Você está na página 1de 29

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan
sel sperma) pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram, sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran
hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk tumbuh. Apabila janin lahir selamat
(hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran
prematur.
Abortus ada beberapa macam yaitu abortus spontan, abortus buatan, dan terapeutik.
Biasanya abortus spontan dikarenakan kurang baiknya kurang baiknya sel telur dan sel
sperma. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum
usia kandungan 20 minggu. Pengguguran kandungan buatan dikarenakan indikasi
medik disebut abortus terapeutik. Berdasarkan jenisnya abortus juga dibagi menjadi
abortus imminens, abortus insipien, abortus inkomplit, abortus komplit, missed
abortion, dan abortus habitualis.
Adapun penyebab abortus yang umum didapatkan yaitu : abnormalitas genetalia
(malforasi, tumor uteri, inkompetensi serviks, gangguan endokrin, infeksi), anomali
ekstragenitalia (gangguan endokrin, infeksi anemia, penyakit-penyakit yang
melemahkan), penyebab fetoplasental (aberasi kromosom, anomali fotoblas, gangguan
nidasi, gangguan trofoblastik fungsional), penyebab imunologis (gangguan toleransi
imun), abnormalitas andorgen (abortus spermatogenik, anomali genetik, anomali
sperma, abnormalitas kromosom) dan penyebab lain (abortus iatrogenik dan abortus
induksi, radiasi, pengobatan, inokulasi).

B. Tujuan
1. Apa Definisi dan Klasifikasi Abortus?
2. Bagaimana Etiologi dan Patofisiologi Abortus?
3. Apa Manifestasi Klinik Abortus?
4. Bagaimana Penatalaksanaan Abortus?
5. Apa saja Komplikasi dari Abortus?
2

6. Bagaimana Asuhan Keperawatan Abortus?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Definisi dan Klasifikasi Abortus
2. Untuk mengetahui Etiologi dan Patofisiologi Abortus
3. Untuk mengetahui Manifestasi Klinik Abortus
4. Untuk mengetahui Penatalaksanaan Abortus
5. Untuk mengetahui Komplikasi dari Abortus
6. Untuk mengetahui pembuatan Asuhan Keperawatan Abortus























3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi dan Klasifikasi Abortus
Keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan. Dibawah ini dikemukakan beberapa definisi beberapa ahli tentang abortus.
1. Menurut Eastman, abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana
fetus belum sanggup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila
fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram, atau usia kehamilan kurang dari 28
minggu.
2. Menurut jeffcoat, abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum usia
kehamilan 28 minggu, yaitu fetus belum viable by law.
3. Menurut Holmer, abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16,
dimana proses plantasi belum selesai.
4. Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi
belum mencapai 22 miinggu dan beratnya kurang dari 500 gram (Derek
liewonllyn&Jones, 2002).
5. Abortus adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup diluar kandungan dengan usia gestasi kurang dari 20 minggu dan
berat janin kurang dari 500 gram (Murray, 2002).
Ternyata MONRO melaporkan bahwa fetus dengan berat 397 gram dapat hidup
terus, jadi definisi tersebut diatas tidaklah mutlak. Sungguhpun bayi dengan BB 700-
800 gram dapat hidup, tapi hal ini dianggap sebagai suatu keajaiban. Makin tinggi BB
anak waktu lahir, makin besar kemingkinannya untuk hidup terus.
Faktor-faktor penyebabnya sangat banyak. Pada bulan pertama dari kehamilan yang
mengalami abortus, hampir selalu didahului oleh matinya fetus.
Adapun klasifikasi pembagian abortus :
1. Menurut Kejadian :
4


a. Abortus Spontania
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau
pun medicinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor alamiah.
Namun abortus spontan dapat terjadi pada trimester pertama kehamilan yang
meliputi 85% dari kejadian abortus dan cenderung disebabkan oleh faktor-faktor
fetal. Sementara abortus spontan yang terjadi pada trimester kedua lebih
cenderung disebabkan oleh faktor-faktor maternal termasuk inkompetensia
serviks, anomali kavum uterus yang kongenital atau didapat, hipotiroid, DM,
nefritis kronik, infeksi akut oleh penggunaan kokain, gangguan imunologi, dan
gangguan psikologis tertentu.
Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya yaitu :
- Faktor fetal : sekitar 2/3 dari abortus spontan pada trimester pertama
merupakan anomali kromosom dengan dari jumlah tersebut adalah trisomi
autosom dan sebagian lagi merupakan triploidi, tetraploidi, atau monosomi
45X
- Faktor maternal, terbagi atas :
Faktor-faktor endokrin : DM tak terkontrol, hipo dan hipertiroid,
hipersekresi LH, insufisiensi korpus luteum, dan penyakit polikistik
ovarium.
Faktor anatomi : Assherman Syndrome, adhesi uterus, dan anomali yang
didapat melalui paparan dietilestilbestrol.
Faktor imunologi : respon imun dapat dipicu oleh beragam faktor
endogen dan eksogen, termasuk pembentukan antibodi antiparental,
5

