Você está na página 1de 11

TEACHING HEALTH ETHICS

THE CHILD WITH ENCEPHALITIS

PENDAHULUAN
Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik-buruk atau benar-salahnya
suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas.
Penilaian baik-buruk dan benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan
teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak
dianut orang yaitu teori deontologi dan teleologi. Secara ringkas dapat dikatakan
bahwa, deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari
perbuatannya itu sendiri (I Kant), sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-
buruk tindakan dengan melihat hasilnya atau akibatnya (D Hume, J Bentham, JS Mills).
Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan
teleologi lebih ke arah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas
manfaat.
Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu
keputusan etik diperlukan empat kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa
rules dibawahnya. Keempat kaidah dasar moral tersebut adalah:
1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien,
terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip moral
inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent.
2. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang
ditujukan untuk kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal
perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya
(manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya.
3. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere”
atau “above all do no harm”.
4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan
dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive
justice).
Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar, jujur, dan terbuka),
privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien)
dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).
Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus dijadikan pedoman
dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika profesi
sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct). Nilai-nilai
dalam etika profesi ini tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran.
Sumpah dokter berisikan suatu “kontrak moral” antara dokter dengan Tuhan sang
penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan “kontrak kewajiban moral”
antara dokter dengan peer-groupnya, yaitu masyarakat profesinya.
Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban
moral yang melekat kepada para dokter. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah
kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum, namun kewajiban
moral tersebut haruslah menjadi “pemimpin” kewajiban dalam hukum kedokteran.
Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis.

KASUS: SEORANG ANAK DENGAN ENSEFALITIS


Dokter: kasus ini saya temui pada seorang anak laki - laki berumur 2 tahun.
Pertumbuhan anak ini sebelumnya baik. Dia dapat berjalan dan berbicara. Pertumbuhan
giginya juga baik. Namun, tiba-tiba dia mengalami infeksi dengan gejala suhu tubuh
yang tinggi diikuti dengan timbulnya kejang. Kejang tersebut berlangsung lama dan dia
harus dirawat di rumah sakit, dimana suhu tubuhnya sangat tinggi dan kemudian
mengalami koma. Ternyata ditemukan adanya gangguan pada cairan spinalnya
sehingga diagnosis kerja dari hasil laboratorium pada saat itu adalah ensefalitis. Orang
tua pasien tersebut sangat berpendidikan. Pada saat bertemu dengan kami, ayah pasien
menanyakan apakah anaknya bisa sembuh atau tidak. Sebagai seorang dokter, tentu saja
kita harus mengusahakan kesembuhan pasien, optimis dan berharap bahwa anak
tersebut akan sembuh. Ayah pasien juga bertanya apakah anaknya bisa berjalan lagi
seperti sebelumnya atau tidak. Disinilah letak dilemanya, karena diagnosis dari pasien
tersebut adalah ensefalitis. Walaupun anak ini kemungkinan dapat disembuhkan, namun
secara statistik, pada sebagian besar kasus ensefalitis, suatu sequele biasanya akan
terjadi. Hal ini berarti bahwa kemungkinan besar akan terjadi suatu gangguan mental
dan motorik. Disinilah dilema saya, apakah saya sebaiknya memberitahukan yang
sebenarnya kepada ayahnya dan menginformasikan bahwa anaknya kemungkinan dapat
diselamatkan tapi mereka harus bersiap bahwa anaknya mungkin tidak akan dapat
berjalan lagi. Anak tersebut bisa saja mengalami paralisis (kelumpuhan) disertai dengan
gangguan atau retardasi mental.
Apa masalah moral yang terjadi?
Masalah yang terjadi di sini adalah apakah seorang dokter berkewajiban
secara moral untuk memberitahukan keadaan pasien yang sebenarnya kepada
keluarganya bahwa pasien tersebut kemungkinan dapat diselamatkan tapi kelak dapat
terjadi keadaan yang tidak diharapkan sebagai akibat gejala sisa (sequele) dari
penyakit tersebut, dimana kasus ini terjadi pada seorang anak berumur 2 tahun, anak
yang belum cukup umur dan belum bisa memahami dan mengambil keputusan, maka
keputusan tersebut diwakilkan pada orang tua atau keluarganya.

