Você está na página 1de 11

AUDIT INVESTIGATIF DENGAN TEKNIK

AUDIT DAN TEKNIK PERPAJAKAN






Oleh:
AHMAD PRIYONO
TERESIA MARIA PROTEGENTI TINI
THALITA OKA PUTRI



PROGRAM PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014




INVESTIGATIF DENGAN TEKNIK AUDIT
Kata investigasi dalam akuntansi forensic umumnya berarti audit investigasi atau
investgatif (investigative audit). Karena itu secara alamiah, diantara beberapa tehnik
investigasi ada teknik-teknik yang berasal dari tehnik-tehnik audit (audit techniques).
Banyak auditor yang sudah berpengalamanpun, merasa ragu untuk terjun dalam
bidang investigasi. Padahal, tehnik-tehnik audit yang mereka kuasai, memadai untuk
dipergunakan dalam audit investigasi.
Teknik audit adalah cara-cara yang dipakai dalam mengaudit kewajaran penyajian
laporan keuangan. Hasil dari penerapan tehnik audit adalah bukti audit. Ada tujuh tehnik,
yang dirinci dalam bentuk kata kerja bahasa Indonesia, dengan jenis bukti auditnya dalam
kurung (kata benda bahasa Inggris), yakni:
1. Memeriksa fisik (physical examination)
2. Meminta konfirmasi (confirmation)
3. Memeriksa dokumen (documentation)
4. Reviu analitikal (analytic review atau analytical review)
5. Meminta informasi lisan atau tertulis dari auditan (inquiries of the auditee)
6. Menghitung Kembali (reperformance)
7. Mengamati (observation)

Kalau teknik-teknik audit itu diterapkan dalam audit umum, maka bukti audit yang
berhasil dihimpun akan mendukung pendapat auditor independent. Dalam audit investigative,
tehnik-tehnik audit tersebut bersifat eksplorative, mencari wilayah garapan, atau probing
(misalnya dalam reviu analitikal) maupun pedalaman (misalnya dalam confirmation dan
documentation).
Teknik-teknik audit relative sederhana untuk diterapkan dalam audit investigative.
Sederhana, namun ampuh. Tema kesederhanaan dalam pemilihan tehnik audit (termasuk
audit investigative).

TEKNIK-TEKNIK AUDIT
Ada teknik audit yang lebih dekat kepada praktek investigasi perpajakan dan
organized crime (seperti Net Worth Method dan Expenditure Method); Ada juga tehnik audit
seperti Follow the Money, yang mempunyai unsure pencucian uang dalam tindak pidananya
yang berkaitan erat dengan naluri penjahat dan sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi
dalam pengungkapannya.
Meskipun semua (tujuh) tehnik audit yang disebutkan pembahasan akan berfokus
pada reviu analitikal.

MEMERIKSA FISIK DAN MENGAMATI
Memeriksa fisik atau physical examination lazimnya diartikan sebagai penghitungan
uang tunai (baik dalam mata uang rupiah atau mata uang asing), kertas berharga, persediaan
barang, aktiva tetap, dan barang berwujud (tangible assets) lainnya.
Mengamati sering diartikan sebagai pemanfaatan indera kita untuk mengetahui
sesuatu. Kalau kita melakukan kunjungan pabrik, kita melihat luasnya pabrik, peralatan yang
ada, kegiatan yang dilakukan, banyaknya dan beragamnya tenaga kerja. Kita juga mendengar
sesuatu, mungkin sesuatu yang wangi (seperti di pabrik parfum, aromatic, obat, dan lain-lain)
atau bahkan bau yang menyengat (misalnya ditempat penyamakan kulit atau tempat
pengolahan sampah). Kita bisa mencicipi,misalnya dipabrik yang menghasilkan makanan.
Kita merasa suhu panas atau dingin ditempat kerja. Singkatnya, mengamati adalah
menggunakan indera, bisa salah satu atau beberapa indera sekaligus.
Dalam kedua teknik ini investigator menggunakan inderanya, untuk mengetahui atau
memahami sesuatu. Dari beberapa contoh dibawah, kita melihat berbagai tingkat pemahaman
yang bisa diperoleh dari pengamatan dan pemeriksaan fisik:

Dari kunjungan ke lokasi yang terkena dampak semburan Lumpur panas di Porong, Sidoarjo
tahun 2006, investigator menyaksikan sendiri apa yang terjadi dan luasnya musibah. Ini salah
satu pemahaman. Investigator mempunyai bayangan. Pemahaman ini penting ketika
nantinya ia membaca laporan para ahli secara rinci tentang luasnya kerusakan dan besarnya
kerugian.

