Você está na página 1de 46

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Hipertensi atau yang lebih dikenal oleh mayarakat dengan darah tinggi telah menjadi penyakit yang umum bagi banyak orang saat ini, apalagi bagi mereka yang tinggal di kawasan perkotaan dan memiliki segudang aktivitas. Hipertensi dapat juga di karenakan oleh menjamurnya makanan siap saji yang banyak mengandung lemak dan perubahan gaya hidup sebagian masyarakat perkotaan yang kurang sehat. Hipertensi merupakan bahaya diam-diam yang bisa mematikan. Karena, tidak ada gejala atau tanda khas untuk peringatan dini. Bahkan banyak orang merasa sehat dan energik bisa menyimpan gejala hipertensi. Hipertensi bukan saja penyakit mematikan, tapi juga pemicu terjadinya penyakit jantung dan stroke. Meski demikian, hipertensi dan komplikasinya dapat dicegah, tentunya dengan upaya perbaikan gaya hidup dan mengatasi faktor risikonya Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal (120/80 mm Hg atau lebih). Angka 120 menunjukkan tekanan pada pembuluh arteri ketika jantung berkontraksi,disebut dengan tekanan sistolikngka sedangkan 80 menunjukkan tekanan ketika jantung sedang berelaksasi,disebut dengan tekanan diastolic. Banyak factor yang dapat mejadi penyebab terjadinya hiprtensi yaitu semakin bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Stress yang sering dialami, Pola makan dan aktivitas yang tak seimbang juga memiliki kontribusi yang besar penyebab hipertensi. Kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan kurang olahraga dapat pula mempengaruhi peningkatan tekanan darah.berat badan berlebih (obesitas). Disamping itu factor yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi adalah adanya prnyakit lain dan penggunakan obat-obatan. Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.
1

Hipertensi dapat dicegah dan dapat juga diobati dengan menggunakan obatobatan antihipertensi. Upaya-upaya untuk mencegah hipertensi dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat. Bebrapa upaya yang bisa dilakukan yaitu diet rendah garam, kolesterol, dan lemak jenuh. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. Harus memperhatikan kebiasaan makan penderita hipertensi. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan, jadi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal.Behenti merokok dan alkoho. Latihan fisik secara teratur. Menghindari stres. Buatlah suasana yang menenangkan dan lakukan relaksasi-relaksasi rutin setiap hari. Hal ini penting untuk memberi efek ketenangan yang dapat mengontrol sistem saraf sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat. Penting melakukan olahraga seperti senam aerobic.

B. Tujuan Penulisan Mahasiswa mampu : 1) Menjelaskan tentang anatomi dan fisiologi jantung 2) Menjelaskan mekanisme sistem konduksi 3) Menjelaskan tentang cairan dan elektrolit 4) Menjelaskan tentang definisi,etiologi dan klasifikasi hipertensi 5) Menjelaskan tentang patofisiologi hipertensi 6) Menjelaskan tentang pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan hipertensi 7) memberikan gambaran pembahasan kasus tentang pengkajian,diagnosa,

intervensi,implementasi dan evaluasi 8) Menjelaskan tentang informed concent dan etik legal medis

C. Rumusan Penulisan 1) Apa yang dimaksud anfis jantung? 2) Apa yang dimaksud mekanisme sisitem konduksi ? 3) Apa yang dimaksud cairan dan elektrolit? 4) Apa yg dimaksud hipertensi, apa saja etiologi dan klasifikasinya ? 5) Bagaimana hipertensi? 6) Bagaimana tindakan keperawatannya? pemeriksaan diagnostik dan bagaimana penatalaksanaannya pada

D. Manfaat Penulisan Mahasiswa mampu : 1) mengetahui tentang anfis jantung 2) mengetahui tentang sistem konduksi 3) mengetahui tentang cairan dan elektrolit 4) mengetahui apa itu hipertensi,etiologi dan klasifikasinya 5) mengetahui pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaannya 6) mengaplikasikan tindakan keperawatan dalam pelaksanaan kegiatan keperawatan 7) mengetahui informd concent dan etik legal medis

E. Sistematika Penulisan Adapun sistematika pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1) Bab I pendahuluan : Latar belakang, Tujuan, Rumusan, Manfaat dan Sistematika Penulisan 2) Bab II pembahasan teoritis: Anfis jantung, mekanisme sistem konduksi, cairan dan elektrolit, pengertian hipertensi, etiologi dan klasifikasi, patofisiologi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan. 3) Bab III pembahasan kasus: Askep 4) Bab IV penutup: Kesimpulan dan saran 5) Daftar pustaka

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi fisiologis Jantung Menurut sylvia A. Price dan lorraine M. Wilson, 1995 :

a. Letak jantung Jantung terletak dalam mediastinum di rongga dada, yaitu di antara kedua paru-paru. Perikardium yang meliputi jantung terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan dalam di sebut perikardium viseralis dan lapisan luar di sebut perikardium parietalis. Kedua lapisan ini di pisahkan oleh sedikit cairan pelumas yang berfungsi mengurangi gesekan pada gerakan memompa dari jantung itu sendiri. Perikardium parietalis melekat pada tulang dada di sebelah depan, dan pada kolumna vertebralis di sebelah belakang, sedangkan ke bawah pada diafragma. Perikardium viseralis langsung melekat pada permukaan jantung. Jantung sendiri terdiri dari tiga lapisan, lapisan terluar di sebut epikardium, lapisan tengah merupakan lapisan otot yang di sebut miokardium sedang kan lapisan terdalam yaitu lapisan endotel di sebut endokardium.

b. Ruang Jantung Ruang jantung terdiri dari :

1) Atrium kanan Atrium kanan yang tipis dindingnya ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan darah, dan sebagai penyaluran darah dari venavena sirkulasi sistemik ke dalam ventrikal kanan dan kemudian ke paru-paru. Darah yang berasal dari pembuluh vena ini masuk kedalam atrium kanan melalu vena kava superior, inferior dan sinus koronarius. Dalam muara vena kava tidak ada katup-katup sejati. Yang memisahkan vena kava dari atrium jantung ini hanyalah lipatan katup atau pita otot yang rudimenter. Karena itu peningkatan tekanan atrium kanan jantung akan dibalikan kembali kedalam vena sirkulasi sistemik.
4

Sekitar 80% alir balik vena ke dalam atrium kanan akan mengalir secara pasif ke dalam ventrikal kanan melalui katup

trikuspidalis. 20% sisanya akan mengisi ventrikel dengan kontraksi atrium. Pengisian ventrikel secara aktif ini dinamakan atrial kick. Hilangnya atrial kick pada disritmia jantung dapat mengurangi pengisian ventrikel sehingga mengurangi curah vertikel.

2) Ventrikel kanan Pada kontraksi vertikel, maka tiap ventrikel harus

menghasilkan kekuatan yang cukup besar untuk dapat memompakan darah yang di terimanya dari atrium sirkulasi pulmonar ataupun sirkulasi sistemik. Ventrikel kanan berbentuk bulan sabit yang unik, guna menghasilkan kontraksi bertekanan rendah yang cukup mengalirkan darah kedalam arteria pulmonalis. Sirkulasi pulmonar merupakan sistem aliran darah bertekanan rendah, dengan resistensi yang jauh lebih kecil terhadap aliran darah dari ventrikel kanan, dibandingkan tekanan tinggi sirkulasi sistemik terhadap aliran darah dari ventrikel kiri. Karena itu kerja beban dari ventrikel kanan itu jauh lebih ringan daripada ventrikel kiri. Akibatnya tebal dinding ventrikel kanan hanya sepertiga dari tebal dinding ventrikel kiri.

3) Atrium kiri Atrium kiri menerima darah yang sudah dioksigenisasi dari paru-paru melalui keempat vena pulmonalis. Antara vena pulmonalis dan atrium kiri tidak ada katup sejati. Karena itu perubahan tekanan dalam atrium kiri mudah sekali membalik retrograd ke dalam

pembuluh paru-paru.peningkatan tekanan atrium kiri yang akut akan menyebabkan bendungan paru-paru. Atrium kiri berdinding tipis dan bertekanan Rendah. Darah mengalir daari atrium kiri ke ventrikal kiri melalui katup mitralis.

