Você está na página 1de 110

i

MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


DI RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)
SMA NEGERI 1 MALANG
SKRIPSI
Oleh:
AGUS FAIZIN EL-NUR
NIM. 06110203
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
JULI, 2010
ii
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)
SMA NEGERI 1 MALANG
Diajukan Untuk Menyusun Skripsi Pada Program Strata Satu (S-1)
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
SKRIPSI
Oleh:
AGUS FAIZIN EL-NUR
NIM. 06110203
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
JULI, 2010
iii
HALAMAN PERSETUJUAN
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI
RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)
SMA NEGERI 1 MALANG
SKRIPSI
OLEH
AGUS FAIZIN EL-NUR
NIM. 06110203
Telah Disetujui Oleh:
Dosen Pembimbing
Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 194407121964101001
Tanggal, 20 Juli 2010
Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
Drs. Moh. Padil, M.Pd I.
NIP. 196512051994031003
iv
HALAMAN PENGESAHAN
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI)
SMA NEGERI 1 MALANG
SKRIPSI
Panitia Ujian Tanda Tangan
Ketua Sidang
Prof.Dr. H. M. Djunaidi Ghony :
NIP. 194407121964101001
Sekretaris Sidang
Marno, M.Ag :
NIP. 197208222002121001
Pembimbing
Prof.Dr. H. M. Djunaidi Ghony :
NIP. 194407121964101001
Penguji Utama
Drs. H.M. Farid Hasyim, M.Ag :
NIP. 196712201998031002
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
Dr. H. M. Zainuddin, MA
NIP. 19620507 199503 1 001
v
MOTTO
' _`
) (
Nabi S.A.W mengajari kami dengan memilih hari (waktu) yang tepat, sehingga
kami tidak merasa bosan
(HR. Bukhori)
vi
Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Skripsi Agus Faizin El-Nur Malang, 20 Juli 2010
Lamp : 5 (Lima) Eksemplar
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN MALIKI Malang
Di
Malang
Assalamualaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun
tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi tersebut di bawah ini:
Nama : Agus Faizin El-Nur
NIM : 06110203
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Rintisan
Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang
maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Pembimbing,
Prof Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 194407121964101001
vii
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu
perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya
atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Malang, 13 Juli 2010
Agus Faizin El-Nur
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan Skripsi ini dengan judul MODEL
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Di RINTISAN
SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) SMA Negeri 1
Malang) dengan tepat waktu.
Shalawat dan salam, barokah yang seindah-indahnya, mudah-mudahan
tetap terlimpahkan kepada Rasulullah SAW. yang telah membawa kita dari
alam kegelapan dan kebodohan menuju alam ilmiah yaitu Dinul Islam.
Penulisan Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Islam
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan sebagai wujud
serta partisipasi penulis dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan ilmu-
ilmu yang telah penulis peroleh selama di bangku kuliah.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan Skripsi ini,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, perkenankan
penulis menyampaikan terima kasih kepada:
ix
1. Ayahanda dan Ibunda tercinta, yang jasanya tidak dapat dinilai dengan
apapun yang telah memeras keringat siang malam dan membimbing
penulis menjadi orang yang berbakti dan berakhlak mulia.
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam
Negeri Malang
3. Bapak Dr. M. Zainuddin, MA. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang
4. Bapak Drs. Moh. Padil, M.Pd I. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam Universitas Islam Negeri Malang
5. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony selaku dosen pembimbing, yang
telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini.
6. KH Ahmad Chusaini beserta keluarga sebagai pengganti orang tua yang
selalu sabar membimbing dan membina penulis tanpa tanda jasa.
7. Bapak Drs. Moh. Sulthon, M. Pd, selaku Kepala SMA Negeri 1 Malang
yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di
lembaga yang beliau pimpin.
8. Bapak Drs. Junaidi M.A; Bapak Drs. Mansur, M.Ag dan Ibu Mukarramah,
S.Ag selaku GPAI di SMA Negeri 1 Malang yang telah banyak
membimbing dan membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian.
9. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah, yang
telah banyak memberikan ilmu kepada penulis sejak berada di bangku
kuliah.
x
10. Gus-gus dan Neng-neng HTQ yang tiada henti-hentinya menberikan
semangat dan doa demi kelancaran dalam menyelesaikan skripsi ini.
11. Special buat sahabat-sahabatku di Faraby kamar 32 yang tiada habisnya
mengganggu namun juga memberikan bantuan doa, motivasi dan
masukan-masukan sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi dengan
penuh kenangan.
12. Para Santriwan dan Santriwati PPTQ Raudhatussalihin Wetan Pasar yang
selalu mengingatkandan mendoakan penulis.
13. Adik-adikku (Levy, Yusuf, Intan, Ayu, Firoh) yang menjadi motivasi
untuk cepat menyelesaikan skripsi.
14. Semua pihak yang telah membantu terselesainya Skripsi ini, yang tidak
bisa penulis sebutkan satu persatu
Semoga Allah SWT. melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita
semua. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dunia ini tidak ada yang
sempurna. Begitu juga dalam penulisan Skripsi ini, yang tidak luput dari
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, dengan segala ketulusan dan
kerendahan hati penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
konstruktif demi penyempurnaan Skripsi ini.
Malang, 20 Juli 2010
Penulis,
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Bimbingan Skripsi
Lampiran 2 : Bukti Konsultasi
Lampiran 3 : Surat izin Penelitian dari Fakultas Tarbiyah
Lampiran 4 : Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan Kota Malang
Lampiran 5 : Surat Keterangan Penelitian dari SMA Negeri 1 Malang
Lampiran 6 : Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Malang
Lampiran 7 : Daftar Guru SMA Negeri 1 Malang
Lampiran 8 : Daftar Karyawan SMA Negeri 1 Malang
Lampiran 9 : Daftar Jumlah Siswa SMA Negeri 1 Malang
Lampiran 10 : Denah Ruang SMA Negeri 1 Malang
Lampiran 11 : Pedoman Wawancara
Lampiran 12 : Daftar Riwayat Hidup
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................. i
HALAMAN PENGAJUAN ....................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. v
HALAMAN MOTTO ................................................................................ vi
HALAMAN NOTA DINAS ....................................................................... vii
HALAMAN PERNYATAAN .................................................................... viii
KATA PENGANTAR ................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. x
DAFTAR ISI .............................................................................................. xi
HALAMAN ABSTRAK ............................................................................ xii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 7
C. Tujuan Penelitian ...................................................................... 7
D. Manfaat Penelitian .................................................................... 8
E. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................ 8
F. Penegasan Istilah ...................................................................... 9
G. Sistematika Pembahasan ........................................................... 11
xiii
BAB II KAJIAN TEORI ........................................................................ 14
A. Tinjauan tantang Pendidikan Agama Islam ............................... 14
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ................................... 14
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam ........................................ 16
3. Fungsi Pendidikan Agama Islam ......................................... 19
4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ........................... 21
B. Tinjauan tentang Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
(RSBI).............................................................. ........................... 25
1. Pengertian Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
(RSBI)....................................................... ............................ 25
2. Dasar Hukum Penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI) ........................................................... 26
3. Visi, Misi dan Tujuan Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI) ........................................................... 28
4. Karakteristik Rintisan Sekolah Bertaraf Internaional (RSBI)
............................................................................................ 29
5. Perencanaan Program Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional ....................................................................... 32
C. Tinjauan tentang Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
Rintisan Sekolah Bertaraf Internaional (RSBI) .......................... 33
1. Pengertian Model Pembelajaran .......................................... 33
2. Karakteristik Model Pembelajaran ..................................... 37
3. Fungsi Model Pembelajaran ................................................ 38
xiv
4. Penerapan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) .................. 39
5. Jenis-Jenis Model Pembelajaran yang Dapat Diterapkan Dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam .............................. 42
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 48
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian .......................................... 48
2. Kehadiran Peneliti .............................................................. 49
3. Lokasi Penelitian ................................................................ 50
4. Data dan Sumber Data ........................................................ 51
5. Teknik Pengumpulan Data .................................................. 52
6. Teknik Analisis Data .......................................................... 53
7. Penecekan Keabsahan Data ................................................ 54
8. Tahap-Tahap Penelitian ...................................................... 56
BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN ........................................... 58
A. Latar Belakang Objek................................................................. 58
1. Sejarah Singkat SMA Negeri 1 Malang .............................. 58
2. Visi dan Misi SMA Negeri 1 Malang .................................. 60
3. Stuktur Organisasi SMA Negeri 1 Malang........................... 62
4. Daftar Guru, Karyawan, dan Siswa SMA Negeri 1 Malang.. 62
5. Denah Ruang SMA Negeri 1 Malang .................................. 63
B. Paparan Hasil Penelitian ............................................................ 63
1. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Rintisan
Sekolah Bertaraf Internasional ............................................ 63
xv
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Model
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Rintisan Sekolah
Bertaraf Internasional ......................................................... 74
BAB V ANALISIS HASIL PENELITIAN............................................ 81
A. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Rintisan
Sekolah Bertaraf Internasional ................................................. 81
B. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Model Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) di Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang ............................ 86
BAB VI PENUTUP .................................................................................. 89
A. Kesimpulan ............................................................................. 89
B. Saran ....................................................................................... 91
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xvi
ABSTRAK
El-Nur, Agus Faizin. 2010. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(PAI) di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMA Negeri 1
Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah,
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (MALIKI) Malang,
Pembimbing: Prof. Dr. H. Djunaidi Ghony
---------------------------------------------------------------------------------------------------
----
Era globalisasi telah merambat dalam semua sektor kehidupan, termasuk juga
dalam dunia pendidikan yang semakin menguatkan persaingan global. Hal
inilah yang mendorong upaya dunia pendidikan untuk meningkatkatkan
kualitas SDM dengan menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas sehingga
melahirkan lulusan yang berkualitas pula dan siap bersaing dalam lingkup
nasional maupun internasional. Ini dapat dicapai melalui perbaikan institusi
dengan menyelenggarakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang
lulusanya dibekali dengan pegetahuan & teknologi serta diperkuat dengan
pengetahuan tentang pendidikan agama Islam (PAI) sebagai penyeimbangnya.
Tentunya, dalam penerapanya dibutuhkan sebuah model pembelajaran
pendidikan agama Islam yang kreatif, inovatif, pro-perubahan, mampu
menumbuh kembangkan potensi lulusan mulai dari ranah kognitif, afektif dan
psikomotoriknya yang tentunya merupakan tangungjawab besar dan berat.
Berangkat dari permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji tentang
Model pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) di rintisan sekolah
bertaraf internasional (RSBI) di SMA Negeri 1 Malang yang meliputi
bagaimana penerapan model pembelajaran pendidikan agama Islam di RSBI
dan faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan model
pembelajaran PAI di RSBI di SMA Negeri 1 Malang. Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan model yang diterapkan seorang
xvii
guru dalam pembelajaran pendikan agama Islam (PAI) di rintisa sekolah
bertaraf internsional (RSBI) di SMA Negeri 1 Malang sekaligus
mendeskripsikan tentang faktor pendukung dan penghambatnya.
Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi, wawancara dan
dokumentasi. Informannya adalah tiga guru pendidikan agama Islam(GPAI)
yang ada dan ketua penyelenggara RSBI. Sedangkan untuk menganalisis data
menggunakan teknis analisis deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan dan
menginterpretasikan data yang telah dapat sehingga menggambarkan realitas
yang sebenarnya sesuai dengan fenomena yang ada.
Hasil penelitian di lapangan menunjukan bahwasanya 1)Penerapan model
pemebelajaran pendidikan agama Islam (PAI) di rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) di SMA Negeri 1 Malang malakukan pendekatan yang
lebih bersifat kontekstual, lebih sering menggunakan metode diskusi kelas
yang dikolaborasikan dengan tanya jawab, dan penugasan, didukung dengan
media power point yang dibuat dan dikembangkan sendiri oleh siswa. Guru
hanya berperan fasilitator yang mengawasi, memotivasi, dan meluruskan serta
memilih model yang paling sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan
sesuai dengan kemampuan siswa. 2) Faktor pendukung penerapan model
pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) di rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) di SMA Neger 1 adalah kelengkapan sarana dan
prasarana, penguasaan siswa terhdap teknologi yang menunjang pembelajaran,
tenaga pengajar yang professional, lingkungan yang kondusif, dan IQ siswa di
atas rata-rata karena melalui jalus seleks. Sedangkan faktor penghambatnya
adalah latar belakang pendidikan siswa yang heterogen yang menyulitkan
dalam pengelompokan siswa, adanya siswa yang tidak bisa shalat dan baca
tulis Al-Quran, adanya siswa non-muslim karena basis sekolah merupakan
sekolah umum, mayoritas siswanya merupakan anak keluarga berada dan
minim pengetahuan agama sehingga lebih tertarik pada pelajaran yang
bercorak sains.
xviii
Kata kunci: Model Pembelajaran, Pendidkan Agama Islam (PAI), Rintisan
Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Era globalisasi telah merambat dalam semua aspek kehidupan, termasuk
juga dalam dunia pendidikan. Hal inilah yang mendorong dunia pendidikan
untuk melakukan berbagai upaya yang berorientasi pada kompetensi lulusan
yang siap bersaing dalam era globalisasi. Adapun upaya-upaya tersebut dapat
dilakukan melalui perbaikan mutu sumber daya manusia (SDM) melalui
peningkatan mutu pendidikan. Perbaikan mutu difokuskan pada perbaikan
institusi sekolah sebagai basis pendidikan, baik manajemenya, sumber daya
manusia serta sarana dan prasarananya.
1
Sudah semestinya pendidikan di Indonesia pada era globalisasi dituntut
untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul pada bidang
pengetahuan serta mampu bersaing di dunia teknologi juga punya jiwa
kebangsaan yang tinggi serta mampu mengamalkan nilai-nilai agama,
sehingga di manapun keberadaanya selalu memberikan karya terbaik bagi
bangsa dan negaranya serta tidak menyalahi aturan agama. Teknologi
komunikasi dan informasi yang begitu pesat rasanya memang tidak
menjadikan perdebatan bila perkembangan ini diikuti dengan mendirikan
rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di Indonesia. Pendidikan dan
pelatihan serta pengelolaan manajemen adalah suatu yang sangat dibutuhkan
1
Ahmad Barizi (Ed), Holistika Pemikiran Pendidikan Islam;Ahmad Malik Fadjar (Jakatra: PT
Rajagrafindo Persada, 2005), hal. 68
2
sehubungan menjelang tahun 2020 perkonomian Indonesia akan berubah dan
berkembang ke arah perekonomian global, yang diikuti dengan perubahan
arah perusahaan dan industri harus berkembang sesuai dengan tuntutan
global, sehingga diperlukan pengembangan sumber daya manusia melalui
pendidikan dan pelatihan yang mampu memenuhi dan mengimbangi
kebutuhan lokal, regional maupun internasional.
2
Direktur Jenderal Mandikdasmen dan Direktur Pembinaan SMA
Direktorat tidak mengharapkan ada persepsi yang berat sebelah antara, RSBI,
kelas akselerasi, atau kelas reguler. Anggapan ini membuat masyarakat
seakan-akan merasa yang namanya RSBI adalah sekolah internasional.
Sebenarnya kurikulum dalam RSBI adalah kurikulum nasional, yaitu KTSP
yang harus ada nilai X plusnya, nilai X plus inilah yang harus dicari jika
ingin menjadikan sekolah itu mempunyai kurikulum yang standarnya
internasional. Kita bisa menggunakan kurikulum negara-negara OECD,
tetapi sebelum ke internasional, terlebih dahulu menggunakan kurikulum
nasional. Forum ini sangat penting dan fasilitator-fasilitator itu membuat
program tahun 2009-2010 agar pembinaan teknis yang diberikan oleh mereka
intensif dan efektif, khusus untuk SMA-SMA RSBI. Sedangkan pembinaan
bagi sekolah yang bukan rintisan tidak melalui fasilitator. Tetapi pada
2
,( http://Indosdm.Com/Workshop Pengelolaan Rintisan SMA Bertaraf Intrnasional , diakses
pada 11 Nopember 2009).
3
prinsipnya hampir sama. Sebenarnya RSBI hampir sama dengan SSN, hanya
saja dalam prosesnya bagaimana peningkatan mutu itu bisa dipercepat.
3
Keinginan melakukan penyelenggaraan rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) dilatarbelakangi oleh tiga alasan yaitu (1) kebutuhan
sumber daya manusia (SDM) di era global, (2) adanya dasar hukum yang
kuat, dan (3) landasan filosofi eksistensialisme dan esensialisme
(fungsionalisme).
4
Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam
teknologi, manajemen dan sumberdaya manusia. Keunggulan teknologi akan
menurunkan tingkat kegagalan, meningkatkan kandungan nilai tambah,
memperluas keragaman model pembelajaran, dan meningkatkan mutu
pendidikan. Keunggulan manajemen akan meningkatkan efektivitas dan
efisiensi. Keunggulan SDM merupakan kunci daya saing karena SDM yang
akan menentukan siapa yang mampu menjaga kelangsungan hidup,
perkembangan, dan kemenangan dalam persaingan.
5
Penyelenggaraan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) didasari
filosofi eksistensialisme dan esensialisme (fungsionalisme). Filosofi
eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan dan
mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas
yang tersedia yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat,
pro-perubahan, kreatif, inovatif, menumbuhkan dan mengembangkan bakat,
minat, dan kemampuan peserta didik. Filosofi eksistensialisme berpandangan
bahwa dalam proses belajar mengajar, peserta didik harus diberi perlakuan
secara maksimal untuk mengaktualkan, mengeksiskan, menyalurkan semua
potensinya, baik potensi (kompetensi) intelektual (IQ), emosional (EQ), dan
spiritual (SQ). Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus
berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik kebutuhan individu, keluarga,
maupun kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik lokal,
nasional, maupun internasional. Terkait dengan tuntutan globalisasi,
pendidikan harus menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu
bersaing secara internasional. Dalam mengaktualkan kedua filosofi tersebut,
empat pilar pendidikan, yaitu: learning to know, learning to do, learning to
live together, and learning to be merupakan patokan berharga bagi
3
Departemen Pendidikan Nasional. Sistem Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional
(RSBI) untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional 2006).
http://Indosdm.Com/Sekolah-Nasional-Bertaraf-Internasional, diakses pada 11 Nopember 2009).
