Você está na página 1de 14

BAB I

PENDAHULUAN

Di Indonesia Angka Kematian Ibu tergolong masih tinggi dan merupakan masalah
besar bagi pembangunan kesehatan di Indonesia. Ketuban pecah dini merupakan salah satu
dari komplikasi persalinan yang menyebabkan kematian pada ibu bersalin. Ketuban Pecah
Dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran
prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan
morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu. Ketuban Pecah Dini (KPD)
didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. KPD merupakan
komplikasi yang behubungan dengan kehamilan kurang bulan, dan mempunyai kontribusi
yang besar pada angka kematian perinatal pada bayi kurang bulan.
Faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini masih belum diketahui penyebabnya
dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Namun terdapat beberapa faktor predisposisi yang
berhubungan erat dengan ketuban pecah dini yaitu : infeksi, servik yang inkompeten, tekanan
intra uterin yang meninggi atau overdistesi, trauma, kelainan letak, multigravida. Penyebab
ketuban pecah dini salah satunya multigravida, karena pada multigravida kanalis servikalis
selalu terbuka oleh karena melahirkan lebih dari 1 kali. Sedangkan pada kelainan letak
menjadi salah satu faktor predisposisi ketuban pecah dini karena pada letak sungsang tidak
ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi
tekanan terhadap membran bagian bawah. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini (KPD)
tergantung pada umur kehamilan dan tanda infeksi intrauterin. Pada umumnya lebih baik
untuk membawa semua pasien dengan ketuban pecah dini ke rumah sakit dan melahirkan
bayi yang usia gestasinya > 37 minggu dalam 24 jam dari pecahnya ketuban untuk
memperkecil resiko infeksi intrauterin.

Dalam menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa yang
positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkan bayi terlalu awal atau
melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya. sebaliknya diagnosa yang negatif
palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan
mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya. Banyak penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa infeksi (65%) sebagai penyebabnya. Penelitian yang dilakukan oleh
Juwita (2007) menunjukkan hasil bahwa coitus saat hamil dengan frekuensi lebih dari 3 kali
seminggu, posisi coitus yaitu suami diatas dan penetrasi penis yang sangat dalam sebesar
37,50%, infeksi genitalia sebesar 37,50%, paritas (multipara) sebesar 37,59%, riwayat KPD
sebesar 18,75% dan usia ibu yang lebih dari 35 tahun merupakan faktor yang mempengaruhi
KPD. Penelitian oleh Ratnawati (2010) menunjukkan hasil bahwa aktivitas berat sebesar
43,75% menyebabkan terjadinya KPD. Penelitian oleh Fitri AS (2011) didapatkan hasil
bahwa infeksi genitalia (70,2%) dan paritas (63,8%) dapat mempengaruhi KPD. Fenomena di
atas terlihat bahwa banyaknya kasus KPD sehingga membuat penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tentang faktor determinan KPD.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ketuban Pecah Dini


Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan.
Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu maka disebut ketuban
pecah dini pada kehamilan prematur. Ketuban pecah dini atau premature rupture of the
membranes (PROM) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda - tanda
persalinan. Sebagian besar ketuban pecah dini terjadi diatas 37 minggu kehamilan,
sedangkan dibawah 36 minggu tidak terlalu banyak.

B. Faktor- faktor yang mempengaruhi ketuban pecah dini


Meskipun banyak publikasi tentang ketuban pecah dini (KPD), namun
penyebabnya secara langsung masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara
pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan
ketuban pecah dini, namun faktor-faktor yang lebih berperan sulit diketahui.
Faktor -faktor predisposisi itu antara lain adalah:
1) Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis).
Korioamnionitis ada lah keadaan pada perempuan hamil dimana korion,
amnion dan cairan ketuban terkena infeksi bakteri. Korioamnionitis merupakan
komplikasi paling serius bagi ibu dan janin, bahkan dapat berlanjut menjadi sepsis.
Membrana khorioamnionitik terdiri dari jaringan viskoelastik. Apabila jaringan ini
dipacu oleh persalinan atau infeksi maka jaringan akan menipis dan sangat rentan
untuk pecah disebabkan adanya aktivitas enzim kolagenolitik. Grup B streptococcus
mikroorganisme yang sering menyebabkan amnionitis. Selain itu Bacteroides fragilis,

