Você está na página 1de 81

Asuhan Keperawatan Katarak

, Contoh Asuhan Keperawatan Katarak, Makalah Asuhan Keperawatan Katarak, Katarak


adalah kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur angsur penglihatan kabur
akhirnya tidak dapat menerima cahaya.
Contoh Asuhan Keperawatan Katarak

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional, telah mewujudkan
hasil ynag positif di berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan eknomi, perbaikan linkungan
hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang medis atau ilmu
kedokteran sehingga dapat meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya jumlah
penduduk yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat.
Peningkatan umur harapan hidup masyarakat di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1 Angka Harapan Hidup di Indonesia
Tahun
1971

Laki-laki
44,2

Perempuan
47,2

Total

1980

50,6

53,7

52,2

1990

58,1

61,5

59,8

1995

61,5

65,4

63,5

2000

63,3

67,2

65,3

2005

64,9

68,8

66,9

2010

66,4

70,4

68,4

2015

67,7

71,7

69,8

2020
69,0
73,0
Sumber: BPS, 1992, 1993 Keterangan: Angka harapan hidup sejak lahir

45,7

71,7

Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata
rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di negara maju
seperti Amerika Serikat pertambahan orang lanjut usia lebih kurang 1000 orang per hari pada

tahun 1985 dan diperkirakan 50% dari penduduk berusia di atas 50 tahun sehingga istilah
Baby Boom pada masa lalu berganti menjadi Ledakan penduduk lanjut usia.
Menurut penelitian yang dilakukan terhadap orang lanjut usia di Indonesia yang dilakukan
oleh Prof. Dr.R. Boedhi Darmojo, terjadi peningkatan jumlah lanjut usia yang sangat
signifikan seperti terlihat dalam tabel berikut:
Tabel 1.1 Demografi Orang Lanjut Usia di Indonesia
Tahun
1980
1985
Total penduduk (55 tahun ke atas) 148
165
a. Total (juta)
11,4
13,3
b. Persentase (%)
7,7
8
Harapan hidup
55,30
58,19
Menurut penelitian Prof. Dr. R. Boedhi Darmojo

1990
183
16
8,7
61,12

1995
202
19
9,4
64,05

2000
222
22,2
10
65-70

2020
29,12
11,09
70-75

Berdasarkan Data pada Biro Pusat Statistika dan beberapa sumber lain, dapat diketahui
jumlah dan prosentase populasi lansia di Indonesia pada tahun 1971 2020 sesuai pada tabel
berikut ini:
Tabel 1.2 Jumlah dan Persentase Populasi Lansia Indonesia 1971 2020
Tahun

Jumlah Lansia
Persentase
1971 (a)
5.306.874
4,48%
1980 (b)
7.998.543
5,45%
1990 (c)
11.277.557
6,29%
1995 (d)
12.778.212
6,56%
2000 (d)
15.262.199
7,28%
2005 (d)
17.767.709
7,97%
2010 (d)
19.936.859
8,48%
2015 (d)
23.992.553
9,77%
2020 (d)
28.822.879
11,34%
Sumber: (a) Biro Pusat Statistika, 1974; (b) Biro Pusat Statistika,1983; (c) Biro Pusat
Statistika, 1992; (d) Ananta dan Anwar, 1994. Dikutip oleh Djuhari dan Anwar, 1994
Meningkatnya umur harapan hidup dipengaruhi oleh:
1)

Majunya pelayanan kesehatan

2)

Menurunnya angka kematian bayi daan anak

3)

Perbaikan gizi dan sanitasi

4)

Meningkatnya pengawasan terhadap penyakit infeksi

Secara individu, pada usia di atas 55 tahun terjadi proses penuaan secara alamiah. Hal ini
akan menimbulkan masalah fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis. Dengan

bergesernya pola perekonomian dari pertanian ke industri maka pola penyakit pada lansia
juga bergeser dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular (degeneratif).
Survei rumah tangga tahun 1980, angka kesakitan penduduk usia lebih dari 55 tahun sebesar
25,70% diharapkan pada tahun 2000 nanti angka tersebut menjadi 12,30% (Depkes RI,
Pedoman Pembinaan Kesehatan Lanjut Usia Bagi Petugas Kesehatan I, 1992).
Perawatan terhadap pasien lansia bisa menjadi tugas yang menantang bagi para tenaga klinis.
Perubahan perubahan kecil dalam kemampuan seorang pasien lansia untuk melaksanakan
aktivitas sehari hari atau perubahan kemampuan seorang pemberi asuhan keperawatan
dalam memberikan dukungan hendaknya memiliki kemampuan untuk mengkaji aspek
fungsional, sosial, dan aspek aspek lain dari kondisi klien lansia.
Berkaitan dengan peran pemberi asuhan keperawatan dalam hal ini perawat sebagai salah
satu kompetensi yang harus diemban, maka dirasa perlu untuk mengadakan praktek
keperawatan klinik khususnya pada klien lansia sebagai konteks keperawatan gerontik, maka
pada kesempatan mengenyam tahap profesi ini, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Angkatan II, Gerbong I, diterjunkan
secara langsung di Panti Sosial Tresna Werdha Bahagia di Kabupaten Magetan, guna
mendapat pengalaman secara langsung mengenai perubahan perubahan yang terjadi pada
lansia serta konsep asuhan keperawatan pada klien lansia yang mengalami gangguan atau
masalah kesehatan.
1.2 Tujuan Kegiatan
Tujuan kegiatan praktek keperawatan gerontik adalah sebagai lahan penerapan asuhan
keperawatan gerontik khusunya pada klien lansia dengan post operasi katarak guna
meningkatkan status kesehatan klien lansia.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat praktek keperawatan gerontik adalah:
1)
2)

Sebagai lahan penerapan asuhan keperawatan gerontik bagi mahasiswa.


Membantu meningkatkan status kesehatan lansia melalui pendekatan praktek

keperawatan.
1.4 Sistematika Laporan
Sistematika laporan kegiatan ini adalah:
1)

Bab 1 Pedahuluan memuat: Latar Belakang, Tujuan Kegiatan, Manfaat an Sistematika

Laporan.
2)

Bab 2 Konsep Teori memuat: Konsep Lansia, Konsep Penyakit Post Operasi Katarak dan

Konsep Asuhan Keperawatan Pada Klien Post Operasi Katarak.

3)

Bab 3 Asuhan Keperawatan Gerontik memuat: Pengkajian, Perumusan Diagnosa

Keperawatan, Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi.


4)

Bab

Penutup,

memuat:

Kesimpulan

dan

Saran.

BAB 2
KONSEP TEORI
Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep teori yang memuat: Konsep Lansia, Konsep
Penyakit Post Operasi Katarak dan Konsep Asuhan Keperawatan Klien Dengan Post Operasi
Katarak.
2.1 Konsep Teori Lansia
2.1.1 Batasan Lansia
Menurut oraganisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi:
1)

Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.

2)

Lanjut usia (elderly) antara 60 74 tahun

3)

Lanjut usia tua (old) antara 75 90 tahun

4)

Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun

2.1.2 Proses Menua


Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah
melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho,
1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua
berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan
kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk,
gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan
kurang gairah.
Meskpun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus
menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan:
1)

Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,

2)

Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari hari,

3)

Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo, 1996)

Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan perubahan yangmenuntut


dirinya untuk menyesuakan diri secara terus menerus. Apabila proses penyesuaian diri
dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hurlock (1979)
seperti dikutip oleh MunandarAshar Sunyoto (1994) menyebutkan masalah masalah yang
menyertai lansia yaitu:

1)

Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain,

2)

Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya,

3)

Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau

pindah,
4)

Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak dan

5)

Belajar memperlakukan anak anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan

perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalah
perubahan gerak.
Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri makin
bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat terhadap
uang semakin meningkat, terakhir minta terhadap kegiatan kegiatan rekreasi tak berubah
hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri usia lanjut
untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut
diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan
kebugaran fisiknya.
Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang
dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan
akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah
memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap
peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia adalah
perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan dan
peran sosial (Goldstein, 1992)
Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri ciri penyesuaian yang
tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979, Munandar, 1994) adalah:
1)

Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya.

2)

Penarikan diri ke dalam dunia fantasi

3)

Selalu mengingat kembali masa lalu

4)

Selalu khawatir karena pengangguran,

5)

Kurang ada motivasi,

6)

Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan

7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan.


Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat yang kuat,
ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja,

menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimla trehadap diri
dan orang lain.
2.1.3 Teori Proses Menua
1) Teori teori biologi
a)

Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies spesies tertentu.
Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul
molekul / DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang
khas adalah mutasi dari sel sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel)
b)

Pemakaian dan rusak

Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel sel tubuh lelah (rusak)
c)

Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)

Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan
tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah
dan sakit.
d) Teori immunology slow virus (immunology slow virus theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh
dapat menyebabkab kerusakan organ tubuh.
e)

Teori stres

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak
dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres
menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
f)

Teori radikal bebas

Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom)
mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein.
Radikal bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
g) Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya
jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan dan hilangnya
fungsi.
h) Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut
mati.
2) Teori kejiwaan sosial

a) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)


- Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini
menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam
kegiatan sosial.
- Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia.
- Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia
pertengahan ke lanjut usia
b)

Kepribadian berlanjut (continuity theory)

Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan
gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada
seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki.
c)

Teori pembebasan (disengagement theory)

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur
mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial
lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi
kehilangan ganda (triple loss), yakni :
1.

kehilangan peran

2.

hambatan kontak sosial

3.

berkurangnya kontak komitmen

2.1.4 Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia


Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia,
antara lain: (Setiabudhi, T. 1999 : 40-42)
1) Permasalahan umum
a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.
b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut
kurang diperhatikan , dihargai dan dihormati.
c) Lahirnya kelompok masyarakat industri.
d) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia.
e) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.
2) Permasalahan khusus :
a) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik, mental
maupun sosial.
b) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.
c) Rendahnya produktifitas kerja lansia.

d) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.


e) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat
individualistik.
f) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik
lansia
2.1.5 Faktor faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan
1)

Hereditas atau ketuaan genetik

2)

Nutrisi atau makanan

3)

Status kesehatan

4)

Pengalaman hidup

5)

Lingkungan

6)

Stres

2.1.6 Perubahan perubahan Yang Terjadi Pada Lansia


1)

Perubahan fisik

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistim organ tubuh, diantaranya sistim
pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh,
muskuloskeletal, gastro intestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.
2)

Perubahan mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :


a)

Pertama-tama perubahan fisik, khsusnya organ perasa.

b)

Kesehatan umum

c)

Tingkat pendidikan

d)

Keturunan (hereditas)

e)

Lingkungan

f)

Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.

g)

Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.

h) Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili.
i)

Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri, perubahan

konsep dir.
3)

Perubahan spiritual

Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970)


Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya , hal ini terlihat dalam berfikir dan
bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970)
2.1.7 Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Lansia

Menurut the National Old Peoples Welfare Council , dikemukakan 12 macam penyakit
lansia, yaitu :
1)

Depresi mental

2)

Gangguan pendengaran

3)

Bronkhitis kronis

4)

Gangguan pada tungkai/sikap berjalan.

5)

Gangguan pada koksa / sendi pangul

6) Anemia
7)

Demensia

2.2 Konsep Penyakit Katarak


2.2.1 Definisi
Katarak adalah kekeruhan pada lensa tanpa nyeri yang berangsur angsur penglihatan
kabur akhirnya tidak dapat menerima cahaya (Barbara C.Long, 1996)
2.2.2 Etiologi
1)

Ketuaan biasanya dijumpai pada katarak Senilis

2) Trauma terjadi oleh karena pukulan benda tajam/tumpul, terpapar oleh sinar X atau
benda benda radioaktif.
3)

Penyakit mata seperti uveitis.

4)

Penyakit sistemis seperti DM.

5)

Defek kongenital

2.2.3 Patofisiologi
Dalam keadaan normal transparansi lensa terjadi karena adanya keseimbangan atara protein
yang dapat larut dalam protein yang tidak dapat larut dalam membran semipermiabel.
Apabila terjadi peningkatan jumlah protein yang tdak dapat diserap dapat mengakibatkan
penurunan sintesa protein, perubahan biokimiawi dan fisik dan protein tersebut
mengakibatkan jumlah protein dalam lens melebihi jumlah protein dalam lensa melebihi
jumlah protein dalam bagian ynag lain sehingga membentuk suatu kapsul yang dikenal
dengan nama katarak. Terjadinya penumpukan cairan/degenerasi dan desintegrasi pada
serabut tersebut menyebabkan jalannya cahaya terhambat dan mengakibatkan gangguan
penglihatan.
2.2.4 Macam macam Katarak
1)

katarak kongenital

Adalah katarak sebagian pada lensa yang sdah idapatkan pada waktu lahir. Jenisnya adalah:
a)

Katarak lamelar atau zonular.

b)

Katarak polaris posterior.

c)

Katarak polaris anterior

d)

Katarak inti (katarak nuklear)

e)

Katarak sutural

2)

Katarak juvenil

Adalah katarak yang terjadi pada anak anak sesudah lahir.


3)

Katarak senil

Adalah kekeruhan lensa ang terjadi karena bertambahnya usia. Ada beberapa macam yaitu:
a)

katarak nuklear

Kekeruhan yang terjadi pada inti lensa


b)

Katarak kortikal

Kekeruhan yang terjadi pada korteks lensa


c)

Katarak kupliform

Terlihat pada stadium dini katarak nuklear atau kortikal.


Katarak senil dapat dibagi atas stadium:
a)

katarak insipiens

Katarak yang tidak teratur seperti bercak bercak yang membentuk gerigi dengandasar di
perifer dan daerah jernih di antaranya.
b)

katarak imatur

Terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga
masih terdapt bagian- bagian yang jernih pada lensa.
c)

katarak matur

Bila proses degenerasi berjala terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama sama hasil
desintegritas melalui kapsul.
d)

katarak hipermatur

Merupakan proses degenerasi lanjut sehingga korteks lensa mencair dan dapat keluar melalui
kapsul lensa.
4)

Katarak komplikasi

Terjadi akibat penyakit lain. Penyakit tersebut dapat intra okular atau penyakit umum.
5)

Katarak traumatik

Terjadi akibat ruda paksa atau atarak traumatik.


2.3 Kosep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Post Operasi Katarak
2.3.1 Pengkajian
1)

Data Subyektif

a)

Nyeri

b)

Mual

c)

Diaporesis

d)

Riwayat jatuh sebelumnya

e)

Pengetahuan tentang regimen terapeutik

f)

Sistem pendukung, lingkungan rumah.

2)

Data obyektif

a)

Perubahan tanda tanda vital

b)

Respon yang azim terhadap nyeri

c)

Tanda tanda infeksi:

Kemerahan

Edema

Infeksi konjungtiva (pembuluh darah konjungtiva menonjol)

Drainase pada kelopak mata dan bulu mata

Zat purulen

Peningaktan suhu tubuh

Nilai laboratorium: peningkatan SDP, perubahan SDP, hasil pemeriksaan kultur

sesitivitas abnormal.
d)

Ketajaman penglihatan masing masing mata.

e)

Cara berjalan, riwayat jatuh sebelumnya.

f)

Kemungkinan penghalang lingkungan seperti;

kaki kursi, perabot yang rendah

Tiang infus

Tempat sampah

Sandal

g)

Kesiapan dan kemampuan untuk belajar dan menyerap informasi.

2.3.2 Perumusan Diagnosa Keperawatan


2)

Nyeri akut b/d interupsi pembedahan jaringan tubuh

3)

Resiko tinggi terhadap infeksi b/d peningkatan perentanan sekunder terhadap interupsi

permukaan tubuh.
4)

Resiko tinggi terhadap cidera b/d keterbatasan penglihatan, berada di lingkungan yang

asing dan keterbatasan mobilitas dan perubahan kedalaman persepsi karena pelindung mata.
5)

Resiko tinggi terhadap infektif penatalaksanaan regimen terapeutik b/d kurang aktivitas

yang diijinkan, obat obatan, komplikasi dan perawatan lanjutan.

2.3.3 Perencanaan
1)

Nyeri akut

a)

Tujuan: nyeri teratasi

b)

Kriteria hasil: klien melaporkan penurunan nyeri progresif dan penghilangan nyeri

setelah intervensi.
c)

Intervensi:
Bantu klien dalam mengidentifikasi tindakan penghilangan nyeri yang efektif.

Rasional: Membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi.

Jelaskan bahwa nyeri dapat akan terjadi sampai beberapa jam setelah pembedahan.

Rasional: Nyeri post op dapat terjadi sampai 6 jam post op.

