Você está na página 1de 14

TERAPI AKTIVITAS BERMAIN: MEWARNAI GAMBAR PADA KELOMPOK ANAK USIA PRA SEKOLAH DENGAN MASALAH : HOSPITALISASI DIRUANG

ANAK RS M.ZEIN PAINAN


Topik Terapi Sasaran : Bermain dan menggambar : 11 orang mahasiswa Stikes Alifah padang : Klien (anak) yang kooperatif ( 4-6 orang) dan klien yang sesuai dengan kriteria.

I.

Latar belakang Hospitalisasi merupakan suatu keadaan yang tidak menyenangkan baik bagi anak yang sakit maupun keluarga. Dimana seorang anak dirawat dengan kondisi yang berbeda dengan lingkungan sebelumnya dan merasa terkekang dengan lingkungan yang dibatasi oleh tempat tidur dan ruang perawatan, hal ini menimbulkan stressor bagi anak dan keluarga yang meliputi rasa nyeri, cemas dan gangguan hubungan sosial. Bila koping yang digunakan salah dan tidak berhasil akan menimbulkan suatu krisis yang berdampak pada anak dan keluarga. Krisis akan berperan sebagai inhibitor dalam proses pengobatan dan perawatan yang mengalami gangguan fisik dan mental. Faktor penyembuh itu memerlukan dukungan emosional keluarga dan perawat perlu mengadakan pembinaan hubungan yang terapeutik dengan anak dan keluarga, salah satunya dengan mengadakan terapi bermain. Dari survey kasar yang dilakukan mahasiswa Stikes Alifah yang sedang Preklinik di bangsal anak, didapatkan rata-rata anak masih terbatas dengan proses pengobatan, perawatan dan kebutuhan bermain anak yang sesuai dengan kondisi penyakitnya. Diantara intervensi keperawatan anak terapi bermain sangat efektif karena dapat mengetahui perkembangan fisik, mental, intelektual dan sosial anak sebagai wadah pembinaan hubungan interpersonal antara klien, keluarga dan perawat. Salah satu terapi bermain yang digunakan adalah mewarnai gambar,hal ini diambil berdasarkan tumbuh kembang anak : menggambar orang terdiri dari kepala,lengan dan badan,mengenal empat warna,memperkirakan bentuk dan besar benda dengan ukuran besar dan

kecil,Perkembangan Psikososial ; mempelajari perbedaan lawan jenis dan bagian-bagian

tubuh mereka,belajar untuk memberi dan membagi perasaan,mulai berinteraksi dengn teman-teman sebaya,membina hubungan emosional dengan orang tua,kakak dan lainnya,belajar mengidentifikasi peran wanita dan laki-laki dewasa,belajar konsep sederhana tentang fisik dan sosial.Perkembangan Kognitif; mulai belajar membaca buku-buku dongeng dan cerita anak.Perkembangan Moral ; berbagi,menolong,melindungi,memberi

sesuatu,mencari teman,menunjukan perasaan dan memberi semangat. Hasil survey awal di Ruang Anak RSUD M. Zein Painan, dari 10 orang anak terdapat anak prasekolah sebanyak 6 orang. Dari survey di atas, kelompok tertarik mengambil materi terapi aktivitas bermain tentang mewarnai gambar.

II.

Tujuan Tujuan Umum Meningkatkan kemampuan dalam bersosialisai yang baik pada semua klien (anak) dalam bentuk bermain berkelompok dan sebagai lahan untuk tempat bermain serta mengurangi traumatik hospitalisasi anak terhadap rumah sakit. Tujuan Khusus Setelah mengikuti kegiatan klien mampu: 1. Melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan normalnya. 2. Meningkatkan daya imajinasi atau fantasi. 3. Mengembangkan kreativitas anak. 4. Beradaptasi lebih efektif terhadap stress hospitalisasi. 5. Meningkatkan kemampuan ekspresi diri, pikiran dan perasaan. 6. Memenuhi kebutuhan aktivitas bermain. 7. Menyalurkan emosi secara konstruktif. 8. Mempererat hubungan terapeutik antara perawat dan tenaga kesehatan lainnya dengan anak dan keluarga.