4
Ibid.,
5
Ibid.,.
4
penyelarasan praktek-praktek penyelenggaraan pendidikan di Indonesia,
mulai dari kurikulum, guru, proses belajar mengajar, sarana dan prasarana,
hingga sampai penilainya.
6
Namun ada juga hal yang lebih penting yakni mengenai pengamalan
nilai-nilai agama yang merupakan rem bagi kencangnya arus globalisasi juga
harus menjadi perhatian. Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah
Muslim sangat berpengaruh terhadap penetapan kebijakan dalam pendidikan
Islam. Oleh karena itu, untuk menanamkan pendidikan agama kepada siswa
sangat diperlukan.
Dalam mentransfer pengetahuan agama kepada siswa dibutuhkan adanya
model atau metode pembelajaran agar para siswa mampu menangkap pesan
yang hendak disampaikan. Model pembelajaran merupakan suatu rencana
mengajar yang memperhatikan pola pembelajaran tertentu. Model
Pembelajaran berkembang sesuai dengan perkembangan peserta didik. Guru
yang profesional dituntut untuk mengembangakan dan menguasai model
pembelajaran, baik teori maupun praktek, yang meliputi aspek-aspek, prinsip,
konsep, dan teknik. Memilih model yang tepat merupakan kunci dalam
membantu peserta didik mencapai keberhasilan pada proses pembelajaran.
Jika dalam menggunakan model pembelajan seorang guru memandangnya
sebagai strategi hendaknya memperhatikan lima aspek kunci pembelajaran
6
Kir Haryana, Konsep Sekolah Bertaraf Internasional (artikel). Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Pertama, 2007, hal 37 (http://id. Wikipedia Org/wikipedia.Org/wiki/Sekolah-
/Bertaraf/Internasional, diakses 11Maret 2010).
5
yang efektif, yaitu: (1) kejelasan, (2) variasi, (3) orientasi tugas, (4)
keterlibatan siswa dalam belajar dan (5) pencapaian kesuksesan yang tinggi.
7
Dalam mengajarkan suatu konsep atau materi tertentu, tidak ada suatu
model yang lebih baik dari model pembelajaran lainya. Berarti setiap model
yang digunakan harus disesuaikan dengan konsep yang lebih cocok dan dapat
dipadukan dengan model pembelajaranyang lainya untuk meningkatkan hasil
belajar siswa. Oleh karena itu, dalam sebelum menentukan model
pembelajaran yang digunakan harus memiliki pertimbangan-pertimbangan,
seperti: materi pelajaran, jam pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa,
lingkungan belajar, dan fasilitas penunjang yang tersedia, sehingga tujuan
pembelajaran yang digunakan dapat tercapai.
8
Model pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru, harus sesuai
dengan kondisi siswa. Ini akan berpengaruh pada pemahaman mereka
terhadap materi yang diajarkan. Terlebih mengajarkan pengetahuan agama
Islam pada sekolah yang bertaraf internasional dengan sekolah yang
berstandar nasional atau bahkan di bawahnya pastilah berbeda. Selain itu
juga paradigma pendidikan di era modern telah mengalami pergeseran yang
semula berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid
(student centered); metodelogi yang semula lebih didominasi ekspositori
berganti partisipatori; dan pendekatan yang mulanya bersifat tekstual beralih
7
Salamah. Pengembangan Model Pembelajaran Terpadu Bidang Studi Pendidikan Agama
Islam Untuk Meningkatkan Akhlak Pada Siswa SMU di Banjarmasin (Tesis Pascasarjana UPI
Bandung: Tidak Diterbitkan,2004), (http://www.docstoc.com/docs/21127375, diakses pada 11
Maret 2010).
8
Triatno, Model PembelajaranTerpadu dalam teori dan praktek (Jakarta: Prestasi Pustaka,
2007) hal. 3.
6
menjadi pendekatan kontekstual. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan model
pembelajaran yang lebih berbasis pada peserta didik seperti problem based
learning, interaktif Learning, cooperative learning, CBSA, Penugasan dan
sebagainya.
9
Proses belajar mengajar PAI terutama di sekolah-sekolah umum (SMA)
kurang berjalan secara optimal, sehingga peranya yang begitu penting bagi
pembentukan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta
akhlak mulia belum dapat dicapai secara efektif. Adapun hal-hal yang
menyebabkanya adalah:
1. Pendidikan agama Islam selama ini kurang menyesuaikan pendekatan
yang digunakan kepada siswa dengan tujuan yang hendak dicapai,
sehingga siswa tidak mampu menangkap pesan dengan baik.
2. Materi pembelajaran PAI lebih banyak bersifat teori, terpisah-pisah,
terisolasi, kurang terkait dengan mata pelajaran yang lain bahkan
dengan sub mata pelajaran PAI itu sendiri, baik itu unsur Al-Quran,
Fiqih, Akhlak, Sejarah Islam (Tarikh) yang disajikan sendiri-sendiri.
3. Model pembelajaran bersifat konvensional yakni lebih menekankan
pada pengayaan pengetahuan kognitif (pada tingkat yang rendah) dan
pada pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik),
sehingga pendidikan agama Islam yang bertujuan membentuk siswa
yang memiliki pengetahuan tentang agama Islam dan mampu
mengaplikasikanya dalam bentuk akhlak mulia belum dapat tercapai.
10
Adapun upaya untuk mengkaji kembali pelaksanaan pendidikan agama
Islam terutama di lembaga formal dirasa semakin mendesak jika dikaitkan
dengan permasalahan yang terjadi di lapangan, seperti: (1) krisis akhlak yang
ditandai dengan maraknya aksi kejahatan, baik itu tawuran antar pelajar,
penyalah gunaan narkotika dll, (2) adanya krisis kepercayaan yang memicu
keteganggan, yang terus mengalami peningkatan setiap tahunya.
11
9
Abuddin Nata, Perspektif Islam Terhadap Strategi Pembelajaran. (Jakarta: Kencana, 2009)
hlm, 23.
10
Ibid., hal. 1
11
Isnia. Output Pendidikan Mengancam Masa Depa. (Republika,
2000.http://www.republika.co.id. 2000, diakses 11 Februari 2010).
7
Dengan diselenggarakanya pendidikan agama Islam di sekolah secara
baik, diharapkan tindakan-tindakan kejahatan tersebut dapat dihindari, atau
paling tidak dapat dikurangi. Ini dapat dicapai apabila dalam penerapan
pembelajaran pendidikan agama Islam menggunakan model ataupun strategi
yang bervariasi, sehingga dengan usaha tersebut akan menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan yang dapat ditangkap dengan baik oleh
peserrta didik.
Berawal dari permasalahan di atas maka Peneliti tertarik untuk meneliti
mengenai model pembelajaran yang diterapkan dalam rintisan sekolah
bertaraf internasional (RSBI). Untuk itu peneliti mengambil judul tentang
Model pembelajaran pendidikan agama Islam di rintisan sekolah
bertaraf internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti memfokuskan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana model pembelajaran agama Islam yang diterapkan di rintisan
sekolah bertaraf internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang?
2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat penerapan model
pembelajaran pendidikan agama Islam di rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang?
C. Tujuan Penelitian
Dengan memperhatikan permasalahan di atas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah:
8
1. Untuk mendiskripsikan model pembelajaran pendidikan agama Islam yang
diterapkan di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di SMA
Negeri 1 Malang.
2. Untuk mendiskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam
penerapan model pembelajaran agama Islam di rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang
D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian tersebut diatas, diharapkan penelitian ini berguna bagi
beberapa pihak, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menambah wawasan dalam menghadapi
tantangan dalam dunia pendidikan.
2. Bagi Lembaga, bahwasanya RSBI adalah program yang masih baru
sehingga diharapkan dari penelitian ini memberikan manfaat yang besar
dalam mengantarkan RSBI menjadi SBI.
3. Bagi almamater Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN
MALIKI) Malang, untuk dapat menambah pembendaharaan kepustakaan,
terutama bagi Pendidikan Agama Islam.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam kegiatan pembelajaran, ada beberapa istilah yang memiliki
kemiripan arti atau makna yang dapat membingungkan pembaca,
diantaranya: pendekatan pembelajaran, strategi, metode, teknik, taktik dan
model pembelajaran.
9
Dalam kenyataanya, gejala sosial atau permasalahan yang terjadi di
lapangan sangat beragam, sehingga menyulitkan peneliti untuk mengamati
semua gejala atau perasalahan tersebut. Identifikasi masalah yang telah
disebutkan di atas tidak semua permasalahan tersebut diuraikan dalam
pembahasan skripsi ini, hal tersebut mengingat terbatasnya waktu dan tenaga,
oleh karena itu penulis membatasi berbagai persoalan yang erat kaitannya
dengan judul. Namun, apabila ada uraian lain yang disisipkan pada
pembahasan skripsi ini hanya sebagai pelengkap untuk menjelaskan pokok
permasalahan yang berkaitan dengan judul. Adapun permasalahan yang akan
dibahas dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Model pemebelajaran pendidikan agama Islam yang diterapkan oleh
seorang guru di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) SMA
Negeri 1 Malang, termasuk gaya mengajar dan pendekatan yang
digunakan oleh guru sehingga mengambarkan bentuk sebuah model
pembelajaran secara utuh.
2. Faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan model
pembelajaran pendidikan agama Islam di rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) SMA Negeri Malang.
F. Penegasan Istilah
Dalam penelitaian ini, penulis berusaha memberikan gambaran tentang
judul yang disajikan oleh penulis, yakni mengenai model pembelajaran
pendidikan agama Islam di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).
10
Secara terperinci penulis memberikan definisi dari sejumlah poin yang dirasa
dapat mewakili untuk memahami dari apa yang penulis sajikan, diantaranya:
Model Pembelajaran Menurut Arends dan Joyce
Model Pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di
kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu
pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di
dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan
pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Dalam pendapat lain, Joyce mengatakan bahwa setiap model
mengarahkan kita dalam merancang pembelajaran untuk membantu
peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
12
Pendidikan Agama Islam Menurut Zakiyah Daradjat,
Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan
mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam
secara menyeluruh. Kemudian menghayati tujuan, yang pada akhirnya
dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan
hidup
13
.
Sedangkan menurut Muhaimin,
Pendidikan agama Islam adalah sebuah usaha yang sadar dan
terencana, yang memerlukan kesiapan matang dari guru, karena PAI
adalah sebuah bentuk pembelajaran di mana bahan yang dipelajari
selalu lekat dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat
14
12
Triatno, op.cit., hlm. 1
13
Abd. Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi:Konsep dan
Imlementasi Kurikulum 2004, (Bandung: PT Rosdakarya, 2004), hlm. 130
14
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Di Sekolah, Madrasah,
dan Perguruan Tinggi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 16
11
Rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) merupakan sekolah
nasional dengan standar mutu internasional. Proses belajar mengajar
di sekolah ini menekankan pengembangan daya kreasi, inovasi, dan
eksperimentasi untuk memacu ide-ide baru yang belum pernah ada.
15
Dengan beberapa pengertian di atas, yang dimaksud dengan model
pembelajaran pendidikan agama Islam di rintisan sekolah bertaraf
internasional (RSBI) adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang
secara sadar digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah nasional yang bertaraf
mutu internasional dengan penuh inovasi dan kreasi dalam mengantarkan
peserta didik mencapai tujuanya.
G. Sistematika Pembahasan
Dalam penulisan skripsi ini, secara keseluruhan terdiri dari lima bab,
yang masing-masing bab disusun dalam sistematika sebagai berikut:
BAB I yang merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang
lingkup pembahasan, penegasan istilah dan sistematika pembahasan
Sedangkan BAB II merupakan kajian teoritis, dalam kajian teoritis ini
terbagi menjadi dua sub bab, yaitu sub bab A membahas tentang model
pembelajaran yang mencakup pengertian model pembelajaran, dan ciri-ciri
model pembelajaran. Sub bab B membahas tetang pendidikan agama Islam
(PAI) yang mencakup pengertian pendidikan agama Islam (PAI), tujuan
15
http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Bertaraf_Internasional, diakses pada 11 maret 2010.
12
pendidikan agama Islam (PAI), ruang lingkup pendidikan agama Islam (PAI),
dan juga fungsi pendidikan agama Islam (PAI). Sub bab C membahas tentang
rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang meliputi pengertian
rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), karakteristik rintisan sekolah
bertaraf internasional (RSBI). Sub bab D yang membahas tentang model
pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) yang mencakup tentang
pengertian model pebelajaran (PAI), macam-macam model pembelajaran
pendidikan agama Islam (PAI).
Begitu juga dengan BAB III yang merupakan metode penelitian yang
mencakup pendekatan dan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, lokasi
penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data,
pengecekan keabsahan data, serta tahap-tahap penelitian.
Untuk BAB IV yang merupakan hasil penelitian, pada bab ini terdapat
dua sub bab, yaitu sub bab A yang membahas tentang gambaran umum SMA
Negeri 1 Malang. Sedangkan pada sub B menjelaskan tentang paparan data
hasil penelitian tentang model pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) di
rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang.
Sedang untuk BAB V yang merupakan pembahasan hasil penelitian,
dalam bab ini membahas mengenai hasil penelitian dari bab empat secara
eksplisit dengan menghubungkan dengan teeori yang ada terkait dengan
model pembelajaran pendidikan agama Islam sekaligus faktor pendukung dan
penghambatnya.
13
Terakhir adalah BAB VI yang meupakan penutup, yang terdiri dari
Kesimpulan dan Saran.
Dalam segmen ini peneliti akan menyimpulkan hal-hal yang
berhubungan dengan hasil penelitian. Kemudian akan dipaparkan tentang
saran-saran yang merupakan wujud dari tawaran pemikiran alternatif.
Daftar Rujukan
Lampiran
14
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Tinjauan Tentang Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)
Di dalam GBPP SLTP dan SMU mata pelajaran pendidikan agama Islam
kurikulum tahun 1944, dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan
agama Islam adalah: usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam
meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan dengan memperhatikan
tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar
umat beragama dalam masyarakat untuk mwujudkan persatuan nasional.
16
Menurut Zakiyah Daradjat pendidikan agama Islam adalah suatu usaha
untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami
ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya
dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.
17
Esensi dari pendidikan adalah adanya proses transfer nilai, pengetahuan,
dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda agar generasi muda
mampu hidup. Oleh karena itu ketika kita menyebut pendidikan agama Islam,
maka akan mencakup dua hal, yaitu : (a) Mendidik siswa untuk berperilaku
16
Muhaimin, dkk. Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media, 1996), hlm.1
17
Abd. Majid dan Dian Andayani, op.cit., hlm 130.
15
sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam; (b) Mendidik siswa-siswi untuk
mempelajari materi ajaran agama Islam.
18
Ahmad Tafsir, mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah
bimbingan yang diberikan seseorang terhadap orang lain agar dia
berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.
19
Abdurr-Rahman Shaleh berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah
merupakan pengembangan pikiran, penataan prilaku, pengaturan emosional,
baik formil atau materiel hubungan peranan manusia dengan dunia ini, serta
bagaimana manusia mampu memanfaatkan dunia sehingga mampu meraih
tujuan kehidupan sekaligus mengupayakan meluaskan pengetahuan dan
pandangan anak dalam kehidupan.
20
Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu :
1) Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai usaha sadar, yakni suatu
kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan yang dilakukan secara
berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
2) Peserta didik yang hendak disiakan untuk mencapai tujuan; dalam arti
ada yang dibimbing, diajari dan/atau dilatih dalam peningkatan
keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran
agama Islam.
3) Pendidik atau guru pendidikan agama Islam (GPAI) yang melakukan
kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan secara sadar terhadap
peserta didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam (PAI).
4) Kegiatan (pembelajaran) pendidikan agama Islam (PAI) diarahkan untuk
meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan
ajaran agama Islam dari peserta didik, yang disamping untuk membentuk
kesalehan-kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk
18
Muhaimin, dkk. Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama
Islam Di Sekolah (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 75-76.
19
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995,
hlm. 5
20
Abd Rachman Shaleh, Dikdaktik Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1976. hlm. 31.
16
membentuk kesalehan social. Dalam arti, kualitas atau kesalehan pribadi
itu diharapkan mampu memancar keluar dalam hubungan keseharian
dengan manusia lainnya (bermasyarakat), baik yang seagama (sesame
muslim) atau yang tidak seagama (hubungan dengan non muslim), serta
dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan
kesatuan nasional (ukhuwah wathoniyah) dan bahkan ukhuwah
insaniyah (persatuan dan kesatuan antar sesama manusia).
21
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Dalam rumusannya, tujuan pendidikan Islam dapat dibagi dalam dua
tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Ali Khalil Abu Alyanaim
menjelaskan tujuan khusus pendidikan Islam ditetapkan berdasarkan kepada
kondisi geografis, ekonomi, dan lain-lain yang ada di tempat dimana tujuan
tersebut disusun.
22
Sedangkan tujuan yang bersifat umum dari pendidikan
Islam merupakan tujuan akhir dari pelaksanaan pendidikan Islam itu sendiri,
yakni berusaha menyerahkan diri secara total kepada Allah.
23
Menurut Zakiah Darajat,
Membagi tujuan Pendidikan Agama Islam menjadi 4 (empat) macam,
yaitu :
a) Tujuan umum.
Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua
kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain.
b) Tujuan akhir.
Tujuan akhir adalah tercapainya wujud kamil, yaitu orang yang
telah mencapai ketakwaan dan menghadap Allah dalam ketakwaannya.
c) Tujuan sementara.
Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak
diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu
kurikulum pendidikan formal.
d) Tujuan operasional.
Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan
sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.
24
21
Muhaimin, op. cit., hlm. 76.
22
Abudin Nata, Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid. Jakarta: Raja Grafindo.