gangguan autoimun yang mengarah pada pembentukan antibodi
autoimun, infeksi, bahan-bahan toksik, dan stress.
Trombofilia : keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan
predisposisi terhadap trombolitik. Dimana pada awal kehamilan akan
mengalami hiperkoagulasi dan melibatkan keseimbangan antara jalur
prekoagulan dan antikoagulan.
Infeksi : sifilis, parvovirus B19, HIV dan malaria.
Faktor eksogen meliputi bahan kimia seperti gas astesi, air yang
tercemar, dioxin, pestisida,
Gaya hidup seperti merokok dan alkoholisme
Radiasi
b. Abortus Provokatus : abortus yang disengaja baik, baik dengan memakai obat-
obat maupun alat-alat.
- Abortus Medicinalis : abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan
bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan
indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan sampai 3 tim dokter
ahli.
- Abortus Kriminalis : abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan
yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.
2. Menurut bentuk klinis abortus :
a. Abortus Iminens : Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan
memberikan obat-obatan hormonal dan antispasmodika serta istirahat. Kalau
perdarahan setelah beberapa minggu masih ada, maka perlu ditentukan apakah
kehamilan masih baik atau tidak. Kalau reaksi kehamilan 2 kali berturut-turut
negatif, maka sebaiknya uterus dikosongkan (kuret).
b. Abortus Insipien : abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah
terbuka dan ketuban yang teraba. Kehamilan tidak dipertahankan lagi.
c. Abortus Inkompletus : hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan
sebelum usia 20 minggu, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta di dalam
uterus.
Gejala : didapati amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas, perdarahan yang bisa
sedikit atau banyak, dan biasanya berupa darah beku; sudah ada keluar fetus atau
6

jaringan; pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus
yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. Pada
pemeriksaan vagina, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam
kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.
Pada USG didapatkan endometrium yang tipis dan ireguler.
Terapi : bila ada tanda-tanda syok maka atasi dulu dengan pemberian cairan dan
transfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat mungkin denganmetode
digital dan kuretase. Setelah itu beri obat-obat uterotonika dan antibiotika.
d. Abortus Kompletus : seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus),
sehingga rongga rahim kosong. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit,
ostium uteri telah tertutup, dan uterus sudah banyak mengecil.
Terapi : hanya dengan uterotonika
e. Abortus Servikalis : keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium
uterus eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam
kanalis servikalis uterus menjadi besar, kurang lebih bundar dengan dinding
menipis. Pada pemeriksaan ditemukan serviks membesar dan diatas ostium uteri
eksternus teraba jaringan. Tetapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi hegar
dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis.
f. Abortus Habitualis (keguguran Berulang) : keadaan dimana penderita
mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih. Kalau seorang penderita
telah mengalami 2 kali abortus berturut-turut maka optimisme untuk kehamilan
berikutnya berjalan normal adalah sekitar 63%. Kalau abortus 3 kali berturut-
turut, maka kemungkinan kehamilan ke 4 berjalan normal hanya sekitar 16%.
Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, namun kehamilannya
berakhir sebelum 28 minggu.
Etiologi : (a) kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana kalau terjadi
pembuahan hasilnya adalah pembuahan yang patologis. (b) kesalahan-kesalahan
pada ibu yaitu disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum, kesalahan plasenta
yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progesteron sesudah korpus
luteum atrofis. Ini dapat dibuktikan dengan mengukur kadar pregnandiol dalam
urin. Selain itu juga bergantung keadaan gizi si ibu (malnutrisi), kelainan
anatomis dari rahim, febris undulans, hipertensi oleh karena kelainan pembuluh
7

