Você está na página 1de 10

SHALAT TARAWIH NABI  DAN SALAF AL-SHALEH

Agus Hasan Bashori


Abu Hamzah al-Qomari

Shalat tarawih adalah bagian dari shalat nafilah (Tathawwu’) yang disunnahkan untuk dikerjakan
secara berjama’ah di bulan Ramadhan, ia adalah sunnah muakkadah, ia disebut tarawih karena
mereka duduk untuk istirahat setiap selesai dari empat rakaat.
Tarawih adalah bentuk jama’ dari tarwihah, menurut bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian
duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai dari empat rakaat disebut tarwihah, karena dengan
duduk itu orang-orang bisa istirahat dari lamanya melakasanakan Qiyam Ramadhan, bahkan para
salaf bertumpu pada tongkat karena terlalu lamanya berdiri. Dari situ kemudian setiap empat
rakaat, disebut tarwihah dan kesemuanya disebut tarawih secara majaz.
Aisyah -radhiyallahu 'anha- ditanya, “Bagaimana shalat Rasul  dibulan Ramadhan?” Dia
menjawab, “Beliau tidak pernah menambah –di Ramadhan atau diluarnya- lebih dari 11 rakaat.
Beliau shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanbya. Kemudian
beliau shalat 3 rakaat.” (HR. Bukhori). Kata ّ‫ ث‬adalah kata penghubung yang memberikan makna
berurutan dan adanya jedah waktu.

Rasul Allah  shalat empat rakaat dengan dua kali salam, kemudian beristirahat. Hal ini
berdasarkan keterangan Aisyah -radhiallahu 'anha- sendiri, “adalah Rasul Allah melakukan shalat
pada waktu setelah selesainya shalat isya’ hingga waktu fajar sebanyak 11 rakaat, mengucapkan
salam pada setiap dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat.” (HR Muslim).
Juga berdasarkan keterangan Ibn Umar , bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasul Allah
bagaimana shalat malam itu?” Beliau menjawab,
ٍ‫مَثْنَى مَثْنَى فَاِذَا خِفْتَ الصّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَة‬
“Yaitu dua rakaat, dua rakaat, maka apabila kamu khawatir shubuh, berwitirlah dengan satu
rakaat.” (HR Bukhori).

Dalam hadits Ibn Umar yang lain disebutkan,


ِ‫صَلةُ اللّْيلِ وَالنّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَان‬
“Shalat malam dan siang dua rakaat dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah: 6620)
(al-Shalah, 309; al-Tauhid, 5/251; al-Hawadits, 140-143; Fath al-Bari, 4/250; al-Ijabat al-
Bahiyyah, 18; al-Muntaqa, 4/49-51)

FADILAH QIYAM RAMADHAN


1. Hadits Abu Hurairah ,
ِ‫مَنْ قَاَم رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ ِمنْ ذَنْبِه‬
“Barang siapa melakukan qiyam (lail) pada bulan Ramadhan, karena iman dan mencari pahala
maka diampuni untuknya apa yang telah lau dari dosanya.”

Maksud qiyam Ramadhan secara khusus, menurut imam Nawawi adalah shalat tarawih. Hadits
ini memberitahukan bahwa shalat tarawih itu bisa mendatangkan maghfirah dan bisa
menggugurkan semua dosa, tetapi dengan syarat karena motif iman; membenarkan pahala-pahala
yang dijajikan oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah. Bukan karena riya’ atau
sekedar adat kebiasaan. (Fath al-Bari 4/251; Tanbih al-Ghafilin 357-458; Majelis Ramadhan, 58;
al-Tauhid, 3/320; al-Ijabat al-Bahiyyah, 6)
Hadits ini dipahami oleh para salaf shaleh, termasuk oleh Abu Hurairah  sebagai anjuran yang
kuat dari Rasul Allah  untuk melkukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih, tahajud, dan lain-lain).
(al-Tauhid, 3/311-317; Sunan Abi Daud, 166).
• Hadits Abd al-Rahman ibn Auf ,
‫إن رمضان شهر فرض ال صيامه وإن سننت للمسلمي قيامه فمن صامه وقامه إيانا‬
‫واحتسابا خرج من الذنوب كيوم ولدته أمه‬
“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya dan sesungguhnya
aku menyunnahkan Qiyamnya untuk orang-orang Islam, maka barang siapa puasa Ramadhan
dan Qiyam ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-
dosanya sebagaimana bayi yang dilahirkan oleh ibunya.” (HR Ahmad, Ibnu Khuzaimah, ibn
Majah, al-Bazzar, Abu Ya’la dan Abd Razzaq meriwayatkannya dari Abu Hurairah ra). Al-
Albani berkata : Yang Shahih hanya kalimat yang kedua saja, yang awal dhaif (Sunan ibn Majah,
146-147; al-Ijabat al-Bahiyyah, 8-10).
• Hadits Abu Dzar ,
ٍ‫ كُتِبَ لَهُ قِيامُ ليلة‬،َ‫مَنْ قَامَ مَعَ الِمامِ حَتّى يَنْصَ ِرف‬
“Barang siapa qiyam al-lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala)
qiyam satu malam (penuh).” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, ibn Majah, Nasai, dan lain-lain,
Hadits Shahih). (lihat al-Ijabat al-Bahiyyah, 7).

Hadits ini sekaligus juga memberikan anjuran agar melakukan shalat tarawih secara berjamaah
dan mengikuti imam hingga selesai.

