Você está na página 1de 11

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS


A. DEFINISI
Dermatitis seboroik merupakan kelainan inflamasi kronik kulit yang
mengalami remisi dan eksaserbasi dengan area seboroik sebagai tempat
predileksi (Muttaqin, Arif, 2013).
B. ETIOLOGI
Etiologi dan patogenesis penyakit ini masih belum diketahui dengan
pasti. Faktor predisposisinya adalah kelainan konstitusi berupa status
seboroik yang lazim didapat secara genetik. Dermatitis ini lebih sering
menyerang daerah-daerah yang mengandung banyak glandula sebasea. Akan
tetapi, pada kondisi terakhir menyebutkan bahwa hipersekresi dari sebum
tidak tampak pada pasien yang terkena dermatitis seboroik apabila
dibandingkan dengan kelompok sehat. Pengaruh hormonal juga sebaiknya
dipertimbangkan mengingat penyakit ini jarang terlihat sebelum puberitas.
Suatu jamur Pityrosporum ovale, didapatkan pada beberapa pasien
dengan lesi pada kulit kepala. P.ovale secara fisiologis dapat didapatkan pada
kulit kepala yang normal. Ragi dari genus ini menonjol dan dapat ditemukan
pada daerah seboroik pada tubuh yang kaya akan lipid sebasea, misalnya
kepala dan punggung. Pertumbuhan P.ovale yang berlebihan dapat
mengakibatkan reaksi inflamasi, baik akibat produk metabolitnya yang masuk
ke dalam epidermis maupun karena sel jamur itu sendiri melalui aktivitas sel
limfosit T dan sel Langerhans.
C. PATOFISIOLOGI
Seboroik merupakan keadaan terjadinya produksi sebum (sekret dari
kelenjar sebasea) yang berlebihan pada daerah-daerah dimana kelenjar
tersebut berada dalam jumlah besar (wajah, kulit kepala, alis mata, kelopak
mata, kedua sisi hidung, serta bibir atas, daerah malar (pipi), telinga, aksila,
dibawah payudara, lipat paha dan lipatan gluteus di daerah pantat). Dengan
adanya kondisi anatomis dimana secara predileksi di daerah tersebut banyak
dipasok kelenjar sebasea atau yang terletak diantara lipatan kulit tempat

bakteri dalam jumlah yang besar sehingga memungkinkan adanya respons


infamasi yang lebih tinggi.
D. TANDA DAN GEJALA
a. Gatal terutama bila terkena keringat
b. Merah dan menonjol
c. Secara perlahan dapat dilihat pertumbuhannya
d. Bentuknya melingkar
e. Bagian tengah dari cincin dapat kemudian menjadi kulit sehat kembali
f. Dalam kasus yang kronis dapat terasa nyeri.
g. Bila banyak, masing-masing lesinya akan kurang dari 5 cm dan
berkelompok yang terdiri dari 3 sampai 4 lingkaran.
h. Biasanya terdapat pada tubuh, tungkai, lengan, leher, dan muka.
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG
Pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung dengan larutan KOH
10-20% untuk melihat hifa atau spora jamur.
F. KOMPLIKASI
1. Majocchi granuloma
Disebabkan oleh Trichophyton rubrum, merupakan infeksi jamur di
rambut, folikel rambut, dan seringkali disekitar dermis disertai associated
granulomatous reaction. Majocchi granuloma seringkali terjadi pad
wanita yang mencukur rambut kakinya. Majocchi granuloma bermanifes
sebagai nodul granulomatosa perifolikuler di dua pertiga kaki bagian
bawah pada wanita.
2. Tinea corporis gladiatorum
Merupakan infeksi dermatofita yang ditularkan melalui kontak kulit ke
kulit di antara pegulat (wrestlers). Tinea corporis gladiatorum seringkali
dijumpai di kepala, leher, lengan, dimana distribusinya konsisten dengan
area kontak kulit ke kulit pada pegulat.

