Você está na página 1de 13

Handout

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF


PADA BAYI USIA 6-12 BULAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKRA
KABUPATEN INDRAMAYU
TAHUN 2014

Latar Belakang Penelitian


Tujuan ke-4 dari 8 tujuan Pembangunan Milenium
atau Millenium Development Goals (MDGs) yang
menjadi komitmen dalam pembangunan kesehatan di
Indonesia adalah :
Tujuan Ke 4 MDGs: Menurunkan Angka
Kematian Anak
Target 4A: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya antara 1990 dan 2015
Tahun 1990 Angka kematian balita adalah 97 per 1000 kelahiran hidup.
Artinya, Indonesia harus menurunkan dari 97 kematian menjadi 32.
Pencapaian tujuan dan target tersebut bukanlah semata-mata tugas pemerintah tetapi
merupakan tugas seluruh komponen bangsa. Sehingga pencapaian tujuan dan target MDGs
harus menjadi pembahasan seluruh masyarakat.
Fakta dan data
Menurut data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012:
1. Angka kematian bayi di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 32 per 1000 kelahiran
hidup
2. 19 per 1000 kelahiran hidup terjadi pada masa neonatal sampai usia 28 hari.
Berdasarkan hasil pencatatan dan pelaporan kematian bayi di Kabupaten Indramayu tahun
2012:
1. jumlah kematian bayi pada tahun 2012 mencapai 310 kasus.
2. Di wilayah kerja Puskesmas Sukra, tercatat 12 kasus kematian bayi pada tahun 2012
dan 2013
Terdapat berbagai macam penyebab kematian bayi, salah satunya adalah diare. Diare
merupakan satu dari sepuluh penyakit terbanyak yang ditangani di pelayanan Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS).
(data : Profil Puskesmas Sukra tahun 2013)
Pada bayi, salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare adalah dengan pemberian air susu
ibu (ASI) secara eksklusif.
Undang-Undang dan Peraturan terkait pemberian ASI:

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui SK Menkes No.


450/Men.Kes/SK/IV/2004 merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6
bulan.
2. Pasal 128 UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan)
Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6
(enam) bulan, kecuali atas indikasi medis
Fakta dan data keberhasilan program ASI eksklusif:
target pemberian ASI eksklusif di Indonesia yaitu 80%
SDKI tahun 2002-2003:
hanya ada 4% bayi yang mendapat ASI dalam satu jam kelahirannya
hanya 8% bayi Indonesia yang mendapat ASI eksklusif
hanya 27,1% bayi yang memperoleh ASI eksklusif (SDKI pada tahun 2012)
Penelitian United Nation Childs Fund (UNICEF) pada tahun 2005-2011:
hanya 32% bayi di Indonesia yang diberikan ASI eksklusif.
Data dari program gizi di Puskesmas Sukra :
cakupan ASI eksklusif hanya sebesar 10,5% (tahun 2012)
cakupan ASI eksklusif menurun menjadi sebesar 3,4% (tahun 2013)
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif
Terdapat 18 Faktor yang telah teridentifikasi menjadi faktor yang berhubungan denagn
pemberian ASI
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Usia
Pendidikan
Pekerjaan Ibu
Paritas
Pengetahuan
Sikap Ibu terhadap ASI Eksklusif
Pendapatan Keluarga
Tempat melahirkan
Inisiasi menyusui dini

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Rawat Gabung
Cara Melahirkan
Akses terhadap tenaga kesehatan
Keterpaparan sampel susu formula
Dukungan suami
Dukungan faskes dan nakes
Keterpaparan Informasi ASI Eksklusif
Dukungan teman
Dukungan Keluarga (Ibu dan Ibu Mertua)

Penelitian ini mengkhususkan diri pada faktor:


Faktor Predisposisi
1. Usia
2. Pendidikan
3. Pengetahuan
Faktor Pemungkin
Tempat Melahirkan
Faktor Penguat
Dukungan Tenaga Kesehatan

HAL LAMA
Kita sudah mengetahui berbgai aspek
mengenai ASI eksklusif namun outcome
yang dicapai tidak sesuai harapan
HAL BARU
Pengembangan
keilmuan
untuk
memperkuat fungsi ASI, pemberian ASI
eksklusif dan optimalisasi outcome