SHALAT TARAWIH DI JAMAN NABI 


Nabi  telah melaksanakan dan memimpin shalat tarawih, beliau malah menjelaskan fadhilahnya
dan menyetujui jama’ah tarawih yang dipimpin oleh sahabat Ubay bin Ka’ab. Berikut ini adalah
dalil-dalinya.
1. Hadits Nu’man bin Basyir , ia berkata, “Kami melaksanakan qiyam lail (tarawih)
bersama Rasul Allah  pada malam 23 bulan Ramadhan, sampai sepertiga malam,
kemudian kami shlat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan (berakhir) sampai
separoh malam, kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 ramadhan sampai kami
menyangka tidak akan sempat mendapati sahur (falah). (HR Nasa’i, Ahmad, al-Hakim,
shahih).
2. Hadits Abu Dzar , ia berkata, “Kami puasa, tetapi Nabi  tidak memimpin kami untuk
melakukan shalat (tarawih), hingga ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasul Allah
mengimami kami shalat sampai hilang sepertiga malam, kemudian beliau tidak keluar lagi
pada malam keenam. Dan pada malam kelima beliau memimpin shalat lagi sampai hilang
separoh malam, lalu kami berkata kepad Rasul Allah , “Seandainya engkau menambah
lagi untuk kami sisa malam kita ini?” Maka belliau bersada:
ٍ‫ كُتِبَ لَهُ قِيامُ ليلة‬،َ‫مَنْ قَامَ مَعَ الِمامِ حَتّى يَنْصَرِف‬
“Barang siapa shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya
shalat semalam (suntuk).”Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan
tinggal tiga hari lagi, maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga, beliau
mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapat
falah, saya (Rowi) bertanya, apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata : Sahur. (HR Nasai,
Tirmidzi, ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih).
3. Tsa’labash bin Abi Malik al-Qurazhi  berkata, “Rasul Allah  pada suatu malam keluar
rumah di malam Ramadhan kemudian beliau melihat sekumpulan orang di sebuah pojok
masjid sednag melaksankan shalat, beliau lalu bertanya, “Apa yang sedang mereka
lakukan?” Seseorang menjawab, “Ya Rasul Allah sesungguhnya mereka itu adalah orang-
orang yang tidak membaca al-Qur’an, sedang Ubay bin Ka’ab ahli membaca al-Qur’an,
maka mereka shalat (ma’mum) dengan shlatnya Ubay.” Beliau lalu bersabda:
‫قَدْ أحْسَنُوا أوْ قَدْ أصَابُوا‬
“Mereka telah berbuat baik atau telah berbuat benar.” Beliau tidak membencinya. (HR
Abu Daud dan al-Baihaqi), ia berkata: Mursal Hasan. Syekh al-Albani berkata: telah
diriwayatkan secara mursal dari jalan lain dari Abu Hurairah dengan sanad yang tidak
bermasalah (bisa diterima). (Shalat al-Tarawih, 9)

SHALAT TARAWIH DI ZAMAN KHULAFAUR ROSYIDIN


1. Para sahabat Rasul  shalat tarawih di masjid Nabawi pada malam-malam ramadhan
secara awza’an (berpencar-pencar) orang yang bisa membaca al-Qur’an ada yang
mengimami 5 orang, ada yang 6 orang, ada yang lebih sedikit dari itu dan ada yang lebih
banyak. Az-Zhuhri berkata, “Ketika Rasul Allah  wafat, orang-orang shalat tarawih
dengan cara seperti itu, kemudian pada masa Abu Bakar caranya tetap seperti itu, begitu
pula awal khalifah Umar.”
2. Abd al-Rahman bin Abdul Qari’ berkata, “Saya keluar ke masjid bersama Umar  pada
bulan ramadhan, ketika itu orang-orang pada berpencaran, ada yang shalat sendirian, dan
ada yang shalat dengan jama’ah yang kecil (kurang dari sepuluh orang), Umar berkata,
“Demi Allah saya melihat (berpandangan), seandainya mereka saya satukan di belakang
satu imam tentu lebih utama.” Kemudian beliau bertekad dan mengumpulkan mereka di
bawah pimpinan Ubay bin Ka’ab, kemudian saya keluar lagi bersama beliau pada malam
lain, ketika itu orang-orang sedang shalat di belakang imam mereka, maka Umar 
berkata, “Ini adalah sebaik-baik hal baru”. Dan shalat akhir malam nanti lebih utama dari
shalat yang mereka kerjakan sekarang. Kejadian ini terjadi pada tahun 14 H.”
3. Umar  mengundang para Qari’ di bulan Ramadhan lalu memberi perintah kepada
mereka agar yang paling cepat bacaanya membaca 30 ayat (+ 3 halaman) dan yang sedang
agar membaca 25 ayat (+ 2 halaman).
4. Al-A’raj (seorang tabi’in) berkata, “Kami tidak mendapati orang-orang melainkan mereka
sudah melaknat orang kafir (dalam do’a) di bulan Ramadhan, ia berkata, “sang qari’
(imam) membaca surat al-Baqarah dalam 8 rakaat, jika ia telah memimpin 12 rakaat
barulah orang-orang merasa kalau imam meringankan.”
5. Abdullah bin Abi Bakr berkata: “Saya mendengar bapak saya berkata, “Kami sedang
pulang dari shalat (tarawih) di malam Ramadhan, menyuruh pelayan agar cepat-cepat
menyiapkan makanan karena takut tidak mendapat sahur.”
6. Saib bin Yazid berkata, “Umar  memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari 
agar memimpin shalat tarawih pada bulan Ramadhan dengan 11 rakaat, maka sang qori’
membaca dengan ratusan ayat hingga kita bersandar pada tongkat karena saking lamanya
berdiri, maka harus tidak pulang dari tarawih melainkan sudah di ujung fajar.”
(Fath al-Bari, 4/250-254; Shalah al-Tarawih, 11; al-Ijabat al-Bahiyyah, 15-18; al-Majmu, 4/34).

