasitas manajemen usaha. Rendahnya kapasitas individu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang rendah, ketidakmampuan menjalankan usaha dengan manajemen yang baik, serta tidak cukup 12

13 berusaha keras untuk mendapatkan keuntungan (Haryadi, Maspiyati, Chotim, 1998). Ketiga, informasi pasar, kesulitan untuk mendapatkan saluran distribusi baru serta pemasaran produk. Dari hasil penelitian maupun survey kesulitan yang paling banyak dihadapi para pengusaha yaitu kesulitan memperoleh modal (di luar kesulitan naiknya bahan baku akibat krisis ekonomi). Kesulitan permodalan menjadi sangat menarik untuk dibahas terkait dengan akses dana perbankan terhadap usaha kecil. Rendahnya daya serap usaha kecil terhadap kredit perbankan tersebut sebagai akibat berbagai kendala yang dihadapi. Dalam upaya memperkuat posisi perekonomian, kredit seringkali dijadikan sebagai alat ntuk membantu pengusaha kecil, mikro, menengah, maupun besar dengan asumsi pemberian kredit dapat meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja. Pembinaan dan pengarahan bagi usaha kecil harus dilakukan disamping pemberian kredit/modal. Kepentingan usaha kecil terhadap perbankan sebenarnya tidak hanya pada dana saja. Jasa perbankan yang lain juga didutuhkan seperti, bank dapat memeriksa pembukuan karena dana yang terpakai semuanya tercatat pada rekening,menjaga keselamatan dana baik membayar ataupun menerima lebih terjamin dan berjalan cepat. Dan yang lebih penting adalah kemajuan uaha kecil juga dapat dibaca oleh bank dari catatan yang ada pada bank sehingga memudahkan bank memutuskan untuk memberi setiap bantuan seperti kredit. Berkembangnya lembaga kredit di tingkat masyarakat yang paling bawah akan berdampak positif terhadap pengembangan usaha kecil. Sebab masyarakat akan terbantu dalam pendanaan untuk mengembangkan usahanya dan meningkatkan pendapatan (omset) pengusaha kecil.

14 Kredit sangatlah dibutuhkan oleh pengusaha kecil untuk mengembangkan usahanya. Berbagai bentuk kredit yang disediakan oleh lembaga perbankan maupun sumber permodalan yang merupakan program-program pemberdayaan dari pemerintah untuk mendukung usaha kecil. Bukan rahasia lagi bahwa kredit-kredit yang disediakan oleh perbankan untuk usaha kecil sering gagal ketimbang keberhasilannya. Kegagalan dari penyediaan kredit oleh bank yang dirancang oleh perbankan pusat jarang yang menyesuaikan dengan karakteristik dari target masyarakat yang akan menerimanya. Selain itu, keterbatasan pemahaman dari masyarakat terhadap seluk-beluk perkreditan, peranan menyebabkan seringnya perkreditan untuk masyarakat tidak lancar. Dan kita juga tidak dapat memungkiri bahwa pendidikan saat ini memiliki peranan yang sangat penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu dan berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu unsur yang dapat merubah sikap dan perilaku, meningkatkan dan mengembangkan pola pikir, wawasan serta memudahkan pengusaha menyerap informasi yang sifatnya membawa pembaharuan dan kemajuan bagi usahanya. Begitu pula kondidi sosial masyarakat akan mempengaruhi cara atau pola pikir masyarakat yang ada di lingkungan tersebut. Pendidikan sangatlah penting untuk mengembangkan usaha kecil, karena melalui pendidikan tercipta sumber daya yang berkualitas baik dalam pembukuan penerimaan dan pengeluaran, penguasaan teknologi, dan dalam hal manajemen yang bagus. Selain dari kredit perbankan dan juga pendidikan, lama usaha juga mempengaruhi peningkatan omset pengusaha kecil tersebut. Dimana semakin lama usaha tersebut berdiri, omset pengusaha akan semakin meningkat.

15 Keberadaan usaha kecil di Indonesia memang mewakili hampir seluruh unit usaha di berbagai sektor ekonomi yang hidup dalam perekonomian kita, karena jumlahnya amat banyak. Salah satunya adalah usaha kecil rotan di Kota Medan. Kota Medan merupakan ibukota Sumatera Utara sekaligus sebagai pusat perdagangan yang mengalami perkembangan pesat dari tahun ke tahun baik di sektor perdagangan, industri maupun jasa termasuk kerajinan. Selain itu, keberadaan usaha kecil telah memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian di Kota Medan. Pertumbuhan ekonomi Kota Medan didukung oleh letak geografis, sarana dan prasarana yang memadai. Oleh karena kemudahan operasional tersebut, usaha kecil rotan merupakan salah satu industri yang mempunyai potensi untuk di kembangkan di Kota Medan. Hal ini dilihat dari perkembangan kebutuhan konsumen, pertumbuhan jumlah penduduk dan pendapatan yang naik setiap tahunnya. Peningkatan tersebut dapat memberikan penghasilan (kemakmuran) bagi pengusaha dan tenaga kerja yang terlibat didalamnya. Di Kota Medan terdapat banyak usaha mulai dari usaha kecil, menengah, dan besar yang bergerak dalam berbagai sektor. Salah satu sektor yang mendominasi kegiatan usaha kecil di Medan adalah sektor kerajinan yang terbuat dari rotan. Walaupun jumlah pengusaha kecil rotan di Medan sedikit, namun minat masyarakat terhadap produk yang terbuat dari rotan ini cukup lumayan. Dengan alasan harganya terjangkau oleh masyarakat dari kalangan atas sampai kalangan bawah. Di kota Medan banyak terdapat pengusaha kecil rotan yang tersebar di berbagai tempat, salah satunya adalah di daerah kecamatan Medan Barat. Karena di daerah

16 tersebutlah banyak terdapat pengusaha rotan di bandingkan dengan daerah lain, ada juga daerah yang tidak terdapat pengusaha kecil rotan sama sekali. Sebagian besar mereka meproduksi produk-produk jadi seperti perabot rumah tangga terdiri dari: kursi, meja, tempat tidur, komponen interior rumah, gorden, anyaman, dan batas tangga dari yang paling murah dan bermutu rendah sampai yang berkualitas tinggi dan mahal, serta sejumlah barang-barang sederhana seperti topi, dompet, bola, berbagai keranjang, dan dekorasi dinding. Banyak dari mereka yang membuat perabot berdasarkan permintaan perorangan maupun banyak. Pengembangan usaha kecil di Indonesia pada umumnya menghadapi pesoalan yang sama, yaitu keterbatasan modal, kesulitan pemasaran, kesulitan bahan baku dengan kualitas baik dan harga terjangkau, kualitas SDM yang rendah, lemahnya jiwa kewiraswataan, penggunaan dan penguasaan teknologi yang masih rendah, lemahnya akses paasar dan lemahnya organisasi serta manajemen (Tambunaan, 2002:69). Kendala pemasaran dalam negeri yang dihadapi oleh produsen kecil barang rotan adalah persaingan ketat, permintaan yang tidak stabil, dan jaringan usaha. Akibat dari kendala tersebut maka para pengusaha kecil seperti pengusaha rotan tidak dapat mengembangkan dan memperlancar usahanya. Upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan usaha kecil adalah dengan membanguna infrastruktur yang dibutuhkan seperti ruang pamer, sarana perkreditan, sarana transportasi, menghilangkan peraturan yang menghambat akses usaha kecil pada sarana, memberikan pembinaan dan pelatihan kepada para pengusaha kecil tersbut. Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka penulis ingin mengetahui dan mencoba melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Kredit

17 Perbankan, Lama Usaha dan Tingkat Pendidikan terhadap Omset Pengusaha Kecil Rotan di Kecamatan Medan Barat Medan .

1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka ada rumusan masalah yang dapat diambil sebagai kajian dalam penelitian yang akan dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam penulisan skripsi ini. Selain itu, rumusan masalah ini diperlukan sebagai suatu cara untuk mengambil keputusan dari akhir penulisan skripsi ini. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana pengaruh kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat? 2. Bagaimana pengaruh lama usaha Kecamatan Medan Barat ? 3. Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat? terhadap omset pengusaha kecil rotan di

1.3 Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara atas permasalahan yang kebenarannya harus diuji. Berdasarkan permasalahan diatas maka sebagai jawaban sementara penulis membuat hipotesis sebagai berikut: 1. Kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan berpengaruh positif terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat.

18 2. Lama usaha berpengaruh positif terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat. 3. Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat.

1.4 Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kredit perbankan terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat. 2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh lama usaha terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat. 3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan terhadap omset pengusaha kecil rotan di Kecamatan Medan Barat.

1.5 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberi manfaat, baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun pengembangan kelembagaan, antara lain: 1. Menambah dan melengkapi sekaligus sebagai pembanding hasil-hasil penelitian yang telah ada menyangkut topik yang sama 2. Menjadi sumbangan pemikiran bagi mahasiswa ekonomi khususnya mahasiswa Departemen Ekonomi Pembangunan. 3. Sebagai referensi, informasi dan bahan masukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya serta pengambilan keputusan di masa yang akan datang.

19 Sebagai proses pembelajaran dan menambah wawasan bagi penulis dalam hal menganalisa dan berpikir.

20 BAB II URAIAN TEORETIS

2.1 Kredit 2.1.1 Pengertian Kredit Kata kredit berasal dari bahasa Yunani, yaitu credere yang artinya percaya (Prapto dan Achmad Anwari). Dalam arti luas, kredit diartikan sebagai kepercayaan, yakni si pemberi kredit percaya bahwa kredit yang di salurkannya pasti akan

dikembalikan sesuai parjanjian. Dan si penerima kredit merupakan penerima kepercayaan sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai jangka waktu. Pengertian kredit menurut Undang - Undang Perbankan Nomor 7 tahun 1992 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

2.1.2 Unsur - Unsur Kredit Adapun unsur- unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah sebagai berikut: 1) Kepercayaan Yaitu suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan (berupa uang, barang atau jasa) akan benar-benar diterima kembali di masa tertentu/di masa yang akan datang. Kepercayaan ini diberikan oleh bank, dimana sebelumnya telah dilakukan

20

21 penelitian penyelidikan tentang nasabah baik secara intern maupun ekstern. Penelitian dan penyelidikan tentang kondisi masa lalu dan sekarang terhadap nasabah pemohon kredit. 2) Kesepakatan Disamping unsur percaya, di dalam kredit juga mengandung unsur kesepakatan antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit. Kesepakatan ini di tuangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing. 3) Jangka Waktu Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah di sepakati. Jangka waktu tersebut bisa jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang. 4) Risiko Adanya suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu risiko tidak tertagihnya / macet pemberian kredit. Semakin panjang suatu jangka waktu kredit semakin besar risikonya demikian pula sebaliknya. Risiko ini menjadi tanggungan kreditur(pemberi kredit), baik risiko yang di sengaja oleh nasabah yang lalai, maupun oleh risiko yang tidak di sengaja. Misalnya, terjadi bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada unsur kesengajaan lainnya. 5) Balas Jasa Merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang kita kenal dengan nama bunga. Balas jasa dalam bentuk bunga dan administrasi kredit ini merupakan keuntungan bank.