Dari kunjungan ke wilayah yang terkena gempa, para relawan dan petugas dari dinas Sosial
dapat menentukan jumlah kilometer jalan, rumah, sekolah, rumah ibadah, kantor, pabrik, dan
lain-lain yang rusak. Pemahaman ini lebih dalam dari bayangan mengenai intensitas
kerugian akibat semburan Lumpur panas tadi. Disini ada data kuantitatif.

MEMINTA INFORMASI DAN KONFIRMASI
Meminta informasi baik lisan maupun tertulis kepada auditan, merupakan prosedur
yang biasa dilakukan auditor. Pertanyaannya, apakah dalam investigasi hal itu perlu
dilakukan? Apakah sebaiknya kita tidak meminta informasi, supaya yang diperiksa tidak
mengetahui apa yang kita cari? Yang bersangkutan juga mempunyai kepentingan dan
peluang untuk berbohong.
Seperti dalam audit juga dalam investigatif, permintaan informasi harus dibarengi,
diperkuat, atau dikolaborasi dengan informasi dari sumber lain atau diperkuat (substantiated)
dengan cara lain. Permintaan informasi sangat penting, dan juga merupakan prosedur yang
normal dalam suatu investigatif.
Meminta konfirmasi adalah meminta pihak lain (dari yang diinvestigasi) untuk
menegaskan kebenaran atau tidak keebenaran suatu informasi. Dalam audit, tehnik ini
umumnya diterapkan untuk mendapat kepastian mengenai saldo utang-piutang. Tapi
sebenarnya ia dapat diterapkan untuk berbagai informasi, keuangan maupun non keuangan.

MEMERIKSA DOKUMEN
Tehnik ini tidak memerlukan pembahasan khusus. Tak ada investigasi tanps
pemeriksaan dokumen. Hanya saja, dengan kemajuan teknologi, definisi dokumen menjadi
luas, termasuk informasi yang diolah, disimpan dan dipindahkan secara elektronis/digital.