darah sirkulasi pada plasenta terganggu dan fetus jadi mati, dapat juga gangguan
psikis, servik inkompeten dan rhesus antagonisme.
Pemeriksaan : (a) histerosalfingografi, untuk mengetahui ada tidaknya mioma
uterus submukosa dan anomali kongenita. (b) BMR dan kadar jodium darah
diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak gangguan glandula thyroidea. (c)
psikoanalisis.
Terapi : pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih
besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi dari pada sesudahnya.
Merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada serviks
inkompeten terapinya adalah operatif : SHIRODKAR atau MC DONALD
(cervical cerclage)
g. Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik : abortus infeksiosus adalah
keguguran yang disertai infeksi genital. Abortus septik adalah keguguran yang
disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya kedalam
peredaran darah atau peritonium.
Hal ini sering ditemukan pada abortus inkompletus, atau abortus buatan,
terutama yang kriminalis tanpa memperhatikan syarat-syarat asepsis dan
antisepsis. Bahkan pada keadaan tertentu dapat terjdai perforasi rahim.
Diagnosis : (a) adanya abortus : amenore, perdarahan , keluar jaringan yang
telah ditolong diluar rumah sakit . (b) pemeriksaan : canalis servikalis terbuka,
teraba jaringan, perdarahan. (c) tanda-tanda infeksi alat genital : demam, nadi
cepat, perdarahn, berbau, uterus besar dan lembek, nyeri tekan. Lekositosis. (d)
pada abortus septik : kelihatan sakit berat, panas tinggi, menggigil, nadi kecil
dan cepat, tekanan darah turun sampai syok. Perlu diobservasi apakah ada tanda
perforasi atau akut abdomen.
Terapi : (a) bila perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan cairan yang
sukup. (b) berikan antibiotika yang cukup dan tepat. (c) 24-48 jam setelah
dilindungi dengan antibiotika. (d) infus dan pemberian antibiotika diteruskan
menurut kebutuhan dan kemajuan penderita. (e) pada abortus septik terapi sama
saja, hanya dosis dan jenis antibiotika ditinggikan dan dipilih jenis yang tepat
sesuai dengan hasil pembiakan dan uji kepekaan kuman. (f) tindakan operatif
8

h. Abortus Tertinggal (missed abortion) : keadaan dimana janin sudah mati, tetapi
tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.
Fetus yang meninggal ini (a) bisa keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan
sesudah fetus mati, (b) bisa direabsorbsi kembali sehingga hilang (c) bisa terjadi
mengering dan menipis yang disebut fetus papyraceus; atau (d) bisa jadi mola
karnosa, dimana fetus yang sudah mati 1 minggu akan mengalami degenerasi
dan air ketubannya direabsorbsi.
Gejala : dijumpai amenorea; perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada
permulaannya, serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan
tambah rendah. Kalau tadinya ada gejala-gejala kehamilan, belakangan
menghilang, diiringi dengan reaksi kehamilan yang menjadi negatif pada 2-3
minggu sesudah fetus mati. Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada
darah sedikit. Sekali-kali pasien merasa perutnya dingin atau kosong.
Terapi : berikan obat dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua
dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuretase. Dapat juga
dilakukan histerotomia anterior. Hendaknya pada penderitta juga diberikan
tonika dan antibiotika

B. Etiologi
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :
1. Kelainan ovum
Menurut Hertig pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus
spontan. Menurut penyelidikan mereka, dari 1000 abortus spontan, maka 48,9%
disebabkan karena ovum yang patologis; 3,2% disebbakan oleh kelainan letak
embrio, dan 9,6% disebabkan karena plasenta yang abnormal.
Pada ovum abnormal 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vili. Abortus
spontan yang disebabkan oleh karena kelaian dari ovum berkurang kemungkinannya
kalau kehamilan sudah lebih dari satu bulan, artinya makin muda kehamilan saat
terjadinya abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum (50-
80%).
2. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
9

Biasa menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang
menyebabkan kelainan ini ialah :
a. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
b. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna;
c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obat, tembakau, dan alkohol.
3. Kelainan genitalia ibu
Misalnya pada ibu yang menderita :
a. Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis)
b. Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata
c. Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang
sudah dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau estrogen, endometritis,
mioma submukosa
d. Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola)
e. Distorsi uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis.
4. Gangguan sirkulasi plasenta
Kita jumpai pada ibu yang menderita penyakit nefritis, toksemia gravidarum,
anomali plasenta dan endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun
5. Penyakit-penyakit pada ibu
a. Penyakit infeksi :
- Infeksi akut virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis.
- Infeksi bakteri, misalnya streptococcus.
- Parasit, misalnya malaria.
- Infeksi kronis, sifilis biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.
Tuberkulosis paru aktif, Pneumonia.
Kematian fetus dapat disebabkan karena toksin dari ibu atau invasi kuman atau
virus pada fetus.
b. Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol.
c. Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemi
gravis.
d. Malnutrisi, avitominosis dan gangguan metabolisme, hipotiroid , kekurangan
vitamin A, C, atau E, diabetes melitus.
6. Antagonis Rhesus
10

Darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga terjadi anemia pada
fetus yang berakibat meinggalnya fetus.
7. Terlalu cepatnya korpus luteum menjadi atrofis; atau faktor serviks, yaitu
inkompetensi serviks, sevisitis.
8. Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi umpanya :
sangat terkejut obat-obat uterotonika, ketakutan, laparotomi. Atau dapat juga karena
trauma langsung terhadap fetus; selaput janin rusak langsung karena instrumen,
benda dan obat-obatan.

C. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nekrosis
jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing
dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara
dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8-14 minggu,
penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan
menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu umumnya yang
dikeluarkan setal ketuban pecah adalah janin, lalu disusul dikeluarkan terlebih dahulu
daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk kantong kosong amnion atau
benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum), janin lahir mati, janin masih
hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus. Pada janin yang
meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi sehingga janin
mengering dan karena cairan amnion kurang karena terserap ia menjadi agak gopeng
terserap ia menjadi agak gepeng. Dan tingkat lebih lanjut ia menjadi lebih tipis seperti
kertas perkamen (fetus papirseus).







11

D. WOC Abortus




























12

E. Diagnosis
Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang
perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering pula terdapat rasa
mulas. Kecurigaan tersebut dapat diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda
pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis (Galli Mainini)
atau imunologi ( Prognesticon, Gravindex) bilamana hal itu dikerjakan. Harus
diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks, dan adanya
jaringan dalam kavum uterus atau vagina.
F. Manifestasi Klinik
1. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik; keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan
darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan
normal atau meningkat
3. Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
4. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus.
5. Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam, ada atau tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau
jaringan berbau busuk dari ostium.
c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa,
kavum Douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri.

G. Komplikasi
1. Perdarahan (hemorrage)
a. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi
dan jika perlu pemberian transfusi darah.
13

b. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan
pada waktunya.
2. Perforasi
a. Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati dengan teliti
jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi, dan tergantung dari
luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi.
b. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh seorang awam menimbulkan
persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi
pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya
perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cedera ,
untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi
komplikasi.
3. Syok
Pada abortus dapat disebabkan oleh
a. Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik; dan
b. Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik
4. Infeksi dan tetanus
a. Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi
biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu
abortus yang tidak aman (unsafe abortion)
5. Payah ginjal akut

H. Penatalaksanaan
Tahap-tahap pelaksanaan meliputi :
1. Riwayat penyakit terdahulu
a. Kapan abortus terjadi, apakah pada trimester pertama atau pada trimester
berikutnya, adakah penyebab mekanis yang menonjol.
b. Mencari kemungkinan adanya toksin, lingkungan dan pecandu obat terlarang
c. Infeksi ginekologi dan obstetri
d. Gambaran asosiasi terjadinya antiphospholipid syndrome (trombosis,
fenomena autoimun, false positif test untuk sifilis)
14

e. Faktor genetika antara suami istri (consanguinity)
f. Riwayat keluarga yang pernah mengalami terjadinya abortus berulang dan
sindrom yang berkaitan dengan kejadian abortus ataupun partus premartus yang
kemudian meninggal.
g. Pemeriksaan diagnostik yang terkait dan pengobatan yang pernah didapat.
2. Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan fisik secara umum
b. Pemeriksaan ginekologi
c. Pemeriksaan laboratorium :
- Kariotik darah tepi kedua orang tua
- Histerosangografi diikuti dengan histeroskopi atau laparoskopi bila ada
indikasi.
- Biopsi endometrium pada fase luteal.
- Pemeriksaan hormon TSH dan antibodi anti tiroid
- Antibodi anti fosfolipid (cardiolipin, fosfatidilserin)
- Lupus antikoagulan (apartial thromboplastin time atau russel viper venom)
- Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit
- Kultur cairan serviks (mycoplasma, ureaplasma, chlamyda) bila diperlukan
Penatalaksanaan sebaiknya dilakukan dirumah sakit, seperti berikut :
a. Dokter yang merawat melakukat anamnesis dan pemeriksaan fisik.
b. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penderita abortus :
- Tes kehamilan
- Pemeriksaan dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
dan menentukan prognosis
- Pemeriksaan kadar fibrinogen atau test waktu pembekuan dan perdarahan
pada missed abortion
- Konsultasi bagian anastesi untuk mempersiapkan tindakan kuretase
- Konsultasi bagian penyakit dalam guna penilaian fungsi kardiorespirasi pada
penderita golongan usia resiko tinggi atau usia lebih dari 40 tahun.
- Konsultasi bagian patologi anatomi bila kita ragu dengan hasil kerokan
c. Pengelolaan
15