III.

Pembagian Tugas A. Leader B. Co-Leader C. Observer : Rika Gusneri : Dilla Seprima : Mike Sutia Mainingsih

D. Fasilitator

Amirul Adly Desi Lolita Ulfa Lestari Mike Artasari Leli Triwahyuni Paramita Amelia Roery Febrina Edwart Wiria Karva Utami

IV.

Landasan Teori A. Hospitalisasi Konsep Dasar Pengalaman hospitalisasi berkesan pada anak (traumatisasi life ). Secara umum sepertiga anak pernah dirawat sebelum dewasa. Kebanyakan rumah sakit umum tidak mempunyai bangsal anak khusus. Seorang anak yang dirawat akan mengalami stres hospitalisasi dan bila koping

yang digunakan salah atau tidak berhasil akan menimbulkan krisis mental dan fisik. Diperlukan dukungan emosional dari keluarga. Anak sakit yang segera dibawa ke IGD yang bukan tempat khusus anak dan perawat yang tidak terlatih dalam menghadapi anak menjadi stressor traumatik awal anak terhadap rumah sakit.

B. Tumbuh Kembang Anak Usia Pra Sekolah Tumbuh kembang anak usia 3 sampai 4 tahun: Berjalan-jalan sendiri mengnjungi tetangga Berjalan pada jari kaki Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri Menggambar garis silang Menggambar oarang hanya kepala dan badan Mengenal 2 atau 3 warna

Bicara dengan baik Menyebut namanya,jenis kelamin dan umur Banyak bertanya Bertanya bagaimana anak dilahirkan Mengenal sisi atas,sisi bawah,sisi muka,sisi belakang Mendengarkan cerita-cerita Bermain dengan anak lain Menunjukan rasa sayang pada saudara-saudaranya Dapat melaksanakan tugas-tugas sederha

Perkembangan fisik Berat badan bertambah rata-rata 2-3 kg pertahun. pada usia 6 tahun anak lakilaki cenderung lebih berat 0,5-1 kg dari dada anak perempuan. Tinggi badan bertambah sekitar 5cm/tahun, pada usia 6 tahun anak laki-laki dan perempuan memiliki tinggi yang hampir sama yaitu rata-rata 116 cm, sedangkan pada usia 12 tahun dapat mencapai 150 cm, biasanya anak perempuan lebih tinggi daripada anak laki-laki. Gigi permanen mulai tumbuh antara usia 6-7 tahun dan pada masa ini mulai timbul karies gigi sehingga pemeriksaan rutin mulai diperlukan. Pada usia 12-13 tahun anak-anak telah hampir semua gigi pemanen. Tanda-tanda vital pada usia 12 tahun seperti: suhu tubuh, nadi dan respirasi sama dengan usia dewasa.

Perkembangan psikososial Menurut Erikson : fase industri vs inferioritas Mulai kreatif dan mengembangkan tanggung jawab. Freud ; fase laten yang lebih senang bermain daripada mempertahankan keadaan tubuhnya. Kesenangan anak tertuju pada penyaluran energi.

Perkembangan kognitif Plaget : fase kongkrit operasional 7-11 tahun. Mulai belajar mengenai hubungan sebab akibat dan dapat mengukur dimensi ruang dan waktu.

Perkembangan moral Kohlberg: fase prakonvensional (patuh dam melanggar).fase konvensional (10-13 tahun) yaitu perubahan dari individu kekelompok. perkembangan moral dan roses membuat keputusan berlangsung selama periode usia sekolah ini. mereka tidak percaya pada standar tindakan sendiri tapi belajar tingkah laku dari orang lain dan mempunyai perasaan bersalah bila tingkah laku mereka tidak sesuai dengan standar tersebut.

Perkembangan spiritual Fowler : fase mytical literal(membedakan fantasi dan kenyataan) Berpikir dalam bentuk yang nyata suka belajar termasuk tentang Tuhan. Mereka mengagumi surga dan takut pada neraka.