REVIU ANALITIKAL
Dalam reviu analitikal yang penting bukannya perangkat lunaknya, tetapi
semangatnya, Pada dasarnya seorang investigator secara intuitif terobsesi dengan sesuatu
yang melenceng dan bahwa something must be wrong because it appears so. Karena itu
ia memerlukan patokan atau benchmark untuk membandingkannya dengan apa yang
dihadapinya. Patokan inilah yang dirumuskan Stringer dan Stewart sebagai results that may
reasonably be expected.
Misalnya kita sedang menginvestigasi suatu bank yang berkewajiban memungut pajak
penghasilan atas bunga yang diperoleh nasabahnya. Apakah bank menyetorkan pajak
penghasilan ini sesuai ketentuan, baik dalam jumlah maupun waktu penyetoran? Apakah
investigasi ini harus dimulai di cabang-cabang atau kantor-kantor perwakilan? Menurut reviu
analitikal,tidak.
Kita mulai dengan mencocokkan angka-angka agregat. Pertama, kita tentukan jumlah
pajak penghasilan yang sudah disetorkan untuk bank secara keseluruhan (Kantor Pusat dan
Cabang-cabang), menurut pembukuan bank itu. Selanjutnya, ini adalah hasil perkalian antar
tarif pajak (misal 10 %) dengan jumlah bunga yang dibayarkan bank itu kepada kepada para
nasabahnya. Perbedaan antara data A dengan data B bisa merupakan perbedaan waktu
(timming difference) saja. Yakni, perbedaan antara saat memotong dan saat menyetor pajak
penghasilan. Timming difference ini juga mudah dialokasi.
Tetapi mungkin juga ada perbedaan yang bersifat tetap (permanent difference)
misalnya dalam hal deposan dalam negeri yang mendapat pembebasan pajak penghasilan dan
deposan di cabang-cabang luar negeri dimana bank tidak berkewajiban memungut pajak
penghasilannya. Perbedaan ini mudah diketahui karena umumnya jumlah deposan dalam
negeri yang dibebaskan, tidak banyak. Sedangkan untuk deposan di cabang-cabang diluar
negeri, kita mengabaikan seluruh data bunga luar negeri (bagian dari data B semula).
Dengan contoh ini, mari kita saji definisi reviu analitikal diatas: a form of deductive
reasoning in which the propriety of the individual details is inferred from evidence of the
reasonableness of the aggregate results. Kita harus memulai dari belakang.
Pertama, evidence of the reasonbleness of the aggregate of the results; ini diperoleh
dari data B yang diadjust untuk deposan dalam negeri yang dikecualikan pemungutan pajak
penghasilannya dan bunga di cabang-cabang luar negeri.
Kedua, a form of deductive reasoning. Di sini kita membuat deduksi dari data
agregat, data global, data menyeluruh, yang dalam hal ini adalah data A dan data B. Deduksi
ini berkenaan dengan the proprierty of the individual details. Individual details disini adalah
pemungutan dan penyetoran pajak penghasilan oleh bank secara transaksi demi transaksi,
cabang demi cabang, atau mungkin per pejabat bank sesuai dengan kewenangannya. Kita
think ananlytical first, dan tidak langsung terjun dan menyibukkan diri dengan detailed
substantive test.
Ada bermacam-macam variasi dari tehnik reviu analitical, namun semuanya
didasarkan atas perbandingan antara apa yang dihadapi dengan apa yang layaknya harus
terjadi, dan berusaha menjawab sebabnya terjadi kesenjangan. Apakah ada kesalahan (error),
fraud, atau salah merumuskan patokannya.

MEMBANDINGKAN ANGGARAN DENGAN REALISASI
Membandingkan data anggaran dan realisasi dapat mengindikasikan adanya fraud.
Yang perlu dipahami di sini adalah mekanisme pelaksanaan anggaran, evaluasi atas
pelaksanaan anggaran, dan insentif (keuangan maupun non keuangan) yang terkandung
dalam sistem anggarannya.
Dalam entitas yang merupakan profit center atau revenue center, pejabat tertentu
menerima insentif (bonus) sesuai dengan keberhasilan yang diukur dengan pelampauan
anggaran. Investigator perlu mengantisipasi kecenderungan realisasi penjualannya dibuat
tinggi (overstated). Penjualan kredit dan pengiriman barang secara besar-besaran pada akhir
tahun merupakan indikasi mengenai hal itu. Pengembalian barang sesudah akhir tahun
memperkuat indikasi adanya fraud.

HUBUNGAN ANTARA SATU DATA KEUANGAN DENGAN DATA KEUANGAN
LAIN
Beberapa akun, baik dalam suatu maupun beberapa laporan keuangan, bisa
mempunyai keterkaitan yang dapat dimanfaatkan untuk reviu analitikal. Contoh: angka
penjualan dengan piutang dan persediaan rata-rata, angka penjualan dengan bonus bagian
penjualan, penghasilan bunga dengan saldo rata-rata tabungan dan seterusnya.