4) Ventrikel kiri Ventrikel kiri harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk mengatasi tahanan sirkulasi sistemik, dan mempertahankan aliran darah ke jaringan-jaringan perifer. Ventrikal kiri mempunyai otot-otot yang tebal dan bentuknya yang menyerupai lingkaran, mempermudah pembentukan tekanan yang tinggi selama ventrikel berkontraksi. Bahkan sekat pembatas ke dua ventrikel (septum interventrikularis) juga membantu memperkuat tekanan yang

ditimbulkan oleh seluruh ventrikel pada kontraksi. Pada kontraksi, tekanan ventrikel kiri meningkat sekitar lima kali lebih tinggi daripada tekanan ventrikel kanan.

c. Katup jantung l Keempat katup jantung berfungsi mempertahankan aliran darah searah melaui bilik-bilik jantung. Ada 2 jenis katup : katup atrioventrikularis (katup AV), yang memisahkan atrium dengan ventrikel dan katup semilunaris yang memisahkan arteria pulmonalis dan aorta dari ventrikal yg bersangkutan. Katup katup ini membuka dan menutup secara pasif, menanggapi perubahan tekanan dan volume dalam bilik-bilik jantung dan pembuluh darah.

1) Katup Atrioventrikularis Daun-daun katup atrioventrikularis halus tetapi tahan lama. Katup triskuspidalis yang terletak antara atrium dan ventrikel kanan mempunyai tiga buah katup. Katup mitralis memisahkan atrium dan ventrikel kiri, merupakan katup biskuspidalis dengan dua buah katup. Daun katup dari kedua katup itu terlambat melalui berkasberkas tipis jaringan fibrosa yang di sebut korda tendinae. Korda tendinae akan meluas menjadi otot papuilaris, tonjolan otot pada dinding vertikel. Korda tendinae menyokong katup pada waktu berkontraksi ventrikal untuk mencegah membaliknya daun katup kedalam atrium. Kalau otot tendinae mengalami kerusakan atau gangguan, maka darah akan mengalir kembali ke dalam atrium jantung sewaktu ventrikal berkontraksi.
6

2) Katup semilunaris Kedua katup semilunaris sama bentuknya, terdiri dari tiga daun katup simetris menyerupai corong, yang tertambat dengan kuat pada anulus fibrosus. Katup aorta terletak antara ventrikal kiri dan aorta., sedangkan katup pulmonalis terletak antara ventrikal kana dan arteria pulmonalis. Katup semilunaris mencegah aliran dkembali darah dari aorta atau arteria pulmonalis ke dalam ventrikal, sewaktu ventrikel dalam keadaan istirahat. Tepat diatas daun katup aorta, terdapat tiga kantung yang menonjol dinding aorta dan arteria pulmonalis, yang di sebut sinus valsalva. Muara arteria koronaria terletak di dalam kantung-kantung tersebut. Sinus-sinus ini berfungsi melindungi muara koronaria tersebut dari penyumbatan oleh daun katup, pada waktu katup aorta terbuka.

d. Persarafan jantung Sistem kardiovaskuler banyak dipersarafi oleh serabut-serabut sistem saraf otonom. Sistem saraf otonom dapat dibagi menjadi 2 bagian, sistem parasimpatis dan simpatis dengan efek-efek yang saling berlawanan dan bekerja bertolak belakang. 1) Sistem parasimpatis Serabut-serabut sistem parasimpatis mempersarafi nodus SA, otototot atrium dan nodus AV melalui saraf vagus. Serabut parasimpatis juga meluas sampai ke otot ventrikel. Stimulasi dari serabut parasimpatis akan menyebabkan pelepasan asetilkolin. Asetilkolin merupakan perantara bagi transmisi impuls saraf pada reseptor jantung. Stimulasi parasimpatis menghambat kegiatan jantung dengan mengurangi kecepatan denyut nadi, kecepatan konduksi impuls melalui nodus AV, dan juga mengurangi kekuatan kontraksi atrium dan mungkin juga ventrikel. Respons terhadap stimulasi parasimpatis di kenal dengan sebutan respons kolinergik atau respons vagal.

2) Sistem simpatis Serabut simpatis menyebar keseluruh sistem penghantar dan miokardium, juga pada otot polos pembuluh darah. Neurotransmiter simpatis adalah norepinefrin. Stimulasi simpatis memacu jantung dengan meningkatkan kecepatan denyut jantung, onduksi impuls melalui nodus AV, dan meningkatkan kekuatan kontraksi

miokardium. Respons simpatis ini disebut juga respons adrenergik. Baik Respons jantung terhadap stimulasi simpatis disalurkan melalui reseptor jantung yang dikenal reseptor beta.

e. Curah jantung Menurut Drs. H. Syaifuddin, A.Mk, 2009

Pada keadaan normal, jumlah darah yang dipompakan oleh ventrikel kiri dan ventrikel kanan sama besarnya. Bila tidak, akan terjadi penimbunan darah di tempat tertentu misalnya penimbunan darah di paru-par. Jumlah darah yang dipompakan ventrikel dalam 1 menit di sebut curah jantung dan jumlah darah yang dipompakan setiap kali sistole dinamakan isi sekuncup dengan demikian:

Curah jantung = isi sekuncup frekuensi denyut jantung permenit

Curah jantung setiap orang tidak sama, tergantung keaktifan tubuh. Curah jantung akan meningkat saat bekerja keras, setres dan menurun saat tidur.

B. Mekanisme Sistem Konduksi pada jantung Menurut Drs. H. Syaifuddin, A.Mk, 2009 :

Merupakan modifikasi (perubahan) dari otot jantung yang di sertai dengan tenaga ritmis spontan dari serabut saraf tertentu. 1) Serabut purkinje Serabut otot jantung khusus yang mempunyai penghantar impuls dengan kecepatan lima kali lipat kecepatan hantaran serabut otot jantung. Hantaran yang cepat memungkinkan atrium berkontraksi bersamaan, kemudian di ikuti
8

dengan kontraksi ventrikular yang serempak, sehingga terbentuk kerja pompa darah yang terkoordinasi

2) Sino atrial node (SA Node) Suatu tumpukan jaringan neuron muskular kecil yang berada dalam dinding posterior atrium kanan di ujung krista terminalis. Nodus ini merupakan awal dari kontraksi jantung, selanjutnya impuls di teruskan ke atrioventrikular dan melepaskan impuls sebanyak 72 kali/menit. Frekuensi iramanya lebih cepat dalam atrium (40-60 kali/menit) dari pada ventrikel (20 kali/menit). Nodus ini di pengaruhi oleh saraf simpatis dan parasimpatis sistem otonom yang akan mempercepat dan memperlambat iramanya.

3) Atrioventrikular node (AV Node) Susunannya sama dengan SA Node, berada dalam septum atrium, di bawah dinding posterior atrium kanan dekat muara sinus koronarius. Selanjutnya impuls diteruskan ke atrioventrikuler melalui berkas wenckebach. Nodus AV menunda impuls seperseratus detik sampai ejeksi darah atrium selesai sebelum terjadi kontraksi ventrikular.

4) Atrioventrikular bundel (AV bundle) Mulai dari AV berjalan kearah depan, pinggir posterior, dan pinggir bawah pars membransea septum interventrikular. Pada bagian cincin yang terdapat antara atrium dan ventrikuler di sebut analus vibrosus. Rangsangan berhenti 1/10 detik, selanjutnya menuju apeks kordis dan bercabang dua menjadi pars septalis dekstra dan pars septalis sinistra.

