Você está na página 1de 15

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa pengertian dari hematothorax? 1.2.

2 Bagaimana etiologi terjadinya hematothorax? 1.2.3 Bagamanakah patofisiologi dari hematothorax? 1.2.4 Bagaiamana manifestasi klinis dari hematothorax? 1.2.5 Bagaimana penanganan untuk kasus hematothorax? 1.2.6 Apa komplikasi yang muncul dari hematothorax? 1.2.7 Bagaimana asuhan keperawatan dari kasus hematothorax? 1.2.8 Seperti apa contoh kasus hematothorax? 1.3 Tujuan 1.3.1 Menjelaskan pengertian dari hematothorax 1.3.2 Menjelaskan etiologi terjadinya hematothorax 1.3.3 Menjelaskan patofisiologi dari hematothorax 1.3.4 Menjelaskan manifestasi klinis dari hematothorax 1.3.5 Menjelaskan penanganan untuk kasus hematothorax 1.3.6 Menjelaskan komplikasi yang muncul dari hematothorax 1.3.7 Menjelaskan asuhan keperawatan dari kasus hematothorax 1.3.8 Menjelaskan contoh kasus hematothorax

BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Hematothoraks Hematothorax adalah adanya kumpulan darah di dalam ruang antara dinding dada dan paru-paru (rongga pleura). Sumber darah mungkin dari dinding dada, parenkim paruparu, jantung atau pembuluh darah besar. Kondisi biasanya merupakan akibat dari trauma tumpul atau tajam. Ini juga mungkin merupakan komplikasi dari beberapa penyakit. (Puponegoro, 1995). Hemathothoraks (hemotoraks) adalah terakumulasinya darah pada rongga thoraks akibat trauma tumpul atau tembus pada dada. Hemathothoraks biasanya terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya adalah pecahnya sebuah pembuluh darah atau kebocoran aneurisma aorta yang kemudian mengalirkan darahnya ke rongga pleura. 2.2 Etiologi Hematothorax Hemathothoraks dapat dibagi nerdasarkan penyebabnya : 1. Hemathothoraks Spontan, Oleh karena : primer (ruptur blep ), sekunder (infeksi keganasan), neonatal,. 2. Hemathothoraks Yang Didapat, Oleh karena: iatrogenik, barotrauma, trauma. Penyebab paling umum dari hemothorax adalah trauma dada. Trauma misalnya : Luka tembus paru-paru, jantung, pembuluh darah besar, atau dinding dada Trauma tumpul dada kadang-kadang dapat mengakibatkan lecet hemothorax oleh pembuluh internal. Diathesis perdarahan seperti penyakit hemoragik bayi baru lahir atau purpura HenochSchnlein dapat menyebabkan spontan hemotoraks. Adenomatoid malformasi kongenital kistik: malformasi ini kadang-kadang mengalami komplikasi, seperti hemothorax. Penyebab dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah intercostal atau arteri mammaria internal yang disebabkan oleh cedera tajam atau cedera
2

tumpul. Dislokasi fraktur dari vertebrata torakal juga dapat menyebabkan hemotoraks. Biasanya perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi. Hematothorax dapat juga terjadi pada pasien yang memiliki: Sebuah cacat pembekuan darah Trauma tumpul dada Kematian jaringan paru-paru (paru-paru infark ) Kanker paru-paru atau pleura Menusuk dada ( ketika senjata seperti pisau atau memotong peluru paru-paru ) Penempatan dari kateter vena sentral Operasi jantung Tuberkulosis

Hematoraks masif adalah terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1500 cc dalam rongga pleura. Penyebabnya adalah luka tembus yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus paru. Selain itu juga dapat disebabkan cedera benda tumpul. Kehilangan darah dapat menyebabkan hipoksia. 2.3 Patofisiologi Hematothorax Pada trauma tumpul dada, tulang rusuk dapat menyayat jaringan paru-paru atau arteri, menyebabkan darah berkumpul di ruang pleura. Benda tajam seperti pisau atau peluru yang menembus paru-paru, mengakibatkan pecahnya membran serosa yang melapisi atau menutupi thorax dan paru-paru. Pecahnya membran ini memungkinkan masuknya darah ke dalam rongga pleura. Setiap sisi toraks dapat menahan 30-40% dari volume darah seseorang. 2.4 Gambaran Klinis Hematothorax Gangguan pengembangan dada Perubahan kedalaman pernapasan Sesak napas mendadak Perkusi dada pekak

