Você está na página 1de 20

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT
JUNI 2014

KONTRASEPSI HORMONAL

DISUSUN OLEH :
Rizki Setiawan S
C 111 09 352

PEMBIMBING:
dr. Rijal Ilmi

SUPERVISOR:
Dr. dr. Deviana S Riu, SpOG

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa:


Nama

: Rizki Setiawan S

NIM

: C 111 09 352

Judul referat : Kontrasepsi Hormonal


Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Juni 2014

Konsulen,

Dr. dr, Deviana S Riu, SpOG

Pembimbing,

dr. Rijal Ilmi

Mengetahui,
Koordinator Pendidikan Mahasiswa
Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

(dr. Sharvianty Arifuddin, Sp.OG (K))

SURAT KETERANGAN PEMBACAAN REFERAT

Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa:


Nama :Rizki Setiawan S
NIM

: C 111 09 352

Benar telah membacakan referat dengan judul Komtrasepsi Hormonal pada:


Hari / Tanggal
Tempat

: Jumat / Juni 2014


: Gedung Pinang, Lt. 2 RS Wahidin Sudirohusodo

Minggu dibacakan

: VIII

Nilai

Dengan ini dibuat untuk digunakan sebaik-baiknya dan digunakan sebagaimana


mestinya.

Makassar, Juni 2014


Konsulen,

Dr. dr, Deviana S Riu, SpOG

Pembimbing,

dr. Rijal Ilmi

DAFTAR HADIR PEMBACAAN REFERAT

Nama

: Rizki Setiawan S

NIM

: C 111 09 352

Hari / Tanggal :
Pukul

Judul

: Kontrasepsi Hormonal

No.

Nama

Stambuk

Tanda tangan

Makassar, Juni 2014


Konsulen

Pembimbing

Dr. dr, Deviana S Riu, SpOG

dr. Rijal Ilmi

MASALAH SOSIAL PADA KEHAMILAN


Vieryna Widyatuti Soemarno

A. PENDAHULUAN
Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis,
perubahan

psikologis

dan

adaptasi

dari

seorang

wanita

yang

pernah

mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan


adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita menganggap
sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupannya selanjutnya.
Perubahan fisik dan emosional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap
penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi konflik antara
keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial
kultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus
berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat
gangguan jiwa yang berat.1
Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas
dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama
setelah kehamilan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita
menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil
menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan
berbagai gejala atau sindrom.1,2
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu
diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika
persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin.
Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk
mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.3,4
Fakta di berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu
yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka
merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter.
Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan
kehamilan ke bidan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi
yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan

yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal
yaitu kematian. 3,4
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan
kurangnya informasi. Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya
perawatan kehamilan, permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan
dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai
di daerah pedesaan. Disamping itu, dengan masih adanya preferensi terhadap jenis
kelamin anak khususnya pada beberapa suku, yang menyebabkan istri mengalami
kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek,
menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi saat melahirkan. 3,4

B. PREVALENSI
Di Indonesia, kesehatan ibu khususnya ibu hamil masih memerlukan
perhatian. Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007
menyebutkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) untuk periode 5 tahun sebelum
survei (2003-2007) sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu
di Indonesia mengalami penurunan, meski demikian penurunan yang terjadi
belum signifikan dan jauh dari harapan. Tingginya AKI di Indonesia memiliki
kaitan dengan perawatan kesehatan ibu saat hamil. 5
Berdasarkan data SKRT pada tahun 2001 angka kematian ibu yang
terbesar terjadi saat persalinan yaitu 44,7%, saat kehamilan sebesar 28,9%, dan
yang terakhir saat masa nifassebesar 26,3%. Penyebab kematian ibu hamil di
Indonesia berdasarkan data SKRT tahun 2001 antara lain perdarahan total
(34,3%), infeksi (10,5%), keracunan kehamilan (23,7%), partus larna (5,3%),
obstetrik trauma (5,3%), emboli obstetrik (2,6%) dan komplikasi puerperium
(7,9%), anemia (2,6%), dan penyakit lainnya tanpa disebutkan spesifik sebesar
2,6%.5

87% wanita yang mengambil bagian dalam suatu studi melaporkan satu
atau lebih masalah kesehatan sosial atau peristiwa kehidupan yang penuh stress
pada kehamilan. 6
Masalah sosial kesehatan yang paling sering dialami pada kehamilan adalah: 6

Sedang kecewa dengan argumen keluarga (55%)

Anggota keluarga atau teman meninggal (42%)

Masalah rumah (37%)

Merasa takut oleh perilaku orang lain (34%)

Sedang dibohongi (misalnya direcoki uang) (33%).