23
Samaun Bakry, Menggagas Konsep Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Bani
Quraisy, 2005), hlm. 36
24
http:akhmadsudrajat. Tujuan Pendidikan Islam. wordpress.com (diakses tanggal 10 Juli
17
Pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya manusia
yang sempurna yaitu manusia yang beribadah kepada Allah. Di dalam GBPP
PAI 1994 sebagaimana dikutip oleh Muhaimin disebutkan bahwa secara
umum, Pendidikan Agama Islam (PAI) bertujuan untuk meningkatkan
keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang
agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa
kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
25
H. M. Arifin, Mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
untuk membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai
agama Islam dan sekaligus mengajarkan ajaran Islam serta mengamalkannya
secara benar sesuai dengan pengetahuan agama.
26
Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak
ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam
(PAI), yaitu :
1. Dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam.
2. Dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan
peserta didik terhadap ajaran agama Islam.
3. Dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dirasakan
peserta didik dalam menjalankan ajaran agama Islam.
4. Dimensi pengalamannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang
telah diimani, dipahami dan dihayati atau diinternalisasi oleh
peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya
25
Muhaimin, op. cit ., hlm. 78.
26
Abdul Fatah Jalal, llmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Dalam A. Tafsir), Remaja
Rosdakarya, bandung, 1991, hlm. 7.
18
untuk menggerakkan, mengamalkan, dan menaati ajaran agama
dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta mengaktualisasikan
dan merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara
27
.
Di dalam GBPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
kurikulum 1999, tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut lebih
dipersingkat lagi, yaitu: agar siswa memahami, menghayati, meyakini, dan
mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman,
bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Rumusan tujuan
Pendidikan Agama Islam (PAI) ini mengandung pengertian bahwa proses
Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dilalui dan dialami oleh siswa di
sekolah dimulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman
siswa terhadap ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam,
untuk selanjutnya menuju ke tahapan afeksi, yakni terjadinya proses
internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti
menghayati dan meyakininya. Tahapan afeksi ini terkait dengan kognisi,
dalam arti penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi
oleh pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran dan nilai agama Islam.
Melalui tahapan afeksi tersebut diharapkan diharapkan dapat tumbuh
motivasi dalam diri siswa dan tergerak untuk mengamalkan dan menaati
ajaran Islam (tahapan psikomotorik) yang telah diinternalisasi dalam dirinya.
Dengan demikian, akan terbentuk manusia muslim yang beriman, bertakwa
dan berakhlak mulia.
28
Di dalam Peraturan Menteri (PERMEN) Nomor 22 tahun 2006 tentang
Standar Isi/Kompetensi Dasar di jelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam di
SMA/MA bertujuan untuk:
29
1. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan
pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan,
serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi
manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya
kepada Allah SWT;
2. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak
mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas,
produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga
keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya
agama dalam komunitas sekolah.
27
Muhaimin hlm. loc. cit 78.
28
Ibid, hlm. 78-79.
29
Permen No. 22 th 2006, Tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA-
MA-SMK-MAK, hlm. 2.
19
Oleh karena itu berbicara Pendidikan Agama Islam (PAI), baik makna
maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan
tida dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman
nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup di dunia bagi
anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) di
akhirat kelak.
30
3. Fungsi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk sekolah/madrasah berfungsi
sebagai berikut :
a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan
peserta didik pada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam
lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-pertama kewajiban
menanamkan keimanan dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang
tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan
lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan
pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang
secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
31
b. Penanaman Nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
32
Seperti firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 201:
-~= -,=7' - ; -~= '---' - '--'- '-- , J;-- Q- ;--;
Artinya: "Dan diantara mereka ada yang berkata: "ya Tuhan kami
berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan
di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS.
Al-Baqarah: 201)
33
c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan
dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
30
Abdul Majid dan Dian Andayani, op.cit., hlm. 136.
31
Ibid., hlm. 134.
32
Ibid., hlm. 134.
33
Al-Quran dan Terjemahnya (Bandung: CV Penerbit J-Art, 2005), hlm. 32.
20
Dapat dikatakan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan suatu
hal yang dijadikan sandaran ketika terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan. Jadi, pendidikan agam Islam adalah ikhtiar manusia
dengan jalan bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan
mengarahkan fitrah agama peserta didik menuju terbentuknya
kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama.
34
d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik
dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam
kehidupan sehari-hari.
35
e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari
lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan
dirinya dan menghambat perkembangannya menjadi manusia
Indonesia seutuhnya. Maksudnya adalah bahwa Pendidikan Agama
Islam mempunyai peran dalam mengatasi persoalan-persoalan yang
timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris
karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian. Oleh
karena itu, diharapkan Pendidikan Agama Islam menjalankan
fungsinya sehingga masyarakat merasa sejahtera, aman, stabil, dan
sebagainya. Untuk itu, Pendidikan agama Islam hendaknya
ditanamkan sejak kecil, sebab pendidikan pada masa kanak-kanak
merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya.
Oleh sebab itu berbicara pendidikan agama Islam, baik makna
maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai
Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas
sosial.
36
Sebagaimana tercermin dalam Al-Qur'an surat Luqman ayat
17 yang berbunyi:
-' ; ~;,-'- ,-' ; ->~' ;-' --'- Q- 4'- Q! 4-' ~'!- _- ,- ~' ; ,---' Q-

Artinya: "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa
yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (Q.S.
Luqman: 17)
37
f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum
(alam nyata dan tidak nyata), sistem dan fungsionalnya.
38
34
Abdul Majid dan Dian Andayani, op.cit., hlm. 134.
35
Ibid., hlm. 134.
36
Ibid., hlm. 134.
37
Al-Quran dan Terjemahnya, op.cit., hlm. 413.
38
Abdul Majid dan Dian Andayani, op.cit., hlm. 134.
21
g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki
bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat
berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk
dirinya dan bagi orang lain. Oleh karena itulah pendidikan Islam
memiliki beban yang multi paradigma, sebab berusaha memadukan
unsur profan dan imanen, dimana dengan pemaduan ini, akan
membuka kemungkinan terwujudnya tujuan inti pendidikan Islam
yaitu melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu
pengetahuan, yang satu sama lainnya saling menunjang. Disamping
itu, pendidikan agama Islam memberikan bimbingan jasmani-rohani
berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya
kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
39
Menurut Zakiah Daradjat,
Dalam bukunya Kesehatan Mental mengemukakan tentang
pentingnya fungsi pendidikan Islam baik di rumah, di sekolah maupun di
lingkungan masyarakat. Beliau mengatakan bahwa pendidikan agama
Islam mempunyai fungsi yang sangat penting untuk pembinaan dan
penyempurnaan kepribadian dan mental anak, karena pendidikan agama
Islam mempunyai dua aspek terpenting, yaitu:
1. Aspek pertama dari pendidikan Islam adalah yang ditujukan pada jiwa
atau pembentukan kepribadian. Artinya bahwa melalui pendidikan
agama Islam ini anak didik diberikan keyakinan tentang adanya Allah
swt.
2. Aspek kedua dari pendidikan Agama Islam adalah yang ditujukan
kepada aspek pikiran (intelektualitas), yaitu pengajaran Agama Islam
itu sendiri. Artinya, bahwa kepercayaan kepada Allah swt, beserta
seluruh ciptaan-Nya tidak akan sempurna manakala isi, makna yang
dikandung oleh setiap firman-Nya (ajaran-ajaran-Nya) tidak
dimengerti dan dipahami secara benar. Di sini anak didik tidak hanya
sekedar diinformasikan tentang perintah dan larangan, akan tetapi
justru pada pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana beserta
argumentasinya yang dapat diyakini dan diterima oleh akal.
40
4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam (PAI)
Agama Islam adalah agama yang sempurna yang meliputi: (a) masalah
keimanan; (b) masalah keIslaman (syariah); dan (c) masalah ikhsan (akhlak).
39
Ibid., hlm. 134.
40
http://LucianE.Marin.wordpress.com/2008/01/22/Tujuan Pendidikan Agama Islam. (diakses
pada tanggal 10 Juli 2010).
22
Yang kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum Islam yaitu Al-
Quran dan Al-Hadits, serta ditambah dengan sejarah Islam (tarikh), sehingga
secara berurutan: (a) ilmu tauhid/keimanan; (b) ilmu fiqih; (c) Al-Quran; (d)
Al-Hadits; (e) akhlak; dan (f) tarikh Islam.
41
Menurut Abdul Majid dan Dian Andayani mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam itu secara keseluruhannya meliputi lingkup: Al-Qur'an dan al-
hadis, keimanan, akhlak, fiqih / ibadah, dan sejarah, sekaligus
menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup
perwujudan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia
dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun
lingkungannya.
42
Mengenai lingkup maupun urutan sajian materi pokok pendidikan agama
itu sebenarnya telah dicontohkan oleh Luqman ketika mendidik putranya
sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an surat Luqman ayat 13, 14, 17, 18
dan 19 sebagai berikut:
13 '--~;; (
; _ ,-~' Q' Q--'- - ~- ; ,Q; _- '-; -' -- = -- ;- Q'~- (' ! 4--' ;
) ,- ~-' 14 (
Artinya: Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya,
di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan allah adalah benar-benar kezaliman
41
Zuhairini., Abdul Ghofir, Meotdologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Malang: UM
Press, 2004) hlm. 48
42
Abdul Majid, 2004, op.cit.,hlm. 131
23
yang besar". Dan kami perintahkan kepada manusia
terhadap kedua orang tuanya (ibu bapaknya); ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tua
ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.
Dalam ayat lain juga dijelaskan yakni pada surat Luqman aat 17-19
sebagai berikut:
Q- 4- Q! 4-' ~' !- _- ,- ~' ; ,---' Q- -' ; ~;,-'- ,-' ; ->~' ;-' --'-
) 17 ~=-7 = Q! ' =,- ,7' - -- 7; '- 4- = ,~- 7; (
) 18 ~;~ ~' ;~7' ,--' Q! 4- ;~ Q- ~-' ; 4-~- - - ~-' ; (
) ,-- =' 19 .(
Artiya: Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia
mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari
perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa
yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah. Dan
janganlah kamu memalingkanmukamu dari manusia
karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan
lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-seburuk
24
suara ialah suara keledai". (QS. Luqman, ayat 17, 18
dan 19).
43
Agar kemampuan-kemampuan lulusan atau out put yang diharapkan bisa
tercapai, maka tugas Guru pendidikan agama Islam adalah berusaha secara
sadar untuk membimbing, mengajar, dan melatih siswa sebagai siswa agar
dapat: (a) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT yang
telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga; (b) Menyalurkan bakat dan
minatnya dalam mendalami bidang agama serta mengembangkannya secara
optimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula
bermanfaat bagi orang lain; (c) Memperbaiki kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya dalam keyakinan,
pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari; (d)
Menangkal dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan, paham atau
budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan keyakinan
siswa; (e) Menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik
maupun lingkungan sosial yang sesuai dengan ajaran Islam; (f) Menjadikan
ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat; dan (g) Mampu memahami, mengilmui pengetahuan
agama Islam secara menyeluruh sesuai dengan daya serap siswa dan
keterbatasan waktu yang tersedia.
44
43
Zuhairini., Abdul Ghofir, 2004 op.cit., hlm. 48-49
44
Muhaimin, 2005, op.cit.,hlm. 53
25
Dari penjelasan tersebut jelas bahwa Islam mengajarkan keseimbangan
antara kehidupan dunia dan akhirat, jasmani dan rohani serta perhatian
terhadap lingkungan sekitar dengan rinci telah dijelaskan dalam Islam.
B. Tinjauan Tentang Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)
1. Pengertian rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)
Rintisan sekolah bertaraf Internasional (RSBI) adalah sekolah-sekolah
yang dipersiapkan secara bertahap melalui pembinaan oleh pemerintah dan
stakeholders, dalam jangka waktu tertentu yaitu empat tahun diharapkan
sekolah tersebut mampu dan memenuhi kriteria untuk menjadi SBI.
45
Rintisan sekolah bertafaf internasional (RSBI) merupakan sekolah
nasional yang mengarah pada standar mutu internasional. Proses belajar
mengajar di sekolah ini menekankan pengembangan daya kreasi, inovasi, dan
eksperimentasi untuk memacu ide-ide baru yang belum pernah ada.
46
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Pasal 61 Ayat (1)
mengamanatkan bahwasanya Pemerintah bersama-sama pemerintah daerah
menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada jenjang
pendidikan dasar dan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada
jenjang pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi suatu satuan
pendidikan yang bertaraf internasional. Menurut Depdiknas RSBI adalah
sekolah nasional yang menyiapkan atau mngarahkan peserta didiknya
45
Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah
Bertaraf internasional Pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta: Badan Penelitian
dan Pengembangan DEPDIKNAS.2007) hlm 5.
46
http://id.wikipedia., op.cit.
26
berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP) Indonesia dan tarafnya
internasional, sehingga lulusannya memiliki kemampuan daya saing
internasional.
47
Dengan pengertian tersebut RSBI dapat dirumuskan sebagai berikut:
RSBI = SNP + X di mana SNP adalah standar nasional pendidikan (SNP)
yang meliputi: kompetensi lulusan, isi, proses, pendidik, dan tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, dana pengelolaan, dan penilaian. X
merupakan penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, pendalaman
melalui adaptasi atau adopsi terhadap standar pendidikan, baik dari dalam
maupun luar negeri yang diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui
secara internasional sehingga lulusan dari sekolah-sekolah tersebut dengan
mudah diterima jika melanjutkan pendidikan atau bekerja di negara-negara
maju.
48
Direktorat pembinaan SMA bertaraf internasional Dr.Sungkowo
mengungkapkan:
Kita tidak akan membuat sekolah internasional, kita tidak membuat
sekolah diplomatik, sebab yang dinamakan sekolah internasional yang
ada di Indonesia ini, adalah sekolah-sekolah milik negara-negara
tetangga, negara-negara sahabat, kita tidak akan membuat sekolah
seperti itu. Tapi kita akan membuat sekolah yang hasilnya nanti
bertaraf internasional..
49
2. Dasar Hukum Penyelenggaraan RSBI
1. Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentangSistem Pendidikan
Nasional dalam pasal 50 menyatakan bahwa:
47
http://id.wikipedia., op.cit.
48
Depdiknas.,op.cit
49
http: ide2 pendidikan. Blogspot.com. rapat kordinasi kordinator fasilitator rintisan sekolah
bertarf internasional (diakses 23 april 2010)
27
a. Ayat (2): Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan
Standar Nasional Pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan
nasional.
b. Ayat (3): Pemerintah dan/atau pemerintah daerah
menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan
pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk
dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf
internasional.
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 2025
mengatur perencanaan pembangunan jangka panjang sebagai arah
dan prioritas pembangunan secara menyeluruh yang akan
dilakukan secara bertahap untuk mewujudkan masyarakat adil dan
makmur.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan dalam pasal 61 Ayat (1) menyatakan bahwa :
Pemerintah bersama-sama pemerintah daerah menyelengarakan
sekurang-kurangnya satu sekolah pada jenjang pendidikan dasar
dan sekurang-kurangnya satu sekolah pada jenjang pendidikan
menengah untuk dikembangkan menjadi sekolah bertaraf
internasional.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 Tentang Pembagian
Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi
dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
28
5. Permendiknas Nomor 22,23,24 Tahun 2005 dan Nomor 6 Tahun
2007; Nomor 12, 13, 16, 19, 20, 24, dan 41 Tahun 2007.
50
3. Visi, misi dan tujuan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)
Mengacu pada visi pendidikan nasional dan visi Depdiknas, maka visi
RSBI adalah terwujudnya insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif
secara internasional. Visi tersebut memiliki implikasi bahwa penyiapan
manusia Indonesia yang memiliki kompetensi bertaraf internasional
memerlukan upaya-upaya yang dilakukan secara intensif terarah, terencana,
dan sistematik agar dapat mewujudkan bangsa yang maju, sejahtera, damai,
dihormati, dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain.
51
Berdasarkan visi tersebut, maka misi RSBI adalah mewujudkan manusia
Indonesia cerdas dan kompetitif secara nasional terlebih secara
internasional, yang mampu bersaing dan berkolaborasi secara global.
Penyelenggaraan RSBI bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang
berkelas nasional dan internasional sekaligus. Lulusan yang berkelas
nasional secara jelas telah dirumuskan dalam UU No. 20/2003 dan
dijabarkan dalam PP 19/2005, dan lebih dirincikan lagi dalam Permendiknas
No. 23/2006 tentang standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang bunyinya
sebagai berikut :
Pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, dan ketrampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Perlu dicatat bahwa
50
http:nazhoriauthor.blogspot.com/Pentingnya RSBI (diakses pada 23 April 2010)
51
http://kamissore.blogspot.com/pendidikan internasional (diakses 15 Maret 2010)
29
sebagai upaya untuk mengembangkan pendidikan bertaraf internasional,
RSBI harus tetap memegang teguh untuk mengembangkan jati diri nilai-
nilai bangsa Indonesia
52
.
4. Karakteristik rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)
Dalam usaha memenuhi karakteristik dari konsep RSBI, sekolah harus
sudah melaksanakan dan memenuhi delapan unsur SNP sebagai pencapaian
indikator kinerja kunci minimal ditambah beberapa unsur sebagai indikator
kinerja kunci tambahan, maka sekolah dapat melakukan minimal dengan dua
cara, yaitu: (1) adaptasi, yaitu penyesuaian unsur-unsur tertentu yang sudah
ada dalam SNP dengan mengacu (setara/sama) dengan standar pendidikan
salah satu anggota OECD dan / atau negara maju lainnya yang mempunyai
keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, diyakini telah memiliki
reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki
kemampuan daya saing internasional; dan (2) adopsi, yaitu penambahan atau
pengayaan/pemdalaman/penguatan/perluasan dari unsur-unsur tertentu yang
belum ada diantara delapan unsur SNP dengan tetap mengacu pada standar
pendidikan salah satu anggota OECD dan / atau negara maju lainnya yang
mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, diyakini telah
memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya
memiliki kemampuan daya saing internasional.