Nyeri dada Perdarahan nyata (massif) Sianosis Hipoksia Takikardi Hipotensi 2.5 Penanganan Hematothorax Tujuan pengobatan adalah untuk menstabilkan pasien, menghentikan pendarahan, dan menghilangkan darah dan udara dalam rongga pleura. Penanganan pada hemotoraks adalah: 1. Resusitasi cairan. Terapi awal hemotoraks adalah dengan penggantian volume darah yang dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura. Dimulai dengan infus cairan kristaloid secara cepat dengan jarum besar dan kemudian pemnberian darah dengan golongan spesifik secepatnya. Darah dari rongga pleura dapat dikumpulkan dalam penampungan yang cocok untuk autotranfusi, bersamaan dengan pemberian infus dipasang pula chest tube ( WSD ). 2. Pemasangan chest tube ( WSD ) WSD adalah suatu sistem drainase yang menggunakan air. Fungsi WSD sendiri adalah untuk mempertahankan tekanan negatif intrapleural/cavum pleura. Pemasangan WSD ukuran besar agar darah pada toraks tersebut dapat cepat keluar sehingga tidak membeku di dalam pleura. Hemotoraks akut yang cukup banyak sehingga terlihat pada foto toraks sebaiknya di terapi dengan chest tube kaliber besar. Chest tube tersebut akan mengeluarkan darah dari rongga pleura mengurangi resiko terbentuknya bekuan darah di dalam rongga pleura, dan dapat dipakai dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya.

Evakuasi darah/cairan juga memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap kemungkinan terjadinya ruptur diafragma traumatik. Macam WSD adalah : WSD aktif : continous suction, gelembung berasal dari udara sistem. WSD pasif : gelembung udara berasal dari cavum toraks pasien. Pemasangan WSD : Setinggi ICS 5 6 sejajar dengan linea axillaris anterior pada sisi yang sakit. 1. Persiapkan kulit dengan antiseptik 2. Lakukan infiltratif kulit, otot dan pleura dengan lidokain 1 % diruang sela iga yang sesuai, biasanya di sela iga ke 5 atau ke 6 pada garis mid axillaris. 3. Perhatikan bahwa ujung jarum harus mencapai rongga pleura 4. Hisap cairan dari rongga dada untuk memastikan diagnosis 5. Buat incisi kecil dengan arah transversal tepat diatas iga, untuk menghindari melukai pembuluh darah di bagian bawah iga 6. Dengan menggunan forceps arteri bengkok panjang, lakukan penetrasi pleura dan perlebar lubangnya 7. Gunakan forceps yang sama untuk menjepit ujung selang dan dimasukkan ke dalam kulit 8. Tutup kulit luka dengan jahitan terputus, dan selang tersebut di fiksasi dengan satu jahitan. 9. Tinggalkan 1 jahitan tambahan berdekatan dengan selang tersebut tanpa dijahit, yang berguna untuk menutup luka setelah selang dicabut nanti. Tutup dengan selembar kasa hubungkan selang tersebut dengan sistem drainage tertutup air 10. Tandai tinggi awal cairan dalam botol drainage.
5

3. Thoracotomy Torakotomi dilakukan bila dalam keadaan, sebagai berikut : 1. Jika pada awal hematotoraks sudah keluar 1500 ml, kemungkinan besar penderita tersebut membutuhkan torakotomi segera. 2. Pada beberapa penderita pada awalnya darah yang keluar < 1500 ml, tetapi perdarahan tetap berlangsung terus. 3. Bila didapatkan kehilangan darah terus menerus sebanyak 200 cc/jam dalam waktu 2 4 jam. 4. Luka tembus toraks di daerah anterior, medial dari garis puting susu atau luka di daerah posterior, medial dari scapula harus dipertimbangkan kemungkinan diperlukannya torakotomi, oleh karena kemungkinan melukai pembuluh darah besar, struktur hilus atau jantung yang potensial menjadi tamponade jantung. Tranfusi darah diperlukan selam aada indikasi untuk torakotomi. Selama penderita dilakukan resusitasi, volume darah awal yang dikeluarkan dengan chest tube dan kehilangan darah selanjutnya harus ditambahkan ke dalam cairan pengganti yang akan diberikan. Warna darah ( artery / vena ) bukan merupakan indikator yang baik untuk di pakai sebagai dasar dilakukannya torakotomi. Torakotomi sayatan yang dapat dilakukan di samping, di bawah lengan (aksilaris torakotomi); di bagian depan, melalui dada (rata-rata sternotomy); miring dari belakang ke samping (posterolateral torakotomi); atau di bawah payudara (anterolateral torakotomi) . Dalam beberapa kasus, dokter dapat membuat sayatan antara tulang rusuk (interkostal disebut pendekatan) untuk meminimalkan memotong tulang, saraf, dan otot. Sayatan dapat berkisar dari hanya di bawah 12.7 cm hingga 25 cm. 2.6 Komplikasi Hematothorax Komplikasi dapat berupa : 1. Kegagalan pernafasan

