Você está na página 1de 9

LABORATORIUM SATUAN OPERASI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2012/2013

MODUL : ABSORPSI

PEMBIMBING : Ir. Umar Khayan

Praktikum : 21 Maret 2013


Penyerahan :
(Laporan)

Oleh :

Kelompok : VI (enam)
Nama : 1. Sri Endah Wahyuni NIM.111411056

Kelas : 2B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2013
ABSORBSI

I. Dasar Teori
Absorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran gas dengan cara
pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan
pelarutan. Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan hanya oleh gaya-
gaya fisik (pada absorpsi fisik) atau selain gaya tersebut juga oleh ikatan kimia
(pada absorpsi kimia). Komponen gas yang dapat mengadakan ikatan kimia akan
dilarutkan lebih dahulu dengan kecepatan yang lebih tinggi. Karena itu absorpsi
kimia mengungguli absorpsi fisik.
Fungsi dari absorbsi pada suatu industri adalah untuk meningkatkan nilai guna
suatu zat dengan merubah fasenya. Contonya seperti formalin yang berfasa cair
berasal dari proses absorbsi formaldehid yang berfasa gas.

Absorben

Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan diabsorpsi pada
permukaannya, baik secara fisik maupun secara reaksi kimia.Absorben sering juga
disebut sebagai cairan pencuci.
Persyaratan absorben :

1. Memiliki daya melarutkan bahan yang akan diabsorpsi yang sebesar


mungkin (kebutuhan akan cairan lebih sedikit, volume alat lebih kecil).
2. Selektif
3. Memiliki tekanan uap yang rendah
4. Tidak korosif.
5. Mempunyai viskositas yang rendah
6. Stabil secara termis.
7. Murah

Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai absorben adalah air (untuk gas-
gas yang dapat larut, atau untuk pemisahan partikel debu dan tetesan cairan),
natrium hidroksida (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti asam) dan asam
sulfat (untuk gas-gas yang dapat bereaksi seperti basa).

Kolom Absorpsi

Adalah suatu kolom atau tabung tempat terjadinya proses pengabsorbsi


(penyerapan/penggumpalan) dari zat yang dilewatkan di kolom/tabung tersebut.
Proses ini dilakukan dengan melewatkan zat yang terkontaminasi oleh komponen
lain dan zat tersebut dilewatkan ke kolom ini dimana terdapat fase cair dari
komponen tersebut.
Struktur dalam absorber

1. Bagian atas: Spray untuk megubah gas input menjadi fase cair.
2. Bagian tengah: Packed tower untuk memperluas permukaan sentuh
sehingga mudah untuk diabsorbsi
3. Bagian bawah: Input gas sebagai tempat masuknya gas ke dalam reaktor.

Prinsip Kerja Kolom Absorbsi

1. Kolom absorbsi adalah sebuah kolom, dimana ada zat yang berbeda fase
mengalir berlawanan arah yang dapat menyebabkan komponen kimia
ditransfer dari satu fase cairan ke fase lainnya, terjadi hampir pada setiap
reaktor kimia. Proses ini dapat berupa absorpsi gas, destilasi,pelarutan
yang terjadi pada semua reaksi kimia.
2. Campuran gas yang merupakan keluaran dari reaktor diumpankan
kebawah menara absorber. Didalam absorber terjadi kontak antar dua
fasa yaitu fasa gas dan fasa cair mengakibatkan perpindahan massa
difusional dalam umpan gas dari bawah menara ke dalam pelarut air
sprayer yang diumpankan dari bagian atas menara. Peristiwa absorbsi ini
terjadi pada sebuah kolom yang berisi packing dengan dua tingkat.

Keluaran dari absorber pada tingkat I mengandung larutan dari gas yang
dimasukkan tadi.
Proses Pengolahan Kembali Pelarut Dalam Proses Kolom Absorber

1. Konfigurasi reaktor akan berbeda dan disesuaikan dengan sifat alami dari
pelarut yang digunakan
2. Aspek Thermodynamic (suhu dekomposisi dari pelarut),Volalitas
pelarut,dan aspek kimia/fisika seperti korosivitas, viskositas,toxisitas,
juga termasuk biaya, semuanya akan diperhitungkan ketika memilih
pelarut untuk spesifik sesuai dengan proses yang akan dilakukan.
3. Ketika volalitas pelarut sangat rendah, contohnya pelarut tidak muncul
pada aliran gas, proses untuk meregenerasinya cukup sederhana yakni
dengan memanaskannya.

Model / Jenis Alat Transfer Massa


Operasi transfer massa umumnya dilakukan dengan menggunakan manara yang
dirancang sedemikian sehingga diperoleh kontak yang baik antara kedua fase. Alat
transfer massa yang berupa menara secara umum dapat dibagi ke dalam 4
golongan, yaitu : menara sembur, menara gelembung, menara pelat dan menara
paking.

