Pada waktu aku telah menyelesaikan, karena letak kantorku yang amat sangat

jauh dengan rumah. Aku memutuskan untuk mengontrak Apartemen di daerah
Kuningan sehingga jika ke kantor tidak terlalu jauh.
Namaku Bramanto. Sekarang saya berkerja di salah satu perusahaan
telekomunikasi di daerah kuningan Jakarta. Dulu aku tinggal bersama kedua
orang tuaku di sebuah kompleks tentara yang amat membosankan sehingga aku
memutuskan untuk mandiri dengan menghuni apartemen milik dari saudaraku
yang baru menikah sehingga dia di boyong oleh suaminya ke Surabaya.
Hari pertama aku menghuni aku lapor dengan Ketua Perhimpunan Pengurus
Apartemen dimana aku tinggal beliau kebetulan tinggal di lantai 12 sedangkan
aku di lantai 11. Setelah melapor aku dimohon bantuannya untuk menjaga
kebetulan adik perempuan beliau tinggal di sebelahku yaitu Tante Vivi. Hari
kedua aku mencoba untuk berkenalan dengan Tante Vivi, ternyata beliau tidak
terlalu tua, kelihatannya sekitar 38 – 40 tahunan. Orangnya ramah dan baik
sekali. Yang aku heran sampai umur segitu beliau belum menikah, mungkin
punya masalah dengan karir karena aku melihat mobilnya ada dua yaitu Toyota
Alphard dan Toyota Camry.
Tante Vivi begitu aku memanggilnya memiliki 2 pembantu dan seorang sopir
yang telaj melayani beliau selama 3 tahun di Apartemen itu.
Berikut adalah pengalamanku diwaktu tidak terduga dimana aku dititipkan kunci
Apartemen oleh beliau karena semua pembantu dan sopirnya cuti lebaran,
sehingga beliau tingal di rumah kakaknya di lantai 12,
Sekedar gambaran, Tante Vivi mempunyai tinggi badan sekitar 165 cm,
mempunyai pinggul yang besar, buah pantat yang bulat, pinggang yang
ramping, dan perut yang agak rata (ini dikarenakan senam aerobic, fitness, dan
renang yang diikutinya secara berkala), dengan didukung oleh buah dada yang
besar dan bulat (belakangan saya baru tahu bahwa Tante Vivi memakai Bra
ukuran 36B untuk menutupinya). Dengan wajah yang seksi menantang dan
warna kulit yang putih bersih, wajarlah jika Tante Vivi menjadi impian banyak
lelaki baik-baik maupun lelaki hidung belang.
Hingga pada suatu sore, saat saya pulang kerja saya mendengar ada ketukan
pintu di apartemenku , kemudian saya intip dari lubang pintu ternyata Tante
Vivi.
“eh ya ada apa tante” kataku sambil membuka pintu. “Ngga Bram ada surat
atau tagihan kartu kreditku ngga dari Front Office depan?” jawan tante Vivi.
“Sepertinya ngga ada tante” jawabku “Eh aku numpang ke kamar mandimu ya”
sambil meringis, mungkin dia udah kebelet pips he he he. “silahkan tan tapi
kamar mandinya ngga sebersih punya tante lho maklum bujangan” kataku
sambil tertawa. ” Ngga apa apa” jawabnya.
baru aku sadar bahwa si tante vivi memakai baju training tipis mungkin baru lari
atau fitness di lantai 2. “Abis lari ya tan” tanyaku “Iya tapi nyari kamar mandi
susah mana liftnya lama lagi” ujar tante vivi sambil ngeloyor ke kamar mandiku.
Sambil jalan ke dapur aku berfikir kok kayaknya ada yang salah ya dengan
membiarkan si tante ke kamar mandi tapi apa ya?. Ya ampun tadi khan aku lagi
nonton BF di laptop memang kebetulan mau coli sih maklum belum ada
pasangan/pacar. Wah mati gue ketahuan dah sama tante vivi. Ah bodoamatbodo
amat kaya dia ngga pernah muda aja.

Begitu keluar dari kamar mandi si tante senyum-senyum, wah malu deh aku.
“Hayo kamu tadi lagi ngapain Bram? tanya si tante. “Ngga ngapa-ngapain kok
tan” jawabku sambil menunduk kebawah, Malu cing. Dan tanpa saya sadari tibatiba dia mencekal tangan saya. “Bram..” katanya tiba-tiba dan terlihat agak
sedikit ragu-ragu.
“Ya Tante..?” Jawab saya. “Eee.. nggak jadi deh..” Jawabnya ragu-ragu.
“Ada yang bisa saya bantu, Tante..? Tanya saya agak bingung karena melihat
keragu-raguannya.
“Eee.. nggak kok. Tante cuma mau nanya..” jawabnya dengan ragu-ragu lagi.
“Kamu sering ya nonton film itu di kamar mandi..?” tanya dia.
“Iya sih tan. Maklum tan belum punya pasangan..?” jawab ku terpaksa.
“Terus pake sabun ya ? he he he kata tante vivi sambil tertawa
“Iya tan, udah ah aku tengsin nih malu ditanya terus” Tegasku sambil ngomel.
“Jangan marah dong , biasa lagi bujangan yang penting jangan main pelacur,
jorok nanti kena penyakit” jawab tante vivi.
“Eee.. mau dibantuin Tante nggak..? sambungnya “Maksud tante? Tanya ku wah
ibarat ada lanjutan dari film ku tadi nih. Kayaknya si tante horni abis. ” Iya kamu
nonton bareng tante khan biar ngga malu lagi” sambil melayang tangan tante
vivi ke selangkangan ku.
“sana ambil laptop mu” asik banget dah pikirku tanpa tendeng aling-aling aku
berlari kekamar madi dan membawa keluar laptop itu.
Kemudian aku setel lebih dulu film yang tadi saya tonton dan belum habis.
Beberapa menit kemudian Tante vivi duduk disebelahku sambil membawa teh
panas dengan wangi tubuh yang segar. Saya selidiki tiap sudut tubuhnya yang
masih terbalut baju training dan kemudian beliau melepas atasannya sehingga
terlihat tanktop tipis biru muda yang agak menerawang tersebut, sehingga
dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya karena dia tidak
memakai Bra. Tanpa kusadari, di antara degupan jantungku yang terasa mulai
keras dan kencang, kejantananku juga sudah mulai menegang. Dengan santai
dia duduk tepat di sebelahku, dan ikut menonton film BF yang sedang
berlangsung. “Cakep-cakep juga yang main..” akhirnya dia memberi
komentarnya. “Dari kapan Bram mulai nonton film beginian..? tanyanya.
“Udah dari dulu Tante..” kataku. “Mainnya juga bagus dan tidak kasar. Bram
udah tahu rasanya belum..? tanya dia lagi. “Ya sempet sih tan waktu di rumah
sakit sama suster”
“wah enak dong lagi sakit di servis suster” “Iya tapi udah lama tan udah lupa
rasanya, tapi kata temen-temen sih enak. Emang kenapa Tante, mau ngajarin
saya yah? Kalau iya boleh juga sih”, kataku. “Ah Bram ini kok jadi nakal yah
sekarang”, katanya sambil mencubit lenganku.
“Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kamu tahu rasanya”, tambahnya dengan
sambil melirik ke arahku dengan agak menantang.
Tidak lama berselang, tiba-tiba Tante Vivi menyenderkan kepalanya ke bahuku.
Seketika itu pula aku langsung membara. Tapi aku hanya bisa pasrah saja oleh
perlakuannya. Sebentar kemudian tangan Tante Vivi sudah mulai mengusapngusap daerah tubuhku sekitar dada dan perut . Rangsangan yang ditimbulkan
dari usapannya cukup membuat aku nervous karena itu adalah kali pertama aku
diperlakukan oleh seorang wanita yang usianya diatasku. Kejantananku sudah

mulai semakin berdenyut-denyut siap bertempur. Kemudian Tante Vivi mulai
menciumi leherku, lalu turun ke bawah sampai dadaku. Sampai di daerah dada,
dia menjilat-jilat ujung dadaku, secara bergantian kanan dan kiri. Tangan kanan
Tante Vivi juga sudah mulai masuk ke dalam celanaku, dan mulai mengusapusap kejantananku. Karena dalam keadaan yang sudah sangat terangsang, aku
mulai memberanikan diri untuk meraba celana yang dia pakai. Aku remas
payudaranya dari luar tanktop, dan aku remas-remas, terkadang aku juga
mengusap ujung-ujung tersebut dengan ujung jariku. “Ssshh.. ya situ Bram..”
katanya setengah berbisik. “Ssshh.. oohh..”
Tiba-tiba dia memaksa lepas celana pendekku, dan diusapnya kejantananku.
Akhirnya bibir kami saling berpagutan dengan penuh nafsu yang sangat
membara. Dan dia mulai menjulur-julurkan lidahnya di dalam mulutku. Sambil
berciuman tanganku mulai bergerilya melalui celana trainingnya yang aku
pelorotkan ke bawah sampai pada permukaan celana dalamnya, yang rupanya
sudah mulai menghangat dan agak lembab. Aku melepaskan celana dalam Tante
Vivi.
Satu persatu kami membuka baju, sehingga kami berdua menjadi telanjang
bulat. Kutempelkan jariku di ujung atas permukaan kemaluannya. Dia kelihatan
agak kaget ketika merasakan jariku bermain di daerah seputar klitorisnya. Lama
kelamaan Aku masukkan satu jariku, lalu jari kedua. “Aaahh.. sshh.. oohh.. terus
Bram.. terus..” bisik Tante Vivi.
Ketika jariku terasa mengenai akhir lubangnya, tubuhnya terlihat agak bergetar.
“Ya.. terus Bram.. terus.. aahh.. sshh.. oohh.. aahh.. terus.. sebentar lagi..
teruuss.. oohh.. aahh.. aarrgghh..” kata Tante Vivi. Seketika itu pula dia
memeluk tubuhku dengan sangat erat sambil menciumku dengan penuh nafsu.
Aku merasakan bahwa tubuhnya agak bergetar (yang kemudian baru aku tahu
bahwa dia sedang mengalami orgasme). Beberapa saat tubuhnya mengejangngejang menggelepar dengan hebatnya. Yang diakhiri dengan terkulainya tubuh
Tante Vivi yang terlihat sangat lemas di sofa.
“Saya kapan Tante, kan saya belum..?” Rujukku. “Nanti dulu yah sayang,
sebentar.. beri Tante waktu untuk istirahat sebentar aja”, kata Tante Vivi.
Tapi karena sudah sangat terangsang, kuusap-usap bibir kemaluannya sampai
mengenai klitorisnya, aku dekati payudaranya yang menantang itu sambil
kujilati ujungnya, sesekali kuremas payudara yang satunya. Sehingga rupanya
Tante Vivi juga tidak tahan menerima paksaan rangsangan-rangsangan yang
kulakukan terhadapnya. Sehingga sesekali terdengar suara erangan dan desisan
dari mulutnya yang seksi. Aku usap-usapkan kejantananku yang sudah sangat
amat tegang di bibir kemaluannya sebelah atas. Sehingga kemudian dengan
terpaksa dia membimbing batang kemaluanku menuju lubang kemaluannya.
Pelan-pelan saya dorong kejantananku agar masuk semua.
Kepala kejantananku mulai menyentuh bibir kewanitaan Tante Vivi. “Ssshh..”
rasanya benar-benar tidak bisa kubayangkan sebelumnya. Lalu Tante Vivi mulai
menyuruhku untuk memasukan kejantananku ke liang kewanitaannya lebih
dalam dan pelan-pelan. “Aaahh..” baru masuk kepalanya saja aku sudah tidak
tahan, lalu Tante Vivi mulai menarik pantatku ke bawah, supaya batang
kejantananku yang perkasa ini bisa masuk lebih dalam. Bagian dalam
kewanitaannya sudah terasa agak licin dan basah, tapi masih agak seret,

mungkin karena sudah lama tidak dipergunakan. Namun Tante Vivi tetap
memaksakannya masuk. “Aaagghh..Bram ” rasanya memang benar-benar luar
biasa walaupun kejantananku agak sedikit terasa ngilu, tapi nikmatnya luar
biasa. Lalu terdengar suara erangan Tante Vivi.
Lalu Tante Vivi mulai menyuruhku untuk menggerakkan kemaluanku di dalam
kewanitaannya, yang membuatku semakin gila. Ia sendiri pun mengerangngerang dan mendesah tak karuan. Beberapa menit kami begitu hingga suatu
saat, seperti ada sesuatu yang membuat liang kewanitaannya bertambah licin,
dan makin lama Tante Vivi terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang
membuat dia berteriak dan mengerang dengan sejadi-jadinya karena tidak
kuasa menahannya. Dan tiba-tiba kemaluanku terasa seperti disedot oleh liang
kewanitaan Tante Vivi, yang tiba-tiba dinding-dinding kewanitaannya terasa
seperti menjepit dengan kuat sekali. Aduuh.. kalau begini aku makin tidak tahan
dan.. “Aaarrgghh.. sayaang.. Tante keluar lagii..” jeritnya dengan keras, dan
makin basahlah di dalam kewanitaan Tante Vivi, tubuhnya mengejang kuat
seperti kesetrum, ia benar-benar menggelinjang hebat, membuat gerakannya
semakin tak karuan. Dan akhirnya Tante Vivi terkulai lemas, tapi kejantananku
masih tetap tertancap dengan mantap.
Aku mencoba membuatnya terangsang kembali karena aku belum apa-apa.
Tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kanan, sambil sesekali
kupilin-pilin ujungnya dan kuusap-usap dengan ujung jari telunjukku. Sedang
payudara kirinya kuhisap sambil menyapu ujungnya dengan lidahku.
“Ssshh.. shh..” desahan Tante Titik sudah mulai terdengar lagi. Aku memintanya
untuk berganti posisi dengan doggy style. Aku mencoba untuk menusukkan
kejantananku ke dalam liang kewanitaannya, pelan tapi pasti. Kepala Tante Vivi
agak menengok ke belakang dan matanya melihat mataku dengan sayu, sambil
dia gigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang timbul. Sedikit demi
sedikit aku coba untuk menekannya lebih dalam. Kejantananku terlihat sudah
tertelan semuanya di dalam kewanitaan Tante Vivi, lalu aku mulai
menggerakkan kejantananku perlahan-lahan sambil menggenggam buah
pantatnya yang bulat. Dengan gaya seperti ini, desahan dan erangannya lebih
keras, tidak seperti gaya konvensional yang tadi.
Aku terus menggerakkan pinggulku dengan tangan kananku yang kini meremas
payudaranya, sedangkan tangan kiri kupergunakan untuk menarik rambutnya
agar terlihat lebih merangsang dan seksi. “Ssshh.. aarrgghh.. oohh.. terus Bram..
terus.. aarrgghh.. oohh..” Tante Vivi terus mengerang.
Beberapa menit berlalu, kemudian Tante Vivi merasa akan orgasme lagi sambil
mengerang dengan sangat keras sehingga tubuhnya mengejang-ngejang
dengan sangat hebat, dan tangannya mengenggam bantalan sofa dengan
sangat erat. Beberapa detik kemudian bagian depan tubuhnya jatuh terkulai
lemas menempel pada sofa itu sambil lututnya terus menyangga pantatnya agar
tetap di atas. Dan aku merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut dan aku
memberitahukan hal tersebut padanya, tapi dia tidak menjawab sepatah kata
pun. Yang keluar dari mulutnya hanya desahan dan erangan kecil, sehingga aku
tidak berhenti menggerakkan pinggulku terus.
Aku merasakan tubuhku agak mengejang seperti ada sesuatu yang tertahan,
sepertinya semua tulang-tulangku akan lepas dari tubuhku, tanganku

menggenggam buah pantat Tante Vivi dengan erat, yang kemudian diikuti oleh
keluarnya cairan maniku di dalam liang kewanitaan Tante Vivi. Tubuhku terasa
sangat lemas sekali. Setelah kami berdua merasa agak tenang, aku melepaskan
kejantananku dari liang nikmat milik Tante Vivi.
Dengan raca kecapaian yang luar biasa Tante Vivi membalikkan tubuhnya dan
duduk di sampingku sambil menatap tajam mataku dengan mulut yang agak
terbuka, sambil tangan kanannya menutupi permukaan kemaluannya.
“Wah kok ngga ditarik sih Bram, nanti aku hamil lho..? tanyanya dengan suara
yang agak bergetar. “Maaf tan aku lupa abis keenakan sih” jawabku “Ya
sudahlah.. tapi lain kali kalau sudah kerasa kayak tadi itu langsung buru-buru
dicabut dan dikeluarkan di luar ya..?” katanya menenangkan diriku yang terlihat
takut. “I.. iiya Tante..” jawabku sambil menunduk.
“Ya santai aja aku sebenarnya udah minum pil kok Bram” jawan Tante Vivi.
Wah rupanya nih tante udah pengalaman dalam hal beginian, tapi ngga apa-apa
dah gua belagak culun aja

Putri Ibu Kost
Posted by admin on October 25, 2009 – 3:03 pm
Filed under Daun Muda
Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi
teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin
karena aku selalu berolahraga seminggu tiga kali. Teman-¬temanku bilang,
kalau aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel
padaku. Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara serius. Baik orang
tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami nanti menikah. Tempat kos-ku
dan tempat kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi
kunci kamar kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran
tanpa batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling ciumciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu kami lakukan
dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya begitu, kalau “voltase’-ku sudah
amat tinggi, aku dapat ‘muntah” juga. Dia adalah seorang yang menjaga
keperawanan sampai dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan
sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum
pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat itu aku belum pernah
merasakan memek perempuan.
Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut,
sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi
ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan
dia belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kosnya sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat
dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur
dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara kedua ruang itu hanya ditutup
dengan kain korden.

lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis
sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah
menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan
anak bungsu masih di SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku,
menikahnya anak pertama adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang
kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia dikabarkan
sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut penilaianku,
Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu
politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain yang kelihatan
keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit
dalam menyapaku.
lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya
160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal
dan berisi. Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung.
Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung
dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang
sudah terbentuk sedemikian indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh
pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya
bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang
sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak perlu membuat garis
baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat yang
dipotong bob dengan indahnya.
Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah
tampak Ika sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju
atas ‘you can see’ dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha
dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.
“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah… sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama
dua temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa Ika dengan centilnya.
“He… masa?” balasku.
“Iya… Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan senyum
menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau
mau mengajak beneran aku tidak menolak nih, he-he-he…
“Ah, neng Ika macam-macam saja…,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak
Dai belum datang?”
Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai
adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan
Bogor. Dia ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang
kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia
habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika.
Kapan dia punya kesempatan belajar?

“Wah… dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di
Riau. Makanya carikan teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak
kesepian… Tapi yang keren lho,” kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan
si playgirl Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar
bercanda, namun tipe orang yang suka nyerempet-nyerempet hat yang
berbahaya.
“Neng Ika ini… Nanti Kak Dainya ngamuk dong.”
“Kak Dai kan tidak akan tahu…”
Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak
ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.
Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja
pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela
ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi. ‘Mas Bobby, gue ngerjain
tugas kelompok bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini
tidak pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen
sayang, Dina’
Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil
menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah
aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.
Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan
luar. Tok-tok-tok…
Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan
malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di
depan pintu.
“Mbak Di… Mbak Dina…,” terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku
membuka pintu.
“Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.
“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak
tugas. Ada apa?”
“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”
“Ng… bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”
“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum
manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan.

Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya
yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan,
seolah menantang diriku untuk meremas¬-remasnya. Sialan! Kontholku jadi
berdiri. Si ‘boy-ku ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.
Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir
pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang
menunjang penulisan tugas sarjana itu.
Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.
“Mas Bob… Mas Bob…,” terdengar Ika memanggil lirih.
Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika
dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan ‘you can see’ yang dipakai
sebelumnya. Dia menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan
ikatan tali ke pundaknya. Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan
mengkilat. Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya
menonjol dengan tajam dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak memakai BH.
Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum
semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Ika
menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.
“Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.
“Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.
“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”
“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”
Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di
atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi.
Hanya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu
sisinya terpasang rak buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu
masuk tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos
pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal potongan kayu kecil.
“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara
penyelesaiannya.” Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.
Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke
dadanya. Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk,
kedua gundukan payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus,
dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut.
Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya,
kemudian Ika menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku
mencuri pandang ke buah dada Ika. Uhhh… ranum dan segarnya.
“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah.
Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang
pulangnya setiap akhir pekan.
“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur
berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi,” jawab Ika dengan
tatapan mata yang menggoda.
Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orangorang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati
lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni
hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia
akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru ingin bersetubuh denganku.
Soal tanya Matematika, itu hanya sebagai atasan saja. Bukankah dia
menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan yang
memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan
menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan
menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak
menyodorkan din?
Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.
“Mas Bob… ini benar nggak?” tanya Ika.
Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan
menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan
menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau
memperhatikan hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya…
gumpalan daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan
kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih menekanku terasa
lebih kenyal.
Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.
“Ih… Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia purapura menjauh.
“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok
lenganku,” jawabku.
lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat
kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya

berpura-pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani?
Memangnya aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam
sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan
yang memamerkan gundukan payudara. Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia
sudah mempersilakan diriku untuk menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku
yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau
memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!
Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku
pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi
tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus,
tanpa goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu
tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.
Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika
sedikit terkejut ketika merasa ada yang menempel punggungnya.
“Ih… Mas Bob jangan begitu dong…,” kata Ika manja.
“Sudah… udah-udah… Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,” jawabku.
lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah
tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumatlumat. Ika berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani.
Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak
tahan lagi. tubuh Ika kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya
kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas. Bibir Ika
mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-¬kuluman bibirku yang
diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah ciuman Ika
yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan
kemahiranku.
Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau
harum terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan
hidungku, tanganku berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak
dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan
batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir
dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa mengeras.
“Mas Bob Mas Bob buka baju saja Mas Bob…,” rintih Ika. Tanpa menunggu
persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng
celanaku. Aku mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut
kubebaskan dan tubuhnya. Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa
penutup sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan
indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya kelihatan amat
mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya
berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di

sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan
permukaan kulit payudaranya.
Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul.
kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh
celana dalamku, sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang
mempertontonkan bentuk pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya
yang melebar dengan bagusnya. Ika pun melepaskan rok spannya itu, sehingga
pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam minim yang tipis dan
berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tidak mampu
menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang terbungkus di
dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Ika tampak keluar dan lobang celana
dalamnya.
lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah
kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku.
Pandangan matanya memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan
aku mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk
tubuhnya sambil mengulum kembali bibirnya yang hangat. Ika pun
mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya.
Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut.
Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Ika saling
mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung
dengan penuh nafsu.
Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman
parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan
dagunya agar aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.
“Ahhh… Mas Bob… Ika sudah menginginkannya dan kemarin… Gelutilah tubuh
Ika… puasin Ika ya Mas Bob…,” bisik Ika terpatah-patah.
Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah
payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit
lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi
sengaja memakai parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku
menghirup kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian
wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian,
sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara.
Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat
payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesarbesarnya. Ika menggelinjang.
“Mas Bob… ngilu… ngilu…,” rintih Ika.
Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit
payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara

kanannya kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan
tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali
payudara kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir
puting payudara kirinya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut
yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah.
“Aduh mas Booob… ssshh… ssshhh… ngilu mas Booob… ssshhh… geli… geli…,”
cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.
Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku
berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas
payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat.
tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya.
Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri,
tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan sekuatkuatnya.
“Mas Booob… kamu nakal…. ssshhh… ssshhh… ngilu mas Booob… geli…” Ika
tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.
Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut
Ika yang rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya.
Aku pun berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak
tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar
dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang
melindungi pantatnya itu. Perlahan¬-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke
bawah. Ika sedikit mengangkat pantatnya untuk memberi kemudahan celana
dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya sudah
terlempar ke bawah.
Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya.
Jembut Ika sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek
yang berwarna coklat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar
pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus.
Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di
tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku pun mengelus-elus memeknya
dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika
berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika sangat
menikmati permainan ini.
Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke
atas sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya,
sementara tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika
perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu
tanganku mempermainkan puting payudaranya.

“Au Mas Bob… shhhhh… betul… betul di situ mas Bob… di situ… enak mas…
shhhh…,” Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang
tebal dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan meremmeleknya mata. Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami
kenikmatan yang semakin meninggi.
Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan
lubang anus sampai ke kelentitnya.
Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika.
Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan
vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya
bergetar. Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas
kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.
“Mas Booob… enak sekali mas Bob…,” Ika mengerang dengan kerasnya. Aku
segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di
vaginanya. Semakin lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu
kumasukkan ke lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari
kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena ‘Gspot’-nya. Dan berhasil!
“Auwww… mas Bob…!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas. sampaisampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut
bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun
menghantam ke wajahku. Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk
ke sel-sel syaraf penciumanku.
Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan
gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan
lidah di kelentit Ika. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang
bagiku untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan
lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin keras merintih-rintih bagaikan
orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat
aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.
“Mas Bob… mas Bob… mas Bob…,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan
Ika karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.
Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika
sambil mengerang¬-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat
dia raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas
payudaranya sendiri.
“Mas Bob… Ika sudah tidak tahan lagi… Masukin konthol saja mas Bob… Ohhh…
sekarang juga mas Bob…! Sshhh. . . ,“ erangnya sambil menahan nafsu yang
sudah menguasai segenap tubuhnya.

Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu.
Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu
lidah dan wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari
tanganku di dalam memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang
di dalam memeknya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku menghentakhentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusapusap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya
yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk…
Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:
“Ah-ah-ah-ah-ah…”
Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya,
sambil memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya
berkerut-kerut.
Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku
di memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut.
Dua menit sudah si Ika mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan
yang membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin,
sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.
Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi.
Matanya membeliak-¬beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat,
“Mas Booo00oob …!“ Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit
oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam
vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku dengan bibir memeknya
terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt!
Semprotan cairan tersebut sampai mencapai pergelangan tanganku.
Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam
rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan
jari tanganku di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam
vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari
tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak
tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.
Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika
yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang
diriku untuk membuktikan kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai
menindih kembali tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana
dalam tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya.
Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku
meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Ika kembali
membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku. Tubuhnya kembali
menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.

Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus
dan harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian
menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara
kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan
dan keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman
yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku,
seolah tidak rela apabila ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun.
Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku
bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang
membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya
ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan
puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke
puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat.
“Ah… ah… mas Bob… geli… geli …,“ mulut indah Ika mendesis-desis sambil
menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang
sedang mencari mangsa.
Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara
kanan Ika yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan
kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil
jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya.
“Mas Bob… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”
Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian,
antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot
besarnya-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot
hanya putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang
kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuatkuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang
mencuat gagah di puncaknya.
“Ah… mas Bob… terus mas Bob… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ika mendesisdesis keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang
terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.
Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia
dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha.
Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan
kanan Ika yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah
berdiri dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.
“Edan… mas Bob, edan… Kontholmu besar sekali… Konthol pacan-pacanku
dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan… edan…,”

ucapnya terkagum-kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku
terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik
tangan kanannya meremas¬remas perlahan kontholku secara berirama, seolah
berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hiatnya menana kejantananku.
Remasannya itu mempenhebat vohtase dam rasa nikmat pada batang
kontholku.
“Mas Bob. kita main di atas kasur saja…,” ajak Ika dengan sinar mata yang
sudah dikuasai nafsu binahi.
Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan
membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat
pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika
kubopong. Ika tidak mau melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu
tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku mendekat ke
wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku dengan
ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu
yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya.
Kuhit punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.
Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya
yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke
batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir
sensual Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup
leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia
pakai. Kuciumi dan kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku
mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha
Ika. Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku bagai dipliritplirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.
Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika.
Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya,
sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya
ke arah wajahku. Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas
dengan menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek
memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku
secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika hidungku menyentuh
dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu.
Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Daerah payudara yang
kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk
dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya,
tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian.
Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.
“Mas Bob… geli… geli …,“ kata Ika kegelian.

Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika.
Putingnya terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap
puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku
kusedot sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas
sekuat-kuatnya
dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara
kiri dan payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan
menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin
menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.
“Mas Bob… mas Bob… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan
mulutmu… Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Ika. Rintihannya itu justru
semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin
ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara
kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan licinnya paha Ika.
Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan
mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya,
sementara tanganku membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya.
Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir
memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala
kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.
“Mas Bob… masukkan seluruhnya mas Bob… masukkan seluruhnya… Mas Bob
belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno… tidak
mau merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia… bagai
terhempas langit ke langit ketujuh. mas Bob…”
Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat
tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.
“Edan… edan… kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob…,” katanya sambil
mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.
Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah
basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol
kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam
di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala
kontholku dengan enaknya.
Aku menghentikan gerak masuk kontholku.
“Mas Bob… teruskan masuk, Bob… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ
saja…,” Ika protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan
kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja,
namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan

hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan
tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak.
Ika menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.
“Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, mas Bob. Geli… Terus masuk, mas
Bob…”
Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan
kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Kontholku
kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan
kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus
yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit
batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir dan daging lobang memeknya yang
sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!
“Auwww!” pekik Ika.
Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek
Ika tanpa bergerak sedikit pun.
“Sakit mas Bob… Nakal sekali kamu… nakal sekali kamu….” kata Ika sambil
tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.
Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak
tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang
memek Ika yang berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang
masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak
kuatnya. Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada
batang kontholku.
“Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku
“Sssh… enak sekali… enak sekali… Barangmu besar dan panjang sekali…
sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku…,” jawab
Ika.
Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara
kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat
gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan
mengkilik-kilik dadaku yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu
mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan
berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa
hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontholku
menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan tersebut serasa
menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli
nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan
mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang
memeknya, aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan
di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus
mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah
itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri,
ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya
kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali
secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan
mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Ika.
Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku,
sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih
dengan kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas
payudara montok Ika. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat
secara berirama. Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir
secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin
terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih keenakan. Matanya
merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke
atas dan ke bawah.
“Ah… mas Bob, geli… geli… Tobat… tobat… Ngilu mas Bob, ngilu… Sssh…
sssh… terus mas Bob, terus…. Edan… edan… kontholmu membuat memekku
merasa enak sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob.
Nyemprot di dalam saja… aku sedang tidak subur…”
Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.
“Ah-ah-ah… benar, mas Bob. benar… yang cepat… Terus mas Bob, terus…”
Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat
ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus
dan terus. Seluruh bagian kontholku serasa diremas¬-remas dengan cepatnya
oleh daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek
dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan
mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa.
“Sssh… sssh… Ika… enak sekali… enak sekali memekmu… enak sekali
memekmu…”
“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali… terusss… terus mas Bob, terusss…”
Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya.
Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.
“Mas Bob… mas Bob… edan mas Bob, edan… sssh… sssh… Terus… terus… Saya
hampir keluar nih mas Bob…

sedikit lagi… kita keluar sama-sama ya Booob…,” Ika jadi mengoceh tanpa
kendali.
Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus
membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu
bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang
bernama mas Bobby. Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di
dalam memek Ika bagaikan berdenyut dengan hebatnya.
“Mas Bob… mas Bobby… mas Bobby…,” rintih Ika. Telapak tangannya
memegang kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon
karena takut jatuh ke bawah.
lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya.
Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam
“mengayuh sepeda” aku merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur
kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya tarik tersendiri karena mengeluarkan
rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.
“Mas Bob… ah-ah-ah-ah-ah… Enak mas Bob, enak… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau
keluar mas Bob… mau keluar… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”
Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat
kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar
dari memek Ika dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas
lengan tanganku dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa
kendali:
“…keluarrr…!”
Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.
Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan
diam tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena
terkena semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam
beberapa saat dalam menikmati puncak orgasmenya.
Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku
perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi
wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku berangsurangsur melemah. walaupun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika
lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali
menindih tubuh telanjang Ika dengan mempertahankan agar kontholku yang
tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

“Mas Bob… kamu luar biasa… kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Ika
dengan mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu
tidak pernah membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina
tinggal di sini, Ika suka membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak
Dai.”
Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk
sebelah tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam
masturbasiku, sementara dia juga membayangkan kugeluti
dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak,
namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot
dengan penuh nafsu.
“Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan… kamu perkasa…
dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya…”
Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai
anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa
dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku.
Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan
aku saat ini baru setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai
orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih
besar dan keras, yang hams menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak
pusing.
Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit
tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluarmasuk lagi di memek Ika, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding
memek Ika secara berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku.
Terasa hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar
dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yang
disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.
“Ahhh… mas Bob… kau langsung memulainya lagi… Sekarang giliranmu…
semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku… Sssh…,” Ika mulai
mendesis-desis lagi.
Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumatlumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat
badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijitmijit putingnya, sesuai dengan mama gerak maju-mundur kontholku di
memeknya.
“Sssh… sssh… sssh… enak mas Bob, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis
bibir Ika di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu
bagaikan mengipasi gelora api birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan
kontholku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika, keluarmasuknya konthol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…”
Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya
mengeluarkan rintih kenikmatan,
“Mas Bob… ah… mas Bob… ah… mas Bob… hhb… mas Bob… ahh…”
Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya.
Kedua tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung
mulusnya. Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku
pun memulai serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek
Ika sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk,
konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Ika sedalam-dalamnya.
Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuatkuat oleh dinding memek Ika. Sampai di langkah terdalam, mata Ika membeliak
sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal
pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai berbunyi: plak! Di
saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan
helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada batang
kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak
masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut
tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang
kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Ika mendesah, “Hhh…”
Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentakhentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di
kontholku. Tangan Ika meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku
kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging
pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara
kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srotttsrrrtt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang
merdu yang keluar dari bibir Ika:
“Ak! Uhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang
tiada tara membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:
“lka… Ika… edan… edan… Enak sekali Ika… Memekmu enak sekali… Memekmu
hangat sekali… edan… jepitan memekmu enak sekali…”
“Mas Bob… mas Bob… terus mas Bob rintih Ika, “enak mas Bob… enaaak… Ak!
Ak! Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak
sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat
dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam
lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal
dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin menghebat.
“Ika… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku
tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.
“Mas Bob… mas Bob… mas Bob! Ak-ak-ak… Aku mau keluar lagi… Ak-ak-ak…
aku ke-ke-ke…”
Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku
tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun
pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan
cekikan yang kuat dan enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya
bendungan dalam alat kelaminku.
Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika,
bersamaan dengan pekikan Ika, “…keluarrrr…!” Tubuh Ika mengejang dengan
mata membeliak-beliak.
“Ika…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya,
seolah aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam
kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan
spermaku pun tak terbendung lagi.
Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot
dinding memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam
kehangatan memek Ika terasa berdenyut-denyut.
Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat
sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah
terpateri erat dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam
kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih
tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini semprotannya lebih lemah.
Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian
menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusapusap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali
berhasil bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan
mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat
mulus, berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul
besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada
pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika.

“Mas Bob… terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. indah sekali… sungguh…
enak sekali,” kata Ika lirih.
Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu
kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas
tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang,
sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan
pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam
mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.
Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat
bibirnya beberapa saat.
“Mas Bob… kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob… Jangan khawatir,
kita tanpa Ikatan. Ika akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun,
termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas
Bob,” begitu kata Ika.
Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan
secara gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali
masuk ke rumahnya lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang
ke tempat kost-ku.
Gejolak Nafsu Terpendam
93
Posted by admin on October 25, 2009 – 2:55 pm
Filed under Setengah baya
Ini adalah pengalamanku yang kesekian kalinya bersetubuh dengan wanita
setengah baya. Kejadiannya pada saat kenaikkan kelas, aku mendapat liburan
satu bulan dari sekolah. Untuk mengisi waktu liburanku, aku mengiyakan ajakan
Mas Iwan sopir Pak RT tetanggaku untuk berlibur dikampungnya. Disebuah desa
di Jawa Barat. Katanya, sekalian mau nengok istrinya. Aku tertarik omongan Mas
Iwan bahwa gadis-gadis di kampungnya cantik-cantik dan mulus-mulus. Aku
ingin buktikan omongannya.
Dengan mobil pinjaman dari ayahku, kami berangkat ke sana. Setelah
menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sekitar jam 17.00 WIB kami
tiba di kampungnya. Rumah Mas Iwan berada cukup jauh dari rumah
tetangganya. Rumahnya cukup bagus, untuk ukuran di kampung, bentuknya
memanjang.
di rumah Mas Iwan kami disambut oleh Mbak Irma, istrinya dan Tante Sari
mertuanya. Ternyata Mbak Irma, istri Mas Iwan, seorang perempuan yang sangat
cantik. Kulitnya putih bersih dan bodynya sangat sexy. Sedangkan Tante Sari tak
kalah cantiknya dengan Mbak Irma. Meskipun sudah berumur empat puluhan,
kecantikannya belum pudar. Bodynya tak kalah dengan gadis remaja. Oh ya,
Tante Sari bukanlah ibu kandung Mbak Irma. Tante Sari kawin dengan Bapak

Mbak Irma, setelah ibu kandung Mbak Irma meninggal. Tapi setelah lima tahun
menikah, bapak Mbak Irma yang meninggal, karena sakit. Jadi sudah sepuluh
tahun Tante Sari menjanda.
Sekitar jam 20.00 WIB, Mas Iwan mengajakku makan malam ditemani Mbak Irma
dan Tante Sari. Sambil makan kami ngobrol diselingi gelak tawa. Walaupun kami
baru kenal, tapi karena keramahan mereka kami serasa sudah lama kenal.
Selesai makan malam Mas Iwan dan Mbak Irma permisi mau tidur. Mungkin
mereka sudah tak sabar melepaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan.
Tinggal aku dan Tante Sari yang melanjutkan obrolan. Tante Sari mengajakku
pindah ke ruang tamu. Pas di depan kamar Mas Iwan.
Saat itu Tante Sari hanya mengenakan baju tidur transparan tanpa lengan.
Hingga samar-samar aku dapat melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sexy. Tante
Sari duduk seenaknya hingga gaunnya sedikit tersingkap. Aku yang duduk
dihadapannya dapat melihat paha mulusnya, membangkitkan nafsu birahiku.
Penisku menegang dari balik celanaku. Tante Sari membiarkan saja aku
memelototi paha mulusnya. Bahkan dia semakin lebar saja membuka pahanya.
Semakin malam obrolan kami semakin hangat. Tante Sari menceritakan,
semenjak suaminya meninggal, dia merasa sangat kesepian. Dan aku semakin
bernafsu mendengar ceritanya, bahwa untuk menyalurkan hasrat birahinya, dia
melakukan onani. Kata-katanya semakin memancing nafsu birahiku. Aku tak
tahan, nafsu birahiku minta dituntaskan. Akupun pergi kekamar mandi. Sampai
di kamar mandi, kukeluarkan penisku dari balik celanaku. Kukocok-kocok sekitar
lima belas menit. Dan crot! crot! crot! Spermaku muncrat kelantai kamar mandi.
Lega sekali rasanya.
Setelah menuntaskan hasratku, aku balik lagi ke ruang tamu. Alangkah
terkejutnya aku. Disana di depan jendela kamar Mas Iwan yang kordennya
sedikit terbuka kulihat Tante Sari sedang mengintip ke dalam kamar, Mas Iwan
yang sedang bersetubuh dengan istrinya.
Nafas Tante Sari naik turun, tangannya sedang meraba-raba buah dadanya.
Nafsu birahiku yang tadi telah kutuntaskan kini bangkit lagi melihat
pemandangan di depanku. Tanpa berpikir panjang, kudekap tubuh Tante Sari
dari belakang, hingga penisku yang sudah menegang menempel hangat pada
pantatnya, hanya dibatasi celanaku dan gaun tidurnya. Tanganku mendekap
erat pinggang rampingnya. Dia hanya menoleh sekilas, kemudian tersenyum
padaku. Merasa mendapat persetujuan, aku semakin berani. Kupindahkan
tanganku dan kususupkan kebalik celana dalamnya. Kuraba-raba bibir
vaginanya.
“Ohh.. Don.. Enakk,” desahnya, ketika kumasukkan jari-jariku ke dalam lubang
vaginanya yang telah basah. Setelah puas memainkan jari-jariku dilubang
vaginanya, kulepaskan dekapan dari tubuhnya. Kemudian aku berjongkok di
belakangnya. Kusingkapkan gaun tidurnya dan kutarik celana dalamnya hingga

terlepas. Kudekatkan wajahku ke lubang vaginanya. Kusibakkan bibir vaginanya
lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati lubang vaginanya dari belakang,
sambil kuremas-remas pantatnya. Tante Sari membuka kedua pahanya
menerima jilatan lidahku. Inilah vagina terindah yang pernah kurasakan.
“Oohh.. Don.. Nik.. mat,” suara Tante Sari tertahan merasakan nikmat ketika
lidahku mencucuk-cucuk kelentitnya. Dan kusedot-sedot bibir vaginanya yang
merah.
“Ohh.. Don.. Luarr.. Biasaa.. Enakk.. Sedott.. terus,” pekiknya semakin keras.
Cairan kelamin mulai mengalir dari vagina Tante Sari. Hampir setiap jengkal
vaginanya kujilati tanpa tersisa. Tante Sari menarik vaginanya dari bibirku,
kemudian membalikkan tubuhnya sambil memintaku berdiri. Dia mendorong
tubuhku ke dinding. Dengan cekatan ditariknya celanaku hingga terlepas, maka
penisku yang sudah tegang, mengacung tegak dengan bebasnya.
“Ohh.. Luar biaassaa.. Don.. Besar sekali,” serunya kagum.
“Isepp.. Tante, jangan dipandang aja,” pintaku.
Tante Sari mengabulkan permintaanku. Sambil melepaskan gaun tidurnya, dia
lalu berjongkok dihadapanku. Wajahnya pas di depan selangkanganku. Tangan
kirinya mulai mengusap-usap dan meremas-remas buah pelirku. Sedangkan
tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku dengan irama pelan tapi
pasti. Mulutnya didekatkan kepenisku dan dia mulai menjilati kepala penisku.
Lidahnya berputar-putar dikepala penisku. Aku meringis merasakan geli yang
membuat batang penisku semakin tegang.
“Ohh.. Akhh.. Tan.. Te.. Nikk.. matt,” seruku tertahan, ketika Tante Sari mulai
memasukkan penisku kemulutnya. Mulutnya penuh sesak oleh batang penisku
yang besar dan panjang. penisku keluar masuk di mulutnya. Tante Sari sungguh
lihai memainkan lidahnya. Aku dibuatnya seolah-olah terbang keawang-awang.
Tante Sari melepaskan penisku dari kulumannya setelah sekitar lima belas
menit. Kemudian dia memintaku duduk dilantai. Dia lalu naik kepangkuanku
dengan posisi berhadapan. Diraihnya batang penisku, dituntunnya ke lubang
vaginanya. Perlahan-lahan dia mulai menurunkan pantatnya. Kurasakan kepala
penisku mulai memasuki lubang yang sempit. Penisku serasa dijepit dan dipijitpijit. Mungkin karena sudah sepuluh tahun tidak pernah terjamah laki-laki. Meski
agak susah, akhirnya amblas juga seluruh batang penisku ke dalam lubang
vaginanya.
Tante Sari mulai menaik-turunkan pantatnya, dengan irama pelan. Diiringi
desahan-desahan lembut penuh birahi. Sesekali dia memutar-mutar pantatnya,
penisku serasa diaduk-aduk dilubang vaginanya. Aku tak mau kalah, kuimbangi
gerakkannya dengan menyodok-nyodokkan pantatku ke atas. Seirama gerakkan
pantatnya.

Oh, senangnya melihat penisku sedang keluar masuk vaginanya. Bibirku
menjilati buah dadanya secara bergantian, sedangkan tanganku mendekap erat
pinggangnya. Semakin lama semakin cepat Tante Sari menaik turunkan
pantatnya. Nafasnya tersengal-sengal. Dan kurasakan vaginanya berkedut-kedut
semakin keras.
“Ohh.. Don.. Aku.. Mau.. Keluarr,” pekiknya.
“Tahan.. Tan.. Te.. Akuu.. Belumm.. Mauu,”sahutku.
“Akuu.. Tak.. Tahann.. Sayang,” teriaknya keras.
Tangannya mencengkeram keras punggungku.
“Akuu.. Ke.. Ke.. Luarr.. Sayangg,” jeritnya panjang.
Tante Sari tak dapat menahan orgasmenya, dari vaginanya mengalir cairan yang
membasahi seluruh dinding vaginanya. Tante sari turun dari pangkuanku lalu
merebahkan tubuhnya dipangkuan. Kepalanya berada pas diselangkanganku.
Tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Dan mulutnya mengulum kepala
penisku dengan lahapnya.
Perlakuannya pada penisku membuat penisku berkedut-kedut. Seakan-akan ada
yang mendesak dari dalam mau keluar. Dan kurasakan orgasmeku sudah dekat.
Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkanganku. Hingga
penisku semakin dalam masuk kemulutnya.
“Akhh.. Tante.. Akuu.. Mau keluarr,” teriakku.
“Keluarin.. Dimulutku sayang,” sahutnya.
Tante sari semakin cepat mengocok dan mengulum batang penisku. Diiringi
jeritan panjang, spermaku muncrat ke dalam mulutnya.
“Ohh.. Kamu.. Hebatt.. Don, aku puas,” pujinya, tersenyum ke arahku. Tanpa
rasa jijik sedikitpun dia menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku.
Suara ranjang berderit di dalam kamar, membuat kami bergegas memakai
pakaian dan pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Kemudian masuk ke
kamar Masing-masing. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki Mbak
Irma ke kamar mandi. Dari balik jendela kamarku dapat kulihat Mbak Irma hanya
mengenakan handuk yang yang dililitkan ditubuhnya. Memperlihatkan paha
mulus dan tubuh sexynya. Membuatku mengkhayal, alangkah senangnya bisa
bersetubuh dengan Mbak Irma.
Sekitar jam 02.00 dinihari, aku terbangun ketika kurasakan ada yang bergerakgerak di selangkanganku. Rupanya Tante Sari sedang asyik mengelus-elus buah
pelirku dan menjilati batang penisku.
“Akhh.. terus.. Tante.. terus,” gumanku tanpa sadar, ketika dia mulai mengulum
batang penisku. Dengan rakus dia melahap penisku. Sekitar sepuluh menit
berlalu kutarik penisku dari mulutnya. Kusuruh dia menungging, dari belakang
kujilati lubang vaginanya, bergantian dengan lubang anusnya. Setelah kurasa
cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya yang basah dan memerah.

Sedikit demi sedikit penisku memasuki lubang vaginanya. Semakin lama
semakin dalam, hingga seluruh batang penisku amblas tertelan lubang
vaginanya.
Aku mulai memaju mundurkan pantatku, hingga penisku keluar masuk lubang
vaginanya. Sambil kuremas-remas pantatnya.
“Ooh.. Don.. Nikk.. Matt.. Bangett,” rintihnya.
Aku semakin bernafsu memaju mundurkan pantatku. Tante sari mengimbangi
gerakkanku dengan memaju mundurkan juga pantatnya, seirama gerakkan
pantatku. Membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Semakin lama semakin
cepat gerakkan pantatnya.
“Don.. Donnii.. Akuu.. Tak.. Tahann,” jeritnya.
“Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr,” imbuhnya.
Kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan menjepit penisku. Tangannya
mencengkeram dengan keras diranjang.
“Ooh.. Oo.. Aku.. Keluarr,” lolongnya panjang.
Dan kurasakan ada cairan yang merembes membasahi dinding-dinding
vaginanya. Tante Sari terlalu cepat orgasme, sedangkan aku belum apa-apa. Aku
tak mau rugi, aku harus puas, pikirku. Kucabut penisku dari lubang vaginanya
dan kuarahkan ke lubang anusnya.
“Akhh.. Donn.. Jangann.. Sakitt,” teriaknya, ketika kepala penisku mulai
memasuki lubang anusnya. Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku lebih
keras hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Dan kurasakan
nikmatnya jepitan lubang anusnya yang sempit. Perlahan-lahan aku mulai
menarik dan mendorong pantatku, sambil memasukkan jari-jariku ke lubang
vaginanya. Tante sari menjerit-jerit merasakan nikmat dikedua lubang
bawahnya.
“Enak khan Tante?” tanyaku.
“Hemm.. Enakk.. Banget.. Sayang,” sahutnya sedikit tersipu malu.
Semakin lama semakin cepat kusodok lubang anusnya. Sambil kutepuk-tepuk
pantatnya. Kurasakan penisku berkedut-kedut ketika orgasmeku akan tiba dan
crott! crott! crott! Kutumpahkan spermaku dilubang anusnya.
“Penismu yang pertama sayang, memasuki lubang anusku,” katanya sambil
membalikkan tubuhnya dan tersenyum padaku.
“Kamu luar biasa Don, belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti
ini,” imbuhnya.
“Tante mau khan, setiap malam kusetubuhi?” tanyaku.

“Siapa yang menolak diajak enak,” sahutnya seenaknya.
Sejak saat itu, hampir setiap malam kusetubuhi Tante sari. Ibu tiri Mbak Irma
yang haus sex, yang hampir sepuluh tahun tidak dinikmatinya, sejak kematian
suaminya.
Tak terasa sudah lima hari aku berada di rumah Mas Iwan. Selama lima hari pula
aku menikmati tubuh Tante Sari, mertuanya yang haus sex. Tante Sari yang
sepuluh tahun menjanda, betul-betul puas dan ketagihan bersetubuh denganku.
Meski telah berusia setengah baya, tapi nafsu birahinya masih meletup-letup,
tak kalah dengan gadis remaja.
Sore itu, sehabis mandi dan berpakaian, Mas Iwan mengajakku jalan-jalan.
Katanya mau ketemu seorang teman yang sudah lama dirindukannya. Setelah
menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah kami di rumah teman Mas
Iwan. Sebuah rumah yang berada dikawasan yang cukup elite. Kedatangan kami
disambut dua orang wanita kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira. Keduanya
sama-sama cantik dan sexy. Mas Iwan memperkenalkanku pada kedua teman
wanitanya.
“Mas Iwan, aku kangen banget,” katanya sambil memeluk Mas Iwan.
“Aku juga Rin,” sahut Mas Iwan.
Sambil meminum kopi susu yang disuguhkan Mbak Rina, kami bercakap-cakap.
Mbak Rina duduk dipangkuan Mas Iwan. Dan Mas Iwan merangkulnya dengan
mesra. Mbak Rina tanpa malu-malu menceritakan, kalau Mas Iwan adalah pacar
pertamanya dan Mas Iwanlah yang membobol perawannya.
Mbak Vira hanya tersenyum mendengar cerita kakaknya yang blak-blakan. Makin
lama kelakuan Mbak Rina makin mesra saja. Tanpa malu-malu, dia mengecup
dan melumat bibir Mas Iwan dan Mas Iwan menyambutnya dengan sangat
bernafsu. Aku jadi risih menyaksikan kelakuan mereka. Sekitar sepuluh menit
mereka bercumbu di depan kami.
“Kita lanjutin di kamar aja say,” kata Mbak Rina pada Mas Iwan. Mas Iwan
mengangguk tanda setuju, sambil membopong tubuh Mbak Rina ke dalam
kamar.
“Kalian jangan ngintip ya,” kata Mas Iwan pada kami sambil tersenyum.
Aku dan Mbak Vira hanya bengong melihat kemesraan mereka. Tanpa
menghiraukan larangan Mas Iwan, Mbak Vira beranjak dari tempat duduknya
sambil meraih tanganku menuju kamar Mbak Rina. Kami kemudian berdiri di
depan pintu kamar Mbak Rina yang terbuka lebar. Dari situ aku dan Mbak Vira
melihat Mas Iwan merebahkan tubuh Mbak Rina diatas ranjang dan mulai
melepaskan gaun Mbak Rina. Aku terkesima melihat mulusnya dan sexynya
tubuh Mbak Rina, ketika seluruh pakaiannya dibuka Mas Iwan.

Nafsu birahiku tak tertahankan lagi, penisku menegang dibalik celanaku. Tanpa
sadar kupeluk tubuh Mbak Vira yang berdiri di depanku. Mbak Vira diam saja dan
membiarkanku memeluknya. Malah tangan dibawa ke belakang dan disusupkan
ke balik celanaku. Mendapat perlakuan seperti itu, nafsuku semakin memuncak
dan penisku semakin menegang. Apalagi saat Mbak Vira menggerak-gerakkan
tangannya mengocok-ngocok batang penisku.
Sementara di dalam kamar, Mas Iwan menarik tubuh Mbak Rina ketepi Ranjang.
Kedua paha Mbak Rina dibukanya lebar-lebar. Maka terpampanglah vagina Mbak
Rina yang indah, dihiasi bulu-bulu yang dicukur rapi. Mas Iwan kemudian
berjongkok dan mendekatkan mulutnya kebibir vagina Mbak Rina.
“Ohh.. Say.. Yang.. Nikk.. Mat,” desah Mbak Rina tertahan, ketika Mas Iwan mulai
menjilati vaginanya. Lidah Mas Iwan menari-nari dan mencucuk-cucuk vagina
Mbak Rina. Pantat Mbak Rina terangkat-angkat menyambut jilatan Mas Iwan.
Kedua pahanya terangkat dan menjepit kepala Mas Iwan.
“Sudah.. Say.. Aku.. nggak tahan.. Masukin punyamu say,” pinta Mbak Rina
penuh nafsu. Mas Iwan kemudian berdiri dan melepaskan semua pakaiannya.
Dengan sedikit membungkukkan badannya, Mas Iwan memegang penisnya dan
mengarahkannya ke lubang vagina Mbak Rina yang telah basah dan merah
merekah. Slepp! Kepala penis Mas Iwan mulai memasuki vagina Mbak Rina.
“Aow.. terus.. Say.. terus.. Genjot,” seru Mbak Rina, ketika Mas Iwan mulai
mendorong pantatnya naik turun. Penisnya keluar masuk dari vagina Mbak Rina.
Melihat Mas Iwan dan Mbak Vira sedang bersetubuh di depanku, membuat nafsu
birahiku semakin tinggi. Kususupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dapat
kurasakan vaginanya yang telah basah, pertanda Mbak Vira juga bangkit nafsu
birahinya. Kucucuk-cucuk vaginanya dengan jari-jariku. Dia mendesah penuh
nafsu. Mbak Vira mengimbangi dengan semakin cepat mengocok-ngocok
penisku. Sekitar sepuluh menit Mbak Vira mengocok penisku. Mbak Vira
kemudian menyudahi kocokkannya dan membalikkan badannya, menghadap ke
arahku. Ditariknya celanaku hingga terlepas.
Setelah celanaku terlepas, keluarlah penisku yang tegang penuh dan
mengacung-acung dengan bebasnya. Mbak Vira terpukau melihat penisku yang
besar dan panjang. Mbak Vira kemudian berjongkok dikakiku, wajahnya berada
pas di depan selangkanganku. Mbak Vira mendekatkan mulutnya kebatang
penisku. Mula-mula dia menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Terus
dia mulai mengulum dan menghisap kepala penisku.
Kemudian sedikit demi sedikit batang penisku dimasukkannya ke dalam
mulutnya sampai kepala penisku menyodok ujung mulutnya. Dan mulutnya
penuh sesak oleh batang penisku. Dengan lihainya, Mbak vira mulai memajumundurkan mulutnya, membuat penisku keluar-masuk dari dalam mulutnya.

Mataku merem-melek merasakan nikmat dan badanku serasa panas dingin
merasakan kulumannya.
Mbak Vira sangat lihai mengulum penisku. Kudorong maju pantatku dan
kujambak rambutnya, membenamkan kepalanya ke selangkanganku. Sekitar
lima belas menit berlalu Mbak Vira menyudahi kulumannya, dan melepaskan
seluruh pakaiannya. Kemudian dia berdiri menghadap ke dinding.
“Oohh.. Akhh.. Akuu.. nggak tahann.. Don,” serunya tertahan.
“Entot aku.. Entott.. Don,” imbuhnya.
Kutarik sedikit tubuhnya dari belakang, hingga dia menungging. Kuraih batang
penisku dan kuarahkan pas ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong
maju pantatku, hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.
“Aow.. Pelan-pelan Don,” pekiknya, ketika seluruh batang penisku masuk ke
lubang vaginanya yang masih sempit. Pekikkan yang keluar dari mulutnya
membuatku semakin bernafsu dan pelan-pelan kumaju-mundurkan pantatku.
“Akhh.. Enakk.. Don.. Enakk.. Banget,” desahnya sambil menoleh ke belakang
sambil tersenyum padaku.
“Akhh.. Akuu.. Ke.. luarr, Rin,” teriakkan Mas Iwan dari dalam kamar
mengejutkanku, namun tak menghentikan sodokkanku pada Mbak Vira.
“Aku.. jugaa.. Sayang,” sahut Mbak Rina pada Mas Iwan.
Sedetik kemudian Mas Iwan dan Mbak Rina mencapai orgasme bersamaan. Mas
Iwan menumpahkan spermanya di dalam vagina Mbak Rina. Kemudian Mas Iwan
merebahkan tubuhnya disamping tubuh Mbak Rina, dan tertidur pulas.
Sementara itu, aku semakin cepat memaju-mundurkan pantatku, membuat
Mbak Vira berteriak-teriak saking nikmatnya. Kurasakan vaginanya berkedutkedut semakin lama semakin cepat dan menjepit penisku.
“Donn.. Donii.. Akuu.. Mauu.. Keluarr,” teriaknya panjang.
“Tahann.. Mbak.. Aku.. Belum.. Apa-apa,” sahutku.
“Akhh.. Akuu.. Tak.. Tahan.. Don.. Akuu,” jawabnya terputus dan vaginanya
semakin keras menjepit penisku.
Tak lama kemudian Mbak Vira mencapai orgasme. Kurasakan ada cairan-cairan
yang merembes didinding vaginanya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya
dan kusuruh dia berjongkok dihadapanku. Kujambak rambutnya dan
kubenamkan kepalanya keselangkangku. Mbak Vira mengerti maksudku. Dia
mulai menjilati dan menghisap-isap penisku lalu mengulumnya. Sambil tangan
kirinya mengusap-usap buah pelirku.
Sedetik kemudian Mbak Rina datang membantu, dan langsung berjongkok
dihadapanku. Lidahnya dijulurkan untuk menjilati buah pelirku. Tangan kanannya

mengocok-ngocok pangkal penisku. Secara bergantian, kakak beradik, Mbak
Rina dan Mbak Vira, mengocok-ngocok, menjilati dan mengulum penisku.
Penisku keluar dari mulut Mbak Vira kemudiam masuk ke mulut Mbak Rina,
kemudian keluar dari mulut Mbak Rina lalu masuk kemulut Mbak Vira, begitulah
seterusnya. Hingga kurasakan penisku berkedut-kedut.
“Mbakk.. Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr,” jeritku.
“Keluarin di mulutku Don,” sahut mereka hampir bersamaan.
Dan crott! crott! crott! Spermaku muntah dimulut Mbak Vira yang sedang
kebagian mengulum. Mbak Vira menelan spermaku tanpa rasa jijik sedikitpun.
Kemudian Mbak Rina merebut penisku dari Mbak Vira dan memasukkan ke
mulutnya. Dan tak mau kalah dengan adiknya, sisa-sisa spermaku dihisap dan
dijilatinya sampai bersih.
“Kamu puas Don,” kata Mbak Vira.
“Puas sekali Mbak, Mbak berdua luar biasa,” sahutku.
“Kamu mau yang lebih seru nggak,”kata Mbak Rina.
“Mau, mau Mbak,”sahutku.
Mereka kemudian mengajakku ke kamarnya, dimana Mas Iwan sedang tertidur
pulas sehabis bersetubuh dengan Mbak Rina. Mbak Rina menyuruhku tidur
terlentang diranjang. Mbak Rina kemudian menarik kakiku, hingga pantatku
berada ditepi ranjang dan kakiku menjuntai kelantai. Lalu Mbak Rina berjongkok
dilantai dengan wajah berada pas di depan selangkanganku. Mbak Rina mulai
mengusap-usap dan mengocok-ngocok batang penisku yang masih layu, sehabis
orgasme. Kurasakan sedikit ngilu tetapi kutahan.
Mbak Rina menyudahi usapan dan kocokannya. Dan mulai menjilati dan
menghisap-isap penisku dimulai dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya.
Lidahnya berputar-putar dan menari-nari diatas batang penisku. Puas menjilati
penisku, Mbak Rina kemudian memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir
seluruh batang penisku masuk kemulutnya. Dan kurasakan sedikit demi sedikit
penisku mulai menegang didalam mulutnya, hingga mulutnya penuh sesak oleh
batang penisku yang sudah tegang penuh. Mbak Rina sangat pintar
membangkitkan birahiku. Mulutnya maju mundur mengulum penisku. Pipinya
sampai kempot, saking semangatnya mengulum penisku.
Melihat kakaknya yang sedang menjilati dan mengulum batang penisku, Mbak
Vira nafsunya bangkit lagi. Dia meraba-raba dan memasukkan jari-jari tangan
kirinya ke dalam vaginanya sendiri, sedangkan tangan kanannya meremasremas buah dadanya hingga mengeras dan padat. Diiringi desahan-desahan
penuh birahi.
Puas bermain-main dengan vagina dan buah dadanya sendiri, Mbak Vira
kemudian naik ke atas tubuhku. Dan mengangkangi wajahku. Lubang vaginanya
berada pas diatas wajahku. Dia menurunkan pantatnya, hingga bibir vaginanya

menyentuh mulutku. Kujulurkan lidahku untuk menjilati vaginanya yang telah
basah. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya, dia mengerang-erang
merasakan nikmat. Mbak Vira menarik rambutku, membenamkan wajahku
diselangkangannya. Kepalaku dijepit dengan kedua paha mulusnya.
Kini kami bertiga, aku dan kakak beradik sedang berlomba mencari kepuasan.
Mbak Vira sedang kujilati vaginanya, sedangkan pada bagian bawah tubuhku
Mbak Rina dengan asiknya mengulum batang penisku. Beberapa waktu berlalu
Mbak Rina melepaskan kulumannya, dan berjongkok diatas selangkanganku.
Dengan tangannya, diraihnya batang penisku dan diarahkannya ke lubang
vaginanya. Bless! Dengan sekali dorongan pantatnya, masuklah seluruh batang
penisku ke dalam vaginanya yang basah tapi hangat.
Lalu Mbak Rina menaik turunkan pantatnya, sambil mengeluarkan desahandesahan nikmat dari mulutnya. Sesekali pantatnya diputar-putar hingga penisku
serasa dipelintir. Saat menikmati goyangan Mbak Rina, aku terus menjilati
vagina Mbak vira sambil memasukkan jari-jariku ke lubang anusnya. Sedang
asiknya aku menjilati vagina Mbak Vira, kurasakan vaginanya berkedut-kedut.
Beberapa detik kemudian ada cairan yang keluar dari dalam vaginanya. Mbak
Vira mencapai orgasme. Pahanya makin keras menjepit kepalaku. Tanpa rasa
jijik kusedot dan kutelan cairan vaginanya.
Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Vagina Mbak Rina juga berkedutkedut, otot-otot vaginanya menegang.
“Ohh.. Don.. Aku.. Keluar,” teriak Mbak Rina.
Air maninya mengaliri deras dan membasahi batang penisku. Kemudian dia
terkulai lemas sampingku. Membuat penisku yang masih tegang terlepas dan
mengacung-acung. Mbak vira yang kondisi sudah pulih sehabis orgasme,
kemudian berjongkok diatas selangkanganku, menggantikan kakaknya.
diraihnya penisku dan diarahkannya ke lubang anusnya. Mbak Vira menurunkan
pantatnya sedikit demi sedikit hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang
anusnya. Kurasakan penisku seperti dijepit dan dipijit-pijit oleh sempitnya lubang
snusnya.
“Oohh.. Mbak.. Nikk.. Matt.. Enakk,”teriakku, ketika Mbak Vira mulai menaik
turunkan pantatnya, membuat penisku keluar masuk dari lubang anusnya.
Sesekali dia menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan,
membuatku merasakan nikmat yang luar biasa. Sekitar tiga puluh menit Mbak
Vira menggenjot tubuhku.
“Mbakk.. Akuu.. Ke.. Keluarr,” jeritku.
Kurasakan penisku berkedut-kedut dan crott! crott! crott! kutumpahkan seluruh
spermaku di dalam lubang anusnya. Mbak Vira kemudian merebahkan tubuhnya
diatas tubuhku. Sambil menindihku dia tersenyum puas. Malam itu, aku dan Mas

Iwan menginap disana. Dan berpesta sampai pagi, sampai kami sama-sama puas
dan kelelahan.
Panasnya sinar matahari yang menerobos jendela kamarku, membangunkanku
dari tidurku yang lelap. Setelah hampir semalam penuh aku merasakan
nikmatnya bersetubuh dengan Mbak Rina dan Mbak Vera. Dan aku baru pulang
dari rumahnya kerumah Mas iwan jam 05.00 dinihari.
Dengan sedikit bermalas-malasan, aku pergi ke kamar mandi membersihkan
badan. Selesai mandi badan rasanya segar sekali. Siang itu kurasakan lain dari
biasanya, rumah Mas Iwan tampak sepi sekali. Oh ya, aku baru ingat kalau hari
ini, Mas Iwan mengantar Tante Sari kondangan ke kampung sebelah. Jadi yang
ada di rumah hanya Mbak Erna dan Aku.
Dengan hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku, aku pergi ke
dapur. Membuat secangkir kopi. Sampai didapur kudapati Mbak Erna sedang
mencuci piring.
“Pagi Mbak,” sapaku.
Mbak Erna tak menjawab sapaanku. Mukanya cemberut. Aku heran, tumben
Mbak Erna begitu, biasanya dia sangat ramah padaku.
“Ada apa sih Mbak, kok cemberut begitu,” tanyaku lagi.
“Mbak marah sama aku? atau Mbak nggak senang ya, aku disini,” imbuhku.
Mbak erna masih diam saja, membuatku tak enak hati dan bertanya-tanya dalam
hati.
“Ok, Mbak. Kalau Mbak nggak senang, aku pulang aja deh,”
“Jangan-jangan pulang Don, aku nggak marah sama kamu,” sahutnya sambil
menarik tanganku.
“Habis Mbak marah sama siapa? Boleh tahu kan Mbak?” tanyaku lagi.
“Ok, Mbak akan kasih tahu, tapi jangan bilang sama siapa-siapa ya!,” jawabnya.
“Aku janji Mbak,” kataku meyakinkannya.
“Don, aku lagi kesal sama Mas Iwan,” kata Mbak sari.
“Kesal kenapa Mbak,” selaku.
“Belakangan ini, Mas Iwan dingin sekali padaku Don,” katanya sambil
merebahkan kepalanya didadaku.
“Setiap aku pingin begituan, dia selalu menolak,” imbuhnya sambil tersipu malu.
“Mungkin Mas Iwan lagi lelah Mbak,” hiburku sambil kuusap-usap rambutnya.
“Ah, masak setiap malam lelah,” sahutnya.
“Mungkin ada yang bisa aku bantu, untuk menghilangkan kekesalan Mbak,”
pancingku.
Mbak Erna tak menjawab pertanyaanku. Sebagai orang yang cukup
berpengalaman soal sex, aku tahu Mbak Erna sangat kesepian dan

menginginkan hubungan sexsual. Maka dengan memberanikan diri, kukecup
lembut keningnya. Dan kurasakan remasan halus tangannya yang masih
memegang tanganku.
Merasa mendapat respon positif, kugerakkan bibirku menciumi kedua pipinya
dan berhenti dibelahan bibir mungilnya.
Mbak Ernapun membalas kecupanku pada bibirnya dengan kuluman yang
hangat, penuh gairah. kukeluarkan lidahku, mencari lidahnya. Kuhisap-hisap dan
kusedot-sedot. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan kugerakkan
menggerayangi tubuh Mbak Erna. Dan perlahan-lahan kususupkan tangan
kananku kebalik gaun tidurnya. Dan kurasakan halusnya punggung Mbak Erna.
Sementara tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang padat. Mbak Erna
melepaskan seluruh pakaiannya. Agar aku lebih leluasa menggerayangi
tubuhnya.
Setelah semua terlepas maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa.
Dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang montok, perutnya yang
ramping dan vaginanya yang dicukur bersih. Membuat nafsu birahiku semakin
menjadi-jadi dan kurasakan penisku menegang. Akupun melepaskan kulumanku
pada bibirnya dan dengan sedikit membungkukkan badanku. Aku mulai menjilati
buah dadanya yang mulai mengeras, secara bergantian.
Puas menjilati buah dadanya, jilatanku kupindahkan ke perutnya. Dan kurasakan
halusnya kulit perut Mbak Erna. Mbak Erna tak mau ketinggalan, ditariknya
handuk yang melilit dipinggangku. Dengan sekali sentakan saja, handukku
terlepas.
“Aow, besar sekali don penismu,” decaknya kagum, sambil memandangi penisku
yang telah menegang dan mengacung-ngacung setelah handukku terlepas.
Mbak Erna menggerakkan tangannya, meraih batang penisku. Diusap-usapnya
dengan lembut kemudian dikocok-kocoknya, membuat batang penisku semakin
mengeras.
Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu, Kusudahi jilatanku pada perutnya.
Kuangkat tubuhnya dan kududukkan diatas meja dapur. Kedua pahanya kubuka
lebar-lebar. Dan terpampanglah di depanku bukit kecil yang dicukur bersih. Bibir
vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil yang tersembul diatasnya.
Kubungkukkan tubuhku dan kudekatkan wajahku ke selangkangannya. Dan aku
mulai menjilati pahanya yang putih mulus, dihiasi bulu-bulu halus. Sambil
tanganku meraba-raba vaginanya.
Beberapa menit berlalu, kupindahkan jilatanku dari pahanya ke vaginanya. Mulamula kujilati bibir vaginanya, terus kebagian dalam vaginanya. Lidahku menarinari didalam lubang vaginanya yang basah.
“Ohh.. terus.. Don.. terus.. Nik.. Matt,” serunya tertahan. Membuatku semakin
bersemangat menjilati lubang vaginanya. Kusedot-sedot klitorisnya. Pantat Mbak

Erna terangkat-angkat menerima jilatanku. Ditariknya kepalaku, dibenamkannya
pada selangkangannya.
“Ohh.. Don.. Aku.. Tak.. Tahan.. Masukin Don.. Masukin penismu,” pintanya
menghiba.
Kuturuti kemauannya. Aku kemudian berdiri. Kuangkat kedua kakinya tinggitinggi, hingga ujung jari kakinya berada diatas bahuku. Kudekatkan penisku
keselangkangannya. Mbak Erna meraih penisku dan menuntunnya ke lubang
vaginanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku masuk ke lubang
vaginanya.
Aku diam sejenak mengatur posisi supaya lebih nyaman, lalu kudorong pantatku
lebih keras, membuat seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya.
Kurasakan penisku dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit.
Vaginanya penuh sesak karena besarnya batang penisku.
“Aow.. Pelan-pelan.. Don.. penismu gede sekali,” pekiknya, ketika aku mulai
memaju mundurkan pantatku, membuat penisku keluar masuk dari lubang
vaginanya.
Tak terasa sudah tiga puluh menit aku memaju mundurkan pantatku. Dan
kurasakan vagina Mbak Erna berkedut-kedut. Dan otot-otot vaginanya
menegang.
“Ohh.. Don.. Aku.. Keluarr.. Sayang,” teriaknya lantang. Sedetik kemudian
kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Dan Mbak Erna mencapai
orgasmenya. Mbak Erna tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan.
Dia turun dari atas meja dapur. Kemudian berjongkok dihadapanku. Diraihnya
penisku dan dikocok-kocok dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya
meremas-remas buah pelirku.
“Akhh.. Mbak.. Enak.. Nikk.. Mat.. terus,” seruku, ketika Mbak Erna mulai
menjilati batang penisku. Dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Mataku
merem melek merasakan nikmatnya jilatan Mbak Erna. Aku semakin merasa
nikmat ketika Mbak Erna memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Dan
mulai mengulum batang penisku. Mbak Erna memaju mundurkan mulutnya,
membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Sementara tangannya
mengocok-ngocok pangkal penisku.
“Oohh.. Mbak.. Akuu.. Tak.. Tahan,” teriakku.
Dan kurasakan penisku berkedut-kedut semakin lama semakin cepat. Kujambak
rambutnya dan kubenamkan kepalanya diselangkanganku.
“Mbak.. Akuu.. Ke.. Luarr,” teriakku lagi lebih keras. Mbak Erna semakin cepat
memaju mundurkan mulutnya. Dan crott! crott! crott! penisku memuntahkan

sperma yang sangat banyak di mulutnya. Mbak Ernapun menelannya tanpa
ragu-ragu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati sisa-sisa spermaku
sampai bersih.
“Terimakasih Don, kamu telah memberiku kepuasan,” pujinya sambil tersenyum.
“Sama-sama Mbak, aku juga sangat puas,” sahutku.
“Mbak masih mau lagi kan,” tanyaku.
“Mau dong, tapi kita mandi dulu yuk,” ajaknya.
Kemudian kami meraih pakaian masing-masing untuk selanjutnya bersama-sama
pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Sehabis mandi, masih sama-sama
telanjang, kubopong tubuhnya menuju taman disamping rumah. Aku ingin
melaksanakan impianku selama ini, yaitu bersetubuh ditempat terbuka.
“Don.. Jangan disini sayang, nanti dilihat orang,” protesnya.
“Kan nggak ada siapa-siapa di rumah Mbak,” sahutku.
Mbak Ernapun tidak protes lagi, mendengar jawabanku. Sambil berdiri kupeluk
erat tubuhnya. Kulumat bibirnya. Mbak Erna membalas lumatan bibirku dengan
pagutan-pagutan hangat. Cukup lama kami bercumbu, kemudian aku duduk
dikursi taman. Dan kusuruh Mbak Erna berjongkok dihadapanku. Mbak Erna tahu
maksudku. Diraihnya batang penisku yang masih layu. Dielus-elusnya lembut
kemudian dikocok-kocok dengan tangannya.
Setelah penisku mengeras Mbak Erna menyudahi kocokkannya, dia
mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Lidahnya dijulurkan dan mulai
menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku, kemudian
turun kepangkalnya.
“Oohh.. terus.. Mbak.. Nikmat banget,” desahku.
“Isepp.. Mbak.. Isep,” pintaku. Mbak Erna menuruti kemauanku.
Dimasukkannya penisku kemulutnya. Hampir sepertiga batang penisku masuk
ke mulutnya. Sambil tersenyum padaku, dia mulai memaju mundurkan
mulutnya, membuat penisku maju keluar masuk dimulutnya.
“Mbak.. Aku.. Tak.. Tahan,” seruku. Mbak Erna kemudian naik ke pangkuanku.
Vaginanya pas berada diatas selangkanganku. Diraihnya penisku dan
dibimbingnya ke lubang vaginanya. Mbak Erna mulai menurunkan pantatnya,
sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama
semakin dalam. Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya.
Sesaat kemudian Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali
digoyang-goyangkan pantatnya kekiri-kekanan. Aku tak mau kalah, kusodoksodokkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya.
“Ohh.. Don.. Aku.. Mauu.. Ke.. luarr,” teriaknya setelah hampir tiga puluh menit
menggoyang tubuhku. Dan kurasakan otot-otot vaginanya menegang.

Tangannya mencengkeram dadaku dengan keras. Sesaat kemudian kurasakan
cairan hangat merembes dilubang vaginanya.
“Aku tak ingin mengecewakanmu Don,” katanya sambil tersenyum. Dia menarik
penisku keluar dari lubang vaginanya, kemudian memasukkannya ke lubang
anusnya. Mbak Erna rupanya tahu kesenanganku. Meski agak susah, akhirnya
bisa juga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Perlahan tapi pasti
Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Membuatku merasakan nikmat
yang tiada taranya.
Cukup lama Mbak Erna menggoyang-goyangkan pantatnya, kemudian kami
berganti posisi. Kusuruh dia menungging, membelakangiku dengan tangan
bertumpu pada kursi taman. Kugenggam penisku dan kuarahkan tepat ke lubang
anusnya. Kudorong sedikit demi sedikit, sampai seluruhnya amblas tertelan
lubang anusnya. Lalu kudorong pantatku maju mundur. Kurasakan nikmatnya
lubang anus Mbak Erna. Sambil kucucuk-cucuk lubang vaginanya dengan jarijariku. Membuat nafsu birahi Mbak Erna bangkit lagi. Mbak Erna mengimbangi
gerakkanku dengan mendorong-dorong pantatnya seirama gerakkan pantatku.
Aku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai
orgasme. Demikian juga jari-jariku semakin cepat mencucuk vaginanya.
“Mbak.. Mbak.. Akuu.. Mau.. Keluar,” seruku.
“Akuu.. Juga.. Don,” sahutnya.
Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kami mencapai orgasme. Kutarik
penisku dari lubang anusnya, dan kutumpahkan spermaku dipunggungnya. Mbak
Erna kemudian membalikkan badannya dan berdiri, sambil memintaku duduk
kursi taman. Didekatkannya selangkangannya kewajahku. Ditariknya rambutku
dan dibenamkannya kepalaku keselangkangannya. Dan akupun mulai menjilati
vaginanya sambil duduk. Kuhisap dan kusedot-sedot cairan hangat yang keluar
dari lubang vaginanya. Mbak Erna sangat puas dengan perlakuanku.
Hari itu kami melakukan persetubuhan sampai puas, dengan berbagai macam
gaya. Sungguh luar biasa Mbak Erna, meskipun tinggal dikampung. Tapi dalam
soal bersetubuh dia tak kalah dengan orang kota. Memang sungguh nikmat istri
Mas Iwan. Vagina dan lubang anusnya sama nikmatnya. Membuatku ketagihan
menyetubuhinya.
Tak terasa sudah satu bulan aku berlibur dikampung Mas Iwan. Malam-malam
yang kulewati bersama Mbak Erna dan Tante Sari membuat waktu satu bulan
terasa cepat sekali. Sudah saatnya aku kembali kekotaku, karena tiga hari lagi
aku harus ke sekolah.
Saat berangkat dari kampung Mas Iwan, aku tidak sendirian. Ada Vivi, anak
kandung Tante Sari menemaniku. Gadis cantik berkulit putih dan bertubuh
langsing ini, baru tamat SMP dan akan melanjutkan SMU di kota. Tante sari

meminta tolong padaku agar mengantarkan Vivi, mencari rumah kost di dekat
sekolah.
Dengan menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kota. Dan setelah
berpuar-putar cukup lama, akhirnya kudapatkan rumah kost untuk Vivi. Pemilik
rumah adalah seorang janda cantik berusia sekitar 32 tahun, namanya Yeni.
Setelah memberikan kunci kamar pada Vivi, Tante Yeni meninggalkan kami
berdua.
Sehabis membantu Vivi mengangkat barang-barangnya ke dalam kamar, aku
merasa haus. Kusuruh Vivi ke warung untuk membeli minuman. Sambil duduk
menunggu kedatangan Vivi, iseng-iseng kunyalakan VCD. Ngawur aja kusetel
salah satu film. Aku terkejut, ternyata isinya film porno.
Adegan-adegan difilm itu, membangkitkan nafsu birahiku. Kurasakan batang
penisku mengeras dan berdiri tegak di balik celanaku. Kuturunkan celanaku, dan
kukeluarkan batang penisku. Kuelus-elus dan kukocok-kocok batang penisku.
Saking asiknya aku mengocok-ngocok batang penisku, sampai kedatangan Vivi
tak kurasakan.
“Mas, Doni lagi ngapain,” suara Vivi mengejutkanku.
“Akh, nggak ngapa-ngapain,” sahutku.
“Itu apa?” tanyanya lagi sambil memandangi celanaku.
Astaga! Aku lupa menaikkan celanaku. Sehingga Vivi dengan jelas melihat
penisku yang sedang berdiri tegak. Merasa sudah kepalang basah, kulanjutkan
saja mengocok penisku.
“Kamu bisa membantuku Vi?,” tanyaku.
“Bantu apa Mas?,” katanya balik bertanya.
“Kocokkin penisku Vi,” pintaku.
Vivi menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kutarik tangannya dan kuletakkan
diatas penisku. Vivi yang juga sudah terangsang akibat ikut nonton film porno,
menggenggam batang penisku. Dengan lembut dia mengelus-elus dari kepala
sampai kepangkal penisku. Aku merasa seperti melayang.
Aku melepaskan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Vivi yang sedang
mengocok penisku. Kutarik kaosnya dan kususupkan tanganku kebalik BHnya.
Kuraba-raba buah dadanya. Perlahan-lahan buah dadanya mengeras. Cukup
lama aku meraba-raba buah dadanya, kemudian kutarik Bhnya hingga terlepas.
Setelah terlepas, terlihatlah buah dadanya yang padat dan mengeras. Aku
melanjutkan lagi meremas-remas buah dadanya. Vivi mendesah-desah
merasakan nikmat, tangannya semakin cepat mengocok penisku.
Sekitar lima belas menit berlalu kami berganti posisi. Sambil menarik rok
mininya, kodorong tubuhnya hingga terlentang diranjang. Hanya celana

dalamnya saja yang melekat menutupi selangkangannya. Kutindih tubuhnya dari
atas lalu kukecup bibirnya, kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang
terbuka. Vivi menyambutnya dengan hisapan yang tak kalah hebatnya.
Setelah cukup lama berpagutan, kuputar tubuhku. Membentuk posisi 69.
Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan selangkangannya berada
dibawah wajahku. Kujulurkan lidahku menjilati bagian bawah perutnya, sambil
tanganku melepas celana dalam Vivi. Vivi mengangkat pantatnya memudahkan
aku melepaskan celana dalamnya dan meleparkannya ke lantai kamar. Lidahku
bergerak turun menyapu bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.
“Ohh.. Mas don.. Enakk,” desahnya ketika aku mulai menjilati vaginanya yang
basah, membuatku semakin bersemangat menjilati vaginanya. Kucucuk-cucuk
dan kusedot-sedot klitorisnya yang sebesar biji kacang.
Saat aku menjilati lubang vaginanya, Vivi juga sedang asyik menjilati penisku.
Sambil tangan kirinya mengocok-ngocok pangkal penisku sedangkan tangan
kanannya mengelus-elus buah pelirku dengan lembut. Sesaat kemudian Vivi
memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk ke
mulutnya. Kudorong pantatku ke atas dan ke bawah, sehingga penisku keluar
masuk dimulutnya.
Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Aku bangkit dan berdiri dilantai
kamar. Kutarik tubuhnya, hingga pantatnya berada ditepi ranjang. Kedua
pahanya kubuka lebar-lebar. Kuarahkan penisku tepat ke lubang vaginanya.
“Ja.. Jangan.. Mas, aku masih perawan,” katanya.
Aku tak memperdulikan kata-katanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala
penisku menyeruak masuk. Vivi berteriak lebih keras ketika aku mendorong lebih
keras dan penisku menembus selaput daranya. Akupun lebih bersemangat
mendorong pantatku dan amblaslah seluruh batang penisku ke lubang
vaginanya yang sangat sempit. Penisku serasa dijepit sempitnya lubang
vaginanya. Beberapa detik kubiarkan penisku di dalam vaginanya.
Kupandangi wajahnya yang meringis menahan sakit. Dengan perlahan-lahan
kuangkat pantatku lalu kuturunkan lagi. Membuat penisku keluar masuk
dilubang vaginanya. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Beginikah rasanya
menyetubuhi seorang perawan.
“Ohh.. Mas.. Enakk,” desahnya yang mulai merasakan
Nikmatnya disetubuhi. Pantatnya digerakkan naik turun seirama gerakkan
pantatku. Rasa sakitnya telah hilang berganti dengan rasa nikmat. Sekitar tiga
puluh menit berlalu, kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan otot-otot
vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram seprei dengan keras.

“Ohh.. Mas.. Akuu.. Mauu,” desahnya terputus.
“Mau keluar sayang,” sahutku.
Vivi mengangguk sambil tersenyum.
“Aku juga Vi,” imbuhku. Semakin cepat kudorong-dorong pantatku.
“A.. Akuu.. Ke.. Luarr,” teriaknya lantang.
Kurasakan cairan hangat merembes didinding vaginanya. Sedetik kemudian
kurasakan penisku berkedut-kedut. Dan Crott! crott! crott! Kutumpahkan sperma
yang sangat banyak dilubang vaginanya. Dan tubuhku ambruk menindih
tubuhnya.
“Kamu menyesal Vi,” tanyaku sambil tersenyum puas, karena baru kali ini aku
menyetuBHi seorang perawan.
“Nggak Mas, semua sudah terjadi,” sahutnya.
“Kamu mau lagi khan,” godaku. Vivi tersenyum padaku, senyum penuh arti.
Kira-kira satu jam kami tertidur. Akupun terbangun dan bergegas ke kamar
mandi membersihkan badan. Mengingat kejadian tadi, bersetubuh dengan Vivi,
membuat nafsu birahiku bangkit lagi. penisku yang tadi telah layu, kini tegang
dan mengeras. Setelah mengelap tubuhku dengan handuk akupun bergegas ke
kamar, dimana Vivi sedang tertidur pulas. Dan ia terbangun ketika aku lagi asyik
menjilati lubang vaginanya.
“Oh.. Mas.. Apa yang kamu lakukan,” tanyanya.
“Aku pingin setubuhi kamu lagi sayang,” sahutku sambil tersenyum.
Vivi membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku lebih leluasa menjilati
vaginanya. Beberapa menit berlalu kusuruh dia menungging. Aku mengambil
posisi dibelakangnya. Dari belakang, aku menjilati lubang anusnya, sambil
tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya.
Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan aku mulai
mendorong maju pantatku. Sedikit demi sedikit penisku masuk ke lubang
vaginanya. Semakin lama semakin dalam penisku memasukinya, sampai
seluruhnya amblas, tertelan lubang vaginanya. Akupun mendorong pantatku
maju mundur, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.
“Ohh.. Nikk.. Matt.. Mas.. Enakk,” jeritnya tertahan. Sekitar tiga puluh menit
berlalu, kutarik penisku dari lubang vaginanya hingga terlepas. Kemudian
kugenggam penisku dan kuarahkan ke lubang anusnya.
“Jangan, Mass sakitt, ja.. “jeritnya sambil meringis. Belum habis dia bicara,
kudorong pantatku dengan keras. Dan Bless! Seluruh batang penisku masuk ke
lubang anusnya. Kukocok lubang anusnya dengan irama pelan semakin lama
semakin cepat, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Dan
Vivipun merasakan sensasi yang luar biasa dikedua lubangnya. Jeritan-jeritannya
berganti dengan desahan-desahan nikmat penuh nafsu.

Aku semakin bersemangat mendorong-dorong pantatku, ketika kurasakan akan
mencapai orgasme. Sepuluh menit kemudian penisku menyemburkan sperma
didalam anusnya. Dan tak lama berselang Vivi menyusul, tubuhnya mengejang
hebat. Kemudian Vivi terkulai lemas dan tertidur.
Aku kemudian berdiri dan mengenakan celanaku. Saat aku akan mengambil
handuk ke dalam almari, tanpa sengaja aku menoleh keluar jendela. Samarsamar aku melihat sesosok bayangan wanita yang sedang berdiri dibalik jendela
kamar. Rupanya orang itu sedang mengitip aku dan Vivi yang sedang
bersetubuh dari balik korden yang lupa aku tutup.
Saat aku keluar mencarinya, wanita itu bergegas pergi. Aku membuntuti wanita
itu. Melihat potongan tubuhnya dari belakang aku yakin kalau wanita itu adalah
Tante Yeni, ibu kostnya Vivi. Dan aku keyakinanku semakin kuat, saat wanita itu
masuk kekamar tidur Tante Yeni dan langsung menutup pintu. Aku berjalan
mendekat dan berdiri di depan pintu kamarnya.
Aku mengintip dari lubang kunci. Dan memang benar, wanita yang tadi
mengintipku adalah Tante Yeni. Sampai didalam kamar Tante Yeni melepaskan
seluruh pakaiannya. Aku terkesima melihat tubuh Tante Yeni yang putih mulus
dan sexy, meski sudah berumur sebaya ibuku. Membuat jantungku berdetak
kencang. Nafsu birahiku yang baru saja tersalurkan bersama Vivi, perlahan-lahan
bangkit lagi.
Pemandangan selanjutnya lebih seru lagi. Tante Yeni merebahkan tubuhnya
diatas ranjang dengan kedua kaki terbuka lebar-lebar, memperlihatkan indahnya
bentuk vaginanya. Tante Yeni meremas-remas buah dadanya sendiri dengan
tangan kirinya. Perlahan buah dadanya mulai mengeras. Sedangkan tangan
kanannya meraba-raba selangkangannya. Desahan-desahan nikmat keluar dari
bibirnya, membuatku semakin tak tahan. Batang kemaluanku sudah berdiri
tegak.
Dengan sangat hati-hati, aku membuka pintu kamarnya. Dan ternyata tidak
terkunci. Sambil melepaskan celanaku, aku berjalan mengendap-endap
mendekatinya. Tante Yeni yang sedang asyik meraba-raba tubuhnya sendiri,
tidak tahu kalau aku masuk ke kamarnya.
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menindihnya. Tante Yeni sangat terkejut
melihat kehadiranku. Aku segera menyumpal mulutnya yang sedang Terbuka
saat dia hendak berteriak dengan mulutku. Dan aku langsung melumatnya.
Tante Yeni yang sedang dirasuki nafsu birahi, membalas lumatanku dengan
pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.
Cukup lama aku melumat bibirnya, kemudian aku menjilati lehernya, terus turun
ke buah dadanya yang sudah mengeras. Kedua buah dadanya aku jilati secara
bergantian, membuat desahannya semakin keras. Aku menyudahi jilatanku pada

kedua buah dadanya, kemudia aku berlutut ditepi ranjang, diantara kedua
kakinya. Tanganku yang nakal mulai meraba-raba bibir vaginanya yang dicukur
bersih.
Tanpa berfikir lama, aku menjulurkan lidahku, menjilati, menghisap dan sesekali
kumasukkan lidahku ke lubang vagina Tante Yeni dan lidahku menari-nari di
dalam lubang vaginanya. Tante Yeni mengangkat-angkat pantatnya, menyambut
jilatanku. Rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya setiap kali lidahku
menghujam lubang vaginanya. Disaat dia sedang menikmati jilatanku, aku
memasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya. Sambil sesekali aku
menjilati lubang anusnya. Tante Yeni sangat menikmati perlakuanku, dia
menekan kepalaku dan membenamkannya diselangkangannya.
Sepuluh menit berlalu, aku menyudahi jilatanku. Aku kemudian berdiri, sambil
menarik pinggulnya ketepi ranjang, kedua kakinya kubuka lebar-lebar. Tanpa
membuang waktu lagi, batang kemaluanku yang sudah tegang dari tadi
langsung kuhujamkan ke lubang vaginanya. Tante Yeni menjerit saat batang
kemaluanku yang besar dan panjang menerobos masuk ke lubang vaginanya.
Aku merasakan jepitan bibir vaginanya yang begitu seret. Aku mulai
menggerakkan pantatku maju mundur. Tante Yeni sangat menikmati setiap
gerakkan pantatku, dia menggeliat dan mendesah disetiap gerakan kemaluanku
keluar masuk dari lubang vaginanya.
Aku semakin mempercepat memaju mundurkan pantatku saat Tante Yeni
memperlihatkan tanda-tanda orang yang mau orgasme.
“Ohh.., Don.., akuu.., mau.., keluarr,” jeritnya cukup keras. Tante Yeni
menggelinjang hebat, kedua pahanya menjepit pinggangku. Rintihan panjang
keluar dari mulutnya saat klitorisnya memuntahkan cairan kenikmatan. Aku
merasakan cairan hangat yang meleleh disepanjang batang kemaluanku. Aku
membiarkan Tante Yeni beristirahat sambil menikmati orgasmenya. Setelah
Tante Yeni berhasil menguasai dirinya, tanpa membuang waktu lagi aku
membalikkan tubuhnya dalam posisi menungging.
Lalu aku menciumi pantatnya. Tante Yeni mengeliat menahan geli saat lidahku
menelusuri vagina dan anusnya. Kemudian aku meludahi lubang anusnya
beberapa kali. Setelah kurasakan daerah itu benar-benar licin, aku membimbing
batang kemaluanku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku membuka
lubang anusnya. Tante tak bereaksi apa-apa dan membiarkan saja apa yang
kulakukan. Perlahan kudorong pantatku. Tante Yeni merintih sambil menggigit
bibirnya menahan rasa perih akibat tusukan kemaluanku pada lubang anusnya
yang sempit. Setelah beberapa kali mendorong dan menarik akhirnya seluruh
batang kemaluanku masuk ke lubang anusnya.
Sambil menikmati jepitan lubang anusnya, aku mendiamkan sebentar batang
kemaluanku disana untuk beradaptasi. Tante Yeni menjerit saat aku mulai
menghujamkan kemaluanku. Tubuhnya terhentak-hentak ketika sodokkanku

bertambah kencang dan kasar. Sambil terus meningkatkan irama sodokkan,
tanganku dengan kasar mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Akibat menahan
sensasi nikmat ditengah-tengah rasa ngilu dan perih pada kedua lubang bawah
tubuhnya, Tante Yeni sampai menangis. Setiap kali aku menyodokkan
kemaluanku ke lubang anusnya, dia mengaduh namun dia tak mau aku
menyudahinya. Sampai akhirnya kurasakan suatu perasaan yang sangat nikmat
mengaliri sekujur tubuhku.
Aku mengerang panjang, saat mengalami orgasme yang pertama. Tanganku
mencengkeram keras pantatnya. Aku menumpahkan seluruh spermaku didalam
lubang anusnya. Tubuhku menegang beberapa saat, kemudian terkulai lemas.
Tak lama kemudian Tante Yeni menyusul, dia mengeram sambil tangannya
mencengkeram bantal kuat-kuat. Cairan hangat dan kental meleleh dari lubang
vaginanya.
Dengan nafas yang masih memburu dan tubuh yang masih lemas, Tante Yeni
bangkit kemudian duduk ditepi ranjang. Dia meraih batang kemaluanku lalu
memasukkan ke mulutnya. Tante Yeni menjilati sisa-sisa sperma yang masih
blepotan dibatang kemaluanku sampai bersih tanpa tersisa setetespun. Tante
Yeni tersenyum puas merasakan nikmat yang sudah cukup lama tidak
dirasakannya, sejak dia bercerai dengan suaminya.
Tanpa malu-malu dia meminta aku agar menyutubuhinya lagi. Aku menuruti
permintaannya, kami bersetubuh sampai pagi. Sampai kami benar-benar
kelelahan. Pagi-pagi sekali aku meninggalkan Tante Yeni yang masih tidur tanpa
busana dan masuk kekamar Vivi. Dimana Vivi juga sedang tidur pulas. Aku
mengenakan seluruh pakaianku, kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkan
kenangan-kenangan nikmat untuk mereka berdua. Sekali waktu aku
mengunjungi Tante Yeni dan Vivi untuk menikmati lagi tubuh mereka.

