Você está na página 1de 24

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah korupsi bukan hal yang baru di Indonesia.

Secara yuridis istilah korupsi sudah dikenal sejak tahun 1957 dalam bentuk Peraturan Militer Angkatan Darat dan Laut Republik Indonesia Nomor PRT/PM/06/1957. Peraturan Penguasa Militer dibuat karena Undang-Undang Hukum Pidana yang dianggap tidak mampu lagi menanggulangi permasalahan korupsi, pada saat itu korupsi dianggap sebagai penyakit masyarakat yang menggerogoti kesejahteraan rakyat, menghambat pembangunan, merugikan perekonomian, dan mengabaikan moral. Peraturan Penguasa Militer dapat dikatakan sebagai upaya awal bagi Pemerintah untuk menanggulangi korupsi, sehingga saat ini dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, namun adanya peraturan perundangundangan tersebut belum mampu menekan angka korupsi yang semakin meningkat. Apalagi di era orde baru, yang semula paling lantang menentang praktik korupsi, justru membuat korupsi semakin tumbuh subur dengan berbagai kebijakan penyelenggaraan pemerintahan yang penuh dengan unsur-unsur korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Menurut Arifin (2000, 2) mengatakan bahwa korupsi di Indonesia sudah menyatu menjadi sistem penyelenggaraan pemerintahan (sistemik), bahkan pemerintahan akan hancur jika korupsi benar-benar diberantas. Salah satu upaya Pemerintah untuk menanggulangi tindak korupsi adalah dengan melaksanakan audit investigatif. BPK-RI sebagai lembaga yag dipercaya dan memiliki kewenangan dalam melaksanakan audit investigatif serta terpercaya dalam memberantas korupsi. Sebelum memulai suatu investigasi, pimpinan atau lembaga perlu menetapkan apa yang sesungguhnya ingin dicapai dari investigasi itu. Investigasi merupakan proses yang panjang, mahal, dan bisa berdampak negative terhadap perusahaan atau stakeholdersnya. Proses yang panjang dan lama, diikuti dengan banyaknya pihak (baik intern maupun ekstern) yang terlibat atau dilibatkan, menyebabkan investigasi itu menjadi mahal. Perusahaan juga harus menyediakan banyak sumber daya atau harus meng-commit sumber daya yang akan disediakan.

Seminar Auditing

Page 1

Reputasi perusahaan juga bisa hancur jika pengungkapan investigasi ini tidak dikomunikasikan dengan baik. Karena itu, tujuan dari suatu investigasi harus disesuaikan dengan keadaan khusus yang dihadapi,dan ditentukan sebelum investigasi dimulai. 1.2 Tujuan Tujuan Investigatif: Dibawah ini disajikan bermacam-macam alternative mengenai tujuan investigasi: 1. Memberhentikan manajemen. Tujuan utamanya adalah sebagai teguran keras bahwa manajemen tidak mampu mempertanggung jawabkan kewajiban fidusiernya. Kewajiban fidusier ini termasuk mengawasi dan mencegah terjadinya kecurangan oleh karyawannya. 2. Memeriksa, mengumpulkan dan menilai cukupnya dan relevannya bukti. Tujuan ini akan menekankan bisa diterimanya bukti-bukti sebagai alat bukti untuk meyakinkan hakim di pengadilan. Konsepnya adalah forensic evidence, dan bukan sekedar bukti audit. 3. Melindungi reputasi karyawan yang tidak bersalah. Misalnya dalam pemberitaan di media masa bahwa karyawan di bagian produksi menerima uang suap. Tanpa investigasi, reputasi dari semua karyawan dibagian produksi akan tercemar. Investigasi mengungkapkan siapa yang bersalah. Mereka yang tidak bersalah terbebas dari tuduhan (meskipun perguncingan seringkali tetap tidak terhindari). 4. Menemukan dan mengamankan dokumen yang relevan untuk investigasi. Banyak bukti dalam kejahatan keuangan berupa dokumen. Jika banyak dokumen disusun untuk menyembunyikan kejahatan, atau jika dokumen ini dapat memberi petunjuk kepada pelaku dan penanggung jawab kecurangan, maka tujuan dari investigasi ini adalah menjaga keutuhan dokumen. Ruang kerja harus diamankan, tidak boleh ada orang masuk keluar tanpa izin, dokumen harus diindeks dan dicatat. 5. Menemukan asset yang digelapkan dan mengupayakan pemulihan dari kerugian yang terjadi. Ini meliputi penelusuran rekening bank, pembekuan rekening, izinizin untuk proses penyitaan dan atau penjualan asset, dan penentuan kerugian yang terjadi. 6. Memastikan bahwa semua orang, terutama mereka yang diduga menjadi pelaku kejahatan, mengerti kerangka acuan dari investigasi tersebut; harapannya adalah bahwa mereka bersedia bersikap Seminar Auditing kooperatif dalam investigasi itu. Teknik Page 2 pelaksanaannya adalah dengan dengar pendapat orang terbuka yang

menghadirkan orang luar sebagai panelis. Orang luar ini biasanya orang terkemuka dan terpandang. Hal ini umumnya dilakukan apabila operasi tertutup dan rahasia (covert operations) gagal mengungkapkan kecurangan yang berdampak luas. 7. Memastikan bahwa pelaku kejahatan tidak bisa lolos dari perbuatannya. Ada dua versi dari pendekatan ini. Pertama, lakukan penuntutan tanpa pandang bulu, berapapun besar biayanya, siapapun pelakunya (penjahat besar maupun kecil). Hal ini akan mengirimkan pesan kepada seluruh karyawan dan pihak luar, bahwa perusahaan atau lembaga itu serius dalam mengejar si penjahat. Kedua, kejar si penjahat untuk mengembalikan dana atau asset yang dicurinya, dan kemudian minta dia mengundurkan diri atau diberhentikan. Pendekatan kedua, lebih tenang, tak ada gembar-gembor. 8. Menyapu bersih semua karyawan pelaku kejahatan. Seperti pada butir diatas, tujuan utamanya adalah menyingkirkan buah busuk agar buah segar tidak ikut busuk. Pendekatannya adalah pendekatan disiplin perusahaan. Pembuktian terhadap tindak kejahatan ini mungkin tidak akan lolos disidang pengadilan. Tapi pembuktian disini diarahkan kepada penerapan peraturan intern perusahaan. 9. Memastikan bahwa perusahaan tidak lagi menjadi sasaran penjarahan. Kecurangan menggerogoti sumber daya perusahaan, dan umumnya pemulihan kerugian ini tidak ada atau sangat sedikit. Pendekatan ini menghentikan kerugian lebih lanjut dan menutup celah-celah peluang (loopholes) terjadinya kejahatan. 10. Menentukan bagaimana investigasi akan dilanjutkan. Apakah investigasi akan diperluas atau diperdalam, atau justru dibatasi lingkupnya. Kadang-kadang suatu investigasi dilaksanakan secara tentative atau eksploratif dan bertahap. Dalam investigasi ini laporan kemajuan memungkinkan evaluasi, apakah kita akan melanjutkannya dan jika ya, bagaiman lingkupnya. 11. Melaksanakan investigasi sesuai standar, sesuai dengan peraturan perusahaan, sesuai dengan buku pedoman. Tujuan semacam ini biasanya didasarkan atas pengalaman buruk. Dimasa lalu, misalnya, tujuan dari pada investigasi adalah untuk menangkap pelakunya. Ketika investigasi dilakukan secara gencar, investigasinya kebablasan dan pelaksanaannya melanggar ketentuan. 12. Menyediakan laporan kemajuan secara teratur untuk membantu pengambilan keputusan mengenai keputusan mengenai investigasi ditahap berikutnya. Banyak investigasi bersifat iterative, artinya suatu investigasi atas dugaan kejahatn Seminar Auditing Page 3