Menara sembur terdiri dari sebuah menara, dimana dari puncak menara cairan
disemburkan dengan menggunakan nosel semburan. Tetes - tetes cairan akan
bergerak ke bawah karena gravitasi, dan akan berkontak dengan arus gas yang
naik ke atas (lihat gambar 1). Nosel semburan dirancang untuk membagi cairan
kecil - kecil. Makin kecil ukuran tetes cairan, makin besar kecepatan transfer
massa. Tetapi apabila ukuran tetes cairan terlalu kecil, tetes cairan dapat terikut
arus gas keluar. Menara sembur biasanya digunakan umtuk transfer massa gas
yang sangat mudah larut.
Menara gelembung terdiri dari sebuah menara, dimana di dalam menara tersebut
gas didispersikan dalam fase cair dalam bentuk gelembung. Transfer massa terjadi
pada waktu gelembung terbentuk dan pada waktu gelembung naik ke atas melalui
cairan (gambar 2). Menara gelembung digunakan untuk transfer massa gas yang
relatif sukar larut. Gelembung dapat dibuat misalnya dengan pertolongan
distributor pipa, yang ditempatkan mendatar pada dasar menara.
Menara pelat adalah menara yang secara luas telah digunakan dalam industri.
Menara ini mempunyai sejumlah pelat dan fasilitas yang ada pada setiap pelat,
maka akan diperoleh kontak yang sebaik-baiknya antara fase cair dengan fase gas.
Fasilitas ini dapat berupa topi gelembung (bubble caps) atau lubang ayak (sieve),
gambar 5. Pada pelat topi gelembung dan lubang ayak, gelembung � gelembung
gas akan terbentuk. Transfer massa antar fase akan terjadi pada waktu gelembung
gas terbentuk dan pada waktu gelembung gascnaik ke atas pada setiap pelat.
Cairan akan mengalir dari atas ke bawah melintasi pelat di dalam kolom.

Menara paking adalah menara yang diisi dengan bahan pengisi, gambar 3. Adapun
fungsi bahan pengisi ialah untuk memperluas bidang kontak antara kedua fase.
Bahan pengisi yang banyak digunakan antara lain cincin rasching, cincin lessing,
cincin partisi, sadel bell, sadel intalox dan cicin pall. Di dalam menara ini, cairan
akan mengalir ke bawah melalui permukaan bawah pengisi, sedangkan cairan
akan mengalir ke atas secara arus berlawanan, melalui ruang kosong yang ada
diantara bahan pengisi.

III. PERCOBAAN
3.1 Alat dan bahan praktikum
Seperangkat alat absorpsi

Keterangan :
 S1, S2, S3 = Valve yang diatur pada saat analisa gas CO2 dan tempat
pengambilan sample bila diperlukan
 F1 = Flowmeter Air
 F1 = Flowmeter Udara
 F1 = Flowmeter CO2
 C1 = Valve Pengatur flow air
 C2 = Valve Pengatur flow udara
 C3 = Valve pengatur flow CO2
3.2 Prosedur kerja
1. isi dua buah bola yang ada pada alat analisa absorbsi gas dipanel sebelah
kiri dengan 0,1 molar NaOH. Atur permukaan larutan pada bola hingga
berada pada tanda "0" pada tabung, dengan menggunakan keterangan CN,
lakukan drain.
2. isi tanki tendon dengan air bersih dengan tiga perempat bagian (40 liter).
3. tutup control aliran gas C2 dan C3. jalankan pompa cairan dan atur laju alir
air lewat kolom hinmgga sekitar 6 liter/ menit pada flowmeter F1 dengan
mengatur control keran C1.
4. jalankan kompresor dan atur control keran C2 hingga memberikan laju air
udara 30 liter/menit pada flowmeter F2.
5. dengan hati hati buka keran pengatur tekanan pada silinder karbon dioksida
dan atur keran C3 sehingga memberikan laju alir gas pada F3 sekitar laju alir
udara pada F2. pastikan bahwa tutup aliran cairan didasar kolom sudah
dibuka jika perlu dengan mengatur control keran C4.
6. sesudah 15 menit atau operasi mantap, ambil sample fas secara simultan
dari titik S1 dan S2. lakukan analisa gas tersebut terhadap kandungan CO2.
7. bilas saluran sample dengan jalan mengulang - ulang menarik piston dan
menekannya kembali ke atmosfir. Volume silinder lOOcc, perkirakan
volume tabung yang berisi udara yang tinggal didalam alat. Kemudian
beberapa kali lakukan langkah menghisap dan menekan.
8. dengan bola absorbsi terisolasi dan saluran keudara tertutup, isi selinder
dari saluran yang d i p i l i h dengan menarik piston ke luar pelan pelan. Catat
volume gas yang dihisap kedafarrrsilinder V2 hendaknya sekitar 20 ml.
Tunggu sedikitnya dua menit sehingga temperature gas didalam silinder
sama dengan temperature silinder.
9. putuskan hubungan silinder dari kolom dan bola serta saluran buang ke
atmosfir tutup setela sekitar 10 detik.
10. hubungkan silinder dengan bola, absorbi di permukaan cairan
didalam pipa harus tetap. Jika berubah buka pelan pelan saluran ke
atmosfir lagi.
11. tunggu sampai permukaan di dalam silinder sama dengan tekanan
atmosfir.
12. pelan pelan tekan piston, hingga silinder kosong karena gas masuk ke dalam
bola absorbsi. Pelan pelan tarik kembali piston. Catat tinggi permukaan pada
tabung indikator, hingga tidak terdapat perubahaan permukaan cairan di
dalam tabumg indikator. Tingi permukaan cairan di dalam tabung indikator V2.
ini menunjukan volume gas C02 di dalam campuran sample.

