Você está na página 1de 28

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR FEMUR

Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas di Indonesia baik dari segi jumlah pemakai jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan dan bertambahnya jaringan jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas kemungkinan terjadinya fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas sering mengakibatkan trauma kecepatan tinggi dan kita harus waspada terhadap kemungkinan polytrauma yang dapat mengakibatkan trauma organ organ lain. Trauma trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, cedera olah raga. Kita harus dapat membayangkan rekonstruksi terjadinya kecelakaan agar dapat menduga fraktur yang dapat terjadi. Setiap trauma yang dapat mengakibatkan fraktur juga dapat sekaligus merusak jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari otot, fascia, kulit, tulang, sampai struktur neurovaskuler atau organ organ penting lainnya. Trauma dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, trauma secara langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu sedangkan trauma tidak langsung terjadi bilamana titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. FRAKTUR FEMUR A. Definisi Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang. Patahan tadi mungkin tak lebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks; biasanya patahan itu lengkap dan fragmen tulang bergeser. Bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit atau kulit diatasnya masih utuh ini disebut fraktur tertutup (atau sederhana), sedangkan bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit yang cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi ini disebut fraktur terbuka.

B. Epidemiologi Klasifikasi alfanumerik pada fraktur, yang dapat digunakan dalam pengolahan komputer, telah dikembangkan oleh (Muller dkk., 1990). Angka pertama menunjukkan tulang yaitu : 1. Humerus 2. Radius/Ulna 3. Femur 4. Tibia/Fibula Sedangkan angka kedua menunjukkan segmen, yaitu : 1. Proksimal 2. Diafiseal 3. Distal 4. Maleolar Untuk fraktur femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada fraktur collum, fraktur subtrochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik, trauma yang dialami oleh wanita tua ini biasanya ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur batang femur, fraktur supracondyler, fraktur intercondyler, fraktur condyler femur banyak terjadi pada penderita laki laki dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh dari ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah. C. Etiologi Pada dasarnya tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan daya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat :

Peristiwa trauma tunggal Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba tiba dan berlebihan, yang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring, pemuntiran, atau penarikan.

Bila terkena kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena; jaringan lunak juga pasti rusak. Pemukulan (pukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya; penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. Bila terkena kekuatan tak langsung tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena kekuatan itu; kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur mungkin tidak ada. Kekuatan dapat berupa : 1. 2. 3. Pemuntiran (rotasi), yang menyebabkan fraktur spiral Penekukan (trauma angulasi atau langsung) yang menyebabkan Penekukan dan Penekanan, yang mengakibatkan fraktur sebagian

fraktur melintang melintang tetapi disertai fragmen kupu kupu berbentuk segitiga yang terpisah 4. 5.

Kombinasi dari pemuntiran, penekukan dan penekanan yang Penatikan dimana tendon atau ligamen benar benar menarik tulang

menyebabkan fraktur obliq pendek sampai terpisah Tekanan yang berulang ulang Retak dapat terjadi pada tulang, seperti halnya pada logam dan benda lain, akibat tekanan berulang ulang.

Kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik) Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit paget )

D. Klasifikasi Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam : 1. FRAKTUR COLLUM FEMUR Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter

mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam :

Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur) Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)

2. FRAKTUR SUBTROCHANTER FEMUR Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu : tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor 3. FRAKTUR BATANG FEMUR (dewasa) Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi : tertutup terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ; Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar. Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.

Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor,

jaringan lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah) 4. FRAKTUR BATANG FEMUR (anak anak)

5. FRAKTUR SUPRACONDYLER FEMUR Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. 6. FRAKTUR INTERCONDYLAIR Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur. 7. FRAKTUR CONDYLER FEMUR Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas. E. Gambaran Klinik 1. Riwayat Biasanya terdapat riwayat cedera, diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan tungkai yang mengalami cedera, fraktur tidak selalu dari tempat yang cedera suatu pukulan dapat menyebebkan fraktur pada kondilus femur, batang femur, pattela, ataupun acetabulum. Umur pasien dan mekanisme cedera itu penting, kalau fraktur terjad i akibat cedera yang ringan curigailah lesi patologik nyeri, memar dan pembengkakan adalah gejala yang sering ditemukan, tetapi gejala itu tidak membedakan fraktur dari cedera jaringan lunak, deformitas jauh lebih mendukung.