Lakukan tindakan penghilanagn nyeri non invasif atau non farmakologik, seperti

berikut;
-

Posisi: tinggikan bagian kepala tempat tidur, berubah ubah antara berbaring pada

punggung dan pada sisi yang tidak dioperasi.


-

Distraksi

Latihan relaksasi

Rasional: beberapa tindakan penghilang nyeri non invasif adalah tindakan mandiri yang dapat
dilaksanakan perawat dalam usaha meningkatkan kenyamanan pada klien.

Berikan dukungan tindakan penghilangan nyeri dengan aalgesik yang diresepkan.

Rasional: Analgesik mambantu dalam menekan respon nyeri dan menimbulkan kenyamanan
pada klien.

Beritahu doker jika nyeri tidak hilang setelah jam pemberian obat, jika nyeri disertai

mual atau jika anda memperhatikan drainase pada pelindung mata.


Rasional: Tanda ini menunjukkan peningaktan tekanan intra okuli (TIO) atau komplikasi lain.
2)

Resiko tinggi terhadap infeksi

a)

Tujuan: infeksi tidak terjadi.

b)

Kriteria hasil: klien akan menunjukkan penyembuhan insisi tanpa gejala infeksi.

c)

Intervensi:

Tingkatkan penyembuhan luka:


Berikan dorongan untuk mengikuti diet yang seimbang dan asupancairan yang

adekuat.
-

Instruksikan klien untuk tetap menutup mata sampai hari pertama setelah operasi atau

sampai diberitahukan

Rasional: Nutrisi dan hidrasi yang optimal meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, yang
meningkatkan penyembuhan

Gunakan teknik aseptik untuk meneteskan tetes mata:

Cuci tangan sebelum memulai

Pegang alat penetes agak jauh dari mata

Ketika meneteskan, hindari kontak antara ata, tetesan dan alat penetes.

Ajarkan teknik ini kepada klien dan anggota keluarganya.


Rasional: Teknik aseptik meminimialkan masuknya mikroorganisme dan mengurangi resiko
infeksi.

Kaji tanda dan gejala infeksi:

Kemerahan, edema pada kelopak mata

Infeksi konjungtiva (pembuluh darah menonjol)

Drainase pada kelopak mata dan bulu mata

Materi purulen pada bilik anterior (antara korm\nea dan iris)

Peningkatan suhu

Nilai laboratorium abnormal (mis. Peningkatan SDP, hasil kultur dan sensitivitas

positif)
Rasional: Deteksi dini infeksi memungkinkan penanganan yang cepat untuk meminimalkan
keseriusan infeksi.

Lakukan tindakan untuk mencegah ketegangan pada jahtan (misal anjurkan klien

menggunakan kacamata protektif dan pelindung mata pada siang hari dan pelindung mata
pada malam hari).
Rasional: Ketegangan pada jahitan dapat menimbulkan interupsi menciptakan jalan masuk
untuk mikroorganisme.

Beritahu dokter tentang semua drainase yang terlihat mencurigakan.

Rasional: Drainase abnormal memerlukan evaluasi medis dan kemungkinan memulai


penanganan farmakologi.
3)

Resiko tinggi terhadap cidera

a)

Tujuan: Cidera tidak terjadi.

b)

Kriteria hasil: Klien tidak mengalami cidera atau trauma jaringan selama dirawat.

c)

Intervesi:

Orientasikan klien pada lingkungan ketika tiba.

Rasional: Pengenalan klien dengan lingkungan membantu mengurangi kecelakaan.

Modifikasi lingkungan untuk menghilangkan kemungkinan bahaya.

Singkirkan penghalang dari jalur berjalan.

Singkrkan sedotan dari baki.

Pastikan pintu dan laci tetap tertutup atau terbuka secara sempurna.

Rasonal: Kehilangan atau gangguan penglihatan atau menggunakan pelindung mata juga apat
mempengaruhi resiko cidera yang berasal dari gangguan ketajaman dan kedalaman persepsi.

Tinggikan pengaman tempat tidur. Letakkan benda dimana klien dapat melihat dan

meraihnya tanpa klien menjangkau terlalu jauh.


Rasional: Tinakan ini dapat membantu mengurangi resiko terjatuh.

Bantu klien dan keluarga mengevaluasi lingkungan rumah untuk kemungkinan bahaya.

karpet yang tersingkap.

Kabel listrik yang terpapar.

Perabot yang rendah

Binatang peliharaan

Tangga

Rasional: Perlunya untuk empertahankan lingkungan yang aman dilanjutkan setelah pulang.
4)

Resiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik

a)

Tujuan: Inefektif penatalaksanaan regimen tidak terjadi.

b)

Kriteria hasil: Berkaitan dengan rencana pemulangan rujuk pada rencana pemulangan.

c)

Intervensi:

Diskusikan aktifitas yang diperbolehkan setelah pembedahan.

Membaca

Menonton televisi

Memasak

Melakukan pekerjaan rumah tangga yang ringan

Mandi siram atau mandi di bak mandi.

Rasional: Memulai diskusi dengan menguraikan aktifitas yang diperbolehkan daripada


pembatasan memfokuskan klien pada aspek positif penyembuhan daripada aspek negatifnya.

Pertegas pembatasan aktifitas yang disebutkan dokter yang mungkin termasuk

menghindari aktifitas berikut:


-

Berbaring pada sisi yang dioperasi

Membungkuk melewati pinggang

Mengangkat benda yang beratnya melebihi 10 kg.

Mandi

Mengedan selama defekasi.

Rasional: Pembatasan diperlukan utnuk menguangi gerakan mata dan mencegah peningkatan
tekanan okuler. Pembatasan yang spesifik tergantung pada beberapa faktor, termasuk sifat
dan luasnya pembedahan, preferensi dokter, umur serta status kesehatan klien secara
keseluruhan. Pemahaman klein tentang alasan untuk pembatasan ini dapat mendorong
kepatuhan klien.

Tekankan pentingnya tidak mengusap mata atau menggosok mata dan menjaga balutan

serta pelindung protektif tetap pada tempatnya sampai hari pertama setelah operasi.
Rasional: Mengusap atau menggosok mata dapat merusak integritas jahitan dan memebrikan
jalan masuk untk mikroorganisme. Menjaga mata tertutup mengurangi resiko kontaminasi
oleh mikroorganisme di udara.

Jelaskan informasi berikut untuk tetap setiap obat obatan yang diresepkan.

Nama, tujuan dan kerja obat.

Jadwal, dosis (jumlah dan waktu)

Teknik pemberian

Instruksi atau kewaspadaan khusus

Rasional: Memberikan informasi yang akurat sebelum pulang dapat meningkatkan kepatuhan
dengan regimen pengobatan dan membantu mencegah kesalahan dalam pemberian obat.

Instruksikan klien dan keluarga untuk melaporkan tanda dan gejala berikut:

Kehilangan penglihatan

Nyeri pada mata

Abnormalitas penglihatan (misalnya, kilasan cahaya atau mengeras)

Emerahan, drainase meningkat, suhu meningkat.

Rasional: Melaporkan tanda dan gejala ini lebih awal memungkinkan intervensi yang cepat
untuk mencegah atau meminimalkan infeksi, peningkatan tekanan intra okular, perdarahan,
terlepasnya retina atau komplikasi lain.

Instruksikan untuk menjaga hygiene mata (membuang drainase yang mengeras dengan

menyeka kelopak mata yang terpejam menggunakan bola kapas yang dielmbabakan dengan
larutan irigasi mata).
Rasional: Sekresi dapat melekat pada kelopak mata dan blu mata. Pembuangan sekresi dapat
memberikan kenyamanan dan mengurangi resiko infeksi dengan mneghilangkan sumber
mikroorganisme.

Tekankan pentingnya perawatan lanjutan yang adekuat, dengan adwal yang ditentukan

oleh ahli bedah. Klien harus mengetahui tanggal dan waktu jadwal perjanjian pertamanya
sebelum pulang.

Rasional: Perawatan lanjutan memberikan kemungkinan penyembuhan dan memngkinkan


deteksi dini komplikasi.

Sediakan instruksi tertulis pada waktu klien pulang.

Rasional: Instruksi tertulis memberikan klien dan keluarga sumber informasi yang dapat
merekam rujuk jika diperlukan.
2.3.4 Pelaksanaan
Disesuaikan dengan intervensi yang telah ditetapkan serta keadaan umum klien.
2.3.5 Evaluasi
Disesuaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan, menggunakan metode SOAP.

BAB 3
AS U H AN

K E PE R AWATAN

PADA KLIEN KATARAK


3.1 Pengkajian
Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2001 pada pukul 11.30 WIB
samapi dengan selesai pada pukul 12.30 WIB.
3.1.1 Pengumpulan data
1)

Data biografi klien

a) Nama :b) Tempat dan tanggal lahir: c) Pendidikan terakhir:d) Agama: e)

Satus perkawinan:-

f)

TB/BB: -

g)

Penampilan umum: bersih dan rapi, tubuh kurus, ramah.

h) Ciri ciri tubuh: jalan masih tegak, rambut sebagian memutih.


i)

Alamat: Sepanjang, Surabaya

j)

Orang yang dekat dihubungi: adik klien

k)

Hubungan dengan klien: adik kandung

3)

Riwayat pekerjaan

Pekerjaan saat ini: Pekerjaan sebelumnya: tukang pijat keliling, sumber sumber
pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan:
4)

Riwayat lingkungan hidup

Klien tinggal di Wisma Pandu, 1 kamar berdua dengan Ibu Darmiatun. Kondisi kamar cukup
bersih, peralatan makan tertata rapi di atas meja, tidak ada pakaian kotor yang menumpuk
atau tergantung, kondisi tempat tidur cukup bersih. Pertukaran udara an cahaya matahari
cukup bersih. Tingkat kenyamanan dan privacy cukup terjamin. Klien juga punya tongkat 1
buah, tapi jarang digunakan.
5)

Riwayat rekreasi

Klien mengaku sering jalan jalan kewisma wisma yang lain untuk menengok teman
temannya atau sekedar mengobrol. Klien juga mengatakan sangat senang dengan adanya
kegiatan senam lansia setiap hari Selasa dan Kamis serta kegiatan rekreatif setiap hari Rabu,
karena ada hiburan serta kesempatan bertemu dengan teman temannya yang lain.
6)

Sistem pendukung

Di panti ada seorang perawat lulusan SPK dan panti telah mengkibatkan kerjasama sistem
rujukan dengan puskesmas pembantu Candirejo serta RSUD Magetan. Serta keberadaan
teman sekamar klien yang sangat memperhatikan kondisi klien sangat membantu pegawasan
kesehatan klien.
7)

Deskripsi kekhususan

Klien semenjak bulan puasa, rajin puasa setiap hari dan sampai har ini belum pernah gagal
puasa. Sholat 5 waktu juga dilaksanakan oleh klien secara rutin, bahkan shalat tarawih pun
dilaksanakan setiap hari di musholla.
8)

Status kesehatan

Klien mengatakan penglihatannya mulai terasa kabur sejak lebih kurang 3 tahun yang lalu.
Klien juga mengatakan tidak menderita penyakit lain, klien merasa seat sehat saja.
Semenjak operasi klien mengeluh nyeri pada mata kiri, mata kiri terasa panas, berair, nyeri
terasa sampai menyebar ke kepala.
Provokative

: Nyeri dirasa setelah klien terpapar sinarmatahari langsung atau baru

bangun tidur.
Quality

: Nyeri dirasakan menyebarsampai ke kepala disertai mata kiri terasa panas

dan berair.
Region
Severity scale
Timming

: Nyeri terasa pada mata kiri menyebar sampai kepala


: Bila nyeri kambuh, klien mengatakan sulit tidur.
: saat bangun tidur dan setelah terpapar sinar matahari langsung.

Klien post op 16 hari yang lalu dan telah banyak mendapatkan informasi dari perawat panti
serta pendamping wisma yang bertugas mengenai perawatan luka pada post operasi serta
pantangan pantangan yang harus diperhatikan oleh klien. Tetapi setelah dilaksanakan

pengkajian , terlihat banyak sekret yang menumpuk pada mata kiri dan ternyata klien belum
memahami beberapa pantangan yang arus dijalaninya.
Obat obatan: bila nyeri biasanya perawat memberikan Gentamycin Salp 31
Satus imunisasi:
Alergi terhadap obat obatan, makanan maupun zat paparan lain seperti debu, cuaca tidak
ada pada klien.
9) A D L (activity daily living)
Berdasarkan indeks KATZS, pemenuhan kebutuhan ADL klien diskor dengan A karena
berdasarkan pengamatan mahasiswa, klien mampu memenuhi kebutuhan makan, kontinen,
berpindah, ke kamar kecil dan berpakaian secara mandiri.
Kebutuhan istirahat tidur kadang kadang terganggu bila nyeri pada luka post operasi
kambuh. Pada pengkajian personal hygiene tampak penumpukan sekret pada mata kiri klien.
Psikologis kien meliputi:

Persepsi klien terhadap penyakit: klien merasa wajar karena umurnya sudah tua.

Konsep diri baik karena klien mampu memandang dirinya secara positif dan mau

menerima kehadiran orang lain.

Emosi klien stabil

Kemampuan adaptasi klien baik, terlihat daris eringnya klien mengunjungi teman

temannya di wisma yang lain.

Mekanisme pertahanan diri: klien mengnaggap kehidupan di luar panti sudah tidak

menarik lagi baginya, klien ingin menghabiskan hari tuanya di panti. Klien mengatakan
senang tinggal di panti karena mendapatkan keteraturan dalam hal makan, istirahat dan
kebutuhan lain terpenuhi.
10) Tinjauan sistem
a)

Keadaan umum: baik, klien tampak bersih.

b) Tingkat kesadraan : CM (compos mentis)


c)

Skala koma glasgow: 15

d) Tanda tanda vital: N: 76 x/mnt; S: 36,80C, RR: 18 x/mnt; TD: 130/80 mmHg.
e)

Sistem kardiovaskuler:

Inspeksi: keadaan umum terlihat baik

Palpasi: Tidak ada pelebaran pembuluh darah dan pembesaran jantung.

Perkusi: Tidak ada suara redup, pekak atau suara abnoral lain.

Auskultasi: Irama jantung teratur, tidak ada suara lain menyertai.

f)

Sistem pernafasan:

Inspeksi: dada ka/ki terlihat simetris, pergerakan otot dada (-)

Palpasi: Tidak ada pembesaran abnormal, iktus kordis teraba.

Perkusi: Suara paru ka/ki sama dan seimbang

Auskultasi: Suara pekak, redup, wheezing (-)

g)

Sistem integumen

Inspeksi: tekstur kulit terlihat kendur, keriput(+), peningkatan pigmen (+), dekubitus (-),
bekas luka (-). Palpasi: turgor kulit baik.
h) Sistem perkemihan
Klien mengatakan biasa buang air kecil di kamar mandi, frekuensi 3-4 x/hari, jumlah baias
(K100 cc). Ngompol (-)
i)

Sistem muskuloskletal

ROM klien baik/penuh, klien seimbang dalam berjalan, osteoporosis (-), kemampuan
menggenggam kuat, otot ekstremitas ka/ki sama kuat, tidak ada kelainan tulang, atrofi dll.
j)

Sistem endokrin

Klien mengatakan tidak menderita kencing manis. Palpasi: tidak ada pembesaran kelenjar.
k)

Sistem immune

Klien mengatkan belum pernah disuntik imunisasi, sensitivitas terhadap zat alergen (-),
riwayat penyakit berkaitan dengan imunisasi, klien mengatakan tidak tahu.
l)

Sistem gastrointestinal

Klien hanya mengkonsumsi makanan yang disediakan dari dapur umum panti ditambah
dengan kadang kadang minum kopi. Klien mampu menghabiskan 1 porsi makanan yang
disediakan pendamping wisma tanpa keluhan mual. Klien mengatakan tinggal di panti
membuatnya makan teratur 3x/hari dengan snack 2x/hari dan tambahan susu, teh atau kopi
sehingga klien merasakan badannya lebih gemuk semenjak tinggal di panti. BB sekarang: 33
kg, keadaan gigi klien: sudah ompong semuanya, klien mengatakan tidak ada kesulitan
menelan an mengunyah makanan.
m) Sistem reproduksi
Klien mengatakan tidak punya anak dari hasil pernikahannya, riwayat berhenti menstruasi
lebih kurang 30 tahun yll.
n) Sistem persyarafan
Keadaan status mental klien baik dengan emosi stabil. Respon klien terhadap pembicaraan
(+) dengan bicara yang normal dan jelas, suara pelo (-), bahasa yang digunakan adalah bahasa
Jawa dan bahasa Indonesia. Interpretasi klien terhadap lawan bicara cukup aik.