C. Cairan dan Elektrolit Menurut Dr Jan Tambayong

a. Keseimbangan cairan normal Keseimbangan air mengacu pada ekuilibrium yang dipertahankan antara masukan (Intake) dan haluaran (output) air.Masukan air berasal dari cairan yang diminum,air dalam makanan,dan air hasil oksidasi bahan makana.Air itu
9

dipakai dalam proses metabolic tubuh dan diperlukan untuk mengangkut produk limbah untuk diekresikan melalui urine,kulit,paru,dan tinjal.Komposisi cairan tubuh diatur oleh ginjal dan paru,yang mendapat masukan dari jantung dan kelenjae-kelenjar tubuh.Hormon,khususnya aldosteron dan ADH,berfungsi mengatur komposisi plasma dan cairan tubuh lainnya. Air merupakan 60% dari berat tubuh dewasa.Orang yang berotot,relative memiliki lebih banyak air (dalam %) daari pada orang gemuk,karena sel-sel lemak mengandung jauh lebih sedikit air dari padasel otot.Jumlah air yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan pada orang dewasa sekitar1500 ml/hari (rata-rata yang masuk adalah 200 ml/hari).Masukan air harus diimbangidengan haluaarnya.JUmlah urine minimal 300-500 ml

per24jam.Selain oleh ginjl,air juga dikeluarkan melalui paru,kulit,tinja.ini yang disebut inseble water loss (kehilanggan air tidak keset mata).air berfungsi sebagai bantalan,pelindung,danpembentuk kulit dari tubuh. b. Pengaturan Keseimbangan Cairan Pengaturan keseimbangan air terjadi melalui rasa

haus,ADH,aldosteron,prostaglandin,dan glukokortikoid. 1) Rasa Haus Rasa haus didefinisikan sebagai keinginan secara sadar terhadap air,adalah prinsip pengatur masukan air.Rasa haus biasanya terjadi pertama kali bila osomalalitas yang plasma terletak mencapai dipusta kira-kira rasa haus

295mOsm/kg.Osmoreseptor

dihipotalamus sensitive terhadap perubahan osmolalitas cairan ekstrasel ini.Bila osmolalitas meningkat,sel mengkerut dan sensasi rasa haus melalui mekanisme sebagai berikut: a) Penurunan perfusi ginjal merangsang pengelepasan rennin,yang akhirnya menimbulkan produksi angiotensin II.Angiotensin II merangsang hipotalamus untuk melepasakan substrat neural yang bertanggung jawab untuk merumukan sensasi haus b) Osmoreseptor di hipotalamus mendeketsi peningkatan tekanan osmotik dan mengaktivasi jarak yang mengakibatkan sensasi rasa haus.

10

c) Rasa haus dapat diinduksi oleh kekeringan local dari mulut pada status hiperhosmolar, atau ini dapat terjadi untuk menghilangkan sensasi kering yang tidak nyaman , yang diakibatkan oleh penurunan saliva. 2) Hormon Antidiuretik (ADH) ADH dibentuk dihipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis dari hipofisis posterior.Stimuli utama untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolalitas dan penurunan cairan ekstrasael.Sekresi dapet juga terjadi pada stress,trauma,pembedahab,nyeri,dan beberapas

anestetik dan obat-obatan.Hormon ini meningkatan reabsorpsi air pada duktus koligentes,dengan demikian menghemat air untuk memperbaiki osmolalitas dan menyimpa volume cairan ekstrsel. Disebut juga vasopressin,ADH mempunyai efek vasokontriktif mino pada arteriol yang dapet meningkatkan tekanan darah.Penurunan bermakna pada sekresi ADH sekunder akibat lesi atau trauma traktus hipofisis mengakibatkan diabetes insipidus,yang dikarekteristikan oleh peningkatan massif haluaran urine.Penipisan volume darah tidak mengakibatkan diabetes insipidus selama mekanisme rasa haus masih utuh.Peningkatan sekresiADH,yang dirangsang oleh oleh hipersekresi hipofisis atau oleh tumor hipofisis,mengakibatkan penurunan nyata pada osmolalitas serum,peningkatan volume darah dan penurunan haluaran urine.

3) Aldosteron Hormon ini yang disekresikan oleh kelenjar adrenal,bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absorpsi natrium.Retensi natrium ini berakibat retensi air.Pengelapisan aldoesteron dirangsang perubahan konsentrasi kalium.oleh kadar natrium serum,dan oleh system angiostensin-renin.Biasanya sekresi aldosteron diatur oleh konsentrasi kalium dan sangat efektif dalam mengendalikan hiperkalamia. 4) Prostagladin Prostaglandin adalah asam lemak alami yang terdapet dalam banyak jaringan,dan berfungsi respon radang,dalam pengendalian tekanan darah,dalam kontraksi uterus,dan motilitas
11

gastrointestintal.Dalam ginjal,prostaglandin ginjal berperan mengatur sirkulasi ginjal,resorpsi natrium,dan efek ginjal pada ADH.

5) Glukokortikoid Glukokortikoid meningkatkan resorpsi natrium dan air,sehingga volume darah naik dan terjadi retensi natrium.Oleh karna itu,perubahan dalam kadar glukokortikoid menyebabkan perubahan pada

keseimbangan volume darah

c. Gangguan keseimbangan Cairan Gangguan volume air bias berupa kekurangan air (dehidrasi)atau kelebihan air.Dehidrasi dapet disertai kurangnya natrium (dehidrasi hipotonik) atau kelebihan natrium(dehidrasi hipertonik).Air tubuh lebih banyak hilang bila suhu badan meningkat,diare,muntah-muntah,dan kehilangan air melalui ginjal,kulit,paru,dan saluran cerna kelebihan air terjadi pada retensi natrium,atau sekresi ADH yang berlebihan atau banyak minum

d. Keseimbangan dan Perubahan Keseimbangan elektrolit 1) Natrium Natrium adalah kation utama dari CES. Natrium mengatur tekanan osmotik dari CES dan secara nyata mempengaruhi tekanan osmostik CIS. Masukkn natrium didapat dari diet; kebutuhan tubuh sesuai dengan usia dan ukuran. Remaja membutuhkan antara 900 dan 2700 mg natrium setiap harinya. Natrium juga merupakan komponen esensial dalam eksitabilitas neuromuskular dan bertanggung jawab untuk depolarisasi membran sel dari sel yang dapat di rangsang. Natrium berpartisipasi dalam keseimbangan asam basa dengan bergabung dengan radikal bikarbonat. Natrium ada dalam kombinasi dengan berbagai anion, khususnya klorida dan bikarbonat. Konsentrasi natrium secara langsung diatur oleh aldosteron dan secara tidak langsung oleh ADH dan glukokortikoid.

2) Hiponatremia
12

Kekurangan natrium serum diakibatkan oleh kehilangan aktual natrium cairan tubuh atau karena penambahan yang berlebihan dalam air ekstraseluler yang mengencerkan konsentrasi natrium. Ketidakseimbangan ini dapat disebabkan oleh masukan natrium yang tidak adekuat, terapi diuretik insufiensi adrenal, dan pemberian larutan hipotonik untuk menggantikan kehilangan cairan melalui diaforesis, muntah, atau penghisap gastrointestinal. Kondisi yang mengakibatkan penambahan cairan adalah polidipsia psikogenik. Pengeluaran adekuat akibat dari penyakit ginjal atau lesi otak, dan pemberian larutan hipotonik setelah prosedur atau trauma bedah.

3) Hipernatremia Kelebihan natrium serum diakibatkan oleh penurunan masukan atau peningkatan haluaran air. Mencerna natrium juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan ini. Kondisi yang menyebabkan hipernatremia meliputi kerusakan sensasi haus, disfagia, diaferosis berat, diare, poliuria, karena diabetes insipidus, kehilangan air berlebih dari paru-paru dan pemberian larutan hipertonik berlebih. Sel mengkisut dan terjadi dehidrasi saat air berpindah dari CIS ke CES untuk mengkompensasi kelebihan air. Sel otak sangat sensitif terhadap ketidakseimbangan ini. Hipernatremia dapat dikaitkan dengan volume serum yang normal, menurun, atau meningkat. Hipernatremia volume normal paling umum terlihat pada individu yang mengalami masukan air tidak adekuat dan mengumpulkan air intraselular secara intravaskular. Sasaran terapi di tunjukkan pada penggantian kehilangan air tubuh total. Hipernatremia hipovolemik menunjukkan kehilangan cairan nyata, dengan air yang hilang lebih banyak tinggi dari pada natrium. Gejala dehidrasi sering ditemukan, dan perbaikan volume adalah prioritas. Hipernatremia hipervolemik sering iatrogenik, seperti pada pemberian natrium bikarbonat dalam jumlah besar untuk asidosis metabolik.