Tanda tanda umum : Tulang yang patah merupakan bagian dari pasien penting untuk mencari bukti ada tidaknya a. b. c. a. Syok atau perdarahan Kerusakan yang berhubungan dengan otak, medula spinalis Penyebab predisposisi (misalnya penyakit paget) Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan

atau visera Tanda tanda lokal yang abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka. b. Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan c. Movement : Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal cedera. F. PATHWAYS Terlampir G. Diagnosis 1. 2. Anamnesis : pada penderita didapatkan riwayat trauma ataupun Pemeriksaan fisik : a. Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka cedera dengan keluhan bagian dari tungkai tidak dapat digerakkan

b. Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan c. Movement : Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal cedera. 3. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior posterior dan lateral, kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari satu tingkat karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar x pada pelvis dan tulang belakang. H. Komplikasi 1. Early : a. Lokal : Vaskuler : compartement syndrome Trauma vaskuler Neurologis : lesi medulla spinalis atau saraf perifer b. sistemik : emboli lemak Crush syndrome Emboli paru dan emboli lemak 2. Late : a. b. c. d. Malunion : Bila tulang sembuh dengan fungsi anatomis abnormal Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih dari Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung dalam 20 minggu Kekakuan sendi/kontraktur (angulasi, perpendekan, atau rotasi) dalam waktu yang normal normal

I. Penatalaksanaan 1. Terapi konservatif : Proteksi Immobilisasi saja tanpa reposisi Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips Traksi 2. Terapi operatif ORIF Indikasi ORIF : a. Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi b. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup c. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi Excisional Arthroplasty Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore 3. Tindakan debridement dan posisi terbuka J. Penyembuhan fraktur : 1. Fase Peradangan : Pada saat fraktur ada fase penjendalan dan nekrotik di ujung atau sekitar fragmen fraktur, proses peradangan akut faktor eksudasi dan cairan yang kaya protein ini merangsang lekosit PMN dan Makrofag yang fungsinya fagositosis jendalan darah dan jaringan nekrotik 2. Fase Proliferasi : Akibat jendalan darah 1 2 hari terbentuk fibrin yang menempel pada ujung ujung fragmen fraktur, dimana fibrin ini berfungsi sebagai anyaman untuk perlekatan sel sel yang baru tumbuh sehingga terjadi neovaskularisasi dan terbentuk jaringan granulasi atau procallus yang semakin lama semakin

memadat sehingga terjadi fibrocartilago callus yabg bertambah banyak dan terbentuklah permanen callus yang tergantung banyak atau sedikitnya celah pada fraktur. 3. Fase Remodelling Permanen callus diserap dan diganti dengan jaringan tulang sedangkan sisanya direabsorbsi sesuai dengan bentuk dan anatomis semula. K. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalahmasalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas: ( Arif Muttaqin, 2008) 1. a. Pengumpulan Data Anamnesa 1) Identitas Klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis. 2) Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor memperberat dan faktor yang memperingan/ mengurangi nyeri b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.

c) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi. d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. e) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. 3) Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain 4) Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sangat beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang 5) Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik. 6) Riwayat Psikososial Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau

pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat b. Pola-Pola Fungsi Kesehatan 1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Pada kasus fraktur akan timbul ketidakadekuatan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak 2) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. 3) Pola Eliminasi Untuk kasus multiple fraktur, misalnya fraktur humerus dan fraktur tibia tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. 4) Pola Tidur dan Istirahat

Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur. 5) Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien, seperti memenuhi kebutuhan sehari hari menjadi berkurang. Misalnya makan, mandi, berjalan sehingga kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. 6) Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap, klien biasanya merasa rendah diri terhadap perubahan dalam penampilan, klien mengalami emosi yang tidak stabil. 7) Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan gangguan citra diri. 8) Pola Sensori dan Kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur. 9) Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. 10) Pola Penanggulangan Stress Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif

11)

Pola Tata Nilai dan Keyakinan

Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien. 2. Pemeriksaan Fisik

Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. a. Gambaran Umum Perlu menyebutkan: 1) 2) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah Kesadaran penderita: tanda-tanda, seperti: Composmentis: berorientasi segera dengan orientasi sempurna Apatis : terlihat mengantuk tetapi mudah dibangunkan dan pemeriksaan penglihatan , pendengaran dan perabaan normal Sopor: dapat dibangunkan bila dirangsang dengan kasar dan terus menerus Koma: tidak ada respon terhadap rangsangan Somnolen: dapat dibangunkan bila dirangsang dapat disuruh dan menjawab pertanyaan, bila rangsangan berhenti penderita tidur lagi. b. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut, spasme otot, dan hilang rasa. c. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. d. Neurosensori, seperti kesemutan, kelemahan, dan deformitas. e. Sirkulasi, seperti hipertensi (kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas), hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah),

penurunan nadi pada bagian distal yang cidera, capilary refil melambat, pucat pada bagian yang terkena, dan masa hematoma pada sisi cedera. f. Keadaan Lokal Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah sebagai berikut : 1) Look (inspeksi) a) Sikatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi). b) Fistula warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi. c) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal) d) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas) e) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa) 2) Feel (palpasi) Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien. Yang perlu dicatat adalah: a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Capillary refill time Normal (3 5) detik b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, atau distal) d) Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya. Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain sebagai berikut :

Kekuatan otot : otot tidak dapat berkontraksi (1), kontraksi sedikit dan ada tekanan waktu jatuh (2), mampu menahan gravitasi tapi dengan sentuhan jatuh(3), kekuatan otot kurang (4), kekuatan otot utuh (5). ( Carpenito, 1999) 3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak) Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. ( Arif Muttaqin, 2008 ) 3. a. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan Radiologi Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar rontgen ( Sinar X ). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan Sinar - X harus atas dasar indikasi kegunaan. Pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada Sinar X mungkin dapat di perlukan teknik khusus, seperti hal hal sebagai berikut. ( Arif Muttaqin, 2008 ) 1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.

2)

Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan

pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma. 3) 4) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan rusak karena ruda paksa. secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. b. Pemeriksaan Laboratorium 1) 2) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan penyembuhan tulang. menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang 3) Hematokrit dan leukosit akan meningkat ( Arif Muttaqin, 2008 ) c. Pemeriksaan lain-lain 1) 2) 3) 4) 5) 6) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi. dengan pemeriksaan diatas tapi lebih diindikasikan bila terjadi infeksi. diakibatkan fraktur. karena trauma yang berlebihan. infeksi pada tulang.

( Arif Muttaqin, 2008 ) FOKUS INTERVENSI dan RASIONAL Adapun diagnosa keperawatan yang lazim dijumpai pada klien fraktur adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskular, Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi Defisit perawatan diri b/d kelemahan neuromuskular, penurunan Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah Resiko kekurangan volume cairan b/d ketidakadekuatan intake dan Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b/d asupan nutrisi tidak jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang) nyeri, terapi restriktif (imobilisasi) (pen, kawat, sekrup) kekuatan dan kesadaran, serta kehilangan kontrol otot (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus) output cairan adekuat (Carpenito, 2002) INTERVENSI KEPERAWATAN dan RASIONAL 1. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas 1.1. Tujuan : Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang 1.2. Kriteria Hasil : klien melaporkan nyeri berkurang, mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau mengurangi nyeri, tidak gelisah, skala nyeri 0-1 atau teratasi 1.3. Intervensi dan rasional

a. Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, bebat dan atau traksi Rasional: Mengurangi nyeri dan mencegah malformasi b. Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena Rasional: Meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema/nyeri c. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif Rasional: Mempertahankan kekuatan otot dan meningkatkan sirkulasi vaskuler. d. Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan (masase, perubahan posisi) Rasional: Meningkatkan sirkulasi umum, menurunakan area tekanan lokal dan kelelahan otot e. Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam, imajinasi visual, aktivitas dipersional) Rasional: Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama f. Lakukan kompres dingin selama fase akut (24-48 jam pertama) sesuai keperluan Rasional: Menurunkan edema dan mengurangi rasa nyeri g. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi Rasional: Menurunkan nyeri melalui mekanisme penghambatan rangsang nyeri baik secara sentral maupun perifer h. Evaluasi keluhan nyeri (skala, petunjuk verbal dan non verval, perubahan tanda-tanda vital) Rasional: Menilai perkembangan masalah klien (Doenges, 2000) 1.4. Nyeri adalah : keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya ketidaknyamanan berat / sensasi tidak nyaman, berakhir dari 1 detik sampai kurang dari 6 bulan. Dengan batasan karakteristik data subyektif komunikasi verbal atau kode dari pemberi gambaran nyeri, data obyektif perilaku melindungi, memfokuskan pada diri sendiri, perilaku

distraksi (merintih, menangis, mondar mandir, gelisah, mencari orang lain), wajah nampak menahan nyeri (Carpenito, 1999). Diagnose ini bisa di tegakkan bila ditemukan data klien mengatakan nyeri, wajah mengkerut, otot tegang, perilaku distraksi (Doenges, 2000). 2. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang 2.1. Tujuan : infeksi tidak terjadi selama perawatan 2.2. Kriteria Hasil : Klien mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema dan demam 2.3. Intervensi dan rasional a. Lakukan perawatan pen steril dan perawatan luka sesuai protocol Rasional: Mencegah infeksi sekunderdan mempercepat penyembuhan luka. b. Ajarkan klien untuk mempertahankan sterilitas insersi pen. Rasional: Meminimalkan kontaminasi. c. Kolaborasi pemberian antibiotika dan toksoid tetanus sesuai indikasi Rasional: Antibiotika spektrum luas atau spesifik dapat digunakan secara profilaksis, mencegah atau mengatasi infeksi. Toksoid tetanus untuk mencegah infeksi tetanus d. Analisa hasil pemeriksaan laboratorium (Hitung darah lengkap, LED, Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang) Rasional: Leukositosis biasanya terjadi pada proses infeksi, anemia dan peningkatan LED dapat terjadi pada osteomielitis. Kultur untuk mengidentifikasi organisme penyebab infeksi (Carpenito, 2002) 2.4. Resiko tinggi terhadap infeksi adalah suatu kondisi dimana individu beresiko karena agen patogenesis (virus, jamur, bakteri, protozoa/ parasit lain) dari berbagai sumber dari dalam atau dari luar tubuh. Untuk kriteria pengkajian fokus pada resti infeksi data subyektif klien mengeluh demam terus menerus, infeksi sebelumnya seperti saluran perkemihan, luka operasi, kulit dan jaringan lunak, adanya nyeri umum dan terlokalisasi.

Data obyektif adanya luka (pembedahan, tindakan infasif, terluka sendiri) (Carpenito, 1999). Diagnose ini bisa ditegakkan bila ditemukan data inflamasi, eritema dan demam (Doenges, 2000). Data pendukung lainnya adalah peningkatan suhu tubuh, frekuensi nadi, adanya luka dan peningkatan jumlah leukosit (Smeltzer, 2002). 3. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi) 3.1. Tujuan: klien mampu melakukan aktivitas fisik sesui dengan kemampuannya 3.2. Kriteria Hasil : Klien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan posisi fungsional meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan tekhnik yang memampukan melakukan aktivitas 3.3. Intervensi dan rasional a. Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio, koran, kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien Rasional: Memfokuskan perhatian, meningkatakan rasa kontrol diri/harga diri, membantu menurunkan isolasi sosial b. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien Rasional: Meningkatkan sirkulasi darah muskuloskeletal, mempertahankan tonus otot, mempertahakan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi c. Berikan papan penyangga kaki, gulungan trokanter/tangan sesuai indikasi Rasional: Mempertahankan posis fungsional ekstremitas d. Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai keadaan klien Rasional: Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien

e. Ubah posisi secara periodik sesuai keadaan klien Rasional: Menurunkan insiden komplikasi kulit dan pernapasan (dekubitus, atelektasis, penumonia) f. Dorong/pertahankan asupan cairan 2000-3000 ml/hari Rasional: Mempertahankan hidrasi adekuat, men-cegah komplikasi urinarius dan konstipasi g. Berikan diet TKTP Rasonal: Kalori dan protein yang cukup diperlukan untuk proses penyembuhan dan mem-pertahankan fungsi fisiologis tubuh h. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi sesuai indikasi Rasional: Kerjasama dengan fisioterapis perlu untuk menyusun program aktivitas fisik secara individual i. Evaluasi kemampuan mobilisasi klien dan program imobilisasi Rasional: Menilai perkembangan masalah klien (Carpenito, 2002) 3.4. Kerusakan mobilitas fisik adalah: suatu keadaan dimana individu mengalami / beresiko untuk mengalami keterbatasan pergerakan fisik, tetapi tidak pada keadaan imobilisasi dengan batasan karakteristik mayor mampu untuk bergerak dengan maksud tertentu dalam lingkungannya seperti mobilisasi ditempat tidur, keterbatasan menggerakkan sendi sendi (rentang gerak). Dan karakteristik minor adanya keterbatasan aktivitas, malas untuk bergerak. kerusakan Menurut teori dan gangguan mobilitas fisik dengan batasan berhubungan dengan pembatasan gerak, nyeri, rasa tidak nyaman, musculoskeletal neuromuskuler karakteristik keterbatasan ( Range Of Motion ) ROM, keterbatasan kemampuan melakukan ketrampilan motorik kasar atau halus, perubahan gaya berjalan, gerak lambat (NANDA, 2006). Berdasarkan miller, mobilitas adalah : satu aspek terpenting pada fungsi fisiologis karena hal itu esensial untuk mempertahankan kemandirian. Terdapat 3 kategori rentang gerak : pasif, aktif, dan fungsional. Rentang gerak pasif adalah menjaga kelenturan otot otot dan persendian seseorang menggerakkan otot otot orang lain secara pasif. Rentang gerak aktif melatih kelenturan

dan kekuatan otot serta sendi. Rentang gerak fungsional memperkuat otot otot dan sendi sambil melakukan aktifitas yang di perlukan. Immobilisasi yang lama dan gangguan fungsi neurosensori dapat menyebabkan kontraktur permanen (Carpenito, 1999) 4. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup) 4.1. Tujuan : Klien menyatakan ketidaknyamanan hilang 4.2. Kriteria Hasil : menunjukkan perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi 4.3. Intervensi dan rasional a. Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering, bersih, alat tenun kencang, bantalan bawah siku, tumit) Rasional: Menurunkan risiko kerusakan/abrasi kulit yang lebih luas 34 b. Masase kulit terutama daerah penonjolan tulang dan area distal bebat/gips Rasional: Meningkatkan sirkulasi perifer dan meningkatkan kelemasan kulit dan otot terhadap tekanan yang relatif konstan pada imobilisasi c. Lindungi kulit dan gips pada daerah perianal Rasional: Mencegah gangguan integritas kulit dan jaringan akibat kontaminasi fekal d. Observasi keadaan kulit, penekanan gips/bebat terhadap kulit, insersi pen/traksi Rasional: Menilai perkembangan masalah klien (Doenges, 2000)