HAL MENDASAR
ASI sebagai kebutuhan setiap individu yang telah diperintahkan Agama
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambahtambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS Lukman( 31):14)

Hipotesis Pemikiran
1.
Diduga ada pengaruh usia ibu terhadap pemberian ASI eksklusif.
2.
Diduga ada pengaruh tingkat pendidikan ibu terhadap pemberian ASI
eksklusif.
3.
Diduga ada pengaruh pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif.
4.
Diduga ada pengaruh tempat persalinan terhadap pemberian ASI eksklusif.
5.
Diduga ada pengaruh dukungan tenaga kesehatan yang diberikan pada ibu
terhadap pemberian ASI eksklusif.
6.
Diduga ada pengaruh usia, tingkat pendidikan, pengetahuan, pemilihan
tempat persalinan, dan dukungan tenaga kesehatan secara simultan terhadap
pemberian ASI eksklusif.

KERANGKA KONSEP
Kerangka Pemikiran
Target pemberian ASI eksklusif
di Indonesia masih belum tercapai

Usia
Program ASI Eksklusif
dan Makanan
Pendamping ASI

Tingkat Pendidikan
Pengetahuan
Tempat
Persalinan
Dukungan tenaga
kesehatan

Perilaku pemberian ASI


secara eksklusif

Paradigma Pemikiran
Usia
Pemberian ASI eksklusif

Tingkat Pendidikan
Pengetahuan
Tempat Persalinan

Dukungan tenaga
kesehatan

Target pemberian ASI


meningkat
Angka Kematian Bayi
menurun
Angka kesakitan bayi dan
balita menurun

METODOLOGI PENELITIAN
Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah ibu
yang mempunyai bayi usia 6 12 bulan di
wilayah kerja Puskesmas Sukra pada Oktober
November 2014.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei eksplanatori dengan
pendekatan potong lintang. Teknik pengambilan data dengan menggunakan kuesioner.
Populasi Penelitian
Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan simple random.
Besar Sampel
Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin:

dimana:
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
d = galat pendugaan
Dari rumus tersebut didapatkan besar sampel minimal untuk penelitian ini adalah 85 orang.
Teknik Pengumpulan Data
Data pada penelitian ini dikumpulkan dari data primer dan data sekunder yang bersifat
asosiatif dan kuantitatif.
Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis
Analisis Bivariat
Uji statistik yang digunakan untuk melakukan analisis bivariat dengan tujuan
mengetahui besar pengaruh faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif adalah
uji statistik Chi Square (2). Uji ini dipilih karena data yang digunakan untuk variabel
independen adalah data ordinal dan variabel dependen adalah data nominal.
Analisis Multivariat
Analisis multivariat dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar pengaruh
semua variabel independen dengan variabel dependen secara bersama-sama serta untuk
mengetahui pengaruh yang paling dominan antara variabel independen dan variabel
dependen. Uji statistik yang digunakan untuk analisis multivariat ini adalah uji regresi logistik
ganda karena variabel independen merupakan data ordinal dan variabel dependen merupakan
data nominal.

HASIL
PENELITIAN
PEMBAHASAN

DAN

Hasil dan Pembahasan Analisis


Bivariat
Hasil dari analisis bivariat untuk
menjawab tujuan dan pembuktian
hipotesis penelitian serta melihat sejauh
mana pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen bermakna
secara statistik..

Pengaruh Faktor Predisposisi (Predisposing Factors) terhadap Pemberian ASI Eksklusif


Hasil analisis faktor predisposisi (predisposing factors) terhadap pemberian ASI
Tabel 1
Pengaruh Faktor Predisposisi
terhadap Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan
Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan
Tidak
Memberikan ASI
Variabel
Memberikan ASI Nilai p
Eksklusif 6 Bulan
Eksklusif 6 Bulan
N
%
N
%
0,415
Usia Ibu
20-35 tahun
12
15,4
66
84,6
<20 tahun atau >35 tahun 1
7,1
13
92,9
0,318
Pendidikan Ibu
Tinggi
3
23,1
10
76,9
Rendah
10
12,7
69
87,3
Pengetahuan
Ibu
0,466
tentang ASI Eksklusif
Tinggi
8
16,7
40
83,3
Rendah
5
11,4
39
88,6