menghasilkan temuan baru yang melahirkan dugaan tambahan atau suatu dugaan baru. Investigasi pertama diikuti dengan investigasi berikutnya, dan seterusnya, secara iterative memperluas pemahaman invstigator mengenai berapa dalamnya masalah yang dihadapi. Konsultasi, diskusi, dan presentasi dari temuan-temuan secara berkala(mingguan, misalnya), merupakan ciri khas dari pendekatan ini. 13. Memastikan pelakunya tidak melarikan diri atau menghilang sebelum tindak lanjut yang tepat dapat diambil. Ini biasanya merupakan tujuan investigasi dalam hal pelaku tertangkap tangan seperti dalam kasus pencurian di supermarket. Umumnya kejahatan ditempat kerja tidak memiliki cirri kasus ini karena karyawan dikenal atau mempunyai identitas yang disimpan dalam pencatatan perusahaan. Tetapi dalam kejahatan tertentu, misalnya penggelapan uang yang melibatkan pihak-pihak diluar perusahaan, pendekatan ini sangat tepat. 14. Mengumpulkan cukup bukti yang dapat diterima pengadilan, dengan sumberdaya dan terhentinya kegiatan perusahaaan seminimal mungkin. Pendekatan ini berupaya mencari pemecahan yang optimal dalam kasus yang terjadi. 15. Memperoleh gambaran yang wajar tentang kecurangan yang terjadi dan membuat keputusan yang tepat mengenai tindakan yang harus diambil. Hasil investigasi seringkali ditindaklanjuti secara emosional. Jika karyawan itu disukai oleh atasan atau rekan sekerjanya, pimpinan cenderung memaafkan perbuatannya dan tidak memaanfaatkan peluang untuk memperbaiki sistem yang berhasil dijebolnya. Sebaliknya, jika pimpinan atau rekan sekerjanya tidak menyukai si pelaku kecurangan, pimpinan cenderung menghukumnya seberat-beratnya. Kedua sikap tadi akan merugikan perusahaan. Dengan memperoleh gambaran yang layak (fair) maka pimpinan secara sadar membuat keputusan tentang siapa yang melakukan investigasi (harus seorang professional) dan bagaimana tindaklanjutnya. 16. Mendalami tuduhan (baik oleh orang dalam atau luar perusahaan, baik lisan maupun tertulis baik dengan nama terang atau dalam bentuk surat kaleng) untuk menanggapinya secara tepat. Investigasi yang didasarkan pada tujuan ini, tidak akan menelan mentah-mentah fakta yang diajukan dalam tuduhan itu. Fokusnya adalah pada konteks tuduhan itu apakah tuduhan itu akan dianggap serius. 17. Memastikan bahwa hubungan dan suasana kerja tetap baik. Hal ini sangat penting ketika morale kerja merupakan kunci keberhasilan dalam perusahaan atau tim kerja. Seminar Auditing Page 4

18. Melindungi nama baik perusahaan atau lembaga. Tujuan dari investigasi ini tentunya bukan untuk melindungi lembaga yang sebagian besar memang sudah korup. Jika tujuan ini ditetapkan dalam kondisi semacam ini, maka yang tejadi adalah persekongkolan jahat atau kolusi. Tujuan investigasi diatas sangat tepat apabila kejahatan dilakukan oleh segelintir orang, padahal reputasi perusahaan secara keseluruhan terancam. 19. Mengikuti seluruh kewajiban hokum dan mematuhi semua ketentuan mengenai due diligence dan klaim kepada pihak ketiga (misalnya klaim asuransi). 20. Melaksanakan investigasi dalam koridor kode etik. Kita umumnya menyadari akan perlunya ketentuan perundang-undangan dipatuhi, dan konsekuensi terhadap pelanggarannya. Namun, lebih sulit mengikuti kewajiban etika. Dalam situasi dimana pelaku kecurangan pasrah, ia seringkali mengikuti kehendak sang investigator. Dalam kondisi seperti ini, si investigator lupa akan kode etiknya, sekedar karena pada saat itu si terduga tidak mempertanyakan sikap dan tingkah si investigator. Seringkali kepasrahan si terduga diikuti dengan arogansi si investigator, menyuburkan praktek-praktek pelanggaran kode etik. Dengan menetapkan tujuan investigasi ini, perusahaan ingin memastikan bahwa investigator senantiasa mengikuti kode etik yang sudah ditetapkan. 21. Menentukan siapa pelakunya dan mengumpulkan bukti mengenai niatnya. Prakarsa ini bermaksud untuk menyeret si pelaku ke pengadilan pidana, misalnya pengadilan tindak pidana korupsi. Karena itu, perlu pengumpulan bukti yang cukup untuk proses penyidikan yang diikuti dengan penuntutan dan selanjutnya proses pengadilan. Dengan demikian, seluruh daya dikerahkan disertai publisitas penuh, yang sangat sejalan dengan kebijakan tanpa ampun (zero-tolerance policy). 22. Mengumpulkan bukti yang cukup untuk menindak pelaku dalam perbuatan yang tidak terpuji. Ini serupa dengan tujuan dalam butir 21 diatas, dengan perbedaan bahwa butir ini diproses melalui ketentuan administrative atau perdata. 23. Mengidentifikasi praktek manajemen yang tidak dapat dipertanggungjawabkan atau perilaku yang melalaikan tanggung jawab. Seorang karyawan dibagian pengadaan berkolusi dengan pemasok. Hal ini memungkinkan karyawan memperkaya dirinya sendiri, yang dipakainya untuk pembelian property mewah. Investigasi dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama diarahkan kepada pelaku. Sedangkan tahap kedua, kepada atasannya. Tahap kedua ingin menjawab Seminar Auditing Page 5