Lactobacilli dan Staphylococcus epidermidis adalah bakteri - bakteri yang sering


ditemukan pada cairan ketuban pada kehamilan preterm. Bakteri-bakteri tersebut
dapat melepaskan mediator inflamasi yang menyebabkan kontraksi uterus. Hal ini
menyebabkan adanya perubahan dan pembukaan serviks, dan pecahnya selaput
ketuban. Jika terdiagnosis korioamnionitis, perlu segera dimulai upaya untuk
melahirkan janin sebaiknya pervaginam. Sayangnya, satu-satunya indikator yang
andal untuk menegakkan diagnosis ini hanyalah demam; suhu tubuh 38C atau lebih,
air ketuban yang keruh dan berbau yang menyertai pecah ketuban yang menandakan
infeksi.
2) Infeksi genitalia
Meskipun chlamydia trachomatis adalah patogen bakteri paling umum yang
ditularkan lewat hubungan seksual, tetapi kemungkinan pengaruh infeksi serviks oleh
organisme ini pada ketuban pecah dini dan kelahiran preterm belum jelas. Pada wanita
yang mengalami infeksi ini banyak mengalami keputihan saat hamil juga mengalami
ketuban pecah dini kurang dari satu jam sebelum persalinan dan mengakibatkan berat
badan lahir rendah. Seorang wanita lebih rentan mengalami keputihan pada saat hamil
karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang salah satu dampaknya adalah
peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan keasaman vagina serta terjadi pula
perubahan pada kondisi pencernaan. Keputihan dalam kehamilan sering dianggap
sebagai hal yang biasa dan sering luput dari perhatian ibu maupun petugas kesehatan
yang melakukan pemeriksaan kehamilan. Meskipun tidak semua keputihan
disebabkan oleh infeksi, beberapa keputihan dalam kehamilan dapat berbahaya karena
dapat menyebabkan persalinan kurang bulan (prematuritas), ketuban pecah sebelum
waktunya atau bayi lahir dengan berat badan rendah (< 2500 gram). Sebagian wanita
hamil tidak mengeluhkan keputihannya karena tidak merasa terganggu padahal

keputihanya dapat membahayakan kehamilannya, sementara wanita hamil lain


mengeluhkan gejala gatal yang sangat, cairan berbau namun tidak berbahaya bagi
hasil persalinannya. Dari berbagai macam keputihan yang dapat terjadi selama
kehamilan, yang paling sering adalah kandidiosis vaginalis, vaginosis bakterial dan
trikomoniasi.
3) Serviks
Serviks yang tidak lagi mengalami kontraksi (inkompetensia), didasarkan pada
adanya

ketidakmampuan

serviks

uteri

untuk

mempertahankan

kehamilan.

Inkompetensi serviks sering menyebabkan kehilangan kehamilan pada trimester


kedua. Kelainan ini dapat berhubungan dengan kelainan uterus yang lain seperti
septum uterus dan bikornis. Sebagian besar kasus merupakan akibat dari trauma
bedah pada serviks pada konisasi, produksi eksisi loop elektrosurgical, dilatasi
berlebihan serviks pada terminasi kehamilan atau laserasi obstetrik.
4) Trauma juga diyakini berkaitan dengan terjadinya ketuban pecah dini.
Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual saat hamil baik dari
frekuensi yang lebih dari 3 kali seminggu, posisi koitus yaitu suami diatas dan
penetrasi penis yang sangat dalam sebesar 37,50% memicu terjadinya ketuban pecah
dini, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis dapat menyebabkan terjadinya
ketubanpecah dini karena biasanya disertai infeksi. Kelainan letak janin misalnya
letak lintang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul
(PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah. Hubungan
seksual selama hamil memiliki banyak dampak terhadap kehamilan. Pada trimester
pertama kehamilan biasanya gairah seks mengalami penurunan. Hal ini terjadi akibat
ibu didera mual, muntah, lemas, malas dan apapun yang bertolak belakang dengan
semangat libido. Tetapi trimester kedua umumnya libido timbul kembali, tubuh ibu