BERAPA RAKAAT SHALAT TARAWIH DAN SHALAT WITIR


Mengenai masalah ini para ulama salaf telah berselisih dengan perselisihan yang cukup banyak
(variasinya) hingga mencapai belasan pendapat sebagaimana di bawah ini.
1. 11 rakaat (8 + 3 witir), riwayat Malik dan Said bin Manshur.
2. 13 rakaat (2 rakaat ringan + 8 + 3 Witir), riwayat Ibnu Nashr dan Ibnu Ishaq, atau (8 + 3 +
2 atau 8 + 5 menurut riwayat Muslim).
3. 19 rakaat (16 + 3).
4. 21 rakaat (20 + 1), riwayat Abdur Razzaq.
5. 23 rakaat (20 + 3), riwayat Malik, ibn Nashr dan al-Baihaqi, ini adalah madzhab Abu
Hanifah, Syafi’i, Ats-Tsuri, Ahmad, Abu Daud dan Ibnul Mubarak.
6. 29 rakaat (28 + 1).
7. 39 rakaat (36 + 3), Madzhab malik atau (38 + 1).
8. 41 rakaat (38 + 3), riwayat ibn Nashr dari persaksian Shalah Mawla.
BERAPA RAKAAT TARAWIHNYA RASUL?
Rasul Allah  telah melakukan dan memimpin shalat tarawih, dan shalat tarawih Nabi terdiri dari
11 rakaat (8 + 3) dalilnya adalah:
1. Hadits Aisyah -radhiallahu 'anha-, ia ditanya oleh Abu Salamah Abdur Rahman tentang
qiyamul lainya Rasul pada bulan ramadhan, ia menjawab,
ً‫إنه كان ل يَزيدُ ف رمضانَ ول ف غيهِ على إحدَى عشرةَ ركعة‬
“Sesungguhnya beliau tidak pernah menambah di bulan ramadhan atau di bulan lainnya,
lebih dari 11 rakaat.” (HR Bukhori, Muslim)
Ibn Hajar berkata, “Jelas sekali bahwa hadits ini menunjukkan shalatnya Rasul sama
semua di sepanjang tahun.”
2. Hadits Jabir bin Abdillah ia berkata, “Rasul Allah  shalat dengan kita pada bulan
Ramadhan 8 rakaat dan witir, ketika malam berikutnya kami berkumpul di masjid dengan
harapan beliau shalat dengan kami, maka kami terus berada di masjid hingga pagi
kemudian kami masuk bertanya, 'Ya Rasul Allah kami tadi malam berkumpul di masjid
berharap anda shalat bersama kami.' Maka beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku khawatir
diwajibkan atas kalian'”. (HR Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah, di Hasankan
oleh Albaniy). (Shalat al-Tarawih, 18; Fath al-Aziz, 4/265)
3. Pengakuan Nabi terhadap 8 rakaat dan 3 witir. Ubay bin Ka’ab datang kepada Rasul 
lalu berkata, “Ya Rasul Allah ada sesuatu yang saya kerjakan tadi malam –Ramadhan-.”
Beliau bertanya, “Apa itu wahai Ubay?” Ia menjawab, “Para wanita itu di rumahku
berkata, 'Sesungguhnya kami ini tidak membaca al-Qur’an bagaimana kalau kami shalat
dengan shalatmu?'” Ia berkata, “Maka saya shalat dengan mereka 8 rakaat dan witir.”
Maka hal itu menjadi sunnah yang diridhai, beliau  tidak mengatakan apa-apa. (HR Abu
Ya’la, Thabrani dan Ibn Nashr, di Hasankan oleh al-Haitsami dan al-Albaniy). (Shalat al-
Tarawih, 68).

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Rasul Allah  shalat tarawih dengan 20 rakaat,
maka haditsnya tidak ada yang shahih. (Fath al-Bari, 4/254; al-Hawi, 1/413; al-Fatawa al-
Haditsiyah, 1.195; Shalat al-Tarawih, 19-21).

BERAPA RAKAAT TARAWIH SAHABAT DAN TABI’IN


Di samping Ibn Khudhaifah, ada rawi lain yaitu al-Harits ibn Abd al-Rahman ibn Abi Dzubab
yang meriwayatkan dari Saib ibn Yazid bahwa Shalat Tarawih pada masa Umar 23 rakaat. (HR
Abd al-Razzaq). (Lihat al-Tauhid, 3/518-519)

Selanjutnya 23 rakaat juga diriwayatkan dari Yazid ibn Ruman secara mursal karena ia tidak
menjumpai zaman Umar.

Yazid ibn Ruman adalah mawla (mantan budak) sahabat Zubair ibn al-Awam (36 H), ia salah
seorang Qurra’ Madinah yang tsiqat tsabt (meninggal pada tahun 120 H atau 130). Ia memberi
pernyataan bahwa masyarakat (Madinah) pada zaman Umar telah melakukan qiyam Ramadhan
dengan bilangan 23 rakaat (HR Malik, al-Firyabi, ibn Nashr dan al-Baihaqi).
(Shalat al-Tarawih, 53; al-Ijabat al-Bahiyyah, 16; al-Tauhid, 9/332; 3/519; al-Hawadits, 141)

BAGAIMANA JALAN KELUARNYA?


Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat di atas dengan metode al-Jam’u bukan metode al-
Tarjih, berbeda dengan syekh al-Albaniy yang mendekatinya dengan metode tarjih.
Dasar pertimbangan jumhur adalah:
1. Riwayat 20 (20, 23) adalah Shahih.
2. Riwayat 8 (11, 13) adalah Shahih.
3. Fakta sejarah menurut penuturan beberapa tabi’in dan ulama salaf.
4. Menggabungkan riwayat-riwayat tersebut adalah mungkin, maka tidak perlu pakai tarjih,
yang konsekuensinya adalah menggugurkan salah satu riwayat yang shahih.

BEBERAPA KESAKSIAN PELAKU SEJARAH


1. Imam Atho’ ibn Abi Rabah yang lahir pada masa khilafah Utsman  (antara tahun 24 H
sampai 35 H), yang mengambil ilmu dari Ibn Abbas, Aisyah -radhiallahu 'anha- dan yang
menjadi mufti Makkah setelah Ibn Abbas hingga tahun wafatnya 114 H memberikan
kesaksian bahwa, “Saya telah mendapati orang-orang (masyarakat Makkah) pada malam
Ramadhan shalat 20 rakaat dan 3 rakaat witir.” (Fath al-bari, 4/235)
2. Imam Nafi’ al-Qurasyi, mawla (mantan budak) ibn Umar  (w. 73 H) mufti Madinah,
yang mengambil ilmu dari Ibn Umar, Abu Said, Rafi’ ibn khadij, Aisyah, Abu Hurairah
dan Ummu Salamah, yang dikirim oleh khalifah Umar bin Abd al-Aziz ke Mesir sebagai
da’i dan meninggal di Madinah pada tahun 117 H. Telah memberikan kesaksian sebagai
berikut, “Saya mendapati orang-orang (masyarakat Madinah), mereka shalat di bulan
Ramadhan 36 rakaat dan witir 3 rakaat.” (Al-Hawadits, 141; al-Hawi, 1/415)
3. Imam Malik ibn Anas yang menjadi murid Nafi’ berkomentar, “Apa yang diceritakan oleh
Nafi’ itulah yang tetap dilakukan oleh penduduk Madinah, yaitu apa yang dulu ada pada
zaman Utsman ibn Affan .” (al-Hawadits, 141)
4. Imam Syafi’i, murid imam Malik yang hidup antara tahun 150 hingga 204 H,
mengatakan, “Saya menjumpai orang-orang di Makkah, mereka shalat 23 rakaat. Dan
saya melihat penduduk Madinah mereka shalat 39 rakaat dan tidak ada masalah sedikitpun
tentang hal itu.” (Sunan Tirmidzi, 151; Fath al-Aziz, 4/266; Fath al-Bari, 4/253).

BEBERAPA PEMAHAMAN ULAMA DALAM MENGGABUNGKAN RIWAYAT-


RIWAYAT SHAHIH DI ATAS
1. Imam Syafi’i setelah meriwayatkan shalat di Makkah 23 rakaat dan di Madinah 39 rakaat
berkomentar, “Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan
sujudnya, maka itu bagus. Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan
bacaan, maka itu juga bagus, tetapi yang pertama lebih aku sukai.” (Fath al-Bari, 4/253)
2. Ibn Hibban berkata, “Sesungguhnya tarawih itu pada mulanya adalah 11 rakaat dengan
bacaan yang sangat panjang hingga memberatkan mereka, kemudian mereka meringankan
bacaan dan menambah bilangan rakaat menjadi 23 rakaat dengan bacaan sedang. Setelah
itu mereka meringankan bacaan dan menjadikan tarawih dalam 36 rakaat tanpa witir.”
(Fiqh al-Sunnah, 1/174)
3. Al-Kamal ibn al-Humam mengatakan, “Dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa dari 20
rakaat itu, yang sunnah adalah apa yang pernah dilakukan oleh Nabi , sedangkan sisanya
adalah mustahab.” (Ibid, 1/175)
4. Al-Subki berkata, “Tarawih adalah termasuk nawafil, terserah kepada masing-masing,
mau shalat sedikit atau banyak. Boleh jadi mereka terkadang memilih bacaan panjang
dengan bilangan sedikit, yaitu 11 rakaat. Dan terkadang mereka memilih bilangan rakaat
banyak yaitu 20 rakaat dari pada bacaan panjang, lalu amalan ini yang terus berjalan.”
(Al-hawi, 1/417)
5. Ibn Taimiyah berkata, “Ia boleh shalat tarawih 20 rakaat sebagaimana yang masyhur
dalam madzhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam
madzhab Malik. Boleh shalat 11 rakaat, 13 rakaat. Semuanya baik. Jadi banyaknya rakaat
atau sedikitnya tergantung lamanya bacaan dan pendeknya.” Beliau juga berkata, “Yang
paling utama berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang shalat. Jika mereka kuat
10 rakaat ditambah witir 3 rakaat sebagaimana yang diperbuat oleh Rasul  –di
Ramadhan dan di luar Ramadhan- maka ini yang lebih utama. Kalau mereka kuat 20
rakaat, maka itu afdhol dan inilah yang dikerjakan oleh kebanyakan kaum muslimin,
karena ia adalah pertengahan antara 10 dan 40.. Dan jika ia shalat dengan 40 rakaat maka
boleh, atau yang lainnya juga boleh. Tidak dimaksudkan sedikitpun dari hal itu, maka
barang siapa menyangka bahwa qiyam Ramadhan itu terdiri bilangan tertentu, tidak boleh
lebih dan tidak boleh kurang, maka ia telah salah.” (Majmu’ al-Fatawa, 23/113; al-Ijabat
al-Bahiyyah, 22; Faidh al-Rahim al-Rahman, 132; Durus Ramadhan, 48)
6. al-Tharthusi berkata, “Para sahabat kami (Malikiyah) menjawab dengan jawaban yang
benar yang bisa menyatukan semua riwayat. Mereka berkata, “Mungkin Umar pertama
kali memerintahkan kepada mereka 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang, pada
rakaat pertama, imam membaca 200-an ayat, karena berdiri lama adalah yang terbaik
dalam shalat. Tatkala masyarakat tidak lagi kuat menanggung hal itu, maka Umar
memerintahkan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan, ia menutupi kurangnya
keutamaan dengan tambahan rakaat, maka mereka membaca surat al-Baqarah dalam 8
rakaat atau 12 rakaat sesuai dengan hadits al-A’raj tadi.”