Hasrat & Nafsu Part 2
31
Posted by admin on October 25, 2009 – 2:49 pm
Filed under Setengah baya
Kapan suamimu pulang .. Marisa ..?”, bisikku letih kepadanya, sejenak setelah
hampir sekitar kurang lebih 1 jam aku menggeluti dan menyetubuhinya
sebanyak dua kali. Kami berbaring kelelahan diatas kasur kamarnya. Kuelus-elus
mesra bukit kemaluannya yang sedikit basah berkeringat sehabis kusenggamai.
Begitu tebal dan montok bukit kemaluan mbak Marisa ini. Kucubit gemas
berulang kali belahan bibir labia mayoranya yang empuk dan kenyal. ”
Nggghhhh ….. akhir bulan depan Er … kenapa ..?”, ujarnya setengah merintih
menikmati elusanku.
” Apa katanya nanti Marisa … ?”, tanyaku sedikit khawatir. ” Aahh … selalu itu
saja yg kau tanyakan Ery … ngghhh … dia harus tahu diri karena ia sendiri yg

mengusulkan ide ini …..” ” Bisa-bisa aku dibunuhnya Marisa …?”, tanyaku masih
tak puas.
Mbak Marisa membuka kedua matanya yg setengah terpejam lalu
memandangku gemas. ” Ery … bagaimanapun juga suamiku pasti ingin tahu
siapa bapak anak yg sedang kukandung ini … setidaknya kamu mesti ketemu
dengannya …” ” Suamimu benar-benar gila Marisa … ?” ” Kita yg gila Er … dan
kau yg gila Ery … kamu sendiri khan yg nekat dan berani-beraninya merayuku
sampai hamil begini …ahhh …”, bisiknya lirih masih kelelahan.
Mulutnya tersenyum kecil. ” Kenapa kamu juga mau dirayu ….?”, ujarku tak mau
kalah. ” Bodo aahh …”, sahutnya malas. Kupandangi wajah cantiknya yg terlihat
letih. Bibirnya yg sedikit tebal tampak basah. Kupandangi tubuh bugilnya yang
putih mulus dan begitu montok nan aduhai, kedua buah dadanya mengacung
tegang bak buah melon dengan puting-putingnya yg keras berwarna coklat
kemerahan. Pinggulnya bundar padat dengan kedua paha serta kaki seksinya yg
putih merangsang, bukit kemaluannya yang mulai tertutup dengan rerimbunan
jembutnya yang halus dan kehitaman tampak basah merangsang birahi. ”
Suamimu benar-benar menyia-nyiakanmu Marisa …”, bisikku gemas. Kuremas
dan kukocok alat vitalku yg mulai menegang lagi. Dalam sekejab rudal
tomahawk ku telah kembali perkasa. Kepala penisku membesar bak buah sawo
manis. Urat-urat disekujur batang penisku mulai bertonjolan keluar menandakan
ereksi-ku yang telah sempurna. Mbak Marisa melirikku sekilas dan hanya bisa
tersenyum letih. ” Aaah .. kadang kupikir aku sudah tak sanggup lagi
melayanimu Ery …”, bisiknya lemah. Aku tersenyum menyeringai senang.
Dengan penuh gairah aku kembali menaiki dan menindih tubuh mbak Marisa
yang telanjang. Kupentang lebar kedua belah paha mulusnya. Dan ia hanya
memekik kecil dan merintih panjang saat untuk kesekian puluh kalinya batang
alat vitalku kembali menembus dan mengoyak liang kemaluan hangatnya
sampai mentok kandas. ” Aawww … ooh .. Ery .. kau ini benar-benar hipersex
…”, bisiknya letih.
Aku tahu mbak Marisa sudah tak sanggup lagi melayani nafsu sex ku lagi….
Sayang aku tak peduli. Ia hanya bisa mengeluh dan merintih berulang kali ketika
aku mulai mengayuh pinggulku turun naik menyetubuhinya lagi beberapa saat
lamanya, sebelum akhirnya air maniku kembali tersembur keluar dengan
hebatnya memenuhi liang vaginanya, menyebar benih-benih spermaku kedalam
rahimnya. Perlu juga saya ceritakan sedikit tentang kelainan sex yg dimiliki
mbak Marisa …. Selain ia senang menyuruhku meminum cairan lendir
orgasmenya, mbak Marisa juga suka melihat air maniku ditumpahkan keatas
kemaluannya.
Pernah suatu malam saat kami berhubungan badan yg biasanya paling tidak
kami lakukan sebanyak 2 ronde, pada ronde pertama kami bersenggama ketika
kurasa air maniku sudah hendak muncrat keluar tiba-tiba mbak Marisa berbisik
kepadaku. ” Eryyy … keluarkan diluar sayang ….nnnggghh …. cabut dulu
penismu Er ….”, erangnya manja. Semula aku agak kaget juga mendengar

permintaannya yg aneh, karena biasanya bila air maniku hendak keluar kedua
paha mulusnya langsung dijepitkan kuat-kuat ke pinggangku dan vaginanya
langsung merapat ketat sekali sampai alat vitalku tak kuat lagi menahan rasa
nikmat, namun kali ini mbak Marisa malah mendorong tubuhku yg sudah mulai
meregang nikmat hendak enjakulasi, dengan cepat tubuhnya yg berada dibawah
tindihanku langsung bergeser sedikit keatas sehingga otomatis batang penisku
langsung tercabut keluar dari dalam liang vaginanya.
Belum juga habis kagetku, jemari tangan kanannya menyambar alat vitalku …
diremasnya kuat dan dikocok naik turun dengan cepat … kepala penisku
diarahkannya keatas permukaan bukit kemaluannya yg besar montok ditumbuhi
dengan bulu jembutnya yg mulai rimbun dan tebal, belahan kedua bibir
kemaluannya masih setengah terbuka sehabis kusenggamai tadi dan tampak
basah berlendir bekas cairan kewanitaannya yg bercampur dengan cairan
orgasmenya yg berwarna keruh kekuningan. …. Crraatttt …crreeeettt …….
Crrreeett ……. Crrrettt t……. ccreeeeetttt……. Air maniku yg putih setengah
kental langsung berhamburan keluar banyak sekali membasahi seluruh
permukaan bukit kemaluannya yang merangsang. Bulu jembutnya yg mulai
tebal seakan tertutup oleh leleran air maniku yg putih seolah seperti sedang
dikeramasi.
Saking kuatnya semburan spermaku itu sampai membentuk garis-garis putih
dan panjang diseluruh bukit kemaluannya dan sekitar perut serta pusarnya,
sebagian besar meresap masuk disela-sela belahan bibir kemaluannya dan
memasuki liang vagina merahnya yang setengah terbuka. Kedua mata mbak
Marisa tampak berbinar-binar melihat cairan mani kentalku yg begitu banyak
melumuri bukit kemaluannya. Ia mendesis gemas dan lidahnya setengah terjulur
keluar menjilati bibirnya yg basah merekah. ” mmmmhh ..pantas saja begitu
cepat aku hamil Er …. Spermamu sebanyak ini ….”, bisiknya kagum. Aku
tersenyum bangga diantara rasa nikmat enjakulasiku, kuraih alat vitalku yg
mulai sedikit lemas karena air maniku seakan terkuras habis dari remasan jemari
tangan mbak Marisa … dengan gemas kuusap-usapkan alat vitalku yg masih
setengah ngaceng ke seluruh permukaan bukit kemaluannya yg penuh leleran
maniku sendiri lalu dengan sedikit susah payah berusaha kubenamkan kembali
kepala penisku yg sudah loyo itu kedalam liang vaginanya.
Tapi sayang…. Alat vitalku terlalu lemas untuk memasuki liang vagina mbak
Marisa yg sangat rapat … hingga meski aku berusaha menekan tetap saja hanya
ujung kepala penisku yg bisa masuk sekitar 3 centi saja … ” Aaaahhhh …. Marisa
….”, bisikku gemas menyaksikan semua itu. Aku terkulai lemas disampingnya.
Dengan mesra mbak Marisa mengusap lembut jidatku yg penuh keringat
sebelum akhirnya ia mengusap-usap perut dan bukit kemaluannya sendiri yg
penuh leleran maniku sampai berjatuhan dan membasahi sprei tempat tidurnya.
Beberapa kali aku juga sering minta kepada mbak Marisa untuk mencoba
merasakan senggama lewat lubang anusnya, karena sering aku melihat di film2
porno anal sex seperti itu kelihatannya sangat nikmat sekali karena lubang anus

sudah pasti sangat sempit dan jauh lebih rapat dibanding liang vagina. Namun
dengan tegas mbak Marisa selalu menolak dengan alasan kotor dan takut sakit.
Untuk menghiburku biasanya ia menyuruhku agar menjepitkan batang alat
vitalku diantara payudaranya yg memang sangat besar. Aku sangat
menyukainya karena rasanya juga nikmat… empuk, kenyal dan hangat. Dan bila
air maniku sudah hendak tumpah keluar maka mbak Marisa akan memintaku
untuk memasukkan penisku kedalam liang vaginanya kembali. Ia memang lebih
senang kalo air maniku ditumpahkan disitu karena katanya ’sense of good’ nya
luarbiasa kalo liang senggamanya dialiri cairan hangat.
Namun selama kami berhubungan badan belum pernah sekalipun mbak Marisa
mau mengulum dan menghisap batang penisku (blow job) sebagai pemanasan,
padahal aku sangat kepingin sekali bisa merasakan kuluman dan sedotan
mulutnya yg menawan itu. Pernah suatu kali ketika air maniku hendak tumpah
keluar setelah kurang lebih 15 menit kujepitkan dan kugesekkan diantara kedua
buah dadanya, aku meminta mbak Marisa untuk mencoba merasakan dan
meminum air maniku, pada mulanya dia menolak karena ia risih kalo harus
mengulum dan menghisap batang penisku namun setelah kubujuk agar ia
membuka mulutnya saja karena jemari tanganku sendiri yg akan mengocoknya
akhirnya mbak Marisa bersedia meski setengah ragu.
Saat air maniku telah sampai diujung leher kepala penis pertanda enjakulasiku
telah sampai dengan cepat kusodokkan kepala penisku memasuki mulut
mungilnya dan langsung kusemburkan air maniku dengan sekuatnya kedalam
kerongkongannya. Kurang lebih 3 semburan kuat. Ia terperangah dan mendelik
kaget dan kurasakan gigi-gigi mulutnya seakan menggigit penisku. Sejenak
kemudian mbak Marisa memalingkan mukanya lalu terbatuk-batuk sambil
memuntahkan air maniku kembali keluar. Aku sedikit kecewa karena ulahnya
tsb, sebagai pelampiasan kusemburkan sisa-sisa air maniku yg masih ada ke
atas pipi dan rambutnya sampai basah semua. Akibatnya ….. ia juga kesal atas
ulahku. Selama 4 hari mbak Marisa tak mau kutemui sama sekali. Aku sangat
menyesal sekali.
Namun kejutan ketika di hari kelima tiba-tiba ia muncul ditempat kostku sambil
meminta maaf telah mengabaikanku. Sebagai gantinya ia mengajakku rekreasi
dan menginap di Klub Bunga kota Batu, disana kami berdua melampiaskan
semua nafsu birahi kami yg serasa mau meledak karena 4 hari tak ketemu. Kalo
kupikir heran juga kami saat itu, masa dalam 1 hari 1 malam di hotel aktifitas
terbanyak kami hanya diatas ranjang, siang sewaktu kami tiba di hotel …
langsung masuk kamar untuk berhubungan badan, 1 ronde selesai kami turun
untuk makan,
lalu 1,5 jam kemudian kami berdua masuk kamar lagi dan berhubungan badan
lagi … setelah itu tidur selama kurang lebih 3 jam … ketika bangun kami
bercumbu lagi dan diteruskan dengan bersetubuh lagi ….setelah selesai dan
mandi kami turun untuk makan malam … 1 jam kemudian masuk kamar lagi
bercumbu lalu berhubungan badan lagi … selesai kami tidur sejenak sampai

pukul 9 malam, ketika bangun kami nonton TV tetapi malah kebetulan sedang
memutar film bertema romantis. … kami jadi terpengaruh lalu bercumbu dan
bersenggama lagi … selesai kami tidur lagi sampai hampir pukul 2 malam .. aku
terbangun karena haus sekali. Bersenggama berkali-kali membuat tubuhku
sangat lemas kurang cairan. Aku membangunkan mbak Marisa untuk minum
bersama-sama.
Semula ia ogah-ogahan karena ngantuk namun begitu aku menggodanya
dengan meremas gemas buah dadanya yg montok dan kenyal ia jadi
terpengaruh. Disibakkannya selimut penutup tubuhnya. Mbak Marisa masih
setengah telanjang karena ia memang hanya mengenakan celana dalam saja.
Dengan perlahan ia lalu memelorotkan dan melepas kain penutup tubuh satusatunya itu, lalu dengan manja ia memintaku untuk menyetubuhinya lagi. Edaan
… kupikir. Tapi itulah kenyataannya malam itu mbak Marisa sangat hipersex ….
Kuminum separuh gelas anggur putih dan separuhnya kuberikan padanya
sebelum akhirnya aku menaiki tubuh bugilnya lagi untuk kusetubuhi sampai ia
merintih keras mereguk puncak kepuasan sex. Benar-benar 1 hari yg tak kan
pernah terlupakan ….. capek tapi membawa nikmat …
9 Nopember …. Siang itu setelah salon tutup, aku bersiap hendak mengantar
Silvi pulang. Perlu pembaca ketahui Silvi sudah resmi jadi pasanganku sejak
seminggu lalu meski masih dalam taraf penjajakan. Dengan mesra kucium
dahinya yg putih dan halus sbg tanda sayang. Silvi tertunduk malu, ia benarbenar polos sekali. Kadang kupikir benar juga kata Agus … Silvi ini belum pernah
dijamah laki-laki, atau mungkin malah belum pernah pacaran sama sekali. Aku
tak pernah menanyakan hal tsb kepada Silvi, karena itu bukan masalah penting
buatku. ” Vi … aku pipis dulu yaa ..”, ujarku padanya mesra.
” Iiih ada aja sih kamu … cepetan dong …”, bisiknya tak kalah mesra. Kadang
lucu juga ia memanggilku dgn sebutan ‘mas’ padahal usianya setahun lebih tua
dariku. Dengan penuh semangat aku bergegas ke kamar mandi belakang rumah
mbak Marisa. Kulihat mbak Diana, Erna, Santi dan juga mbak Marisa masih asyik
memberesi peralatan salon. ” Hai … everybody … “, sapaku gembira kepada
mereka semua. ” Hai juga … mau nganter Silvi pulang Er ..?”, tanya mbak Marisa
sembari tersenyum penuh arti padaku.
Kelihatannya mbak Marisa masih terkenang dengan keganasanku semalam
ketika menyetubuhinya. ” Iyaa .. mbak … but kencing dulu nih ..”, ujarku sambil
ngibrit ke belakang. Setengah berlari aku menuju ke kamar mandi belakang
dekat dapur. Karena sudah kebelet aku langsung membuka pintu dan masuk
kedalam dan … Astaga …. Ternyata Sherly ada disitu sedang buang air kecil
juga, kebetulan kulihat ia masih berjongkok mengeluarkan air kencingnya …
bunyinya mendesis-desis seperti suara ular. ” Eehh ….” ” Eeehh …” Kami berdua
sama-sama kagetnya.
Karena kebetulan saat itu Sherly sedang mengangkat roknya keatas, sehingga
dapat kulihat jelas kedua belah pahanya yg seksi dan putih mulus, begitu juga

bagian terlarangnya yg lain. Wiiiihhh …. Mataku sampai mendelik kagum
menyaksikan keindahan bukit kemaluan Sherly yang cukup besar. Bulu
jembutnya yg merangsang tidak terlalu lebat sekali sehingga aku dapat melihat
jelas celah bibir vaginanya yg ternyata masih menutup rapat, namun dari selasela celah sempitnya itu kulihat sebuah air mancur kecil sedang menyemburnyembur dengan hebatnya. Sherly dengan wajah merah padam segera menutup
bagian bawah tubuhnya dengan rok pendeknya lalu ia langsung berdiri,
setengah terburu-buru ia segera membalikkan badan karena malu.
Celana dalamnya yg masih tersangkut diantara kedua pahanya yg putih mulus
segera ditarik keatas dan dipasang kembali. Wooww … indahnya bentuk
pinggulnya itu. Baru kali ini aku menyadari betapa indahnya bentuk tubuh mbak
Sherly ini. Tak kalah dengan Marisa. Bokongnya terlihat bulat mekal dan padat,
menandakan ia termasuk cewe yg nikmat untuk disetubuhi. Mukanya masih
merah padam ketika dengan cepat Sherly menghampiriku dan Plokk … tiba-tiba
saja pipiku terasa panas dan pedih. Aku benar-benar maklum kenapa ia
menamparku.
” Maaf Sherly … saya nggak sengaja … kenapa pintunya nggak dikunci ..?”,
ujarku pelan sembari meraba pipiku yg panas. ” Saya bukan cewe murahan yg
bisa kau pandangi seenakmu Ery … kamu sengaja khan mengintipku …?”,
katanya dengan pandangan berapi-api. ” Astaga … swear Sherly …untuk apa aku
mengintipmu …”, ujarku membela diri. ” Ery … kau bisa saja mempermainkan
mbak Marisa tetapi itu bukan berarti kau juga bisa mempermainkanku …”,
katanya ketus. Aku tersenyum melihat kemunafikan di wajah cantiknya. Aku
tahu Sherly sedang berpura-pura menutupi rasa malunya sendiri. Bagaimanapun
juga aku tahu ia punya hasrat kepadaku. ” Maaf Sherly .. saya nggak perlu
berdebat denganmu lagi …saya ingin kencing ..”, ujarku rada jengkel juga. Aku
membalikkan badan memunggunginya. Setengah memancing sengaja setengah
kuplorotkan celana jeans dan celana dalamku. Ingin kulihat seberapa jauh
reaksinya. Kalau ia keluar berarti ia punya konsekuensi tersendiri, jika tidak
berarti ia bohong dan menginginiku.
Alat vitalku yg masih lemes segera kuluruskan agar air kencingku tak sampai
mengotori dan membasahi celanaku. Benar saja beberapa saat kemudian ketika
air kencingku mulai mengalir keluar, kurasakan sebuah dekapan lembut
memeluk pinggangku, aahh … aku sedikit terlena merasakan desakan dua
gumpalan bulat yg lunak dan kenyal menempel dan menekan punggungku ketat
sekali. Seraut wajah cantik muncul dari sebelah pundak kananku seakan
mengintipku yg sedang buang air kecil. Aku tersenyum penuh kemenangan. ”
Aku tahu kau menginginiku Sherly … kau tidak bisa membohongi itu dariku …” ”
Maafkan aku Ery … maafkan kemunafikanku …”, bisiknya lembut. Aku mendesah
nikmat saat jemari tangan kanannya yg halus lentik menggantikan jemariku yg
sedang memegangi alat vitalku. ” Aaahhh …. Sherly … awas tanganmu
kecipratan …”, bisikku mulai bergairah.

Hanya 5 detik saja, alat vitalku langsung menegang dalam genggaman jemari
tangannya yg halus. ” Iiihh … punyamu besar sekali Ery …!”, bisik Sherly lirih
disebelahku. Jemari tangannya mulai mengurut batang alat vitalku yg mulai
ngaceng …. Air kencingku masih menyembur beberapa saat. Sedikit kerepotan
juga kencing dalam keadaan ngaceng seperti ini. Seperti ngganjel. ”
Sini aku cucikan punyamu Er …”,kata Sherly perlahan. Diambilnya secebok air
lalu pelan-pelan disiramkannya membasahi kepala penisku sampai ke tengahtengah batang penisku yg ngaceng. ” Kau ereksi sekali Ery …”, katanya lagi
begitu lembut, seolah alat vitalku yg sedang ngaceng ini hanya sekedar barang
mainan anak-anak. Diusapnya lubang saluran kencingku dengan ujung jemari
telunjuknya beberapa kali sampai bersih membuat tubuhku sampai menggeliat
kegelian. ” Sudah Sherly …aaaahhhh …geliii …”, bisikku keenakan. Dengan
perlahan penuh kelembutan Sherly lalu melepaskan genggamannya pada batang
penisku yg ngaceng. Kubalikkan badan dan dengan segera kuraih tubuh Sherly
dalam pelukanku. Dalam 2 detik bibir kami sudah saling bertautan mesra.
Kunikmati bibirnya yang hangat merekah dan kuhisap dengan penuh nafsu.
Begitu hangat dan lembut bibirnya membalas cumbuanku seakan kekasih yg
memendam rindu. Sementara itu dengan terampil kedua jemari tanganku telah
berada diatas dadanya lalu dengan gemas dua bulatan payudara Sherly yg
cukup besar itu kuremas-remas berulang-ulang. Ooouhh …. Begitu kenyal dan
padat. Sherly merintih pelan diantara cumbuan bibirku. Namun hanya sebentar,
2 menit kemudian Sherly melepaskan ciumanku. Ia hanya memandangku
dengan gemas penuh dengan sejuta keinginan. ” Sudahlah Er … jangan
diteruskan … bagaimanapun juga kau milik mbak Marisa khan ..”, bisiknya
sedikit memburu. ” Tapi Sher …..”, bisikku setengah kecewa. Ia tak menjawab
hanya kedua jemari tangannya segera meraih celana dalamku dan ditariknya
keatas menutupi alat vitalku yg masih ngaceng. Seakan masih bingung dgn
pikiranku, Sherly dengan cepat telah memasangkan kembali celana jeansku dan
mengancingkannya sekaligus. ” Aku menginginimu Sher ….”, bisikku bernafsu.
Aku segera memeluknya hendak mencium bibir merahnya sekali lagi. ” Eryy ..
sudahlah nanti ada yg lihat …”, katanya setengah memberontak. Namun jemari
tanganku lebih cepat, dalam sekejab tanganku itu telah memasuki roknya dan
menyelip liar ke dalam celana dalamnya.
Kurasakan rerimbunan lebat bulu jembutnya menggelitik telapak tanganku. Aaah
….bukit kemaluan Sherly yang montok dan berbulu lebat itu telah berada dalam
genggaman telapak tanganku … aku meremasnya gemas karena kehangatan
dan keempukan daging kemaluannya itu. ” Eryyy … lepaskan tanganmu …ja …
jangan …”, pekik Sherly setengah gugup. Tiba-tiba …..Krrriieeeeetttt…….. Mbak
Marisa telah berada didepan pintu kamar mandi. Kami berdua langsung
mendelik kaget setengah mati. Apalagi mbak Marisa pula. ” Haaiiii ….apa yg
kalian lakukan disini …. Eryy ….sedang apa kamu ..”, seru mbak Marisa kepada
kami. Perlahan-lahan segera kutarik kembali tanganku dari sela-sela
selangkangan kemaluan Sherly.

Ada rasa kecewa juga. Sherly segera merapikan pakaiannya yg awut-awutan. “M
..mm …mbak …. Maafkan kami mbak ….”, ujar Sherly begitu gugupnya. ”
Keluaaar kamu Sherly …!”,pekik mbak Marisa setengah marah. Sherly kelihatan
ketakutan sekali. Setengah tergopoh-gopoh ia segera menyingkir, namun
dengan sigap kuraih pinggangnya lebih dulu. ” Eryy …lepaskan …”, bisik Sherly
padaku setengah memohon. ” Sher …kamu jangan khawatir soal mbak
Marisa….” ” Ery ….apa yg kamu lakukan ..”, gertak mbak Marisa makin marah.
Aku menyuruh Sherly untuk segera pergi, lalu sejenak kemudian kuhampiri mbak
Marisa yg masih setengah melotot kearahku. Secepat kilat kukecup bibirnya yg
merah merekah. Cuppp ….cupp …
mbak Marisa memekik kaget. ” Eryy ……” ” Marisa bagaimana kalo dia
membongkar rahasia kita ….”, ujarku sambil meninggalkannya pergi menemui
kekasihku Silvi yg mungkin sudah lama menunggu. ” Erryyyy …aku belum
selesai bicara …”, kata mbak Marisa sekali lagi kearahku. ” Apa sayang …”
Wajahnya yg cantik memandangku gemas. ” Kamu khan yg memulai tadi …?”,
katanya setengah marah. ” A .. aku memang terangsang tadi Marisa ….”, kataku
terus terang ” Jangan berbuat gila Eryy …” Aku mendekatinya lagi. ” Marisa …
kalo boleh … ehm …tapi kalo mbak melarangnya aku akan menjauhinya …”,
ujarku pelan penuh arti sambil mengedipkan mata. Sekali lagi ia hanya
memandangku gemas. Lama sekali …sampai akhirnya ia mengatakan ” Oke …
oke .. Er … kalo itu juga maumu .. hehh .. kamu ini memang maniak … mm .. oke
… tapi satu hal .. aku tidak ingin mendengar nanti ia sampai hamil olehmu ….”,
katanya pelan seolah mengingatkan. Aku tersenyum puas mendengar
jawabannya Sore itu dirumah Silvi yg kebetulan sedang ada arisan RT, membuat
kesempatanku berkencan dengan Silvi jadi tertunda. Padahal aku sudah
merencanakan untuk mencumbunya. Maklum semenjak jadian baru sekali saja
aku menikmati kelembutan bibir manisnya.
” Ramai ya Mas ….aduuh harus ngebantu ibu nih mas …!”, katanya setengah
kecewa juga. ” Ya udah deh Vi …. Nanti malem aja aku kesini lagi ….salam aja
deh sama mama-mu ..”, bisikku kesal. ” Jangan marah dong mas … cuppp …”,
kata Silvi gemas sembari mencium mesra pipi kananku. ” Eeeh … Silvi ntar
ketahuan mama-mu berabe kita …” ” Biarin biar kita dinikahin aja sekalian …”,
katanya manja. Sepeninggal situ, aku kembali balek ke tempat mbak Marisa
untuk menemui Agus. Sengaja aku lewat pintu samping tempat kost agar
kedatanganku tak terlihat mbak Marisa atau oleh yg lain. Di depan pintu kamar
Agus kulihat ada 4 pasang sendal cewe yg sangat kukenal. Aku sedikit kaget
karena disitu terdapat juga sandal Mona, cewe kost paling cantik yg menurut
Agus belum pernah disentuhnya. Gilaa … entah kenapa aku jadi cemburu
melihatnya. Ingin rasanya kudobrak saja pintu kamar si Agus ini. Sudah begitu
gilanya kah si Agus sampe ia langsung menggilir 4 cewe sekaligus … dan kenapa
harus Mona ikut serta. Kuberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu, aku
benar-benar tidak rela kalo Mona sampe digarapnya. Kuhajar dia karena
mestinya dia tahu kalo aku menyukai Mona. Tok …tok …tok … ” Masuk Gus …”,
terdengar sahutan suara cewek dari dalam kamar.

Itu suara Yeni. Kletek …. Daun pintu dibuka dan kulihat wajah menawan Mona
telah berada di depan pintu. Aku terhenyak kaget begitu juga dia. ” Eh … mas
Ery … si ..silahkan masuk Mas …”, katanya sambil hendak berlalu keluar. ” Lhoh
… kamu mau kemana Mona …?”, tanyaku heran setengah menyelidik
melihatnya terlihat agak pucat. Jangan-jangan ia sudah digarap …. ” Nnngg …
kepala saya pusing mas …”, katanya lagi sambil berlari masuk kamar. Setengah
bingung kulongokkan wajahku kedalam kamar, kulihat si Agus tak berada disitu,
pasti dia masih di kampus pikirku lega. Didalam hanya ada Farida, Nani dan Yeni
yg kini terlihat sedikit kaget melihat kedatanganku. ” Eehh …mas Ery …. Masuk
mas ..”, sahut mereka hampir berbarengan. Rada heran juga aku dengan
keadaan pakaian mereka yg sedikit awut-awutan.
Mereka semua mengenakan kaos longgar dengan celana pendek ketat sehingga
terlihat jelas betapa mulus dan seksinya paha dan kaki mereka. Ya … ampuun …
pantes pikirku setelah kutahu mereka semua ternyata sedang menonton film
porno lewat laserdisc milik Agus. Gila … karena sempat kulirik film yg mereka
tonton sedang memperlihatkan seorang gadis bule muda belia sedang digarap
bergantian oleh empat orang pria. 2 orang bule dan 2 orang negro. Entah
bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja aku sudah duduk bergabung bersama Farida,
Nani dan Yeni. Menurutku gadis di film itu masih sangat muda sekali, mungkin
sekitar 14-17 tahun karena kulihat garis wajahnya yg masih imut-imut. Begitu
pula dengan bentuk payudaranya yg masih kecil dan kencang dengan puting
susunya yg berwarna kemerahan. Bodi tubuhnya pun masih terlihat mungil
dengan bentuk pinggul dan kedua pahanya yg masih kecil. Kasihan juga gadis
kecil itu yg menjadi bulan-bulanan keempat laki-laki kekar itu. Yang negro
dengan alat vitalnya yang begitu besar dan panjang berwarna hitam legam
tampak begitu buas dihunjamkan kedalam lubang vaginanya yg terlihat sempit
sekali.
Daging vaginanya sampai tertarik keluar saking besarnya alat vital pria negro
itu. Gadis itu menjerit histeris namun sembari menggeram nikmat cowo negro itu
menghentak-hentakkan pinggulnya maju mundur membenamkan alat vitalnya
yg segede terong itu sampai kandas kedalam lubang kemaluannya. Sementara
ketiga pria lainnya tampak antri menunggu giliran sambil mengurut alat vitalnya
masing-masing yang rata-rata sangat panjang dan besar. Mungkin sekitar 18-19
centian.
Aku melirik kesamping kiriku dan kulihat Yeni sedang asyik mengusap-usap
selangkangannya sampai celana pendek yg dikenakannya jadi semakin tertarik
keatas. Duh .. putih mulus sekali kedua belah pahanya itu. Mau tak mau batang
penisku jadi ikutan ngaceng. Aku jadi semakin blingsatan karena kulihat Farida
dan Nani juga melakukan hal yg sama. Astaga … mereka ini rupanya korban
kebejatan si Agus. Mereka jadi maniak sex semua. Kualihkan perhatianku
kembali ke layar TV 21 inchi didepanku. Kini kulihat pria negro itu dengan cepat
mencabut alat vitalnya yg sebesar terong dari dalam lubang kemaluan gadis
kecil itu lalu sedetik kemudian terjadilah banjir lokal yg luar biasa banyaknya. Air
mani pria negro itu disembur-semburkan dengan nikmat menyirami alat kelamin
gadis itu …. Sampai meresap disela-sela bibir kemaluannya yg mungil. Belum

tuntas pria negro itu enjakulasi kembali dibenamkannya lagi alat vitalnya yg
masih memuntahkan air mani itu ke dalam liang vaginanya lagi. Tampaknya ia
ingin memuntahkan air mani kentalnya itu kedalam kemaluan gadis kecil itu.
Gila … gadis kecil itu menjerit dan merintih kesakitan, sampai akhirnya kulihat
negro itu tampak puas sekali. Begitu kontol raksasanya dicabut dari jepitan liang
vaginanya, ketiga temannya yg sudah antri dibelakang langsung berebutan ingin
ganti menyetubuhi gadis kecil itu …. Aku tak tahan lagi, segera kuberdiri hendak
keluar dari kamar bejat itu. Namun sebuah jemari halus menarik lenganku. ” Mau
kemana mas Ery … ?” Aku menoleh, ternyata Yeni yg menarikku tadi. ” Kepalaku
pusing Yen … aku menunggu diluar saja ..” ” Disini saja mas … Yeni ada obatnya
kok …”, katanya dengan pandangan sedikit aneh. ” O..obat apaa ..?”, tanyaku
semula tak curiga.
Yeni menarikku ke dalam kembali lalu langsung menutup pintu. Aku mulai curiga
melihat sikapnya. Benar saja begitu kulihat ia menutup pintu, tanpa ragu-ragu
dan tanpa kuduga sama sekali. Yeni langsung menarik kaos ketatnya keatas
sampai lepas sehingga kedua buah dadanya yang sama sekali tak mengenakan
BH langsung mencuat keluar dengan indahnya. Woow …aku mendesah pelan
terpesona dengan keindahan tubuh Yeni yg setengah telanjang. Kedua buah
dadanya yang montok tidak terlalu besar dan terlihat kencang. Puting-puting nya
berwarna coklat kemerahan. Wajah Yeni yang cantik membuat hatiku berdebar
tak karuan. Lututku seakan goyah ketika dengan perlahan Yeni mulai
menurunkan celana pendeknya dan aaahhh …. Tanpa dapat kucegah lagi alat
vitalku mulai menegang didalam celanaku.
Masih dengan hanya mengenakan celana dalamnya yg berwarna merah muda,
Yeni berjalan menghampiriku sambil tersenyum sedikit malu. Aku pikir dia pasti
nekat berbuat seperti itu dihadapanku. ” M … mas …”, ujarnya pelan sedikit ragu
melihatku masih bersikap pasif. ” Kau cantik sekali Yeni …” Ia tersenyum manis
dan menunduk malu. Aku tak mampu menahan diri lebih lama lagi, kurengkuh
tubuhnya dalam dekapanku dan seakan pasrah Yeni membiarkanku mulai
menciumi dan mencumbu bibirnya yg basah. Kuremas gemas dua bulatan
bokongnya yg padat dan mekal lalu kuplorotkan celana dalam yg dikenakannya
sampai ke lutut. Aku seakan melupakan kehadiran Farida dan Nani yg masih
berada disitu. Yeni menjerit kecil ketika celana dalamnya kubetot kebawah
dengan kasar selanjutnya ia hanya merintih pelan ketika bokongnya yang
telanjang kuremas dan kupuntir gemas. Cuupp …cuppp …aaahh….. ” Aahh
..massss …..”, erang Yeni lirih begitu pagutan mulutku pada bibirnya terlepas.
Dengan cepat aku segera membuka seluruh pakaianku sampai telanjang bulat
hanya dalam tempo 10 detik. ” Aaaaahhhh …” Mereka bertiga menjerit kecil
bersamaan ketika celana dalamku kuplorotkan kebawah sampai lepas, sehingga
batang penisku yg telah ngaceng langsung meloncat keluar sambil manggutmanggut naik turun. Begitu ngacengnya sampai urat-urat disekujur batang
penisku bertonjolan keluar mirip saluran pipa air. Kepala kontolku yg besar bak
sawo manis tampak memerah dan keras sekali. Farida dan Nani yg semenjak
tadi juga ikut menonton kami berdua sampai melongo menyaksikan alat

kejantananku yg sangat ngaceng dan berjembut lebat. Bahkan Farida langsung
muntah-muntah saking kagetnya melihat batang penisku yg tampak sangar.
Hueeekk ….hueeekkkk …ia langsung lari keluar dan muntah di halaman.
Mungkin ia mules menyaksikan rerimbunan bulu jembutku yg mulai tumbuh
subur dan awut-awutan karena sudah lama belum kucukur. Aku menghampiri
Nani yg masih duduk kebengongan diatas karpet. Wajahnya yg manis sedikit
takut-takut melihatku. Dengan gemas aku segera menariknya berdiri lalu belum
sempat ia berkata apa-apa dengan cepat kuplorotkan celana pendek yg
dikenakannya sekalian celana dalamnya sekalian. Sreeennggg … bau khas alat
kemaluannya langsung menyengat hidungku. Mmmmm …. Baunya enak juga …
Nani pintar sekali memelihara kebersihan alat kemaluannya. Kulihat alat
kelaminnya itu seperti baru saja dicukur sehingga terlihat jelas bukit
kemaluannya itu sampai nonong kedepan saking besarnya. Belahan bibir labia
mayoranya yg tebal dan putih merangsang masih menutup rapat
menyembunyikan celah liang vaginanya. ” M..mas .. E..ery .. jangan mas …..”,
ujarnya ketakutan. ” Kenapa Nani … bukankah ini yg kau inginkan ….”, sahutku
gemas sambil berusaha mencopot kaos ketat yg masih dikenakannya. ” Ja…
jangan mas … “, katanya ketakutan dan mulai memberontak. ” Dia masih
perawan mas Ery ….”, tiba-tiba Yeni menyahuti dari sebelahku. Kini ia telah
telanjang bulat sama sekali.
Celana dalamnya telah dilepas sehingga aku dapat melihat rerimbunan rambut
kemaluannya yg ternyata sangat lebat menutupi alat kemaluannya. Ck …ck ..ck
….gilaa … merangsang sekali. ” Be ..benarkah…?”,tanyaku setengah kaget. Tapi
kata Agus ..??? pikirku rada bingung …. ” Benar mas … biarkan saja dia mas …”,
sahut Yeni kemudian. Jemari tangannya menggamit lenganku diajak naik keatas
ranjang. Setengah terisak Nani mulai memasangkan kembali celana dalamnya,
aku jadi tak tega melihatnya. Seakan kerbau yg dicocok hidungnya, manut saja
aku ketika Yeni yang sudah polos telanjang bulat itu mengajakku beradu keatas
ranjang. Dihempaskannya tubuhnya yang montok putih mulus diatas kasur,
kedua buah dadanya bulat mekal dengan kedua puting-puting susunya yg
kemerahan bergoyang lembut. Tetapi seolah tersadar … tiba-tiba saja aku
teringat akan Silvi, mbak Marisa ataupun Sherly, aku jadi bingung dan risih apa
mesti harus kutambah lagi perbuatan gilaku. Apalagi apa nanti kata Agus kalo
sampai ia tahu Yeni tidur bersamaku. ” Se …sebaiknya jangan Yen …”, bisikku
padanya. Ia menatapku heran. ” Kenapa mass …?..” ” Tidak … tidak apa-apa Yen
…”, bisikku sambil menahan nafsu.
Ingin rasanya diriku menyentuh tubuhnya lagi yg kini masih terlentang pasrah
dan bugil. Mas Er kenapa …?…. tanyanya mengejar. ” Aaaaahhh ….”. Melihat
kecantikan wajahnya dan kemolekan tubuh mulusnya aku jadi tak tahan.
Bagaimana mungkin aku bisa menolak hasrat keinginan Yeni kalo aku sendiri
juga sangat mengingininya. Kubuang jauh-jauh bayangan Silvi dan mbak Marisa,
toh ini hanya sekedar permainan sex suka sama suka bukan cinta. 5 detik
kemudian Yeni telah berada dalam tindihan dan dekapanku. Uuuhhh … lututku
seakan gemetar menikmati kemolekan, kemulusan dan kehangatan tubuh Yeni.

Alat vitalku yg ngaceng menekan nikmat bukit kemaluannya yg berjembut lebat.
Empuk. ” M …mmass …. Kita lakukan cepat saja … ntar mas Agus keburu datang
….”, bisik Yeni sedikit malu karena kejadian yg tak dinyana ini. Aku tersenyum
penuh nafsu. Mmmm … tanpa pemanasan dan langsung bersetubuh. Uhuuiii ….
” Masss Ery … pake ini yaa mass ….”, bisik Yeni kemudian sambil menyerahkan
sebungkus kondom sutra. Entah kenapa aku jadi semakin tegang karena birahi
mendengar permintaannya itu. Rupanya Yeni takut juga kalo sampai hamil. ”
Nggak usahlah Yen … nanti dikeluarkan di luar saja …”, balasku bernafsu.
Yeni tak menjawab dan hanya menganggukpelan. Kuangkat pinggulku ke atas
mulai mengambil posisi. Seolah mengerti kurasakan sebuah jemari halus
menggenggam batang penisku yg ngaceng lalu diarahkannya moncong kepala
penisku ke rerimbunan kemaluannya sebelah bawah. Aku merasa bibir labia
mayoranya telah menjepit ujung kepala penisku. Yeni memandangku sambil
mengedipkan mata pertanda aku sudah boleh menekan. Srrrtt ….. kutekan
pinggulku kebawah … dan perlahan aku merasa sebuah daging hangat dan
sempit mulai mencengkeram kepala penisku ketat sekali. ” Aaawwww … mass
…..”, rintih Yeni seketika. ” Uhhhhh sakit Yen ….?”, tanyaku kuwatir.
Sejenak ia menggigit kedua bibirnya lalu sambil tersenyum manis ia berujar. ”
ehhhh … nggak papa mas …. Jangan kuatir Yeni sudah nggak perawan lagi kok
…. Teruskan saja ..nanti juga terbiasa ….”, bisiknya setengah terbata-bata. Aku
semakin terangsang dan kembali menekan kebawah perlahan-lahan. Mili demi
mili kurasakan batang penisku mulai memasuki liang vaginanya yg hangat. Rasa
nikmatnya terasa sampai ke tulang sumsum. Kupikir liang vagina milik Yeni ini
jauh lebih rapat dibanding milik mbak Marisa, mungkin karena usia Yeni yg
masih muda sekitar 25 tahun. ” Ooouuhh …Yeniii …. Sempit sekali sih …..”,
pekikku keenakan menikmati jepitan ketat liang vaginanya yg mulai terbuka
menyambut kedatangan tamu istimewa. ” Nngghkkkkk ……nggghhhhh ……..”,
rintih Yeni lirih antara rasa sakit dan nikmat ketika sudah hampir seluruh batang
alat vitalku telah memasuki dan mengoyak liang vaginanya. Aku merasa begitu
seretnya liang kemaluan milik Yeni ini. Rasa Hangat, empuk, kenyal, dan basah
seolah menjadi satu. ” Mass Er …. Aahhhhh ….nggghkkk ……”, pekiknya lirih
ketika alat vitalku menembus semakin dalam ke liang kemaluannya yg sempit.
Ooouuuh….. begitu terasa nikmatnya cengkeraman ketat liang kewanitaannya
sampai lututku seolah gemetar ikut merasakan kenikmatan. ” Yenii … aahhh ….
Aku tekan lagi yaaa ….”, erangku nikmat sambil kuhentakkan pinggulku ke
bawah …. Srrrtttt … slllepppssss …. Akhirnya kurasakan ujung penisku mentok
sampai menyentuh dan menekan liang peranakannya. Nikmatnya sukar
dilukiskan dengan kata-kata. Seluruh batang penisku seakan diremas lembut,
dikenyot-kenyot dan diurut-urut oleh daging hangatnya. ” Aaawwww …
masssssss…….”, pekik Yeni lirih.
Kedua matanya dipejamkan dan bibirnya yg merah terkatup rapat seakan
menahan perih, lalu sejenak kemudian matanya perlahan terbuka. Ia
memandangku mesra. Bibirnya malah tersenyum manis padaku. ” Yen…. Enak
sekali yaaa ….”, bisikku nakal. Ia hanya mencubitku gemas. Kedua tangannya

memelukku mesra dan hangat. Kedua pahanya yg mulus sekarang ditekuk
keatas dan diapitkan ke pinggangku kuat-kuat. ” Mas Er … Yeni nggak akan
melepaskan mas Er … sebelum mas Er puas ….”, bisiknya manja. ” Oouuuhhh …
Yenii .. kau cantik sekali sih …”, bisikku gemas. Ia tersenyum senang lalu bibir
merahnya yg hangat dan lembut mulai mengecupku dan mengajak bercumbu.
Aku membalasnya dengan tak kalah bernafsu. Sejenak kubiarkan alat vitalku yg
sudah seluruhnya terbenam didalam liang vaginanya itu tak bergerak sedikitpun,
memberi kesempatan agar liang vaginanya itu terbiasa dengan kebesaran alat
vitalku. Cukup lama juga kami bercumbu sampai akhirnya dengan bisikan
nafsunya Yeni berbisik…. ” Maasss ….. mulai dong …”, katanya manja. Aku
benar-benar terangsang mendengar permintaan nakalnya itu. ” Ooouhhh ..Yen
…kuhamili kau sayang …”, bisikku gemas sambil kumulai mengayuh pinggulku
turun naik mengeluar masukkan alat vitalku dari liang vaginanya. ” Iiiihhhh …..
aaawww … mass ….nngghhh…”, pekik Yeni keenakan merasakan gesekan
batang penisku yang mulai menghunjam keluar masuk liang kemaluannya. ”
kuhamili kau Yen ….aaahhhh ….kuhamili kau Yen …..aaahhhhh …..ngghhha
aaaghhhh …. Kuhamili kau Yen …..”, erangku nikmat berulang-ulang. ” mmm …
mass …ngggghhhh …nnggghh …..”
Sempat kudengar pintu kamar ditutup … aku melirik sekilas kesamping kiri ….
Kulihat Nani sudah tak berada lagi disitu, mungkin ia risih melihat kami berdua
berhubungan intim didepan matanya. Aku tak peduli dan kembali mencumbu
bibir Yeni dengan mesra sambil terus kukayuh biduk kenikmatanku berulangulang. Turun ..naik..turun …naik …. Makin lama makin cepat membuat rasa
nikmat senggama itu semakin terasa dan memuncak. Begitu hebatnya liang
vagina Yeni yg rapat dan hangat itu mengenyot, menyedot dan mengurut-urut
batang alat vitalku membuat jiwaku seakan melayang-layang ke pusaran
kenikmatan sorga dunia. Pinggulku yg tadi mengayuh lembut turun naik kini
menghentak-hentak kuat sampai setiap kali aku menghentak ke bawah
membenamkan alat vitalku kedalam liang vaginanya, buah zakarku yg
menghantam pantatnya sampai menimbulkan bunyi keras ..plekk …plekkk …
plekk .. Tak kupedulikan lagi rintihan dan erangan Yeni, entah kesakitan atau
keenakan … yg jelas aku sendiri merasakan kenikmatan yg sangat luar biasa.
Dan tak lama lagi pasti cairan kenikmatan itu akan kutumpahkan keluar. ” Mmm
…cup ..cup …ahhh …Yen ..ngghhh … enak sekali sayanggghhhh …oouhhh ….”,
erangku keenakan. ” M..mas ….awwaaww ….ngghhhhh …..
aauuuuuuwwwwwgghghghhhghghh ……” Tiba-tiba ia mengerang keras …keras
sekali sambil kurasakan pelukan kedua tangannya makin kuat…. Kedua pahanya
pun menjepit makin kuat ….pinggulnya bergoyang-goyang lembut dan
gemetaran. Kuku kedua jemari tangannya seakan menembus kulit punggungku
dan terakhir kurasakan vaginanya merapat dan menjepit alat vitalku kuat-kuat.
Aku serasa dipilin-pilin. ” Nnnggghhhh …Yennn …….aahhhh …enaaakk ..
Yennnnnnngghhhhhhhh……” Sejenak kemudian aku merasa cairan hangat
melumuri alat vitalku yg sedang berada didalam kemaluannya. ”
Maaaaaaasssssssssssss ……………..aagghhhghnnng ggghnnnngnggg ……”, Yeni
merintih keras. Tubuhnya mengejan beberapa saat sebelum akhirnya lemas

kembali. Kedua pahanya yg tadi mengapit pinggangku kini malah terkulai lemas.
” Yenniii …kau orgasme sayang ….”, bisikku senang. Aku jadi geram sendiri dan
gemas melihatnya. Kuselipkan kedua telapak tanganku ke balik bokongnya yg
bulat dan kenyal. Lalu kuhunjamkan turun naik pinggulku beberapa kali sebelum
akhirnya kuhentakkan sekuatnya pinggulku ke bawah sampai seluruh alat vitalku
benar-benar tenggelam semuanya kedalam liang kemaluan Yeni. Aku merasa
mentok lalu sambil kugoyang-goyangkan pinggulku memutar menikmati jepitan
dan urutan liang vaginanya, 5 detik kemudian mulai kusemburkan air maniku yg
kental didalam situ. Crreeet ………ccreeeetttttt ………..crraaaaattttttttttt t …..
Wuuuiiihhhhh …. Rasanya nikmat luar biasa. Aku mengerang-ngerang nikmat
melepas ejakulasi. Rohku seakan terbang keatas sorga.
Kuresapi setiap mili jepitan daging liang kemaluan Yeni sambil kusemburkan
nikmat air maniku di dalam situ. ” Oouuuhh …. Mass …kok di dalem mass ….”,
rintih Yeni masih lemas. ” Ennghhhhggkkkkk …y..y..ya ..sa.yang …. biar
ka..kamu hamil …”, erangku gemas di antara rasa nikmat ejakulasiku. Aku
merasa ia sama sekali tidak protes atas tindakanku, mungkin ia senang
melihatku bisa menikmati tubuhnya seutuhnya. Jemari kedua tangannya yg
halus memijit dan mengusap-usap mesra pantatku yg sedang gemetar melepas
kenikmatan sex. Crreeeett…….. crrattttt ……… crrreeettttttttt …………….. ”
Oouuhh Yen …. enaaaknya sayaaaang ……..nnggghhghghkkkkkk….. “, erangku
masih keenakan. Sebelum akhirnya kurasakan air maniku semakin habis dan
terkuras keluar seluruhnya ke dalam liang vaginanya.
” Oouuuhhhh …. Masssss …….”, rintih Yeni senang melihatku sangat terpuaskan.
Aku terkulai lemas di atas tubuh bugilnya yg berkeringat. Begitu nikmat
terhempas di antara keempukan payudaranya yg kenyal. Puting-puting susunya
yg terasa keras menusuk tajam dadaku. Kubiarkan alat vitalku yang baru saja
menikmati enjakulasi itu tetap berada didalam liang vaginanya. Meresapi
kehangatan dan kelembutannya serta sisa-sisa kenikmatan sex. ” Yen. …
aaahhhhhhh …. Aku puas sekali sayangghhhh …”, bisikku lemas. ” Ya …masss …
Yeni juga ….cup ….cup….”, ujarnya lirih sambil mengecup dahiku mesra. 10
menit kemudian kami lalu berbenah dan merapikan kamar Agus sebelum
akhirnya aku juga pamit padanya untuk pulang. Kami berdua bahkan berjanji
untuk melakukan perbuatan itu lagi setiap saat. Sampai sekarang walaupun aku
dan Yeni sudah berulang kali berhubungan badan rahasia ini tetap terjaga tanpa
sepengetahuan Agus. Karena biasanya hubungan sex itu lebih sering terjadi di
tempat kostku atau kalo tidak kami terpaksa mencari tampat2 sepi di alam
terbuka seperti di Coban Rondo atau Lembah Dieng untuk sekedar dapat
menikmati sorga dunia sesaat.
Untuk mencegah kehamilan aku selalu membawa tissue anti hamil (Female
contraceptive film) untuk kuberikan pada Yeni sebelum kami melakukan
senggama. Dengan Yeni aku mendapatkan segala keinginanku akan fantasi sex
yg selama aku bersama mbak Marisa tak pernah kudapatkan. Bersama Yeni aku
mendapatkan pengalaman pertama bersenggama lewat anus (sodomi). Aku
masih ingat saat itu hari Sabtu atau malam minggu, kebetulan Silvi sedang ada
acara bersama keluarga ke Singosari, jadi hari itu aku cuti kencan. Sebelumnya

aku sudah mengontak Yeni untuk acara sambung raga. Sore hari kami berdua
berangkat ke kota Batu dan menyewa sebuah Villa kecil untuk menginap.
Sepanjang perjalanan kami berdua ngomong ngelantur karena membayangkan
segala kenikmatan-kenikmatan sex yg akan kami lakukan nanti. ” Pasti enak ya
mas … kita bersenggama di udara dingin …”, katanya padaku dengan tatapan
penuh birahi. Sampai di Villa yg kusewa, kami berdua langsung saling membuka
pakaian sampai bugil.
Yeni dengan gayanya yg aduhai dan merangsang berjalan melenggang dan
langsung tidur tengkurap diatas sofa. Bokongnya yang bulat mekal dan putih
begitu mulus mempesona. Belahan putih vertikal bibir kemaluannya yg tebal
terlihat saling mengatup rapat dari belakang menyembunyikan liang vagina
merahnya. Yeni memang tahu kegemaranku menyetubuhinya dari sebelah
belakang, karena ia tahu aku sangat terangsang sekali dengan bagian tubuh
belakangnya yang seksi terutama pinggul dan bokongnya yang bulat mekal. Dan
biasanya memang alat vitalku dalam posisi seperti itu tak sanggup dijepit terlalu
lama dalam liang vaginanya karena Yeni selalu mengapitkan kedua belah
pahanya rapat-rapat sehingga jepitan liang vaginanya sangat ketat sekali. Paling
lama cuman 15 menit air maniku sudah tumpah keluar, itu juga kalo Yeni sambil
mengajakku mengobrol. Memang setiap kali kami berdua berhubungan badan
kami selalu menyelingi dengan obrolan-obrolan kecil dan lucu agar kenikmatan
bersenggama itu dapat berlangsung lebih lama. { Oh yaa … semenjak setelah
intercourse pertama, Yeni telah mencukur rambut alat vitalku dengan shavernya
sampai gundul dan licin, begitu pula dengan rambut kemaluannya sendiri,
katanya ia risih kalo harus bersenggama dengan rambut2 yang mengganggu
kenikmatannya. Mbak Marisa sendiri juga lebih bergairah dengan keadaanku
sekarang, birahinya langsung naik dan menggebu bila melihat alat vitalku yang
tampak bersih dan licin}
Melihat Yeni sudah mengambil posisi siap untuk kusetubuhi, tanpa dikomando
alat vitalku langsung tegang dan ngaceng keras sekali. Dengan gemas aku
menyusulnya dan menindih tubuh mulusnya yg tengkurap dan dengan cepat
kuselipkan penisku yg ngaceng diantara kedua belah pahanya sebelah atas
persis sekitar 2 centi dibawah lubang anus dan kutekan perlahan-lahan sampai
seluruh batang penisku memasuki liang vaginanya yg rapat. Aku mulai menaik
turunkan pinggulku menggesekkan alat vitalku dengan liang vaginanya. Kami
berdua mengerang-erang nikmat berulangkali sampai sekitar 10 menitan aku
merasa tak mampu lagi menahan rasa nikmat jepitan liang vaginanya lalu
kusemburkan air maniku dengan sejuta rasa nikmat yg tiada tara kedalam
rahimnya. Waktu itu Yeni sempat lupa memasukkan tissue anti hamilnya
kedalam liang kemaluannya.
Sewaktu aku selesai enjakulasi ia terpekik kaget dan mendorong tubuhku
kesamping, alat vitalku yg sudah loyo tercabut dari dalam kemaluannya. Ia
ngibrit ke kamar mandi katanya mau kencing dulu sekalian ngeluarin spermaku
yg sudah terlanjur bersemayam dalam kemaluannya. Aku hanya terkekeh geli
melihat tingkahnya. Gimana caranya ia bisa memuntahkan seluruh spermaku yg

sangat banyak dan kental itu. 2 jam kemudian sewaktu kami berada didalam
kamar tidur sambil menonton TV, aku nekat mengajak Yeni untuk mencoba
berhubungan badan lewat lubang anusnya.
Semula ia kaget karena tak terpikir sama sekali baginya untuk mencoba
melakukan anal sex seperti itu. Namun karena melihatku begitu kepingin sekali,
Yeni akhirnya tersenyum dan mengiyakan permintaanku. Waahh … senengnya
hatiku. Alat vitalku langsung ereksi membayangkan nikmatnya memasuki dan
menggesek lubang anusnya. Aku langsung mengambil minyak ‘baby oil’ yg
sudah kupersiapkan sejak dari rumah. ” Iiiihh ..mas Ery …mmm … rupanya udah
siap-siap yaa …”, katanya terheran-heran. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri
menahan nafsu birahi. Kulumuri batang penisku yg ngaceng dengan baby oil itu
sampai rata dan terasa licin. Kulihat Yeni sempat bergidik juga membayangkan
alat vitalku yg besar dan panjang itu bakal memasuki lubang duburnya. ” M …
m..mass Er … ka..kalo Yeni terasa sa..sakit …jangan dipaksa yaa ..?”, katanya
sedikit gugup.
Aku tersenyum senang melihat ketakutannya, entah kenapa sikapnya itu
membuat birahiku semakin bergelora. Kuraih tubuh bugilnya yg bahenol itu
kedalam pelukanku, kucumbu nikmat bibir merahnya yg basah merekah sambil
kuremas-remas gemas kedua buah dadanya yg kenyal secara bergantian
beberapa saat.” Mmmm …cup… jangan kuatir sayang …aku tak akan sekasar itu
…” Yeni tersenyum manis sambil membalas kulumanku. ” Mass … nanti kalo
spermanya mau keluar …nggg …itunya dicabut yaa ..”, ujarnya genit. ” Ouuh …
Yen ..ngg ….kau cantik sekali …”, bisikku penuh nafsu. Aku menyuruhnya untuk
menelungkup diatas kasur dan dibawah perutnya kuselipkan sebuah bantal
sehingga pantatnya yg bulat mekal dan seksi itu agak terangkat keatas.
Kedua pahanya sedikit agak kurenggangkan agar posisiku lebih mudah saat
menyodominya. Yeni kelihatan sangat pasrah sekali dengan apa yg akan aku
lakukan, meski ini adalah pengalaman pertama anal sexnya. Setengah berdiri
aku mengangkang diatas kedua paha mulusnya lalu kuturunkan pinggulku
kebawah. Kulihat belahan vertikal bibir kemaluannya yg menutup rapat sangat
merangsang sekali menyembunyikan liang vagina merahnya yg basah. Mau tak
mau aku jadi terangsang juga kepingin menjepitkan alat vitalku kedalam liang
vaginanya. Dan memang kulakukan, dengan gemas kuselipkan kepala penisku
diantara belahan bibir kemaluannya dan kutekan alat vitalku perlahan-lahan
sampai seluruhnya masuk kedalam liang vagina. Uuuuhhhh ….nikmat sekali
merasakan jepitan hangat dan basah kemaluannya itu. Yeni tertawa kecil
melihat ulahku. Mukanya yg tadi disembunyikan diatas sprei setengah menoleh
kearahku sambil tersenyum geli. ” Aduuuhh ….nggak tahan ya masss …. Kok
dimasukin kesitu lagi …hi..hi..” ” Eehhhh … habis itumu merangsang sekali sih
Yen …. Aku khan jadi kepingin ngerasain jepitannya lagi …”
Ia tertawa makin nyaring, namun sejenak kemudian ia memekik kecil saat jemari
kedua tanganku menyibakkan belahan pantatnya sehingga aku dapat melihat
lubang duburnya yg berkerut dan berwarna coklat susu itu. Wooww …. Benarbenar sangat menggemaskani. Kelihatan begitu mungil dan rapat sekali, seolah-

olah ujung jaripun nggak bakalan bisa masuk. Aku jadi penasaran. Dengan
telunjuk jemari kananku kucoba kuselipkan kedalam lubang anusnya ….rasanya
rapat sekali namun empuk dan kenyal …. Perlahan-lahan jari telunjukku mulai
terbenam kedalam lubang duburnya sampai ke pangkal …. Waahh ..rasanya
sangat hangat dan lembek didalam situ. ” Aaaahh …mm..mas Er …geliii …ahhh
…..nggghhh…”, rintih Yeni pelan. Wajahnya kembali disembunyikan diatas sprei.
Kuputar-putar jari telunjukku didalam situ secara perlahan-lahan. Yeni semakin
kegelian. Sambil kuputar telunjukku kutarik keluar masuk seperti sedang
senggama. Waahh … ternyata tidak terlalu susah juga meski terasa sangat
sempit karena ternyata lubang duburnya bisa sedikit melar dan elastis. Sampai
disitu aku baru mengerti kenapa di film-film porno begitu enaknya bintang pria
menyodomi yg cewe karena memang sangat elastis. Kucabut jari telunjukku dari
lubang duburnya dengan perlahan dan kulihat ternyata liang duburnya yg
ternyata juga berwarna sangat merah itu tidak langsung mengatup rapat namun
menutup dengan perlahan-lahan pula. Yeni merintih kecil kegelian. Kugoyangkan
pinggulku maju mundur. Beberapa saat kunikmati jepitan dan gesekan lembut
liang vagina Yeni yang hangat dan basah. ” Oouuuuh…mass ..Er….nggghhh
….nnnnggghhh …..”, rintih Yeni keenakan. 2 menit kemudian kucabut alat
vitalku dari dalam lubang kemaluannya lalu ganti kuarahkan ujung kepala
penisku kesebelah atas persis dimulut lubang anusnya.
Sambil kusibakkan belahan pantatnya dengan tangan kiri aku mulai menekankan
ujung kepala penisku yg besar ke mulut lubang duburnya. Uugghh … semula aku
merasa seperti memasuki jalan buntu, namun 5 detik kemudian setelah
berulangkali kutekan akhirnya secara perlahan-lahan lubang anusnya itu mulai
melar sehingga kepala penisku dengan cepat masuk kedalam. ” Aaawww ……”,
Yeni memekik kecil. Sebaliknya aku malah meram melek merasakan jepitan
lubang duburnya pada kepala penisku yg besar. ” Aaahhhnngghhh … sakit
Yen ..?”, bisikku keenakan. Kepala penisku telah tenggelam kedalam lubang
duburnya, rasanya sedikit kesat dan ketat luarbiasa.
” Oooohhhh …. It’s so tight baby ….eehhhhh …..”, bisikku nikmat. Aku menekan
terus perlahan-lahan alat vitalku menembus ke dalam liang duburnya … mili
demi mili … sampai akhirnya separuh dari batang penisku berhasil masuk.
Wuuuiiihh .. ketatnya luarbiasa sekali. Lubang duburnya terasa berdenyutdenyut keras seakan meremas-remas batang penisku yg besar…. Terasa sangat
hangat dan lembek didalam situ. Kulihat tubuh Yeni bergetar pelan seolah
menahan sakit. ” Aaahhh …Yen …sakitkah sayang ..?”, tanyaku cemas. ” Mmm
…ngggghhhh …ssedikit mass …teruskan saja mass …”, rintihnya lirih menambah
gairahku. Hheeekkkgghh …. Aku menekan batang penisku kembali kedalam
lubang duburnya ..dan srrtt … perlahan-lahan alat vitalku terus menelusup
kedalam …kedalam …kedalam dan aahhhhgghhhh ….aku merasa ternyata
semakin kedalam semakin rapat dan lembek. Kepala penisku seakan dirematremat hebat didalam anusnya. ” Aaagghhh ..Yen …nngghhhh ….”, erangku
keenakan. ” Auuwwww …mass …udah mass …jangan terlalu dalam …. Ngganjel
nih …auuww … “, pekik Yeni pelan. ” Nnngghhhh …tinggal sedikit lagi Yen
….aaahhhgghh …”, erangku nikmat melihat batang penisku hanya tinggal
sekitar 4 centi saja yg masih berada diluar. Aku berusaha menekan lagi namun

kulihat tiba-tiba tubuh Yeni meregang kecil seolah kesakitan. ” Sakit sayang
…?”,bisikku setengah kaget. Yeni tak menjawab namun kudengar mulutnya
merintih-rintih pelan. Kasihan juga aku melihatnya. Tak kupaksakan untuk
menekan lebih jauh lagi, karena dengan jepitan lubang anusnya yg sedalam ini
saja sudah membuat batang penisku seperti diremat kuat sekali … apalagi aku
merasakan liang anusnya itu juga berdenyut-denyut seperti mengurut-urut
memberiku kenikmatan luar biasa pada alat vitalku.
Tak pernah kusangka sama sekali begitu nikmatnya bersenggama lewat jalan
belakang. ” M..mmassss …… “, rintih Yeni tanpa arti … entah kesakitan atau
mungkin dia juga merasakan nikmat tersendiri. ” Sakitkah sayang …?”, tanyaku
sekali lagi sambil menahan rasa nikmat. ” Nnnnggghhhh …. Ng…nggak juga
mass …… hanya sedikit ngganjel …”, ujarnya pelan. Aku tersenyum lega. Kutarik
perlahan batang penisku dari dalam lubang anusnya …uuughghhh aku merasa
seret dan kesat meski baby oil yg kulumurkan sudah cukup banyak. Lubang
anusnya itu seakan mencengkeram dan membetot seolah menahan laju gesekan
keluar alat vitalku. Aku mengerang nikmat, kulihat batang penisku yg tertarik
keluar seolah tergencet sampai mengecil saking kuatnya rematan liang
duburnya. ” Nnnnnngggghh …………” . Ketika sudah sampai leher (aku memang
sengaja masih menjepitkan kepala penisku agar tetap berada didalam liang
duburnya) segera kutekan lagi secara perlahan batang alat vitalku kedalam
lubang anusnya sampai kurasakan pinggul Yeni bergetar lagi pertanda agar aku
menyetop sodokanku. Mmmmm … nikmatnya tak terbayang.
Akhirnya aku mengambil posisi setengah menindih tubuh bugil Yeni yg
menelungkup karena aku tak mungkin merapatkan tubuhku kepadanya, karena
bila itu kulakukan berarti aku harus menekan sampai mentok seluruh batang
penisku kedalam lubang duburnya. Itu berarti menyakiti Yeni … aku nggak
bakalan tega melakukannya. Setengah memeluknya kuciumi kulit punggungnya
yg halus dengan lembut sementara pinggulku kugerakkan turun naik dengan
sangat perlahan sekali …. Naik turun..naik turun ..mengeluar masukkan batang
alat vitalku kedalam anusnya. Kuresapi setiap gesekan dan rematan daging
tubuhnya yg hangat dan lembek itu. Denyutannya yg lembut memberikanku
rasa nikmat tak terkira. ” Mm …mass ….ngggghhhh …aawww ….nngghhhh
…….”, rintih Yeni perlahan. Kuremasi kedua buah payudaranya yg kenyal secara
perlahan dengan gerakan memutar menambah rintihannya semakin menggila. ”
Yeniii ….ooohhh ….yeniii …..”, erangku keenakan. Brrruttt ….. bbrrruuttttt
………………………… ….bbrrrruuuurtttt ……. Beberapa kali terdengar bunyi yg
cukup keras dari pantat Yeni, setiap kali batang alat vitalku yang ngaceng keras
dan berlendir itu kubenamkan kedalam lubang duburnya.
Persis seperti suara kentut. Aku mengira mungkin karena udara didalam lubang
duburnya yg tertekan saat penisku masuk itu terdorong keluar. Wuuiiihhhh …..
suaranya membuatku jadi makin terangsang dan bergairah. Saat itu aku merasa
begitu perkasa, meski rasa nikmat pada alat vitalku sangat berlebihan namun
aku mampu melakukan persetubuhan dengan timing yg cukup lama …mungkin
sekitar setengah jam-an bahkan lebih. Ini adalah pengalaman pertama anal kami

dan tak kan pernah terlupakan. Ketika sampai akhirnya kenikmatan itu hampir
mencapai puncaknya, dan sengaja aku tak memberitahukannya kepada Yeni ..
setelah kutimbang dan kupikirkan sekilas dan berharap tak berakibat efek
apapun … kuputuskan untuk menumpahkan saja sekalian air maniku didalam
lubang duburnya.
Kutekan sedalamnya batang alat vitalku didalam situ lalu sambil pinggulku
kuputar perlahan air maniku menyembur keluar dengan diiringi sejuta
kenikmatan yg tak terkira. Tubuhku menggeletar dan meregang mencapai
puncak enjakuasi. Crrreetttt ……….ccreeettttttt ……crreeetttttt
………..crrrrrrrreeeeeeettt tt. ……….. Semburan demi semburan kutumpahkan
dengan nikmat didalam lubang duburnya. Yeni memekik kaget dan merintih
pelan. Tubuhnya tetap diam tak bergerak hanya sekali-kali bergetar pelan. Ia
seolah benar2 pasrah dan mengijinkanku melakukan semua itu. Lengkap sudah
kenikmatan itu. Anganku seakan melayang tinggi terhempas dalam pusaran
kenikmatan. Air maniku masih mengalir sebanyak kurang lebih 4 semburan lagi
sampai akhirnya kurasakan puncak kenikmatan yg sempurna itu berakhir.
Selama beberapa menit masih kubiarkan alat vitalku terbenam didalam lubang
dubur Yeni menikmati sensasi terakhir jepitan rapat dan hangat miliknya. Aku
merasa sperma yg kukeluarkan saat itu lumayan banyak karena kenikmatan yg
kualami sangat luarbiasa.
Tak bisa kubayangkan didalam saluran anusnya itu tergenang cairan mani.
Wuuuiiihh …. 5 menit kemudian aku menggeletak lemas disamping kiri Yeni.
Meski dengan ekspresi letih sedikit pucat ia mencumbu bibirku dengan sangat
mesra sekali seolah ia ikut merasakan kenikmatan yg sedang kualami. Aku tahu
ia belum orgasme sampai saat itu, sedangkan alat vitalku rasanya belum mampu
untuk berdiri lagi. Malam itu kupuaskan dirinya dengan sapuan kenikmatan bibir
dan mulutku pada alat kemaluannya. Selama kurang lebih tiga perempat jam
aku melakukan cumbuan pada belahan bibir kewanitaannya …. Kucium
….kuhisap …kujilat …sampai akhirnya clitorisnya yg sensitif itu ganti kuremat
dan kukenyot-kenyot tanpa pernah kulepaskan barang sedetikpun … akibatnya
sampai Yeni orgasme berulang-ulang kali. Mulutku sampai terasa licin dan
berlendir kecipratan cairan orgasmenya yg keruh kekuningan itu.
Setelah ia benar-benar sangat puas dan letih baru kuhentikan cumbuanku pada
alat kemaluannya dan kami berdua tertidur nyenyak kelelahan sampai pagi. Pagi
harinya ketika aku bangun mendahuluinya iseng sengaja kulihat bagian
belakang tubuhnya yg tadi malam kusetubuhi. Kulihat lubang duburnya yg
berwarna coklat susu itu menutup rapat sekali namun dari sela-selanya terlihat
keluar leleran lendir berwarna putih kental banyak sekali sampai mengalir keatas
pantatnya dan jatuh kebawah membasahi kain sprei tempat tidur. Agak sedikit
mengering.
Rupanya tanpa Yeni sadari air maniku yg kutumpahkan didalam lubang
duburnya semalam terdesak keluar lagi. Aku lega sekali melihatnya,
bagaimanapun aku khawatir kalo sampai membawa efek jelek bagi tubuh Yeni.
Minggu siang sebelum kami kembali ke Malang dengan manja Yeni memintaku

untuk menyetubuhinya sekali lagi hanya kali ini penetrasi itu kulakukan melalui
liang vaginanya. Saat itu kami bersetubuh cukup lama sekali… mungkin hampir
1,5 jam-an karena kami melakukannya dengan diselingi obrolan-obrolan kecil
dari soal sex sampai masalah politik. Lucu juga ….tapi asyik dan nikmat bisa
berlama-lama menyatukan alat kelamin. Sampai detik ini, itu adalah pengalaman
anal sex pertama dan terakhirku karena semenjak peristiwa itu Yeni tak pernah
mau lagi diajak sodomi karena menurut sepengetahuan yg pernah dibacanya
anal sex seperti itu sangat tidak sehat dan bisa membawa penyakit.
Willy nilly aku membenarkan juga omongannya dan sampai sekarang ini bila
kami ingin berhubungan badan saya melakukan penetrasi hanya melalui
vaginanya saja. Dengan mbak Marisa sendiri rutinitas sex-ku juga tetap tak
berkurang sama sekali sebanyak seminggu 2-3 kali, begitu pula dengan Yeni. Ia
sama sekali tak mengetahui perselingkuhanku dengan Yeni, mbak Marisa malah
mengira aku sudah berhubungan dengan Sherly padahal hingga saat ini malah
aku belum berhasil mengajaknya tidur bersama, karena katanya ia sangat
menghormati mbak Marisa yg dianggapnya seperti kakaknya sendiri. Dengan
Silvi sampai saat ini sama sekali belum pernah aku mengajaknya sampai
begituan, hanya sekali dua kali saja kami bercumbu bibir atau necking sambil
meremasi payudaranya yg bulat kenyal. But intercourse .. Not yet!.

Hasrat & Nafsu Part 1
27
Posted by admin on October 25, 2009 – 2:46 pm
Filed under Setengah baya
Ini adalah pengalaman unik saya sendiri yang kejadiannya masih berlangsung
sampai sekarang ini. Ini benar-benar terjadi. Sebelumnya perkenalkan nama
( panggilan ) saya Ery, asal kota Surabaya dan sekarang masih berstatus
mahasiswa sebuah PT di kota Malang. Umur saya masih 23 tahun dan saat ini
sebenarnya saya baru saja lulus kuliah ( tinggal menunggu wisuda ). Sebenarnya
awal kejadian nya baru berlangsung sejak 1 bulan yang lalu dan masih
berlangsung hingga sekarang, tepatnya dimulai sekitar akhir bulan September
1998 kemaren. Keunikan pengalaman sex saya ini karena saya melakukannya
dengan ibu kost teman kuliah sekaligus sahabat saya sendiri yaitu Agus
( panggilan ).
Ibu kost sahabat saya ini sebenarnya bisa dikatakan masih muda juga, sekitar
usia 34 tahun. Namanya mbak Marissa. Sudah bersuami namun seperti yang
saya lihat sendiri, rumah tangga mereka tidak pernah akur. Mbak Marissa sendiri
tidak pernah mengatakan ada apa sebenarnya yang menyebabkan ia tidak
pernah akur dengan sang suami. Namun dari selentingan yang pernah dan
sering Agus dengar ketika mereka bertengkar, intinya adalah karena keinginan
mbak Marissa untuk memiliki anak, sedangkan sang suami walaupun sebenarnya
bukan mandul ( menurut gosip pegawai salon milik mbak Marissa ) bibit
spermanya lemah. Pak Herman ( suaminya ) katanya sudah berusaha berobat

kesana kemari tetapi belum ada perkembangan yang meyakinkan. Mungkin
karena keinginan yg begitu besar dari mbak Marissa inilah yang menyebabkan
Pak Herman sampai kehilangan gairah sex nya lagi. Dan ini menurut Agus sudah
terjadi semenjak pertama kali dia kost di tempat itu, atau semenjak 2 tahun
yang lalu, karena sebelumnya memang Agus kost di kawasan kampus STIE MK.
Saya sendiri baru sekitar 1 tahun yang lalu kerap ke tempat Agus yang sekarang
( di kawasan perumahan Purwantoro Agung ), dan saya sendiri kost dikawasan
Blimbing.
Dengan mbak Marissa sendiri sebenarnya saya juga barusan akrab sekitar 2
bulan yang lalu. Itu juga gara-garanya karena wajahnya yang benar2 sangat
mirip dengan Esmeralda yang selalu diputar SCTV saban hari. Saya sering
menggodanya dengan sebutan mbak Esmeralda Indonesia. Mbak Marissa ini asli
orang Manado sehingga nggak heran wajahnya begitu cantik dan putih rada-rada
indo seperti orang Manado kebanyakan. Sedang suaminya Pak Herman bekerja
sebagai kapten kapal sebuah perusahaan pelayaran swasta. Sehingga dapat
dibilang selama setahun hanya beberapa kali saja Pak Herman pulang ke rumah,
selebihnya tentu banyak berlayar keluar negeri. Rumah mbak Marissa ini bisa
dikatakan lumayan besar dan mewah. Maklumlah pekerjaan sang Suami pasti
sangat mendukung sekali dalam soal materi. Selain dibuat tempat kost, mbak
Marissa juga membuka usaha Salon yang cukup maju. Sehingga bisa dibilang
tempat kost si Agus ini tak pernah sepi, selain Agus masih ada 5 orang lagi yang
kost di situ, kesemuanya kebetulan cewek single yang sudah bekerja semua.
Si Agus memang benar2 mujur diterima disitu karena kebetulan mbak Marissa
memang ingin setidaknya ada penghuni cowok yang bisa menjaga dan
mengawasi rumahnya. Maklum selama Pak Herman berlayar isi rumah itu
memang cewek semua. Dan mbak Marissa bukanlah orang yang begitu peduli
dengan aturan budaya ketimuran. Semua tamu cowok dan cewek boleh bebas
masuk bertamu ( kebanyakan masuk kedalam kamar kost ) asal jangan sampai
diatas jam 11 malam. Perlu saya jelaskan sebelumnya tempat tinggal Mbak
Marissa ini bentuknya seperti huruf U dilihat dari depan, antara tempat kost
dengan rumah induk berdiri sendiri-sendiri hanya terpisahkan dengan taman dan
kolam ikan yang cukup lebar, sedang ruang untuk salon kecantikannya jadi satu
dengan rumah induk.
Jadi tidak heran, saking bebasnya bisa dikatakan hampir saban hari tamu2 pria
atau wanita entah pacar atau teman ketiga cewek tsb termasuk juga Agus
leluasa bebas keluar masuk bahkan tidak jarang ada yang sampai nginap segala.
Seringkali ketika mampir ke sini, sewaktu saya berjalan menuju kamar si Agus
yang berada diujung belakang sendiri, di salah satu kamar cewek penghuni kost
itu sering terdengar suara lenguhan atau rintihan pelan orang yang sedang asyik
masyuk bersenggama ria. Kalau sudah begitu saya tinggal mencari ada nggak
sendal si Agus diantara salah satu pintu depan kamar cewe2 tersebut. Kalau
tidak ada berarti bukan si Agus yg sedang ngerjain cewek2 itu. Memang si Agus
sekali lagi benar2 mujur. Dari kelima cewek tersebut 3 diantaranya bisa diajak
ngentot ( just for fun tentunya ), meskipun sebenarnya mereka bukan pelacur.

Edannya mereka semua juga cantik2 sekali dan berasal dari luar daerah. Tetapi
dibanding mbak Marissa kecantikan mereka masih kalah, selain lebih putih mbak
Marissa kelihatan jauh lebih menarik dan anggun.
Di tempat tersebut Agus sudah dikenal sebagai Ayam Jago alias tukang nidurin
cewek. Sahabatku ini memang bejat dan maniak sex, 3 dari 5 cewek penghuni
kamar kost tempat mbak Marissa itu sudah digarap semuanya. Salah satunya, Si
Nani menurut Agus masih perawan ketika ia pertama kali menggagahinya. Aku
tak bisa membayangkan sudah berapa kali temanku Agus ini menggilir Farida,
Nani dan Yeni selama 2 tahun ini. Edannya …. Gratis lagi. !!!! Andai saja mau,
bisa saja aku ikut mencicipi kemulusan dan kemolekan tubuh mereka dan
mereguk kenikmatan sex bersama mereka, tapi saya bener-bener ogah dapet
bekasnya si Agus. ” Ogah Gus … barang bekas pakaimu …”, teriakku ketus.
Haa ….. hhaaa …ha …… kalo sudah gitu dia pasti ketawa ngakak. ” Alaaa ..
Ery….Ery …. munafik banget si kau …apa bedanya friend … khan masih mending
bekas sahabat sendiri … ha ..ha…”, celetuk Agus dengan logat bataknya yg
kental. ” Ogaaaaaaaaahhhhh ……..” ” He…hee … kao nggak kasihan sama
Farida, ama Nani en juga Yeni …. mereka kepingin banget bisa ngerasain
kejantanan kontol kau kawan … he..hee …” ” Kalo sama Mona atau mbak
Marissa mungkin aku mau Gus …. “, kataku kesal. ( Mona adalah salah satu
penghuni kamar yg termasuk cewe baik2 dan paling manis menurutku ) ” Haaah
… beneran nih Er … he..he … rayuanku aja belum berhasil Er …mmm …. Terus
terang aku pengen sekali menidurinya …. He…he …” ” Edaan … masih mau
nambah juga …. awas kau Gus…”, ujarku kesal. Terus terang kadang aku sendiri
kasihan juga dengan Farida, Nani atau Yeni yg cantik…. Kok mau-mau nya
digarap Agus yg notabene udah item kaya pantat panci … gendut lagi ( Agus
memang postur tubuhnya rada gendut dan berkulit agak kehitaman karena
sering keluyuran )
Sore itu selesai bimbingan skripsi aku langsung mampir ke tempat Agus hendak
pinjam film VCD nya yg katanya baru dibelinya kemaren. Ia memang kolektor
film2 bioskop. Saat itu suasana tempat mbak Marissa sedikit lebih sepi dibanding
biasanya. Salonnya pun sudah ditutup. Kamar mbak Marissa kulihat dari
seberang taman kelihatan gelap karena lampunya dimatikan. Mungkin sedang
pergi pikirku.
Aku bergegas menuju ke kamar Agus yg berada di ujung belakang dan kulihat
pintu kamarnya sedikit terbuka dan lampunya dihidupkan. Aku sudah hendak
menerobos masuk untuk ngagetin dia karena aku tahu Agus orangnya gampang
kagetan dan penakut namun niatku segera kuurungkan ketika didepan pintu
kamarnya kudengar ada suara erangan dan rintihan wanita. Siall … pikirku. Soresore begini mau Maghrib bisa-bisanya ……Agus sedang … Dari suara erangannya
aku bisa menduga itu pasti si cantik Farida yg sedang digarapnya. ” Ooouuuhhh
…. Guusss … nnngggghhhhh …… nnnngggghhhhhhhhhhhhhhgggggg …..” Syittt
…. Bisikku. Si Farida tampaknya pas lagi orgasme. ” Nnnnnnngggghhhh …..
ooouuuuuhhhh ….Guss …..nnnggggngggghhh…..” ” Enaak khan Rida ….”, bisik

Agus terdengar dengan napas memburu. Keliatannya dia belum enjakulasi.
Penasaran juga aku mendengarnya, mau tak mau alat vitalku tegang juga.
Gimana-gimana sebenarnya aku kepingin juga bisa ngerasain yg rasanya
senggama.
Saya memang masih perjaka ting-ting dan saat ini bahkan belum punya pacar
sama sekali. Lucu memang, terus terang menurut orang saya ini tergolong
sangat tampan, dan saya pun menyadari itu, banyak cewek2 cantik yg
sebenarnya naksir tapi saya lebih senang menghabiskan waktu di Cyber Cafe
surfing internet atau kalo tidak kongkow ke tempat Agus saban waktu, daripada
cari pacar. Selain kata orang sangat tampan, tubuh saya sangat atletis karna
saya juga rajin fitness dan olahraga, tinggi tubuh saya 172 cm, warna kulit sawo
matang dan kalo boleh saya sebutkan juga ukuran alat vital saya panjang kurang
lebih 16,5 centi.
Dengan rasa penasaran saya mencoba mengintip dari celah pintu kamar Agus
yang sedikit terbuka. Astaga …. Selama ini baru pertama kali ini saya melihat
Agus ngerjain cewek. Untung kebetulan posisi senggama mereka agak sedikit
membelakangi pintu kamar. Dan kulihat Agus dgn posisi setengah berdiri ( dog
style ) sedang menggarap tubuh bugil Farida yang tidur setengah menelungkup
diatas tempat tidur, pinggul Farida kelihatan begitu padat, putih mulus dan seksi
sekali. Sambil memeluk sebuah guling Farida menunggingkan pantatnya kearah
tubuh Agus yg juga telanjang bulat. Kulihat betapa buasnya si Agus mengayuh
pinggulnya kedepan belakang menghunjamkan batang penisnya yg ternyata
berwarna coklat kehitaman kedalam liang kemaluan milik Farida yg berwarna
putih kemerahan. Aku benar2 kagum dengan bentuk bukit kemaluan milik Farida
itu.
Besar montok dan berjembut lebat kehitaman. Sedang liang vaginanya yg merah
itu kelihatan masih sempit, terbukti dengan ketatnya jepitan daging vaginanya
saat menjepit batang penis milik Agus yg ternyata relatif kecil ( mungkin
diameternya cuman 3 centi saja ), saya tidak menyangka penis si Agus sekecil
itu. Daging liang vagina milik Farida itu sampai tertarik keluar begitu Agus
menarik batang penisnya yg hitam panjang itu keluar sebelum dihunjamkannya
kembali dengan buas sampai kandas ke liang kemaluan Farida. ”
Oooooouuuuhhhhh ..nnnnggggghhhhh ….. enaaak sekali Guss ….nnngggghhhh
…. Yaaahhhhh …… oowwwwwwwooowww ……..”, rintih Farida penuh
kenikmatan. ” Yeeaaaahh … “, teriak Agus gemas melihat Farida sedang
mereguk kenikmatan orgasmenya, digoyangkannya dengan membabi buta
pinggulnya ke depan belakang, batang penis milik Agus yg kehitaman itu
tampak basah berlendir ketika berulang kali dihunjamkan keluar masuk ke
dalam liang vagina Farida yg terlihat sempit mungil itu.
Kontras sekali rasanya melihat tubuh Farida yg bahenol putih mulus dengan
pinggulnya yg seksi aduhai sedang disetubuhi oleh tubuh Agus yg hitam sedikit
gembrot. Persis orang negro sedang ngerjain cewe bule. Edaan sekali ketika
pada akhirnya kulihat tubuh Agus kelihatan bergetar hebat, goyangan

pinggulnya bergerak semakin cepat seperti piston sambil mulutnya menggeram
hebat. ” Aaaaaaaaarggghhhhhhhhhh …….. yeeaaaaahhhh …….
aaaagggkgkgkggghhhhhh …..” pekik Agus keenakan. Gila pikirku, rupanya Agus
sedang meregang melepas enjakulasinya. ” Ridaaaa …
aaaahhhggggggkkkgggffffhhh …… maniiiku keluuuaar ….. yyaaahgghhh
..aaaggghhh ….” Aku mendelik gemas melihat tubuh Agus menggeliat-geliat
keenakan mirip cacing kepanasan, sementara pinggulnya dihentak-hentakkan
dengan kuat ke pantat Farida yang montok seksi. Aku membayangkan Agus
sedang memuntahkan air maninya yang kental ke dalang liang vagina Farida yg
terlihat sempit itu. Edan pikirku … tidak pake kondom lagi si Agus, gimana kalo
Farida hamil.
Tanpa terasa alat vitalku jadi tegang ngaceng membayangkan puncak
kenikmatan yg sedang Agus alami. ” Aaawwww …. aaawww …..Gus … pelanpelan dong …. vaginaku sakit …. Guss …. aawww …. Iiiihhhh …. Gussss … kok ..
manimu dikeluarin di dalam sih … “, pekik Farida kesakitan setengah protes
karena si Agus memuntahkan air maninya ke dalam tubuh Farida. Tapi Agus
sama sekali tak peduli, sambil terus menggeram hebat dan meregang keenakan
terus dihentak-hentakkannya dgn kuat pinggulnya menghantam pantat Farida,
sembari mengeluar masukkan batang penisnya yg sedang meledak
memuntahkan air mani ke dalam liang vaginanya. Jemari kedua tangan Agus yg
kekar begitu kuat memegangi pinggang Farida hingga cewe cantik itu tak bisa
bergerak sama sekali. ” Aduuuuhhhh … Gus …. sakkiiiitt … aawww …. kok
dikeluarin di dalem sih ….. iihhh … sudah ..Gus … sudah … iihhh … aku bisa
hamiil gus ….iihh kentaalnya ….aaawww ..”, pekik Farida semakin kesakitan.
Gilaaa … si Agus pikirku. Mau enaknya aja dia.
Aku tak tahan menyaksikan adegan merangsang itu lebih lama lagi. Setengah
berlari aku menuju ke kursi taman disamping kolam ikan yg persis berada
ditengah2 komplek rumah mbak Marissa itu. Kuhempaskan pantatku diatas kursi
panjang yg tepat berada dibawah lampu taman. Suasana senja itu semakin
bertambah temaram. Aku mencoba menghapus bayangan2 hot yg mungkin
masih berlangsung di kamar Agus. Sambil menunggu mereka selesai main,
kurenggangkan otot-otot dan perasaanku sendiri yg sempat tegang tadi. Alat
vitalku masih sedikit ngaceng membayangkan kejadian hot tadi.
Dan tanpa terasa 10 menit telah berlalu …. Namun kulihat pintu kamar si Agus
masih belum juga terbuka menandakan kedua insan bejat itu masih berada
dalam kamar. Aku mulai heran ngapain aja si Farida lama-lama disitu … khan
tadi sudah sama-sama puas. …. Atau barangkali mereka masih teler keenakan
dan tertidur disitu …. Waaah sialan … jadi obat nyamuk nih aku. Kenyataanya
memang saat itu tubuhku mulai gatal-gatal dikerumuni nyamuk. Ketika aku
hendak memutuskan untuk balik pulang saja tiba-tiba kurasakan ada seseorang
yg menepuk pundakku dari belakang. ” Heii … dik Ery …!” Aku terhenyak kaget
dan menoleh ke belakang. Oooohhhh … aku mengelus dada lega. Ternyata mbak
Marissa yg datang. ” Eeeeh ….. Mbak Esmeralda … bikin kaget aja mbak …”,
ujarku lega. ” Kok ada disini dik Ery …si Agus kemana … apa sedang keluar..?”,

tanyanya sambil tersenyum manis padaku. Duuh … wajah mbak Marissa ini
bener2 cuaaaaantiiiknya selangit …. nggak heran kalo banyak yg naksir …
termasuk juga aku … he…hee…. ” Ngghhh … anu ..mbakk ….ada siihh ….sedang
…nggggg..”, sahutku bingung harus mengatakan apa kepada mbak Marissa
tentang si Agus ….
Masa aku harus bilang dia sedang maen kuda-kudaan dengan Farida…. Hee…
he… ” Sedang apa ….?”, tanya mbak Marissa sambil memandang heran
melihatku rada gugup. Namun sejenak kemudian kulihat mukanya yg cantik
mempesona itu bersemu merah … ” Ooohhhh ….”, ujarnya lirih. ” Kenapa
mbak..?”, tanyaku setengah heran melihat perubahan roman mukanya yg tibatiba itu. ” Nggak pa-pa …. Saya ngerti kok …!” “Ngerti apa sih mbak..?”, tanyaku
masih kurang paham. ” Alaaaa … kamu ini dik Ery … pura-pura lagi … yaah …
mbak sudah tahu kok dari dulu …”, sahutnya pelan sambil tersenyum manis
kembali. ” Tahu apa sih mbak …?”, tanyaku makin bingung. Aku memang benarbenar nggak ngerti arah pembicaraannya. ” Iiiiih …. hik..hik…. dik Ery ini …. itu
yang dik Ery liat tadi di kamar si Agus …”, ujarnya tanpa basa-basi lagi. Deggg …
aku kaget juga mendengarnya.
Ternyata mbak Marissa sudah mengetahui perselingkuhan yg terjadi di tempat
kostnya ini. ” Mbak … su ..sudah tau …”, tanyaku pelan setengah malu2. ”
Sudahlah dik Ery … mereka toh sudah dewasa semua …. biarkan mereka sendiri
yg menanggung segala resikonya …. Mbak bisa mengerti …. boleh saja … asal
jangan bikin ribut saja … yuk masuk ….dik Ery tunggu dirumah mbak saja …
yukkk …”, ujarnya kemudian sambil mengajakku masuk kerumahnya lewat pintu
belakang. Bagai kerbau dicocok hidungnya. Aku manut saja ketika jemari
tangannya menggamit lenganku. Kami berjalan berdampingan menuju kepintu
belakang rumahnya. Ada rasa bangga tersendiri melihat nyonya rumah yang
cantik bak bidadari itu menggandengku seperti seorang istri terhadap suaminya.
Memang semenjak 2 bulan yg lalu aku sudah sangat akrab sekali dengan mbak
Marissa ini, gara2nya aku sering menggodanya dgn sebutan mbak esmeralda …
dan iapun kelihatan malah senang sekali dipanggil seperti itu karena selain
cantik wajahnya juga mirip sekali dgn esmeralda yg di TV itu.
Gara2 itu jugalah ia sering mengajakku mengobrol berdua apabila kebetulan si
Agus sedang keluar. Dari masalah politik sampai ekonomi, dari masalah salon
sampai soal keluarganya di Manado pernah kami obrolkan. Ia memang sangat
terbuka dalam segala hal, kecuali satu masalah rumah tangganya. Dan khusus
kepadaku sajalah mbak Marissa betah lama2 mengobrol. Terkadang ia sering
cemberut kalo aku permisi hendak menemui si Agus yg baru datang dari kuliah
atau hendak pamit pulang. Kalo sudah begitu ia pasti menanyakan kapan datang
lagi. He…he … padahal hampir saban hari aku datang ngendon di kamar Agus,
dia sendiri saja yg terlalu sibuk dgn urusan salon kecantikannya. ” Heh ..kok
ngelamun … ntar nabrak pintu lho …. hi ..hi …” ” Eeehh … nggak kok mbak sapa
bilang ….?”, sahutku gugup. Mbak Marissa menatapku sambil tersenyum
semakin manis. ” Ngelamunin apa sih Er … atau kamu kepingin yaa .. !”,
bisiknya perlahan.