53
Sekolah yang akan melakukan adaptasi ataupun adopsi, perlu mencari
mitra internasional, misalnya sekolah-sekolah dari negara-negara anggota
52
Ibid.
53
http://ide2pendidikan.blogspot.com/search/label/Sekolah berstandar internasional Konsep dan
karakteristik RSBI, (diakses 15 Maret 2010)
30
OECD yaitu: Australia, Austria, Belgium, Canada, Czech Republic,
Denmark, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Iceland, Ireland,
Italy, Japan, Korea, Luxembourg, Mexico, Netherlands, New Zealand,
Norway, Poland, Portugal, Slovak Republic, Spain, Sweden, Switzerland,
Turkey, United Kingdom, United States dan negara maju lainnya seperti
Chile,Estonia, Israel, Russia, Slovenia, Singapore dan Hongkong yang
mutunya telah diakui secara internasional. Atapun dapat juga bermitra dengan
pusat-pusat pelatihan, industri, lembaga-lembaga tes/sertifikasi internasional
seperti misalnya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, pusat-pusat studi dan
organisasi-organisasi multilateral seperti UNESCO, UNICEF, dan
SEAMEO.
54
Esensi lainnya dari karakteristik konsep tentang RSBI adalah adanya
daya saing pada forum nasional bahkan internasional terhadap komponen-
komponen pendidikan seperti output/outcomes pendidikan, proses
penyelenggaraan dan pembelajaran, serta input RSBI harus memiliki daya
saing yang kuat/tinggi. Masing-masing komponen tersebut harus memiliki
keunggulan yang diakui secara nasional terlebih lagi secara internasional,
yaitu berkualitas internasional dan telah teruji dalam berbagai aspek sesuai
dengan karakteristiknya masing-masing. Bukti bahwa telah diakui dan teruji
secara internasional dengan sertifikasi minimal dengan berpredikat baik dari
salah satu negara anggota OECD, negara maju lainnya atau lembaga
54
Ibid., hlm 6.
31
internasional yang relevan. Beberapa ciri esensial dari RSBI ditinjau dari
komponen pendidikan yang berdaya saing tinggi yaitu:
1. Output/outcomes RSBI
Adapun karakteristik konsep RSBI erkaitan dengan output/outcomes
harus memiliki daya saing internasional antara lain bercirikan: (1) lulusan
RSBI dapat melanjutkan pendidikan pada satuan pendidikan yang bertaraf
internasional, baik di dalam maupun di luar negeri, (2) lulusan RSBI dapat
bekerja pada lembaga-lembaga internasional dan/atau negara-negara lain, dan
(3) meraih medali tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains,
matematika, teknologi, seni, dan olah raga. Proses penyelenggaraan dan
pembelajaran dikatakan memiliki daya saing internasional antara lain cirinya
telah menerapkan berbagai model pembelajaran yang berstandar
internasional, baik yang bersifat pembelajaran teori, eksperimen maupun
praktek.
55
Karakteristik RSBI dilihat dari proses pembelajaran, penilaian dan
penyelenggaraan harus bercirikan internasional, yaitu:
1) Pro-perubahan yaitu proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan
dan mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar dan eksperimentasi
untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.
2) Menerapkan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan; student centered; reflective learning; active learning;
enjoyble dan joyful learning; cooperative learning; quantum learning;
learning revolution; dan contextual learning, yang kesemuanya itu
telah memiliki standar internasional.
3) Menerapkan proses pembelajaran berbasis TIK pada semua mata
pelajaran.
4) Proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris khususnya mata
pelajaran sains, matematika, dan teknologi.
55
Ibid., hlm 7
32
5) Proses penilaian dengan menggunakan model-model penilaian sekolah
unggul dari negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang
mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan.
6) Dalam penyelenggaraannnya harus bercirikan utama kepada standar
manajemen internasional yaitu mengimplementasikan dan meraih ISO
9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000, dan menjalin
hubungan sister school dengan sekolah bertaraf internasional di luar
negeri.
56
3. Input RSBI
Adapun lulusan RSBI yang esensial bercirikan internasional antara lain:
1) Siswa siswa lulusan RSBI telah terakreditasi dari badan akreditasi
sekolah di salah satu negara anggota OECD dan atau negara maju
lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan.
2) Standar kelulusan lebih tinggi daripada standar kelulusan nasional,
sistem administrasi akademik berbasis TIK, dan muatan mata
pelajaran sama dengan muatan mata pelajaran (yang sama) dari
sekolah unggul diantara negara anggota OECD atau negara maju
lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan
3) Jumlah guru minimal 20% berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi
yang program studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris
aktif, kepala sekolah minimal berpendidikan S2 dari perguruan tinggi
yang program studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris
aktif, serta semua guru mampu menerapkan pembelajaran berbasis
TIK
4) Setiap ruang kelas dilengkapi sarana dan prasarana pembelajaran
berbasis TIK, perpustakaan dilengkapi sarana digital/berbasis TIK,
dan memiliki ruang dan fasilitas multimedia
5) Menerapkan berbagai model pembiayaan yang efisien untuk mencapai
berbagai target indikator kerja kunci tamahan.
57
Semua karakteristik yang menjadi ciri RSBI yang membedakan antara
sekolah yang bertaraf normal, nasional sampai yang bertaraf internasional
harus menjadi perhatian, karena dengan memenuhi standar di atas upaya
pembentukan RSBI akan benar-benar berkualitas dan dapat bersaing di
tingkat internasional.
56
Ibid., hlm 11
57
Ibid..
33
5. Perencanaan Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
(RSBI)
Perencanaan program rintisan SMA BI dituangkan kedalam Rencana
Pengembangan Sekolah (RPS) atau School Development and Investment
Plan (SDIP). Langkah penyusunan RSP/SDIP terdiri dari
a. Evaluasi Diri
Evaluasi diri dilakukan dengan membandingkan anata kondisi ideal
dengan kondisi nyata sekolah. Melalui evaluasi diri dapat diketahui kekuatan
dan kelemahan masing-masing sekolah untuk setiap komponen sekolah. Hasil
evaluasi diri digunakan sebagai dasar untuk menyusun RPS/SDIP yang
meliputi Rencana Kerja Jangka Menengah (Rencana Strategis 5 tahun) dan
Rencana Kerja Tahunan, serta Action Plan.
b. Penyusunan dan Pengesahan RPS/SDIP
RPS/SDIP yang disusun oleh sekolah bersama dengan komite sekolah
diketahui oleh kepala dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Direktur
Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
menengah Departemen Pendidikan Nasional.
C. Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)
1. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan salah satu pendekatan dalam rangka
mensiasati perubahan perilaku peserta didik secara adaptif maupun generatif,
dimana model pembelajaran sangat erat kaitanya dengan gaya belajar peserta
34
didik (learning style) dan gaya guru dalam mengajar (teacher style) yang
keduanya disingkat menjadi solat (style of learning and teaching).
58
Menurut Arents, model Pembelajaran adalah suatu perencanaan atau
suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial.
59
Model pembelajaran
mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuan-
tujuan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
60
Akan tetapi, dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang
memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali terjadi kebingungan dalam
membedakannya. Untuk mengantarkan pemehaman mengenai istilah model
agar tidak terjadi kesalah pahaman, terdapat beberapa istilah yang
mempunyai kemiripan arti. Adapun istilah-istilah tersebut adalah: (1)
pendekatan pembelajaran; (2) strategi pembelajaran; (3) metode
pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran dan (6) model
pembelajaran.
61
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di
dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode
pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Kemudian dari pendekatan
58
Hanafiah; Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran. (Bandung: Refika Aditama, 2009).
Hlm. 41.
59
Triatno, op.cit., hlm. 1
60
Triatno, loc. cit.
61
http://akhmadsudrajat.wordpress.com, (diakses 15 Maret 2010).
35
pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi
pembelajaran.
62
Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya
mengemukakan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna
perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat
konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu
pelaksanaan pembelajaran. Kita ketahui bahwa strategi pembelajaran sifatnya
masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai
metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan a plan
of operation achieving something sedangkan metode adalah a way in
achieving something. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai
cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
63
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya
pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai
cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode
secara spesifik. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun
dalam koridor metode yang sama. Sementara taktik pembelajaran merupakan
gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran
tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama
menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam
62
. Ibid...
63
Ibid..
36
taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak
diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang
tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi
lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat
menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau
kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman
dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini,
pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni.
64
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik
pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka
terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model
pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar
dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata
lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan
suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
65
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya
secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki
keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model
pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sehingga pesan yang
disampaikan dapat ditangkap oleh siswa.
64
Ibid..
65
Ibid..
37
2. Karakteristik Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada
strategi, metode atau prosedur. Model pembelajaran memiliki empat ciri
khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur, yakni: (1)
rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;
(2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan
pembelajaran yang akan dicapai); (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan
agar model tersebut dapat dlaksanakan dengan berhasil; dan (4) lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
66
Untuk mengetahui kualitas model pembelajaran dapat dilihat dari dua
aspek, yaitu proses dan produk. Aspek proses terarah pada apakah
pembelajaran mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan
(joyfull learning) serta mendorong siswa untuk aktif belajar dan berfikir
kreatif. Sedangkan aspek produk terarah pada apakah pembelajaran mampu
mencapai tujuan, yakni meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan
standar kamampuan atau kompetensi yang ditentukan. Tentunya setelah
aspek proses berjalan dengan baik. Pada puncaknya sebenarnya setiap model
memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda. Setiap
pendekatan memberikan pengaruh yang berbeda pada siswa, pada ruang fisik,
dan pada sistem sosial kelas.
67
66
Trianto 2007, Opcit.,hal.5
67
Ibid..
38
3. Fungsi Model Pembelajaran
Fungsi model pembelajaran disini adalah sebagai pedoman bagi
perancang pengajar dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran. Arends
memilih istilah model pembelajaran berdasarkan dua alasan penting yaitu:
istilah model memiliki makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau
prosedur. Kedua model dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang
penting, apakah yang dibicarakan tentang mengajar di kelas, atau praktek
mengawasi anak-anak. Model pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan
tujuan pembelajaran, sintaksisnya dan sifat lingkungan belajarnya.
68
Untuk pemilihan model ini sangat dipengaruhi oleh sifat dan materi yang
akan diajarkan, juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam
pengajaran tersebut serta kemampuan peserta didik. Selain itu pula setiap
model pembelajaran selalu mempunyai tahap-tahap (sintaks) yang oleh siswa
dengan bimbingan guru. Antara sintaks yang satu dengan yang lain memiliki
perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah terutama dalam teknik membuka,
proses pembelajaran dan menutup harus dipahami oleh seorang guru agar
model-model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Guru harus
menguasai dan dapat menerapkan berbagai ketrampilan mengajar, agar dapat
mencapai tujuan pembelajaran yang beraneka ragam.
69
68
Ibid. hlm 3-4.
69
Ibid. hlm 4-5.
39
4. Penerapan Model Pembelajaran PAI di Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI)
Dalam era globalisasi industrialisasi sebagai akibat dari kemajuan di
bidang informasi berdampak pada perkembangan \ ilmu pengetahuan dan
teknologi. dalam konteks ini, pendidikan tidak terfokus pada penyiapan
sumber daya manusia yang siap pakai, menginggat kecenderungan dalam
dunia kerja cepat sekali berubah. Sebaliknya pendidikan harus
mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu menerima, serta
menyesuaikan dan mengembangkan arus perubahan yang terjadi dalam
lingkunganya.
70
Secara moral berbagai permasalahan yang timbul sebagai akibat dari
kemajuan merupakan tanggung jawab dunia pendidikan, untuk mencarikan
pemecahanya melalui penerapan model pembelajaran pendidikan agama
Islam (PAI) yang efektif dan efisien. Dunia pendidikan Islam seharusnya
melihat model pembelajaran pendidikan agama Islam sebagai upaya yang
bertujuan membantu para lulusan agar dapat mempertahankan eksistensinya
secara fungsional sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka ibadah kepada
Allah.
71
Dalam penerapanya, model pembelajaran pendidikan agama Islam di
RSBI seharunya lebih berorientasi pada murid (student centris) dan bukan
semata-mata mengandalkan pada informasi dari guru (teacher centris) seperti
70
Amir Feisal Jusuf, Reorientasi pendidikan Islam. (Jakarta: Gema Insan Press, 1955). Hlm.
131. dikutip oleh Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindo. Hlm. 86.
71
Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam. (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1987). Hlm.
305. dikutip oleh Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam.( Jakarta: Grasindo,2001). Hlm. 88.
40
yang selama ini banyak diterapkan. Dengan demikian model pembelajaran
yang diterapkan mampu melatih siswa bersikap kreatif, mandiri dan produktif
yang sangat diperlukan dalam menghadapi masyarakat modern. Kondisi
semacam ini pada giliranya akan mampu menciptakan masyarakat belajar
(learning society).
72
Dalam model pembelajaran seperti ini peranan guru
lebih sebagai motivator (pendorong/penggerak), desainer (perancang),
fasilitator (penyedia bahan dan peluang belajar), serta penunjuk dimana
informasi itu berada, bagaimana menyajikan hasil informasi tersebut dan
sebagai evaluator (penilai) serta justificator (pembenar) dan masih banyak
lagi.
73
Diakui bahwa dengan menerapkan model pembelajaran yang lebih
mengacu pada siswa membuat siswa kreatif, mandiri dan produktif, banyak
hal yang perlu dipersiapkan. Disamping harus ada kemauan, kesunggguhan,
dan ketrampilan para guru juga harus di dukung oleh sarana dan prasarana,
pengelolaan kelas, lingkungan belajar, penggunaan media pendukung,
metode, pendekatan, interaksi, variasi dll.
74
Model pembelajaran pendidikan agama Islam di RSBI pada dasarnya
menggunakan pengantar bahasa Inggris atau bahasa asing meskipun tidak
mengesampingkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
yang dimaksudkan agar mutu pendidikan dapat dimaksimalkan. Sebagaimana
diketahui secara umum bahwa seseorang dalam merintis arah kehidupan
72
Husein, Torsten. (1988). Masyarakat Belajar. (Jakarta: Rajawali Pers, 1988). Hlm 4-5
dikutip oleh Abuddin Nata. Paradigma Pendidikan Isla, (Jakarta: Grasindo 2001). Hlm. 88-89.
73
Ibid. hlm. 89
74
Ibid. 89-90
41
sangat ditentukan oleh kemampuan dan tingkat pendidikan yang dimiliki, di
mana sampai saat ini untuk memasuki sekolah yang lebih tinggi dibutuhkan
kemampuan lebih atau bahkan untuk memasuki dunia kerja nantinya
diutamakan seseorang yang mempunyai berbagai keahlian dan kemampuan.
Salah sarunya adalah kemampuan menggunakan Bahasa Inggris sebagai
bahasa pengantar, dalam arti mampu aktif berbahasa inggris. Lebih-lebih
diprasyaratkan adanya sertifikat Toefl yang menjadikan momok bagi
sebagian besar lulusan sekolah untuk memasuki dunia kerja. Hal ini tidak
mengesampingkan pentingnya kemampuan yang harus dimiliki seseorang
seperti komputer, Bahasa Asing yang lain, dan lain-lian.
75
Dalam model pembelajaran pendidikan agama Islam di setiap ruang
kelas dilengkapi sarana dan prasarana pembelajaran berbasis TIK,
perpustakaan dilengkapi sarana digital/berbasis TIK, dan memiliki ruang dan
ditunjang dengan fasilitas multimedia. Jumlah guru minimal 20%
berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya
terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris aktif, kepala sekolah minimal
berpendidikan S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi
A dan mampu berbahasa inggris aktif, serta semua guru mampu menerapkan
pembelajaran berbasis TIK dan profesional dalam bidangnya. tingkat
keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi sebagai berikut:
75
http://stellamarisserpong.worpress.com/2009/03/13/pengertian-rsbi (di akses pada 23 April
2010).
42
a) Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan Dalam hal ini
guru harus paham aka tujuan pendidikan yang akan dicapai baik tujuan
nasional, institusional, dan tujuan pembelajaran.
b) Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan. Dalam hal ini guru
paham tentang tahapan perkembangan siswa dan karakteristik siswa.
c) Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang
studi yang diajarkannya. Dalam hal ini guru benar-benar menguasai
materi yang diajarkan sesuai dengan latar belakang pendidikan guru.
d) Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi
pembelajaran. Dalam hal ini guru dapat menggunakan metode-metode
dalam belajar dengan tepat serta dapat menggunakan startegi
pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi saat kegiatan
belajar mengajar berlangsung.
e) Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan
sumber belajar. Dalam hal ini guru dapat memanfaatkan media dan
sumber belajar yang ada sesuai dengan materi yang diajarkan, ketika
media dan sumber belajar kurang memenuhi diharapkan guru dapat
berkreasi untuk media yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
f) Kemampuan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini guru
sebelum dan setelah mengajar melakukan evaluasi pembelajaran yang
efektif serta menggunakan hasilnya untuk mengetahui prestasi dan
kemajuan siswa serta dapat melakukan perbaikan dan pengembangan.
g) Kemampuan dalam menyusun program pembelajaran. Dalam hal ini
guru sebelum mengajar diharuskan untuk membuat atau menyusun
rencana pembelajaran atau satuan pembelajaran sesuai dengan standar
kompetensi yang telah ditentukan atau sesuai dengan kurikulum yang
ada.
h) Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan
berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama
guru, orang tua atau wali murid dan masyarakat sekitar.
76
5. Jenis-jenis Model Pembelajaran yang Dapat Diterapkan Dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
1) Model pembelajaran Contexstual Teaching & Learning (CTL)
a) Pengertian
Menurut Blanchard,
Pengajaran atau pembelajaran kontekstual atau contextual teaching
and Learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru
dalam mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata
76
Ibid.
43
dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan
penerapanya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga,
warga negara, dan tenaga kerja.