Telah dikatakan bahwa imam pada waktu itu membaca antara 20 ayat hingga 30 ayat. Hal ini
berlangsung terus hingga yaum al-Harrah (penyerangan terhadap Madinah oleh Yazid ibn
Mu’awiyyah tahun 60 H), maka terasa berat bagi mereka lamanya bacaan, akhirnya mereka
mengurangi bacaan dan menambah bilangannya menjadi 36 rakaan ditambah 3 witir. Dan inilah
yang berlaku kemudian.

Umar ibn Abd al-Aziz pada zamannya memerintahkan agar imam membaca 10 ayat pada tiap
rakaat, inilah yang dilakukan oleh para imam dan disepakati oleh jamaah kaum muslimin, maka
ini yang paling utama dari segi Takhfif (meringankan). (al-Hawadits, 143-145)
1. Ada yang mengatakan bahwa Umar  memerintahkan kepada dua sahabat, “Ubay bin
Ka’ab dan Tamim al-Dari  agar Shalat memimpin tarawih sebanyak 11 rakaat tetapi
kedua sahabat tersebut memilih untuk shalat 21 atau 23 rakaat.” (Durus Ramadhan 47)
2. Al-Hafidz ibn Hajar berkata, “Hal tersebut dipahami sebagai variasi sesuai dengan situasi
kondisi dan kebutuhan manusia, kadang-kadang 11 rakaat, atau 21, atau 23 rakaat,
tergantung kesiapan dan kesanggupan mereka, kalau 11 rakaat mereka memanjangkan
bacaan hingga bertumpu pada tongkat, jika 23 rakaat mereka meringankan bacaan supaya
tidak memberatkan jamaah.” (Fath al-Bari, 4/253)
3. Imam Abd al-Aziz ibn Bazz mengatakan,
“Di antara perkara yang terkadang samar bagi sebagaian orang adalah shalat tarawih.
Sebagaian mereka mengira bahwa tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain
mengira bahwa tarawih tidak boleh lebih dari 11 rakaat atau 13 rakaat. Ini semua adalah
persangkaan yang tidak pada tempatnya, bahkan salah, bertentangan dengan dalil. Hadits-
hadits shahih dari Rasul Allah  telah menunjukkan bahwa shalat malam itu adalah
muwassa’ (leluasa), tidak ada batasan tertentu dan kaku yang tidak boleh dilanggar.
Bahkan telah shahih dari Nabi  bahwa beliau shalat malam 11 rakaat, terkadang 13
rakaat, terkadang lebih sedikit dari itu, di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Ketika
ditanya tentang sifat shalat malam, beliau menjelaskan, “dua rakaat-dua rakaat, apabila
salah seorang kamu khawatir subuh, maka shalatlah satu rakaat witir, menutup shalat yang
ia kerjakan.” (HR Bukhori Muslim).
Beliau tidak membatasi dengan rakaat-rakaat tertentu, tidak di Ramadhan ataupun di luar
Ramadhan. Karena itu para sahabat , pada masa Umar  di sebagian waktu shalat 23
rakaat dan di waktu yang lain 11 rakaat. Semua itu shahih dari Umar  dan para sahabat
 pada zamannya.
Dan sebagaian salaf shalat tarawih 36 rakat ditambah witir 3 rakaat, sebagian lagi shalat
41 rakaat. Semua itu dikisahkan dari mereka oleh syekh al-Islam ibn Taimiyah dan ulama
lainnya. Sebagaimana beliau juga menyebut bahwa masalah ini adalah luas (tidak sempit),
juga beliau sebutkan bahwa yang afdhal bagi orang yang memanjangkan bacaan, ruku’,
sujud adalah menyedikitkan bilangan rakaat, dan bagi yang meringankan bacaan, ruku’
dan sujud adalah menambah rakaat. Ini adalah makna ucapan beliau rahimahullahu.
Barang siapa merenungkan sunnah Nabi , dia pasti mengetahui bahwa yang paling
afdhal dari semua itu adalah 11 rakaat atau 13 rakaat, di Ramadhan atau di luar
Ramadhan, karena hal itu yang sesuai dengan perbuatan Nabi  dalam kebiasaannya, dan
juga karena lebih ringan bagi jamaah, lebih dekat kepada khusyu’ dan tuma’ninah. Namun
barang siapa menambah, maka tidak mengapa dan tidak makruh, seperti yang telah lalu.”
(al-Ijabat al-Bahiyyah, 17-18; lihat juga Fatawa Lajnah Daimah, 7/194-198).
KESIMPULAN
Maka berdasarkan ucapan ulama seperti Imam Syafi’i, Ibnu Hibban, Ibn Hajar, Ibn Taimiyah dan
yang lainnya, saya mengambil kesimpulan,
1. Sunnah Nabi  adalah yang lebih utama, maka bilangan 11 rakaat adalah yang lebih baik.
Seperti ucapan Imam Malik rahimahullahu, “Yang saya pilih untuk diri saya dalam qiyam
Ramadhan adalah shalat yang diperintahkan oleh Umar , yaitu 11 rakaat yaitu shalatnya
Nabi . Sedangkan 11 adalah dekat dengan 13.” (al-Hawadits, 141)
2. Perbedaan tersebut adalah bersifat variasi, lebih dari 11 rakaat adalah boleh dan 23 rakaat
lebih banyak diikuti oleh jumhur ulama karena ada asalnya dari para sahabat di jaman
khulafaur Rasyidin dan lebih ringan berdirinya dibanding dengan 11 rakaat.
3. Yang lebih penting adalah adanya (prakteknya) harus khusyu’, tuma’ninah kalau bisa
sama dengan tarawih ulama salaf.
Ya Allah bimbinglah kami kepada kecintaan dan ridhomu. Ya Allah sampaikanlah kami kepada
ramadhan dengan penuh aman dan iman dan keselamatan dan Islam.
‫واخر دعوانا ان المد ل رب العالي‬
Malang, 5 Jumada al-Tsani 1424
6 Agustus 2003