Aku sedikit kaget juga mendengar ucapannya yg to the point itu. Aku jadi
teringat nasehat sinting si Agus, katanya kalo seorang wanita sudah berani
ngomong sedikit nyerempet2 soal sex … itu berarti 50 % ia sudah mau untuk
ditiduri, 50 % sisanya tinggal mampu nggak kita merangsangnya dengan sejuta
rayuan …. kalo berhasil pasti takluk … Edaan … entah kenapa aku begitu ingin
membuktikan teori gila si Agus ini ….. ” Kepingin sekali mbak …”, ujarku pura2
bloon.
Sambil bicara begitu aku pura-pura mengalihkan perhatianku ke pintu kamar
Agus yg masih tertutup. Aku sedikit khawatir mbak Marissa akan marah dengan
ucapan ngawurku …. Namun ternyata tidak ada sahutan sama sekali darinya.
Tanpa menatapnya aku terus melangkah ke dalam ruang tengah dimana disana
terhampar sebuah karpet tebal dan lebar dengan beberapa buah bantal besar
dan kecil untuk tempat istirahat ataupun bersantai sambil menonton TV. Aku
langsung duduk selonjor diatas karpet, sementara mbak Marissa minta ijin
kebelakang dulu. Di tempat inilah sejak 2 bulan yg lalu saya bersama mbak
Marissa biasa mengobrol sampai terkadang lupa waktu. Banyak pegawai salon
mbak Marissa yg terkadang juga ikutan nimbrung apabila langganan sedang
kosong.
Dari 5 pegawainya yg kesemua cewek ada 2 orang yg usianya hampir sebaya
saya yaitu Santi dan Silvy, selebihnya sebaya dengan mbak Marissa (Diana, Erna
dan Sherly ). Kesemuanya cantik-cantik sekali dan bahenol. Mbak Marissa
memang pandai memilih pegawai2 nya untuk lebih menarik calon pelanggannya,
apalagi kalo yg datang itu kaum pria. Sudah bukan rahasia lagi kalo sama-sama
cocok salah satu pegawai mbak Marissa ini bisa di booking. Tetapi setahu saya
juga tidak semuanya, menurut Agus yg bisa di booking cuman Sherly, Santi dan
Erna saja, sedang yg lain tidak. Lucunya meskipun demikian, sekalipun si Agus
belum juga berhasil mengajak salah satu dari mereka untuk bermain cinta. Kalo
aku tanya apa sebabnya, Agus pasti cuman bisa nyengir kuda … he..he …
mungkin gara-gara postur tubuhnya yg udah item gembrot lagi.
Menurut cerita Agus, ia pernah mencoba merayu Santi untuk diajaknya main
kuda-kudaan di kamarnya, tetapi ia malah dikasih hadiah tempeleng, dan
katanya ia bersedia diajak begituan kalo yg mengajaknya adalah saya … waaah
… mendengar itu saya sempat ngaceng juga .. tapi waktu itu terus terang saya
takut kehilangan keperjakaan saya apalagi saya juga takut sama cewe yg
agresif.
Begitulah semenjak itu Agus rada2 mikir kalo mau ngajak ‘main’ pegawai salon
yg lain. Jangankan begitu, masuk ke ruang tengah rumah mbak Marissa seperti
yg kulakukan sekarang inipun Agus tidak berani .. he ….he.. Memang semenjak 2
bulan ini aku seolah sudah begitu dipercaya 100 %, mbak Marissa malah
menyuruhku untuk jangan sungkan jika berada rumahnya, bahkan tidak jarang
pula ia mengajakku makan siang bersamanya kalo kebetulan pas aku berada
disana sedang Agus belum juga datang dari kuliahnya. Banyak pegawai salonnya
yg ngiri melihatku begitu di servis lebih dibandingkan mereka sendiri yg

notabene adalah karyawan disitu sedang aku khan cuman temannya si Agus yg
nge-kost disitu. Kalo sudah begitu biasanya selagi mbak Marissa beresin piring
ke belakang, maka mbak Sherly, mbak Erna atau Santi pasti serentak
menghampiriku sambil mencubit pinggangku gemas … ” Iiiiiihhhhh …. enak yaa
kamu Er … kita-kita aja belon makan …kok kamu udah kenyang duluan ….
Iihhh… aku cubit nih …iiihhhh …” Diperlakukan begitu aku cuman bisa pasrah
saja, tidak jarang Sherly tanpa malu-malu malah sampai meremas pantatku dgn
gemas …. He …he .. coba saja berani pegang batang pelirku … dijamin langsung
ngaceng … mungkin malah aku mau-mau aja kalo Sherly sampai meng-onaninya
sekalian he…he…
Terus terang pula semenjak 2 bulan ini Sherly maupun Erna kerap menelponku
kerumah agar aku mau mengantarnya ke diskotik atau sekedar menemaninya
nonton ke bioskop, tetapi kebetulan sekali karena kesibukanku menyusun skripsi
aku pura-pura tidak bisa memenuhi permintaan mereka, aku curiga pada
akhirnya nanti mereka mengajakku untuk nge-sex, padahal aku nggak biasa dgn
hal seperti itu. Seandainya kalo Silvy yg menelepon pasti aku langsung oke-oke
saja, karena aku tahu Silvy selain paling muda dan paling cantik ia juga lebih
pendiam dan sopan. Menurut pengamatan Agus, Silvy menurutnya masih
perawan dan belum pernah dijamah laki-laki….
entahlah aku tidak ahli dalam hal ini dan entah kenapa juga aku percaya dengan
omongannya soal yg satu ini. ” Heh …. dik Ery ini kok ngelamun lagi … nanti jadi
kebiasaan lho …hik…hik …” Ucapan mbak Marissa ini cukup mengagetkan juga
dan sekaligus menyadarkanku kembali dari lamunan. Aku tersenyum malu, dan
kulihat ia membawa nampan berisi 2 cangkir kopi panas untuk kami berdua.
Wajahnya yg cantik seolah semakin cantik saja didalam ruangan ini, entah
mungkin karena aku sendiri yg sedang terpesona oleh kerupawanan wajah
bidadarinya itu atau mungkin karena gaun yg sedang dikenakannya yg
membuatnya jadi semakin mempesona. Saat itu aku baru menyadari kalo
ternyata mbak Marissa mengenakan gaun tidur panjang berwarna coklat susu
sampai kemata kakinya. Bisa kubilang kain gaunnya itu cukup tipis sekali
sehingga tidak heran apabila BH dan celana dalamnya secara samar terlihat
cukup jelas.
Namun karena kebetulan BH dan Celana dalamnya juga sewarna dengan gaun
tidurnya maka kalo dilihat sepintas seperti menjadi satu dengan gaun tidurnya
itu. Sejenak mataku terpaku pada gundukan kembar didadanya yang kelihatan
besar membukit. Uuggh … aku jadi teringat peristiwa di kamar Agus tadi, ketika
buah dada Farida yg besar montok dengan putingnya yg berwarna coklat
kemerahan diremas-remas gemas oleh Agus dari sebelah belakang sementara ia
menggoyang pinggul maju mundur mengeluar masukkan batang penisnya yg
hitam menggesek lubang vagina Farida yang sempit. Fiiuuh …. Kubayangkan
betapa asyik dan nikmatnya seandainya aku dapat melakukannya bersama
mbak Marissa ini, aku akan senang melepas keperjakaanku bersamanya. ” Mbak
kok repot-repot sih …”, ujarku
pelan, sembari terus memandangi kedua bulatan payudaranya yg besar
menantang itu penuh nafsu, ketika ia menaruh nampan berisi 2 cangkir kopi itu

didepanku otomatis ia duduk setengah berlutut dan sedikit membungkuk mau
tidak mau gaun tidurnya yg sebelah atas agak tersingkap kebawah persis
dibagian bawah lehernya. Uupss … aku berujar lirih setengah melongo saat
menyaksikan dua gumpalan besar dari balik gaun tidurnya yg tersingkap itu.
Walaupun masih tertutup BH namun karena payudaranya yg putih mulus dan
montok itu begitu besar, sehingga seolah kubah BH nya jadi tak cukup untuk
membungkus payudara raksasa milik mbak Marissa itu. Waahh … pokoknya
sampe menuh-menuhin bungkusnya deh … ” Kamu lihat apa Er …?”, kembali
tiba-tiba mbak Marissa menyadarkanku kembali dari lamunan dan pikiran
ngeresku. ” Eeeh … a…ng ..nggak papa kok mbak….”, sahutku gugup. Aku
benar2 tidak mengira ia mengetahui semua perbuatanku.
Malu sekali rasanya saat itu. ” Ehem … ada yg salah dengan pakaianku Er …”,
tanyanya lagi kepadaku. Pandangan matanya yg ditujukan kearahku seakan
menyelidik meskipun sama sekali tidak kelihatan marah. ” Ngg … nggak kok
mbak….?”, sahutku makin gugup. ” Terus tadi mbak perhatikan kamu kelihatan
serius ngeliatin mbak …?”, tanyanya terus mengejar. Aku berusaha sedapat
mungkin menenangkan perasaanku yg kalang kabut tak karuan. Bagaimanapun
aku risi juga bila ia mengetahui ketidak jujuran ucapanku. ” Mmm … nggak ada
apa-apa kok mbak … cuman …mm ….mbak Marissa kelihatan sangat cantik
sekali malam ini …”, ujarku spontan.
Lebih baik aku memujinya daripada harus berterus terang hal yg bukan-bukan. ”
Iiiih … kamu bisa aja Er …. makasih deh ..”, katanya pelan. Eits … untung
ternyata ucapanku manjur juga. Pipinya yg putih mulus itu bersemu merah
menambah kecantikan wajahnya yang alami. Aku jadi semakin berani. ” Bener
kok ….mbak Marissa kelihatan cantiik sekali … andai saja saya punya pacar
seperti mbak … “, ujarku kemudian semakin percaya diri. ” Iiiihhh …. hik…hik..
kamu ini … bisa juga yaa ngerayu … memangnya masa kamu belum punya
pacar sih ..” ”
Sekarang sih lagi pendekatan mbak ….” ” Oh ..yaaa ….” ” Iyaa .. orangnya
cantiik sekali seperti mbak Marissa …..” ” Masaa … mbak boleh dikenalin nanti
….” ” Boleh … namanya Esmeralda …” ” Haahh ..” Semula mbak Marissa
kelihatan agak bingung namun sejenak kemudian ia ketawa setengah ngakak.
Sambil mengambil duduk persis disebelahku jemari tangannya yg halus lentik
mencubit gemas pinggangku. Aku tak sempat menghindar dan cubitannya
benar2 sakit sekali. Aku menggeliat dan memekik kesakitan sambil berusaha
melepaskan diri dari cubitannya, namun mbak Marissa sama sekali tak mau
melepaskannya sembari terus tertawa makin keras.
Baru kali ini aku melihatnya bisa tertawa lepas bahagia seperti itu. ” Auuuwwww
…. sakit mbak …”, teriakku keras. ” Hik …hik ….biarin … tau rasa kamu …
ngebohongin mbak ..” Sial … cantik sekali mbak Marissa ini. Saat itu begitu
dekat sekali mukaku dengan wajah bidadarinya itu, sampai hembusan nafasnya
yg harum bahkan bau badannya yg wangi begitu memabokkan perasaanku.
Darah perjakaku seakan bergolak, nafsu birahiku spontan naik ‘over voltage’,
alat vitalku tanpa dikomando langsung menegang keras …NGACENG !!… , Duh

Gusti … apa yg sedang terjadi padaku ini, aku terbuai sudah dengan segala
kesempurnaan yang ada pada diri mbak Marissa .. kecantikan wajahnya,
keseksian tubuhnya, keharumannya …. seakan lupa diri saat tanpa dapat
kucegah lagi kedua tanganku meraih pinggangnya yang seksi itu lebih dekat
kearahku. Tak kuhiraukan lagi betapa sakit cubitan jemari tangannya tadi. ”
Mbak …kau cantik sekali …”, bisikku tanpa sadar.
Sejenak Marissa sedikit kaget menyadari apa yg sedang kulakukan terhadapnya.
” Eehh .. Ery … ada apa …”, bisiknya pula seakan tak mengerti. Pelukan kedua
tanganku ke tubuhnya semakin bertambah erat. Ooouuhh …. Bisa kurasakan
betapa halus dan mulusnya kulit tubuhnya dari balik gaun tidur tipis yg tipis.
Seakan begitu cepat dan ringan saja ketika kedua tanganku yg kekar telah
meraih tubuhnya dan dalam sekejab telah berada diatas pangkuanku. Kedua
bulatan pantatnya yang montok seksi itu mendarat persis diantara kedua
pahaku. Batang penisku yg ngaceng seakan tergencet nikmat diantara sela-sela
belahan pantatnya yang padat dan lunak. Oooouggghh ….nikmatnya …. ”
Erryyyy …. ada apa …”, pekiknya kaget melihat dirinya telah berada didalam
pelukanku. ” Mbak ….. aku menyukaimu ….a..ku …ingin bercinta denganmu ….”,
bisikku tanpa sadar. Seakan nafsu telah menutup semua akal sehatku. ” Iiiiiihhhh
…. apaa …. gilaa kamu Er “, …..dan plaaakk … Sebuah tamparan keras tangan
kanannya mendarat telak dipipiku. Anehnya aku seolah tak merasakan apa-apa

aku cuman menoleh sekilas lalu kembali memandang wajah cantiknya yg kini
hanya berjarak tak lebih dari 20 centi saja. Pandangan matanya tampak berapiapi … bibirnya tampak bergetar seolah menahan kemarahan … hidungnya
mendenguskan nafas yg sedikit memburu …. What the hell …. apa yg terjadi …
terjadilah … sudah terlanjur … dan aku tak akan mundur, bahkan pikiran gilaku
mengatakan untuk memperkosanya saja jika perlu. ” Aku mencintaimu Marissa
…. Sungguh …”, bisikku pelan seakan membela diri. Sedetik … dua detik …
sampai mungkin hampir satu menit … kami berdua hanya saling berpandangan
satu sama lain. Tidak ada gerakan … tidak ada perlawanan darinya. Tubuhnya
masih berada dalam pelukanku. Wajah cantiknya itu terlihat sedikit pucat dan
pandangan matanya tak segarang tadi. Bibirnya yg begitu indah merah merona
tanpa lipstik kini terkatup rapat. ” Maafkan aku Marissa …. aku sungguh ingin
bercinta denganmu …” ” Ka …kamu gila Ery … sadarkah kamu … aku sudah
bersuami Er … dan … k ….kau …. ingin bermain cinta …sadarkah kamu Ery …”,
bisiknya lemah. Dari sikap dan ucapannya itu seolah aku bisa menduga apapun
yg aku lakukan terhadapnya tampaknya ia sudah siap menerima.
Terlihat semenjak pertama kali aku memeluk tubuhnya sampai membawanya
kedalam pangkuanku Marissa sama sekali tidak melakukan perlawanan
sedikitpun. Itu berarti ia sebenarnya mau saja kusetubuhi. What the hell … ia
bersuami atau tidak … ada orang yg tahu atau tidak, yg penting aku akan
menggelutinya malam ini sampai puas, aku akan menyenggamainya seperti
ketika Agus menyetubuhi Farida, akan kumuntahkan air maniku sepuasnya
kedalam tubuh mbak Marissa ini. Malam ini akan kulepas status perjaka ting-ting
ku. ” Apapun yg terjadi Marissa … aku mohon lupakanlah suamimu untuk malam

ini …. anggaplah aku suamimu malam ini …. jadilah istriku malam ini Marissa …
“, bisikku semakin ngelantur terbawa oleh nafsu. ” Ja … jangan Ery ….”, bisiknya
semakin lemah. Aku tersenyum penuh kemenangan mendengarnya … I wanna
fuck you Marissa … and I wanna fuck you until you pregnant ….. Secepat kilat
kudekatkan mukaku ke wajah cantiknya … oh .. Esmeralda-ku … sekali lagi tidak
ada perlawanan sedikitpun ketika mulutku menyentuh bibir merahnya yang
terasa begitu hangat dan lunak. Mmmm …. Aku mulai mengulumnya sepenuh
perasaan .. menikmati kelembutan kedua belah bibirnya yang hangat.
Kedua hidung kami saling bersentuhan mesra. Dengusan nafasnya yang harum
sedikit memburu. Sejenak aku terbuai dalam alam kenikmatan yang baru
pertama kali ini kurasakan. Kukecup kedua belah bibirnya sebelah atas dan
bawah secara bergantian. Terasa ada balasan walaupun sedikit ragu. Aku tahu
mbak Marissa mengiginkan belaian dan cumbuan lelaki. Ketika lidahku yang
panas kujulurkan masuk kedalam mulutnya yang indah, akhirnya ia pun
membalasnya mengulum mesra penuh perasaan dengan kedua belah bibirnya
yang hangat lunak. Mmmmm …. terasa nikmat …. aku semakin terbuai ke alam
sorga … Sejenak kemudian kulepaskan kecupan dan cumbuan mulutku dari bibir
Marissa. Kupandangi wajah cantiknya yg kini kelihatan seolah semakin cantik,
tidak ada rona kemarahan di wajahnya, bibirnya yang basah sehabis kukulum
tadi kini tersenyum manis sekali …, kedua bola matanya yang indah kini
menatapku malu-malu.
Aku tersenyum penuh gairah … ” Jangan menyembunyikan keinginanmu yang
terpendam Marissa … aku tahu kau merindukan belaian laki-laki … kau butuh
pemuasan sex yg selama ini tidak pernah kau dapatkan … aku akan memuasimu
malam ini Marissa …”, ujarku perlahan sok tahu. ” K.. kau sudah gila Er …”,
sahutnya sambil tersenyum sedikit ragu. Duh .. cantiknya dia. ” Sudahlah sayang
….. Kita nikmati saja malam yang dingin ini …”, bisikku semakin edan.
Perlahan kurenggangkan pelukanku pada tubuh Marissa lalu kuangkat dan
kurebahkan tubuhnya yang montok seksi itu diatas karpet tebal miliknya itu
bersandarkan sebuah bantal untuk menyangga kepalanya. Rambutnya yang
panjang terurai kukecup mesra dan sekali lagi kukecup kembali bibirnya yang
indah menawan, kali ini Marissa membalasnya dengan kecupan yang tak kalah
mesra. Akhirnya kami berdua tertawa kecil menikmati suasana indah nan
romantis yang tak ternyana ini. Lalu aku berdiri dihadapan tubuh mbak Marissa
yang masih tergolek pasrah diatas karpet.
Wajahnya yang rupawan bak bidadari itu tersenyum kecil, kedua matanya
menatapku dalam-dalam seakan mengagumi ketampanan wajah dan tubuhku
yang atletis. Dengan perlahan tapi pasti jemari tanganku mulai membuka
kancing kemejaku satu persatu sampai terbuka lalu dengan cepat kulepas dan
kulempar sekenanya kebelakang. Marissa tersenyum geli melihatku. ” Aku tidak
menyangka sama sekali Er … kalo malam ini ada laki-laki yang telah begitu
beraninya telah menyentuh tubuhku … bahkan malah nekat hendak
menyetubuhiku … suamiku sendiri sudah lebih dari 4 tahun ini Er ….tak pernah
kuijinkan lagi menyentuh tubuhku …” ” Kenapa Marissa …?”, tanyaku heran,

sembari melepas kaos singletku. ” Aku tak mau disetubuhi laki-laki mandul …”,
ujarnya terdengar sedikit serius. Gilaaa …pikirku. Mungkin mbak Marissa ini
sudah kebelet ingin punya anak. Aku tersenyum. ” Saya bisa membuatmu hamil
Marissa … saya bisa memberimu keturunan …”, sahutku gemas.
Marissa tersenyum makin manis. Edaan … perasaanku wajahnya kelihatan makin
cantik saja. ” Baiklah … lakukanlah Ery … hamili aku …”, bisiknya penuh gairah.
” Siapa yg akan bertanggung jawab Marissa …”, tanyaku sedikit khawatir juga
kalo sampai membuatnya hamil dan ia akan menuntutku. ” Hamili saja aku Ery
… itu anakku dan suamiku … sejujurnya ia sendiri yg mengusulkan ide gila ini
setahun yg lalu … agar aku tidur dengan laki-laki yang kusukai …. hehhh … sejak
semula kurasa memang laki-laki itu kamu Ery …”, ujarnya semakin bergairah.
Waaah …. edan juga suaminya ini, bisa-bisanya dia menyuruh isterinya tidur
dengan pria lain hanya demi untuk sekedar mendapatkan anak… gilaaa … Aaaah
… sekali lagi what the hell …. Kini aku telah bertelanjang dada dan kulihat mbak
Marissa menatap kagum bentuk tubuhku yg atletis bahkan lenganku yang besar
kelihatan berurat karena terlalu banyak latihan beban yang berlebihan.
Dengan tak sabar segera kubuka sabuk celana dan ritsleting celana katun
coklatku. Lalu dengan cepat kuplorotkan kebawah sampai lepas dan kulempar
sekenanya kebelakang. Marissa tersenyum makin geli melihat tingkahku. ” Iiiihh
… kamu nafsu sekali Ery … hik…hik…”, katanya setengah tertawa kecil. Namun
sejenak kemudian wajahnya langsung memerah ketika celana dalamku mulai
kuplorotkan ke bawah sehingga batang penisku yang sudah sangat ngaceng
sepanjang 16,5 centi itu langsung mengacung keluar dengan gagahnya.
Wuuushhhhh …… toooiiing …..lalu manggut-manggut naik turun. ” Woowww …
hik ..hik .. “, Marissa memekik kecil melihat adik kandungku yang sangat perkasa
ini. Rruaar biaasaa …. ,kebetulan sudah sebulan ini aku tidak melakukan onani …
dan aku tidak bisa membayangkan sudah berapa banyak air maniku yang
tersimpan dalam kantung zakarku.
Tetapi yang jelas dari kebiasaan onaniku yang paling tidak seminggu sekali bisa
menyemburkan sampai 12 kali muncratan air mani atau mungkin sekitar 1 lepek
kecil. Jadi kalo sebulan yaa…. bayangin sendiri saja … Setengah malu-malu
Marissa menatap alat kejantananku yang sudah siap untuk mengoyak-oyak liang
kemaluannya. Aku jadi makin tambah ngaceng saja membayangkan enaknya
dijepit liang vagina mbak Marissa ini. ” Saya masih perjaka mbak ….”, bisikku
terus terang kepadanya. Mbak Marissa tersenyum setengah malu-malu. Kedua
pipinya masih bersemu merah. ” Mmm … aku tau Ery … aku percaya kamu
masih perjaka …”, sahut Marissa setengah serak. ” Mbak tau ….bagaimana?.. “,
tanyaku heran juga. Marissa hanya tersenyum kecil. ” Itu salah satu rahasia
wanita …dan tidak semua orang tahu Ery ..”, katanya lagi setengah menggoda. ”
Ajari saya bermain cinta mbak ….”, pintaku makin bernafsu.
Marissa tersenyum lebar lalu ia bangkit dari tidurnya dan berdiri sekitar 2 meter
dari hadapanku. ” Oke … aku akan membuatmu menyesal tidak melakukan hal
ini sejak dulu Ery … aku akan memberimu kenikmatan sorga dunia yang belum

pernah kamu rasakan sebelumnya ….mmmm …. Sekarang berbaringlah di
karpet Er … aku akan mengajarimu bermain cinta …mmm …”, sahutnya pelan
setengah berbisik, wajahnya yang cantik itu kini sekarang seolah ingin
menelanku. Wuuuiiiikkk … mendengar ucapannya yang tak kunyana dan sangat
merangsang itu batang penisku yang sudah ngaceng jadi semakin gerah tak
karuan … montang-manting tak bisa diam … urat-urat disekujur batang kontolku
itu sampai menyembul keluar semua, bahkan kepalanya yang sebesar sawo
manis itu sampai merah kepingin segera masuk ke sarang perawan eh …
Melihatku masih belum juga rebah, mbak Marissa jadi gemas ia maju selangkah
lalu dengan cepat ditamparnya alat vitalku yang sedang ngaceng cukup keras
…. Plokk … sebelum akhirnya ia mendorong tubuhku sampai rebah terlentang
diatas karpet. Pasrah … dan ngaceng …!!! ” Aawww … mbak … sakiit dong …”,
bisikku lemah seolah tak bertenaga melihat batang penisku yg baru ditamparnya
itu sampe merah dan montang-manting tak karuan.
Selanjutnya aku hanya bisa mendelik makin ngaceng melihat mbak Marissa
secara perlahan-lahan mulai membuka kancing gaun tidurnya sebelah atas.
Hanya 3 buah kancing ketika dengan gayanya yang menggairahkan ia mulai
melepas pelan-pelan dan begitu gaun itu terlepas dari pundaknya yang putih
mulus secepat itu pula gaunnya runtuh ke bawah …sruuttt …. ”
Woooowwww…..”, aku mendesah kaget lalu melongo terkagum-kagum
menyaksikan keindahan tubuhnya yang begitu putih bersih, mulus dan seksinya
luar biasa. Buah dadanya yang juga putih montok terlihat begitu sangat besar
tersembunyi dibalik BH mungilnya yg berwarna coklat susu. Seperti mau
meledak saja payudara mbak Marissa ini saking besarnya. Begitu montok dan
sama sekali tak terlihat kendor.
Aku tak sanggup membayangkan nikmatnya seandainya batang penisku
kujepitkan diantara kedua buah payudara raksasanya itu lalu kugesekkan
sampai air maniku keluar. Waaah … aku harus melakukannya nanti. 3 detik
kemudian dengan perlahan mbak Marissa mulai membuka tali pengait BH nya
diantara kedua kubah penutup gunung kembarnya itu dan sst … Mataku melotot
serasa hendak loncat keluar ketika secara nyata telah terpampang sudah dua
bulatan besar payudaranya setelah Bh nya dilepas. Ooooouuhh ….begitu besar,
begitu putih mulus, montok, kelihatan padat dengan kedua puting-puting
susunya yang berwarna coklat muda kemerahan. Indahnya …eemaaaakkk ….
Aku tak tahan dan sontak berdiri menghampiri tubuh mbak Marissa yang sudah
hampir telanjang bulat. Dengan cepat jemari kedua tanganku telah meraih dua
bulatan payudara montoknya kedalam genggamanku. Seakan kesetrum dan
seolah terasa begitu kecil jemari tanganku membelai dan mulai meremas kedua
buah dada mbak Marissa yang begitu padat dan kenyal itu. Sumpah … baru kali
ini aku memegang dan meremas buah dada seorang wanita Oohh. ….enaknya
…. ambooiiiii ….. Mbak Marissa yang tak menyangka aku akan berbuat begitu,
namun akhirnya ia hanya pasrah dan membiarkan kedua jemari tanganku
bermain-main, memegang dan meremas-remas dua gumpalan besar
payudaranya sepuasnya. ” Besar sekali mbak …”, bisikku seakan tak percaya

dengan penglihatanku saat ini. ” Hik…hik… kamu nakal sekali Ery … aawww …
pelan-pelan sayang ….mmmm …aawww …iiihhh … nafsu sekali kamu Er….
Aaawww ….hik..hik… mmm”, pekik mbak Marissa keenakan setiap jemari
tanganku dengan gemas memuntir dan meremas-remas kedua buah
payudaranya yang kiri dan kanan berulang kali. Tak puas sampai disitu
kudekatkan muka dan mulutku ke buah dadanya sebelah kanan lalu dengan
rakus mulutku mulai menghisap dan mengulum puting susunya dengan sepenuh
perasaan. Kupejamkan kedua mataku menikmati pengalaman pertama dalam
hidupku ini. Aku menyesal tidak melakukan hal seperti ini dari dulu-dulu. ”
Oooowww … Eryy … geli ahh …mmmm … aduuuhh … putingku jangan digigit
dong … awww ….iiihhhh …. nakal …mmmm …uuhhhh ….ih..geliii …”, pekik
Marissa kegelian. Jemari kedua tangannya kini mengerumasi rambut kepalaku
sampai awut-awutan, terkadang malah ditekannya kepalaku kedepan sampai
muka dan mulutku yang sedang menyusu sampai ikut tertekan menikmati
kelembutan dan kelunakan buah dadanya yang besar. Aku semakin bernafsu …
cepok …cepok ketika akhirnya secara bergantian mulutku mulai menghisap
puting payudaranya sebelah kiri dan dengan dibantu lidahku bibirku mulai
mengenyot dan menyusu buah dadanya itu dengan harapan air susunya keluar.
” Oowwww …. aduuuh ….Erryyy ….geliiii ..mmmmm ….aaahhhh …..iihhhhh
….mmmm ….aduuuuhh ..putingku sakit Eryyy …”, pekik mbak Marissa semakin
keras. Sementara aku sem
Makin asyik mengenyot dan menghisap puting-puting buah dada montoknya
secara bergantian dan sementara mbak Marissa semakin asyik merintih
keenakan ….. jemari kedua tanganku mulai bergerak menyusuri sekujur tubuh
mulusnya yang seksi, mulai dari punggungnya yang halus mulus terus bergerak
kebawah ke pinggulnya yang bulat aduhai begitu menggemaskan. Aku meremas
pelan … dan semakin lama semakin kuat saking gemasnya. Begitu kenyal dan
padat. Mulus lagi. Batang penisku yang ngaceng semakin menggila bergerak
naik turun makin cepat seperti piston, kurasakan sudah berkali-kali cairan
madziku menetes keluar menandakan sudah saatnya untuk melakukan
senggama. Namun jemari tanganku masih belum berhenti menjamah tubuh
mbak Marissa yang merangsang ini, dengan cepat jemari tangan kiriku
merambah kesela-sela pahanya yang terasa hangat dan lunak, kurasakan
sebuah lekukan kecil lubang duburnya yang sempit sekali, dengan gemas jari
telunjukku langsung kutusukkan memasuki lubang duburnya itu. Sekali tusuk
langsung ma
suk setengahnya …. Woww … begitu sempitnya dan rasanya panas sekali
telunjukku didalam situ. ” Aaawwww ……aduuuhhh … duburku sakiiit …Eryy …
aawww …”, pekik mbak Marissa kesakitan. Aku tak peduli, kini giliran jemari
tangan kananku yang merambah selangkangannya dari arah depan. Ooohhhhh
… sambil terus kukenyot dan kuhisap puting susunya sebelah kiri, kini kurasakan
jemari tanganku telah mengelus-elus bukit kemaluannya yang ternyata tidak
memiliki sehelai rambutpun. Aku agak heran juga sejak kapan mbak Marissa
melepas celana dalamnya but peduli setan. Bukit kemaluannya itu ternyata juga
cukup besar karena aku dapat menggenggamnya dengan seluruh telapak

tangan kananku. Terasa begitu lunak dan hangat dan saat jari tengahku
kuselipkan diantara labia mayoranya yang besar langsung kutusukkan pula
menembus liang vaginanya yang ternyata juga sangat sempit sekali. meskipun
aku sudah berusaha menekan namun kurasa yang masuk paling cuman 1,5 centi
saja. Astaga …. Sempit sekali ….. gimana penisku yang besar dan panjangnya
16,5 centi bisa masuk kalo sempit begini. ” Aaaawwwww …… aduuuuuhhh ….
sakiiiit Eryyy …..”, pekik mbak Marissa kesakitan.
Kucabut jariku dari liang vaginanya, akhirnya bukit kemaluannya hanya
kuremas-remas saja dengan perasaan gemas. Aku memang tidak ada
pengalaman secuilpun tentang senggama karena aku memang belum pernah
melakukannya, tetapi yg jelas aku harus bisa memasukkan batang penisku
sepanjang 16,5 centi ini sampai kandas kedalam liang vagina mbak Marissa.
Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, nafsu sex-ku sudah diubunubun dan aku ingin segera menyetubuhi mbak Marissa. Cepookk ….. Kulepaskan
mulutku dari puting-puting buah dadanya lalu dengan tak sabar segera
kupegang batang penisku yang sudah ngaceng nggak karuan lagi itu untuk
segera kumasukkan ke dalam liang vagina mbak Marissa. ” Aaah …. mbak …
ngghh …sudah nggak tahan nih …gimana caranya nih …”, pintaku bernafsu
setengah rada bloon juga. ” Iiiiih … kamu ini Er … jangan terlalu bernafsu begitu
sayang … nanti air manimu terlalu cepat keluar sayang … kamu bisa enjakulasi
dini …iiihh …hik..hik… penis sebesar itu lagian mana cukup masuk ke lubang
kemaluanku Er … hik …hik…”, bisik mbak Marissa sembari mengerling setengah
genit menggodaku. ” Aduuh …. mbak …udah nggak tahan nih …..”, pintaku lagi
setengah memohon. ” Iiiih …udah ah ….. penismu jangan dipegang-pegang gitu
… nanti isinya keluar lho ….hik..hik..” ” Ya …ampuun … mbak Marissa genit aah
….”, sahutku sembari menahan nafsu. ” Semua laki-laki itu memang sama …
kalo udah maunya … dasar laki-laki … sudah rebah sana …”, katanya sambil
mendorong tubuhku kembali rebah terlentang diatas karpet.
Begitu aku rebah tidur, mbak Marissa pun lalu mengikutiku dan lansung
mengangkangi tubuhku. Aku kembali terkagum-kagum menyaksikan keindahan
tubuh mulusnya yang sangat sempurna ini. Ooohhh … baru kulihat sekarang
bukit kemaluannya yang agak berwarna kecoklatan dibanding bagian tubuhnya
yang lain itu tampak besar membentuk sebuah bukit kecil indah dan
merangsang. Sebuah belahan memanjang vertikal yang membelah labia
mayoranya itu terlihat tebal dan tertutup rapat seolah menyembunyikan lubang
vaginanya yang sangat terlarang. Duh … merangsangnya bukit kemaluan milik
mbak Marissa ini. Tak tahan menyaksikan pemandangan indah itu jemari tangan
kananku mulai meremas batang penisku yang ngaceng lalu kuusap-usap pelan
dengan rasa nikmat sembari memandangi keindahan tubuhnya. Mbak Marissa
tersenyum kecil melihat ulahku, dengan gayanya yang aduhai, pantatnya yang
seksi dan bahenol itu langsung menduduki kedua belah pahaku. Aahhh …lututku
sampe gemetaran saking gugupnya merasakan kehalusan dan kemulusan kedua
bulatan pantatnya yang sangat merangsang birahi itu. ” Mbak … aahhh …”,
bibirku seolah ikut tergetar menyaksikan kesemua itu.

Seakan mimpi rasanya melihat seorang bidadari cantik bertelanjang bulat
dengan segala keindahan tubuhnya yang begitu sempurna kini malah
menduduki tubuhku. Marissa makin tersenyum manis melihatku bertambah
gugup. Dipegangnya tanganku yg masih menggenggam batang penisku yang
ngaceng lalu dengan mesra dibawanya kedadanya membelai kemontokan buah
dadanya yang besar menantang.
Tanpa dikomando kedua jemari tanganku langsung kembali bergerilya membelai
dan meremasi kedua buah payudara montoknya dengan gemas. Begitu kenyal
dan padat. ” Er …. sebelum kita bersetubuh ada syarat yg harus kamu penuhi
dulu …”, bisiknya mesra padaku. ” Apapun itu mbak … akan saya kerjakan ….”,
sahutku pasrah. ” Mmm …. kau harus memuasiku lebih dulu Er … maksudku aku
ingin kamu mencumbu …. mmm … kemaluanku dulu … aahhh …”, bisiknya malu
dan setengah ragu. ” Katakanlah mbak … pasti akan saya lakukan …”, ujarku
semakin bernafsu, agak heran juga hatiku mendengar permintaannya yg
menantang itu. ” Ngghh … dulu mbak selalu melakukannya bersama suami …
nggh..”, katanya lagi setengah ragu. ” Katakanlah mbak … jangan kuatir … pasti
Ery lakukan …apa itu mbak ….?” ” Mmmm … Ery kamu mau khan meminum
cairan kemaluanku …”, katanya lalu menunduk malu.
Aku tersenyum menahan geli mendengar pengakuan polosnya itu, aku pikir
mbak Marissa ini ada sedikit kelainan sex juga. Ada-ada saja. Masa aku disuruh
minum cairan lendir orgasmenya … jangankan setetes dua tetes … satu
gelaspun akan kuminum dengan senang hati seandainya mbak Marissa bisa
mengeluarkan sebanyak itu. ” Saya mau sekali mbak …..”, kataku penuh gairah.
Marissa tersenyum manis walaupun kutahu ia sedikit malu juga harus berterus
terang seperti itu. ” Makasih Ery ….”, katanya pelan setengah berbisik. Sejenak
lalu diangkatnya tubuhnya kembali, pinggul dan kedua paha mulusnya yang
sejak tadi duduk mengangkangiku kini dengan cepat bergerak menuju ke
arahku. Aku begitu takjub dan kagum menyaksikan keindahan bukit kemaluan
miliknya yang besar dengan lekukan labia mayoranya yang merangsang. Tidak
ada sama sekali gelambir kecil yg biasa sering kulihat pada film2 porno
menandakan mbak Marissa ini jarang sekali bersenggama.
Bahkan labia mayoranya yang besar dan tebal itu selain mulus karena bulu
kemaluannya telah dicukur habis, ternyata masih menutup rapat satu sama lain
menyembunyikan clitoris dan lubang vaginanya. Bau alat kemaluan milik mbak
Marissa terasa mulai menusuk hidungku begitu kedua paha mulusnya dengan
cepat telah berada diatas mukaku dan mengangkangiku. Alamak …..alat vitalku
semakin ngaceng saja melihatnya. ” Mmmmm …. bau kemaluanmu enak sekali
Marissa …”, bisikku setengah serak. Aku tak bisa melihat wajahnya karena
mukaku sudah hampir tertutup dengan bukit kemaluannya yg besar. Hanya
kurang dari 10 centi jaraknya dari mukaku ketika akhirnya kudengar ia berkata.
” Ery …. cumbui clitorisnya sampai cairanku keluar sayang …”, bisiknya pelan
terdengar bernafsu. Habis berkata begitu tiba-tiba saja pandanganku menjadi
gelap, mukaku seakan tertimpa sebuah daging hangat dan lunak. Mmmbbfff …
mbak Marissa telah menekankan seluruh bukit kemaluannya yang montok itu ke

mukaku. Semula digesek-gesekkannya seluruh bukit kemaluannya yang empuk
itu ke mukaku. Bau alat kemaluannya itu terasa menyengat namun entah
mengapa aku begitu menyukai bau khasnya itu.
Hidungku yang terselip diantara belahan labia mayoranya menggesek clitoris
dan celah vaginanya yang mulai sedikit basah. Mulut dan lidahku tak mau kalah
mulai ikut mengecup, mencumbu dan menghisap nikmat bibir-bibir kemaluannya
yg tebal. Begitu empuk dan lunak. Gemas rasanya lidah dan mulutku menjilat
dan menghisap daging terlarangnya itu. Kupejamkan kedua mataku menikmati
pengalaman indah pertamaku ini, mencumbu bagian terlarang bidadari cantikku
ini. Kuremas lembut kedua belahan pantat mbak Marissa yg menduduki
pundakku. Aku kira mbak Marissa begitu sangat menikmatinya. Berulang kali
mulutnya memekik kecil lalu mengerang panjang keenakan sambil
menggeliatkan pinggulnya memutar menikmati jilatan dan sedotan mulutku
pada bibir-bibir kemaluan dan clitorisnya. ” Oouuh yaahh …Ery …. ooouuhh …
yaahhh … terus sayang …. ouuuuhh yaaaahhh …mmmm ….Eryyyy …. uuhhhhhh
…nikmatnya ….nngggghhhh …” Cukup lama sekali kukira aku mencumbu alat
kelaminnya itu, mungkin sekitar 10-15 menitan, sampai akhirnya saat kuhisap
dan kugigit gemas daging clitorisnya yang sebesar kacang tanah itu tiba-tiba
mbak Marissa mengangkat pinggulnya keatas. ” Eryyyyy …. buka mulutmu
sayang …aduuuuhhhh … aku mau keluar sayang ….. uuuuuhhhh ……
oouuuuuugghhhh …..”, pekiknya keras.
Rupanya mbak Marissa sudah hampir sampe ke puncak orgasmenya. Sambil
pinggulnya diangkat, jemari tangan kirinya menyibakkan bibir labia mayoranya
yg sudah basah habis kujilati sedang jari telunjuk kanannya menggosok-gosok
daging clitorisnya dengan cepat. Dapat kulihat jelas dari jarak sekitar 10 centi
liang vaginanya yg mungil dan sudah basah itu sedikit membuka. Melihat
pemandangan merangsang itu segera kubuka mulutku lebar-lebar menunggu
cairan orgasme tumpah keluar.
Dan 5 detik kemudian ….. Pruutt …… cpruuutttt …….. Wow …. Tiba-tiba saja
beberapa semprotan bening dari liang kemaluan mbak Marissa tumpah keluar
langsung nyelonong masuk ke dalam mulutku … mmmm ada rasa asin, amis dan
gurih bercampur jadi satu … langsung kutelan nikmat semuanya. Baru sekali ini
aku melihat seorang wanita juga mampu menyemburkan cairan orgasme. Mbak
Marissa mengerang dan merintih panjang menikmati puncak orgasmenya.
Pinggulnya yang seksi aduhai sampai menggeliat-geliat hebat saking enaknya.
Wuuffff ….. indah sekali. ” Nnnggggggggggggghhhh
…….uuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhh”
Kudekatkan mulutku ke lubang kemaluannya yg masih meneteskan cairan
kenikmatannya itu …. Kuhisap dan kusedot sekuatnya sampai kurasakan tidak
ada sisa lagi cairan yg keluar. Lidahku mengecap sedap menikmati lendir
orgasme mbak Marissa sebelum akhirnya kutelan habis. ” Uuuuuuhhhh … Eryyyy
…. oouhhh …. makasih sayang ….uuuhhh ..nikmatnya tadi sayang …”, bisik
mbak Marissa letih setelah orgasmenya berakhir. Kedua belah pantatnya
dihempaskan ke dadaku yang bidang. Lemas.

Kini dapat kulihat kembali wajah cantiknya yang tampak berkeringat basah.
Namun rona-rona kepuasan dan kebahagian terpancar diwajahnya. Sejenak
kubiarkan ia mengatur nafasnya yang sedikit memburu. Kubelai-belai mesra
kedua pahanya yang putih mulus sembari kupandangi alat kemaluannya yg kini
tampak semakin merangsang sehabis orgasme. Uh … aku sudah tak sabar ingin
segera merasakan jepitan liang vaginanya. Seakan mengerti mbak Marissa lalu
menggeser tubuhnya kebawah tubuhku kembali. Wuuiiih … enak rasanya saat
kulit dada dan perutku bergesekan dengan kedua paha mulusnya itu. ” Mmmm
… Er kamu siap kehilangan keperjakaanmu sayang …”, bisik mbak Marissa
lembut. Wajahnya yang cantik itu nampak sedikit berkeringat. Dan ouuuuhh …
aku merintih nikmat dan seakan tak percaya ketika dengan penuh kelembutan
jemari lentik mbak Marissa yang halus itu lalu memegang sembari memberi
sedikit remasan gemas pada batang penisku yang sudah ‘over ngaceng’ dan
membawanya ke celah bukit kemaluannya yang sangat merangsang birahi
kelelakianku. Ooouhhh … aku kembali meremas-remas dan memuntir gemas
kedua buah dadanya yang montok dan kenyal itu sambil berbisik dalam hati. ”
Selamat tinggal perjaka …….”. Ooouuhhh… remasan jemari tangannya membuat
air madziku langsung mengalir deras keluar membasahi kepala penisku namun
tiba-tiba dengan cepat, jari telunjuk tangan kirinya seolah membendung aliran
air madziku yg kental itu sampai menempel di jari telunjuknya. Aku merintih
nikmat.
Mbak Marissa tersenyum manis lalu membawa jari telunjuk kirinya yang sudah
basah oleh cairan madziku yg kental itu ke mulutnya dan sambil memejamkan
mata seolah begitu menikmati, mulut dan bibirnya mulai menghisap nikmat
cairan kentalku yang menempel di jari telunjuknya. Astagaaa …. Aku
terperangah melihat tingkahnya yg menggemaskan itu …… ” Oouuhh …
Marissaa … perjakai aku sekarang ….. oouhh …”, bisikku gemetar tak kuat
menahan nafsu. Mbak Marissa membuka kedua belah matanya kembali sambil
tersenyum manis memamerkan deretan gigi putihnya. Duh … begitu indah bibir
merahnya yg menggemaskan itu. ” Aahhh …”, aku kembali merintih nikmat
ketika Marissa kembali meremas batang penisku. ” Alat vitalmu besar sekali Er
….”, bisiknya lembut, lalu kemudian mbak Marissa mengangkat pinggulnya
keatas dan sedikit digeser keatas pinggangku sehingga bukit kemaluannya yang
besar merangsang itu tepat berada diatas batang penisku yang ngaceng.
Perlahan lalu ditempelkannya kepala penisku ke belahan bukit kemaluannya dan
diselipkan disitu. Uuuhhhh … begitu lunak dan hangat, jemari kedua kakiku
seakan gemetaran menyaksikan pemandangan indah ini, sembari terus diremasremas dan dikocok perlahan batang penisku yang ngaceng mbak Marissa mulai
menurunkan pinggulnya kebawah dan sleppss … kurasakan ujung kepala
penisku mulai memasuki sebuah lubang sempit diantara dua bibir labia
mayoranya …. ” Uuuugghh …”, bibirku tanpa terasa bergetar menahan sejuta
rasa. ” Mmmmm ….uuhhh … iihh ….besar sekali penismu Er …aww ..”, rintih
mbak Marissa sedikit kesakitan ketika secara perlahan-lahan kulihat kepala
penisku yang sebesar sawo manis itu mulai tenggelam menembus ke dalam
liang vaginanya.

” Aaahhhh ….Marissa ….ooouuhhhh”. Aku mengerang merasakan kenikmatan
saat liang vaginanya menjepit begitu ketat kepala penisku yg besar. Seakan
diremas dan diurut oleh daging hangatnya yang lunak itu. ” Aaahhhh terus mbak
… perjakai aku ….ouuuhh …teruss ..yaaahhh …eenaaknya Marissa …oouuhh
….”. Aku menggeliat keenakan. Kupejamkan kedua mataku menikmati sensasi
sex yang baru pertama kali kurasakan ini. ” Oowww … Ery …..oouuhh …besar
sekali sayang …mmmmhhff ….woowwww …..”, rintih mbak Marissa sembari
kurasakan ia terus menekan pinggulnya kebawah. Seakan tiada hambatan dan
begitu lancar selain rasa ketat dan hangat yang kurasakan pada separuh batang
penisku yang telah berhasil memasuki lubang vaginanya.
” Aaaahhhh …. terus Marissa ….. aaaaahhhh …”, pekikku semakin keenakan. Mili
demi mili kurasakan lubang ketat vaginanya semakin dalam menjepit batang
penisku. Seakan mencengkeram hebat saking sempitnya. Sekujur tubuhku
seolah gemetaran menikmati sensasi sex ini. Kukonsentrasikan seluruh perasaan
nikmatku pada jepitan hangat lubang kemaluan mbak Marissa yang secara terus
menerus mili demi mili menenggelamkan seluruh alat vitalku. ” Uuuuuuh …..
mmmm … alat vitalmu keras sekali Er …. uuuuh…….” Akhirnya dengan satu
hentakan kuat ….amblas sudah seluruh batang alat vitalku tenggelam kedalam
liang vaginanya yang sangat ketat dan hangat. Selesai sudah penetrasi
pertamaku ini … dan hilang sudah keperjakaanku …mbak Marissa telah
merenggutnya dariku …. Aku merintih nikmat merasakan batang penisku
sepanjang 16,5 centi itu terjepit begitu hebat …. Seakan diremas, diurut dan
dikenyot oleh daging lubang vaginanya yang hangat. ” Woooowww …. Luar biasa
sekali Er … penismu benar-benar besar dan panjang sekali sayang …. Uuuuh … ”
” Ooouuhhh …. Marissa ….nikmaat sekali ….. aaaahhhhh …….”, erangku
keenakan. Lutut dan sekujur kakiku sampai gemetaran menahan rasa nikmat yg
baru pertama kali ini kurasakan. Aku benar-benar tidak menyangka jepitan
hangat liang vagina milik mbak Marissa ini sampai membuat jiwaku seakan
melayang-layang ke awang-awang. ” Mmmmm … kamu sudah bukan perjaka
lagi Ery … “,bisiknya lembut sambil dielusnya pipiku mesra. ” M…mbak …..”,
bisikku gemetar keenakan.
” Nggak pa-pa Ery …. wajar untuk pertama kali … mungkin air manimu akan
cepat keluar … mmm …kenapa sayang … sempit yaaa …lubang vagina mbak …
hik..hik …”, bisiknya mesra setengah menggoda. Aku tak sanggup menjawab lagi
selain hanya meram melek keenakan. Sambil setengah tertawa kecil
direbahkannya tubuh bugilnya ke badanku sehingga kedua buah dadanya yang
sebesar melon itu menekan dan menempel ketat di dadaku yang bidang.
Uugghhh …. Nikmat sekali rasanya. Kupeluk gemas tubuhnya yang mulus dan
montok itu. Wajahnya yang cantik menunduk ke arahku dan sejenak kemudian
kami berdua kembali asyik saling bercumbu bibir. Sementara itu kurasakan
kedua paha mulusnya yang mengangkangiku kini menjepit pinggangku dengan
ketat.
Aku menggelinjang keenakan merasakan otot-otot daging vaginanya yang
menjepit batang penisku seakan memlintir dan meremas begitu ketat.
Kupejamkan kedua mataku dan sejenak kemudian kurasakan pinggulnya mulai

bergerak turun naik menyetubuhiku. ” Aaahhhh …. ” Aku mengerang-erang
keenakan diantara cumbuan bibir mbak Marissa saat liang vaginanya yang
sempit dan hangat itu mulai menggesek batang penisku keluar masuk.
Woooowwwww ….. rasanya membuat badanku adem panas saking
ueeeenaknya. ” Ooouuuhh …. Marissa …….ooouuuuuhhhh …..yaaaaahhh ……
ooouuuuhh..”, erangku nikmat. Begitu hebatnya mbak Marissa menggoyang
pinggul turun naik tanpa mengenal lelah sedikitpun … Menit demi menit berlalu
… waktu serasa begitu panjang dan lama sekali. Kami berdua bercumbu mesra
sembari saling mendesah keenakan menikmati pergesekan luarbiasa pada alat
kelamin kami yang telah menyatu.
Entah sudah tak terhitung berapa puluh kali liang vagina mbak Marissa
menggesek keluar masuk batang penisku yang seolah telah luluh lantak …
dijepit, diremas, dipilin-pilin dan dikenyot seperti permen. Begitu hebatnya
pinggul mbak Marissa bergerak naik turun menghunjam-hunjamkan seluruh alat
vitalku sepanjang 16,5 centi itu ke dalam lubang kemaluannya. Terkadang cepat
… terkadang begitu lambat …. bahkan terkadang digerakkan memutar dari kiri
ke kanan dan sebaliknya membuat batang penisku seolah diplintir-plintir tak
karuan. ” Nnnggghhhh. ….Marissa…..ooouuuuuhhhh ……nikmaat sekali ……
aahhh…” ” Uuuhhh …. Eryy …nnnnggghhhh … ” Semakin lama mbak Marissa
bergerak semakin cepat menaik turunkan pinggulnya membuat alat vitalku
semakin hebat menggesek keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya. Buah
zakarku sampai terguncang-guncang saking kuatnya mbak Merisa menghentak
kebawah. Aku merasa tak ada lagi batang penisku yang tersisa diluar karena
begitu mbak Marissa menghentakkan pinggulnya kebawah seluruh batang
penisku serasa dicengkeram hebat oleh daging hangatnya sampai kandas.
Jiwaku seakan berkelojotan merasakan nikmatnya senggama yg sangat luar
biasa ini. Sambil saling berpelukan erat kurasakan mbak Marissa merintih dan
mengerang semakin keras. ” Oooooouuuuuuhhhh ….Eryyyy …..
oooouuuuuuuhhhhh …… oouuuuuuhhhhhh….” Aku menduga mbak Marissa
sebentar lagi akan orgasme ….. wooooowwwww ……. Benar saja…. Semenit
kemudian kurasakan otot-otot daging vaginanya tiba-tiba menjepit alat vitalku
dua kali lebih hebat membuatku sampe merem melek keenakan. Sekujur
tubuhku sampe gemetaran menahan rasa nikmat yang tak terkira. Setengah
menit kemudian tiba-tiba tubuh mbak Marissa terasa kaku dan kedua pahanya
yang mulus itu diluruskan kesamping kiri dan kanan sambil mengejan kuat
berulang kali. Aku sendiri ikut-ikutan kelojotan seperti cacing kepanasan
merasakan liang vaginanya bagaikan mesin penjepit yg luar biasa kuatnya …
seakan diremas-remas dan dikenyot habis-habisan alat vitalku yang sudah ‘over
heat’ itu. Mbak Marissa mengerang panjang sambil mengejan-ngejan nikmat
berulang-ulang … sejenak kemudian kurasakan seluruh batang penisku seperti
disiram cairan hangat banyak sekali. Wooowwww … ambooi rasanya. ”
Ooouuhhhh Eryyyyy ….. oooouuuuuhhhhhh ……….”, pekiknya nikmat di puncak
orgasme keduanya.

Beberapa detik kemudian mbak Marissa akhirnya terdiam kelelahan. Lubang
kemaluannya masih menjepit batang penisku sampai kandas. Panas rasanya alat
vitalku dijepit dan digesek seperti tadi. Kupeluk dan kubelai mesra pinggang dan
punggungnya yang putih mulus menetramkan perasaannya yg baru terpuaskan.
” Kau puas Marissaku …..”, bisikku penuh kasih sayang. Ia mengangkat
wajahnya yang tampak basah berkeringat dan letih. Bibirnya yang merah
tersenyum manis penuh kepuasan yg tak terkira. ” Ery …. oohh ….. kau kuat
sekali Ery …. kamu sendiri belum juga keluar sayang …ohhh ….kau hebat Ery …
mmm .. cupp …cuppp ..”, katanya pelan sambil mengecup bibirku penuh
kemesraan. Aku tersenyum bangga, aku sendiri juga tak mengira dapat
mengimbangi bahkan lebih tahan lama saat bersenggama dengannya tadi.
Padahal jepitan dan gesekan liang vaginanya luar biasa ketat dan nikmatnya. ”
Fiiiuuhhh .. Marissa …. ulangi seperti tadi lagi … biar kusemprotkan air maniku
ke lubang kemaluan … mmbbfff..”. Mbak Marissa membungkam mulutku yg
ngeres itu dengan jemarinya yang lentik. ” Iiiiihh …. Kamu Ery …..ngomongnya
kok kotor begitu …?”, katanya protes. ” Eee … tadi mbak Marissa khan juga
ngomong jorok …”, sahutku juga protes. ” Masa iya …sayang …”, bisiknya tak
percaya.
Kami berdua ketawa cekikikan sampe akhirnya mbak Marissa kembali
menggoyang pinggulnya turun naik menyetubuhiku. Menghunjam-hunjamkan
kembali seluruh batang alat vitalku ke dalam liang vaginanya yang hangat dan
sempit. Aku kembali merem melek dan mengerang-erang keenakan. Sebaliknya
mbak Marissa yg sudah terpuaskan kini hanya tersenyum sambil memandangiku
yg sedang mendesah nikmat. ” Uuuuhh .. Ery … keras dan panjang sekali
penismu sayang ….uuuuhhhh …. ayo sayang … keluarkan air manimu ….uuuuhh
…..”, bisiknya penuh gairah nafsu. Aku masih sempat tersenyum geli diantara
desah kenikmatanku mendengar ucapannya. ” Aaaahh … Marissa-ku ……teruss
…sayang ….ooohhhgg ….aaaahhh …..yaaaahhh ….. terus … Marissa-ku …
mmmm ….oouuhhhgg … nikmat sekali sayang ….mmm”, erangku keenakan.
Begitu sabar dan hebatnya mbak Marissa menggoyangkan pinggulnya naik turun
memuaskan nafsu kelelakianku yang belum tuntas. Digoyangkannya pinggulnya
kekiri dan kekanan sambil dibawa turun naik membuat alat vitalku seakan
dihisap, dibetot, dikenyot dan diplintir-plintir hebat oleh liang vaginanya itu.
Uughh ….. Aku menggeram menahan rasa nikmat dan kurasakan juga akhirnya
air maniku yg mulai bergerak naik hendak muncrat keluar. Sekujur tubuhku yang
sedang disetubuhinya mulai menggelepar pertanda puncak kenikmatan
enjakulasi sudah dekat. ” Oooouuuhh ….. terus Marissa-ku …. yaaahhh …. sedikit
lagi sayang …ngggggghhh ….ooooouuhhhh …. yaaahh … Marissa-ku …. k..kau
hebaat sayang …nggghh ..yaaahh ….sedikit lagi air maniku kek …ke …luar
sayang ….ooouuuhhhh ……” Mbak Marissa semakin bersemangat melihatku
mulai hendak enjakulasi, pinggulnya digerakkan semakin ganas naik turun
sambil digoyangkan memutar seolah hendak memlintir dan memerah alat
vitalku yang sudah hendak muncrat.

Begitu hebatnya jepitan liang vaginanya mengocok batang penisku sampaisampai aku sendiri tak sanggup menanggung rasa nikmatnya yang sangat
luarbiasa. ” Uuuuuhh ….ayo Ery ….. keluarkan air manimu sayang ….uuhhhh
….”, bisiknya genit sambil sesekali mengecup bibirku gemas. ” Ooouhhh …
yaaaahhhh ….. mau keluar nih Marissaa ….aaaaahhhhh ……”, teriakku keras
sekali. Segera kupeluk erat pinggul montok aduhai-nya yg masih terus bergerak
turun naik menyetubuhiku lalu secepat kilat segera kugulingkan tubuhnya
kesamping sehingga kini gantian badanku yang menindih tubuh montoknya.
Mbak Marissa memekik kecil kaget melihatku begitu perkasa dan ganti
menindihnya, dengan mesra kedua pahanya yang sangat mulus itu diangkat
keatas dan menjepit pinggangku kuat. Seluruh batang penisku seakan tertancap
kandas kedalam lubang kemaluannya yang masih menjepit dengan hebatnya. ”
Uuuuhhhh kau kuat sekali Er ….mmm ….benar-benar laki-laki idaman …uuuuuw
…”, bisiknya manja.
Mbak Marissa tidak tau kalo air maniku sebenarnya sudah berada dileher kepala
penisku siap untuk kusemburkan keluar, namun aku sengaja masih menahannya
sejenak sekuat tenaga. ” Aaaahhh …Marissa-ku sayang …. kau ingin anak laki
atau perempuan …?”, bisikku gemas menahan rasa nikmat. ” Iiiihhhh …. hik …
hik … kau ini ngomong apa sih …. mmmm …. laki-laki saja Ery sayang …. supaya
tampan seperti kamu …mmm..”, bisiknya mesra. Aku mendelik nikmat saat tibatiba kurasakan liang vaginanya sedikit menyempit, alat vitalku yang sedang
diujung enjakulasi itu langsung collaps … Dan Craatttttt …….. ”
Aaaaaaaaaaaagggghhhh ………..”. Aku menggeram nikmat ke puncak enjakulasi.
Kukecup bibir mbak Marissa lembut lalu bersamaan dengan itu mulai
kusemburkan air maniku ke dalam lubang kemaluannya yang menjepit nakal
batang penisku itu.
Mbak Marissa memekik kaget saat dirasakannya air maniku menembak dengan
kuat ke dalam rahimnya yang sangat terlarang. Kedua jemari tangannya
langsung mengusap-usap dan meremas-remas pantatku agar aku lebih nikmat
memuntahkan air mani kedalam lubang kemaluannya. Craaattt ….. cruuuuutttt
……. Cratttt ………. Crruutttt…….. cruuuuutttttt …….. Semburan demi semburan
kuat air maniku mulai keluar memenuhi liang vagina mbak Marissa. Sungguh tak
terperikan rasa nikmat yg kurasakan. Jiwaku seakan ditarik keatas awang-awang
terbang ke dalam sorga kenikmatan yang luar biasa. ” Ooowww ….Eryy … iiihhh
…. ooowww ……banyak sekali sayang … mmmm ….uuuuuhhh …terus sayang
….mmmm …. aaahhh kental sekali air manimu sayang ….mmmmm …”, bisiknya
penuh gairah. Gantian kini pinggulku yang kugerakkan turun naik menyetubuhi
mbak Marissa.
Kuhunjam-hunjamkan secara perlahan alat vitalku yang sedang enjakulasi
kedalam lubang kemaluannya yang hangat dan sempit. ” Oouuhh…. Marissa-ku
……nggghhhhhggghhh …. nikmatnya sayang …ngggggghh…..”, erangku
melepas rasa nikmat yang tak terkira. Begitu hebatnya liang vagina mbak
Marissa menjepit alat vitalku … memerah air maniku yang terus menyemburnyembur tak henti-hentinya. Saking banyaknya air maniku yang keluar sampai
pergesekan batang penisku dengan liang vaginanya jadi bertambah licin dan

mantap. Kukecup dan kukulum bibirnya yang merahnya sepenuh perasaan. ”
Nnnnghh … Ery … banyak sekali air manimu sayang … uuhhh … yaaahhh …
terus sayang … uuhhh … semburkan lagi sayang …. uuuhh ….”, bisiknya manja
menikmati tubuhnya yang sedang kusemai dengan bibit-bibit calon manusia itu.
” Oouuuuhhhh ……. Marissaa ……”, keluhku nikmat merasakan alat vitalku
masih juga terus menyemburkan air mani. Crreeetttttt …..crrretttttttt………..c
retttrrrrt …………
Aku tak tahu lagi sudah berapa semburan yang kutumpahkan kedalam liang
rahimnya, yang kurasakan hanyalah betapa kenikmatan yg sedang melanda
tubuhku itu seakan membuat jiwaku seakan ringan saja terbang ke atas sorga.
Secara teratur dengan ritme tetap aku masih menaik turunkan pinggulku terus
menyetubuhi mbak Marissa. Begitu nikmat mengeluar masukkan alat vitalku
yang masih memuntahkan cairan sperma itu menggesek daging liang
vaginanya. Begitu ketatnya lubang kemaluan mbak Marissa mengocok-ocok
batang penisku dan menyedot spermaku keluar. ” Ooouuhhh … sudah .. Marissa
sayaang … air maniku jangan disedot lagi ….”, bisikku ditelinganya sembari
meringis nikmat. Marissa ketawa cekikikan … ” Iiiihhh …. nakal .. siapa yang
nyedot … penismu aja yang ngocor terus …hik ….hik … uuuuhh … banyak sekali
sih Er …. hik..hik… kamu minum apa sayang bisa sebanyak ini …”, sahutnya
manja. ” Sperma Tarzan …..”, ujarku sekenanya. ” Iiiiihh …. jorok aahh …. hik
..hik …”, pekiknya kaget. Akhirnya kurasakan ludes juga air maniku disedot
lubang kemaluan mbak Marissa.
Namun pinggulku masih terus bergerak turun naik menyetubuhinya seakan tiada
rasa puas dalam hatiku untuk terus menggeluti tubuh mbak Marissa yang
montok dan bahenol ini. Ia sampai merintih-rintih kecil melihatku seolah semakin
bertambah ganas mengeluar masukkan alat vitalku yang masih over voltage
menggesek liang vaginanya sampai kandas. ” Aduuh …. Ery … sudah ah ….
berhenti dong …. masih belum puas juga sih … mbak bisa pingsan nih ..
kecapekan ..hik …hik ..”, keluhnya manja. Enjakulasiku berakhir sudah. Begitu
luar biasa nikmatnya. Perasaanku sekarang seolah begitu ringan. Seolah tiada
beban. Begitu tentram dan damai. ” Nnnnngghhhh ….. Marissaku …. Isteriku ….
nnnggghh ….pinggulku nggak bisa berhenti nih …. remnya blong ….”, bisikku
gemas. ” Iiiiihhhh …. Ery …. sudah ah ….hik …hik …. nakal sekali kamu sayang
…. aduuh … kemaluanku sakiit Er …”, rintihnya kesakitan. Jemari tangannya
dengan gemas mencubit pantatku yang masih bergerak turun naik
menyetubuhinya. ” Eryyyyy ….. udah dong …. hik …hik … aawwww ….. sakit
sayang …. jangan cepat-cepat masukinnya sayang …. aaawwww …”. Mbak
Marissa semakin merintih kesakitan. Aku tak peduli karena aku semakin gemas
dan bernafsu mendengar rintihannya yang merangsang itu. Entah kenapa aku
merasa ada sesuatu yang kurang lengkap dalam tubuhku.
Alat vitalku terasa masih sedikit gatal-gatal dan masih ngaceng seolah masih
menyimpan keinginan yang terpendam. ” Aduuuhh … Eryyy …. iiiiihhhh … udah
ah sayang …. nnggggghhhhhhh ….”, bisiknya lirih. Namun diakhir ucapanya itu
aku merasa mbak Marissa mulai merasakan kenikmatan lagi. Mmmmm …. Aku

semakin bersemangat menggoyangkan pinggulku yang sebenarnya sudah ‘letoy’
itu turun naik dengan mantap. Bagaimanapun aku juga tak ingin terlalu terbawa
ego-ku sendiri. Kuatur gerakan pinggulku turun naik dengan kecepatan sedang
sehingga hunjaman alat vitalku ke dalam lubang kemaluannya yang sempit itu
tidak terlalu membuatnya sakit namun sebaliknya memberinya rasa nikmat. ”
Marissa-ku … air maniku mau keluar lagi ni ….”, bisikku mulai merasakan
kenikmatan senggama itu kembali. ” Ooouuhhh … Ery …. k …kau luar biasa
sayang …. nnnggngggghhh … terus sayang … jangan berhenti ….oouuhhh ….”,
bisiknya sembari menikmati genjotan alat vitalku yang mulai menggelitik
clitorisnya ke sorga kenikmatan. Kedua pahanya yang mulus kembali menjepit
pinggangku erat.
Kedua tangannya memeluk tubuhku mesra dan jemari tangannya mengelus
mesra punggungku yang berkeringat basah. Bagaikan seekor kuda liar tanpa
mengenal lelah sedikitpun aku terus menggoyang pinggul turun naik
menyenggamai bidadari cantik mbak Marissa. Begitu nikmat dadaku yang
bidang menindih kedua bulatan payudara raksasanya yang kenyal dan padat itu.
Kedua puting susunya terasa keras dan runcing menusuk kulit dadaku. Geli-geli
rasanya. Kami saling bercumbu bibir sembari menikmati rasa nikmat pergesekan
alat kelamin kami yang saling beradu untuk mencari kenikmatan sorga dunia. ”
Eryyy …aahh …cupp …cuppp … oouuhhhh …. terus sayang ..jangan berhenti ….
sedikit lagi ….ooouhhh…. yaaahh …nggggghhh …..ooowwww …”, rintih mbak
Marissa nikmat. Akupun demikian, aku mulai merasakan kenikmatan sex yang
luar biasa. Dan kali ini ternyata berlangsung begitu lama. Mungkin sekitar
setengah jam-an lebih karena kami berdua sudah sama-sama terpuaskan tadi,
tetapi justeru terasa jauh lebih nikmat. Kami berdua bisa sama-sama
berkonsentrasi dan merasakan secara lebih mendalam dan lebih menjiwai
persenggamaan ini.
Setiap mili alat kelamin kami saling menggesek, kami bisa merasakan nikmatnya
itu sampai ke tulang sumsum. Sehingga tidak heran kalo persenggamaan ini
berlangsung sangat lama, karena mbak Marissa semakin keenakan bila alat
vitalku kukeluar masukkan secara perlahan kedalam liang vaginanya. Ia sampai
melenguh panjang keenakan ketika kubenamkan secara perlahan batang
penisku kedalam lubang kemaluannya sampai kandas, begitu pula ketika kutarik
batang penisku itu pelan-pelan keluar dari lubang kemaluannya sampai-sampai
ia menggigit pundakku karena gemas. ” Aaahhh … Eryyyy …. nnggghhh ….
nikmaatnya sayang …. terus sayang ….ulangi lagi …..aaaahh …..uuuuhhhh ……
yyaaaaahhhh ..mmmm …”, rintihnya. ” Marissa-ku …aaahhh … kita keluarkan
sama-sama ……”, bisikku menahan rasa nikmat yang sudah mulai memuncak. ”
Nnnggghhh …. i..iyaaa…. sayang …. aaahhh ….aku sudah mau keluar …nggghhh
…..lekas Eryyyyy …..”, bisik mbak Marissa ke telingaku ketika dirasakannya
puncak orgasmenya sudah sampai. ” Aaaaahh ….tung .. gu sebentar Marissa
…….eegggghhh …..aaaaaaahhhhhh …. ayo Marissaa …sekaraaaannggggg ……”,
erangku nikmat ketika enjakulasi-pun akhirnya terpuaskan untuk kedua kalinya.
Kali ini agak

kupercepat goyangan pinggulku agar alat vitalku dapat menggesek liang
vaginanya lebih hebat, sehingga puncak kepuasan sex itu lebih terasa nikmat.
Dan …sambil berpelukan mesra, akhirnya kami berdua saling mengerang-erang
dan menggeliat-geliat melepas puncak kenikmatan itu bersama-sama. Tubuh
kami berdua saling mengejan saking tak kuatnya merasakan rasa nikmat yang
luar biasa. Otot-otot liang vagina mbak Marissa menjepit alat vitalku dua kali
lebih ketat membuat air maniku sontak kembali menyembur-nyembur keluar
dengan hebatnya. Crrrettt ….. cccrrrooot ……… crreeeeettttt ………..
Crrreeeettttt ……… ” Marissaaaaaaaaaaaaa …………………aaaaagggh hh ” ”
Eryyyyyyyyyyyy ………… nngggghhhhh ” Kami berdua sama-sama memekikmekik nikmat. Seakan terbang saja jiwaku terhempas kedalam pusaran
kenikmatan yang tiada tara. Cairan lendir mbak Marissa terasa menyembur
lemah membasahi dan menghangati seluruh alat vitalku yang terbenam kandas
dalam liang kemaluannya. Cruuuoooottttttt ………..crreeetttt ….. Air maniku
kurasakan mulai menyembur lemah dan akhirnya terasa ludes tak tersisa lagi.
Kantong zakarku seolah kopong karena isinya telah terkuras, disedot kemaluan
mbak Marissa. Tak terasa begitu cepat sekali rasa nikmat itu berakhir, pinggulku
terhempas lunglai diatas tubuh mbak Marissa. Alat vitalku seakan terbenam
dalam lautan air mani didalam liang vaginanya. Kurasakan
batang penisku itu mulai bergerak menyusut didalam situ. Loyoo. Mbak Marissa
menciumi bibirku dengan gemas. Berkali-kali mulutnya mengulum bibirku
sampai lama sekali. Dari wajahnya terbayang betapa sangat puasnya dia malam
ini. Begitu terlihat cantik dan alami meski tampak basah berkeringat. Kedua
matanya yang kelihatan sedikit letih memandangku mesra. ” Ooh …Eryy …. aku
benar-benar puass sekali … kau jantan sekali sayang … mmmbbff ….cupp …
cuupp ….”, katanya gemas. ” Aku juga Marissa …. begitu nikmat sekali ….mmm
…. indah sekali Marissa …..”, bisikku letih. Lima menit kemudian aku melungsur
keluar dari tubuh mbak Marissa dan tergeletak lemas disamping tubuh bugilnya.
Malam itu aku menginap di tempat Mbak Marissa sampai pagi, namun sebelum
tidur aku masih sempat mengintip lagi ke kamar si Agus dan benar saja kulihat
mereka memang sedang tertidur lelap kecapekan dan masih telanjang bulat,
hanya edannya kulihat alat vital si Agus yang sudah loyo itu ternyata masih
menancap di lubang dubur Farida. Mungkin mereka sempat maen ( sodomi ) lagi
ketika kutinggal tadi.
Dari sela-sela paha Farida yg putih mulus kulihat leleran cairan kental berwarna
putih ( seperti buih ) banyak sekali. Mungkin air mani si Agus yg tumpah keluar
dari dalam liang kemaluan Farida. Sampai sekarang hubungan sex ini masih
tetap berlangsung. Dan seperti yg telah saya duga sebelumnya mbak Marissa
saat ini telah menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Entahlah bagaimana
selanjutnya aku masih bingung,hanya saja mbak Marissa mengatakan supaya
aku jangan khawatir mengenai kehamilannya karena ini katanya sudah menjadi
tanggung jawabnya bersama suaminya nanti ( edaan nggak ), tapi entah
bagaimana reaksi suaminya. Ketika sahabatku Agus kuceritakan tentang hub.sex
ku ini, semula ia tak percaya sama sekali dan menuduhku ngayal. Namun suatu
malam yg telah kurencanakan, ia kusuruh mengintipku dan baru benar-benar
percaya ketika kusetubuhi mbak Marissa untuk ke-29 kalinya. He…he… katanya

ia sampai sempat onani segala melihat tubuh mbak Marissa yg begitu indah
mulus dan montok, bahkan gilanya ia masih sempat merekam adegan
persetubuhan kami itu dgn handycam-nya selama kurang lebih 10 menit. Ada
kejadian lucu pada beberapa hari yg lalu ketika suatu siang sehabis pulang dari
kampus, aku benar-benar tak dapat menahan kerinduanku pada mbak Marissa,
sambil sedikit setengah memaksa, aku meminta mbak Marissa memenuhi
keinginan sexualku.
Meski pada mulanya ia menolak karena sikon yg tak memungkinkan disaat
kegiatan salonnya yg sedang ramai namun akhirnya ia mau juga, mbak Marissa
mengajakku melakukannya di dapur saja daripada di kamarnya dan ia
menyuruhku melakukannya dengan cepat karena takut ketahuan pegawai salon.
Ketika kami melakukan persetubuhan itu, masih dengan pakaian lengkap. Mbak
Marissa hanya menarik turun celana jeans dan CDnya sebatas paha, begitu pula
denganku hanya kuplorotkan sebatas paha pula. Mbak Marissa menyuruhku agar
melakukannya dari sebelah belakang, dan ia lalu berdiri agak setengah
membungkuk membelakangiku diatas sebuah meja di dapur. Alat vitalku yang
sudah sangat ngaceng itu kuselipkan diantara kedua belah paha mulusnya dan
menembus labia mayoranya yang tebal merangsang. Hanya kurang dari 10
detik, seluruh batang penisku sepanjang 16,5 centi itu telah kubenamkan
seluruhnya kedalam liang kemaluannya yang hangat dan sempit. Sambil
kuremas gemas kedua belah payudara montoknya dari belakang, aku mulai
asyik menggoyang pinggul menyetubuhi mbak Marissa. Namun kenyataan
berkata lain, 20 menit kemudian yang kebetulan sekali saat itu kami berdua
sudah hampir sampai ke puncak kenikmatan secara hampir bersamaan. Ketika
tiba-tiba salah satu pegawai mbak Marissa yaitu Sherly nyelonong masuk ke
dapur hendak mengambil gelas untuk minum. Kami berdua terhenyak kaget,
begitu pula dengan Sherly.
Begitu kagetnya mbak Marissa sampai lubang vaginanya mengerut mengecil
menjepit alat vitalku yg saat itu sedang mendekati klimaks-nya, prrttt .. rasanya
jepitannya yg luarbiasa membuat alat vitalku langsung muncrat memuntahkan
air mani kedalam lubang kemaluannya. ” Eeeehhh … mbak …. Maaf …!!”, pekik
Sherly kaget setengah ketakutan melihat kami berdua sedang berhubungan
intim. ” Sherlyy ..!!!”, pekik mbak Mbak Marissa pula. Sebaliknya aku malah
meram melek keenakan merasakan air maniku yg menyembur-nyembur hebat
kedalam liang kemaluan mbak Marissa. Rasa nikmatnya membuatku seakan tak
peduli dengan kejadian mengejutkan itu. ” Ma … maaf m ..mbak …. Saya mau
ambil gelas …..”, seru Sherly masih kaget. Sejenak mbak Marissa akhirnya dapat
menguasai keadaan. ” Ya sudahlah … Sherly .. lekas ambil sana …”, ujar mbak
Marissa setengah ketus.
Sherly langsung ngibrit keluar begitu benda yg dicarinya sudah didapat. Kami
berdua saling ketawa cekikikan mengingat kejadian lucu tadi, lalu melanjutkan
lagi permainan sex kami yg sempat terganggu 1 ronde lagi. Sejak kejadian itu
Sherly semakin berani menggodaku dan hampir tiap hari ia menelpon
mengajakku pergi menemaninya ke diskotik. Saya tahu ia pasti punya hasrat lain

selain hanya sekedar pergi ke diskotik. Aku masih belum mengiyakan
permintaannya, berhubung sebenarnya saya sedang naksir pada Silvy yaitu
salah satu pegawai mbak Marissa yg lain, orangnya setahun lebih tua tetapi
masih imut2 dan manis seperti Deyana Lomban ( atlet badminton ) dan saat
inipun hubungan kami sudah dapat dibilang pacaran, hanya saja sedikit ngeri
juga mengingat kejadian ketika Sherly memergokiku sedang bersetubuh dgn
mbak Marissa. Aku khawatir Sherly mengadukan soal ini kepada Silvy. Kadang
terpikir olehku untuk mengiyakan saja kemauan Sherly menemaninya ke diskotik
atau menggagahinya sekalian untuk sekedar tutup mulut ( kalo perlu ) … ha …
ha….

Yu Neem Pembantuku
97
Posted by admin on October 25, 2009 – 2:41 pm
Filed under Setengah baya
AKU terjaga saat kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.
Gusbangun, sudah sore. Mandi dulu. Ayo. bangun. Aku terbangun. Yu Nem
berdiri di ujung tempat tidurku. Tangan kanannya mengguncang-guncang
kakiku. Aku meliukkan badan, dan mataku terpejam lagi.
Heeeh. ayo bangun. Mandi dulu, Yu Nem kembali mengguncangkan kakiku.
Aku membalikkan badan. Enak sekali tidurku. Rasanya masih ingin tidur lagi.
Kulirik jam dinding menunjuk pukul 4 sore lebih.
Bu Lik sudah pulang, Yu? tanyaku. Yu Nem menggeleng, dan kembali memintaku
mandi. Oh ya, umurku waktu itu masih 12 tahun, masih kelas 6 SD. Yu Nem
adalah salah satu pembantu kami
Umurnya sekitar 30 tahun. Dia sudah lama ikut kami. Dia satu dari tiga
pembantu kami. Yu Nem bertugas melayani keperluanku dan keperluan Bu Lik.
Mulai dari mempersiapkan keperluan mandi, makan, apa saja. Karena itu aku
lebih dekat dengan Yu Nem daripada dengan Mbah Karso atau Yu Parmi.
Bu Lik kok belum pulang to Yu? tanyaku. Yu Nem duduk di tepi ranjang.
Mungkin sampai malam. Kan kulakannya ke Praci.
Bu Lik adalah pedagang hasil bumi. Selain menerima setoran hasil bumi dari
para petani, seringkali Bu Lik hunting dagangan sampai ke kota-kota kecamatan.
Sesekali aku diajak.
Ayo mandi dulu Gus, kata Yu Nem. Aku pun beranjak. Yu Nem mengangsurkan
handuk, dan aku menuju kamar mandi. Yu Nem mengikutiku.
Kok sepi? tanyaku.
Mbah Karso sama Parmi lagi nagih.
Mbah Karso dan Yu Parmi adalah dua pembantu kami lainnya. Beberapa
pengrajin tempe dan tahu seringkali ambil kedelai dari Bu Lik, dan bayarnya
beberapa hari kemudian. Para pembantu kami seringkali yang disuruh menagih.
Selesai mandi, ini yang tak aku sangka-sangka, Yu Nem bertanya, Kangen sama
Ibu ya? Ibu yang dimaksud perempuan itu adalah Bu Lik. Pertanyaan Yu Nem
bernada menyelidik, sedikit meledek. Dia tersenyum penuh arti. Aku menyambar

koran, dan duduk di bangku teras. Aku paling sedang komik serial Tarzan.
Biasanya sore begini aku membaca bersama Bu Lik. Yu Nem di sebelahku.
Ayo cerita dong Gus, katanya.
Cerita apa?
Cerita Gus sama Ibu. Aku terperanjat. Yu Nem tahu kok Gus. Mbah Karso, Parmi
juga tahu. Tapi tenang saja, rahasianya aman.
Aku benar-benar mati kutu. Rupanya perzinaanku dengan Bu Lik sudah diketahui
ketiga pembantuku.
Kalau sudah tahu ya sudah. Napa suruh cerita, sahutku agak kesal. Yu Nem
tersenyum.
Pengin denger saja. Sudah pinter ya Gus?
Apaan sih? aku terus menatap koran, tapi pikiranku agak kacau.
Ehh tapi jangan bilang ke Ibu yaa kalau kami sudah tahu. Aku diam saja. Bener
lho jangan bilang. lalu Yu Nem pergi.
Malamnya, aku belajar ditunggui Yu Nem. Dari dulu memang begitu. Kalau Bu Lik
kecapekan dan tak bisa menunggui belajar, disuruhnya Yu Nem menungguiku.
Waktu kelas satu sampai kelas dua SD perempuan itu malah kerap membantuku
mengerjakan PR atau membantuku membetulkan cara membaca. Tetapi setelah
kelas enam, dia mulai tidak bisa mengikuti pelajaranku. Maklum, dia cuma
sekolah sampai kelas empat SD.
Sekitar jam 9 aku mulai ngantuk dan menyudahi belajar. Yu Nem membantu
mengemasi buku-bukuku. Aku pun beranjak ke kamar.
Mau ditemani bobo ndak Gus? tiba-tiba Yu Nem bertanya. Dulu waktu masih
umur 7-8 tahun aku sering tidur dikeloni Yu Nem. atau Bu Lik Tapi semenjak
kelas lima, aku sudah tidur di kamar sendiri. Entah kenapa, rasanya pengin juga
seperti dulu, tidur ditemani Yu Nem. Beda dengan Bu Lik, Yu Nem kalau ngeloni
suka sabar. Sering mendongeng sambil mengusap-usap penggungku, dan aku
memainkan ujung sikunya. Sampai tertidur.
He-eh kataku.
Aku merebahkan tubuh di ranjang. Yu Nem juga rebahan di sebelahku. Kami
tidur satu bantal karena memang hanya ada satu bantal di tempat tidurku.
Aroma perempuan ini belum berubah. Rambutnya berbau minyak cem-ceman.
Minyak ini terbuat dari minyak kelapa dicampur daun pandan dan rempahrempah lain. Dia mengenakan kemeja lengan pendek, dan jarik yang digulung
sebatas pusar. Semua pembantuku kesehariannya ya begitu. Jariknya sedikit di
bawah lutut.
Yu Nem meraih tubuhku, dan mengelus-elus punggungku.
Sudah lama ya Gus, ndak bobo sama Yu Nem. Wajahku hanya beberapa inci dari
wajahnya. Terasa lembut nafasnya. Bau nafasnya gurih. Rasanya amat
menenteramkan.
He-eh, sahutku pendek sambil memejamkan mata.
Berapa kali gituan sama Ibu? pertanyaan itu menyentakkanku, menghilangkan
kantuk. Ndak pa-pa cerita sama Yu Nem. Dia menunggu reaksiku. Tangannya
masih mengelus-elus punggungku. Sudah ndak kehitung ya? Ati-ati ya Gus, nanti
kayak Gus Bambang, ketahuan terus diusir. Semua kena malu.
Memangnya Mas Bambang juga gituan sama Bu Lik? tanyaku ingin tahu. Aku
memang mendengar selentingan kasus itu. Tapi karena umurku yang belum

cukup mampu mencerna pembicaraan orang, aku tidak pernah mengerti apa
yang sebenarnya terjadi.
Iya. Dasarnya Gus Bambang ndak bisa menjaga rahasia, jadi yaa rahasianya
kesebar. Lalu Yu Nem bercerita panjang lebar tentang skandal Bu Lik dengan
Mas Bambang, sepupuku yang berarti juga masih keponakan Bu Lik. Yu Nem
juga bercerita bagaimana Mas Bambang pun pernah meniduri Yu Nem dan Mbah
Karso.
Yu Nem kok mau?
Yaa ndak berani nolak to Gus, jawabnya.
Berapa kali Yu?
Ahh banyak. Lalu Yu Nem memintaku bercerita tentang perzinaanku dengan Bu
Lik.
Malu Yu ahh, sahutku.
Kok malu, Yu Nem juga sudah cerita. Lama aku terdiam.
Ayo cerita. Yu Nem mencubit hidungku. Pertamanya dipaksa ya?
He-eh, sahutku. Yu Nem tertawa kecil.
Lama-lama Gus yang minta?
Ndak. Ndak berani to Yu.
Disuruh cium-cium anunya Ibu juga?
Ihhh kok Yu Nem .
Dulu Gus Bambang suka cerita kok. Aku heran, kok Mas Bambang bisa cerita ke
Yu Nem. Pantesan affairnya dengan Bu Lik terbongkar dan menggegerkan
keluarga besar Bu Lik.
Gus ketagihan ndak? Kalau pas pengin gimana? Kan ndak berani minta ke Ibu?
Ya diem. Ditahan. Yu Nem terkikih.
Minta sama Yu Nem to, kayak Gus Bambang.
Idiih. Yu Nem tertawa kecil.
Sekarang lagi pengin ndak? Aku diam tak menjawab.
Mumpung ada Yu Nem Kalimat itu membuatku tergetar.
Yu Nem mau kok Gus. Tiba-tiba kurasakan elusan Yu Nem terasa aneh. Membuat
bulu-bulu di tubuhku meremang. Darahku berdesir. Dan tak kuduga, Yu Nem
mencium bibirku. Lembut. Lidahnya menerobos ke dalam mulutku, mencari-cari.
Dihisapnya bibirku, dicarinya lidahku. Kami berpagutan. Tangan Yu Nem
berpindah ke perutku, mengusap, meremas, dan menerobos masuk ke celana.
Sama Yu Nem ya Gus?
Tanpa menjawab aku membuka kancing baju Yu Nem, dan mengeluarkan
sepasang tetek dari dalam kutangnya. Aku menghisapnya, memilin dan
menggigitnya. Yu Nem mendesah-desah. Tangannya meremas penisku.
Disingkapnya jariknya hingga menampakkan paha yang padat dan mulus. Dia
lepas CD-nya, dan meraih tanganku, dibawanya ke selangkangan. Lalu
dilepasnya celanaku.
Terasa penisku masuk ke dalam mulut hingga terdengar bunyi yang
menggairahkan. Crop.cropp.
Yu Nem memutar tubuhnya, mengarahkan vaginanya tepat di depan mulutku.
Lalu ditekannya pinggul, hingga vagina itu menempel di mulutku. Refleks lidahku
terjulur. Yu Nem mengerang keras. Di tekan lagi, dan digoyangkannya pantat

bulat itu. Aku coba menghindar karena nafasku jadi sesak. Tapi Yu Nem kembali
menekan sambi terus melumat penisku dengan rakus.
Perempuan itu adalah janda yang sudah lama cerai dari suaminya. Mungkin dia
memang sangat butuh sentuhan seperti halnya Bu Lik. Bedanya, Bu Lik bisa
melampiaskan ke aku atau Mas Bambang, dan mungkin ke lelaki lain. Sedangkan
Yu Nem, mana bisa. Kini di hadapannya ada aku. Lelaki kencur tapi sudah mahir
bersenggama.
Yu Nem mengangkat pantatnya, dan Gus digigit itilnya. Aku menggigit lembut itil
itu. Aromanya memang tidak sewangi vagina Bu Lik. Tapi sangat terasa
lubangnya masih sempit. Vagina yang belum pernah mengeluarkan bayi. Yu
Nem kembali mengerang. Penisku disedot kuat-kuat. Aku lap vaginanya yang
basah lendir bencampur ludahku dengan ujung jariknya, lalu kujilat-jilat lagi.
Nafsuku sudah sampai di ubun-ubun. Yu Nem membalikkan badan. Dipegangnya
penisku dan diarahkan ke lubang vaginanya. Samar-samar aku lihat wajahnya
meringis seperti menahan sakit. Dia berhenti sejenak, lalu mencoba menekan
vaginanya. Ujung penisku mulai masuk. Dia kembali mendorong sehingga
seluruh penisku masuk. Aku tidak tahu kenapa vagina Yu Nem begitu sempitnya,
sampai-sampai penisku yang sebenarnya tidak besar pun sulit masuk. Maklum
umurku masih 12 tahun, dan belum disunat.
Begitu seluruh penis tenggelam dalam vaginanya, Yu Nem menggereng. Seperti
suara kereta api. Dia mencengkeram lenganku. Ditekannya tubuhnya seolah
ingin menelan habis tubuhku. Digoyang-goyang tubuhnya.
Ahh Yu Nem memang tidak semahir Bu Lik. Ketika dengan Bu Lik, aku
merasakan kenikmatan yang luar biasa sehingga cepat sekali keluar. Seringkali
ketika ronde kedua baru Bu Lik mencapai puncaknya. Kini Yu Nem sepertinya
sudah sampai di puncak, sedangkan aku belum apa-apa. Perempuan itu lemas di
atas tubuhku.
Gus belum keluar?
Belum.
Dia membalikkan badan, telentang, dan memintaku menaiki tubuhnya.
Pelan-pelan ya? katanya sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Aku
menekan penisku. Yu Nem merintih menahan sakit. Dia memintaku pelan-pelan.
Belakangan baru aku tahu, rasa sakit itu dikarenakan dia sudah lama tidak
gituan, sehingga lubang vaginanya seperti menyempit.
Ketika seluruh penisku berada dalam cengkeraman vaginanya, akupun mulai
memompa. Mula-mula dia terlihat pasif. Tetapi lama-lama kurasakan dia kembali
terangsang dan mengimbangiku. Keringatnya bercucuran, menimbulkan aroma
yang menyengat. Dalam kondisi normal mungkin aku muak dengan bau itu.
Tetapi di tengah nafsu yang menjeratku, aku sangat menikmati aroma itu.
Bahkan kemudian kuangkat tangannya sehingga nampak sepasang ketiak yang
ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Aromanya benar-benar menyengat tajam. Aku
benamkan wajahku ke ketiak itu. Dia menggelinjang menerima jilatanku. Aku
terus menggenjot dengan hebat.
Ohhh Gus Yu Nem ndak tahan lagi.
Beberapa saat kemudian aku mengejang.
Buang di luar Gus. kata Yu Nem. Sepertinya dia tahu apa yang akan terjadi.
Nanti Yu Nem hamil. Buang di perut.