Itu juga umum bagi wanita melaporkan bahwa: 6

Mereka telah sangat sakit atau terluka parah (25%)

Mereka telah meninggalkan rumah mereka karena argumen keluarga atau


melawan (21%)

Mereka telah mendorong, mendorong atau diserang (16%)

Pasangan mereka memiliki masalah dengan obat-obatan atau alkohol (16%).

Jumlah yang lebih kecil dari wanita melaporkan bahwa: 6

Mereka punya masalah dengan obat-obatan atau alkohol (10%)

Mereka telah terlibat dalam kasus pengadilan atau punya masalah dengan
polisi (6%)

C. MASALAH KEHAMILAN DI USIA MUDA


Wanita yang lebih muda (15-19 tahun) lebih mungkin untuk
melaporkan tiga atau lebih masalah kesehatan sosial atau kehidupan yang penuh
stres pada kehamilan daripada wanita yang lebih tua. 6

Di antara wanita yang lebih muda (15-19 tahun): 6

52% mengalami masalah rumah tangga

35% yang kecewa dengan argumen keluarga

32% meninggalkan rumah mereka karena argumen keluarga

30% yang takut dengan perilaku orang lain

25% melaporkan bahwa pasangan mereka memiliki masalah dengan obatobatan atau alkohol

17% didorong atau diserang selama kehamilan.


Wanita lebih muda kurang mungkin dibandingkan dengan wanita lebih tua

untuk laporan mengenai masalah dengan obat-obatan atau alkohol, atau yang
mempunyai masalah dengan polisi atau terlibat dalam kasus pengadilan. 6
Pada negera maju kehamilan pada remaja sering dihubungkan dengan
masalah sosial, termasuk rendahnya status pendidikan serta tingginya kemiskinan.
Kehamilan pada remaja pada negara berkembang biasanya menimbulkan stigma
sosial pada berbagai komunitas dan budaya. Sedangkan orang tua remaja pada
negara berkembang kebanyakan telah menikah dan kehamilannya diterima dengan
baik oleh keluarga dan lingkungan. Namun masalah yang timbul pada kehamilan
di usia dini sering kali karena malnutrisi dan buruknya status kesehatan yang
menimbulkan masalah medis. 7,8
Kejadian kehamilan pada remaja di seluruh dunia bervariasi di tiap negara
dengan rata-rata kejadian 143 kehamilan per 1000 wanita di beberapa negara di
Afrika dan 2,9 per 1000 wanita di Korea Selatan.9
Di Amerika Serikat 82% kehamilan pada remaja terjadi pada rentang usia
15-19 tahun dan tidak terencana. Negara maju yang memiliki angka kejadian
kehamilan di usia remaja yang paling tinggi yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan
New Zaeland sedangkan angka kejadian yang paling rendah yaitu Jepang dan
Korea Selatan khususnya pada tahun 2001. Berdasarkan survei yang dilakukan
UNICEF pada tahun 2001 yang dilakukan di 12 negara maju didapatkan hasil 2/3
remaja telah melakukan hubungan seksual saat remaja. Di Denmark, Finlandia,

Jerman, Islandia, Norwegia, Inggris dan Amerika Serikat telah melakukan


hubungan seksual di usia remaja, dimana kejadian pada Inggris dan Amerika
Serikat sebesar 25% terjadi pada usia 15 tahun dan 50% pada usia 17 tahun.
Berdasarkan The Encyclopedia of Womens Health yang dipublikasikan tahun
2004 didapatkan hasil setiap tahun sekitar 15 juta remaja di bawah usia 20 tahun
telah memiliki anak dan diperkirakan 20-60% kehamilan yang terjadi di negara
berkembang merupakan kehamilan yang tidak diharapakan.9,10