Keadaan mata kiri tampak penumpukan sekret, penglihatan agak kabur tetapi klien mampu
pergi ke wisma lain tanpa bimbingan orang lain atau menggunakan tongkat dan klien juga
mampu mengikuti kegiatan senam dengan baik. IOL (+), hiperemis (+). Klien mampu melihat
dalam jarak pandang K50 mtr. Kemampuan pendengaran agak menurun sehingga lawan
bicara harus berbicara agak keras supaya klien mendengar.
11) Status kognitif/afektif/sosial
a)

Short potable mental status questionaire (SPMSQ) dengan skor: 10, fungsi intelektual

utuh.
b)

Mini mental state exam (MMSE) dengan skor: 25, aspek kognitif dari fungsi mental

dalam keadaan baik.


c)

Inventaris depresi beck, dengan skor: 3 pada keraguan raguan, kesulitan kerja dan

keletihan. Jadi tidak ada tanda tanda depresi pada klien.


d) Apgar keluarga denagn lansia, skor: 8 dimana fungsi sosial klien dalam kedaan normal.
12) Data penunjang
Hasil pemeriksaan gluko test (-)
3.1.2 Analisa Data
No
1. DS:

Data

2.

Klien mengeluh nyeri pada

3.

mata kiri pot op menyebar ke

Etiologi
Interupsi
pada mata kiri.

atau baru bangun tidur.

kerentanan skunder

terhadap interupsi

kambuh, mengalami kesulitan

pembedahan katarak.

tidur.

Keterbatasan

penglihatan.

Klien mengatakan riwayat

operasi katarak mata kiri 16 hari


yll.
DO:
-

Mata kiri berair, hiperemis(+)

IOL (+)

DS:
-

Klien mengatakan mata kiri

Nyeri

pembedahan katarak Resiko infeksi

kepala saat terpapar sinar matahari Peningkatan


Klien mengatakan bila nyeri

Masalah

Resiko cidera

terasa nyeri, panas dan nyeri


menyebar sampai ke kepala.
-

Klien mengatakan mata kirinya

terus berair dan mengeluarkan


kotoran.
DO:
-

Sekret pada mata kiri (+).

Mata kiri berair(+)

Riwayat post op katarak 16

hari yll.
DS:
-

Klien mengatakan matanya

terasa kabur sejak K3 tahun yang


lalu.
-

Klien mengatakan usianya

sudah 85 tahun.
DO:
-

Klien berjalan tegap, cara

berjalan seimbang tapi ragu


ragu.
-

Klien mampu melihat dalam

jarak pandang K50 mtr.


3.1.3 Perumusan Masalah
1)

Nyeri

2)

Resiko infeksi

3)

Resiko cidera

3.2 Diagnosa Keperawatan dan Perumusan Prioritas keperawatan


3.2.1 Diagnosa Keperawatan
1)

Nyeri b/d interupsi pembedahan katarak pada mata kiri ditandai dengan:

DS:
-

Klien mengeluh nyeri pada mata kiri pot op menyebar ke kepala saat terpapar sinar

matahari atau baru bangun tidur.


-

Klien mengatakan bila nyeri kambuh, mengalami kesulitan tidur.

Klien mengatakan riwayat operasi katarak mata kiri 16 hari yll.

DO:
-

Mata kiri berair, hiperemis(+)

IOL (+)

2)

Resiko infeksi b/d peningkatan kerentanan skunder terhadap interupsi pembedahan

katarak ditandai dengan:


DS:
-

Klien mengatakan mata kiri terasa nyeri, panas dan nyeri menyebar sampai ke kepala.

Klien mengatakan mata kirinya terus berair dan mengeluarkan kotoran.

DO:
-

Sekret pada mata kiri (+).

Mata kiri berair(+)

Riwayat post op katarak 16 hari yll.

3)

Resiko cidera b/d keterbatasan penglihatan ditandai dengan:

DS:
-

Klien mengatakan matanya terasa kabur sejak K3 tahun yang lalu.

Klien mengatakan usianya sudah 85 tahun.

DO:
-

Klien berjalan tegap, cara berjalan seimbang tapi ragu ragu.

Klien mampu melihat dalam jarak pandang K50 mtr.

3.2.2 Proritas Keperawatan


1)

Nyeri b/d interupsi pembedahan katarak pada mata kiri ditandai dengan:

DS:
-

Klien mengeluh nyeri pada mata kiri pot op menyebar ke kepala saat terpapar sinar

matahari atau baru bangun tidur.


-

Klien mengatakan bila nyeri kambuh, mengalami kesulitan tidur.

Klien mengatakan riwayat operasi katarak mata kiri 16 hari yll.

DO:
-

Mata kiri berair, hiperemis(+)

IOL (+)

2) Resiko infeksi b/d peningkatan kerentanan skunder terhadap interupsi pembedahan katarak
ditandai dengan:
DS:
-

Klien mengatakan mata kiri terasa nyeri, panas dan nyeri menyebar sampai ke kepala.

Klien mengatakan mata kirinya terus berair dan mengeluarkan kotoran.

DO:
-

Sekret pada mata kiri (+).

Mata kiri berair(+)

Riwayat post op katarak 16 hari yll.

3)

Resiko cidera b/d keterbatasan penglihatan ditandai dengan:

DS:
-

Klien mengatakan matanya terasa kabur sejak K3 tahun yang lalu.

Klien mengatakan usianya sudah 85 tahun.

DO:
-

Klien berjalan tegap, cara berjalan seimbang tapi ragu ragu.

Klien mampu melihat dalam jarak pandang K50 mtr.

3.3 Perencanaan
No Diagnosa
1. Nyeri b/d interupsi

Tujuan
Intervensi
Setelah diberikan asuhan
Bantu klien dalam

Rasional

Membantu

2. pembedahan katarak

keperawatan selama 3

mengidentifikasi tindakan

kenyamanan dan

3. pada mata kiri.

hari, nyeri berkurang

penghilangan nyeri yang efektif

tekanan pada bo

ditandai dengan:

dengan tidur dalam posisi

Resiko infeksi b/d

Beberapa

peningkatan kerentanan -

Nyeri berkurang.

duduk.

penghilang nyer

skunder terhadap

Istirahat tidur

Lakukan tindakan

adalah tindakan

interupsi pembedahan

tercukupi K8 jam.

penghilanagn nyeri non invasif

dapat dilaksanak

katarak.

Mata tidak berair dan atau non farmakologik, seperti

dalam usaha me

Resiko cidera b/d

tidak merah.

keterbatasan

Setelah diberikan asuhan -

penglihatan.

keperawatan selama 3

berikut;
Posisi: tinggikan bagian

kepala tempat tidur, berubah

hari, infeksi tidak terjadi ubah antara berbaring pada

kenyamanan pad

Analgesik

dalam menekan

dan menimbulka

ditandai dengan:

punggung dan pada sisi yang tidak pada klien.

dioperasi.

insisi tanpa infeksi.

Distraksi

peningaktan tek

Kemerahan (-)

Latihan relaksasi

(TIO) atau komp

Edema kelopak mata

Penyembuhan luka

(-)
-

Berikan dukungan tindakan

penghilangan nyeri dengan


Drainase pada kelopak aalgesik yang diresepkan.

mata (-)

Observasi nyeri terutama

Tanda ini

Pembatasa

utnuk menguang

dan mencegah p
tekanan okuler.

Materi purulen (-)

bila disertai mual.

yang spesifik ter

Peningkatan suhu

Pertegas pembatasan

beberapa faktor,

aktifitas yang disebutkan dokter

dan luasnya pem

tubuh (-)

Setelah diberikan asuhan yang mungkin termasuk

preferensi dokte

keperawatan selama 3

menghindari aktifitas berikut:

status kesehatan

hari, cidera tidak terjadi

keseluruhan. Pem

ditandai dengan:

dioperasi

tentang alasan u

pembatasan ini d

Klien tidak

Berbaring pada sisi yang


Membungkuk melewati

mengalami cidera atau

pinggang

mendorong kepa

trauma jaringan selama

dirawat.

beratnya melebihi 10 kg.

optimal meningk

Mandi

kesehatan secara

Mengedan selama defekasi. yang meningkat

Mengangkat benda yang

Tingkatkan penyembuhan

luka:
-

penyembuhan

Berikan dorongan untuk

Nutrisi da

Teknik ase

meminimialkan

mengikuti diet yang seimbang dan mikroorganisme


asupancairan yang adekuat.

mengurangi resi

Gunakan teknik aseptik

Deteksi di

untuk meneteskan tetes mata:

memungkinkan

yang cepat untuk

Cuci tangan sebelum

memulai

meminimalkan k

infeksi.

Pegang alat penetes agak

jauh dari mata


-

Keteganga

Ketika meneteskan, hindari dapat menimbul

kontak antara ata, tetesan dan alat menciptakan jal


penetes.

untuk mikroorga

Ajarkan teknik ini kepada klien

dan anggota keluarganya.

atau menggunak

mata dapat mem

Kaji tanda dan gejala

Gangguan

infeksi:

resiko cidera yan

gangguan ketaja

Kemerahan, edema pada

kelopak mata

edalaman persep

Infeksi konjungtiva

(pembuluh darah menonjol)


-

Drainase pada kelopak

mata dan bulu mata


-

Materi purulen pada bilik

anterior (antara korm\nea dan iris)


-

Peningkatan suhu

Nilai laboratorium

abnormal (mis. Peningkatan SDP,


hasil kultur dan sensitivitas positif)

Lakukan tindakan untuk

mencegah ketegangan pada jahtan


(misal anjurkan klien
menggunakan kacamata protektif
dan pelindung mata pada siang
hari dan pelindung mata pada
malam hari).

Modifikasi lingkungan

untuk menghilangkan
kemungkinan bahaya:
-

Singkirkan penghalang dari

jalur berjalan.
-

Pastikan pintu dan laci

tertutup atau terbuka dengan


sempurna.

Tinggikan tempat tidur.

Letakkan benda dimana klien


dapat melihat dan meraihnya tanpa
klien menjangkau terlalu jauh.

3.4 Implementasi
Waktu/tgl

Implementasi

Evaluasi

Tindakan

mengurangi resi

4 12 2001
09.00

5 12 2001 09.30

Klien kooperatif.

Pembatasan aktifitas.

Klien berjanji akan selalu

Asupan gizi dan minum yang

mengahbiskan porsi

memadai (makan 1 porsi habis).

5 12 2001 11.00

Memberikan HE pentingnya:

Mengurangi paparan terhadap bertanya tentang nyeri yang

sinar matahai atau kontak langsung

5 12 2001 dengan benda alergen.


12.30

dirasakannya.

Klien marapikan meja

Mengevaluasi lingkungan kamar kecil di samping tempat tidur.

6 12 2001 tidur klien:


09.00

makanannya.Klien banyak

Klien menata barang

Penempatan benda benda di barang (gelas, piring, sendok) di

meja.

atas tempat tidur.

Kebersihan lantai kamar.

Gorden telah terpasang.

Memasang gorden untuk

Lantai kamar disapu dan

mengurangi paparan terhadap snar

dipel oleh petugas.

matahari.

Klien bersemangat belajar

Mengajarkan teknik perawatan memebrsihkan sekret mata.Klien

kebersihan mata:

dapat meneteskan obat tetes

Cara membersihkan sekret.

mata sendiri dibantu oleh teman

Cara meneteskan obat tetes

sekamarnya.

mata.
-

Klien sudah punya

Menggunakan pelindung mata kacamata pelindung sinar

bila keluar wisma di siang hari.

matahari.

Mengatur posisi tidur klien

Klien berbaring ke posisi

berbaring ke sisi mata yang tidak

sebelah kanan, kadang berganti

dioperasi.

posisi dengan semi fowler.

Melatih relaksasi untuk

Klien tampak kesulitan

mengurangi rasa sakit pada mata kiri. mengikuti instruksi, tetapi mau
mencoba unutk berlatih.
3.5 Evaluasi
No
Diagnosa Keperawatan
Evaluasi
1. Nyeri b/d interupsi pembedahan S: Klien mengatakan nyeri pada mata kiri sudah
2.

katarak pada mata kiri.

agak berkurang, klien sudah dapat istirahat

3.

Resiko infeksi b/d peningkatan

dengan baik.

kerentanan skunder terhadap

O: Mata berair (-), kemerahan (-)

interupsi pembedahan katarak.

A: Masalah teratasi sebagian.

Resiko cidera b/d keterbatasan

P: Lanjutkan perencanaan dengan mengadakan

penglihatan.

koordinasi dengan pendamping wisma.


S: Klien mengatakan matanya sudah tidak panas
lagi,berair (-)
O: mata berair (-), kemerahan (-), sekret (-)
A: Masalah teratasi sebagian.
P: Lanjutkan perencanaan dengan mengadakan
koordinasi dengan pendamping wisma.
S: Klien mengatakan penglihatannya sudah lebih
terang.
O: Klien berjalan ke luar wisma tanpa dibimbing
dan tanpa memakai tongkat.
A: Masalah teratasi sebagian.
P: Lanjutkan perencanaan dengan mengadakan
koordinasi dengan pendamping wisma.

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Asuhan keperawatan gerontik merupakan salah satu bagian dari asuhan keperawatan yang
diberikan kepada indivdu atau sekleompok lansia dalam konteks peran perawat sebagai
penerima asuhan keperawatan yang diberikan secara profesional.
Dalam konteks keperawatan gerontik yang dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha
Bahagia Magetan dari tanggal 03 07 Deseber 2001, mahasiswa diberikan tanggung jawab
untuk membina satu orang klien lansia yang memiliki masalah kesehatan dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan dimulai dari tahap pengkajian sampai pada
tahap evaluasi guna mengetahui perkembangan kesehatan klien lansia secara komprehensif.
4.2 Saran
1)

Bagi institusi pengelola Panti Sosial Tresna Werdha Bahagia Magetan.

Agar seoptimal mungkin menerapkan konsep pemikiran yang telah disepakati guna
meningkatkan fungsi dan peran panti secara optimal.

2)

Bagi pembimbing PSIK FK Unair Surabaya

Agar seoptimal mungkin mengupayakan kehadiran serta bimbingannya guna membantu


mahasiswa menjalani proses praktek keperawatan gerontik dengan lebih baik sesuai target
pencapaian yang ingin diraih.
3)

Bagi mahasiswa sendiri

Untuk lebih meningkatkan pemahaman dan pengetahuan guna mnegembangkan konsep


asuhan keperawatan gerontik secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Afdol. Et all. (1995). Latar Belakang Sosial Ekonomi dan Tingkat Kepuasan Hidup Lanjut
Usia Penghuni Panti Werdha. PPKP lemlit Unair. Surabaya
Agus Purwadianto (2000), Kedaruratan Medik: Pedoman Penatalaksanaan Praktis, Binarupa
Aksara, Jakarta.
Callahan, Barton, Schumaker (1997), Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan gawat
Darurat Medis, Binarupa Aksara, Jakarta.
Carpenito Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Decker DL. (1990). Social Gerontology an Introduction to Dinamyc of Aging. Little Brown
and Company. Boston
Depkes RI Badan Litbangkes. (1986). Survei Kesehatan Rumah Tangga. Jakarta
Depsos RI. (-). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia
Dalam Panti. Depsos RI. Jakarta
..(1993). Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan I.
Depkes Ri. Jakarta
..(1994). Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan II.
Depkes Ri. Jakarta
Doenges marilynn (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Evelyn C.pearce (1999), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerbit PT Gramedia,
Jakarta.
Gallo, J.J (1998). Buku Saku Gerontologi Edisi 2. Aliha Bahasa James Veldman. EGC.
Jakarta
Guyton and Hall (1997), Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.