Aku tarik keluar penisku, aku tempelkan di perutnya, dan aku tekan dengan
kuat, merasakan semprotkan maniku. Creettt.crettt.
Aku dipeluknya dengan erat, dan diciumnya wajahku, bibirku, kupingku. Aku
jatuh telentang di sebelahnya. Tanpa kuduga, dia hampiri penisku, dan dihisaphisapnya sisa-sisa maniku. Juga sebagian yang ada di perutnya.
Malam itu aku tertidur pulas. Aku terbangun oleh suara Bu Lik, memintaku
segera mandi. Sekilas kulihat wajah Bu Lik menegang. Mungkin kecapekan dari
bepergian. Tetapi memang ada yang ganjil. Suaranya amat berat. Dia seperti
menghardikku
Pulang sekolah barulah semuanya terjawab. Yu Nem menyeretku dengan wajah
tegang.
Jangan cerita ke Ibu bahwa Gus sama Yu Nem gituan, katanya. Perempuan itu
bercerita bahwa pagi tadi dia dipanggil Bu Lik, diinterograsi. Ditanya kenapa Yu
Nem tidur di kamarku. Mula-mula Yu Nem mengelak. Tapi Bu Lik bilang, bantalku
beraroma minyam cem-ceman. Satu-satunya yang dituduh adalah Yu Nem
karena dia yang paling dekat denganku. Akhirnya Yu Nem mengaku bahwa dia
memang tidur di kamarku karena aku yang minta ditemani. Tidur biasa, tidak
ngapa-ngapain.
Bener ya Gus, jangan bilang. Pokoknya jangan ngaku. Wajah Yu Nem benarbenar tegang. Aku sendiri merasa sangat takut. Takut gagal membohongi Bu Lik.
Malamnya, di kamarku Bu Lik menanyaiku. Karung bantal sudah tak beraroma
cem-ceman lagi. Sudah diganti.
Kenapa Yu Nem tidur di sini tadi malam? tanya Bu Lik.
Saya takut Bu Lik. Sepi sekali tadi malam ndak ada Bu Lik, jawabku berbohong
dengan kecemasan yang seakan hendak membunuhku.
Ndak boleh. Gus ndak boleh tidur dengan pembantu. Ngerti?! Aku mengangguk.
Gituan sama Yu Nem ya? tanyanya. Aku memang sudah menduga akan ditanya
begitu. Tapi tetap saja aku amat takut, berdebar-debar. Ngeri.
Ndak kok Bu Lik. Saya ndak mau to.
Sumpah?
Iya sumpah Bu Lik. Perempuan itu menarik nafas, lalu mencium pipiku.
Bu Lik ndak mau kamu gituan sama perempuan lain. Sama Bu Lik saja. Dia
memagut bibirku. Malam itu aku disetubuhi Bu Lik.
Sejak peristiwa dengan Yu Nem, aku memang sangat ingin mengulangi.
Kesempatan kecil selalu kami gunakan. Kadang-kadang di dalam kamar Yu Nem
di tengah malam buta. Tapi seringnya di gudang, di antara tumpukan karungkarung palawija, dalam kegelapan. Setelah selesai, kami menyelinap keluar,
persis maling

Istri Kakakku Yang Kesepian
226
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:53 am
Filed under Setengah baya
Sebut namaku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan

istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku
dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost. Usiaku dengan Kak Deni
selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.
Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah. Sering
kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku. Kuhibur dia
dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama Terkesan kalau Dina
lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang
akhirnya kami sering keluar jalan-jalan. Dan terkadang kami nonton
bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira
pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk beluk di
dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik. Keesokan harinya
sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan
kemana Dina. Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV.
Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam,
terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang, sekilas kulihat Dina
sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku. “Maaf Mbak!” sahutku
dengan tidak enak.
Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang sekilas
kulihat tadi. Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan
daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga
memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat beberapa lama di dalam
kamar. Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel
CD simpanan di kamarku. Tampaknya birahiku muncul melihat adeganadegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya.
Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya seiring
adegan film aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan
kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa
mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang
dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.
“Ma.. maaf, ganggu ya,” tanya Dina dengan matanya yang menatap
milikku.
“Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak,” sahutku dengan tanganku yang
masih memegang milikku.
“Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?” tanya Dina dengan bingung karena
kejadian ini.
“Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak,” sahutku sambil
kumasukkan milikku lagi.
“Kamu nonton apa?” tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.
“I.. itu.. sama yang tadi,” sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina
di kamarnya.
Dina terdiam sesaat sambil melihat film.
“Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?” tanyaku dengan malu.
“Boleh, kenapa enggak?” jawab Dina.
“Mau minjem Mbak… apa mau nonton di sini?” tawarku kepada Dina.

“Sekalian aja deh, biar rame,” jawabnya.
Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami
mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang
berhubungan di film. Mungkin karena kami sering berdua dan bicara
dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan.
Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami
sadari Dina milik kakakku. Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan
dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama. Kami akhirnya
mulai sering melirik dan bertatapan mata. Sesaat saat film berputar
tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan.
Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak
mengikuti iringan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah,
akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing. Nafsu membuat kami
terus berebutan air liur.
Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan
berhenti. Kami hanya bisa diam dalam pelukan. Mata kami tak sanggup
bertatapan. Rasanya bingung. Cukup lama kami berpelukan sampai
akhirnya kami duduk biasa lagi. Kehangatan tubuh dan sikap Dina
memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan katakata. Perlahan kubuai rambut panjang Dina. Tampaknya ia menyukainya.
Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi.
Wajahnya dewasa dan cantik, kurasakan wajah yang mengharapkan
sentuhan dan kehangatan. Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman
lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya, ahh nikmat rasanya. Bibirnya
terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan. Sekilas
kulihat buah dadanya yang besar. Lalu kupeluk Dina dengan maksud
ingin menyentuh dan merasakan miliknya.
Sesaat kurasakan miliknya di dadaku, besar, empuk dan besar. Perlahan
tanganku mengelus-elus pahanya yang lembut dan halus. Sebagai
penjajakan kuelus selangkangannya, tampaknya ia menikmatinya.
Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya. Tanpa
menunggu aku segera meraba-raba daerah sensitifnya. Sesaat tanganku
ia raih dan ia giring ke dadanya. Ahh, akhirnya kurasakan buah dada
yang besar di dekapan tanganku. Sesaat kurasakan milikku didekap
tangan Dina, ahh rasanya aku menikmatinya. Perlahan tangannya
memainkan, nikmat rasanya. Perlahan kulepaskan tangan Dina dari
milikku. Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap.
Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku. Sesaat tangannya mendekap
milikku, ia mainkan lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke
milikku dan ia hisap. Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka
menghisap milikku. milikku keluar masuk di mulutnya secara perlahan
seiring tangannya yang mengayun-ayun milikku.
Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup

bra. Kuraih kaitannya dan kulepas. Perlahan tanganku menyusup di
branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan
lembut. Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun
mengeras. Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama
celana dalamnya. Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat
merangsang. Pinggangnya yang ramping dan pinggul yang lumayan,
kulitnya putih bersih dan mulus. Kuelus-elus bokongnya yang halus dan
lembut. Pahanya kuraba lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya. Seiring
hisapannya kumainkan bibir vagina yang sudah basah perlahan jariku
masuk ke liang vaginanya. Kurasakan lembut di jemariku, nikmat
rasanya.”Dede.. oouuhhh…” ucapnya seiring jariku yang tertancap di
liangnya. Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah
cepat. Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.
Cukup lama mulutnya bermain sampai ku tak tahan menahan
maniku. “Mmmhhh…” ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya.
Kurasakan mulutnya tetap menghisap milikku, lalu maniku dan terus
sampai beberapa lama. Kemudian bibirnya selesai bermain. “Udah De?”
sahutnya dengan isyarat apakah aku puas. Aku tersenyum melihat wajah
cantiknya yang memucat dan merangsang. Rasanya milikku belum puas
masuk di mulutnya. Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih
masuk di liangnya. “Mbak yang ini belom,” sahutku dengan isyarat
jariku yang keluar masuk di liangnya.”Emang kenapa?” tanyanya dengan
isyarat wajah yang menanyakan apa keinginanku. Kemudian kubuat posisi
bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat seakan siap
bermain. Bibir vagina yang agak merah terlihat jelas olehku. Milikku
yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut yang
sudah basah. Perlahan kumasukkan dan akhirnya hilang tertelan di
liang Dina yang lembut.
“Mmhhh….” desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat dan
telapak kakinya memeluk pinggulku. Milikku keluar-masuk diliangnya
dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan
sentuhanku. “Ooouuhh… ooouuhhh…” berulang desahan itu Dina
keluarkan. Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina. Perlahan
kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan penis
dan liangnya. Sessat ia dekap tubuhku. Tubuhnya menegang. “Dede…”
ucapnya dengan getaran kenikmatan. Aahhh Kurasakan penisku didekap
kuat liang Dina. “Ooouuuhh,” desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai
melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya
santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh,
puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat
menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. “Ooouuuhhh…” desah
Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus.
Tampaknya Dina tak menolaknya. Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya.
Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya. Dan beberapa kali
kami berciuman lagi. Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milik dan

maniku karena benar-benar nikmat.
Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang agak
mengering basah lagi. Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan
sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan. Esoknya kami tersadar dan
kami mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin. Rasa
bersalah hilang karena Kami rasakan kecocokan, dan kami teruskan
hubungan ini. Karena kakakku jarang di rumah kami sering berdua,
tidur bersama dan mandi bersama dengan sentuhan-sentuhan yang nikmat.
Ini menjadi rahasia kami berdua seterusnya. sampai aku memiliki istri
dan sama-sama mempunyai anak kami terus berhubungan.
Permainan Terlarang
77
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:49 am
Filed under Setengah baya
Ini pengalamanku sekitar 5 tahun yg lalu. Saat ini aku sudah berusia 38 tahun
dan bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Dan aku menikah sejak 9 tahun
yg lalu dgn 2 anak. Aku berasal dr salah satu kota di Kalimantan dan kuliah di
salah satu kota di Jawa. Selepas kuliah aku sempat kerja di perusahaan swasta
setahun dan akhirnya diterima di instansi pemerintahan tempat aku bekerja
skrg. Tuntutan pekerjaan membuat aku harus beberapa kali pindah kota dan
pada 5 tahun yg lalu aku sempat ditempatkan di salah satu kota di propinsi
asalku di Kalimantan yg berjarak sekitar 1-1,5 jam dari kota asalku. Pada saat itu
istri dan anakku tidak ikut serta karena istriku harus bekerja dan terikat kontrak
kerja yg tidak memperkenankannnya mengundurkan diri atau bermohon pindah
sebelum 5 tahun masa kerjanya. Sehingga jadilah aku sendiri di sana dan tinggal
di salah satu rumah orang tuaku yg mereka beli untuk investasi. Krn kebutulan
aku pindah ke sana maka aku tinggal sendiri. Rumah tersebut berada di
kompleks perumahan yg cukup luas namun cenderung sepi krn kebanyakan
hanya menjadi tempat investasi alternatif saja, dan kalau ada yg tinggal adalah
para pendatang yg mengontrak rumah di sana. Jadi lingkungan relatif apatis di
sana.
Pada beberapa kesempatan aku kadang-kadang berkunjung ke tempat nenekku
yg tinggal di suatu kabupaten (sekitar 4 jam dari kota tempat aku tinggal
sekarang) utk sekedar silaturahmi dengan famili di sana. Pada salah satu
kunjungan saya ke sana, saya sempat bertemu dengan salah seorang yg dalam
hubungan kekerabatan bisa disebut nenekku juga di rumah salah satu famili,
sebetulnya bukan nenek langsung. Persisnya ia adalah adik bungsu dari istri adik
kakekku (susah ya ngurutnya). Usianya lebih tua sekitar 8-9 tahunan dariku.
Profil mukanya seperti Yati Octavia (tentu Yati Octavia betulan lebih cantik),
dengan kulit cenderung agak gelap, dan badannya sekarang sedikit agak gemuk.
Walaupun terhitung nenekku, ia biasanya saya panggil bibi saja krn usianya ia
risih dipanggil nenek. Pertemuan tsb sebetulnya biasa saja, tapi sebetulnya ada
beberapa hal yg sedikit spesial terkait pertemuan tersebut. Pertama, saya baru
tau kalau suaminya baru meninggal sekitar 1 tahunan yg lalu. Ia yg berstatus
honorer di sebuah instansi pemerintah sedikit mengeluhkan kondisi

kehidupannya (untung ia hidup di kota kabupaten yg kecil) dengan 2 anak
perempuannya yg berusia 12 dan 8 tahun. Saat itu aku bilang akan mencoba utk
membantu memperbaiki status honorernya dgn mencoba menghubungi
beberapa relasi/kolegaku. Hal spesial yg lain adalah sedikit pengalamanku di
masa lalu dgn dia yg sebetulnya agak memalukan bila diingat (saat itu saya
berharap ia lupa). Wkt saya masih di bangku SMA, ia dan kadang bersama famili
yg lain sering berkunjung ke rumahku krn ia pernah kuliah di kota kelahiranku
namun kost di tempat lain. Ia kadang2 menginap di rumahku. Pada waktu ia
nginap dengan beberapa famili yg lain, aku sering ngintip mereka mandi dan
tidur. Sialnya sekali waktu, saat malam2 aku menyelinap ke kamarnya (di
rumahku kamar tidur jarang di kunci), dan menyingkap kelambunya (dulu
kelambu masih sering digunakan). Saya menikmati pemandangan di mana ia
tidur telentang dan dasternya tersingkap sampai keliatan celana dalam dan
sedikit perutnya. Saat itu saya mencoba mengusap tumpukan vaginanya yg
terbungkus celana dalam dan pahanya. Setelah beberapa kali usapan ia tiba2
terbangun dan saya pun cepat2 menyingkir keluar kamar. Sepertinya ia sempat
melihat saya, hanya saja ia tidak berteriak. Hari2 berikutnya saya selalu merasa
risih bertemu dia, namun iapun bersikap seolah2 tdk terjadi apa2. Sejak saat itu
saya tdk pernah coba2 lagi ngintip ia mandi dan tidur. Hal itu akhirnya seperti
terlupakan setelah saya kuliah ke Jawa, ia menikah dan sayapun akhirnya
menikah juga. Inilah pertemuan saya yg pertama sejak saya kuliah
meninggalkan kota kelahiran saya.
Beberapa wkt kemudian pada beberapa instansi ada program perekrutan
pegawai termasuk yg eks honorer termasuk pada instansi nenek mudaku
tersebut. Pada suatu pembicaraan seperti yg pernah saya singgung sebelumnya,
nenek mudaku tersebut sempat minta tolong agar ia bisa diangkat sbg pegawai
tetap dan akupun kasak-kusuk menemui kenalanku agar nenek mudaku tersebut
dapat dialihkan status honorernya menjadi pegawai. Aku beberapa kali
menelpon nenek mudaku tersebut untuk meminta beberapa data dan dokumen
yg diperlukan. Entah karena bantuan kenalanku atau bukan, akhirnya ia
dinyatakan diterima sebagai pegawai. Nenek mudaku itu beberapa kali
menelponku utk mengucapkan terima kasih, dan aku yg saat itu memang tulus
membantunya juga ikut merasa senang.
Beberapa bulan kemudian aku mendapat telpon lagi dari nenek mudaku tersebut
yang mengabarkan bhw ia akan ke kota tempatku bertugas karena ia harus
mengikuti pelatihan terkait dengan pengangkatannya sebagai pegawai di salah
satu balai pelatihan yang tempatnya relatif dekat dengan rumahku. Waktu itu ia
menginformasikan akan menginap di balai pelatihan tersebut namun akan
berkunjung ke rumahku juga.
Pada suatu hari Sabtu sore ia tiba di rumahku dengan membawa koper dan
oleh2 berupa penganan khas daerahnya tinggal dan buah2an. Ia mengatakan
hari pelatihannya dimulai hari Senin namun ia takut terlambat dan akan segera
ke balai pelatihan tersebut malamnya. Aku tawarkan untuk istirahat dulu dan
menginap satu malam. Namun karena kekahwatiran tersebut ia menolak untuk
menginap dan hanya beristirahat saja. Maka ia kutunjukkan kamar tidur yang
ada di samping kamar tidurku utk istirahat sejenak.

Tidak ada kejadian apa2 sampai saat itu, dan pada malam harinya ia kuantar ke
balai latihan. Namun di balai latihan tersebut suasananya masih sepi dan baru 3
orang yang melapor itupun masih keluar jalan2. Melihat keraguan untuk masuk
ke balai latihan tersebut kembali aku tawarkan untuk menginap di rumah dulu
dan nanti Senin pagi baru kembali. Ia langsung menerima tawaranku sambil
menambahkan komentar bahwa ia dengar balai pelatihan tersebut agak angker.
Malam minggu ia menginap dan tidak ada kejadian yg spesial kecuali kami
mengobrol sampai malam dan ia menyiapkan makanan/minumanku. Sampai
saat itu belum terlintas apa2 dalam pikiranku. Namun ketika ia selesai mencuci
piring dan melintas di depanku yaitu antara aku dan televisi yg sedang aku
tonton ia berhenti untuk melihat acara televisi sejenak. Saat itu aku melihat
silhuote tubuhnya di balik daster katunnya yang agak tipis diterobos cahaya
monitor televisi. Saat itulah pikiranku mulai mengkhayalkan yang tidak2. Maklum
aku jauh dari istri dan kalau ngesekspun dengan orang lain juga kadang2 (aku
pernah ngeseks dengan PSK yg agak elit dan beberapa mahasiswi tapi
frekuensinya jarang krn biaya tinggi). Saat itu ia saya suruh duduk dekat saya
utk nonton TV bersama2. Kami pun ngobrol ngalor ngidul sampai malam dan ia
pun pamit utk tidur. Malam Seninnya juga tidak terjadi apa2 kecuali saat ngobrol
sudah mulai bersifat pribadi tentang masalah-masalahnya seperti anaknya yg
perlu uang sekolah dan lainnya. Aku katakan bahwa aku akan bantu sedikit
keuangannya dan iapun berterima kasih berkali2 dan mengatakan sangat
berhutang budi padaku.
Senin paginya ia kuantar ke balai pelatihan tersebut dan dengan membawakan
kopernya saya ikut masuk ke kamarnya yang mestinya bisa untuk 6 orang.
Dengan menginapnya ia di sana, maka buyarlah angan2 erotisku pd dirinya dan
akupun terus ke kantorku utk kerja seperti biasa. Namun pada sore hari aku
menerima telpon yang ternyata dari nenek mudaku tersebut. Ia mengatakan
bahwa agak ragu2 menginap di balai pelatihan tersebut krn ternyata semua
teman2 perempuannya tidak menginap di situ, tapi di rumah familinya masing2
yg ada di kota ini sehingga di kamar yg cukup utk 6 orang itu ia tinggal sendiri
kecuali jam istirahat siang baru beberapa rekan perempuannya ikut istirahat di
situ. Dgn bersemangat aku menawarkan ia menginap di rumah lagi sambil
melontarkan kekhawatiranku kalau ia sendiri di situ (sekedar akting). Ia terima
tawaranku dan aku berjanji akan menjemput dia sepulang kantor.
Akhirnya iapun menginap di rumahku dan rencananya akan sampai sebulan
sampai pelatihan selesai. Angan2ku kembali melambung namun aku masih tdk
berani apa2 mengingat penampilannya yg sdh sangat keibuan, kedudukannya
dalam kekerabatan kami yg terhitung nenek saya, dan sehari2nya kalau keluar
rumah pakai kerudung (tapi bukan ******). Aku betul2 memeras otak namun tdk
pernah ketemu bagaimana cara bisa menyetubuhinya tanpa ada resiko
penolakan. Aku sedikit melakukan pendekatan yg halus. Sekedar utk memberi
perhatian dan sedikit akal bulus sempat aku belikan ia baju dan daster. Utk
daster aku pilihkan ia yg cenderung tipis dan model you can see. Hampir setiap
malam ia aku ajak keluar makan malam atau belanja (walupun pernah ia sekali
menolak dgn alasan capek). Kalau ada kesempatan aku kadang2 mendempetkan
badanku ke badannya bila lagi jalan kaki bersama atau duduk makan berdua di
rumah makan. Aku juga sering keluar kamar mandi (kamar mandi di rumahku

ada di luar kamar tidur) dgn hanya melilitkan handuk di badan. Selain itu aku
juga kadang menyapa dan memujinyaa sambil memegang salah satu atau kedua
pundaknya bila ia memasak sarapan pagi di dapur. Dari semua itu saya belum
bisa menangkap apakah responnya positif terhadap aku. Dan setelah hampir 1
minggu, yaitu pada hari Sabtu pagi iapun pamit pulang ke kotanya untuk
menengok anaknya yg agak sakit dan akan kembali minggu malamnya. Iapun
pulang dan aku yg sendirian di rumah akhirnya juga keluar kota ke kota
kelahiranku yg jaraknya cuma 1 jam dr kota tinggalku utk main2 dgn teman2
masa SMAku serta silaturahmi ke rumah orang tuaku.
Saat bertemu teman2 lamaku aku agak banyak minum bir dan waktu tidurku
agak kurang. Sore menjelang Maghirib akupun pulang ke kota di mana aku
tinggal, terlintas sebuah rencana utk menggauli nenek mudaku yg saya
perkirakan akan lebih duluan sampai di rumahku (ia kukasihkan kunci duplikat
rumah utk antisipasi seandainya aku tdk ada dirumah bila ia datang).
Sayapun sampai di rumah dan memang benar ia sudah ada di rumah. Ia
bertanya kepadaku kenapa aku pucat dan keringatan dan saat ia pegang dahi
dan tanganku ia bilang agak hangat (mugkin krn pengaruh begadang). Aku
hanya berkomentar bhw aku mau cerita tapi tdk enak dan minta agar malam ini
makan malam di rumah saja krn aku tdk enak badan. Ia tdk keberatan dan tanya
aku mau makan apa, aku bilang aku cuma mau makan indomie telur dan iapun
setuju. Seperti kebiasaannya ia selalu buatkan aku kopi dan teh utk dirinya, tak
terkecuali malam itu.
Melihat aku masih pucat ia menawarkan obat flu tapi aku bilang aku tdk flu dan
tdk bisa cerita sambil pergi dengan pura2 sempoyongan ke kamarku dan bilang
aku mau istirahat. Aku masuk kamar dan membuka baju dan berbaring di
tempat tidur dgn hanya pakai celana pendek. Iapun menyusulku ke kamarku dan
dgn iba bertanya kenapa dan apa yg bisa ia bantu. Dalam hatiku aku mulai
tersenyum dan mulai melihat suatu peluang. Ia bahkan menawarkan utk memijat
atau mengerik punggungku, tapi aku mau langsung ke sasaran saja dengan
mempersiapkan sebuah cerita rekayasa.
Akhirnya aku menatap ia dan menanyakan apakah ia mau tau kenapa aku begini
dan mau menolong saya. Ia segera menjawab bahwa ia akan senang sekali bisa
menolong saya krn saya sudah banyak membantunya. Iapun kusuruh duduk di
tempat tidur dan dengan memasang mimik serius dan memelas sambil
memegang salah satu tangannya akupun bercerita. Aku karang cerita bhw aku
baru saja kumpul2 sama teman2ku waktu ke luar kota tadi sore. Terus ada salah
satu temanku yg bawa obat perangsang yg aku kira adalah obat suplemen
penyegar badan. Karena tdk tau, obat itu aku minum dan skrg efeknya jadi
begini di mana aku kepingin ML dgn perempuan. Aku karang cerita bhw bila tdk
tersalur itu akan membahayakan kesehatanku sementara istriku tdk ada di sini.
Aku juga mengarang cerita bhw aku sudah mengupayakan onani tapi tdk
berhasil dan tdk mungkin aku mencari PSK krn tdk biasa. Aku katakan bhw dgn
terpaksa dan berat hati aku mengajak ia bersedia utk ML denganku utk
kepentingan kesehatanku.
Mendengar ceritaku ia terdiam dan menundukkan wajahnya, tapi salah satu
tangannya tetap kupegang sambil kubelai dengan lembut. Melihat itu, aku
lanjutkan dgn berkata bhw kalau ia tdk bersedia agar tdk usah memaksakan diri

dan aku mohon maaf dgn sikapku krn ini pengaruh obat perangsang yg
terminum olehku. Selain itu kusampaikan bahwa biarlah kutanggung akibat
kesalahan minum obat tersebut dan aku katakan lagi bhw aku sadar kalau
permintaanku itu tdk pantas tapi aku tdk bisa melihat jalan keluar lain sambil
minta ia memikirkan solusi selain yg kutawarkan. Ia tetap diam, namun
kurasakan bhw nafasnya mulai memburu dan dengan lirih ia berkata apa aku
benar2 mau ML sama dia padahal ia merasa ia sudah agak tua, tdk terlalu
cantik, agak sedikit gemuk dan berasal dari kampung. Aku jawab bahwa ia masih
menarik, namun yg penting aku harus menyalurkan hasratku. Ia diam lagi dan
aku duduk dikasur sambil tanganku merangkul dan membelai pundaknya yg
terbuka karena dasternya model you can see. Kulitnya terasa masih halus dan
sedikit kuremas pundaknya yg agak lunak dagingnya. Mukanya pucat dan
bersemu merah berganti2, ia juga terlihat gelisah.
Sedikit lama situasi seperti itu terjadi tapi aku tdk tau entah berapa lama,
sampai aku mengulang pertanyaanku kembali (walaupun aku sudah yakin ia tdk
akan menolak) dan akhirnya ada suara pelan dan lirih dari mulutnya. Aku tdk tau
apa yg ia katakan tapi instingku mengatakan itu tanda persetujuan dan dengan
pelan aku dekatkan mukaku ke wajahnya. Mula2 aku cium dahinya, setelah itu
mulutku menuju pipinya. Ia hanya memejamkan mata, namun gerakan wajahnya
yg sedikit maju sudah menjadi isyarat bhw ia tdk keberatan. Sedikit lama aku
mencium kedua pipinya dan aku sejenak mencium hidungnya (di situ kurasakan
desah nafasnya agak memburu) lalu akhirnya aku mencium bibirnya yg sudah
agak terbuka sejak tadi. Sambil melakukan itu kedua tanganku juga beraksi
dengan halus. Tangan kananku merangkulnya melewati belakang kepalanya
kadang di bahu kanannya dan kadang di tengkuknya di belakang rambutnya yg
terurai. Sedang tangan kiriku merangkul punggungnya dan mengusap paha
kanannya secara bergantian.
Ciuman bibir mulai kuintensifkan dengan memasukan lidahku ke mulutnya. Ia
gelagapan namun tangan kananku memegang tengkuknya untuk meredam
gerakan kepalanya. Ternyata ia tidak biasa dicium dgn memasukan lidah ke
mulut yg kelak baru saya ketahui belakangan.. Tangan kiriku terus bergerilya,
aku menarik bagian bawah dasternya yg ia duduki agar tangan kiriku bisa masuk
ke sela2 antara daster dan punggungnya. Berhasil, tanganku mengusap
punggungnya yg halus namun masih kurasakan tali BH nya di situ. Dengan
pelan2 kubuka tali BH nya. Terasa ada sedikit perlawanan dari dia dengan
menggerak2an punggungnya sedikit. Iapun hampir melepaskan mulutnya dari
mulutku. Namun bibirku terus mengunci bibirnnya dan tugas tangan kiriku
membuka pengait BH nya dibelakan sudah terlaksana. Tangan kananku
langsung berpindah dengan menyelinap di balik daster bagian depan dan
menuju BH nya yg sudah terbuka. Aku biarkan BH tsb dan tangan kananku
menyelinap di antara BH dan payudaranya. Aku elus2 dan cubit2 pelan payudara
di sekitar putingnya beberapa saat sebelum akhirnya menuju puting sampai
akhirnya payudara yang memang sudah tidak terlalu kencang tapi cukup besar
itu kuremas2 bergantian kiri dan kanan. Saat itu mulutnya menggigit bibirku,
aku terkaget2, dan dengan cepat kutanggalkan daster dan BHnya dan ia
kutelentangkan dikasurku. Ia rebah di kasurku dengan hanya mengenakan
celana dalam yg sudah tua dan sedikit lubangnya di bagian selangkangannya.

Aku langsung menggumulinya dengan mulutku langsung menuju mulutnya. Ia
sempat melenguhkan suara yg sepertinya menyebut namaku. Aku tidak peduli.
Mulutku bergeser ke lehernya dan kudengar ia berkata dgn tidak jelas …. ?aduh
kenapa kita jadi begini??. Aku tdk peduli dan mulutkupun bergeser ke
payudaranya secara bergantion. Akhirnya suaranya yg awalnya seperti
keberatan menjadi berganti dengan lenguhan dan desahan yg lirih.
Aku bangkit dr badannya sejenak utk melepaskan celanaku sampai akupun
telanjang bulat. Kulihat ia sedikit kaget dan matanya terbuka melihatku seolah2
tak rela aku melepaskan tubuhnya. Namun secepat kilat setelah aku telanjang
bulat aku kembali menggumulinya dan melumat bibirnya habis2an. Kedua
tanganku merangkulnya dengan memegang erat bahu dan belakang kepalanya.
Kupeluk ia erat2 dan iapun membalas ciuman bibirku dengan hangat bahkan liar.
Matanya terpejam dan kedua tangannyapun memeluk diriku dan kadang
megusap punggungku. Mulutku beralih ke payudaranya. Sekarang aku baru bisa
melihat jelas bentuk payudara dan tubuhnya yg lain. Memang bukan bentuk yg
ideal sebagaimana umumnya diceritakan di cerita2 saru lainnya. Payudaranya
memang besar (aku tidak tau ukurannya) tapi sedikit turun dan tdk kencang.
Tubuhnya masih proporsional walaupun cenderung gemuk dengan adanya
lipatan2 lemak di pinggangnya dan perut yg kendur karena bekas melahirkan
(mungkin), namun kulitnya begitu halus. Mulutku lalu melumat puting
payudaranya yg kiri dan tangan kiriku meremas payudara yg kanan. Sedang
tangan kananku bergerilya ke selangkangannya dan mengusap2 bagian yg
masih terbungkus celana dalam tersebut. Jari2 tanganku menemukan lubang
pada robekan celana dalamnya yg sudah tua sehingga jari2ku tsb bisa
mengakses ke bagian selangkangannya yang mulai lembab pd rambutnya yg
kurasakan cukup lebat. Jari2 kananku memainkan klitorisnya dan kadang2
kumasukkan ke dalam lubangnya sambil menggesaek2annya. Kurasakan
desahan dan lenguhannya sedikit lebih keras menceracau. Sekilas kulihat
kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan pelan tapi mulai liar. Tangan
kirinya dia angkat sehingga jarinya ada didekat telinga kirinya sambil meremas2
seprai dan ujung bantal tidak karuan. Tangan kanannya mengusap kepala dan
menarik2 rambutku.
Akupun mulai tdk bisa menahan diri lagi karena penisku sudah berdiri tegak
sejak tadi. Ukuran penisku biasa2 saja (sebetulnya aku agak heran dgn ceritaa
erotis yg bilang sampai 20 cm, aku tdk pernah mengukur sendiri). Kutarik celana
dalamnya sampai lepas. Kemudian aku melepaskan tubuhnya dan mengambil
posisi di antara dua pahanya. Waktu kulepas tubuhnya sejenak tadi ia sempat
tersetak dan matanya terbuka seolah2 bertanya kenapa. Tapi begitu melihat aku
sudah dalam posisi siap mengeksekusi dirinya iapun mulai memejamkan
matanya lagi. Sambil kuremas2 payudaranya sebelum memasukan rudalku ke
liangnya aku sedikit berbasa basi dan menanyakan apa ia ikhlas aku setubuhi
malam ini. Dengan lirih ia mempersilakan dan bibirnya sedikit tersenyum. Kedua
tangannya menarik badanku dan akupun mulai memasukkan penisku ke
lubangnya. Walaupun sudah lembab dan ia pernah melahirkan, ternayata aku
tdk bisa langsunga memasukkan penisku. Sampai2 tangan wanita yg telah lama
menjanda dan kehidupan sehari2nya begitu kolot ini ikut membantu

mengarahkan rudalku ke lubangnya. Rupanya nafsunya sudah membuat ia
terlupa.
Di luar terdengar hujan mulai turun dengan lebat menambah liarnya suasana di
kamarku dan pintu kamarku masih terbuka krn aku yakin tdk ada siapa2 lagi di
rumah tipe 60 milik orang tuaku ini. Ujung rudalku mencoba merangsek
kelubangnya scr pelan2 dgn gerakan maju mundur dan kadang2 berputar di area
mulut lubangnya. Tidak terlalu lama rudalku mulai menembus liang
senggamanya. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Matanya merem dan
kadang setengah terbuka. Tangannya ke sana kemari kadang meremas seprai
dan ujung bantal, kadang meremas rambutku dan kadang mengusap punggung
dan bahkan mencakar punggung atau dadaku. Pinggulnya kadang menyentak
maju menuju rudalku seolah2 sangat ingin agar rudalku segera masuk. Akhirnya
rudalku yg sudah masuk sepertiganya ke liang senggamanya kucabut tiba2.
Terlihat ia kaget dan membuka matanya. Ia memanggil namaku dengan suara
yg sudah dikuasai birahi dan bertanya ada apa. Namun sebelum selesai
pertanyaannya aku langsung dengan cepat dan sedikit tekanan menghujamkan
rudalku ke liangnya yg walaupun sedikit seret tapi akhirnya bisa masuk
seluruhnya ke dalam lubangnya dan aku memeluknya dengan mukaku begitu
dekat dengan mukanya sambil menatap wajahnya yg penuh kepasrahan namun
juga dikuasai birahi yg kuat.
Ia tersentak dan melenguh keras ………….. aaaaaaaahh …. sejenak aku
mendiamkannya dengan posisi seperti itu. Ia mencoba menggerakkan
pinggulnya maju dan mundur dengan ruang gerak yg terbatas. Aku pun mulai
menggerakkan pinggulku ke belakang dan ke depan dengan gerakan pelan tapi
pasti. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya dengan liar. Ia
menceracau dan terus mendesah dan pinggulnya mencoba utk membawa diriku
menggoyangnya lebih cepat lagi. Entah beberapa kali namaku ia sebut. Ia juga
menceracau ia sayang dan mencintaiku. Dan aku yg sudah terbawa gelombang
birahipun tidak memanggil ia ?bibi? lagi (ia sebetulnya terhitung nenekku,
namun krn usianya tdk terlalu tua maka ia sering dipanggil bibi). Ya … dalam
keadaan birahi tsb aku juga kadang menceracau memanggil namanya saja.
Seperti tdk ada perbedaan usia dan kedudukan di antara kami.
Entah berapa lama aku menggoyangnya dengan gerakan yang sedang2 saja,
tiba2 kedua tangannya merangkul tubuhku utk lebih merapat dengan dia. Aku
pun melepaskan payudaranya dan juga akan merangkul tubuhnya. Kurasakan
betapa lunak dan empuk tubuhnya yg agak gemuk dan memang sudah tidak
terlalu sexy itu ketika kudekap. Semua bagian tubuhnya tidak ada yg kencang
lagi. Namun kelunakan tubuhnya dan kehalusan kulitnya ditambah pertemuan
dan gesekan antara kulit dadaku dgn kedua payudaranya membawa sensasi yg
luar biasa bagi diriku. Irama gerakan pinggulku dan pinggulnya tetap stabil.
Tiba2 ia mendesah dengan suara yg agak berbeda dan kedua matanya
memejam rapat2. Ia mempererat dekapannya dan mengangkat pinggulnya agar
selangkangannya lebih rapat dengan selangkanganku. Setelah itu kedua kakinya
mencoba mengkait kedua kakiku. Gerakan bibir dan raut mukanya menunjukan
kelelahan tercampur dengan kenikmatan yg amat sangat. Rupanya ia sudah
orgasme. Ia membuka matanya dan wajahnya ia dekatkan ke wajahku sambil
bibirnya terbuka dan memperlihatkan isyarat utk minta aku cium. Bibirkupun

menyambar bibirnya dan saling melumat. Ketika lidahku masuk kemulutnya,
ternyata ia sudah bisa mengimbangi walaupun dengan terengah2. Terbayang
reaksinya waktu orgasme tadi maka gairahku menjadi meningkat. Walaupun tau
ia sudah orgasme beberapa saat setelah itu aku mulai meningkatkan kecepatan
irama gerakan pinggulku utk membawa rudalku menghujam2 liang
senggamanya.
Walaupun sambil berciuman aku tetap mempercepat gerakan pinggulku.
Awalnya pinggulnya mencoba mengikuti gerakan pinggulku. Namun tiba2 ia
melepaskan mulutku dan kepalanya bergerak kekiri dan diam dengan posisi
miring ke kiri sehingga aku hanya bisa mencium pipi kanannya. Matanya merem
melek. Dekapan tangannya ketubuhkupun ia lepaskan dan ia angkat ke atas
sehingga jari2 kedua tangannya hanya meremas2 seprai di atas kepalanya.
Kedua kakinya berubah gerakan menjadi mengangkang dengan seluas2nya. Aku
jadi mempecepat gerakan pinggulku. Bahkan gerakan rudalku menjadi lebih
ganas yaitu saat aku memundurkan pinggulku maka rudal keluar seluruhnya
sampai di depan mulut liang senggamanya namun secepat kilat masuk lagi ke
dalam lubangnya dan begitu seterusnya namun tdk pernah meleset. Tangan
kiriku kembali meraba payu daranya dan kadang2 ke klitorisnya. Ia menceracau
dan kali ini tidak menyebut namaku namun berkali bilang ?aduh …. ampun …
sayang …? atau ?kasian aku sayang? dan bahkan ia bilang sudah tidak tahan
lagi. Namun aku tau ia terbawa kenikmatan yg luar biasa yang sekian tahun
tidak pernah ia rasakan. Malam dingin dan AC di kamarku tdk bisa menahan
keluarnya keringat di tubuh kami.
Tiba2 kembali ia melenguh, kali ini lebih keras dan mulutnya maju mencari
bibirku. Ya, ia kembali orgasme. Aku tidak menghiraukan mulutnya namun lebih
berkosentrasi utk mempercepat gerakan pantatku sambil aku putar. Putus asa ia
mencoba mencium bibirku ia rebah kembali, namun pd saat itu akupun
mencapai puncaknya dan rudalku menyemburkan sperma yang banyak ke liang
senggamanya. Sementara liang senggamanya berdenyut menerima sperma
hangatku. Aku terkulai di atas tubuhnya dengan rudalku masih di dalam liang
senggamanya. Kami berpelkan dgn sangat erat seolah2 tubuh kami ingin
menjadi satu. Kami berciuman dan saling membelai. Berkali2 kami saling
mengucapkan sayang. Iapun mengungkapkan betapa bahagianya ia krn selain
bisa menolongku menyalurkan libidoku, juga ia merasa terpuaskan kebutuhan
yang tdk pernah ia rasakan sekian tahu. Apalagi ketika setelah itu ia semapat
bercerita betapa almarhum suaminya begitu kolot dalam bercinta dan sekedar
mengeluarkan sperma saja. Ia baru tau bahwa bercinta dengan laki2 dapat lebih
nikmat dibanding yg pernah ia rasakan.
Kami tertidur sambil berpelukan. Paginya ketika terbangun jam 8 pagi kami
bercinta lagi dengan sebelumnya menelpon ke tempat diklatnya utk
memberitahukan bahwa ia tdk enak badan. Ia adalah tipe wanina yg juga agak
kolot. Beberapa variasi ia lakukan dgn kikuk. Ia sering tdk bersedia bila
vaginanya aku oral dgn alasan tdk sampai hati melihat aku yg banyak
menolongnya mengoral vaginanya. Tapi ia mau mengoral penisku kadang2.
Biasanya ia mau kalau ia sudah tdk bisa mengimbangi permainanku sedang aku
masih mau bercinta.

Selama sebulan ia tinggal di rumahku dan kami sudah seperti suami istri ….
bahkan percintaan kami sering lebih panas. 2 hari setelah percintaan kami yg
pertama aku malah sempat mengantar ia ke dokter utk pasang spiral agar tdk
terjadi hal2 yg tdk diinginkan. Hal yg kusuka darinya adalah ia ternyata pandai
menyembunyikan hubungan kami. Jadi bila ada tamu atau famili datang ke
rumahku, sikap kami biasa2 saja. Memang aku sempat mendoktrin dia bhw
hubungan kami ini adalah hubungan terlarang, namun krn awalnya menolongku
maka tdk apa2 dilanjutkan krn ia harus mengerti dgn kebutuhanku sbg laki2
drpd aku kena penyakit bercinta di luaran maka ia tdk perlu tanggung2
menolongku. Selain itu hal yg kusukai dr dia adalah sikapnya yg berbakti
kepadaku bila kami berdua saja. Hampir semua permintaanku mau ia terima
selama ia anggap permainan normal. Ia bilang itu ia lakukan krn aku banyak
menolongnya.
Kadang2 aku memutarkan kaset video BF utk memperlihatkan beberapa variasi
padanya. Aku bahkan sempat melakukan penetrasi di anusnya. Sebetulnya
kesediaannya utk disodomi itu dilakukan dgn terpaksa krn pd saat kami
melakukan foreplay ternyata ia menstruasi. Melihat aku sudah di puncak birahi ia
mencoba melakukannya dengan tangan dan mulut tapi tdk berhasil krn ia mmg
tdk terlalu lihay. Akhirnya dengan dibantu hand body cream maka anusnya lah
yg jadi sasaranku. Sebetulnya aku kasian juga melihat ia menitikan airmata
waktu aku mulai menusukan rudalku ke anusnya. Tapi karena aku sudah berada
di ujung kenikmatan maka aku tetap melakukannya.
Krn di rumah hanya kami berdua maka kami melakukannya di mana saja, bisa di
kamar mandi, bisa di depan TV, dan lainnya. Hal yg paling mengesankan adalah
suatu hari pada saat saya pulang jam istirahat siang, ternyata iapun baru pulang
juga utk istirahat di rumah krn ada informasi instrukturnya akan datang
terlambat sekitar setengah atau satu jam. Mendengar penyampaiannya itu aku
langsung mutup pintu rumah dan menyergapnya. Aku baringkan ia di atas
hambal di ruang tengah depan TV. Ia gelagapan dan berteriak2 senang sambil
berpura2 protes. Aku hanya menurunkan celana tidak sampai lepas dan iapun
cuma kusingkapkan rok panjangnya dan melepaskan celana dalamnya. Baju PNS
nya hanya kubuka kancingnya dan menarik BHnya ke atas. Kerudungnya aku
biarkan terpasang. Sehingga kamu bercinta dgn tdk sepenuhnya telanjang.
Mungkin krn agak tegang permainan kami menjadi lebih lama dr permainan
biasanya. Akhirnya kami istirahat di rumah dengan hanya makan nasi dan telur
dadar krn waktu istirahat tersita utk bercinta.
Pada saat ia kembali ke kotanya kami masih berhubungan sebulan 3-4 kali
dalam sebulan. Namun setelah aku pindah ke kota lain hubungan kami jadi
sangat jarang. Terakhir ia menikah lagi dengan seorang duda yang usianya 7
tahun lebih tua dari dia. Itupun ia terima setelah aku yg mendorong utk
menerimanya wkt ia menceritakan bhw ada orang yg mau melamarnya.
Demikianlah ceritaku. Sebetulnya sampai saat ia bersuamipun aku tau kalau aku
datang kepada dirinya dan ia punya waktu maka ia akan bersedia melayaniku.
Hanya aku tdk mau mengambil resiko yg lebih tinggi.
Nafsu Mbak Ambar
54
Posted by admin on May 5, 2009 – 5:35 pm

Filed under Setengah baya
Perkenalanku dengan Mbak Ambar berawal dari seringnya aku melakukan
kegiatan chatting di internet.
Singkat cerita, wanita tersebut ingin ketemu denganku di salah satu pusat
perbelanjaan terbesar di Surabaya. Setelah beberapa saat aku duduk sambil
meminum sofdrink yang aku pesan, seorang wanita sebaya berjalan
menghampiri tempat dudukku.
“Dandy ya..?” sapa wanita tersebut.
“Iya, maaf anda siapa ya?” balasku bertanya.
“Namaku Ambar” kata wanita itu mengenal diri.
“Silahkan duduk Mbak” kataku mempersilahkan wanita tersebut duduk.
Setelah memesan minuman American float, kami berdua terhanyut dalam
obrolan-obrolan yang terkadang membuat kami tertawa bersama. Umur 33
tahun tidak memperlihatkan tubuh Ambar mengendur sedikitpun. Tubuh Ambar
memang tidak seberapa tinggi, perkiraan aku 165/50. Bibirnya yang sedikit
sensual dan dipadu wajahnya yang manis, membuat wanita tersebut kelihatan
lebih dewasa. Pinggulnya yang indah dengan style bagaikan gitar spanyol,
membuat nafasku naik turun tidak beraturan. Tonjolan bongkahan daging
kembar di dadanya yang menurut tebakanku berukuran 34, semakin
memperlihatkan sempurnanya wanita tersbut.
“Dandy, kenapa kok bengong?” tanya Ambar.
“Ngg.. nggak kok Mbak, aku cuman terpana aja dengan Mbak” godaku
“Akh kamu bikin aku GR saja” katanya tersenyum.
“Oya Mbak kemarin kok bisa langsung PV nickname aku?” tanyaku.
“Iya ada seseorang yang kasih nickname kamu, kata temanku kamu orangnya
asyik aja” jelas Ambar.
“Emang siapa sih Mbak nama teman nya?” tanyaku selidik.
“Sudah deh Dandy, maaf aku nggak bisa kasih namanya. Yang penting aku
sudah ketemu kamu sekarang” kata Ambar menjelaskan.
Kami berdua cerita tentang kehidupan kita masing-masing, dan ternyata Ambar
termasuk single parent. Itu karena beberapa tahun yang lalu, suaminya pergi
entah kemana. Dengan wajah yang sedikit suram, Ambar menceritakan kisahnya
sampai dia harus bercerai dengan suaminya.
Ada guratan kesedihan yang nampak jelas diwajahnya, aku seperti tersihir
dengan ceritanya. Sehingga membuat aku sering menarik nafas panjang. Ambar
menceritakan kalau di Surabaya ini tinggal dengan kakak perempuannya. Sebut
saja kota pinggiran kota Surabaya tinggalnya.
Hampir 1 jam penuh kami ngobrol tanpa terasa, sampai akhirnya aku
menawarkan untuk mengakhiri pertemuan tersebut.

“Ambar, sudah malam nih” kataku
“Iya” jawabnya lirih.
“Mas, aku dianter pulang ya?” pinta Ambar.
“Oke, tapi mobilku jelek lho” kataku merendah.
“Jelek-jelek kan beli sendiri, lagian aku butuh orangnya kok” goda Ambar.
‘DEG’ jantungku terasa berhenti seketika walaupun dengan secepat itu pula aku
berusaha mengontrol keadaan diriku yang mulai ngeres. Aku berusaha
menerjemahkan apa arti sebenernya perkataan Ambar tersebut. Betapa
bahagianya diriku jika memang dia mau kencan denganku. Seiring obrolan yang
sedikit membuat nafasku sesak, kami berdua suadah berada dalam mobil dan
segera meluncur untuk mengantar Ambar. 45 menit kemudian, kami sudah
berada di sebuah rumah yang tidak sebegitu besar tetapi view nya sangat
mengagumkan.
“Dandy, mampir dulu ya?” ajak Ambar.
“Aduh maaf deh, sepertinya ini sudah malam” kataku.
“Sebentar aja, sekalian aku buatin kopi” pinta Ambar menggebu.
Tangannya yang lentik menarikku supaya turun dari mobil dan akhirnya aku
memarkir mobilku di depan rumahnya. Ketika aku masuk ruang tamu, bau
semerbak bunga sedap malam menyengat hidungku dan menambah suasana
romantis.
“Dandy, silahkan diminum,” kata Ambar.
“Iy–iya..” jawabku gugup.
Entah berapa lama aku menikmati suasana sekeliling, karena tanpa terasa
Ambar sudah membawa 2 buah cangkir yang berisi kopi dan teh. Aku langsung
meminum kopi hangat yang sudah dihidangkan Ambar.
“Mmm, kok sepi memang kakak kamu dimana?” tanyaku.
“Nggak tahu tuh Dandy, mungkin lagi keluar” jawab Ambar.
Malam itu memang Ambar kelihatan sangat menggairahkan, dengan u can see
warna cream dipadu dengan rok mini warna merah muda membuat kakinya
yang jenjang semakin nampak indah. Sesekali aku melirik pahanya yang putih
mulus sehingga membuat ‘adik kecilku’ mulai berontak.
“Dan, kenapa kok bengong?” tanya Ambar mengagetkan lamunanku.
“Tidak apa-apa kok” kataku.
“Dany, aku mau tanya sesuatu boleh nggak?” tanya Ambar.
“Silahkan Mbak” jawabku.
“Mmm, kata temanku kamu sering menulis pengalaman sex kamu di internet
ya?” tanyanya.
“Iy–iya sih Mbak” jawabku dengan wajah memerah.

“Terus apa yang kamu ceritakan itu benar kisah nyata kamu?” tanyanya
kembali.
“Iya Mbak, aku sengaja tuangkan di situs itu karena aku belum menemukan
sosok yang pas buat aku ajak share tentang masalah sex,” jelasku.
“Apa istri kamu tahu?” tanya menyelidik.
“Ya pasti nggaklah Mbak” jawabku.
“Aku sudah baca semua karya tulis kamu dan aku tertarik dengan style kamu
saat bercinta dengan wanita setengah baya. Sepertinya kamu perfect banget
dalam urusan yang satu itu” puji Ambar.
“Akh, biasa aja kok Mbak.. ” jawabku datar.
Kami membicarakan hal-hal mengenai sex dengan jelas dan terbuka, sehingga
tanpa terasa jam sudah menunjukkan pk.20.30 malam.
“Mbak sudah malam nih, aku mau pulang dulu ya?” pintaku.
“Iya deh dan tapi.. ” Ambar tidak meneruskan pembicaraanya.
Ambar langsung berdiri dan menghadap tepat di depan wajahku dan sesaat
kemudian Ambar sudah berada diatas pangkuanku.
“Dandy, aku ingin bukti kehebatan kamu dalam bercinta” pintanya.
“Mbak nanti ada orang.. ” jawabku ragu
Tanpa bisa meneruskan rasa kekhawatiranku, bibir Ambar langsung menyumbat
bibirku. Tangannya melingkar di leherku sehingga lumatan bibir Ambar seakan
menyesakkan nafasku. Kami berdua saling melumat dan mengadu lidah,
sehingga lambat tapi pasti birahiku mulai terusik untuk bangkit. Rok mini Ambar
yang tadinya rapi, sekarang sudah terangkat ke atas. Celana berenda warna pink
semakin menambah kesempurnaan pinggul Ambar. U can see cream Ambar
sudah terlepas semua kancingnya sehingga bra nya yang berwarna pink nampak
jelas dihadapanku.
Sesekali tubuhnya meliuk-liuk diatas pangkuanku, seakan-akan memberikan
indikasi bahwa dia sudah mulai gatal.
Sesaat kemudian Ambar berdiri dan mengkangkangi wajahku, naluriku segera
menggerakan wajahku untuk medekati selangkangannya. Bibirku yang sudah
mulai nakal, menjilati lutut, paha dan sampailah di tengah selangkangan Ambar.
Aku melihat CD warna pink yang tadinya masih bersih, sudah mulai banjir
dengan lendir yang membasahi permukaan nonoknya.
“Ohhk.. Dandy.. teruss..” desah Ambar.
Dengan lihai, tanganku yang kiri mendorong pantat Ambar supaya lebih maju
dan tangan kiriku menyibak CD yang dikenakan Ambar. Lidahku dengan mudah
mendarat pada lubang nonok Ambar yang tampak rimbun ditutupi oleh rambut-

rambut kemaluan yang hitam pekat. Bagaikan menjilat es cream, aku semakin
berani mengoyak nonoknya dengan lidahku.
“Aoowww.. Daannddyy.. nikmat sekali sayaangg” desah Ambar.
“Dannddy.. aku.. keeluuarr.. aaakhh” Ambar mendesah panjang dan bersamaan
dengan rintihan tersebut, cairan hangat keluar dari lubang nonoknya. Dengan
liarnya aku segera menjilati seluruh cairan birahi yang meleleh itu, dan aku
segera berdiri dari tempat dudukku semula.
Hanya dengan menyibak rok Ambar, aku membimbing tubuh Ambar untuk
setengah menunduk. Tangannya menopang tubuhnya pada sandaran tempat
duduk. Sedetik kemudian aku sudah mengeluarkan batang kontolku, hanya aku
buka resletingku, kontolku sudah berdiri tegak keluar. Ambar hanya menunduk
pasrah dengan apa yang akan aku lakukan. Tanganku segera melorotkan CD
Ambar sampai sebatas lutut, aku segera menggesek-gesekan kepala kontolku
pada lubang Ambar.
“Uggh.. Danddy.. gelii.. ” rintih Ambar.
“Sudah sayang.. masukkan.. aku nggak tahan.. please” pinta Ambar.
Setelah berkata demikian, Ammbar segera menekan pinggulnya sehingga
batang kontolku mulai mengoyal bibir nonoknya.
“Aooaa.. beesaarr seekali Danddy..” kata Ambar.
Hanya sekali tekan saja, seluruh batang kemaluanku sudah terbenam dalam
lubang nonoknya, kedua tanganku menahan pinggul Ambar agar mengikuti
iramaku.
Aku sengaja tidak menggerakkan keluar masuk kontolku, akan tetapi aku
menggoyang pinggulku. Gerakan berputar membuat Ambar menggerinjang
hebat. Dengan santainya aku memainkan gejolak birahinya, sehingga beberapa
saat kemudian tangan Ambar yang pertamnya menopang tubuhnya pada
sandaran tempat duduk, sekarang berganti menekan pantatku untuk tidak
melepaskan kontolku saat Ambar mencapai orgasme yang kedua.
“Dan.. teruuss.. jangann berhenti saayanng..” rintih Ambar.
Mendengar rintihan Ambar dan gelagat akan orgasmenya Ambar, aku segera
menggoyang cepat pinggulku dan sesekali menekan dalam kontolku pada
lubang kewanitaanya.
“Amppunn.. kkaamuu.. memang.. hheebbaatt..” rintih Ambar.
Beberapa saat kemudian.

“Danddyy.. aakuu nggak tahann.. oookkhh.. teruss.. sayang.. Danddyy..” Ambar
merintih panjang saat aku merasakan cairan hangat membasahi batang kontolku
dan jujur saja hal itu membuat birahiku mendekati pucaknya..
“Ccreekk.. Crekk.. Creekk.. ” suara batang kontolku keluar masuk pada lubang
nonoknya yang sudah membanjir.
Tubuh Ambar tidak lagi menunduk, tubuh kamu berdiri berbelakangan.
Tanganku menggapit perut Ambar dari belakang, pantat Ambar yang sexy
menjorok kebelakang dan mendempet sepenuhnya dengan perutku. Tangan
Ambar memainkan kedua belah payudaranya, posisi ini memudahkan aku untuk
melakukan ‘tusukan-tusukan’ kontolku yang lebih mentok dalam lubang
nonoknya.
“Mbaak.. aku.. mau.. keluar..” rintihku.
“Iyaa.. Danndydyy akuu jugaa maau laagii..” rintih Ambar.
“Mbaak.. kita keluarr.. barengg..” kataku.
“Iyaa.. sayangg.. oookkhh” Ambar semakin panjang rintihannya.
Gerakan kami semakin cepat dan tanpa sadar kami melakukannya di ruang tamu
rumah Ambar. Batang kontolku semakin senut-senut menahan semburan pejuku
yang sudah berada di ujung kontolku.
“Daanddydy.. aku.. kkeell.. uuuaarr aakhh” rintih Ambbar.
“Iyaa.. aaku juggaa Mbaakk.. ” rintihku panjang.
“Aakkhh.. ” kami berdua merintih panjang saat semburan pejuku dalam nonok
Ambar.
“Crrutt.. Crut.. Crut.. Crutt.. ” entah berapa kali semburan pejuku muncrat dalam
nonok Ambar. Dan disaat aku masih menikmati sisa-sisa kenikmatan
persetubuhan tersebut, Ambar seketika merubah posisinya dan duduk.
Wajahnya tepat di depan batang kontolku yang masih mengencang.
“Mmm.. ” bibirnya yang mungil segera melumat batang kontolku. Lidahnya
menjilati sisa-sisa tetesan peju yang keluar dari ujung kontolku.
“AAkkh.. Mbaakk.. nikmat sekali.. ” rintihku.
Batang kontolku ditelan habis oleh mulut Ammbar yang sensual, hal itu
membuat aku semakin terbang saja dan sedikit demi sedikit kontolku mulai
melembek dan ‘tidur’ seperti semula.
“Ihh Dandy, punya kamu memang luar biasa. Apa yang selama ini hanya aku
dengar dari teman-teman, sekarang aku sudah buktikan” puji Ambar.
Aku hanya menengadahkan wajahku ke atas langit-langit karena sambil memuji
Ambar masih saja mengulum, mengocok dan menjilati kontolku. Dentangan jam

dinding berbunyi sepuluh kali, aku segera membenahi pakaianku yang
amburadul.
“Mbak sudah malam nih, aku mau balik dulu?” kataku.
“Muuacchh..” Ambar mengecup kontolku dan kembali memasukkan kontolku
dalam CD, serta merapikan celanaku.
Ambar bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan tubuhku, tangannya
merangkul leherku.
“Dandy.. ma kasih ya kamu telah memberikan kepuasan untukku” kata Ambar.
“Sama-sama Mbak.. ” kataku lirih.
“Kapan-kapan bisa kan kita ulangi lagi?” tanya Ambar.
“Bisa Mbak, atur aja waktunya” jawabku pasti.
Bersamaan dengan itu bibir Ambar melumat bibirku, 5 menit lamanya Ambar
melumat bibirku. Setelah kecupan romantis tersebut, aku segera beranjak
menuju mobil starletku. Sambil kembali memandang Ambar yang berdiri di
depan pintu melambaikan tangannya, aku segera menekan gas mobilku untuk
meninggalkan rumah wanita tersebut.
Malam itu benar-benar membuat aku tidak bisa melupakan dengan apa yang aku
alami, Ambar seorang wanita yang anggun ternyata bisa takluk di atas ranjang
oleh keperkasaanku.
Ga enak dong kalo cuman baca doang? klik disini untuk menonton video2
indonesia yang kalah hotnya
Aku ‘Obat Awet Muda’ Tante Erni
57
Posted by admin on April 15, 2009 – 12:37 pm
Filed under Setengah baya
Kejadian ini terjadi ketika Aku kelas 3 SMP, yah Aku perkirakan umur Aku waktu
itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu
cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak. Yah
itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yang
namanya tante Erni ( biasa Aku panggil dia begitu ) orangnya cantik banget,
langsing dan juga awet muda bikin Aku bergetar.
Tante Erni ini tinggal dekat rumah aku, hanya beda 5 rumah lah, nah tante Erni
ini cukup deket sama keluarga Aku meskipun enggak ada hubungan saudara.
Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumah
Aku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah tante
Erni ini lah yang bikin Aku cepet gede ( maklum lah anak masih puber kan
biasanya suka yang cepet-cepat
).

Biasanya tante Erni kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atahu kadangkadang celana pendek yang bikin Aku ser…ser…ser…Biasanya kalau sudah sore
tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang tv dan biasa juga Aku pura-pura nonton tv
saja sambil lirak lirik. Tante Erni ini entah sengsaja atahu engenggak Aku juga
enggak tahu yah.
Dia sering kalau duduk itu tuh ngangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin
Aku ser..ser lagi deh hmmm. Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengsaja Aku
juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih Aku kadang puas banget sampaisampai kebayang kalau lagi tidur.
Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya
tante Erni ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan ( wuih Aku suka
banget nih ). pernah Aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada
perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas
dingin tapi tante Erni malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya
duduknya.
Nah dari situ Aku sudah mulai suka sama tuh tante yang satu itu. Setiap hari
pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh tante.Pernah juga
Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa.
Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan mami Aku ngsajak Aku pasti tante
Erni pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar
jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung.
Ternyata mereka cerita hantu ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil
ceritanya yang serem-serem pas waktu itu tante Erni mau ke WC tapi dia takut .
Tentu saja tante Erni di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke wc
sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau
kencing di deket pojokan taman. Lalu tante Erni menarik tangan Aku minta
ditemenin ke wc, yah Aku sih mau saja.
Pergilah Aku ke dalam villa sama tante Erni , sesampainya Aku di dalam villa Aku
nunggu di luar wc eh malah tante Ernin ngsajak masuk nemenin dia soalnya
katanya dia takut
“Lex temenin tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di
tutup tante takut nih ” kata tante Erni sambil mulai jongkok .
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana
dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga ”
serrr..rr..serr.psstt” kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai
deg-degan waktu liat tante Erni kencing dalem hati Aku kalau saja tante Erni
boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmmmm. sampai-sampai Aku
bengong ngliat tante Erni.
“Heh kenapa kamu lex kok diam gitu awas nanti ke sambet” kata tante Erni

“Ah enggak apa-apa tante ” jawabku
“Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihat nya ke bawah terus
sih ” tanya tante Erni.
” Enggak kok tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa
sih bentuk itunya cewek ? ” tanyaku.
Tante Erni cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama cdnya
“Kamu mau liat lex ? nih tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti tante
enggak enak sama mama kau ” kata tante Erni
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah
vaginanya. Aku tambah deg deg an sampai panas dingin karena baru kali ini Aku
megang sama melihat yang namanya vagina. Tante Erni membiarkan Aku
memegang-megang vaginanya
“Sudah yah lex nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain kirain kita ngapain lagi

“Iyah tante ” jawab ku, Lalu tante Erni menaikan celana dalam juga celana
pendeknya terus kita gabung lagi sama ibu-ibu yang lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku
panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat
belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badan ku enggak enak
” Lex kamu enggak ikut ? ” tanya mamiku,” Enggak yah mam aku enggak enak
badn nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah mah ” kataku ” Yah sudah
istirahat yah jangan main-main lagi ” kata mami
” Erni kamu maukan tolong jagain si alex nih yah nanti kalau kamu ada pesenan
yang mau di beli biar sini aku beliin ” kata mami pada tante Erni ” Iya deh kak
aku jagain si alex tapi beliin aku tales sama sayuran yah aku mau bawa itu buat
pulang besok ” kata tante Erni.
Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan tante Erni berdua saja di
villa , tante Erni baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam
menunjukan pukul 9 pagi waktu itu
” Kamu sakit apa sih lex ? kok lemes gitu ? ” tanya tante Erni sambil nyuapin aku
dengan bubur ayam buatanNya
” Enggak tahu nih tante kepala ku jug pusing sama panas dingin saja nih yang di
rasa ” kataku.
Tante Erni begitu perhatian padaku maklumlah di usia perkimpoiannya yang
sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
” Kepala yang mana lex atas apa yang bawah ?” kelakar tante Erni padaku.

Aku pun bingung ” Memangya kepala yang bawah ada tante ? kan kepala kita
hanya satu jawabku polos, Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake
segitiga pengaman ” kata tante Erni sambil memegang si kecilku
” Ah tante bisa saja ” kataku ” Eh jangan2 kamu sakit gara-gara semalam yah ”
aku hanya diam saja.
Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh tante Erni, pada waktu dia
ingin membuka celanaku, ku bilang
” Tante enggak usah deh tante biar alex saja yang lap, kan malu sama tante ”
” Enggak apa-apa tanggung kok ” kata tante Erni sambil menurunkan celanaku
dan cd ku.
Di lapnya si kecil ku dengan hati-hati , aku hanya diam saja
” Lex mau enggak pusingnya Hilang ? Biar tante obatin yah ”
” Pakai apa tan, aku enggak tahu obatnya ” kataku polos
” Iyah kamu tenang saja yah ” kata tante Erni
Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan itu juga
penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku
melayang karena baru pertama kali ini merasakan yang seperti ini
” Achh…cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku
memegang vagina tante Erni yang masih di balut dengan celana pendek dan cd
tapi tante Erni hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan
kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing
” Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku
” Sudah kencingnya di mulut tante saja yah enggak apa-apa kok ” kata tante
Erni ,
Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut tante Erni
karena tante Erni tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena
merasakan enaknya
” Hhgggg….achhh.. tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas
vagina tante Erni yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Ernipun langsung menghisap dengan agresifnya dan badan ku pun
mengejang keras
” Croott….ser.err.srett ” muncratlah air mani ku dalam mulut tante Erni, tante
Erni pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan
kurasakan vagina tante Erni berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan
celana tante Erni lembab dan agak basah
” Enakkan lex pusingnya pasti hilangkan ” kata tante Erni

” Tapi tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama tante nih soalnya
tante….”
” Sudah enggak apa-apa kok, oh iya sperma kamu kok kental banget wangi lagi,
kamu enggak pernah onani lex ? ”
” Enggak tante ”
Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina tante Erni
” Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih ” Aku jadi salah tingkah
” Sudah enggak apa-apa kok tante ngerti “katanya padaku
” Tante boleh enggak alex megang itu tante lagi ” pintaku pada tante Erni
Tante Erni pun melepas kan celana pendek nya, kulihat celana dalam tante Erni
basah entah kenapa
” Tante kencing yah ? ” tanya ku
” Enggak ini namanya tante nafsu lex sampai-sampai celana dalam tante basah
” dilepaskannya pula celana dalam tante Erni dan mengelap vaginanya dengan
handukku.
Lalu tante Erni duduk di sampingku”, Lex pegang nih enggak apa-apa kok sudah
tante lap ” katanya, Akupun mulai memegang vagina tante Erni dengan tangan
yang Agak gemetar, tante Erni hanya ketawa kecil
” Lex kenapa ? biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih ” kata tante Erni
Dia mulai memegang penisku lagi ” Lex tante mau itu nih ”
” Mau apa tante ”
” Itu tuh ” aku bingung atas permintaan tante Erni
” Hmm itu tuh punya kamu di masukin ke dalam itunya tante kamu mau kan ?”
” Tapi alex enggak bisa tante caranya ”
” Sudah kamu diam saja biar tante yang sajarin kamu yah ” kata tante Erni
padaku.
Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak
tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina tante Erni yang di tumbuhi bulu
halus
” Lex jilatin donk punya tante yah ” katanya
” Tante alex enggak bisa nanti muntah lagi ”
” coba saja lex ” Tante pun langsung mengambil posisi 69 aku di bawah, tante
Erni di atas dan tanpa pikir panjang tante Erni pun mulai mengulum penisku
” Achhhh ….. hgghhhghhh. tante ”
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina tante Erni tidak
berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina tante
Erni seperti wangi daun pandan ( asli Aku juga bingung kok bisa gitu yah ) aku
mulai menjilati vagina tante Erni sambil tanganku melepaskan kaus u can see

tante Erni dan juga melepaskan kaitan bh nya , kini kami sama-sama telanjang
bulat ,
Tante Erni pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian tante
Erni menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku
dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu
” Kamu tahu enggak mandi kucing lex ” kata tante Erni.
Aku hanya menggelengkan kepala dan tante Erni pun langsung menjilati leherku
menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat , ciumannya berlanjut
sampai ke putingku dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke
selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras.
Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di
bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu
dahsyat. Tante Erni pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti
tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku
pun di jilatinya sampai aku merasakan anusku masuk keluar.
Kulihat payudara tante Erni mengeras, tante Erni menjilati sampai ke betisku dan
kembali ke bibirku di kulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku
pun meremas payudara tante Erni. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati
vagina tante Erni, langsung tante Erni ku baringkan dan aku bangun langsung ku
jilati vagina tante Erni seperti mnjilati es krim
” Achhh….uhh.hhghh.acch lex enak banget terus lex, yang itu isep jilatin lex ”
kata tante Erni sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya , banyak sekali lendir yang keluar
dari vagina tante Erni tanpa sengaja tertelan olehku
” Lex masukin donk tante enggak tahan nih ”
” Tante gimana caranya ? ”
Tante Erni pun menyuruhku tidur dan dia jongkok diatas penisku dan langsung
menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante Erni naik turun seperti orang naik
kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul
dan tante Erni pun mengejang hebat
” Lex tante mau keluar nih eghhhh….huhh achh ” kata tante Erni
Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan
ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina tante Erni. Hmm sungguh
pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina tante Erni mungurut-urut
penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan tante Erni sudah orgasme dan
permainan kami terhenti sejenak.
Tante Erni tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya
” Lex nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang yah ” pinta tante Erni padaku

Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan tante Ernipun
langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi
” Achh … tante enak banget achhhh,….gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun
merasakan hal yang seperti tadi lagi
” Tante alex kayanya mau kencing niih ”
Tante Erni pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket
dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama
menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama
tante Erni pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk
menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan
yang alang kepalang nikmatnya.
Kamipun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan
kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi tante Erni menungging di
pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan tante Erni
yang hebat.
Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan
telur dadar buatan tante Erni, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai
tertidur dengan tante Erni di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam
celana dalam tante Erni. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami
melakukannya permintaan tante Erni, tepat jam 4:30 kami menenggakhiri dan
kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.
” Lex kamu sudah baikan ? ” tanya mami ku
” Sudah mam , aku sudah seger n fit nih ” kataku
” Kamu kasih makan apa Ni, si alex sampai-sampai langsung sEhat ” tanya mami
sama tante Erni
” Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus ku kasih saja panadol ”
kata tante Erni
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobilpun aku duduk disamping tante
Erni yang semobil denganku. Mami yang menyupir ditemani ibu herman di
depan.
Didalam mobilpun aku masih curi-curi memegang barangnya tante Erni.
Sampai sekarangpun aku masih suka melakukannya dengan tante Erni bila
rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan tante Erni. Sekali waktu aku
pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali.
Kini tante Ernipun sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru kuketahui
bahwa suami tante Erni ternyata ejekulasi dini. Kinipun aku bingung akan anak
itu. Yah begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL tante Erni
bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku. Pernah juga aku
menemani seorang kenalan tante Erni yang nasibnya sama seperti tante Erni

mempunyai suami yang ejekulasi dini dan suka daun muda buat obat awet
muda, dengan menelan air mani pria muda.
Ngentot Dgn Bos ku
73
Posted by admin on April 15, 2009 – 12:32 pm
Filed under Setengah baya
Selama satu minggu Ibu Mertuaku berada di Jakarta, hampir setiap hari setiap
ada kesempatan aku dan Ibu Mertuaku selalu mengulangi persetubuhan kami.
Apalagi setelah Indri istriku ditugaskan ke Medan selama tiga hari untuk
mengerjakan proyek yang sedang di kerjakan kantor istriku, Aku dan Ibu
mertuaku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami peroleh, kami berdua
semakin lupa diri. Aku dan Ibu mertuaku tidur seranjang, layaknya suami istri,
ketika hasrat birahi kami datang aku dan Ibu Mertuaku langsung menuntaskan
hasrat kami berdua. Kusirami terus menerus rahim Ibu Mertuaku dengan
spermaku, akibatnya fatal.
Setelah istriku kembali dari Medan Bapak mertuaku minta agar Ibu mertuaku
segera pulang ke Gl, dengan berat hati akhirnya Ibu mertuakupun kembali ke
desa Gl. Setelah Ibu mertuaku kembali kedesa GL hari hariku jadi sepi Aku begitu
ketagihan dengan permainan sex Ibu Mertuaku aku rindu jeritan jeritan joroknya,
saat orgasme sedang melandanya.
Pertengahan juni lalu Ibu mertuaku menelponku ke kantor, aku begitu gembira
sekali Kami berdua sudah sama sama saling merindukan, untuk mengulangi
persetubuhan kami, tapi yang paling membuatku kaget adalah saat Ibu
mertuaku memberikan kabar, kalau beliau terlambat datang bulan dan setelah
diperiksa ke dokter, Ibu mertuaku positip hamil. Aku kaget sekali, aku pikir, Ibu
Mertuaku sudah tidak bisa hamil lagi.
Aku minta kepada Ibu mertuaku, agar benih yang ada dalam kandungannya
dijadikan saja, namun Ibu mertuaku menolaknya, Ibu mertuaku bilang itu sama
saja dengan bunuh diri, karena suaminya sudah lama tidak pernah lagi
menggaulinya, tetapi masih bisa hamil. Baru aku tersadar, yah kalau Bapak
mertuaku tahu istrinya hamil, pasti Bapak mertuaku marah besar apalagi jika
Bapak mertuaku tahu kalau yang menghamili istrinya adalah menantunya
sendiri.
Juga atas saran Dokter, menurut dokter di usianya yang sekarang ini, sangat
riskan sekali bagi Ibu mertuaku untuk hamil atau memiliki anak lagi, jadi Ibu
mertuaku memutuskan untuk mengambil tindakan.
“Bu, apa perlu aku datang ke desa Gl?”
Ibu mertuaku melarang, “Tidak usah sayang nanti malah bikin Bapak curiga, lagi
pula ini hanya operasi kecil”.

Setelah aku yakin bahwa Ibu mertuaku tidak perlu ditemani, otak jorokku
langsung terbayang tubuh telanjang Ibu mertuaku.
“Bu aku kangen sekali sama Ibu, aku kepengen banget nih Bu”
“Iya Mas, Ibu juga kangen sama Mas Pento. Tunggu ya sayang, setelah masalah
ini selesai, akhir bulan Ibu datang. Mas Pento boleh entotin Ibu sepuasnya”.
Sebelum kuakhiri percakapan, aku bilang sama Ibu mertuaku agar jangan
sampai hamil lagi, Ibu mertuaku hanya tersenyum dan berkata kalau dia
kecolongan. Gila.. , hubungan gelap antara aku dengan Ibu mertuaku
menghasilkan benih yang mendekam di rahim Ibu mertuaku, aku sangat bingung
sekali.
Saat aku sedang asyik asyiknya melamun memikirkan apa yang terjadi antara
aku dan Ibu mertuaku, aku dikagetkan oleh suara dering telepon dimejaku.
“Hallo, selamat pagi”.
“Pento kamu tolong ke ruang Ibu sebentar”.
Ternyata Bos besar yang memanggil, akupun beranjak dari tempat dudukku dan
bergegas menuju rangan Ibu Mila. Ibu Mila, wanita setengah baya, yang sudah
menjanda karena ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan, saat latihan terjun
payung di Sawangan. Aku taksir, usia Ibu Mila kurang lebih 45 tahun, Ibu Mila
seorang wanita yang begitu penuh wibawa, walaupun sudah berusia 45 tahun
namun Ibu Mila tetap terlihat cantik, hanya sayang Tubuh Ibu Mila agak gemuk.
“Selamat pagi Bu, ada apa Ibu memanggil saya”.
“Oh nggak.. , Ibu cuma mau Tanya mengenai pekerjaan kemarin, yang diberikan
sama Bp. Anwar sudah selesai kamu kerjakan atau belum?”.
“Oh.. ya Bu.. sudah, sekarang saya sedang memeriksanya kembali sebelum saya
serahkan, biar tidak ada kesalahan”. Jawabku.
“Oh.. ya.. sudah kalau begitu, Kamu kelihatan pucat kenapa? Kamu sakit?”.
Tanya Ibu Mila.
“Oh nggak Bu Saya tidak apa-apa”.
“Kalau kamu kurang sehat, ijin saja istirahat dirumah, jangan dipaksakan nanti
malah tambah parah penyakit mu”.
“Ah.. nggak apa-apa Bu saya sehat kok”. Jawabku.
Saat aku hendak meninggalkan ruangan Ibu Mila, aku sangat terkejut sekali, saat
Ibu Mila berkata, “Makanya kalau selingkuh hati hati dong Pen Jangan terlalu
berani. Sekarang akibatnya ya beginilah Ibu mertuamu hamil”.
Aku sangat terkejut sekali, bagai disambar petir rasanya mukaku panas sekali,
aku sungguh-sungguh mendapatkan malu yang luar biasa.

“Dari mana Ibu tahu?” tanyaku dengan suara yang terbata bata.
“Maaf Pen Bukannya Ibu ingin tahu urusan orang lain, Tadi waktu Ibu menelfon
kamu kamu kok online terus Ibu jadi penasaran, Ibu masuk saja ke line kamu.
Sebenarnya, setelah Ibu tahu kamu sedang bicara apa, saat itu Ibu hendak
menutup telepon rasanya kok lancang dengerin pembicaraan orang lain, tapi Ibu
jadi tertarik begitu Ibu tahu bahwa kamu selingkuh dengan Ibu mertuamu
sendiri”.
Aku marah sekali, tapi apa daya Ibu Mila adalah atasanku, selain itu Ibu Mila
adalah saudara sepupu dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja, bisa bisa
malah aku dipecat. Aku hanya diam dan menundukan kepalaku, aku pasrah.
“Ya sudah, tenang saja rahasia kamu aman ditangan Ibu”
“Terima kasih Bu”, jawabku lirih sambil menundukkan mukaku
“Nanti sore setelah jam kerja kamu temenin Ibu ke rumah, ada yang hendak Ibu
bicarakan dengan kamu, OK”.
“Tentang apa Bu?” tanyaku.
“Ibu mau mendengar semua cerita tentang hubunganmu dengan Ibu mertuamu
dan jangan menolak” pintanya tegas.
Akupun keluar dari ruangan Ibu Mila dengan perasaan tidak karuan, aku marah
atas perbuatan Ibu Mila yang dengan lancang mendengarkan pembicaraanku
dengan Ibu mertuaku dan rasa malu karena hubungan gelapku dengan Ibu
mertuaku diketahui oleh orang lain.
“Kenapa Pen? Kok mukamu kusut gitu habis dimarahin sama si gendut ya”,
Tanya Wilman sohibku.
“Ah, nggak ada apa apa Wil Aku lagi capek aja”.
“Oh aku pikir si gendut itu marahin kamu”.
“Kamu itu Wil, gendat gendut, ntar kalau Ibu Mila denger mati kamu”.
Hari itu aku sudah tidak konsentrasi dalam pekerjaanku Aku hanya melamun dan
memikirkan Ibu mertuaku, kasihan sekali beliau harus dikuret sendirian,
terbayang dengan jelas sekali wajah Ibu mertuaku kekasihku, rasanya aku ingin
terbang ke desa GL dan menemani Ibu mertuaku, tapi apa daya Ibu mertuaku
melarangku. Apalagi nanti sore aku harus pergi dengan Ibu Mila, dan aku harus
menceritakan kepadanya semua yang aku alami dengan Ibu mertuaku, uh..
rasanya mau meledak dada ini
Aku berharap agar jam tidak usah bergerak, namun detik demi detik terus
berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah jam setengah lima. Ya aku hanya bisa
pasrah, mau tidak mau aku harus mencerikan semua yang terjadi antara aku
dengan Ibu mertuaku agar rahasiaku tetap aman.
“Kring.. “, kuangkat telepon di meja kerjaku.

“Gimana? Sudah siap”, Tanya Ibu Mila. “Ya Bu saya siap”, “Ya sudah kamu jalan
duluan tunggu Ibu di ATM BNI pemuda”.
Ternyata Ibu Mila tidak ingin kepergiannya denganku diketahui karyawan lain.
Dengan menumpang mobil kawanku Wilman, aku diantar sampai atm bni,
dengan alasan aku mau mengambil uang, dan akan pergi ketempat familiku,
akhirnya wilman pun tidak jadi menunggu dan mengantarkanku pulang seperti
biasanya.
Kurang lebih lima belas menit aku menunggu Ibu Mila, tapi yang ditunggutunggu belum datang juga, saat kesabaranku hampir habis kulihat mobil
Mercedes hitam milik Ibu Mila masuk ke halaman dan parkir. Ibu Mila pun turun
dari mobil dan berjalan kearah ATM.
“Hi.. Pento ngapain kamu disini?”, sapa Ibu Mila.
Aku jadi bingung, namun Ibu Mila mengedipkan matanya, akupun mengerti
maksud Ibu Mila, agar kami bersandiwara karena ada beberapa orang yang
sedang antri mengambil uang.
“Oh nggak Bu, saya lagi nunggu temen tapi kok belum datang juga”, sahutku.
Ibu Milapun bergabung antri di depan ATM.
“Gimana, temenmu belum datang juga?” Saat Ibu Mila keluar dari ruang ATM.
“Belum Bu”.
“Ya sudah pulang bareng Ibu aja toh kita kan searah”.
Aku pun berjalan kearah mobil Ibu Mila, aku duduk di depan disamping supir
pribadi Ibu Mila sementara Ibu Mila sendiri duduk dibangku belakang.
“Ayo, Pak Bari kita pulang” “Iya Nya.. “, sahut Pak bari “Untung aku ketemu
kamu disini Pento Padahal tadi aku sudah cari kamu dikantor kata teman
temanmu kamu udah pulang”.
Uh.. batinku Ibu Mila mulai bersandiwara lagi.
“Memangnya ada apa Ibu mencari saya?”.
“Mengenai proposal yang kamu bikin tadi siang baru sempat Ibu periksa sore
tadi, ternyata ada beberapa kekurangan yang harus ditambahkan. Yah dari pada
nunggu besok mendingan kamu selesaikan sebentar di rumah Ibu OK”.
Aku hanya diam saja, pikiranku benar-benar kacau saat itu, sampai sampai aku
tidak tahu kalau aku sudah sampai dirumah Ibu Mila.
“Ayo masuk”, ajak Ibu mia.
Aku sungguh terkagum kagum melihat rumah bossku yang sanggat besar dan
megah. Aku dan Ibu Mila pun masuk kerumahnya semakin kedalam aku semakin
bertambah kagum melihat isi rumah Ibu Mila yang begitu antik dan mewah.
“Selamat sore Nya”,

“Sore Yem, Oh ya.. yem ini ada anak buah ku dikantor, mau mengerjakan tugas
yang harus diselesaikan hari ini juga tolong kamu antar dia ke kamar Bayu, biar
Bapak Pento bekerja disana”.
“Baik Nya”.
Akupun diajak menuju kamar Bayu oleh Iyem pembantu di rumah Ibu Mila.
“Silakan Den, ini kamarnya”.
Akupun memasuki kamar yang ditunjuk oleh Iyem. Sebuah kamar yang besar
dan mewah sekali. Langsung aku duduk di sofa yang ada di dalam kamar.
“Kring.. , kring.. “, kuangkat telepon yang menempel di dinding.
“Hallo, Pento, itu kamar anakku, sekarang ini anakku sedang kuliah di US, kamu
mandi dan pakai saja pakaian anakku, biar baju kerjamu tidak kusut”.
“Oh.. iya Bu terimakasih”.
Langsung aku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku denga air
hangat, setelah selesai akupun membuka lemari pakian yang sangat besar sekali
dan memilih baju dan celana pendek yang pas denganku.
Sudah hampir jam tujuh malam tapi Ibu Mila belum muncul juga, yang ada malah
Iyem yang datang mengantarkan makan malam untukku. Saat aku sedang asyik
menikmati makan malamku, pintu kamar terbuka dan kulihat ternyata Ibu Mila
yang masuk, aku benar benar terpana melihat pakaian yang dikenakan oleh Ibu
Mila tipis sekali. Setelah mengunci pintu kamar Ibu Mila datang menghampiri dan
ikut duduk di sofa. Sambil terus melahap makananku aku memandangi tubuh Ibu
Mila, walaupun gendut tapi Ibu Mila tetap cantik.
Setelah beberapa saat aku menghabiskan makananku Ibu Mila berkata
kepadaku, “Sekarang, kamu harus menceritakan semua peristiwa yang kamu
alami dengan Ibu Mertuamu, Ibu mau dengar semuanya, dan lepas semua
pakaian yang kamu kenakan”.
“Tapi Bu”, protesku.
“Pento, kamu mau istrimu tahu, bahwa suaminya ada affair dengan ibunya
bahkan sekarang ini Ibu kandung istrimu sedang mengandung anakmu”.
Aku benar benar sudah tidak punya pilihan lagi, kulepas kaos yang kukenakan,
kulepas juga celana pendek berikut cd ku, aku telanjang bulat sudah. Karena
malu kututup kontolku dengan kedua tanganku.
“Sial!”, makiku dalam hati, aku benar benar dilecehkan oleh Ibu Mila saat itu.
“Lepas tanganmu Ibu mau lihat seberapa besar kontolmu”, bentak Ibu Mila.
“Mm.. , lumayan juga kontolmu”.
Malu sekali aku mendengar komentar Ibu Mila tentang ukuran kontolku, yang
ukurannya hanya standar Indonesia.
“Nah, sekarang ceritakan semuanya”.
Dengan perasaan malu, akupun menceritakan semua kejadian yang aku alami
bersama Ibu Mertuaku, mau tidak mau burungkupun bangun dan tegak berdiri,

karena aku menceritakan secara detail apa yang aku alami. Kulihat Ibu Mila
mendengarkan dan menikmati ceritaku, sesekali Ibu Mila menarik napas
panjang. Tiba tiba Ibu Mila bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaian yang
dia kenakan, aku terdiam dan terpana menyaksikan tubuh gendut orang paling
berpengaruh dikantorku, sekarang sudah telanjang bulat dihadapanku.
Walaupun banyak lemak disana sini namun pancaran kemulusan tubuh Ibu Mila
membuat jakunku turun naik.
“Kenapa diam, ayo lanjutkan ceritamu”, bentaknya lagi.
“Baik Bu”, akupun melanjutkan ceritaku kembali, namun aku sudah tidak
konsentrasi lagi dengan ceritaku, apalagi saat Ibu Mila menghampiri dan
membuka kakiku kemudian mengelus elus dan mengocok ngocok kontolku, aku
sudah tidak fokus lagi pada ceritaku.
“Ahh.. “, jeritku tertahan saat mulut Ibu Mila mulai mengulum kontolku.
“Ahh.. Bu.. , nikmat sekali”.
Kuangkat kepala Ibu Mila, kamipun berciuman dengan liarnya, kupeluk tubuh
gendut bossku.
“Bu.. kita pindah keranjang saja”, pintaku,
Sambil terus berpelukan dan berciuman kami berdua berjalan menuju ranjang.
Kurebahkan tubuh Ibu Mila, ku lumat kembali bibirnya, kami berdua bergulingan
diatas pembaringan, saling merangsang birahi kami.
“Ahh.. “, Jerit Ibu Mila saat mulutku mulai mencium dan menjilati teteknya.
“Uhh Pento.. enak.. sayang”.
Ketelusuri tubuh Ibu Mila dan jilatan lidahkupun menuju memek Ibu Mila yang
licin tanpa sehelai rambutpun. Kuhisap memek Ibu Mila dan kujilati seluruh lendir
yang keluar dari memeknya. Banjir sekali Mungkin karena Ibu Mila sudah sangat
terangsang mendengar ceritaku.
“Ahh”, jerit Ibu Mila saat dua jariku masuk ke lubang surganya, dan tanganku
yang satu lagi meremas-remas teteknya.
Aku berharap agar orang yang telah melecehkanku ini cepat mencapai
orgasmenya, aku makin beringas lidahku terus menjilati memek Ibu Mila yang
sedang dikocok kocok dua jari tanganku. Usahaku berhasil, Ibu Mila memohon
agar aku segera memasukan kontolku le lubang memeknya, tapi aku tidak
mengindahkan keinginannya, kupercepat kocokan jari tanganku dilubang
memek Ibu Mila, tubuh Ibu Milapun makin menegang.
“Aaarrgghh.. Pento”, jerit Ibu Mila tubuhnya melenting, kakinya menjepit
kepalaku saat badai orgasme melanda dirinya,
Aku puas sekali melihat kondisi Ibu Mila, seperti orang yang kehabisan napas,
matanya terpejam, kubiarkan Ibu Mila menikmati sisa sisa orgasmenya.
Kucumbu kembali Ibu Mila kujilati teteknya, kumasukan lagi dua jariku kedalam
memek nya yang sudah sangat basah.