4.4. Derajat dekubitus ada 4 yaitu Derajat I: eritema yang tidak dapat memucat pda kulit yang utuh, kemerahan pada kulit

Derajat II: ulserasi epidermis dan dermis Derajat III: ulserasi sampai pada lapisan lemak subkutan Derajat IV: ulserasi yang luas menembus otot, tulang atau strukur penunjang (Carpenito, 2002) Kerusakan integritas kulit adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami atau berada pada resiko kerusakan jaringan epidermis dan dermis dengan batasan karakteristik mayor terputusnya jaringan epidermal dan dermal, sedangkan karakteristik minor yaitu kulit gundul, etitema, lesi ( primer, sekunder). (Carpenito, 1999). Sedangkan dari teori lain menyebutkan resiko kerusakan integritas kulit dalah resiko kulit berubah kearah yang lebih buruk dengan batasan karakteristik invasi struktur tubuh, kerusakan lapisan kulit ( dermis ), disrupsi permukaan kulit ( epidermis), dengan faktor resiko eksternal yaitu radiasi, mobilisasi fisik, faktor mekanik ( alat yang dapat menyebabkan luka, penekanan, restrain), hipotermi atau hipertermi, kelembapan udara, substansi kimia, eksresi atau sekresi, kelembapan kulit. Sedangkan faktor resiko internalnya yaitu medikasi, penonjolan tulang, faktor imunologis, faktor perkembangan, perubahan sensasi, perubahan sirkulasi, perubahan turgor kulit, perubahan status nutrisi, psikogenetik. ( NANDA, 2006).

5. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan nutrisi tidak adekuat 5.1. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperwatan selama 3x24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhi 5.2. Kriteria Hasil: klien mengatakan nafsu makan bertambah, makan habis satu porsi, IMT normal 5.3. Intervensi dan rasional: a. Kaji pola makan yang tidak disukai dan disukai Rasional: sebagai tidakan awal untuk menntukan intervensi selanjutnya b. Motivasi klien untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering Rasional: menghindari mual muntah

c. Motivasi klien untuk makan dalam keadaan hangat Rasional: Keadaan hangat akan meningkatkan nafsu makan, makanan akan terasa lebih hangat d. Kolaborasi dengan ahli gizi Rasional: sebagai tindakan kolaborasi dengan tim medis lain (Carpenito, 2002) 5.4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhn tubuh adalah : kondisi yang dialami individu yang tidak mengalami puasa atau beresiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan tidak cukupnya masukan atau metabolisme nutrisi untuk kebutuhan metabolisme dengan batasan karakteristik mayor seseorang yang mengalami puasa, puasa dilaporkan atau mempunyai ketidakcukupan masukan makanan kurang dari yang dianjurkan sehari hari dengan atau tanpa terjadinya penurunan berat badan atau kebutuhan metabolic actual atau potensial pada kelebihan masukan terhadap penurunan berat badan. kriteria minor berat badan 10 20 % dibawah normal dan tinggi serta kerangka tubuh dibawah ideal, lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah, dan lingkar otot pertengahan lengan kurang 60 % dari ukuran standar, kelemahan dan nyeri tekan otot, penurunan albumin serum.(Carpenito, 1999). Sedangkan dari teori lain menyebutkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah intake nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolic, dengan batasan karakteristik berat badan dibawah ideal lebih dari 20 %, melaporkan intake makanan yang kurang dari kebutuhan yang dianjurkan, konjungtiva dan membrane mukusa pucat, kelemahan otot untuk menelan dan mengunyah, melaporkan kurang makan, diare, rambut rontok, suara usus hiperaktif.(NANDA, 2006) 6. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan neuromuskular dan penurunan kekuatan otot 6.1. Tujuan : Perawatan diri klien dapat terpenuhi