4) Kalium Kalium secara normal terkonsentrasi di dalam CIS. Kalium secara langsung mempengaruhi eksatibilitas saraf dan otot serta berperan dalam
13

tekanan osmotik intraselular. Sekresi dan ekskresi mengandung jumlah kalium yang besar. Sumber kalium adalah diet, yang secara normal memberikan lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh tubuh. Konsentrasi kalium urine bervariasi, yang memberikan mekanisme efisien untuk

ekskresi kelebihan kalium untuk mempertahankan rentang konsentrasi serum normal yang sempit. Kalium bergerak ke dalam sel selama pembentukan jaringan baru, fase anabolik. Selama pemecahan jaringan, fase katabolik, kalium meninggalkan sel. Kalium tidak bergerak kedalam sel bila kekurangan oksigen, glukosa, atau insulin. Tubuh manusia sangat efektif mengeluarkan kalium tetapi mempunyai sedikit mekanisme untuk penghemat ginjal. Kekurangan kalium terjadi dalam 2 sampai 3 hari bila tidak ada masukan. Kekurangan ini ditambah oleh kondisi seperti pembedahan yang meningkat kebutuhan anabolik. Apapun yang meningkatkan ekskresi kalium, seperti penggunaan diuretik, juga dapat menyebabkan penipisan kalium.

5) Hipokalemia Kekurangan kalium serum dapat disebabkan oleh adanya hal berikut: kekurangan masukan, penggunaan diuretik pembuang-kalium, prosedur bedah gastrointestinal yang mayor dengan sekresi pengisapan nasogastrik dan

penggantian

tidak

tepat,

gastrointestinal

berlebihan,

hiperaldosteronisme, malnutrisi, dan trauma atau luka bakar. Hipokalemia mempengaruhi beberapa sistem. Pada sistem

gastrointestinal, anoreksia, muntah, mual, dan ilius paralitik dapat terjadi. Pada otot, flaksiditas dan kelemahan dapat di tunjukkan dan menimbulkan kelemahan otot pernapasan dan henti napas. Disritmia jantung umum terjadi, takikardia ventrikel dan henti jantung dapat terjadi bila kadar sangat rendah. Depresi sistem saraf pusat dan penurunan refleks tendon profunda juga dapat terlihat. Hipokalemia menyebabkan penurunan kemampuan tubulus ginjal untuk mengkonsentrasikan sisa yang menimbulkan peningkatan kehilangan air. Hipokalemia menyebabkan peningkatan peningkatan sensitivitas pada digitalis dan dapat mencetuskan efek

toksisitas digitalis pada individu yang menggunakan preparat obat ini.

14

Hipokalemia meningkatkan automatisasi dan dapat mencetuskan fibrilasi ventrikel pada jantung.

6) Hiperkalemia Kelebihan kalium biasanya akibat dari disfungsi jantung sementara atau permanen. Kelebihan ini seringkali terjadi dalam kaitannya dengan gagal ginjal. Kelebihan ini juga dapat terjadi sementara (dengan fungsi ginjal normal) setelah trauma jaringan mayor atau setelah transfusi cepat darah yang disimpan di bank darah. Obat tertu atau kelebihan masukan kalium dapat juga menyebabkan hiperkalemia. Hiperkalemia terutama mempengaruhi sistem kardiovaskuler.

Penurunan potensial membran menyebabkan penurunan pada intensitas potensial aksi, yang mengakibatkan jantung dilatasi atau flaksid. Berbagai bentuk efek konduksi dapat terlihat bersamaan dengan distritmia ektopik. Pada sistem gastrointestinal, mual, muntah, dan diare umum terjadi. Kepekaan rangsang awal dari otot skelet menimbulkan kelemahan dan paralisis flaksid, dapat dirasakan adanya kebas jari dan kesemutan.

7) Kalsium Kalsium ada dalam tubuh dalam bentuk garam kalsim dan sebagai ionisasi dan kalsium ikatan-protein. 99% adalah dalam tulang dan gigi dalam bentuk kristalin, yang memberi struktur keras. Dari 1% yang bersirkulasi kira-kira 40% terikat pada protein plasma, khususnya albumin. Vitamin D mempengaruhi absorpsi kalsium serta deposisi tulang dan reabsorbsi. Vitamin D dihasilkan dalam kulit melalui kerja sinar ultraviolet. Kalium menstabilisasi membran sel dan memblok transpor natrium kedalam sel. Karenanya, penurunan kadar kalsium meningkatkan eksitabilitas sel, dan peningkatan kadar kalsium menurunkan eksitabilitas sel.

D. Hipertensi a. Definisi Hipertensi 1) Menurut WHO Hipertensi adalah tekanan darah lebih dari 160/95 mmHg.
15

2) Menurut Joint National Comittee on Detection, Evalution Treatment of High Blood Preasure (SNC) Hipertensi adalah tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 dan di klasifikasikan sesuai derajat keparahannya.

3) Menurut Dr Jan Tambayong, 2000 Hipertensi adalah peningkatan tekanan systole,yang tingginya

tergantung umur individu yang terkena.Tekanan darah berflukutasi dalam batas-batas tertentu,tergabtung posisi tubuh,umur,dan tingkat stress yang dialami.

4) Menurut kelompok Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah dimana sistolik diatas 140 mmHg dan diastolik diatas 90 mmHg.

b. Etiologi Hipertensi Menurut Dr. Jan Tambayong adalah :

1) Usia Insidens hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya

pria.Hipertensi pada yang berusia kurang 35 tahun dengan jelas menaikkan insiden peyakit arteri koroner dan kematian prematur

2) Kelamin Insidens hipertensi pada pria lebih tinggi dari pada wanita,namun pada usia pertengahan dan lebih tua,insiden pada wanita lebih meningkat,sehingga pada usia diatas 65 tahun.insidens pada wanita lebih tinggi.

3) RAS Hipertensi pada yang berkulit hitam paliing sedikit dua kalinya pada yang berkulit putih.Akibat penyakit ini umumnyz lebih berat pada ras kulit
16

hitam.Misalnya mortalitas pasien pria hitam dengan diastole 115 atau lebih,3,3 kali lebih tinggi dari pada pria berkulit putih,dan 5,6 kali bagi wanita putih.

4) Pola Hidup Faktor seperti pendidikan,penghasilan,dan factor pola hidup lain telah diteliti,tanpa hasil yang jelas.Penghasilan rendah,tingkat pendidikan rendah,dan kehidupan atau pekerjaan yang penuh stress agaknya berhubungan dengan insidens hipertensi yang lebih tinggi.obesitas dipandang sebagai factor risiko utama.Bila berat badan turun,tekanan darahnya sering turun menjadi normal.meroko dipandang sebagia factor risiko tinggi bagi hiprtesi dan penyakit arteri koroner.Hiperkolesteloremia dan hiperglekemia adalah fakto-faktor utama untuk perkembangan aterosklorosis,yang berhubungan erat dengan hipertensi. Lipoprotein serum.ada lima family lipoprotrin:1.kilomikron,2.verylow-density lipoprotein (VLDL),3.intermidiate4.low-indesity (HDL).Masing-masing mentranspor

densitylipoprotein,3.intermidiate-desity lipoprotein lipoprotein mempunyai (LDL)5.high-density fungsi berbeda lipoprotein

dalam

tubuh.kilomikron

kebanyakan substansi makanan dan VLDL membawa kebanyakan trigliserida.Banyak kolesterol plasma diangkut oleh LDL.HDL berfungsi sebagai reservoir bagi lipoprotein yang terlihat transport trigliserida dan estifikasi dari kolesterol.HDL biasanya lebih tinggi pada wanita dari pada pria.Diduga HDLmelindungi terhadap serangan penyakit arteri koroner

c. Klasifikasi Hipertensi Menurut buku FKUI, 1983

Hipertensi di bagi menjadi 5 : 1) Hipertensi Perbatasan Seseorang disebut menderita hipetensi perbatasan bils dari waktu tekanan darah berubah-ubah dari tinggi, kemudian turun mencapai normal dan sebaliknya tanpa pengobatan. Tekanan darah berkisar antara 140/90-160/95 mmHg. Umumnya penderita tidak
17

mempunyai keluhan apa-apa. Pada tingkat ini belum ada gangguan dari tanda-tanda vital. Curah jantung masih normal, kadang-kadang meningkat. Tahanan pembuluh darah sistemik masih normal dan volum darah juga normal atau sedikit meningkat.