pertanyaan: Mengapa atasannya tidak melihat petunjuk awal (anak buah bertambah kekayaan dalam jangka waktu pendek), ataukah sekurang-kurangnya mewawancarai anak buahnya. Tujuan investigasi dalam butir ini adalah untuk tahap kedua tadi. 24. Mempertahankan kerahasiaan dan memastikan bahwa perusahaan atau lembaga ini tidak terperangkap dalam ancaman tuntutan pencemaran nama baik. Gaya kerja serbu dan tangkap atau tangkap dulu, jelaskan kemudian seringkali rawan terhadap kemungkinan perusahaan dituntut. Karena itu, tujuan investigasi ini harus jelas dan ditegaskan sebelum investigasi dilakukan. 25. Mengidentifikasi saksi yang melihat atau mengetahui terjadinya kecurangan dan memastikan bahwa mereka memberikan bukti yang mendukung tuduhan atau dakwaan terhadap sipelaku. Tujuan ini berkaitan dengan petunjuk bahwa sipelaku mengidentifikasi orang-orang yang secara potensial bisa menjadi saksi, baik dalam proses penyidikan maupun dalam sidang pengadilan. Perlindungan terhadap para saksi ini dapat mendorong mereka memberikan keterangan, petunjuk, atau bukti yang diperlukan. 26. Memberikan rekomendasi mengenai bagaimana mengelola risiko terjadinya kecurangan ini dengan tepat. Dalam jangka panjang, manajemen risiko yang baiklah yang akan mencegah atau mengurangi terjadinya kecurangan. Dari contoh-contoh diatas, terlihat berbagai tujuan dalam melakukan suatu investigasi. Istilah investigasi dalam penggunaan sehari-hari, memberi kesan seolah-olah hanya ada satu jenis. Jenis yang kita kenal umumnya adalah dalam konteks tindak pidana korupsi. Tujuan akhirnya, menjebloskan koruptor ke penjara dan atau mendapatkan kembali sebagian atau seluruh hasil jarahannya. Pemilihan di antara berbagai alternative tujuan investigasi, tergantung dari organisasi atau lembaganya serta mandate yang dipunyainya, jenis dan besarnya kecurangan, dan budaya di lembaga tersebut. Tanggung jawab untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu investigasi terletak pada pimpinan.

Seminar Auditing

Page 6

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Investigatif Pengertian investigasi dan pemeriksaan fraud digunakan silih berganti sebagai sinonim. Idealnya ada kesamaan makna konsep-konsep auditing dan hukum; namun, dari ssegi filsafat auditing dan filsafat hukum,hal itu tidaklah mungkin. Ada sebab lain kenapa harmonisasi antara konsep-konsep hukum dan auditing tidak dapat berjalan. Hukum Indonesia, khususnya hukum pidana dan hukum secara pidana, masih berasal dari hukum Napoleonic. Sedangkan konsep-konsep akuntansi dan auditing kita adopsi dari Amerika Serikat. Karena perbedaannya yang penting antara konsep-konsep auditing dan hukum, pemeriksa fraud perlu memahami kedua-duanya. Dalam filsafat auditing kita mengenal konsep due audit care, prudent auditor, seorang professional yang berupaya menghindari tuntutan dengan tuduhan teledor (negligent) dalam melaksanakan tugasnya. Untuk itu, pemeriksa fraud atau investigator perlu mengetahui tiga aksioma dalam pemeriksaan fraud. Suatu investigasi hanya dimulai apabila ada dasar yang layak, yang dalam investigasi dikenal sebagai predication. Dengan landasan atau dasar ini, seorang investigator merekareka mengenai apa, bagaimana, siapa dan pertanyaan lain yang diduganya relevan dengan pengungkapan kasusnya: ia membangun teori fraud (fraud theory). Investigasi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai upaya pembuktian. Umumnya pembuktian ini berakhir di pengadilan dan ketentuan hukum (acara) yang berlaku. Aksioma Dalam Investigatif Dalam melakukan investigasi ada beberapa aksioma. Aksioma adalah asumsi dasar yang begitu gamblangnya sehingga tidak memerlukan pembuktian mengenai kebenarannya. Tapi jangan remehkan kegamblangannya. Pemeriksa yang berpengalaman pun menghadapi kesulitan ketika ia mengabaikan aksioma-aksioma ini. Ada tiga aksioma dalam pemeriksaan fraud, yang dibahas berturut-turut dibawah. Ketiga aksioma ini berkenaan dengan sifat fraud yang tersembunyi, pembuktian tentang fraud yang dilakukan secara timbal balik, dan terjadinya fraud semata-mata merupakan kewenangan pengadilan untuk memutuskannya. Seminar Auditing Page 7

Fraud selalu tersembunyi Berbeda dengan kejahatan lain, sifat perbuatan fraud adalah tersembunyi atau mengandung tipuan (yang terlihat di permukaan bukanlah yang sebenarnya terjadi atau berlangsung). Bayangkan sejenak perampokan bank yang dilakukan segerombolan penjahat. Mereka masuk ke lobby bank, menodongkan senjata api kepada teller (juru bayar) dan manajer bank, minta para teller mengisi kantong-kantong mereka dengan uang dan barang berharga lain yang ada dalam kasanah (vault,kluis), kemudian meninggalkan bank dengan kecepatan tinggi. Semuanya disaksikan oleh pelanggan bank yang sedang atau akan bertransaksi. Bandingkan adegan tadi dengan adegan lain di mana kepala cabang suatu bank besar memfasilitasi pelanggannya dengan membuka L/C fiktif atau memberikan kredit bodong yang segera menjadi NPL (non-performing loan). Dalam adegan kedua, terjadi dua scenario. Skenario pertama yang terjadi di permukaan, seolah-olah ini transaksi normal antara banker dan pelanggan terhormat. Transaksi ini didukung dengan segala macam berkas resmi dari perusahaan sang pelanggan, bank, notaries, kantor akuntan, pengacara, bermacam-macam legitimasi (termasuk surat-surat keputusan dari lurah sampai petinggi Negara lainnya) dan entah berkas apalagi. Dalam scenario kedua, pihak-pihak yang terlibat menutup rapat-rapat kebusukan mereka; penyuapan aparat penegak hukum dan instansi lain merupakan biaya penutup kebusukan ini. Kedua scenario ini tidak terpisah, satu menguatkan yang lain dalam jalinan ayau packaging yang rapi. Karena itu, dirigennya juga mempunyai nama terhormat, arranger. Adegan pembobolan pertama (oleh perampok) terlihat kasar dan kasat mata. Adegan pembobolan kedua (oleh kelompok yang disebut atau menamakan diri mereka professional) terlihat bersih; karena bagian yang kotor sudah tersembunyi dlam pembungkusan atau packaging yang rapi. Metode pembungkusannnya begitu rapi sehingga pemeriksa fraud atau investigator yang berpengalaman sekalipun seringkali terkecoh. Karena itu pemeriksa fraud atau investigator harus menolak memberikan pernyataan bahwa hasil pemeriksaannya membuktikan tidakada fraud. Pernyataan yang mengandung risiko yang sangat besar. Fraud tersembunyi (atau lebih tepat,disembunyikan), fraud dibungkus rapi. Pembuktian Fraud Secara Timbal-Balik Pembuktian ada atau telah terjadinya fraud meliputi upaya untuk membuktikan fraud itu tidak terjadi. Dan sebaliknya, untuk membuktikan fraud tidak terjadi, kita harus berupaya Seminar Auditing Page 8