22 2.1.3 Fungsi Kredit Fungsi kredit secara luas antara lain: 1) Untuk meningkatkan daya guna uang Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang maksudnya jika uang hanya disimpan saja maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit, maka uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit. 2) Untuk meningkatkan peredaran dan lalulintas uang. Dalam hal ini uang yang di berikan atau di salurkan akan beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya sehingga, suatu daerah yang kekurangan uang dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya. 3) Untuk meningkatkan daya guna barang Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat di gunakan oleh si debitur untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat. 4) Meningkatkan peredaran barang Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya, sehingga jumlah barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya bertambah atau dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar. 5) Sebagai alat stabilitas ekonomi Dapat menjadi alat stabilitas ekonomi karena dengan adanya kredit yang di berikan akan menambah jumlah barang yang di perlukan oleh masyarakat. Dan kredit

23 tersebut juga dapat membantu dalam mengekspor barang dari dalam negeri ke luar negeri sehingga meningkatkan devisa negara

2.1.4

Tujuan Kredit Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai tujuan tertentu. Tujuan pemberian

kredit ini tidak akan terlepas dari misi lembaga keuangan tersebut. Adapun tujuan utama pemberian suatu kredit antara lain: 1) Mencari keuntungan Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Hasil tersebut terutama dalam bentuk bunga yang diterima oleh kreditur sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang di bebankan ke pada nasabah. Di sisi lain nasabah juga akan bertambah maju dalam usahanya. 2) Membantu usaha nasabah Tujuan lainnya yakni untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. Dengan dana tersebut, maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluas usahanya. 3) Membantu pemerintah Bagi pemerintah, semakin banyak kredit yang di sebarkan akan semakin baik, karena dengan kredit berarti adanya peningkatan pembangunan di berbagai sektor. pajak, membuka kesempatan kerja,

Keuntungan tersebut berupa, penerimaan

meningkatkan jumlah barang dan jasa, menghemat devisa negara karena mengurangi impor dan bahkan meningkatkan devisa negara apabila kredit yang di berikan untuk keperluan ekspor.

24 2.1.5 Jenis-Jenis Kredit Secara umum jenis-jenis kredit dapat di lihat dari berbagai segi antara lain: 1. Dari segi lembaga pemberi-penerima kredit yang menyangkut struktur pelaksanaan kredit a. Kredit perbankan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha, dan konsumsi. Kredit ini diberikan oleh bank pemerintah atau bank swasta kepada dunia

usaha guna membiayai sebagian kebutuhan permodalan. b. Kredit likuiditas, yaitu kredit yang diberikan oleh Bank Sentral kepada bankbank yang beroperasi di Indonesi, yang selanjutnya digunakan sebagai dana untuk membiayai kegiatan-kegiatan perkreditannya. c. Kredit langsung, yaiut kredit yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada lembaga pemerintah, atau semi pemerintah. Misalnya Bank Indonesia memberikan kredit langsung kepada Bulog dalam rangka pelaksanaan program pengadaan pangan. 2. Dilihat dari segi kegunaan a. Kredit investasi Kredit ini biasanya digunakan untuk keperluan usaha atau membangun proyek/pabrik baru atau untuk keperluan rehabilitasi yang masa

pemakainnya untuk suatu periode yang relatif lama. Contohnya, untuk membangun pabrik atau membeli mesin-mesin. b. Kredit modal kerja

25 Digunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya. Misalnya, untuk membeli bahan baku, membayar gaji pegawai atau biayabiaya lalinnya yang berkaitan dengan proses produksi perusahaan. 3. Dilihat dari segi tujuan kredit a. Kredit produktif Kredit yang di gunakan untuk peningkatan usaha atau produksi ataupun investasi. Kredit ini di berikan untuk menghasilkan barang dan jasa. Sebagai contohnya kredit untuk membangun pabrik yang nantinya akan menghasilkan barang, kredit pertanian akan menghasilkan produk pertanian atau kredit pertambangan akan menghasilkan bahan tambang atau industri lainnya. b. Kredit konsumtif Kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan jasa yang di hasilkan, karena memang untuk di gunakan atau dipakai oleh seseorang atau badan usaha. Sebagai contoh, kredit perumahan, kredit mobil pribadi, kredit perabotan rumah tangga dan kredit konsumsi lainnya. c. Kredit perdagangan Kredit yang digunakan untuk perdagangan, biasanya untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya di harapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut. Kredit ini sering diberikan kepada supplier atau agen-agen perdagangan yang akan membeli barang dalam jumlah besar. Contoh, kredit ekspor dan impor. 4. Dilihat dari segi jangka waktu

26 a. Kredit jangka pendek Merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun atau paling lama 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja. Contohnya untuk peternakan misalnya kredit peternakan ayam, atau untuk pertanian misalnya tanaman padi atau palawija. b. Kredit jangka menengah Jangka waktu kreditnya berkisar antara 1 tahun sampai dengan 3 tahun, biasanya untuk investasi. Sebagai contoh untuk pertanian seperti jeruk, atau peternakan kambing. c. Kredit jangka panjang Merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang. Kredit jangka panjang masa pengembaliannya di atas 3 atau 5 tahun. Biasanya kedit ini untuk investasi jangka panjang seperti perkebunan karet, kelapa sawit atau manufaktur dan untuk kredit kosumtif seperti kredit perumahan. 5. Dilihat dari segi jaminan a. Kredit dengan jaminan Kredit yang diberikan dengan suatu jaminan, jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud atau jaminan orang. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi senilai jaminan yang diberikan si calon debitur. b. Kredit tanpa jaminan

27 Merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha dan karakter serta loyalitas atau nama baik si calon debitur selama ini. 6. Dilihat dari segi sektor usaha tediri dari: a. Kredit pertanian, merupakan kredit yagn di biayai untuk sektor perkebunan atau pertanian rakyat. Sektor usaha pertanian dapat berupa jangka pendek atau jangka panjang. b. Kredit peternakan, dalam hal ini untuk jangka pendek misalnya peternakan ayam dan jangka panjang kambing atau sapi. c. Kredit industri, yaitu kredit untuk membiayai industri kecil, menengah atau besar. d. Kredit pertambangan, jenis usaha tambang yang dibiayainya biasanya dalam jangka panjang, seperti tambang emas, timah dan minyak. e. Kredit pendidikan, merupakan kredit yang diberikan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan atau dapat pula berupa kredit untuk para mahasiswa. f. Kredit profesi, merupakan kredit yang diberikan kepada para professional, seperti dosen, dokter, atau pengacara. g. Kredit perumahan, yaitu kredit untuk membiayai pembangunan atau pembelian rumah.

28 2.1.6 Prinsip Prinsip Pemberian Kredit Sebelum memberikan suatu fasilitas kredit, maka kreditur harus merasa yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar akan kembali. Keyakinan tersebut diperoleh dari hasil penilaian kredit sebelum kredit tersebut disalurkan. Penilaian ini dilakukan dengan berbagai cara, prosedur dan kriteria yang telah di tetapkan sebagai standar penilaian setiap kreditur. Biasanya, kiteria penilaian yang harus di lakukan oleh bank untuk mendapatkan nasabah yang benar-benar menguntungkan di lakukan dengan analisis 5C dan 7P kredit. Adapun analisis singkat 5C kredit adalah sebagai berikut: a. Character Suatu keyakinan bahwa, sifat atau watak dari orang yang akan diberi kredit benarbenar dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latar belakang si nasabah baik yang bersifat pribadi seperti pola hidup, keadaan keluarga, hobby, dll. Ini semua merupakan ukuran kemauan membayar. b. Capacity Untuk melihat nasabah dalam kemampuannya dalam bidang bisnis yang di hubungkan dengan pendidikannya, kemampuan bisnis juga diukur dengan

kemampuannya dalam memahami tentang ketentuan-ketentuan pemerintah. Begitu juga dalam kemampuannya dalam menjalankan usahanya, termasuk kekuatan yang ia miliki. Pada akhirnya akan terlihat kemampuannya dalam mengembalikan kredit yang di salurkan.

29 c. Capital Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif, dilihat laporan keuangan (neraca dan laporan laba rugi). Capital juga harus dilihat dari sumber mana saja modal yang ada sekarang ini. d. Collateral Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya, sehingga jika terjadi suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin. e. Condition Dalam menilai kredit hendaknya juga di nilai kondisi ekonomi sekarang dan kemungkinan untuk di masa yang akan datang sesuai sektor masing-masing, serta di akibatkan dengan prospek usaha yang di biayai hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga kemungkinan kredit tersebut bermasalah relatif kecil. Penilaian dengan analisis 7P kredit adalah: a. Personality Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa lalunya. Personality mencakup sikap, emosi, tingkah laku, dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah. b. Party Yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu atau golongangolongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya.

30 c. Perpose Yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang di inginkan nasabah. Tujuan pengambilan kredit dapat bermacam-macam, apakah untuk modal kerja, konsumtif atau produktif dan lain sebagainya. d. Prospect Yaitu untuk menilai usaha nasabah di masa yang akan datang apakah akan menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. e. Payment Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah di masa yang akan datang mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit. Semakin banyak sumber penghasilan debitur maka akan semakin baik. f. Profitability Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. Profitability diukur dari periode ke periode apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya. g. Protection Tujuannya adalah bagaimana menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau orang atau jaminan asuransi.

31 2.1.7 Jaminan Kredit

Adapun jaminan yang dapat di jadikan jaminan kredit oleh calon debitur adalah sebagai berikut. 1) Dengan Jaminan a. Jaminan benda yaitu barang-barang yang dapat dijadikan jaminan seperti : Tanah, kebun, sawah, Bangunan, rumah, pabrik, Kenderaan bermotor, Mesinmesin/peralatan, Barang dagangan, Tanaman/kebun/sawah, dan lain-lainnya. b. Jaminan surat-surat berharga yaitu benda-benda yang merupakan surat-surat yang dijadikan jaminan seperti: Sertifikat saham, Setifikat obligasi, Sertifikat tanah, Sertifikat deposito, Rekening tabungan yang di bekukan, Rekening giro yang di bekukan, Wessel, Bukti Pemilikan Kenderaan Bermotor (BPKB), dan lain-lainnya. c. Jaminan orang Yaitu jaminan yang diberikan oleh seseorang dan apabila kredit tersebut macet maka orang yang memberikan jaminan itulah yang menanggung resikonya. 2) Tanpa Jaminan Kredit tanpa jaminan yaitu, kredit yang diberikan bukan dengan jaminan barang tertentu. Biasanya diberikan untuk perusahaan-perusahaan yang memang benar-benar bonafid dan professional, sehingga kemungkinan kredit tersebut macet sangat kecil. Dapat pula kredit tanpa jaminan hanya dengan penilaian terhadap prospek usahanya atau dengan pertimbangan untuk pengusaha-pengusaha ekonomi lemah. 3) Banyak perusahaan kecil yang sedang berkembang kehabisan sumber bantuan dana dan meskipun banyak kesempatan mengembangkan pasar, tidak berani berkembang

32 lebih lanjut karena modal kerja yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh berhubung kurang dimilikinya jaminan. Dengan Jaminan a. Jaminan benda yaitu barang-barang yang dapat dijadikan jaminan seperti : Tanah, kebun, sawah, Bangunan, rumah, pabrik, Kenderaan bermotor, Mesinmesin/peralatan, Barang dagangan, Tanaman/kebun/sawah, dan lain-lainnya. b. Jaminan surat-surat berharga yaitu benda-benda yang merupakan surat-surat yang dijadikan jaminan seperti: Sertifikat saham, Setifikat obligasi, Sertifikat tanah, Sertifikat deposito, Rekening tabungan yang di bekukan, Rekening giro yang di bekukan, Wessel, Bukti Pemilikan Kenderaan Bermotor (BPKB), dan lain-lainnya. c. Jaminan orang Yaitu jaminan yang diberikan oleh seseorang dan apabila kredit tersebut macet maka orang yang memberikan jaminan itulah yang menanggung resikonya. 4) Tanpa Jaminan Kredit tanpa jaminan yaitu, kredit yang diberikan bukan dengan jaminan barang tertentu. Biasanya diberikan untuk perusahaan-perusahaan yang memang benar-benar bonafid dan professional, sehingga kemungkinan kredit tersebut macet sangat kecil. Dapat pula kredit tanpa jaminan hanya dengan penilaian terhadap prospek usahanya atau dengan pertimbangan untuk pengusaha-pengusaha ekonomi lemah. Banyak perusahaan kecil yang sedang berkembang kehabisan sumber bantuan dana dan meskipun banyak kesempatan mengembangkan pasar, tidak berani berkembang lebih lanjut karena modal kerja yang dibutuhkan tidak dapat diperoleh berhubung kurang dimilikinya jaminan.