2) Hipertensi Ringan Pada tingkat ini tekanan darah diastolik berkisar antara 95-100 mmHg. Curah jantung normal atau sedikit meningkat, tetapi selalu di temukan peninggian tahanan pembuluh darah sistemik yang menetap. Kadang-kadang disertai pemulaan gejala payah jantung seperti dispnea setelah latihan dan nokturia. Pemeriksaan funduskopi mungkin sudah menunjukkan adanya penyempitan arteri retina karena proses aterosklerosis. Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) mungkin sudah memperlihatkan hipertrofi ventrikel kiri yang ringan dan gambaran penyakit jantung koroner.

3) Hipertensi Sedang Tekanan darah distolik berkisar antara 100-115 mmHg. Umumnya sudah terdapat kelain fungsi organ yang permanen terutama pada tingkat lanjut; tetapi fungsi ginjal masih baik.

4) Hipertensi Berat Tekanan darah diastolik bervariasi antara 115-130 mmHg. Penderita ini mudah sekali mengalami komplikasi yang berat dalam waktu yang singkat berupa bencana pembuluh darah otak, infark miokard, gagal jantung atau kegagalan faal ginjal. Status fisik penderita dikategorikan dalam ASA III.

5) Hipertensi Maligna Tekanan darah yang tinggi di sertai edema papil, hanya memandang tekanan darah diastolik yang tinggi saja (lebih dari 130 mmHg). Hipertensi maligna adalah suatu kenaikan tekanan darah yang hebat dan terjadi mendadak dengan di tandai mundurnya keadaan
18

umum secara cepat, edema papil, kegagalan faal ginjal progresif dan gejala kelainan faal jantung dan susunan saraf pusat.

E. Patofisiologi Hipertensi

Hipertensi bisa menyebabkab kerusakan pada system vaskuler dan arteiola akibatanya ada penyumbatan pembuluh darah atau vasokontriksi dan menjadi gangguan sirkulasi bisa menjadi resiko kerusakan ferkusi juga gangguannya bisa terjadi pada: 1) otak akibatnya peningkatan tekanan outpun vaskuler serebral,sakit

kepala,vertigo klinis juga menjadi pendarahan pada retina sampai terjadi gangguan penglihatan dam akibatnya menjadi buta disebutnya nyeri akut 2) mata akibatnya kerusakan pada sel endotel akibatnya terjadi robekan(oblitervasi) dan menjadi pendarahan pada retina mata bisa mengakibatkan gangguan penglihatan menjadi kebutaan ini disebabkan resiko injuri.

19

F. Pathway

HIPERTENSI

KERUSAKAN VASKULER

PERUBAHAN STRUKTUR DIMARTERI KECIL PENYUMBATAN PEMBULUH/VASOKONTRIKSI

RESIKO KERUSAKAN PERFUSI JARINAGAN

GANGGUAN SIRKULASI

OTAK

MATA

PENINGKATAN TEKANAN OUTPUN VASKULER SEREBRAL SAKIT KEPALA VERTIGO KLIRIS

KERUSAKAN SEL ENDOTEL

ROBEKAN/OBLITERASI

PERDARAHAN RETINA GANGGUAN PENGLIHATAN SAMPAI KEBUTAAN

PERDARAHAN RETINA GANGGUAN PENGLIHATAN SAMPAI KEBUTAAN

NYERI AKUT RESIKO INJURI

20

G. Pemeriksaan Diagnostik Menurut jurnal nurshing lippincott William dan Wilkins adalah:

Pengukuran tekanan darah secara berturut-turut yang lebih dari 120/80 mmHg tetapi kurang dari 140/90 mmhg mengidinkasikan prehipertensi;pengukuran yang lebih dari 140/90mmhg memastikan hipertensi.Hipertensi stadium1 didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik yang lebih dari 139 tetapi kurang dari 160 mmhg atau tekana darah distolik yang lebih dari 89 tetapi kurang dari 100 mmhg.Hipertensi stadium 2 didefimsikan sebagai tekanan darah sistolik yang lebih dari atau sama dengan 159 mmhg atau tekanan darah diastolik yang lebih dari atau sama dengan 90 mmhg. Auskultasi memperlihatkan bunyi abnormal diaorta abdominal dan arteri

karotid,renal,dan fermoral.Oftalmoskopi memperlihatkan takikan arteriovenosa dan pada ensefalopati hipertensif,papiledema. Uji-uji berikut ini bisa menunjukan faktor predisposisi dan membantu mengidentifikasikan penyebab: 1) Urinanalisis:adanya protein,sel darah merah,dan sel darah putih bisa

mengidinkasikan glomerulonefritis 2) Urografi ekskretori:artrofi renal mengidinkasikan penyakit ginjal kronis;selisih pamjang kedua ginjal yang lebih dari 1,5 cm menujukan penyakit ginjal unilatreal 3) Kalium serum : kadar kurang dari 3,5 mEq/L bisa mengindikasikan disfungsi adrenal (hiperaldosteronisme primer) 4) Nitrogen urea darah ( blood urea nitrogen-BUN) dan kadar kreatinin serum adalah kadar BUN yang normal atau naik sampai lebih dari 20mg/dl dan kadar kreatinin serum yang normal atau naik sampai lebih dari 1,5 Mg/dl menunjukkan penyakit ginjal 5) Elektrokardiografi bisa menunjukan hipertrofi atau iskemia ventrikuler kiri. 6) Sinar X : dada bisa menunjukan kardiomegali. 7) Ekokardiografi bisa menunjukan hipertrofi venrikular kiri. 8) Captropil oral menguji hipertensi renovaskular. Uji diagnostik fungsional ini bergantung pada inhibisi angiotensin II yang bersirkulasi dengan inbitor enzim pengkonversi-angiotensin ( angiotensin converting enzyme inhibitor ACEI ), sehingga menyingkirkan pendukung terutama bagi perkusi melalui ginjal stenotik. Ginjal yang mengalami iskemia akut segera melepaskan renin lebih banyak dan
21

mengalami penurunan data dalam tingkat filtrasi glomerular dan aliran darah renal. 9) Artiografi renal bisa menunjukkan stenosis arteri renal.

H. Penatalaksanaan Hipertensi Menurut buku Rita Ramayulis adalah:

1) Pengontrolan berat badan Hubungan hipertensi dengan berat badan berlebih sangat kuat . semakin besar masa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk menyampaikan oksigen dan makanan kejaringan tubuh. Artinya, volume darah yang beredar di pembuluh daraha bertambah sehigga memberi tekanan yang lebih besar pada dinding pembuluh darah arteri. Penderita hipertensi dengan berat badan berlebih akan mengalami penurunan tekanan darah saat penurunan berat badannya mencapai 4,5 kg dan penurunan tekanan darah terbesar adalah saat penurun berat badan mencapai 12 kg. penelitian menjelaskan bahwa penderita hipertensi yang melakukan penurunan berat badan tidak memerlukan pengobatan hipertensi 4-6 bulan . Penelitian lain menunjukkan bahwa tumpukan lemak di perut berhubungan dengan risiko hipertensi. Selain itu, kelebihan lemak di bagian atas tubuh juga beresiko terhadap dislipidemia, diabetes, dan peningkatan angka kematian pada penderita jantung koroner. Penurunan berat badan berhubungan dengan penurunan detak jantung, penurunan kadar kolesterol dan asam urat diplasma, serta penurunan glukosa darah. Tidak hanya tumpukan lemak di perut dan bagian atas tubuh, lingkar pinggang juga menjadi factor resiko bagi yang mempunyai lingkar pinggang > 86 cm pada wanita dan > 99 cm pada pria. Dalam kondisi ini, perlu dipertimbangkan perubahan gaya hidup dan pengobatan hipertensi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa tingginya tekanan darah

berhubungan dengan kelebihan berat badan. Penurunan tekanan darah dapat terjadi karena penurunan berat badan. Dengan penurunan berat badan, dosis obat hipertensi akan menurun. Oleh karena itu, pasien hipertensi di anjurkan untuk menurunkan berat badan dengan cara diet rendah energy dan melakukan latihan 30-45 menit sebanyak 4-6 kali seminggu.