MENGGUNAKAN DATA NON KEUANGAN
Inti dari reviu analitikal adalah mengenal pola hubungan, relationship pattern. Pola
hubungan ini tidak mesti hanya antara satu data keuangan dengan data keuangan lain. Pola
hubungan non keuanganpun bisa bermacam-macam bentuknya.
Dalam bisnis perkebunan ada hubungan antara jumlah pupuk yang dipergunakan
dengan hasil produksi atau panen; angka masukan maupun keluaran dinyatakan dalam satuan
non keuangan, seperti jumlah ton untuk pupuk dan sawit.
Di pabrik gula ada ukuran antara jumlah ton tebu yang masuk ke pabrik dan jumlah
ton gula yang dihasilkan. Pola hubungan antara masukan dan keluaran ini dinyatakan dalam
suatu ratio yang dalam industri gula dikenal sebagai rendemen. Perhitungan serupa kita lihat
di industri kayu lapis atau blackboard, dengan nama recovery.
Bermacam ratio kita gunakan untuk berbagai industri. Bahkan industri-industri atau
perusahaan pemeringkat mengembangkan dan menyebarkan industry ratios.
Perusahaan penerbangan Garuda mendapatkan hasil yang sangat signifikan dari
perjalanan haji. Data yang penting, jumlah calon haji yang diterbangkan, dapat diperoleh dari
sumber intern maupun ekstern Garuda.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di konsulat-konsulat kita diluar negeri,
mempunyai hubungan linier dengan banyaknya visa yang diterbitkan.
Reviu analitikal sering dilakukan dengan hitungan cepat untuk menunjukkan
keganjilan. Seorang bankir mencatat informasi yang diterimanya dari calon nasabah
kreditnya. Dengan cepat ia menetukan bahwa pabrik pulp berkapasitas besar dilokasi yang
terisolasi, tidak akan bisa beroperasi karena bahan bakunya tidak akan cukup. Semua data
untuk membuat kesimpulan itu ia peroleh selama makan siang dengan calon debiturnya.

REGRESI ATAU ANALISIS TREND
Dengan data historikal yang memadai(makin banyak makin baik, ceteris paribus),
reviu analitikal dapat mengungkapkan trend. Berbagai perangkat lunak mempermudah
hitungan dan grafiknya, misalnya STAR.

MENGGUNAKAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO
Ada hubungan antara besarnya pajak penghasilan yang diperoleh dalam suatu tahun
dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi, tingkat pengangguran, cadangan devisa,
indikator ekonomi negara-negara yang menjadi partner perdagangan Indonesia, harga minyak
mentah dan komoditi lain, dan lain-lain. Ini merupakan bidang studi yang ditekuni para ahli
ekonomi makro dan ekonometri.

MENGHITUNG KEMBALI
Menghitung kembali atau repeform tidak lain dari mencek kebenaran perhitungan
(kali, bagi, tambah, kurang, dan lain-lain). Ini prosedur yang sangat lazim dalam audit.
Biasanya tugas ini diberikan kepada seseorang yang baru mulai bekerja sebagai auditor;
seorang junior auditor di kantor akuntan.
Dalam investigatif, perhitungan yang dihadapi umumnya sangat kompleks, didasarkan
atas kontrak atau perjanjian yang rumit, mungkin sudah terjadi perubahan dan renegoisasi
berkali-kali dengan pejabat(atau kabinet) yang berbeda. Perhitungan ini dilakukan atau
disupervisi oleh investigator yang berpengalaman.
Beberapa contoh penghitungan kembali semacam itu yang berpotensi triliunan rupiah:
Kasus penyelesaian kewajiban pemegang saham menurut Keputusan Menteri Keuangan
nomor 151/KMK.01/2006 tanggal 16 Maret 2006 mensyaratkan penetapan jumlah kewajiban
berdasarkan data terakhir.
Perhitungan cost recovery oleh kontraktor bagi hasil (Production Sharing Contractor). Cost
recovery ini sangat besar jumlahnya. Kalau tidak dihitung kembali oleh counterpart PSC atau
lembaga pemeriksa independen, cost recovery rawan penyalahgunaan.
Biaya yang dikeluarkan BUMN yang mempunyai kewajiban memberikan pelayanan umum
(public Service Obligation). Keterlambatan pembayaran PSO mempunyai dampak yang besar
terhadap likuiditas BUMN yang bersangkutan.

INVESTIGATIF DENGAN TEKNIK PERPAJAKAN
Investigatif dengan teknik perpajakan menggunakan dua tehnik yang secara luas
dipraktekkan oleh IRS (Internal Revenue Services) di Amerika Serikat. Kedua teknik
investigasi ini digunakan untuk menentukan panghasilan kena pajak (PKP) yang belum
dilaporkan oleh wajib pajak dalam SPT-nya. Penerapan tehnik-tehnik ini terus berkembang,
sehingga menjadi umum digunakan dalam memerangi organized crime.
Kedua tehnik investigatif ini adalah Net Worth Method dan Expenditure Method.
Keduanya menggunakan logika pembukuan atau akuntansi yang sederhana. IRS
menggunakannya sebagai bukti tidak langsung (circumstantial evidence). Teknik ini
menggeser beban pembuktian dari negara/fiskus kepada wajib pajak. Perlindungan hak wajib
pajak diperlukan karena pergeseran beban pembuktian tersebut diatas.