FAKTA - FAKTA
Dimensi Kedokteran
Ensefalitis merupakan peradangan yang terjadi pada otak, dimana secara umum
biasanya disebabkan oleh virus, meskipun penyebab lain seperti bakteri dapat juga
menimbulkan ensefalitis. Virus tersebut termasuk Chickenpox, Epstein-Barr virus dan
herpes simpleks. Gejalanya antara lain meliputi demam mendadak, sakit kepala berat,
muntah, fotofobia, kaku pada leher dan punggung, bingung, drowsiness, clumsiness,
gaya berjalan yang tidak stabil dan iritabilitas.
Tipe Ensefalitis dapat dibagi dalam dua bentuk, yaitu ensefalitis primer dan
sekunder. Pada ensefalitis primer, virus masuk ke dalam tubuh dan langsung
menginfeksi otak dan sumsum tulang belakang. Pada ensefalitis sekunder terjadi proses
yang berkembang sebagai akibat komplikasi dari infeksi virus atau reaktivasinya virus
yang laten dalam tubuh. Virus dapat menjadi aktif ketika sistem kekebalan tubuh
ditekan oleh keadaan seperti malnutrisi, stress. Ensefalitis sekunder dapat juga
disebabkan oleh infeksi seperti influenza, cacar air, campak dan mumps.
Gejala klinik yang muncul bervariasi dari ringan sampai berat tergantung umur
penderita, virulensi virus, dan kondisi imun penderita. Beberapa gejala yang dapat
timbul adalah panas, penurunan kesadaran, kejang, mual, muntah, sakit kepala, atau
nafsu makan berkurang. Pada kasus yang berat akan didapatkan panas tinggi, kesadaran
menurun hingga koma, sakit kepala yang hebat, muntah, kaku kuduk, gelisah, kejang-
kejang. Keluhan dan gejala klinik pada fase akut umumnya berlangsung 7 hari.
Masa prodromal berlangsung antara 1-4 hari, ditandai dengan adanya demam,
sakit kepala, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri pada ekstremitas dan pucat.
Kemudian timbul gejala penyerta (tanda ensefalitis) berupa kondisinya tampak gelisah,
iritabel, perubahan dalam perilaku, gangguan kesadaran, dan kejang. Gejala ini
tergantung dari distribusi dan luasnya lesi pada neuron. Kadang kala juga ada tanda
neurologis fokal berupa afasia, hemiparesis, hemiplegia, ataksia, dan paralisis saraf
otak. Tanda rangsang meningeal dapat terjadi apabila terjadi peradangan meningeal.
Ruam pada kulit dapat ditemukan pada ensefalitis karena enterovirus, varisela, dan
zoster.
Beberapa faktor berperan dalam menentukan perjalanan penyakit ensefalitis ini.
Kecepatan pembuatan diagnosis dan penatalaksanaan penderita yang tepat menjadi hal
penting. Faktor lainnya yang juga berperan adalah usia penderita, jenis virus dan
virulensi kuman, serta keadaan imunitas penderita.
Ensefalitis merupakan penyakit yang serius atau penyakit dengan kedaruratan
medik apabila tidak ditangani dengan baik dan tepat. Penatalaksanaan ensefalitis
bersifat suportif dan sesuai dengan klinis yang tampak. Dalam pemantauan, diperlukan
pemeriksaan fisik neurologis secara teratur dan pemeriksaan penunjang lain yang
disesuaikan dengan temuan klinis.
Komplikasi jangka panjang dari ensefalitis berupa sequele neurologikus yang
nampak pada 30% anak dengan berbagai agen penyebab, usia penderita, gejala klinik,
dan penanganan selama perawatan. Perawatan jangka panjang dengan terus mengikuti
perkembangan penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk mendeteksi
adanya sequele secara dini.
Walaupun sebagian besar penderita mengalami perubahan serius pada susunan
saraf pusat (SSP), komplikasi yang berat tidak selalu terjadi. Komplikasi pada SSP
meliputi tuli saraf, kebutaan kortikal, hemiparesis, quadriparesis, hipertonia
muskulorum, ataksia, epilepsi, retardasi mental dan motorik, gangguan belajar,
hidrosefalus obstruktif, dan atrofi serebral.
Hidrosefalus dapat timbul sebagai akibat adanya bendungan LCS di saluran
aquaduktus. Bisa terjadi pada meningoensefalitis oleh virus mumps dan sering timbul
pada fase perbaikan. Jika terjadi sequele motorik, penatalaksanaannya meliputi
pelayanan fisikal, okupasional, dan rehabilitasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut dan meningkatkan status fungsi organ yang optimal.
Sampai saat ini angka kematian ensefalitis masih tinggi, berkisar antara 35-50%.
Diantara pasien yang hidup, 20-40% mengalami sequele berupa paresis atau paralisis,
gerakan kareoatetoid, gangguan penglihatan dan kelainan neurologis lain. Pasien yang
sembuh tanpa kelainan yang nyata dalam perkembangan selanjutnya mengalami
retardasi mental, gangguan watak dan epilepsi. Gejala sisa lebih sering ditemukan dan
lebih berat pada kasus yang tidak diobati. Keterlambatan pengobatan yang lebih dari 4
hari memberikan prognosis buruk, demikian juga koma. Pasien yang mengalami gejala
koma seringkali meninggal atau sembuh dengan gejala sisa yang berat.