22

2) Pembatasan asupan lemak jenuh Lemak yang terdapat pada makanan dapat dibedakan menjadi lemaka jenuh, lemak tidak jenuh tunggal, lemak tidak jenuh ganda, kolesterol, dan trigliserida. Lemak jenuh di temukan pada lemak hewan, keju, mentega, margarine, dan minyak kelapa. Lemak tidak jenuh tunggal di temukan pada kacang-kacangan, minyak kacang, dan alpukat. Lemak tidak jenughganda di temukan pada ikan salmon, ikan tuna, kerang, minyak jagung, minyak biji kapas, minyak kedelai, dan minyak biji bunga matahari. Kolesterol banyak terdapat pada kuning telur dan susu. Trigliserida banyak di temukan pada pangan hewani maupun nabati. Konsumsi lemak berlebihan dapat meningkatkan kejadian hipertensi, terutama pada asupan lemak jenuh dan kolesterol. Ada dua mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan asupan lemak dengan hipertensi, yaitu sebagai berikut: a) Asupan lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan berat badan semakin besar masa tubuh maka semakin banyak darah yang di butuhkan untuk menyampaikan oksigen dan zat gizi kedalam jaringan tubuh. Artinya, volume darah didalam pembuluh darah bertambah sehingga memberikan tekanan yang lebih besar pada dinding pembuluh darah arteri. b) Asupan lemak jenuh berlebih mengakibatkan kadar lemak dalam tubuh meningkat, terutama kolesterol. Kolesterol yang berlebih akan menumpuk pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyumbatan aliran darah yang megakibatkan peningkatan tekanan darah. Asupan lemak yang dianjurkan adalah 27% dari total energy dan <6% adalah jenis lemak jenuh.

3) Pembatasan natrium / sodium Individu yang berusia >45 tahun dengan konsumsi makanan rendah natrium akan mengalami penurunan tekanan darah sebanyak 2,2-6,3 mmHg. Pola makan dengan pemberian natrium moderat berhubungan dengan penurunan kebutuhan obat hipertensi dan penurunan pengeluaran kalsium. Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular tubuh yang mempunyai fungsi keseimbangan cairan dan asam basa tubuh serta berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot. Dalam keadaan normal, jumlah natrium yang dikeluarkan tubuh melalui urine sama dengan jumlah yang di konsumsi sehingga terdapat keseimbangan. Asupan natrium berlebih terutama dalam bentuk natrium klorida dapat
23

mentyebabkan gangguan keseimbangan cairann tubuh yang menyebabkan oedema atau acites dan atau hipertensi. Natrium tinggi juga dapat mengecilkan diameter pembuluh darah arteri sehingga jantung harus memompa darah lebih kuat.Makanan yang mengandung natrium tinggi yaitu sebai berikut: 1) Sumber kabohidrat dari roti, biscuit, serta kue-kue yang di masak dengan garam dapur atau baking powder dan soda. 2) Sumber protein hewani dari otak, ginjal, lidah, sarden, daging, ikan, susu dan telur yang diawetkan dengan garam dapur seperti daging asap, ham, dendeng, abon, keju, ikan asin, ikan kaleng, kornet, ebi, udang kering, telur asin dan telur pindang. 3) Sumber protein nabati dari keju, kacang tanah, serta semua kacangkacangan dan hasilnya yang di masak dengan garam dapur dan natrium lain. 4) Sayuran yang di masak dan di awetkan dengan garam dapur dan ikatan natrium lainnya seperti sayuran dalam kaleng, sawi asin, asinan dan acar. 5) Buah-buahan yang diawetkan dengan garam dapur dan ikatan natrium lainnya seperti buah kaleng. 6) Lemak dari margarine dan mentega biasa\ 7) Minuman ringan 8) Bumbu seperti garam dapur, baking powder, soda kue, vetsin, kecap, terasi, kaldu instan, saos tomat, petis dan tauco.

4) Keseimbangan kalium / potasium Kecukupan asupan kalium dapat memelihara tekanan darah dan membuat perubahan positif pada tekanan darah penderita hipertensi. Sebaliknya, jika seorang penderita hipertensi mengalami defisiensi kalium maka akan

menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Asupan kalium untuk penderita hipertensi dianjurkan sebesar >3500 mg/hari.

5) Keseimbangan kalsium Defisiensi kalsium dihubungkan dengan peningkatan prevalensi hipertensi dan asupan kalsium rendah bias menguatkan efek dari asupan sodium tinggi terhadap tekanan darah. Peningkatan asupan kalsium bias menurunkan tekanan darah dari beberapa penderita hipertensi. Makanan sumber kalsium utama adalah
24

susu dan hasil olahannya seperti keju, ikan, yang di makan dengan tulang (termasuk ikan kering), seralia, kacang-kacangan serta hasil olahan dari kacang seperti ahu dan tempe. Pada penderita hipertensi, pengguna susu yang sudah dikalengkan / dikemas, keju, dan ikan teri asin sebagai sumber kalsium tidak dianjurkan. Namun, penderita hipetensi dapat mengkonsumsi susu segar yang belum diawetkan. Selain itu, pengguna ikan teri asin dapat diganti dengan ikan teri tawar.

6) Keseimbangan magnesium Kekurangan asupan magnesium dapat menyebabkan kejang pada pembuluh darah arteri. Hal ini berkaitan dengan kenaikan tekanan darah serta peningkatan sensitifitas natrium. Asupan magnesium yang dianjurkan adalah >200-500 mg/hari. Sumber utama magnesium adalah sayuran hijau, serealia tumbuk, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Selain itu, magnesium juga banyak terdapat pada daging, susu dan hasil olahannya.

7) Olahraga Olahraga yang teratur akan melatih otot jantung untuk bias beradaptasi pada saat jantug harus melakukan pekerjaan yang berat karena suatu kondisi tertentu. Selain itu, olahraga juga dapat memelihara berat badan sehingga menurukan resiko kelebihan berat badan.

8) Stop kebiasaan merokok Menghisap rokok berarti menghisap nikotin dan karbon monoksida. Nikotin akan masuk kedalam aliran darah dan segera mencapai otak. Otak akan memberikan sinyal kepada kelenjar adrenal untuk melepaskan hormone adrenalin. Hormone adrenalin akan menyempitkan pembuluh darah sehingga terjadi tekanan yang lebih tinggi. Gas karbonmonoksida dapat menyebabkan pembuluh darah tegang dan kondisi kejang otot sehingga tekanan darah pun naik. Dengan merokok 2 batang saja, tekanan darah sistolik dan diastolic akan meningkat sebesar 10 mmHg. Peningkatan tekanan darah akan menetap hingga 30 menit setelah berhenti menghisap rokok. Saat efek nikotiin perlahan menghilang,

25

tekanan darah pun akan menurun perlahan. Namun, pada perokok berat, tekanan darah akan selalu berada pada level tinggi.

9) Manajemen stress Stress adalah respon alami dari tubuh dan jiwa saat seseorang mengalami tekanan dari lingkungan. Stress yang berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kekhawatiran yang terus-menerus. Akibatnya, tubuh akan melepaskan homon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat dan lebih kuat sehingga tekanan darah akan meningkat. Saat stress datang, lakukanlah cara-cara yang bisa membuat tubuh relaks seperti melakukan latihan pernapasan, yoga, meditasi, dan latihan ringan lainnya. Selain itu, lakukanlah diet pengendali stress seperti mengkonsumsi makanan rendah gula dan lemak serta perbanyak konsumsi sayur dan buah segar.

26

BAB III PEMBAHASAN KASUS

Kasus Pasien Tn. Dion, 60 th, datang ke Rumah Sakit dengan keluhan badan lemas, mata berkunang-kunag disertai sakit kepala. Pasien mengatakan sudah merokok 1-2 bungkus rokok/hari selama 15 tahun. Dan senang makan makanan yang berlemak dan bersantan. Pada pengkajian, orang tua pasien meninggal akibat serangan stroke yang sebelumnya diawali dengan tekanan darah tinggi. Hasil pengukuran TD: 180/100 mmHg , N: 90x/menit .