telah dapat menerima kembali, tubuh telah terbiasa dengan kondisi kehamilan
sehingga ibu dapat menikmati aktifitas dengan lebih leluasa dari pada trimester
pertama. Mual-muntah dan segala rasa tidak enak biasanya sudah jauh berkurang
demikian pula urusan hubungan seksual. Ini akibat meningkatnya pengalihan darah ke
organ-organ seksual seperti vagina dan payudara. Memasuki trimester ketiga
minat/libido menurun kembali, tetapi hal ini tidak berlaku pada semua wanita hamil.
Tidak sedikit wanita yang libidonya sama seperti trimester sebelumnya, hal ini normal
sebab termasuk beruntung karena tidak tersiksa oleh kaki bengkak, sakit kepala, sakit
punggung dan pinggul, berat badan yang semakin bertambah atau keharusan istirahat
total. Frekuensi koitus pada trimester ketiga kehamilan yang lebih dari tiga kali
seminggu diyakini berperan pada terjadinya ketuban pecah dini, hal ini berkaitan
dengan kondisi orgasme yang memicu kontraksi rahim, namun kontraksi ini berbeda
dengan kontraksi yang dirasakan menjelang persalinan. Selain itu, paparan terhadaap
hormon prostaglandin didalam semen (cairan sperma) juga memicu kontraksi yang
walaupun tidak berbahaya bagi kehamilan normal, tetapi harus tetap diwaspadai jika
memiliki resiko melahirkan prematur. Oleh sebab itu pada kehamilan tua untuk
mengurangi resiko kelahiran preterm maupun ketuban pecah adalah dengan
mengurangi frekwensi hubungan seksual atau dalam keadaan betul-betul diperluka n
wanita tidak orgasme meski menyiksa. Tapi jika tetap memilih koitus, keluarkanlah
sperma diluar dan hindari penetrasi penis yang terlalu dalam serta pilihlah posisi
berhubungan yang aman agar tidak menimbulkan penekanan pada perut ataupun
dinding rahim. Mengurangi frekwensi koitus yang sejalan dengan meminimalkan
orgasme selain dapat mengurangi terjadinya ketuban pecah dini, dapat pula
mengurangi penekanan pembuluh darah tali pusat yang membawa oksigen untuk

janin, sebab penekanan yang berkepanjangan oleh karena kontraksi pada pembuluh
darah uri dapat menyebabkan gawat janin akibat kurangnya supply oksigen ke janin.
5) Faktor paritas, terbagi menjadi primipara dan multipara.
Primipara adalah wanita yang pernah hamil sekali dengan janin mencapai titik
mampu bertahan hidup. Ibu primipara yang mengalami ketuban pecah dini berkaitan
dengan kondisi psikologis, mencakup sakit saat hamil, gangguan fisiologis seperti
emosi dan termasuk kecemasan akan kehamilan. Selain itu, hal ini berhubungan
dengan aktifitas ibu saat hamil yaitu akhir triwulan kedua dan awal triwulan ketiga
kehamilan yang tidak terlalu dibatasi dan didukung oleh faktor lain seperti keputihan
atau infeksi maternal. multipara adalah wanita yang telah beberapa kali mengalami
kehamilan dan melahirkan anak hidup. Wanita yang telah melahirkan beberapa kali
dan mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya serta jarak kelahiran
yang terlampau dekat, diyakini lebih beresiko akan mengalami ketuban pecah dini
pada kehamilan berikutnya. Meski bukan faktor tunggal penyebab ketuban pecah dini
namun faktor ini juga diyakini berpengaruh terhadap terjadinya ketuban pecah dini.
Yang didukung satu dan lain hal pada wanita hamil tersebut, seperti keputihan, stress
(beban psikologis) saat hamil dan hal lain yang memperberat kondisi ibu dan
menyebabkan ketuban pecah dini.
6) Riwayat ketuban pecah dini
sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami ketuban pecah dini kembali.
Patogenesis terjadinya ketuban pecah dini secara singkat ialah akibat adanya
penurunan kandungan kolagen dalam membrane sehingga memicu terjadinya ketuban
pecah dini dan ketuban pecah dini preterm terutama pada pasien risiko tinggi. Wanita
yang mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan atau menjelang persalinan maka
pada kehamilan berikutnya wanita yang telah mengalami ketuban pecah dini akan