Hudak and Gallo (1996), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Lueckenotte.A.G. (1996). Gerontologic Nursing. Mosby Year Book. Missouri
Nugroho.W. (2000). Keperawatan Gerontik. Gramedia. Jakarta

ASKEP KATARAK
15 Selasa Mar 2011
Posted by lengku in Keperawatan MATA
Tinggalkan sebuah Komentar
A. Pengertian
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses
penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran ( katarak congenital ). Dapat juga berhubungan
karena trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang,
penyakit sistemis, seperti diabetes miletus atau hipopara tiroidisme, pemajanan radiasi,
pemajanan sinar matahari ( ultraviolet ) yang lama, atau kelainan mata lain seperti uveitis
anterior.
1. B. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti
kancing baju; mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen
anatomis. Pada zona sentral terdapat nucleus, di perifer ada kortek, dan yang mengelilingi
keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nucleus
mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opesitas terdapat densitas
seperti duri di anterior dan posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan
bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan
pada serabut halus multiple (zunula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di
luar lensa misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia
dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan
menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein
lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa

yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun
dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat
disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya
mempunyai konsekwensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang
secara kronik dan matang ketika seseorang memasuki dekade ketuju. Katarak dapat
bersifat congenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat
menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanent. Faktor yang paling sering
berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alcohol,
merokok, diabetes, dan asupan vitamin antitoksin yang kurang dala jangka waktu yang lama.
1. C. Klasifikasi katarak
Menurut Allen katarak dibagi dalam dua kelompok :
1. Development Catarak
Pembentukan lensa fiber terganggu selama pertumbuhan ( congenital katarak dan juvenile
katarak).
1. Degenarativ Catarak
Lensa fiber sudah terbentuk tetapi karena suatu sebab sehingga terjadi degenerasi dan lensa
menjadi keruh ( katarak senile ).
1. D. Stadium Katarak
2. 1. stadium insipien
Kekaburan dimulai pada bagian perifer lensa, lambat laun mengarah pada bagian inti lensa
mata sehingga menyerupai terali besi ( roda sepeda ). Pada keadaan ini biasanya katarak
stasioner.
1. 2. stadium intumesen ( imatur )
Terjadi perubahan pada lensa, dimana lensa menjadi bengkak dan menarik cairan dari
jaringan sekitar. Kelainan yang nampak pada keadaan ini adalah myopia, astigmatisme,
bayangan iris pada lensa terlihat.
1. 3. stadium maturesen ( matur )
Kekaburan lensa lebih padat dan lebih mudah dipisahkan dari kapsulnya, ini merupakan
stadium yang tepat untuk dilakukan operasi.

1. 4. stadium hipermatur
Biasanya akan ditemukan beberapa perubahan, katarak menjadi lembek, mencair atau
menjadi seperti susu.
1. E. Tanda-Tanda Katarak
v visus menurun, berlangsung lambat sampai cepat tergantung proses kekeruhannya
v pada katarak tipe nucleus, penglihatan menjadi lebih terang pada waktu senja dibanding
pada waktu siang hari
v pada katarak tipe kortek, sebaliknya
v terlihat bintik-bintik hitam pada suatu lapang pandang pada posisi tertentu ( pada stadium
insipien )
v diplopia atau poliplopia ( pengaruh pembiasan yang ireguler dari lensa mata )
v myopia, sebagai proses pembentukan katarak dimana lensa mengabsorpsi air sekitar lensa
sehingga lensa menjadi cembung.
1. F. Pemeriksaan Penunang
1. Penyinaran samping
Dengan bantuan lampu senter, terlihat kekaburan lensa mata yang putih keabuan dengan
dasar hitam. Pada stadium imatur, tampak bayangan iris diatas lensa akibat superfisial lensa
masih transparan, iris shadow positif. Pada stadium matur, iris shadow negative, lensa keruh
sama sekali.
1. Offtalmoskope
Pada stadium impisien da imatur tampak kekaburan yang kehitaman dengan latar belakang
merah jambu. Pada stadium matur haya didapat warana putih atau kehitaman tanpa latar
belakang merah jambu, lensa sudah keruh.
1. G. Penatalaksanaan

Stadium I

Dengan deteksi catalin, catalin adalah zat yang berfungsi untuk menghalangi kerja zat quino,
yaitu zat yang mengubah protein lensa mata yang bening menjadi gelap.
Tujuan pegobatan ini adalah untuk menekan proresifitas kekaburan lensa supaya katarak
menjadi stasioner.

Stadium II

Dilakukan secara simtomatis.

Stadium III, dan IV

Operasi untuk mengeluarkan lensa yang karakteus.


Tak ada terapi obat untuk katarak, dan tak dapat di ambil dengan pembedahan laser. Namun,
masih dilakukan penelitian mengenai kemajuan prosedur laser baru yang dapat digunakan
untuk mencairkan lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar melalui kanula ( Pokalo
1992 ).
Ada dua macam teknik pembedahan untuk pengangkatan katarak :
Ekstraksi Katarak Intrakapsuler
Ekstraksi katarak intra kapsuler ( ICCE, intra capsuler catarak ekstraksion ) dalah
pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zona dipisahkan, lensa diangkat
dengan cryoprobe, yang diletakkan secara langsung pada kapsula lentis. Bedah beku berdasar
pada suhu pembekuan untuk mengangkat suatu lesi atau abnormalitas. Insrumen bedah beku
bekerja dengan prinsip bahwa logam dingin akan melekat pada benda yang lembab. Ketika
cryoprobe diletakkan secara langsung pada kapsula lentis, kapsula akan melekat pada
probe.lensa kemudian diangkat secara lembut. Yang dahulu merupakan cara pangangkatan
katarak utama, ICCE sekarang jarang dilakukan karena tersedianya teknik bedah yang lebih
canggih.
Ekstraksi Katarak Ekstrakapsuler
Ekstraksi katarak ekstracapsuler ( ECCE, extracapsuler catarak ekstraksion ) sekarang
merupakan teknik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98 % pembedahan katarak.
Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata selama pembedahan. Prosedur ini meliputi
pengambilan kapsula anterior, menekan keluar nucleus,dan mengisap sisa fragmen kortikal
lunak menggunakan irigasi dan alat hisap. Dengan meninggalkan kapsula posterior dan
zonula lentis tetap utuh, dapat mempertahankan arsitektur bagi posterior mata, jadi
mengurangi insidensi yang serius.
ASUHAN KEPERAWATAN
1. A. Diagnosa Keperawatan

Pre operasi :

Cemas berhubunan dengan kurang pengetahuan prosedur operasi katarak

Intra operasi :

Nyeri berhubungan tindakan operasi

Pasca operasi :

Resiko tinggi infeksi berhubungan peradangan luka post operasi

1. B. Intervensi
Diagnosa Tujuan
Cemas
Cemas

Intervensi
1. kaji tingkat

berhubuna berkurang

kecemasanpasien , ukur

n dengan setelah

tanda-tanda fital

kurang

dilakukan

2. berikan informasi yan

Rasional
1. meningkatka
n relaksasi
dan koping

pengetahu tindakan

dibutuhkan pasien

dapat

an dan

sebelum dilakukan

menurunkan

tindakan pembedahan

TIO

keperawatan

informasi selama 10
pre

menit dengan

operasi

kriteria hasil:

katarak

1. pasien
tenang
dan
rileks
2. dapat

3. berikan teknik relaksasi


serta suport mental yang

( tekanan
intra okuli )

melibatkan unsur-usur
religi
4. berikan kesempatan
pasien untuk
mengungkapkan

mengun

perasaannya sebelum

kapkan

operasi

penyeba
b
kecema
san
Nyeri

3. pasien

1. menurunkan

berhubung

mampu

1. anjurkan untuk

jumlah

an dengan

menontr

menggunakan teknik

bakteri pada

tindakan

ol

manajemen relaksasi,

tangan,

operasi

kecema

guide imageri,

mencegah

san

visualisasi, dan napas

kontaminasi

Resiko

4. pasien

dalam

area operasi

tinggi

dapat

2. teknik

infeksi

menjela

berhubung

skan

an dengan

tentang

cuci tangan sebelum

resiko

peradanga

tindaka

menyentuh atau

penyebaran

n luka

mengoati mata

bakteri dan

operasi

operasi

aseptik
1. diskusikan pentinnya

2. tunjukan teknik yang


tepat untuk memersihkan
mata dari dalam keluar

menurunkan

kontaminasi
silang
3. mencegah

Nyeri

dengan tisu basah/ bola

kontaminasi

berkurang

kapas untuk tiap usapan,

dan

setelah

anti balutan dan

kerusakan

dilakukan

masukkan lensa kontak

sisi operasi

tindakan

keitika menggunakan

keparawatn

4. infeksi mata

3. tekankan untuk tidak

terjadi 2-3

selama 5 menit

menyentuh atau

hari setelah

dengan kriteria

menggaruk mata yang

prosedur dan

hasil:

dioperasi

memerlukan

1. pasien

4. observasi/ diskusikan

menata

tanda terjadinya infeksi

kan

contoh kemerahan,

nyeri

kelopak bekak, drainase

berkura

purulen.

ng
2. wajah

1. kemungkinan
peningkatan

pasien

tekanan darah dan

kelihata

denyut nadi

n relaks

dengan disertai
napas dangkal

tidak terjadi

dan tidak teratur

infeksi selama

menunjukkan

dilakukan

manifestasi cemas

upaya
intervensi.

tindakan
keperawatan

pada pasien
2. informasi yang
adekuat dan
peyampaian yang
aik akan
mengubah
persepsi dan pola
pikir pasien
3. pasien mampu
mengontrol
tingkat emosi dan
kecemasannya,
dengan mencoba
beberapa teknik
napas yang
teratur, serta
ketenangan jiwa
yang berpengaruh
terhadap tingkat
emosi dan
kecemasan

BAB II
KONSEP PENYAKIT
A. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Mata adalah organ penglihatan. Saraf optikus atau urat saraf kranial kedua adalah saraf
sensorik untuk penglihatan. Saraf ini timbul dari sel-sel ganglion dalam retina yang
bergabung membentuk saraf optikus. Saraf ini bergerak ke belakang secara medial dan
melintasi kanalis optikus memasuki rongga kranium, lantas menuju kiasma optikum. Saraf
penglihatan memiliki 3 pembungkus yang serupa dengan meningen otak. Lapisan luarnya
kuat dan fibrus serta bergabung dengan skelera. Lapisan tengah halus seperti araknoid,
sementara lapisan dalam adalah vakuler ( mengandung banyak pembuluh darah).
Pada saat serabut-serabut itu mencapai kiasma optikum, separuh serabut-serabut itu akan

menuju ke traktus optikus sisi seberangnya, sementara separuhnya lagi menuju traktus
optikus sisi yang sama. Dengan perantaraan serabut-serabut ini, setiap serabut nervus optikus
dihubungkan dengan kedua sisi otak. Pusat visual terletak pada korteks lobus oksipitalis otak.
Bola mata adalah organ penglihat. Struktur yang berhubungan dilindungi dan dilingkupi
dalam tulang berongga bulat dianamakan orbita, serta dilindungi sejumla struktur, seperti
kelopak mata,alis, konjungtiva, dan alat-alat lakrimal (aparatu lakrimalis). Bola mata yang
menempati bagian kecil dari orbita, dilindungi dan dialasi oleh lemak yang terletak di
belakang bola mata. Saraf dan pembuluh darah yang mensuplai nutrisi dan mentransmisikan
impuls ke otak juga dalam orbita. Orbita merupakan rongga berpotensi untuk terkumpulnya
cairan, darah, dan udara karena letak anatominya yang dekat dengan sinus dan pembuluh
darah. Pendesakan komponen lain ke lengkungan orbita dapat menyebabkan pergseran,
penekanan, atau protusi bola mata dan struktur di sekitarnya. Meskipun ada perbedaan
individual pada mata tiap orang, biasanya ukuran dan posisinya mendekati semetris.
Bagian - bagian biji mata mulai dari depan hingga belakang

1.Kornea, merupakan bagian depan yang transparan dan bersambung dengan skelera yang
putih dan tidak tembus cahaya, kornea terdiri atas berberapa lapisan. Lapisan tepi adalah
epitelium berlapis yang bersambung dengan konjungtiva.
2.Bilik anterior ( kamera okuli anterior),yang terletak antara kornea dan iris.
3.Iris adalah tirai berwarna di depan lensa yang bersambung dengan selaput koroid. Iris berisi
2 kelopak serabut otot tak sadar atau otot polos-kelompok yang satu mengecilkan ukuran
pupil, sementara kelompok yang lain melebarkan ukuran pupil itu.
4.Pupil, bintik tengah yang berwarna hitam, yang merupakan celah dalam iris, tempat cahaya
yang masuk guna mencapai retina.
5.Bilik posterior( kamera okuli posterior) terletak di antara iris dan lensa. Bilik kanan. Baik
bilik anterior maupun bilik anterior maupun bilik posterior diisi dengan akueus humor.
6.Akueus humor. Cairan ini berasal dari korpus siliare dan diserap kembali ke dalam aliran
darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus yang dikenal sebagai saluran
schlemm.
7.Lensa adalah sebuah benda transparan bikonveks(cembung depan belakang) yang terdiri
atas berberapa lapisan. Lensa terletak peris di belakang iris. Membran yang dikenal sebagai
ligamentum suspesorium terdapat di depan maupun dibelakang lensa itu, yang berfungsi
mengaitkan lensa itu pada korpus siliare. Bila legamentum suspensorium mengendur, lensa
mengerut dan menebal, sebaliknya bila ligamen mengendurnya lensa dikendalikan kontraksi

otot siliare.
8.Vitreus humor. Darah sebelah belakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina, diisi cairan
penuh albumen berwarna keputih-putihan seprti agar-agar yaitu vitreus humor. Vitreus humor
berfungsi memberi bentuk dan kekokohan pada mata, serta mempertahankan hubungan
antara retina dan selaput koroid dan sklerotik.

B. PENGERTIAN
a.Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat
proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran( katarak kongenital). ( brunner &
suddarth .2001, keperawatan medikal bedah vol.3, EGC. Jakarta ).
b.Katarak adalah penurunan progresif kerjernihan lensa. Lensa menjadi keruh, atau berwarna
putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang.
( elizabeth J. corwin.2000, buku saku patofisiologi, EGC. Jakarta ).
c.Katarak adalah kekeruhan( bayangan seperti awan) pada lensa tanpa nyeri yang berangsurangsur penglihatan kabur dan akhirnya tidak dapat menerima cahaya.( barbara C. long. 1996,
perawatan medikal bedah vol.2,Yayasan Alumni Keperawatan. Bandung ).
d. Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di dalam
kapsul lensa.( sidarta ilyas, 1998 )
e. Katarak adalah suatu bagian yang kabur dan keruh pada lensa mata, yang disebabkan oleh
menebalnya zat-zat protein di dalam lensa itu sendiri. (Clifford R. 1982. Petunjuk Modern
Kepada Kesehatan. IPH. Bandung)
f. Katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul lensa yang mengubah gambaran yang
diproyeksi pada retina dan merupakan penyebab umum kehilangan pandangan secara
bertahap. (Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata/Indrian N. Istiqomah. Jakarta. EGC.
2004)
g. Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa beberapa abad yang lalu
apabila pengurangan visus diperkirakan oleh suatu tabir (layar) yang diturunkan di dalam
mata, agak seperti melihat air terjun. (Perawatan Mata. Vera H. Darling, Margaret R. Thorpe).
h. Katarak(pasca operasi) adalah terjadinya opasitas progresif pada lensa atau kapsul lensa,
umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65 tahun.
( Rencana Asuhan Keperawatan,M.E.Doenges. Jakarta.EGC.1999).
C. ETIOLOGI

Penyebab katarak meliputi


1.

Degeneratif ( ketuaan), biasanya dijumpai pada katarak senilis dikarenakan proses

degenerasi atau kemunduran serat lensa karena proses penuaan dan kemungkinan besar
menjadi menurun penglihatanya.
2. Trauma, contohnya terjadi pada katarak traumatika, seperti trauma tembus pada mata
yang disebabkan oleh benda tajam/ tumpul, radiasi( terpapar oleh sinar X atau benda-benda
radioaktif).
3.

Penyakit mata lain, seperti uveitis.

4.

Penyakit sistemik(diabetes militus), contohnya terjadi pada katarak diabetika

dikarenakan gangguan metabolisme tubuh secara umum dan retina sehingga mengakibatkan
kelainan retina dan pembuluh-pembuluh darahnya. Diabetes akan mengakibatkan kelainan
dan kerusakan pada retina.
5.