Abu Hamzah al-Sanuwi Lc, M. Ag

Maraji’
1. Shahih Bukhori
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Amman, Yordan
4. Sunan Tirmidzi, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Amman, Yordan
5. Sunan Ibn Majah, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Amman, Yordan
6. Sunan Nasa’i, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Amman, Yordan
7. Al-Majmu’, al-Nawawi, Dar al-Fikr
8. Fath al-Aziz, al-Rafi’i, Dar al-Fikr, (dicetak bersama al-Majmu’)
9. Al-Tauhid, ibn Abd al-barr, Tahqiq Muhammad Abd al-Qadir Atha, Maktabah Abbas
Ahmad al-Bazz, Mekah
10.Fath al-Bari, ibn Hajar, Tarqim Muhammad Fuad Abd al-Baqi
11.Al-Syarh al-Kabir, ibn Qudamah, Tahqiq Dr. Abd Allah al-Turqiy, Hajar, Jizah
12.Al-Hawadits wa al-Bida’, Abu Bakar al-Tharthusiy, Tahqiq Abd al-Majid Turqi, Dar al-
Gharb al-Islami
13.Tanbih al-Ghafilin, al-Samarqandi, Tahqiq Abd al-Aziz al-Wakil, Dar al-Syuruq, Jedah
14.Al-Hawi Li al-Fatawa, al-Suyuthi, Dar al-Fikr, Beirut
15.Shalah al-Tarawih, al-Albaniy, Al-Maktab al-Islami, Beirut
16.Fatwa Lajnah Daimah, Tartib Ahmad al-Duwaisiy, Tartib Adil al-Furaidan
17.Al-Muntaqa Min Fatawa al-Fawzan
18.Al-Ijabat al-Bahiyyah, al-jibrin, Dar al-Ashimah, Riyadh
19.Majelis Ramadhan, Ibn Utsaimin
20.Faidh al-Rahim, al-Thayyar, Maktabah al-Taubah, Riyadh
21.Al-Shalah, al-Thayyar, Dar al-Wathan, Riyadh
22.Durus Ramadhan, Salman al-Audah, Dar al-Wathan, Riyadh
*Pernah dimuat di Majalah as-Sunnah Edisi 07/Tahun VII/1424H/ 2003M, halaman 26-32
TARAWIH TERBAIK DI JAMAN SEKARANG
Agus Hasan Bashori
Abu Hamzah ibnu Qamari as-Sanuwi

Variasi Bilangan Shalat Tarawih Dalam Sejarah


Saya pernah menulis satu makalah yang berjudul Shalat Tarawih Nabi  dan Salafus Shaleh,
yang dimuat di Majalah as-Sunnah Edisi 07/Tahun VII/1424H/ 2003M, halaman 26-32. Pokok
bahasan dari makalah tersebut adalah menjelaskan sejarah shalat tarawih dan tata cara shalat
tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah  dan yang dilakukan oleh para sahabat dan para tabi'in,
baik dari sisi jumlah rakaat, lamanya shalat dan komentar para ulama tentangnya.
Inti dari komentar dan sikap para ulama adalah sebagai berikut, "Jumhur(mayoritas) ulama
mendekati riwayat-riwatyat diatas dengan metoda al-Jam'; yaitu menerima, menggabungkan dan
mengkompromikan seluruh riwayat yang shahih. Sedangkan sebagaian ulama mendekatinya
dengan metoda tarjih; yaitu menerima riwayat yang dianggap paling unggul dan meninggalkan
riwayat yang dinilai terungguli.
Dasar pertimbangan jumhur adalah: 1) riwayat 20 (21, 23) rakaat adalah shahih; 2) Riwayat 8
(11,13) rakaat adalah shahih; 3) Fakta sejarah menurut penuturan beberapa tabi'in dan ulama salaf
menunjukkan beragamnya jumlah rakaat tarawih; 4) Menggabungkan antara riwayat-riwayat
tersebut adalah mungkin, maka tidak perlu memakai tarjih. Ini artinya masalahnya adalah
kondisional."