lebih beresiko mengalaminya kembali antara 3-4 kali dari pada wanita yang tidak
mengalami ketuban pecah dini sebelumnya, karena komposisi membran yang menjadi
mudah rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada kehamilan
berikutnya.
7) Overdistensi uterus
Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan ( misalnya hidramnion dan
gemeli.
8) Pada kelahiran kembar
Kelahiran kembar sebelum 37 minggu sering terjadi pelahiran preterm,
sedangkan bila lebih dari 37 minggu lebih sering mengalami ketuban pecah dini.
Perubahan pada volume cairan amnion diketahui berhubungan erat dengan hasil akhir
kehamilan yang kurang bagus. Baik karakteristik janin maupun ibu dikaitkan dengan
perubahan pada volume cairan amnion. Polihidramnion, akumulasi berlebihan cairan
amnion (>2 liter), seringkali terjadi disertai gangguan kromosom, kelainan struktur
seperti fistula trakeosofageal, defek pembuluh saraf dan malformasi susunan sarap
pusat akibat penyalahgunaan zat dan diabetes pada ibu. AFI (amnion fluid indeks)
pada kehamilan cukup bulan secara normal memiliki rentang antara 5,0cm dan
23,0cm. Polihidramnion dapat terjadi akibat kelainan kongenital, diabetes mellitus,
janin besar (makrosomia), kehamilan kembar, kelainan pada plasenta dan tali pusat
dan penggunaan obat-obatan (misalnya propiltiourasil). Kelainan kongenital yang
sering menimbulkan polihidramnion adalah defek tabung neural, obstruksi traktus
gastrointestinal bagian atas, dan kelainan kromosom (trisomi 21, 18, 8, 13)
komplikasi yang sering terjadi pada polihidramnion adalah malpresentasi janin,
ketuban pecah dini, prolaps tali pusat, persalinan pretem dan gangguan pernafasan
pada ibu. Kehamilan kembar juga sangat penting diidentifikasi sejak dini. Sejumlah
komplikasi yang dihubungakan dengan kehamilan, persalinan dan pelahiran serta
masa nifas pada wanita yang mengandung lebih dari satu janin. Kemungkinan yang

mungkin timbul pada kehamilan kembar adalah anomali janin, keguguran dini, lahir
hidup, plasenta previa, persalinan dan pelahiran preterm, diabetes kehamilan,
preeklamsi, malpresentasi dan persalinan dengan gangguan. Pada kehamilan kembar,
evaluasi plasenta bukan hanya mencakup posisinya tetapi juga korionisitas kedua
janin. Pada banyak kasus adalah mungkin saja menentukan apakah janin merupakan
kembar monozigot atau dizigot. Selain itu, dapat juga ditentukan apakah janin terdiri
dari satu atau dua amnion. Upaya membedakan ini diperlukan untuk memperbaiki
resiko kehamilan. Pengawasan pada wanita hamil kembar perlu ditingkatkan untuk
mengevaluasi resiko persalinan preterm. Gejala persalinan preterm harus ditinjau
kembali dengan cermat setiap kali melakukan kunjungan. Wanita dengan kehamilan
kembar beresiko tinggi mengalami ketuban pecah dini juga preeklamsi. Hal ini
biasanya disebabkan oleh peningkatan massa plasenta dan produksi hormon. Oleh
karena itu, akan sangat membantu jika ibu dan keluarga dilibatkan dalam mengamati
gejala yang berhubungan dengan preeklamsi dan tanda-tanda ketuban pecah.
Kehamilan dengan janin kembar juga akan mempengaruhi kenyamanan dan citra
tubuh, kesiapan perawatan bayi dan keuangan, semua faktor ini akan menimbulkan
stres dan hendaknya petugas kesehatan lebih banyak memberi konseling dan
pendidikan kesehatan. Konseling tentang persalinan pretem dan preeklamsi perlu di
upayakan guna memberi perawatan kehamilan dengan janin kembar yang bermutu.
9) Usia ibu yang 20 tahun
Usia yang terlalu muda dengan keadaan uterus yan kurang matur untuk
melahirkan sehingga rentan mengalami ketuban pecah dini. Sedangkan ibu dengan
usia 35 tahun tergolong usia yang terlalu tua untuk melahirkan khususnya pada ibu
primi (tua) dan beresiko tinggi mengalami ketuban pecah dini. Usia dan fisik wanita
sangat berpengaruh terhadap proses kehamilan pertama, pada kesehatan janin dan
proses persalinan. World Health Organisation (WHO) memberikan rekomendasi