Defek kongenital, salah satu kelainan heriditer sebagai akibat infeksi virus prenatal)dan

katarak developmental terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan sebagai akibat dari defek
kongenital. Kedua bentuk ini mungkin disebabkan oleh faktor herediter, toksis, nutrisional,
atau proses peradangan.
B. KLASIFIKASI
Macam-macam katarak

1. Katarak senil
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas
50 tahun. Pada katarak senil akan terjadi degenerasi lensa secara perlahan-lahan. Tajam
penglihatan akan menurun secara berangsur-angsur hingga tinggal proyeksi sinar saja.
Katarak senil merupakan katarak yang terjadi akibat terjadinya degenerasi serat lensa karena
proses penuaan.
Katarak senil dapat terbagi dalam berberapa stadium

a. Katarak insipiens, dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa. Kekeruhan
lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Pasien akan mengeluh gangguan
penglihatan seperti melihat ganda dengan satu matanya. Pada stadium ini proses degenerasi
belum menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan

kedalaman yang normal, iris dalam posisi biasa disertai dengan kekeruhan ringan pada lensa.
Tajam penglihatan pasien belum terganggu.
b. Katarak imatur, dimana pada stadium ini lensa yang degeneratif mulai terserap cairan mata
ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung. Terjadi pembengkakan lensa yang disebut
sebagai katarak intumesen. Pada katarak imatur maka penglihatannya mulai berangsur-angsur
menjadi berkurang, hal ini diakibatkan media penglihatan tertutup oleh kekeruhan lensa yang
menebal.
c.Katarak matur, merupakan proses degenarasi lanjut lensa. Terjadi kekeruhan seluruh lensa.
Tekanan cairan di dalam lensa sudah keadaan seimbang dengan cairan dalam mata sehingga
ukuran lensa akan menjadi normal kembali. Tajam penglihatan sangat menurun dan dapat
hanya tinggal proyeksi saja.
d. Katarak hipermatur, dimana pada stadium ini terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan
korteks lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam korteks lensa
( katarak morgagni). Pada stadium ini terjadi juga degenerasi kapsul lensa sehingga bahan
lensa ataupun korteks lensa yang cair keluar dan masuk ke dalam bilik mata depan. Pada
stadium hipermatur akan terlihat lensa yang lebih kecil dari pada normal, yang akan
mengakibatkan iris trimulans, dan bilik mata depan terbuka.
Perbedaan stadium katarak senil
INSIPIEN

IMATUR

Kekeruhan

Ringan

Cairan lensa
Iris

MATUR
Sebagian

HIPERMATUR
Seluruh

Normal Bertambah

Normal Terdorong

Normal Dangkal

Sudut bilik mata

Normal Sempit

Negatif

Penyulit

Glaukoma

Normal Berkurang

Normal Tremulans(hanya bila zonula putus

Bilik mata depan


Shadow test

Masif

Positif
-

Normal Dalam
Normal Terbuka

Negatif

Pseudopositif

Uveitis, glaukoma

2. Katarak kongenital
Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa yang didapatkan sejak lahir, dan terjadi
akibat gangguan perkembangan embrio intrauterin. Katarak kongenital yang terjagi sejak

perkembangan serat lensa terlihat segera setelah bayi lahir sampai usia 1 tahun. Katarak ini
terjadi karena gangguan metabolisme serat-serat lensa pada saat pembentukan serat lensa
akibat gangguan metabolisme jaringan lensa pada saat bayi masih di dalam kandungan. Pada
bayi dengan katarak kongenital akan terlihat bercak putih di depan pupil yang disebut sebagai
leukokoria (pupil berwarna putih). Setiap bayi dengan lekokoria sebaiknya difikirkan
diagnosis bandingan seperti retinoblastoma, endoftalmitis, fibroplasi retroletal, hiperplastik
viterus primer, dan miopia tinggi disamping katarak sendiri.
Berberapa macam jenis katarak kongenital

a. Katarak lamelar atau zonular


Bila pada permulaan perkembangan serat lensa normal dan kemudian terjadi gangguan
perkembangan serat lensa. Biasanya perkembangan serat lensa selanjutnya normal kembali
sehingga nyata terlihat adanya gangguan perkembangan serta lensa pada satu lamel daripada
perkembangan lensa tersebut. Katarak lamelar bersifat herediter yang diturunkan secara
dominan dan biasanya bilateral. Tindakan pengobatan atau pembedahan dilakukan bila
fundus okuli tidak tampak pada pemeriksaan funduskopi.
b. Katarak polaris posterior
Katarak polaris posterior ini terjadi akibat arteri hialoid yang menetap (persisten) pada saat
tidak dibutuhakan lagi oleh lensa untuk metabolismenya. Ibu dan bayi akan melihat adanya
leukokoria pada mata tersebut. Pada pemeriksaan akan terlihat kekeruhan di dataran belakang
lensa. Bila dilakukan pemeriksaan funduskopi akan terlihat serat sisa arteri hialoid yang
menghubungkan lensa bagian belakang dengan papil saraf optik. Adanya arteri hialoid yang
menetap ini dapt dilihat dengan pemeriksaan ultrasonografi. Bila fundus okuli masih terlihat,
maka perlu tindakan bedah pada katarak polar posterior ini karena tidak akan terjadi
ambilopia eksanopsia. Bila fudus okuli tidak tampak, maka dialakukan tindakan bedah
iridektomi optik atau bila mungkin dilakukan lesenktomi. Ekstrasi linear ataupun disisio
lentis merupakan kontra indikasi karena akan terjadi tarikan arteri hialoid dengan papil yang
dapat mengakibatkan ablasi retina.
c. Katarak polaris anterior
Katarak polaris arterior atau piramidalis arterior akibat gangguan perkembangan lensa pada
saat mulai terbentuknya plakoda lensa. Pada saat ibu dengan kehamilan kurang dari 3 bulan

mendapat infeksi virus, maka amnionya akan mengandung virus. Plakoda lensa akan
mendapat infeksi virus hingga rubela masuk ke dalam vesikel akan menjadi lensa. Gambaran
klinis akan terjadi ialah adanya keluhan ibu karena anaknya mempunyai leukokoria. Pada
pemeriksaan subjektif akan terlihat kekeruhan pada kornea dan terdapatnaya fibrosis di dalam
bilik mata depan yang menghubungkan kekeruhan kornea dengan lensa yang keruh.
Kekeruhan yang terlihat pada lensa terletak di polus anterior lensa dalam bentuk piramid
dengan puncak di dalam bilik mata depan. Kekeruhan lensa pada katarak polar anterior ini
tidak progresif. Pengobatan dilakukan bila kekeruhan mengakibatkan tidak terlihatnya fundus
bayi tersebut. Tindakan bedah yang dilakukan adalah disisio lentis atau suatu ekstraksi linear.
d. Katarak sentral
Katarak sentral merupakan katarak halus yang terlihat pada bagian nukleus embrional.
Katarak ini terdapat 80% orang normal dan tidak menggangu tajam penglihatan. Pengobatan
tidak dilakukan pada katarak sentral karena tidak menggangu tajam penglihatan dan fundus
okuli dapat dilihat dengan mudah.
3. Katarak traumatik
Katarak traumatik adalah katarak yang terjadi akibat trauma lensa mata, serta robekan pada
kapsul sebagai akibat dari benda tajam. Apabila terjadi lubang yang besar pada kapsul lensa,
maka humor akuosus akan masuk ke dalam lensa dan menyebabkan penyerapan lensa, serta
menyebabkan uveitis.
4. Katarak juvenil adalah katarak yang terlihat setelah usia 1 tahun dapat terjadi karena :
a.Lanjutan katarak kongenital yang makin nyata.
b.Penyulit penyakit lain, katarak komplikata, yang dapat terjadi akibat :
- Penyakit lokal pada satu mata,seperti akibat uveitis anterior, glaukoma, ablasi retiana,
miopia tinggi, ftsis bulbi, yang mengenai satu mata.
- Penyakit sistemik, seperti diabetes, hipoparatiroid, dan miotonia distrofi,yang mengenai
kedua mata akibat trauma tumpul ataupun tajam
Biasanya katarak juvenil ini merupakan katarak yang didapat dan banyak
berberapa faktor.
5. Katarak komplikata

dipengaruhi oleh

Katarak komplikata terjadi akibat gangguan keseimbangan susunan sel lensa faktor fisik atau
kimiawi sehingga terjadi gangguan kejernihan lensa. Katarak komplikata dapat terjadi akibat
iridosiklitis, miopia tinggi, abalasi retina dan glaukoma. Katarak komplikata dapat terjadi
akibat kelainan sistemik yang akan mengenai kedua mata atau kelainan lokal yang akan
mengenai satu mata.
6. Katarak diabetika
Katarak diabetika adalah katarak yang disebabkan oleh penyakit diabetes.

C. Manifestasi klinis
Katarak didiagnosa terutama dengan gejala subyektif. Biasanya, pasien melaporkan
penurunan ketajaman penglihatan dan silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu
yang diakibatkan karena kehilangan penglihatan tadi. Temuan obyektif biasanya meliputi
pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan
oftalmoskop.
Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan
dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina hasilnya adalah pandangan kabur atau
redup, menyhilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di
malam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih.
Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun, dan ketika katarak sudah sangat
memburuk, lensa koreksi yang lebih kuatpun tak akan mampu memperbaiki penglihatan.
Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk menghindari silau
yang menjengkelkan yang disebabkan oleh cahaya yang salah arah. Misalnya ada yang
mengatur ulang perabot rumahnya. Sehingga sinar tidak akan langsung menyinari mata
mereka (Diambil dari buku Keperawatan Medikal Bedah jilid 3 hal.1996-1997).
Biasanya gejala berupa keluhan penurunan tajam pengelihatan secara progresif (seperti rabun
jauh memburuk secara progresif). Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata
seakan akan bertambah putih. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak
benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif (-).
Bila Katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan
komplikasi berupa Glaukoma dan Uveitis.
Gejala umum gangguan katarak meliputi

1.Penurunan ketajaman penglihatan


2.Gangguan fungsional
3.Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil
4.Pandangan kabur
D. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih(bening), transparan, berbentuk
seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga
komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di ferifer ada korteks, dan yang
mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia,
nukeus mengalami perubahan warna menjadi cokelat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat
densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior
merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan
pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke daerah di luar
lensa,misalnya,dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam
protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan
menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein
lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa
yang tegang dan menggangu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dan
tidak ada pada pasien yang menderita katarak. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun
menpunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun
sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya merupakan proses penuaan yang normal.
Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika seseorang memasuki
dekade ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasikan awal, karena
bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen.
Faktor yang paling sering menyebaban terjadinya katarak meliputi sinar UV B,obatobatan,alkhol,merokok,diabetes,dan asupan vitamin antioksi dan yang kurang dalam waktu
yang lama.
Bagan fatofisiologi
Katarak sinilis (penuaan)

Katarak traumatika ( trauma )


Katarak metabolik
a.trauma tembus
b. trauma tumpul
c.radiasi inframerah
4. elektrik
Menyebabkan luka pada lensa
Bagian lensa fungsinya mengalami gangguan
1.DM
2.Hypoglisemia
Sifat mengikat cairan
Suplai cairan lensa berkurang
Lensa mengalami kekeringan
Lensa keruh
Jaringan di lensa rusak( keruh seluruh atau sebagian
Penglihatan seperti air terjun
Katarak
Lensa keruh
Penglihatan kabur (seperti melihat air terjun)
Kerusakan lensa sebagian
Lensa keruh
Penglihatan kabur seperti melihat air terjun
Penglihatan kabur seperti melihat air terjun
akibat gangguan perkembangan embrio intrauterin
Adanya kelainan pembentukan lensa mata
Lensa tidak sempurna
Katarak herideter
(kongenital)
Proses elastisitas dan cairan membasahi lensa berkurang
Terpajan oleh sinar matahari(ultra violet
Lensa mengalami kekeringan.

E. PEMERIKSAAN FISIK
Tehnik yang biasanya dipergunakan dalam pemeriksaan oftalmologis adalah inspeksi dan
palpasi. Inspeksi visual dilakukan dengan instrumen oftalmik khusus dan sumber cahaya.
Palpasi bisa dilakukan untuk mengkaji nyeri tekan mata dan deformitas dan untuk
mengeluarkan cairan dari puncta. Palpasi juga dilakukan untuk mendeteksi secara kasar(jelas
terlihat ) tingkat tekanan intraokuler.
Seperti pada semua pemeriksaan fisik, perawat menggunakan pendekatan sitematis, biasanya
dari luar ke dalam. Struktur eksternal mata dan bola mata di evaluasi lebih dahulu, kemudian
diperiksa struktur internal. Struktur eksternal mata diperiksa terutama dengan inspeksi.
Struktur ini meliputi alis, kelopak mata, bulu mata, aparatus maksilaris, konjungtiva, kornea,
kamera anterior, iris, dan pupil.
Ketika melakukan pemeriksaan dari luar ke dalam, perawat :
a. Melakukan obsevasi keadaan umum mata dari jauh.
b. Alis diobsevasi mengenai kuantitas dan penyebaran rambutnya. Kelopak mata diinspeksi
warna,keadaan kulit, dan ada tidaknya serta arahnya tumbuhnya bulu mata.
c. Catat adanya jaringan parut, pembengkakan, lepuh, laserasi, cedera lain dan adanya benda
asing.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Kartu mata snellen/mesin telebinokular (test ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea,lensa, akueus atau vitreus humor,
kesalahan refraksi, atau penyakit sistem saraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.
2. Lapang penglihatan

: penurunan mungkin disebabkan oleh CSV, massa tumor pada

hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.


3. Pengukuran tonografi

: mengkaji intraorkuler (TIO)(NORMAL 12-25 mm Hg).

Pengukuran gonioskopi

: membantu membedakan sudut terbuka atau sudut tertutup

glaukoma.
4. Test provokatif

: digunakan dalam menentukan adanya/tipe glaukoma bila TIO normal

atau hanya meningkat ringan.


5. Pemeriksaan oftalmoskopi

: mengkaji struktur internal okuler, mencatat atropi lepeng

optik, papiledema, pendarahan retina,dan mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-

lampu memastikan diagnosa katarak.


6. Darah lengkap, laju sedimentasi (LED)

: menunjukan anemia sistemik/ infeksi.

EKG, kolestrol serum, dan pemeriksaan lipid

: dilakukan untuk memastikan arterosklerosis,

PAK.
7. Test toleransi glaukosa/ FBS

: menentukan adanya/kontrol diabetes.

G. PENATALAKSANAAN
Tidak ada terapi obat untuk katarak, dan tak dapat diambil dengan pembesaran laser. Namun,
masih terus dilakukan penelitian mengenai kemajuan prosedur laser baru yang dapat
digunakan untuk mencairkan lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar melalui kanula
(Pokalo, 1992).
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan reflaksi kuat sampai titik dimana
pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif.
pentingnya di kaji efek katarak terhadap kehidupan sehari-hari pasien. Mengkaji derajat
gangguan fungsi sehari-hari, seperti berdandan, ambulasi, aktifitas rekreasi, menyetir mobil,
dan kemampuan bekerja, sangat penting untuk menentukkan terapi mana yang paling cocok
bagi masing-masing penderita.
Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk berkerja
ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang terbaik dapat
dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi, bila pandangan tajam mempengaruhi keamanan
atau kwalitas hidup, atau bila virsualisasi segmen posterior sangat perlu mengevalusi
perkembangan berbagi penyakit retina atau saraf optikus, seperti pada diabetes dan
glaukoma.
Pembedahan katarak adalah pembedahan yang sering dilakukan pada orang berusia lebih dari
65. masa kini, katarak paling sering diangkat dengan anestesia lokal berdasar pasien rawat
jalan, meskipun pasien perlu dirawat bila ada indikasi medis. Keberhasilan pengembalian
penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95% pasien.
Pengamblian keputusan untuk menjalani pembedahan sangat individual sifatnya. Dukungan
finansial dan psikososial dan konsekuensi pembedahan harus dievaluasi, karena sangat
penting untuk penatalaksanaan pasien pasca operasi.
Kebanyakan operasi dilakukan dengan anestesi lokal (retrobulbar atau peribulbar), yang
dapat mengimobilisasi mata. Obat penghilang cemas dapat diberikan untuk mengatasi
perasaan klaustreofobia sehubungan dengan graping bedah. Anestesi umum diperlukan bagi

yang tidak bisa menerima anestesi lokal, yang tidak mampu bekerjasama dengan alasan fisik
atau psikologis, atau yang tidak berespon terhadap anestesi lokal.
Ada dua macam teknik pembedahan tersedia untuk pengangkatan katarak: ekstrasi
intrakapsuler dan ekstrakapsuler. Indikasi intervensi bedah adalah hilangnya penglihatan yang
mempengaruhi aktivitas normal pasien atau katarak yang menyebabakan glaukoma atau
mempengaruhi diagnosis dan terapi gangguan okuler lain, seperti retinopatidiabetika.