Nilai - nilai Pasien dan Nilai - nilai Sosial


Di dalam menentukan tindakan di bidang kesehatan atau kedokteran seperti
pada kasus di atas, selain mempertimbangkan keempat kaidah dasar moral tersebut
(otonomi, beneficence, non-malficence, dan justice), keputusan hendaknya
mempertimbangkan hak-hak asasi pasien. Pada awalnya hubungan dokter-pasien
adalah hubungan yang bersifat paternalistik, artinya pasien menyerahkan diri kepada
dokternya kira-kira seperti anak mempercayakan diri kepada orang tuanya. Ia yakin,
dokterlah yang tahu apa yang paling baik baginya. Namun sikap tradisional itu
sekarang sudah berubah, pasien mulai menuntut haknya, ia ingin mendapat informasi
tentang yang akan dilakukan padanya, ia ingin diikutsertakan dalam pengambilan
keputusan tentang dirinya sendiri.
Hubungan dokter-pasien ini merujuk kepada teori social contract di bidang
politik. Veatch (1972) mengatakan bahwa dokter dan pasien adalah pihak-pihak yang
bebas, yang meskipun memiliki perbedaan kapasitas dalam membuat keputusan, tetapi
saling menghargai. Dokter akan mengemban tanggung jawab atas segala keputusan
teknis, sedangkan pasien tetap memegang kendali keputusan penting, terutama yang
terkait dengan nilai moral dan gaya hidup pasien. Hubungan kontrak mengharuskan
terjadinya pertukaran informasi dan negosiasi sebelum terjadinya kesepakatan, namun
juga memberikan peluang kepada pasien untuk menyerahkan pengambilan keputusan
kepada dokter.
Perlu ditegaskan dan dipahami bahwa tujuan dasar ilmu kedokteran adalah:
1. Meringankan sakit, penderitaan fisik, psikis dan sosial pada pasien dan
masyarakat.
2. Mempertahankan kehidupan insani tanpa memperpanjang proses mati.
Jika kasus tersebut diatas ditinjau berdasarkan fakta-fakta yang ada dalam
dimensi kedokteran, tindakan yang diambil atau dilaksanakan oleh dokter berhubungan
dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Pernyataan Universal mengenai Bioetika
dan Hak-hak Asasi Manusia (Oktober 2005) yaitu :
1. Pasal 3. Martabat manusia dan hak-hak asasi manusia. Martabat manusia, hak-
hak asasi manusia dan kebebasan mendasar harus sepenuhnya dihormati.
Kepentingan dan kesejahteraan perorangan seharusnya diberi prioritas di atas
kepentingan satu-satunya dari ilmu pengetahuan atau masyarakat.
2. Pasal 4. Manfaat dan cedera. Dalam menerapkan dan memajukan pengetahuan
keilmuan, tindakan kedokteran dan teknologi yang terkait, manfaat langsung
dan tidak langsung untuk pasien, peserta penelitian dan perorangan yang
terpengaruh lain seharusnya dimaksimumkan, cedera yang mungkin terjadi
seharusnya diminimumkan.
3. Pasal 5. Otonomi dan tanggung jawab perorangan. Otonomi orang untuk
mengambil keputusan, sementara mengambil tanggung jawab untuk keputusan-