77
Menurut Muslich dan Sanjaya, pembelajaran kontekstual melibatkan
tujuh komponen utama, yaitu:
1. Konstruktivisme (constructivisme) merupakan landasan filosofis
pendekatan CTL. Pembelajaran konstruktivisme menekankan pada
terbangunnya pemahaman siswa secara aktif, kreatif, dan produktif
berdasarkan pengetahuan terdahulu dan pengalaman belajar yang
bermakna. Belajar bermakna akan membiasakan siswa untuk
memecahkan masalah sendiri, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
2. Menemukan (Inquiry) merupakan kegiatan inti CTL.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak berasal dari
hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri
dari fakta yang dihadapinya. Proses pembelajaran didasarkan pada
pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
3. Bertanya (Questioning) metupakan refleksi keingintahuan setiap
individu, karena dalam kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan
pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.
4. Masyarakat Belajar ( Learning Community), bahwa pengetahuan
dan pemahaman siswa banyak dipengaruhi oleh komunikasi dengan
orang lain. Konsep masyarakat belajar ( Learning Community) dalam
CTL menyarankan agar hasil pelajaran diperoleh melalui kerjasama
dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh
dengan sharing antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu
kepada yang tidak tahu, baik di dalam maupun di luar kelas.
5. Pemodelan (Modeling) merupakan proses pembelajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap
siswa. Misalnya, guru memberikan contoh bagaimana cara
mengoperasikan sebuah alat. Dalam pendekatan kontekstual guru
bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan
siswa. Misalnya, siswa dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan,
memberi contoh kepada temannya bagaimana cara melafalkan sesuatu
dan sebagainya.
6. Refleksi (Reflection) adalah proses pengendapan pengalaman
yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan
kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah
dilaluinya.
77
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif (Jakarta: Kencana, 2009),
hlm.104-105.
44
7. Penilaian Nyata (Autentic assessment) adalah proses yang
dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang
perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian nyata
dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian
ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran.
Oleh sebab itu, penekanannya diarahkan pada proses belajar bukan
hanya pada hasil belajar.
78
Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan
pembelajaran yang mengakui dan menunjukan kondisi alamiah dari
pengetahuan. Melaului hubungan di dalam dan di luar kelas menjadikan
pembelajatan ini lebih relevan dan lebih mudah diterima oleh siswa.
79
2) Model Pembelajaran Problem Base Learning (PBL)
a Pengertian
Pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu model yang berpusat
pada peserta didik dengan cara menghadapkan para peserta didik tersebut
dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupanya. Dengan model
pembelajaran ini, peserta didik dari sejak awal sudah dihadapkan kepada
berbagai masalah kehidupan yang mungkin akan ditemuinya kelak pada saat
mereka sudah lulus dari bangku sekolah.
80
Terdapat beberapa masalah yang dapat dijadikan sebagai model
pembelajaran. Masalah dapat terjadi karena adanya kesenjangan atau
kekurangan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang terjadi. Misalnya
secara teori, jika seorang siswa belajar dengan sungguh-sungguh maka akan
menghasilkan nilai yang baik, namun hasilnya tetap rendah. Kemudian dari
78
http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran-contextual-teaching-and-
learning-ctl.php (diakses 15 Maret 2010)
79
Trianto.,Op. cit. hlm 107
80
Abuddin Nata, Op. cit. hlm. 243
45
permasalahan yang terjadi tersebut menimbulkan adanya pertanyaan untuk
dicarikan jawabanya sekaligus solusinya.
81
Salah satu tokoh barat yang mengembangkan model pembelajaran PBL
yaitu John Dewey,
Konsepnya mengenai pengajaran sistem proyek atau metode
pemecahan masalah. Gagasanya bertunpu pada dua hal. Pertama, bahwa
pembelajaran harus bertumpu pada pertimbangan psikologis, yaitu bahwa
proses pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan
peserta didik, cara berfikir, dan cara kerjanya. Kedua, bahwa
pembelajaran harus bertumou pada tujuan pendidikan dan pengajaran
yaitu untuk kepentingan kemajuan masyarakat.
82
b Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran PBL
Model pembelajaran Problem Base Learning dinilai memiliki kelebihan
dan kekurangan sebagai berikut.
Adapun kelebihan model pembelajaran PBL antara lain:
a) Dapat menjadikan pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan
kehidupan, khususnya dengan dunia kerja;dapat membiasakan siswa
menghadapi dan memecahkan masalahnya secara terampil;
b) Dapat merangsang pengembangan kemampuan berfikir secara kreatif dan
menyeluruh, karena siswa telah terlatih menghadapi masalah dan
menyorotinya dari berbagai aspek.
83
Sedangkan kekurangan PBL antara lain:
a) Sering terjadi kesulitan dalam menemukan permasalahan yang sesuai
dengan tikngkat berfikir siswa karena perbedaan tingkat daya piker siswa;
81
Ibid. hlm. 244
82
Agus Sujono, Aliran Baru dalam Pendidikan, (Bandung: Ilmu, 1978), hlm. 125
83
Abuddin Nata. Ibid. hlm. 250.
46
b) Sering memerlukan waktu yang lebih banyak dibandingkan dengan
penggunaan metode konfensional dimana hal ini terjadi akibat masalah
yang terjadi kebanyakan keluar dari konteksnya dan pemecahanya yang
kurang efektif;
c) Sering terjadi kesulitan dalam perubahan kebiasaan belajar dari yang
semula hanya mendengar, mencatat dan menghafal informasi yang
disampaikan guru menjadi, telah berubah menjadi pembelajaran dengan
cara mencari data, menganalisis, menyusun hipotesis dan memecahkan
masalah sendiri.
84
3) Model Integrated Learning
Model pembelajaran terpadu merupakan suatu sistempembelajaran yang
memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok untuk aktif
mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keiimuan secara
holistik, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila
peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi topik/tema menjadi pengendali di
dalam kegiatan belajar sekaligus proses dan isi berbagai disiplinilmu/mata
pelajaran/pokok bahasan secara serempak dibahas.
85
Ciri-ciri pembelajaran terpadu:
1) Holistik, suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran
terpadu dikaji dari beberapa bidang studi/pokok bahasan sekaligus untuk
memahami fenomena dari segala sisi.
84
Ibid. hlm 250
85
Trianto. 2007. Op. cit. 6
47
2) Bermakna, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah
kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan siswa
marnpumenerapkan perolehan belajamya untuk memecahkan masalah-
masalah yang nyata dalam kehidupannya.
3) Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan
diskoveriinkuiri. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran,
86
86
Ibid. hlm. 14
48
BAB III
METODE PENELITIAN
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif
kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor,
Metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku
yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu
tersebut secara holistik (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh
mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis,
tetapi perlu memandangnya sebagai bagaian dari sesuatu keutuhan.
87
Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller mendefinisikan
penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial
yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik
dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya.
88
Dari kajian tentang definisi-definisi tersebut dapatlah dipahami bahwa
penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami
fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik, dan
dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks
khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Sedangkan jenis penelitiannya adalah menggunakan studi kasus. Studi
kasus atau penelitian kasus adalah penelitian tentang subjek penelitian yang
berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas.
Subjek penelitian bisa saja individu, kelompok, lembaga maupun masyarakat.
87
Lex J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2004), Hlm.4.
88
Ibid..Hlm. 5
49
Peneliti ingin mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi
lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subjek. Tujuan studi kasus
adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang,
sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus atau individu yang
kemudian dari sifat-sifat khas diatas akan dijadikan suatu hal yang bersifat
umum.
89
Jadi karena dalam penelitian ini menyangkut model pembelajaran
pendidikan agama Islam di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)
dirancang dengan study kasus, maka peneliti berusaha melihat secara
mendalam tentang permasalahan tersebut di lembaga pendidikan (SMA
Negeri 1 Malang).
Sedangkan jenis penelitianya adalah jenis penelitian deskriptif yang
memaparkan situasi atau peristiwa. Penelitian ini tidak mencari atau
menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi.
Metode deskriptif mencari teori, bukan menguji teori; hypothesis-generating,
bukan hypothesis-testing.
90
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan pada guru dan
melakukan pengamatan langsung dalam kelas.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang
lain merupakan pengumpul data utama. Dalam hal ini, sebagaimana
dinyatakan oleh Lexy Moeloeng, kedudukan peneliti dalam penelitian
89
Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1998), hlm.66.
90
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
1984), hlm.25.
50
kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana
pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi
pelapor hasil penelitiannya. Pengertian instrumen atau alat penelitian di sini
tepat karena ia menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian.
91
Berdasarkan pada pandangan di atas, maka pada dasarnya kehadiran
peneliti disini disamping sebagai instrumen juga menjadi faktor penting
dalam seluruh kegiatan penelitian ini. Peneliti berperan sebagai pengamat
partisipan yang menjalankan dua peran sekaligus. Dalam melakukan
penelitian ini, peneliti sudah terlebih dahulu melakukan observasi di sekolah
sehingga secara langsung mengalami dunia pengajaran yang sebenarnya.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Malang yang beralamatkan di
jln. Tugu Utara No.1 Malang berdekatan dengan balai kota Malang, di mana
kawasan tersebut merupakan salah satu kawasan yang terkumpul beberapa
rintisan sekolah yang berstandar internasional.
Adapun alasan peneliti memilih obyek penelitian tersebut adalah karena
SMA Negeri 1 Malang merupakan salah satu rintisan sekolah bertaraf
Internasional favorit di kota Malang yang telah mengukir banyak prestasi
akademik dan non akademik. Selain itu juga banyak pertimbangan lain yakni
dari aspek kelengkapan sarana da prasarana penunjang pembelajaran, aspek
pengajar yang profesional yang mampu berkomunikasi dengan bahasa asing,
91
Lexy J. Moleong, 2004, op.cit., hlm.121
51
menguasai ICT serta dukungan dari kepala sekolah yang profesional dalam
mengelola RSBI.
4. Data dan Sumber Data
Menurut Lofland dan Lofland yang dikutip dari buku metodologi
penelitian kualitatif karangan Lexy J. Moleong, sumber data utama dalam
penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
92
Adapun sumber data terdiri dari dua macam:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti (atau
petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya.
93
Dalam penelitian ini, data
primer yang diperoleh oleh peneliti adalah: hasil wawancara dengan Ketua
Program RSBI, para guru pendidikan agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1
Malang.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang biasanya telah tersusun dalam bentuk
dokumen-dokumen, misalnya data mengenai keadaan demografis suatu
daerah, data mengenai produktivitas suatu perguruan tinggi, data mengenai
persediaan pangan di suatu daerah, dan sebagainya.
94
Data sekunder yang diperoleh penulis adalah data yang diperoleh
langsung dari pihak-pihak yang berkaitan berupa data-data sekolah dan
berbagai literatur yang relevan dengan pembahasan.
92
Lexy J. Moleong, 2004, Op. cit. hlm. 157
93
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,1998), hlm. 84
94
Ibid,1998, hlm. 85
52
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan tiga macam teknik
pengumpulan data, yaitu:
a. Metode Observasi atau Pengamatan.
Mengamati adalah menatap kejadian, gerak atau proses.
95
Pengamatan
merupakan metode yang pertama-tama digunakan dalam melakukan
penelitian ilmiah.
96
Dalam hal ini peneliti mengamati model pembelajaran pendidikan agama
Islam (PAI) pada rintisan sekolah bertarat internasional (RSBI) di SMA
Negeri 1 Malang.
b. Metode Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan
itu.
97
Metode wawancara atau metode interview dipergunakan kalau seseorang
untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatka keterangan atau
pendirian secara lisan dari seorang responden, dengan bercakap-cakap
berhadapan muka dengan orang itu.
98
Dalam hal ini peneliti melakukan interview dengan ketua program RSBI,
para guru PAI di SMA Negeri 1 Malang, terkait dengan model pembelajaran
pendidikan agama Islam di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).
c. Metode Dokumentasi
Metode yang tidak kalah penting dari metode-metode lain, adalah
metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
95
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006)., hlm. 189
96
Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 1997), hlm. 109).
97
Lexy Moleong, 2004, op.cit., hlm. 135
98
Koentjaraningrat, 1997, op.cit.,hlm. 29
53
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,
lengger, agenda dan sebagainya.
Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu
sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum
berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi
benda mati.
99
Dalam hal ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan yang
terkait dengan permasalahan.
6. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul dilakukan pemilahan secara selektif disesuaikan
dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Setelah itu, dilakukan
pengolahan dengan proses editing, yaitu dengan meneliti kembali data-data
yang didapat, apakah data tersebut sudah cukup baik dan dapat segera
dipersiapkan untuk proses berikutnya.
100
Secara sistematis dan konsisten
bahwa data yang diperoleh, dituangkan dalam suatu rancangan konsep yang
kemudian dijadikan dasar utama dalam memberikan analisis.
Analisis data menurut Patton yang dikutip oleh Moleong, adalah proses
mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori
dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor, analisa data
adalah proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan
99
Suharsimi Arikunto, 2006, op.cit.,hlm. 206
100
Koentjaraningrat, 1997, op.cit., hlm. 207
54
merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk
memberikan bantuan pada tema dan ide itu.
101
Dalam penelitian ini yang digunakan dalam menganalisa data yang sudah
diperoleh adalah dengan cara deskriptif (non statistik), yaitu penelitian yang
dilakukan dengan menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau
kalimat yang dipisahkan untuk kategori untuk memperoleh kesimpulan
dengan bermaksud mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan
bagaimana, berapa banyak, sejauh mana, dan sebagainya.
Pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis.
Penelitian deskriptif dibedakan dalam dua jenis penelitian menurut sifat-sifat
analisa datanya, yaitu riset deskriptif yang bersifat ekploratif dan riset
deskriptif yang bersifat developmental.
102
Dalam hal ini penulis menggunakan deskriptif yang bersifat ekploratif,
yaitu dengan menggambarkan keadaan atau status fenomena. Peneliti hanya
ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu. Dengan
berusaha memecahkan persoalan-persoalan yang ada dalam rumusan masalah
dan menganalisa data-data yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan
sosiologis.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan
perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian,
101
Lexy.Moleong, 2004, op.cit., hlm. 103
102
Suharsimi Arikunto, 2006, op.cit., hlm. 195
55
triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif dan member
check.
103
Untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi,
didukung dengan perpanjangan pengamatan serta ketekunan dalam
penelitian.
Menurut Moleong,
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
104
Menurut William Wiersma,
Triangulasi terbagi menjadi tiga bagian, yakni:
a. Triangulasi sumber adalah pengujian keabsahan data yang dilakukan
dengan cara mengecek beberapa sumber yang berbeda, misalnya:
menguji keabsahan data tentang prilaku siswa dapat diperoleh dari
guru, teman siswa yang bersangkutan, dan orang tuanya.
b. Triangulasi teknik merupakan pengujian keabsahan data yang
dilakukan dengan mengecek data kepada sumber yang sama dengan
teknik yang berbeda. Misalnya data yang diperoleh dengan
wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumentasi atau
kuesioner.
c. Triangulasi waktu juga dipertimbangkan dalam pengujian keabsahan
data, dalam melakukan pengujian peneliti bisa menggunakan
pengecekan dengan wawancara, observasi, dokumentasi atau teknik
lain dalam waktu yang berbeda.
105
Dalam pengecekan data ini, peneliti menggunakan jenis triangulasi yang
kedua, yakni triangulasi teknik dengan observasi dalam lapangan yang
didukung dengan pengecekan melalui wawancara dan dokumentasi.
103
Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
(Bandung: Alfabeta,2009). Hlm. 371
104
Suharsimi Arikunto, 2006, op.cit., hlm 330.
105
Sugiono, 2009, op.cit., hlm 373-374.
56
Selain itu juga, dalam menguji keabsahan data dapat dilakukan dengan
perpanjangan pengamatan dan meningkatkan ketekunan.
106
Menurut Susan Stainback,
Dengan perpanajangan pengamatan akan dapat meningkatkan
keabsahan/kredibilitas data, karena dengan perpanajangan pengamatan
hubungan peneliti dengan nara sumser akan semakin terbentuk, semakin
terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang
disembunyikan lagi.
107
Dalam hal ini, peneliti memperpanjang pengamatan sampai timbul
kejenuhan data.
8. Tahap-tahap Penelitian
Menurut Nasution,
Dalam penelitian penelitian kualitatif ada tiga tahapan yang dilalui, yakni
mulai dilakukan sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan dan
setelah selesai dilapangan.
108
1. Tahap pra lapangan
a. Memilih lapangan, dengan pertimbangan bahwa SMA Negeri 1
Malang adalah salah satu SMA unggulan yang menyelenggarakan
rintisan sekolah bertaraf internasional di Kota Malang.
b. Mengurus perijinan, baik secara informal (ke pihak sekolah), maupun
secara formal (ke Diknas Kota Malang).
106
Ibid., hlm. 369
107
Ibid., hlm. 369
108
Ibid., hlm. 336
57
c. Melakukan penjajakan lapangan, dalam rangka penyesuaian dengan
SMA Negeri 1 Malang selaku objek penelitian.
2. Tahap pekerjaan lapangan
a. Mengadakan observasi langsung ke SMA Negeri 1 Malang terhadap
pelaksanaan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam di rintisan
sekolah bertafar internasional, dengan melibatkan beberapa informan
untuk memperoleh data.
b. Memasuki lapangan, dengan mengamati berbagai fenomena proses
pembelajaran dan wawancara dengan beberapa pihak yang
bersangkutan.
c. Berperan serta sambil mengumpulkan data.
3. Penyusunan laporan penelitian, berdasarkan hasil data yang diperoleh.
58
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum SMA Negeri 1 Malang
1. Sejarah Singkat SMA Negeri 1 Malang
SMA Negeri 1 Malang didirikan pada hari Senin Kliwon tanggal 17
April 1950 oleh pemerintah Republik Indonesia. Sejarah institusinya SMA
Negeri 1 Malang berawal dari cikal bakal lembaga pendidikan Sekolah
Menengah Tinggi (SMT), maka berdirilah SMT yang menempati gedung di
jalan Celaket 55 Malang.