“Ampun.. Pento.. biarkan Ibu istirahat dulu”, pintanya.
Aku tidak memperdulikan permintaannya, kubalik tubuh telentangnya, tubuh Ibu
Mila tengkurap kini.
“Jangan.. dulu Pen.. too.. Ibu lemas sekali”.
Aku angkat tubuh tengkurapnya, Ibu Mila pasrah dalam posisi nungging.
Matanya masih terpejam. Kugesek gesekan kontolku kelubang memek Ibu Mila.
Kutekan dengan keras dan.. Blesss masuk semua batang kontolku tertelan
lubang nikmat memek Ibu Mila.
“Iiihh.. Pen.. to.. kamu.. jahat”.
Akupun mulai mengeluar masukan kontolku ke lubang memek Ibu Mila, orang
yang paling di takuti dikantorku sekarang ini sedang bertekuk lutut di
hadapanku, merintih rintih mendesah desah, bahkan memohon mohon padaku.
Aku puas sekali, kupompa dengan cepat keluar masuknya kontoku di lubang
memek Ibu Mila, bunyi plak.. plak.. akibat beradunya pantat Ibu Mila dengan
tubuhku menambah nikmat persetubuhkanku.
“Uhh.. “, jeritku saat kontolku mulai berdenyut denyut.
Akupun sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku.
Kupompa dengan cepat kontolku, Ibu Milapun makin belingsatan kepalanya
bergerak kekiri dan kekanan.
“Ahh Ibu.. aku mau.. keluar.. “.
Dan cret.. cret, muncrat sudah spermaku masuk kedalam Memek dan rahim Ibu
Mila, beberapa detik kemudian Ibu Mila pun menyusul mendapatkan
orgasmenya, dengan satu teriakan yang keras sekali, Ibu Mila tidak peduli
apakah Iyem pembantunya mendengar jeritannya diluar sana.
Ibu Mila rebah tengkurap, akupan rebah di belakangnya sambil terus memeluk
tubuh gendut Ibu Mila. Nikmat sekali.. , Orgasme yang baru saja kami raih
bersamaan, kulihat Ibu Mila sudah lelap tertidur, dari celah belahan memek Ibu
Mila, air manyku masih mengalir, aku benar benar puas karena orang yang telah
melecehkanku sudah kubuat KO. Kuciumi kembali tubuh Ibu Mila, kontolkupun
tegak kembali, ku balik tubuh Ibu Mila agar telentang, kuangkat dan
kukangkangi kakinya. Kugesek-gesekan kontolku di lubang memek Ibu Mila.
“Uhh Pento.. Ibu lelah sekali sayang”, Lirih sekali suara Ibu Mila.
Aku sudah tidak peduli, langsung kutancapkan kontolku ke lubang nikmat Ibu
Mila, Bless.. Licin sekali, kupompa keluar masuk kontolku, tubuh Ibu Mila
terguncang guncang akibat kerasnya sodokan keluar masuk kontolku, rasanya
saat itu aku seperti bersetubuh dengan mayat, tanpa perlawanan Ibu Mila hanya
memejamkan matanya. Kukocok dengan cepat dan keras keluar masuknya
kontolku di lubang memek Ibu Mila.. , dan langsung ku cabut kontolku dan
kumuncratkan air maniku diatas perut Ibu Mila.

Karena lelah akupun tertidur sisamping tubuh telanjang Ibu Mila, sambil kupeluk
tubuhnya, saat aku terbangun kulihat jarum jam sudah menunjukan pukul
setengah sebelas malam, buru buru aku bergegas membersihkan tubuhku dan
mengenakan pakaian kerjaku.
“Bu.. Bu.. Mila bangun Bu.. “.
Akhirnya dengan malas Ibu Mila membuka matanya.
“Sudah malam Bu saya mau pulang”.
“Pento kamu liar sekali, rasanya tubuh Ibu seperti tidak bertulang lagi”.
Ibu Milapun bangkit mengenakan pakaiannya, kami berdua berjalan keluar
kamar.
“Tunggu sebentar ya Pento, kemudian Ibu Mila masuk kekamarnya, beberapa
saat kemudian Ibu Mila keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang
menawan.
“Ini untuk kamu”.
“Apa ini Bu?”, Tanyaku, saat Ibu Mila menyodorkan sebuah amplop kepadaku.
Aku menolak pemberian Ibu Mila, namun Ibu Mila terus memaksaku untuk
menerimanya. Terrpaksa kukantongi amplop yang diberikan Ibu Mila lalu kembali
kami berciuman dengan mesranya.
Dalam perjalanan pulang aku masih tidak menyangka bahwa aku baru saja
bersetubuh dengan Ibu Mila. Entah nasib baik ataukah nasib buruk tapi aku
benar benar menikmatinya.
Supir yang beruntung
46
Posted by admin on March 20, 2009 – 12:59 am
Filed under Setengah baya
Kadang aku bingung memahami kehidupan ini. Dulu waktu di desa sebagai
bujang ngejar-ngejar wanita desa aja banyak yang menolak. Eh giliran sekarang
jadi sopir pribadi malah dapat rejeki nomplok. Bisa numpaki dan ngeloni nyonya
majikanku yang cuantiik buanget biar usianya sudah 35. Badan masih bagus,
singset, kulit kuning mulus. Hidung mancung dan di bibirnya suka muncul bintikbintik kayak keringat. Syeddapp. Dulu sebelum numpaki nyonya aku sering curicuri pandang
Demi melihat hidung dan bibirnya itu. Dia tahu, tapi cuek. Pura-pura kali ya.
Wanitakan suka ditatap penuh nafsu oleh laki-laki. Meskipun oleh sopirnya kayak
aku ini. Memang sih suka menampakkan tampang tidak suka kayaknya sebal
gitu lho, duluu kala, tapi aku nggak percaya kalau dia sama sekali nggak senang
dan tersanjung. Naluri wanitakan sama. Mau babu, mau model iklan, kalau ada
laki-laki yang memperhatikan berarti dirinya masih dinilai cantik. Wanita kalau
nggak ada yang memperhatikan padahal sudah dandan habis-habisan bisa bete
seharian deh. Merana. Mikirin dirinya yang sudah tidak menarik lagi (meskipun

hanya sopir tapi saya pernah belajar psikologi wanita, dari buku yang kubaca di
tukang loak ketika sambil menunggu tuan belanja waktu itu. He… he…
Nyonyaku katanya eks primadona kampus. Tapi namanya manusia, biar mantan
primadona atau mantan pramuniaga kalau sudah digigit kesepian yang amat
sangat sekali dan sudah tak tertahankan ya harus mencari solusinya. Boleh jadi
orang disekitarnya bisa digoda pula. Ingat kasus nyonya muda Pondok Indah
yang beradu syahwat sama pembantunya yang sudah tua? Awalnya suka
membentak-bentak memarahi sang bapak pembantu rumah tangga itu eh lamalama malah suka dan ketagihan dihentak-hentak oleh si bapak itu dalam gairah
asmara yang ganjil.
Itulah dunia erotis, susah dicerna tetapi sebenarnya mudah diterima dengan
suatu sudut pandang yang polos. Jadi teorinya sederhana saja sesungguhnya,
bahwa yang namanya syahwat itu adalah suatu naluri dasar. Naluri yang dibawa
manusia sejak lahir ke dunia ini. Dia belum mengenal adat, tata krama, hukum,
dsb. Benar-benar murni. Setelah mulai menjadi dewasa maka manusia menjadi
milik lingkungannya. Harus peduli sama lingkungan sonya. Padahalkan awalnya
nafsu itu nggak ada kaitannya dengan ideologi, so, ekonomi, politik, budaya dan
hankam segala deh (inget pelajaran SMP).
Nah lebih-lebih bila nafsunya itu ternyata memberi pengalaman kenikmatan
yang tiada tara yang tidak didapatkan dari pasangan resminya. Wah tambah
ketagihan deh. Lha yang awalnya diperkosa aja ada yang akhirnya bisa
menikmati, apalagi bagi yang didasari sama-sama butuh. Para pelaku yang
sudah pengalaman merasakan nikmatnya bersenggama pasti pusing deh kalau
lama nggak digauli lawan jenisnya.
Emang sumpah nggak kepikir di benakku kalau aku orang yang jelek dan
kampungan ini ternyata kebagian juga mendapat anugerah dalam bentuk wanita
cantik. Yaitu bisa menikmati seluruh lekuk tubuh dan khususnya memiaw sang
eks primadona yang wangi itu. Hehehe. Enak gila. Sudah gratis eh malah
dihadiahin lagi. Nggak usah maksa. Nggak usah merayu. Nggak usah mikirin
kasih makan. Nggak usah rebutan segala. Kebayang dulu ketika beliau masih
mahasiswi, wah pasti seru ajang kompetisinya. Kayak AFI kali. Yang ngrebutin
pastilah ada anak orang kaya, yang ganteng, yang bonafid, yang playboy, yang
aktivis, yang jagoan olah raga, dan seterusnya. Tereliminasi semua bleh. Rugi
mereka. Mending jadi sopir kayak aku ini nggak usah modal kuliah segala. Hihihi.
Sebenarnya aku kadang suka melamun (melamun adalah satu-satunya harta
kekayaanku) mencari pemahaman mengenai keadaan ini. Siapa yang salah ya?
Tuanku yang terlalu sibuk cari duit demi menyenangkan hati nyonya, atau
nyonya yang nggak punya kesibukan (emang dari dulu dilarang tuan kerja
karena bisnis tuan masih berjalan dengan baik bahkan cenderung meningkat
pesat).

Sempet juga aku juga merasa kasihan sama tuanku kalau dia hanya mikirin
bisnisnya melulu. Cari duit banyak-banyak maunya demi kebahagiaan istri eh
malah istri jarang dinikmati alias banyak dianggurin aja. Tahu deh kalau di luar
suka jajan atau nyimpen WIL. Tetapi kalau sampai nyimpen WIL segala apa ya
maksimal pemakaiannya. Paling dipakainya pas lagi refreshing, itupun kalau
sempet. Bisnismen itu pasti lebih banyak sibuk ke bisnisnya ketimbang ngurusin
lain-lainnya. Gitu kali. Tapi yang penting prinsipku: urusan atas adalah kewajiban
tuanku (mulut yang dikasih makan), urusan bawah (vegy yang dikasih
semprotan) adalah jatahku.
Adilkan? Menurut kaca mataku sih orang-orang sibuk kayak tuanku itu mending
memperistri babu. Kalau capek pasti dengan suka rela mau mijitin. Nggak
banyak protes. Siap mendengar keluh kesah setiap saat tanpa berani menyela.
Menurutku lhoo. Nah yang cantik-cantik kayak nyonya dan mudah kesepian itu
jodohnya ya laki-laki yang punya banyak waktu luang untuk memperhatikan dan
siap sedia setiap saat kalau dibutuhkan. Misalnya sopir kayak aku ini.
Huahahaha. Tapi masuk akalkan? Gimana nggak masuk akal.
Orang seelite tuan pasti sudah biasa ketemu wanita kelas tinggi yang cantikcantik. Karena sudah biasa maka ya jadi biasa. Lha orang kayak aku ini kan
selalu melotot dan melongo melihat wanita-wanita sekelas nyonya. Pasti
bawaannya kagum dan kagum melulu. Melamun sepanjang hari gimana bisa
ngent*t dengan wanita-wanita kelas ini. Sama halnya dengan nyonya, bergaul
sama laki-laki berkelas pasti sudah biasalah. Yang jarang adalah bergaul dengan
laki-laki kasar.
Pasti menimbulkan khayalan erotis untuk bersenggama dengan para lelaki kasar,
yang berotot, ngomong sembarangan, berpeluh kalau bekerja, hidupnya cuma
untuk hari ini, dan bla-bla. Pastilah menimbulkan empati campur sensasi begitu.
Hahaha.
Nah gara-gara sering diminta melayani nyonyaku yang hobi kesepian itu aku
dimanjain dengan hadiah-hadiah mahal. Kadang-kadang sih. Misal dibeliin baju,
sepatu, minyak wangi dan sebagainya yang bermerk. Sekarang aku kenal baju
merk Arrow, kata orang sih harganya ratusan ribu. Tapi aku nggak berani pakai
kalau lagi ada tuan, nanti ditanya kok bisa beli baju mahal. Masak mau nggak
makan setengah bulan demi beli baju semahal itu. Kan bisa ketahuan, kasihan
nyonya. Aku sih paling dipecat. Lha kalau nyonya dicerai? Apa ya mau ikut aku
jadi istri keduaku. Pasti enggak mau. Memang lucu juga ya. Urusan perut sama
bawah perut bisa demikian jauhnya. Tapi nggak apa-apa. Mendingan begini.
Jauh lebih menguntungkan bagiku. Dikasih tapi nggak dituntut. Kayak bintang
sinetron yang dituduh memperkosa seorang cewek, disebarluaskan di media
massa. Coba kalau yang memperkosa cuma tukang ojek, preman, kuli, atau sopir
nggak bakalan diberita-beritain besar-besaran sama korban. Nggak usah dituntut
kawin cukup laporin polisi aja (atau malah dipetieskan aja kasusnya). Lha, apa
malah nggak enak. Kalau mau dipenjara ya nggak masalah. Nggak punya apa-

apa ini kecuali kolor. Dibiarkan bebas ya lebih asyik bisa cari yang lebih ranum
lagi. Enak juga sebenarnya yah kaum ‘nothing to lose’ alias kaum yang cuma
bermodal nafas ini. Hehe.
Tiba-tiba lamunanku dibubarkan secara sepihak oleh nyonya.
“Rusmiin.. Hayo sore-sore gini sudah bejo (bengong jorok) ya. Kebeneran, sini
masuk kamar, Dear”
Tugas sampingan sudah memanggil-manggil. Syeddaapp. Kebetulan kami dua
hari ini lagi nginep di villa keluarga di daerah puncak. Tuan seperti biasa lagi
urusan ke luar kota. Anak-anak nyonya pada mau ujian jadi mereka harus belajar
di rumah. Ibunya beralasan mau menengok villa-nya dan kebun buahbuahannya. Berdua saja kami ini. Makanya nyonya berani teriak-teriak
semaunya ketika mau ngajak ML. Kulihat nyonya sudah pakai daster tipis putih
dan sedang duduk di pinggir ranjang. Kaki kanan diangkat di bibir ranjang
sementara yang kiri menyentuh lantai. Waduh seksi sekali Yayangku ini.
“Wah sudah nggak sabaran yah Yang?”
“Iya tahu, mau cepetan dirudal ama penismu yang nggak kira-kira gedenya itu.
Ayyoo cepetan sinnii. Jangan sok maless gitu aah..”
Aku emang kadang suka menggodanya dengan berlagak malas melayaninya.
Kalau udah gitu kemanjaan nyonya suka muncul.
“Iya deh, mau apa dulu nih Say?”
“Jilatin seluruh tubuhku tanpa tersisa. Ini perintah..!”
Lalu dasternya telah merosot ke bawah secara kilat. Seperti biasa kalau sudah
siap tempur nyonyaku nggak pakai CD dan Bra. Sudah polos total. Dia
tengkurap. Aku mendekat. Kumulai jilatan dari ujung jari kaki.
“Ehm”
Belum apa-apa. Pelan-pelan sekali kujilat dan kuhisap jari-jarinya satu per satu.
Telapak kakinya. Betisnya yang berbulu agak jarang dan panjang-panjang. Bikin
naik darah.
“Emh..” Mulai ada reaksi. Pindah ke kaki satunya.
“Emh..” Lagi ketika tiba di betis.
Kuteruskan ke arah paha belakang. Permainan semacam ini memang perlu
kesabaran tersendiri. Di samping itu juga membantuku untuk tidak cepat naik
selain membantunya untuk mulai warming up duluan. Oh ya perlu kuberitahu,

sejak aku didayagunakan begini jadi rajin minum jamu kuat kalau enggak wah
bisa remuklah aku. Kuat banget dan tahan lama sih nyonya mainnya.
“Ahh.. Hemhh..”
Begitu bunyi mulutnya ketika lidahku mulai mengusap pangkal pantatnya (Mau
enggak ya tuan disuruh begini ama nyonya? Mungkin inilah kelebihanku mau
apa aja. Biarin, gratis dan ueennakk ini. Hehehe.) Kubikin lama dalam melulurin
area x, kubikinnya libidonya memuncak lebih cepat. Kupercepat sapuanku.
Kuselingi dengan sodokan-sodokan memasuki celahnya.
“Aauuhh.. Auuhh.. Auuhh.. Ruuss..”
Mulai kepanasan dia. Basah. Kuremas-kuremas pantatnya yang montok putih
mulus. Lalu kujulurkan tangan kananku menuju punggung. Kuusap sejenak terus
menukik melesak ke bawah, teteknyalah sekarang sasaran sentuhanku.
“Buussyyeet.. Ruuss.. Pentil.. Ooh.. Ya.. Yaa.. Pentilku diusap.. Ussaaph.. Ahh “
Aku merambat naik dan kukangkangi dengan sedikit merapat. Tidak kontak
ketat. Gesekan-gesekan burungku yang masih dalam sangkar celana sengaja
kuarahkan ke pantatnya. Kujilati pinggang, punggung, pundak, leher, belakang
telinga.
Dan, “aahh balikk..” Nyonya membalikkan badannya.
Sebenarnya aku sudah enggak tahan mengulum bibirnya. Penisku sudah
demikian kencangnya. Tapi ya sabar dah. Belum ada perintah selain menjilat sih.
Kumulai menjilati leher depan, turun ke ketiak yang licin, ke lengan, telapak
tangan, jari, ke dada. Di sekitar itu aku berlama-lama. Kuputari gunung
kembarnya bergantian. Kiri-kanan. Kiri-kanan. Diselingi mengisep pentilnya.
“Auh.. Auh.. Auhh.. Ah.. Ahh”, tangannya mulai menjambak rambutku dan
kadang ditekan-tekannya kepalaku agar teteknya mendapat kenikmatan
paripurna. Sesek napas juga sih kalau kelamaan. Kucek selangkangannya.
Woow, tambah basah. Kupegang tangan satunya lalu kuarahkan untuk mulai
mengusapi dan memencet rudalku. Menurut dia.
“Kulum, Dear” Dengan menjatuhkan berat badanku sementara kakinya sudah
mulai mengangkang, tangan kiriku keselipkan dibawah punggungnya, tangan
kananku memegang tetek kanannya, maka kuserbu bibirnya tanpa ampun.
Saling memilin lidah kami. Saling tumpah ludah kami. Sambil kusodokkusodokkan burungku yang masih tersimpan dalam sangkarnya tepat di area
tempiknya (memiawnya). Gemes aku ingin memasukkan. Tapi ada kenikmatan
juga ketika menyodok namun terhambat.

Meskipun agak sakit juga. Sensasi begini kadang lebih mengasyikkan ketimbang
main masuk langsung. Terus kukulum, kuhisap, kujilat, ambil napas, lalu serbu
lagi. Seperempat jam kami beradu mulut dan bibir. Setelah mengambil nafas
sebentar kukulum hidung bangirnya. Kujilati. Aku hobi juga mengulum dan
menjilati hidung-hidung yang mancung begini. Kadang kumasukkan (tentu saja
tidak masuk, bego) lidahku ke lobang-lobangnya. Kakinya yang kanan mulai
membelit, menumpangi kaki kiriku.
“Lepass baaju dann celanamuu..”
Kulepaskan ikatan ragawi kami. Turun dari ranjang untuk menelanjangi diriku.
Polos. Kunaiki ranjang lagi. Kutempelkan penisku mengarah ke bawah
memiawnya sehingga dalam posisi masih bebas di luar liangnya. Kutindih lagi.
Kunikmati setiap inchi tubuh halus mulusnya melalui kontak tubuh kami yang
penuh. Kalau bisa tidak ada yang lolos. Kulanjutkan dengan adu ciuman. Kujilati
dagunya, pipinya, kukulum kupingnya. Mendongak-dongak dia. Desahnya
semakin kacau. Jepitan kakinya sudah dua sekarang. Tiba-tiba tangannya
merogoh burungku. Ditekan-tekannya ke arah bibir liang.
Lalu, “slep..” Masuklah burungku. Kubiarkan berdiam diri dulu. Aku masih
menikmati kontak total begini sambil menggeliat-geliat. Kuingin menikmati
tekanan tetek-teteknya di dadaku lebih lama. Kuingin menikmati gesekangesekan antar paha, gesekan-gesekan antar perut, gesekan-gesekan antar kulit.
Kupejamkan mataku agar indera sentuhku bekerja dengan sempurna dalam
memberikan sarafku kenikmatan sebuah persetubuhan.
“Sooddook..” Tanpa rela kumelepaskan belitanku mulai kupompa memiawnya
dengan melengkung-lengkunkan pinggulku. Tangan kiriku menyusup di bawah
punggungnya menggapai pinggir luar tetek kanannya, tangan kananku
menyusup ke bawah menjangkau ujung memiaw belahan belakang.
Kujawil-jawil. Kaki-kakinya merangkul kaki-kakiku semakin erat. Digoyang naik
turun pantatnya seirama dengan maju mundurnya sodokanku. Nafas-nafas kami
dalam dan berat dalam mendukung kerja persetubuhan. Erangan-erangannya
meningkahi sodokanku yang kubikin dalam-dalam. Sedalam mungkin. Suara
kecipak cairan memiawnya mengiringi maju mundurnya penisku yang memenuhi
liang memiawnya. Penuh. Diameter rudalku tak menyisakan sela. Padat dan
kesat. Itulah mengapa nyonyaku jadi keranjingan.
“Cepetin.. Cepetin.. Nyoddookknyaa.. Aah.. Ahh..”
Aku terus menghujaminya bagaikan antan penumbuk padi yang terus bertalutalu berirama konstan. Kuingin melesak lebih dalam lagi. Lebih jauh lagi. Uraturat rudalku pasti sebesar-besar kabel listrik kalau bisa dilihat.
“Edaann.. Teruss.. Banggsaatt.. Jembbuut.. Konttoll.. Aahh.. Aahh.. Aahh.. Ayoo..
Genjott.. Teruss.. Teruss “

Kejorokan nyonyaku sudah tidak asing lagi di telingaku ketika persenggamaan
sedang mendaki puncak. Akan menambah daya hentak dan meluapkan sensasisensasi paling primitif sang nafsu yang dimiliki makhluk hidup. Dengan cepat
dan kasar kubalikkan tubuhnya tengkurap lalu buru-buru kusodokkan lagi
rudalku ke memiawnya melalui belakang. Kubelit lagi dirinya. Kususupkan
kembali kedua tanganku menjangkau tetek-teteknya secara menyilang.
Kuremas-kuremas dengan kasar. Kususupkan kepalaku di samping lehernya.
Kuendus dan kuhisap leher jenjangnya yang wanginya telah pudar karena leleran
keringat.
“Plak.. Plok.. Plak.. Plok..” bunyi pantatnya beradu dengan selangkanganku.
Kurangsak. Klitorisnya lebih mudah kugasaki dari belakang. Kupercepat
tonjokan-tonjokan ke klitorisnya. Semakin menggila dia.
“Bajingann.. Sopirr.. Dassarr.. Teruss.. Yah.. Yah.. *******.. Kamuu.. Adduh..
Ennakk.. Uahh.. Uahh.. Auhh.. Ahh.. Eaarghh.. Mmpphh.. Ooh..”
Semakin cepat kedut-kedutan memiawnya memijiti rudalku. Dan, “aahh.. Hh..
Aku keluaarhh.. Russ.”
Mengejang dia dan terangkat pantatnya kuat-kuat. Namun masih saja kugasaki
sampai beberapa detik akhirnya menyemburlah pancaran magma dari rudalku.
“Jrrott.. Jroott.. Crrott ” Liangnya kupenuhi dengan semburan-semburan maniku.
Lemas. Masih kutumpangi dia. Tersengal-sengal nafas kami. Kugesek-kegesekin
hidungku ke lehernya.
****
Awal bagaimana akhirnya kami memadu asmara begini yaitu ketika setelah
mengantar anak-anaknya sekolah. Ketika berangkat mengantar anak-anaknya
sekolah nyonya duduk sama yang kecil di belakang. Yang gede di depan di
sampingku. Mereka kelas 5 dan kelas 2. Cewek semua. Pada jalan pulang nyonya
duduk di depan. Dia memintaku untuk tidak langsung pulang. Dimintanya aku
masuk tol dalam kota. Kami berputar-putar beberapa kali.
Rupanya sudah agak lama dia sebenarnya ingin curhat. Berhubung nyonyaku
membatasi pergaulannya sejak menikah demi suaminya, maka pergaulannya
jadi amat terbatas. Sebatas keluarga dan para pembantu-pembantunya,
termasuk aku sebagai sopirnya. Sehingga ketika nggak tahan untuk bercurhat
maka akulah yang tersedia untuk menjadi sasaran tumpahan emosinya. Lebih
mudah dan lebih terjaga kerahasiaannya karena dilakukan di luar rumah, sambil
keliling-keliling seperti sekarang ini. Rupanya jatah dari tuan baik dalam bentuk
perhatian maupun keintiman dirasanya kurang. Nyonya memaklumi kesibukan
tuan, namun sebagai wanita yang masih kuat kebutuhan emosi dan biologisnya

menuntut jatah yang normal ketimbang cuma sebulan sekali atau paling banter
2 kali. Tidak terus terang sih ngomongnya, tapi diserempetin.
“Kamu sama isterimu berapa kali dalam sebulan berkasih-kasihan, Rus?”
“Seminggu sekali atau ya bisa dua tiga kali, Nya.”
“Wah bahagia sekali dong isterimu ya.”
“Ya namanya kewajiban suami untuk membahagiakan isteri mau gimana lagi.”
Lalu diam seperti melamun. Waktu aku mau oper gigi persneling rupanya tanpa
sengaja tanganku menyinggung pahanya. Baru kusadari rupanya nyonya
duduknya agak mepet ke tongkat persneling. Aku minta maaf. Nyonya diam
saja. Seerr juga aku sebenarnya. Tapi aku mana berani memikirkan kejadian
barusan. Entah ini sudah putaran yang ke berapa tapi nyonya masih minta
diputerin lagi. Kalau ada yang tahu berapa kali kami muterin Jakarta pasti mikir
ini orang mau jalan-jalan tapi maunya irit ya. Sekali bayar tol tapi puas mutermuter. Ketika mau pindah gigi lagi aku sebenarnya sudah agak sungkan-sungkan
tapi harus kulakukan karena aku sudah mengurangi kecepatan.
Semoga sudah geser duduknya. Eh lhadalah, kesenggol lagi. Busyet ini nyonya
kayak nggak peduli atau sengaja. Sempet kurasakan tadi kalau yang kesenggol
bukan kain, lebih halus dari itu, pura-pura nengok spion sebelah kiri maka
dengan sudut mataku kucoba cari info apa yang sebenarnya kusenggol tadi
apakah benar kulit manusia. Nyonyaku ikut nengok melihat spion kiri.
Kesempatan dalam waktu sedetik kulihat ke lokasi persenggolan tadi.
Benar. Deg. Ternyata pahanya yang kesenggol tadi. Wah rok nyonya kok telah
tersingkap. Sadar nggak ya dia. Kubiarkan. Ternyata rok yang dipakai ada
belahan tinggi di sisi kanan, dan kini belahannya ternyata telah menyibakkannya
diri sedemikian rupa sampai.. Pangkalnya. Deg. Deg. Wah. Eh secepat kilat
nyonya membalikkan kepalanya ke arahku dan ada senyum tipis. Matanya
menatapku tanpa sepatah katapun. Terus kembali lurus menatap jalan di depan.
“Nggak apa-apa kok” Modar kowe. Meriang panas dingin sekarang hawa tubuh
yang kurasakan. Sebagai lelaki bangkitlah keberanianku mencandainya.
“Nggak apa-apa gimana, Nya?”
“Nyenggol-nyenggolnya tadi itu.”
“Maaf gak sengaja, Nya.”
“Sengaja juga nggak apa-apa.”
“Ah nyonya, mana berani.”

“Lho, inikan dikasih ijin. O enggak mau ya sama aku? Ya sudah kalo gitu”
“Wadduh Nya, mana ada lelaki yang sebodoh itu. Nyonya itu cantik banget. Saya
minder di dekat nyonya, sungguh.”
“Ah masak sih.”
Tiba-tiba tangan kiriku diraihnya dan disentuhkan ke pahanya. Yang kesenggol
tadi, ingat? Ehhm, kutatapnya dia. Saya balasannya. Mulai berani kugerakkan
tangan kiriku yang beruntung itu, lebih menyerupai mengelus. Nyonyaku mulai
bersandar. Agak dimajukan duduknya sehingga pahanya semakin mudah
kujangkau. Coba kutelusuri menuju pangkal. Merem dia. Agak ke dalam lagi. Lalu
sampai pangkal.
“Ah.” Lenguhan pendeknya keluar. Kuusap-usapnya pangkal pahanya, tempat
sang memiaw bersemayam. Mendesah dia. Tiba-tiba tangan kanannya
menerobos ke pangkalanku juga.
“Oh, gede punyamu, Min.”
“Bagilah dirimu denganku selain istrimu, maukan Rus?”
Aku diam. Semua ini terjadi mendadak. Lalu aku nafsu dan mengangguk. Dan
kami terus saling mengusap sampai bocor bersama. Sebenarnya sejak kejadian
itu dia menyatakan menyesal karena telah berbuat sejauh itu yang tidak
terbayangkan sebelumnya. Dia berjanji untuk tidak mengulanginya karena akan
menyakiti hati suaminya dan isteriku kalau ketahuan nanti. Aku setuju. Tapi
waktu jua yang akhirnya mengalahkan kami sesuai kodrat alam yang minta
dipenuhi.
Akhirnya kami mengulanginya dan mengulanginya lagi sampai akhirnya benarbenar alat vital kami beradu. Pernah aku sarankan untuk mencari gigolo-gigolo
saja yang tampan dan keren daripada aku yang hanya bagian dari kumpulan
manusia kasar, jelek dan rendah. Dia hanya menggeleng. Mungkin dia ingin
kerahasiaannya lebih terjaga kalau berhubungan dengan satu orang saja. Orang
terdekatnya. Apakah demi status sonya atau martabatnya atau nama baiknya.
Entahlah. Atau takut menjurus ke arah kecanduan, cenderung ingin mencobacoba berbagai jenis pria. Entahlah. Atau memang sudah tercukupi
kebutuhannya.
Entahlah. Atau memang bagian dari fantasinya, mencoba ekstrimitas, menikmati
dunia-dunia kasar. Entahlah juga. Kalau aku jelas, sulit menghindari daya pikat
wanita dari kelas yang jauh di atasku dan memiliki kecantikan yang bagaikan
putri dari langit. La

Seks Pertama Masa SMA
Posted by admin on March 27, 2009 – 10:49 am
Filed under Daun Muda
Ceritaku ini adalah pengalaman pertamaku melakukan hubungan seks, yang
uniknya juga dengan pacar pertamaku. Namaku Panji dan pacarku bernama
Keke. Kami satu sekolah di Jakarta dan kami resmi menjadi pacar di kelas 3
setelah sekitar setahun sering pulang bareng karena rumah kami searah.
Keke sendiri adalah seorang gadis yang bertubuh mungil, tingginya mungkin
tidak lebih dari 155 cm dan bertubuh kurus, namun memiliki ukuran payudara
yang besar, mungkin seukuran dengan payudara Febby Febiola. Sampai-sampai
teman-temanku sering berkata kalau nafsu seksnya pun pasti besar. Tapi bukan
itu yang jadi penyebab aku mencintainya, sikap manja dan tawanya yang lepas
membuatku senang bersama dan bercanda dengannya.
Hubungan pacaran kami layaknya gaya pacaran remaja era 90-an, tidak lebih
dari nonton bioskop atau makan di restoran cepat saji. Tapi memang setelah
pulang sekolah aku sering mampir ke rumahnya untuk ngobrol atau
mengerjakan tugas bareng. Biasanya ada ibunya dan adik laki-lakinya yang
masih smp.
Sehari menjelang acara liburan perpisahan sekolah kami, seperti biasa aku
mengantarnya pulang dan mampir ke rumahnya. Ternyata hari itu ibunya
sedang ke Kota Malang bersama adiknya untuk menjenguk kakaknya yang kuliah
dan sedang sakit di sana. Sedangkan bapaknya memang biasa pulang malam.
Jadilah kami hanya berdua di rumah tersebut.
“Mau nonton VCD ga? Aku punya VCD baru ni,” katanya seperti biasa dengan
ceria. “Boleh,” sahutku. “Bentar ya, aku mo ganti baju dulu, bau,” katanya
sambil beranjak ke kamarnya. Aku pun memasukkan keping VCD ke dalam VCD
playernya sambil menunggunya ganti baju.
Tidak lama dia pun kembali ke ruang tengah dengan celana pendek sekitar 20
cm di atas lutut dan kaos ketat. Kami pun menonton film dengan duduk
bersebelahan di sofanya. Film yang kami tonton adalah film Armageddon.
Kugenggang tangannya dan menariknya menempelkan bahunya dengan
bahuku, dia pun merapat dan lenganku pun kini berada di atas payudaranya
yang kenyal. Dia sudah terbiasa dengan hal ini, toh biasanya pun seperti itu tiap
kali nonton di bioskop atau di perjalanan.
Semakin lama posisi duduknya makin bergeser dan kini dia tiduran dengan
kepalanya berada di atas pahaku. “Cantiknya gadisku ini,” pikirku dalam hati.
Tanganku pun kuletakkan di atas perutnya. Ketika adegan ada adegan panas di
film, kurasakan nafasnya berubah. Terus terang aku pun merasa terangsang,

pelan-pelan kugeser telapak tanganku ke atas payudaranya, tapi dia
menolaknya.
Karena terbawa suasana, kucium keningnya dan dia tersenyum kepadaku.
Kulanjutkan dengan mengecup pipi dan bibirnya, lagi-lagi dia tersenyum. Itu
adalah ciuman pertama kami. Ciuman yang awalnya hanya menempel kurang
dari sedetik, kini sudah menjadi ciuman penuh nafsu. Lidah kami saling bermain
dan tanganku pun sudah meremas-remas payudaranya.
Tiba-tiba dia bangun dan duduk di sebelahku, “udah ya, nanti keterusan lagi”.
“Sorry ya, abis kamu gemesin sih. Tau ngga, itu tadi ciuman pertamaku lho,”
ujarku polos. “sammma,” jawabnya lagi sambil menampilkan senyumnya yang
bikin makin cinta itu. Kami pun meneruskan menonton film dan hanya
menonton.
Setelah film selesai, dia bangkit dari duduknya, “Mau ke mana?” tanyaku. “Mau
beresin baju dulu buat besok,” jawabnya. Memang besok kami akan pergi ke luar
kota bersama seluruh teman satu sekolah.
“Mau dibantuin?” tanyaku. “Ayo,” jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya.
Aku pun mengikutinya ke kamarnya dan inilah pertama kalinya aku masuk ke
kamarnya. Kamarnya betul-betul menunjukkan kalau dia masih manja, dengan
cat pink dan tumpukan boneka di atas ranjangnya.
Dia mulai mengeluarkan baju-bajunya. “Yang ini jangan dibawa, terlalu seksi,”
kataku ketika dia mengeluarkan bajunya yang memang tipis dan berbelahan
dada besar. “Jangan protes doang, nih beresin sekalian,” jawabnya seolah protes
dengan memasang wajah ngambek, tapi lagi-lagi tetap terlihat manja.
Aku pun mengambil alih lemarinya dan kupilih-pilih baju yang kupikir cocok
untuk dibawanya. Tiba-tiba muncul ide isengku untuk memilihkan juga pakaian
dalamnya. Kuambil satu yang berwarna krim, “ih jangan pegang-pegang yang
itu” jerit manjanya sambil berusaha merebut dari tanganku. Aku pun berlari
menghindar, “Wah ini toh bungkusnya, gede juga,” candaku.
Dia pun menarik tanganku dan memelukku untuk merebut bra dari tanganku
yang lain. Segera saja kucium lagi bibirnya dan dia pun membalas ciumanku.
“emmmh…emhhh,” suaranya mendesah sambil tangannya memegang
tanganku.
Kudorong tubuhnya ke ranjang sambil terus berciuman. Kini posisiku ada di
atasnya dan menempel di tubuhnya. Terasa betul payudara kenyalnya di
dadaku. Kugeser tubuhku ke sampingnya agar dapat meremas payudaranya.
“emmmh…emhhhhh…emhhhh,” desahnya makin jelas dan kini tangannya sudah
menyentuh penisku dari luar celanaku. “Sudah nafsu banget,” pikirku.

Perlahan-lahan kumasukkan tanganku ke dalam kaosnya dan meremas
payudaranya langsung. Kuangkat ke atas kaosnya sehingga kini terpampang
payudaranya yang besar terbungkus bra krim. Segera kuciumi kedua
payudaranya dan tidak lama dia pun melepas sendiri bra tersebut. Benar-benar
payudara yang besar dan indah, warnanya kecoklatan dengan puting yang lebih
gelap.
Kumainkan kedua putingnya, kujilati bergantian. “emmmh….emhhhh…kamu
juga buka dong,” pintanya sambil menahan desah. Segera kubuka baju seragam
dan celana sekolahku hingga tinggal celana dalam, kulanjutkan dengan
membuka celana pendeknya. “celana dalamnya jangan,” tolaknya ketika aku
akan menarik lepas celana dalam coklatnya.
Kulanjutkan jilatan-jilatanku di puting payudaranya, tangan kiriku memainkan
puting yang satu lagi, sedangkan tangan kananku menggesek-gesek vaginanya
dari luar celana dalam. “Enak?” tanyaku. Dia hanya mengangguk sambil
meremas-remas penisku dari luar celana dalam. Tiba-tiba dia menarik keluar
penisku. “dibuka aja ya?” tanyaku sambil kubuka celana dalamku.
Tangannya makin kuat meremas-remas penisku, sementara tangan kananku
mulai memasuki vaginanya dari samping celana dalamnya. Kugesekkan jari
telunjukku ke bibir vaginanya yang sudah basah. Pelan-pelan kumasukkan jariku
ke dalam vaginanya, kulihat kepalanya mendongak ke atas sambil terus
mendesah.
“Boleh dimasukin ga?” tanyaku sambil menatap wajahnya yang sekarang
menjadi begitu seksi. “Pelan-pelan ya,” jawabnya dengan nafas terengah-engah.
Mendapat persetujuan, aku pun berdiri di bawah ranjangnya dan di antara kedua
kakinya. Kutarik lepas celana dalamnya sehingga kini untuk pertama kalinya aku
melihat langsung vagina seorang gadis.
Vaginanya berwarna coklat dan kedua bibir vaginanya begitu rapat seolah tidak
ada lubang di sana. Bulu-bulu kemaluannya yang tipis sudah terkena lendirlendir yang keluar dari vaginanya ketika kumasukkan jari telunjukku tadi. Kucium
vagina tersebut, “iiiihh, apaan sih. Jangan dicium, jijik ah, “ tolaknya sambil
kedua telapak tangannya menutup vaginanya.
“Abis imut sih,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Kulepaskan kedua tangan
yang menutupinya dan langsung kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya.
Sesekali kujilat-jilat kedua putingnya. “ehmmm…ehhhhm….” lenguhnya makin
tidak jelas. “Ji, masukin ji, masukin….emmmhhhh,” pintanya.
Segera kudorong penisku memasuki lubang vaginanya, begitu sempit namun
karena sudah dipenuhi cairan-cairan, akibat rangsangan tadi, perlahan-lahan
penisku kun menembus vaginanya. “Oooooooh…ohhhhhhh,” kali ini aku pun ikut
mendesah keenakan.

Setelah penisku masuk seluruhnya, kurasakan denyutan-denyutan vaginanya
menjepit kepala penisku, begitu nikmat. Kutatap wajahnya, mata kami pun
berpandangan seolah membuat kesepakatan untuk mulai memompa.
Kutarik pelan-pelan penisku lalu kumasukkan kembali pelan-pelan. “Ji, enak
banget ji. Aduh enak banget….emmmmhh,” teriaknya makin meracau. Semakin
lama kocokan penisku semakin kencang. Kedua tanganku pun terus memainkan
kedua puting payudaranya, sambil sesekali meremasnya dan menjilatnya.
Dia pun menarik tubuhku memeluknya. Kini tubuh kami serasa menempel,
payudaranya menempel di dadaku yang telah berkeringat. Bibir kami
berpagutan dan lidah kami saling membelit. Nikmat sekali. Hanya penisku yang
masih bisa bergerak keluar masuk vaginanya.
“Ji…..ohhhhh…ohhhh….jiii ,” tiba-tiba tubuhnya menegang kemudia lemas
sebentar. “Kamu keluar ya?” tanyaku sambil menghentikan kocokan penisku
namun masih terbenam di vaginanya.”Iya, enak banget, enak banget. Kamu
belum ya?” jawabnya sambil kepalanya menggeleng-geleng pelan seolah baru
merasakan sangat enak.
Tidak kujawab pertanyaannya tapi kembali kukocok penisku. “Jangan cepetcepet, masih geli,” pesannya. Karena memang sebetulnya aku pun hampir
ejakulasi, tidak lama kemudian aku pun mengeluarkan maniku. “Ohhhhhh…
ohhhhh…ke….keee ,” racauku sambil menyemprotkan maniku ke dalam
vaginanya.
Kucabut penisku dan tidur di sebelahnya. “Enak banget, makasih ya ke,” ucapku.
Dia Cuma tersenyum dan memelukku dengan kepalanya bersandar di dadaku.
Setelah itu kami pun mandi bersama.
Besoknya di acara liburan perpisahan sekolah, kami menjadi semakin rapat
seperti sepasang pengantin baru. Kami pun beberapa kali mengulangi aktivitas
seks di rumahnya. Hingga akhirnya kami berpisah jarak karena harus kuliah di
kota yang berbeda dan berujung dengan putus karena sulit mempertahankan
pacaran jarak jauh
Aku ditiduri teman papaku
Posted by admin on March 7, 2009 – 12:49 am
Filed under Daun Muda
Cerita dewasa ini berkisah tentang pengalamanku terdahulu dimana teman
papaku yang bisa katanya melihat hal-hal yang gaib melihat diriku terdapat
penyakit yang tidak lazim, dengan kemampuanya mereka mencoba mengobati
aku dengan cara mendirui aku, wajar tidak ya? simak kisah berikut ini.

Ini adalah pengalamanku waktu aku masih duduk di bangku SMU. Aku termasuk
salah satu bunga sekolah di sekolahku n berprestasi di bidang seni. Rumahku
sering didatangin tamu-tamu papaku, baik partner bisnis, karyawan atau temen.
Temen papa yg bernama Om Wawan sering datang ke rumah aku di sore hari,
hanya sekedar ngobrol dan minum teh ama papa di kebun belakang rumahku.
Konon, Om Wawan mempunyai sixth sense, bisa melihat dan melamar nasib,
dan bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk2 halus. Kadang-kadang dia
bawa anaknya atau istrinya juga, dan aku suka ikut nimbrung dgn mereka, topik
apa aja mereka juga bahas. Om Wawan yg berkacamata tebal sudah lumayan
tua, sekitar umur 65 thn, dan badannya agak gemuk dgn perut yg buncit dan
napas yg bau. Tipe-tipe badan orang tua yang tidak fit lagi. Keriput di muka dan
tangannya sudah terlihat jelas.
Om Wawan suka ngelirik aku, curi-curi pandang mukaku lalu badanku. Aku risih
sekali apalagi yg ngelirik adalah temen papaku sendiri yg sudah tua. Aku hanya
suka membalas Om Wawan dgn senyuman, dan berkata ,”Om, jgn lihatin Nini
sampe gt dong, kan malu.” Om Wawan suka tersenyum mesum, “Habis Nini
manis dan cakep sih, cowok yg mana gak suka liatin Nini.” Dan aku jadi tersipu
malu.
Suatu Sabtu sore hari, seperti biasanya, Om Wawan datang ke rumah aku utk
ngobrol ama papa, tp wkt itu papa dan mama sedang keluar, jadi aku yg ngobrol
ama Om Wawan. Tiba-tiba Om Wawan tanya aku, “Nini gak perawan lagi ya?”
Trus aku kaget dan diam aja, lalu Om Wawan bilang ,”Gak apa apa kok, jujur aja,
Om janji gak kasih tau papa mama deh.” Aku diem aja dan merasa takut kalau
Om Wawan bisa membaca pikiran aku. “Om sudah tau kok dari dulu, makhluk
halus yg Om pelihara kasih tau ke Om, katanya kamu sudah gak perawan. Sudah
banyak yg tidurin kamu. Dan ada penyakit di badan kamu.”
Aku jadi kaget ketakutan krn dikasih tau ada penyakit di dlm badanku, “Penyakit
apa Om? Parah gak? Bisa disembuhin gak?”, tanyaku bertubi-tubi. “Yah, mayan
parah lah” Aku hanya diem membisu karena sudah ketakutan. “Tp Nini gak usah
takut, Om bisa sembuhin kok.” Aku agak lega ,”Oh ya? Gimana?” “Nini harus ikut
instruksi Om tanpa bantah, bisa gak?” “Ok, Nini akan ikut semua instruksi dari
Om.” “Nah, sekarang ambil segelas air putih buat Om.” Perasaanku bercampur
antara takut dan nervous, pergi ke dapur utk ambil segelas air.
“Nih airnya Om” “Ok, Nini minum airnya dikit.” Aku merasa aneh tapi hanya
turut aja disuruh minum lalu Om Wawan minum air yg baru aku minum. “Ini Om
lagi mencoba membersihkan penyakit di dalam tubuh kamu. Sekarang julurkan
lidah kamu. Om mau liat.” Aku menjulurkan lidahku, lalu Om Wawan menyedot
dgn kuat lidahku. Ada sensasi aneh di dlm tubuhku. Lalu Om Wawan
memasukkan tangannya di dlm celana dalamku, aku kaget! “Jangan takut, Nini.
Om mau tau separah apa penyakit yg dijangkitin Nini. Ada makhluk halus di
dalam tubuh Nini yg suka mengganggu kesehatan Nini.” Aku ketakutan dikasih
tau ada makhluk halus di dalam tubuhku, jadi aku diem saja Om Wawan

menyentuh vaginaku. Aku merasa enak Om Wawan menyentuh vaginaku, dan
aku merasa vaginaku dah basah, Om Wawan mengeluarin tangannya dan
menjilat jarinya yg basah, “Nini dah basah ya?” Trus aku diem saja, lalu Om
Wawan menaikin kausku, dan mengeluarkan pentilku dari BH, lalu dia mengemut
pentilku dgn kuat, aku merasa enak dan tanpa sadar aku sudah mendesah
keenakan. “Ke kamar Nini yuk, biar Om lebih leluasa mengobati Nini.” Aku nurut
saja ama kata2 Om Wawan.
Begitu di kamarku, Om Wawan melepaskan celananya ,”Nini, kulumin kontol
Om!” Aku enggan mengulumin kontolnya karena keliatan bau n kotor kontolnya.
“Katanya mau diobatin penyakitnya? Kulum kontol Om buat ngusir makhluk
halus di dlm tubuh Nini.” Aku jadi nurut karena aku mau diobatin. Aku mengulum
kontol Om yg lagi lemas ketiduran, aku mengemut kontol Om sampe mengeras
dan Om Wawan mendesah keenakan ,”lbh cepat kulumnya… ashh ahhh…
ngemut2 kontol Om lbh keras dan lebih cepat.” Aku ikut instruksinya dan
menahan napas dr bau kontol Om. Om mendesah keenakan terus, lalu Om
Wawan menyuruh aku telanjang, karena ini adalah upacara utk mengusir
makhluk halus. Om merebahkan aku di atas ranjang lalu dia menciumin aku, dia
melumat bibirku dengan ganas, menciumin seluruh mukaku, melumat pentil aku
kuat lalu menjilati vaginaku ,”aashhhh… enak Om…. ah ahh ashh hmm… Om,
aku ga tahan lagi Om, ahhhh ashhhhhhhhhh…. masukin kontol Om dong….” Tapi
Om Wawan sengaja ga mo masukin kontolnya, dia masih bermain2 dgn vaginaku
dgn lidah dan jarinya… sampe aku memohon mohon, “Om, cepet dong…
masukin kontol Om ke dalam memekku, aku dah ga tahan lagi… ahh ahhhh…
tolong Om… cepet masukin”
Lalu Om Wawan memasukin kontolnya di dalam vaginaku, “Oh… asiknya Om…
ah ahahhh ashhhh” Om Wawan mengenjot pelan pelan, “Om, ahh ahh…. cepet
dong ngenjotnya… ahhh ashhh ahhhhahhhh… lbh kuat dong…” “Wah, Nini binal
sekali… Om baru tau…” Lalu dia mengenjot lbh cepat n kuat sambil melumat
bibirku dan memeras tetekku kuat kuat. “Om lbh kuat meremas tetekku ahhhh
ahhh”
Kita ganti posisi ke doggy style dan aku on top…. Om Wawan sangat lihai dlm
permainan ini… dia membuat aku lupa diri dan merasa high sekali… kita berdua
meraung raung keenakan di dlm kamar… ahhh
aaaaaaaaaahhhhhsssssahhhhhhhhh ihhhhhhh assshhhhh uhhhhhhhhahhhhha…..
“Nini, Om sudah mau keluar…. Om crut di dlm memek Nini yah” “Iya, Om…
boleh ahh ahhhh cepet, ahhh Nini juga udah mau keluar ahh ahhhh” Om Wawan
mengenjot lebih cepet dan kuat, ahhh ahhhh tiba2 tubuhnya megenjang,
tandanya dia sudah keluarin spermanya di dalam vaginaku… lalu Om Wawan
mengeluarin kontolnya dan meletakan di dalam mulutku, aku mengulum
kontolnya dgn asik dan Om Wawan mengerang dgn asik dan bergetar-getar
keenakan. Lalu kita berbaring sejenak sambil berciuman.

“Besok-besok Om mau ngentotin Nini lagi utk bersihin tubuh Nini dari makhluk
halus.”

Sulasmi yang begitu menggoda
Posted by admin on May 5, 2009 – 5:26 pm
Filed under Daun Muda
Aku anak pertama dari lima bersaudara. Usiaku menginjak 16 tahun manakala
orangtuaku harus pindah tugas dari kota K ke kota P. Alhasil waktu itu aku baru
dua bulan masuk kelas 1 SMA sayang jika harus pindah, apalagi sekolahku
adalah sekolah swasta yang membutuhkan biaya banyak.
Atas kebijakan orangtuaku, aku harus kos. Maka aku diantar oleh kedua
orangtuaku dan keempat adik-adikku menempati kos baru. Rumah kosku sangat
besar, dengan model kuno khas ukiran Jepara. Berbentuk letter L dengan
halaman luas, terdapat sepasang pohon mangga. Ruang tamu yang memanjang
kebelakang yang bersekat dimana terdapat empat kamar di bagian tengahnya
yang berhadapan langsung dengan ruang makan. Semuanya berjumlah sepuluh
kamar. Aku sendiri berada di kamar terakhir di bagian letter L-nya. Empat kamar
termasuk kamarku berakses langsung keluar melalui pintu samping dengan
halaman kecil di tanami pohon mangga kecil. Dipisahkan oleh tembok belakang
sebuah rumah.
Teman-teman kosku waktu itu bernama Mbak Mamiek, Mbak Mur, Mas Prayitno,
Mbak Srini, Indarto, Sularno dan pemilik Kos. Rumah bagian depan yang tepat
membatasi kamarku memiliki dua anak perempuan, Sulasmi kelas tiga SMP dan
SutarmiSD kelas 6.
Ukuran tubuhku biasa-biasa saja 168, berat 60 dengan tahi lalat di dagu sebelah
kanan dan rahang sebelah kiri yang kata mbak Srini menarik dan sekaligus
membuatku manis kata mbak Srini, padahal aku laki-laki tulen hal ini nanti aku
ceritakan. Ukuran penisku juga normal, tegak lonjong keatas tanpa
membengkok. Setiap pagi semenjak duduk di SD aku selalu merendam dengan
teh basi selama 10 menit-tanpa diberi gula loh (entar di krubut semut, bisa
berabe he.. he..), lalu pelan-pelan di kocok-kocok, diremas jangan sampe keluar
mani (seringnya sih keluar, abis enak sih). Itu kata anak-anak kos sebelah
rumahku dahulu, entah benar atau tidak. Manfaatnya? Itu juga aku belum tahu.
Hari-hari berlalu, aku sudah mulai terbiasa dengan lingkunganku yang baru, aku
sering keluar dengan teman-temanku yang baru. Terutama mas Prayit sering
meminta menemaniku untuk menemui pacarnya, sebel juga habis jadi obat
nyamuk sih. Saat kami pulang sering kami berjumpa dengan Sulasmi. Kami
berhenti dan mas Prayit sering menggoda cewek itu, orangnya sih khas cewek K,
radak item dibilang cantik juga enggak, manis juga enggak. Lalu apa dong, yah
kayak gitu lah.

Lama kelamaan aku juga iseng-iseng ikut menggodanya. Dia pulang jam 12.45
sedangkan aku pulang jam 13.30 dan Cuma aku yang masih sekolah temanteman kosku sudah bekerja semua, paling cepat jam 17 mereka baru pulang
praktis cuman aku yang pulang awal.
“Duh, lagi santai ya Mi,” begitulah kalau aku memanggilnya.
“Baru pulang mas?”
Aku mendekat, dia hanya mengenakan celana pendek olahraganya dan berkaos
tanpa lengan sedang membaca sebuah novel. Lumayan, tidak hitam-hitam amat
demikian pikirku manakala ekor mataku menelusuri kakinya.
Begitulah, sering aku menggodanya dan nampaknya dia suka. Naluri laki-lakiku
mengatakan kalau dia sebenarnya ada hati kepadaku. Atas dasar keisengan, aku
membuat sebuah surat di atas kertas surat berwarna pink dan harum dengan
ukuran tulisan agak besar. Sangat singkat, “Lasmi, I love u” kemudian pada
malam harinya aku sisipkan di jendela kamarnya, dari luar aku dengar dia
sedang bersenandung kecil menyanyikan lagu dangdut kesukaanya.
Dengan cepat kertasku tertarik masuk, hatiku terkesiap takut kalau-kalau bukan
Lasmi yang menariknya. Tidak beberapa lama lampu dimatikan dan jendela
terbuka, ah Lasmi melongokkan kepalanya keluar. Ketika dia melihatku dia
tersenyum lalu melambai supaya aku mendekat. Kemudian aku mendekat.
Ketika aku mendekat tiba-tiba
“Cuupp…!”
Lasmi mengecup bibirku, aku terperanjat atas perlakuan itu. Belum lagi
keterkejutanku hilang Lasmi mengulangi perbuatannya. Kali ini dengan sigap aku
rengkuh pundaknya, aku lumat bibirnya. Gantian Lasmi yang terkejut, dia hanya
ingin menjawab suratku dengan kecupan kilat justru aku tidak kalah cepat.
Lidahku meliuk-liuk dalam mulutnya yang menganga karena terkejut, tampak
sekali dia belum pernah melakukan ciuman.
“Mmmppphh…”
Lalu tubuhnya mengejang, rona wajahnya memerah desiran panas napas kami
mulai memburu. Lasmi memejamkan matanya pelan dia mulai mengikuti lidahku
yang menjelajah rongga mulutnya dan dia melenguh pelan tertahan manakala
lidah-lidahku menaut lembut lidahnya. Refleks tangan kirinya merengkuh
tengkukku, menarik lembut kepalaku dan tangan kirinya bertopang pada tepian
daun jendela.
Dalam suasana gelap, pelan aku turunkan telapak tangan kananku dan meraih
gundukan payudaran sebelah kirinya.

“Ah..!”
Lasmi melenguh lirih dan terkejut, menepis pelan tanganku.
“Sudah malam, besok yah?” Bisiknya lirih, memberiku satu kecupan dan
menutup daun jendela. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Aku kembali kekamarku, tidak kuasa menolak desakan birahi aku lepas semua
pakaianku. Dengan tidur terlentang jemari telunjut dan ibu jariku menjepit erat
batang kontolku dan aku tegakkan membuat kepala kontolku dan otot-ototnya
merah membesar. Telapak tangan kiriku menggosok-gosok pelan, sementara
cairan bening sudah keluar dari kepala kontol yang memerah.
Mataku terpejam, aku pentang kedua kakiku lebar-lebar dan membayangkan
Lasmi yang sempat aku pegang payudaranya yang kecil lembut tadi.
“Ah…!”
“Ssstt…”
Kepalaku berdenyut-denyut dan tubuhku terasa melayang tanpa terasa
kocokanku semakin cepat seiring desah napasku yang mulai memburu.
“Ahhhh… hhh…!”
“Croot… croott… croottt…!”
Airmaniku menyembur dengan dasyat, kali ini cukup banyak mengingat kali
pertama aku berciuman dan meremas milik perempuan.
Paginya seperti biasa aku siap-siap hendak berangkat, aku biasa naik angkutan
umum toh motor juga ada tapi enggak seru.
Kebetulan angkutan kosku pangkalan kedua angkutan jadi belum banyak
penumpangnya dan aku bisa memilih tempat duduk. Nah, serunya pas
pangkalan ke tiga sudah mulai penuh anak-anak sekolah apalagi jalurnya
melewati tiga SMA dan 1 SMP, bayangkan deh pas penuh-penuhnya lumayan
dapat senggolan susu, he… he…
Sulasmi sudah menunggu di samping rumahnya di balik kerindangan pohon
Mahkotadewa. Aku berangkatnya agak siang, soalnya sekolahku masuk pukul
7.15, maklum banyak atlit Pelatnas yang bersekolah disekolahku dan biasanya
Lasmi sudah berangkat, pasti dia menungguku toh semenjak malam itu aku
resmi jadi pacarnya.
Aku menengok kekanan dan kekiri, kedua orangtua yang seorang guru dan
adiknya sudah berangkat semenjak tadi, Lasmi biasa menggunakan sepeda.

“Maaf tadi malam, marah?”
Senyuman dan guratan giginya semakin tampak putih dipadu rona wajahnya
yang coklat kehitaman.
“Tidak tuh,” seraya aku menghampirinya di kerimbunan. Entah mengapa dia
juga beranjak semakin masuk ke lorong samping rumahnya dan tentunya kami
semakin tidak tampak dari luar.
“Habis surat kamu sudah malam sih.”
Aku raih tangannya dan pelan aku rapatkan tubuhku kearahnya dan aku cium
bibirnya ah.. dingin-dingin empuk. Lidah-lidah kami bertautan, matanya
terpejam. Jarum jam menunjukkan pukul 6.35 jadi masih ada waktu buat
bercinta!
Berlahan aku lingkarkan kedua tanganku kepinggangnya, dia hanya terdiam
sambil memejamkan matanya dengan kedua tangannya tergerai kebawah.
Akankah aku ditolak? Demikian pikirku manakala pelan aku julurkan telapak
tangan kananku kearah dadanya.
“Jangan disini,” kemudian menarik tanganku menuju ke belakang gudang.
Disitu terdapat sebuah dipan (tempat tidur kecil) dari bambu dan kami duduk
bersebelahan lalu aku rengkuh pundaknya tanpa di komando bibir kami beradu
dan saling bertautan, kali ini bagaikan kuda liar terlepas dari kandangnya Lasmi
memeluk erat pinggangku. Matanya terpejam rapat manakala bibirku merayap
turun kelahernya. Kali ini tangan kananku dibiarkannya menelusuri payudaranya
yang terbungkus baju seragam SMPnya.
“Ehh…”
Lasmi melenguh lirih manakala aku dengan lembut meremas payudaranya, kecil
dan tampak kenyal. Dan sementara bibirku terus meliuk-liuk di sekitar lehernya
dan dengan naluri laki-laki bibirku bermain di telinganya sehiingga membuat
bulu kuduknya merinding. Lasmi semakin merapatkan kedua kakinya dan
sementara tubuhnya bersandar erat ke tubuhku.
Lasmi merenggangkan dadanya, memberi jarak agar tanganku leluasa bermainmain di payudaranya dan sementara kepalanya sedikit meliuk-liuk mengikuti
gerak wajahku dan di seputar lehernya dan bulu kuduknya sesekali meremang.
Baju seragam Lasmi bagian depan sudah awut-awutan padahal ini adalah hari
senin.
“Hhh….”
“Hhhh…hhh…”

Hanya desah napas kami yang terdengar. Dan berlahan Lasmi semakin menekuk
tubuhnya dan terlentang keatas dipan bambu. Pelan aku mendekatkan bibirku
ke bibirnya, Lasmi membalasnya penuh gairah. Jemari tanganku membuka satu
persatu kancing bajunya seiring dengan berjalannya waktu dari menit ke menit.
Aku menindih pelan seraya membuka resletting celana seragam SMAku yang
berwarna abu-abu. Aku menjatuhkan kecupan lembut dibibirnya, refleks Lasmi
membuka mulutnya memberi jalan untuk lidahku menjelajahi rongga mulutnya.
Sementara tanganku telah menurunkan celana seragam dan celana dalamku
sampai batas pantatku, kini kontolku telah terbebas.
Aku raih tangan Lasmi yang sedikit terentang keatas, aku tuntun kearah
kontolku.
“Uhh…”
Tubuhnya bergetar, payudara yang terhimpit tangannya menyembul kecoklatan
berkilatan saat dengan bimbinganku Lasmi meremas batang kontolku.
Karena belum terbiasa dan untuk pertama kalinya dia memegang maka
genggamannya sedikit kencang dan tidak ada reaksi selain menggenggam. Toh
aku juga tidak pernah tahu karena ini juga baru pertama kalinya aku
memperlakukan lawan jenisku sampai jauh.
“Mmmpp…”
“Hhh… Hhhh…”
Ciumanku merayap turun ke payudaranya dan tanganku mulai meraba-raba
gundukan diatas selangkangannya.
“Hhhmmmpp…”
Aku serasa melayang ketika tangan lembut yang menggenggam batang kontolku
sedikit naik meraup kepala kontolku. Tegang dan keras sekali.
“Sayang…” Demikian bisiknya lirih di telingaku ketika tanganku pelan
menyibakkan rok seragam biru milikya sedikit naik. Lasmi mengangkat sedikit
pantatnya sehingga dengan bebas roknya tersibak keatas. Ketika aku menoleh
kebawah Lasmi seketika menysupkan kepalanya kedadaku, malu tapi mau dan
suka.
Celana dalam warna pink menyembunyikan gundukan kecil diatasnya tampak
jelas sekali bagian bawahnya telah basah kuyup. Lasmi membiarkan tanganku
menyusup kebalik celana dalamnya, serasa gundukan belum ditumbuhi banyak
bulu, masih ada satu dua dan sangat halus.

“Basah” dalam benakku saat telapak tanganku merayap diatas permukaan
tempiknya, Lasmi semakin berani memberiku kesempatan dengan sedikit
membuka himpitan pahanya.
Naluriah, demikian istilahnya. Jari telunjuk dan jari manisku pelan menggosok
samping kanan dan kiri tempiknya sementara jari tengahku menemukan sebuah
biji kacang klentit miliknya. Semakin basah saat aku pelan menggosok-gosok
tanganku dengan kaku, maklum belum biasa sih.
Telapak tanganku penuh dengan cairan kental dan lembab. Aku terus
menggosok-gosokkan tangannku, hangat, lembab dan licin.
Sementara Lasmi tidak melepaskan genggaman tangannya di kontolku, kalau
tadi di bagian kepala sekarang di bagian pangkalnya yang berbulu.
Aku menurunkan celana dalamnya sampai kebatas lutunya dan dengan kakiku
aku lepaskan. Aku menindihnya dimana sebelumnya tangan Lasmi yang
menggenggam kontolku aku terlentangkan, membuat sepasang payudaranya
yang sempat tertutup sedikit kaosnya membusung.
Lasmi seolah-olah mengiyakan apa yang akan aku lakukan, berarti sungguh dia
mencintaiku.
Pernyataan cinta yang secara iseng aku lontarkan ternyata mendapat sambutan
yang sedemikian dasyatnya. Sungguh dia kini pasrah terlentang di bawahku.
Sementara aku, hanya nafsu yang berputar-putar didalam otakku. Ulangan Fisika
pada jam pertama dengan pak Anton sang guru killer dimana tak ada ampun
bagi yang tidak masuk pelajarannya tanpa surat keterangan apalagi saat
ulangan sudah tidak aku pikirkan.
Aku rentangkan lutut Lasmi biar pinggulku sedikit leluasa menindih tubuhnya.
Lasmi hanya menurut saja. Aku genggam batang kontolku, aku arahkan
kelobang vaginanya. Naluri laki-lakiku seolah-olah secara otomatis bekerja.
Saat bagian kepala menempel di bagian lembut dan basah aku menarik napas
untuk mengurangi keteganggan.
“Sreet…”
Terasa kepala kontolku menyibak sesuatu ketika pinggulku aku tekan sedikit.
Lasmi sedikit mengrenyitkan dahinya tanda ada sesuatu yang aneh.
“Sreet…”

Kembali seperti menyobek sesuatu. Kini Lasmi menggigit bibir bagian bawahnya,
wajahnya sedikit tegang sementara wajahku pun demikian, genggaman
tanganku sedikit gemetar ketika aku dorong pantatku kebawah.
“Sreet… sreeettt…”
“Mpphhh…”
Erangan lirih dari mulut Lasmi katika separuh kontolku sudah menghujam
masuk. Tetesan darah perawan menetes, bagaikan aliran sungai Mahakam
menetes disela-sela dipan bambu yang kami pakai untuk bergelut. Menetes
kebawah, berjatuhan tetes demi tetes keatas tanah yang berdebu.
Aku menarik keatas pantatku dan dengan pelan aku tekan kembali kebawah, kali
ini tanganku sudah tidak menggenggam berganti menopang tubuhku yang
merapat diatas tubuh Lasmi.
“Sreettt…”
“Aaahhhh…!”
Lasmi menjepit pantatku dengan kedua pahanya yang sedikit terangkat
menahan perih saat semua kontolku untuk pertama kalinya menembus
vaginannya. Dan kini semua batang kontolku sudah menghujam kedalam liang
surgawi tempiknya.
Tangannya menggenggam erat, pahanya menjepit kuat pantatku dan wajahnya
semakin terpejam. Aku berikan kecupan lembut kebibirnya lalu dia mulai
menangis. Dan memeluk tubuhku dengan erat dengan tidak melepaskan jepitan
pahanya di pantatku justri kakinya yang terangkat di letakkan diatas betisku.
Berlahan pantatku aku mainkan naik-turun, untuk menenangkannya aku
membisikkan sesuatu ketelinganya,
“Sakit…?”
“Aku tahan, aku sayang kamu…”
Suara berderit pada dipan bambu menahan tubuh kami saat kontolku aku majumundurkan, Lasmi tidak melepaskan pelukannya dan kedua kakinya tetap
berada diatas betisku dan kali ini jepitan pahanya di pantatku sedikit
mengendor.
“Plak… plak… plak…”
Kelamin kemi mengeluarkan bunyi khas saat saling bergesekan dan suara itu
merupakan pertama kalinya kami dengar.

Dua puluh menit berlalu dari aku berhasil memerawani Lasmi, aku terus
memainkan kontolku maklum masih jejaka jadi maju-mundur, maju-mundur
terus tanpa ada variasi. Toh dengan demikian lambat laun rasa perih pada Lasmi
mulai hilang, aku pun demikian.
Lasmi mulai mencari-cari bibirku dan aku menyambutnya dengan mengulum
lidahnya dan memilinnya dengan lembut.
“Hhhmmppp…”
“Hhhhhhh…”
“Sayang…”
Sepuluh menit kemudian Lasmi mengencangkan pelukannya dan kembali pelan
menguatkan jepitannya.
“Plak… plakk… plakkk…”
Aku terus menghujaninya dengan goyangan kontolku, sesekali aku berlahan
untuk menarik napas. Lumayan pegel juga ternyata, palagi rambut kontolku
yang sudah mulai lebat lenyodok-nyodok vaginanya yang belum berambut
membuat rasa perih padanya menjadi suatu sensasi mengenakkan, menggugah
birahi yang sedikit berkurang akibat rasa perih.
“Hhggghh…”
“Aahhhhh…”
Lasmi mengejang, rona wajahnya memerah, napasnya tertahan manakala
birahinya menanjak menghantam ubun-ubun dan bagaikan suatu hempasan
gelombang menerjang apa saja lalu padam terkulai
Lemas. Banyak energi yang telah dikeluarkan.
Aku terus menggenjot saat Lasmi sudah jatuh terlentang, kedua kakinya terkulai
mengkangkang. Aku topang badanku dengan kedua tanganku kali ini pantatku
bebas naik turun. Lesatan kontolku di dalam vaginanya bagaikan terpedo yang
diluncurkan dari sebuah kapal selam. Seperti ada sesuatu yang akan keluar aku
percepat gerakan pantatku naik-turun. Dan…
“Ahhhhhh…”
“Crott.. croot.. crooot…”
Bersamaan dengan aku semprotkan air maniku tiba-tiba,

“Gubraaak…”
Dipan yang kami pakai rubuh karena beban goyangan yang aku lakukan.
“Ah!”
“Aduhh…”
Kami jatuh berguling, Lasmi tetap aku peluk sehingga dia menindih tubuhku.
Kontolku terlepas dari tempiknya, spermaku muncrat kemana-mana. Akibatnya,
kontolku yang masih “ereksi” tertimpa pantatnya Lasmi.
“Dipan sialan,” demikian umpatku.
“Sudah keropos.”
Lalu kami berdiri, Lasmi memandangku saat aku meringis menahan ngilu di
kontolku yang tertimpa pantatnya.
“Sakit?”
“He-eh”
Sambil berdiri dimana aku masih telanjang bulat, Lasmi mengulurkan tangannya,
memegang kontolku yang sudah terkulai seraya memberikan pijitan-pijitan
lembut.
Aku tumpangkan kedua tanganku keatas pundaknya.
“Hari ini kita bolos ya?”
Aku hanya tersenyum, aku biarkan tubuhku bugil dihadapannya. Lasmi sambil
membersihkan dengan tangan kirinya badanku yang sedikit berdebu
memandangku mesra, duh bening mata itu menusuk lekat ke dalam kalbuku.
“Padahal aku jam pertama ada ulangan fisika.”
“O ya?”
“Biar saja,” sambil aku belai rambutnya yang tergerai.
“Masih sakit?”
“Sedikit.”
“Enakan sekarang?”

“He-eh”
Lasmi mengocok berlahan-lahan dan kontolku seperti diurut tangan lembut,
berlahan kontolku mulai tegak kembali. Aku belai payudaranya yang tertutup
kaos dan seragamnya sudah tersibak tidak karuan. Aku cium kembali bibirnya
sementara Lasmi terus dan terus mengurut-urut kontolku.
“Mmmpphhh…”
“Di kamar yuk?” Lasmi meraih seragamku dan menggandeng tanganku masuk
melalui pintu belakang dimana dia memegang anak kunci. Setiap dia pulang
duluan selalu melalui pintu belakang sedangkan adiknya pulang bersama
orangtuanya.
Lasmi langsung melepas seragam putih birunya yang sudah awut-awutan,
sebercak darah perawan masih sedikit meleleh di selangkangannya, Lasmi
langsung merebahkan diri keatas ranjang. Dan aku pelan menempatkan diri
keatas tubuhnya, pantatku berada ditengah-tengah selangkangannya.
“Bleesss…”
Kontolku langsung menyusup ke dalam vaginannya. Aku ciumi wajahnya dan
melumat bibirnya. Sontak Lasmi merengkuh tengkukku dan aku meremas
payudaranya. Sepasang anak manusia bertelanjang bulat saling memagut,
memadu cinta, membakar api birahi.
Pikiranku lepas terbang, sudah tidak ada batas sama sekali diantara kami
padahal baru semalam aku mengatakan cinta, itupun hanya kesiengan belaka.
Ah, setelah ini semua begitu kejam dan jahatkah aku? En tahlah, itu urusan
belakang saat ini kontolku tertanam didalam vaginannya.
“Ahh-hh…”
Lasmi menggeliat saat aku mulai kembali aksi kontolku naik turun. Perih dan
pedih berganti kenikmatan, bagaikan sebuah gada dengan kepala membesar
membuat sensasi nikmat saat bergesekan.
Kali ini aku tidak perlu kuatir ranjangnya akan ambruk, ranjang berderit-derit
saat aku menggoyangkan pinggulku. Seperti tadi Lasmi memelukku dengan erat
dan sepasang kakinya mengait kali ini tidak diatas betisku melainkan lebih naik
keatas pantatku.
Desah napasnya semakin memburu di dekat telingaku dan kali ini tidak
memerlukan waktu lama Lasmi sudah mulai mengejang dan walaupun dia
mencoba menahan tapi desakan biologisnya lebih kuat.

“Aahhh…”
Tanpa sadar Lasmi melenguh dengan kerasnya ketika sampai dipuncak birahinya
dan dalam hitungan detik pula aku mengikuti.
“Aakkhhh….”
“Croottt… crooottt… crooottt…” aku semburkan airmaniku kedalam rahimnya,
entah apa yang akan terjadi sudah tidak aku pikirkan. Aku biarkan kontolku
masih menancap di vaginanya dan “pluppp…” terlepas dan terkulai lemas.
Jam 10 aku kembali kekamar kosku dibelakang rumahnya setelah sebelumnya
untuk yang ketiga kalinya aku menidurinya. Uh, pegal semua badanku. Terutama
kontolku langsung bekerja keras. Aku langsung mandi untuk menyegarkan
badan, kosku masih sepi karena semua masih kerja sampai jam 17 kecuali mbak
Srini seorang guru SD paling jam 1 sudah pulang, bapak kosku juga pergi
biasanya ke pasar untuk mancari hiburan bermain catur, maklum pensiunan.
Dan akhirnya aku tertidur sampa sore hari.
Praktis semenjak kejadian itu antara aku dan Lasmi sudah tidak ada batas
apapun, kedua orangtua dan adiknya selalu berangkat jam 6.30 sehingga
memberiku keleluasaan untuk bercinta dengannya.
“Hai pah,” demikian Lasmi menyebutku Pah. Lucu juga kedengarannya tapi asyik
juga tapi satu hal hingga kini aku tidak mencintainya. Ah, sayang, aku memang
jahat sekali.
Padahal dia mencintaiku dengan tulus.
“Hai,” sapaku pula ketika melewati kamarnya, dia hanya mengenakan kaos
oblong sehingga beha warna kuning yang dia pakai terlihat.
Sedangkan dia hanya mengenakan celana dalam warna pink dengan sedikit
tersipu dia meraih rok seragam biru yang tergolek di ranjang dan menutup
bagian depannya.
Barusan aku dengar suara motor orang tuanya berangkat ke sekolah. Lalu dia
seperti biasa memberiku kode melalui pintu belakang, sebentar aku menoleh
dan tidak ada orang. Teman-teman kosku masih pada tidur kecuali mbak Srini
seornag guru SD teman kosku juga sudah berangkat.
Aku langsung mengunci pintu dan memeluknya sambil melumat bibirnya,
“20 menit,” pintanya tegas.
“Oke”
20 menit bagiku sudah cukup, maklum dia masuk jam 6.55 sedangkan aku jam
7.15. Tanpa perlu komando kami langsung naik keatas ranjang sementara Lasmi

terlihat pasrah dengan dada membusung dibalik kaos oblongnya dan celana
dalam warna pink.
Tanganku meraih kaos yang diekanakannya dan menariknya keatas bersamaan
dengan behanya, akupun demikian membuka baju seragamku hingga aku bugil.
So, kontolku sudah nafsu langsung ereksi.
Ups…!
Dingin empuk manakala Lasmi meremas kontolku saat aku hendak menindih
sedikit tubuhnya sambil meremas payudaranya.
“Hmmmppp…”
Payudaranya bergetar saat aku merabanya dengan lembut, mengeras saat aku
meremasnya, menggelinjang saat putingnya aku pilin dengan jemariku dan,
“Paaahh…”
merintih saat aku susupkan wajahku diantara sepasang gunung kembarnya dam
memberikan gigitan mesra yang meninggalkan tanda merah kebiruan di kulitnya
yang kecoklatan.
Aku menurunkan ciumanku keatas perutnya, berputar-putar diatas pusarnya,
“Aahhh…”
Lasmi merintih geli, refleks genggamannya terlepas dari kontolku dan mesra
mengusap kepalaku dengan tangan kirinya sementara tangan kananya tersibak
keatas.
Cewek usia 14 tahun tentunya di kelaminya belum ditumbuhi rambut lebat,
beberapa tipis dan baru mulai tumbuh tampak saat aku merayap turun dari
perutnya kebawah pangkal selangkanagnnya. Aku geser posisiku dengan
menarik keatas pinggulku, dengan posisi itu Lasmi mulai memberanikan diri
mengusap kontolku sambil memandang lekat-lekat kontolku.
“Besar” pikirnya, itu aku tahu kemudian dari buku hariannya yang aku ambil
saat dia kekamar mandi. Aku belum berpengalaman dalam session ini, maka
langsung aku julurkan lidahku menjilati langsung klentit dan semuanya dan
menghisap menggunakan mulutku.
“Hhmmppphh…”
“Akkhhh…!”

Tidak dinyana Lasmi terkejut dengan apa yang aku lakukan, refleks dia
mengatupkan pahanya sehingga kepalaku terjepit. Refleks juga genggamannya
di kontolku mengencang, tapi dia tidak memejamkan matanya.
Dipandangnya kontolku yang sudah mengeluarkan cairan bening tanda birahi
dari ujung kepala kontolku.
“Masukin pah, sudah siang,” pintanya sambil menggeser tubuhku darinya.
Aku merebahkan tubuhku keatasnya, Lasmi membuka kedua kakinya,
memberiku keleluasaan mengarahkan kontolku dan,
“Blesss…”
Kontolku melesat masuk kedalam liang vaginanya yang sudah basah langsung
sampai kedasarnya, hangat, lembut dan kenyal. Kontolku seperti diremas oleh
kelembutan dan kehangatan, dipilin oleh cairan birahi dan kami pagi itu menyatu
dengan tubuh bugil.
Lasmi memelukku dan kembali seperti sebelumnya mengaitkan kedua kakinya
keatas pinggulku dan aku memacu, melesatkan berulangkali kontolku kedalam
tempiknya. Saling menderu napas kami berkejar-kejaran, sesekali Lasmi tersipu
malu saat dia membuka kelopak matanya dan aku sangat dekat diatasnya
memandang tajam kearahnya, tersipu dengan rona wajah memerah dan
menyembunyikannya kebawah pundakku. Aku terus menayunkan pinggulku naik
turun, suara-suara yang akhirnya terbiasa di telinga kami mengiringi derit
ranjang yang terdengar pelan karena goyangan kami.
“Paahhh…”
“Sayanggg…”
Hentakan birahi merayap keujung kontolku, dengan sekuat tenaga aku berusaha
menahannya. Sementara dengan tegang memelukku erat dan mengapitkan
kedua pahanya kuat-kuat di pinggulku. Dinginnya udara pagi dengan jendela
berkaca nako menyebabkan kami semakin birahi.
“Ahhh…”
Lasmi melenguh, mengejang, bergetar dan jepitan vaginanya meremas-remas
kontolku saat aku hentakkan-hentakkan hingga dasar vaginanya dimana rambut
kelaminku menggesek-gesek klentitnya saat beradu.
Dalam hitungan detik, akupun mengejang, sambil menggigit belakang telinganya
dan tangan meremas payudaranya aku hujamkan kuat-kuat kontolku.
“Ak-akkk-akkhhh…!”