keputusan tersebut dan menghormati otonomi orang lain, harus dihormati.
Untuk orang yang tidak mampu menjalankan otonomi, perlakuan khusus harus
diambil untuk melindungi hak-hak dan kepentingan mereka.
4. Pasal 6. Kesepakatan. Intervensi kedokteran preventif, diagnostik dan terapeutik
yang mana saja hanya untuk dilaksanakan dengan kesepakatan berinformasi dan
bebas, yang terdahulu dari orang yang berkenaan, didasarkan pada informasi
yang cukup. Kesepakatan seharusnya, di mana sesuai, cepat dan dapat ditarik
kembali oleh orang yang berkenaan pada waktu yang bilamana saja dengan
alasan apapun tanpa kerugian atau rasa menyalahi.
5. Pasal 20. Penaksiran risiko, pengelolaan dan pencegahan. Penaksiran yang tepat
dan pengelolaan yang cukup dari risiko yang berhubungan dengan kedokteran,
ilmu-ilmu hayati dan teknologi yang terkait seharusnya dipromosikan.

Dimensi Organisasi Profesi


Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) mengatur tentang empat
kewajiban, yaitu kewajiban umum, kewajiban dokter terhadap pasien, kewajiban dokter
terhadap teman sejawat dan kewajiban dokter terhadap diri sendiri. Dari segi dimensi
organisasi, kasus tersebut diatas dapat ditinjau dari Kode Etik Kedokteran Indonesia
(KODEKI). Beberapa pasal KODEKI yang berhubungan dengan kasus tersebut
diantaranya:
1. Pasal 1. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan
sumpah dokter. Diantara pasal tersebut tertera bahwa seorang dokter akan
membaktikan hidupnya guna kepentingan kemanusiaan, menghormati setiap
hidup insani mulai dari pembuahan dan senantiasa memperhatikan kesehatan
pasien dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.
2. Pasal 2. Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya
sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.
3. Pasal 5. Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan
psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien,
setelah memperoleh persetujuan pasien.
4. Pasal 7a. Seorang dokter harus, dalam setiap praktek medisnya, memberikan
pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral
sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas
martabat manusia.
5. Pasal 7c. Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak
sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan
pasien.
6. Pasal 7d. Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi
hidup makhluk insani.
7. Pasal 10. Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala
ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ia tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia
wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit
tersebut.
8. Pasal 13. Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu
tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bersedia dan
lebih mampu memberikannya.