109
Pada tanggal 10 Nopember 1945 Surabaya di Bom Inggris, murid SMT
Surabaya menyingkir ke Malang sehingga kelas menjadi besar. Pada Tahun
1946 SMT tersebut pindah gedung di jalan Alun- alun Bunder Tugu Utara 1
Malang. Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melancarkan agresi militer,
Republik Indonesia diserang begitu pula dengan kota Malang tanggal 31 Juli
1947 dibumihanguskan termasuk SMT di di Alun-alun Bunder, sejak itu
SMT produk Jepang habis riwayatnya.
110
Sementara Belanda menduduki Malang dengan mendirikan VHO
(Voorberindend Hoger Ondewijs=Persiapan Pendidikan yang lebih tinggi).
Ketika pendudukan tersebut tampilah seorang tokoh pendidikan bapak Sarjoe
Atmodjo yang menghimpun anak-anak yang tidak menentu studinya untuk
mendirikan sekolah. Hanya dengan tujuh orang murid, maka sekolahpun
109
Hasil Dokumentasi Profil Sekolah dengan Staf Pengganti Tata Usaha pada Buku Pedoman
Non Akademik SMA Negeri 1 Malang Tahun Pelajaran 2009-2010 . Hlm. 5
110
Ibid.,Hlm. 5
59
berjalan walaupun tidak memiliki gedung. Proses belajar mengajar berpindah
dari rumah ke rumah guru-guru pengajar, honorarium guru pengajar hanya
Rp. 20,00 (dua puluh rupiah) Oeang Republik Indonesia).Para guru tidak
gelisah walaupun dalam keadaan yang tidak mudah karena uang sekolahpun
tidak menentu semampu murid membayarnya. Namun para guru penuh
semangat pengabdian dalam mengajar untuk perjuangan bangsa.
111
Dengan perkembanganya sekolah menjadi SMT yang menempati gedung
di jalan Kasin yang mempunya kelas jauh di SD Ngaglik-Sukun. Pemerintah
Belanda membuat peraturan sekolah yang tidak berlindung di bawah
yayasann dianggap liar yang harus bubar. Pimpinan sekolah tidak kehabisan
akal, maka dipakailah SMT BOPKRI (Badan Oesaha Pendidikan Kristen
Indonesia) dimana ijin diberikan oleh Dominee Harahap, namun nama
tersebut lama tidak dipakai. Akhirnya berpindah nama menjadi SMT PGI
(Perrsatoean Goeeroe Indonesia) yang menempati gedung di jalan Kelud
yang dalam perkembanganya berpindah tempat lagi ke jalan Arjuno dan
akhirnya kembali ke gedung SMT PGI di jalan Alun-alun Bunder Tugu Utara
Nomor 1 Malang. Walaupun yang memimpin sekolah bukan bapak Sardjo
Admodjo namun beliau kita anggap sebagai perintis SMA Negeri 1 Malang
disamping nama-nama lain yang perlu kita catat dan ingat sebagai kenangan
berkembangnya sekolah kita. Beliau adalah:
Dr. Soerodjo
Dr. Poedyo Soemanto
Dr. Hadi
Ir. Tahir
111
Ibid.,5
60
Haji Djarhoem
Raspio
Mr. Njono Prawoto
Haridjaja
Soeroto
Emen Abdoellah Rachman
Dominee Harahap
112
Adapun Kepala Sekolah yang memimpin SMA Negeri 1 Malang adalah
sebagai berikut.
1) Bapak Sardjoe Atmodjo, perintis SMA Negeri 1, 1946-1950
2) Bapak G.B. Pasariboe, kepala Sekolah ke-1, 1950-1952
3) Bapak A. Djaman Hasibuan, Kepala Sekolah ke-2, 1953-1965
4) Bapak Sikin, Kepala Sekolah ke-3, 1965-1971
5) Bapak Drs. Abdul Kadir, Kepala Sekolah ke-4, 1971-1981
6) Bapak Soewardjo, PLH Kepala Sekolah, 1981-1984
7) Bapak Drs. Abdurrachman, Kepala Sekolah ke-5, 1981-1986
8) Bapak Drs. Moch. Chotib, Kepala Sekolah ke-6, 1986-1991
9) Bapak Abdul Syukur, BA., PLH Kepala Sekolah, 1991
10) Bapak Soenarjado, BA., Kepala Sekolah ke-7, 1991-1993
11) Bapak Drs. Munadjqat, Kepala Sekolah ke-8, 1993-1998
12) Bapak Drs. Sagi Siswanto, Kepala Sekolah ke-9, 1998-2004
13) Bapak Nor Salim, PLH Kepala Sekolah , 2004
14) Bapak Drs. H. Tri Suharno, Kepala Sekolah ke-10, 1998-2004
15) Bapak Drs. H. Moh. Sulthon, M.Pd., Kepala Sekolah ke-11, 2005-
sekarang
113
112
Ibid., Hlm. 6
113
Ibid., Hlm. 6
61
2. Visi dan Misi SMA Negeri 1 Malang
a. Visi SMA Negeri 1 Malang
Melalui pendidikan yang efektif SMA Negeri 1 Malang ingin
mewujudkan masyarakat yang beriman, bertaqwa, cerdas dan terampil,
berjiwa Mitreka Satata, demokratis, mandiri dan percaya diri, beretos
belajar dan beretos kerja tinggi, professional serta berdedikasi untuk
berprestasi serta berwawasan global.
114
b. Misi SMA Negeri 1 Malang
1) Terciptanya budaya disiplin, demokratis, dan etos kerja tinggi.
2) Terlaksananya pembelajaran yang efektif dan efisien.
3) Terwujudnya lulusan yang ber-IMTAQ dan menguasai IPTEK
serta mampu bersaing di era global.
4) Terwujudnya sarana dan prasarana sekolah yang memadai.
5) Terwujudnya manajemen sekolah yang mandiri, partisipatif,
demokratis, tranparasi, dan akuntabel.
6) Terwujudnya pengembangan wawasan guru dan karyan dalam
mengikuti kemajuan IPTEK.
7) Terwujudnya kesejahteraan lahir batin bagi warga sekolah.
8) Terwujudnya hubungan yang harmonis antara warga sekolah yang
berjiwa MITREKA SATATA.
114
Ibid., Hlm. 7
62
9) Terwujudnya pelayanan yang cepat, tepat, dan memuaskan pada
masyarakat.
10) Terwujudnya budaya jujur, ikhlas, sapa, senyum, dan santun.
11) Terwujudnya pengembangan kreativitas siswa dalam PIR,
keilmuan, seni, social, olahraga, dan keagamaan.
12) Terwujudnya hubungan kerja sama yang saling menguntungkan
dengan instansi lain.
13) Terwujudnya pelaksanaan 7K.
115
3. Stuktur Organisasi SMA Negeri 1 Malang
Struktur organisasi SMA Negeri 1 Malang disusun secara sistematis.
Sekolah juga bekerja sama dengan komite sekolah. Dalam struktur organisasi
sekolah, peran Kepala Sekolah merupakan pimpinan tertinggi dalam suatu
sekolah. Dalam menjalankan tugasnya, Kepala Sekolah dibantu oleh empat
wakil kepala sekolah, yaitu wakil kepala sekolah bagian kurikulum, bagian
kesiswaan, bagian sarana dan prasarana, dan bagian hubungan masyarakat.
Kepala sekolah juga memiliki hubungan koordinasi dengan Bimbingan dan
Konseling dan semua personil sekolah yang bekerja berdasarkan garis
komando dan garis koordinasi. Bagan struktur organisasi dapat dilihat dalam
lampiran 1.
116
115
Ibid., Hlm. 7
116
Ibid., Hlm. 27
63
4. Daftar Guru, Karyawan dan Jumlah Siswa SMA Negeri 1 Malang
Guru SMA Negeri 1 Malang pada tahun pelajaran 2010-2011 sebanyak:
73 orang.
117
Adapun daftar guru SMA Negeri 1 Malang adalah sebagaimana
terlampir.
Sementara itu untuk menunjang kegiatan pendidikan, SMA Negeri 1
Malang memiliki pegawai tetap maupun pegawai tidak tetap yang bertugas
untuk melakukan kegiatan-kegiatan penunjang pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar, antara lain : Karyawan Tata Usaha, Tenaga Laboran, Pustakawan,
Kebersihan, Koperasi dan Tenaga keamanan yang jumlah semuanya ada 24
orang. Adapun daftar karyawan SMA Negeri 1 Malang adalah sebagaimana
terlampir.
118
5. Denah Ruang SMA Negeri 1 Malang
Untuk mengetahui denah ruang SMA Negeri 1 Malang, penulis
melakukan penggalian data dengan cara observasi secara langsung di lokasi
penelitian dan didukung dengan data dokumentasi yang penulis peroleh.
Adapun denah ruang SMA Negeri 1 Malang adalah sebagaimana terlampir.
119
B. Paparan Data Penelitian
1. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Rintisan Sekolah
Bertaraf Internasional (RSBI)
117
Ibid., Hlm. 30-31
118
Ibid.,32
119
Buku Pedoman SMA, op.cit., hlm. 53.
64
Keberhasilan dalam sebuah pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor,
salah satunya yakni model pembelajaran yang digunakan. Model pembelajaran
yang diidentifikasikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar yang meliputi
pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuan-tujuan
pembalajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, serta pengelolaan
kelas.
Dalam kegiatan belajar mengajar, tidak lepas dari yang namanya tujuan.
Model pembelajaran pun juga tidak lepas dari tujuan pembelajaran. Karena
tujuan pembelajaran memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan
pembelajaran. Tujuan merupakan pedoman sekaligus sasaran yang akan
dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
Mengenai hal ini peneliti telah melakukan interview dengan bapak Junaidi
selaku GPAI di SMA Negeri 1 Malang. Beliau mengatakan:
segala hal tidak bisa terlepas dari yang namanya tujuan, begitu juga
dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan memiliki peran yang sangat penting
dan tujuan pembelajaran harus disesuaikan dengan ketersediaan waktu,
ketersediaan sarana dan prasarana serta kesiapan peserta didik. Semuanya
harus mengana dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
120
Peneliti juga melakukan wawancara dengan bapak Mansur, beliau
mengatakan:
.menyampaikan tujuan pembelajaran sangat penting sekali,
setidaknya ketika kita menyampaikan tujuan pembelajaran pada siswa
mereka menjadi tahu tentang pentingya mempelajari materi yang akan
120
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 27
April 2010, Pukul 10.45.-11.20
65
disampaikan sehingga timbul motivasi atau semangat dalam
belajar
121
Terkait dengan model pembelajaran pendidikan agama Islam yang
digunakan di rintisan sekolah bertaraf internasional, peneliti telah melakukan
interview dengan tiga GPAI yang ada di SMA Negeri 1 Malang. Pada hari
pertama peneliti mengadakan interview dengan bapak Junaidi pada tanggal 27
April 2010 pada pukul 10.45-11.20 yang hasilnya sebagai berikut:
..Model yang sering atau acap kali saya gunakan dalam pembelajaran
di kelas adalah metode diskusi dimana siswa lebih berperan aktif dalam
kegiatan pembelajaran sedangkan guru hanya sebagai fasilitator yang
mengamati, memberikan motivasi dan rangsangan kepada siswa serta
mengarahkan bila terdapat penjelasan siswa yang terlalu melenceng dari
pembahasan....
122
Sedangkan tanggapan terkait model yang digunakan oleh GPAI dalam
pembelajaran dalam hal ini peneliti mengadakan interview dengan bapak
Junaidi yang hasilnya sebagai berikut:
..Kalau mengenai model yang sering saya pakai dalam mengajar ya
tidak tentu, terkadang makai jig saw, sering juga makai tanya jawab,
diskusi juga sering dipakai, dan sesekali memberikan metode ceramah,
yang terpenting yang banyak aktif adalah siswanya bukan gurunya. Guru
hanya memberikan pengarahan saja. Soalnya terkadang ada siswa yang
buandel yang ngga mau partisipasi aktif, jadinya ya gurunya
mengkondisikan siswa.....
123
Dari interview di atas kebanyakan guru dalam mengajar agama
menggunakan metode diskusi karena dengan metode ini siswa lebih berperan
121
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
122
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 27 April
2010, Pukul 10.45.-11.20
123
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 27 April
2010, Pukul 10.45.-11.20
66
aktif. Namun tidak berarti selalu menggunakan metode diskusi, biasanya guru
juga memadukan diskusi dengan metode lain agar lebih bervariatif.
Dalam menyampaikan materi yang berbeda, maka model yang diterpakan
atau yang dipakai juga berbeda. Dalam hal ini, peneliti melakukan interview
dengan bapak Junaidi selaku GPAI yang hasilnya sebagai berikut:
Penggunaan model dalam kegiatan pembelajaran harus disesuaikan
dengan materi yang akan disampaikan. jadi, metode yang digunakan tidak
itu-itu aja namun ada variasi yang disesuaiakan dengan materi. Tidak serta
merta guru selalu memakai diskusi, tanya jawab ataupun metode lain,
namun bisa jadi kolaborasi dari beberapa metode. Hal itu karena sifat
dasar manusia yang cenderung merasa bosan jika yang dipakai itu-itu
saja......
124
Pendapat yang lain juga disampaikan oleh GPAI yang lain yakni Ibu
Mukarramah yang mengatakan:
Menyampaikan materi yang berbeda berpengaruh pada metode yang
dipakai. Tidak hanya itu, guru juga harus mengerti tentang perkembangan
kemampuan siswa, karena tidak semua kelas itu anaknya aktif semua. Ada
kelas yang memang anak-anaknya aktif semua dan sebaliknya juga kelas
yang anak-anaknya pendiam. Namun nggak berarti mereka ngak pinter,
nggak tau ya kenapa
125
Jadi jelas bahwasanya dalam menyampaikan materi yang berbeda, maka
berbeda pula metode yang digunakan. Biasanya seorang guru menyesuaikan
materi yang akan disampaikan dengan metode mana yang lebih cocok atau
sesuai, sehingga siswa menjadi semangat dalam belajar. Dengan hanya
menggunakan metode diskusi maka siswa akan cenderung bosan dan timbul
rasa malas.
124
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 27 April
2010, Pukul 10.45.-11.20
125
Wawancara dengan Mukarromah, S. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 19 Mei
2010, Pukul 07.45-08.30.
67
Dari pengalaman yang sudah dilakukan oleh para GPAI, memang ada
model pembelajaran yang sering kali dipakai. setelah peneliti melakukan
interview maka didapatkan hasil sebagai berikut:
.....Model yang sering sekali saya gunakan dalam mengajar adalah
diskusi, dimana para siswa biasanya memakai power point sebagai
penunjang dalam pembelajaran. Dan alhamdulillah mereka antusias dan
terlihat saling berkomentar. Guru hanya mengamati siswa yang mungkin
rame sendiri atau ngga mau ikut pelajaran. Nah itulah tugas guru, jadi
yang aktif lebih banyak adalah siswanya....
126
Setelah melakukan interview dengan GPAI yang lain juga didapatkan yang
hampir sama, yakni:
..Kalau model yang sering saya gunakan dan saya rasa yang paling
efektif yaitu metode diskusi kelas, sebab dengan diskusi mereka bisa
terlatih untuk mengemukakan pendapatnya. Guru cuman mengamati jika
kondisi kelas kurang semangat maka guru memberikan rangsangan berupa
motivasi dengan memancing pertanyaan, sehingga dengan begitu kelas
kembali hidup. Tetapi ya wajar wong namanya siswa pasti ada nakal-
nakalnya dikit....
127
Hampir dalam setiap pertemuan, guru selalu menggunakan diskusi kelas
dengan media power point sebagai penunjangnya. Tidak semua siswa terlibat
aktif dalam diskusi, ada kelas yang memang didominasi hanya beberapa siswa
yang aktif dan sebaliknya juga ada kelas yang mayoritas siswanya aktif dan
semangat. Sebagai guru haruslah paham tentang karakter siswa sehingga
ketika memasuki kelas yang kurang aktif maka guru harus selalu memberikan
motivasi pada siswa.
Berbagai upaya yang sudah dilakukan oleh seorang guru dalam mengelola
kelas, namun ada beragam kondisi yang terjadi dalam pembelajaran. Adapun
126
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 27
April 2010, Pukul 10.45.-11.20
127
Wawancara dengan Mukarromah, S. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 19 Mei
2010, Pukul 07.45-08.30
68
terkait dengan kondisi dan situasi ketika proses belajar mengajar, peneliti telah
melakukan interview yang hasilnya demikian:
..Ketika pelajaran dimulai, respon siswa terhadap pelajaran agama
beragam. Ada yang antusias, ada yang biasa aja, namun dapat dikatakan
secara keseluruhan siswa manut-manut. Mereka mendengarkan penjelasan
guru kok. Kalau dikasih PR juga mereka selalu mengerjakan, meskipun
terkadang mereka juga harus dipaksa. Memang kalo nggak dipaksa nggak
bisa. Memang sih tidak semua kelas aktif, ada memang beberapa yang
pasif. Nah oleh karena itu tadi ketika menyampaikan materi, guru harus
melihat kemampuan siswa sejauh mana, tidak dipukul rata. nggak bisa
disamakan..
128
Hal yang juga penting yakni terkait variasi belajar mengajar, disini
peneliti juga menghasilkan interview dengan GPAI yang hasilnya demikian:
Ya jelas mas, variasi itu penting. Tidak hanya metode aja yang
butuh variasi, namun media, lingkungan belajar dan interaksi dengan
siswa juga butuh adanya variasi. Media yang digunakan juga tidak melulu
memakai power point dan kegiatan belajar juga tidak selalu di dalam
kelas. Sesekali kegiatan belajar dipindahkan di Mushallah atau perpus.
Dengan demikian siswa tidak bosan atau jenuh sehingga semangat
belajarnya tumbuh lagi. memang sih tergantung gurunya juga..
129
Dari beberapa hasil yang di dapatkan peneliti di lapangan, dalam kegiatan
pembelajaran di dukung dengan media yang berupa LCD pada seriap kelas
dan kegiatan pembelajaran tidak selalu berada dalam kelas, sering juga
dipindahkan dalam perpustakaan, mushallah, di luar kelas dan juga di ruang
multimedia untuk mengurangi kejenuhan siswa.