33 2.2 2.2.1 Pendidikan Pengertian Pendidikan Pendidikan merupakan kegiatan proses belajar-mengajar yang sisten

pendidikannya senantiasa berbeda atau berubah-ubah dari masyarakat satu ke masyarakat lain. Hal itu disebabkan, setiap masyarakat itu memiliki sistem sosial, filsafat dan gaya hidup tertentu yang sesuai dengan tujuan, dasar maupun nilai-nilai yang terdapat di masyarakat tersebut. Dalam GBHN ditegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan pribadi, kemampuan seseorang baik didalam maupun diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Sesuai dengan pendapat Phil.Coombs, pendidikan itu dibedakan atas 3 bentuk, yaitu: (a) pendidikan formal, (b) pendidikan informal, (c) pendidikan nonformal (Vembriarto, St, 1975 : 35). Selain itu, Ivann Illich membedakan 3 bentuk pendidika, yaitu: (a) pendidikan formal, (b) pendidikan informal, (c) pendidikan subsistem (Evers, Hans Dieter, Seminar : 1979). Dalam tulisan ini penulis lebih cenderung mempergunakan istilah yang dikemukakan oleh Ivann Illich. Sebenarnya 3 bentuk pendidikan yang dikemukakan oleh Phil. Coombs dan Ivann Illich tidak berbeda hanya terletak pada penggunaan istilah saja.

2.2.2

Bentuk-Bentuk Pendidikan

a. Pendidikan Formal Pendidikan formal ialah pendidikan yang diselenggarakan disekolah secara teratur,bertingkat dan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat (Vebriarto, St, 1978 :

34 20). Sekolah merupakan lembaga utama yang bertugas untuk (a) mengembangkan dan membentuk pribadi siswa, (b) mentransmisikan kulturil, (c) interaksi sosial, (d) inovasi dan (e) pra seleksi dan pra alokasi tenaga lerja (Vembriarto, St, 1978 : 53). Jadi sekolah bertugas menyiapkan anak didik sebagai calon pekerja dalam masyarakat, sebagai calon warga negara dan sebagai manusia yang berkepribadian. Selama siswa di sekolah dihadapkan kepada seleksi dan peraturanparaturan yang sangat ketat berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan. Menurut pengamatan, bahwa faktor sosial ekonomi yang menyebabkan banyak siswa yang putus sekolah dan menurunkan jumlah siswa menikmati pendidikan lebih tinggi. Dengan demikian kesempatan yang tersedia untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi hanya diikuti oleh siswa yang berasal dari golongan ekonomi yang lebih baik. b. Pendidikan Informal Pendidikan informal ialah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah oleh badan-badan pemerintah ataupun swasta secara teratur dalam waktu yang relatif singkat yang lebih menekankan kepada kecakapan dan keterampilan tertentu, tetapi tidak mengikuti peraturan yang ketat dan tetap seperti pendidikan formal. Dengan kata lain pendidikan informal itu merupakan pendidikan di luar sekolah yang bersifat kursus-kursus yang lebih menekankan kepada pengetahuan keterampilan. Biaya pendidikan yang dipergunakan untuk membiayai program yang diikuti tidak terlalu mahal. Pada bentuk informal ini sifatnya lebih fleksibel dan mungkin lebih efektif untuk mengembangkan anak pada bidang kecakapan tertentu dalam waktu yang tidak begitu

35 lama. Alasan yang paling menonjol untuk mengikuti pendidikan informal karena putus sekolah dan untuk mendapatkan pekerjaan yang memerlukan kecakapan khusus. Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pendidikan informal (Sudarmadi S. ,1973 : 40) antara lain : 1. Pendidikan informal harus jelas tujuan dan hasilnya untuk dicapai sehingga dapat memberikan kegunaan bagi masyarakat, terutama yang bersangkutan. 2. Program pendidikan informal harus menarik baik dari hasil yang dicapai maupun dari cara melaksanakannya sehingga mendapat dukungan dan partisipasi dari masyarakat untuk melancarkan program yang akan dilaksanakan dalam pendidikan informal. 3. Pendidikan informal harus diintegrasikan dengan program-program

pembangunan dalam masyarakat baik bidang ekonomi maupun sosial di daerah itu. b. Pendidikan Subsistem Menurut Prof. Dr. Hans Dieter Evers pendidikan subsistem pengetahuan dan keterampilan yang diberikan oleh orang tua atau orang lain kepada anak baik dalam keluarga maupun lingkungan hidupnya tanpa mengeluarkan biaya pendidikan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya dapat dipergunakan untuk mencari nafkah (Evers, H.D, bahan seminar, 1979). Jenis pendidikan subsistem yang diajarkan kepada anak adalah memasak, menjahit pakaian, memperbaiki rumah, tukang akyu, tukang batu, belajar mengaji, memelihara ternak, belajar mengemudi mobil dan mengetik. Oleh karena cara

36 mengajarkan kecakapan ini sifatnya tidak rutin sehingga sukar menentukan berapa biaya yang dikeluarkan apabila dinilai dari segi pembayaran. Pendidikan subsistem ini merupakan salah satu cara yang paling murah yang harus dikembangkan dalam setiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga maupun masyarakat sekitar. Dari ketiga bentuk pendidikan tersebut kelihatannya agak berbeda, tetapi ketiganya saling melengkapi dengan tujuan untuk mengembangkan pribadi anak sebagai (a) warga negara dan (b) pekerja dalam masyarakat.

2.2.3

Pentingnya Pendidikan Dikalangan Pengusaha Kecil Adopsi teknologi tepat guna dikalangan pengusaha kecil lebih banyak

dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Kenaikan pendapatan yang dapat digunakan sebagai penunjang didalam memutus lingkaran kemiskinan tidak dimanfaatkan

sebagaimana mestinya. Pendidikan akan membantu terciptanya kualitas dan kuantitas SDM yang memadai hal ini akan mencerminkan efisien kerja yang baik dikalangan pengraji. Jalur pendidikan formal mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi membekali seseorang dengan dasar-dasar pengetahuan teori dan logika, pengembangan watak dan kepribadian. Pendidikan formal yang relatif tinggi dikalangan pengusaha kecil belum merupakan fondasi yang kuat didalam mewujudkan enterpreneurship. Pendidikan dikalangan pengrajin masih merupakan dasar yang belum kuat untuk melaksanakan enterpreneurship yang sesungguhnya, hal ini terbukti dari hasil penelitian ternyata masih

37 sangat sedikit pengaruh pendidikan terhadap penggunaan teknologi baru. Oleh karena itu perlu pembinaan yang kontinue dan terpadu. Jalur latihan kerja adalah proses pengembangan keahlian dan keterampilan kerja. Latihan kerja menekankan peningkatan kemampuan profesional dan

mengutamakanpraktik dan teori. Dengan demikian sistem latihan kerja dapat dianggap sebagai kelengkapan atau suplemen sistem pendidikan formal. Latihan kerja secara terusmenerus diperlukan karena dunia kerja terus berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi. Jalur pengembangan keterampilan di tempat kerja adalah jalur yang efekif karena programnya dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan keterampilan demi intuk menunjang perkembangan perusahaan. Program latihan dapat dilaksanakan ditempat perusahaan atau di tempat kerja itu sendiri. Sumber daya manusia yang dilengkapi dengan ketermpilan dan sikap mental terhadap pekerjaan serta kemampuan untuk berusaha sendiri merupakan modal utama bagi terciptanya pembangunan peningkatan GNP sangat berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia seperti terlihat dalam efesiensi dan produltivitas. Oleh karena itu, pembentukan insani yaitu suatu proses peningkatan ilmu pengetahuan,keterampilan dan kemampuan seluruh pendidikan,mutlak diperlukan. Disamping faktor pendidikan yang merupakan pembuka jalan kearah penggunaan teknologi baru dan terbentuknya enterpreneurship masih diperlukan persyaratan yang berupa ersedianya fasilitas permodalan. Sudah diutarakan bahwa masalah pola pemasaran masih merupakan salah satu penghalang dalam permintaan modal dikalangan pengusaha kecil. Untuk mengatasi masalah permintaan ini perlu motivasi tentang perkreditan yang

38 merupakan salah satu indikator teknologi tepat guna menyebabkan skore perkreditan adopsi pengusaha kecil relatif rendah dibandingkan dengan skore indikator-indikator yang lain. Keadaan di atas menunjukkan para pengrajin kurang berani mengambil keputusan untuk mengatasi permodalan dengan jalan mengambil kredit dari lembaga perkreditan. Disatu pihak hal ini mungkin disebabkan kurang mengertinya seluk-beluk lembaga perkreditan. Di lain pihak mungkin kurang berani mengambil keputusan ini merupakan salah satu ciri pokok dari masyarakat kurang berani mengambil keputusan disebabkan karena sempitnya pandangannya tentang masa depan,hal inilah yang menyebabkan penghalang bagi pengembangan usaha kecil. Di negara-negara berkembang, biaya pendidikan meningkat cepat denagn semakin banyaknya murid yang ingin mengecap pendidikan yang lebih tinggi . Yang dimaksud biaya pendidikan disini adalah biaya oportunitas yang harus ditanggung oleh masyarakat seluruhnya sebagai akibat dari keinginanya untuk meningkatkan besarnya pembiayaan dan perluasan pendidikan yang mahal dengan dana yang mungkin dapat lebih produktif jika seandainya digunakan pada sektor ekonomi lainnya. Sedangkan biaya pribadi ditanggung langsung oleh murid dan keluarganya bagi keperluan pendidikan. Semakin tinggi tingkat penidikan seseorang semakin cepat pula besarnya jumlah penghasilan yang diharapkannya dan lebih besar pula biaya pribadi yang harus dikeluarkannya. Maka untuk dapat memaksimumkan selisih antara penghasilan yang diharapkan dengan pengeluaran biaya yang diperkirakan, maka perlu diusahakan menyelesaikan pendidikan yang setinggi mungkin.

39 Semakin meningkat pendidikan semakin cepat terjadinya proses pembangunan untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi menuju tercapainya kesejahteraan masyarakat.

2.3 2.3.1

Pendapatan Pengertian Pendapatan Untuk mengukur kondisi ekonomi seseorang, salah satu konsep pokok yang

sering digunakan adalah tingkat pendapatannya. Pendapatan dapat menunjukkan seluruh uang yang diterima atau diperoleh oleh seseorang selama jangka waktu tertentu pada suatu kegiatan ekonomi. Pendapatan merupakan uang yang diterima seseorang dan perusahaan dalam bentuk gaji (wages), upah (salaries), bunga (interest), laba (profit), tunjangan pengangguran, uang pensiun dan lain sebagainya (Collin, 1994 : 287). Dari segi ekonomi mikro istilah pendapatan dipakai berkenaan dengan aliran penghasilan dalam suatu periode waktu yang berasal dari penyediaan faktor-faktor produksi: sumber daya alam (sewa), tenaga kerja (upah/gaji) dan modal (bunga/laba). Dari segi ekonomi makro istilah pendapatan nasional (national income) dipakai berkenaan dengan pendapatan agregat suatu negara dari sewa, upah, bunga dan pembayaran, tidak termasuk transfer (tunjangan pengangguran, uang pensiun, dan sebagainya). Menurut kamus ekonomi, pendapatan adalah berhubungan dengan pendapatan pemerintah dari pajak, bea impor, dan sebagainya. Istilah ini juga diterapkan terhadap pendapatan perusahaan dan pendapatan individu. Tingkat pendapatan rumah tangga tergantung kepada jenis-jenis kegiatan yang dilakukan,jenis kegiatan yang mengikutsertakan modal atau keterampilan, mempunyai

40 produktivitas tenaga kerja lebih yang pada akhirnya mampu memberikan pendapatan yang lebih besar. Fisher & Hicks menegaskan bahwa pendapatan adalah serangkaian kejadian yang yang berkaitan dengan beberapa tahap yang berbeda yaitu: 1. Kenikmatan pendapatan psikis 2. Pendapatan riil 3. Pendapatan uang (Mc Culler 1987:74) Pendapatan psikis adalah barang dan jasa yang sungguh-sungguh dikonsumsi oleh orang yang menciptakan kesenangan psikis dan kepuasan kebutuhan. Pendapatan psikis merupakan konsep psikologis yang tidak dapat diukur secara langsung namun dapat ditaksir oleh pendapatan riil. Sedangkan pendapatan riil adalah ekspansi kejadian yang menimbulkan kenikmatan psikis. Pendapatan riil diukur dengan biaya hidup atau kepuasan yang diciptakan oleh kenikmatan psikis dari keuntungan yang diukur dengan pengeluaran uang yang dilakukan untuk perolehan barang dan jasa sebelum dan sesudah konsumsi. Pendapatan uang menunjukkan seluruh uang yang diterima dan dimaksudkan akan dipergunakan untuk konsumsi dalam memenuhi biaya hidup. Sementara pendapatan psikis lebih mendasar dan pendapatan uang sering disebut dengan pendapatan. Menurut BPS Pendapatan dikelompokkan sebagai berikut: 1. Pendapatan sektor formal, yakni segala penghasilan baik berupa uang atau barang yaang sifatnya reguler dan yang diterima biasanyasebagai balas jasa atau kontra prestasi dari sektor formal. Pendapatan ini meliputi: Pendapatan berupa uang : gaji/upah dan hasil investasi

41 Pendapatan berupa barang : beras, pengobatan, transportasi, perumahan dan rekreasi 2. Pendapatan sektor informal, yakni segala pengahsilan baik berupa uang atau barang yang diterima biasanya sebagai balas jasa atau kontra prestasi dari sektor informal. Pendapatan ini berupa; Pendapatan dari usaha yang meliputi : hasil bersih dari usaha sendiri, komisi, penjualan dari karajinan rumah, pendapatan dari investasi, pendapatan keuntungan sosial. Pendapatan dapat juga diuraikan sebagai keseluruhan penerimaan yang diterima pekerja atau buruh, baik berupa fisik maupun nonfisik selama ia melakukan pekerjaan pada suatu perusahaan, instansi atau tempat ia bekerja. Setiap orang yang bekerja berusaha untuk memperoleh pendapatan dengan jumlah yang maksimal agar dapat memenuhi kebutuhan hidup demi tercapainya kesejahteraan dalam rumah tangga.