OR

2,36

207

39

Hasil penelitian pada Tabel 1 di atas menunjukan bahwa:


1. Dari hasil uji pengaruh usia ibu terhadap pemberian ASI eksklusif 6 bulan didapatkan
nilai p sebesar 0,415.
a. Karena nilai p tersebut lebih besar dari nilai 0,1, maka pengaruh usia ibu terhadap
perilaku pemberian ASI eksklusif 6 bulan tidak bermakna secara statistik.
b. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan proporsi perilaku pemberian ASI eksklusif
6 bulan antara ibu dengan usia 20-35 tahun dengan ibu yang berusia <20 tahun atau
>35 tahun.

2. Dari hasil uji pengaruh pendidikan ibu didapatkan nilai p sebesar 0,318.
a. Karena nilai p tersebut lebih besar dari nilai 0,1, maka pengaruh pendidikan ibu
terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif 6 bulan tidak bermakna secara statistik.
b. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan proporsi pemberian ASI eksklusif 6 bulan
antara ibu berpendidikan tinggi dengan ibu berpendidikan rendah.
3. Dari hasil uji pengaruh pengetahuan didapatkan nilai p sebesar 0,466
a. Karena nilai p lebih besar dari 0,1, maka pengaruh pengetahuan ibu tentang ASI
eksklusif terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif 6 bulan tidak bermakna secara
statistik.
b. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan proporsi perilaku pemberian ASI eksklusif
6 bulan antara ibu berpengetahuan tentang ASI eksklusif tinggi dengan ibu
berpengetahuan tentang ASI eksklusif rendah.
Pengaruh Usia Ibu terhadap Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan
Dalam penelitian ini, faktor usia ibu tidak berpengaruh bermakna secara statistik
terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif. Tidak semua wanita mempunyai kemampuan
yang sama dalam menyusui. Pada umumnya wanita lebih muda, kemampuan menyusui lebih
baik daripada wanita yang lebih tua. Salah satu faktor penyebabnya adalah adanya
perkembangan kelenjar yang matang pada pubertas dan fungsinya yang berubah sesudah
melahirkan. Salah satu faktor yang penting dalam kehamilan adalah usia ibu waktu hamil baik
untuk kepentingan ibu maupun janin dalam pembentukan ASI.
Usia kurang dari 20 tahun dianggap masih berbahaya meskipun lebih kurang
resikonya dari usia sebelumnya, namun secara mental psikologis dianggap masih belum
cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. Usia 20-35 tahun
adalah kelompok usia yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat
juga dari segi mental sudah cukup dewasa. Usia lebih dari 35 tahun dianggap sudah mulai
bahaya lagi, sebab secara fisik jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup sudah mulai menurun
kesehatan reproduksinya apalagi banyak atau lebih dari tiga, dan kemampuan ibu untuk
menyusui yang usianya lebih tua, produksi ASI-nya lebih rendah daripada yang usianya lebih
muda.
Pengaruh Tingkat Pendidikan Ibu terhadap Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan
Dalam penelitian ini, tingkat pendidikan ibu tidak berpengaruh bermakna secara
statistik terhadap pemberian ASI eksklusif. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap
pengetahuan, khususnya dalam pembentukan perilaku, semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang maka semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang untuk mengambil sebuah
keputusan.
Dari hasil penelitian ini, yang menunjukan tidak ada pengaruh yang bermakna secara
statistik dari faktor pendidikan ibu, pemberian ASI eksklusif kemungkinan berkaitan dengan
faktor lain. Tingkat pendidikan merupakan salah satu aspek sosial yang umumnya
berpengaruh pada tingkat pendapatan keluarga sebagai faktor ekonomi. Pendidikan juga dapat
mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia.
Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, semakin tinggi pula jumlah ibu yang tidak
memberikan ASI pada bayinya. Hal ini mungkin disebabkan karena ibu berpendidikan tinggi
biasanya mempunyai banyak kesibukan di luar rumah, sehingga cenderung meninggalkan
bayinya. Sedangkan ibu berpendidikan rendah lebih banyak tinggal di rumah sehingga lebih
mempunyai kesempatan untuk menyusui bayinya (Depkes, 2001). Tingkat pendidikan ibu