Jadi jelas, variasi tidak hanya terkait metode yang digunakan, namun
media, pola interaksi, gaya mengajar dan variasi-vasiasi lain juga dibutuhkan.
Biasanya kegiatan belajar tidak selalu dilakukan di dalam kelas, terkadang
128
Wawancara dengan Mukarromah, S. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 19 Mei
2010, Pukul 07.45-08.30.
129
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
69
guru memindahkan kegiaran belajar di mushalla, perpus atau di laboratorium.
Tujuanya agar siswa tidak merasa bosan dan menjadi semangat dengan
lingkungan yang baru.
Perencanaan merupakan proses penyusunan sesuatu yang akan
dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan
perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka
tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun yang lebih
utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan
mudah dan tepat sasaran.
Begitu pula dengan perencanaan pembelajaran, yang direncanakan harus
sesuai dengan target pendidikan. Guru sebagai subjek dalam membuat
perencanaan pembelajaran harus dapat menyusun berbagai program
pengajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
Dalam hal ini peneliti juga melakukan wawancara dengan tiga (2) orang
guru pendidikan agama islam yang ada, dan hasilnya adalah sebagai berikut:
......Sebelum mengajar ya pastilah ada persiapanya, nggak syukur ngajar
gitu. paling tidak guru harus mengetahui terkait materi yang akan
disampaikan tentang apa, trus besok mau menggunakan metode apa
sehingga ketika masuk nggak sampai bertanya pada siswa sekarang
mbahas apa? terlihat sekali kalau tidak persiapan. Kita membuat
perencanaan sesuai dengan bab/judul yang akan disampaikan, dan juga
memberi kebebasan kepada siswa yang non islam, artinya dia boleh ikut
di dalam kelas dengan syarat tidak mengganggu yang lain (sebagai
peserta pasif), atau keluar dari kelas dan diarahkan ke perpus untuk
belajar......
130
........persiapan itu penting, tetapi memang ada juga yang nggak pake
persiapan karena memang beliau sudah paham betul dengan materi dan
karena sudah saking lamanya ngajar, jadi ya paham benar. Sebagai guru
130
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27
April 2010 Pukul 10.30-11.20.
70
kita kan harus profasional, nggak syukur ngajar. Namun, ngajar adalah
sebuah amanat yang besar, jadi bagaimana caranya agar siswanya benar-
benar paham dengan materi. Keberhasilan belajar sebenarnya jika timbul
kesadaran pada siswa untuk belajar dengan sendirinya tanpa adanya
paksaan
131
Mengajar PAI merupakan tanggung jawab yang besar bagi seorang guru
agama, karena dengan beban materi yang begitu banyak harus bergelut dengan
jam mengajar yang minim, haruslah mempunyai kreatifitas untuk mengatasi
hal tersebut guna mencapai tujuan pembelajaran yang berhasil. Terkait dengan
hal ini peneliti sudah mengadakan interview dengan GPAI yang berpendapat:
........guru PAI harus kreatif dan inovatif dengan kondisi yang ada,
karena dengan jam yang begitu minim harus bergelut dengan materi yang
begitu banyak. Biasaya saya memberikan pengayaan kepada siswa
dengan memberikan tugas terstruktur untuk menggantikan materi-materi
yang tidak terbahas. Namun alhamdulillah masih bisa malakukan praktek
terkait materi yang butuh untuk adanya praktek seperti merawat jenazah
mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati dan membumikan
jenazah
132
Selain itu, hal penting lain yang dapat mendukung keberhasilan dalam
pembelajaran yaitu tersedianya media pendukung. media dapat berupa audio,
visual bahkan dapat pula berupa audio visual. berhubungan dengan media
peneliti telah mendapatkan masukan dari GPAI yaitu:
.....Dalam pembelajaran khususnya PAI sangat terbantu dengan adanya
media pembelajaran. karena dengan media, siswa lebih termotivasi dalam
belajar, dapat mengurangi beban guru, pembelajaran tidak bersifat
monoton. Tapi tidak selalu media mendukung pembelajaran, karena
tergantung juga dari pertimbangan dalam memilih media yang sesuai
dengan materi. Sebaliknya jika dalam pemilihan media tidak sesuai
131
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 04
Mei 2010 Pukul 11.45-13.00
132
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
71
malah hasilnya kurang maksimal, justru malah banyak waktu terbuang
sia-sia....
133
.......tergantung juga sih, tatapi memang biasanya mempemudah saya
dalam mengajar. Seringnya siswa memanfaatkan LCD yang disediakan
sekolah sehingga siswa bisa membuat power point. Kadang malah justru
siswanya yang lebih pandai membuat power point. Tidak hanya itu,
dalam penugasan juga mereka saya suruh cari bahan di internet sehingga
pengetahuan baru sangat kaya. Namun, tidak mengenyampingkan faktor
guru, karena guru tetaplah sarana terbaik yang tak tergantikan
134
Tentunya ada perbedaan yang mencolok ketika mengajar di sekolah yang
bertaraf internasional dengan sekolah yang tarafnya biasa-biasa saja. Terkait
dengan sekolah bertaraf internasional peneliti telah melakukan wawancara
dengan bapak Ludfi Setiawan selaku staf RSBI yang hasilnya:
.....Tentunya ada perbedaan antara mengajar di RSBI dengan mengajar
di sekolah-sekolah biasa. dilihat dari segi pengajarnya di RSBI minimal
harus S2 dimana sekarang ini sudah banyak bapak/ ibu guru yang
dibiayai oleh sekolah untuk menempuh pendidikan S2. insya Allah
kedepan kebanyakan sudah S2 semua. selain itu juga sarana dan
prasarana sekolah dapat dikatakan sudah termasuk lengkap.
Pengembangan bahasa asing juga gencar dilakukan terutama bahasa
Inggris sehingga pengantar pembelajaran dalam kelas menggunakan
bahasa Inggris terutama mata pelajaran umum, namun untuk PAI masih
belum.....
135
.......Mengenai RSBI, untuk mata pelajaran PAI belum menggunakan
pengantar bahasa asing karena siswa masih kesulitan. Wong dengan
bahasa Indonesia aja masih sulit apalagi memakai bahasa Inggris. Namun
tetap diupayakan menggunakan bahasa asing. Tetapi dari segi sarana dan
prasarana serta lingkungan sekolah sangat mendukung kegiatan
pembelajaran PAI....
136
133
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27
April 2010 Pukul 10.30-11.20.
134
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
135
Wawancara dengan Ludfi Setiwan, SE (Staf RSBI SMA Negeri 1 Malang), pada Tanggal
19 Mei 2010 Pukul 10.15-10.55.
136
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
72
Pendekatan yang dilakukan seorang guru juga memiliki arti penting dalam
penerapan model pembelajaran. guru yang menggunakan pendekatan
individual yang melihat peserta didik sebagai makhluk individul dengan
segala perbedaan dan persamaanya akan berbeda dengan pendekatan sosial
yang melihat peserta didik sebagai makhluk sosial. mengenai pendekatan ini
peneliti juga melakukan interview dengan GPAI yang hasilnya sebagai
berikut:
........Tugas seorang guru tidak hanya mengajar terus sudah gitu, tetapi
lebih dari itu seorang guru juga harus melakukan pendekatan terhadap
peserta didiknya baik secara individual maupun sosial. Hal tersebut akan
berguna sekali terlebih ketika seorang guru melakukan kerjasama dengan
orang tua wali. Hal tersebut akan mendukung dalam pemantauan
belajarnya juga perkembangan sosialnya sehingga tidak sampai
terjerumus dalam tindakan yang merugikan......
137
.......Guru merupakan orang tua di sekolah, perlakuan terhadap siswa
ibaratkan memerlakukan seperti anaknya sendiri. Perhatian dan
pementauan terhadap siswa tidak hanya di saat pelajaran saja, lebih dari
itu juga dilakukan ketika di luar jam pelajaran. Bahkan seharusnya guru
harus selalu bekerja sama dengan orang tuanya sehingga tau bagaimana
perkembangannya. Pembelajaran yang saya lakukan sering tidak terpaku
pada teks, namun lebih saya hubungkan dengan realita yang ada,
sehingga tercipta kesadaran yang mendalam tentang agama karena agama
yang terpenting adalah pengamalanya. Baru di SMA Negeri 1 ini saya
bisa merasakan nikmatnya mengajar. sebelum-sebelumnya nggak
merasakan apa-apa. Memang lingkungan, suasana, sarana dan prasarana
sangat berpengaruh.....
138
Pengelolaan kelas bukanlah suatu hal yang mudah dan ringan. Banyak
sekali faktor yang menyebabkan terjadinya kerumitan dalam pengelolaan
kelas. Dari sini peneliti telah melakukan intrview dengan GPAI yang hasilnya
sebagia berikut:
137
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 27
April 2010, Pukul 10.45.-11.20
138
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
73
.......Ramai tidaknya kondisi di kelas sebenarnya tergantung dari
gurunya. Kalau gurunya mampu menciptakan suasana kelas yang hidup,
maka dengan sendirinya para siswa akan fokus pada materi yang
disampaikan sehingga tidak sempat untuk berbuat gaduh. Terkadang juga
jumlah siswa yang melebihi kapasitas akan cenderung terjadi keributan
dan sulit sekali untuk dikendalikan. Oleh karena itu jumlah siswa tidak
boleh lebih dari 20 siswa, jika itu diterapkan maka kondisi kelas akan
kondusif.....
139
........Berbagai upaya yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasa
kelas yang kondusif, diantaranya ya masalah penempatan siswa,
pengelompokan siswa, jumlah siswa dalam kelas juga berpengaruh,
kebersihan kelas yang harus diperhatikan. Dengan begitu akan tercipta
suasa belajar yang menyenangkan......
140
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwasanya model
pembelajaran yang diterapkan di SMA Negeri 1 Malang memanfaatkan media
power point yang dikolaborasikan dengan diskusi dan tanya jawab serta
penugasan dimana seorang guru hanya memberikan pengantar, sebagai
pengamat, motivator dan mengarahkan siswa serta meluruskan hasil dari
diskusi siswa. Guru tidak hanya mementingkan aspek kognitif siswa saja,
tetapi guru juga memikirkan aspek aspek afektif dan psikomotor siswa yang
terbukti dari jalinan kerjasama yang dilakukan dengan orang tua siswa untuk
mengetahui tingkah laku siswa ketika di rumah (luar sekolah).
Segala aspek yang mendukung keberhasilah pembelajaran mulai dari
tenaga pengajar yang menguasai tentang variasi mengajar, penggunaan media,
pengelolaan kelas, pendekatan tehadap siswa, sarana dan prasarana yang
139
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
140
Wawancara dengan Mukarromah, S. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 19 Mei
2010, Pukul 07.45-08.30
74
mendukung serta lingkungan belajar yang kondusif yang terlihat dari antusias
siswa dalam mengikuti pelajaran.
2. Fakto-faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Model
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Rintisan Sekolah
Bertaraf Internasional (RSBI)
Dalam segala hal termasuk juga dalam kegiatan belajar pastilah tidak
selalu berjalan dengan mulus. Faktor pendukung dan penghambat selalu
mewarnai dalam perjalan proses belajar mengajar. Namun semuanya pasti ada
solusi untuk mengatasinya. Terkait dengan faktor pendukung dalam penerapan
model pembelajaran PAI di RSBI peneliti sudah melakukan interview dengan
tiga (3) GPAI yang hasilnya sebagai berikut:
......sebenarnya ya sama saja mas, pembelajaran di RSBI juga ada
pendukungnya dan juga ada hambatanya. Faktor pendukungnya
diantaranya: pengajarnya pendidikan minimal S2, sarana dan
prasarananya memadai, IQ siswa mayoritas di atas rata-rata karena lewat
jalur seleksi, selalu ada perbaikan dalam semua aspek. Pelatihan siswa
untuk berkhutbah di masjid-masjid untuk melatih keberanian dan
mengembangkan pengetahuan agamanya, tidak hanya itu siswa kami juga
sering mengikuti even-even perlombaan pidato bahasa Arab dan Inggris
yang diadakan biasanya oleh UIN, dari hal lain siswa juga mendapatkan
perhatian khusus dari guru tentang kegiatan ibadahnya seperti shalat yang
dicatat dalam portofolio, selain itu juga model pembelajaran yang saya
terapkan tidak terpaku pada teks namun saya lebih menghubungkanya
dengan kondisi yang sebenarnya.....
141
.
.....faktor pendukungnya: mayoritas gurunya berpendidikan S2/ sedang
menempuh S2, sehingga dari kwalitas mengajar atau penguasaan
terhadap metode dan strategi juga lebih variatif, sarana dan prasarana
yang lengkap, lingkungan yang mendukung, siswanya yang terseleksi.
....
142
.......selama ini yang saya rasakan baik-baik saja. pendukungnya ia
mayoritas tenaga pengajar yang profesional, pemanfaatan media yang
141
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 04 Mei
2010, Pukul 10.30-11.20..
142
Wawancara dengan Mukarromah, S. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 19 Mei
2010 , Pukul 07.45-08.10
75
cukup maksimal, siswa yang tidak gaptek. Saya menyuruh siswa yang
membuat power point karana dengan dengan membuat sendiri mereka
lebih berperan serta lebih ada persiapan, namun berbeda ketika guru yang
membuat maka mereka manya menerima tanpa ada usaha, pendukung
yang lain yaitu penjadwalan siswa terkait shalat lima waktunya yang
dicatat dalam buku harianya, bahkan ketika bulan Ramadhan siswa
ditugaskan untuk membuat kliping yang berbau agama yang biasanya
diperoleh dari koran atau surat kabar. Namun dalam mengajar yang lebih
penting bagi saya adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran siswa
untuk memiliki akhlak terpuji, terutama kepada orang tua dan guru, siswa
dianggap sebagai anak sendiri dan seorang guru harus sering memberikan
peringatan pada siswa.....
143
Faktor pendukung dalam penerapan model pembelajaran PAI di rintisan
sekolah bertaraf internasional (RSBI) di SMA Negeri 1 Malang:
1. Tenaga pengajarnya yang profesional yang berpengalaman dalam
mengajar.
2. Sarana dan prasarana yang memadai
3. Pemanfaatan media pembelajaran yang tepat guna
4. Penguasaan siswa terhadap teknologi yang sangat menunjang
dalam pembelajaran.
5. IQ siswa di atas rata-rata karena melalui jalus seleksi.
6. Lingkungan yang kondusif karena letaknya yang berdampingan
dengan sekolah lain sehingga tercipta persaingan dalam belajar.
7. Kreatifitas dan inovasi guru dalam memberikan penugasan pada
siswa.
8. Variasi dalam mengajar yang dapat mengurangi kejenuhan siswa
dengan tidak selalu melakukan pembelajaran dalam kelas.
143
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
76
9. Pembelajaran yang tidak terpaku pada terks tetapi
menghubungkanya dengan kondisi dan situasi yang sesungguhnya.
Selain faktor pendukung, ada juga faktor yang menghambat dalam
penerapan model pembelajaran PAI di sekolah bertaraf internasional. terkait
hal ini peneliti juga mencatat beberapa penghambatnya setelah melakukan
interview dan observasi di kelas, diantaranya:
.....Tetapi ada juga faktor penghambatnya, diantaranya: belum
maksimalnya program bilingual yang menjadi ciri di RSBI karena
penjelasan dengan bahasa Indonesia aja masih sulit apalagi menggunakan
bahasa asing, mayoritas siswanya anak orang berada sehingga terkadang
meremehkan terkait dengan pengetahuan agama, banyak siswa yang
belum bisa membaca Al-Quran sehingga menghambat, banyak juga
yang belum bisa shalat, siswanya heterogen sehingga sulit
mengelompokanya, ada beberapa LCD yang rusak sehingga tidak bisa
difungsikan. tentang evaluasi, keseringan dalam penyerahan nilai tidak
bersmaan sehingga menyulitkan dalam proses evaluasi...
144
.....Faktor penghambatnya: sulitnya penkondisian siswa yang belum bisa
baca tulis Al-Quran, siswanya macem-macem, ada yang dari MTs
namun lebih banyak dari SMP sehingga kemampuanya tidak merata jadi
sulit dikondisikan. penghambat yang lain yaitu jumlah jam mengajar PAI
yang minim dengan beban materi yang begitu banyak tidak seimbang.
Meskipun sudah dilakukan upaya mengatasinya dengan penugasan
namun tetap saja kurang maksimal......
145
......Dari segi penghambatnya yang saya rasakan biasa saja, yang penting
ia meskipun nakal namun nakal mereka masih wajar, hanya bolos, ramai,
dan itu umum terjadi. terkadang juga faktor keluarga yang tidak
harmonis, ada juga beberapa siswa yang tidak bisa baca Al-Quran
karena sejak kecil sekolah di lembaga umum yang yang sangat sulit
dikondisikan dalam les tambahan, keterbatasan guru dalam mengawasi
siswa dan komunikasi dengan orang tua......"
146
144
Wawancara dengan Drs. H. Junaidi, M.Ag (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 04 Mei
2010, Pukul 11.45-13.00
145
Wawancara dengan Mukarromah, S. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang) pada Tgl 19 Mei
2010 , Pukul 07.45-08.10.
146
Wawancara dengan Drs. Mansur, M. Ag. (GPAI SMA Negeri 1 Malang), pada Tgl 27 Mei
2010 Pukul 09.30-10.20.
77
Faktor penghambat dalam penerapan model pembelajaran PAI di rintisan
sekolah bertaraf internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang diantaranya:
1. Pengetahuan siswa terhadap agama yang bersifat heterogen karena input
siswa yang berasal dari latar belakang yang beraneka ragam.
2. Adanya siswa yang tidak bisa membaca Al-Quran dan praktek ibadah
seperti shalat.
3. Pendekatan dan pemantauan terhadap siswa yang kurang maksimal.
4. Materi PAI yang begitu banyak dengan jam pelajaran yang minim
sehingga penyampaian kurang mendalam.
5. Ada beberapa media pembelajaran yang kondisinya tidak layak pakai
sehingga menyulitkan siswa dalam menunjang kegiatan pembelajaran.