2.3.2

Sebab-sebab Ketimpangan Pendapatan

a. Usia Pendapatan meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan masa kerja sesorang; lewat dari batas itu pertambahan usia akan diiringi dengan penurunan pendapatan. Batas atau titik puncak diperkirakan ada pada usia 45-50 tahun, dengan asumsi produktivitas nasional dianggap sebagai unsur konstan. Alasan yang melatarbelakangi bentuk profil itu. Pertama,pekerja muda biasanya masih terbatas keterampilan dan pengalamanya. Produk fisik marjinal mereka lebih rendah daripada rata-rata produk fisik marjinal yang dihasilkan oleh para pekerja yang

42 lebih berumur dan berpengalaman. Kedua, lamanya kerja dalam sehari,atau seminggu dan seterusnya,yang ditekuni seseorang biasanya mulai berkurang ketika berumur 45-50 tahun,karena daya tahan dan kesehatannya mulai pudar. Produktivitasnya mulai turun dan berkurang pula pendapatannya b. Karakteristik Bawaan Seseorang yang dianugerahi paras rupawan dan suara yang indah jauh lebih mencetak pendapatan yang berlipat ganda dari pandapatan oraang lain. Demikian juga seseorang yang lahir dengan IQ lebih dari 160; asalkan ia tidak aneh,ia pasti lebih mudah memperoleh pendapatan. Tapi dilain pihak keberhasilan orang-orang yang secara alamiah biasa saja dengan ketekunan yang luar biasa dalam memperjuangkan nasibnya bisa juga memperoleh penghasilan yang tinggi.. Oleh sebab itu,sejauhmana besar kecilnya pendapatan bisa dihubungkan dengan karakterisik bawaan masih belum jelas;apalagi keberhasilan seseorang seringkali dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan masyarakat. c. Keberanian Mengambil Resiko Orang yang bekerja di lingkungan kerja yang berbahaya basanya memperoleh pendapatan lebih banyak, ceteris paribus. Siapa yang berani mempertaruhkan kesehatan dan nyawanya dibidang kerja berbahaya pasti menerima imbalan yang lebih besar. d. Ketidakpastian dan Varian Pendapatan Orang yang tekun dalam bidang pekerjaanya akan menuntut lebih dan menerima pendapatan yang lebih besar, jelas tingkat pendapatan mereka tentu saja yang berhasul akan melebihi orang yang bekerja di bidang yang lebih aman. e. Bobot Latihan

43 Yang menguasai bobot latihan yang lebih tinggi pasti memperoleh pendapatan yang banyak. Latihan itu bisa bersumber dari pendidikan formal, seperti sekolah, kuliah ataupun kursus tertulis, bisa juga dari pengetahuan dan pengalaman seseorang selama ia bekerja atau sering disebut magang (on the job training). Bobot latihan memperbesar pendapatan karena latihan itu meningkatkan keterampilan seseorang sehingga ia mampu menghasilkan produk fisik marjinal yan glebih tinggi. f. Kekayaan Warisan Mereka yang mempunyai kekayaan warisan atau lahir di lingkungan keluarga yang kaya akan lebih mampu memperoleh pendapatan daripada mereka yang tidak mempunyai kekayaan warisan,sekalipun kemampuan dan pendidikan setara. g. Monopoly (hanya ada satu penjual), monopsoni (hanya ada satu pembeli), kebijakan sepihak serikat buruh, penetapan tingkat upah minimum oleh pemerintah, ketentuan syarat lisensi, sertifikat dan sebagainya. Turut melibatkan perbedaan pendapatan uang dikalangan kelas pekerja. Mereka yang yang diuntungkan oleh ketidaksempurnaan pasar itu akan menerima pendapatan yang lebih rendah. h. Diskriminasi Kita tidak pungkiri bahwa di pasar tenaga kerja sering terjadi diskriminasi suku,ras,agama,atau jenis kelamin dan itu semua merupakan penyebab variasi tingkat pendapatan. Sebaiknya dalam dunia kerja diskriminasi tidak terjadi lagi.

44 2.4 Pengusaha Kecil 2.4.1 Pengertian Pengusaha Kecil Secara umum pengusaha kecil ialah pengusaha yang masih kekurangan dibidang permodalan, kapasitas produksi yang rendah, administrasi yang belum sempurna dan biasanya dipimpin oleh pemiliknya sendiri. Pengusaha yang berhasil akan mendapatkan tempat tersendiri dalam masyarakat. Mereka dihormati dan dikagumi, bukan hanya karena kekayaan mereka, tetapi juga karena kepintaran mereka dalam memilih jalan hidup, yang menyiratkan kemandirian mereka, kemampuan mereka untuk menghadapi tugas-tugas yang rumit dan menantang dengan berhasil. Defenisi tentang usaha kecil bervariasi antar lembaga. Defenisi-defenisi yang berkaitan dengan usaha kecil tersebut adalah: 1. Menurut BI, pengertian pengusaha kecil: a) Pengusaha yang memiliki kekayaan bersih dibawah Rp40.000.000, untuk bidang usaha perdagangan, asa dan bidang-bidang diluar industri dan konstruksi, dimana dalam kekayaan tersebut tidak termasuk rumah dan tanah yang ditempati. b) Pengusaha atau perusahaan yang memiliki kekayaan bersih dibawah Rp100.000.000, untuk bidang industri dan konstruksi dimana dalam kekayaan tersebut tidak termasuk ruamh dan tanah yang ditempati. 2. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yang mendefenisikan pengusaha kecil, yaitu:

45 a) Menurut omset, pengusaha kecil adalah pengusahausaha yang memiliki aset tetap kurang dari Rp200 juta dan omset per tahun kurang dari Rp1 milyar b) Menurut jumlah tenaga kerja, pengusaha kecil adalah usaha yang memiliki tenaga kerja sebanyak lima sampai sembilan orang. 3. Menurut UU No. 9 Tahun 1995, kriteria pengusahaa kecil dilihat dari segi keuangan dan modal yang dimiliki adalah: a) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp20 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau b) Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp1 milyar per tahun Menurut Mintzerg, Musselman dan Hughes, ciri-ciri umum usaha kecil adalah (Situmorang dkk., 2003:5): 1. Kegitan cenderung tidak normal dan jarang yang memiliki rencana bisnis 2. Struktur organisasinya bersifat sederhana 3. Jumlah tenaga kerja terbatas dengan pembagian kerja yang longgar 4. Kebanyakan tidak melakukan pemisahan antara kekayaan pribadi dan perusahaan 5. Sistem akuntansi kurang baik, bahkan kadang-kadang tidak memiliki 6. Skala ekonomi terlalu kecil sehingga sukar menekan biaya 7. Kemampuan pasar serta diversifikasi pasar cenderung terbatas 8. Marjin keuntungan sangat tipis 9. Keterbatasan modal sehingga tidak mampu mempekerjakan manajer-manajer profesional. Hal itu menyebabkan kelemahan manajerial, yang meliputi kelemahan pengorganisasian, perencanaan, pemasaran dan akuntansi.

46 Sedangkan ciri-ciri usaha kecil di Indonesia menurut Sutojo (Bararuallo, 2001:7): 1. Lebih dari setengah usaha kecil didirikan sebagai pengembangan dari usaha kecil-kecilan 2. Selain masalah permodalan, masalah lain yang dihadapi usaha kecil bervariasi tergantung dengan tingkat perkembangan usaha 3. Sebagian besar usaha kecil tidak mampu memenuhi persyaratan-persyaratan administrasi guna memperoleh bantuan bank 4. Hampir 60% usaha kecil masih menggunakan teknologi tradisional 5. Hampir setengah perusahaan kecil hanya menggunakan kapasitas terpasang kurang dari 60% 6. Pangsa pasar usaha kecil cnderung menurun baik karena faktor kekurangan modal, kelemahan teknologi dan kelemahan manajerial 7. Hampir 70% usaha kecil melakukan pemasaran langsung kepada konsumen 8. Tingkat ketergantungan terhadap fasilitas-fasilitas pemerinyah sangat besar. Sejauh ini, kita sering menemui berbagai defenisi/pembatasan mengenai usaha kecil. Jenis usaha ini memang sangat sukar didefenisikan dan sangat relatif untuk ukuranukuran masing-masing negara. Mengingat adanya kesulitan mendefenisikan usah kecil dengan angka-angka, maka kita coba tarik pengertian secara umum saja. Usaha kecil adalah suatu bentuk usaha yang tidak bergantung kepada pemilik dan manajemenya serta tidak menguasai/mendominasi pasar dimana ia berada. Usaha kecil tidak menjadi bagian dari bisnislainnya, sehingga sebagai perusahaan kecil tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap pasar dimana usaha kecil berada.

47 2.4.2 Peran Usaha Kecil Di berbagai negara, usaha kecil ternyata memiliki kontribusi yang sangat besar. Ada beberapa alasan mengapa usaha kecil mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perekonomian di suatu negara. Di antaranya adalah bahwa usaha kecil secara historis dikenal mampu menampung tenaga kerja, lebih inovatif dan memberikan kontribusi penting bagi perusahaan-perusahaan besar. Usaha kecil sering disebut sebagai katup pengaman dalam masalah pengangguran, dan berperan besar sebagai pemasokpengecer bagi operasi pperusahaan besar. 1. Penciptaan lapangan pekerjaan Beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa lapangan kerja baru itu datangnya bukan dari jenis usaha besar tetapi barasal dari jenis usaha kecil. Kecil, muda dan berteknologi tinggi akan menghasilkan pekerjaan baru lebih cepat daripada perusahaan tua, dan besar. 2. Inovatif Usaha kecil lebih memiliki kesempatan yang besar untuk melakukan inovasi dibandingkan usaha besar yang lebih cenderung untuk mengembangkan produk yang sudah ada. Usaha kecil dapat melakukan inovasi teknologi, pasar, produk dan ide baru. 3. Sangat penting bagi perusahaan besar Selain kaedua hal di atas, hampir seluruh produk yang dibuat oleh perusahaan besar dikerjakan melalui usaha kecil.