“Croot… serrr… croot, croot… crooot…”
Kami terdiam, Lasmi sudah terkulai lemas dengan bersimbah peluh dan aku
biarkan kontolku terjepit vaginanya yang berdenyut-denyut lembut. Aku
memeluknya dan desah napas kami yang semula menderu-deru berlahan-lahan
mulai teratur.
“Pah, dah siang loh, aku tidak mau bolos lagi,” Lasmi mengingatkanku sambil
tersenyum. Lalu aku kecup bibirnya dan tampak di leher belakang telinganya
membekas gigitanku. Saat kami berpakaian tampak hampir sekujur tubuhnya
penuh dengan “cupang”-an dan gigitan mesraku.
Payudara kirinya membekas jemari kananku tadi saat aku akan orgasme. Lasmi
tersenyum saat aku memandang tubuhnya,
“Hasil karyamu pah,” seraya memakai kembali behanya.
“Karya abstrak mah,” lalu aku hampiri dia dan aku belai kelaminya yang masih
melelehkan spermaku.
“Tidak dicuci dahulu mah”
“Enggak ah, biarin aku tetap merasakan milikmu pah.”
Jam menunjukkan pukul 7.50 saat Lasmi mengayuh sepedanya dan aku berjalan
ke jalan besar untuk menunggu angkutan umum. Biasa, buat cari senggolan
apalagi jam mendekati waktu masuk.
Pernah suatu ketika aku mewakili sekolahku dalam ajang lomba menggambar,
lumayan aku memiliki bakat menggambar. Sebelum jam 1 aku sudah kembali,
aku longokkan kepalaku tampak Lasmi sedang mengerjakan PR-nya. Melihatku
dia beranjak keluar melalui pintu belakang.
Darah mudaku seketika bergelora, aku hampiri dan aku lumat bibirnya.
“Hampir jam 1 pah,” demikian dia mengingatkan, berarti 30 menit lagi
orangtuanya pulang. Sontak aku minta dia nungging dengan kedua tangan
diatas dipan bambu (sudah diganti dengan yang baru) lalu aku sibakkan rok
yang dipakainya, celana dalamnya aku plorotkan dan lidahku dengan cepat
menjilati tempiknya.
Ups, he… he… sedikit pesing, sebodo amat. Lalu aku arahkan kontolku ke
vaginanya dan,
“Sleeebbb… bleeesss…”
“Ahhhh…”

Lasmi terkejut dan sedikit meringis menahan perih tapi hanya sebentar dan
napasnya sudah mulai tidak beraturan. Berselang lima menit dengan
mencengkeram tepian dipan bambu sambil “mekangkang” Lasmi menggeliat
seraya melenguh kuat.
“Aahhhh…”
Aku pegang pantatnya dengan kedua tanganku, aku sodokkan kedepan dan
kebelakang pantatku sehingga kontolku leluasa melesak keluar dan kedalam.
Lalu aku remas dengan mencengkeram pantatnya manakala kontolku
memuntahkan spermaku.
“Ahhhh… hh… ahhh…”
“Serrr… serrr… serrr…”
Cairan kental putih muncrat didalam vaginanya seraya menimbulkan bunyi
“ceplak-ceplak-ceplak”, belum puas aku teruskan genjotanku sampai-sampai
Lasmi hampir jatuh terkulai kalau saja tidak aku topang pinggulnya dengan
kedua tanganku.
Semangat mudaku menggelora, aku terus memacu dan memacu. Kontolku yang
semula terasa ngilu karena sudah melontarkan airmaniku berlahan kembali
mendapatkan kekuatannya. Aku mati-matian agar kontolku setelah
mengeluarkan airmani tidak terkulai.
Aku paksa semangatku agar cepat meraih birahi kembali.
Lasmi hanya menggigit bibirnya, lemas sekali. Sendi-sendinya serasa mau lepas,
napasnya tersengal-sengal. Rasa pening menghantam kepalanya tapi tempiknya
ternyata tidakmau kompromi, berlahan cairan birahi membasahi gesekan kontol
dan tempiknya.
Lasmi tidak kuasa menahan hentakan birahi yang berlahan mulai merambat naik
ke ubun-ubunnya. Merayap ke semua ujung syarafnya, jantungnya berdegup
dengan kencang, matanya terbelalak dengan semua otot diwajahnya
menyembul menyebabkan rona wajahnya memerah.
“Akkk… hhhhhh…!”
“Crooot… crooot… crooot…”
“Ah…”
Bersamaan kami dihempas oleh puncak birahi, bersamaan kami dihantam oleh
kenikmatan surgawi dan bersamaan kami jatuh terjerembab keatas dipan bambu
dan seolah-olah dunia terasa melayang. Lasmi jatuh tanpa daya keatas dipan

menyisakan lelehan sperma di selangkangannya dibawah tonjolan pantatnya,
ternyata dia pingsan!
Disekolah aku termasuk siswa yang biasa-biasa saja, sedangkan Lasmi termasuk
kategori siswa kelompok “dodol” alias “bego” dan kategori cewek “non
nominasi” pantes saja aku radak “GR” langsung main tancep pedang aja.
Hebatnya aku tidak puas hanya sekali, paling sedikit dua kali, inikah manfaat
akibat rendaman air teh basi? Mungkin kali ya ha… ha…
Sudah tiga bulan aku setubuhi Sulasmi, selama itu pula dia tidak hamil. Luar
biasa, membuat aku ketagihan. Sungguh tidak ada waktu lowong aku dengan dia
untuk tidak bermain sex. Terus terang dan terang terus, aku memperlakukan
Lasmi sebagai obyek dan bukan sebagai subyek, duh memang aku sadari aku
betul-betul jahat. Tidak jarang Lasmi sekitar jam 2 siang menyusup masuk ke
kamarku, meminta jatah disaat kedua orangtuanya istirahat siang.
Ga enak dong kalo cuman baca doang? klik disini untuk menonton video2
indonesia yang kalah hotnya
Babysitter Tetangga
Posted by admin on September 18, 2009 – 10:39 pm
Filed under Daun Muda
Aku tinggal di komplex perumahan, disitu banyak pasangan muda yang
mempercayakan anak balitanya ke para babay sitter. Kalo pagi banyak baby
sitter yang ngumpul depan rumahku, memang rumahku rada tusuk sate,
sehingga kayanya strategis buat ngerumpi, palagi praktis gak da mobil yang lalu
lalang. Kalo lagi dirumah aku suka memperhatikan para baby sitter itu.
Umumnya si tampang pembokat yang dipakein seragam baby sitter yang
umumnya kalo gak putih, pink atau birumuda warnanya. Tapi ada satu yang laen
dari yang laen. Kalo yang laen kulitnya pada sawomatang, yang satu ini putih,
manis lagi, gak da tampang pembokat deh. Bodi sih gak kliatan kemontokannya,
maklum kan seragam baby sitter pink yang dipakenya rada kebesaran kayanya,
sehingga menyamarkan lika liku bodinya. Tinggi tubuhnya sekitar 167 cm.
Rambutnya tergerai sebahu. Wajahnya cantik dengan bentuk mata, alis, hidung,
dan bibir yang indah. lumayan buat cuci mata. Lama2 dia tau juga kalo aku
sering memperhatikan dia kalo lagi didepan rumah. Dia senyum2 ke aku, ya buat
pantesnya aku juga senyum ma dia juga. Suatu saat kebetulan dia cuma sendiri
di depan rumahku, kesempatan aku untuk kenalan. “Kok sendirian, yang laen
pada kemana?” “Gak tau ni om, saya kesiangan si keluarnya”. “Ngapain dulu”.
“ada yang dikerjain dirumah”. “Majikan kamu dua2nya kerja ya”. “Iya om, om
ndiri kok gini ari masi dirumah, gak kerja mangnya”. “Aku si bebas kok kerjanya,
sering kerjanya ya dari rumah aja. Kalo keluar paling ke tempat klien”. “Klien,
paan tu om”. “Klien tu langganan”. “Mangnya om jualan apa”. “aku kerja jadi
konsultan”. “apa lagi tu konsiltan, maap ya om, jadi nanya terus, bis gak ngarti
si”. “Mangnya kamu gak skola ya”, aku bales bertanya. “Cuma sampe SMU om,
gak ada biaya buat nerusin, ya mesti cari kerja lah, bantu2 orang tua juga”.
“Mangnya ortu dimana, tau kan ortu, orang tua”. “Di kampung om, didaerah

banten”. “Pantes kamu putih ya, yang laen pasti dari jawa ya, kulitnya item2″.
“Nama kamu sapa si”. “Ayu om, kalo om?” “Aku edo”. “Om gak punya istri ya,
kayaknya gak perna kliatan prempuan dirumah ini”. “Aku duda kok, kamu mau
jadi prempuan dirumah ini”. “Ah si om, aku balik dulu ya om, dah siang ni,
mataharinya dah tinggi, anaknya kepanasan”. “Ya udah”. Sejak itu aku belon
dapet kesempatan ngobrol ma Ayu berdua aja karena selalu rame ma baby sitter
yang laennya.
Sampe pada suatu sore ketika ku lanja di hypermarket deket rumahku, aku
melihat seorang abg, bodinya asik banget, togepasarlah, dia pake tshirt ketat
dan jins yang ketat juga, kalo aura kasi aja sih lewat lah. Setelah aku perhattin
ternyat Ayu. “Yu,” panggilku. Ayu noleh, “Eh si om, blanja ya om”. “La iyalah, ke
hipermarket masak mo nonton bioskop. Kamu blanja juga”. “Cuma beli pemalut
aja kok om, siap2 kalo dapet”. “Mangnya dah mo dapet ya”. “Kalo itung kalender
si dah ampir om, persisnya si gak tau”. “Kamu seksi banget kalo pake jins ma
tshirt Yu, kalo jagain anak mestinya kaya gini pakeannya”. “Kalo nungguin anak
kudu pake seragam si om”. “Kamu kok bisa kluyuran kemari”. “Iya om, majikan
dua2nya pergi kluar kota, kerumah ortunya katanya, jadi anaknya dibawa. Bete
ni om dirumah aja, mana tu nenek2 crewet lagi”. “Nenek2?”. “Iya om,
pembantunya, dah tua, crewet banget deh, suka mrintah2, palagi gak ada
majikan. Aku tinggal klayapan aja”. “Kmu antuin aku blanja ya, ntar pembalut
kamu aku bayarin deh, kamu ada keperluan yang laen gak, skalian aja. Hap
kamu tu dah bikinan cina, jadul banget. Aku beliin yang sama merknya dan ada
kameranya ya”. “Hp kan mahal om, mending beliian aku pakean dan spatu aja”.
“Dua2nya juga bole kok”. “Bener nih om, wah om baek bener deh, pasti ada
maunya ni ye”. Aku tersenyum aja, Ayu langsung ke konter hp, dia mencari hp
yang sama dengan merk hp lamanya tapi yang ada kameranya. Kebetulan lagi
ada program tuker tambah. “Cuma dihargai 50 ribu om”. “Ya udah gak apa,
minta tolong mbaknya mindahin isi hp lama kamu ke yang baru aja”. Cukup
lama, [proses pembelian dan transfer data dari hp lamanya Ayu ke yang baru.
Setelah itu selesai, Ayu menuju ke konter pakean, dia milih jins dan t shirt. “Beli
dalemannya bole ya om”. “Buat kamu apa sih yang gak boleh”. Ketkia milih bra,
aku jadi tau ukuran toketnya, 34C, pantes kliatan gede banget. Selesainya beli
pakean, Ayu milih sendal yang bagusan, abis itu baru kita blanja. Dia beli
pembalut dan makanan kecil, aku membeli keperluan rumah untuk sebulan
sehingga kereta blanjaan penuh. “Wah balnjanya banyak banget om, sampe
sekreta penuh”. kita blanja sambil ngobrol dan becanda. Ayu orangnya enak
buat diajak becanda, dia slalu terpingkel2 kalo aku guyonin, sampe pelanggan
yang laen pada nengok. “Yu, kalo ketawa jangan keras2, diliat orang tuh”. “Biar
aja diliatin, om si bikin lucu2, mana aku tahan gak ketawa”. “Ya udah lucu2 nya
terusin dirumahku ya”. Ayu diem aja, aku dah slesai blanjang dan ngantri di
kasir. Hari ini rame juga yang blanja jadi ngantri cukup lama sampe slesai bayar.
selama ngantre aku terus aja becandain Ayu, dan dia ketawa ketiwi karenanya.
Dia membantu memsukkan blanjaanku dan blanjaannya ke mobil dan duduk
diseblah aku. “Cari makan dulu ya YU, dah siang nih. Kamu suka makan apa?”
“Makan apa juga aku suka”. “Pecel lele doyan gak”. “Doyan om”. Mobil meluncur
ke warung pecel lele, aku pesen makanan dan minuman. Kami makan sambil

nerusin becanda. Selesai makan dan minum, “Kita mo kemana lagi Yu”. “Ya
pulang lah om, dah kenyang gini aku suka ngantuk”. “Kerumahku aja ya,
katanya kamu gak mo ketemu sinenek”. “Oke om”. Mobil meluncur pulang.
Sampe dirumah, Ayu membantu mengeluarkan belanjaan dari mobil, diapun
membantu menyimpan belanjaanku ditempatnya. Belanjaanya ditumpik aja
dideket sofa. Kemudian dia mengeluarkan hp barunya, sambil membaca buku
manualnya dia berkenalan dengan hp barunya. Karena aku kringetean, aku
tinggalkan dia mandi. Selesai mandi aku hanya mengenakan celana pendek dan
kaos buntung aja. “Om santai amat, gak pergi kerja”. “Kan ada kamu, masak aku
tinggal”. “ayu tinggal disini sampe sore boleh ya om, om kalo mo pergi kerja
pergi aja. aku mo blajar hp baru, makasi ya om, om baek banget deh. Pasti abis
ini minta upah ya om”. “Mangnya kamu mo ngasi upahnya apaan”. “apa yang
om minta, pasti aku kasi, kalo aku bisa’. Wah nantangin ni anak, pikirku. “Kamu
mo nuker baju Yu, aku punya kaos yang gede banget, pasti kalo kamu pake jadi
kaya daster”. “Bole deh om, aku mandi aja ya om, gerah nih”. Aku
mengambilkan baju kaos gombrongku dan memberikan ke Ayu, “Pake aja anduk
aku ya, dikamar mandi ada sabun, mo kramas juga ada sampo”. “Mangnya
mandi junub om, pake kramas segala”. “Mangnya gak boleh kalo gak junub
kamu kramas”. “Bole juga si om”. Dia menghilang ke kamar mandi. Aku
mengambil 2 botol soft drink dari lemari es, kemudian aku menyiapkan video
bokep yang aku belon liat. Aku mo macing napsunya Ayu pake video bokep.
Selesai mandi Ayu hanya mengenakan baju kaosku, cukup si buat dia, cuma jadi
kaya make rok min saja. 15cm di atas lutut. Paha dan betis yang tidak ditutupi
kaosku itu tampak amat mulus. Kulitnya kelihatan licin, dihiasi oleh rambutrambut halus yang pendek. Pinggulnya yang besar melebar. Pinggangnya
kelihatan ramping. Walaupun kaos iru gombrong, tapi kelihatan sekali bentuk
toketnya yang besar kenceng itu, sangat menggairahkan, palagi pentilnya
tercetak di kaos itu. Rupanya Ayu tidak mengenakan bra. Lehernya jenjang
dengan beberapa helai rambut terjuntai. Sementara bau harum sabun mandi
terpancar dari tubuhnya. sebagai laki-laki normal, kon tolku berdiri melihat
tubuhnya. Dari samping kulihat toketnya begitu menonjol dari balik kaos itu.
Melihat Ayu sewaktu membelakangiku, aku terbayang betapa nikmatnya bila
tubuh tersebut digeluti dari arah belakang. Kuperhatikan gerak tubuhnya dari
belakang. Pinggul yang besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkahlangkah kakinya. Ingin rasanya kudekap tubuh itu dari belakang erat-erat. Ingin
kutempelkan kon tolku di gundukan pantatnya. Dan ingin rasanya kuremasremas toket montoknya habis-habisan.
Aku duduk di sofa. Ayu menuangkan soft drink ke gelas, “Kok softdrinknya 2
botol om”. “Yang satunua buat kamu”. Dia menunagkan soft drink satunya ke
gelas dan membawa ke 2 gelas itu ke sofa. “Om gak ada pembantu ya”. “Ada
kok Yu, cuma datengnya 2 kali seminggu, buat bebersih rumah dan nyetrika, aku
nyucinya seminggu juga 2 kali, pake mesin cuci, jadi tinggal ngejemur aja kan.
Kamu mo nemenin dan bantu aku disini. aku gak tersinggung lo kalo kamu
mau”. “Kerjaannya dikit om, ntar aku gak ada kerjaannya”. “Kalo gak ada

kerjaan, aku mau kok ngejain kamu tiap ari”, godaku sambil tersenyum. “Ih si
om, genit ah”. “Dah ngerti blon hp barunya”. “Dah om, prinsipnya sama dengan
hp lama, merknya kan sama, cuma lebi canggih aja. kalo dah dipake ntar juga
lancar diri”.
Kembali kita ngobrol ngalor ngidul soal macem2. kesempatan bagiku untuk
menatapnya dari dekat tanpa rasa risih. Akhirnya pembicaraan menyerempet
soal sex. “Yu, kamu perna maen”. “Maen apaan om”. “Maen ma lelaki”. “Pernah
om, ma majikan yang sebelon ini. Aku diprawanin ma dia. Napsunya gede
banget deh, kalo maen, pembantunya yang umurnya lebih muda dari aku
diembat juga. Cuma kali maen ma pembantu cuma sekali, ma aku bisa ampe 3
kali”. “Ya teranglah, kamu merangsang gini. Pasti pembantunya item kan kaya
babysitter laennya”. “Iya sih om”. “Terus napa kok brenti?” “Kepergok ibu om,
ketika itu aku lagi man ma majikan, gak taunya ibu pulang mendadak. Langsung
deh aku dikluarin. Baiknya ada temen yang ngasi tau ada lowongan di tempat
yang skarang”. “Ma majikan yang skarang maen juga?” “Enggak bisa om, kan
ada si nenek, bisa dilaporin ibu kalo si bapak macem2 ma aku”. “Kamu dah
sering maen terus gak maen2, pa gak kepengen?” “Pengen si om, tapi ma siapa,
aku suka gesek2 ndiri kalo lagi mandi”. “Mangnya enak”. “Enak om, ngikutin
cara si bapak yang dulu ngegesek”. “Ngegesek apaan Yu”. “Ih om nanya mulu,
malu kan aku”. “Kita nonton film ya, asik kok filmnya”. “FIlm apaan om”. “Ya
udah kamu liat aja”. Aku memutar video bokep, kayanya orang thai ceweknya
sehingga mirip banget ma orang kita, cowoknya bule. “Ih om gedebanget ya
punya si bule”. “Ma punya majikan kamu yang duluan gede mana”. “Gede ini
om, ampe gak muat tu diemutnya”. “Kamu suka disuru ngemut Yu”. “Iya om,
majikan seneng banget kalo diemut”. Ayu terpaku melihat adegan seru di layar
kaca, suara ah uh merupakan serenade wajib film bokep terdengar jelas.
“Keenakan ya om prempuannya, sampe mengerang2 gitu”. “Mangnya kamu
enggak”. “Iya juga sih”.
Setelah melihat Ayu mulai gelisah duduknya, sebentar kaki kiri ditopang kaki
kanan, terus sebaliknya, aku tau Ayu dah mulai terangsang. “Napa kok gelisah
Yu, kamu napsu ya”, kataku to the point. Ayu diem saja. Kon tolku dah ngaceng
dengan kerasnya. Apalagi ketika paha yang putih terbuka karena kaosnya yang
tersingkap. Kuelus betisnya. Dia diam saja. elusanku mermabat makin keatas.
Ayu menggeliat, geli katanya. Kusingkapkan bagian bawah dasternya sampai
sebatas perut. Kini paha mulus itu terhampar di hadapanku. Di atas paha,
beberapa helai bulu jembut keluar dari CD yang minim berbentuk segitiga.
Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam, sedang tubuhnya
berwarna putih. Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya sambil kuamati
wajah Ayu. Kueluskan perlahan ibu jariku di belahan bibir no noknya. Aku
membungkuk diatas pahanya, kuciumi paha mulus tersebut berganti-ganti, kiri
dan kanan, sambil tanganku mengusap dan meremasnya perlahan-lahan. Kedua
paha tersebut secara otomatis bergerak membuka agak lebar. Kembali kuciumi
dan kujilati paha dan betis nya. Nafsuku semakin tinggi. Aku semakin nekad.
Kulepaskan kaos Ayu, “Om, Aku mau diapain”, katanya lirih. Aku menghentikan
aksiku. Aku memandangi tubuh mulus Ayu tanpa daster menghalanginya. Tubuh

moleknya sungguh membangkitkan birahi. toket yang besar membusung,
pinggang yang ramping, dan pinggul yang besar melebar. pentilnya berdiri
tegak. Kupandangi Ayu. Alangkah cantiknya wajahnya. Lehernya jenjang.
Toketnya yang montok bergerak naik-turun dengan teratur mengiringi nafasnya.
Pinggangnya ramping, dan pinggulnya yang besar melebar.
“Yu, aku mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau enggak”, kataku perlahan
sambil mencium toket nya yang montok. Ayu diam saja, matanya terpejam.
Hidungku mengendus-endus kedua toket yang berbau harum sambil sesekali
mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahku.pentil toket kanannya kulahap ke
dalam mulutku. Badannya sedikit tersentak ketika pentil itu kugencet perlahan
dengan menggunakan lidah dan gigi atasku. “Om…”, rintihnya, rupanya
tindakanku membangkitkan napsunya juga. Karena sangat ingin merasakan
kenikmatan dien tot, Ayu diam saja membiarkan aku menjelajahi tubuhnya.
kusedot-sedot pentil toketnya secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama
agak kuperkuat sedotanku. Kuperbesar daerah lahapan bibirku. Kini pentil dan
toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutku.
Kembali kusedot daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik
wajah Ayu tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua
toket harum itu kuciumi dan kusedot-sedot secara berirama. kon tolku
bertambah tegang. Sambil terus menggumuli toket dengan bibir, lidah, dan
wajahnya, aku terus menggesek-gesekkan kon tol di kulit pahanya yang halus
dan licin. Kubenamkan wajahku di antara kedua belah gumpalan dada Ayu.
perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-gesekkan wajahku di lekukan
tubuh yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutnya. Kiri dan
kanan kuciumi dan kujilati secara bergantian. Kecupan-kecupan bibirku, jilatanjilatan lidahku, dan endusan-endusan hidungku pun beralih ke perut dan
pinggang Ayu. Sementara gesekan-gesekan kepala kon tolku kupindahkan ke
betisnya. Bibir dan lidahku menyusuri perut sekeliling pusarnya yang putih
mulus. wajahku bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora
kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku pun berpindah ke CD tipis
yang membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan antara kulit perut
dan CD, ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-helaian rambut jembutnya yang
keluar dari CDnya. Lalu kuendus dan kujilat CD pink itu di bagian belahan bibir
no noknya. Ayu makin terengah menahan napsunya, sesekali terdengar
lenguhannya menahan kenikmatan yang dirasakannya.
Aku bangkit dan melepaskan semua yang menempek ditubuhku. “Punya om
gede banget, kayanya segede punya si bule deh”. Dengan posisi berdiri di atas
lutut kukangkangi tubuhnya. kon tolku yang tegang kutempelkan di kulit toket
Ayu. Kepala kon tol kugesek-gesekkan di toket yang montok itu. Sambil kukocok
batangnya dengan tangan kananku, kepala kon tol terus kugesekkan di
toketnya, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua menit aku melakukan hal itu.
Kuraih kedua belah gumpalan toket Ayu yang montok itu. Aku berdiri di atas
lutut dengan mengangkangi pinggang ramping Ayu dengan posisi badan sedikit
membungkuk. Batang kon tolku kujepit dengan kedua gumpalan toketnya. Kini
rasa hangat toket Ayu terasa mengalir ke seluruh batang kon tolku. Perlahan-

lahan kugerakkan maju-mundur kon tolku di cekikan kedua toket Ayu.
Kekenyalan daging toket tersebut serasa memijit-mijit batang kon tolku,
memberi rasa nikmat yang luar biasa. Di kala maju, kepala kon tolku terlihat
mencapai pangkal lehernya yang jenjang. Di kala mundur, kepala kon tolku
tersembunyi di jepitan toketnya.
Lama-lama gerak maju-mundur kon tolku bertambah cepat, dan kedua toket nya
kutekan semakin keras dengan telapak tanganku agar jepitan di batang kon
tolku semakin kuat. Aku pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketnya.
Ayu pun mendesah-desah tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…”
kon tolku pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi
belahan toket Ayu. Oleh gerakan maju-mundur kon tolku di dadanya yang
diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tanganku di kedua
toketnya, cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadanya yang
menjepit batang kon tolku. Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar
maju-mundurnya kon tolku di dalam jepitan toketnya. Dengan adanya sedikit
cairan dari kon tolku tersebut aku merasakan keenakan dan kehangatan yang
luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kon tolku dengan toketnya.
“Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” aku tak kuasa menahan rasa enak yang
tak terperi. Nafas Ayu menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari
bibirnya , yang kadang diseling desahan lewat hidungnya, “Ngh… ngh… hhh…
heh… eh… ngh…” Desahan-desahan Ayu semakin membuat nafsuku makin
memuncak. Gesekan-gesekan maju-mundurnya kon tolku di jepitan toketnya
semakin cepat. kon tolku semakin tegang dan keras. Kurasakan pembuluh darah
yang melalui batang kon tolku berdenyut-denyut, menambah rasa hangat dan
nikmat yang luar biasa. “Enak sekali, Yu”, erangku tak tertahankan. Aku
menggerakkan maju-mundur kon tolku di jepitan toket Ayu dengan semakin
cepatnya. Rasa enak yang luar biasa mengalir dari kon tol ke syaraf-syaraf
otakku. Kulihat wajah Ayu. Alis matanya bergerak naik turun seiring dengan
desah-desah perlahan bibirnya akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan
kocokan-kocokan di toketnya. Ada sekitar lima menit aku menikmati rasa
keenakan luar biasa di jepitan toketnya itu.
Toket sebelah kanannya kulepas dari telapak tanganku. Tangan kananku lalu
membimbing kon tol dan menggesek-gesekkan kepala kon tol dengan gerakan
memutar di kulit toketnya yang halus mulus. Sambil jari-jari tangan kiriku terus
meremas toket kiri Ayu, kon tolku kugerakkan memutar-mutar menuju ke
bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarnya, kepala kon tolku kugesekkan
memutar di kulit perutnya yang putih mulus, sambil sesekali kusodokkan
perlahan di lobang pusarnya. kucopot CD minimnya. Pinggul yang melebar itu
tidak berpenutup lagi. Kulit perut yang semula tertutup CD tampak jelas sekali.
Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutnya, jembut yang hitam lebat
menutupi daerah sekitar lobang no noknya. Kedua paha mulus Ayu
kurenggangkan lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perut tadi terkuak,
mempertontonkan no noknya. Aku pun mengambil posisi agar kon tolku dapat
mencapai no nok Ayu dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang
batang kon tol, kepalanya kugesek-gesekkan ke jembut Ayu. Rasa geli

menggelitik kepala kon tolku. kepala kon tolku bergerak menyusuri jembut
menuju ke no noknya. Kugesek-gesekkan kepala kon tol ke sekeliling bibir no
noknya. Terasa geli dan nikmat. kepala kon tol kugesekkan agak ke arah lobang.
Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut lobang no nok itu
menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan kon tolku sambil terus memasuki
lobang no nok. Kini seluruh kepala kon tolku yang berhelm pink tebenam dalam
jepitan mulut no nok Ayu. Jepitan mulut no nok itu terasa hangat dan enak
sekali. Kembali dari mulut Ayu keluar desisan kecil tanda nikmat tak terperi. kon
tolku semakin tegang. Sementara dinding mulut no nok Ayu terasa semakin
basah. Perlahan-lahan kon tolku kutusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh
batang yang tersisa di luar. Secara perlahan kumasukkan kon tolku ke dalam no
nok. Terbenam sudah seluruh batang kon tolku di dalam no nok Ayu. Sekujur
batang kon tol sekarang dijepit oleh no nok Ayu dengan sangat enaknya. secara
perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk kon tolku ke dalam no noknya.
Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam no nok hanya kepala kon tol saja. Sewaktu
masuk seluruh kon tol terbenam di dalam no nok sampai batas pangkalnya. Rasa
hangat dan enak yang luar biasa kini seolah memijiti seluruh bagian kon tolku.
Aku terus memasuk-keluarkan kon tolku ke lobang no noknya. Alis matanya
terangkat naik setiap kali kon tolku menusuk masuk no noknya secara perlahan.
Bibir segarnya yang sensual sedikit terbuka, sedang giginya erkatup rapat. Dari
mulut sexy itu keluar desis kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…”
Aku terus mengocok perlahan-lahan no noknya. Enam menit sudah hal itu
berlangsung. Kembali kukocok secara perlahan no noknya. Kurasakan enaknya
jepitan otot-otot no nok pada kon tolku. Kubiarkan kocokan perlahan tersebut
sampai selama dua menit. Kembali kutarik kon tolku dari no nok Ayu. Namun kini
tidak seluruhnya, kepala kon tol masih kubiarkan tertanam dalam mulut no
noknya. Sementara batang kon tol kukocok dengan jari-jari tangan kananku
dengan cepatnya.
Rasa enak itu agaknya dirasakan pula oleh Ayu. Ayu mendesah-desah akibat
sentuhan-sentuhan getar kepala kon tolku pada dinding mulut no noknya,
“Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…” Tiga menit kemudian kumasukkan lagi
seluruh kon tolku ke dalam no nok Ayu. Dan kukocok perlahan. Kunikmati
kocokan perlahan pada no noknya kali ini lebih lama. Sampai kira-kira empat
menit. Lama-lama aku tidak puas. Kupercepat gerakan keluar-masuk kon tolku
pada no noknya. Kurasakan rasa enak sekali menjalar di sekujur kon tolku. Aku
sampai tak kuasa menahan ekspresi keenakanku. Sambil tertahan-tahan, aku
mendesis-desis, “Yu… no nokmu luar biasa… nikmatnya…” Gerakan keluarmasuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit. rasa gatalgatal enak mulai menjalar di sekujur kon tolku.
Berarti beberapa saat lagi aku akan ngecret. Kucopot kon tolku dari no nok Ayu.
Segera aku berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhnya agar kon tolku mudah
mencapai toketnya. Kembali kuraih kedua belah toket montok itu untuk menjepit
kon tolku yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kon tolku dapat terjepit
dengan enaknya, aku agak merundukkan badanku. kon tol kukocokkan majumundur di dalam jepitan toketnya. Cairan no nok Ayu yang membasahi kon tolku

kini merupakan pelumas pada gesekan-gesekan kon tolku dan kulit toketnya.
“Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, aku merintihrintih keenakan. Ayu juga mendesis-desis keenakan, “Sssh.. sssh… sssh…”
Giginya tertutup rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah. Aku
mempercepat maju-mundurnya kon tolku. Aku memperkuat tekananku pada
toketnya agar kon tolku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat kon tolku.
Rasa hangat menyusup di seluruh kon tolku. Karena basah oleh cairan no nok,
kepala kon tolku tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan toket
Ayu. Leher kon tol yang berwarna coklat tua dan helm kon tol yang berwarna
pink itu menari-nari di jepitan toketnya. Lama-lama rasa gatal yang menyusup
ke segenap penjuru kon tolku semakin menjadi-jadi. Semakin kupercepat
kocokan kon tolku pada toket Ayu. Rasa gatal semakin hebat. Rasa hangat
semakin luar biasa. Dan rasa enak semakin menuju puncaknya. Tiga menit
sudah kocokan hebat kon tolku di toket montok itu berlangsung. Dan ketika rasa
gatal dan enak di kon tolku hampir mencapai puncaknya, aku menahan sekuat
tenaga benteng pertahananku sambil mengocokkan kon tol di kempitan toket
indah Ayu dengan sangat cepatnya. Rasa gatal, hangat, dan enak yang luar
biasa akhirnya mencapai puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung jebolnya
tanggul pertahananku. “Ayu…!” pekikku dengan tidak tertahankan. Mataku
membeliak-beliak. Jebollah pertahananku. Rasa hangat dan nikmat yang luar
biasa menyusup ke seluruh sel-sel kon tolku saat menyemburkan peju. Crot!
Crot! Crot! Crot!
Pejuku menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali
semprotannya, sampai menghantam rahang Ayu. Peju tersebut berwarna putih
dan kelihatan sangat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leher Ayu.
Peju yang tersisa di dalam kon tolku pun menyusul keluar dalam tiga semprotan.
Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya sampai
pangkal lehernya, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas belahan toketnya.
Aku menikmati akhir-akhir kenikmatan. “Luar biasa… Yu, nikmat sekali
tubuhmu…,” aku bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kata Ayu
lirih. “Gak apa kalo om ngecret didalem Yu”, jawabku. “Gak apa om, Ayu pengen
ngerasain kesemprot peju anget. Tapi Ayu ngerasa nikmat sekali om, belum
pernah Ayu ngerasain kenikmatan seperti ini”, katanya lagi. “Ini baru ronde
pertama Yu, mau lagi kan ronde kedua”, kataku. “Mau om, tapi ngecretnya
didalem ya”, jawabnya. “Kok tadi kamu diem aja Yu”, kataku lagi. “Bingung om,
tapi nikmat”, jawabnya sambil tersenyum. “Engh…” Ayu menggeliatkan
badannya. Aku segera mengelap kon tol dengan tissue yang ada di atas meja,
dan memakai celana pendek. beberapa lembar tissue kuambil untuk mengelap
pejuku yang berleleran di rahang, leher, dan toket Ayu. Ada yang tidak dapat
dilap, yakni cairan pejuku yang sudah terlajur jatuh di rambut kepalanya. “Mo
kemana om”, tanyanya. “Mo ambil minum dulu”, jawabku. “Kok celananya
dipake, katanya mau ronde kedua”, katanya. Rupanya Ayu sudah pengen aku
menggelutinya sekali lagi.
Aku kembali membawa gelas berisi air putih, kuberikan kepada Ayu yang
langsung menenggaknya sampe habis. Aku keluar lagi untuk mengisi gelas

dengan air dan kembali lagi ke kekamar. Masih tidak puas aku memandangi
toket indah yang terhampar di depan mataku tersebut. mataku memandang ke
arah pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang melebar indah. Terus
tatapanku jatuh ke no noknya yang dikelilingi oleh bulu jembut hitam jang lebat.
Betapa enaknya ngen totin Ayu. Aku ingin mengulangi permainan tadi,
menggeluti dan mendekap kuat tubuhnya. Mengocok no noknya dengan kon
tolku dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan aku dapat
menyemprotkan pejuku di dalam no noknya sambil merengkuh kuat-kuat
tubuhnya saat aku nyampe. Nafsuku terbakar.
“Ayu…,” desahku penuh nafsu. Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir sensual
yang menantang itu kulumat-lumat dengan ganasnya. Sementara Ayu pun tidak
mau kalah. Bibirnya pun menyerang bibirku dengan dahsyatnya, seakan tidak
mau kedahuluan oleh lumatan bibirku. Kedua tangankupun menyusup diantara
lengan tangannya. Tubuhnya sekarang berada dalam dekapanku. Aku
mempererat dekapanku, sementara Ayu pun mempererat pelukannya pada
diriku. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketnya yang
membusung terasa semakin menekan dadaku. Jari-jari tangan Ayu mulai
meremas-remas kulit punggungku. Ayu mencopot celanaku.Ayu pun merangkul
punggungku lagi. Aku kembali mendekap erat tubuh Ayu sambil melumat
kembali bibirnya. Aku terus mendekap tubuhnya sambil saling melumat bibir.
Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan
menyertai tubuh bagian depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan
toketnya yang montok menekan ke dadaku. Dan ketika saling sedikit
bergeseran, pentilnya seolah-olah menggelitiki dadaku. kon tolku terasa hangat
dan mengeras. Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping
dan pinggul besar Ayu, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku.
kon tolku tergencet perut bawahku dan perut bawah Ayu dengan enaknya.
Sementara bibirku bergerak ke arah lehernya.kuciumi, kuhisap-hisap dengan
hidungku, dan kujilati dengan lidahku. “Ah… geli… geli…,” desah Ayu sambil
menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai dagunya terbuka dengan
luasnya. Ayu pun membusungkan dadanya dan melenturkan pinggangnya ke
depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahku dalam keadaan menggeluti
lehernya, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu
dengan rapatnya. Tangan kananku lalu bergerak ke dadanya yang montok, dan
meremas-remas toket tersebut dengan perasaan gemas.
Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan dadanya. Aku
berdiri dengan agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul tangan kanan, yakni
bergerak memegangi toket. Kugeluti belahan toket Ayu, sementara kedua
tanganku meremas-remas kedua belah toketnya sambil menekan-nekankannya
ke arah wajahku. Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan toket itu.
bibirku bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Kuciumi bukit toket nya, dan
kumasukkan pentil toket di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot
pentil toket kiri Ayu. Kumainkan pentil di dalam mulutku itu dengan lidahku.
Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang
berwarna coklat. “Ah… ah… om…geli…,” Ayu mendesis-desis sambil

menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Aku memperkuat sedotanku. Sementara
tanganku meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan kuperkuat dan
kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil
jari telunjuk dan ibu jariku pada pentilnya. “Om… hhh… geli… geli… enak…
enak… ngilu…ngilu…” Aku semakin gemas. toket Ayu itu kumainkan secara
bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang kusedot
sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot
hanya pentilnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang
kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuatkuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil pentil yang
mencuat gagah di puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz…ngilu… ngilu…” Ayu
mendesis-desis keenakan. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya
ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya.
Sampai akhirnya Ayu tidak kuat melayani serangan-serangan awalku. Jari-jari
tangan kanan Ayu yang mulus dan lembut menangkap kon tolku yang sudah
berdiri dengan gagahnya. “Om.. Batang kon tolnya besar ya”, ucapnya. Sambil
membiarkan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti
kedua belah toketnya, jari-jari lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan
kon tolku secara berirama. Remasannya itu memberi rasa hangat dan nikmat
pada batang kon tolku. kurengkuh tubuhnyadengan gemasnya. Kukecup kembali
daerah antara telinga dan lehernya. Kadang daun telinga sebelah bawahnya
kukulum dalam mulutku dan kumainkan dengan lidahku. Kadang ciumanku
berpindah ke punggung lehernya yang jenjang. Kujilati pangkal helaian
rambutnya yang terjatuh di kulit lehernya. Sementara tanganku mendekap
dadanya dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tanganku meremas-remas kedua
belah toketnya. Remasanku kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil
telunjuk dan ibu jari tangan kananku menggencet dan memelintir perlahan pentil
toket kirinya,
Pak Guru
Posted by admin on September 18, 2009 – 10:42 pm
Filed under Daun Muda
Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah
di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih
kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing
dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai
dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa
dibilang lumayan.
Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah
aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku
sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul
denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai
kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas
I ke kelas II.

Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru
senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan
pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak
guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang
aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada
aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang
aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang
sangat ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.
Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku)
aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain,
termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil.
Kita yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos
dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena
kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.
Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya
Freddy (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan
dia membalas sembari tersenyum.
“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.
Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya, nanti
jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.
Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia
setuju.
“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!
Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi, “Sekalisekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain, “Naa..aa,
betuu..uul. Setujuu..”.
Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena
memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain
aku.
“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.
Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.
Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan
salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena
masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak
Pak Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.
“Sorry, ya Pak”.
Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa
mempengaruhi pandangan Pak Freddy.
Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit kepada
Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan
alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula Mama dan
papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yang paling bersejarah

dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia baru selesai mandi dan
kaget melihat kedatanganku.
“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.
Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.
Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah
saya kecil begini. Tunggu, ya, saya paké baju dulu”. Memang tampak Pak Freddy
hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya
sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma mau tanya
pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.
Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”
Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan
siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.
Aku jawab, “Lumayan, Pak”.
Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau
ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.
Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.
Sewaktu Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai
ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi
seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy pintunya
terbuka dan aku masuk saja ke dalam. Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris
di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari
luar negeri dan ternyata ada majalah porno dari luar negeri dan langsung
kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang
sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling
menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina
cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.
Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di belakangku,
“Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.
Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak
wajahnya biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya
dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak, eh,
eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.
Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya
berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.
Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang
kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.
Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang
sempat dibaca semua, ya Pak?”.
Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya,
“Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.
Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.
Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.

Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuh.
Emm.., Majalah jorok”.
Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya
waktu dia ke Eropa”.
Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy
menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.
Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.
Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi
majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak malu?”,
aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak Freddy dengan
santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku sesuatu yang besar di
dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga
menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih tetapi kutahan.
Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah kenapa
sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali. Semakin lama
jilatan Pak Freddy semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul
terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru.
Aku hanya bisa mendesah”, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh”.
Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy
pun naik dan bertanya.
“Enak, Et?”
“Lumayan, Pak”.
Tanpa bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya,
begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku
mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah
berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting payudaraku. Praktis
kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu
birahi yang buta. Pak Freddy berhenti merangsangku dan mengambil majalah
porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku
sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya
ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.
“Boleh saya seperti ini, Et?”.
Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin
Pak Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua
kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha
membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya
menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.
Kelihatan Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku
yang masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot
sekitar vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya,
Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan, “Akhh.., bukan
main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah mulai masuk, aku hanya

meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak peduli lagi, ditekannya terus
penisnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas
tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk
mengimbangi rasa perih di vaginaku.
Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis
Pak Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,..”.
Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan pula
kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya. Semakin
lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa nikmat dan terasa di
dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.
Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak
mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya
dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras
ke atas kasur dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat dan mempercepat
kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas. Semakin kuat dan
terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke
sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak merintih bersamaan dengan rasa
cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air maninya sudah keluar dan segera
dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak
dia masih terengah-engah.
Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apaapa? Maaf, ya”.
Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak.
Saya baru pertama ini”.
Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.
Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi
aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.
Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku
tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Freddy
hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang
kan?”.
Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan
telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk
membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian
membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak Freddy
menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak
darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek. Begitu juga aku, tidak
merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan penisnya yang perkasa
itu.
Setelah semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir.
Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam
17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang cukup
mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana

keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian yang menurutku
paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai
pengalaman saja.
Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy
untuk menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia
tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap
menikmati genjotan Pak Freddy walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan
seolah-olah kami berdua sudah pacaran. Pernah Pak Freddy menawarkan padaku
untuk mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum pernah
menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan
keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.
Ibu tiara yang berjilbab
Posted by admin on March 12, 2009 – 10:48 am
Filed under Setengah baya
Sebenarnya aku ini tdk pernah terpikir untuk bisa bercinta / ml dengan wanita
berjilbab…namun apa mau dikata nasi udah jadi bubur dan bubur itu udah di
makan oleh aku….ceritanya begini…
Namaku Iful..umur 29 taon, tinggi 168 paras badanku tegap, rambutku lurus dan
ukuran vitalku biasa saja normal org Indonesia lah…panjangnya kira2 16 cm dan
diameternya aku ggak pernah ukur…
Aku tinggal di rumah kost2 an istilahnya rumah berdempet2an neh…ada
tetanggaku yg bernama Ibu Tiara, berjilbab umurnya sekitar 33 taon, anaknya
dah 3 boo…yang paling besar masih sekolah kelas 5 SD otomatis yg palg kecil
umur 1,8 bln, sedangkan suaminya kerjanya di kontraktor (perusahaan) sebagai
karyawan saja.
Setiap hari Ibu tiara ini wanita yang memakai jilbab panjang2 sampai ke
lengan2nya boleh dikatakan aku melihatnya terlalu sempurna utk ukuran
seorang wanita yag sdh berumah tangga dan tentunya aku sangatlah segan dan
hormat padanya.
Suatu ketika suaminya sdh pergi ke kantor utk kerja dan aku sendiri masih di
rumah rencananya agak siangan baru aku ke kantor…
“Iful…”ibu tiara memanggil dari sebelah…karena aku msh malas2 hari ini so aku
tidur2an aja di t4 tidurku…”Iful…Iful….” Ibu minta tolong bisa..?? ujar Ibu Tiara
dari luar..aku sbenarnya dah mendengar namun rasanya badanku lagi malas
bangun …
karena mungkin aku yang di panggil tdk segera keluar, maka ibu tiara dng hati2
membuka pintu rumahku dan masuk pelan2 mencari aku…seketika itu juga aku
pura2 tutup mataku..dia mencari2 aku dan akhirnya dia melihat aku tidur di
kamar…

“ohh….” Ujarnya…spontan dia kaget…karena kebiasaan kalo aku tidur tidak
pernah pake baju dan hny celana dalam saja…dan pagi itu kontolku sebnarnya
lagi tegang…biasa penyakit di pagi hari…(heheheh)
seketika itu dia langsung balik melangkah dan menjauh dari kmarku….aku coba
mengintip dengan sbelah mataku…oo dia sudah tidak ada “ujarku dalm hati…
tapi kira2 tak lama kemudian dia balik lagi dan mengendap2 mengintip
kamarku…smbl tersenyum penuh arti…cukup lama dia perhatikan aku dan stlh
itu ibu tiara lngsung balik ke rmhnya.
Besok pagi stlah semuanya tlah tidak ada di rumhnya ibu tiara, tinggal anaknya
yg plg kecil dah tidur aku …sayup2 aku dengar di smpg rmhku yg ada di
belkang, spertinya ada yg mencuci pakaian…aku intip di blkang…Ohh ibu tiara
sdng mencuci pakaian…namun dia hny memakai daster terusan panjang dan
jilbab …krn dasternya yg panjang, maka dasternya basah sampai ke paha…saat
aku sdg intip..ibu tiara lgsg berdiri dan mengangkat dasternya serta merta
mencopot celana dalamnya dan langsung dicuci sekalian…otomatis…saat itu aku
melihat ooooohhh….memeknya yg merah dan pahanya yg putih di tumbuhi
bulu2 halus…aku langsung berputar otak2 ku ingin rasanya mencicipi memek yg
indah dari ibu tiara yg berjilbab ini…
“Maaf ibu tiara…kemarin ibu ada perlu saya “ tanyaku ..mengagetkan ibu tiara
dan semerta2 dia lngsung merapikan dasternya tersingkap smpai ke paha…
Iya nih mas Iful..Ibu kemarin mo minta tolong pasangin lampu di kmar mandi
“katanya.
Kalo gitu sekarang aja bu…soalnya sbentar lagi saya mo kerja “sambil mataku
melihat dasternya…membayangkan apa yang didalamnya.
Oh iya ..lewat sini saja…Ujarnya..karena memang tipe rmh kost yg aku tempati
di belkangnya Cuma di palang kayu dan seng otomatis kegiatan tetangga2
kelihatan di belakang.
Aku lngsung membuka kayu dan sengnya dan masuk ke dalam dan ibu tiara
membawaku di depan…aku mengikuti di belakang…oohhh…seandainya aku bisa
merasakan memek dan pantat ini sekarang” gumamku dlm hati.
“ini lampunya dan kursinya…hati2 yah jng sampe ribut soalnya anaku lg
tidur”kata Ibu Tiara..
Aku lngsung memasang dan ibu tiara melanjutkan mencuci nya, setelah selesai
aku lngsg blng “ibu sdh selesai “kataku… kemudian ibu tiara lngsung
berdiri..tapi saat itu dia terpeleset ke arahku…seketika itu aku
menangkapnya..ups…oh tanganku mengenai payudaranya yg montok dan
tanganku satu lagi mengenai lngsung pantatnya yg tidak pake celana dalam dan
hny ditutupi daster saja…”maaf Dik Iful…agak licin lantainya”ujarnya tersipusipu..Iful tunggu yah ibu bikinin Teh “ujarnya lagi…Dia ke dapur dan dari
belakang aku mengikutinya scr pelan2..saat teh lagi di putar di dlm
gelas..langsung aku memeluknya dr blkng…
Iful…apaan2 neh…sentak Ibu Tiara…maaf bu…saya melihat ibu sangatlah cantik
dan seksi..”ujarku…Jangan Iful…aku dah punya suami ..”tapi ttp ibu tiara tdk
melepaskan pegangan tanganku yang mampir di pinggangnya dan dadanya…
Iful…jangaann.. langsung aku menciumi dari belakang menyikapi jilbabnya…
sluurrp…oh..betapa putihnya leher ibu tiara ‘ujarku dlm hati…okhh…iful…
hmmm…ibu tiara menggeliat..langsung dia membalik badannya

menghadapku..Iful…aku udah bers…saat dia mo ucapin sesuatu..langsung aku
cium bibirnya…mmmprh…tak lama dia lngsung meresponku dan lngsung
memeluk leherku .mmmmhprpp….bunyi mulutnya dan aku beradu…aku singkapi
jilbabnya sedikit saja…sambil tanganku mencoba menggerayangi dadanya…aku
melihat dasternya memakai kancing 2 saja diatas dadanya…aku
membukanya..dan tersembullah buah dadanya yg putih mulusss…slurp…kujilat
dan isap pentilnya….
Iful….ooohhh….ufhhh….”lirihnya …slurrpp….slurp..saa t aku jilat…sepertinya
msh ada sedikit air susunya…hmmmm…tambah nikmatnya..slurp..slurp…
Sambil menjilat dan menyedot susunya..aku tetap tidak membuka jilbab maupun
dasternya…tapi tanganku tetap menarik dasternya keatas…karena dari tadi dia
tidk pake celana dalam…maka dengan gampang itilnya ku usap-usap dengan
tanganku…Ohhh…oh…sssshhhh…guma m ibu tiara..kepalaku ku dekatkan ke
memeknya dan kakinya kurenggangkan…sluruupp….pelan2 kujilati itil dan
memeknya…oh iful…eennakkh…oghu…mmmpphhff…t eriaknya pelan…kulihat
kepalanya telah goyang ke kanan dan kekiri…pelan2 sambil lidahku bermain di
memeknya …kubuka celana pendekku dan terpampanglah kontolku yang telah
tegang …namun ibu tiara masih tidak menyadari akan hal itu…pelan2 ku
mengangkat dasternya…namun tidak sampai terbuka semuanya..hanya sampai
di perutnya saja…dan mulutku mulai beradu dengan bibirnya yang ranum…
mmmppghh…iful…aku…”ujar ibu tiara..kuhisap dalam-dalam lidahnya…slurp…
caup…oh ibu sungguh indah bibirmu, memekmu dan semuanya…lirihku..
Sambil menjilat seluruh rongga mulutnya …kubawa ia ke atas meja makannya
dan kusandarkan ibu tiara di pinggiran meja…tanganku ku mainkan kembali ke
itil dan sekitaran memeknya…ahhh…ufh…oh…Ifulll….i bu udah nggak
kuaatttttt…lirih Ibu tiara.
Pelan2 ku pegang kontolku…ku arahkan ke memeknya yang sudah basah dan
licin….dan bleeesssssssssshh….ohhhhh…ufgh hh….Ifulll….Teriak Ibu tiara…
sleepep…slepp…. Kontolku ku diamkan sebentar ….Ibu Tiara sepontan melihat
ke wajahku..dan langsung ia menunduk lagi…kududukkan di atas meja makan
dan kuangkat kakinya…mulailah aku memompanya..slep…slep..selp…be
lssss….oh memeknya ibu sangat enak….Iful…kontolmu juga sangat
besar….rupanya ibu tiara udah tidak memikirkan lagi norma2..yang ada hanya
lah nafsu birahinya yang harus dituntaskan….berulang-ulang ku pompa
memeknya dengan kontolku….oohh..akhh…Ifull….ku balikkan lagi badannya dan
tangannya memegang pinggiran meja…ku tusuk memeknya dari belakang
bleesssssssss… Ohhhhh….teriak Ibu Tiara…kuhujam sekeras-kerasnya
kontolku…tanganku remas2 susunya ….aku liat dari belakang sangat bagus gaya
ibu tiara nungging ini, tanpa melepas daster dan jilbabnya..kutusuk terus …
sleeeepp….sleeps
Hingga kurang lebih setengah jam ibu tiara bilang…Iful….ibu udah nggak
tahan…..sabar bu bentar lagi saya juga……Ujarku…Oh…ohhhh…ufmpghhh …
Iful…ibu mau keluarrrr…achhhh……semakin kencang dan terasa memeknya
menjepit kontolku dan oohhhhh…ku rasakan ada semacam cairan panas yang
menyirami kontolku di dalam memeknya….semakin kupercepat gerakan
menusukku…slep….slurp…bleeppp… . oh Ibu aku juga dah mo sampai

neh…..cepat Iful…ibu bantu….oho….uhhhhh….ibu tiara menggoyangnya lagi…
dan akhirnya Ibu….aku mo keluararrrrr…..sama2 yang Iful….ibu juga mo keluar
lagi…teriaknya…dan….Ohhh…ack…. .ahhhhh..aku dan ibu tiara sama –sama
keluar…dan sejenak kulihat di memeknya terlihat becek dan banjir…
Setelah hening sejenak…ku cabut kontolku dan kupakai celana pendek setelah
itu ibu tiara merapikan Daster dan jilbabnya…langsung aku minta maaf
kepadanya…
Bu..mohon maaf ..Iful khilaf.’kataku.
Tidak apa2 kok iFul…ibu juga yang salah…yang menggoda Iful “ujarnya…
Aku langsung pamitan kembali ke rumahku sebelah dan mandi siap2 kerja…
setelah mandi kulihat ibu tiara sedang menjemur pakaian…tapi jelas didalam
daster ibu tiara tidak memakai celana dalam karena terlihat tercetak lewat sinar
matahari pagi yang meninggi mulai mendekati jam 10 pagi..
Sebelum aku pergi ku sempatkan pamitan ke ibu tiara dan dia tersenyum …tidak
tau apakah ada artinya atau tidak..
Dinda & Seks Pertamanya
Posted by admin on March 10, 2009 – 5:03 am
Filed under Pengalaman pertama
Cerita 17 tahun,cerita dewasa,cerita porno terbaru hanya ada di
http://ceritadewasa.17tahun.us
Nama saya Dinda. Sebenarnya itu bukan nama asli saya. Menurut orang, wajah
saya cantik sekali. Mataku yang sayu sering membuat pria tergila-gila padaku.
Saya sendiri tidak GR tapi saya merasa pria banyak yang ingin bersetubuh
dengan saya. Saya senang saja karena pada dasarnya saya juga senang ML.
Saya dibesarkan di keluarga yang taat beragama. Dari SD hingga SMP saya
disekolahkan di sebuah sekolah berlatar belakang agama. Sebenarnya dari kelas
6 SD, gairah seksual saya tinggi sekali tetapi saya selalu berhasil menekannya
dengan membaca buku. Selesai SMP tahun 1989, saya melanjutkan ke SMA
negeri di kawasan bulungan, Jakarta Selatan.
Di hari pertama masuk SMA, saya sudah langsung akrab dengan teman-teman
baru bernama Vera, Angki dan Nia. Mereka cantik, kaya dan pintar. Dari mereka
bertiga, terus terang yang bertubuh paling indah adalah si Vera. Tubuh saya
cenderung biasa saja tetapi berbuah dada besar karena dulu saya gemuk, tetapi
berkat diet ketat dan olah raga gila-gilaan, saya berhasil menurunkan berat
badan tetapi payudaraku tetap saja besar.
Di suatu hari Sabtu, sepulang sekolah kami menginap ke rumah Vera di Pondok
Indah. Rumah Vera besar sekali dan punya kolam renang. Di rumah Vera, kami
ngerumpi segala macam hal sambil bermalas-malasan di sofa. Di sore hari, kami
berempat ganti baju untuk berenang. Di kamar Vera, dengan cueknya Vera,
Angki dan Nia telanjang didepanku untuk ganti baju. Saya awalnya agak risih

tetapi saya ikut-ikutan cuek. Saya melirik tubuh ketiga teman saya yang
langsing. Ku lirik selangkangan mereka dan bulu kemaluan mereka tercukur rapi
bahkan Vera mencukur habis bulu kemaluannya. Tiba-tiba si Nia berteriak ke
arah saya..
“Gile, jembut Dinda lebat banget”
Kontan Vera dan Angki menengok kearah saya. Saya menjadi sedikit malu.
“Dicukur dong Dinda, enggak malu tuh sama celana dalam?” kata Angki.
“Gue belum pernah cukur jembut” jawabku.
“Ini ada gunting dan shaver, cukur aja kalau mau” kata Vera.
Saya menerima gunting dan shaver lalu mencukur jembutku di kamar mandi
Vera. Angki dan Nia tidak menunggu lebih lama, mereka langsung menceburkan
diri ke kolam renang sedangkan Vera menunggui saya. Setelah mencoba
memendekkan jembut, Vera masuk ke kamar mandi dan melihat hasil saya.
“Kurang pendek, Dinda. Abisin aja” kata Vera.
“Nggak berani, takut lecet” jawabku.
“Sini gue bantuin” kata Vera.
Vera lalu berjongkok di hadapanku. Saya sendiri posisinya duduk di kursi toilet.
Vera membuka lebar kaki saya lalu mengoleskan shaving cream ke sekitar
vagina. Ada sensasi getaran menyelubungi tubuhku saat jari Vera menyentuh
vaginaku. Dengan cepat Vera menyapu shaver ke jembutku dan menggunduli
semua rambut-rambut didaerah kelaminku. Tak terasa dalam waktu 5 menit,
Vera telah selesai dengan karyanya. Ia mengambil handuk kecil lalu dibasahi
dengan air kemudian ia membersihkan sisa-sisa shaving cream dari
selangkanganku.
“Bagus kan?” kata Vera.
Saya menengok ke bawah dan melihat vaginaku yang botak seperti bayi. OK
juga kerjaannya. Vera lalu jongkok kembali di selangkanganku dan
membersihkan sedikit selangkanganku.
“Dinda, elo masih perawan ya?” kata Vera.
“Iya, kok tau?”
“Vagina elo rapat banget” kata Vera.
Sekali-kali jari Vera membuka bibir vagina saya. Nafasku mulai memburu
menahan getaran dalam tubuhku. Ada apa ini? Tanya saya dalam hati. Vera
melirik ke arahku lalu jarinya kembali memainkan vaginaku.
“Ooh, Vera, geli ah”

Vera nyengir nakal tapi jarinya masih mengelus-elus vaginaku. Saya benar-benar
menjadi gila rasanya menahan perasaan ini. Tak terasa saya menjambak rambut
Vera dan Vera menjadi semakin agresif memainkan jarinya di vaginaku. Dan
sekarang ia perlahan mulai menjilat vagina saya.
“Memek kamu wangi”
“Jangan Vera” pinta saya tetapi dalam hati ingin terus dijilat.
Vera menjilat vagina saya. Bibir vagina saya dibuka dan lidahnya menyapu
seluruh vagina saya. Klitorisku dihisap dengan keras sehingga nafas saya
tersentak-sentak. Saya memejamkan mata menikmati lidah Vera di vaginaku.
Tak berapa lama saya merasakan lidah Vera mulai naik kearah perut lalu ke
dada. Hatiku berdebar-debar menantikan perbuatan Vera berikutnya. Dengan
lembut tangan Vera membuka BH-ku lalu tangan kanannya mulai meremas
payudara kiriku sedangkan payudara kananku dikulum oleh Vera. Inikah yang
namanya seks? Tanyaku dalam hati. 18 tahun saya mencoba membayangkan
kenikmatan seks dan saya sama sekali tak membayangkan bahwa pengalaman
pertamaku akan dengan seorang perempuan. Tetapi nikmatnya luar biasa. Vera
mengulum puting payudaraku sementara tangan kanannya sudah kembali turun
ke selangkanganku dan memainkan klitorisku. Saya menggeliat-geliat menikmati
sensualitas dalam diriku. Tiba-tiba dari luar si Nia memanggil..
“Woi, lama amat di dalam. Mau berenang enggak?”
Vera tersenyum lalu berdiri. Saya tersipu malu kemudian saya bergegas
memakai baju berenang dan kami berdua menyusul kedua teman yang sudah
berenang. Di malam hari selesai makan malam, kita berempat nonton TV
dikamar Vera. Oiya, orang tua Vera sedang keluar negeri sedangkan kakak Vera
lagi keluar kota karenanya rumah Vera kosong. Setelah bosan menonton TV,
kami menggosipkan orang-orang di sekolah. Pembicaraan kami ngalor-ngidul
hingga Vera membuat topik baru dengan siapa kita mau bersetubuh di sekolah.
Angki dan Nia sudah tidak perawan sejak SMP. Mereka berdua menceritakan
pengalaman seks mereka dan Vera juga menceritakan pengalaman seksnya,
saya hanya mendengarkan kisah-kisah mereka.
“Kalau gue, gue horny liat si Ari anak kelas I-6″ kata Nia.
“Iya sama dong, tetapi gue liat horny liat si Marcel. Kayaknya kontolnya gede
deh” kata Angky.
“Terus terang ya, gue dari dulu horny banget liat si Alex. Sering banget gue
bayangin ****** dia muat enggak di vagina gue. Sorry ya Vera, gue kan tau Alex
cowok elo” kata saya sambil tersenyum.
“Hahaha, nggak apa-apa lagi. Banyak kok yang horny liat dia. Si Angky dan Nia
juga horny” kata Vera. Kami berempat lalu tertawa bersama-sama.
Di hari Senin setelah pulang sekolah, Vera menarik tangan saya.
“Eh Dinda, beneran nih elo sering mikirin Alex?”

“Iya sih, kenapa? Nggak apa-apa kan gue ngomong gitu?” tanya saya.
“Nggak apa-apa kok. Gue orangnya nyantai aja” kata Vera.
“Pernah kepikiran enggak mau ML?” Vera kembali bertanya.
“Hah? Dengan siapa?” tanya saya terheran-heran.
“Dengan Alex. Semalam gue cerita ke Alex dan Alex mau aja ML dengan kamu”
“Ah gila loe Vera” jawab saya.
“Mau enggak?” desak Vera.
“Terus kamu sendiri gimana?” tanya saya dengan heran.
“Saya sih cuek aja. Kalo bisa bikin teman senang, kenapa enggak?” kata Vera.
“Ya boleh aja deh” kata saya dengan deg-degan.
“Mau sekarang di rumahku?” kata Vera.
“Boleh”
Saya naik mobil Vera dan kami berdua langsung meluncur ke Pondok Indah.
Setiba di sana, saya mandi di kamar mandi karena panas sekali. Sambil mandi,
perasaan saya antara tegang, senang, merinding. Semua bercampur aduk.
Selesai mandi, saya keluar kamar mandi mengenakan BH dan celana dalam.
Saya pikir tidak ada orang di kamar. Saya duduk di meja rias sambil menyisir
rambutku yang panjang. Tiba-tiba saya kaget karena Vera dan Alex muncul dari
balkon kamar Vera. Rupanya mereka berdua sedang menunggu saya sambil
mengobrol di balkon.
“Halo Dinda” kata Alex sambil tersenyum.
Saya membalas tersenyum lalu berdiri. Alex memperhatikan tubuhku yang
hanya ditutupi BH dan celana dalam. Tubuh Alex sendiri tinggi dan tegap. Alex
masih campuran Belanda Menado sehingga terlihat sangat tampan.
“Hayo, langsung aja. Jangan grogi” kata Vera bagaikan germo.
Alex lalu menghampiriku kemudian ia mencium bibirku. Inilah pertama kali saya
dicium di bibir. Perasaan hangat dan getaran menyelimuti seluruh tubuhku. Saya
membalas ciuman Alex dan kita berciuman saling berangkulan. Saya melirik ke
Vera dan saya melihat Vera sedang mengganti baju seragamnya ke daster. Alex
mulai meremas-remas payudaraku yang berukuran 34C. Saya membuka BH-ku
sehingga Alex dengan mudah dapat meremas seluruh payudara. Tangan kirinya
diselipkan kedalam celana dalamku lalu vaginaku yang tidak ditutupi sehelai
rambut mulai ia usap dengan perlahan. Saya menggelinjang merasakan jari
jemari Alex di selangkanganku. Alex lalu mengangkat tubuhku dan dibaringkan
ke tempat tidur. Alex membuka baju seragam SMA-nya sampai ia telanjang bulat
di hadapanku. Mulut saya terbuka lebar melihat kontol Alex yang besar. Selama
ini saya membayangkan kontol Alex dan sekarang saya melihat dengan mata
kapala sendiri kontol Alex yang berdiri tegak di depan mukaku. Alex
menyodorkan kontolnya ke muka saya. Saya langsung menyambutnya dan mulai
mengulum kontolnya. Rasanya tidak mungkin muat seluruh kontolnya dalam
mulutku tetapi saya mencoba sebisaku menghisap seluruh batang kontol itu.

Saya merasakan tangan Alex kembali memainkan vaginaku. Gairah saya mulai
memuncak dan hisapanku semakin kencang. Saya melirik Alex dan kulihat ia
memejamkan matanya menikmati kontolnya dihisap. Saya melirik ke Vera dan
Vera ternyata tidak mengenakan baju sama sekali dan ia sudah duduk di tempat
tidur. Alex lalu membalikkan tubuhku sehingga saya dalam posisi menungging.
Saya agak bingung karena melihat Vera bersimpuh dibelakang saya. Ah ternyata
Vera kembali menjilat vagina saya. Nafas saya memburu dengan keras
menikmati jilatan Vera di kemaluan saya. Di sebelah kanan saya ada sebuah
kaca besar dipaku ke dinding. Saya melirik ke arah kaca itu dan saya melihat si
Alex yang sedang menyetubuhi Vera dalam posisi doggy style sedangkan Vera
sendiri dalam keadaan disetubuhi sedang menikmati vaginaku.
Wah ini pertama kali saya melihat ini. Saya melihat wajah Alex yang ganteng
sedang sibuk ******* dengan Vera. Gairah wajah Alex membuat saya semakin
horny. Sekali-kali lidah Vera menjilat anus saya dan kepalanya terbentur-bentur
ke pantat saya karena tekanan dari tubuh Alex ke tubuh Vera. Tidak berapa
lama, Alex menjerit dengan keras sedangkan Vera tubuhnya mengejang. Saya
melihat kontol Alex dikeluarkan dari vagina Vera. Air maninya tumpah ke pinggir
tempat tidur.
Alex terlihat terengah-engah tetapi matanya langsung tertuju ke vagina saya.
Bagaikan sapi yang akan dipotong, Alex dengan mata liar mendorong Vera ke
samping lalu ia menghampiri diriku. Alex mengarahkan kontolnya yang masih
berdiri ke vaginaku. Saya sudah sering mendengar pertama kali seks akan sakit
dan saya mulai merasakannya. Saya memejamkan mata dengan erat merasakan
kontol Alex masuk ke vaginaku. Saya menjerit menahan perih saat kontol Alex
yang besar mencoba memasuki vaginaku yang masih sempit. Vera meremas
lenganku untuk membantu menahan sakit.
“Aduh, tunggu dong, sakit nih” keluh saya.
Alex mengeluarkan sebentar kontolnya kemudian kembali ia masukkan ke
vaginaku. Kali ini rasa sakitnya perlahan-lahan menghilang dan mulai berganti
kerasa nikmat. Oh ini yang namanya kenikmatan surgawi pikir saya dalam hati.
kontol Alex terasa seperti memenuhi seluruh vaginaku. Dalam posisi nungging,
saya merasakan energi Alex yang sangat besar. Saya mencoba mengimbangi
gerakan tubuh Alex sambil menggerakkan tubuhku maju mundur tetapi Alex
menampar pantatku.
“Kamu diam aja, enggak usah bergerak” katanya dengan galak.
“Jangan galak-galak dong, takut nih Dinda” kata Vera sambil tertawa. Saya ikut
tertawa.
Vera berbaring di sebelahku kemudian ia mendekatkan wajahnya ke diriku lalu ia
mencium bibirku! Wah, bertubi-tubi perasaan menyerang diriku. Saya benarbenar merasakan semua perasaan seks dengan pria dan wanita dalam satu hari.

Awalnya saya membiarkan Vera menjilat bibirku tetapi lama kelamaan saya
mulai membuka mulutku dan lidah kami saling beradu.
Saya merasakan tangan Alex yang kekar meremas-remas payudaraku
sedangkan tangan Vera membelai rambutku. Saya tak ingin ketinggalan, saya
mulai ikut meremas payudara Vera yang saya taksir berukuran 32C. Kurang
lebih lima menit kita bertiga saling memberi kenikmatan duniawi sampai Alex
mencapai puncak dan ia ejakulasi. Saya sendiri merasa rasanya sudah orgasme
kurang lebih 4 kali. Alex mengeluarkan kontolnya dari vaginaku dan Vera
langsung menghisap kontolnya dan menelan semua air mani dari kontol Alex.
Saya melihat Alex meraih kantong celananya dan mengambil sesuatu seperti
obat. Ia menelan obat itu dengan segelas air di meja rias Vera. Saya melihat
kontol Alex yang masih berdiri tegak. Dalam hati saya bertanya-tanya bukankah
setiap kali pria ejakulasi pasti kontolnya akan lemas? Kenapa Alex tidak lemaslemas? Belakangan saya tau ternyata Alex memakan semacam obat yang dapat
membuat kontolnya terus tegang.
Setelah minum obat, Alex menyuruh Vera berbaring ditepi tempat tidur lalu Alex
kembali ******* dengan Vera dalam posisi missionary. Vera memanggil saya lalu
saya diminta berbaring diatas tubuh Vera. Dengan terheran-heran saya ikuti
kemauan Vera.
Saya menindih tubuh Vera tetapi karena kaki Vera sedang ngangkang karena
dalam posisi *******, terpaksa kaki saya bersimpuh disebelah kiri dan kanan
Vera. Saya langsung mencium Vera dan Vera melingkarkan lengannya ke
tubuhku dan kami berdua berciuman dengan mesra. Saya merasakan tangan
Alex menggerayangi seluruh pantatku. Ia membuka belahan pantatku dan saya
merasakan jarinya memainkan anusku.
Saya menggumam saat jarinya mencoba disodok ke anusku tetapi Alex tidak
melanjutkan. Beberapa menit kemudian, Vera menjerit dengan keras. Tubuhnya
mengejang saat air mani Alex kembali tumpah dalam vaginanya. Saya mencoba
turun dari pelukan Vera tetapi Vera memeluk tubuhku dengan keras sehingga
saya tidak bisa bergerak. Tak disangka, Alex kembali menyodorkan kontolnya ke
vaginaku. Saya yang dalam posisi nungging di atas tubuh Vera tidak bisa
menolak menerima kontol Alex.
Alex kembali memompakan kontolnya dalam vaginaku. Saya sebenarnya
rasanya sudah lemas dan akhirnya saya pasrah saja disetubuhi Alex dengan liar.
Tetapi dalam hatiku saya senang sekali dientotin. Berkali-kali kontol Alex keluar
masuk dalam vaginaku sedangkan Vera terus menerus mencium bibirku. Kali ini
saya rasa tidak sampai 3 menit Alex ******* dengan saya karena saya
merasakan cairan hangat dari kontol Alex memenuhi vaginaku dan Alex berseru
dengan keras merasakan kenikmatan yang ia peroleh. Saya sendiri melenguh
dengan keras. Seluruh otot vaginaku rasanya seperti mengejang. Saya
cengkeram tubuh Vera dengan keras menikmati sensual dalam diriku.

Alex lalu dalam keadaan lunglai membaringkan dirinya ke tempat tidur. Vera
menyambutnya sambil mencium bibirnya. Mereka berdua saling berciuman.
Saya berbaring disebelah kiri Alex sedangkan Vera disebelah kanannya. Kita
bertiga tertidur sampai jam 5 sore. Setelah itu saya diantar pulang oleh Vera.
****
Itu adalah pengalaman seksku yang sangat berkesan. Bertahun-tahun kemudian
saya sering horny tetapi saya harus memendam perasaan itu karena belum tahu
cara melampiaskannya. Dan sekarang saya merasa senang sekali karena
akhirnya bisa merasakan kenikmatan bersetubuh baik dengan pria maupun
wanita. Masing-masing ternyata mempunyai kenikmatan tersendiri.
Dikolam Renang
Posted by admin on April 1, 2009 – 9:35 am
Filed under gangbang
Kira-kira jam 12 siang, aku baru selesai makan, hpku berbunyi, ternyata yang
menelepon adalah teman dekatku, Dina. Dia mengajakku untuk menemaninya di
rumah omnya. Dia bilang omnya harus pergi untuk suatu urusan, jadi dia
sendirian di rumah omnya. “Ada kolam renangnya Nes, kamu bawa bikini aja,
kita bisa berenang sampe puas”, katanya. Kupikir gak ada salahnya nemenin
Dina disana, toh aku juga gak ada kerjaan. Maka dengan taksi aku menuju
alamat rumah omnya. Sesampai disana, Dina menyambutku hanya ber bikini.
Memang bodi Dina sangat mengundang napsu lelaki yang melihatnya. Toketnya
besar, pantat juga besar. Mana bikininya minim lagi sehingga toketnya seakan
mau tumpah dari branya yang sepertinya kekecilan. Perutnya rata dan
jembutnya yang lebat nongol dari bagian atas dan samping cd bikininya ang
minim sekali. “Dah makan Nes”, tanyanya. “Udah”, jawabku. Aku langsung
diajaknya ke halaman belakang. Kulepas pakaian luarku, tinggal bikini yang gak
kalah seksinya dengan bikini Dina. Aku langsung nyebur ke kolam dan berenang
mondar mandir. “Din, tadi malem kamu maen ama om ya, berapa ronde?” “Om
Rizal kuat banget deh Nes, aku dikerjainya 3 ronde, malem 2 ronde dan paginya
msih sekali lagi, sampe lemes deh”. “Wah nikmat dong kamu Din”. “Iya om lama
lagi maennya, aku nyampe beberapa kali baru om ngecret”. “Gede gak
kontolnya”. “Gede banget, ntar kalo dia pulang kita ngelayani dia gantian ya,
kamu pasti nikmat deh dientot om”. Gak lama kemudian hp Dina berdering. Dia
menerima telponnya, setelah selesai Dina bilang, “Nes, aku harus nganterin
dokumen ke tempat temennya om. Om ada disana, dokumen pentingnya
ketinggalan. Kamu aku tinggal sebentar gak apa ya”. Ya aku mau bilang apa.
Segera Dina berpakaian dan meninggalkanku sendiri dirumah itu. Aku masuk
kedalem rumah, membuka lemari es dan mengambil buah2an, cake dan
minuman. Semuanya aku bawa kekolam. aku bersantai saja di kolam, makan
dan minum sambil berenang. Karena cape, aku berbaring saja di dipan dipinggir
kolam membelakangi rumah. Aku mendengar ada orang masuk dan berjalan
kekolam. “Din, kamu ya”, kataku tanpa menoleh kebelakang.

“Aku”, terdengar suara lelaki, berat. Aku segera menoleh ke belakang. Kulihat
ada lelaki ganteng, tegap atletis tersenyum memandangku. Aku segera bangun
dari dipan. Dia melotot memandangi tubuhku yang gak kalah merangsangnya
hanya berbalut bikini minim. “Aku om Rizal’, kayanya memperkenalkan diri. “Om
ini om nya Dina ya. Saya Ines om, temennya Dina. Dina yang ngajak saya kesini,
disuru nemenin dia karena sendirian, eh malah ditinggal”. “Iya, Dina mana,
katanya mau nganterin dokumen kerumah temen om, om tunggu2 gak dateng2,
makanya om pulang mau ambil dokumennya”. “Dina udah pergi dari tadi om,
dokumennya udah dibawa, selisipan kali”. Om Rizal mengambil hpnya, rupanya
dia menelpon Dina. “Iya, Dina ada dirumah temen om, dokumennya sudah dikasi
ke temen om, ya udah lah. Kamu jangan pulang dulu ya, Nes”. Dia duduk
didipan, aku ditariknya duduk disebelahnya. Aku jadi keinget crita Dina tentang
dia dientot om Rizal sampe 3 ronde, sekarang giliran aku rupanya. Napsuku
bangkit dengan sendirinya. Segera tanpa membuang-buang waktu lagi om Rizal
menyambar tubuhku. Dilumatnya bibirku dan tangannya beraksi meremas
toketku yang masih terbungkus bra bikini. “Hhhmm..gimana Nes? Udah siap
dientot?” kurasakan hembusan nafasnya di telingaku. Tangan gempalnya mulai
meremasi toketku, sementara tangan yang lainnya mulai mengelus-elus pahaku.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya bisa menikmati perlakuannya
dengan jantung berdebar-debar. Tangan yang satunya juga sudah mulai naik ke
bagian selangkangan lalu dia menggesekkan jarinya pada daerah itilku yang
masih tertutup cd bikiniku. Dengan sekali sentakan ditariknya turun braku,
“Whuua..bener kata Dina, kamu seksi dan merangsang sekali Nes”, pujinya.
“Toket Dina kan lebih besar om”, jawabku terengah. Kini dengan leluasa
tangannya menjelajahi toketku dengan melakukan remasan, belaian, dan
pelintiran pada pentilku, sambil tangan satunya merogoh-rogoh ke dalam cdku.
Tiba2 dia mendorongku telentang didipan, dibentangkannya pahaku lebar-lebar,
tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu
menyusup ke pinggir cd bikiniku, mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian
permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan
jembutku, jarinya mencari liang nonokku. Perasaan nikmat begitu
menyelubungiku karena hampir semua daerah sensitifku diserang olehnya
dengan sapuan lidahnya pada leherku, remasan pada toketku, dan permainan
jarinya pada nonokku, serangan-serangan itu sungguh membuatku terbuai.
Kedua mataku terpejam sambil mulutku mengeluarkan desahan-desahan
“Eeemmhh..uuhh”. Dia langsung membuka pakaiannya, begitu cdnya terlepas
benda didalamnya yang sudah mengeras langsung mengacung siap memulai
aksinya. Aku terbelalak memandang kontol hitam itu, panjangnya memang
termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya itu cukup lebar, dipenuhi dengan
urat-urat yang menonjol. Dia yang sudah telanjang bulat mendekatiku. Aku
menggeser tubuhku memberinya tempat. Dengan lembut dibelainya pipiku, lalu
belaian itu perlahan-lahan turun ke bahuku dimana kurasakan bra bikiniku mulai
terlepas dan kemudian dia menarik lepas cd bikiniku hingga aku telanjang bulat.
Dia mencium bagian dalam cd bikiniku itu dengan penuh perasaan, lalu
dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir nonokku. “Enak, baru
cairan kamu aja udah enak, apalagi nonok kamu” katanya. Direngkuhnya aku

dalam pelukannya. Tangannya bergerak menjelajahi tubuhku. Dia
mengencangkan remasan pada toketku kananku sehingga aku merintih
kesakitan “Aaakkhh..sakit om!”. Dia hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat
reaksiku. “Uuuhh..sakit ya Nes, mana yang sakit..sini om liat” katanya sambil
mengusap-usap toketkuku yang memerah akibat remasannya. Dia lalu melumat
toketkuku sementara tangan satunya meremas-remas toketku yang lain.
Perlahan-lahan akupun sudah mulai merasakan enaknya. Tubuhku
menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang
nonokku sambil mulutnya terus melumat toketkuku, terasa pentilku disedotsedot olehnya, kadang juga digigit pelan atau dijilat-jilat. Kini mulutnya mulai
naik, jilatan itu mulai kurasakan pada leherku hingga akhirnya bertemulah
bibirku dengan bibirnya yang tebal itu. Naluri sexku membuatku lupa akan
segalanya, lidahku malah ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai
ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir.
Om Rizal lalu berlutut sehingga kontolnya kini tepat dihadapanku yang sedang
telentang didipan.
“Ayo Nes, kenalan nih sama kontol om, hehehe..!” katanya sambil
menggosokkan kontol itu pada wajahku. Aku mulai menjilati kontol hitam itu
mulai dari kepalanya sampai biji pelernyanya, semua kujilati sampai basah oleh
liurku. Semakin lama aku semakim bersemangat melakukan oral sex itu.
Kukeluarkan semua teknik menyepong-ku sampai dia mendesah nikmat. Saking
asiknya aku baru sadar bahwa posisi kami telah berubah menjadi gaya 69 saat
kurasakan benda basah menggelitik itilku. Dia kini berada di bawahku dan
menjilati belahan nonokku, bukan cuma itu dia juga mencucuk-cucukan jarinya
ke dalamnya sehingga nonokku makin lama makin basah saja. Aku disibukkan
dengan kontolnya di mulutku sambil sesekali mengeluarkan desahan. Aku
sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta jarinya pada nonokku,
tubuhku mengejang dan cairan nonokku menyembur dengan derasnya, aku
telah dibuatnya nyampe. Tubuhku lemas diatas tubuh nya dan tangan kananku
tetap menggenggam batang kontolnya.
Setelah puas menegak cairan nonokku, dia bangkit berdiri di dipan. Tangan
kokohnya memegang kedua pergelangan kakiku lalu membentangkan pahaku
lebar-lebar sampai pinggulku sedikit terangkat. Dia sudah dalam posisi siap
menusuk, ditekannya kepala kontolnya pada nonokku yang sudah licin,
kemudian dipompanya sambil membentangkan pahaku lebih lebar lagi. Kontol
yang gemuk itu masuk ke nonokku yang cukup sempit. Dia terus menjejalkan
kontolnya lebih dalam lagi sampai akhirnya seluruh kontol itu tertancap.
“Ooohh..nonok kamu lebih peret dari nonok Dina, Nes, nikmat banget deh”. Aku
senang juga mendengar pujiannya. “Ines juga nikmat om, kontol om gede
banget”. “Kamu belum pernah ngerasain kontol gede ya Nes”. “Yang gede sering
om, tapi yang segede kontol om baru kali ini, enjot terus om, nikmaaat”. Puas
menikmati jepitan dinding nonokku, pelan-pelan dia mulai menggenjotku, maju
mundur terkadang diputar. Kurasakan semakin lama pompaannya semakin
cepat sehingga aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku menggigiti
jariku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-kanan

sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari. Tampangku yang
sudah semrawut itu nampaknya makin membangkitkan napsunya, dia
menggenjotku dengan lebih bertenaga, bahkan disertai sodokan-sodokan keras
yang membuatku makin histeris. Kemudian tangan kanannya maju menangkap
toketku yang tergoncang-goncang. Hal ini memberi perasaan nikmat ke seluruh
tubuhku. Setengah permainan, dia mengganti posisi. aku disuruhnya nungging di
dipan. Dari belakang dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya.
“Nah, ini baru namanya pantat” dia meremas bongkahan pantatku dengan
gemas dan menepuknya. Saat dia mulai mengelus nonokku tanpa sadar aku
malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah
itu. Dia mulai mempersiapkan kembali kontolnya dengan menggosok-gosokkan
pada bibir nonok dan pantatku. Kemudian dia menyelipkan kontolnya di antara
selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat kontol itu pelanpelan memasuki nonokku. Kakiku mengejang ketika menerima sodokan
pertamanya yang dilanjutkan dengan sodokan-sodokan berikutnya. Mulutku
mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangannya meremasremas kedua toketku sambil sesekali dipermainkannya pentilku yang sudah
mengeras. “Ooohh.. enak banget deh ngentotin kamu Nes!” celotehnya.
Tusukan-tusukan itu seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian
tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari nonokku dengan deras
sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas
kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah nyampe sekali
lagi. Aku mengira dia juga akan segera mengecretkan pejunya, ternyata
perkiraanku salah, dia masih dengan ganas mengenjotku tanpa memberi waktu
istirahat. Rambut panjangku ditariknya sehingga kepalaku terangkat. Sudah
cukup lama aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan ngecret.
Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga
staminanya itu sungguh diluar dugaan. Mendadak dia menarik lepas kontolnya,
aku sudah siap menerima semprotan pejunya, namun ternyata kontol itu masih
mengacung dengan gagahnya.
Om Rizal lalu duduk, “Sini Nes, om pangku!” suruhnya. Aku menurut saja dan
tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, taku menuntun kontolnya
memasuki momokkku. Begitu kuturunkan pantatku langsung aku bergoyang di
pangkuannya, dia pun membalas gerakkanku dengan menaik turunkan
pantatnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Wajahnya
dibenamkan pada belahan toketku, tangannya yang tadi mengelus-ngelus
punggungku mulai meraba toketku, mulutnya menangkap toketku yang satu
lagi. Toketku disedot dan dikulumnya, kumisnya yang terkadang menyapu
permukaan toketku memberi rasa geli dan sensasi yang khas. Kunaik-turunkan
tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan,
“Uuugghh..nonok kamu enak banget, Nes”. esahanku bercampur baur dengan
lenguhannya. Kepalaku tengadah disertai lolongan panjang dari mulutku saat
aku nyampe lagi, cairan nonokku kembali tercurah sampai membasahi dipan,
secara refleks aku juga mempererat rangkulanku hingga wajahnya makin
terbenam pada toketku. “Om, kuat banget sih ngentotnya, Ines dah beberapa
kali nyampe, om belum ngecret juga, lemes om”. “Tapi nikmat kan?” Kemudian

dia melepaskan kontolnya dan menyuruhku berlutut di hadapannya, diraihnya
kepalaku dan didekatkan pada kontolnya yang lalu kujilati dan kusedot, rasanya
sudah bercampur dengan cairan nonokku. Ketika tanganku sedang mengocok
sambil menjilatinya tiba-tiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke
atas, “Nes, aku mau ngecret, di bobok kamu ya”. Segera aku dibaringkan
didipan, dia menaiki aku dan sekali enjot kontol besarnya langsung ambles
semuanya di nonokku. Dienjotkannya kontolnya keluar msuk dengan cepat dan
akhirnya, “Ooohh..Nes, aku ngecret” dan disusul ‘creett..creet..’ pejunya
menyemprot dengan deras didalam nonokku, terasa sekali semburan kuatnya
menghangati bagian dalem nonokku. Demikian lelahnya aku, sampai tubuh
seperti lumpuh dan mata terasa makin berat.
Sebelum terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku
“nonok kamu enak banget, aku jadi ketagihan nih!”.
Tiba-tiba kurasakan ada yang menciumku sambil meremas toketku, juga
kurasakan ada jari-jari yang menggelitik nonokku. Aku mendesah nikmat,
kubuka mata, Ahh..aku terbangun. Terkejut sekali aku. Begitu mata kubuka
langsung nampak sesosok tubuh berada diantara kedua belah pahaku yang
terbuka lebar. Ketika kesadaranku berangsur-angsur pulih nampak sosok lelaki
telanjang yang bukan om Rizal, wajahnya berada dekat nonokku sambil
mengorek-ngoreknya dengan jarinya. Aku berusaha bangkit dengan sisa
tenagaku, tubuhku sedikit bergeser. Kutepis tangan itu dari nonokku dan
langsung kurapatkan pahaku. Ketika menengok ke samping aku lihat Dina
tersenyum memandangku. “Nes, ini om Usman, temennya om Rizal. Kayanya om
Usman napsu banget ngeliat kamu telanjang. aku masuk dulu ya”, Dina
meninggalkan aku bersama om Usman yang sepertinya sudah siap untuk
mengentoti aku. Om Rizal hanya senyum2 duduk di kursi didekatku. “Kamu Ines,
temennya Dina ya, tadi enak dientot om Rizal”, tanyanya. “emangnya om sudah
disini dari tadi”, jawabku. “Iya, nonton kamu ngentot sama om Rizal, jadi
sekarang aku napsu banget nih Nes, pengen ngentotin kamu juga, mau ya”. Om
Usman mengambil kesempatan ketika aku sedang bingung itu dengan
merenggangkan pahaku sambil mengelus-elusnya. Mulutku mengeluarkan
desahan ketika jari-jarinya mulai menyentuh itilku dan mengelusnya. Elusannya
pada rambutku turun ke pipi, dan terus menurun ke leher hingga berhenti di
toketku kananku yang lalu dibelai dan diremasnya. Dia mendekatkan mulutnya
pada toketku dan menangkapnya dengan mulutnya. Gak lama kemudian dia
bangkit dan mengajakku nyebur ke kolam, om Rizal ikut nyebur juga. Wah asik
juga nih, maen ber3 di kolam. Aku menyibakkan rambut basahku ke belakang,
melihat tubuh telanjangku yang telah basah oleh air kolam mereka berdua
semakin bergairah dan mengerubungiku. Tangan-tangan mereka mulai
menjamahi tubuhku. Aku tidak tahu lagi siapa yang mengerjai kedua toketkuku,
meremas-remas pantatku, memilin-milin pentilku, dan mengusap-usap nonokku
karena kupejamkan mataku dan tubuhku menggelinjang menahan nikmat. Tak
terasa aku sudah berada di tepi kolam daerah 1,5 meter. Tubuhku dihimpit oleh
om Usman di belakang dan om Rizal di depan, keduanya memelukku sehingga
posisiku seperti daging burger yang dijepit diantara 2 roti. om Rizal menciumi
wajahku, sesampainya di bibir, dia langsung melumatnya, lidahnya mendesak-

desak ingin masuk ke mulutku, napsuku yang kembali naik membuatku
membuka mulutku mempersilakan lidahnya bermain-main di mulutku. Sesudah
itu mulutnya terus turun sampai ke toketkuku. Enngghh..om..!” desahku
menahan geli bercampur nikmat ketika mulutnya melumat toketkuku secara
bergantian. Aku merasakan pentilku disedot, digigit pelan bahkan sesekali ditarik
oleh mulutnya, sementara telapak tangan om Usman bercokol di nonokku terus
saja menggosok-gosok bibir nonokku.
Beberapa saat kemudian om Usman merentangkan kedua pahaku, betisku
dinaikkan ke bahunya “Nes..aku dah pengen ngentotin kamu sekarang ya!”
katanya tidak sabaran. Aku melihat di bawah air sana, kontolnya yang besar dan
lebih panjang dari kontol om Rizal mulai mendesak masuk ke nonokku,
“Aaahhkk..ahh..om” itulah yang keluar dari mulutku saat dia menekankan
dalam-dalam kontol supernya hingga amblas seluruhnya, aku meringis sambil
mencengkram lengan om Usman yang memelukku. “Ooohh..” dia juga
mendesah setelah berhasil menancapkan kontolnya di dalam nonokku. “Gimana
Man?? seret ga nonoknya??” tanya om Rizal pada temannya. “Buset, seret amat
nih nonok, udah ga perawan tapi rasanya kaya perawan, pinter juga Ines
ngerawatnya!” puji om Usmanl sambil mulai menggenjot. Aku mulai merasakan
kontol itu bergerak keluar masuk pada nonokku, mula-mula gerakan itu lembut,
namun lama-lama bertambah kencang. Aku mendesah-desah tidak karuan
ditambah lagi dari belakang om Rizal bertubi-tubi mencupangi leher jenjangku
serta mempermainkan toketku,
pantatku meliuk-liuk ke kiri-kanan sehingga om Usman makin seru
menggenjotku sampai air di sekitar kami beriak dengan dahsyat. “Akkhh..
oohh..eemmhh..!” eranganku tertahan tatkala bibirku dilumat om Usman.
Akupun merespon cumbuannya, lidah kami saling beradu dengan liar.
Diserang dari dua arah begini sungguh membuatku kewalahan hingga akhirnya
terasa dinding-dinding nonokku berdenyut makin kencang dan erangan panjang
keluar dari mulutku disertai mengejangnya tubuhku sampai menekuk ke atas,
otomatis kedua toketkuku pun makin membusung. Tubuhku lemas dalam
pelukan mereka. Tapi om Usman belum tampak mereda, dia
masih bersemangat menyodokkan kontolnya . Aku merasa lelah dan ingin
istirahat sejenak maka
kudorong tubuh om Usman. “Udah dulu.. om, Ines lemes..uuhh” aku memelas.
Dia lalu menarik lepas kontolnya dan menurunkan pahaku sehingga aku dapat
sedikit bernafas lega.
“Nes, pengen diemut deh”, kata om Usman. Aku melihat ke bawah air sana,
kontol om Usman yang baru saja mengacak-acak nonokku, kuraih dan
kugenggam, masih keras. Dia dengan berkacak pinggang sesekali mendengus
ketika jari-jarku mulai mengocok dan membelai biji pelernya. Om Rizal pun
mendekatiku dan meraih tanganku yang satu, lalu diletakkan pada kontolnya.
Kini kontol om Usman berada ditangan kiriku dan kontol om Rizal di tangan
kananku, mereka merem melek menikmati pelayananku sambil sesekali
membelai badanku. “Nah..sekarang aku pengen ngerasain mulut kamu Nes, ayo
dong.. diemut ” desak om Usman. Di bawah air kuraih kontolnya dan

kumasukkan dalam mulutku, karena panjangnya, benda itu sampai mentok di
tenggorokanku. Lidahku mulai menjilat dan mengulum, sementara kurasakan
sebuah tangan mengelus dan meremas pantatku dari belakang. Napsuku makin
naik, terlebih tangan itu terkadang menyelipkan jarinya pada nonok atau
pantatku. Aku makin liar mengemutnya, aku sendiri sudah merasa sesak di air.
Gerakan pantatnya makin . Akhirnya beberapa semprotan kurasa menerpa
langit-langit mulut dan tenggorokanku, aku menelan pejunya, rasanya asin dan
kental. Segera aku timbul ke permukaan. Nafasku mengap-mengap sehingga
toketku ikut naik turun seirama nafasku yang kacau. Mimik wajah om Usman
menunjukkan dia puas sekali ngecret di mulutku. Kulihat kontolnya sudah tidak
setegang tadi lagi, ukurannya menyusut.
Beberapa menit kami beristirahat, om Rizal mengajakku naik ke pinggir kolam.
“Gantian Nes.. sekarang aku di bawah, kamu di atas!” Wah aku jadi kerja rodi
nih ngelayani napsu 2 lelaki yang kuat ngentotnya. Mana Dina gak keluar2 lagi.
Tapi ya udah, namanya juga berburu kenikmatan ya aku lakukan juga. Tanpa
diminta lagi aku mengangkangi tubuhnya yang sudah rebah telentang di
atas lantai marmer. Aku tanpa ragu menuntun kontolnya yang sudah kembali
mengeras ke arah nonokku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya.
Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya, bahkan aku ikut
membantu kedua belah telapak tangannya meremasi toketkuku. Om Usman
menonton adeganku sambil tetap berendam di tepi kolam, kadang-kadang
tangannya iseng merabai pahaku. “Ayo..goyang Nes..oohh!” om Rizal sepertinya
ketagihan dengan goyanganku, begitu juga om Usman, dia tidak tahan hanya
menonton saja. Dia keluar dari kolam dan berdiri di sebelahku, kontolnya
mengacung di depan mukaku. “Emut lagi Nes”, katanya sambil menjejalkan
kontolnya ke mulutku. Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap
kontol om Usman. Saat mereka sedang asyik-asyiknya menikmatiku, tiba-tiba
pintu terbuka, Dina muncul, bertelanjang bulat. Dia hanya bisa melongo melihat
aku sedang dikerjai berdua. Tetap dalam posisinya om Rizal menengok ke
samping dan menyapa Dina, “Ayo Din, join”. Beberapa saat kemudian om Usman
mencabut kontolnya dari mulutku, namun aku masih harus menyelesaikan
urusanku dengan om Rizal. om Usman mendekati Dina dan menepuk pantatnya.
om Rizal sibuk menggerakkan pinggulnya membalas goyanganku. 15 menit
dalam posisi ‘woman on top’ sampai akhirnya tubuhku bergetar seperti
menggigil lalu “Aaahh..!!” Desahan panjang keluar dari mulutku, kepalaku
mendongak ke atas. Tubuhku melemas dan ambruk ke depan, ke dalam
pelukannya. Dia peluk tubuhku sambil kontolnya tetap dalam nonokku, kami
berdua basah kuyup oleh air kolam maupun keringat yang mengucur. “Ganti
posisi yah Nes” katanya dekat telingaku. Lalu tubuhku ditelungkupkan. Aku
nurut saja ketika posisiku diatur seperti merangkak. Segera kontolnya terbenam
lagi dalam nonokku, dan dienjotkannya dengan cepat dan keras, kontolnya
keluar masuk menggesek dinding nonokku, walaupun lemes aku merasa nikmat
luar biasa. Dengan keras dia sodok-sodokan kontolnya dan toketku yang
menggantung diremas-remasnya. Suara rintihanku saling beradu dengan
lenguhan om Rizal, juga dengan rintihan Dina yang sedang dientot om Usman
dalam posisi telentang di dipan. Om Rizal menarik wajahku dan memagut

bibirku, diciumnya aku dengan lembut. Akhirnya kembali kukeluarkan cairan
hangat dari nonokku, aku nyampe lagi. Permainan itu membuatku merem-melek
dan banyak menguras tenagaku, akupun ambruk dengan nafas yang kacau. Dia
mencabut kontolnya yang masih ngaceng dengan kerasnya. Om Rizal
menggantikan posisi om Usman yang rupanya sudah ngecret. Bener2 hebat om
Rizal, gak ada matinya. Dengan penuh napsu dia mengentoti Dina yang terkapar
lemes, sampai akhirnya diapun ngecret di nonok Dina.
Malemnya setelah makan, om Rizal meninggalkan kami beryiga, dia masih ada
urusan yang harus diselesaikan. Om Usman tidak menyia2kan kesempatan ini,
minta dilayani oleh kami berdua. Dia berbaring telanjang di ranjang. Dina segera
mengocok-ngocok kontolnya perlahan. Aku berjongkok di depannya. Dina mulai
memasukkan kontol om Usman ke dalam mulutnya. Kepalanya mulai bergerak
naik turun. Pipinya yang sedikit menonjol disesaki kontol om Usman.
Sementara aku menciumi dan menjilati pahanya menunggu giliran. Sesaat
kemudian, Dina mengeluarkan kontol om Usman dari mulutnya, dan aku
langsung meraihnya dengan bernafsu. Kujilati terlebih dahulu mulai dari kepala
sampai ke pangkal batangnya, dan perlahan aku mulai menghisap kontol om
Usman. Om Usman menarik Dina dan menciuminya. Dinapun membalas pagutan
om Usman. Ciuman dan jilatannya kemudian beralih ke pentil om Usman,
sementara kontolnya masih menjejali mulutku. Segera om Usman menarik Dina
kedalam pelukannya. Om Usman menjilati pentilnya. “Ahh…ssstt…” erangan
nikmat keluar dari mulut Dina. Erangan ini
semakin keras terdengar saat jari om Usman mengusap-usap nonoknya.
“Sebentar ya Nes..”kata om Usman sambil mencabut kontolnya dari mulutku.
Dina ditariknya sampai berbaring dan om Usman mengarahkan kontolnya ke
nonok Dina. “Pelan-pelan ya om.” desah Dina perlahan. Kontol om Usman mulai
menerobos nonok Dina. Erangan Dina semakin
menjadi. Tangannya tampak meremas sprei ranjang. Mulutnya setengah
terbuka, dan matanya terpenjam. “Ahhhh…ahhhh” desah Dina saat om Usman
mulai menggenjot kontolnya keluar masuk. Dina mulai menggelinjang
merasakan kontol om Usman menghunjam ke nonoknya sementara aku
menonton adegan itu dengan penuh napsu. Om Usman menghentikan
enjotannya dan mengganti posisi, sekarang Dina yang diatas. SKembali kontol
om Usman menerobos nonok Dina. “Ahhhh….” erangnya. Dina kemudian
menggoyang-goyangkan tubuhnya turun naik mengocok kontol om Usman
didalam nonoknya. Om Usman meraih aku kedalam pelukannya dan mencium
bibirku. Toketku diremasnya dengan gemas, pentilku mendapat giliran
selanjutnya. “Sstttthhhh….sstttt” erangku saat om Usman menjilati dan dengan
gemas mengisap toketku. Sementara Dina masih menggoyang-goyangkan
tubuhnya. Matanya terpejam. Om Usman memilin-milin pentil Dina sementara
aku menjilati pentil om Usman. “Ahhhhh……” erang Dina panjang saat dia
nyampe. Tubuhnya mengejang beberapa saat, kemudian lunglai di atas tubuh
om Usman. Om Usman menciumi pundak Dina beberapa saat, sebelum
digulingkan kesebelahnya.