3. Tinea imbricata
Bentuk khas tinea corporis yang disebabkan oleh Trichophyton
concentricum, dapat dijumpai terutama di Asia Tenggara, Pasifik Selatan,
Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Di Indonesia terdapat di Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Irian Barat, Kepulauan Aru dan Kei, dan Sulawesi
Tengah. Tinea imbricata dikenal secara klinis oleh karena plak bersisiknya
(scaly plaques) yang berbeda, tersusun dalam concentric rings.
4. Tinea incognito
Tinea corporis dengan presentasi klinis nonklasik yang berubah karena
pemberian kortikosteroid.
5. Tinea corporis purpurica
Merupakan bentuk tinea corporis yang jarang, memiliki ruam kulit khas,
yaitu purpuric macules.
Beberapa istilah dalam dermatologi:
1. Makula
Perubahan warna kulit tanpa perubahan bentuk.
2. Eritema
Makula yang berwarna merah.
3. Skuama (sisik)
Pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kulit.
4. Papula
Penonjolan padat di atas permukaan kulit, berbatas tegas, berukuran
kurang dari 1 cm.
5. Vesikel/vesikula
Gelembung yang berisi cairan serosa, berdiameter kurang dari 1 cm.
6. Purpura
Perdarahan di dalam atau di bawah kulit yang tampak kemerahan, dan
tidak hilang jika ditekan.
G. PENATALAKSANAAN
Dilakukan Sendiri
1. Jagalah agar area kulit yang terinfeksi selalu bersih.
2. Dapat memakai cream anti jamur. Cara pemakaian yang benar adalah
dioleskan melebihi dari tepi Lingkaran/cincin sampai kira-kira 2.5 cm.
Dipakai 2x sehari selama minimal 2 minggu sampai seminggu setelah
gejala hilang.
3. Isi obat-obataan yang dijual OTC di Apotek adalah:
a. Miconazole 2% dalam bentuk cream atau bubuk
b. Clotrimazole 1%
c. Butenafine 1%

4.
5.
6.

d. Terbinafine 1%
Kemudian jagalah agar daerah yang terinfeksi selalu bersih
Hindari memegang atau menggaruk lesi yang sedang meradang
Mencuci sarung bantal dan seprai orang yang sakit dan jangan

memakai handuk bersama orang sakit


7.
Jangan melakukan olahraga kontak kulit sampai benar-benar sembuh
Di Praktek Dokter
Bisanya dokter menambahkan dengan obat anti jamur oral bila dengan
pengobatan topikal tidak ada kemajuan. Infeksi jamur tidak boleh diberikan
kortikosteroid karena akan membuat jamur menjadi lebih subur. Pada infeksi
yang disertai infeksi sekunder oleh bakteri, dokter juga akan memberikan
antibiotik.
H. PROGNOSIS
1. Dengan penanganan yang benar, infeksi biasanya akan membaik dalam 4
minggu.
2. Bila infeksi bersama dengan bakteri maka akan lebih lama lagi.
3. Tidak ada laporan angka kematian dari insidensi Tinea Corporis.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan (askep) pada klien gangguan integumen, seperti
kusta, skabies, tinea (jamur) umumnya belum ada rencana asuhan keperawatan
khusus dan belum banyak ditemukan pada buku ajar. Beberapa askep integumen
yang sudah baku dan dapat kita temukan pada beberapa literatur antara lain adalah
askep luka baker dan askep psoriasis. Sehingga askep kulit abnormal dapat
digunakan sebagai acuan dalam menyusun rencana keperawatan pada klien yang

mengalami gangguan integumen, tentunya disesuaikan dengan data yang


ditemukan pada pengkajian.
A. PENGKAJIAN
Riwayat kesehatan dan observasi langsungsg memberikan infomasi mengenai
persepsi klien terhadap dermatosis, bagaimana kelainan kulit dimulai?, apa
pemicu?, apa yang meredakan atau mengurangi gejala?, termasuk masalah
fisik/emosional yang dialami klien?. Pengkajian fisik harus dilakukan secara
lengkap.
B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsibarier
kulit.
2. Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan lesi kulit.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak
bagus.
5. Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat
informasi.
Masalah Kolaboratif/Komplikasi
Masalah kolaboratif/komplikasi yang dapat terjadi pada klien dermatosis adalah
infeksi.

C. TUJUAN INTERVENSI/IMPLEMENTASI
Tujuan askep dermatosis

adalah terpeliharanya

integritas kulit,

meredakan gangguan rasa nyaman: nyeri, tercapainya tidur yang nyenyak,


berkembangnya sikap penerimaan terhadap diri, diperolehnya pengetahuan
tentang perawatan kulit dan tidak adanya komplikasi.
1. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi
barier kulit.

1. Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi (hidrasi stratum


korneum yg berlebihan) ketika memasang balutan basah.
Rasional: Maserasi pada kulit yang sehat dapat menyebabkan pecahnya
kulit dan perluasan kelainan primer.
2. Hilangkan kelembaban dari kulit dengan penutupan dan menghindari friksi.
Rasional: Friksi dan maserasi memainkan peranan yang penting dalam
proses terjadinya sebagian penyakit kulit.
3. Jaga agar terhindar dari cidera termal akibat penggunaan kompres hangat
dengan suhu terllalu tinggi & akibat cedera panas yg tidak terasa (bantalan
pemanas, radiator).
Rasional: Penderita dermatosis dapat mengalami penurunan sensitivitas
terhadap panas.
4. Nasihati klien untuk menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya.
Rasional: Banyak masalah kosmetik pada hakekatnya semua kelainan
malignitas
kulit dapat dikaitkan dengan kerusakan kulit kronik.
Kriteria keberhasilan implementasi.
1. Mempertahakan integritas kulit.
2. Tidak ada maserasi.
3. Tidak ada tanda-tanda cidera termal.
4. Tidak ada infeksi.
5. Memberikan obat topikal yang diprogramkan.
6. Menggunakan obat yang diresepkan sesuai jadual.
2. Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan lesi kulit.
1. Temukan penyebab nyeri/gatal
Rasional: Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk
memberikan kenyamanan.
2. Catat hasil observasi secara rinci.
Rasional: Deskripsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan untuk
diagnosis dan pengobatan.
3. Antisipasi reaksi alergi (dapatkan riwayat obat).
Rasional: Ruam menyeluruh terutama dengan awaitan yang mendadak
dapat menunjukkan reaksi alergi obat.
4. Pertahankan kelembaban (+/- 60%), gunakan alat pelembab.
Rasional: Kelembaban yang rendah, kulit akan kehilangan air.
5. Pertahankan lingkungan dingin.
Rasional: Kesejukan mengurangi gatal.

6. Gunakan sabun ringan (dove)/sabun yang dibuat untuk kulit yang sensitif
Rasional: Upaya ini mencakup tidak adanya detergen, zat pewarna.
7. Lepaskan kelebihan pakaian/peralatan di tempat tidur
Rasional: Meningkatkan lingkungan yang sejuk.
8. Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan sabun.
Rasional: Sabun yang keras dapat menimbulkan iritasi.
9. Hentikan pemajanan berulang terhadap detergen, pembersih dan pelarut.
Rasional: Setiap subtansi yang menghilangkan air, lipid, protein dari
epidermis akan mengubah fungsi barier kulit
10. Kompres hangat/dingin.
Rasional: Pengisatan air yang bertahap dari kasa akan menyejukkan kulit
dan meredakan pruritus.
11. Mengatasi kekeringan (serosis).
Rasional: Kulit yang kering meimbulkan dermatitis: redish, gatal.lepuh,
eksudat.
12. Mengoleskan lotion dan krim kulit segera setelah mandi.
Rasional: Hidrasi yang cukup pada stratum korneum mencegah gangguan
lapisan barier kulit.
13. Menjaga agar kuku selalu terpangkas (pendek).
Rasional: Mengurangi kerusakan kulit akibat garukan
14. Menggunakan terapi topikal.
Rasional: Membantu meredakan gejala.
15. Membantu klien menerima terapi yang lama.
Rasional: Koping biasanya meningkatkan kenyamanan.
16. Nasihati klien untuk menghindari pemakaian salep /lotion yang dibeli
tanpa resep Dokter.
R: Masalah klien dapat disebabkan oleh iritasi/sensitif karena pengobatan
sendiri
Kriteria keberhasilan implementasi.
1. Mencapai peredaan gangguan rasa nyaman: nyeri/gatal.
2. Mengutarakan dengan kata-kata bahwa gatal telah reda.
3. Memperllihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan.
4. Mematuhi terapi yang diprogramkan.
5. Pertahankan keadekuatan hidrasi dan lubrikasi kulit.
6. Menunjukkan kulit utuh dan penampilan kulit yang sehat .
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus.
1. Nasihati klien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan
kelembaban yang baik.