48 2.4.3 Bentuk-bentuk Usaha Kecil

1. Bisnis jasa Bisnis jasa dewasa ini merupakan yang terbesar dan cepat pertumbuhannya dalam dunia bisnis kecil. Jasa juga membawa keuntungan yang sangat besar bagi wira usaha kecil yang mampu berinovasi tinggi. 2. Bisnis Eceran (Retail Business) Adalah bentuk bisnis kecil yang ditekuni oleh wirausaha kecil. Bisnis eceran adalah satu-satunya usaha yang menjual produk manufaktur yang langsung kepada konsumen. 3. Bisnis Distribusi (Wholesale Business) Sama seperti bisnis jasa dan eceran, wirausaha kecil sudah mulai mendominasi seluruh penjualan dalam jumlah besar. Bisnis ini adalah satu-satunya bisnis yang membeli barang dari pabrik atau produsen dan menjual kepada pedagang eceran. 4. Agribisnis/Pertanian (Agriculture) Pertanian barangkali adalah bentuk bisnis kecilyang tertua. Pada awalnya hasil pertanian itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga, namun lama kelamaan menjadi sebuah bisnis yang cukup besar karena adanya ketergantungan masyarakat satu sama lain. 5. Bisnis Manufaktur Bisnis manufaktur merupakan suatu bisnis kecil yang memerlukan modal untuk investasi yang cukup besar dibandingkan dengan empat jenis bisnis lainnya. Karena memerlukan tenaga kerja, teknologi dan bahan mentah untuk mengoperasikannya.

49 2.4.4 Keberhasilan dan Kegagalan Usaha Kecil Banyak wirausaha kecil yang kemudian berhasul dalam usahanya. Namun tidak sedikit wirausaha kecil yang mengalami kegagalan dalam usahanya. Adapun mengapa perusahaan tersebut dapat berkembang dengan baik atau mengalami kegagalan, ada beberapa alasan mengenai hal ini. 1. Hal-hal yang Mempengaruhi Kegagalan Suatu Usaha Kecil Ada empat faktor yang ikut mendorong gagalnya suatu bisnis kecil. Pertama, banyak perusahaan kecil yang dikelola oleh manajer yang kurang mampu dan kurang berpengalaman dalam menjalankan tugasnya. Kedua, kurangnya dukungan dari pihak yang berhubungan. Sering setelah peresmian usaha dilakukan banyak wirausaha yang mendapat tawaran untuk menjalankan usaha baru, sehingga perhatiannya tidak dipusatkan pada usaha tersebut. Ketiga, Masih lemahnya sistem kontrol/pengawasan, dimana sistem pengontrolan yang lemah cenderung akan menyebabkan kerugian dan penggunaan sumber-sumber daya yang berlebihan. Empat, adalah masalah kurangnya modal untuk menjalankan usahanya. 2. Hal-hal yang Mendukung Keberhasilan Suatu Usaha Kecil Diantara faktor-faktor yang mendukung keberhasilan suatu bisnis kecil adalah: Pertama, biasanya wirausaha-wirausaha kecil adalah tipe orang-orang yang ulet dan pekerja keras, mereka mempunyai tujuan dan dedikasi yang tinggi. Pemilik usaha kecil juga mempunyai komitmen untuk mencapai tujuan dan berprestasi bagi perkembangan perusahaan. Kedua, dukungan faktor eksternal berupa peningkatan permintaan akan barang dan jasa.

50 Jadi agar sebuah perusahaan dapat berkembang, pelanggan harus sudah dipuaskan dengan produk dan pelayanan perusahaan atau harus percaya bahwa mereka akan dipuaskan. Oleh sebab itu, pengembangan yang paling berhasil dari perusahaan-perusahaan kecil adalah yang didasarka padadaya tarik jasa-uang yang didukung oleh jaminan kualitas.

51

BAB III METODE PENELITIAN

Metode Penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan akan menguji hipotesa penelitian.

3.1 Lokasi Penelitian Sesuai dengan judul yang saya pilih maka lokasi yang menjadi objek penelitian dilakukan di Kecamatan Medan Barat, khususnya tempat-tempat Pengusaha Kecil Rotan.

3.2 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah jenis data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan atau mengisi kuesioner yang telah dipersiapkan. Data sekunder adalah data yang di peroleh dari hasil studi kepustakaan, bukubuku, jurnal ekonomi, majalah ilmiah, BPS (Badan Pusat Statistik) maupun literatur yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini.

51

52 3.3 Populasi/Responden Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah para Pengusaha Kecil Rotan di Kecamatan Medan Barat. Jumlah populasi yang diambil 15 responden dengan asumsi latar belakang sosial ekonomi para pengusaha relatif homogen. Pengambilan populasi ini dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuisioner. Kemudian data yang diperoleh dikumpulkan dan diolah.

3.4 Pengolahan Data Penulis menggunakan program komputer Eviews 4.1 untuk mengolah data skripsi ini.

3.5 Model Analisis Data Dalam menganalisis besarnya pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel bebas, penelitian ini menggunakan alat analisa ekonometrika, yaitu meregresikan variabel-variabel yang ada dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Fungsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Y = f (X1, X2, X3)....... .................................... (1) Dari Fungsi tersebut ditransformasikan ke dalam model estimasi regresi linier yang dituliskan sebagai berikut: Y = + 1X1 + 2X2 + 3X3 + (2) Keterangan: Y = Omset Pengusaha Kecil Rotan (Jutaan Rp/bulan) X1= Kredit Perbankan (Jutaan Rp/bulan)

53 X2= Lama Usaha (Tahun) X3= Tingkat Pendidikan = Intercept/Konstanta

1,2,3 = Koefisien Regresi = Term of Error/Kesalahan Pengganggu

Berdasarkan model estimasi di atas, maka secara matematis hipotesis dapat dituliskan sebagai berikut:

Y > 0 Artinya, jika terjadi peningkatan pada X1 (kredit perbankan), maka X 1 Y (omset pengusaha kecil rotan) akan mengalami kenaikan, ceteris paribus.

Y 0 Artinya, jika terjadi peningkatan pada X2 (lama usaha), maka Y X 2 (omset pengusaha kecil rotan) akan mengalami kenaikan, ceteris paribus. Y 0 Artinya, jika terjadi peningkatan pada X3 (tingkat pendidikan), X 3 maka Y (omset pengusaha kecil rotan) akan mengalami kenaikan, ceteris paribus.

54
3.6 Test of Goodness of Fit (Uji Kesesuaian) 3.6.1 Koefisien determinasi (R-Square)

Koefisien determinasi dilakukan untuk melihat seberapa besar kemampuan variabel independen secara bersama mampu memberi penjelasan terhadap variabel dependen.

3.6.2 Uji t-statistik (Uji Parsial)

Uji t merupakan suatu pengujian yang bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing koefisien regresi signifikasi atau tidak terhadap variabel dependen dengan menganggap variabel lainnya konstan. Rumus untuk mencari t-hitung (t*) adalah: t* = keterangan: i = Koefisien Regresi dari variabel independen yang diuji

i Se( i )

Se(i) = Standard error dari variabel independen yang diuji Hipotesis: H0 : i = 0, (tidak signifikan) Ha : i 0, (signifikan) Kriteria pengambilan keputusan: Jika hasilnya (+): H0 : i = 0 H0 diterima apabila t-hitung < t-tabel (t*< tt) (), Artinya, Variabel independen secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat kepercayaan ()

55 Ha : i 0 Ha diterima apabila t-hirung > t-tabel (t* > tt) (), Artinya, Variabel independen secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat kepercayaan (). Jika hasilnya (-): H0 : i = 0 H0 diterima apabila t-hitung > t-tabel (t* > tt) (), Artinya, apabila Variabel independen secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat kepercayaan (). Ha : i 0 Ha diterima apabila t-hitung < t-tabel (t* < tt) (), Artinya, apabila Variabel independen secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat kepercayaan ().

Ha diterima

Ha diterima

H0 diterima

0
Gambar 3.1 Kurva Uji t-statistik

56
3.6.3 Uji F-statistik (Uji keseluruhan)

Uji F dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen secara keseluruhan atau bersama-sama terhadap variabel independen. Rumus untuk mencari F-hitung adalah: F* =
R2 / k 1 (1 R 2 ) /( n k )

Keterangan: R2 k = Koefisien Determinan = Jumlah variabel independent ditambah intercept

dari suatu model persamaan. n hipotesis: H0 : 1 = 2 = 0 Ha : 1 2 0 kriteria pengambilan keputusan: H0:1:2= 0, H0 diterima apabila F* < Ftabel (), artinya variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat kepercayaan (). Ha:1:2 0, Ha diterima apabila F* > Ftabel (), artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat kepercayaan (). = Jumlah sample

57

H0 diterima

Ha diterima

F-tabel
Gambar 3.2 Kurva Uji F-Statistik

3.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik 3.7.1 Uji Multicolinearity

Multicolinearity adalah alat untuk mengetahui suatu kondisi, apakah terdapat korelasi variabel independen diantara satu sama lain. Untuk mengetahui ada tidaknya multicolinearity dapat dilihat dari R-square, F-hitung, t-hitung, serta standard error. Adanya Multicolinearity ditandai dengan: a. standard error tidak terhingga b. Tidak satu pun t-statistik yang signifikan pada =10%, = 5%, = 1% dalam model persamaan tersebut c. R2 sangat tinggi akan tetapi t-statistik berubah tanda dan tidak signifikan

58
3.8 Definisi Operasional

Kredit Perbankan adalah kredit kepada masyarakat untuk kegiatan usaha, atau konsumsi kredit ini diberikan oleh bank pemerintah atau bank swasta kepada dunia usaha guna membiayai sebagian kebutuhan permodalan, dan kredit dari bank kepada individu untuk membiayai pembelian kebutuhan hidup yang berupa barang dan jasa. Lama Usaha adalah satuan usaha kecil rotan itu mulai berdiri dan bertahan di tengah gejolak ekonomi, dimana satuan hitungnya dalam (tahun) Tingkat Pendidikan adalah pendidikan formal yang diselenggarakan di sekolah secara teratur, bertingkat, dan mengikuti syarat-syarat yang jelas, teratur, dan ketat (terikat) Omset (Pendapatan) adalah seluruh uang yang diterima yang akan dipergunakan untuk konsumsi dalam memenuhi biaya hidup.

59

BAB IV DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Kecamatan Medan Barat 4.1.1 Sejarah Singkat Kecamatan Medan Barat

Kecamatan Medan Barat mulai diresmikan sejak dikeluarkan Surat Keputusan Presiden RI No.46/I 1951 yang isinya mengangkat Abdul Hakim sebagai Gubernur Provinsi Sumatera Utara. Demikianlah Kota Medan tetap berada dalam pengawasan Gubernur. Sesuai dengan kebutuhan perkembangan masyarakat yang ada ketika itu maka Kota Medan memegang peranan penting. Oleh karena itu kondisi Kota Medan memerlukan perubahan dan pembangunan. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur No.66/III/PSU tanggal 21 September 1951 (Lembaran daerah Propinsi Sumatera Utara No.3 tahun I), maka wilayah Kota Medan diperluas dengan mengambil sebagian wilayah Kabupaten Deli Serdang yang berada di sekeliling Kota Medan. Sejak itu wilayah Kota Medan mencapai 5130 Ha dan terdiri dari empat Kecamatan yaitu: 1. Kecamatan Medan Barat 2. Kecamatan Medan Baru 3. Kecamatan Medan Timur 4. Kecamatan Medan Kota

59

60 dan keputusan pembagian wilayah Kota Medan disusul dengan Maklumat

Walikotamadya Medan No.21 tanggal 29 September 1951. Kemudian Kotamadya Medan diperluas menjadi 26510 Ha dengan mengambil tanah adat yang ada di sekitar Kota Medan, berdasarkan PeraturanPemerintah RI No.22 tahun 1973. Pada tahun 1991 sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No.50 tahun 1991 terjadi pemekaran kecamatan yang ada di kotamadya Medan dari 11 Kecamatan menjadi 19 Kecamatan. Kecamatan Medan Barat sebelum PP RI No.50 tahun 1991 terdiri dari 13 kelurahan yaitu: 1. Kelurahan Silalas 2. Kelurahan Kesawan 3. Kelurahan Pulo Brayan Kota 4. Kelurahan Sei Agul 5. Kelurahan Gelugur Kota 6. Kelurahan Karang Berombak 7. Kelurahan Sei Sikambing D Kemudian berdasarkan PP RI No.50 tahun 1991 dimekarkan menjadi 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Medan Barat dan Kecamatan Medan Petisah. Kecamatan Medan Barat pada saat ini terdiri dari 6 Kelurahan yaitu: 1. Kelurahan Kesawan 2. Kelurahan Silalas 3. Kelurahan Sei Agul 4. Kelurahan Karang Berombak 5. Kelurahan Glugur Kota 6. Kelurahan Brayan Kota 8. Kelurahan Sei Putih Timur 9. Kelurahan Sei Putih Timur II 10. Kelurahan Sekip 11. Kelurahan Petisah Tengah 12. Kelurahan Sei Putih Barat 13. Kelurahan Sei Putih Tengah

Maksud dan tujuan terbentuknya Kecamatan adalah untuk mempermudah serta membina masyarakat di segala bidang sesuai dengan UU No.5 tahun 1974 tentang

61 pokok-pokok pemerintahan di daerah yakni camat sebagai kepala wilayah dan pada saat penelitian ini dilakukan (tahun 2007) dijabat oleh Pardamean Siregar, SH.M.Ap.