H. PENCEGAHAN
Perawat sebagai anggota penting tim perawatan kesehatan, dan sebagai pendidik dan
praktiksi kebiasaan kesehatan yang baik, dapat memberikan pendidikan dalam hal asuhan
mata, keamanan mata, dan pencegahan penyakit mata. Perawat dapat mencegah membantu
orang belajar bagaimana mencegah kontaminasi silang atau penyebaran penyakit infeksi
kepada orang lain melalui praktek higiene yang baik. Perawat dapat mendorong pasien
melakukan pemeriksaan berkala dan dapat merekomendasikan cara mencegah cedera mata.
Kapan dan seringnya mata seseorang harus diperiksa tergantung pada usia pasien, faktor
resiko terhadap penyakit dan gejala orkuler. Orang yang mengalami gejala orkuler harus
segera menjalani pemeriksaan mata. Mereka yang tidak mengalami gejala tetapi yang
berisiko mengalami penyakit mata orkuler harus menjalani pemeriksaan mata berkala. Pasien
yang menggunakan obat yang dapat mempengaruhi mata, seperti kortekosteroid,
hidrokksikloroquin sulfat, tioridasin HCI, atau amiodarone, harus diperiksa secara teratur.
Yang lainya harus menjalani evaluasi glaukoma rutin pada usia 35 dan reevaluasi berkala
setiap 2 sampai 5 tahun.
I. KOMPLIKASI
Ambliopia sensori, penyulit yang terjadi berupa : visus tidak akan mencapai 5/5. Komplikasi
yang terjadi : nistagmus dan strabismus dan bila katarak dibiarkan maka akan mengganggu
penglihatan dan akan menimbulkan komplikasi berupa glukoma dan uveitis.

BAB III

ASKEP KATARAK
A. PENGKAJIAN
Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan katarak adalah
1.

Identitas

Nama
Usia

: Tn./Ny./ An
: Bisa terjadi pada semua umur

Jenis kelamin
Alamat

: laki-laki dan perempuan

Dan keterangan lain mengenai identitas pasien. Pada katarak kongenital biasanya terlihat
pada usia dibawah 1 tahun, sedangkan pasien dengan katarak juvenile terjadi pada usia <40
tahun, pasien dengan katarak persenil terjadi pada usia sesudah 30 40 tahun,dan pasien
dengan katarak senilis terjadi pada usia >40 tahun.

2. Keluhan utama:
- Penglihatan kabur
- Persepsi warna turun
- Diplopia dan visus menurun
- Ada hailo
- Penglihatan memburuk pada siang hari/silau
- Mata basah
Perawat harus menentukan apakah masalahnya hanya mengenai satu atau dua mata dan
berapa lama pasien sudah menderita kelainan ini.
3. Riwayat penyakit dahulu
- Akibat trauma
- Akibat radasi
- Penggunaan kortikosteroid yang lama
- Kelainan congenital
- Adanya riwayat penyakit sistemik yang dimiliki oleh pasien seperti DM, hipertensi,
pembedahan mata sebelumnya , dan penyakit metabolic lainya yang memicu resiko katarak.

4. Riwayat penyakit sekarang


- Penglihatan kabur
- Persepsi warna turun
- Diplopia dan visus menurun
- Ada hailo
- Penglihatan memburuk pada siang hari
Merupakan penjelasan dari keluhan utama.
5. Riwayat keluarga
- Katarak bisa karena kongenital
- Adanya riwayat kelainan mata famili derajat pertama.
Pemahaman pasien mengenai perawatan harus digali untuk mengidentifikasi kesalahan
konsepsi atau kesalahan informasi yang dapat dikoreksi sejak awal.
B. DATA DASAR PENGKAJIAN
1.Aktifitas/istirahat
- Gejala

: perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.

2. Makanan/cairan
- Gejala

: muntah/mual (glaukoma akut ).

3. Neurosensori
- Gejala : gangguan penglihatan (kabur/tak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan
kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa
di ruang gelap (katarak). Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/ pelangi
sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotopobia (glaukoma akut ). Perubahan
kacamata/ pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
- Tanda : tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil ( katarak ). Pupil menyempit dan
merah/mata keras dengan kornea berawan ( glaukoma darurat ). Peningkatan air mata.
4.Nyeri/ketidaknyamanan

- Gejala

: ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis). Nyeri tiba-tiba/ berat

menetap atau tekanan pada sekitar mata,sakit kepala (glaukoma akut).


5.Penyuluhan/ pembelajaran
- Gejala

: Riwayat keluarga glaukoma, diabetes, gangguan sistem vaskuler. Riwayat stres,

alergi, gangguan vasomotor,(contoh peningkatan tekanan vena ), ketidakseimbangan


endokrin, diabetes (glaukoma). Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.
C. Diagnosa Keperawatan
a. Pre operasi
1. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori atau status organ indera.
2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan
kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan dengan tidak
mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat, keterbatasan kognitif.
4. Ansietas berhubungan prosedur penatalaksanaan / tindakan pembedahan
5. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.
b. Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan trauma insisi.
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasif insisi jaringan tubuh
3. Gangguan persepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori atau status organ indera.
4. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan
kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
D. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa 1
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan visus
Tujuan : menunjukkan perubahan prilaku pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan
untuk melindungi diri dari cedera.

Intervensi

Rasional

1. Diskusi tentang pembatasan aktivitas


2. Ambulasi dengan bantuan berikan kamar mandi khusus
3. Dorong nafas dalam bentuk untuk bersihan paru
4. Anjurkan menggunakan teknik manajemen stres, contoh bimbingan imajinasi, visualisasi,
nafas dalam dan latihan relaksasi
5. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi
6. Berikan obat sesuai indikasi antiemetic
1. Membantu mengurangi rasa takut dan meningkatkan kerja sama dalam pembatasan yang
diperlukan
2. Memerlukan sedikit dari pada pispot yang dapat menyebabkan TIO
3. Batuk meningkatkan TIO
4. Meningkatkan relaksasi dan koping menurunkan TIO
5. Digunakan untuk melindungi dari cidera dari kecelakaan untuk menurunkan gerakan mata
6. Mual/muntah dapat meningkatkan TIO, memerlukan tindakan segera untuk mencegah
cidera okuler
Diagnosa 2
Infeksi resiko tinggi terhadap prosedur invasif
Tujuan : menunjukkan perubahan prilaku pola hidup dan meningkatkan penyembuhan luka
tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema, dan demam serta mencegah/menurunkan resiko
infeksi.
Intervensi

Rasional

Mandiri
1. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata
2. Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam ke luar
dengan tisu basah/bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan, dan masukkan lensa kontak
bila menggunakan.
3. Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang dioperasi.
4. Observasi tanda terjadinya infeksi contoh kemerahan, kelopak bengkak, drainase purulen.
Identifikasi tindakan kewaspadaan bila terjadi ISK.
Kolaborasi

1. Berikan obat sesuai indikasi:


Antibiotik (topical, parenteral, atau subkonjungtival)
2. Steroid
3. Menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencegah area kontaminasi area operasi
4. Teknik aseptic menurunkan resiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang
5. Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
6. Infeksi mata terjadi 2-3 hari setelah prosedur dan memerlikan upaya intervensi. Adanya
ISK meningkatkan adanya resiko kontaminasi silang.
1. Topikal digunakan secara profilaksis, dimana terapi lebih agresif diperlukan bila terjadi
infeksi.
2. Digunakan untuk menurunkan inflamasi.
Diagnosa 3
Intoleransi aktivitas berhubunan denan peningkatan TIO
Tujuan : menyatakan pemahaman faktor yang terlibat kemungkinan cedera
Intervensi Rasional
Mandiri
1. Diskusikan apa yang terjadi pada pasca operasi tentang nyeri pembatasan aktivitas,
penampilan, balutan mata
2. Beri pasien posisi bersandar, atau miring ke sisi yang tidak sakit sesuai keinginan
3. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk
4. Ambulasi dengan bantuan : berikan kamar mandi khusus bila sembuh dari anestesi
5. Dorong nafas dalam, batuk untuk bersih paru
6. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi
7. Minta pasien untuk membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri mata tajam tiba-tiba.
Selidiki kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan. Observasi hipema (perdarahan pada
mata) pada mata dengan senter sesuai indikasi.
8. Observasi pembengkakan luka, bilik anterior kempes, pupil berbentuk buah pir.

Kolaborasi
1. Berikan antiemetik sesuai indikasi
2. Berikan analgesic

1.

Membantu mengurangi rasa takut dan meningkatkan kerja sama dalam pembatasan yang

diperlukan
2.

Istirahat beberapa menit sampai beberapa jam pada bedah rawat jalan atau menginap

semalam bila terjadi komplikasi. Menurunkan tekanan pada mata yang sakit, meminimalkan
resiko perdarahan atau stres pada jahitan terbuka
3.

Menurunkan stress pada area operasi/menurunkan tio

4.

Memerlukan sedikit regangan dari pada penggunaan pispot yang dapat meningkatkan tio

5.

Meningkatkan relaksasi dan koping, menurunkan TIO

6.

Digunakan untuk melindungi dari cedera kecelakaan dan menurunkan gerakan mata

7.

Ketidaknyamanan mungkin karena prosedur pembedahan, nyeri akut menunjukkan TIO

atau perdarahan, terjadi karena regangan .

8.

Menunjukkan proptar iris atau rupture luka disebabkan oleh kerusakan jahitan atau

tekanan mata.

1.

Mual/muntah dapat meningkatkan TIO, memerlukan tindakan segera untuk mencegah

cedera intraokuler.
2.

Digunakan untuk ketidaknyamanan ringan, meningkatkan istirahat/mencegah gelisah

yang dapat mempengaruhi TIO.

Diagnosa 4
Perubahan sensori perseptual (visual) yang berhubungan dengan kekeruhan pada lensa mata.
Tujuan : klien akan mendemontrasikan peningkatan kemampuan untuk memproses
rangsangan visual dan mengomunikasikan pembatasan pandangan.
Intervensi

Rasional

1.

Kaji dan dokumentasikan ketajaman penglihatan (visus) dasar

2.

Dapatkan deskripsi fungsi tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilihat oleh klien

3. Adaptasikan lingkungan dengan kebutuhan visual klien dengan cara orientasikan klien
padalingkungan
4.

Letakkan alat-alat yang sering digunakan dalam pandangan klien (seperti, tv control,

teko, tisu)
5.

Berikan pencahayaan yang paling sesuai dengan klien

6.

Cegah glare (sinar yang menyilaukan)

7. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat
8.

Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, birara dan menyentuh sering

9.

Orientasikan pasien terhadap lingkungan dan orang lain di areanya

10. Ingatkan pasien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya memperbesar kurang
lebih 25%, penglihatan ferifer hilang. Dan buta titik mungkin ada
11. Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi
bila menggunakan tetes mata
12. Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan pada sisi yang tak dioperasi

1.

Menentukan seberapa bagus visus klien


2.

Memberikan data dasar tentang pandangan akurat klien dan bagaimana hal tersebut

memengaruhi perawatan
3.

Memfasilitasi kebebasan bergerak dengan aman

4.

Mengemambangkan tindakan indevenden dan meningkatkan keamanan

5.

Meningkatkan penglihatan klien lokasi katarak akan memengaruhi apakah cahaya gelap

atau terang yang lebih baik


6.

Mencegah distres. Katarak akan memecah sinar lampu yang akan menyebabkan distres

7.

Kehilangan pengihatan terjadi lambat dan progresif, tiap mata dapat berlanjut dengan

laju yang berbeda, tetapi biasanya hanya satu mata yang diperbaiki per prosedur.
8.

Memberikan rangsangan sensori tepat terhadap isolasi dan menurunkan bingung

9.

Memberikan peningkatan kenyamanan, menurunkan cemas dan disorientasi pascaoperasi

10. Perubahan ketajaman penglihatan dan kedalaman persepsi dapat menyebabkan bingung
penglihatan/ meningkatkan resiko cedera sampai pasien belajar untuk mengkompensasi
11. Gangguan penglihatan iritasi dapat berakhir 1-2 jam setelah tetesan mata tetapi secara
bertahap menurun dengan penggunaan
12. Memungkinkan pasien melihat objek lebih mudah
Diagnosa 5
Ansietas berdasarkan kehilangan penglihatan
Tujuan : tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi
Intervensi

Rasional

1. Kaji tingkat ansietas derajat pengalaman nyeri/timbulnya secara tiba-tiba dan pengetahuan
kondisi saat ini
2. Dorong pasien untuk mengukur masalah dan mengekspresikan perasaan
3. Identifikasi sumber orang yang mendorong

1.

Faktor ini mempengaruhi persepsi

pasien terhadap ancaman diri, potensial siklus ansietas dan dapat mempengaruhi upaya medik
untuk mengontrol TIO
2.

Memberikan kesempatan untuk pasien menerima situasi nyata mengklasifikasi salah satu

konsepsi dan pemecahan masalah


3.

Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri dalam menghadapi masalah

Diagnosa 6
Kurang pengetahuan berhubungn dengan perawatan/pengobatan
Tujuan : menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan
INTERVENSI

RASIONAL

1.

Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur lensa

2.

Informasikan pasien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas

3. Anjurkan pasien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan saat


defekasi, membongkok pada panggul, meniup hidung, penggunaan sprey, bedak bubuk,
merokok
4. Tekankan kebutuhan untuk menggunakan kaca pelindung selama hari pembedahan atau
penutup padaa malam
5. Anjurkan pasien tidur telentang mengatur intensitas lampu dan menggunakan kaca mata
gelap bila keluar atau dalam ruangan terang, batuk dengan mulut atau mata terbuka
Meningkatkan pamahaman dan kerja sama dengan program pasca operasi
2.

Dapat bereaksi silang campur dengan obat yang diberikan

3. Aktivitas yang menyebabkan mata lelah atau regang atau meningkatkan TIO dapat
mempengaruhi hasil bedah dan mencetuskan perdarahan

4.

Mencegah cedera kecelakaan pada mata dan menurunkan resiko peningkatan TIO

sehubungan dengan berkedip atau posisi kepala

1.

5.

Mencegah cedera kecelakaan pada mata

Diagnosa 7
Ketakutan atau ansietas yang berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya
pemahaman mengenai perawatan pascaoperatif, pemberian obat.
Tujuan : menurunkan stress emosional, ketekutan dan depresi : penerimaan pembedahan dan
pemahaman instruksi.
INTERVENSI
1.

RASIONAL

Kaji derajat dan durasi gangguan visual. Dorong percakapan untuk mengetahui

keprihatinan pasien, perasaan, dan tingkat pemahaman. Jawab pertanyaaan, memberi


dukungan, membantu pasien melengkapi metode koping.
2.

Orientasikan pasien pada lingkungan yang baru.

3.

Jelaskan rutinitas perioperatif.

Preoperatif : tingkat aktivitas, pembatasan diet, obat-obatan.

Intraoperatif : pentingnya berbaring diam selama pembedahan atau memberi

peringatan kepada ahli bedah ketika terasa akan batuk atau akan berganti posisi. Muka
ditutup dengan kain, dan diberikan O. Suara bising dan peralatan yang tak biasa.
Pemantauan, termasuk pengukuran tekanan darah yang sering.
-

Pasca operasi : pemberian posisi,pembalutan, tingkat aktivitas , pentingnya bantuan

untuk ambulasi sampai stabil dan adekuat secara visual.


4. Jelaskan intervensi sedetil-detinya ; perkenalkan diri anda pada setiap interaksi ;
terjemahkan setiap suara asing; pergunakan sentuhan untuk membantu komunikasi verbal.
5. Dorong untuk menjalankan kebiasaaan hidup sehari-hari bila mampu. Pesan makanan
yang bisa diamakan dengan tangan bagi mereka yang tak dapat melihat dengan baik atau tak
dapat melihat dengan baik atau tak mempunyai keterampilan koping untuk menggunakan
peralatan makan.
6. Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.
7. Dorong partisipasi dalam aktivitas sosial dan pengalihan bila memungkinkan
( pengunjung, radio, rekaman audio, TV, kerajinan tangan permainan)
1.

Informasi dapat menghilangkan ketakutan yang tidak diketahui. Mekanisme koping

dapat membantu pasien berkompromi dengan kegusaran, ketakutan, depresi, tegang,

keputusasaan, kemarahan, dan penolakan.


2.

Pengenalan terhadap lingkungan membantu mengurangi ansietas dan meningkatkan

keamanan.
3.

Pasien yang telah mendapat informasi banyak informasi lebih mudah menerima

penaganan dan mematuhi intruksi.


4.

Pasien yang mengalami ganguan visual bergantung pada masukan indera yang lain untuk

mendapatkan informasi.
5.

Perawatan diri dan kemandirian akan meningkatkan rasa sehat.

6.

Pasien mungkin tak mampu melakukan semua tugas sehubungan dengan penanganan dan

perawatan diri.
7.

Isolasi sosial dan waktu luang yang terlalu lama dapat menimbulkan perasaan negatif.

Diagnosa 8
Resiko terhadap cedera dan yag berhubugan dengan kerusakan penglihatan atau kurang
pengetahuan.
Tujuan : pencegahan cedera.
INTERVENSI

RASIONAL

1. Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pasca operasi sampai stabil dan
mencapai penglihatan dan keterampilan koping yang memadai. Ingat bahwa balutan bilateral
menjadikan pasien tak dapat melihat, mengunakan tekhnik bimbingan penglihatan.
2. Bantu pasien menata lingkungan. Jangan mengubah penataaan meja-kursi tanpa pasien
diorentasi terlebih dahulu.
3. Orintasikan pasien pada ruangan.
4. Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca mata bila diperintahkan.
5. Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma.
6. Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata.