D. MASALAH ADAT ISTIADAT SAAT KEHAMILAN


Di kalangan masyarakat pada suku bangsa nuaulu (Maluku) terdapat suatu
tradisi upacara kehamilan yang dianggap sebagai suatu peristiwa biasa, khususnya
masa kehamilan seorang perempuan pada bulan pertama hingga bulan kedelapan.
Namun pada usia saat kandungan telah mencapai Sembilan bulan, barulah mereka
akan mengadakan suatu upacara. Masyarakat nuaulu mempunyai anggapan bahwa
pada saat usia kandungan seorang perempuan telah mencapai Sembilan bulan,
maka pada diri perempuan yang bersangkutan banyak diliputi oleh pengaruh rohroh jahat yang dapat menimbulkan berbagai bahaya gaib. Dan tidak hanya dirinya
sendiri juga anak yang dikandungannya, melainkan orang lain disekitarnya,
khususnya kaum laki-laki. Untuk menghindari pengaruh roh-roh jahat tersebut, si
perempuan hamil perlu diasingkan dengan menempatkannya di posuno.
Masyarakat nuaulu juga beranggapan bahwa pada kehidupan seorang anak
manusia itu baru tercipta atau baru dimulai sejak dalam kandungan yang telah
berusia 9 bulan. Jadi dalam hal ini ( masa kehamilan 1-8 bulan ) oleh mereka
bukan dianggap merupakan suatu proses dimulainya bentuk kehidupan. 11

Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah


masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan
pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka
sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap

beberapa makanan yang sebenamya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya
akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau
anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah
pedesaan. 11
Di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur
karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan
menyebabkan perdarahan yang banyak. Sementara di salah satu daerah di Jawa
Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi
makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Di
masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan
kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Dan memang, selain
ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini
sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. 11
Contoh lain di daerah Subang, ibu hamil pantang makan dengan
menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga
akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan
bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya
tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan
seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut
oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. 11
Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun
beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. Data
Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65%
persalinan ditolong oleh dukun beranak. Beberapa penelitian yang pernah
dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-praktek persalinan oleh
dukun yang dapat membahayakan si ibu. 11
Budaya Madura dalam perawatan kehamilan sudah sejak lama, dipercaya
oleh masyarakat pada saat itu, berkembang dari mulut ke mulut hingga akhirnya
budaya perawatan kehamilan dilakukan oleh ibu hamil di desa Tambak dan desa

Rapa laok. Perawatan kehamilan yang berasal dari budaya tersebut menunjukkan
adanya keterlibatan orang tua atau mertua dalam mengambil peran selama masa
kehamilan ibu hamil. 5
Proses pewarisan budaya perawatan kehamilan berasal dari anjuran orang
tua atau mertua yang akhirnya lingkungan sosial (ibu-ibu yang pernah hamil) juga
ikut terpengaruh untuk saling berbagi pengalaman selama masa kehamilan dan
saat melakukan perawatan kehamilan. Selain dari anjuran keluarga,ibu hamil juga
meniru kebiasaan keluarganya dalam perawatan kehamilan sebelumnya, sehingga
tidak sulit bagi ibu hamil untuk mempraktekkan atau melakukan hal yang serupa.
Budaya perawatan kehamilan diturunkan secara terusmenerus ke anak cucunya
sehingga budaya perawatan kehamilan tersebut tetap terjag dan terus ada hingga
kini walaupun ilmu pengetahuan medis telah menyentuh ke dalam berbagai aspek
kehidupannya. 5
Adanya pengaruh budaya (mitos) seputar kehamilan yang cukup kuat
mengakibatkan sebagian besar responden lebih mempercayai budaya tersebut
daripada anjuran tenaga kesehatan (dokter dan bidan). Mereka tetap melakukan
pemeriksaan kehamilan ke dukun karena menganggap bahwa dukun lebih
mengerti posisi bayi dalam kandungan dan dapat melakukan pemijatan perut yang
mempermudah saat persalinan. Ketika periksa kehamilan ke pelayanan kesehatan,
mereka hanya ingin diperiksa dan memastikan bahwa kondisinya sehat dan diberi
obat. Oleh karena itu, ketika akan bersalin sebagian responden lebih memilih
bersalin ke dukun daripada bidan, karena bersalin ke bidan dianggap persalinan
yang susah/sulit sehingga akan menjadi aib (dilihat dan dibicarakan banyak orang)
bagi ibu hamil dan keluarga ibu hamil. 5
Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek
yang membawa resiko infeksi seperti ngolesi (membasahi vagina dengan
rninyak kelapa untuk memperlancar persalinan), kodok (memasukkan tangan ke
dalam vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau nyanda (setelah