membuktikan fraud itu terjadi harus ada upaya pembuktian timbale balik atau reverse proof. Kedua sisi fraud (terjadi dan tidak terjadi) harus diperiksa. Dalam hukum Amerika Serikat, proof of fraud must preclude any explanation other than guilt artinya pembuktian fraud harus mengabaikan setiap penjelasan, kecuali pengakuan kesalahan. Hanya Pengadilan yang Menetapkan Bahwa Fraud Memang Terjadi Pemeriksa fraud berupaya membuktikan fraud memang terjadi. Hanya pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk menetapkan hal itu. Di Amerika Serikat wewenang itu ada pada pengadilan (majelis hakim) dan para jury. Diatas dikatakan: pemeriksa Fraud harus menolak memberikan pernyataan bahwa hasil pemeriksaannya membuktikan tidak ada fraud. Disini harus ditegaskan: pemeriksa fraud harus menolak memberikan pernyataan bahwa pemeriksanya membuktikan adanya fraud. Dalam upaya menyelidiki adanya fraud, pemeriksa membuat dugaan mengenai apakah seseorang bersalah (guilty) atau tidak (innocent). Bersalah atau tidaknya seseorang merupakan dugaan atau bagian dari teori, sampai pengadilan memberikan keputusannya. Metodologi Investigatif Kembali ke contoh pembobolan bank diatas. Dalam pembobolan oleh perampok, identitas perampok tidak diketahui dan ini yang ingin diungkapkan. Dalam penjarahan bank oleh pejabatnya yang bersekongkol dengan pelanggan, identitas mereka bukan masalahnya. Masalahnya adalah membuktikan apakah perbuatan mereka dapat dianggap fraud. Kemahiran si pemeriksa dalam menguasai konsep keuangan dalam kasus yang dihadapinya dan kemampuannya menarik kesimpulan dari penerapan konsep tersebut (secara benar atau menyimpang) akan membantunya dalam mengungkapkan apakah perbuatan itu merupakan fraud (kejahatan atau pelanggaran) menurut hukum. Dalam contoh L/C fiktif,si pemeriksa harus memahami dengan baik segala seluk beluk (konsep) mengenai L/C dan celah-celah, bahkan tipologi, dari kejahatan dengan modus operandi L/C fiktif. Yang tidak kalah penting adalah kemahiran si pemeriksa untuk menyampaikan konsepkonsep penting itu secara sederhana, sehingga mudah dicerna oleh hakim yang harus memutus dan jaksa atau pengacara pembela yang harus diyakinkan. Diagram yang menunjukkan arus uang dari hasil kejahatan kepada pelaku yang merupakan otak kejahatan, merupakan contoh dari kemampuan menyajikan sesuatu yang rumit secara sederhana. Fraud Examiners Manual (2006) menjelaskan predication sebagai berikut: Seminar Auditing Page 9

Predication adalah keseluruhan dari peristiwa, keadaan pada saat peristiwa itu, dan segala hal yang terkait atau berkaitan yang membawa seseorang yang cukup terlatih dan berpengalaman dengan kehati-hatian yang memadai, kepada kesimpulan bahwa fraud telah, sedang atau akan berlangsung. Predication adalah dasar untuk memulai investigasi. Investigasi atau pemeriksaan fraud jangan dilaksanakan tanpa adanya predication yang tepat. Setiap investigasi dimulai dengan keinginan atau harapan bahwa kasus ini berakhir dengan suatu litigasi. Padahal ketika memulai investigasi, pemeriksa belum memiliki bukti yang cukup. Ia baru mempunyai dugaan atas dasar predication yang dijelaskan di atas. Keadaan ini tidak berbeda dengan ilmuwan yang membuat dugaan atas dasar pengamatannya terhadap berbagai fakta, kemudian dugaan ini diujinya. Seperti hipotesis yang harus diuji oleh seorang ilmuwan, pemeriksa fraud membuat teori tentang bagaimana fraud itu terjadi selanjutnya akan disebut teori fraud. Teori ini tidak lain dari rekaan atau perkiraan yang harus dibuktikan.

Investigasi dengan pendekatan teori fraud meliputi langkah-langkah sebagai berikut: Analisis data yang tersedia Ciptakan (atau kembangkan) hipotesis berdasarkan analisis di atas Uji atau test hipotesis tersebut Perhalus atau ubah hipotesis berdasarkan hasil pengujian sebelumnya.

2.2 Audit Investigatif Istilah audit investigatif di lingkungan lembaga pemerintahan seperti BPK sudah umum dan sering dipakai oleh BPK, BPKP dan KPK, sedangkan menurut Indonesian Corruption Watch (2004, 1) pelaku investigatif digolongkan menjadi dua yaitu: 1) Investigatif internal dilakukan oleh BPK, BPKP, KPK, Inteljen, SPI. 2) Investigatif eksternal (publik) dilakukan oleh Ormas, LSM, Parpol, dan wartawan. Menurut BPK-RI sendiri pengertian audit investigatif ialah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengungkapkan ada tidaknya indikasi kerugian negara atau daerah dan atau unsur pidana. ICW (2004, 3) membagi tahapan pelaksanaan audit investigatif menjadi 8 tahap yaitu: petunjuk awal, pengembangan informasi awal, wawancara ahli dan pendalaman

Seminar Auditing

Page 10

literatur, pencarian informasi dan dokumen, pengorganisasian data dan menganalisis, pelaporan, pengumuman hasil ke pihak internal, serta pengumuman hasil kepada publik. 2.3 Pemeriksaan Dalam Hukum, Sebagai pembanding dengan Audit Investigatif Pembahasan mengenai pemeriksaan fraud di atas adalah dari kaidah-kaidah auditing. Istilah yang digunakan dalam pembahasan sebelumnya adalah istilah auditing. Padahal pemeriksaan fraud dimaksudkan untuk pembuktian di pengadilan. Idealnya, pendekatan auditing dan hukum berjalan seiring. Namun, latar belakang kedua bidang ilmu ini berbeda. Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) mengatur tahapan hukum acara pidana sebagai berikut: 1. Penyelidikan 2. Penyidikan 3. Penuntutan 4. Pemeriksaan di sidang pengadilan 5. Putusan pengadilan 6. Upaya hukum 7. Pelaksanaan putusan pengadilan Tahap 1(penyelidikan) sampai dengan Tahap 6 (Upaya Hukum) merupakan satu rangkaian pemeriksaan yang merupakan upaya pembuktian. Hal ini dijelaskan dalam setiap tahap dari Tahap 1 sampai dengan Tahap 6. 1. Penyelidikan Penyelidikan adalah serangkaian kegiatan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu perbuatan yang diduga merupakan tindak pidana guna menentukan dapat/tidaknya penyelidikan dilakukan. Penyelidikan tidaklah berdiri sendiri atau terpisah dari penyidikan, melainkan merupakan satu rangkaian yang mendahului tindakan penyidikan lainnya, yakni penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan. Penyelidik mempunyai wewenang sebagai berikut: Menerima laporan atau pengaduan tentang adanya dugaan tindak pidana Mencari keterangan dan barang bukti