Bilangan Shalat Tarawih Yang Paling Afdhal Menurut Ulama Ahlus Sunnah
Pembaca yang mulia, kini akan kita kupas tuntas mengenai bilangan shalat tarawih yang paling
afdhal. Sudah kita maklumi bahwa para ulama salaf membolehkan shalat tarawih dengan jumlah
rakaat yang beragam, misalnya 11, 13, 17, 19, 21, 23, 25, 29, 35, 39, 41, dan 49. Ini tidak berarti
bahwa kedudukannya sama saja dari segi keutamaan. Oleh karena itu para ulama salaf berselisih
tentang jumlah bilangan rakaat yang paling utama menjadi 2 kelompok besar dan 1 kelompok
kecil.
Pertama: Yang paling utama adalah 20 rakaat, ditambah dengan 1 rakaat atau 3 rakaat witir
sesudahnya. Ini pendapat ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, al-Hanafiyyah (pengikut imam Abu
Hanifah), dan al-Malikiyyah dalam pendapat mereka yang diandalkan, asy-Syafi'iyyah, al-
Hanabilah (pengikut Imam Ahmad), Daud az-Zhahiri dan yang dipilih oleh Syekh Muhammad
ibn Abdul Wahhab. Dasarnya adalah praktek para sahabat di masa khulafaur Rasyidin, yang terus
berlanjut hingga hari ini. (Lihat: Majmu' Fatawa Ibn Taimiah, 23/112-113; Syarhus Sunnah,
4/123; Fathul Qadir, 1/466-468; al-Majmu', 4/13, 32; Muallafat Syekh Munammad ibn Abdul
Wahhab; dll)

Kedua: Yang paling utama adalah 11 rakaat ( 8 rakaat ditambah 3 witir). Ini madzhab al-Bukhari,
dan dari kalangan Syafi'iyah: Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hajar, as-Suyuthi dan al-Haitami, dan dipilih
oleh al-Mubarakfuri, Abdul Aziz Ibn Baz, Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, Muhammad
Nashiruddin al-Albani dan lain-lain. Dasarnya adalah shalat Rasulullah . (Lihat:Syarh Ma'anil
Atsar, 1/336; Fathul Bari, 4/254; 3/12; al-Mashabih fi Shalatit Tarawih, 35-36; Tuhfatul
Ahwadzi, 3/523; Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah, 11/323; Syarhul Mumti', 4/68 dll)

Ketiga: Yang paling utama adalah 36 rakaat atau lebih. Pengikut madzhab ini berselisih:
Malikiyyah dalam satu pendapat memilih 39 rakaat dengan witirnya. Ishaq ibn Rahawaih—rival
Ahmad ibn Hanbal, hafizh mujtahid, tsiqah, wafat 238 H-- memilih 41 rakaat, sedang al-Aswad
ibn Yazid—seorang tabi'in yang wafat tahun 74 atau 75 H-- memilih 49 rakaat. Dasar 36 rakaat
adalah praktek shalat tarawih di Madinah pada zaman Umar ibn Abdul Aziz dan Aban Ibn
Usman—seorang tabi'in, tsiqah, wafat tahun 105 H--. Al-Baji mengatakan: "Inilah amalan para
imam dan yang disepakati oleh pendapat jamaah, maka ia lebih utama karena meringankan
(artinya shalatnya tidak panjang-panjang). (Lihat: al-Istidzkar, 5/157; Mushannaf Ibn Abi
Syaibah, 2/393; Fathul Bari, 4/253; al-Mudawwanah al-Kubra, 1/222; dll)

Bilangan Yang Paling Utama Pada Zaman Ini


Sudah menjadi maklum bahwa inti dan tujuan disyariatkannya shalat adalah untuk berdzikir
mengingat Allah. Allah berfiman,
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah
Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha: 14)

Dan shalat yang terbaik secara zhahir adalah yang paling panjang bacaannya, paling lama
berdirinya. Rawsulullah  bersabda,
ِ‫أَفْضَلُ الصّلَاةِ طُ ْولُ اْلُقنُوْت‬
"Sebaik-baik shalat adalah yang panjang berdirinya." (HR Muslim dari Jabir -Radiallahu anhu-,
756)

Dalam riwayat Abdullah ibn Khunais al-Khas'ami,


‫أفضل الصلة طول القيام‬
"Sebaik-baik shalat adalah yang panjang berdirinya." (HR. al-Muntaqa syarah Muwaththa'
1/209: Mukhtshar Qiyam al-Lail wa Qiyam Ramadhan, 55)

Dengan demikian, yang terpenting dalam shalat tarawih dan lainnya adalah menjaga
kesempurnaannya, kekhusyu'an, perenungan dan doa di dalamnya. Jika lama waktu
mengerjakannya antara 11 rakaat dan 23 rakaat adalah sama, maka 11 rakaat lebih baik.
Pokoknya bilangan mana saja yang yang waktu pelaksanaannya lebih lama dari yang lain, tanpa
adanya keberatan dari jamaah maka itu yang lebih utama bagi jamaah. Akan tetapi karena kondisi
umat islam telah berubah pada jaman ini, dimana rasa malas beribadah menyerang mereka,
kesibukan dan aktivitas duniawi semakin bertambah, diantara mereka ada para buruh dan para
pegawai rumah sakit dan perusahaan-perusahaaan yang yang bekerja di malam hari atau di pagi
yang buta, juga para mahasiswa dan para dosen yang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar atau
ujian , maka hal itu tidak lagi memungkinkan bagi mereka untuk melakukan shalat tarawih
seperti Rasulullah  dan para sahabatnya, apakah itu dengan 11 rakaat apalagi dengan 23 rakaat.
Oleh karena itulah, apakah yang paling utama pada jaman ini mengerjakan tarawih dengan 11
rakaat, dengan lama waktu yang lebih ringan dari tarawih Rasul  dan para sahabatnya, ataukah
dengan 23 rakaat yang juga diperingan?