ASSESSMENT
Keadaan Pasien
Pasien adalah seorang anak laki-laki yang baru berumur dua tahun. Sebelum
mengalami infeksi dan didiagnosis menderita ensefalitis, pertumbuhan dan
perkembangan anak ini baik, sama seperti tumbuh kembang anak yang normal. Tetapi
setelah mengalami infeksi, suhu tubuh anak ini sangat tinggi dan disertai dengan
timbulnya kejang sehingga harus dirawat di Rumah Sakit. Selama perawatan kondisi
pasien belum membaik, bahkan pasien mengalami koma. Kejang dan koma yang
dialami pasien karena virus penyebab ensefalitis yang berada dalam tubuh manusia,
mencari sistem limfe dan disini berkembang biak, selanjutnya lewat aliran darah
menuju organ-organ tubuh seperti jaringan otak, masuk ke dalam SSP melalui aliran
darah, menginvasi saraf. Apabila virus berhasil melewati sawar darah otak, virus akan
masuk ke dalam sel saraf, terutama sel-sel neuron, dan kemudian bereplikasi sehingga
menimbulkan gangguan fungsi sel-sel otak. Keluhan dan gejala klinik yang ditemukan
(suhu tubuh sangat tinggi, kejang, kesadaran menurun hingga koma), menunjukkan
bahwa pasien berada pada fase akut dan gejala yang ditunjukkan pasien tergolong
berat.

Otonomi dari Pasien


Otonomi adalah prinsip yang mengakui hak setiap pribadi untuk memutuskan
sendiri mengenai masalah kesehatannya, kehidupannya, serta kematiannya. Otonomi
merupakan bentuk kebebasan bertindak dimana seseorang mengambil keputusan sesuai
dengan rencana yang ditentukannya sendiri. Otonomi dapat dikatakan merupakan hak
atas perlindungan privacy. Dalam hubungan dokter dengan pasien ada otonomi klinis
atau kebebasan profesional dari dokter dan kebebasan terapeutik atau kebebasan
diagnostik dari pasien. Kebebasan profesional adalah hak dokter untuk menyarankan
tindakan terbaik bagi pasien menyangkut penyakitnya, berdasarkan ilmu, ketrampilan
dan pengalaman dokter tersebut. Sedangkan kebebasan terapeutik adalah hak pasien
untuk memutuskan yang terbaik bagi dirinya dari sejumlah alternatif tindakan yang
mungkin dilakukan setelah mendapatkan informasi yang selengkap-lengkapnya.
Informasi meliputi tindakan medis yang akan dilakukan serta untung rugi dan risiko
kalau tindakan medis itu dilakukan, maupun untung rugi dan risiko apabila tindakan
medis itu tidak dilakukan dan juga informasi tentang alternatif lain serta untung rugi
dan risikonya, sehingga pasien atau keluarganya dapat memberi informed consent atau
informed refusal. Informed consent diperlukan sebagai prinsip moral rasa hormat
terhadap manusia dan kepentingannya sebagai prinsip otonomi. Yang dimaksud
informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau walinya yang
berhak kepada dokter untuk melakukan tindakan medis terhadap pasien sesudah pasien
atau wali itu memperoleh informasi lengkap dan memahami tindakan itu.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Arguments
Pada kasus di atas, dokter telah melaksanakan tata urutan tindakan dalam
pelayanan medis yaitu melakukan anamnesis dimana pasien dikeluhkan suhu tubuhnya
sangat tinggi; telah melakukan pemeriksaan fisik dimana pada pasien didapatkan
kejang dan mengalami koma. Dokter juga telah melakukan pemeriksaan
penunjang/laboratorik dimana hasil dari pemeriksaan tersebut menunjukkan adanya
kelainan atau gangguan pada cairan spinalis pasien.
Pada kasus ensefalitis, dimana terjadi peradangan pada otak, gejala klinik
yang muncul dapat bervariasi dari ringan sampai berat. Berat ringannya gejala
tergantung pada umur penderita, virulensi virus, dan kondisi imun penderita. Seperti
diketahui bahwa pasien berumur dua tahun, belum mampu menyampaikan keluhan
yang dideritanya sehingga deteksi dini dan pengobatan yang adekuat tidak dapat
diberikan. Pasien ini ditemukan dengan kondisi yang cukup berat dimana suhu
tubuhnya sangat tinggi, terjadi kejang bahkan sudah terjadi penurunan kesadaran dan
koma. Keterlambatan pengobatan akan memberikan prognosis buruk, demikian juga
koma. Pasien yang mengalami gejala koma seringkali meninggal atau sembuh dengan
gejala sisa yang berat.
Selain itu, sampai saat ini angka kematian ensefalitis masih tinggi, berkisar
antara 35-50%. Diantara pasien yang hidup, 20-40% mengalami sequele berupa
paresis atau paralisis. Secara umum dapat dikatakan bahwa risiko yang lebih besar dari
5 % menimbulkan keharusan dan kewajiban untuk memberikan informasi yang
lengkap, sedangkan risiko yang lebih kecil dari 0,5 % tidak perlu diinformasikan.
Dokter dalam melakukan profesinya sama sekali tidak menjanjikan
keberhasilan atau memastikan kesembuhan pasien. Dalam hubungan dokter-pasien
terjadi hubungan berdaya upaya/berusaha semaksimal mungkin, optimis dalam
mengusahakan kesembuhan pasien.