persalinan, ibu duduk dengan posisi bersandardan kaki diluruskan ke depan


selama berjam-jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan). 11
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya
disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah,
mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan
kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari. 11
Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan
kesehatan yang ada. Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih, namun
praktek-praktek tradisional tertentu rnasih dilakukan. lnteraksi antara kondisi
kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan
hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup. 11
Secara medis penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah
perdarahan, infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut
bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu
dalam proses persalinan. Namun, kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena
penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada faktor keterlambatan
pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya, terutama di daerah pedesaan,
keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan
persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang
seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Kepanikan dan
ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat
tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Tidak jarang pula nasehatnasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang
diambil. 11
Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis, dimana jarak
rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya
transportasi, atau oleh faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa
membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya yang mahal. Selain dari
faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan, faktor geografis dan kendala

ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu


keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi
merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. 11

E. PENGGUNAAN NARKOBA DALAM KEHAMILAN


Sekitar sepertiga dari pengguna narkoba yang dirawat di Inggris adalah
perempuan, dan lebih dari 90% dari wanita-wanita ini adalah usia produktif (1539 tahun). Sejumlah survei besar penggunaan obat pada populasi yang berbeda
yang dilakukan di Amerika Serikat memberikan wawasan lebih lanjut. Sebagai
contoh, Kehamilan Nasional dan Survei Kesehatan mengumpulkan data laporan
diri dari sampel 2613 wanita yang bayinya dikirim pada 52 rumah sakit perkotaan
dan pedesaan selama 1992. Lebih dari 5% dari mereka yang melahirkan selama
masa studi telah menggunakan obat-obatan terlarang saat mereka hamil, dengan
2,9% menggunakan ganja dan 1,1% menggunakan kokain di dalam kehamilan
mereka (dibandingkan dengan 20% tembakau merokok dan minum alkohol
18,5%) . Sebuah laporan lebih lanjut penggabungan 2 tahun data Survei Rumah
Tangga Nasional AS (1994 dan 1995) bagi perempuan dan anak perempuan
berusia 15-44 tahun ditemukan bahwa 9,3% melaporkan penggunaan obat-obatan
terlarang saat ini, dengan 2,3% menggunakannya saat hamil. 12
Ketergantungan pada heroin atau obat lain dapat menyebabkan kelalaian
dalam berbagai bidang kehidupan pengguna. Kebutuhan untuk mendapatkan
pasokan obat ini baik-memakan waktu dan mahal, sehingga mengabaikan
kesehatan, gizi dan kesejahteraan sosial umum. Narkoba suntikan menyebabkan
peningkatan risiko tertular virus melalui darah seperti HIV dan hepatitis, serta
abses dan endokarditis. Infeksi ibu, kelalaian dan kekurangan gizi yang ikut
bertanggung jawab atas bobot lahir rendah diamati, tingginya insiden kelahiran
prematur dan status gizi buruk neonatus yang lahir dari pengguna narkoba.
Perempuan mungkin terlibat dalam kejahatan seperti pelacuran, perampokan dan
pencurian dalam upaya untuk membiayai kebiasaan obat mereka. 12