mempunyai pengaruh dalam pola pemberian ASI, makin tinggi tingkat pendidikan ibu makin
rendah prevalensi menyusui secara eksklusif.
Pengaruh Pengetahuan Ibu terhadap Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan
Dalam penelitian ini, pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif terhadap pemberian ASI
eksklusif menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang bermakna secara statistik.
Walaupun hasil penelitian ini tidak memiliki pengaruh yang bermakna secara
statistik, presentasi ibu dengan pengetahuan tinggi tentang ASI eksklusif lebih besar 5,3%
dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan rendah dalam pemberian ASI eksklusif pada
penelitian ini. Oleh karena itu, penyampaian informasi kepada ibu tentang ASI eksklusif
sangat penting karena pengetahuan merupakan hal penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang karena tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Selain itu, kondisi ini juga dimungkinkan karena adanya faktor-faktor lain yang
mempengaruhi pemberian ASI. Penelitian Kikih pada tahun 2002 yang dikutip Ayu (2010)
menunjukan bahwa faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku pemberian ASI
adalah besar keluarga, lingkungan sosial keluarga, tingkat pengetahuan tentang ASI dan
tingkat pendapatan keluarga. Bisa saja tingkat pengetahuan ibu tentang pentingnya pemberian
ASI bagi bayinya sangat baik, namun kondisi sosial ekonomi keluarga yang kurang
mendukung, misalnya keharusan bekerja karena keadaan ekonomi yang rendah menyebabkan
perilaku ibu dalam memberikan ASI menjadi kurang. Faktor lain yang mungkin menjadi
penyebab kurangnya kesadaran terhadap pemberian ASI yang berkaitan dengan pengetahuan
ibu yang baik antara lain pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting,
pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan atau lembaga agama, serta faktor
emosional.
Pada penelitian yang dilakukan di Desa Kramat oleh Subur Widianto didapatkan
mayoritas responden kurang mendukung pemberian ASI eksklusif. Hal ini salah satunya
disebabkan karena pengaruh dari lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar sangat
mempengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan yang terbaik, karena di Desa Kramat
lingkungannya kebanyakan memberikan susu formula. Mereka menganggap pemberian susu
formula dinilai lebih praktis. Selain itu karena kepercayaan masyarakat yang begitu kental
sehingga walaupun pengetahuan sudah baik namun kepercayaan pula masih dipegang erat.33
Menurut teori Morton, et al. lingkungan sosial akan mendukung tingginya tingkat
pengetahuan seseorang, sedangkan ekonomi berhubungan dengan tingkat pendidikan, jika
ekonomi baik maka tingkat pendidikan juga baik.
Penelitian di Bangkok, Thailand terhadap 221 ibu dengan menggunakan kuesioner
berstruktrur memberikan hasil pengetahuan ibu baik tapi perilaku pemberian ASI eksklusif
rendah karena ada faktor lain yang berpengaruh yaitu ibu bekerja penuh, pengaruh orang
lain/keluarga yang merawat bayi, belum adanya rencana menyusu eksklusif saat antenatal,
pemberian susu formula setelah lahir di rumah sakit atau sarana kesehatan (Li Y, 1999).
Penelitian yang dilakukan oleh Nana Yuliana pada tahun 2008 menyatakan bahwa
tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif
karena kemungkinan ada faktor lain yang lebih kuat seperti faktor kekerabatan sosial atau
gotong royong di dalam budaya masyarakat Jawa, pengaruh orang lain atau keluarga terutama
nenek yang merawat bayi sangat kuat. Ibu-ibu yang tidak mampu di desa dan bekerja sebagai
buruh tani, satu sampai dua minggu setelah melahirkan mereka membantu suaminya mencari
nafkah sehingga bayi dititipkan ke keluarga terdekat. Oleh keluarga, bayi biasanya diberi
makan pisang atau nasi pisang yang dihaluskan karena relatif murah dan mudah didapat