untuk usia yang dianggap paling aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20
hingga 30 tahun. Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun dapat menimbulkan masalah
karena kondisi fisik belum 100% siap. Beberapa resiko yang bisa terjadi pada
kehamilan di usia kurang dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah
dan pertumbuhan janin terhambat. Bisa jadi secara mental pun wanita belum siap. Ini
menyebabkan kesadaran untuk memeriksakan diri dan kandungannya menjadi rendah.
Di luar urusan kehamilan dan persalinan, risiko kanker leher rahim pun meningkat
akibat hubungan seks dan melahirkan sebelum usia 20 tahun ini. Berbeda dengan
wanita usia 20-30 tahun yang dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan
persalinan. Di rentang usia ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim
sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk kehamilan.
Umumnya secara mental pun siap, yang berdampak pada perilaku merawat dan
menjaga kehamilannya secara hati-hati. Usia 30-35 tahun sebenarnya merupakan
masa transisi Kehamilan pada usia ini masih bisa diterima asal kondisi tubuh dan
kesehatan wanita yang bersangkutan termasuk gizinya, dalam keadaan baik. Mau
tidak mau, suka atau tidak suka, proses kehamilan dan persalinan berkaitan dengan
kondisi dan fungsi organ-organ wanita. Artinya, sejalan dengan bertambahnya usia,
tidak sedikit fungsi organ yang menurun. Semakin bertambah usia, semakin sulit
hamil karena sel telur yang siap dibuahi semakin sedikit. Selain itu, kualitas sel telur
juga semakin menurun. Itu sebabnya, pada kehamilan pertama di usia lanjut, resiko
perkembangan janin tidak normal dan timbulnya penyakit kelainan bawaan juga
tinggi, begitu juga kondisi-kondisi lain yang mungkin mengganggu proses kehamilan
dan persalinan seperti kelahiran preterm ataupun ketuban pecah dini. Meningkatnya
usia juga membuat kondisi dan fungsi rahim menurun. Salah satu akibatnya adalah
jaringan rahim yang tak lagi subur. Padahal, dinding rahim tempat menempelnya

plasenta. Kondisi ini memunculkan kecenderungan terjadinya plasenta previa atau


plasenta tidak menempel di tempat semestinya. Selain itu, jaringan rongga panggul
dan otot-ototnya pun melemah sejalan pertambahan usia. Hal ini membuat rongga
panggul tidak mudah lagi menghadapi dan mengatasi komplikasi yang berat, seperti
perdarahan. Pada keadaan tertentu, kondisi hormonalnya tidak seoptimal usia
sebelumnya. Itu sebabnya, resiko keguguran, ketuban pecah, kematian janin, dan
komplikasi lainnya juga meningkat. Namun secara umum periode waktu dari ketuban
pecah dini sampai kelahiran berbanding terbalik dengan usia gestasi saat ketuban
pecah, jika ketuban pecah pada trimester ketiga, maka hanya diperlukan beberapa hari
saja sehingga pelahiran terjadi dibandingkan dengan trimester kedua.
.
C. Mekanisme Terjadinya Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus
dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi
perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena
selaput ketuban rapuh. Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester
tiga selaput ketuban mudah pecah. Melemahnya kekuatan selaput ada hubungannya
dengan pembesaran uterus, kontraksi rahim, dan gerakan janin. Pecahnya ketuban pada
kehamilan aterm merupakan hal fisiologis. Ketuban pecah dini pada kehamilan prematur
disebabkan oleh adanya faktor-faktor eksternal, misalnya infeksi yang menjalar dari
vagina. Mekanisme ketuban pecah dini ini terjadi pembukaan prematur serviks dan
membran terkait dengan pembukaan terjadi devolarisasi dan nekrosis serta dapat diikut i
pecah spontan. Jaringan ikat yang menyangga membran ketuban makin berkurang.
Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat dengan infeksi yang mengeluarkan enzim
proteolitik, enzim kolagenase. Masa interval sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi

disebut fase laten, makin panjang fase laten, semakin tinggi kemungkinan infeksi.
Semakin muda kehamilan, makin sulit pula pemecahannya tanpa menimbulkan
morbiditas janin. Oleh karena itu komplikasi ketuban pecah dini semakin meningkat.

D. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala yang selalu ada ketika terjadi ketuban pecah dini adalah
keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina, cairan vagina berbau amis dan tidak
seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, disertai
dengan demam/menggigil, juga nyeri pada perut, keadaan seperti ini dicurigai mengalami
amnionitis. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai
kelahiran. Tetapi bila ibu duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah
biasanya mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk sementara. Ada pula tanda
dan gejala yang tidak selalu ada (kadang-kadang) timbul pada ketuban pecah dini seperti
ketuban pecah secara tiba-tiba, kemudian cairan tampak diintroitus dan tidak adanya his
dalam satu jam. Keadaan lain seperti nyeri uterus, denyut jantung janin yang semakin
cepat serta perdarahan pervaginam sedikit tidak selalu dialami ibu dengan kasus ketuban
pecah dini. Namun, harus tetap diwaspadai untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada
ibu maupun janin.