Keputusan yang Diambil


Pada kasus di atas, masalah yang terjadi adalah apakah seorang dokter berkewajiban
secara moral untuk memberitahukan keadaan pasien yang sebenarnya kepada
keluarganya? Seperti diketahui bahwa kasus ini terjadi pada seorang anak laki-laki
berumur 2 tahun, dimana anak ini belum cukup umur dan belum bisa memahami dan
mengambil keputusan, maka keputusan tersebut diwakilkan kepada orang tua atau
keluarganya. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan
No.585/MENKES/PER/IX/1989 tentang persetujuan tindakan medik (informed
consent).
Apabila saya dihadapkan pada kasus di atas, maka saya sebagai dokter
berkewajiban secara moral untuk memberitahukan keadaan pasien yang sebenarnya
kepada orang tuanya. Bahwa untuk perkembangan selanjutnya pasien kemungkiman
dapat disembuhkan tapi pada sebagian besar kasus ensefalitis yang dapat bertahan
hidup, 20-40% mengalami sequele berupa suatu gangguan mental dan gangguan
motorik berupa paresis atau paralisis. Dan ini berarti pasien kemungkinan tidak dapat
berjalan lagi dan juga dapat terjadi retardasi mental.
Pemberian informasi ini akan saya lakukan secara hati-hati dengan
memperhatikan perasaan orang tua pasien sehingga muncul perasaan saling
menghormati dan saling mempercayai. Saya akan memberitahukan keadaan pasien
yang sebenarnya dengan sejelas-jelasnya, jujur, cukup dan dapat dimengerti sehingga
mereka merasa puas dan mengerti keadaan pasien. Dengan adanya perasaan saling
menghormati dan saling mempercayai, biasanya penjelasan yang diberikan dapat
diterima baik oleh orang tua pasien.

Selain itu saya juga akan menjelaskan bahwa pada kasus ensefalitis yang berat seperti
yang dialami oleh pasien, sangat diperlukan perawatan rumah sakit sehingga
penderita dapat dimonitor secara hati-hati dan pengobatan dapat segera diberikan jika
diperlukan. Perawatan jangka panjang dengan terus mengikuti perkembangan
penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk mendeteksi adanya sequele
secara dini.
Sebagai penutup dari tulisan ini, maka penulis menyampaikan bahwa
ensefalitis dan sequelenya yang kompleks dan belum diketahui seluruhnya,
memungkinkan tersedianya begitu banyak alternatif penunjang diagnosis dan terapi
yang bervariasi. Namun perlu diingat lagi bahwa dalam menentukan tindakannya,
dokter harus berpedoman bahwa “ diagnostik dan terapi yang paling baik mungkin
terlalu mahal atau mungkin juga tidak tersedia, maka diagnostik dan terapi yang baik
dan tepat adalah yang realistis dan dapat dilaksanakan”.