sehingga pemberian ASI eksklusif tak tercapai. Ibu yang bekerja di pabrik juga kesulitan
dalam pemberian ASI eksklusif karena masa cuti sudah usai. Selain itu, para ibu bekerja juga
kurang mendapat informasi mengenai cara menyimpan ASI yang baik dan benar bila ibu
bekerja.
Gencarnya promosi susu formula mempengaruhi pengetahuan ibu tentang keunggulan
ASI dibandingkan susu formula. Dalam penelitian ini tidak adanya hubungan yang bermakna
antara pengetahuan ibu tentang ASI terhadap pemberian ASI eksklusif disebabkan karena
pekerjaan ibu sebagai tenaga kerja di luar negeri sehingga menghambat pemberian ASI
eksklusif. Setelah bayi lahir, ibu berangkat kembali ke luar negeri sedangkan bayi dititipkan
pada keluarga terdekat, serta ada pula yang ditinggal bekerja di tempat lain dan ibu juga tidak
memiliki pengetahuan yang kuat mengenai tatacara pemberian dan penyimpanan ASI selama
ibu bekerja. Selain itu pula dipengaruhi oleh kepercayaan bahwa ada pantangan makanan
yang mengakibatkan nutrisi ibu kurang dan ASI tidak keluar sehingga pemberian ASI
eksklusif terhambat. Faktor paparan susu formula saat dilahirkan di rumah sakit juga sangat
mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Gencarnya promosi susu formula juga
mempengaruhi gaya hidup masyarakat yang beranggapan bahwa yang mahal itu lebih baik
dan memberikan prestise tersendiri.
Pengaruh Faktor Pemungkin (Enabling Factors) terhadap Pemberian ASI Eksklusif 6
Bulan
Hasil analisis faktor pemungkin (enabling factors) terhadap pemberian ASI eksklusif
6 bulan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2
Pengaruh Faktor Pemungkin
terhadap Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan

Variabel

Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan


Tidak Memberikan
Memberikan ASI
ASI Eksklusif 6 Nilai p
Eksklusif 6 Bulan
Bulan
n
%
n
%
0,009*
5
7.8
59
92.2

Tempat Melahirkan
Fasilitas Kesehatan
Bukan
Fasilitas
8
Kesehatan

28.6

20

OR

13.56

71.4

Hasil penelitian pada Tabel 2 di atas menunjukan bahwa:


1. Dari hasil uji pengaruh tempat melahirkan terhadap pemberian ASI eksklusif 6 bulan
didapatkan nilai p sebesar 0,009.
a. Karena nilai p tersebut lebih kecil dari 0,10 (CI 90%), maka pengaruh faktor
tempat melahirkan terhadap pemberian ASI eksklusif 6 bulan bermakna secara
statistik
b. Hasil OR (Odd Ratio) sebesar 13,56. Dengan demikian, ibu yang melahirkan di
fasilitas kesehatan berpeluang 13,56 kali lebih besar untuk melakukan pemberian

ASI eksklusif 6 bulan dibanding dengan ibu yang melahirkan bukan di fasilitas
kesehatan.
Hasil analisis pada penelitian ini sesuai dengan teori karena tempat persalinan, yang
dalam hal ini adalah fasilitas kesehatan, merupakan awal dari keberhasilan dan kelangsungan
pemberian ASI, yaitu dengan mengajarkan kepada ibu mengenai laktasi sejak pemeriksaan
kehamilan hingga paska kelahiran. Ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan mempunyai
kesempatan yang besar untuk memberikan ASI secara eksklusif. Pada fasilitas kesehatan juga
terdapat media bagi ibu untuk mendapatkan banyak informasi mengenai promosi ASI
eksklusif 6 bulan sehingga ibu termotivasi dalam memberikan ASI eksklusif 6 bulan kepada
bayinya.
Pengaruh Faktor Penguat (Reinforcing Factors) terhadap Pemberian ASI Eksklusif 6
Bulan
Hasil analisis faktor penguat (reinforcing factors) terhadap pemberian ASI eksklusif 6 bulan
dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3
Pengaruh Faktor Penguat
terhadap Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan

Variabel

Dukungan
Kesehatan
Baik
Kurang

Pemberian ASI Eksklusif 6 Bulan


Memberikan ASI Tidak Memberikan Nilai
Eksklusif 6 Bulan ASI Eksklusif 6 Bulan p
N
%
n
%
0,000
Tenaga
*
11
35.5
20
64.5
2
3.3
59
96.7