Menurut DR. Abdur Rahim ibn Ibrahim al-Hasyim bahwa yang nampak jelas adalah:
menegakkan tarawih dengan 11 rakaat ringan dengan menjaga kesempurnaannya dan
kekhusy'annya lebih baik daripada 23 rakaat yang dilakukan dengan mutu yang sama. Karena
mengerjakan 23 rakaat ringan dengan menjaga kesempurnaan dan menikmatinya adalah jarang
dan langka, disamping memberatkan banyak imam dan banyak jamaah . Ibnu Mas'ud 
meriwayatkan bahwa seseorang berkata, 'Demi Allah, wahai Rasul Allah, sesungguhnya saya
sengaja tidak menghadiri jamaah subuh karena imamnya memperpanjang shalat.'" Maka saya
tidak pernah melihat Rasulullah  dalam satu mau'izhah yang lebih murka daripadanya.
Kemudian beliau bersabda:
ِ‫إِنّ ِمنْكُمْ مُنَفّرِْينَ فَأَيّكُمْ صَلّى بِالنّاسِ فَلْيَتَجَوّزْ فَإِنّ فِيْهِمُ الضّعِيْفَ وَالْكَبِيْرَ وَذَا الْحَاجَة‬
"Sesungguhnya diantara kalian ada yang membuat lari jamaah. Maka siapa diantara kalian
yang menjadi imam hendaklah mempercepat shalatnya, karena di tengah mereka ada yang
lemah, lanjut usia, dan orang yang memiliki keperluan." (HR. Bukhari, 702)

Dari Abu Hurairah , Rasulullah  bersabda,


ْ‫إِذَا صَلّى أَحَدُكُمْ لِلّنا سِ فَلْيُخَفّ فْ فَإِنّهُ مِنْهُ مْ ال ضّعِيْفُ وَال سّقِيْمُ وَالْكَبِيْرُ وَإِذَا صَلّى َأحَدُكُم‬
‫لِنَفْسِهِ فَلُْيطَوّلْ مَا شَا َء‬
"Apabila salah seorang kamu memimpin shalat maka ringankanlah, karena ditengah mereka ada
yang lemah, sakit, dan lanjut usia. Dan apabila shalat untuk dirinya maka panjangkanlah
sesukanya." (HR.Bukhari, 703)

Abu Daud berkata, "Pernah Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang membaca al-Qur'an
khatam dua kali di bulan Ramadhan ketika dia menjadi imam. Maka beliau menjawab, 'Ini
menurut saya sesuai dengan kadar semangat jamaah, karena ditengah-tengah mereka ada para
pekerja.'"(Mukhtashar Qiyamullail Wa Qiyam Ramadhan, 97)

Dalam kenyataan di masyarakat kita saksikan bahwa orang yang shalat tarawih 23 rakaat tampak
merasa keberatan, oleh karena itulah setelah berjalan seminggu jumlah jamaah turun drastis, atau
gerakan shalat semakin dipercepat agar cepat selesai. Tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah orang
yang ingin agar shalat cepat selesai adalah sangat banyak, oleh karena itu baik imam maupun
makmum seakan-akan telah sepakat untuk mempercepat gerakan shalat tarawih sampai mirip
gerakan senam. Mereka tidak peduli lagi dengan rukun-rukun dan sunnah shalat, yang penting
cepat selesai. Bahkan untuk menarik minat jama'ah beberapa masjid atau mushalla berlomba adu
kecepatan dalam merampungkan shalat, siapa yang tercepat itulah yang diminati oleh jama'ah.
Dengan demikian fungsi shalat yang untuk mengingat Allah itu akhirnya berubah menjadi tradisi
ritual yang tidak bermakna. Hal ini berbeda jikalau dilaksanakan sebanyak 11 rakaat, yang
nampak lebih menikmati shalat dan bermakna.

Akan tetapi jika 23 rakaat dilakukan dengan penuh kekhusyu'an berdasarkan ridha semua jamaah,
dalam waktu yang lebih lama dari yang 11 rakaat, maka pada kondisi seperti ini tarawih 23 rakaat
lebih utama. Inilah yang menjadi motivasi para sahabat Nabi  saat melakukan tarawih 20 rakaat,
karena ketidak mampuan mereka untuk melakukan 11 rakaat panjang-panjang.

Imam Syafi'I berkata, "Dalam masalah ini tidak ada kesempitan, tidak ada batasan akhir, karena
ia adalah nafilah (tambahan dari shalat wajib). Jika mereka memperpanjang bacaan dan
menyedikitkan jumlah sujud maka baik dan lebih saya sukai. Jika mereka memperbanyak rukuk
dan sujud maka juga baik." (Mukhtashar Qiyamullail wa Qiyam Ramadhan, 96)

Oleh karena itu, kami menghimbau agar para imam dan para jamaah saling tolong menolong dan
bertakwa kepada Allah dalam shalat tarawih mereka. Hendaklah melakukannya dengan penuh
keimanan dan keinginan kuat untuk mendapatkan ridha Allah, memperhatikan rukun, syarat, dan
sunnah shalat, menikmati bacaan-bacaan shalat demi mewujudkan firman Allah, "Dan dirikanlah
shalat untuk mengingat Aku." Dan untuk melaksanakan sabda Nabi ,
ِ‫مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِه‬
"Barang siapa melakukan shalat tarawih karena iman dan mencari pahala Allah, maka
diampuni apa yang telah lalu dari dosa-dosanya." (HR. Bukhari, 37, 1904, 1905; Muslim, 759)

Semoga kita dapat menikmati Ramadhan ini dan mendapatkan semua kebaikannya. Amin.
(Sumber: Agus Hasan Bashori, Shalat Tarawih Nabi  dan Salafus Shaleh, Majalah as-Sunnah
Edisi 07/Tahun VII/1424H/2003M, halaman 26-32; DR. Abdur Rahim ibn Ibrahim as-Sayyid al-
Hasyim, Hukm at-Tarawih waz-Ziyadah Fiha 'Ala Ihda "Asyrata Rak'ah, Dar ibnul Jauzi, cet. I,
1426)
*Malang, 25-8-2006

Di ambil dari website Majalah Qiblati: http://qiblati.com