Seminar Auditing

Page 11

Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri

Atas perintah penyidik, penyelidik dapat melakukan tindakan berupa: Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan; Pemeriksaan dan penyitaan surat; Membawa dan menghadapkan seseorang kepada penyidik. Wewenang penyelidik seperti mencari keterangan dan barang bukti sudah memasuki ruang lingkup pembuktian. Jika keterangan yang diperoleh dari beberapa orang saling bersesuaian satu sama lain, apalagi jika ada keterkaitan dengan barang bukti yang ditemukan, maka penyelidik dapat menduga telah terjadi suatu tindak pidana. Selanjutnya penyidikan dapat dilakukan. Apabila Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penyelidikan dan dari penyelidikan itu tidak ditemukan sekurang-kurangnya dua bukti, maka penyelidik melaporkan kepada KPK untuk menghentikan penyelidikan. Sedangkan apabila Kejaksaan dan Kepolisian yang melakukan penyelidikan, tidak dikenal penghentian penyelidikan. Dalam hal penyelidik (Kejaksaan dan Kepolisian) berpendapat perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana maka penyelidikan tidak dilanjutkan, tanpa proses. 2. Penyidikan Penyidikan adalah serangkaian kegiatan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti, dan dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi untuk menemukan tersangkanya. Untuk mencari dan mengumpulkan bukti, undang-undang memberi wewenang kepada penyidik untuk: Menggeledah dan menyita surat dan barang bukti. Memanggil dan memeriksa saksi, yang keterangannya dituangkan dalam berita acara pemeriksaan saksi. Memanggil dan memeriksa tersangka, yang keterangannya dituangkan dalam berita acara pemeriksaan tersangka. Mendatangkan ahli untuk memperoleh keterangan ahli yang dapat juga diberikan dalam bentuk laporan ahli. Menahan tersangka, dalam hal tersangka dikuatirkan akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti atau mengulangi melakukan tindak pidana.

Seminar Auditing

Page 12

Apabila dari bukti-bukti yang terkumpul diperoleh persesuaian antara yang satu dengan yang lainnya, dan dari persesuaian itu diyakini bahwa memang telah terjadi tindak pidana dan tersangka itulah yang melakukannya, maka penyidik menyerahkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum. Hasil penyidikan ini tertuang dalam berkas perkara yang didalamnya terdapat bukti-bukti. Dalam hal Penyidik (Kepolisian atau Kejaksaan) berpendapat bahwa dari bukti-bukti yang dikumpulkan secara maksimal ternyata tidak cukup bukti atau terbukti tapi bukan merupakan tindak pidana (korupsi) maka mereka berwenang menghentikan penyidikan. KPK tidak dibenarkan menghentikan penyidikannya, karena kewenangannya ada pada penghentian penyelidikan. 3. Pra penuntutan Prapenuntutan adalah tindakan jaksa (Penuntut Umum) untuk memantau perkembangan penyidikan setelah menerima pemberitahuan dimulainya penyidikan dari penyidik, mempelajari atau meneliti kelengkapan berkas perkara hasil penyidikan yang diterima dari penyidik serta memberikan petunjuk guna dilengkapi oleh penyidik untuk dapat menentukan apakah berkas perkara tersebut dapat dilimpahkan atau tidak ke tahap penuntutan. Penuntut Umum tidak akan menerima berkas perkara hasil penyelidikan yang buktinya tidak lengkap. Karena bukti ini akan dijadikan alat bukti di sidang pengadilan untuk membuktikan tindak pidana yang didakwakan. Di tahap prapenuntutan, pembuktian merupakan focus utama dalam meneliti berkas perkara hasil penyidikan 4. Penuntutan Penuntutan adalah tindakan Penuntut Umum yang melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri yang berwenang, sesuai dengan cara yang diatur dalam hukum acara pidana, dengan permintaan agar diperiksa dan diputus oleh Hakim di sidang pengadilan. Setelah Penuntut Umum menerima atau menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik, ia segera menentukan apakah berkas perkara itu sudah/ belum memenuhi syarat untuk dilimpahkan ke pengadilan.

Seminar Auditing

Page 13

5. Pemeriksaan di pengadilan Seperti pada tahap-tahap sebelumnya, acara pemeriksaan di sidang pengadilan utidak lain berkenaan dengan pembuktian. Bukti-bukti yang diperoleh di tingkat penyidikan diperiksa kembali di sidang pengadilan untuk dijadikan alat bukti: Saksi-saksi yang telah diperiksa oleh penyidik dipanggil kembali ke sidang pengadilan untuk memperoleh alat bukti keterangan saksi. Tersangka yang sudah diperiksa di tahap penyidikan, diperiksa kembali disidang pengadilan, untuk mendapat alat bukti keterangan terdakwa. Ahli yang telah memberikan keterangan di penyidikan atau yang telah membuat laporan ahli, dipanggil kembali untuk didengar pendapatnya atau dibacakan laporannya di sidang pengadilan, agar diperoleh alat bukti keterangan ahli. Surat dan barang bukti yang telah disita oleh penyidik diajukan ke sidang pengadilan untuk dijadikan alat bukti surat dan petunjuk. Itulah cara memperoleh alat bukti di sidang pengadilan. Hanya alat bukti yang sah yang diperoleh di sidang pengadilan, yang dapat meyakinkan hakim tentang kesalahan terdakwa. Alat bukti yang sah ini terdiri atas: Keterangan saksi Keterangan ahli Surat Keterangan terdakwa Petunjuk

Pemeriksaan di sidang pengadilan mempunyai satu tujuan saja, yaitu mencari alat bukti yang membentuk keyakinan hakim tentang bersalah atau tidaknya terdakwa. 6. Putusan Pengadilan Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah. Kesalahan terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim, namun keyakinan itu harus didasarkan atas sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah, yang harus ada persesuaian satu dengan yang lain. Berdasarkan alat bukti yang diperoleh di sidang pengadilan, hakim menjatuhkan putusan:

Seminar Auditing

Page 14

Putusan pemidanaan, apabila pengadilan berpendapat bahwa terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Putusan bebas, apabila pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

Putusan lepas dari segala tuntutan hukum, apabila pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana atau terbukti akan tetapi terdakwa tidak dapat dipertanggung jawabkan terhadap perbuatannya.