- Abortus Imminens
Istirahat ditempat tidur, agar aliran darah ke uterus meningkat dan
rangsang mekanik kurang.
Bila perlu diberi penenang Phenobarbital 330 mg/hari , dan
spasmolitika misalnya papaverin atau tokolitik per infus atau per oral.
Untuk melihat kehamilan dilakukan pemeriksaan USG
Penderita bisa pulang setelah perdarahan pervaginam berhenti dengan
hasil pemeriksaan kehamilan baik
Dengan anjuran 2 minggu kemudian kontrol kembali.
- Abortus Insipiens
Prinsip : uterus harus dikosongkan segera guna menghindari perdarahan
yang banyak atau syok karena rasa mules/sakit yang hebat.
Pasang infus, sebaiknya disertai oksitosin drip guna mempercepat
pengeluaran hasil konsepsi
Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau
dengan cunam abortus disusul kerokan
Sebelum dilakukan kuretase diberikan antibiotika profilaksis
Pasca tindakan diberikan injeksi metil ergometrin maleat, untuk
mempertahankan kontraksi
Penderita bisa pulang setelah keadaan memungkinkan dan tanpa
komplikasi, dengan anjuran kontrol 2 minggu
- Abortus Inkompletus
Bila disertai syok karena perdarahan , harus segera diberikan infus cairan
NaCl fisiologis atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul pemberian
darah.
Setelah syok teratasi lakukan kerokan
Pasca tindakan berikan injeksi metil ergometrin maleat IntraMuscular
untuk mempertahankan kontraksi otot uterus.
- Abortus Kompletus
Tidak memerlukan pengobatan khusus, cukup uterotonika atau kalau
perlu antibiotika
16

Bila anemia cukup berikan table Sulfas Ferosus dengan anjuran diet
banyak protein, vitamin dan mineral.
- Missed Abortion
Perlu diperhatikan bahwa sering plasenta melekat erat dengan dinding
uterus. Periksa kadar fibrinogen atau test perdarahan dan pembekuan
darah sebelum tindakan kuretase, bila normal jaringan konsepsi bisa
segera dikeluarkan, tapi bila kadarnya rendah (<159 mg%) perbaiki dulu
dengan pemberian fibrinogen kering atau darah segar.
Sebelum tindakan diberikan antibiotika profilakais.
Dilatasi kanalis servikalis bisa dengan Bougie atau dengan batang
laminaria tergantung besar kecilnya uterus.
Tindakan kuretase mulai dengan cunam abortus dilanjutkan dengan
sendok kuret tajam.
Sesudah tindakan diberi uterotonika
Penderita bisa pulang setelah keadaan memungkinkan tanpa komplikasi,
anjuran kontrol 2 minggu
- Abortus Habitualis
Tergantung dari etiologinya

I. Diagnosa Keperawatan
1. Devisit Volume Cairan s.d perdarahan
2. Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
4. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
5. Cemas s.d kurang pengetahuan

17

J. Rencana Tindakan
Devisit Volume Cairan s.d Perdarahan
Tujuan :
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah
maupun kualitas.
Intervensi :
1) Kaji kondisi status hemodinamika
Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik
bervariasi
2) Ukur pengeluaran harian
Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan
jumlah cairan yang hilang pervaginal
3) Berikan sejumlah cairan pengganti harian
Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif
4) Evaluasi status hemodinamika
Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik
Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan :
Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Intervensi :
1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif
perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk
2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
3) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal
18

4) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien
Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak
sangat diperlukan
5) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
Rasional : Menilai kondisi umum klien
Gangguan rasa nyaman : Nyeri s.d Kerusakan jaringan intrauteri
Tujuan :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
1) Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun
dsekripsi.
2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri
3) Kolaborasi pemberian analgetika
Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian
analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik
Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
1) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya
warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi
2) Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar
3) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
19

4) Lakukan perawatan vulva
Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan
infeksi.
5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi
Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam
dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
6) Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se;ama masa
perdarahan
Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu;
senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu
dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.
Cemas s.d kurang pengetahuan
Tujuan :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit
Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas
2) Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif
klien tentang penyakit
3) Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support
yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien
4) Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan
kecemasan
5) Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga
Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan
pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan
klien dan keluarga.
20

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

Ny. M (35 thn), ibu rumah tangga , pendidikan terakhir SMA, Hamil 3 bulan
G2P1A0, Datang ke RS. Mengeluh nyeri dibagian perut bawah dan cemas karena tiba-tiba
mengalami perdarahan 1 hari sebelum ke Rumah Sakit. Kemudian pasien ke Puskesmas
dan dirujuk ke RSUD W di Poli Kandungan pada tanggal 12 Juli 2012 jam 10.36. Ny. M
Dianjurkan oleh dokter untuk Rawat inap. Dari pemeriksaan didapatkan:

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Identitas Klien
Nama : Ny. M
Umur : 35 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jln. Pondok kopi no 4
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Tgl Masuk : 12-Juli-2012 jam 8.55 WIB
Tgl Pengkajian : 12-Juli-2012
Diagnosa Medis : Abortus inkomplit
Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. D
Umur : 40 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Alamat : Jln. Pondok kopi no 4
Hubungan dengan klien: Suami
2. Riwayat Kesehatan
21

a. Keluhan Utama
Pasien mengeluh nyeri bagian perut bawah dan cemas
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien mengatakan 1 hari sebelum dibawa ke RS pasien tiba-tiba mengalami
perdarahan. Kemudian pasien ke Puskesmas dan dirujuk ke RSUD W di Poli
Kandungan pada tanggal 12 Juli 2012 jam 10.36 G2P1A0 hamil 3 bulan. Setelah
USG ternyata pasien mengalami abortus incompletus. Kemudian dari
polikandungan dibawa ke ruang bersalin/ kenanga dengan KU: sedang, tekanan
darag 100/70 mmHg. Tinggi fundus uteri tidak teraba. Dan keluar darah sedikit,
saat dikaji pasien mengatakan agak cemas dengan tekanan darah 100/70 mmHg,
Nadi : 80 x/mnt, suhu : 3660C. Pasien belum mendapat terapi, rencana akan
dicurratage.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan belum pernah mengalami keadaan seperti ini pada kehamilan
sebelumnya. Klien mengatakan tidak mempunyai penyakit menular ataupun
penyakit keturunan yang dapat mempengaruhi keadaan janinnya.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut penuturan klien, ibu klien pernah mengalami abortus 1 kali, dan tidak
mempunyai penyakit menular ataupun penyakit keturunan.
e. Riwayat Ginekologi
- Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 Tahun
Siklus : 28 Hari
Lamanya : 3 10 Hari
Banyaknya : 3 kali ganti balutan (hari pertama dan ke dua)
Warna : merah kehitam hitaman
Bau / sifat : Amis / cair dan ada yang menggumpal
Dismenorhoe : Kadang-kadang
HPHT : 26 April 2012
- Riwayat Perkawinan
Istri
Usia perkawinan : 30 Tahun
22

Pernikahan : Pertama
Usia Pernikahan : 5 tahun
Suami
Usia perkawinan : 35 Tahun
Pernikahan : Pertama
Usia Pernikahan : : 5 tahun
- Riwayat KB
Pasien sebelumnya pernah KB yaitu KB suntik tapi kemudian berhenti karena
badan menjadi gemuk.
- Rencana IUD
Pasien sebelumnya pernah KB yaitu KB suntik tapi kemudian berhenti karena
badan menjadi gemuk.
- Riwayat Persalinan
Pasien mengatakan sebelumnya dia pernah melahirkan 1 anak. Anak pertama
laki-laki berat badan lahir 2800 gram dan lahir spontan
3. Riwayat Psikososial, Ekonomi dan Spiritual :
a. Ibu menanyakan tentang bagaimana keadaannya.
b. Ibu khawatir dengan kehamilannya.
c. Hubungan Ibu dengan keluarga dan petugas baik.
d. Ibu dan keluarga ingin cepat ditolong dan cepat sembuh
e. Biaya kebutuhan sehari-hari dalam keluarga mencukupi
f. Ibu dan keluarga taat beribadah, rajin berdoa agar keadaannya cepat membaik
dan keluar dari rumah sakit.
4. Riwayat Pemenuhan Kebutuhan Dasar
a. Kebutuhan nutrisi
- Pola makan : Nasi, sayur dan lauk pauk
- Frekuensi makan : 3x sehari
- Kebutuhan cairan /minuman : 7-8 gelas sehari
- Nafsu makan : Baik
b. Kebutuhan eliminasi BAB dan BAK
- Frekuensi BAK : 4-5x sehari
23