Penggunaan narkoba Parental selama dan setelah kehamilan dapat


memiliki dampak serius pada perkembangan emosional, kognitif dan perilaku
anak-anak. Telah diperkirakan bahwa 200.000-300.000 anak-anak di Inggris dan
Wales memiliki satu atau kedua orang tua dengan masalah narkoba serius. Setelah
kelahiran, orangtua yang menggunakan narkoba dapat menyebabkan anak dengan
berbagai kesulitan yang dapat mempengaruhi emosi, perilaku, kognitif dan
pengembangan psikologis. 12
Sebagai prinsip umum, paparan zat pada trimester pertama kehamilan
mempengaruhi organogenesis janin, sedangkan apabila digunakan dalam trimester
kedua dan ketiga akan berpengaruh terutama terhadap hasil dalam pertumbuhan
dan kelainan fungsional atau gangguan pada bayi baru lahir. Penggunaan narkoba
dapat menyebabkan persalinan prematur, sindrom kematian bayi mendadak
(SIDS) dan sindrom pantang neonatal. Janin berpotensi pada risiko bahaya dari
efek langsung dari obat-obatan, infeksi dan kesehatan ibu yang buruk dan gizi.
Efek ini dapat diperparah oleh kurangnya perawatan antenatal yang memadai. 12

F. DEPRESI DALAM KEHAMILAN


Depresi

pada

wanita

hamil

sering

diabaikan,

sebagian

karena

kesalahpahaman yang tersebar luas bahwa kehamilan yang entah bagaimana


memberikan perlindungan terhadap gangguan mood. Pada kenyataannya, hampir
25% kasus depresi postpartum mulai selama kehamilan, dan depresi dapat
mencapai puncaknya pada waktu itu. 13
Lebih dari 9.000 wanita yang tercatat suasana hati mereka selama bulan
keempat dan kedelapan kehamilan serta dua dan delapan bulan setelah
melahirkan. Kuesioner, yang dirancang khusus untuk wanita hamil dan ibu baru,
berkonsentrasi pada pikiran dan perasaan - ayunan emosional, menangis, rendah
diri, putus asa, mudah marah, dan ketidakmampuan untuk menikmati kegiatan
yang biasanya menyenangkan. Depresi adalah peringkat tertinggi pada bulan

kedelapan kehamilan dan terendah delapan bulan setelah melahirkan. Empat belas
persen wanita yang ada di atas ambang batas untuk depresi klinis kemungkinan
sebelum kelahiran anak, dibandingkan dengan 9% dua bulan kemudian. 13
Mengabaikan depresi selama kehamilan dapat berisiko bagi ibu dan anak.
Wanita depresi sering mengambil perawatan yang buruk dari diri mereka sendiri.
Mereka mungkin merokok, minum secara berlebihan, atau mengabaikan diet yang
tepat. Dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa depresi pada ibu hamil dapat
memiliki efek langsung pada janin. Bayi mereka sering marah dan lesu, dengan
kebiasaan tidur yang tidak teratur. Bayi yang baru lahir ini dapat tumbuh menjadi
bayi yang kurus, lambat belajar, dan emosional responsif, dengan masalah
perilaku seperti agresi. 13
Pasca melahirkan adalah periode dimana ibu menjalani hari yang
melelahkan. Kelelahan ini terkait dengan keadaan sang bayi maupun perubahan
kondisi fisik dan psikis ibu, dan hal ini dapat memicu perasaan tertekan (stres).
Banyak ibu baru melahirkan mengalami depresi pasca persalinan atau lebih
dikenal sebagai baby blues syndrome.13
Baby blues syndrome atau sering disebut juga dengan istilah maternity
blues atau post partum blues adalah gangguan emosi ringan yang biasanya terjadi
dalam kurun waktu 2 minggu atau 14 hari setelah ibu melahirkan. Istilah blues ini
mengacu pada arti keadaan tertekan. Sesuai dengan arti katanya, maka tandatanda dari sindrom ini adalah adanya gejala-gejala gangguan emosi seperti
menangis, sering merasa cemas, tidak percaya diri, sulit beristirahat dengan
tenang dan mood yang sering berubah-ubah. Sindrom ini di alami oleh hampir
sekitar 15-85 % ibu pasca melahirkan. Baby blue syndrome perlu dibedakan
dengan postpartum depression, dimana pada postpartum depression gejalanya
lebih berat dan sering serta onsetnya lebih dari 2 minggu. 13
Banyak faktor yang bisa menyebabkan baby blue syndrome, yaitu : faktor
dari ibu, bayi yang di lahirkan dan lingkungan sekitar. Kelelahan saat melahirkan,
kesulitan menyusui, trauma melahirkan dan depresi saat mengandung dan