6. Kurangnya dukungan orang tua siswa terhadap pengetahuan agama karena
lebih tertarik untuk mendalami pengetahuan umum.
7. Latar belakang orang tua siswa yang berasal dari keluarga mampu
sehingga sering disibukan dengan kerja yang berdampak pada kurangnya
perhatian terhadap pendidikan anak.
8. Kurang sesuainya pemakaian media belajar, metode, atau hal lain yang
berdampak pada kurang efektifnya kegiatan pembelajaran.
78
BAB V
ANALISIS HASIL PENELITIAN
Berdasarkan paparan data pada bab sebelumnya maka hasil temuan
penelitian sebagai berikut:
A. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Rintisan Sekolah
Bertaraf Internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang
Model pembelajaran PAI di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)
SMA Negeri 1 Malang menuntut seorang guru untuk selektif dalam memilih dan
mempertimbangkan model yang akan digunakan, dimana dengan model tersebut
seorang guru dapat membantu siswa untuk mendapatkan informasi, ide,
keterampilan, cara berfikir dan mengekspresikan idenya sendiri.
Dengan kata lain, GPAI mempertimbangkan tentang model yang akan
digunakan. Model yang digunakan harus disesuaikan dengan konsep yang lebih
cocok dan dapat dipadukan dengan model pembelajaran yang lain untuk
meningkatkan hasil belajar siswa, karena tidak ada suatu model pembelajaran
yang lebih baik dari pada model-model yang lain. Pertimbangan tersebut meliputi:
materi pelajaran, jam pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, lingkungan
belajar, dan fasilitas penunjang yang tersedia sehingga tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan dapat dicapai.
Dari data yang diperoleh dilapangan, model yang diterapkan sudah sesuai
dengan teori yang ada dimana sebelum pergi mengajar seorang guru melakukan
perencanaan berupa persiapan tentang materi yang akan diajarkan dan metode
79
yang akan digunakan. Dalam penelitian dilapangan didapatkan setidaknya guru
mengetahui materi apa yang akan dibahas, di kelas mana, kondisnya siswanya
bagaimana, sehingga ketika masuk kelas tidak terlihat ketidaksiapanya. Guru juga
bertanya pada siswa tentang materi sebelumnya dan menghubungkanya dengan
materi berukutnya.
Dalam pelaksanaa pembelajaran dalam kelas, penelitian di lapangan
menunjukan bahwasanya seorang guru melakukan pendekatan terhadap siswa
karena seorang guru harus memahami dan memperhatikan perbedaan bakat,
kemampuan, kecenderungan serta potensi yang berbeda-beda yang dimiliki
peserta didik sehingga bisa membantunya dalam mengekspresikan dirinya.
Seorang guru tidak hanya sebagai pemberi informasi, melainkan sebagai
agen yang menggerakan terjadinya proses pembelajaran, motivator, inspirator,
fasilitator pada peserta didik, sehingga yang lebih mendominasi kegiatan
pembelajaran adalah peserta didik bukan guru. Guru hanya mengarahkan dan
menambahkan materi yang belum terbahas secara tuntas. Namun bukan berarti
peran guru dikesampingkan, tidak ada media apapun yang mampu menggantikan
peran guru yang begitu penting.
Dalam model pembelajaran termasuk di dalamnya terdapat tujuan-tujuan
pengajaran. Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan, sebelum kegiatan
pembelajaran dimulai, seorang guru telah menjelaskan tentang tujuan-tujuan
pengajaran yang ingin dicapai kepada sisiwa. Ini sangat berpengaruh karena akan
membantu siswa dalam memahami tentang pentingnya materi yang akan mereka
pelajari.
80
Setelah menjelaskan tujuan-tujuan pengajaran, hal lain yang termasuk
dalam model pembelajaran yaitu terkait tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran.
Dari survei dilapangan, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran terbagi dalam
tiga tahapan, yakni: kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Kegiatan awal,
Kegiatan utama yang dilaksanakan yaitu menciptakan suasana
pembelajaran yang kondusif, melakukan apersepsi, penilaian awal (pre-test),
mengisi daftar hadir, kemudian menumbuhkan kesiapan belajar siswa,
memberikan motivasi dan stimulus, kemudian dilanjutkan dengan mengajukan
beberapa pertanyaan tentang materi sebelumnya.
Kegiatan inti,
kegitan ini lebih pada proses pembentukan pengalaman belajar sisiwa.
Dalam hal ini, guru memberikan penjelasan tentang tujuan dan kompetensi dasar
yang harus dicapai siswa beserta garis besar materi yang akan disampaikan serta
menjelaskan pentingnya mempelajari materi tersebut. Selanjutnya,
mempersilahkan siswa untuk melakukan diskusi dengan media power point,
dilanjutkan tanya jawab, dan pemeragaan dilanjutkan dengan masukan dari guru
tentang materi yang belum terbahas.
Kegiatan penutup,
dalam hal ini sang guru memberikan penguatan dan penugasan.
dilanjutkan dengan menutup kegiatan pembelajaran.
Terkait metode pembelajaran, di lapangan diperoleh hasil bahwasanya
metode pembelajaran mendapatkan perhatian yang besar dari GPAI karena
81
dengan metode yang sesuai materi pelajaran yang dapat disampaikan dengan
efektif dan efisien serta terukur dengan baik.
Dari data yang diperoleh dilapangan metode yang sering kali digunakan
dan dirasa paling efektif dimana siswa dapat menangkapnya dengan baik yaitu
menggunakan metode gabungan, maksudnya dalam prakteknya guru memadukan
antara metode diskusi dengan memanfaatkan media power point yang dibuat oleh
siswa, dipadukan dengan metode tanya jawab dan ceramah. Itulah metode yang
sering kali dipakai dan dirasa paling efektif. Pada materi-materi tertentu seorang
guru juga menggunakan metode demonstrasi dimana seorang guru memeragakan
kepada siswa. Misalnya praktek merawat jenazah mulai dari memandikan,
mengkafani, menshalati dan menguburkan jenazah. Setelah itu biasanya guru
menunjuk beberapa kelompok yang sudah terbentuk untuk memeragakan di depan
terkait materi.
Salain itu, guru tidak selalu terpaku pada teks, namun seorang guru juga
menghubungkan materi yang dibahas dengan kondisi nyata yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari sehingga kegiatan pembelajaran begitu hidup dengan
pertanyaan yang terus mengalir dari siswa.
Mengenai sarana dan prasarana, data yang peneliti peroleh di lapangan
menunjukan bahwasanya memang bisa dibilang sarana dan prasarana yang
tersedia di sekolah tergolong lengkap. Dalam setiap kelas terdapat media yang
mendukung seperti: sound system, layar dll, dimana sangat membantu
memberikan variasi dalam kegiatan pembelajaran yang bahanya dicari dan dibuat
sendiri oleh siswa bukan dari guru. Ini dimaksudkan agar siswa tidak hanya
82
menerima materi tetapi lebih dari itu mereka bisa mengembangkanya dan belajar
dari bahan yang dicarinya. Sekolah juga menyediakan LCD yang bisa dipakai
oleh siswa. Namun penggunaan LCD belum maksimal karena jumlahnya masih
kurang dan ada beberapa yang tidak bisa dioperasikan.
Kejenuhan atau kebosanan dalam kegiatan pembelajaran pembelajaran
sangat mungkin terjadi, namun dari penelitian di lapangan ada upaya yang
dilakukan untuk mengatasi hal tersebut yakni dengan mengembangkan variasi
dalam belajar mengajar. Variasi bisa berupa media yang digunakan, metode, pola
interaksi yang semuanya sangat beragam. para GPAI di SMA Negeri 1 Malang
juga menanggapi hal itu dengan mengupayakan variasi yang berbeda dalam setiap
pertemuan. Salah satu contoh bahwa kegiatan pembelajaran tidak selalu dilakukan
di dalam kelas, sesekali dipindahkan ke mushallah atau di luar kelas. media yang
digunakan juga tidak selalu menggunakan LCD (power point). Namun, selalu ada
variasi dan inovasi baru dari guru dalam penyajian atau kemasan yang berbeda
walaupun pada hakikatnya sama.
Tidak hanya itu, gaya mengajar, termasuk di dalamnya variasi suara,
gerakan anggota badan, dan variasi perpindahan guru dalam kelas juga sempat
terekam dalam hasil observasi dalam kelas. Dengan begitu seorang guru lebih
terlihat energik dan bersemangat sehingga perhatian siswa selalu tertuju pada
guru.
Hasil penelitian tentang pengelolaan kelas bahwasanya tiap-tiap kelas
memiliki karakteristik yang beragam, ada kelas yang mayoritas siswanya aktif dan
sebaliknya ada juga kelas yang siswanya hanya beberapa yang aktif. Mengatasi
83
hal demikian, seorang guru membedakan cara penangananya dan pendekatanya.
Intinya bagaimana caranya agar suasana kelas mampu menumbuhkan rasa senang
dalam belajar,menggairahkan, menggembirakan, imajinatif, kreatif, dan etos kerja
yang tinggi pada peserta didik yang dimulai dari guru yang energik dan penuh
semangat, memberikan suport dan pujian serta ancaman nilai sehingga dengan
demikian kelas akan selalu hidup.
Penugasan juga selalu diberikan kepada siswa setelah kegiatan
pembelajaran usai, terkadang sebelum materi dibahas seorang guru menugaskan
siswa untuk mencari bahan dari internet atau sumber manapun sehingga ketika
materi dibahas mereka benar-benar siap menerima pelajaran.
B. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Model
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Rintisan Sekolah
Bertaraf Internasional (RSBI) SMA Negeri 1 Malang
Dalam penerapanya, model pembelajaran PAI di Rintisan Sekolah
Bertaraf Internasional (RSBI) terdapat beberapa factor pendukung dan
penghambatnya.
a Dari hasil temuan penelitian, faktor pendukung penerapan model
pembelajaran PAI di RSBI meliputi:
1. Tenaga pengajarnya yang profesional yang berpengalaman dalam
mengajar.
2. Sarana dan prasarana yang memadai
3. Pemanfaatan media pembelajaran yang tepat guna
84
4. Penguasaan siswa terhadap teknologi yang sangat menunjang dalam
pembelajaran.
5. IQ siswa di atas rata-rata karena melalui jalus seleksi.
6. Lingkungan yang kondusif karena letaknya yang berdampingan
dengan sekolah lain sehingga tercipta persaingan dalam belajar.
7. Kreatifitas dan inovasi guru dalam memberikan penugasan pada
siswa.
8. Variasi dalam mengajar yang dapat mengurangi kejenuhan siswa
dengan tidak selalu melakukan pembelajaran dalam kelas.
9. Pembelajaran yang tidak terpaku pada terks tetapi
menghubungkanya dengan kondisi dan situasi yang sesungguhnya.
b Faktor Penghambat
Selain faktor pendukung, dari hasil penelitian juga terdapat faktor
penghambat dalam penerapan model pembelajaran PAI. Namun, terkait
faktor penghambat, dari beberapa interview yang dilakukan pada GPAI
yang didukung dengan hasil observasi dalam kelas, faktor penghambatnya
masih dalam batas wajar dan sudah menjadi masalah dalam semua
sekolah. Beberapa penghambat yang paling menonjol diantaranya:
1. Pengetahuan siswa terhadap agama yang bersifat heterogen karena
input siswa yang berasal dari latar belakang yang beraneka ragam.
2. Adanya siswa yang tidak bisa membaca Al-Quran dan praktek
ibadah seperti shalat.
3. Pendekatan dan pemantauan terhadap siswa yang kurang maksimal.
85
4. Materi PAI yang begitu banyak dengan jam pelajaran yang minim
sehingga penyampaian kurang mendalam.
5. Kurangnya dukungan orang tua siswa terhadap pengetahuan agama
karena lebih tertarik untuk mendalami pengetahuan umum.
6. Latar belakang orang tua siswa yang berasal dari keluarga mampu
sehingga sering disibukan dengan kerja yang berdampak pada
kurangnya perhatian terhadap pendidikan anak.
7. Kurang sesuainya pemakaian media belajar, metode, atau hal lain
yang berdampak pada kurang efektifnya kegiatan pembelajaran.
86
BAB VI
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah diuraikan oleh peneliti pada analisis data,
maka kesimpulan yang diperoleh sebagai berikut:
1) Dalam penerapan model pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) di
rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di SMA Negeri 1 Malang
sudah berjalan dengan baik, ini terlihat dari ketepatan guru dalam memilih
model pembelajaran yang meliputi ketepatan dalam melakukan
pendekatan, metode, memilih bahan ajar, penggunaan media dan alat
penunjang pembelajaran, pola interaksi dengan siswa dan pengelolaan
kelas yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang
menyenangkan.
2) Faktor pendukung dan penghambat penerapan model pembelajaran
pendidikan agama Islam (PAI) di rintisan sekolah bertaraf internasional
(RSBI) di SMA Negeri 1 Malang.
a. Faktor Pendukung
1. Tenaga pengajarnya yang profesional yang berpengalaman dalam
mengajar.
2. Sarana dan prasarana yang memadai
3. Pemanfaatan media pembelajaran yang tepat guna
4. Penguasaan siswa terhadap teknologi yang sangat menunjang
dalam pembelajaran.
87
5. IQ siswa di atas rata-rata karena melalui jalus seleksi.
6. Lingkungan yang kondusif karena letaknya yang berdampingan
dengan sekolah lain sehingga tercipta persaingan dalam belajar.
7. Kreatifitas dan inovasi guru dalam memberikan penugasan pada
siswa.
8. Variasi dalam mengajar yang dapat mengurangi kejenuhan siswa
dengan tidak selalu melakukan pembelajaran dalam kelas.
9. Pembelajaran yang tidak terpaku pada teks tetapi
menghubungkanya dengan kondisi dan situasi yang sesungguhnya.
b. Faktor Penghambat
1. Pengetahuan siswa terhadap agama yang bersifat heterogen karena
input siswa yang berasal dari latar belakang yang beraneka ragam.
2. Adanya siswa yang tidak bisa membaca Al-Quran dan praktek
ibadah seperti shalat.
3. Pendekatan dan pemantauan terhadap siswa yang kurang maksimal.
4. Materi PAI yang begitu banyak dengan jam pelajaran yang minim
sehingga penyampaian kurang mendalam.
5. Ada beberapa media pembelajaran yang kondisinya tidak layak
pakai sehingga menyulitkan siswa dalam menunjang kegiatan
pembelajaran.
6. Kurangnya dukungan orang tua siswa terhadap pengetahuan agama
karena lebih tertarik untuk mendalami pengetahuan umum.
88
7. Latar belakang orang tua siswa yang berasal dari keluarga mampu
sehingga sering disibukan dengan kerja yang berdampak pada
kurangnya perhatian terhadap pendidikan anak.
8. Kurangnya kompetensi guru pendidikan agama Islam dalam
penguasaan bahasa asing sehingga penyampaian materi masih
menggunakan bahasa Indonesia.
B. Saran
1. Dari pengamatan peneliti sebenarnya sudah ada upaya untuk
menangani problem-problem yang terjadi, seperti les tambahan
bagi siswa-siswi yang tidak mampu baca tulis Al-Quran, hanya
saja masih belum berjalan maksimal karena kurangya koordinasi
dengan orang tua wali serta penumbuhan kesadaran pada siswa dan
perhatian yang lebih dari guru.
2. Ada beberapa LCD yang kondisinya telah rusak dan belum ada
upaya untuk menangani problem tersebut, hal ini seharusnya segera
dilakukan penanganan agar sarana yang ada dapat dimanfaatkan
secara aksimal.
3. Materi PAI yang begitu banyak dengan jumlah jam yang sedikit
dapat disiasati dengan memberikan penugasan yang inovatif seperti
penugasan dengan mencari di internet, majalah, surat kabar
berbentuk portofolio atau tugas tiap pertemuan. Hal ini
membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang bagi guru.
89
4. Tuntutan penguasaan bahasa asing bagi guru agama hendaknya
menjadi motivasi dalam menguasainya agar tidak tertinggal dengan
mata pelajaran umum.
90
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Munjin Nasih; Lilik Nur Kholidah. 2009. Metode dan Teknik
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: Refika Reditama.
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta:
Ciputat Pers.
Arifin, M. 2003. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Bakry, Samaun. 2005. Menggagas Konsep Ilmu Pendidikan Islam. Bandung:
Pustaka Bani Quraisy.
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Bushori Mukhsin; Abdul Wahid. 2009. Pendidikan Islam Kontemporer. Bandung:
Refika Aditama
B. Uno, Hamzah. 2007. Model Pembelajaran; Menciptakan Proses Belajar
Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Agama RI; Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. 2005..
Penddikan Islam dan Pendidikan Nasiona (Paradigma Baru). Jakarta.
Dinas Pendidikan, Pemerintah Kota Malang. Buku Pedoman Non Akademik SMA
Negeri 1 Malang Tahun Pelajaran 2010-2011. Malang.
Hasyim, Farid. 2009. Strategi Madrasah Unggul. Jogjakarta: Prismasophie.
Hanafiah; Cucu Suhana. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika
Aditama.
Muhaimin. 2003 Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam. Bandung:
Cendekia.
Muhaimin; Abdul Ghofir; Nur Ali Rahman. 1996. Strategi Belajar Mengajar.
Surabaya: Citra Media.
_______, 2004. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Di Sekolah,
Madrasah, dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
91
Nanang Hanafiah; Cucu Suhana. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung:
Refika Aditama.
Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta:
Kencana.
_______. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindo.
Sagala, Syaiful. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu
memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikilogi Pendidikan; Suatu Pendekatan Baru. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Saud, Udin Saefudin. 2008. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Tilaar. 2005. Manifesto Pendidikan Nasional. Jakarta : Kompas
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu; dalam Teori dan Praktek.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
_______2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta:
Kencana.
Royada, Dede. 2007. Paradigma Pendidikan Demokratis. Jakarta: Kencana.
Usman, Uzer. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Zuhairi; Abdul Ghofir. 2004. Metodologi Pembelajaran PAI. Malang: UM
PRESS.
92