7. Upaya Hukum Upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan yang berupa perlawanan atau banding atau kasasi, atau hak terpidana untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali, atau hak Jaksa Agung untuk mengajukan kasasi demi kepentingan hukum dalam hal seta menurut cara yang diatur dalam undang-undang. Upaya hukum ada dua macam, yaitu Upaya Hukum Biasa dan Upaya Hukum Luar Biasa. Upaya Hukum Biasa terdiri atas Pemeriksaan Tingkat Banding dan Pemeriksaan Kasasi. Upaya Hukum Luar Biasa Terdiri atas Pemeriksaan Kasasi Demi Kepentingan Hukum dan Peninjauan Kembali putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. 2.4 Bukti Dan Pembuktian, Auditing Dan Hukum Dari penjelasan di bagian terdahulu, jelas bahwa keenam tahapan dalam KUHAP (mulai tahap Penyelidikan sampai Tahap Upaya Hukum baik upaya hukum biasa maupun upaya hukum luar biasa) berkenaan dengan pembuktian. Juga penjelasan Mengenai Fraud Theory tidak lain dari proses mengumpulkan bukti yang dapat diterima di pengadilan. Para auditor yang berlatar belakang pendidikan akuntansi mengenal istilah bukti audit. Mereka bahkan mengira bahwa pengertian bukti dalam auditing sama dengan pengertian yang digunakan di pengadilan atau dalam bidang hukum. Berikut ini kami sajikan dengan tabel, sekilas karakter signifikan antara investigatif hukum dengan ilmi audit investigatif : Seminar Auditing Page 15

Significant Characteristics Law Special purpose of area to Maintenance of justice which evidence is pertinent

Auditing Protection readers

of

statement

Subject matter to which Occurrences at given times Financial evidence is pertinent and places propositions

Statement

Method of collection or Presentation by opposing Submission by interested development parties Rational inference Role of judgement-maker in Passive collection or development Nature of rules governing Logical presumptions the study of evidence Importance of time Rules of admissibility and relevance in A controlling factor A controlling factor judgement formation and evidence collection Compulsiveness evidence formation in of Persuasive judgement Varies from absolute to persuasive Professional standards deduction and disinterested parties and Collected and developed by independent party Rationalization Both positive and passive

Dalam bidang mereka sendiri para akuntan dan auditor di Indonesia sering terkecoh dengan bukti dan sesuatu yang mengandung unsur-unsur pembuktian (evidential matter).

2.5 Investigatif dengan Teknik Audit Seminar Auditing Page 16

Kata investigasi dalam akuntansi forensic umumnya berarti audit investigasi atau investgatif (investigative audit). Karena itu secara alamiah, diantara beberapa teknik investigasi ada teknik-teknik yang berasal dari teknik-teknik audit (audit techniques). Banyak auditor yang sudah berpengalamanpun, merasa ragu untuk terjun dalam bidang investigasi. Padahal, teknik-teknik audit yang mereka kuasai, memadai untuk dipergunakan dalam audit investigasi. Teknik audit adalah cara-cara yang dipakai dalam mengaudit kewajaran penyajian laporan keuangan. Hasil dari penerapan teknik audit adalah bukti audit. Ada tujuh teknik, yang dirinci dalam bentuk kata kerja bahasa Indonesia, dengan jenis bukti auditnya dalam kurung (kata benda bahasa Inggris), yakni: 1. Memeriksa fisik (physical examination) 2. Meminta konfirmasi (confirmation) 3. Memeriksa dokumen (documentation) 4. Review analitikal (analytic review atau analytical review) 5. Menghitung Kembali (reperformance) Jika teknik-teknik audit itu diterapkan dalam audit umum, maka bukti audit yang berhasil dihimpun akan mendukung pendapat auditor independent. Dalam audit investigative, teknik-teknik audit tersebut bersifat eksplorative, mencari wilayah garapan, atau probing (misalnya dalam review analitikal) maupun pedalaman (misalnya dalam confirmation dan documentation). Teknik-teknik audit relative sederhana untuk diterapkan dalam audit investigative. Sederhana, namun ampuh. Tema kesederhanaan dalam pemilihan teknik audit (termasuk audit investigative). 1. Memeriksa Fisik dan Mengamati Memeriksa fisik atau physical examination lazimnya diartikan sebagai penghitungan uang tunai (baik dalam mata uang rupiah atau mata uang asing), kertas berharga, persediaan barang, aktiva tetap, dan barang berwujud (tangible assets) lainnya. Mengamati sering diartikan sebagai pemanfaatan indera kita untuk mengetahui sesuatu. Jika kita melakukan kunjungan pabrik, kita melihat luasnya pabrik, peralatan yang ada, kegiatan yang dilakukan, banyaknya dan beragamnya tenaga kerja. 2. Meminta Informasi dan Konfirmasi Seminar Auditing Page 17

Meminta informasi baik lisan maupun tertulis kepada auditan, merupakan prosedur yang biasa dilakukan auditor. Pertanyaannya, apakah dalam investigasi hal itu perlu dilakukan? Apakah sebaiknya kita tidak meminta informasi, supaya yang diperiksa tidak mengetahui apa yang kita cari? Yang bersangkutan juga mempunyai kepentingan dan peluang untuk berbohong. Seperti dalam audit juga dalam investigatif, permintaan informasi harus dibarengi, diperkuat, atau dikolaborasi dengan informasi dari sumber lain atau diperkuat (substantiated) dengan cara lain. Permintaan informasi sangat penting, dan juga merupakan prosedur y4. ang normal dalam suatu investigatif. Meminta konfirmasi adalah meminta pihak lain (dari yang diinvestigasi) untuk menegaskan kebenaran atau tidak keebenaran suatu informasi. Dalam audit, teknik ini umumnya diterapkan untuk mendapat kepastian mengenai saldo utang-piutang. Tapi sebenarnya ia dapat diterapkan untuk berbagai informasi, keuangan maupun non keuangan. 3. Memeriksa Dokumen Teknik ini tidak memerlukan pembahasan khusus. Tak ada investigasi tanps pemeriksaan dokumen. Hanya saja, dengan kemajuan teknologi, definisi dokumen menjadi luas, termasuk informasi yang diolah, disimpan dan dipindahkan secara elektronis/digital. 4. Review Analitikal Dalam review analitikal yang penting bukannya perangkat lunaknya, tetapi semangatnya, Pada dasarnya seorang invvestigator secara intuitif terobsesi dengan sesuatu yang melenceng dan bahwa something must be wrong because it appears so. Karena itu ia memerlukan patokan atau benchmark untuk membandingkannya dengan apa yang dihadapinya. Patokan inilah yang dirumuskan Stringer dan Stewart sebagai results that may reasonably be expected. Membandingkan anggaran dengan realisasi Membandingkan data anggaran dan realisasi dapat mengindikasikan adanya fraud. Yang perlu dipahami di sini adalah mekanisme pelaksanaan anggaran, evaluasi atas pelaksanaan anggaran, dan insentif (keuangan maupun non keuangan) yang terkandung dalam sistem anggarannya.