E. Komplikasi
Ada tiga komplikasi utama yang terjadi pada ketuban pecah dini adalah
peningkatan morbiditas dan mortalitas neonatal oleh karena prematuritas, komplikasi
selama persalinan dan kelahiran yaitu resiko resusitasi, dan yang ketiga adanya risiko
infeksi baik pada ibu maupun janin. Risiko infeksi karena ketuban yang utuh merupakan
barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Sekitar tiga puluh persen

kejadian mortalitas pada bayi preterm dengan ibu yang mengalami ketuban pecah dini
adalah akibat infeksi, biasanya infeksi saluran pernafasan (asfiksia). Selain itu, akan
terjadi prematuritas. Sedangkan, prolaps tali pusat dan malpresentrasi akan lebih
memperburuk kondisi bayi preterm dan prematuritas. Dengan tidak adanya selaput
ketuban seperti pada ketuban pecah dini, flora vagina normal yang ada bisa menjadi
patogen yang bisa membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Morbiditas dan
mortalitas neonatal meningkat dengan makin rendahnya umur kehamilan. Komplikasi
pada ibu adalah terjadinya risiko infeksi dikenal dengan korioamnionitis akibat jalan lahir
telah terbuka, apalagi bila terlalu sering dilakukan pemeriksaan dalam. Dari studi
pemeriksaan histologis cairan ketuban 50% wanita yang melahirkan prematur, didapatkan
korioamnionitis (infeksi saluran ketuban), akan tetapi sang ibu tidak mempunyai keluhan
klinis. Infeksi janin dapat terjadi septikemia, pneumonia, infeksi traktus urinarius dan
infeksi lokal misalnya konjungtivitis. Selain itu juga dapat dijumpai perdarahan
postpartum, infeksi puerpuralis (nifas), peritonitis, atonia uteri dan septikemia, serta drylabor. Ibu akan merasa lelah karena berbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama,
maka suhu badan naik, nadi cepat dan tampaklah gejala-gejala infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Admin.(2011).Kesehatan

Ibu.

Kementrian

kesehatan

republik

Indonesia

http://www.kesehatanibu.depkes.go.id,. Diakses pada tangal 24Maret 2013


2. Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta :
Rineka Cipta
3. Cunningham,F.Gary.(2005).Obstetri William edisi 21.Jakarta: Buku Kedokteran
4. Fadlun, A.Ferryanto. (2011). Asuhan Kebidanan Patologis.Jakarta : Salemba Medika
5. Hidayat, A. Aziz Alimul.2011. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis
Data.Jakarta : Salemba Medika
6. Hidayat, Asri dan Sujiyatini.(2010). Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Nuha
Medika
7. Mansjoer, Arif, dkk. (2007). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapis
8. Manuaba, Ide Ayu Chandranita, dkk. (2010). Ilmu Kebidanann, Penyakit Kandungan,
dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
9. Manuaba,Ida Bagus Gede,dkk. (2007). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
10. Morgan,Gery. (2009). Obstetri dan Ginekologi.Jakarta :EGC
11. Norwitz, Errol R dan Schorge, John D. (2008). Obstetri dan Ginekologi. Jakarta:
Erlangga
12. Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta
13. Notoadmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta
14. Nugroho,taufan.(2010). Buku Ajar Obstetri. Yogyakarta: Nuha Medika
15. Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika
16. Rukiyah, Ai Yeyeh.(2010). Asuhan Kebidanan IV(Patologi Kebidanan).Jakarta : Trans
Info Media
17. Saifuddin, B.A., dkk. (2009). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan. Jakarta :
PT. Bina Pustaka
18. Sarwono Prawirohardjo Sinsin, Lis. (2008). Seri Kesehatan Ibu dan Anak Masa
Kehamilan dan Persalinan. Jakarta : PT.Elex Media Komputindo Sofian, Amru.
(2012).
19. Rustam MochtarSinopsis Obstetri Jilid 1.Jakarta : EGC
20. Sujiyatini.,dkk. (2009). Asuhan Patologi Kebidanan.Yogyakarta: Nuha Medika
21. Sumarah, dkk. (2009). Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Bersalin). Yogyakarta : Fitramaya
22. Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC
23. Wiknjosastro, Hanifa. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
24. Wawan,A dan M, Dewi. (2010). Teori dan Pengukuran Pengetahuan Sikap dan
Perilaku Manusia. Yogyakarta : Nuha Medika
25. Yulaikhah, Lily. (2008). Seri Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta : EGC