“Giliranmu Nes..” katanya. Akus langsung menghentikan hisapanku pada
pentilnyau, dan dengan bergairah menggantikan posisi Dina. Aku menaiki
tubuhnya dan kuarahkan kontol om Usman ke nonokku. “Ihhh..gede banget…
iihhhh” desahku saat kontolnya menerobos nonokku. Dengan bernapsu aku
menggoyang-goyangkan tubuhku. Toketku berguncang-guncang saat aku
mengenjotkan pantatku turun naik. Terkadang om Usman menarik tubuhku agar
dia bisa menghisapi pentilku. Bosan dengan posisi ini, om Usman minta aku
menungging sambil memegang tepian bagian kepala ranjang. Disodokkannya
kontolnya kembali ke dalam nonokku. Aku kembali mengerang. “Ihh..ihh..”
desahku saat dienjot dari belakang. Dina tak berkedip
melihat aku dientot secara “doggy-style”. “Sini Din” om Usman memanggilnya.
Saat dia menghampiri, langsung om Usman kembali menciumi Dina, sementara
itu tangannya memegang pinggangku sambil sesekali menepuk-nepuk pantatku.
“Ihh..ihh.. Ines nyampe mas.” erangku saat aku nyampe. Dia melepaskan
kontolnya dari nonokku. Aku ditelentangkannya dan segera kontolnya ambles
lagi dinonokku. Om Usman dengan penuh napsu mengenjotkan kontolnya
dengan cepat dan keras, keluar masuk menggesek nonokku, sampai akhirnya
dia menjerit keenakan. Terasa ada semburan peju hangat didalam nonokku.
Diapun terkulai.
“Om mainnya hebat banget …” kata Dina sambil tersenyum. “Iya..kita berdua
aja dibuat kewalahan…”sahutku sambil mengusap-usap dadanya. “Habis kalian
cantik-cantik sih. Jadi nafsu nih” jawabnya. “Kita sih puas banget deh dientot om,
lemes tapi nikmaat banget, ya Nes” kata Dina. “Yang gemesin ini lho..gede
banget ukurannya” kataku sambil mulai mengusap-usap kontolnya.
“Iya.Rahasianya apa sih om?” TKurasakan kontolnya mulai mengeras lagi, luar
biasa.
“Om, buat kenang-kenangan Dina video ya..” ujar Dina tiba-tiba, sambil bangkit
mengambil HPnya. “Jangan ah. Udah nggak usah” om Usman menolak.
“Ah..nggak apa om. Habis kontolnya gemesin banget deh..Dina nggak ambil
mukanya kok..” sahutnya. “Awas, bener ya. Jangan kelihatan mukanya lho” kata
om Usman lagi. “Om berdiri di sini aja biar lebih jelas. Terus kamu isepin Nes..
Ntar gantian” kata Dina. Om Usman bangkit dan berdiri di samping ranjang. Aku
kemudian berjongkok di depannya, dan mulai menjilati kontolnya. “Rambut
lkamu Nes..jangan nutupin” kata Dina sambil mulai merekam adegan itu. Om
Usman membantu aku menyibakkan rambutku dan aku mulai mengulum
kontolnya sambil mengelus-elus biji pelernya. Dina merekam adegan itu dengan
antusias. Om Usman mengerang nikmat, sambil membantu menyibakkan
rambutku. Cukup lama aku mengemut kontolnya. Sementara tampak Dina
sangat terangsang melihat aku menikmati kontol om Usman. “Nes..gantian
dong..” katanya beberapa saat kemudian. Hpnya diserahkan ke aku, dan gantian
Dina sekarang yang berjongkok di depan om Usman. Disibakkannya rambutnya
kesamping agar aku dapat merekam adegan dengan jelas. Dijilatinya perlahan
seluruh kontol om Usman. Lubang kencingnya digelitik dengan lidahnya,
kemudian mulutnya mulai mengulum perlahan kontol om Usman. “Jangan pakai
tangan Din..” kata ku yang sedang merekam adegan itu. Dina kemudian
melepas tangannya yang memegang kontol om Usman, dan ia memaju

mundurkan kepalanya. Sesaat kemudian dia mengeluarkan kontol dari mulutnya
dan, tetap dengan tanpa memegang kontol, Dina menjilatinya sambil bergumam
gemas. Kemudian dihisapnya kembali kontol om Usman dengan bernafsu.
Diperlakukan seperti itu, om Usman gak tahan lagi. “Arrghh.. hampir ngecret
nih..” erangnya.
“Om yang ambil ya..” kataku sambil menyerahkan hp padanya. Aku kemudian
berjongkok bersama dengan Dina. Kontol itu kukocok-kocoknya. Om Usman tidak
tahan lagi. Sambil merekam adegan, dia ngecret membasahi muka kami. Setelah
beristirahat sejenak, om Usman meminta hp Dina. Dia ingin memastikan
wajahnya tidak terlihat di rekaman video yang tadi diambil. Kami mengobrol
beberapa lama, sebelum beranjak pulang. Om Usman mengantarkan kami
pulang. “Kapan-kapan kita maen lagi ya om”, saat mobil sampai didepan rumah.
Aku turun dan mobil melaju mengantarkan Dina kerumahnya, atau entah
kemana.
Aku ‘Obat Awet Muda’ Tante Erni
Posted by admin on April 15, 2009 – 12:37 pm
Filed under Setengah baya
Kejadian ini terjadi ketika Aku kelas 3 SMP, yah Aku perkirakan umur Aku waktu
itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu
cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak. Yah
itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yang
namanya tante Erni ( biasa Aku panggil dia begitu ) orangnya cantik banget,
langsing dan juga awet muda bikin Aku bergetar.
Tante Erni ini tinggal dekat rumah aku, hanya beda 5 rumah lah, nah tante Erni
ini cukup deket sama keluarga Aku meskipun enggak ada hubungan saudara.
Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumah
Aku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah tante
Erni ini lah yang bikin Aku cepet gede ( maklum lah anak masih puber kan
biasanya suka yang cepet-cepat
).
Biasanya tante Erni kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atahu kadangkadang celana pendek yang bikin Aku ser…ser…ser…Biasanya kalau sudah sore
tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang tv dan biasa juga Aku pura-pura nonton tv
saja sambil lirak lirik. Tante Erni ini entah sengsaja atahu engenggak Aku juga
enggak tahu yah.
Dia sering kalau duduk itu tuh ngangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin
Aku ser..ser lagi deh hmmm. Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengsaja Aku
juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih Aku kadang puas banget sampaisampai kebayang kalau lagi tidur.
Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya
tante Erni ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan ( wuih Aku suka

banget nih ). pernah Aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada
perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas
dingin tapi tante Erni malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya
duduknya.
Nah dari situ Aku sudah mulai suka sama tuh tante yang satu itu. Setiap hari
pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh tante.Pernah juga
Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa.
Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan mami Aku ngsajak Aku pasti tante
Erni pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar
jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung.
Ternyata mereka cerita hantu ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil
ceritanya yang serem-serem pas waktu itu tante Erni mau ke WC tapi dia takut .
Tentu saja tante Erni di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke wc
sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau
kencing di deket pojokan taman. Lalu tante Erni menarik tangan Aku minta
ditemenin ke wc, yah Aku sih mau saja.
Pergilah Aku ke dalam villa sama tante Erni , sesampainya Aku di dalam villa Aku
nunggu di luar wc eh malah tante Ernin ngsajak masuk nemenin dia soalnya
katanya dia takut
“Lex temenin tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di
tutup tante takut nih ” kata tante Erni sambil mulai jongkok .
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana
dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga ”
serrr..rr..serr.psstt” kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai
deg-degan waktu liat tante Erni kencing dalem hati Aku kalau saja tante Erni
boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmmmm. sampai-sampai Aku
bengong ngliat tante Erni.
“Heh kenapa kamu lex kok diam gitu awas nanti ke sambet” kata tante Erni
“Ah enggak apa-apa tante ” jawabku
“Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihat nya ke bawah terus
sih ” tanya tante Erni.
” Enggak kok tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa
sih bentuk itunya cewek ? ” tanyaku.
Tante Erni cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama cdnya
“Kamu mau liat lex ? nih tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti tante
enggak enak sama mama kau ” kata tante Erni
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah
vaginanya. Aku tambah deg deg an sampai panas dingin karena baru kali ini Aku

megang sama melihat yang namanya vagina. Tante Erni membiarkan Aku
memegang-megang vaginanya
“Sudah yah lex nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain kirain kita ngapain lagi

“Iyah tante ” jawab ku, Lalu tante Erni menaikan celana dalam juga celana
pendeknya terus kita gabung lagi sama ibu-ibu yang lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku
panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat
belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badan ku enggak enak
” Lex kamu enggak ikut ? ” tanya mamiku,” Enggak yah mam aku enggak enak
badn nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah mah ” kataku ” Yah sudah
istirahat yah jangan main-main lagi ” kata mami
” Erni kamu maukan tolong jagain si alex nih yah nanti kalau kamu ada pesenan
yang mau di beli biar sini aku beliin ” kata mami pada tante Erni ” Iya deh kak
aku jagain si alex tapi beliin aku tales sama sayuran yah aku mau bawa itu buat
pulang besok ” kata tante Erni.
Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan tante Erni berdua saja di
villa , tante Erni baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam
menunjukan pukul 9 pagi waktu itu
” Kamu sakit apa sih lex ? kok lemes gitu ? ” tanya tante Erni sambil nyuapin aku
dengan bubur ayam buatanNya
” Enggak tahu nih tante kepala ku jug pusing sama panas dingin saja nih yang di
rasa ” kataku.
Tante Erni begitu perhatian padaku maklumlah di usia perkimpoiannya yang
sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
” Kepala yang mana lex atas apa yang bawah ?” kelakar tante Erni padaku.
Aku pun bingung ” Memangya kepala yang bawah ada tante ? kan kepala kita
hanya satu jawabku polos, Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake
segitiga pengaman ” kata tante Erni sambil memegang si kecilku
” Ah tante bisa saja ” kataku ” Eh jangan2 kamu sakit gara-gara semalam yah ”
aku hanya diam saja.
Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh tante Erni, pada waktu dia
ingin membuka celanaku, ku bilang
” Tante enggak usah deh tante biar alex saja yang lap, kan malu sama tante ”
” Enggak apa-apa tanggung kok ” kata tante Erni sambil menurunkan celanaku
dan cd ku.

Di lapnya si kecil ku dengan hati-hati , aku hanya diam saja
” Lex mau enggak pusingnya Hilang ? Biar tante obatin yah ”
” Pakai apa tan, aku enggak tahu obatnya ” kataku polos
” Iyah kamu tenang saja yah ” kata tante Erni
Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan itu juga
penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku
melayang karena baru pertama kali ini merasakan yang seperti ini
” Achh…cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku
memegang vagina tante Erni yang masih di balut dengan celana pendek dan cd
tapi tante Erni hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan
kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing
” Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku
” Sudah kencingnya di mulut tante saja yah enggak apa-apa kok ” kata tante
Erni ,
Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut tante Erni
karena tante Erni tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena
merasakan enaknya
” Hhgggg….achhh.. tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas
vagina tante Erni yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Ernipun langsung menghisap dengan agresifnya dan badan ku pun
mengejang keras
” Croott….ser.err.srett ” muncratlah air mani ku dalam mulut tante Erni, tante
Erni pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan
kurasakan vagina tante Erni berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan
celana tante Erni lembab dan agak basah
” Enakkan lex pusingnya pasti hilangkan ” kata tante Erni
” Tapi tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama tante nih soalnya
tante….”
” Sudah enggak apa-apa kok, oh iya sperma kamu kok kental banget wangi lagi,
kamu enggak pernah onani lex ? ”
” Enggak tante ”
Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina tante Erni
” Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih ” Aku jadi salah tingkah
” Sudah enggak apa-apa kok tante ngerti “katanya padaku
” Tante boleh enggak alex megang itu tante lagi ” pintaku pada tante Erni
Tante Erni pun melepas kan celana pendek nya, kulihat celana dalam tante Erni
basah entah kenapa

” Tante kencing yah ? ” tanya ku
” Enggak ini namanya tante nafsu lex sampai-sampai celana dalam tante basah
” dilepaskannya pula celana dalam tante Erni dan mengelap vaginanya dengan
handukku.
Lalu tante Erni duduk di sampingku”, Lex pegang nih enggak apa-apa kok sudah
tante lap ” katanya, Akupun mulai memegang vagina tante Erni dengan tangan
yang Agak gemetar, tante Erni hanya ketawa kecil
” Lex kenapa ? biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih ” kata tante Erni
Dia mulai memegang penisku lagi ” Lex tante mau itu nih ”
” Mau apa tante ”
” Itu tuh ” aku bingung atas permintaan tante Erni
” Hmm itu tuh punya kamu di masukin ke dalam itunya tante kamu mau kan ?”
” Tapi alex enggak bisa tante caranya ”
” Sudah kamu diam saja biar tante yang sajarin kamu yah ” kata tante Erni
padaku.
Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak
tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina tante Erni yang di tumbuhi bulu
halus
” Lex jilatin donk punya tante yah ” katanya
” Tante alex enggak bisa nanti muntah lagi ”
” coba saja lex ” Tante pun langsung mengambil posisi 69 aku di bawah, tante
Erni di atas dan tanpa pikir panjang tante Erni pun mulai mengulum penisku
” Achhhh ….. hgghhhghhh. tante ”
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina tante Erni tidak
berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina tante
Erni seperti wangi daun pandan ( asli Aku juga bingung kok bisa gitu yah ) aku
mulai menjilati vagina tante Erni sambil tanganku melepaskan kaus u can see
tante Erni dan juga melepaskan kaitan bh nya , kini kami sama-sama telanjang
bulat ,
Tante Erni pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian tante
Erni menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku
dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu
” Kamu tahu enggak mandi kucing lex ” kata tante Erni.
Aku hanya menggelengkan kepala dan tante Erni pun langsung menjilati leherku
menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat , ciumannya berlanjut
sampai ke putingku dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke
selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras.

Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di
bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu
dahsyat. Tante Erni pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti
tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku
pun di jilatinya sampai aku merasakan anusku masuk keluar.
Kulihat payudara tante Erni mengeras, tante Erni menjilati sampai ke betisku dan
kembali ke bibirku di kulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku
pun meremas payudara tante Erni. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati
vagina tante Erni, langsung tante Erni ku baringkan dan aku bangun langsung ku
jilati vagina tante Erni seperti mnjilati es krim
” Achhh….uhh.hhghh.acch lex enak banget terus lex, yang itu isep jilatin lex ”
kata tante Erni sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya , banyak sekali lendir yang keluar
dari vagina tante Erni tanpa sengaja tertelan olehku
” Lex masukin donk tante enggak tahan nih ”
” Tante gimana caranya ? ”
Tante Erni pun menyuruhku tidur dan dia jongkok diatas penisku dan langsung
menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante Erni naik turun seperti orang naik
kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul
dan tante Erni pun mengejang hebat
” Lex tante mau keluar nih eghhhh….huhh achh ” kata tante Erni
Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan
ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina tante Erni. Hmm sungguh
pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina tante Erni mungurut-urut
penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan tante Erni sudah orgasme dan
permainan kami terhenti sejenak.
Tante Erni tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya
” Lex nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang yah ” pinta tante Erni padaku
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan tante Ernipun
langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi
” Achh … tante enak banget achhhh,….gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun
merasakan hal yang seperti tadi lagi
” Tante alex kayanya mau kencing niih ”
Tante Erni pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket
dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama
menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama
tante Erni pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk
menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan
yang alang kepalang nikmatnya.

Kamipun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan
kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi tante Erni menungging di
pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan tante Erni
yang hebat.
Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan
telur dadar buatan tante Erni, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai
tertidur dengan tante Erni di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam
celana dalam tante Erni. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami
melakukannya permintaan tante Erni, tepat jam 4:30 kami menenggakhiri dan
kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.
” Lex kamu sudah baikan ? ” tanya mami ku
” Sudah mam , aku sudah seger n fit nih ” kataku
” Kamu kasih makan apa Ni, si alex sampai-sampai langsung sEhat ” tanya mami
sama tante Erni
” Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus ku kasih saja panadol ”
kata tante Erni
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobilpun aku duduk disamping tante
Erni yang semobil denganku. Mami yang menyupir ditemani ibu herman di
depan.
Didalam mobilpun aku masih curi-curi memegang barangnya tante Erni.
Sampai sekarangpun aku masih suka melakukannya dengan tante Erni bila
rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan tante Erni. Sekali waktu aku
pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali.
Kini tante Ernipun sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru kuketahui
bahwa suami tante Erni ternyata ejekulasi dini. Kinipun aku bingung akan anak
itu. Yah begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL tante Erni
bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku. Pernah juga aku
menemani seorang kenalan tante Erni yang nasibnya sama seperti tante Erni
mempunyai suami yang ejekulasi dini dan suka daun muda buat obat awet
muda, dengan menelan air mani pria muda.
Permohonan Seorang Teman dan Suaminya
Posted by admin on May 5, 2009 – 5:40 pm
Filed under gangbang
Aku punya teman SMU dulu. Hubungan kami sangat baik, karena kami samasama aktif di OSIS. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Australia,
sedangkan aku, karena keadaan ekonomi yang pas-pasan, puas menamatkan
pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah.
Setelah lulus, aku bekerja di Jakarta. Entah suatu kebetulan atau bukan, saat
bekerja di salah satu perusahaan swasta, aku bertemu kembali dengan Anna,

yang bekerja di perusahaan rekanan perusahaan kami. Kami bertemu waktu ada
penandatanganan kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan
tempatku bekerja. Kami pun kembali akrab setelah tidak bertemu sepuluh tahun.
Ia masih tetap cantik seperti dulu. Dari ceritanya, aku dapatkan informasi bahwa
ia memperoleh master di bidang marketing. Selain itu, sama sepertiku, ia telah
tiga tahun menikah, suaminya orang Jawa Timur, tetapi mereka belum dikaruniai
anak; sedangkan aku ketika itu masih lajang. Usai kerja, kami suka pulang
bareng, sebab rumahnya searah denganku. Kadang-kadang jika ia dijemput
suaminya, aku ikut numpang mobil mereka.
Aku tak pernah terpikir kalau temanku Anna memiliki suatu rahasia yang
suaminya sendiri pun tak pernah tahu. Suatu ketika, kuingat waktu itu hari
kamis, aku ikut pulang di mobil mereka, kudengar Anna berkata pada suaminya,
”Pa, lusa aku ulang tahun yang ke-28, kan? Aku akan minta hadiah istimewa
darimu. Boleh kan?”
Sambil menyetir, suaminya menjawab, ”Ok, hadiah apa rupanya yang kau minta,
sayang?”
”Hmmm, akan kusebutkan nanti malam waktu kita…” sambil tersenyum dan
mengerlingkan mata penuh arti.
Suaminya bergumam, ”Beginilah istriku. Kalau ada maunya, harus dituruti. Kalau
tidak kesampaian, bisa pecah perang Irak.” Kemudian tak berapa lama, ia
melanjutkan, ”Gimana Gus, waktu SMU dulu, apa gitu juga gayanya?”
Kujawab, ”Yah, begitulah dia. Waktu jadi aku ketua dan dia sekretaris OSIS, dia
terus yang berkuasa, walaupun program kerja aku yang nyusun.”
”Idiiiih, jahat lu Gus, buka kartu!” teriak Anna sambil mencubit lenganku pelan.
Suaminya dan aku tertawa. Sambil kuraba bekas cubitannya yang agak pedas,
tetapi memiliki nuansa romantis, kubayangkan betapa bahagianya suaminya
beristrikan Anna yang cantik, pintar dan pandai bergaul.
Aku kemudian turun di jalan depan kompleks perumahan mereka dan
melanjutkan naik angkot ke arah rumahku yang letaknya tinggal 3 km lagi.
Aku sudah lupa akan percakapan di mobil mereka itu, ketika malam minggu, aku
cuma duduk-duduk di rumah sambil menonton acara televisi yang tidak menarik,
tiba-tiba kudengar dering telepon.
”Gus, kau ada acara? Anna dan aku sedang merayakan ulang tahunnya.
Datanglah ke rumah kami. Dia sudah marah-marah, sebab baru tadi aku bilang
mau undang kau makan bersama kami. Ok, jangan lama-lama ya?” suara Dicky,
suami Anna terdengar.
”Wah, kebetulan Mas, aku sedang bete nich di rumah. Aku datang sekitar 20
menit lagi ya?” jawabku.

”Baiklah, kami tunggu” katanya sambil meletakkan gagang telepon.
Aku bersiap-siap mengenakan baju hem yang agak pantas, kupikir tak enak juga
hanya pakai kaos. Sepeda motor kukeluarkan dan segera menuju rumah Dicky
dan Anna.
Setibanya di sana, kuketuk pintu. Anna membuka pintu. Kulihat gaunnya begitu
indah membalut tubuhnya. Potongan gaunnya di bagian dada agak rendah,
sehingga menampakkan belahan buah dadanya yang sejak SMU dulu kukagumi,
sebab pernah kulihat keindahannya tanpa sengaja waktu ia berganti baju saat
olah raga dulu.
Kusalami dia sambil berkata, ”Selamat ulang tahun, ya An! Panjang umur, murah
rejeki, cepat dapat momongan, rukun terus dalam rumah tangga”
Tanpa kuduga, tanganku disambut dengan hangatnya sambil diberikannya
pipinya mencium pipiku. Yang lebih tak terduga, pinggiran bibirnya – entah
disengaja atau tidak – menyentuh tepi bibirku juga.
”Trims ya Gus” katanya.
Aku masuk dan mendapati Dicky sedang duduk di ruang tamu sambil menonton
televisi. Dicky dan Anna mengajakku makan malam bersama. Cukup mewah
makan malam tersebut, sebab kulihat makanan restoran yang dipesan mereka.
Ditambah makanan penutup berupa puding dan beragam buah-buahan
membuatku amat kenyang. Usai makan buah-buahan, Dicky ke ruang bar mini
dekat kamar tidur mereka dan mengambil sebotol champagne.
”Wah, apa lagi nich?” tanyaku dalam hati.
”Ayo Gus, kita bersulang demi Anna yang kita cintai” kata suaminya sambil
memberikan gelas kepadaku dan menuangkan minuman keras tersebut.
Kami bertiga minum sambil bercerita dan tertawa. Usai makan, kami berdua
kembali ke ruang tamu, sedangkan Anna membereskan meja makan. Dicky dan
aku asyik menonton acara televisi, ketika kulihat dengan ekor mataku, Anna
mendatangi kami berdua.
”Mas, ganti acaranya dong, aku mau nonton film aja! Bosen acara TV gitu-gitu
terus” rajuknya kepada suaminya.
Dicky menuju bufet tempat kepingan audio video dan sambil berkata padaku, ia
mengganti acara televisi dengan film, ”Nah, gitulah istriku tersayang, Gus. Kalau
lagi ada maunya, jangan sampai tidak dituruti.”
Kami tertawa sambil duduk bertiga. Aku agak kaget waktu menyaksikan,
ternyata film yang diputar Dicky adalah film dewasa alias blue film.

”Pernah nonton film begini, Gus? Jangan bohong, pria seperti kita jaman SMP
saja sudah baca Playboy dulu, bukan?” tanyanya.
”He.. he.. he.. nonton sich jangan ditanya lagi, Mas. Udah sering. Prakteknya
yang belum” tukasku sambil meringis.
Agak risih juga nonton bertiga Anna dan suaminya, sebab biasanya aku nonton
sendirian atau bersama-sama teman pria.
”Anna kemarin minta kita nonton BF bertiga. Katanya demi persahabatan” ujar
suaminya.
”Ya Gus, bosen sich, cuma nonton berdua. Sekali-sekali variasi, boleh kan?” kata
Anna menyambung ucapan suaminya dan duduk semakin rapat ke suaminya.
Kami bertiga nonton adegan film. Mula-mula seorang perempuan bule main
dengan pria negro. Lalu pria Asia dengan seorang perempuan Amerika Latin dan
seorang perempuan bule.
”Wah, luar biasa” batinku sambil melirik Anna yang mulai duduk gelisah.
Kulihat suami Anna sesekali mencium bibir Anna dan tangannya yang semula
memeluk bahu Anna, mulai turun meraba-raba tepi buah dada Anna dari luar
bajunya. Cerita ketiga semakin panas, sebab pemainnya adalah seorang
perempuan bule yang cantik dan bertubuh indah dan dua orang pria, yang satu
Amerika Latin dan yang satunya lagi bule. Si perempuan diciumi bibir lalu buah
dadanya oleh si pria bule, sedang si pria Amerika Latin membuka perlahan-lahan
rok dan celana dalam si perempuan sambil menciumi lutut dan pahanya. Kedua
pria tersebut menelentangkan si perempuan di sofa, yang satu menciumi dan
meremas buah dadanya, sedang yang lain menciumi celah-celah paha. Adegan
itu dilakukan secara bergantian dan akhirnya si pria bule menempatkan
penisnya ke klitoris si perempuan hingga si perempuan merintih-rintih.
Rintihannya makin menjadi-jadi sewaktu penis tersebut mulai memasuki
vaginanya. Di bagian atas, buah dadanya diremas dan diciumi serta disedot si
pria Amerika Latin. Si perempuan kemudian memegang pinggang si pria Amerika
Latin dan mencari penisnya untuk diciumi dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Si pria memberikan penisnya sambil terus meremas buah dada si perempuan.
Begitulah, penis yang satu masuk keluar vaginanya, sedang penis yang lain
masuk keluar mulutnya.
Aku merasakan penisku menegang di balik celana dan sesekali kuperbaiki
dudukku sebab agak malu juga pada Anna yang melirik ke arah risleting
celanaku. Aku merasa horny, tetapi apa daya, aku hanya penonton, sedangkan
Anna dan Dicky, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kukerling
Dicky dan Anna yang sudah terpengaruh oleh film tersebut.
Tak lama kemudian kulihat gaun Anna semakin turun dan buah dadanya sudah
semakin tampak. Benar-benar indah buah dadanya, apalagi saat kulihat yang

sebelah kiri dengan putingnya yang hitam kecoklatan, sudah menyembul keluar
akibat jamahan tangan suaminya. Desahan Anna bercampur dengan suara si
perempuan bule di film yang kami saksikan. Mereka berdua tampak tidak peduli
lagi dengan kehadiranku. Aku lama-lama segan juga, tetapi mau pamit kayaknya
tidak etis. Kuluman bibir Dicky semakin turun ke leher Anna dan berlabuh di
dada sebelah kiri. Bibirnya melumat puting sebelah kiri sambil tangan kanannya
meremas-remas buah dada kanan Anna. Gaun Anna hampir terbuka lebar di
bagian dada.
Tiba-tiba Anna bangkit berdiri dan menuju dapur. Ia kemudian keluar dan
membawa nampan berisi tiga gelas red wine. Ia sodorkan kepada kami berdua
dan kembali ke dapur mengembalikan nampan. Aku dan suaminya minum red
wine ketika kurasakan dari arah belakangku Anna menunduk dan mencium
bibirku tiba-tiba.
”Mmmmfff, ahhh, An, jangan!” kataku sambil menolakkan wajahnya dengan
memegang kedua pipinya.
Anna justru semakin merapatkan wajah dan tubuhnya dari arah atas tubuhku.
Lidahnya masuk dengan lincahnya ke dalam mulutku sedangkan bibirnya
menutup rapat bibirku, buah dadanya kurasakan menekan belakang kepalaku.
Aku masih mencoba melawan dan merasa malu diperlakukan demikian di depan
suaminya.
Rasa segan bercampur nafsu yang menggelora membuat wajahku semakin
memanas, terlebih atas permainan bibir dan lidah Anna serta buah dada yang
ditekankan semakin kuat.
Kudengar suara suaminya, “Tak usah malu, Gus. Nikmati saja. Ini bagian dari
permintaan spesial Anna kemarin. Kali ini ia tidak minta kado yang lain, tapi
kehadiranmu.”
Aku berhasil melepaskan diri dari serangan Anna dan sambil terengah-engah
kukatakan, ”An, tolong… jangan perlakukan aku seperti tadi. Aku malu. Dicky,
aku minta maaf, aku mau pulang saja.”
Aku bergegas menuju pintu. Tapi tiba-tiba Anna menyusulku sambil memeluk
pinggangku dari belakang.
Sambil menangis ia berkata, ”Gus, maafkan aku. Aku tidak mau kau pulang
sekarang. Ayolah, kembali bersama kami.”
Ia menarik tanganku duduk kembali. Aku terduduk sambil menatap lantai, tak
berani melihat wajah mereka berdua. Di seberangku, Dicky dan Anna duduk
berjejer.

Dicky berkata, ”Gus, tolonglah kami. Ini permintaan khusus Anna. Sebagai
sahabat lamanya, kuharap kau tidak keberatan. Sekali lagi aku minta maaf. Kami
sudah konsultasi dan berobat ke dokter agar Anna hamil. Ternyata bibitku tidak
mampu membuahinya. Padahal kami saling mencintai, aku amat mencintainya,
dia juga begitu terhadapku. Kami tidak mau cerai hanya oleh karena aku tidak
bisa menghamilinya. Kami tidak mau mengangkat anak. Setelah kami bicara hati
ke hati, kami sepakat meminta bantuanmu agar ia dapat hamil. Kami mau agar
anak yang ada di dalam rumah tangga kami berasal dari rahimnya, walaupun
bukan dari bibitku. Aku senang jika kau mau menolong kami.”
Aku tidak menjawab. Kucoba menatap mereka bergantian.
Kemudian Anna menambahkan kalimat suaminya, ”Aku tahu ini berat buatmu.
Jika aku bisa hamil olehmu, anak itu akan menjadi anak kami. Kami minta
kerelaanmu,Gus. Demi persahabatan kita. Please!” katanya memohon dengan
wajah mengiba dan kulihat air matanya menetes di pipinya.
”Tapi, bagaimana dengan perasaan suamimu, An? Kau tidak apa-apa Dick?”
tanyaku sambil menatap wajah mereka bergantian.
Keduanya menggelengkan kepala dan hampir serempak menjawab, ”Tidak apaapa.”
”Aku pernah cerita pada suamiku, bahwa dulu kau pernah punya hati padaku,
tapi kutolak karena tidak mau diganggu urusan cinta” papar Anna lagi.
”Ya Gus, Anna sudah ceritakan persahabatan kalian dulu. Aku dengar darinya,
kau bukan orang yang suka jajan dan sejak dulu kau tidak nakal terhadap
perempuan. Kami yakin kau bersih, tidak punya penyakit kelamin. Makanya kami
sepakat menentukan dirimu sebagai ayah dari anak kami” tambah suaminya.
”Bagaimana Gus, kau setuju? Kau rela? Tolonglah kami ya!” pintanya mengiba.
Aku tidak menjawab. Hatiku tergetar. Tak menduga ada permintaan gila
semacam ini dari sepasang suami istri yang salah satunya adalah sahabatku
dulu. Namun di hati kecilku timbul keinginan untuk menolong mereka, meskipun
di sisi lain hatiku, merasakan getar-getar cinta lama yang pernah timbul
terhadap Anna.
”Gus, kau mau kan?” tanya Anna sambil berjalan ke arahku.
”Baiklah, asal kalian tidak menyesal dan jangan salahkan jika aku jadi benarbenar suka pada Anna nanti” jawabku tanpa berani menatap muka mereka.
”Tak apa, Gus. Aku tak keberatan berbagi Anna denganmu. Aku tahu kau dulu
tulus mencintai dia, pasti kau takkan menyakiti dia. Sama seperti aku, tak
berniat menyakiti dirinya” kata Dicky lagi.
Anna lalu duduk di lengan kursi yang kududuki sambil memegang daguku dan
menengadahkan wajahku hingga wajah kami bersentuhan dan dengan lembut ia
mencium kedua kelopak mataku, turun ke hidung, pipi dan akhirnya bibirku ia

kecup lembut. Berbeda dengan ciumannya tadi, aku merasakan kenyamanan
yang luar biasa, sehingga kubalas lembut ciumannya. Aku hanyut dalam ciuman
yang memabukkan. Sekelebat kulihat Dicky mengamati kami sambil mengeluselus risleting celananya.
Anna mengajakku duduk ke sofa panjang, tempat Dicky berada. Kini ia diapit
olehku dan suaminya di sebelah kanannya. Kami berdua terus berciuman.
Adegan di video kulirik sekilas, suasana semakin panas sebab si perempuan bule
sudah disetubuhi oleh dua pria sekaligus, yang satu berada di bawah tubuhnya
dengan kontol menancap dalam toroknya, sedangkan kontol yang satu lagi
memasuki duburnya. Kedua kontol tersebut masuk keluar secara berirama
menambah keras rintihan dan jeritan nikmat si perempuan.
Kami bertiga terpengaruh oleh tayangan demikian, sambil melihat film tersebut,
aku terus menciumi wajah, bibir dan leher Anna, sementara suaminya sudah
membuka gaun Anna, turun hingga sebatas pinggulnya hingga terpampanglah
kini kedua teteknya yang sintal.
Desahan Anna semakin liar ketika lidahku menggelitiki lehernya yang jenjang
dan suaminya berganti memagut bibirnya. Bibir dan lidahku semakin turun
menuju celah-celah teteknya. Tangan kiriku meremas tetek kanannya sambil
bibirku melumat pentil tetek kirinya. Ia mengerang semakin kuat, ketika tangan
kiriku turun ke pinggulnya dan mengelus-elus pinggul dan pinggangnya.
Ciumanku semakin turun ke perutnya dan berhenti di pusarnya. Lama menciumi
dan menggelitiki pusarnya, membuatnya makin menggeliat tak menentu.
Suaminya kulihat berdiri dan membuka seluruh pakaiannya. Dicky kini dalam
keadaan bugil dan memberikan kontolnya untuk digelomoh Anna. Dengan
bernafsu, Anna mencium kepala kontol suaminya, batangnya dan akhirnya
memasuk-keluarkan kontol itu ke dalam mulutnya. Tangan kanannya memegang
batang kontol suaminya sambil bibir dan lidahnya terus melakukan aksinya.
Kulihat kontol suaminya agak panjang, lebih panjang dari punyaku, maklum
suaminya lebih tinggi daripada aku, cocoklah Anna mendapat suami tinggi sebab
tingginya 167 Cm, sama denganku.
Sambil terus memesrai kontol suaminya, Anna mengangkat sedikit pantat dan
pinggulnya seakan-akan memberikan kesempatan buatku melepaskan gaunnya
sama sekali. Secara alamiah, kedua tanganku bergerak menurunkan gaunnya
hingga ke lantai, sehingga tubuh Anna hanya tinggal ditutupi selembar kain
segitiga di bagian bawahnya. Tangan kiri Anna bergerak cepat melepaskan
celana dalamnya. Kini ia benar-benar telanjang, sama seperti suaminya. Anna
duduk kembali sambil menelan kontol suaminya, hingga pangkalnya. Ia sudah
benar-benar dalam keadaan puncak birahi.
Aku mengambil posisi berlutut di celah-celah paha Anna. Kuamati sela-sela paha
Anna. Toroknya dihiasi rambut-rambut jembut yang tipis, tapi teratur. Agaknya ia

rajin merawat toroknya, sebab rambut-rambut kemaluan itu dicukur pada bagian
labia, sehingga memperlihatkan belahan yang indah dengan itil yang tak kalah
menariknya. Kuarahkan jari-jariku memegang itilnya.
”Auuwww, aaahhh, enak Gus… terusin dong…” desisnya sambil menggeliatkan
pinggulnya dengan indah.
Aku tidak menjawab, tetapi malah mendekatkan wajahku ke pahanya dan
lidahku kujulurkan ke itilnya.
”Ooooohhhh, nikmatnyaaaaa…” desahnya sambil mempercepat gerakan
mulutnya terhadap kontol Dicky.
Kuciumi itilnya sambil sesekali melakuan gerakan menyedot. Itilnya sudah
tegang sebesar biji kacang hijau. Indah sekali bentuknya, apalagi ketika
kukuakkan labianya bagian atas itilnya. Kedua labianya kupegang dengan kedua
tanganku dan kubuka lebar-lebar lalu dengan lembut kujulurkan lidahku
menusuk ke dalam toroknya.
”Aaaaaahhhhhh… Gusssss… kau pintar banget!” rintihannya semakin meninggi.
Aku melakukan gerakan mencium, menjilat, menusuk, menyedot secara
bergantian, bahkan tak urung kuisap itil dan kedua labianya secara bergantian,
hingga erangan dan rintihannya semakin keras. Cairan birahinya mengalir
semakin banyak. Kusedot dan kumasukkan ke dalam mulutku. Gurih rasanya.
Kedua tangannya kini memegang belakang kepalaku dan menekankannya kuatkuat ke pahanya sambil menggeliat-geliat seksi. Semakin lama gerakannya
semakin kuat dan dengan suatu hentakan dahsyat, ia menekan dalam-dalam
toroknya ke wajahku. Agaknya ia sudah orgasme. Kurasakan aliran air
menyembur dari dalam toroknya. Rupa-rupanya cairan kawinnya bercampur
dengan air seninya. Anehnya, aku tidak merasa jijik, bahkan kuisap seluruhnya
dengan buas. Ia menolakkan kepalaku, mungkin merasa jengah karena kuisap
seluruh cairannya, tanpa mau menyisakan sedikit pun. Aku tidak mengikuti
perlakuannya, tapi terus menekan wajahku menjilati seluruh cairannya yang
menetes dan mengalir ke pahanya.
Aku masih bersimpuh di celah-celah paha Anna, ketika ia mendekatkan
wajahnya mencium bibirku.
”Makasih ya Gus, kamu pintar banget bikin aku puas!” katanya.
Kulihat Dicky terpengaruh atas orgasme istrinya, ia berdiri dan berkata, ”Ayo
sayang, aku belum dapet nih!”
”Aaahh, aku masih capek, tapi ya dech. Aku di bawah ya” sambutnya sambil
menelentangkan tubuh di sofa panjang tersebut.

Suaminya mengambil posisi di sela-sela paha Anna dan menggesek-gesekkan
kontolnya ke itil Anna. Anna kembali naik birahi atas perlakuan Dicky. Makin
lama Dicky memasukkan kontolnya semakin dalam ke dalam torok Anna. Anna
membalas dengan membuka lebar-lebar pahanya. Kedua kakinya dipentang dan
dipegang oleh kedua tangan suaminya. Anna lalu mengisyaratkan aku
mendekatinya. Aku jalan mendekati wajahnya. Ia lalu membuka celana
panjangku hingga melorot ke lantai. Celana dalamku pun dibukainya dengan
ganas dan kedua tangannya memegang kontolku. Sambil menyentuh kontolku,
perlahan-lahan ia dekatkan wajahnya ke arah pahaku dan menjilat kepala
kontolku.
”Ahhh, ssshhh, Ann… Nikmatnyaaaa” desahku sambil membuka bajuku.
Kini kami bertiga benar-benar seperti bayi yang baru lahir, telanjang bulat.
Anehnya, aku tidak merasa malu seperti mula-mula. Adegan yang hanya kulihat
dulu di blue film, kini benar-benar kualami dan kupraktekkan sendiri. Gila! Tapi
akal sehatku sudah dikalahkan. Entah oleh rasa suka pada Anna atau karena
hasrat liarku yang terpendam selama ini.
Anna semakin liar bergerak menikmati tusukan kontol suaminya sambil melumat
kontolku. Kedua tanganku tidak mau tinggal diam dan meremas-remas kedua
tetek Anna dengan pentilnya yang semakin mencuat bagaikan stupa candi.
Hunjaman kontol suaminya kulihat semakin hebat sebab Anna semakin kuat
menciumi dan menjilati bahkan menelan kontolku hingga masuk seluruhnya ke
dalam mulutnya. Kurasakan kepala kontolku menekan ujung tenggorokannya,
tapi Anna tidak peduli, air ludahnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal
lelah menelan kontolku. Bahkan ketika seluruh kontolku ia telan, lidahnya
mengait-ngait lubang kencingku, rasanya agak panas, tapi geli bercampur
nikmat. Aku ikut merintih tanpa kusadari. Kini desahan dan erangan kami bertiga
sudah melampaui adegan di film yang sudah tak kami hiraukan lagi.
Sekilas sempat kulihat adegan di video memperlihatkan pergantian adegan dari
adegan si perempuan bule berjongkok di atas pinggang si pria Amerika Latin
memasuk-keluarkan kontolnya sambil menggelomoh kontol si pria bule.
Kemudian si pria bule menempatkan diri di belakang si perempuan dan
memasukkan kontolnya ke dalam dubur si perempuan sambil kedua tangannya
meremas tetek si perempuan. Dari bahwa, si pria Amerika Latin menciumi bibir
si perempuan. Rintihan si perempuan bertambah kuat sewaktu kedua pria
tersebut mengeroyok torok dan duburnya dengan hebat. Erangannya berganti
dengan jeritan nikmat ketika kedua pria itu semakin kuat menghentakkan kontol
mereka dalam-dalam.
Terpengaruh oleh adegan tersebut, Dicky menancapkan kontolnya sedalamdalamnya ke torok istrinya. Tangan kiri Anna mengelus-elus itilnya sendiri
dengan kencang, sedang kontol suaminya masuk keluar semakin cepat. kontolku

disedot kuat-kuat oleh Anna dan gigitan gemasnya kurasakan pada batang
kontolku. Remasanku makin kuat di tetek Anna sambil sesekali kuciumi bibirnya.
”Ahhh, aku hampir sampai, An… Aaahhh torokmu enak benar!” rintih Dicky.
”Sabar sayang, aku juga hampir dapat. Sama-sama ya? Oooohhhh, akkhhhh…
enak benar tusukan kontolmu. Ayo sayang, yang dalam… aaauhhggghhhhh…
Ooouukhhhhh” rintih Anna semakin tinggi hingga tiba-tiba ia menjerit.
Jeritan Anna membahana memenuhi ruangan bagaikan raungan serigala, ketika
dengan hebatnya kontol suaminya menghunjam dengan cepat dan berhenti saat
orgasmenya pun menjelang. Kedua pahanya menjepit pinggul suaminya sedang
mulutnya menelan kontolku hingga ujungnya kurasakan menekan tekak
tenggorokannya. Kuperhatikan tubuh Anna yang indah bergetar-getar beberapa
saat, apalagi di bagian pahanya.
Suaminya menghempaskan tubuh di atas tubuh Anna, sementara kedua tangan
Anna memeluk tubuh suaminya. Aku melepaskan diri dari Anna dan mengambil
tempat duduk sambil mengamati mereka berpelukan sambil bertindihan.
Kulihat adegan film hampir habis. Berarti kami bertiga main satu setengah jam,
sebab tayangan film tadi kulihat berdurasi dua jam, sedangkan waktu kami
bercakap-cakap bertiga tadi, permainan film baru berlangsung setengah jam.
”Luar biasa daya tahan Anna” pikirku.
Kudengar Anna berkata dari balik himpitan tubuh suaminya, ”Ntar giliranmu ya
Gus. Kasihan kamu belum apa-apa, padahal aku dan suamiku sudah dapat!”
”Nggak apa-apa An. Santai aja. Aku kan cuma pelengkap penderita” candaku.
”Jangan gitu dong say” Anna menolakkan tubuh suaminya dan berdiri lalu
mendekatiku.
”Kamu kan orang penting, makanya kamu yang kami minta menemani saat
istimewaku malam ini” katanya sambil mencium bibirku lembut sambil
melingkarkan kedua tangannya ke leherku.
”Mas, kita main di kamar aja yuk, biar lebih enak” pinta Anna pada suaminya.
Suaminya hanya mengangguk dan mematikan video lalu bergerak mengikuti
istrinya ke arah kamar mereka. Aku masih duduk.
Anna berhenti melangkah dan mengajakku, ”Ayo dong Gus, kita di kamar aja, di
sini kurang leluasa”
Aku berdiri dan mengikuti mereka.
Kamar tidur mereka cukup luas, kira-kira 5 X 6 meter. Ranjang yang terletak di
tepi salah satu sisi ruangan berukuran besar. Hawa sejuk AC menerpa ketika

kami bertiga bagaikan anak-anak kecil, bertelanjang badan, beriringan masuk
kamar.
Anna langsung merebahkan tubuhnya di tengah ranjang. Suaminya mengikuti
sambil melabuhkan ciuman. Aku masih berdiri memandangi mereka, ketika
tangan Anna mengisyaratkanku agar mendekati mereka. Aku mengikuti
ajakannya dan duduk di sisi lain tubuhnya sambil mengelus-elus lengan dan
perutnya. Tangan Anna menarik pergelangan tanganku agar mengelus dan
meremas teteknya. Tanganku mulai beroperasi di bagian dadanya dan
memainkan pentilnya yang kembali mengeras akibat sentuhan jari-jariku.
Kupilin-pilin pentilnya dengan lembut dan kudekatkan mukaku ke dadanya.
Lidahku kujulurkan menjilati pentil teteknya. Lama kugelitik pentilnya, setelah itu
kumasukkan pentilnya ke dalam mulutku sambil melakukan gerakan menyedot.
Saking gemasnya, kusedot juga teteknya yang tidak begitu besar, tetapi masih
kenyal karena belum pernah menyusui bayi.
”Ooogghh, ya, yahh, gitu Gus, enak tuch…” desisnya sambil menyambut ciuman
suaminya.
Kedua teteknya kuremas sambil terus mengisap, memilin, menyedot pentilnya
dengan gerakan bervariasi, kadang-kadang lembut, kadang ganas, hingga Anna
menggeliat-geliat dilanda birahi. Kuteruskan penjelajahan bibirku ke arah
perutnya dan turun ke rambut-rambut jembutnya yang halus di atas celah
pahanya yang putih. Kembali lidahku bermain di itilnya dan celah-celah toroknya
yang mulai basah lagi. Ludahku bercampur dengan lendir kawinnya yang harum.
Ciumanku semakin buas turun ke celah-celah antara torok dan duburnya. Ketika
mendekati duburnya, lidahku kuruncingkan dan kugunakan mengait-ngait celahcelah duburnya.
”Owww, apa yang kau lakukan Gus? Koq enak banget sich?” jeritnya sambil
menaikkan pinggulnya akibat perlakuan lidahku pada duburnya.
”Tenang sayang, nikmati saja” kataku sambil menciumi duburnya dengan bibirku
dan menggunakan jari telunjuk kananku untuk memasuki duburnya.
”Sssshhh, aaahhhh, terusin Gus! Yahhhh enakkkkk” desahnya.
Dicky sudah menciumi tetek Anna dalam posisi terbalik, di mana dadanya
diberikan untuk diraba dan diciumi oleh istrinya juga. Mereka berdua mendesah,
tetapi kupastikan yang paling dilanda hasrat menggelora adalah Anna, sebab
bagian bawah tubuhnya kuciumi habis-habisan, hingga semakin becek toroknya
akibat bibir dan lidahku yang tak berhenti melakukan aksinya.
”Sudah, sudah Gus. Ayo, sekarang giliran kamu!” katanya sambil tangannya
menarik rambutku perlahan agar menghentikan aksiku pada torok dan
duburnya.
Lalu ia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar sehingga menampakkan
toroknya yang merona merah jambu dengan sangat indahnya. Rambut-rambut

jembut halus di atas itil dan toroknya memberikan nuansa romantis yang tak
terlukiskan. Tubuh Anna benar-benar bagaikan pualam. Geliatnya begitu erotis,
membuat pria manapun takkan mampu menguasai diri untuk tidak
menyetubuhinya dalam keadaan begitu rupa.
”Ayo sayang, jangan ragu-ragu membagikan cintamu padaku” rayu Anna sambil
terus menciumi dada suaminya yang ada di atas tubuhnya, sedang dadanya
masih berada dalam kuluman Dicky, suaminya.
Aku berlutut di antara kedua pahanya dan kontolku kutaruh pelan-pelan
menyentuh itilnya. Ia menggelinjang-gelinjang antara geli dan nikmat.
”Ooouggghh, jangan siksa aku dong, masukkan sayangggg!” erangnya.
Aku tidak mengikuti permintaannya, melainkan terus memainkan kontolku
menggesek itilnya hingga kurasakan semakin tegang ditekan oleh kepala
kontolku. Dengan tangan kananku, kupegang pangkal kontolku dan kusentuhkan
juga ke labia toroknya bergantian, kiri dan kanan, lalu sesekali mengusap celahcelah toroknya dengan kepala kontol dari arah itilnya ke bawah.
”Ssshhh, ooohhhh, enak banget sayang… Ayo dong, aku nggak tahan nichhh…
Masukin kontolmu Gussss……” Anna memohon.
Tak tahan mendengar permintaannya, kujejalkan kepala kontol ke celah-celah
toroknya, tapi tidak semuanya kumasukkan. Tangan kananku masih kupakai
untuk menggerakkan kontolku merangsek masuk dan menjelajahi dindingdinding toroknya, kanan dan kiri. Ia menaik-turunkan pinggulnya menyambut
masuknya kontolku.
”Ohhhh, nikmaatttt…” desisnya.
Suaminya memandang ke arahku sambil tersenyum. Kini ia berlutut di sebelah
kanan kepala Anna dan memberikan kontolnya untuk dikulum isterinya.
Dengan lembut kumasukkan kontolku makin dalam, perlahan-lahan hingga
kontolku masuk sebatas pangkalnya.
”Aaaahhh……” erang Anna lagi.
Kedua tangan Anna menarik tubuhku menindih badannya. Ia melakukan hal itu
sambil tetap mengulum kontol suaminya.
Gerakanku menaik turunkan tubuh di atas Anna berlangsung dengan ritme
pelan, tetapi kadang-kadang kuselingi dengan gerakan cepat dan dalam.
Berulang-ulang Anna merintih, ”Gila Gus, enak banget kontolmu!
Oooouugghhhh… yahh… aaahhh… sedappppp!”

Pinggulnya sesekali naik menyambut masuknya kontolku. Semakin lama gerakan
pinggulnya makin tak menentu.
Gerakanku makin cepat dan kuat. Desahannya makin kuat mengarah pada
jeritan. Dengan beberapa kali hentakan, kubuat Anna bergetar semakin tinggi
menggapai puncak kenikmatan.
”Gusss, terusin… Aaaahhhh, aku dapet lagi, oooouuggghhh!” ia menggeram
sambil mengangkat pinggulnya menyambut tekanan kontolku yang
kuhunjamkan dalam-dalam ke memeknya.
Jari-jari tangannya memeluk punggungku dengan erat, bahkan cengkeraman
kukunya begitu kuat, terasa sakit menghunjam kulitku, tetapi perasaan itu
bercampur dengan kenikmatan luar biasa. Kurasakan guyuran cairan kawinnya
membasahi kontolku sedemikian rupa dan dinding toroknya berkejat-kejat
memijat batang kontolku, hingga tak kuasa kubendung luapan pejuku memasuki
rongga toroknya.
”Anna!!!! Ogggghhh, enak banget, sayang!” desahku sambil memeluk erat-erat
tubuhnya dan menciumi bibirnya rapat-rapat.
Anna menyambut ciumanku. Kurasakan bibir kami berdua agak dingin, sebab
aliran darah kami seakan-akan terdesak ke bagian bawah. Kedua belah pahanya
menjepit kedua pahaku dengan kuatnya dan jepitan memeknya seolah-olah
ingin mematahkan batang kontolku. Dinding toroknya masih berdenyut-denyut
memilin kontolku. Tak terkatakan nikmatnya.
Suaminya tahu diri dan menarik tubuh menyaksikan permainan kami berdua.
Lama kami berpelukan dalam posisi berdekapan. Ia tidak mau melepaskan
tubuhku. Denyutan toroknya masih terus terasa memijat-mijat batang kontolku,
hingga perasaanku begitu nyaman dan damai dalam pelukannya. Beberapa kali
ingin kutarik tubuhku, tapi ia tidak mengijinkan tubuhku meninggalkan
tubuhnya. Ia hanya membolehkan tubuhku miring ke kanan, hingga ia pun
miring ke kiri. Dengan masih berpelukan dalam keadaan miring, mulutnya masih
terus menciumi mulutku. Bibir kami berpagutan dan lidahnya masuk rongga
mulutku menggapai langit-langit mulutku. Kulakukan hal yang sama bergantian
dengannya. Beberapa saat kemudian kurasakan cairan kenikmatan kami
mengalir di sela-sela pahaku, juga kuperhatikan menetesi pahanya.
kontolku mengecil setelah melakukan tugasku untuk ‘mengawininya’ dengan
baik. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan berbaring di sebelah sebelah kiri
tubuhnya. Suaminya menempatkan diri berbaring di sebelah kanannya. Anna
kini diapit oleh dua pria. Aku menatap langit-langit kamar mereka sambil
merenung, betapa gilanya kami bertiga melakukan ini. Aku tak tahu apa yang
ada di benak mereka berdua. Elusan jari-jari Anna di tubuhku membuatku tak

habis pikir, betapa dahsyat permainan seks perempuan ini. Ia memiliki kekuatan
melawan dua pria sekaligus.
Ia mencium bibir suaminya sambil berbisik, ”Mas Dicky, makasih ya atas hadiah
ulang tahunnya!”
Lalu ia juga mencium bibirku, menatap dengan mata berkaca-kaca dan berkata,
”Gus, trims buat kadomu. Kami benar-benar berterima kasih padamu.”
Aku tak menjawab, merasa bodoh, tetapi haru menyambut ciumannya disertai
tetesan air yang turun ke pipinya. Aku mengusap air matanya sambil memagut
bibirnya lembut. Lama kami melakukan hal itu dan kembali berbaring. Anna
bangun dan mengambil handuk kecil untuk melap toroknya yang basah oleh
cairan kawin kami berdua. Lalu ia kembali berbaring di antara suaminya dan aku.
Suaminya membelai-belai tetek Anna dan memberi tanda agar Anna menaiki
tubuhnya. Rupanya suaminya minta dilayani lagi. Anna lalu menempatkan diri di
atas tubuh suaminya. Mula-mula ia berjongkok di atas pinggang suaminya dan
memasukkan kontol suaminya dengan dibantu oleh tangan kanannya. Setelah
kontol tersebut masuk, perlahan-lahan ia menaik-turunkan tubuhnya di atas
tubuh suaminya. Suaminya menyambut gerakan Anna sambil meremas-remas
teteknya.
Beberapa saat kemudian Anna merebahkan tubuhnya di atas tubuh suaminya.
Gerakan mereka makin kuat. Sesekali pantat suaminya terangkat ke atas,
sedang Anna menurunkan tubuhnya dan menekan kuat-kuat hingga kontol
suaminya menancap dalam-dalam. Aku beringsut menuju bagian bawah tubuh
mereka dan memperhatikan bagaimana kontol suaminya masuk keluar torok
Anna.
Kudengar suara suaminya, ”Ann, duburmu kan nganggur tuch. Gimana kalau
dimasuki kontol Agus seperti yang pernah kulakukan?”
Kudengar suara Anna, ”Ya Mas, aku baru mau usul begitu. Tahu nich, kalian
berdua begitu pandai memuaskan aku. Ayo Gus, tusuk duburku dong!” pintanya
memohon.
Aku heran juga atas kelakuan suami istri ini, tetapi kupikir mungkin karena Anna
pernah di luar negeri, hal-hal begini tidak aneh lagi buatnya. Bagiku memang
pengalaman baru. Main dengan perempuan beberapa kali pernah kulakukan,
tapi main bertiga begini apalagi mengeroyok torok dan dubur sekaligus, ini
benar-benar pengalaman luar biasa bagiku.
Kuamati kemaluan kedua suami istri itu. Perlahan-lahan kuelus-elus torok Anna
yang basah oleh lendir birahinya. Jari-jariku kemudian mengarah ke duburnya.
Dengan lendir kawinnya kubasahi lubang duburnya. Telunjuk jari kananku
kumasukkan pelan-pelan ke dalam duburnya.

”Yaaah gitu Gus, enak tuch… Lebih dalam lagi!!! Ayoooo!!!!” desahnya dengan
suara yang serak-serak basah karena dilanda nafsu.
Jariku masuk makin dalam ke duburnya membuat gerakan tubuhnya semakin tak
menentu. Dengan toroknya dirojok kontol suaminya dan jariku memasuki
duburnya, Anna berkayuh menuju pulau kenikmatan.
”Gusss, jangan cuman jarimu dong, sayang! Sekarang masukin kontolmu…
Ayooo dong!!!” pintanya.
Kedua paha Anna berada di bagian luar paha suaminya, membuka lebar-lebar
celah toroknya bagi masuknya kontol suaminya. Kutempatkan kedua pahaku
menjepit paha Anna. Kepala kontol kubalur dengan air ludahku dan kumasukkan
perlahan-lahan ke dalam dubur Anna. Mula-mula agak susah, sebab sempit,
tetapi mungkin karena mereka sudah pernah melakukan hal itu, tak terlalu
masalah bagi kontolku untuk melakukan eksplorasi ke dalam duburnya.
”Sssshhhh, ohhhh enak banget Gusssss! Terusin yang lebih dalam sayang!”
rintihnya.
Aku bergerak makin leluasa memasuk-keluarkan kontolku ke dalam duburnya.
Sedang dari bawah, kontol suaminya masuk keluar toroknya. Anna berada di
antara tubuh suaminya dan aku, melayani kami berdua sekaligus mengayuh
biduk kenikmatan tak terperikan. Gerakan suaminya makin kuat, mungkin tak
lama lagi ia akan orgasme. Anna pun semakin liar menggerakkan pinggul dan
pinggangnya, apalagi dari bawah, suaminya menetek pada teteknya secara
bergantian. Jeritan Anna yang begitu kuat seperti tadi kembali memenuhi
ruangan kamar itu. Namun agaknya tak masalah bagi mereka, sebab rumah
mereka begitu besar dan dengan konstruksi yang begitu bagus, suara rintihan
dan jeritan kami dari dalam kamar tersebut takkan terdengar keluar.
Kedua tangan Anna memeluk tubuh suaminya erat-erat sambil menekan
tubuhnya kuat-kuat hingga kupastikan kontol suaminya telah masuk sampai
pangkalnya, sedangkan kontolku kugerakkan berirama ke dalam duburnya.
”Gus, lagi Gus, yang kuat!!” pinta Anna.
Kedua pundak Anna kupegang kuat sambil menghentakkan kontol sedalamdalamnya ke dalam duburnya. Aneh, kupikir ia akan kesakitan diserang demikian
rupa pada duburnya, ternyata sebaliknya, ia malah merasakan kenikmatan luar
biasa menyertai kenikmatan hunjaman kontol suaminya.
Kami bertiga secara cepat melakukan gerakan menekan. Suaminya dari bawah,
Anna di atasnya menekan ke bawah, aku dari atas tubuh Anna menekan dalamdalam kontolku ke dalam dubur Anna.

”Massss, oooouggghhhh Gussss… aku dapet lagi! Ouuuggghhhhhhhhhhhh……..
sssshhhhhh…… akkkkhhhhh” jerit Anna.
Kurasakan betapa jepitan duburnya begitu kuat, sama seperti toroknya tadi,
menjepit kontolku. Denyut kenikmatan kurasakan begitu hebat.
Tak berapa lama, Anna memintaku melepaskan diri dari suaminya. Ia lalu
berlutut tepat di depanku. Semula aku tak mengerti maksudnya. Kuelus-elus
punggung, pinggul dan teteknya dari belakang tubuhnya. Tangan kanannya ia
mencari kontolku dan mengarahkan kontolku ke duburnya lagi.
”Wah, masih mau lagi dia?” kataku dalam hati.
kontolku kembali memasuki duburnya dalam posisi kami berdua berlutut. Lalu ia
mengisyaratkan aku merebahkan tubuh ke belakang. Aku turuti permintaannya
dan dengan kontol tetap berada di dalam duburnya, aku berbaring terlentang
sedang Anna kini ada di atasku dalam posisi sama-sama terlentang. Ia
mengambil inisiatif bergerak menaik turunkan tubuhnya hingga kontolku masuk
keluar dengan bebasnya ke dalam duburnya. Dari atas sana kuamati suaminya
bangkit mendekati kami berdua dan kembali mengarahkan kontolnya ke torok
Anna. Kini gantian aku yang berada di bawah, Anna di tengah, dan suaminya di
atas Anna.
Desahan, rintihan dan jeritan kami silih-berganti dan kadang-kadang bersamaan
keluar dari bibir kami bertiga. Tanganku kumainkan meremas-remas tetek Anna
dari bawah.
Beberapa saat kemudian, di bawah sana, suaminya berteriak, ”Ayo sayang, aku
mau keluar nih!!!!”
”Tunggu sayang” kata Anna.
Dan tiba-tiba ia bangkit hingga kontolku terlepas dari duburnya. Dengan cepat ia
tolakkan tubuh suaminya, hingga jatuh terbaring, lalu ia berlutut di antara paha
suaminya dan menggenggam kontol suaminya sambil memasuk-keluarkan
kontol itu ke dalam mulutnya. Cairan peju suaminya muncrat mengenai wajah
dan mulut Anna, tetapi ia tidak jijik menjilati cairan kenikmatan yang keluar itu.
Kuperhatikan ulah Anna terhadap kontol suaminya. kontolku masih tegang
menanti giliran berikut.
Anna menoleh ke arahku sambil berkata, ”Gus, masih mau lagi, kan? Ayo,
sayang!”
Ia kemudian menungging di depan tubuhku sambil terus menjilati kontol
suaminya yang semakin lemas. Kutempatkan tubuh di belakang Anna lalu
kumasukkan kembali kontol ke dalam duburnya.

”Gus, ganti-gantian dong masukin kontolmu, jangan hanya duburku. Bergantian
torokku juga sayang!” katanya.
”Wah, hebat benar Anna, masih juga ada permintaannya yang begini rupa?”
pikirku.
Kucabut kontolku dari duburnya dan kumasukkan ke dalam toroknya yang
merah merekah. Lendir kawinnya masih banyak tapi kontolku tetap dijepit kuat
sewaktu memasuki toroknya. Usai memasukkan kontol ke toroknya dalam 2-3
kali hunjaman, kucabut lagi dan ganti duburnya kutusuk 2-3 kali. Begitu
seterusnya, hingga kudengar kembali ia menjerit pertanda akan orgasme lagi.
”Aaaaggghhh, nikmatnyaaahhhhh…… Gussss!!!! Ooooogggghhhh……” jeritnya
kuat sekali.
Jepitan toroknya begitu luar biasa saat jeritannya terdengar, hingga tak bisa lagi
kutahan aliran pejuku kembali memasuki kepala kontolku dan keluar tanpa
tedeng aling-aling.
”Aaaahhh, Annn… nikmat sekali sayang!” erangku sambil memeluk tubuhnya
dari belakang dan meremas-remas kedua teteknya.
Tubuhku masih menghimpit tubuhnya dari belakang, sedangkan Anna masih
terus menciumi dan menjilati kontol suaminya. Tak bosan-bosannya ia
melakukan itu. Benar-benar pemain seks yang hebat!
Kami bertiga berbaring lunglai dalam keadaan telanjang bulat di ranjang
berukuran king size itu. Sprey ranjang sudah kusut dan di sana-sini lelehan
cairan kenikmatan kami bertiga bertebaran. Aku benar-benar lelah dan ngantuk
hingga tertidur.
Lewat tengah malam, kurasakan jilatan lidah pada kontolku. Dengan mata berat,
kutoleh ke bawah, kulihat Anna sudah menciumi dan menjilati kontolku kembali.
Di sebelahku suaminya tertidur nyenyak. kontolku yang lemas, kembali tegang
karena perlakuan lidah dan mulut Anna. Melihat keadaan itu, Anna senang dan
mengajakku main lagi.
Anna menempatkan pinggulnya di tepi ranjang, kedua kakinya berjuntai ke
bawah hingga terpampanglah belahan toroknya yang merekah. Entah sudah
berapa kali tusukan suaminya dan aku telah dialami torok ini, tetapi seakan tak
kenal lelah dan memiki kemampuan ‘tempur’ yang dahsyat. Sambil
menempatkan diri di depannya, kontolku kuarahkan kembali memasuki
toroknya. Anna yang berbaring kembali merintih saat kontol kumainkan di itil
dan toroknya. Geliat pinggulnya begitu erotis menyambut hunjaman kontolku.
Gerakan kami berdua semakin cepat, hingga akhirnya tubuhku ia tarik kuat-kuat
menjatuhi tubuhnya. kontolku masuk sedalam-dalamnya menikmati remasan

dinding toroknya. Aku belum dapat lagi, sehingga kontolku masih tetap tegang.
Kami berdua masih berpelukan dalam posisi tersebut.
Anna berbisik di telingaku, ”Gus, lihat nggak tadi. Suamiku bisa main beberapa
ronde, padahal biasanya satu ronde saja ia sudah menyerah. Mungkin karena
ada teman mainnya, jadi semangat dia.”
Aku tidak menjawab.
Ia melanjutkan, ”Ngomong-ngomong kontolmu koq kuat banget sih, main
beberapa ronde, koq kuat betul? Kau suka minum obat kuat ya? Atau kau sudah
pengalaman main sama perempuan nich?” desaknya.
”Ah, aku bisa kuat gini kan karena Anna. Abis kamu dulu tolak cintaku sih”
jawabku.
”Tapi sekarang kamu bisa menikmati tubuhku juga walau aku sudah bersuami,
kan?” rajuknya.
”Iya, tapi bagaimanapun Dicky masih suami kamu? Kamu bukan nyonya Agus,
kan?” balasku.
”Sudahlah, yang penting hatiku dan tubuhku bisa kau miliki juga di samping
suamiku” katanya menutup pembicaraan kami, sambil menciumi bibirku lagi.
Aku terdiam dan bangkit berdiri.
”Mau ke mana, Gus?” tanyanya melihatku berjalan keluar kamar.
”Aku mau duduk di luar dulu” kataku sambil melangkah keluar.
Aku memungut celana dalamku dan duduk di ruang tempat kami nonton video
tadi. Beberapa saat kemudian kulihat Anna menyusulku, masih dalam keadaan
telanjang bulat. Ia duduk di sebelahku.
”Ada apa, Gus? Kamu tersinggung atas kata-kataku tadi?” tanyanya.
”Nggak An. Aku cuma tak habis pikir, koq bisa-bisanya aku melakukan hal ini
pada kamu yang sudah bersuami dan suamimu mengijinkan” kataku sambil
menatap wajahnya.
”Gus, hidup ini memang penuh misteri” katanya berfilsafat.
”Yang penting, kita menjalaninya dengan tenang dan damai. Bahkan kamu dapat
pahala dengan memberikan kebahagiaan buatku dan suamiku. Atau kamu
nyesel atas kejadian ini” desaknya sambil membelai wajahku.
”Tidak sayang, aku tidak menyesal. Yang kupikirkan bagaimana jika aku tak
mampu melepaskan diri darimu sebab dulu pernah mencintaimu” kataku sambil
menciumi rambutnya.
Anna merebahkan kepalanya di pangkuanku dan jari-jarinya bermain lembut di
pahaku, bisiknya, ”Aku hanya menjalani hidup ini Gus. Suamiku tahu kalau aku
benar-benar ingin punya anak, tapi ia tidak bisa menghamiliku. Kami sudah lama

membicarakan dirimu dan menimbang segalanya. Aku, kelak kau menikah
dengan gadis baik, yang bisa memberikanmu kebahagiaan seutuhnya.”
Jari-jarinya terus menelusuri setiap inci pahaku hingga kurasakan kontolku
kembali menegang.
”An, aku mau tanya satu hal. Kuharap kau tidak tersinggung” kataku.
”Koq kau begitu ahli main, sampai main anal segala?” tanyaku.
”Oh itu. Kamu tidak usah curiga. Jenuh menunggu anak tidak kunjung ada, kami
berdua suka mencoba-coba berbagai posisi. Tadinya sih atas anjuran dokter,
mana tahu bisa jadi. Lama-lama setelah suamiku mau periksa ke dokter, baru
ketahuan kalau bibitnya lemah, sehingga tak bisa membuahi rahimku. Tapi kami
sudah telanjur suka posisi macem-macem. Begitulah ceritanya Gus!” katanya.
Aku tidak menanggapi kalimatnya dengan kata-kata, tetapi mengangkat
dagunya dan mencium bibirnya. Ciuman membara yang kembali terjadi di antara
kami membuat kami berdua kembali hanyut dalam gelora asmara. Jari-jarinya
bermain di dadaku sedangkan jari-jariku membelai tubuhnya. Ia berlutut ia
antara pahaku dan kembali mencium dan menjilati kontolku sehingga mencapai
ketegangan puncak.
”Gimana Gus, kamu mau main lagi kan?” tanyanya sambil memandang wajahku.
”Ya sayang, tapi kamu tidak capek?” tanyaku kembali.
”Nggak Gus, demi kamu, aku mau lagi” jawabnya.
Anna berbaring di sofa panjang dan ketika aku akan menindihnya dari atas ia
melarangku.
”Kenapa, An?” tanyaku tak mengerti.
”Ntar dulu, kita coba posisi ini. Kau pasti suka deh!” katanya.
Ia turun dari sofa ke karpet di bawah, lalu ia tarik kedua kakinya ke arah
kepalanya, kedua tangannya menahan belakang lututnya hingga kembali
toroknya terpampang lebar-lebar menantikan kedatangan kontolku. Aku
memasukkan kontol ke dalam toroknya sambil menikmati posisi tersebut. Sambil
memasuk-keluarkan kontolku ke dalam toroknya, kuamati Anna semakin
menarik bagian bawah tubuhnya ke atas sedemikian rupa hingga pinggulnya
agak terangkat. Aku mulai paham maksudnya. Dengan posisi berlutut, aku
memasukkan kontolku ke toroknya. Hunjaman kontol agak berat kurasa dengan
posisi itu, tetapi nikmatnya tak terkatakan.
Beberapa saat kami mempertahankan posisi itu, lalu ia berkata, ”Gus, pegang
tanganku.”
Kutarik kedua tangannya dan tubuhnya melekat erat di tubuhku hingga teteknya
begitu terasa kenyal menghimpit dadaku.
”Gus, kamu kuat nggak jika berdiri sekarang?” bisiknya pelan di telingaku.

Aku tidak menjawab, tapi berusaha berdiri sambil menapakkan kedua tanganku
di belakang tubuh. Akhirnya kami berdua berdiri dengan posisi saling menempel.
Tiba-tiba kedua kakinya ia angkat tinggi dan memeluk kedua pahaku. Untungnya
tubuh Anna langsing, sehingga aku kuat dibebani oleh tubuhnya dengan cara
demikian. Sambil memeluk leherku erat-erat, ia menaik-turunkan tubuhnya
hingga torokanya turun naik di atas kontolku. Kupegang erat kedua bongkah
pantatnya sambil menghunjamkan kontol ke dalam toroknya.
”Gus, jalan yuk” bisiknya lagi.
Aku menurut saja kata-katanya. Kulangkahkan kaki selangkah demi selangkah
mengitari ruangan itu sambil menikmati naik-turunnya tubuh Anna menghunjam
kontolku. Baru kuingat, inilah yang disebut dalam kamasutra sebagai posisi
monyet menggendong anaknya.
Kami melakukan hal itu agak lama dan kemudian ia berkata, ”Gus, aku udah
mau dapet lagi. Turunkan aku dong!”
Kuturunkan tubuhnya dan ia mengambil posisi berlutut menghadap sofa sambil
memintaku memasuki tubuhnya dari belakang. Kuarahkan kontol ke toroknya
lalu memaju-mundurkan tubuhku sambil meremas-remas kedua teteknya dari
belakang. Erangan Anna semakin kuat ketika hunjaman kontolku semakin cepat
masuk-keluar toroknya. Aku tidak ingat sudah berapa lama kami melakukan itu,
ketika tiba-tiba kurasakan dinding toroknya kembali berdenyut-denyut tanda
akan orgasme lagi.
”Guuuussss… Aaaauuuukhhhhhh nikmatnya sayanggggg!!!” jeritnya sambil
menghempaskan pantatnya kuat-kuat ke arah pahaku.
Cairan toroknya begitu banyak kurasakan.
”Ann, koq banyak banget cairanmu?” tanyaku heran.
Masih dengan napas tersengal-sengal, ia menjawab, ”Gus, akh, eeeh… aku
kadang-kadang bisa orgasme sambil keluar pipis. Kalau benar-benar birahi, itu
yang kualami. Dengan Dicky kejadian begini amat jarang, tapi denganmu koq
bisa begitu mudah kurasakan? Maaf ya Gus, jadi becek gini” katanya.
”Kamu jadi nggak bisa orgasme dengan beceknya torokku. Pake duburku lagi
dech” lanjutnya.
Kutempatkan tubuhnya di sofa dan kuangkat kedua kakinya ke atas sambil
mengarahkan kontol ke duburnya yang basah akibat tetesan cairannya. Kepala
kontolku masuk sedikit demi sedikit. Kumasukkan hingga leher kontolku. Pada
tahap itu, kukeluarkan lagi kontolku. Demikian seterusnya masuk keluar.

Ia merengek, ”Gus, masukkan lebih dalam dong! Jangan siksa aku, aku jadi mau
dapat lagi nih karena kepandaian kamu main!”
Kutekan kontolku masuk keluar makin dalam ke duburnya, sementara kedua
tanganku menahan kedua kakinya yang terpentang lebar-lebar. Jari-jari tangan
kanannya menampar-nampar labia toroknya dan sesekali memilin-milin itilnya,
sedangkan tangan kirinya meremas-remas kedua teteknya bergantian.
”Kasihan juga perempuan ini, andaikan suaminya bangun, ia sudah bisa
membantu meremas tetek dan menyentuh toroknya” pikirku.
Kami berdua semakin cepat melakukan gerakan, geliat pinggulnya begitu seksi
ketika hunjaman kontolku semakin cepat ke dalam duburnya. Dengan suatu
sentakan kuat, kumasuki liang duburnya sedalam-dalamnya dan kunikmati
denyutan duburnya yang begitu kuat hingga kurasakan seakan-akan pejuku
tertahan akibat jepitan hebatnya.
Aku merasa tersiksa atas keadaan itu, dan dengan cepat kucabut kontolku tanpa
menghiraukan protesnya, ”Ada apa, Gus? Keluarin aja di situ!”
Cairan pejuku hampir saja muncrat di luar tubuhnya, karena aku sudah
mencapai puncak kenikmatan. Kulihat toroknya masih membuka lebar,
kupentang kedua pahanya dan kembali kontol kubenamkan dalam-dalam
memasuki rongga toroknya. Denyutan toroknya masih terasa begitu kencang
tetapi karena begitu banyak cairannya, jepitannya tak sekencang duburnya.
Sambil mengerang kuhunjamkan kontolku sedalam-dalamnya.
”Guuusss, gila kamuuuuu… enak banget sihhhhhh?” jeritnya sambil memeluk
pinggangku kuat-kuat dan merasakan kukunya lagi-lagi menancap di bagian
belakang tubuhku.
Tak terasa kami berdua main dua ronde lagi di ruang keluarga itu. Dan tertidur
dalam keadaan berpelukan dengan bertelanjang bulat di karpet. Kami baru
terbangun ketika merasakan silau cahaya matahari memasuki celah-celah
gordyn ruangan itu. Anna terbangun, hingga membuatku juga ikut terbangun.
Kami berdua berdiri sambil berciuman lagi. Sambil menggandeng tanganku,
Anna mengajakku menuju kamar tidur mereka dan kami menyaksikan suaminya
masih tidur nyenyak. Anna mengajakku mandi berdua di kamar mandi di kamar
mereka. Kami berdua mandi di bathtub saling menyabuni tubuh dan kembali
bersenggama satu ronde di dalam air. Luar biasa. Entah sudah berapa kali
orgasme yang Anna nikmati. Ketika kami keluar dari kamar mandi, suaminya
masih tidur, sampai Anna membangunkannya dengan ciuman lembut. Setelah
suaminya mandi, kami sarapan bertiga.
Suaminya minta maaf karena begitu nyenyak tidur. Anna menukas, ”Nggak apaapa koq Mas. Agus maklum dan ia bisa melayani permintaanku main lagi di
ruang keluarga dan di kamar mandi.”

”Luar biasa. Kalian berdua benar-benar hebat” puji suaminya tanpa rasa
cemburu sedikit pun.
”Gus, aku sangat berterima kasih atas kedatanganmu. Belum pernah kulihat
Anna segembira ini” lanjutnya.
”Kuharap ini bukan yang terakhir kali kita bertiga, walaupun tadinya aku merasa
aneh dengan ide gilanya Anna mengajak kamu main dengan kami. Setelah
kualami sendiri, ternyata amat nikmat. Aku sendiri merasa seakan-akan menjadi
pengantin baru kayak dulu lagi” katanya lagi.
Aku hanya tersenyum menanggapi percakapan itu.
Itulah pengalamanku pertama kali bertiga dengan Anna dan suaminya. Beberapa
kali kami masih melakukan hal serupa. Kadang-kadang Anna memintaku tidur di
rumahnya ketika suaminya tugas selama tiga minggu di luar negeri. Tiada hari
tanpa persetubuhan yang kami lakukan berdua. Uniknya lagi, saat suaminya
menelepon dari luar negeri, Anna sengaja mengaktifkan headphone agar
suaminya dapat mendengar desahan dan rintihan kami. Entah apa yang
dilakukan suaminya di ujung sana, tapi ia berterima kasih kepadaku yang mau
membantu mereka. Hal itu kami lakukan cukup lama.
Pernah Anna mengajak aku dan suaminya main bersama seorang teman
perempuannya waktu kuliah di Australia. Henny namanya, orang Sunda.
Orangnya tidak secantik Anna, tetapi manis. Sudah menikah tetapi juga sama
dengan Anna, belum punya anak. Akhirnya aku mengerti bahwa baik Anna
maupun Henny adalah biseks. Mereka bulan lesbian murni, tetap menginginkan
lelaki, tetapi tak bisa melupakan teman intimnya dulu. Kisah ini akan kuceritakan
di saat berikut.
Suami Anna sangat berterima kasih, ketika setahun kemudian meneleponku
memberitahukan bahwa Anna sedang hamil dua bulan. Ia memintaku datang ke
rumah mereka, tetapi aku mengelak dengan alasan sedang ada kerjaan kantor
yang tak dapat ditinggalkan. Padahal, aku tak kuasa menahan gejolak di hati,
bahwa benih yang dikandung Anna adalah anakku. Aku hanya dapat berharap
mereka bahagia dengan kehadiran anak itu.
Tiga tahun kemudian aku menikah dengan seorang gadis Jawa. Ia tidak secantik
Anna, tidak juga semanis Henny, tetapi ia mencintaiku dengan tulus dan mau
menerima diriku apa adanya. Pernah Anna meneleponku karena rindu lama tak
bertemu denganku dan bertanya apakah aku tidak ingin melihat anakku yang
pernah ia kandung. Aku katakan rindu, tetapi tak kuasa bertemu mereka. Hanya
berharap mereka bahagia dan rukun selalu. Mendengar kata-kataku, Anna
terisak di telepon dan berharap, jika suatu ketika aku mau bertemu dengannya,
Dicky tak pernah cemburu, bahkan jika aku memintanya, ia akan melayaniku
lagi.

Tante Pang (Wanita Cina)

Posted by admin on March 12, 2009 – 11:09 am
Filed under Setengah baya
Kisah ini berawal di kota kelahiranku . Kami bertetangga dengan sebuah
keluarga Cina. Kami pindah kerumah itu ketika aku berusia enam tahun. Ayahku
adalah pegawai negri sipil biasa dan oom Pang adalah juga PNS tetapi punya
kedudukan yang tinggi. Oom Pang ini orang Cina peranakan Manado sedangkan
tante Pang atau yang biasa dipanggil tante Soen adalah orang Cina peranakan
Ternate. Aku satu umur dengan anak gadisnya yang nomor empat dan kami satu
sekolah. Dengan demikian kami tumbuh bersama menjelang masa remaja,
hanya setamat SMP aku ke STM sedangkan Angela ke SMA. Aku suka main
dirumahnya Angela.
Tapi sejak aku di bangku kelas tiga SMP aku mulai tertarik kalau melihat tante
Pang ini. Orangnya tinggi besar, wajahnya sebenarnya cukup cantik, hidungnya
mancung dan bibir bibir yang sexy. Betis betis kakinya yang besar dan panjang
itu juga berbentuk indah. Tetapi selama hidupku aku tak pernah melihat tante ini
berhias diri. Ke Gerejapun tante hanya berdandan biasa saja tanpa make up
yang berlebihan. Setiap hari tante slalu bekerja didapur memasak. Tante senang
padaku sebab aku suka menemaninya didapur dan kami mengobrol soal apa
saja. Tante ini benar benar adalah seorang wanita yang polos dan suci hatinya
menurut pandanganku. Tapi tante ini kalau duduk suka sembarangan dan inilah
yang membuat aku jadi bernafsu padanya. Suatu hari aku meIihat tante
memakai baju yang agak terbuka dan diketiaknya sudah sedikit sobek.
Akibatnya tali bra nya yang warna hitam itu kelihatan bahkan sebagian samping
dari toketnya yang putih dan besar itu juga kelihatan. Aku tak tahan melihat
semua ini, sementara tantepun cuek saja sebab sibuk dengan pekerjaannya.
Kebetulan saat itu tak ada siapa siapa didapur selain aku dan tante Pang ini.
Beberapa butir peluhnya mengalir di wajahnya yang tak kenal lelah itu. Lehernya
yang berisi nampak mengkilat oleh keringatnya. Pemandangan ini yang
membangkitkan nafsu birahiku padanya.
Tiba tiba telefon berbunyi dan tante menyuruhku untuk angkat telefoon.
Rupanya dari suaminya dari kantornya, mau bicara dengan mamanya. Lalu tante
Pang datang mendekatiku, mengambil alih gagang telefoon itu sambil berdiri
tepat disampingku dekat sekali hingga toketnya yang terbuka itu bisa aku lihat
begitu jelasnya. Kulitnya masih mulus putih padahal usianya sudah empat puluh
tahun waktu itu. Aku tak dapat menahan hatiku lagi. Sementara tante berbicara
ditelefoon maka tanganku segra bereaksi mengusap pelan bagian dari toketnya
yang nampak itu dan kuremas remas pelan. Aku merasa nikmat sekali bisa
menyentuh kulit putih itu. Tante hanya menatapku tapi tak bereaksi apa apa dan
kembali melanjutkan kerjanya. Aku kembali mendekatinya dan tanganku
kembali menyusup masuk lewat celah yang terbuka itu terus memegang buah
dadanya dan meremas remasnya. Tante kaget dengan sikapku yang berani itu.
“Ce ngana anak kecil kenapa ramas ramas kita punya susu?”. Tante bertanya
dengan dialek Ternatenya.