Perkembangan Sosial o Hubungan sosial : anak usia 6-7 tahun memilih kelompok,8-9 tahun tertarik pada sesama jenis untuk bersaing dan bertanding,10-11 tahun mulai tertarik pada lawan jenis. o Hubungan dengan keluarga : penanaman nilai-nilai keluargaanak mulai protes dengan adanya pembatasan. anak membutuhkan orang tua sebagai orang dewasa bukan sebagai sahabat. o Bermaian : secara kelompok, memiliki dan setia pada kelompok. permainan usia ini membutuhkan energi yang tinggi tetapi anak masih bisa melakukan kegiatan yang mengasyikkan seperti bermaian kartu, monopoli, memasak dan seni. muncul tokoh idola dari kalangan family, teman, guru atau artis serta atlet. anak dapat mengikuti setiap permainan dengan kelompok dan menuruti peraturan yang berlaku. C. Arti dan makna warna Dalam kehidupan sehari - hari pasti anda sering kali melihat warna, di dunia ini banyak sekali warna - warna yang indah dilihat mata dan bahkan warna dapat mewakili sifat atau psikologi manusia.

Tapi Tahukah anda akan arti dari warna - warna tersebut, setiap warna memiliki arti atau juga makna tersendiri. Dalam dunia design seorang design grafis harus tahu apa itu arti dan makna dari berbagai warna, karna setiap orang akan tertarik dengan warna. macam makna warna yang ada:
Kuning

Respon Psikologi: Optimis, Harapan, Filosofi, Ketidak jujuran, Pengecut (untuk budaya Barat), pengkhianatan, pencerahan dan intelektualitas. Kuning adalah warna keramat dalam agama Hindu. Kuning adalah warna yang hangat. Cukup menarik perhatian dan sangat baik jika dijadikan background untuk teks hitam karena akan lebih mencolok terlihat.
-

Oranye Respon Psikologi: Energy, Keseimbangan, Kehangantan. Menekankan sebuah produk yang tidak mahal.

Merah Respon Psikologi: Power, energi, kehangatan, cinta, nafsu, agresi, bahaya, berpendirian, dinamis, dan percaya diri. Warna Merah kadang berubah arti jika dikombinasikan dengan warna lain. Merah dikombinakan dengan Hijau, maka akan menjadi simbol Natal. Merah jika dikombinasikan denga Putih, akan mempunyai arti bahagia di budaya Oriental. Bisa berarti berani dan semangat yang berkobar-kobar. Singkatnya secara umum berhubungan dengan perasaan yang meledak-ledak. Warna merah mudah menarik perhatian dan meningkatkan nafsu. Karena itu seperti saya katakan tadi, bisnis makanan banyak menggunakan warna dominan merah karena ini dipercaya dapat meningkatkan nafsu

makan pembeli, lihat saja warna pizza hut, McD, KFC yang juga ada merahnya.Atau kalau untuk teks, warna merah pasti akan lebih menarik perhatian dibanding warna lain. Namun jika untuk background dengan teks hitam, akan membuat mata cepat lelah.
-

Biru Respon Psikologi: Kepercayaan, Konservatif, Keamanan, Tehnologi, Kebersihan, Keteraturan, Damai, menyejukkan, spiritualitas, kontemplasi, misteri, dan kesabaran. Banyak digunakan sebagai warna pada logo Bank di Amerika Serikat untuk memberikan kesan tenang, terpercaya, ilmu dan wawasan. Warna ini sangat baik untuk menumbuhkan loyalitas konsumen. Bank-bank banyak menggunakan warna biru sebagai warna dominannya, demikian juga pendidikan.

Hijau Respon Psikologi: Alami, Sehat, Keberuntungan, Pembaharuan, dan pertumbuhan, keseimbangan

kesuburan,

harmoni,

optimisme,

kebebasan,

Warna Hijau tidak terlalu sukses untuk ukuran Global. Di Cina dan Perancis, kemasan dengan warna Hijau tidak begitu mendapat sambutan. Tetapi di Timur Tengah, warna Hijau sangat disukai. Banyak produk yang menekankan kealamian produk menggunakan warna ini sebagai pilihan. Untuk perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan eksplorasi alam, warna hijau banyak dipakai untuk menegaskan bahwa perusahannya berwawasan lingkungan. Warna ini termasuk yang sedang ngetren dan akan banyak dipakai khususnya dengan kampanye yang berhubungan dengan lingkungan. Kemasan deterjen juga tidak sedikit yang menggunakan warna hijau.
-

Ungu atau Jingga Respon Psikologi: Spiritual, Misteri, Kebangsawanan, Transformasi, Kekasaran, Keangkuhan, Ramah, Romantis, dan Mandiri.