Seminar Auditing

Page 18

Hubungan antara satu data keuangan dengan data keuangan lain Beberapa akun, baik dalam suatu maupun beberapa laporan keuangan, bisa mempunyai keterkaitan yang dapat dimanfaatkan untuk review analitikal. Contoh: angka penjualan dengan piutang dan persediaan rata-rata, angka penjualan dengan bonus bagian penjualan, penghasilan bunga dengan saldo rata-rata tabungan dan seterusnya. Menggunakan indikator ekonomi makro Ada hubungan antara besarnya pajak penghasilan yang diperoleh dalam suatu tahun dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi, tingkat pengangguran, cadangan devisa, indikator ekonomi negara-negara yang menjadi partner perdagangan Indonesia, hargaminyak mentah dan komoditi lain, dan lain-lain. Ini merupakan bidang studi yang ditekuni para ahli ekonomi makro dan ekonometri. 5. Menghitung Kembali Menghitung kembali atau repeform tidak lain dari mencek kebenaran perhitungan (kali, bagi, tambah, kurang, dan lain-lain). Ini prosedur yang sangat lazim dalam audit. Biasanya tugas ini diberikan kepada seseorang yang baru mulai bekerja sebagai auditor; seorang junior auditor di kantor akuntan. Dalam investigatif, perhitungan yang dihadapi umumnya sangat kompleks, didasarkan atas kontrak atau perjanjian yang rumit, mungkin sudah terjadi perubahan dan renegoisasi berkali-kali dengan pejabat(atau kabinet) yang berbeda. Perhitungan ini dilakukan atau disupervisi oleh investigator yang berpengalaman. Beberapa contoh penghitungan kembali semacam itu yang berpotensi triliunan rupiah: Kasus penyelesaian kewajiban pemegang saham menurut Keputusan Menteri Keuangan nomor 151/KMK.01/2006 tanggal 16 Maret 2006 mensyaratkan penetapan jumlah kewajiban berdasarkan data terakhir. Perhitungan cost recovery oleh kontraktor bagi hasil (Production Sharing Contractor). Cost recovery ini sangat besar jumlahnya. Jika tidak dihitung kembali oleh counterpart PSC atau lembaga pemeriksa independen, cost recovery rawan penyalahgunaan. Biaya yang dikeluarkan BUMN yang mempunyai kewajiban memberikan pelayanan umum (public Service Obligation). Keterlambatan pembayaran PSO mempunyai dampak yang besar terhadap likuiditas BUMN yang bersangkutan. Seminar Auditing Page 19

BAB III STUDI KASUS 3.1 Studi Kasus Korupsi Kabupaten Badung di Bali Audit Investigatif atas kasus korupsi di kabupaten Badung merupakan salah satu contoh dari banyak kasus korupsi yang ada di Indonesia. Korupsi di kabupaten Badung Bali terungkap dari dari hasil laporan pemeriksaan keuangan semester pertama pada tahun 2005, kasus ini bermula dari adanya tekanan dewan kepada Bupati Badung, pada saat itu dewan meminta bantuan keuangan kepada Bupati Badung, jika permintaan dewan tidak dipenuhi, maka Dewan akan mengancam memberhentikan Bupati sebelum masa jabatannya berakhir dengan mengajukan surat pemberhentian kepada Menteri Dalam Negeri. Karena kekhawatiran Bupati terhadap ancaman Dewan dan keinginannya untuk mempertahankan jabatannya, akhirnya Bupati mau mengabulkan permintaan dewan tersebut, dana yang diberikan kepada dewan diperoleh dari APBD. Dalam kasus tersebut terdapat empat penyimpangan yaitu: (1) bantuan keuangan kepada DPRD, (2) biaya asuransi, (3) uang purna bakti DPRD, dan (4) bantuan keuangan kunjungan kerja DPRD. Atas dasar kasus korupsi di kabupaten Badung maka kepala perwakilan Perwakilan BPK-RI membentuk tim audit investigatif berdasarkan Surat tugas Nomor 48/ST/XIV.5/09/2005 tanggal 8 September 2005 untuk melakukan audit Investigatif, tim audit yang terdiri dari empat orang, Pak Kardi sebagai ketua tim, dan Anita, Edi, Sandi sebagai anggota tim. Praktik audit Investigatif sendiri terdiri dari tiga tahap, yaitu : 1. Tahap perencanaan. Perencanaan audit Investigatif dilakukan setelah adanya informasi awal dari hasil laporan audit keuangan kabupaten Badung tahun 2004. dari informasi awal tersebut, akhirnya BPK-RI membentuk tim audit Investigatif, dan tugas pertama tim tersebut menelaah informasi awal tersebut. Pada tahap ini tim harus menentukan jenis-jenis penyimpangan yang terjadi, modus operandi, sebab-sebab penyimpangan, unsur-unsur kerjasama, pihak-pihak yang terlibat, besarnya kerugian daerah akibat kasus korupsi tersebut. 2. Tahap pelaksanaan. Pelaksanaan audit Investigatif harus dilakukan oleh auditor yang kompeten, memiliki integritas serta independensi. Pada tahap ini tim harus memperoleh bukti audit yang memperkuat dugaan tindakan pidana korupsi. Bukti diperoleh dengan cara-cara inspeksi, observasi, wawancara, konfirmasi, analisa, Seminar Auditing Page 20