A. Pengkajian 1. Riwayat kesehatan a. Keluhan utama 1) Saat masuk rumah sakit: Badan lemas, mata berkunang-kunang, disertai sakit kepala. Pasien mengatakan sudah merokok 1-2 bungkus rokok/hari selama 15 tahun. Dan senang makan makanan yang berlemak dan bersantan. 2) Saat pengkajian: Orang tua pasien meninggal akibat serangan stroke yang sebelumnya diawali dengan tekanan darah tinggi. Hasil pengukuran TD: 180/100 mmHg , N: 90x/menit

b. Pengkajian kebutuhan psikososial Data subjektif: Pasien mengatakan sudah merokok 1-2 bungkus rokok/hari. Data tambahan: marah/emosi tidak stabil mudah lelah

27

Data objektif: 1. Orang tua pasien meninggal akibat serangan stroke 2. TD: 180/100 mmHg 3. N: 90x/menit Data tambahan:

c. Pengkajian sistem gastrointestinal Data subjektif: badan lemas, mata berkunang-kunang disertai sakit kepala

Data objektif: 1. TD: 180/100 mmHg 2. N: 90x/menit

d. Pengkajian kebutuhan nutrisi Data subjektif: senang makan makanan yang berlemak dan bersantan

Data tambahan: 1) sukar tidur 2) rasa mual/muntah 3) life style

Data objektif: 1) TD: 180/100 mmHg 2) N: 90x/menit Data tambahan:

e. Pengkajiansistem neurosensori Data subjektif: mata berkunang-kunang disertai sakit kepala


28

Data tambahan: 1) nyeri kepala berputar 2) rasa berat di tengkuk 3) telinga berdengung 4) gangguan penglihatan

Data objektif: 1) TD: 180/100 mmHg 2) N: 90 x/menit 3) Data tambahan: 1) Bising (bunyi nging) di telinga 2) Mimisan 3) Pingsan

2. Data fokus Data subjektif Badan lemas, mata kunang, disertai sakit kepala. Pasien mengatakan sudah merokok 12 bungkus rokok/hari selama 15 yang Hasil pengukuran 1. TD: 180/100 mmHg Data tambahan: marah/emosi tidak stabil mudah lelah nyeri kepala berputar rasa berat di tengkuk telinga berdengung Data tambahan: 2. N: 90x/menit tahun. Senang makan makanan berlemak dan bersantan. Data objektif berkunang- Hasis pengkajian: Orang tua pasien meninggal akibat serangan stroke yang sebelumnya diawali dengan

tekanan darah tinggi.

29

sukar tidur rasa mual/muntah life style

3. Analisa data NO 1 DATA FOKUS Data subjektif: Badan sakit kepala. Pasien merokok mengatakan 1-2 sudah bungkus lemas, MASALAH Peningkatan mata curah jantung disertai ETIOLOGI Peningkatan afterload, vasokontriksi PARAF

berkunang-kunang,

rokok/hari selama 15 tahun. Senang makan makanan yang berlemak dan bersantan.

Data objektif: 1. TD: 180/100 mmHg 2. N: 90 x/menit 2 Data subjektif: Pasien merokok rokok/hari. mengatakan 1-2 sudah bungkus Koping Metode koping tidak efektif

Data tambahan: marah/emosi tidak stabil mudah lelah

Data objektif: 1. Orang tua pasien akibat


30

meninggal

serangan stroke 2. TD: 180/100 mmHg 3. N: 90x/menit 3 Data subjektif: kunang disertai sakit kepala Intoleransi Kelemahan umum badan lemas, mata berkunang- aktivitas

Data objektif: 1. TD: 180/100 mmHg 2. N: 90x/menit 4 Data subjektif: senang makan makanan yang berlemak dan bersantan Nutrisi Pola monoton hidup

Data tambahan: sukar tidur rasa mual/muntah life style

Data objektif: 1. TD: 180/100 mmHg 2. N: 90x/menit

Data subjektif: mata disertai sakit kepala

Nyeri (akut), sakit Peningkatan tekanan vaskular serebral

berkunang-kunang kepala

Data tambahan: nyeri kepala berputar rasa berat di tengkuk

31

telinga berdengung gangguan penglihatan

Data objektif: 1. TD: 180/100 mmHg 2. N: 90 x/menit

Data tambahan: 1. Bising (bunyi nging) di telinga 2. Mimisan 3. Pingsan

B. Diagnosa Keperawatan NO 1 Diagnosa keperawatan Peningkatan curah jantung b.d peningkatan afterload, d.d dan TD: 28 maret 2013 N: 30 maret 2013 Tgl ditemukan Tgl teratasi Paraf

vasokontriksi 180/100 90x/menit 2 Intoleransi mmHg

aktivitas

b.d 30 maret 2013

kelemahan umun d.d badan 28 maret 2013 lemas dan mata berkunangkunang 3 Nyeri (akut), sakit kepala b.d peningkatan tekanan vaskular 28 maret 2013 serebral d.d TD: 180/100 mmHg dan sakit kepala 4 Nutrisi b.d pola hidup

30 maret 2013

monoton d.d senang makan 28 maret 2013 makanan yang berlemak dan

30 maret 2013

32

bersantan 5 Koping b.d metode koping tidak efektif d.d orang tua 28 maret 2013 pasien meninggal akibat 30 maret 13

serangan stroke

C. Intervensi Keperawatan NO No. Tujuan Dx 1 1 Hasil Tujuan: Setelah asuhan 3x24 dilakukan keperawatan jam masalah curah Mandiri: 1. Pantau TTV 2. Berikan lingkungan tenang nyaman 3. Pertahankan pembatasan Kriteria Hasil: 1. TD: mmHg 2. N: x/menit 60-100 130/80 aktivitas 4. Lakukan tindakantindakan nyaman 5. Anjurkan teknik relaksasi yang dan Mandiri: 1. Mengetahui perkembangan pasien 2. Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis, meningkatkan relaksasi 3. Menurunkan stress ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah Kolaborasi: Berikan obat sesuai 4. Mengurangi ketidaknyamana n dan dapat dan dan Kriteria Intervensi Rasional paraf

peningkatan

jantung dapat teratasi

indikasi, misalnya: a. Propanolol (Inderal) b. Metoprolol (Lopressor)

menurunkan rangsang simpatis 5. Membuat efek


33

c. Atenolol (Tenormin) d. Dll.

tenang, sehingga akan menurunkan TD

Kolaborasi: Kerja khusus obat ini bervariasi, tetapi secara umum menurunkan TD melalui efek kombinasi penurunan tahanan total perifer, curah mengkambat menurunkan jantung, aktivitas

simpatis dan menekan pelepasan renin 2 2 Tujuan: Setelah asuhan 3x24 dilakukan keperawatan jam masalah aktivitas Mandiri: 1. Kaji respons Mandiri: 1. Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologi terhadap aktivitas stress

pasien terhadap aktivitas 2. instruksikan pasien teknik penghematan energi 3. Berikan dorongan untuk tentang

intoleransi dapat teratasi

2. Membantu keseimbangan antara dan suplai kebutuhan

Kriteria Hasil: 1. Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/dipe rlukan

melakukan aktivitas secara bertahap 4. Berikan bantuan sesuai kebutuhan

oksigen 3. Kemajuan aktivitas bertahap

34

2. Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas

mencegah peningkatan kerja tiba-tiba 4. Mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas jantung

Tujuan: Setelah asuhan 3x24 nyeri teratasi dilakukan keperawatan jam (akut) masalah dapat

Mandiri: 1. Pertahankan baring fase akut 2. Berikan tindakan nonfarmakologi tirah selama

Mandiri: 1. Meminimal kan stimulasi / meningkatkan relaksasi 2. Efektif dalam

menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya 3. Menurunkan tekanan / vaskuler serebral yang

Kriteria Hasil: 1. Nyeri ketidaknyaman an hilang/terkontro l 2. Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan /

untuk menghilangkan sakit kepala 3. Hilangkan minimalkan aktivitas dapat meningkatkan sakit kepala