4.1.2 Letak Geografis Kecamatan Medan Barat

Luas wilayah Kecamatan Medan Barat 539 Ha dengan ketinggian 8m dari permukaan laut.Kecamatan Medan Barat mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara : Kecamatan Medan Deli Sebelah Selatan : Kecamatan Medan Petisah Sebelah Barat : Kecamatan Medan Helvetia Sebelah Timur : Kecamatan Medan Timur Ruang lingkup tugas Kecamatan Medan Barat membawahi 6 Kelurahan dan 98 Lingkungan.Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

62
Tabel 4.1 Banyaknya Lingkungan RW,RT dan Blok Sensus Dirinci Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Barat Tahun 2007 Jumlah No Kelurahan Lingkungaan RW RT Blok Sensus

1 2 3 4 5 6

Kesawan Silalas Sei Agul Karang Berombak Gelugur Kota Pulo Brayan Kota Jumlah
Sumber : BPS Kota Medan

11 12 16 19 15 25 98

18 13 20 18 16 25 110

44 52 60 54 33 77 320

26 23 43 40 18 39 189

4.2 Penduduk dan Tenaga Kerja

Jumlah penduduk di Kecamatan Medan Barat adalah 77791 jiwa (tahun 2007) dengan jumlah 320 rumah tangga. Rata-rata anggota rumah tangga di Kecamatan Medan Barat adalah 5 orang. Jumlah penduduk yang paling besar adalah Kelurahan Sei Agul sebanyak 22957 jiwa dan jumlah penduduknya yang paling rendah adalah Kelurahan Kesawan dengan jumlah penduduk 5108 jiwa. Jumlah penduduk berjenis kelamin lakilaki sebesar 38657 jiwa dan berjenis kelamin perempuan adalah 39134 jiwa. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

63
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dirinci Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Barat Tahun 2007 Jenis Kelamin No Kelurahan Laki-Laki Perempuan Penduduk Jumlah

1 2 3 4 5 6

Kesawan Silalas Sei Agul Karang Berombak Gelugur Kota Pulo Brayan Kota Jumlah

2552 3650 11365 10557 3725 6817 38657

2556 3696 11601 10440 3889 6952 39134

5108 11601 22957 20997 7614 13769 77791

Sumber BPS Kota Medan

64

Tabel 4.3 Banyaknya Lembaga Keuangan Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Barat Tahun 2007 No Kelurahan Bank Koperasi Jumlah

1 2 3 4 5 6

Kesawan Silalas Sei Agul Karang Berombak Gelugur Kota Pulo Brayan Kota Jumlah
Sumber : BPS Kota Medan

25 2 1 3 9 40

12 1 1 5 19

37 2 1 2 3 14 59

Sesuai dengan tabel 5, Lembaga Keuangan yang paling banyak terdapat di Kecamatan Medan Barat adalah bank kebanyakan terdapat di Kelurahan Kesawan. Koperasi sangat sedikit terdapat di Kecamtan Medan Barat.

4.3 Potensi Ekonomi

Pertumbuhan dan pengembangan ekonomi di kecamatan Medan Barat diarahkan dengan menitikberatkan pada sektor industri terutama subsektor industri kecil atau industri rumah tangga dan kerajinan. Faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah ini adalah letak geografis, sarana dan prasarana yang memadai, bantuan

65 pemerintah, tersedianya sumber daya yang cukup dan sarana komunikasi, informasi, enaga listrik, air, perbankan dan alat transportasi. Pembinaan dan pengembangan industri kecil perlu karena lapanga usaha yang sesuai dengan ekonomi lemah dengan mengikutsertakan peran aktif masyarakat yang kurang mampu sehingga penyerapan tanaga kerja lebih besar. Untuk memacu laju pertumbuhan industri kecil di daerah ini,maka langkah prioritas pengembangan industri kecil adalah sebagai berikut: 1) Mengembangan usaha-usaha industri kecil dan menengah menjadi usaha yang berkembang, mandiri, meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan jiwa kewirausahaan. 2) Mengadakan kegiata pendidikan dan pelatihan keterampilan, manajemen dan kewirausahaan. 3) Pengembangan industri penghasil komoditi yang berkualitas bagus supaya para pelanggan tidak kecewa. 4) Penguatan serta pendalaman struktur industri untuk memantapkan program keterkaitan baik antar industri maupun dengan sektor lain dalam meningkatkan nilai tambah. Memperhatikan prospek pengembangan yang didukung oleh sumber bahan baku yang tersedia da dibarengi dengan tenaga kerja yang ada, maka komoditi andalan yang terdapat di Kecamatan Medan Barat yang perlu dikembangkan adalah: a) Kelompok industri pangan yaitu industri kerupuk, roti, kue, tepung, minuman,dan sebagainya

66 b) Kelomok industri sandang dan kulit yaitu industri tas, sandal, sepatu, pakaian jadi maupun penyediaan jasa penjahit busana. c) Kelompok industri bahan bangunan yaitu berbagai jenis kayu (panglong), berbagai pertukangan kayu (kusen, pintu, jendela) d) Kelompok industri logam dan jasa pandai besi, tukang mas, alat-alat pertanian dan jasa perbengkelan. e) Kelompok industri kerajinan aneka yaitu anyaman rotan (kerajinan rotan), mebel, salon, foto copy, reperasi barang elektronik dan lainnya. Perkembangan subsektor industri kecil di Kecamatan Medan Barat mengalami kenaikan dari tahun ke tahun yang diwakili oleh jumlah unit usaha yang ada. Prsentase kenaikannya berbeda-beda dimana hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya keadaan ekonomi yang berubah-ubah. Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini :

67
Tabel 4.4 Banyaknya Perusahaan Industri Besar,Sedang,Kecil dan Kerajinan Rumah tangga Menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Barat Tahun 2007 No Kelurahan Besar/Sedang Kecil Rumah Tannga

1 2 3 4 5 6

Kesawan Silalas Sei Agul Karang Berombak Gelugur Kota Pulo Brayan Kota Jumlah

4 5 3 3 15

17 6 9 28 13 10 83

20 12 14 39 17 16 118

Sumber : BPS Kota Medan

Industri yang paling banyak pada Kecamatan Medan Barat adalah industri kerajinan rumah tangga dan yang paling sedikit adalah industri besar/sedang. Industri besar/sedang, kecil dan kerajinan rumah tangga banyak terdapat di Kelurahan Karang Berombak. Dari tabel di atas membuktikan bahwa usaha kecil lebih banyak daripada usaha besar,keadaan tersebut pada umumnya terdapat pada negarayang sedang berkembang misalnya negar indonesia. Diakui ada banyak kelemahan yang dihadapi oleh UKM, salah satu kelemahan yang cukup signifikan adalah masalah pembiayaan. Untuk mengatasi masah ini bukanlah hal yang mudah, membutuhkan waktu dan perlu mendapat perhatian, penanganan yang sungguh-sungguh serta berkesinambungan dari semua pihak.

68 Pembiayaan kepada pengusaha UKM tidak selamanya merugikan. Bahkan, keuntungn bisa diperoleh melalui penyaluran kredit bagi pelaku usaha yang sering kali diabaikan. Selain dapat memperoleh keuntungan,secara tidak langsung pembiayaan UKM ini membantu meminimalisir pengangguran dan kemiskinan. Pemerintah juga sebaiknya menunjuk bank-bank (komersial) khusus untuk penyaluran kredit UKM yang benar-benar produktif. Cara ini juh lebih efektif daripada membiarkan mekanisme pasar seperti saat ini,dimana semua bank masuk ke usaha UKM, tetapi sebagian besar hanya sektor konsumtif. Bank-bank yang ada akan lebih baik jika mengalokasikan sebagian dananya untuk di pool pada satu bank dan kemudian bank yang ditunjuk itulah yang berfokus pada UKM. Adanya dukungan dana, bimbingan dan pendampingan yang tepat bagi UKM, diharapkan UKM dapat menopang lebih kuat lagi upaya pemulihan ekonomi Indonesia yang sempat mengalami krisis.

69
BAB V HASIL ESTIMASI DAN INTERPRETASI

5.1 Kinerja Usaha Kecil Dalam Pertumbuhan Ekonomi

Pentingnya usaha kecil di negara-negara berkembang sering dikaitkan dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial dalam negeri seperti tingginya tingkat kemiskinan,besarnya jumlah pengangguran terutama dari golongan masyarakat berpendidikan rendah, ketimpangan distribusi pendapatan,proses pembangunan yang yang tidak merata antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan serta masalah urbanisasi.Keberadaan atau perkembangan usaha kecil diharapakan dapat memberikan kontribusi yang bagus terhadap penanggulangan masalah di atas. Usaha kecil tetap dapat bertahan di pasar bahkan menikmati pertumbuhan volume produksi setiap tahunnya. Karena walaupun memproduksi jenis barang yang sama seperti yang diproduksi oleh industri besar, tetapi ada perbedaannya, baik secara alami maupun rekayasa. Perbedaan tersebut misalnya dalam hal warna, bentuk, rasa, kemasan, harga dan pelayanan. Usaha kecil mempunyai segmentasi pasar tersendiri yang melayani kelompok pembelinya pada umumnya berasal dari kalangan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Industri kecil yang terproteksi oleh industri besar adalah kerajinan tangan seperti patung, ukiran, perhiasan, meubel dan dekorasi bangunan dari kayu rotan atau bambu. Usaha kecil di Indonesia sangat penting dalam hal penciptaan kesempatan kerja. Argumentasi ini didasarkan pada kenyataan bahwa, disatu pihak jumlah angkatan kerja di Indonesia sangat berlimpah mengikuti jumlah penduduk yang sangat banyak dan di lain

69

70 pihak industri besar tidak dapat menyerap semua para pencari kerja disebabkan karena kelompok usaha ini pada umumnya relatif padat karya yaitu pekerja yang berpendidikan formal yang tinggi dan pengalaman kerja yang cukup sedangkan UKM, khususnya usaha kecil sebagian pekerjanya berpendidikan rendah. Berhasil tidaknya pengusaha tergantung pada kecakapan dan kejelian pengusaha melihat keadaan pasar dengan baik agar dapat membuat gambaran tentang jalanya harga dimasa datang. Atas dasar ini pengusaha harus mempertimbangkan dan menentukan berapa yang harus diproduksi. Sebagai pemimpin produksi maka ia harus mengusahakan,bahwa produksi itu berjalan denagan seefisien mengkin, dimana pengusaha harus berusaha menekan harga biaya supaya penghasilan (omset) lebih besar.