NET WORTH METHOD
Net worth method diterapkan oleh kantor pajak Amerika Serikat (IRS). Pemakaiannya
bisa ditelusuri kembali ke tahun 1931 ketika IRS berhasil menjaring Al(fonso) Capone. Sejak
Congress mengundangkan RICO Act pada tahun 1970, penggunaannya diperluas untuk
menemukan indikasi illegal income dari organized crime (kejahatan yang diorganisasi seperti
Mafia,Triad, dan lain-lain).
Net worth method untuk investigasi pajak ingin membuktikan adanya PKP yang
belum dilaporkan oleh wajib pajak. Untuk organized crime yang ingin dibuktikan adalah
terdapatnya penghasilan yang tidak sah, melawan hukum, atau illegal income.

NET WORTH METHOD UNTUK PERPAJAKAN
Di Amerika Serikat di mana Net Worth Method diterima sebagai cara pembuktian
tidak langsung, dasar penggunaannya adalah kewajiban wajib pajak untuk melaporkan semua
penghasilannya (sebagaimana didefinisikan oleh undang-undangnya) dalam tax returns
mereka. Ketentuan serupa juga berlaku di Indonesia di mana wajib pajak diwajibkan
penghasilannya secara lengkap dan benar dalam SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan, dalam
hal ini SPT PPh).
Pemeriksa pajak menetapkan net worth atau kekayaan bersih pada awal tahun. Ini
diperoleh dari pengurangan seluruh assets seseorang dengan seluruh liabilities-nya. Jadi di
awal tahun tertentu,sebutlah Tahun-1, net worth = assets-lialibilities. Hal yang sama
dilakukan untuk menentukan net worth Tahun-2.
Selanjutnya, net worth Tahun-1 dibandingkan dengan net worth tahun-2.
perbandingan ini akan menghasilkan kenaikan net worth (net worth increase) yang
seharusnya sama dengan PKP untuk tahun-2. Karena itu kenaikan net worth ini dibandingkan
dengan penghasilan yang dilaporkan dalam SPT PPh tahun-2.

NET WORTH METHOD UNTUK ORGANIZED CRIME
Dengan rumus yang hampir sama, kita dapat menentukan illegal income. Seperti
disebutkan tadi, di Amerika Serikat metode ini digunakan dalam memerangi organized crime.
Di Indonesia pendekatan ini dapat digunakan untuk memerangi korupsi. Ketentuan
perundang-undangannya sudah ada, yakni laporan mengenai kekayaan pejabat.
Legal income adalah semua penghasilan yang dilaporkan yang bersangkutan. Inilah
yang dibandingkan dengan net worth increase (sesudah di-adjust dengan personal expenses)
untuk menentukan illegal income.

EXPENDITURE METHOD
Sebagaimana halnya dengan Net Worth yang dijelaskan, penerapan Expenditure
Method juga dipelopori IRS. Expenditure Method yang merupakan derivasi atau turunan dari
net worth method digunakan IRS sejak tahun 1940an. Ketika RICO Act diundangkan dalam
tahun 1970, Expenditure Method dimanfaatkan sebagai petunjuk organized crime.
Expenditure Method juga merupakan cara pembuktian tidak langsung.
Seperti Net Worth Method, Expenditure Method juga dimaksudkan untuk
menentukan unreported taxable income. Expenditure Method lebih cocok untuk para wajib
pajak yang tidak mengumpulkan harta benda, tetapi mempunyai pengeluaran-pengeluaran
besar (mewah).
Expenditure Method lebih populer dari Net Worth Method, karena Expenditure
Method lebih mudah dibuat atau dihitung, dan juga lebih mudah dimengerti oleh orang
awam. Mahkamah Agung di Amerika Serikat tidak menetapkan Expenditure Method secara
khusus sebagai alat pembuktian, karena Expenditure Method dianggap derivasi atau turunan
dari Net Worth Method. Seorang akuntan harusnya mampu menghitung unreported taxable
income berdasarkan Net Worth Method akan mengkonversikannya ke Expenditure Method.
Expenditure Method harusnya digunakan untuk kasus-kasus perpajakan apabila
kondisi-kondisi berikut sangat kuat atau dominan:
1. Wajib pajak tidak menyelenggarakan pembukuan atau catatan.
2. Pembukuan dan catatan wajib pajak tidak tersedia, misalnya karena terbakar.
3. Wajib pajak menyelenggarakan pembukuan tetapi tidak memadai.
4. Wajib pajak menyembunyikan pembukuan.
5. Wajib pajak tidak mempunyai assets yang terlihat atau dapat diidentifikasi.