1. Menurunkan resiko

jatuh atau cedera ketika langkah sempoyongan atau tidak mempunyai keterampilan koping
untuk kerusakan penglihatan.
2.

Memfasilitasi kemandirian dan menurunkan resiko cedera.

3.

Meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan.

4. Temeng logam atau kaca mata melindungi mata terhadap cedera.


5. Tekanan pada mata dapat mengakibatkan kerusakan serius lebih lanjut.

6.

Cedera dapat terjadi bila wadah obat menyentuh mata.

E. Implementasi
Melaksanakan tindakan sesuai dengan intervensi yang telah direncanakan dan dilakukan
sesuai dengan kebutuhan klien/pasien dan tergantung pada kondisinya. Sasaran utama pasien
meliputi peredaan nyeri, mengontrol ansietas, pencegahan deteriosasi visual yang lebih berat ,
pemahaman dan penerimaan penanganan, pemenuhan aktivitas perawatan diri, termasuk
pemberian obat, pencegahan isolasi sosial, dan tanpa komplikasi.
F. Evaluasi
Melakukan pengkajian kembali untuk mengetahui apakah semua tindakan yang telah
dilakukan dapat memberikan perbaikan status kesehatan terhadap klien. Hasil yang
diharapkan :
1.

Mengalami peredaan nyeri.

2. Tampak tenang dan bebas dari ansietas.


3.

Menghadapi keterbatasan dalam persepsi sensori.

4.

Menerima program penanganan dan menjalankan anjuran secara aman dan tepat.

5.

Mempraktikan aktifitas perawatan diri secara efektif.

6.

Berpartisipasi dalam aktifitas diversional dan sosial.

7.

Mengucapkan pemahaman program terapi, perawatan tindak lajut, dan kunjungan ke

dokter.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer,dkk.(1999). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
Brunner dan Suddarth.(2001).Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3. EGC : Jakarta
Barbara C, Long.(1996). Perawatan medikal bedah. EGC : Jakarta
Corwin, J Elizabeth.(2000). buku saku patofisiologi. EGC : Jakarta
Doenges, E. Marilynn. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.EGC : Jakarta
Dorland. (1998).Kamus Saku Kedokteran Dorland.Edisi 25. EGC : Jakarta
Darling,H Vera dan Thorpe, R Margaret. (1996) Perawatan Mata. Yayasan Essentia
Medica dan Andi : Yogyakarta
Ilyas Sidarta, dkk.(2008). Sari Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia : Jakarta

Juall Lyanda Carepnito.(2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 8. EGC: Jakarta
N, Indriana Istiqomah.(2004). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata. EGC : Jakarta
Pearce C, Evelyn.(2009). Anatomi dan fisiologi. Gramedia : Jakarta
Smeltzer, Suzanne C.(2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) KATARAK


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kebutaan di Indonesia merupakan bencana Nasional. Sebab kebutaan menyebabkan kualitas
sumber daya manusia rendah. Hal ini berdampak pada kehilangan produktifitas serta
membutuhkan biaya untuk rehabilitasi dan pendidikan orang buta. Berdasarkan hasil survey
nasional tahun 1993 1996, angka kebutaan di Indonesia mencapai 1,5 %. Angka ini
menempatkan Indonesia pada urutan pertama dalam masalah kebutaan di Asia dan nomor dua
di dunia pada masa itu.
Salah satu penyebab kebutaan adalah katarak. sekitar 1,5 % dari jumlah penduduk di
Indonesia, 78 % disebabkan oleh katarak. Pandangan mata yang kabur atau berkabut
bagaikan melihat melalui kaca mata berembun, ukuran lensa kacamata yang sering berubah,
penglihatan ganda ketika mengemudi di malam hari , merupakan gejala katarak. Tetapi di
siang hari penderita justru merasa silau karena cahaya yang masuk ke mata terasa berlebih.
Begitu besarnya resiko masyarakat Indonesia untuk menderita katarak memicu kita
dalam upaya pencegahan. Dengan memperhatikan gaya hidup, lingkungan yang sehat dan
menghindari pemakaian bahan-bahan kimia yang dapat merusak akan membuta kita terhindar
dari berbagai jenis penyakit dalam stadium yang lebih berat yang akan menyulitkan upaya
penyembuhan.
Sehingga kami sebagai mahasiswa keperawatan memiliki solusi dalam mencegah dan
menanggulangi masalah katarak yakni dengan memberikan sebuah raangkuman makalah
tentang katarak sebagai bahan belajar dan pendidikan bagi mahasiswa keperawatan.
1.2 Rumusan masalah
1.2.1

Bagaimanakah konsep katarak?

1.2.2

Bagaimanakah konsep proses keperawatan pada katarak?

1.3 Tujuan instruksional umum


Menjelaskan konsep dan proses keperawatan pada katarak.

1.4 Tujuan instruksional khusus


1.4.1

Mengetahui definisi katarak

1.4.2

Mengetahui etiologi katarak

1.4.3

Mengetahui patofisiologi katarak

1.4.4

Mengetahui manifestasi klinis katarak

1.4.5

Mengetahui pemeriksaan dignostik pada katarak

1.4.6

Mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan katarak

1.4 Manfaat
1. Mahasiswa mampu dan mengerti tentang katarak
2. Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien katarak
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Katarak
Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga menyebabkan
penurunan/gangguan penglihatan (Admin,2009). Katarak menyebabkan penglihatan menjadi
berkabut/buram. Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh
akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup
air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman
penglihatan berkurang (Corwin, 2000). Definisi lain katarak adalah suatu keadaan patologik
lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa.
Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada
berbagai usia tertentu (Iwan,2009)
Lensa mata merupakan bagian jernih dari mata yang berfungsi untuk menangkap cahaya dan
gambar. Retina merupakan jaringan yang berada di bagian belakang mata, bersifat sensitive
terhadap cahaya. Pada keadaan normal, cahaya atau gambar yang masuk akan diterima oleh
lensa mata, kemudian akan diteruskan ke retina, selanjutnya rangsangan cahaya atau gambar
tadi akan diubah menjadi sinyal / impuls yang akan diteruskan ke otak melalui saraf

penglihatan dan akhirnya akan diterjemahkan sehingga dapat dipahami. Tetapi bila jalan
cahaya tertutup oleh keadaan lensa yang katarak maka impuls tidak akan dapat diterima oleh
otak dan tidak akan bisa diterjemahkan menjado suatu gambaran penglihatan yang baik.
Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun dan ketika katarak sudah sangat
memburuk lensa yang lebih kuat pun tidak akan mampu memperbaiki penglihatan. Orang
dengan katarak secara khas selalu mencari cara untuk menghindari silau yang berasal dari
cahaya yang salah arah. Misalnya dengan mengenakan topi berkelapak lebar atau kaca mata
hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari.
Katarak dapat diklasifikasikan menurut umur penderita:
1. Katarak Kongenital, sejak sebelum berumur 1 tahun sudah terlihat disebabkan oleh
infeksi virus yang dialami ibu pada saat usia kehamilan masih dini (Farmacia, 2009).
Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah
lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab
kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang
tepat.
Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang
menderita penyakit rubela, galaktosemia, homosisteinuri, toksoplasmosis, inklusi
sitomegalik,dan histoplasmosis, penyakit lain yang menyertai katarak kongenital biasanya
berupa penyakit-penyakt herediter seperti mikroftlmus, aniridia, koloboma iris, keratokonus,
iris heterokromia, lensa ektopik, displasia retina, dan megalo kornea.
Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat
prenatal infeksi ibu seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan pemakainan obat
selama kehamilan. Kadang-kadang terdapat riwayat kejang, tetani, ikterus, atau
hepatosplenomegali pada ibu hamil. Bila katarak disertai uji reduksi pada urine yang positif,
mungkin katarak ini terjadi akibat galaktosemia. Sering katarak kongenital ditemukan pada
bayi prematur dan gangguan sistem saraf seperti retardasi mental.
Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak
kongenital dengan diabetes melitus, fosfor, dan kalsium. Hampir 50 % katarak kongenital
adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi yang menderita katarak
kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria.
1. Katarak Juvenil, Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai
terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil
biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital. Katarak juvenil biasanya
merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya

2. Katarak Senil, setelah usia 50 tahun akibat penuaan. Katarak senile biasanya
berkembang lambat selama beberapa tahun, Kekeruhan lensa dengan nucleus yang
mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun.
(Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Katarak Senil sendiri terdiri dari 4 stadium, yaitu:
1. Stadium awal (insipien). Pada stadium awal (katarak insipien) kekeruhan lensa mata
masih sangat minimal, bahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat periksa. Pada
saat ini seringkali penderitanya tidak merasakan keluhan atau gangguan pada
penglihatannya, sehingga cenderung diabaikan. Kekeruhan mulai dari tepi ekuator
berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior ( katarak kortikal ). Vakuol
mulai terlihat di dalam korteks. Katarak sub kapsular posterior, kekeruhan mulai
terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan dan
korteks berisi jaringan degenerative(benda morgagni)pada katarak insipient kekeruhan
ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada
semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.
(Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
2. Stadium imatur. Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal
tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian
yang jernih pada lensa. Pada stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan
lensa menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa akan mmberikan perubahan
indeks refraksi dimana mata akan menjadi mioptik. Kecembungan ini akan
mengakibatkan pendorongan iris kedepan sehingga bilik mata depan akan lebih
sempit.( (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
3. Stadium matur. Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran
air bersama-sama hasil desintegrasi melalui kapsul. Didalam stadium ini lensa akan
berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan
mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa
berwarna sangat putih akibatperkapuran menyeluruh karena deposit kalsium ( Ca ).
Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.( Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa
Mata Keruh, ed. 2,)
4. stadium hipermatur. Katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair sehingga masa
lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus
"tenggelam" kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat
masa lensa yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa

uveitis fakotoksik atau galukoma fakolitik (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata
Keruh, ed. 2,)
5. Katarak Intumesen. Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa
degenerative yang menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa disertai
pembengkakan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga
bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa
ini akan dapat memberikan penyulit glaucoma. Katarak intumesen biasanya terjadi
pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopi lentikularis. Pada keadaan
ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga akan mencembung dan daya biasnya akan
bertambah, yang meberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol
pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa
Mata Keruh, ed. 2,)
6. Katarak Brunesen. Katarak yang berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra)
terutama pada lensa, juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes militus dan
miopia tinggi. Sering tajam penglihatan lebih baik dari dugaan sebelumnya dan
biasanya ini terdapat pada orang berusia lebih dari 65 tahun yang belum
memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit
Mata, ed. 3)
Tabel 1.1 Perbedaan karakteristik Katarak (Ilyas, 2001)
Kekeruhan
Cairan Lensa
Iris
Bilik mata depan
Sudut bilik mata
Shadow test
Visus
Penyulit

Insipien
Ringan
Normal
Normal
Normal
Normal
(-)
(+)
(-)

Imatur
Sebagian
Bertambah
Terdorong
Dangkal
Sempit
(+)
<
Glaukoma

Matur
Seluruh
Normal
Normal
Normal
Normal
(-)
<<
(-)

Hipermatur
Masif
Berkurang
Tremulans
Dalam
Terbuka
+/<<<
Uveitis+glaukoma

Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi terjadinya:


1.)

Katarak Inti ( Nuclear )

Merupakan yang paling banyak terjadi. Lokasinya terletak pada nukleus atau bagian tengah
dari lensa. Biasanya karena proses penuaan.
2.)

Katarak Kortikal

Katarak kortikal ini biasanya terjadi pada korteks. Mulai dengan kekeruhan putih mulai dari
tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan. Banyak pada penderita
DM
3.)

Katarak Subkapsular.

Mulai dengan kekeruhan kecil dibawah kapsul lensa, tepat pada lajur jalan sinar masuk. DM,
renitis pigmentosa dan pemakaian kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama dapat
mencetuskan kelainan ini. Biasanya dapat terlihat pada kedua mata.
2.2 Etiologi Katarak
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000):
1. Usia lanjut dan proses penuaan
2. Congenital atau bisa diturunkan.
3. Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau bahan
beracun lainnya.
4. Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya diabetes)
dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
1. Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/gangguan
metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
3. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
4. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti
kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
5. Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).
2.3 Patofisiologi
Metabolisme Lensa Normal
Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan kalium).
Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous. Kadar kalium di bagian anterior
lensa lebih tinggi di bandingkan posterior. Dan kadar natrium di bagian posterior lebih besar.
Ion K bergerak ke bagian posterior dan keluar ke aqueous humour, dari luar Ion Na masuk
secara difusi dan bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar melalui
pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di dalam oleh CaATPase Metabolisme lensa melalui glikolsis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur HMP

shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk aktivitas
glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktse adalah enzim yang merubah
glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fructose oleh enzim sorbitol
dehidrogenase.
Lensa mengandung 65% air, 35% protein dan sisanya adalah mineral. Dengan bertambahnya
usia, ukuran dan densitasnya bertambah. Penambahan densitas ini akibat kompresi sentral
pada kompresi sentral yang menua. Serat lensa yang baru dihasilkan di korteks, serat yang tua
ditekan ke arah sentral. Kekeruhan dapat terjadi pada beberapa bagian lensa.
Kekeruhan sel selaput lensa yang terlalu lama menyebabkan kehilangan kejernihan secara
progresif, yang dapat menimbulkan nyeri hebat dan sering terjadi pada kedua mata.
2.4 Manifestasi Klinis
Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta
gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
2. menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari
Gejala objektif biasanya meliputi:
1.

Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak
dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan
bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina.
Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup.

1. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan seakanakan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
2. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih
,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Gejala umum gangguan katarak meliputi:
1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2. Gangguan penglihatan bisa berupa:
1. Peka terhadap sinar atau cahaya.
2. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
3. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
4. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
1)

Kesulitan melihat pada malam hari

2)

Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata

3)

Penurunan ketajaman penglihatan ( bahkan pada siang hari )


1. Gejala lainya adalah :

1)Sering berganti kaca mata


2)Penglihatan sering pada salah satu mata.
Kadang katarak menyebabkan pembengkakan lensa dan peningkatan tekanan di dalam mata (
glukoma ) yang bisa menimbulkan rasa nyeri.
2.5 Penatalaksanaan katarak
Gejala-gejala yang timbul pada katarak yang masih ringan dapat dibantu dengan
menggunakan kacamata, lensa pembesar, cahaya yang lebih terang, atau kacamata yang dapat
meredamkan cahaya. Pada tahap ini tidak diperlukan tindakan operasi.
Tindakan operasi katarak merupakan cara yang efektif untuk memperbaiki lensa
mata, tetapi tidak semua kasus katarak memerlukan tindakan operasi. Operasi katarak perlu
dilakukan jika kekeruhan lensa menyebabkan penurunan tajam pengelihatan sedemikian rupa
sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari. Operasi katarak dapat dipertimbangkan untuk
dilakukan jika katarak terjadi berbarengan dengan penyakit mata lainnya, seperti uveitis
yakni adalah peradangan pada uvea. Uvea (disebut juga saluran uvea) terdiri dari 3 struktur:
1. Iris : cincin berwarna yang melingkari pupil yang berwarna hitam
2. Badan silier : otot-otot yang membuat lensa menjadi lebih tebal sehingga mata bisa
fokus pada objek dekat dan lensa menjadi lebih tipis sehingga mata bisa fokus pada
objek jauh
3. Koroid : lapisan mata bagian dalam yang membentang dari ujung otot silier ke saraf
optikus di bagian belakang mata.
Sebagian atau seluruh uvea bisa mengalami peradangan. Peradangan yang terbatas pada iris
disebut iritis, jika terbatas pada koroid disebut koroiditis.
Juga operasi katarak akan dilakukan bila berbarengan dengan glaukoma, dan retinopati
diabetikum. Selain itu jika hasil yang didapat setelah operasi jauh lebih menguntungkan
dibandingkan dengan risiko operasi yang mungkin terjadi. Pembedahan lensa dengan katarak
dilakukan bila mengganggu kehidupan social atau atas indikasi medis lainnya.( Ilyas, Sidarta:
Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Indikasi dilakukannya operasi katarak :
1. Indikasi sosial: jika pasien mengeluh adanya gangguan penglihatan dalam melakukan
rutinitas pekerjaan