5.2 Hasil Penelitian melalui Keisioner 1 Modal

Modal merupakan hal yang paling penting dalam kegiatan proses produksi. Tanpa modal suatu kegiatan produksi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.Yang dimaksud modal disini adalah modal sendiri. Ketika seorang pengusaha akan menentukan sumber permodalan dan jumlahnya maka ia harus mempertimbangkan banyak aspek agar pendanaan tersebut

menguntungkan. Sesuai dengan hasil penelitian bahwa dari 15 responden, 8 respoden(53,33%) memiliki modal sendiri sebesar Rp10-25 juta, 4 respoden (26,67%) memiliki modal dibawah 10 juta dan 3 responden (20%) memiliki modal diatas 25 juta.Untuk lebuh jelasnya lihat tabel di bawah ini:

71
Tabel 5.1 Modal Sendiri Responden Nilai Modal Jumlah Sampel Persentase (%)

Diatas 25 juta 10-25 juta Dibawah 10 juta Jumlah

3 8 4 15

20 53,33 26,67 100

Sumber : Penelitian melalui kuisioner

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa respoden yang mempunyai modal sebesar 10-25 juta yang paling banyak sebesar 53,33% dan yang bermodalkan diatas 25 juta yang paling sedikit sebesar 20%.
2 Usia

Faktor usia sangat berpengaruh terhadap produktivitas seseorang dalam bekerja. Dari 15 responden, 6 responden (40%) berusia 31-40 tahun, 4 responden (26,67%) berusia 41-50 tahun, 3 responden (20%) berusia 51-60 tahun dan 2 responden (13,33) berusia 20-30 tahun. Lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini:

72
Tabel 5.2 Usia Responden Usia Responden Jumlah Sampel Persentase (%)

20-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-60 tahun Jumlah

2 6 4 3 15

13.33 40 26,67 20 100

Sumber : Penelitian melalui kuisioner

Dapat disimpulkan bahwa usia responden yang paling banyak adalah 31-40 tahun sebesar 40% dan berusia 20-30 tahun yang paling sedikit sebesar 13,33%.
3 Lama Usaha

Pada umumnya semakin lama usaha itu berdiri maka para pelanggannya akan semakin banyak dan semakin berpengalaman menjalankan usahanya. Dari hasil penelitian, 7 responden (46,67%) lama usahanya 6-10 tahun, 5 responden (33,33%) lama usahanya 11-15 tahun dan 3 responden (20) lama usahanya 1-5 tahun. Lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini:

73
Tabel 5.3 Lama Usaha Responden Lama Usaha Jumlah Sampel Persentase (%)

1-5 tahun 6-10 tahun 11-15 tahun Jumlah

3 7 5 15

20 46,67 33,33 100

Sumber : Penelitian melalui kuisioner

Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa responden yang paling banyak lama usahanya adalah 6-7 tahun sebesar 46,67% dan paling sedikit 1-5 tahun sebesar 20%.

4 Tingkat Pendidikan

Perkembangan usaha kesilditentukan oleh sejumlah faktor diantaranya adalah tingkat pendidikan pengusaha. Oleh karena pendidikan merupakan salah satu unsur yang dapat merubah sikap dan perilaku, meningkatkan dan mengembangkan pola pikir, wawasan serta memudahkan pengusaha menyerap informasi yang sifatnya membawa pembaharuan dan kemajuan bagi usahanya.

74
Tabel 5.4 Tingkat Pendidikan Responden Tingkat Pendidikan Jumlah Sampel Persentase (%)

SD SMP SMA S1 Jumlah

3 4 6 2 15

20 26,67 40 13,33 100

Sumber : Penelitian melalui kuisioner

Berdasarkan taber di atas dari 15 responden, 6 responden (40%) berpendidikan SMA, 4 responden (26,67%) berpendidikan SMP, 3 responden (20%) berpendidikan SD dan 2 responden (13,33%) berpendidikan S1.Dapat disimpulkan bahwa pengusaha rotan tersebut paling banyak berpendidikan SLTA dan paling sedikit berpendidikan S1.
5 Krredit Perbankan

Kredit perbankan dibutuhkan oleh para pengusaha karena keterbatasan modal sendiri sehingga mereka harus meminjam ke bank untuk pengembangan usaha dan kelancaran proses produksi.

75
Tabel 5.5 Kredit Perbankan Responden Kredit Perbankan Jumlah Sampel Persentase (%)

1-5 juta 6-10 juta 11-15 juta 16-20 juta Jumlah

7 4 3 1 15

46,67 26,67 20 6,66 100

Sumber : Penelitian melalui kuisioner

Dari 15 responden,7 responden (46,67%) mempunyai kredit dari bank sebesar 1-5 juta, 4 responden (26,67%) kreditnya sebesar 6-10 juta, 3 responden (20%) kreditnya sebesar 11-15 juta, 1 responden (6,66) kreditnya sebesar 16-20 juta.Maka dapat disimpulkan bahhwa responden paling banyak memiliki kredit sebesar 1-5 juta dan paling sedikit memiliki kredit sebesar 16-20 juta.
6 Pendapatan (Omset)

Pendapatan (omset) pengusaha kecil rotan ini tergantung pada hasil penjualan dari kerajinan rotan, orderan (pesanan dari para pembeli). Jika pendapatan pengusaha semakin tinggi maka semakin dapat memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya.

76
Tabel 5.6 Pendapatan Responden Pendapatan Jumlah Sampel Persentase (%)

100000-400000 500000-800000 900000-1200000 1300000-1600000 Jumlah

8 4 3 15

53,33 26,67 20 100

Sumber : Penelitian melalui kuisioner

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dari 15 respoden,8 responden (53,33%) berpendapatan 500000-800000, 4 respoden (26,67%) berpendapatan 9000001200000, 3 responden (20%) berpendapatan 1300000-1600000.Dengan demikian, bahwa responden yang berpendapatan 500000-800000 yang paling banyak dan responden yang berpendapatan 1300000-1600000 yang paling sedikit.

5.3 Hasil Estimasi dan Interpretasi Data 5.3.1 Pengujian Pengaruh Variabel Bebas Terhadap Variabel Terikat

Analisis pembahasan ini untuk mengetahui korelasi antara variabel terikat dan variabel bebas. Pembuktian kebenaran hipotesis yang dibuat, penulis mengajukan dalam bentuk analisis matematika apakah peningkatan omset/pendapatan dipengaruhi oleh kredit perbankan, lama usaha dan tingkat pendidikan. Seberapa jauh tingkat pencapaian data yang tersedia dalam pencapaian kebenaran akan dijelaskan dalam perhitungan serta

77 pengujian terhadap masing-masing koefisien regresi yaitu uji F, uji - t yang diperoleh dengan menggunakan Program Eviews 4.1.
Tabel 5.7 Hasil Analisa Regresi Y= 183245.1 + 0.024831X1 + 40161.86X2 + 64519.41X3 Std error (42443.31) t-statistic (4.317409) R- square Adjusted R

(0.006104)

(13379.59)

(36820.76) (1.752256) (241.1467) (0.000000)

(4.067992) (3.001725)
F-statistic

(0.985023) (0.980938)

Prob(F-statistic)

5.3.2 Interpretasi Model Linier

Bentuk persamaan :
Y = f(X1,X2,X3)

Bentuk umum regresi berganda yaitu :


Y = a + b X1 + c X2 +d X3

Berdasarkan hasil regresi linear berganda dengan menggunakan progam E-views 4.1 diperoleh hasil estimasi sebagai beri
Y= 183245.1 + 0.024831X1 + 40161.86X2 + 64519.41X3 a. Kredit Perbankan (X1)

Kredit perbankan mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan (omset) dimana besarnya koefisien 0,024831, artinya jika jumlah kredit perbankan mengalami peningkatan sebesar Rp 1000, maka akan meningkatkan pendapatan (omset) sebesar Rp24,831. Hal ini sesuai dengan

78 hipotesa yang menyatakan bahwa apabila terjadi kenaikan kredit perbankan maka omset (pendapatan) akan meningkat, ceteris paribus
b. Lama Usaha (X2)

Lama usaha mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan (omset) dimana besarnya koefisien 40.161,86, artinya jika lama usaha bertambah sebesar 1 tahun, maka akan meningkatkan pendapatan sebesar Rp 40.161,86. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang menyatakan bahwa apabila terjadi kenaikan lama usaha maka omset (pendapatan) akan meningkat, ceteris paribus
c. Tingkat Pendidikan (X3)

Tingkat pendidikan mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap peningkatan pendapatan (omset) dimana besarnya koefisien 64519,41,artinya tingkat pendidikan meningkat sebesar 1tingkat, maka akan meningkatkan pendapatan sebesar Rp 64.519,41.

5.3.3 Test For Goodness Of Fit (Uji Kesesuaian) a. Koefisien Determinasi (R2)

Dari hasil regresi yang telah diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0.985023, hal ini menggambarkan bahwa variabel bebas yang secara bersamaan memberikan pengaruh terhadap variabel terikat sebesar 98%. Sedangkan sisanya 2% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam estimasi, model atau dijelaskan oleh .

79
b. Uji F-statistik

Uji F-statistik ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel kredit perbankan,lama usaha dan tingkat pendidikan mampu secara serempak mempengaruhi peningkatan pendapatan (omset). Kriteria pengambilan keputusan : H0 : b = 0 Ha : b 0 = 1% df =n- k-1 =15-3-1=11 t-hitung = 4.067992 t-tabel = 2.718 Kesimpulan : Berdasarkan perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa F-hitung > F-tabel, yaitu 241.1467 > 7.21, dengan demikian hipotesa diterima. Artinya secara bersamasama varibel kredit perbankan,lama usaha dan tingkat pendidikan berpengaruh nyata pada peningkatan pendapatan (omset) pada tingkat kepercayaan 99%.

80

H0 diterima

Ha diterima

7.21

241.1467

Gambar 5.1 Kurva Uji F-Statistik c. Uji t-statistik

Kredit perbankan H0 : b = 0 Ha : b 0 = 1% ; df = n-k-1 = 15 3 1 =11 t-tabel = 2.718 t-hitung = 4.067992 Kriteria pengambilan keputusan : H0 diterima jika t-hitung < t-tabel Ha diterima jika t-hitung > t-tabel Keputusan :

81 Terima Ha diterima karena t-hitung > t-tabel (4.067>2.718), berarti variabel kredit perbankan (X1) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya pendapatan (omset) pada tingkat kepercayaan 99%.

Ha diterima

Ha diterima

H0 diterima

-4.067

-2.718

0
Gambar 5.2

4.067

2.718

Kurva Uji t-statistik terhadap Kredit Perbankan

Lama Usaha H0 : b = 0 Ha : b 0 = 5% ; df = n-k-1 = 15 3 1 = 11 t-tabel = 1.796 t-hitung = 3.001725 Kriteria pengambilan keputusan : H0 diterima jika t-hitung < t-tabel Ha diterima jika t-hitung > t-tabel Keputusan :

82 Terima Ha diterima karena t-hitung > t-tabel (3.001>1.796) berarti lama usaha (X2) memilki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya pendapatan (omset) pada tingkat kepercayaan 95%.

Ha diterima

Ha diterima

H0 diterima

-3.001

-1.796

0
Gambar 5.3

3.001

1.796

Kurva Uji t-statistik terhadap Lama Usaha

Tingkat Pendidikan H0 : b = 0 Ha : b 0

= 10% ; df = n-k-1 = 15 3 1 = 11
t-tabel = 1.363 t-hitung = 1.752256

Kriteria pengambilan keputusan : H0 diterima jika t-hitung < t-tabel Ha diterima jika t-hitung > t-tabel Keputusan :

83 Terima Ha diterima karena t-hitung > t-tabe (1.752 > 1.363), berarti tingkat pendidikan (X3) memilki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya pendapatan (omset) pada tingkat kepercayaan 90%.