OR

64.9

Hasil penelitian pada Tabel 1 di atas menunjukan bahwa:


1. Dari hasil uji pengaruh dukungan tenaga kesehatan terhadap pemberian ASI eksklusif 6
bulan, didapatkan nilai p sebesar 0,000.
a. Karena nilai p tersebut lebih kecil dari 0,10 (CI 90%), maka pengaruh dukungan tenaga
kesehatan terhadap pemberian ASI eksklusif 6 bulan bermakna secara statistik.
b. Hasil OR (Odd Ratio) sebesar 64,9. Dengan demikian, pada ibu yang mendapat
dukungan yang baik dari tenaga kesehatan berpeluang 64,9 kali lebih besar melakukan
pemberian ASI eksklusif 6 bulan dibanding dengan ibu yang kurang didukung oleh
tenaga kesehatan.
Berhasil atau tidaknya penyusuan dini di tempat pelayanan ibu bersalin sangat
bergantung pada tenaga kesehatan yaitu perawat, bidan, atau dokter. Peran sarana dan tenaga
kesehatan merupakan awal dari keberhasilan atau kegagalan ibu dalam memberikan ASI
secara eksklusif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih tingginya jumlah responden
(64,13%) yang mengatakan bahwa tenaga kesehatan pernah memberikan minuman atau
makanan selain ASI kepada bayi selama perawatan setelah melahirkan. Dengan demikian,
tenaga kesehatan ikut berperan dalam kegagalan pemberian ASI eksklusif.

10

Hanya 45,65% tenaga kesehatan yang memfasilitasi ibu untuk melakukan IMD, dan hanya
58,70% yang memberitahu kepada ibu tentang pentingnya memberikan ASI eksklusif.
Padahal peran mereka dalam memfasilitasi IMD kepada ibu dan memberikan informasi
pentingnya pemberian ASI eksklusif merupakan dasar keyakinan kepada ibu untuk
menguatkan niat dan kepercayaan dalam memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan.1
Hasil Analisis Multivariat dan Pembahasan
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen
terhadap variabel dependen secara simultan dan mengetahui variabel yang berpengaruh paling
dominan di antara variabel independen (usia ibu, pendidikan ibu, pengetahuan ibu, tempat
melahirkan, dan dukungan tenaga kesehatan) terhadap variabel dependen (pemberian ASI
eksklusif 6 bulan). Analisis multivariat yang digunakan adalah analisis regresi logistik ganda.

Tabel 4
Hasil Uji Signifikansi Parameter Model Awal
Cox &
-2
Log Snell
Nagelkerke
Step
likelihood R
R Square
Square
a
1
52.084
.220
.395
Hasil penelitian pada Tabel 4 di atas menunjukan bahwa:
1. Dari uji signifikansi parameter model awal, seperti yang tercantum dalam Tabel 4 di atas,
didapatkan bahwa kelima variabel independen yang diteliti secara simultan mempengaruhi
variabel dependen sebesar 39,5%.
2. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor usia ibu, pendidikan ibu, tingkat
pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif, tempat melahirkan, dan dukungan tenaga
kesehatan secara bersama-sama sudah dapat menjelaskan 39,5% faktor-faktor yang
mempengaruhi pemberian ASI eksklusif 6 bulan. Sisanya, yaitu sebesar 60,5%, dijelaskan
oleh faktor lain di luar kelima faktor tersebut.
Hasil pemodelan terakhir analisis multivariat dalam penelitian ini, menunjukkan
bahwa dari variable-variabel independen yang diteliti, variabel yang berpengaruh secara
statistik terhadap pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan adalah dukungan tenaga
kesehatan, diikuti oleh varibel tempat melahirkan.