pemeriksaan bukti tertulis, perbandingan, rekonsiliasi, penelusuran, perhitungan kembali, penelahaan, review analitis, dan pemaparan. 3. Tahap Pelaporan. Pelaporan hasil audit investigatif harus memenuhi unsur akurat, jelas, berimbang, relevan, dan tepat waktu. Hasil laporan yang teah disetujui Kepala Perwakilan akan diserahkan kepada lembaga perwakilan DPR/DPRD dan DPD. Hasil audit Investigatif ternyata membuktikan adanya tindak pidana korupsi di kabupaten Badung, maka laporan audit Investigatif akan diserahkan kepada kejaksaan untuk ditindaklanjuti dan diproses secara hukum. Berdasarkan hasil pemeriksaan audit investigatif tersebut ketua tim audit diminta memberikan keterangan berdasarkan keahliannya di pengadilan. 3.2 Saran Saran Untuk organisasi BPK-Ri seharusnya lebih bersikap terbuka terhadap siapapun yang hendak melakukan penelitian, sepanjang tidak merugikan instansi BPK-RI. Hendaknya auditor BPK beserta pejabat struktural melakukan revolusi kesadaran, sebab korupsi tidak bisa diberantas oleh orang-orang suci, melainkan bisa diberantas oleh orang-orang yang sadar. Saran untuk kami selanjutnya agar (1) melakukan pendekatan persuasif dengan para pejabat BPK-RI dengan tujuan mempermudah perolehan data. (2) Melakukan perijinan penelitian jauh dari sebelumnya waktu penelitian yang akan dilakukan, sehingga bisa BPK-RI lebih fleksibel menentukan waktu penelitian sehingga bisa mengeksplorasi data lebih banyak. (3) Diharapkan peneliti selanjutnya bisa memperoleh kasus lebih dari satu, sehingga antar kasus tersebut bisa diperbandingkan hasil laporan audit investigatif yang membuktikan ada tidaknya kerugian daerah yang mengarah pada unsur pidana. (4) Obyek penelitian bisa juga ditambahkan, tidak hanya di kantor Perwakilan BPK-RI di Surabaya, melainkan di kantor-kantor perwakilan yang lain. Begitu banyak kantor perwakilan memungkinkan mempunyai berbagai macam kebijakan, nilai-nilai, prosedur, interaksi yang dihasilkan, serta realitas yang dihadapi.

Seminar Auditing

Page 21

BAB IV KESIMPULAN Praktik korupsi bisa dikatakan menjadi rutinitas atau kebiasaan sebagian besar mesyarakat Indonesia, mulai dari struktur pemerintah daerah sampai pemerintah pusat. Jika korupsi menjadi suatu praktek yang lazim maka sebenarnya masyarakat telah dihegemoni oleh sebuah struktur atau pola yang sejak lama dan terulang. Apalagi besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap organisasi BPK-RI sendiri menjadikan auditor tidak siap mengadapi dunia sosial yang terlanjur salah kaprah, menganggap suap sebagai suatu hal yang lumrah, terdapat ketidakadilan, dan berlakunya hukum rimba siapa yang kuat/berkuasa, dia yang akan menang. Pengaruh yang demikian akan mengurangi integritas, independensi, serta profesionalitas auditor BPK-RI, untuk itu teori strukturasi yang diperkenalkan oleh Giddens maka memberikan angin segar bagi upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, strukturasi secara jelas memberikan gambaran kepada auditor BPK-RI bahwa segala tindakan direfleksikan bentuk kesadaran dan individu memiliki kekuatan dalam menciptakan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai nilai-nilai yang ada pada struktur organisasi BPK-RI, sehingga tercipta pola strukturasi. Bentuk kesadaran auditor yang diupayakan dalam bentuk kesadaran praktis, dimana agar nantinya pemberantasan korupsi oleh auditor bukan sebagi bentuk formalitas melainkan menjadi sesuatu kebiasaan. Kesadaran diskursif dicontohkan dengan tindakan auditor dalam menolak segala bentuk suap. Kesadaran tersebut timbul karena menganggap suap merupakan bagian dari korupsi dan tindakan menerima suap berarti melanggar undang-undang, serta ada sanksi hukumnya. Motivasi tidak sadar dicontohkan pada keberanian auditor dalam menghadapi segala bentuk ancaman dan tantangan, secara sadar sebenarnya auditor mengetahui bahwa tugas yang diembannya begitu berat, dan sulit rasanya untuk diselesaikan, namun berkat keberanian yang dimiliki maka praktik audit investigatif dapat terselesaikan. Kesadaran etis dicontohkan dengan keyakinan dan keimanan yang dimiliki Pak Kardi dengan anggota timnya dalam menghadapi tantangan dan ancaman selama pelaksanaan audit investigatif. Pemberantasan korupsi bisa terwujud jika masing-masing auditor secara komprehensif melakukan revolusi kesadaran. Kesadaran praktis yang diwujudkan dengan ketaatan terhadap peraturan merupakan imperatif kesadaran yang bersifat internal. Kesadaran yang dimiliki auditor seharusnya mendapat supporting dari eksternal berupa penegakan hukum. Semuanya akan bisa terlaksana jika masing-masing masyarakat Indonesia, tidak Seminar Auditing Page 22

hanya auditor BPK-RI memiliki kemampuan untuk intropeksi dan mawas diri, yang diperlukan saat ini adalah merubah pola pikir yang telanjur menganggap korupsi merupakan suatu hal yang wajar menjadi suatu perbuatan yang tercela. Dengan membangun kesadaran global anti korupsi dan harus ditegakkan secara terus menerus serta diperjuangkan, sehingga masyarakat Indonesia dengan penuh kesadaran akan merasa malu jika melakukan korupsi, dan menemukan struktur yang baru menuju bangsa yang lebih bermartabat.

Seminar Auditing

Page 23

DAFTAR PUSTAKA Albrecht, W. Steve dan Chad O. Albrecht, (2003), Fraud Examination, South Western, a division Thomson Learning, United States of America Arifin, Johan, (2000), Korupsi dan Upaya Pemberantasannya Melalui Strategi Auditing: Audit Forensik, Media Akuntansi, No.13 Th VII, September, hlm II-IX Chazawi, Adami. 2006. Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. PT. Alumni, Bandung Daniel, (1995), IQ, EQ, dan SQ, artikel, (http://www.kecerdasanindividu.htm, diakses tanggal 2 Februari 2008) Giddens, A, (2003), The Constitution of Society; Teori Strukturasi untuk Analisis Sosial, Penerbit PT Pedati, Pasuruan. Diterjemahkan dari judul asli The Consequences of Modernity, Stanford University Press UK, 1995 Grahani, Irma, (2006), Pengaruh Independensi, Locus Of Control, dan Pengembangan Moral Auditor Terhadap Fraud Auditing, Skripsi, Malang: Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya Hartanti, Evi, (2006), Tindak Pidana Korupsi, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta Hardjapamekas, E.R, (1999), Audit Forensik Skandal Bank Bali, Majalah Tempo, No.28/XXVIII/13-19 September hlm 1-3 Hardjapamekas, E.R, (2001), Skandal Akuntan: Kecelakaan Atau Keserakahan, Majalah Tempo, N0.20/XXXI/15-21 Juli hlm 1-3 IAI, (2001), Standar Profesional Akuntan Publik Per Januari 2001, Penerbit Salemba Empat, Jakarta; 20000.1-20000.6 Irianto, Gugus, (2003), Skandal Korporasi Dan Akuntan, Lintasan Ekonomi, Volume XX, Nomor 2, Juli, hlm 104-114 Seminar Auditing Page 24