Rasional: Udara yang kering membuat kulit terasa gatal, lingkungan yang
nyaman meningkatkan relaksasi.
2. Menjaga agar kulit selalu lembab.
Rasional: Tindakan ini mencegah kehilangan air, kulit yang kering dan
gatal biasanya tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikendalikan.
3. Mandi hanya diperlukan, gunakan sabun lembut, oleskan krim setelah
mandi.
Rasional: memelihara kelembaban kulit
4. Menjaga jadual tidur yg teratur.
5. Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur.
Rasional: kafein memiliki efek puncak 2-4 jam setelah dikonsumsi.
6. Melaksanakan gerak badan secara teratur.
Rasional: memberikan efek menguntungkan bila dilaksanakan di sore hari.
7. Mengerjakan hal ritual menjelang tidur.
Rasional: Memudahkan peralihan dari keadaan terjaga ke keadaan tertidur.
Kriteria Keberhasilan Implementasi
1. Mencapai tidur yang nyenyak.
2. Melaporkan gatal mereda.
3. Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat.
4. Menghindari konsumsi kafein.
5. Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur.
6. Mengenali pola istirahat/tidur yang memuaskan.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak
bagus.
1. Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata,ucapan
merendahkan diri sendiri.
Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang
tampak nyata bagi klien, kesan orang terhadap dirinya berpengaruh
terhadap konsep diri.
2. Identifikasi stadium psikososial terhadap perkembangan.
Rasional: Terdapat hubungan antara stadium perkembangan, citra diri dan
reaksi serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya.
3. Berikan kesempatan pengungkapan perasaan.
Rasional: klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami.

4. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan klien, bantu klien yang cemas
mengembangkan

kemampuan

untuk

menilai

diri

dan

mengenali

masalahnya.
Rasional: Memberikan kesempatan pada petugas untuk menetralkan
kecemasan yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas situasi,
ketakutan merusak adaptasi klien .
5. Dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri , spt merias, merapikan.
Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.
6. Mendorong sosialisasi dengan orang lain.
Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.
Kriteria Keberhasilan Implementasi
1. Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri.
2. Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri.
3. Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi.
4. Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri.
5. Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat.
6. Tampak tidak meprihatinkan kondisi.
7. Menggunakan teknik penyembunyian kekurangan dan menekankan
teknik untuk meningkatkan penampilan
5. Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan
inadekuat informasi.
1. Kaji apakah klien memahami dan salah mengerti tentang penyakitnya.
Rasional: memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana
penyuluhan
2. Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki
kesalahan konsepsi/informasi.
Rasional: Klien harus memiliki perasaan bahwa sesuatu dapat mereka
perbuat, kebanyakan klien merasakan manfaat.
3. Peragakan penerapan terapi seperti, kompres basah, obat topikal.
Rasional: memungkinkan klien memperoleh cara yang tepat untuk
melakukan terapi.
4. Nasihati klien agar kulit teap lembab dan fleksibel dengan tindakan hidrasi
dan pengolesan krim serta losion kulit.

Rasional: stratum korneum memerlukan air agar tetap fleksibel.


Pengolesan krim/lotion akan melembabkan kulit dan mencegah kulit tidak
kering, kasar, retak dan bersisik.
5. Dorong klien untuk mendapatkan nutrisi yang sehat.
Rasional: penampakan kulit mencerminkan kesehatan umum seseorang,
perubahan pada kulit menandakan status nutrisi yang abnormal.
Kriteria Keberhasilan Implementasi
1. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit.
2. Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi.
3 Melaksanakan mandi, pembersihan dan balutan basah sesuai program.
4. Menggunakan obat topikal dengan tepat.
5. Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.

DAFTAR PUSTAKA
Adi S, Menaldi SL, Boediardja SA, dkk. Standar Pelayanan Medik Dokter
Spesialis Kulit dan Kelamin. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan
Kelamin Indonesia (PERDOSKI). 2004:86-7.
Djuanda A., Hamzah M., Aisah S., (ed.). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
Keempat. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI). Jakarta.
2005:94-5.

Fitzpatrick JE., Morelli JG., Dermatology Secrets In Color. Third Edition. Mosby
Elsevier.Philadelphia, USA. 2007.
Harahap M (Ed.). Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates. Jakarta. 2000:77.
Lott MER. Tinea Corporis. Cited from:
http://www.emedicine.com/derm/topic421.htm
Article Last Updated: Jun 5, 2008.
Placzek M, van den Heuvel ME, Flaig MJ, Korting HC. Perniosis-like tinea
corporis caused by Trichophyton verrucosum in cold-exposed individuals.
Mycoses. Nov 2006;49(6):476-9.