Warna Ungu sangat jarang ditemui di alam. Ungu adalah capuran warna merah dan biru. Menggambarkan sikap gempuran keras yang dilambangkan dengan warna biru. Perpaduan antara keintiman dan erotis atau menjurus ke pengertian yang dalam dan peka. Bersifat kurang teliti namun penuh harapan.
-

Coklat Respon Psikologi: Tanah/Bumi, Reliability, Comfort, Daya Tahan, Stabilitas, Bobot, Kestabilan dan Keanggunan.

Kemasan makanan di Amerika sering memakai warna Coklat dan sangat sukses, tetapi di Kolumbia, warna Coklat untuk kemasan kurang begitu membawa hasil.
-

Hitam Respon Psikologi: Ketakutan, Power, Kecanggihan, Kematian, Misteri, Seksualitas, Kesedihan, Keanggunan, dan Independen, Berwibawa, Penyendiri, Disiplin, dan Berkemauan keras. Melambangkan kematian dan kesedihan di budaya Barat. Sebagai warna Kemasan, Hitam melambangakan Keanggunan (Elegance), Kemakmuran (Wealth) dan Kecanggihan (Sopiscated). Menunjukkan hal yang tegas, elegan, dan eksklusif. Juga bisa mengandung makna rahasia. Seperti ketika saya memilih warna dominan hitam pada Rahasia Blogging.warnatersebut sangat mendukung kata rahasia yang ingin saya tekankan. Kalau untuk warna mobil, biasanya mobil berwarna hitam lebih mahal daripada mobil berwarna lain.

Putih Warna suci dan bersih, natural, kosong, tak berwarna, netral, awal baru, kemurnian dan kesucian Warna yang sangat bisa dipadukan dengan warna apapun. Warna putih di situs web banyak dipakai sebagai warna background teks hitam. Sebab pengunjung akan lebih mudah untuk membacanya.

Abu Abu Respon Psikologi: Intelek, Masa Depan (kayak warna Milenium), Kesederhanaan, Kesedihan. D. Fokus Terapi Aktivitas Kelompok Pada dasarnya digunakan pada klien yang mengalami gangguan persepsi, gangguan orientasi realita, gangguan inter personal terhadap nilai-nilai dari pergaulan anak, maka komunikasi perlu diberikan sebagai upaya untuk merangsang motivasi hubungan interpersonal. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai keinginan untuk kesenangan dan kepuasan kepada anak-anak dan kelompoknya. Jenis permainan anak usia sekolah dibagi atas;

Motorik halus ; menulis nama, alamat dan umur; membaca dan menggambar; memanipulasi benda-benda dengan ketangkasan yang tinggi; aritmatika;

bersandiwara; pekerjaan tangan seperti perkayuan dan menyulam ; permainan diluar rumah, berenang, menunggang kuda, bermain karyu dan monopoli Motorik kasar ; berolah raga, sepak bola, tenis, kasti, lari; ballet; bermain alat musik dan bersepeda.

V.

Kriteria Anak Kriteria anak yang akan mengikuti kegiatan adalah : Keadaan umum anak sedang Anak yang kooperatif Anak berusia 4-5 tahun Tidak terpasang alat

VI.

Proses Seleksi 1. Identifikasi klien yang masuk dalam kriteria 2. Membuat kontrak dengan keluarga klien Menjelaskan tujuan kegiatan Menjelaskan waktu dan tempat kegiatan Membuat perjanjian mengikuti peraturan dalam bermain Menjelaskan kepada anak dan keluarga untuk menggambar sesuai kreativitasnya.