canggung mengurus bayi adalah beberapa contoh faktor yang berasal dari ibu.
Faktor kesulitan menyusui dan canggung menggurus bayi biasanya terjadi pada
kelahiran pertama, hal ini dikarenakan sang ibu belum terbiasa dan
berpengalaman mengurus bayi. Bahkan ada beberapa ibu yang takut menyentuh
bayinya karena melihat bayinya sangat kecil dan rapuh. Faktor hormon juga
berpengaruh dalam terjadinya sindrom ini, dimana perubahan keseimbangan
hormon akibat melahirkan membuat ketidak-seimbangan emosi dari sang ibu.
Kondisi dari bayi yang baru lahir merupakan faktor yang berasal dari sang bayi,
contohnya saja : bayi lahir dengan berat badan rendah atau bayi lahir dengan
kondisi yang tidak normal. Faktor dari lingkungan dapat berasal dari mertua,
tetangga bahkan suami atau ayah bayi sendiri. Baby blue syndrome ditandai
perasaan sedih, seperti menangis, perasaan kesepian atu menolak bayi, cemas,
bingung, lelah, merasa gagal dan tidak bisa tidur. 13

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan,H.I., B. J. Sadock, J.A. Grebb, eds. Psychiatry and Reproductive


Medicine. In : Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical
Psychiatry. 10th edition. 2007. Columbia: Lippincott Williams & Wilkins.
Page 858-69.
2. Hendric, Victoria. General Consideration in Treating Psychiatric Disorders
During Pregnancy and Following Delivery. In : Hendric, Victoria, editor.
Psychiatric Disorders in Pregnancy and the Postpartum. 2006. New
Jersey : Humana Press. Page: 1-11.
3. United nations statistics division demographic and social statistics. Live
births by age of mother and sex of child, general and age specific fertility
rates. 2000-2009.
4. David K , Philip J , Carl P, Bernard G. In: High Risk Pregnancy,
Management Options. Elsevier Saunders. USA. 2006.
5. Devy SR, Haryanto S, dkk. Perawatan Kehamilan dalam Perspektif
Budaya Madura di Desa Tambak dan Desa Rapalaok Kecamatan Omben
Kabupaten Sampang. Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Jurnal
Promosi Kesehatan Vol 1, No.1, Maret 2011: 50-62.
6. Anonym. Social Health Issues In Pregnancy ; Translating evidence from
the Aboriginal Families Study to inform policy and practice. Murdach
Childrens Research Institute. The University of Adelaide. 2013.
7. Hamilton, Brady E, Ventura, Stephanie J. Birth rates for US teenagers
reach historic lows for all age and ethnic groups. Centers for disease
control and prevention. April 2012
8. Mayor,S. Pregnancy and childbirth are leading cause of death in teenage
girls in developong countries. BMJ. 2004.

9. A league table of teenage births in rich nations. UNICEF. 2001.


10. Teen pregancy in : Encyclopedia of Womens health. 2004.
11. Suryawati C. Faktor Sosial Budaya dalam Praktik Perawatan Kehamilan,
Persalinan, dan Pasca Persalinan (Studi di Kecamatan Bangsri Kabupaten
Jepara). Universitas Diponegoro. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia
Vol. 2, No. 1 , Januari 2007.
12. Day E, George S. Management of drug misuse in pregnancy. Advances in
Psychiatric Treatment (2005) 11: 253-261.
13. Anonym. Depression during pregnancy and after. Diunduh pada
September 2002 : http://health.harvard.edu/mental.