Ha diterima

Ha diterima

H0 diterima

-1.752

-1.363

0
Gambar 5.4

1.752

1.363

Kurva Uji t-statistik terhadap Tingkat Pendidikan

5.3.4 Penyimpangan Asumsi Klasik

Multikolinearitas Dalam penelitian ini, tidak terdapat multikolinearitas di antara varibel-variabel independent. Hal ini terlihat dari setiap koefisien masing-masing variabel sesuai dengan hipotesa yang telah ditentukan. Dari model analisis : Y = a + b X1 + c X2 + d X3 + (1)

Y = 183245.1 + 0.024831X1 + 40161.86X2 + 64519.41X3

84 Maka dilakukan pengujian di antara masing-masing variabel independen untuk melihat apakah ada hubungan antara masing-masing variabel independen. X1 = f(X2,X3) X1 = a + c X2 + d X3 + X1 = -4424053 + 1293233 X2 -7518.797 X3 Didapatkan R-square 0.843126, dengan demikian pengaruh variabel kredit perbankan terhadap omset (pendapatan) adalah 0.84%. Dari hasil R-square persamaan (2) dapat disimpulkan tidak ada multikolinearitas di antara variabelvariabel independen, karena R-square persamaan (2) lebih kecil dari R-square persamaan (1). X2 = f(X1,X3) X2 = a + b X1 + d X3 + (3 (2)

X2 = 1.995305 + 0.00000002 X1 + 2.111111 X3 Didapatkan R-square 0.935441, dengan demikian pengaruh variabel lama usaha terhadap pendapatan (omset) adalah 0.93%. Dari hasil R-square persamaan (3) dapat disimpulkan tidak ada multikolinearitas di antara variabel-variabel independen, karena R-square persamaan (3) lebih kecil dari R-square persamaan (1). X3 = f(X1,X2) X3 = a + b X1 + c X2 + (4)

X3 = -0.107242 -0.00000000002 X1 + 0.278748 X2 Didapatkan R-square 0.900968, dengan demikian pengaruh variabel lama usaha terhadap pendapatan (omset) adalah 0.90%. Dari hasil R-square persamaan (4)

85 dapat disimpulkan tidak ada multikolinearitas di antara variabel-variabel independen, karena R-square persamaan (4) lebih kecil dari R-square persamaan (1).

86
BAB VI KESIMPILAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Variabel-variabel independen yaitu kredit perbankan, lama usaha dan tingkat pendidikan mempunyai pengaruh positif terhadap omset (pendapatan) pengusaha kecil rotan. Hal ini dapat dilihat nilai R-squared 0.98. Yang berarti bahwa kredit perbankan,lama usaha dan tingkat pendidikan berpengaruh sebesar 98 % dan sisanya sebesar 2 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam estimasi model 2. Variabel kredit perbankan mempunyai pengaruh yang nyata terhadap variabel dependen yaitu omset (pendapatan) pengusaha. Hal ini terlihat pada nilai t-hitung > t-tabel (4,067 > 2,718). Itu berarti variabel kredit perbankan (X1) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya pendapatan (omset) pengusaha. 3. Variabel lama usaha mempunyai pengaruh yang nyata terhadap variabel omset (pendapatan) pengusaha. Hal ini terlihat pada t-hitung > t-tabel (3.001>1.796) berarti lama usaha (X2) memilki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya pendapatan (omset) pengusaha. 4. variabel tingkat pendidikan mempunyai pengaruh nyata terhadap variabel omset (pendapatan) pengusaha. Hal ini terlihat pada t-hitung > t-tabe (1.752 > 1.363), berarti tingkat pendidikan (X3) memilki pengaruh yang positif terhadap besarnya pendapatan (omset) pengusaha.

86

87 5. Usaha kecil menengah (UKM) kerajinan rotan menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi bagi perekonomian di Medan. Hal ini dapat dilihat dari mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.

5.2 Saran

1. Selain dari variabel diatas yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan omset (pendapatan), pengusaha kecil rotan juga harus menjaga kualitas dan memproduksi barang seefisien mungkin serta meningkatkan pelayanan terhadap pembeli. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan (omset) penguaha rotan tersebut. 2. Untuk mengembangkan Usaha Kecil, sebaiknya pihak bank lebih mengadakan promosi kepada pengusaha kecil yang berpotensi agar lebih banyak pengusaha kecil dapat dibantu dalam pengembangannya. Selain itu, pihak bank juga harus kebih waspada terhadap kredit kurang lancar. Untuk itu pihak bank perlu melakukan peninjauan langsung terhadap usaha yang dijalankan pengusaha tersebut. 3. Melihat kinerja UKM yang baik maka diharapkan pemerintah memunculkan keunggulan lokasi dan sektor ekonomi yang dimiliki setiap daerah,menumbuhkan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya pola kemitraan yag sehat,menjadi media tempat bertemunya kepentingan UKM dan Partner strategisnya untuk menembus pasar yang lebih luas. Dalam hal ini pemerintah dan pengusaha harus dapat bekerja sama seperti klien yang saling membutuhkan satu sama lain.

88 4. Menerapkan berbagai pelatihan dan terutama pengembangan sikap mental para pekerja untuk meningkatkan etos kerja, kreativitas dan produktivitas harus terus dilakukan oleh pemilik usaha tersebut baik itu melelui penyuluhan maupun pendidikan subsistem demi kemajuan usahanya. 5. Industri kerajinan rotan perlu dikembangkan untuk memperkuat perekonomian setempat. Potensi pengembangan dan keberlanjutan dapat dilakukan dengan mempertahankan kekuatan-kekuatan yang sudah ada dan mengurangi

kelemahannya. Pemberdayaan yang dilakukan misalnya peningkatan akses pemasaran dan permodalan.

89
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Maskur, Eti Wahyuni, Iswan Kaputra, 2005, Lilitan Masalah Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Kontroversi Kebijakan (Studi Kasus Sumatera Utara), Medan : BITRA Indonesia Arief, Sri Tua, 1993, Metode Penelitian Ekonomi, Jakarta : Universitas Indonesia Dimara, Diaan,1979, Pengaruh Pendapatan Rumah Tangga terhadap Pendidikan di Kelurahan Pulogadung Jawa Timur, Jakarta : PLPIIS; Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia Gujarati, Damodar, 1978, Ekonometrika Dasar, Jakarta: Erlangga. Kasmir,1998, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta : RajaGrafindo Persada Komaluddin,H.Rustian, 1998, Pengantar Ekonomi Pembangunan, Jakarta : FEUI Lupiyoadi, Rambat, 1998, Wawasan Kewirausahaan: Cara Mudah Menjadi Wirausaha, Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Mc Eachern, William A, 2001, Ekonomi Mikro, Jakarta : Salemba Empat Miraza, Bachtiar Hassan, 2006, Perjalanan Moneter dan Perbankan: Perkembangan Moneter Indonesia 2000-2005, Medan : USU Press Tambunan, Tulus, 1999, Perkembangan Industri Skala kecil di Indonesia, Jakarta : PT Mutiara Sumber Widya Offset Tambunan, Tulus T.H, 2002, Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia: Beberapa Isu Penting, Jakarta : Salemba Empat T.W, H.G Suseno, Sulistiyowati, Firma, Desembriarto, Dinnysius, 2005, Reposisi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam Perekonomian Nasional, Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma Untung, Budi, 2005, Kredit Perbankan di Indonesia, Yogyakarta : Penerbit Andi .............,Kecamatan Medan Barat Dalam Angka, 2007, BPS (Badan Pusat Statistik) : Medan

90
Lampiran 1 KUISIONER PENELITIAN

Isilah anngket ini dengan sebanar-benarnya, untuk kesediaannya saya ucapkan banyak terima kasih. 1.Nama :. Umur :. Alamat:. 2.Pendidikan Pengusaha:... a. SD b. SMP c. SMA d. Perguruan Tinggi 3.Lamanya Usaha:.. 4.Modal sendiri yang dimiliki:....... 5.Jenis kredit yang diterima:.. 6.Modal kredit yang diterima: 7.Rata pendapatan per tahun: a. Sebelum menerima Kredit:Rp b. Setelah menerima Kredit :Rp 8.Apakah Anda mempunyai penghasilan sampingan?Ya/Tidak, Darimana? a. Bila memiliki penghasilan sampingan, apakah ada pemisahan pencatatan antara harta usaha dan harta pribadi? b. Bila tidak dipisah, beberapa kira-kira pendapatan sampingan? 9.Apakah Anda menemukan masalah dalam mendapatkan kredit?Ya/Tidak, Masalah apa? .... 10.Apakah saudara merasakan manfaat kredit tersebut?Ya/Tidak, Sebutkan manfaatnya! Responden,

( NB:

) Untuk kepentingan penelitian penyelesaian skripsi Strata-1 (S1) Universitas Sumatera Utara (USU)

91

Lampiran 2

Omset/Pendapatan, Kredit Perbankan, Lama Usaha dan Tingkat Pendidikan dengan 15 Responden

Y X1 No Omset/Pendapatan Kredit Perbankan (Rp/Bulan) (Rp/Bulan) 1 750.000,5.000.000,2 525.000,3.000.000,3 800.000,6.000.000,4 650.000,3.000.000,5 1.000.000,7.000.000,6 900.000,8.000.000,7 1.100.000,12.000.000,8 1.500.000,18.000.000,9 1.300.000,10.000.000,10 1.200.000,12.000.000,11 500.000,2.000.000,12 700.000,5.000.000,13 550.000,2.000.000,14 600.000,3.000.000,15 1.100.000,12.000.000,Sumber : Data Primer Diolah

X2 Lama Usaha (Tahun) 8 5 8 7 11 9 13 15 14 12 5 7 5 6 10

X3 Tingkat Pendidikan 3 1 2 2 3 3 3 4 4 3 1 2 1 2 3

Keterangan : Tingkat Pendidikan 1 = SD 2 = SMP 3 = SMA 4 = Perguruan Tinggi

92

Lampiran 3

Hasil Regresi Variabel Omset/Pendapatan (Y) terhadap Kredit Perbankan (X1), Lama Usaha (X2) dan Tingkat Pendidikan (X3)

Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 03/04/08 Time: 23:49 Sample: 1 15 Included observations: 15 Variable C X1 X2 X3 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 183245.1 0.024831 40161.86 64519.41 0.985023 0.980938 42731.65 2.01E+10 -178.8983 1.816053 Std. Error 42443.31 0.006104 13379.59 36820.76 t-Statistic 4.317409 4.067992 3.001725 1.752256 Prob. 0.0012 0.0019 0.0120 0.1075 878333.3 309502.3 24.38645 24.57526 241.1467 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

93

Lampiran 4

Hasil Regresi Variabel Kredit Perbankan (X1) terhadap Lama Usaha (X2) dan Tingkat Pendidikan (X3)

Dependent Variable: X1 Method: Least Squares Date: 03/04/08 Time: 23:53 Sample: 1 15 Included observations: 15 Variable C X2 X3 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -4421053. 1293233. -7518.797 0.843126 0.816980 2020881. 4.90E+13 -237.3962 2.377045 Std. Error 1549265. 510886.4 1741340. t-Statistic -2.853645 2.531351 -0.004318 Prob. 0.0145 0.0264 0.9966 7200000. 4723800. 32.05282 32.19443 32.24719 0.000015

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

94

Lampiran 5

Hasil Regresi Variabel Lama Usaha (X2) terhadap Kredit Perbankan (X1) dan Tingkat Pendidikan (X3)

Dependent Variable: X2 Method: Least Squares Date: 03/04/08 Time: 23:53 Sample: 1 15 Included observations: 15 Variable C X1 X3 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient Std. Error 1.995305 2.69E-07 2.111111 0.935441 0.924681 0.921969 10.20031 -18.39184 2.244889 0.711915 1.06E-07 0.509637 t-Statistic 2.802729 2.531351 4.142379 Prob. 0.0160 0.0264 0.0014 9.000000 3.359422 2.852245 2.993855 86.93832 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

95

Lampiran 6

Hasil Regresi Variabel Tingkat Pendidikan (X3) terhadap Kredit Perbankan (X1) dan Lama Usaha (X2)

Dependent Variable: X3 Method: Least Squares Date: 03/04/08 Time: 23:56 Sample: 1 15 Included observations: 15 Variable C X1 X2 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.107242 -2.07E-10 0.278748 0.900968 0.884463 0.335017 1.346833 -3.206873 2.297607 Std. Error 0.331313 4.79E-08 0.067292 t-Statistic -0.323690 -0.004318 4.142379 Prob. 0.7517 0.9966 0.0014 2.400000 0.985611 0.827583 0.969193 54.58656 0.000001

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

96
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama NIM

: Elsa Astarina Ginting : 040501011

Depertemen : Ekonomi Pembangunan Fakultas : Ekonomi

Adalah benar telah membuat skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara dengan mengambul judul: Analisis Pengaruh Kredit Perbankan,Lama Usaha dan Tingkat Pendidikan terhadap Omset Pengusaha Kecil Rotan di Kecamatan Medan Barat Medan . Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan seperlunya.

Medan,

Maret 2008

Yang Membuat Pernyataan

(Elsa Astarina Ginting) NIM : 040501011