Percobaan Absorbsi Karbon Dioksida kc dalam Air


1. isi tanki tendon di bawah kolom sebanyak ¾ penuh dengan air deionisasi.
Catat volume air yang ada dalam tendon (Vt).
2. dengan kerangan pengontrol alira gas C2 dan C3 dalam keadaan
tertutup,hidupkan pompa air dan atur aliran air melalui kolom dengan
mengantur keran pengontrol aiiran C1 agar terbaca pada flowmeter F1
sebesar 6 liter / menit.
3. hidupkan kompresor dan atur keran pengontrol C2 agar diperoleh aliran
udara kurang lebih 10% dari skala penuh pada flowmeter F2.
4. secara hati hati bukanlah kerena pengatur tekanan pada silinder karbon
dioksida dan atur keran C3 agar pada flowmeter. F3 terbaca kira
kira setengah dari aliran udara F2. yakni bahwa cairan tetap pada
tempatnya, bila perlu atur keran pengontrol C4.
5. setelah 15 menit operasi berlangsung, ambillah 100 ml sample dari S4 dan
S5 dengan selang setiap 10 menit.

Percobaan Analisa Karbon yang Larut dalam Air


1. kelarutan sample dari S5 atau S4 sebanyak 150 ml.
2. tampung sample dalam gelas ukur, buang larutan diatas tanda batas 100 ml.
3. tambahkan 5-10 tetes indicator phenolptalin, bila sample segera menjadi
merah maka tidak ada CO2 bebas . bila sample tetap tidak berwarna, maka
titrasi dengan larutan alkali standard. Aduk dengan batang pengaduk hingga
diperoleh warna merah muda yang tidak hilang selama 30 detik. Catat
volume larutan alkali yang ditambahkan pada saat terjadi perubahan warna
sebagai titik akhir.

3.3 Data yang diambil

Percobaan Absorbsi Karbon Dioksida ke dalam Air

Laju Alir Laju Alir Laju Alir Volume Volume Perhitungan


air Udara Air CO2 Gas NaOH
y1  F 2 yo  V 2
(F1 lt/mnt) (F2 lt/mnt) (F3 lt/mnt) (V1 ml) (V2 ml) (F 2  F3) V1

Waktu dari Dari tangki Dari outlet cairan


saat mulai T
(Cco2) (Cco2)
(menit) Vt (ml) Vt (ml)
(M) (M)
15
25
35
45
55
65
Kecepatan CO2 yang diserap

Volume Tangki
Waktu (menit) Kecepatan (mol/dt)
(liter)
15
25
35
45
55
65

IV. PETUNJUK PENYAJIAN LAPORAN


4.1 Langkah perhitungan

CO2 yang diserap setelah melalui kolom setiap saat

Waktu (Cco2t) dari (Cco2o) dari Aliran inlet Aliran inlet Kecepatan
(menit) tangki tangki dari CO2 terlarut CO2 terlarut Absorpsi
(M=Mol/lt) outlet cairan dlm tangki di outlet= (mol/dt)
(M=Mol/lt) = F l xCco2 t F l x Cco2O =F1.( Cco2t- Cco2o)
15
25 .
35
45
55
65

Daftar Pustaka
 Jobsheet Praktikum Satuan Operasi "Absorpsi", Due Like, Jurusan Teknik
Kimia POLBAN
 Robert H Perry "Chemical Engineering Handbook" Mc Grow-hill Fourth
Edition, USA 1998
 http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-
proses/absorbsi/
 http://oteka-stembayo.blogspot.com/2008/12/absorpsi-1.html
 Jobsheet Praktikum Satuan Operasi "Absorpsi", Jurusan Teknik
Kimia Universitas Sulatan Ageng Tirtayasa 2008