6.2. Kriteria Hasil : Klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri, mampu melakukan aktivitas perwatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan 6.3. Intervensi dan rasional a. Hindari apa yang tidak dapat dilakukan klien dan bantu bila perlu Rasional: Hal tersebut dilakukan untuk mencegah frustasi dan menjag harga diri klien karena klien dalam keadaan cemas, dan membutuhkan bantuan orng lain b. Ajak klien berfikir positif agar terhadap kelemahan yang dimilikinya, dan berikan motivasi dan izinkan ia melakukan tugas, kemudian berikan umpan balik positif atas usaha yang telah dilakukan Rasional: Klien memerlukan empati, perawat perlu mengetahui perawatan yang konsisten dalam menangani klien intervensi tersebut dapat meningkatkan harga diri dan kemandirian klien c. Kaji kemampuan komunikasi untuk buang air kecil, kemampuan menggunakan urinal, pispot, antarkan klien kekamar mandi jika memungkinkan Rasional: Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbulkan masalah pengosongan kandung kemih karena masalah neurogenik d. Identifikasi kebiasaan buang air besar, anjurkan klien minumdan meningkatkan latihan Rasional: Meningkatkan latihan dapat mencegah konstipasi e. Beri supositoria dan pelunak feses / pencahar Rasional: Pertolongan pertama terhadapfungsi usus atu BAB (Doenges, 2000)

7. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus) 7.1.Tujuan : Klien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik .

7.2.Kriteria Hasil : Klien akan menunjukkan akral hangat, tidak pucat dan syanosis, bisa bergerak secara aktif. 7.3.Intervensi dan rasional a. Dorong klien untuk secara rutin melakukan latihan menggerakkan jari/sendi distal cedera. Rasional: Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah kekakuan sendi. b. Hindarkan restriksi sirkulasi akibat tekanan bebat/spalk yang terlalu ketat. Rasional: Mencegah stasis vena dan sebagai petunjuk perlunya penyesuaian keketatan bebat/spalk. c. Pertahankan letak tinggi ekstremitas yang cedera kecuali ada kontraindikasi adanya sindroma kompartemen. Rasional: Meningkatkan drainase vena dan menurunkan edema kecuali pada adanya keadaan hambatan aliran arteri yang menyebabkan penurunan perfusi. d. Berikan obat antikoagulan (warfarin) bila diperlukan Rasional: Mungkin diberikan sebagai upaya profilaktik untuk menurunkan trombus vena. e. Pantau kualitas nadi perifer, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan kulit distal cedera, bandingkan dengan sisi yang normal. Rasional: Mengevaluasi perkembangan masalah klien dan perlunya intervensi sesuai keadaan klien. (Carpenito, 2002) 7.4. Tanda tanda disfungsi perifer yaitu terjadi gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, gangguan memori, perdarahan, edema ( Muttaqin Arif,2008)

8. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakadekuatan intake dan output cairan 8.1. Tujuan : mempertahankan keseimbangan cairan elektrolit 8.2. Kriteria Hasil : tidak terdapat tandatanda dehidrasi, turgor klien baik, bibir tidak kering.

8.3. Intervensi dan rasional: a. Monitor tanda tanda vital Rasional : tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intra vaskuler b. Kemonitor intake dan output dan konsentrasi urine Rasional : menurunnya output dan konsentrasi urine akan meningkatkan kepekaan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan c. Anjurkan klien untuk membersihkan mulut secara teratur Rasional : dehidrasi mengakibatkan mulut kering dan pecah pecah d. Kolaborasi pemberian cairan secara adekuat Rasional : memenuhi volume cairan yang hilang (Carpenito, 2002)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, fraktur femur. Dalam kumpulan Kuliah Ilmu bedah Khusus, Aksara Medisina FK UI< Jakarta, 1987. Anonim, Fraktur. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor : Sjamsihidajat, Wim de Jong, EGC, Jakarta, 1997. Apley, Dalam Buku Ajar Ortopedi dan fraktur Sistem Apley, Edisi 7, Editor : Edi Nugroho 1999. Harrelson J.M, Ortopedi Umum. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah Sabiston. Editor : dr. Devi H, Alih bahasa : De Petrus A, EGC, Jakarta, 1994. Jergesen F. H., Ortopedi. Dalam Ilmu Bedah (Handbook of Surgery), Editor : Theodore R. Schrock, Alih bahasa : Adji Dharma, Petrus, Gunawan, EGC, Jakarta, 1995. Rasjad C., Pengantar Ilmu Beadh Ortopedi, Bintang Lamumpatue, Ujung Pandang, 1992.