- Warna : Kuning
- Bau : Amoniak
- Frekuensi BAB : 1x sehari
- Konsistensi : Lembek
5. Pemeriksaan fisik
a. Kesadaran : composmentis
b. Tanda-tanda vital
- Tekanan darah : 100/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- Suhu badan : 36,6
o
C
- Pernafasan : 20x/menit
c. Inspeksi
- Ekspresi wajah cemas dan meringis menahan sakit jika bergerak
- Kepala : Rambut agak panjang berombak, warna hitam, bersih.
- Mata : Simetris konjungtiva merah muda, penglihatan jelas tidak
menggunakan alat bantu.
- Hidung : Tidak ada polip, tidak ada gangguan penciuman
- Telinga : Simteris, tidak ada ganggun-gangguan pendengaran.
- Mulut : Bersih, tidak ada stomatis, mukosa mulut lembab.
- Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, JVP Normal
Dada : Simetris, payudara simetris tidak ada benjolan atau kelainan.
- Abdomen: Bunyi peristaltik (+), striae tidak ada
- Punggung: Tidak terdapat luka decubitus
- Vagina Perianal : Perdarahan sedikit warna merah muda.
- Rektum : Tidak terjadi hemoroid
- Ektrimitas: Ekstrimitas atas tangan kiri terpasang infus KAEN BB, ektrimitas
bawah dapat bergerak bebas.
d. Palpasi
Tinggi fundus uteri 3 jari atas simphisis dan terasa nyeri bila ditekan
e. Pemeriksaan laboratorium oleh petugas laboratorium jam 9.00 wita
Golongan darah : A
Hemoglobin : 12,49 %
24

Leukosit : 11,600
LED : 55/70 mm/jam N L < 14 P<20
Jenis Leukosit :
Cosinofil : 2% N 1-3
Basofil : 0% N 0-1
N. Batang : 2% N 2-6
f. Terapi
Tanggal 12 Juli 2012
Terapi cairan KA EN MG 3
Terapi tanggal 13 Juli 2012
Terapi oral : Ampicilin 3 x 500 mg
Asam mefenamat 3 X
Diit : Nasi
6. Analisa Data
Nama : Ny. M
Ruang : mawar
No RM : 367648










No Data fokus Problem Etiologi
I




II




III



DS : Pasien menyatakan nyeri pada
daerah abdomen, skala 3 nyeri hilang
timbul seperti ditusuk
DO : Pasien tampak meringis pasien
tampak memegangi perut
DS : Pasien mengatakan perasaannya
agak cemas
DO : Pasien terlihat kawatir Raut wajah
was-was

DS : -
DO : terdapat luka pada daerah uterus
Nyeri




Cemas




Resiko tinggi
infeksi

Inkontinitas
jaringan akibat
pembersihan sisa
plasenta


Kurang
pengetahuan


Tempat masuknya
Organisme sekunder
terhadap tindakan
curratage
25

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri (akut) berhubungan dengan inkontinuitas jaringan akibat pembersihan sisa
plasenta
2. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya mikroorganisme
sekunder akibat tindakan curratage

C. INTERVENSI
Tang
gal
No
Dx
Tujuan dan
Kriteria Hasil
Intervensi Rasional
12-7-
12
11.00


















11.30







I




















II







Setelah dilakukan
tinakan
keperawatan 1x24
jam diharapkan
nyeri berkurang
atau teratasi
dengan kriteria
hasil :
c. Skala nyeri : 0-
1
d. Pasien tidak
memegangi
daerah nyeri
e. Pasien tidak
meringis






Setelah dilakukan
tindakan
kepewatan selama
1x24 jam
diharapkan cemas
dapat teratasi
dengan kriteria
hasil :
a. Observasi TTV



b. Kaji intensitas skala
nyeri.

c. Ajarkan teknik
relaksasi.


d. Terangkan nyeri yang
diderita klien dan
penyebabnya.
e. Kolaborasikan
pemberian terapi
sesuai program :
Analgetik.



a. Kaji tingkat
pengetahuan/persepsi
klien dan keluarga
terhadap penyakit.

b. Kaji derajat
kecemasan yang
dialami klien
a. TTV merupakan
parameter utama untuk
mendeteksi adanya
kalainan pada tubuh
b. Untuk mengetahui
karakteristik nyeri dan
membantu keefektifan,
c. Menghilangkan dan
mengurangi nyeri serta
dapat meningkatkan
kemampuan koping.
d. Meningkatkan koping
klien dalam melakukan
guidance mengatasi nyeri
e. Mengurangi onset
terjadinya nyeri dapat
dilakukan dengan
pemberian analgetika oral
maupun sistemik dalam
spectrum luas/spesifik

a. Ketidaktahuan dapat
menjadi dasar
peningkatan rasa cemas.


b. Kecemasan yang tinggi
dapat menyebabkan
penurunan penialaian
26





















12.30




















III
f. Klien mengatakan
cemas hilang /
berkurang.
g. Klien
mengetahui
tentang
penyakitnya,
penyebab, tanda
dan gejala,
perjalanan
penyakit dan
tindakan
perawatan yang
dilakukan.






Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 2x24 jam
diharapkan
infeksi tidak
terjadi dengan
kriteria hasil :
h. Tidak muncul
tanda-tanda
infeksi
- TTV dalam
batas normal
- Hasil
laboratorium
dalam batas
normal:
leukosit
i. Dorong klien
untuk
mengungkapka
n perasaannya.


c. Bantu klien
mengidentifikasi
penyebab kecemasan




d. Terangkan hal-hal
seputar aborsi yang
perlu diketahui oleh
klien dan keluarga







a. Observasi TTV




b. Pantau tanda dan
gejala infeksi
c. Kaji kondisi
keluaran/dischart
yang keluar ; jumlah,
warna, dan bau.




d. Terangkan pada klien
pentingnya perawatan
vulva selama masa
perdarahan.
e. Lakukan perawatan
vulva

objektif klien tentang
penyakit.
c. Pelibatan klien secara
aktif dalam tindakan
keperawatan merupakan
support yang mungkin
berguna bagi klien dan
meningkatkan kesadaran
diri klien.
d. Konseling bagi klien
sangat diperlukan bagi
klien untuk meningkatkan
pengetahuan dan
membangun support
system keluarga; untuk
mengurangi kecemasan
klien dan keluarga.



a. Meminimalkan suhu
tubuh sampai batas
normal 36
0
-37
0
c
apabila terjadi
peningkatan
b. untuk deteksi dini
terjadinya infeksi.
c. Perubahan yang terjadi
pada dishart dikaji setiap
saat dischart keluar.
Adanya warna yang
lebih gelap disertai bau
tidak enak mungkin
merupakan tanda
infeksi.
d. Infeksi dapat timbul
akibat kurangnya
kebersihan genital yang
lebih luar.
e. Inkubasi kuman pada
area genital yang relatif
cepat dapat
27



menyebabkan infeksi.


D. IMPLEMENTASI
Tgl/ Jam No
Dx
Implementasi
12-07-12
16.00






16.30







17.30





I







II







III


a. Mengobservasi TTV
b. Mengkaji intensitas skala nyeri.
c. Mengajarkan teknik relaksasi.
d. Menerangkan nyeri yang diderita klien dan
penyebabnya.
e. Mengkolaborasikan pemberian terapi sesuai
program : Analgetik.

a. Mengkaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan
keluarga terhadap penyakit.
b. Mengkaji derajat kecemasan yang dialami klien
c. Membantu klien mengidentifikasi penyebab
kecemasan
d. Menerangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu
diketahui oleh klien dan keluarga

a. Mengobservasi TTV
b. Memantau tanda dan gejala infeksi
c. Mengkaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ;
jumlah, warna, dan bau.
d. Menerangkan pada klien pentingnya perawatan
vulva selama masa perdarahan.
e. Melakukan perawatan vulva

E. EVALUASI
Tanggal No. Dx Evaluasi
13-07-12 I



S : Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang, skala
nyeri 1
O : - Pasien terlihat rileks
- Wajah pasien tidak terlihat meringis
28







II





III






- TD : 120/80 mmHg
- N : 84 x/mnt
- Suhu : 36,20C
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondis

S : Pasien mengatakan sudah tidak cemas
O : - Pasien terlihat tenang
j. Pasien tidak was-was dan gelisah
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi

S : -
O : - tidak timbul tanda-tanda infeksi
k. TD : 120/80 mmHg
l. N : 84 x/mnt
m. S : 36,20C
A : Masalah teratasi
P : Pertahankan kondisi.









29

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan
sel sperma) pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram, sebelum janin dapat hidup diluar kandungan.
Adapun klasifikasi pembagian abortus yaitu abortus menurut kejadian ada dua yaitu
abortus spontan dan abortus provokatus (abortus medicinalis dan abortus kriminalis).
Menurut jenisnya terbagi atas : abortus imminens, abortus, insipiens, abortus
inkompletus, abortus kompletus, abortus servikal, missed abortion, abortus habitualis,
abortus septik dan abortus infeksious.
Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang
perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering pula terdapat rasa
mulas. Kecurigaan tersebut dapat diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda
pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis (Galli Mainini)
atau imunologi ( Prognesticon, Gravindex) bilamana hal itu dikerjakan. Harus
diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks, dan adanya
jaringan dalam kavum uterus atau vagina.
Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu (a) tes kehamilan :
positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus (b) pemeriksaan
Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup, (c) pemeriksaan kadar
fibrinogen darah pada missed abortion.