2. Kematian 3. Fibrosis atau parut dari membran pleura 4. Syok Perbedaan tekanan yang didirikan di rongga dada oleh gerakan diafragma (otot besar di dasar toraks) memungkinkan paru-paru untuk memperluas dan kontak. Jika tekanan dalam rongga dada berubah tiba-tiba, paru-paru bisa kolaps. Setiap cairan yang mengumpul di rongga menempatkan pasien pada risiko infeksi dan mengurangi fungsi paru-paru, atau bahkan kehancuran (disebut pneumotoraks ). 2.7 Asuhan Keperawatan a. Pengkajian Pengumpulan Data Hal yang penting dalam riwayat keperawatan adalah sebagai berikut : 1. Identitas 1. Umur : Biasanya terjadi usia 18 30 tahun. 2. Alergi terhadap obat atau makanan tertentu. 3. Pengobatan terakhir. 4. Pengalaman pembedahan. 5. Riwayat penyakit dahulu. 6. Riwayat penyakit sekarang. 7. Dan Keluhan. 2. Data subyektif Klien mengeluh sesak napas Klien mengungkapkan nyeri dada Perubahan kedalaman pernapasan
7

Gangguan pengembangan dada Takikardia Gelisah Sianosis Klien bertanya-tanya tentang penyakitnya Klien meminta informasi tentang tindakan yang dilakukan Kontur nadi kecil dan lemah Perkusi dada pekak berbatas Klien tampak gelisah Ekspresi wajah meringis 3. Pemeriksaan fisik 1. Sistem Pernapasan : Sesak napas, Nyeri, batuk-batuk, terdapat retraksi pada klavikula atau dada. Pengambangan paru tidak simetris. Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain. Pada perkusi ditemukan adanya suara sonor/hipersonor/timpani, hematotraks (redup). Pada asukultasi, suara nafas menurun, bising napas yang berkurang/menghilang . Pekak dengan batas seperti, garis miring/tidak jelas. Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. Gerakan dada tidak sama waktu bernapas. 2. Sistem Kardiovaskuler : Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk. Takhikardia lemah, Pucat, Hb turu normal, dan hipotensi. 3. Sistem Persyarafan : Tidak ada kelainan.
8

4. Sistem Perkemihan. Tidak ada kelainan. 5. Sistem Pencernaan : Tidak ada kelainan. 6. Sistem Muskuloskeletal Integumen. Kemampuan sendi terbatas. Ada luka bekas tusukan benda tajam.

Terdapat kelemahan .Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan. 7. Sistem Endokrine : Terjadi peningkatan metabolisme. Kelemahan. 8. Sistem Sosial / Interaksi. Tidak ada hambatan. 9. Spiritual : Ansietas, gelisah, bingung, pingsan. 10. Pemeriksaan Diagnostik : Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural. Pa Co2 kadang kadang menurun. Pa O2 normal/menurun. Saturasi O2 menurun (biasanya). Hb mungkin menurun (kehilangan darah). Toraksentesis : menyatakan darah/cairan. b. Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan. 2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. 4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. 5. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum. 6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage. 7. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma. c. Intevensi Keperawatan : 1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma. Tujuan : Pola pernapasan efektive. Kriteria hasil: Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif, mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru, adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab. Intervensi : 1. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. 2. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
10

3. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. 4. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paruparu. R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. 5. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. 6. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 12 jam :

1) Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar. R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan. 2) Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan. R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural. 3) Observasi gelembung udara botol penempung. R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari

penumotoraks/kerja yang diharapkan. Gelembung biasanya menurun seiring dengan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu.

11

4) Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bila perlu. R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan. 5) Catat karakter/jumlah drainage selang dada. R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi. 7. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : 1) Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi dalam pemberian antibiotika, pemberian analgetika, fisioterapi dada, dan konsul photo toraks. R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. 2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. Tujuan : Jalan napas lancar/normal Kriteria hasil : Menunjukkan batuk yang efektif, tidak ada lagi penumpukan sekret di saluran pernapasan, dan klien merasa nyaman. Intervensi : 1. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di saluran pernapasan. R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. 2. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

12

R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, dapat menyebabkan frustasi. 1) Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. 2) Lakukan pernapasan diafragma R/ Pernapasan diafragma menurunkan frekuensi napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. 3) Tahan napas selama 3 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. 4) Lakukan napas ke dua, tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret. 3. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. 4. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000-1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis. 5. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. 6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :

13

Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi dalam pemberian expectoran, pemberian antibiotika, fisioterapi dada, dan konsul photo toraks. R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. 3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. Tujuan : Nyeri berkurang/hilang. Kriteria hasil : Nyeri berkurang/dapat diadaptasi, dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri, Pasien tidak gelisah. Intervensi : 1. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif. R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. 1) Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase. R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya. 2) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut. R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan. 2. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil. R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.

14

3. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung. R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. 4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik. R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang. 5. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien, 30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 2 hari. R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat

BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

15