VII. Uraian Struktur Kegiatan 1. Hari / tanggal 2. Tempat 3. Waktu 4. Jumlah Anggota 5. Metoda : Kamis / 17 April 2014 : Bangsal Anak RSUD M.Zein Painan : 45 Menit : 5 orang : Mewarnai gambar

6. Prilaku yang diharapkan dari anggota Klien dapat mewarnai gambar dan menghasilkan gambar yang baik Menyebutkan nama dan hobi

Klien dapat meningkatkan sosialisasi dan mengekpresikan perasaan melalui permainan ini

7. Prilaku yang diharapkan leader Menjelaskan tujuan aktivitas Memperkenalkan anggota terapis Memberikan kesempatan anggota untuk saling mengenal Menjelaskan aturan permainan Memberikan respon yang sesuai dengan perilaku anggota Menyimpulkan keseluruhan aktivitas anggota

8. Perilaku yang diharapkan dari Co Leader Menyampaikan informasi dan fasilitator kepada leader Membantu leader dalam melaksanakan tugasnya

9. Perilaku yang diharapkan dari fasilitator Mampu memfasilitasi klien yang kurang aktif Mampu memotivasi klien

10. Perilaku yang diharapkan dari Observer Mampu mengobservasi jalannya terapi bermain Mengamati dan mencatat jumlah anggota yang hadir Melaporkan tentang hasil terapi pada masing-masing anak. Membuat kesimpulan, evaluasi dan mendiskusikan tentang kondisi anak kepada orang tua, untuk ditindak lanjuti oleh orang tua. VIII. Rencana Jalannya Acara Tahapan No dan Waktu 1 Pembukaan 5 menit Memberikan Salam Kontrak waktu Kontrak bahasa Menjelaskan tujuan terapi Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta Penyuluhan Menjawab salam Mendengarakan dan merespon persepsi perawat untuk siap mengikuti

penyuluhan 2 pelakasanaan Acara dipimpin oleh leader, Memperhatikan 20 menit mengucapkan therapeutic, memperkenalkan salam kemudian Mendengarkan diri Mendengarkan

dilanjutkan dengan acara inti. Memberikan kesempatan pada Mendengarkan klien untuk berkenalan Menjelaskan aturan main Kegiatan : Sosialisasi dengan permainan mewarnai Menyimpulkan dan mengavaluasi hasil pembelajaran Menyampaikan salam penutup Membalas salam penutup Mendengarkan Mendengarkan

Penutup 5 menit

IX.

Media Kertas karton Pensil berwarna Crayon

X.

Alokasi Waktu Perkenalan Terapis Perkenalan klien Permainan Istirahat Sharing persepsi Penutup Jumlah : 5 menit : 5 menit : 15 menit : 5 menit : 10 menit : 5 menit : 45 menit

XI.

Proses Evaluasi 1. Evaluasi struktur Peserta 5 orang Peserta duduk ditempat yang telah disediakan atau ditempat yang diinginkan oleh anak 2. Evaluasi proses Klien tidak meninggalkan tempat selama kegiatan berlangsung. Klien aktif dan dapat mengikuti semua rangkaian kegiatan dengan tertib Klien dapat mengikuti terapi sesuai dengan aturan permainan

3. Evaluasi hasil 4 dari 6 orang anak mampu menggunakan daya imajinasinya sambil bermain dengan baik 4 dari 6 orang anak mempunyai teman kenalan yang baru

XII. Setting Tempat

O C

Keterangan : = Leader O F = Observer = Fasilitator Setting tempat disesuaikan dengan kondisi anak dan mengikut sertakan peserta tambahan C = Co-Leader = KLien

Catatan :

XIII. Penutup Setelah kegiatan terapi aktivitas bermain ini, diharapkan anak dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu meningkatkan kemampuan klien dalam bersosialisasi dan mengungkapkan perasaan melalui terapi bermain serta anak dapat beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang tempat ia dirawat.

Padang, 14 April 2014 Mengetahui Pembimbing

(Ns, ZURIATI, S.Kep, M.Kep, CBWT) (Ns. RISCHA HAMDANESTI, S.Kep)

DAFTAR PUSTAKA

Skala Yaumil - Mimi, Gangguan Psikologi Anak UI Soetjiningsih dr.SpAK,Tumbuh Kembang Anak.Penerbit Buku Kedokteran Egc,Jakarta,1995

Você também pode gostar