Expenditure Method harusnya digunakan untuk kasus-kasus organized crime apabila kondisi-
kondisi berikut sangat kuat atau dominan:
1. Tersangka kelihatannya tidak membeli asset seperti rumah, tanah, saham, perhiasan,
mobil atau kapal mewah, dan seterusnya.
2. Tersangka mempunyai gaya hidup mewah dan agaknya diluar kemampuannya.
3. Tersangka diduga mengepalai jaringan kejahatan, atau semua saksi yang memberatkan
dia adalah para penjahat yang sudah dijatuhi hukuman.
4. Illegal income harus ditentukan untuk menghitung denda (misalnya dalam kejahatan
penebangan hutan ilegal), menghitung kerugian negara (dalam kasus korupsi), dan
pungutan negara lainnya.

Expenditure Method adalah derivasi dari Net Worth Method. Namun, perlakuan
terhadap asset dan liabilities-nya berbeda. Misalnya, dalam Net Worth Method penyidik akan
mencantumkan saldo akhir kas dan bank. Dalam Expenditure Method, hanya perubahannya
yang diambil (kenaikan atau penurunan kas dan bank). Hal yang sama juga berlaku untuk
persediaan barang, piutang, utang, dan pinjaman bank. Depresiasi, amortisasi, deplesi,
deffered gains, dan semacamnya juga diabaikan dalam Expenditure Method ini sebenarnya
merupakan hal yang elementer untuk seorang akuntan.













CONTOH KASUS

Kasus Audit Kas / Teller Laporan Fiktif Kas di Bank BRI Unit TapungRaya

Kepala Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Tapung Raya, Masril (40) ditahan polisi. Ia
terbukti melakukan transfer uang Rp1,6 miliar dan merekayasa dokumen laporan keuangan.
Perbuatan tersangka diketahui oleh tim penilik/pemeriksa dan pengawas dari BRI Cabang
Bangkinang pada hari Rabu 23 Februari 2011 Tommy saat melakukan pemeriksaan di BRI
Unit Tapung. Tim ini menemukan kejanggalan dari hasil pemeriksaan antara jumlah saldo
neraca dengan kas tidak seimbang. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan cermat,
diketahu iadanya transaksi gantung yaitu adanya pembukuan setoran kas Rp 1,6 miliar yang
berasal BRIUnit Pasir Pengaraian II ke BRI Unit Tapung pada tanggal 14 Februari 2011 yang
dilakukanMasril, namun tidak disertai dengan pengiriman fisik uangnya.Kapolres Kampar
AKBP MZ Muttaqien yang dikonfirmasi mengatakan, Kepala BRI Tapung Raya ditetapkan
sebagai tersangka dan ditahan di sel Mapolres Kampar karenamentransfer uang Rp1,6 miliar
dan merekayasa laporan pembukuan.Kasus ini dilaporkan oleh Sudarman (Kepala BRI
Cabang Bangkinang dan Rustian).
Martha pegawai BRI Cabang Bangkinang. Masril telah melakukan tindak pidana
membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau laporan
maupun dalam dokumen laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening Bank (TP
Perbankan). Tersangka dijerat pasal yang disangkakan yakni pasal 49 ayat (1) UU No. 10
tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan dangan ancaman
hukuman 10 tahun, kata Kapolres. Polres Kampar telah melakukan penyitaan sejumlah
barang bukti dokumen BRI serta melakukan koordinasi dengan instansi terkait, memeriksa
dan menahan tersangka dan 6 orang saksi telah diperiksa dan meminta keterangan ahli.