2. Indikasi medis: bila ada komplikasi seperti glaucoma


3. Indikasi optik: jika dari hasil pemeriksaan visus dengan hitung jari dari jarak 3 m
didapatkan hasil visus 3/60
Ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu:
1. ICCE ( Intra Capsular Cataract Extraction)
yaitu dengan mengangkat semua lensa termasuk kapsulnya. Sampai akhir tahun 1960 hanya
itulah teknik operasi yg tersedia.
1. ECCE (Ekstra Capsular Cataract Extraction) terdiri dari 2 macam yakni
1. Standar ECCE atau planned ECCE dilakukan dengan mengeluarkan lensa
secara manual setelah membuka kapsul lensa. Tentu saja dibutuhkan sayatan
yang lebar sehingga penyembuhan lebih lama.
2. Fekoemulsifikasi (Phaco Emulsification). Bentuk ECCE yang terbaru dimana
menggunakan getaran ultrasonic untuk menghancurkan nucleus sehingga
material nucleus dan kortek dapat diaspirasi melalui insisi 3 mm. Operasi
katarak ini dijalankan dengan cukup dengan bius lokal atau menggunakan
tetes mata anti nyeri pada kornea (selaput bening mata), dan bahkan tanpa
menjalani rawat inap. Sayatan sangat minimal, sekitar 2,7 mm. Lensa mata
yang keruh dihancurkan (Emulsifikasi) kemudian disedot (fakum) dan diganti
dengan lensa buatan yang telah diukur kekuatan lensanya dan ditanam secara
permanen. Teknik bedah katarak dengan sayatan kecil ini hanya memerlukan
waktu 10 menit disertai waktu pemulihan yang lebih cepat.
Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka pendek. Kacamata baru
dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika bekas insisi telah sembuh. Rehabilitasi
visual dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan lebih cepat dengan metode
fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat berakomodasi maka pasien akan membutuhkan
kacamata untuk pekerjaan jarak dekat meski tidak dibutuhkan kacamata untuk jarak jauh.
Saat ini digunakan lensa intraokular multifokal. Lensa intraokular yang dapat berakomodasi
sedang dalam tahap pengembangan
Apabila tidak terjadi gangguan pada kornea, retina, saraf mata atau masalah mata lainnya,
tingkat keberhasilan dari operasi katarak cukup tinggi, yaitu mencapai 95%, dan kasus
komplikasi saat maupun pasca operasi juga sangat jarang terjadi. Kapsul/selaput dimana lensa
intra okular terpasang pada mata orang yang pernah menjalani operasi katarak dapat menjadi

keruh. Untuk itu perlu terapi laser untuk membuka kapsul yang keruh tersebut agar
penglihatan dapat kembali menjadi jelas.
DOWNLOAD : WOC ASKEP KATARAK
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KATARAK
3.1 Pengkajian
3.1.1 Anamnesa
Anamnesa yang dapat dilakukan pada klien dengan katarak adalah :
1. Identitas / Data demografi
Berisi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara
langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga, dan keterangan
lain mengenai identitas pasien.
1. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama pasien katarak biasanya antara lain:
-Penurunan ketajaman penglihatan secara progresif (gejala utama katarak) .
-Mata tidak merasa sakit, gatal atau merah
-Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film
-Perubahan daya lihat warna
-Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan mata
-

Lampu dan matahari sangat mengganggu

Sering meminta ganti resep kaca mata

Lihat ganda

Baik melihat dekat pada pasien rabun dekat ( hipermetropia)

Gejala lain juga dapat terjadi pada kelainan mata lain


1. Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti


-

DM

hipertensi

pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya memicu resiko

katarak.
-

Kaji gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena,

ketidakseimbangan endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid /

toksisitas fenotiazin.

Kaji riwayat alergi


1.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Apakah ada riwayat diabetes atau gangguan sistem vaskuler, kaji riwayat stress,

3.1.2

Pemeriksaan Fisik

Inspeksi
Dalam inspeksi, bagian-bagian mata yang perlu di amati adalah dengan melihat lensa mata
melalui senter tangan (penlight), kaca pembesar, slit lamp, dan oftalmoskop sebaiknya
dengan pupil berdilatasi. Dengan penyinaran miring ( 45 derajat dari poros mata) dapat
dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh ( iris
shadow ). Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya imatur, sedang bayangan
kecil dan dekat dengan pupil terjadi pada katarak matur.
3.1.3

Pemeriksaan Diagnostik

1. Kartu mata Snellen / mesin telebinokular ( tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan lensa, system saraf atau
penglihatan ke retina ayau jalan optic.
2. Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi
lempeng optic, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisme.
3. Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukkan anemi sistemik / infeksi
4. EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid : dilakukan untuk memastikan
aterosklerosis.
5. Tes toleransi glukosa / FBS : menentukan adanya/ control diabetes.
3.1

Diagnosa Keperawatan yang mungkin terjadi (Doenges,2000):

1. Gangguan peersepsi sensori-perseptual penglihatan b.d gangguan penerimaan


sensori/status organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi. Ditandai dengan :
Menurunnya ketajaman penglihatan, perubahan respon biasanya terhadap rangsang.
2. Kecemasan b.d kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan
pembedahan
3. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d prosedur invasive pengangkatan katarak
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan b.d tidak mengenal
sumber informasi, salah intrepetasi, kurangnya mengingat, keterbatasan kognitif

No Diagnosa Keperawatan

NIC

NOC

Gangguan peersepsi sensori-perseptual


penglihatan b.d gangguan penerimaan
sensori/status organ indera, lingkungna

Mandiri

- Tentukan ketajaman dalam batas situasi individu,


mengenal gangguan sensori dan
penglihatan, catat

secara terapetik dibatasi. Ditandai dengan apakah satu atau dua


:

mata terlibat

Meningkatkan ketajaman penglihatan

berkompensasi terhadap perubahan. i


Kriteria Hasil :
k

penglihatan

Mengenal gangguan sensori


Orientasikan klien dan berkompensasi terhadap
tehadap lingkungan

perubahan respon biasanya

perubahan.

terhadap rangsang.

tanda disorientasi.

menurunnyaketajaman

Observasi tanda-

Mengidentifikasi/memperbaiki d

Pendekatan dari sisi potensial bahaya dalam lingkungan. m

yang tak dioperasi,

bicara dengan

menyentuh.

Ingatkan klien

menggunakan

kacamata katarak yang

tujuannya memperbesar

kurang lebih 25 persen,

pelihatan perifer hilang

dan buta titik mungkin

ada.

Letakkan barang

yang dibutuhkan/posisi

bel pemanggil dalam

jangkauan/posisi yang

tidak dioperasi.

m
3

Kecemasan b.d kurang terpapar terhadap


informasi tentang prosedur tindakan
pembedahan

Mandiri

a. Pasien mengungkapkan dan

mendiskusikan rasa cemas/takutnya. kecemasan pasien dan b. Pasien tampak rileks tidak tegang d
dan melaporkan kecemasannya
catat adanya tandai
-

Kaji tingkat

tanda verbal dan

berkurang

nonverbal.

sampai pada tingkat dapat diatasi.

Beri kesempatan c. Pasien dapat mengungkapkan

Pasien untuk

keakuratan pengetahuan tentang

mengungkapkan isi

pembedahan

pikiran dan perasaan

takutnya.
-

Observasi tanda

vital dan peningkatan

respon fisik pasien

Edukasi

Beri penjelasan

pasien tentang prosedur

tindakan operasi,

harapan dan akibatnya.

Beri penjelasan

dan suport pada pasien

pada setiap melakukan

prosedur tindakan
-

Lakukan orientasi

dan perkenalan pasien


terhadap ruangan,
petugas, dan peralatan
yang akan digunakan

DAFTAR PUSTAKA
1. Khurna A.K. 2007. Community Ophthalmology in Comprehensive Ophthalmology,
fourth edition, chapter 20, new delhi, new age limited publisher : 443-446.

2. Marylin E. Doenges. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
3. Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
4. Nico A. Lumenta. 2008. Manajemen Hidup Sehat. Jakarta: Elek Media Komputindo
5. Fadhlur Rahman. 2009. Laporan Kasus Katarak Matur Pada Penderita Diabetes
Mellitus.
6. Nova Faradilla. 2009. Glaukoma dan Katarak Senilis. Riau: Fakultas Kedokteran
University of Riau
7. Majalah Farmacia Edisi April 2008 , Halaman: 66 (Vol.7 No.9)
8. Sidarta, Ilyas. 2002. Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-2. Jakarta: CV. Sagung Seto
9. Sidarta, Ilyas. Ihtisar ilmu Penyakit Mata. 2009. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI
10. 10. Hartono. Oftalmoskopi dasar & Klinis. 2007. Yogyakarta: Pustaka Cendekia
Press
11. 11. Sidarta, Ilyas. Dasar-dasar Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-3.
2009. Jakarta: Balai Pustaka FKUI
12. 12. Benjamin J. Phil. 2010. Acute Endhoptalmitis after Cataract Surgery : 250
Consecutive Cases treated at the tertiary referral center in Netherland. American
Journal of ophthalmology. Volume 149 No.3

MAKALAH ASKEP KATARAK


MAKALAH ASKEP KATARAK
Ratings: (0)|Views: 1,766|Likes: 7
Published by Danny Safdinand
See More
Katarak kongenital adalah kekeruhan pada lensa yang timbul pada saatpembentukan lensa. Kekeruhan sudah
terdapat pada waktu bayi lahir. Katarak inisering ditemukan pada bayi yang dilahirkanoleh ibu yang
menderitarubella,DM,toksoplasmosis, hipoparatiroidisme,galaktosemia.Ada pula yangmenyertai kelainan
bawaan pada mata itu sendiri seperti mikroftalmus, aniridia,koloboma,keratokonus, ektopia leentis,

megalokornea, hetekronia iris. Kekeruhandapat dijumpai dalam bentuk arteri hialoidea yang persisten ,katarak
Polarisanterior,posterior, katarak aksialis,katrak zonularis,katarak stelata,katarak totalis dankatarak kongenita
membranasea.2.
Katarak PrimerKatarak primer, menurut umur ada tiga golongan yaitu atarak juvenilis (umur <20tahun),
katarak senilis (umur >50 tahun ). Katarak primer dibagi menjadi empatstadium :1.
Stadium InsipienJenis katarak ini adalah stadium paling dini . Visus belum terganggu ,dengan koreksi masih
bisa 5/5 -6/6. Kekeruha terutama terdapat padabagian perifer berupa bercak-bercak seperti jari-jari roda.2.
Stadium ImaturKekeruhan sebelum mengenai seluruh lapisan lensa , terutama terdapatdibagian posterior dan
bagian belakang nucleus lensa . Shadow testposotif . Saat ini mungkin terjadi hidrasi korteks yang
menyebabkan lensamenjadi cembung sehingga indeks refraksi berubah dan mata menjadimiopa. Keadaan ini
disebut intumesensi. Cembungnya lensa akanmendorong iris kedepan, menyebabkan sudut bilik mata depan
menjadisempit dan menimbulkan komplikasi glaucoma.3.
Stadium Matur
Pada stadium ini terjadi pengeluaran air sehingga lensa akan berukurannormal kembali. Saat ini lensa telah
keruh seluruhnya sehingga semuasinar yang masuk pipil dipantulkan kembali. Shadow tes negative .Dipupil
tampak lensa seperti mutiara.4.
Stadium Hipermatur (Katarak Morgagni)Korteks lensa yang seperti bubur telah mencair sehingga nucleus
lensaturun karena daya beratnya. Melalui pupil, nucleus terbayang sebagaisetengah lingkaran dibgian bawah
dengan warna berbeda dari yangdiatasnya yaitu kecoklatan .Saat ini juga terjadi kerusakan kapsul lensayang
menjadi lebih permeable sehingga isi korteks dapat keluar dan lensamenjadi kempis yang dibawahnya
terdapat nucleus lensa.Keadaan inidisebut katarak morgani.5.
Katarak KomplikataKatarak jenis ini terjadi sekunder atau sebagian komplikasi daripenyakit lain . Penyebab
katarak jenis ini adalah :a.
Gangguan okuler, karena retinitis pigmentosa, glaucoma,ablasio retina yang sudah lama , uveitis, myopia
maligna.b.

Penyakit siskemik , DM, hipoparatiroid, sindromdown,dermatritis atopic.c.


Trauma , trauma tumpul, pukulan , benda asing didalam mataterpajan panasa yang berlebihan , sinar X , radio
aktif, terpajansinar matahari, toksik kimia.Merokok meningkatkan resiko berkembangnya katarak, demikian
puladengan peminum berat. Kadang-kadang katarak tejadi lagi setelah operasi jika kapsullensa ditinggalkan
utuh selama operasi katarak (dewit,1998).
B. ETIOLOGI
1.Ketuaan, biasanya dijumpai katarak senilis.2.
Trauma, terjadi karena pukulan benda tumpul /tajam terpapar oleh sinar Xatau benda-benda radioaktif.3.
Penyakit mata seperti Uveitis4.
Penyakit sistemik seperti DM.5.
Defek congenital
C. PATOFISIOLOGI
Lensa berisi 65% air, 35% protein dan mineral penting. Katarak merupakankondisi penurunan ambilan
oksigen,penurunan air,peningkatan kandungan kalsiumdan berubahnya protein yang dapat larut menjadi tidak
larut. Pada proses penuaan,lensa secara bertahap kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam ukuran
dandensitasnya. Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi sentral serta lensa yanglebih tua. Saat serat
lensa yang baru diproduksi dikorteks,serat lensa ditekan menujusentral. Serat-serat lensa yang padat lamalama menyebabkan hinlangnya transparansilensa yang tidak terasanyeri dan sering bilateral. Selain itu
berbagai penyebab katarak diatas menyebabkan gangguan metabolisme pada lensa mata. Gangguan
metabolismeini , menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan yang ada didalam lensa yangpada
akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Kekeruhan dapat berkembangdiberbagai bagian lensa atau
kapsulnya. Pada gangguan ini sinar yang masuk memalui kornea yang dihalangi oleh lensa yang keruh atau
huram. Kondisi inimemburamkan bayangan semu yang sampai pada retina.Akibat otak mengiterprestasikan
sebagai bayangan yang berkabut. Pada katarak yang tidak diterapi, lensa mata menjadi putih susu, kemudian
berubah kuning , bahkan menjadicoklat atau hitam dank klien mengalami kesulitan dalam membedakan
warna.
D. MANIFESTASI KLINIS

Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya klienmelaporkan penurunan ketajaman
penglihatan dan silau serta gangguan fungsionalsampai derajat tertentu yang diakibatkan oleh kehilangan
penglihatan tadi. Temuanobjektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil
sehinggaretina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak,cahaya akan
dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadibayangan terfokus pada retina. Hasilnya
adalah pendangan menjadi kabur atau redup,emnyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan
susah melihat dimalam hari. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih.
E. PATHWAY
Perubahan KumanDegeneratif TraumaJumlah proteinKompresi sentral (serat)Perubahan
serabutMembentuk massaDensitasKeruhKeruhPembedahan KatarakPre Operasi
Kecemasanmeningkat
KurangPost Operasi
Gangguan rasanyaman (nyeri)
Resiko tinggiterjadinya infeksi
Resiko tinggiterjadinya injuri :

PeningkatanMenghambat jalan cahayaPenglihatan /Buta


Gangguan sensori persepsi visual
Risiko tinggi cidera fisik

F. PEMERIKSAAN
1.
Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengankerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus
humor, kesalahan refraksi,penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina2.
Iluminasi oblik tampak kekeruhan yang keabu-abuan atau putih denganbayangan hitam disebut iris shadow.3.
Pemeriksaan dengan optalmoskop tampak warna hitam diatas dasarorange disebut fundus reflek.4.
Pada katarak yang lebih lanjut, kekeruhan bertambah sehingga iris shadowmenghilang dan fundus reflek
menjadi hitam saja (negatif).5. Pengukuran Tonografi : TIO (12


25 mmHg)
G. PENATALAKSANAAN
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampaike titik di mana pasien
melakukan aktivitas sehari-hari, maka penanganan biasanyakonservatif.Pembedahan diindikasikan bagi
mereka yang memerlukan penglihatan akutuntuk bekerja ataupun keamanan. Biasanya diindikasikan bila
koreksi tajampenglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi bilaketajaman
pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup, atau bila visualisasisegmen posterior sangat perlu
untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakitretina atau sarf optikus, seperti diabetes dan
glaukoma.Ada 2 macam teknik pembedahan ;1.
Ekstraksi katarak ekstrakapsuler (ECCE)Adalah pengangkatan korteks dan nukeus ,kapsul
posteriorditinggalkan untuk mencegah kolaps vitreus, untuk melindungi retina dari