11

Tabel 5
Interpretasi Model dengan Menggunakan Odds Ratio
Variabel
OR
Tempat Melahirkan
0,234
Dukungan Tenaga Kesehatan 14,653
Hasil penelitian pada Tabel 5 di atas menunjukan bahwa faktor yang paling dominan
memengaruhi pemberian ASI eksklusif adalah variabel dukungan tenaga kesehatan dengan
nilai OR sebesar 14,653.
Rumah sakit/tempat bersalin merupakan awal yang menentukan keberhasilan ibu
untuk menyusui bayinya secara eksklusif. Namun, berhasil atau tidaknya penyusuan dini di
tempat pelayanan ibu bersalin/rumah sakit sangat bergantung pada tenaga kesehatan yaitu
perawat, bidan, atau dokter. Dukungan tenaga kesehatan sendiri, baik itu dokter, bidan,
perawat maupun kader kesehatan, memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang
keberhasilan memberikan ASI eksklusif.
Menurut teori, dokter dan bidan harus membicarakan manfaat menyusui selama
pertengahan semester kehamilan dan meyakinkan serta menjelaskan dengan bijaksana kepada
ibu. Perhatian harus diberikan kepada faktor-faktor sosial budaya. Peran tenaga kesehatan
dalam hal ini sangat penting untuk mendukung ibu-ibu tetap menyusui.6 Penjelasan dokter
mengenai ASI akan mendorong ibu untuk memulai dan meneruskan pemberian ASI pada
bayinya. Pada keadaan tertentu dokter dapat memberikan bimbingan bagi ibu-ibu yang
memiliki kesulitan menyusui. Bidan atau perawat dianggap memiliki pengetahuan dasar yang
berhubungan dengan edukasi ASI, dapat membantu pemberian inisiasi ASI dan merujuk ibu
bila mengalami kasus yang rumit. Ahli gizi bertanggung jawab dalam memberikan informasi
mengenai kebutuhan gizi pada ibu dan nutrisi pada bayi (Picciano, 2003).

12

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang
sudah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pada ibu
dengan bayi 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas
Sukra pada Oktober-November 2014:
1) Faktor usia ibu tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif selama 6
bulan,
2) Faktor status pendidikan ibu tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap perilaku pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan,
3) Faktor pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan,
4) Faktor tempat melahirkan berpengaruh secara
bermakna terhadap pemberian ASI eksklusif selama
6 bulan pada = 10%, yaitu dengan melahirkan di
fasilitas kesehatan, ibu memiliki peluang 13,6 kali
lebih besar mempraktikkan pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan dibanding dengan ibu yang
melahirkan bukan di fasilitas kesehatan.
5) Faktor dukungan tenaga kesehatan memberikan
pengaruh secara bermakna terhadap pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan pada = 10%, dimana ibu
yang didukung baik tenaga kesehatan berpeluang
64,9 kali lebih besar melakukan pemberian ASI
eksklusif 6 bulan dibanding dengan ibu dengan
dukungan tenaga kesehatan yang kurang.
6) Faktor usia ibu, status pendidikan, tingkat
pengetahuan mengenai ASI eksklusif, tempat
bersalin, dan dukungan tenaga kesehatan secara
simultan bermakna sebesar 39,5%. Dukungan
tenaga kesehatan berpengaruh paling dominan
diantara faktor lainnya. Ibu yang didukung baik oleh
tenaga kesehatan berpeluang 14,6 kali lebih besar
melakukan pemberian ASI eksklusif 6 bulan
dibanding dengan ibu yang kurang mendapat
dukungan tenaga kesehatan.

Saran
Untuk
bersama-sama
meningkatkan kesadaran dan
pengetahuan masyarakat tentang
perilaku
pemberian
ASI
eksklusif, saran yang diharapkan
dapat diimplementasikan adalah:
1.Diperlukan kerja sama antara
bidan Puskesmas Sukra, bidan
desa, kader, dan masyarakat di
wilayah kerja Puskesmas Sukra,
untuk
melakukan
edukasi
massal, seperti di kelas ibu,
pengajian-pengajian,
maupun
personal, baik ke ibu hamil
beserta keluarganya. Misalnya
dengan peningkatan motivasi
kepada ibu-ibu hamil untuk
mencari tahu mengenai ASI
eksklusif dengan pemberian
penghargaan kepada ibu yang
lulus pengetahuan mengenai
kehamilan dan ASI eksklusif,
2.Diperlukan koordinasi antara
bidan desa dan faskes setempat
untuk melaksanakan inisiasi
menyusui
dini
jika
memungkinkan
3.Secara akademis, diperlukan
penelitian
lanjutan
untuk
mengkaji faktor-faktor lain yang
mempengaruhi kecenderungan
ibu memberikan ASI secara
eksklusif,.

13