Kolaborasi: 1. Menurunkan mengontrol nyeri /

Kolaborasi: Berikan obat sesuai

2. Dapat mengurangi tegangan dan

indikasi, misalnya: 1. Analgesik 2. Antiansietas

ketidaknyamana n yang

35

diperberat oleh stress 4 4 Tujuan: Setelah asuhan 3x24 dilakukan keperawatan jam masalah Mandiri: 1. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi Mandiri: 1. Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya ateriosklerosis dan kegemukan, yang lebih

nutrisi dapat teratasi

masukan lemak, garam, dan gula Kriteria Hasil: 1. Menunjukkan perubahan pola hidup lebih baik 2. Melakukan / yang sesuai indikasi 2. Kaji ulang

memperburuk hipertensi 2. Membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk

masukan kalori harian pilihan diet 3. Dorong untuk mempertahanka n masukan pasien dan

mempertahanka n program yang secara

olahraga tepat

penyesuain 3. Membantu untuk memfokuskan perhatian faktor pada mana /

makananharian yang tepat 4. Instruksikan dan bantu memilih yang

individual

makanan tepat

pasien telah dapat mengontrol

Kolaborasi: Rujuk ke ahli gizi

perubahan 4. Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam

sesuai indikasi

36

mencegah perkembangan aterogenesis

Kolaborasi: Memberikan konseling dan bantuan dengan kebutuha

memenuhi diet individual 5 5 Tujuan: Setelah asuhan 3x24 dilakukan keperawatan jam masalah Mandiri: 1. Kaji keefektifan strategi dengan mengobservasi perilaku 2. Bantu Kriteria Hasil: Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan / metode koping efektif untuk mengidentifikasi stresor spesifik dan kemungkinan strategi untuk pasien koping Mandiri:

1. Mekanisme adaptif perlu

untuk mengubah pola seseorang 2. Pengenalan terhadap stresor adalah langkah pertama mengubah respons seseorang terhadap stresor 3. Memberikan pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan pasien dan memperbaiki keterampilan koping 4. Memfokuskan dalam hidup

koping dapat teratasi

mengatasinya 3. Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan 4. Dorong untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup

37

5. Bantu untuk

pasien

perhatian pasien pada realitas

mengidentifikasi dan memulai

situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien apa diinginkan 5. Perubahan yang perlu harus tentang yang

merencanakan perubahan hidup yang perlu.

diprioritaskan secara untuk menghindari rasa menentu tidak dan realistik

tidak berdaya.

D. Implementasi Keperawatan NO No. Dx 1 1 1. Kaji tanda-tanda vital 2. Memberikan lingkungan yang 1. TD: 130/80 mmHg N: 60-100 x/m 2. Stres dan ketegangan berkurang 3. Ketidaknyamanan berkurang Implementasi Evaluasi Paraf

tenang dan nyaman 3. Mempertahankan pembatasan aktivitas 4. Melakukan tindakantindakan yang nyaman 5. Mengajarkan relaksasi 2 2 1. Mengkaji pasien respons teknik

1. Pasien merespons

dapat dengan
38

2. Menginstruksikan pasien tentang teknik penghematan energi 3. Memberikan dorongan melakukan untuk aktivitas

baik 2. Antara suplai dan

kebutuhan

oksigen

dapat seimbang 3. Pasien melakukan dapat aktifitas

secara bertahap 4. Memberikan bantuan sesuai kebutuhan 3 3 1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut 2. Memberikan tindakan nonfarmakologi, mis: kompres pada dahi, pijat punggung dan leher, dll. 3. Menghilangkan meminimalkan aktivitas yang dapat meningkatkan kepala 4 4 1. Membicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi sakit /

secara mandiri

1. Nyeri, sakit berkurang 2. Nyeri

khususnya kepala

menurun

terkontrol

1. Pasien pentingnya

mengerti

membatasi makanan dengan kadar kalori dan lemak yang

masukan lemak 2. Mengkaji ulang

tinggi 2. Masukan makanan

masukan kalori harian dan pilihan diet 3. Mendorong untuk mempertahankan pasien

harian pasien dapat terkontrol 3. Pasien memilih mampu masukan

39

masukan

makanan

makanan yang tepat

harian yang tepat 4. Menginstruksikan dan membantu memilih yang tepat 5 5 1. Mengkaji keefektifan strategi koping, mis: kemampuan menyatakan perasaan dan keinginan berpartisipasi dalam perhatian, 1. Pasien dapat pasien makanan

menyatakan perasaan dan perhatian, dan berpartisipasi dalam perencanaan pengobatan 2. Pasien terlibat dalam perencanaan perawatan 3. Pasien mengevaluasi prioritas hidupnya. dapat

rencana pengobatan 2. Membantu untuk mengidentifikasi stesor spesifik 3. Melibatkan dalam pasien pasien

perencanaan

perawatan 4. Mendorong untuk prioritas hidup pasien

mengevaluasi / tujuan

E. Evaluasi Keperawatan No 1 Tanggal Diagnosa Evaluasi Paraf

30 maret Peningkatan curah jantung S: 2013 b.d peningkatan afterload, 1. Badan lemas, mata
40

vasokontriksi

d.d

TD:

berkunang-kunang, disertai kepala. 2. Pasien mengatakan sudah merokok 1-2 bungkus rokok/hari selama 15 tahun. 3. Senang makanan berlemak bersantan. makan yang dan sakit

180/100 mmHg dan N: 90 x/menit

O: 1. TD: mmHg 2. N: 90 x/menit 180/100

A: masalah teratasi P: intervensi dihentikan

30 maret Intoleransi 2013 kelemahan

aktivitas umum

b.d S: d.d 1. badan lemas, mata berkunang-kunang disertai kepala. sakit

badan lemas dan mata berkunang-kunang

O: 1. TD: mmHg 2. N: 90x/menit 180/100

A: masalah teratasi

41

P: intervensi dihentikan

30 maret Nyeri (akut), sakit kepala S: 2013 b.d peningkatan tekanan vaskular serebral d.d TD: 180/100 mmHg dan sakit kepala Data tambahan: 1. nyeri berputar 2. rasa tengkuk 3. telinga berdengung 4. gangguan penglihatan berat di kepala 1. mata kunang berkunangdisertai

sakit kepala.

O: 1. TD: mmHg 2. N: 90 x/menit 180/100

Data tambahan: 1. Bising (bunyi nging) di telinga 2. Mimisan 3. Pingsan

A: masalah teratasi P: intervensi dihentikan

30 maret Nutrisi b.d pola hidup S: 2013 monoton makan d.d makanan senang yang 1. senang makanan makan yang

42

berlemak dan bersantan

berlemak bersantan

dan

Data tambahan: 1. sukar tidur 2. rasa mual/muntah 3. life style

O: 1. TD: mmHg 2. N: 90x/menit 180/100

A: masalah teratasi P: intervensi dihentikan

30 maret Koping b.d metode koping S: 2013 tidak efektif d.d orang tua pasien meninggal akibat serangan stroke 1. Pasien mengatakan sudah merokok 1-2 bungkus rokok/hari.

Data tambahan: 1. marah/emosi tidak stabil 2. mudah lelah

O: 1. Orang tua pasien meninggal akibat

serangan stroke 2. TD: 180/100

43

mmHg 3. N: 90x/menit

A: masalah teratasi P: intervensi dihentikan

44

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Hipertensi atau tekanan darah tinggi, adalah meningkatnya tekanan darah atau kekuatan menekan darah pada dinding rongga di mana darah itu berada. Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda, paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari. Penyakit Hipertensi merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang mana dapat dihadapi baik itu dibeberapa negara yang ada didunia maupun di Indonesia. Cara mengatur diet untuk penderita hipertensi adalah dengan memperbaiki rasa tawar dengan menambah gula merah/putih, bawang (merah/putih), jahe, kencur dan bumbu lain yang tidak asin atau mengandung sedikit garam natrium. Makanan dapat ditumis untuk memperbaiki rasa. Membubuhkan garam saat diatas meja makan dapat dilakukan untuk menghindari penggunaan garam yang berlebih. Dianjurkan untuk selalu menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam jangan lebih dari 1 sendok teh per hari.

B. Saran 1) Mahasiswa lebih memahami tentang anfis jantung dan apa itu hipertensi, karena sangat dibutuhkan untuk pemberian tindakan keperawatan. 2) Mahasiswa menerapkan proses keperawatan dalam melakukan tindakan keperawatan

45

DAFTAR PUSTAKA

46