“Tante punya susu itu bikin saya jadi nafsu” kataku dengan hati yang polos,
walau hatiku berdebar juga.
Tanganku masih saja menggerayangi toketnya yang besar itu. Bahkan ketika
sampai keputingnya dan memintir mintir putingnya itu terasa putingnya tante
tlah jadi tegang mengeras dan memanjang. “Adooohh..!” tante Pang mengeluh
sambil memerem matanya dan menegakan badannya. Rupanya ia juga merasa
nikmat dengan permainan tanganku ini. Dan kuremas terus gumpalan daging
putih yang masih kenyal itu. Tante Pang semakin mengerang. Kuraih kepalanya
dan kucium bibirnya, walau aku sendiri masih bodoh dalam berciuman. Gigiku
berbenturan dengan giginya tante, tapi cepat ku sambar bibirnya lagi. Tante
tersandar dikursi menatapku nanar.
Melihat tante Pang yang sudah terkapar seperti petinju yang ko itu, bikin aku
tambah nekad lagi. Kukeluarkan kedua payu daranya itu dari dalam bra nya dan
kuhisap kedua putingnya silih berganti. Tante Pang semakin merintih dan
memekik dengan suara tertahan sambil membanting banting kakinya kelantai.
Tangan kiriku masuk kebalik blusnya terus menembus cd nya dan mengusap
usap bibir memeknya. Tante Pang berteriak dan memekik tertahan, rupanya
tante mencapai klimaksnya. “Sudah.., sudaaah..!” jerit tante Pang dengan suara
bergetar. Lalu ia bangun berdiri seperti marah padaku. Menatapku dengan mata
terbelalak. Bibirnya gemetaran. “Ce .., kurang ajar ngana!” Lalu ia bangkit
berdiri dan buru buru memasukan kembali kedua toketnya yang aku keluarkan
tadi itu segra meninggalkan tempat itu. Kulihat tante memasuki kamarnya dan
membanting pintu. Aku cepat cepat kabur saja dari situ.
Malamnya ku datang kesitu lagi, dengan alasan mau ketemu sama Angela. Tante
Pang lagi diruang tamu duduk berpangku kaki sambil membaca majalah. Hanya
menatapku sekilas dan tidak menjawabku. Mungkin dia masih marah pikirku.
Pada suatu pagi aku tak masuk sekolah, lewat samping aku masuk kedapur dan
dipojok aku lihat tante sedang mencuci pakaian. Kebiasaannya kalau celana
dalamnya dan anak anak wanitanya tante mengucek ngucek sendiri tak pernah
masukan kedalam mesin cuci. Tante Pang sedang duduk pada sebuah bangku
kecil sambil membuka lebar kedua pahanya sementara roknya tersingkap
sampai jauh keatas. Mungkin sebab tak ada orang lain di rumah jadi tante
bersikap bebas begitu dan tante Pang pun kaget dengan kehadiranku yang tiba
tiba itu. Aku pura pura nanya segala macam untuk mengajaknya ngobrol sambil
aku duduk di hadapannya hingga pahanya yang besar yang tlah basah oleh air
sabun jadi mengkilap putih. Bisa kulihat dengan jelas membuat aku jadi benar
benar terangsang. Entah tante Pang sadar atau tidak dengan posisi duduknya
itu, dia tetap tak merobah posisi duduknya itu walau mataku tlah melotot kearah
selangkangannya. Aku lalu berdiri dan mendekatinya dan jariku segra meraba
pahanya yang basah itu dan agak meremas remas kulit paha yang masih kenyal
itu, sementara si kecilku mulai bergerak gerak didalam celanaku.
“Hei…!” sergah tante Pang tapi tanpa menoleh padaku. “Mulai lagi ngana punya
tangan nakal itu”. Tapi nada suaranya tidak seperi orang marah. Jari jariku turun

kebawah sampai mendekati selangkangnya dan kusingkap lagi roknya .
“Aduuuh, ngana ini nakal sekali ya?” kali ini suaranya agak meninggi sedikit, tapi
ia tetap saja melanjutkan mengucek pakaian. Dan tanganku sudah tak bisa
ditahan lagi, jariku segra menerobos masuk kedalam cd nya. Kurasakan
jembutnya yang lebat dan panjang panjang itu sementara jariku terus saja
masuk menyusup hingga aku menemukan lobangnya. Aku yakin bahwa ini
adalah lobang vaginanya tante Pang, segra jari tengahku dan jari telunjukku
kudorong masuk. Tante Pang menjerit seketika dan menatapku seperti tak
percaya kalau aku berani berbuat sejauh itu. Ia berusaha menarik keluar
tanganku, tapi aku bertahan kuat kuat. Dengan sekuat tenaga aku mendorong
kedua jariku masuk dan menusuk nusuk memeknya tante Pang itu.
Kulihat tante itu memejamkan matanya sambil mendesah tertahan, aku semakin
kuat menyodok nyodok terus hingga jari jariku terasa basah oleh cairan yang
ada didalam lobang memeknya tante Pang itu. Kedua tangannya terkulai lemas
disisinya dan kepalanya tertunduk dan suaranya melenguh dan napasnya
memburu. Kemudian ku lihat tante Pang seperti kesetanan mendesah
mengerang sambil menjepit kedua pahanya kuat kuat hingga jari jariku ikut
terjepit. Beberapa saat kemudian ia seperti tersadar lalu mendorongku kuat kuat
hingga aku jatuh terjengkang kebelakang. Lalu cepat ia bangun berdiri dan
meninggalkan tempat itu. Kemudian terdengar pintu kamar dibanting kuat kuat.
Aku terkaget lalu buru buru bangun dan kabur dari situ.
Aku paling tak suka sama si Teng Be, kakaknya Angela. Orangnya sombong dan
angkuh, tidak seperti Teng Lae atau Giok kedua kakaknya. Dia dua tahun lebih
tua dari aku, kami yang sebaya tak suka main dengan dia. Aku pikir gimana
kalau sampai mereka tahu apa yang tlah ku perbuat terhadap mama mereka?.
Dunia pasti akan geger. Sebab aku berdarah melayu campuran darah orang
Papua dan mereka orang Cina.
Untuk beberapa hari berikutnya aku tak berani kerumah mereka. Tapi dalam
sehari tak melihat wajahnya tante Pang aku merasa diriku sangat sengsara.
Sejak kecil aku tak pernah merasakan kasih sayang ibu. Ini yang bikin aku jadi
nakal dan liar.
Waktu acara perpisahan sekolah aku datang sendirian, sebab papaku lagi pergi.
Aku begitu iri melihat teman teman lain yang di temani orang tua mereka.
Mereka berpakaian bagus bagus sedangkan aku hanya berpakaian seadanya.
Padahal aku bukan berasal dari keluarga yang miskin, hanya ibu tiriku saja yang
sangat pelit terhadap aku.
Aku melihat Angela di temani papa dan mamanya, kami sama sama lulus ujian.
Aku berdiri sendirian dengan kepala yang tertunduk dan sebelum acaranya
selesai aku sudah kabur duluan sebab aku merasa tak pantas berada diantara
teman temanku itu yang mereka semuanya sangat menikmati hari hari yang
bahagia itu. Selama liburan aku tinggal dirumahnya kakekku, yaitu bapaknya
papa aku. Rumahnya berada ditepi pantai berada ditepi pantai. Kadang aku ikut

kakek melaut mencari ikan untuk kita makan. Tapi hatiku slalu rindu sama tante
Pang.
Akhirnya papaku datang, katanya aku didaftarkan di STM bagian mesin. Aku
sangat sayang sama beliau, tapi aku benci istrinya itu. Aku tak punya pilihan lain
selain harus kembali kerumah itu. Padahal rumah itu bagai neraka bagiku, tapi
ada tante Pang tetanggaku yang slalu aku rindukan. Akhirnya ketika aku tlah
duduk di bangku kelas satu STM, sebab aku dapat ceweq anak sekolah maka
buat sementara aku melupakan tante Pang.
Tapi setelah aku kelas tiga baru aku teringat sama tante lagi. Rupanya selama
ini dia slalu merindukanku, tapi tentu saja tak mungkin diungkapkannya padaku,
sebab tante ini adalah wanita yang masih terkungkung oleh norma norma
kehidupan dan tradisi orang Cina. Bahkan dia sama sekali tak bereaksi ketika
aku berusaha lagi untuk mendekati nya, walau aku yakin kalau dia itu tahu akan
gerak gerikku ini. Sebab aku tahu jam jam dia sendirian di rumah maka saat
itulah aku datang padanya. Yaitu sekitar jam tiga sore, ketika yang lainnya pada
tidur siang, tapi tante tak pernah mau tidur siang. Katanya biar malam nanti ia
bisa cepat tertidur.
Waktu aku datang saat dia lagi sendirian duduk di meja makan sambil membaca
majalah, ia menatapku penuh selidik. Setelah menyapanya aku langsung datang
duduk didekatnya. Aku dapat mendengar elahan napasnya. “Anak kecil, ngana
mau apa lagi?”. Sialan, ia masih juga memanggilku dengan sebutan anak kecil,
padahal aku sudah di bangku kelas tiga STM. “Saya rindu sama tante, tante yang
cantik dan sexy manis” jawabku sambil tersenyum padanya. Tante Pang hanya
mendengus dan seperti mengejek aku. “Ce, ngana anak sepanggal, so berani
raba raba kita punya barang” katanya sambil menatapku seperti jengkel. “Tapi
tante juga suka kan?” jawabku menantangnya dan menatap matanya. “Tapi
ngana kurang ajar pa orang tua, kita kan so tua!” jawab tante sengit dengan
suara mendesis. “Tante masih kelihatan muda koq!, Tante masih cantik
merangsang, hanya tante saja yang tidak merasa” aku terus menjawab sambil
memegang lengannya. Tante diam saja tak bereaksi ketika kuremas remas
lengannya yang dibawah ketiaknya dan satu tanganku mengelus pahanya.
Tiba tiba ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Aku pun berdiri dan cepat
menyusulnya dan tanpa ia sadar ketika masuk kedalam kamar mandi, akupun
ikut masuk .Tante kaget setengah mati melihat padaku yang segra menutup
pintunya. “Ce !, ngana betul betul anak kurang ajar, ayo keluar! Kita mo berak!”
katanya setengah berbisik. Kalau memang ia tak suka kenapa ia tak berteriak
saja?. Aku berdiri sambil bersandar di pintu dan memandanginya. Mukanya jadi
masam, tapi rupanya ia tak bisa tahan lagi. Lalu mengangkat rokya dengan
tergesa gesa dan mencopot cdnya dan langsung ia duduk diatas kloset dengan
muka yang seperti mengejan.
Kudengar tinjanya yang besar itu terputus putus jatuh kedalam closet dan
menimbulkan bunyi. Bunyi itu sangat merangsangku . Aku mendekatinya dan

mencium bibirnya sambil toketnya kembali kuremas remas. Kumasukin
tanganku ke dalam branya, menarik keluar toketnya dan kuhisap hisap lagi
dengan kuat kuat. Tante hanya mengerang seperti keenakan, tapi tetap
membiarkan aku terus beraksi. Kemudian ia berdiri dan mengambil gayung mau
cebok. Tapi aku lebih cepat menyambar gayung dan menimba air, lalu kusuruh
tante berbalik dan aku lah yang mencebok pantatnya. Dengan jari jariku aku
membersihkan lobang anusnya dari kotoran tinjanya. Tante hanya mengerang
sambil berdiri mengangkang kedua kakinya dan agak menunduk.
Kemudian aku berjongkok dan tanganku memegang bokong pantatnya tante lalu
menjulurkan lidahku menjilati lobang anusnya tante Pang itu. Mungkin sebab
merasa geli tante menggoyang pantatnya sambil terus merintih dan mengerang
berat sambil mendesah. “Aduuuhh…, ngana so bikin apa lagi pa kita ni…” suara
tante Pang mendesah. Aku tetap saja membruca lobang anusnya itu dan tante
mulai terangsang nafsunya. Kemudian kulucuti bajunya hingga praktis tante
Pang jadi bugil di hadapanku. Kedua tangannya menyilang di depan toketnya
yang besar tapi sudah terbembeng itu, tubuhnya gemetar dan menatapku
dengan bingung. Ku memintanya supaya bersandar didinding dan membuka
lebar kedua pahanya. Tante Pang mengikuti permintaanku tanpa membantah
sambil berdiri pasrah seperti orang yang kebingungan.
Mataku melotot memperhatikan seluruh tubuhnya tante Pang dari atas sampai
ke ujung kakinya. Sudah ada beberapa helai rambut ubannya. Tapi lehernya
masih mulus dan kedua toketnya yang besar itu tergantung lesu seperti buah
pepaya dengan puting susunya yang besar dan memanjang berwarna gelap.
Kontras sekali dengan warna kulitnya yang kuning langsat dan mulus bersih itu.
Pada perutnya agak membesar itu terlihat guratan guratan tanda pernah
melahirkan, nampak jelas sekali disekitar lobang pusarnya dan bagian bawah
perutnya. Pahanya yang besar itu sudah berlemak yang menggelambir
mengantung dan hampir menutup selangkangnya. Bulu bulu jembutnya sangat
tebal dan memanjang menutupi bagian depan vaginanya. Tetapi secara
umumnya penampilan Tante Pang itu masih cukup sexy dan bagus, kontolku
sudah mulai bangun.
Aku berjongkok didepannya dan menguak rambut kemaluannya itu dan lidahku
mulai membruca memeknya tante Pang. Bibir vegynya tante tlah porak poranda
dan tak tentu lagi bentuknya. Labia mayoranya sudah membesar dan terlipat
seperti jenger ayam dan kebiru biruan. Maklumlah tante Pang sudah lima kali
melahirkan. Lobang memeknya pun sudah terbuka besar, kira kira ada tiga
sentimeter garis tengahnya. Berwarna merah dan kesepian. Mungkin sudah lama
sekali memek ini tak pernah dimasuki kontol lagi. Sebab nampaknya oom Pang
sudah loyo.
Kelihatannya tante Pang tlah menyerah total dan pasrah padaku sambil
menjambak rambutku kadang kadang dengan sangat keras sekali. Tiga buah jari
jariku sekaligus masuk menyodok kedalam liang vaginanya itu yang tlah basah
berlendir. Tante Pang hanya menjerit dan memekik tertahan. Akhirnya tibalah

pada acara finishing touchnya, yaitu memasukan kontolku kedalam memeknya
Tante Pang. Rudalku langsung masuk melesak kedalam sampai semuanya
tertanam didalam memeknya tante Pang itu. Sambil tersandar didinding kedua
tangannya merangkul leherku dan kedua tanganku memegang pinggangnya dan
aku mulai memompa kuat kuat. Napas tante Pang tersengal sengal sambil
kucium bibirnya sementara keringat mulai membasahi tubuh kami dua. Keringat
kami bercampur membuat badan kami juga jadi licin. Kira kira sepuluh menit
kemudian tubuh tante Pang jadi menegang dan bergetar dengan hebatnya.
Sambil merangkulku kuat kuat dan memekik tertahan pertanda ia sedang
mencapai puncak orgasmenya. Bahkan air matanya pun keluar , tante menangis
terisak isak. Akhirnya akupun menumpahkan spermaku kedalam rahimnya.
Kutancapkan kuat kuat kontolku kedalam memeknya dan akupun jadi tegang
untuk beberapa saat Tubuh kami tetap bertaut berpelukan erat dan keringat
yang membanjir. Kuangkat wajahnya, tapi tante Pang menunduk lagi. Mungkin ia
merasa malu, hanya napasnya saja yang masih terus memburu sementara kami
masih dalam posisi bersenggama. Akhirnya ku cabut keluar kontolku dari dalam
lobang memeknya dan aku membantunya membersihkan dirinya dan
memakaikan kembali pakaiannya tanpa bicara apa apa, sebelum keluar masih
sempat lagi aku mencium bibirnya bahkan kami berpelukan dengan mesrahnya
dan kami segra keluar dari situ.
Satu malam sekitar jam delapan aku keluar dari rumah dan berjalan disamping
rumah mereka. Rumah mereka agak kebelakang sebab halaman depannya
sangat luas sekali, begitu juga dengan halaman belakangnya. Melewati dapur
kita aku terus berjalan lewat samping rumah mereka hingga aku tiba dibelakang
rumah mereka. Untuk bebrapa saat aku berdiri dibawah pohon nangka
dibelakang rumah itu sambil memandang kedalam rumah itu. Kulihat tante
sedang berada didapur, entah lagi sibuk apa. Lalu kulihat tante keluar dari pintu
dapar, buru buru aku mendekatinya, Dia kaget. “Hei kenapa malam malam
ngana ada disini?”. Ia bertanya dengan dialek Ternatenya. Ku tempelkan jariku
di mulutku dan memegang tangannya mengajaknya ke bawah pohon nangka
dan ia mengikuti dengan perasaan bingung tapi diam. “Ngana mau bikin apa di
sini ?”. tanyanya dengan suara mendesis sambil menatapku heran. “Tante duduk
disini”. jawabku sambil menunjuk bangku panjang yang ada disitu. Lalu tante
Pang pun duduk disitu dan aku juga ikut duduk disampingnya sambil memegang
lengannya dan merangkul pinggangnya. Napasnya yang panas itu terasa ketika
aku melumat bibirnya. Kami saling bertaut bibir erat erat. “Saya mau cuki tante
lagi” kataku pelan sambil mendekap tubuh yang besar itu. “Ce.., ngana ini anak
gila betul, ngana kan masih kecil, tante ini so tua, kenapa ngana mo cuki pa kita
orang so tua bagini?”. “Tapi tante masih cantik dan saya jatuh cinta sama tante”
jawabku sungguh sungguh untuk meyakinkannya. “Lalu kalau ngana jatuh cinta
pa kita , trus ngana mo bikin apa pa kita ?” Aku tak menjawab tapi langsung saja
kembali memagut bibirnya kuat kuat. Seperti yang aku lihat di film film biru.
Tante Pang tidak melawan, tapi diam saja seperti pasrah. Dari bibirnya terus
turun ke batang lehernya ku jilatin sambil kudengar suara dengusannya. Aku
keluarkan toketnya yang besar itu dari balik dasternya dan kusedot habis puting

susunya itu kuat kuat hingga tante Pang menjerit tertahan dan mengerang
hebat. Nampaknya tante Pang juga sudah mulai horny. Kemudian ku suruh ia
berdiri dan menyandar kebatang pohon nangka yang besar itu dengan membuka
lebar kedua kainya, lalu mengangkat roknya dan melucuti celana dalamnya. Aku
seperti orang yang benar benar sudah ahli urusan sex dan akhirnya kumasukan
kontolku kedalam memeknya. Dengan sekuat tenaga aku memompa sambil
berdiri memegang pinggulnya. Tante Pang mendengus keras sambil mendesah
dan melenguh sementara badannya yang besar itu jadi menegang dan
memelukku erat erat sambil ku hisap habis habisan bibirnya dan lidahnya itu.
Tante Pang mencapai klimaksnya sambil mendesah berat. Akhirnya aku juga
keluar. Tubuh kami berdua sudah bermandi keringat yang bercampur baur . Ku
hunjamkan kuat kuat kontolku kedalam memeknya tante Pang ini sambil
menyemprotkan spermaku kedalam rahimnya. Enaaak…, ini kali yang ketiga aku
melakukan hubungan sex dengan wanita.
Kami masih bersandar pada batang pohon nangka itu buat beberapa saat
dengan napas yang masih tersengal sengal. Kujilati leher tante Pang yang basah
oleh peluhnya itu, walau terasa asin tapi aku suka. Tiba tiba anaknya yang tertua
si Teng Lae keluar dari pintu dapur. Berjalan melewati kami berdua kira kira
pada jarak dua meter saja. Ia mengambil handuknya dijemuran dan kembali
masuk kedalam rumah . Aku memegang mulutnya tante Pang kuat kuat. Untung
saja disitu sangat gelap sekali. Tapi kami dua sudah sempat ketakutan setengah
mati. Aku membuka bajuku dan melap keringatnya tante Pang di mukanya dan
sekujur badannya hingga bajuku jadi basah oleh keringatnya. Kemudian tanpa
berbicara setelah memakai kembali cd nya lalu tante berjalan masuk kedalam
rumah tanpa menghiraukan aku lagi. Aku tersenyum puas sambil bersandar di
batang pohon nangka itu.
Besok siangnya sepulang sekolah aku kesebelah lewat pintu dapur. Suasana
nampak sepi hanya ada tante pang didapur. “Selamat siang tante Po chi ada?”
tanyaku , tapi tante hanya diam saja tak menjawab aku . Menolehpun tidak ,
mungkin dia marah. Lalu kudekati tante dari belakang dan kucubit pantatnya .
Terkejut ia membalik menatapku seperti marah. “Kurang ajar!” desisnya sambil
menatapku tapi dengan tersenyum senang padaku. Sebab tak ada siapa siapa
disitu tiba tiba ia menarik tanganku dan kami masuk lagi kedalam kamar mandi
dan akhirnya terjadi kembali persetubuhan antara aku dan tante Pang disiang
bolong itu didalam kamar mandi rumah mereka. Sejak saat itu aku semakin
dekat lagi dengan tante Pang ini dan tentu saja tak ada orang yang tahu bahwa
kami dua lagi pacaran dengan mesrahnya
Pramugari Malang
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:59 am
Filed under Cerita Pemerkosaan
Malam telah larut dimana jarum jam menunjukkan pukul 23.15. Suasana sepi
menyelimuti sebuah kost-kostan yang terletak beberapa kilometer dari Bandara
Soekarno-Hatta Cengkareng.. Kost-kostan tersebut lokasinya agak jauh dari

keramaian sehingga menjadi tempat favorit bagi siapa saja yang menginginkan
suasana tenang dan sepi. Kost-kostan yang memiliki jumlah kamar mencapai 30
kamar itu terasa sepi karena memang baru saja dibuka untuk disewakan,hanya
beberapa kamar saja yang sudah ditempati, sehingga suasananya dikala siang
atau malam cukup lengang. Saat itu hujan turun lumayan deras, akan tetapi
nampak sesuatu telah terjadi disalah satu kamar dikost-kostan itu.
Seiring dengan turunnya air hujan, air mata Dinda juga mulai turun berlinang
disaat lelaki itu mulai menyentuh tubuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Saat
ini tubuhnya sudah dalam kekuasaan para lelaki itu, rasa keputus asaan dan
takut datang menyelimuti dirinya. Beberapa menit yang lalu secara tiba- tiba
dirinya diseregap oleh seseorang lelaki disaat dia masuk kedalam kamar kostnya
setibanya dari sebuah tugas penerbangan. Kedua tangannya langsung diikat
kebelakang dengan seutas tali, mulutnya disumpal dengan kain dan setelah itu
tubuhnya dicampakkan oleh lelaki itu keatas tempat tidurnya. Ingin rasanya dia
berteriak meminta pertolongan kepada teman-temannya akan tetapi kendaraan
antar jemput yang tadi mengantarkannya sepertinya sudah jauh pergi
meninggalkan kost-kostan ini, padahal didalam
kendaraan tersebut banyak teman-temannya sesama karyawan.
Dinda Fitria Septiani adalah seorang Pramugari pada sebuah penerbangan
swasta, usianya baru menginjak 19 tahun, wajahnya cantik imut-imut, postur
tubuhnya tinggi dan langsing proporsional. Dengan dianugerahi penampilan
yang cantik ini sangat memudahkan baginya untuk diterima bekerja sebagai
seorang pramugari. Demikian pula dengan karirnya dalam waktu yang singkat
karena kecantikannya itulah dia telah menjadi sosok primadona di perusahaan
penerbangan itu. Banyak lelaki yang berusaha merebut hatinya, baik itu sesama
karyawan ditempatnya bekerja atau kawan-kawan lainya. Namun karena alasan
masih ingin berkarir maka dengan secara halus maksud-maksud dari para lelaki
itu ditolaknya.
Akan tetapi tidak semua lelaki memahami atas sikap dari Dinda itu. Paul adalah
salah satu dari orang yang tidak bisa menerima sikap Dinda terhadap dirinya.
Kini dirinya bersama dengan seorang temannya telah melakukan seuatu
perhitungan terhadap Dinda. Rencana busuk dilakukannya terhadap Dinda.
Malam ini mereka telah menyergap Dinda dikamar kostnya. Paul adalah satu dari
sekian banyaknya lelaki yang menaruh hati kepada dirinya, akan tetapi Paul
bukanlah seseorang yang dikenalnya dengan baik karena kedudukannya
bukanlah seorang karyawan penerbangan ditempatnya bekerja atau kawankawannya yang lain, melainkan dia adalah seorang tukang batu yang bekerja
dibelakang kost-kostan ini. Ironisnya, Paul yang berusia setengah abad lebih dan
melebihi usia ayah Dinda itu lebih sering menghalalkan segala cara dalam
mendapatkan sesuatu, maklumlah dia bukan seseorang yang terdidik. Segala
tingkah laku dan perbuatannyapun cenderung kasar, karena memang dia hidup
dilingkungan orang-orang yang bertabiat kasar.

“Huh rasakan kau gadis sombong !”, bentaknya kepada Dinda yang tengah
tergolek dikasurnya.
“Aku dapatkan kau sekarang….!”, lanjutnya. Sejak perjumpaannya pertama
dengan Dinda beberapa bulan yang lalu, Paul langsung jatuh hati kepada Dinda.
Dimata Paul, Dinda bagaikan bidadari yang turun dari khayangan sehingga
selalu hadir didalam lamunnanya. Diapun berniat untuk menjadikannya sebagai
istri yang ke-4. Bak bukit merindukan bulan, Paul tidak berdaya untuk
mewujudkan impiannya itu. Predikatnya sebagai tukang batu, duda dari 3 kali
perkawinan, berusia 51 tahun, lusuh dan miskin menghanyutkan impiannya
untuk dapat mendekati sang bidadari itu.
Terlebih-lebih ada beberapa kali kejadian yang sangat menyakitkan hatinya
terkait dengan Dinda
sang bidadari bayangannya itu. Sering tegur sapanya diacuhkan oleh
Dinda,tatapan mata Dindapun selalu sinis terhadap dirinya. Lama kelamaan
didalam diri Paul tumbuh subur rasa benci terhadap Dinda, penilaian
terhadapnyapun berubah, rasa kagumnya telah berubah menjadi benci namun
gairah nafsu sex terhadap Dinda tetap bersemi didalam dirinya tumbuh subur
menghantui dirinya selama ini. Akhirnya dipilihlah sebuah jalan pintas untuk
melampiaskan nafsunya itu, kalaupun cintanya tidak dapat setidaknya dia dapat
menikmati tubuh Dinda pikirnya. Jadilah malam ini Paul melakukan aksi nekat,
diapun membulatkan hatinya untuk memberi pelajaran kepada Dinda sekaligus
melampiaskan nafsunya yang selama ini mulai tumbuh secara subur didalam
dirinya.
Kini sang bidadari itu telah tergeletak dihadapannya, air matanyapun telah
membasahi wajahnya yang putih bersih itu. “Lihat aku, cewek *******…..!”,
hardiknya seraya memegang kepala Dinda dan menghadapkan kewajahnya.
“Hmmmphh….!!”, jeritnya yang tertahan oleh kain yang menyumpal dimulutnya,
mata Dinda pun melotot ketika menyadari bahwa saat ini dia telah berhadapan
dengan Paul seseorang yang dibencinya. Hatinyapun langsung ciut dan tergetar
tatkala Paul yang berada dihadapannya tertawa penuh dengan kemenangan,
“Hahaha….malam ini kamu jadi pemuasku, gadis cantik”. Keringatpun langsung
mengucur deras membasahi tubuh Dinda, wajahnya nampak tersirat rasa takut
yang dalam, dia menyadari betul akan apa-apa yang bakal terjadi terhadap
dirinya. Disaat seperti inilah dia menyadari betul akan ketidak berdayaan dirinya,
rasa sesal mulai hadir didalam hatinya, akan sikap- sikapnya yang tidak berhatihati terhadap Paul.
Kini dihadapan Dinda, Paul mulai melepaskan baju kumalnya satu persatu
hingga akhirnya telanjang bulat. Walaupun telah berusia setengah abad lebih,
namun karena pekerjaannya sebagai buruh kasar maka Paul memiliki tubuh
yang atletis, badannya hitam legam dan kekar, beberapa buah tatto menghiasi
dadanya yang bidang itu. Isak tangis mulai keluar dari mulut Dinda, disaat paul
mulai mendekat ketubuhnya. Tangan kanannya memegang batang kemaluannya
yang telah tegak berdiri itu dan diarahkannya kewajah Dinda. Melihat ini Dinda
berusaha memalingkan wajahnya, namun tangan kiri Paul secepat kilat
mencengkram erat kepala Dinda dan mengalihkannya lagi persis menghadap ke

batang kemaluannya.. Dan setelah itu dioles-oleskannya batang kemaluannya
itu diwajah Dinda, dengan tubuh yang bergetar Dinda hanya bisa memejamkan
matanya dengan erat karena merasa ngeri dan jijik diperlakukan seperti itu.
Sementara kepala tidak bisa bergerak-gerak karena dicengkraman erat oleh
tangan Paul. “Ahhh….perkenalkan rudal gue ini sayang…..akhhh….” ujarnya
sambil terus mengoles-oleskan batang kemaluannya diwajah Dinda, memutarmutar dibagian pipi, dibagian mata, dahi dan hidungnya. Melalui batang
kemaluannya itu Paul tengah menikmati kehalusan wajah Dinda. “Hai cantik !
….sekarang sudah kenal kan dengan ****** gue ini, seberapa mahal sih wajah
cantik elo itu hah ? sekarang kena deh ama ****** gue ini….”, sambungnya.
Setelah puas dengan itu, kini Paul mendorong tubuh Dinda hingga kembali
terjatuh kekasurnya.
Sejenak dikaguminya tubuh Dinda yang tergolek tak berdaya ditempat tidurnya
itu. Baju seragam
pramugarinya masih melekat rapi dibadannya. Baju dalaman putih dengan dasi
kupu-kupu berwarna biru ditutup oleh blazer yang berwarna kuning tua serta rok
pendeknya yang berwarna biru seolah semakin membangkitkan birahi Paul,
apalagi roknya agak tersingkap hingga pahanya yang putih mulus itu terlihat.
Rambutnya yang panjang sebahu masih digelung sementara itu topi
pramugarinya telah tergeletak jatuh disaat penyergapan lagi. “Hmmpphhh…
mmhhh…”, sepertinya Dinda ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, tapi apa
perdulinya paling-paling cuma
permintaan ampun dan belas kasihan. Tanpa membuang waktu lagi kini
diputarnya tubuh Dinda menjadi tengkurap, kedua tangannya yang terikat
kebelakang menempel dipunggung sementara dada dan wajahnya menyentuh
kasur. Kedua tangan kasar Paul itu kini mengusap-usap bagian pantat Dinda,
dirasakan olehnya pantat Dinda yang sekal. Sesekali tangannya menyabet
bagian itu bagai seorang ibu yang tengah menyabet pantat anaknya yang nakal
“Plak…Plak…”. “Wah sekal sekali pantatmu…”, ujar Paul sambil terus mengusapusap dan memijit- mijit pantat Dinda.
Dinda hanya diam pasrah, sementara tangisannya terus terdengar. Tangisnya
terdengar semakin
keras ketika tangan kanan Paul secara perlahan-lahan mengusap kaki Dinda
mulai dari betis naik terus kebagian paha dan akhirnya menyusup masuk
kedalam roknya hingga menyentuh kebagian selangkangannya.
Sesampainya dibagian itu, salah satu jari tangan kanan Paul, yaitu jari
tengahnya menyusup masuk kecelana dalamnya dan langsung menyentuh
kemaluannya. Kontan saja hal ini membuat badan Dinda agak menggeliat, dia
mulai sedikit meronta-ronta, namun jari tengah Paul tadi langsung menusuk
lobang kemaluan Dinda. “Egghhmmmmm…….”, Dinda menjerit badannya
mengejang tatkala jari telunjuk Paul masuk kedalam liang kewanitaannya itu.
Badan Dindapun langsung menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan, ketika
Paul memainkan jarinya itu didalam lobang kemaluan Dinda. Dengan tersenyum
terus dikorek- koreknyalah lobang kemaluan Dinda, sementara itu badan Dinda
menggeliat-geliat jadinya, matanya merem-melek, mulutnya mengeluarkan

rintihan- rintihan yang teredam oleh kain yang menyumpal mulutnya itu
“Ehhmmmppphhh….mmpphhhh…..”. Setelah beberapa menit lamanya,
kemaluan Dindapun menjadi basah oleh cairan kewanitaannya, Paul kemudian
mencabut jarinya.
Tubuh Dindapun dibalik sehingga posisinya terlentang. Setelah itu roknya
disingkapkan keatas hingga rok itu melingkar dipinggulnya dan celana dalamnya
yang berwarna putih itu ditariknya hingga bagian bawah Dinda kini telanjang.
Terlihat oleh Paul, kemaluan Dinda yang indah, sedikit bulu-bulu tipis yang
tumbuh mengitari lobang kemaluannya yang telah membengkak itu.
Dengan bernafsunya direntangkan kedua kaki Dinda hingga mengangkang
setelah itu ditekuknya hingga kedua pahanya menyentuh ke bagian dada. Wajah
Dinda semakin tegang, tubuhnya gentar, seragam pramugarinyapun telah basah
oleh keringat yang deras membanjiri tubuhnya, Paul bersiap-siap melakukan
penetrasi ketubuh Dinda. “Hmmmmpphhh……….hhhhhmmmmppp…. ..”, Dinda
menjerit dengan tubuhnya yang mengejang ketika Paul mulai menanamkan
batang kemaluannya didalam lobang kemaluan Dinda. Matanya terbelalak
menahan rasa sakit dikemaluannya, tubuhnya menggeliat-geliat sementara Paul
terus berusaha menancapkan seluruh batang kemaluannya. Memang agak sulit
selain Dinda masih perawan, usianyapun masih tergolong muda sehingga
kemaluannya masih sangat sempit. Akhirnya dengan sekuat tenaganya, Paul
berhasil menanamkan seluruh batang kemaluannya didalam vagina Dinda.
Tubuh Dinda berguncang-guncang disaat itu karena dia menangis merasakan
sakit dan pedih tak terkirakan dikemaluannya itu. Diapun menyadari bahwa
malam itu keperawanannya akhirnya terenggut oleh Paul. “Ahh….kena kau
sekarang !!! akhirnya Gue berhasil mendapatkan perawan elo !”, bisiknya
ketelinga Dinda.
Hujanpun semakin deras, suara guntur membahana memekakkan telinga.
Karena ingin mendengar suara rintihan gadis yang telah ditaklukkannya itu,
dibukannya kain yang sejak tadi menyumpal mulut Dinda.
“Oouuhhh…..baang….saakiitt…banngg….amp uunn …”, rintih Dinda dengan
suara yang megap- megap. Jelas Paul tidak perduli. Dia malahan langsung
menggenjot tubuhnya memopakan batang kemaluannya keluar masuk lobang
kemaluan Dinda. “Aakkhh….ooohhhh….oouuhhhh….ooohhhggh… .”, Dinda
merintih-rintih, disaat tubuhnya digenjot oleh Paul, badannyapun semakin
menggeliat-geliat. Tidak disadarinya justru badannya yang menggeliat-geliat itu
malah memancing nafsu Paul, karena dengan begitu otot-otot dinding vaginanya
malah semakin ikut mengurut-urut batang kemaluan Paul yang tertanam
didalamnya, karenanya Paul merasa semakin nikmat. Menit-menitpun berlalu
dengan cepat, masih dengan sekuat tenaga Paul terus menggenjot tubuh Dinda,
Dindapun nampak semakin kepayahan karena sekian lamanya Paul menggenjot
tubuhnya. Rasa pedih dan sakitnya seolah telah hilang, erangan dan rintihanpun
kini melemah, matanya mulai setengah tertutup dan hanya bagian putihnya saja
yang terlihat, sementara itu bibirnya menganga mengeluarkan alunan-alunan
rintihan lemah, “Ahhh…..ahhhh…oouuhhhh…”. Dan akhirnya Paulpun
berejakulasi di lobang kemaluan Dinda, kemaluannya menyemburkan cairan

kental yang luar biasa banyaknya memenuhi rahim Dinda. “A..aakkhhh…..”,
sambil mengejan Paul melolong panjang bak srigala, tubuhnya mengeras dengan
kepala menengadah keatas. Puas sudah dia menyetubuhi Dinda, rasa puasnya
berlipat-lipat baik itu puas karena telah mencapai klimaks dalam seksnya, puas
dalam menaklukan Dinda, puas dalam merobek keperawanan Dinda dan puas
dalam memberi pelajaran kepada gadis cantik itu. Dinda menyambutnya dengan
mata yang secara tiba-tiba terbelalak, dia sadar bahwa pasangannya telah
berejakulasi karena disakannya ada cairan-cairan hangat yang menyembur
membanjiri vaginanya. Cairan kental hangat yang bercampur darah itu
memenuhi lobang kemaluan Dinda sampai sampai meluber keluar membasahi
paha dan sprei kasur. Dinda yang menyadari itu semua, mulai menangis namun
kini tubuhnya sudah lemah sekali.
Dengan mendesah puas Paul merebahkan tubuhnya diatas tubuh Dinda, kini
kedua tubuh itu jatuh lunglai bagai tak bertulang. Tubuh Paul nampak
terguncang-guncang sebagai akibat dari isak tangis dari Dinda yang tubuhnya
tertindih tubuh Paul. Setelah beberapa menit membiarkan batang kemaluannya
tertanam dilobang kemaluan Dinda, kini Paul mencabutnya seraya bangkit dari
tubuh Dinda. Badannya berlutut mengangkangi tubuh lunglai Dinda yang
terlentang, kemaluannya yang nampak sudah melemas itu kembali sedikit- demi
sedikit menegang disaat merapat kewajah Dinda. Dikala sudah benar-benar
menegang, tangan kanan Paul sekonyong-konyong meraih kepala Dinda. Dinda
yang masih meringis-ringis dan menangis tersedu-sedu itu, terkejut dengan
tindakan Paul. Terlebih-lebih melihat batang kemaluan Paul yang telah
menegang itu berkedudukan persis dihadapan wajahnya. Belum lagi sempat
menjerit, Paul sudah mencekoki mulutnya dengan batang kemaluannya. Walau
Dinda berusaha berontak namun akhirnya Paul berhasil menanamkan penisnya
itu kemulut Dinda. Nampak Dinda seperti akan muntah, karena mulutnya
merasakan batang kemaluan Paul yang masih basah oleh cairan sperma itu.
Setelah itu Paul kembali memopakan batang kemaluannya didalam rongga
mulut Dinda, wajah Dinda memerah jadinya, matanya melotot, sesekali dia
terbatuk-batuk dan akan muntah. Namun Paul dengan santainya terus
memompakan keluar masuk didalam mulut Dinda, sesekali juga dengan gerakan
memutar-mutar. “Aahhhh….”, sambil memejamkan mata Paul merasakan
kembali kenikmatan di batang kemaluannya itu mengalir kesekujur tubuhnya.
Rasa dingin, basah dan geli dirasakannya dibatang kemaluannya. Dan akhirnya,
“Oouuuuhhhh…Dinndaaaa…sayanggg… ..”, Paul mendesah panjang ketika
kembali batang kemaluannya berejakulasi yang kini dimulut Dinda. Dengan
terbatuk-batuk Dinda menerimanya, walau sperma yang dimuntahkan oleh Paul
jumlahnya tidak banyak namun cukup memenuhi rongga mulut Dinda hingga
meluber membasahi pipinya. Setelah memuntahkan spermanya Paul mencabut
batang kemaluannya dari mulut Dinda, dan Dindapun langsung muntah-muntah
dan batuk-batuk dia nampak berusaha untuk mengeluarkan cairan-cairan itu
namun sebagian besar sperma Paul tadi telah mengalir masuk
ketenggorokannya.

Saat ini wajah Dinda sudah acak- acakan akan tetapi kecantikannya masih
terlihat, karena memang kecantikan dirinya adalah kecantikan yang alami
sehingga dalam kondisi apapun selalu cantik adanya. Dengan wajah puas sambil
menyadarkan tubuhnya didinding kasur, Paulpun menyeringai melihat Dinda
yang masih terbatuk-batuk. Paul memutuskan untuk beristirahat sejenak,
mengumpulkan kembali tenaganya. Sementara itu tubuh Dinda meringkuk
dikasur sambil terisak-isak. Waktupun berlalu, jam didinding kamar Dinda telah
menunjukkan pukul 1 dinihari. Sambil santai Paulpun menyempatkan diri
mengorek-ngorek isi laci lemari Dinda yang terletak disamping tempat tidur.
Dilihatnya album foto- foto pribadi milik Dinda, nampak wajah-wajah cantik
Dinda menghiasi isi album itu, Dinda yang anggun dalam pakaian seragam
pramugarinya, nampak cantik juga dengan baju muslimnya lengkap dengan
****** ketika foto bersama keluarganya saat lebaran kemarin dikota asalnya
yaitu Bandung. Kini gadis cantik itu tergolek lemah dihadapannya, setengah
badannya telanjang, kemaluannya nampak membengkak. Selain itu, ditemukan
pula beberapa lembar uang yang berjumlah 2 jutaan lebih serta perhiasan emas
didalam laci itu, dengan tersenyum Paul memasukkan itu semua kedalam
kantung celana lusuhnya, “Sambil menyelam minum air”, batinnya.
Setelah setengah jam lamanya Paul bersitirahat,kini dia bangkit mendekati
tubuh Dinda. Diambilnya sebuah gunting besar yang dia temukan tadi didalam
laci. Dan setelah itu dengan gunting itu, dia melucuti baju seragam pramugari
Dinda satu persatu. Singkatnya kini tubuh Dinda telah telanjang bulat,
rambutnyapun yang hitam lurus dan panjang sebahu yang tadi digelung rapi kini
digerai oleh Paul sehingga menambah keindahan menghiasi punggung Dinda.
Sejenak Paul mengagumi keindahan tubuh Dinda, kulitnya putih bersih,
pinggangnya ramping, payudaranya yang tidak terlalu besar, kemaluannya yang
walau nampak bengkak namun masih terlihat indah menghias selangkangan
Dinda. Tubuh Dinda nampak penuh dengan kepasrahan, badannya kembali
tergetar menantikan akan apa-apa yang akan terjadi terhadap dirinya.
Sementara itu hujan diluar masih turun dengan derasnya, udara dingin mulai
masuk kedalam kamar yang tidak terlalu besar itu. Udara dingin itulah yang
kembali membangkitkan nafsu birahi Paul. Setelah hampir sejam lamanya
memberi istirahat kepada batang kemaluannya kini batang kemaluannya
kembali menegang. Dihampirinya tubuh telanjang Dinda, “Yaa…ampuunnn
bangg…udah dong….Dinda minta ampunn bangg…oohhh….”, Dinda nampak
memelas memohon-mohon kepada Paul. Paul hanya tersenyum saja mendengar
itu semua, dia mulai meraih badan Dinda. Kini dibaliknya tubuh telanjang Dinda
itu hingga dalam posisi tengkurap. Setelah itu ditariknya tubuh itu hingga ditepi
tempat tidur, sehingga kedua lutut Dinda menyentuh lantai sementara dadanya
masih menempel kasur dipinggiran tempat tidur, Paulpun berada dibelakang
Dinda dengan posisi menghadap punggung Dinda. Setelah itu kembali
direntangkannya kedua kaki Dinda selebar bahu, dan….
“Aaaaaaaaakkkkhh………”, Dinda melolong panjang, badannya mengejang dan
terangkat dari tempat tidur disaat Paul menanamkan batang kemaluannya
didalam lobang anus Dinda.

Rasa sakit tiada tara kembali dirasakan didaerah selangkangannya, dengan agak
susah payah kembali Paul berhasil menanamkan batang kemaluannya didalam
lobang anus Dinda. Setelah itu tubuh Dindapun kembali disodok-sodok, kedua
tangan Paul meraih payudara Dinda serta meremas-remasnya. Setengah jam
lamnya Paul menyodomi Dinda, waktu yang lama bagi Dinda yang semakin
tersiksa itu. “Eegghhh….aakkhhh….oohhh…”, dengan mata merem-melek serta
tubuh tersodok- sodok Dinda merintih-rintih, sementara itu kedua payudaranya
diremas-remas oleh kedua tangan Paul. Paul kembali merasakan akan
mendapatkan klimaks, dengan gerakan secepat kilat dicabutnya batang
kemaluan itu dari lobang anus Dinda dan dibaliklah tubuh Dinda itu hingga kini
posisinya terlentang. Secepat kilatpula dia yang kini berada diatas tubuh Dinda
menghujamkan batang kemaluannya kembali didalam vagina Dinda.
“Oouuffffhhh……”, Dinda merintih dikala paul menanamkan batang
kemaluannya itu. Tidak lama setelah Paul memompakan kemaluannya didalam
liang vagina Dinda “CCREETT….CCRROOOT…CROOTT…”, kembali penis Paul
memuntahkan sperma membasahi rongga vagina Dinda, dan Dindapun terjatuh
tak sadarkan diri.
Fajar telah menjelang, Paul nampak meninggalkan kamar kost Dinda dengan
tersenyum penuh dengan kemenangan, sebatang rokok menemaninya dalam
perjalanannya kesebuah stasiun bus antar kota, sementara itu sakunya penuh
dengan lembaran uang dan perhiasan emas. Entah apa yang akan terjadi
dengan Dinda sang pramugari cantik imut-imut itu, apakah dia masih menjual
mahal dirinya. Entahlah, yang jelas setelah dia berhasil menikmati gadis cantik
itu, hal itu bukan urusannya lagi
Adik Iparku
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:56 am
Filed under Daun Muda
saya seorang sopir truk.tapi saya gak suka jajan.tapi bukan berarti saya seorang
yang gak suka ABG.begini ceritanya,ketika saya tinggal di rumah mertua,saya
sudah menduga adik ipar saya kelak bila sudah remaja akan tumbuh menjadi
gadis yg manis dan menggairahkan.ketika itu ia masih kelas 3 SD.setelah 3
tahun numpang dirumah mertua,saya pindah,ngontrak rumah,kira kira 3 km
jauhnya.saya tinggal bersama istri dan anak saya yg 1, ketika itu istri saya lagi
hamil 7 bulan.sebulan dirmh kontrakkan,saya di titipin adik ipar yg saat itu
duduk di bangku SMP kelas 1.namanya tusrini atau panggilan akrabnya C2S alias
situs.Di mulut saya menolak,tapi dalam hati,inilah saat saat yg kutunggu tunggu.
Setiap ku pandangi dadanya,makin hari makin membesar aza.Tapi aku berusaha
cuek dan gak peduli.setelah 1 tahun berlalu dadanya benar benar membentuk 2
gunung kembar yg benar benar wow walau tertutup kaos.sering aku mengambil
kesempatan mengambil CDnya saat dia selesai mandi,buru buru aku masuk pura
pura mo beol.Di KM kuambil dan kuciummi CDnya sampai puas sambil
membayangkan memeknya walaupun aku belum pernah melihatnya.Bahkan
kujilati bagian yg terkena cairan putih kental yg kemungkinan itu adalah cairan

keputihan.tapi aku tak peduli bahkan kunikmati bagai susu kental kaleng.setelah
puas lalu kutempelkan CDnya kebagian kepala penisku yg sudah menegang &
berdenyut denyut sejak tadi.lalu kuambil BHnya yang mini itu,dan kuciummi
sambil kukocok kocok penisku yang sudah dibalut CDnya yg berwarna putih
kusam itu.sesaat aku terbuai tubuh & wajahnya dalam khayalan.setelah sekian
lama kutahan air syurgaku untuk tidak keluar akhirnya muncrat dan tumpah di
CDnya,kira kira kalau dikiloin air syurgaku sekitar 1 0n”s kayaknya kalau masuk
ke lubang Vagina dan mengisi ruang rahimnya sudah bisa dipastikan bakal
buncit besar perutnya kekenyangan. setelah 1 jam di KM akupun keluar yg
sebelumnya kucuci bersih CDnya agar tak ketauan agar supaya bisa tubicontinu
he he he he Tapi keliatannya ia tak curiga walau setiap hari kupakai CDnya
untuk masturbasi.Lama lama aku penasaran jua,kayak apa sich bentuk
teteknya,hingga suatu kali istriku lagi berkunjung kedesa dgn anakku.Yg
membuat ada kesempatan ngintip dia mandi di rumah.Pura pura aku pergi,jadi
seolah olah Dia kutinggal dirumah sendirian.selang setengah jam kemudian aku
pulang dan kudengar musik rock berdengung keras,aku yakin dalam hati Dia lagi
mandi.lalu aku mutar lewat belakang ,benar dugaanku,terdengar suara air
berdebur keras dari KM.serta merta kubuka gembok pintu belakang dan berhasil
masuk rumah.lalu aku berbaring dilantai dekat pintu KM.kudekatkan mataku
dicelah celah lubang pintu bagian bawah engsel pintu KM ,yg memang
sebelumnya lubang celah itu sudah ku perlebar.Aku benar benar takjub pada
teteknya yang benar benar buesar dan berukuran 36B dengan puting susu yang
kecil berwarna coklat kemerahan dengan kulit payudara berwarna kuning
langsat dan terlihat halus mengkilap.lalu kutelusuri ke bagian bawah dan
terlihatlah pantatnya,sepasang pantat halus mulus kuning langsat.lalu
mendadak ia membalikkan tubuh dan berjongkok tepat di depan mataku yang
kira kira berjarak 25 cm.maka terlihatlah rambut tipis halus berwarna kemerahan
walau belum terlihat lebat tapi aku yakin kelak pasti akan terlihat sangat lebat
dan hitam seperti milik kakaknya.jantungku berdebar keras ,air liurku berkali kali
menetes celana dalamku mulai basah.,saat dari lubang Vaginanya tersembur
keras air seninya,jadi aku melihat persis detik detik memeknya
merekah.mungkin bagi kalian memeknya yg lebar itu tidak menggiurkan,tapi
bagiku memeknya bagaikan belahan bibir ayu ashari yg tebal merah
jambu.kuakui memang lebarnya seperti memek istriku yg sudah melahirkan 2
anak,namun justru aku sangat menyukainya apa sebab,Dia masih PRA ONE.dan
sangat sulit untuk di intip bahkan dirayu.membuat aku penasaran, kalo
dibanding wajahnya dgn wajah istriku jelas jauh lebih cantik istriku.hanya saja
wajahnya memancarkan ke angkuhan dan gairah sex yg tidak mudah padam
.saat memeknya merekah gairahkupun memuncak.kubayangkan saat ia
cebok,andai boleh aku cebokin memeknya,maka akan kuceboki memeknya
dengan lidah & bibirku,dan akan kulumat habis takkan ku lepas hingga
puas.itulah yg tersirat dalam benakku saat itu.setelah itu ia berdiri dan
mengangkangkan kakinya,dan memasukkan jari tengah tangannya kedalam
lubang kenikmatannya perlahan tapi pasti.aku berpikir pasti ia akan
masturbasi,tapi ternyata tidak .ternyata ia hendak membuang sisa
keputihannya.sekali lagi otakku dan hatiku berkhayal ” jangan kau lakukan
itu,perintahlah aku untuk melakukan itu !”Pasti!!! dengan senang hati akan

kulakukan,tapi bukan dengan jari tanganku melainkan dengan lidah dan bibirku
dijamin lebih terasa lembut , hangat , dan super bersih,karena dibantu dengan
hisapan yg kuat namun lembut.dan akan kutelan.Hingga kau merasa puas dan
bangga.” setelah itu ia mengguyur kepalanya dengan air, buru buru aku berdiri
dan secepat kilat naik keatap langit langit km, melalui lubang langit langit yg ada
di sebelah km.sedikit gemetar aku merangkak dan merayap dibawah kolong
atap.gemetar menahan birahi serta takut ketauan.namun akhirnya sampai jua di
celah celah lubang bekas paku.ku dekatkan mataku pd celah itu.OUH asiknya
ia,saat mengusapkan sabun di payudaranya yg menyembul setelah itu ia
mengguyurkan air pertanda finishing.Pada saat ia mengambil handuk kulihat
tidak ada CD ataupun BHnya, itu berarti ia nanti keluar dari km dalam keadaan
bugil namun hanya dibalut handuk yg ujungnya disangkutkan pd belahan
dadanya.Spontan aku bergegas turun dan masuk kedalam kamar tidurnya serta
melepas semua pakaianku’ hingga aku telanjang bulat dan menyamarkan
diri.saat ia masuk ke kamarnya aku langsung membekap mulutnya dan berkata
‘ngak usah pakai handuklah.toh aku sudah melihat semuanya sekarang
giliranmu sayang melihat tongkat ajaibku,sembari kulepas bekapan tanganku
dan membalikkan tubuhnya , sehingga ia kaget, menjerit, serta meronta saat
matanya melihat penisku yg besar berdiri tegak seolah sedang
menodongnya.lalu ia berteriak minta tolong,namun teriakkannya seolah ditelan
musik rock yg nonstop itu yg ia stel volumenya terlalu keras hingga membuat
para tetangga saya,tak mendengar teriakkannya,sambil meronta ia mencakar,
menendangku dan menggigit tanganku.namun semua itu membuat aku semakin
bergairah lalu kurebahkan & kutindih tubuhnya secara paksa di
pembaringan.Lalu kedua kakiku melilit kuat kedua kakinya dan merentangkan
pahanya yg berusaha mengempit memeknya itu guna melindungi serangan
tongkat syurgaku yg sudah tegang mengeras bagai baja membara.kedua
payudaranya kuremas gemas dan kukulum kulum putingnya.sehingga kedua
tangannya sibuk berusaha mendorong kepalaku saat itulah ia lengah ,
konsentrasinya terpecah.serta merta kedua tanganku membelah bibir
kemaluannya dan serangan rudalku tepat mengenai sasarannya lalu kulepas
kedua tanganku lalu kudekapkan kepunggungnya erat erat , sementara bibir dan
lidahku berkelana kelehernya.yang membuat ia merasakan gairahnya bergejolak
namun disisi lain ia merasa sedang diperkosa kakak iparnya yg sangat ia
hormati,namun sangat ia benci saat ini.ber ulang kali ia memohon untuk
melepaskannya sembari menggeser pantatnya kekanan dan kekiri untuk
melepaskan diri.namun goyangannya itu justru membuat semakin dalam kepala
rudalku masuk dan terasa agak licin pertanda ia terangsang pula,lalu kubisikan
di telinganya ,kataku “usah kau takut apa yg telah kuperbuat padamu,karena ini
semua sudah ditakdirkan olehNYA . Dan aku sangat mencintaimu dari kau kecil
hingga saat ini dan sampai akhir hayatku kelak, percayalah sayang aku pasti
akan melamarmu karena aku yakin kaulah yang sejatinya tulang rusukku yg
hilang satu.Aku tau kau takut pada mbak yu mu.Tapi jika kau menuruti apa
kataku segalanya pasti akan beres.sesaat ia tersadar dan berusaha melepaskan
lilitan kakiku dengan menyentakkan kakinya namun justru itu membuat tubuhku
bergeser maju mundur dengan keras hingga ujung kepala penisku menerjang
selaput daranya dengan keras dan fatal akibatnya.Ia mendekapku erat erat serta

menjerit tak kuasa air matanya menitik lagi. hingga saat air surgaku muncrat
membasahi dinding dinding vaginanya,ia berkata “ini bukan cinta tapi
nafsu”.lalu kujawab perkataannya “justru ini dapat mengikatmu agar kau tak
lepas dariku,karna aku takut ke hilanganmu, sayangku”.saat akan kucabut
penisku,justru ia memegangi pantatku erat erat, sambil berkata” jangan cabut
dulu,anuku terasa ngilu dan perih,please…wajahnya memelas.hilanglah C2Sku
yg angkuh dan sombongnya dulu.Walau sebenarnya dalam hati kecilku merasa
menyesal telah menodai kesuciannya tapi apalah arti sesal yang tlah
terjadi.setelah peluruku mengendur barulah kucopot dari anunya.Aku &Dia sama
sama duduk terdiam.entahlah apa yg dipikirkannya.Sedangkan Aku berfikir
bagaimana kalau kelak ia hamil,atau cerita dgn tetangga atau teman
temannya,atau bahkan ia lapor polisi,iii…ngeri…..Tiba tiba ia menutup mukanya
dengan kedua belah telapak tangannya sambil menangis sesenggukan.Buru
buru kupeluk tubuhnya erat erat sambil ku elus punggungnya dan kukatakan
‘Sayang aku pasrah dan bersalah pdmu,aku siap memikul semua dosaku
pdmu,jika kau ingin melaporkan pd polisi dan lebih senang aku di penjara,aku
siap!!,ato bila kau ingin aku menikahimu,hari ini juga,aku akan melamarmu.asal
kau bahagia,ato kau ingin merobek dadaku dan kau ambil jantungku aku
siap,aku pasrah.”lalu kusodorkan belati pdnya.lalu spontan ia mendorongku dan
meraih belati tadi.Dan hendak HARAKIRI .Aku tercengang dan secepat kilat
kurampas belati itu dari tangannya.belati dapat kuraih tapi wajahku terasa tebal
dan pedas,rupanya tangan kanannya telah melayang dan mendarat tepat di
pipiku.sambil membentak “bedebah,laknat,kenapa kau halangi
aku,hah.”puaskah bila aku hidup merana,hanya karena nafsu kau tega
memperkosaku,mencabik cabik harga diriku”?!matanya berkilat kilat penuh
dendam.hatiku jadi kecut juga saat melihatnya marah,Tapi aku berusaha
menghiburnya dengan rayuan gombal yg pernah dulu ku katakan pd mbak
yunya.kini ku ulang lagi pd adiknya.akhirnya luluh juga.Ia setuju dengan usulku
untuk menikahinya setelah lulus SMU.tak lama kemudian lagu rock itu
padam.sekali lagi ku cium bibirnya penuh kasih sayang namun kali ini ia
membalasnya penuh nafsu.sesaat birahinya dan birahiku timbul.tapi tiba tiba
pintu depan di ketuk,spontan kami mengambil pakaian masing masing dan
memakainya.Dan kain putih yg memang sudah kusiapkan untuk alas sperma dan
darah ke PRA ONEnya.ku ambil.lalu kusuruh dia tiduran dan mengunci pintunya
dari dalam.lalu aku membuka pintu depan dan dgn tenang ku sapa istriku.dan
pura pura aku kebelakang mengambil pakan ayam dan memberi makan ayam
ayam kami.Hari itu istriku tidak curiga sama sekali.aman aman aza coy… Singkat
cerita,selang 2 minggu kemudian Aku bercinta dengan istriku di siang
bolong.namun yg terbayangkan wajah adik iparku itu.sehingga nafsuku berkobar
hebat.Rupanya sepasang mata mengawasi adegan hot kami bisa di tebak, siapa
lagi kalau bukan C2S.kiranya ia pulang lebih awal,dan sudah menjadi
kebiasaannya masuk lewat pintu belakang,mungkin ia penasaran mendengar
desahan dan erangan nikmat istriku.saat itu istriku melakukan segala gaya
bahkan oral sex tak ketinggalan.hampir 1jam kami melakukannya.dan
muncratlah cairan kami berdua secara bersamaan.Tiba tiba pintu belakang
rumah dibanting keras keras.kami segera beringsut dan gugup.sampai sampai
aku lupa tidak mengenakan celana luar.hanya berpakaian dancelana dalam

sajadan keluar mencari asal suara itu.rupanya Dia … mukanya merah
padam,malu melihat anuku yg terlihat panjang dan besar yg hanya tertutup
CDku saja.juga cemburu melihat adegan kami tadi rupanya.air matanya
berlinang seolah tak rela aku bercinta dengan mba yunya.tapi aku segera masuk
saat terdengar langkah kaki istriku,untuk menghalaunya.dan kukatakan pdnya
bahwasannya C2S sedang ada masalah di sekolah.legalah istriku…. Dua malam
kemudian C2S minta izin pd mba yunya akan pergi kerumah teman sekolah
prianya,spontan aku jadi gusar dan cemburu berat,untung saja istriku malah
menyuruhku untuk mengantarkannya.lega rasanya aku…sepanjang jalan ia
mengomel “Dasar laki laki pengecut,munafik,dll.”namun tak kugubris
ocehannya, malah aku balik bertanya” siapa dan dimanakah PIL yg telah
beruntung menjatuhkan hatimu???”sindirku, padahal dlm hatiku berkobar api
cemburu yg sangat dahsyat.jawabnya “nanti kau akan tau.yg jelas.ia
tampan.sopan,mempesona,pengertian dan membuatku bahagia”Kata kata
terakhirlah yg membuat aku semakin penasaran.setelah tiba di tempat
itu.ternyata apa yang dikatakannya adalah benar adanya,badannya tinggi
wajahnya tampan,tindak tanduknya ramah dan sopan,sempurnalah ia bak DEWA
turun dari langit.tapi aku berusaha tenang dan menjabat tangannya.Dan C2S
pun mengenalkan “ini temanku yg tadi kuceritakan dan ini kakak iparku.”setelah
itu aku ditinggalkan sendiri di dalam ruang tamunya dan di suruh
menunggu.mereka pergi kebelakang rumah dan entah apa yg mereka
bicarakan.yg jelas aku cemburu,gusar,malu,marah,dsbnya.setelah urusan
mereka selesai.maka kami pamit pulang.sepanjang jalan kami diam seribu
bahasa .sesampainya di rumah kami tidur dimasing masing kamar
kami.sepanjang malam kami tidak dapat tidur.pagi hari kemudian istriku pamit
mo ke desa, ada hajatan dirumah sodaranya,pagi pagi benar jam 5 pagi istriku
sudah berangkat naik mobil saudaranya.jam 6 pagi C2S mandi, biasa hobby
rutinitasku mengintipnya mandi kujalankan.sambil kukocok anuku,kutelusuri
setiap jengkal bagian tubuhnya,hebatnya ia tak menyadari hal ini ia terlihat cuek
ato memang tak tahu.yg jelas anuku sudah bengkak meradang menahan nafsu
birahi.lalu aku lepas pakaian telanjang bulat.dan ngumpet dikamarnya lagi untuk
ke 2 Xnya.tapi sebelumnya aku memutar lagu senam nonstop agak keras.Tak
lama kemudian ia keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian rapi walau
bagian bawahnya masih dibalut handuk.saat hendak masuk kekamarnya,buru
buru aku menarik dan mendekapkan telapak tangannya ke anuku.ia terperanjat
kaget.dan berkata.”Ouw beginikah caramu menyesali perbuatanmu kemarin
dulu?!?.”Tapi aku tak peduli omongannya.dengan segera kulucuti handuknya
lalu CDnya.dan dalam posisi berdiri ku jilati memeknya,ku sedot sedot penuh
nafsu.hebatnya ia tidak menghindar malah menjambak rambutku serta
mengerang erang dan merentangkan kedua pahanya.Dan membenamkan
wajahku diantara selangkangannya.seraya bergumam”terus mas,aku kangen
sekali..”lalu ia mundur perlahan dan akupun maju terus.sehingga sampailah ia di
tepi bibir pembaringannya. rupanya ia hendak duduk.lalu perlahan ia mengocok
anuku sambil bergumam,”seharusnya benda ini hanya milikku saja,tak ada yg
boleh menyentuhnya kecuali aku.”lalu ia mendorongku dan menyuruhku berdiri
dan tangannya meraih ******ku dan menjilatinya.serta menelan bulat bulat
kepala ******ku.tak terasa tempurung lututku terasa lemas dan kakiku

gemetar,luar biasa.akhirnya ia merebahkan diri dan menelentangkan
kakinya,membuka lebar lebar pahanya.pertanda ia menginginkannya.serta
merta dengan cekatan kutusuk anunya.teman teman taukah anda.sungguh
fantastis liang vaginanya !?!penuh lendir dan membuat ******ku lancar maju
mundur,rupanya ia benar benar bergairah.hanya dalam hitungan menit
memeknya sudah muntah muntah dan mengerang erang.rupanya ia merasa
nikmat luar biasa.kini giliranku mengerang dan menekan memeknya,luar
biasa.setelah selesai ia hendak melepaskan diri tapi justru kutindih Dia dan ku
dekap erat.lalu kubisikkan pdnya,” memekmu hebat,walaupun lebar minta
ampun”.jawabnya sewot”udah tau lebar masih doyan,lagian kalau emang lebar
kenapa belum di copot juga???!!sambil berusaha melepaskan diri,dan semakin
ku pererat jepitan kakiku.dan akupun tersenyum puas.lalu aku berkata”Tus, aku
ingin secepatnya menikahimu agar aku bisa menyetubuhimu setiap hari sampai
kau jadi nenek nenek.”"agar aku nggak terus terusan ngintipin kamu mandi,juga
ngocok dan membayangkan dirimu”.Aku akanterus terang pd mba yumu dan
melamarmu.direstui ato tidak aku akan menikahimu,bila perlu kita kawin
lari.’”jujur,aku cemburu ama atta teman priamu itu.”aku tak peduli bila kau
pernah di sentuh olehnya ato belum.yg penting saat ini dan kelak kau hanya
milikku.”lalu jawabnya”aku juga cemburu pd mbayuku saat kemarin dulu kau
setubuhi.kelihatannya kau sangat bergairah saat itu dan sangat
menikmatinya,seolah olah tubuh dan permainan ranjangnya lebih hot
dariku”.lalu ku jawab”jangan salah tafsir,sayang dan perlu kau ingat ,setiap kali
aku menyetubuhi mbayumu aku selalu membayangkan Dia adalah
dirimu.”tersenyum dan legalah hatinya kini.”Dengarlah sayang,aku memang
sudah mengincarmu sedari kecil,bahkan aku punya saksi hidup,bila kau tidak
percaya.Aku punya bukti otentik dalam diariku yg berisi hayalan hidup
bersamamu.maka dengan sangat terpaksa aku sering mengintipmu saat
mandi,dan semakin dalam ego ku untuk memilikimu se utuhnya.maka aku sudah
merencanakan untuk memperkosamu dengan harapan kau akan merasa
malu,dan tidak ada keberanian mencari pria lain selain yang merenggut ke PRA
ONEnanmu yakni AKU.C2S terdiam menyimak semua pernyataanku dan terlihat
berseri seri di wajahnya.Lalu kutanya “apakah kau juga merasakan hal yg sama
seperti aku??sejenak ia terdiam lalu berkata”lebih kurang begitulah,hanya saja
apakah mungkin aku,tega merebut suami mba yuku sendiri”??!!.setelah
kudengar pernyataan polosnya itu akupun terasa lega.lalu perlahan kucopot
anuku tapi ke dua kakinya justru saling mengait dan menindih pantatku dan
iapun menggelengkan kepalanya isyarat tak ingin berakhir satu ronde.dalam
hatiku “busyet nambah ni ye…rupanya ia belum puas maka ia ganti menindihku
dan menggoyang goyangkan pinggulnya dan melumat bibirku penuh nafsu
sambil berkata”mas,ingin punya anak berapa? 4 cukup.”jawabku “enak saja
4,aku sudah punya program dan cita cita bila kelak kau jadi istriku ,aku ingin
punya anak yg lahir dari rahimmu sebanyak 35 anak.itu artinya kau tidak punya
kesempatan menyusui dan satu tahun se X kau akan mengandung.dan kamu
tidak boleh keluar kamar karena kamu akan telanjang bulat di kamar dan tidur
telentang untuk ku setubuhi. setiap24 jam 4 kali sampai anumu peot dan
wajahmu juga peot.supaya atta kagak doyan lagi.kau boleh keluar tapi seluruh
tubuhmu harus tertutup rapat kulitmu tak boleh nampak dimuka umum.”"Dan

pekerjaanmu hanya berdoa dan bersenggama denganku saja”terlihat banggalah
ia saat kalimat kalimat itu terdengar olehnya.seakan akan Dia di peluk erat dan
bermandikan cinta.sementara memeknya yang lebar itu terus melahap habis
rudalku yg kini mulai membengkak.lalu ia berkata”mulai saat ini anumu nggak
boleh masuk kekandang mbakyuku lagi,awas kamu,sementara itu goyangannya
semakin kencang,nafasnya mulai tersenggal senggal,dan bicaranyapun tak
keruan,apalagi saat kupilin putingnya dan kuisap isap serta ku putar putar
dengan lidahku.memeknya semakin keras menekan kemaluanku,kakinya
mengejang,nafasnya terengah engah memburu cepat,tangan kanannya
membekap dan membenamkan kepalaku diantara dua gunung kembarnya yg
kenyal namun mengeras.serta tangan kirinya meremas kulit punggungku erat
erat hingga terasa perih.namun semua itu tak kuhiraukan.Dalam hati aku
mencibirnya,”rasain lhu,baru tau yach?!.kalau bercinta itu nikmat?!makanya jadi
cewe jangan munafik,angkuh,seolah olah tak butuh bercinta.mentang mentang
pakai kerudung,kuajak bercinta malah menolak bahkan bersetubuh dgnku
menjijikkan dan hanya kenikmatan sesaat,seperti yang tertulis dalam buku
hariannya. “lalu ia melumat bibirku penuh nafsu.bersamaan dengan itu didalam
kemaluannya melelehlah cairan hangat yang melilit keluar melalui celah celah
antara batang kemaluanku dan kepala penisku,yg akhirnya menyelubungi
seluruh batang kemaluanku.yg pada akhirnya tubuhnya ambruk menindih
tubuhku,detak jantungnya masih berdegub keras,serta vaginanya berdenyut
denyut,rasanya seperti dipijit pijit.sementara batang kemaluanku masih tegar
siap menggempur lagi.sambil kubelai belai rambutnya aku bertanya”puaskah
kau bercinta denganku kali ini??! ” namun sesaat ia terdiam hanya
menganggukkan kepalanya saja.lalu aku bertanya lagi”apakah ini kenikmatan
sesaat”?? ia mengangkat kepalanya dan kulit wajahnya memerah ia hendak
melepaskan diri dan berusaha mencopot anunya dariku.tapi dgn sigap kutindih
balik tubuhnya dan kutekan keras anuku menusuk anunya,namun ia meronta
dan memakiku,”lepaskan aku bandot”penghianat!!!!” namun aku tak
menghiraukannya malah kujawab,”enak saja,kamu sudah keluar dua kali,aku
baru sekali,bagaimana mungkin kamu bisa hamil kalau cairan surga duniaku
tidak sering sering ku muntahkan di liang vaginamu yg menggiurkan ini ? yang
sudah lama ku idamkan,hah??”tiba tiba tangannya hendak menamparku tapi
berhasil kutangkap dan ke dua tangannya ku pegang erat erat sambil ku
gerakkan pantatku maju mundur secara cepat.sambil aku bertanya
lagi”mengapa kau marah marah nona manis?”dia balik bertanya”mengapa kau
membaca buku harianku”?!jawabku singkat “penasaran”sambil terus
kulancarkan serangan rudalku ke gawangnya dgn gencar dan ku beri tanda
merah pd lehernya dgn kecupan nikmat.ada 14 tanda merah di lehernya yg
berarti saat itu usianya 14 th.saat gerakan berontaknya melemah mulailah ku
gunakan strategi baru,2 butir telur anuku,berusaha kuikut sertakan masuk ke
dalam vaginanya,ku gesek gesekan pada bibir bagian bawah vaginanya secara
perlahan,tekan angkat tekan angkat dstnya.lalu dia diam melemah tak ada
perlawanan lagi,seolah ia menyerah dan pasrah karena lelah ato bisa juga ia
sedang ikut menikmatinya.yg jelas saat ini aku sedang berada di ujung
kenikmatan yg luar biasa,pasalnya penisku berdenyut kencang dan aku
berusaha menahannya.tapi akhirnya menyembur juga walau tidak sebanyak yg

pertama tapi nikmatnya tak jauh beda dengan yang pertama.tubuhnya kudekap
erat dan kulumat bibirnya penuh nafsu bahkan ia ikut mengimbangi dengan
menggoyangkan pantatnya dan membalas lumatan ciumanku.setelah hampir 3
jam kami bercinta akhirnya burungku pun mengendur dan copot dengan
sendirinya dari sarang.ia merasa risih dengan cairan yg ada di dalam vaginanya
dan hendak beranjak dari sisiku,namun kucegah,sebab justru cairan itu adalah
ovum dan sperma kami yg mungkin sedang bereaksi.maka ku anjurkan agar dia
istirahat sejenak.sambil istirahat kami berbincang bincang mengenai sex dan
tanggungjawabku pdnya.to be continue……… dalam keadaan telanjang bulat ku
dekap bagian belakang tubuhnya.setelah nafasnya normal kembali teratur,iapun
beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan
akupun menguntitnya mengikuti dia masuk.kami mandi bersama.sekali lagi
anuku berdiri dan aku mengajaknya dgn isyarat kugesek gesekan anuku ke
pantatnya.namun ia menolak halus karena kecapaian.tapi ia janji esok lusa
bersedia.tapi ia sempat mengulum dan menjilati anuku,walau anuku tak keluar
tapi cukup bagiku.2 hari kemudian aku pergi karena ada carteran ke jakarta,aku
pamit pd istriku dan c2s,sebelum berangkat secara sembunyi sembunyi kutemui
c2s dikamarnya dan meminta CD yg sedang di pakainya dgn alasan supaya
selamat di jalan karena selalu teringat dia di rumah yg menunggu
kepulanganku.awalnya ia menolak karena ia malu dan jengah.tapi setelah
kurayu rayu,akhirnya ia tanggalkan juga,dan langsung kuciumi CDnya itu di
depan matanya setelah puas lalu aku menyuruhnya membungkusa anuku yg
tegak berdiri dgn CDnya dan kuajarkan cara membungkus yang benar.mula
mula bagian CDnya yg menempel pd lubang memeknya di tempelkan ke kepala
penisku,lalu sisanya untuk membungkus batang dan 2 buah zakarku.lalu ia
membekap mulutnya untuk menahan tawanya,sambil berbisik” kamu
gila”.”bukan gila,tapi tergila gila pdmu sayang.!.!”jawabku mesra.wajahnya
nampak bahagia saat kutinggalkan serta terlihat bangga.3 hari kemudian aku
sudah sampai di rumah dan yg pertama kutemui adalah kekasih gelapku.yg saat
itu ia sedang mendengarkan musik SHEILA on 7 di kamarnya yg dari depan
rumah ku dengar lamat lamat,…slamat tinggal kekasih gelapku,moga saja kau
lupakan aku….kekasih sejati…dstnya.lalu kubuka pintu kamarnya perlahan.serta
merta ia bangkit dari ranjangnya dan memelukku serta melumat bibirku dan
berbisik “aku kangen sekali,pah.” ” Akupun begitu sayang.”jawabku.lalu
terdengar teriakkan istriku yg memanggilku.buru buru kulepas dekapannya dan
kukecup keningnya,serta kubisikkan “tunggu saja kelak,setelah kita syah jadi
suami istri.”lalu ku pegang jemari tangannya dan ku berikan ring sebagai oleh
oleh.aku pun keluar dari kamarnya dan buru buru menemui istriku yg ada di
belakang rumah.dan menyambutku dengan pelukan mesra.malam harinya aku
tertidur pulas.dan tak di sangka sangka istriku melucuti pakaianku serta
membuka celana dalamku dan hendak meremas anuku.bukan main kagetnya ia
saat melihat anuku terbungkus CD yg bukan miliknya.dengan kasar ia
membangunkanku dari tidur.dan serta merta membentakku dan bertanya” CD
siapa ini ?”lalu ia menyalakan lampu dan memandangi CD itu.lalu ia berkata
“bukankah ini milik adikku?”lalu ku jawab terus terang “ya,begitulah kira
kira,tapi itu hanya untuk iseng dan selingan saja.aku berusaha
menenangkannya,namun rupanya ia marah besar,marah yg di bumbui oleh

perasaan cemburu.ia meronta ronta saat aku berusaha melucuti pakaian dan
CDnya.dengan buas aku merobek long dressnya hingga terlihatlah payudaranya
yg putih itu yg sebagian tertutup oleh BHnya.lalu kutindih dia dan kuremas
remas payudaranya dan kukulum putingnya sementara ku gosok gosok
memeknya yg masih terbungkus CD.lalu ku jilati perutnya dan merambat ke
bawah perutnya,memeknya yg masih terbungkus CD itu kulumat dgn bibirku dan
kedua tanganku meremas jemari tangannya.ia mulai terangsang dan sejenak
menikmatinya dan aku sudah hafal betul ciri khas istriku saat terangsang,ia pasti
akan melebarkan ke dua pahanya.lalu tangannya akan meremas rambut
kepalaku dan membenamkan wajahku pd memeknya.melihat gelagat ini buru
buru ku lucuti CDnya dan ku masukkan jari tengah tanganku ke dalam liang
vaginanya untuk mengecek gairahnya.ternyata memeknya sudah sangat becek
tapi aku tak buru buru menusuknya dgn anuku.tapi malah kujilati dan ku sedot
sedot memeknya.ia mengerang dan menggelinjang tak keruan.lalu ia bangkit
dan menarik anuku dan melumat anuku penuh nafsu,di sedot sedot dan di
kulumnya,kini posisi kami jadi 69.wajahku di tindih oleh memeknya sedangkan
dgn brutal ia mencabik cabik anuku dengan mulutnya.kira kira setengah jam
kemudian ia bangkit dan memegangi anuku dan berusaha memasukkannya ke
memeknya yg sudah basah kuyub itu.keruan saja anuku langsung amblas tak
bersisa lalu ia mulai menggoyangkan pinggulnya berputar seperti sedang main
holahop.rambutnya yg hitam panjang terurai turun menutupi wajah dan
payudaranya yg bergoyang goyang.dengan gemas ku remas
payudaranya,kupilin pilin putingnya sambil ku pandangi wajahnya yg cantik
itu,pikiranku melayang membandingkan dia dan adiknya,kalo di lihat dari wajah
istriku jauh lebih unggul.istriku berwajah ceria,anggun,cantik tentunya,serta
berwibawa.kalau adiknya,berwajah kalem,angkuh,menggairahkan,serta
galak,seperti macan betina sedang menyusui.ke 2 kalo diliat dari payudaranya
c2s jelas lebih buesar karena berukuran 36 b dan putingnya sangat kecil,ke 3
kalo di liat dari pantat dan pinggulnya C2S juga 1 tingkat diatas istriku.ke 4 kalo
diliat dari memek dan rambut kemaluannya sama sama lebar,becek,dan hitam
lebat,serta halus kalo di liat dari kulitnya sama sama halus mulus tanpa cacat
dari ujung kaki sampai ujung rambutnya,hanya warna kulitnya agak berbeda
sedikit,yakni kalo istriku,luar dalam kuning langsat,tapi kalo C2S bagian luar
berwarna kuning langsat ke coklatan tapi bagian dalamnya berwarna kuning
langsat seperti mbakyunya.Dan yg membuat aku penasaran pd c2s,ia selalu
memakai ******.Tiba tiba istriku mengerang dan menyuruhku menjilati lehernya
serta menyuruhku mengangkat pantatku tinggi tinggi.lalu ia bergerak maju
mundur dgn cepat dan mendekapku erat erat yang akhirnya muntahlah sudah
cairan ovumnya lalu ia melumat bibirku sekali lagi.lalu aku berpura pura hendak
mencopot anuku tapi ia malah menekan anuku keras keras serta me mijit mijit
anuku dgn memeknya yg berdenyut denyut itu.seakan akan ia enggan
melepaskannya.lalu aku bertanya,”sudah puas sayang?”ia hanya
menganggukkan kepalanya saja.lalu aku berkata”mari sini,biarlah kujebolkan
gawangmu ini,gawang yg telah membuat anuku meradang,sambil kubalik posisi
kami,tanpa melepaskan kemaluan kami yang berdempetan.lalu giliranku
menggasaknya dengan kasar dan brutal maju mundur secara cepat dan
kebiasaanku selalu mengikut sertakan dua buah biji zakarku menggesek

gesekkan pd bagian bawah kemaluannya yang mengakibatkan orgasmeku
memuncak,sementara mulutku memanggil manggil nama istriku namun dalam
hatiku memanggil nama kekasih gelapku,Tusrini ohhhh tus….
oh…..sayangku.cintaku,nafsuku…..oh…..tusssss ……kakiku yg melilit kakinya
mengejang serta serangan rudalku semakin gencar dan terdengar istriku
mengerang kesakitan dan perih. yg akhirnya muncratlah sudah air syurgaku.lalu
istriku mengusap usap punggungku berulang kali serta bertanya” apakah tadi
saat kau bercinta denganku,kau membayangkan sedang bercinta dengan adikku
? jujurlah sayang ? ato kau hanya berusaha melayaniku dan menyenangkanku
saja ? dengan jawaban yg munafik,kujawab pertanyaan istriku itu,”tidak,sayang!
itu tidak benar!”sambil ku copot anuku dari memeknya dan bangkit dari
ranjang.serta berpura pura belum puas menyetubuhinya, jari tengah tanganku
ku masukkan ke dalam memeknya yg sangat becek itu dan memutarnya
perlahan sambil menciumi pipi dan lehernya,terlihat redamlah api
cemburunya,lalu ia bertanya lagi “jawablah dgn jujur dan terbuka ,buatlah aku
cemburu dan buatlah aku ingin bercinta selalu.”pancingnya “apakah kau sudah
menidurinya”dan “apakah kau mencintainya?”sejenak aku terdiam dan ku putar
otakku mengolah jawaban yg tepat.lalu aku menjawab,jangan marah bila aku
terus terang ,sayang.berjanjilah!!!!!ia mengangguk serta tersenyum dan
mengangkat dua jari tangan kanannya serta mengucapkan janjinya “aku janji
ndak akan marah walau sepahit apapun nantinya.!!”lalu aku mulai mengarang
cerita yakni saat aku secara tidak sengaja melihat payudaranya yg
bergelantungan saat dia mengepel lantai ruang tamu.akhirnya membuat aku
penasaran dan membuat aku ingin mengintipnya saat ia mandi serta ku
ceritakan CDnya sebagai alat ngocok,semua itu kulakukan demi menahan
terjadinya tindak perkosaan.Tiba tiba ia memelukku dan menciumku mesra.Lalu
aku berjanji pdnya untuk tidak mengulangi perbuatanku itu lagi,tapi ia malah
menjawab di luar dugaanku,”teruskan saja hobimu itu dan salurkanlah hasratmu
itu pdku saja,kecuali bila aku lagi M,kau boleh gunakan CDnya untuk
menyalurkan hasratmu itu,dan sesekali aku ingin menontonnya.”Bukan
main”,istriku memang penuh pengertian,sampai aku bengong tak percaya
mendengarnya.
Istri Kakakku Yang Kesepian
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:53 am
Filed under Setengah baya
Sebut namaku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan
istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku
dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost. Usiaku dengan Kak Deni
selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.
Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah. Sering
kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku. Kuhibur dia
dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama Terkesan kalau Dina
lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang
akhirnya kami sering keluar jalan-jalan. Dan terkadang kami nonton

bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira
pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk beluk di
dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik. Keesokan harinya
sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan
kemana Dina. Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV.
Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam,
terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang, sekilas kulihat Dina
sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku. “Maaf Mbak!” sahutku
dengan tidak enak.
Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang sekilas
kulihat tadi. Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan
daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga
memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat beberapa lama di dalam
kamar. Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel
CD simpanan di kamarku. Tampaknya birahiku muncul melihat adeganadegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya.
Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya seiring
adegan film aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan
kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa
mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang
dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.
“Ma.. maaf, ganggu ya,” tanya Dina dengan matanya yang menatap
milikku.
“Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak,” sahutku dengan tanganku yang
masih memegang milikku.
“Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?” tanya Dina dengan bingung karena
kejadian ini.
“Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak,” sahutku sambil
kumasukkan milikku lagi.
“Kamu nonton apa?” tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.
“I.. itu.. sama yang tadi,” sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina
di kamarnya.
Dina terdiam sesaat sambil melihat film.
“Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?” tanyaku dengan malu.
“Boleh, kenapa enggak?” jawab Dina.
“Mau minjem Mbak… apa mau nonton di sini?” tawarku kepada Dina.
“Sekalian aja deh, biar rame,” jawabnya.
Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami
mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang
berhubungan di film. Mungkin karena kami sering berdua dan bicara
dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan.
Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami
sadari Dina milik kakakku. Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan
dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama. Kami akhirnya

mulai sering melirik dan bertatapan mata. Sesaat saat film berputar
tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan.
Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak
mengikuti iringan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah,
akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing. Nafsu membuat kami
terus berebutan air liur.
Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan
berhenti. Kami hanya bisa diam dalam pelukan. Mata kami tak sanggup
bertatapan. Rasanya bingung. Cukup lama kami berpelukan sampai
akhirnya kami duduk biasa lagi. Kehangatan tubuh dan sikap Dina
memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan katakata. Perlahan kubuai rambut panjang Dina. Tampaknya ia menyukainya.
Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi.
Wajahnya dewasa dan cantik, kurasakan wajah yang mengharapkan
sentuhan dan kehangatan. Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman
lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya, ahh nikmat rasanya. Bibirnya
terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan. Sekilas
kulihat buah dadanya yang besar. Lalu kupeluk Dina dengan maksud
ingin menyentuh dan merasakan miliknya.
Sesaat kurasakan miliknya di dadaku, besar, empuk dan besar. Perlahan
tanganku mengelus-elus pahanya yang lembut dan halus. Sebagai
penjajakan kuelus selangkangannya, tampaknya ia menikmatinya.
Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya. Tanpa
menunggu aku segera meraba-raba daerah sensitifnya. Sesaat tanganku
ia raih dan ia giring ke dadanya. Ahh, akhirnya kurasakan buah dada
yang besar di dekapan tanganku. Sesaat kurasakan milikku didekap
tangan Dina, ahh rasanya aku menikmatinya. Perlahan tangannya
memainkan, nikmat rasanya. Perlahan kulepaskan tangan Dina dari
milikku. Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap.
Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku. Sesaat tangannya mendekap
milikku, ia mainkan lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke
milikku dan ia hisap. Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka
menghisap milikku. milikku keluar masuk di mulutnya secara perlahan
seiring tangannya yang mengayun-ayun milikku.
Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup
bra. Kuraih kaitannya dan kulepas. Perlahan tanganku menyusup di
branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan
lembut. Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun
mengeras. Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama
celana dalamnya. Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat
merangsang. Pinggangnya yang ramping dan pinggul yang lumayan,
kulitnya putih bersih dan mulus. Kuelus-elus bokongnya yang halus dan
lembut. Pahanya kuraba lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya. Seiring
hisapannya kumainkan bibir vagina yang sudah basah perlahan jariku

masuk ke liang vaginanya. Kurasakan lembut di jemariku, nikmat
rasanya.”Dede.. oouuhhh…” ucapnya seiring jariku yang tertancap di
liangnya. Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah
cepat. Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.
Cukup lama mulutnya bermain sampai ku tak tahan menahan
maniku. “Mmmhhh…” ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya.
Kurasakan mulutnya tetap menghisap milikku, lalu maniku dan terus
sampai beberapa lama. Kemudian bibirnya selesai bermain. “Udah De?”
sahutnya dengan isyarat apakah aku puas. Aku tersenyum melihat wajah
cantiknya yang memucat dan merangsang. Rasanya milikku belum puas
masuk di mulutnya. Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih
masuk di liangnya. “Mbak yang ini belom,” sahutku dengan isyarat
jariku yang keluar masuk di liangnya.”Emang kenapa?” tanyanya dengan
isyarat wajah yang menanyakan apa keinginanku. Kemudian kubuat posisi
bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat seakan siap
bermain. Bibir vagina yang agak merah terlihat jelas olehku. Milikku
yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut yang
sudah basah. Perlahan kumasukkan dan akhirnya hilang tertelan di
liang Dina yang lembut.
“Mmhhh….” desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat dan
telapak kakinya memeluk pinggulku. Milikku keluar-masuk diliangnya
dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan
sentuhanku. “Ooouuhh… ooouuhhh…” berulang desahan itu Dina
keluarkan. Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina. Perlahan
kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan penis
dan liangnya. Sessat ia dekap tubuhku. Tubuhnya menegang. “Dede…”
ucapnya dengan getaran kenikmatan. Aahhh Kurasakan penisku didekap
kuat liang Dina. “Ooouuuhh,” desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai
melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya
santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh,
puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat
menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. “Ooouuuhhh…” desah
Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus.
Tampaknya Dina tak menolaknya. Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya.
Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya. Dan beberapa kali
kami berciuman lagi. Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milik dan
maniku karena benar-benar nikmat.
Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang agak
mengering basah lagi. Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan
sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan. Esoknya kami tersadar dan
kami mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin. Rasa
bersalah hilang karena Kami rasakan kecocokan, dan kami teruskan
hubungan ini. Karena kakakku jarang di rumah kami sering berdua,
tidur bersama dan mandi bersama dengan sentuhan-sentuhan yang nikmat.

Ini menjadi rahasia kami berdua seterusnya. sampai aku memiliki istri
dan sama-sama mempunyai anak kami terus berhubungan
Didi dan Tante
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:45 am
Filed under Daun Muda
Didi mengenal seks pada usia 18 tahun ketika masih sekolah. Waktu itu karena
Didi yang bandel dikampungnya maka ia dikirim kesekolah yang ada Pondok
Pesantrennya di Jawa barat, Didi lalu dititipkan pada keluarga teman baik
ayahnya, seorang Kiayi Fuad begitu Didi memanggilnya ia adalah seorang yang
cukup berpengaruh, pak Kiayi mengelola pesantren itu sendiri yang lumayan
besar. Anak-anak mereka, Halmi dan Julia yang seusia Didi kini ada di Mesir sejak
mereka masih berumur 12 tahun. Sedangkan yang sulung, Irfan kuliah di
Pakistan. Istri Kiayi Fuad sendiri adalah seorang pengajar disekolah dasar negeri
disebuah kecamatan Didi memanggilnya Nyai Fifi, wanita itu berwajah manis dan
berumur 40 tahun dengan perawakan yang bongsor dan seksi khas ibu-ibu istri
pejabat. Sejak tinggal di rumah Kiayi Fuad iDidi seringkali ditugasi mengantar
Nyai Fifi, meskipun hanya untuk pergi ke balai desa atau pergi kota Kabupaten.
Meski keluarga Kiayi Fuad cukup kaya raya dan terpandang namun tampaknya
hubungan antara dia dan istrinya tak begitu harmonis. Didi sering mendengar
pertengkaran-pertengkaran diantara mereka di dalam kamar tidur Kiayi Fuad,
seringkali saat Didi menonton televisi terdengar teriakan mereka dari ruang
tengah. Sedikitpun Didi tak mau peduli atas hal itu, toh ini bukan urusannya, lagi
pula Didi kan bukan anggota keluarga mereka. Biasanya mereka bertengkar
malam hari saat penghuni rumah yang lain telah terlelap tidur, dan Belakangan
bahkan terdengar kabar kalau Kiayi Fuad ada mempunyai wanita lain sebagai
isteri simpanan. ?Ah untuk apa aku memikirkannya? bisik hati Didi. Biar saja
Kiayi Fuad berpoligami yang penting aku dapat beronani sambil membayangkan
tubuh bahenol Nyai Fifi, dan sekali kali ingin juga aku menyetubuhi isterinya pak
Kiayi Fuad yang cantik itu?.busyeeeet pikiran kotor ku mulai kambuh lagi, Aah
masa bodoh emang aku pikirin he heeeeee.
Suatu hari di bulan Oktober, Bi Tinah, seorang pembantu dan Mang Darta
penjaga pesantren juga pulang kampung mengambil jatah liburan mereka
bersamaan saat Lebaran. Sementara Kiayi Fuad pergi berlibur ke Mesir sambil
menjenguk kedua anaknya di sana. Nyai Fifi masih sibuk menangani tugas tugas
sekolahan yang mana para muridnya hendak menghadapi ujian, Nyai Fifi lebih
sering terlambat pulang, hingga di rumah itu tinggal Didi sendiri. Perasaan Didi
begitu merdeka, tak ada yang mengawasi atau melarangnya untuk berbuat apa
saja di rumah besar disamping pesantren. Mereka meminta Didi menunda jadwal
pulang kampung yang sudah jauh hari direncanakan, dan Didi mengiyakan saja,
toh mereka semua baik dan ramah padanya. Malam itu Didi duduk di depan
televisi, namun tak satupun acara TV itu menarik perhatiannya. Didi termenung
sejenak memikirkan apa yang akan diperbuatnya, sudah tiga hari tiga malam
sejak keberangkatan Kiayi Fuad ke Mesir, Nyai Fifi tak tampak pulang ke rumah
hingga sore hari. Maklumlah ia harus bolak balik ke kabupaten mengurus soal
ujian sekolah dikantor Dinas pendidikan., jadi tak heran kalau mungkin saja hari

ini ia ada di kota kabupaten, Saat sedang melamun Didi melirik ke arah lemari
besar di samping pesawat TV layar lebar itu. Matanya tertuju pada rak piringan
VCD yang ada di sana. Dan dalam hati Didi penuh dengan tanda Tanya?dalam
hati Didi berbisik Segera kubuka sajalah mana tahu ada film bagus untuk
ditonton, sambil memilih film-film bagus yang ada disitu yang paling membuat
aku menelan ludah adalah sebuah film dengan cover depannya ada gambar
wanita telanjang. Tak kulihat lama lagi pasti dari judulnya aku sudah tahu
langsung kupasang dan.., ?wow!? batinku kaget begitu melihat adegannya yang
membangkitkan nafsu. Seorang lelaki berwajah Arab sedang menggauli dua
perempuan sekaligus dengan beragam gaya.
Sesaat kemudian aku sudah larut dalam film itu. Penisku sudah sejak tadi
mengeras seperti kayu, malah saking kerasnya terasa sakit, aku sejenak
melepas celana panjang dan celana dalam yang kukenakan dan menggantinya
dengan celana pendek yang longgar tanpa CD. Aku duduk di sofa panjang depan
TV dan kembali menikmati adegan demi adegan yang semakin membuatku gila.
Malah tanganku sendiri meremas-remas batang kemaluanku yang semakin
tegang dan keras. Tampak penis besarku yang panjang sampai menyembul ke
atas melewati pinggang celana pendek yang kupakai. Cairan kentalpun sudah
terasa akan mengalir dari sana.
Tapi belum lagi lima belas menit, karena terlalu asyik aku akan sampai tak
menyangka Nyai Fifi isteri Kiayi Fuad sudah berada di luar ruang depan sambil
menekan bel. Ah, aku lupa menutup pintu gerbang depan hingga Nyai Fifi bisa
sampai di situ tanpa sepengetahuanku, untung pintu depan terkunci. Aku masih
punya kesempatan mematikan power off VCD Player itu, dan tentunya sedikit
mengatur nafas yang masih tegang ini agar sedikit lega. Aku tidak menyangka
Nyai Fifi yang seorang guru dan isteri seorang Kiayi punya koleksi VCD porno
atau VCD itu hasil rampasan dari tangan para santri santri yang Bengal yang
kedapatan menyelundupkan VCD porno tsb kedalam pondok pesantren. Karena
rata rata para santri yang ada dipondok pesantren itu adalah para korban
Narkoba. Seketika timbul penyakit bengal ku, karena kenakalanku sewaktu
dikampung aku ketahuan mengintip isteri tetangga yang sedang mandi sebab
kenakalan itu aku dititipkan oleh ayahku pada keluarga Kiayi Fuad di
Tasikmalaya dikota kecil didaerah jawa barat, semantara asal ku dari pulau
Sumatera. Dan aku sering memangil isteri pak Kiayi itu dengan sebutan tante Fifi
dan terkadang juga kupanggil perempuan cantik itu dengan panggilann Nyai Fifi
karena dia adalah isteri seorang Kiayi terpandang dan sangat kayak arena
memiliki berhektar hektar sawah dan kebun buah buahan.
?Kamu belum tidur, Di??, sapanya begitu kubuka pintu depan.?Belum, Nyai?,
hidungku mencium bau khas parfum Tante Fifi yang elegan.?Udah makan??.?
Hmm.., belum sih, tante sudah makan??, aku mencoba balik bertanya.?Belum
juga tuh, tapi tante barusan dari rumah teman, trus di jalan baru mikirin makan,
so tante pesan dua kotak nasi goreng, kamu mau??.?Mau dong tante, tapi mana
paketnya, belum datang kan??.?Tuh kan, kamu pasti lagi asyik di kamar
makanya nggak dengerin kalau pengantar makanannya datang sedikit lebih awal
dari tante?.?oo?, jawabku bego.
Nyai Fifi berlalu masuk kamar, kuperhatikan ia dari belakang. Uhh, bodinya
betul-betul bikin deg-degan, atau mungkin karena aku baru saja nonton BF yah?

Ayo, kita makan..?, ajaknya kemudian, tiba-tiba ia muncul dari kamarnya sudah
berganti pakaian dengan sebuah daster bermotif bunga bunga yang longgar
tanpa lengan dan berdada rendah. Mungkin Nyai Fifi merasa kegerahan setelah
memakai baju panjang dan rambutnya selalu tertutup ****** seharian.
Penampilan khas perempuan cantik itu sebagai isterinya pak Kiayi, bila ia berada
diluar rumah mesti memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya.
Walaupun sekujur tubuhnya tertutup baju panjang dan ****** masih nampak
seksi dan anggun, malam itu benar benar membuatku jadi terpana saat?.dan
bergairah ingin memeluk tubuhnya.
?Ya ampun Nyai Fifi?, batinku berteriak tak percaya, baru kali ini aku
memperhatikan wanita itu dalam keadaan tidak memakai ****** dan baju
panjangnya. Kulitnya putih bersih, dengan betis yang woow, berbulu menantang
pastilah perempuan cantik ini punya nafsu seksual yang liar, itu kata temanku
yang pengalaman seksnya tinggi. Buah dadanya tampak menyembul dari balik
gaun tidur itu, apalagi saat ia melangkah di sampingku, samar-samar dari sudut
mataku terlihat indah payudaranya yang putih lembut.?Uh.., apa ini gara-gara
film itu??, batinku lagi. Khayalanku mulai kurang ajar, atau selama ini aku
melihat Nyai Fifi selalu memakai jubah panjang dan ber****** jadi aku tidak tahu
bentuk tubuhnya yang sebenarnya, seketika aku memasukkan bayangan Nyai
Fifi ke dalam adegan film tadi.?Hmm..?, Tak sadar mulutku mengeluarkan suara
itu.?Ada apa, Di??, isteri pak Kiayi itu memandangku dengan alis berkerut.?
Nngg.., nggak apa-apa Nyai..?, Aku jadi sedikit gugup. Oh wajahnya, kenapa baru
sekarang aku melihatnya begitu cantik??Eh.., kamu ngelamun yah, ngelamunin
siapa sih? Pacar??, tanyanya.?Nggak ah tante?, dadaku berdesir sesaat
pandangan mataku tertuju pada belahan dadanya. Wow serasa hendak jebol
celana yang kupakai oleh desakan penisku yang memberontak tegang.?Oh My
god, gimana rasanya kalau tanganku sampai mendarat di permukaan buah
dadanya, mengelus, merasakan kelembutan payudara itu, oohh?, lamunan itu
terus merayap melambung tinggi.?Heh, ayo.., makanmu lho, Di?.?Ba.., bbaik
Nyai?, jelas sekali aku tampak gugup.?Nggak biasanya kamu kayak gini, Di. Mau
cerita nggak sama tante Fifi?.Oh my god, dia mau aku ceritakan apa yang aku
lamunkan? Susumu itu Nyai, susumu yang tergantung indah aku remas remas ya
bisik hatiku, aku mulai berfikir bagaimana bisa menyetubuhi isteri Kiayi Fuad
yang montok dan cantik ini.
Pelan-pelan sambil terus melamun sesekali berbicara padanya, akhirnya
makananku habis juga. Aku kembali ke kamar dan langsung menghempaskan
badanku ke tempat tidur. Masih belum lepas juga bayangan tubuh Nyai Fifi. ?
Gila! Gila! Kenapa perempuan paruh baya itu membuatku gila?, pikirku tak habis
habisnya. Umurnya terpaut sangat jauh denganku, aku baru 18 tahun.., dua
puluh lima tahun dibawahnya. Ah, mengapa harus kupikirkan, persetan ah yang
penting bagaimana caranya aku dapat menikmati tubuh montoknya.
Aku melangkah ke kamarku dan berbaring ditempat tidur, mencoba
melupakanya, Tapi mendadak pintu kamarku diketuk dari luar.?Di.., Didi.., ini
Tante Fi?, terdengar suara tante Fifi yang seksi itu memanggil.?Ah..?, aku
beranjak bangun dari ranjang dan membukakan pintu, ?Ada apa, tante??.?Kamu
bisa buatin tante kopi??.?oo.., bisa tante?.?Tahu selera tante toh??Iya tante,
biasanya juga saya lihat Bi Tinah?, jawabku singkat dan langsung menuju ke

dapur.?Tante tunggu di ruang tengah ya, Di?.?Baik, tante?.?Didi..??Ya.., tante?.?
Kamu kalau habis pasang film seperti ini lain kali masukin lagi ke tempatnya
yah?.?mm.., ma.., ma.., maaf tante..? aku tergagap, apalagi melihat Tante Fifi
isteri pak kiayi itu yang berbicara tanpa melihat ke arahku. Benar-benar aku
merasa seperti maling yang tertangkap basah.?Di..?, Tante Fifi memanggil dan
kali ini ia memandangi, aku menundukkan muka, tak kubayangkan lagi
kemolekan tubuh istri Kiayi Fuad itu. Aku benar-benar takut bercampur dengan
nafsu.?Tante nggak bermaksud marah lho, di..?, byarr hatiku lega lagi.?Sekarang
kalau kamu mau nonton, ya sudah sama-sama aja di sini, toh sudah waktunya
kamu belajar tentang ini, biar nggak kuper?, ajaknya.?Woow..?, kepalaku
secepat kilat kembali membayangkan tubuhnya. Aku duduk di sofa sebelah
tempatnya. Mataku lebih sering melirik tubuh Tante Fifi daripada film itu.?Kamu
kan sudah 18 tahun, Di. Ya nggak ada salahnya kalau nonton beginian. Lagipula
tante kan nggak biasa lho nonton yang beginian sendiri..?. Tak kusangka ucapan
isteri Kiayi Fuad begitu terang terangan, padahal Nyai Fifi adalah seorang
pendidik alias guru apakah karena dunia ini sudah semakin tua, atau isteri Kiayi
itu yang nampaknya alim namun sesungguhnya memiliki nafsu syahwat besar
yang tak tersalurkan.Apa kalimat itu berarti undangan? Atau kupingku yang
salah dengar? Oh my god Tante Fifi mengangkat sebelah tangannya dan
menyandarkan lengannya di sofa itu. Dari celah gaun di bawah ketiaknya terlihat
jelas bukit payudaranya yang masih seger dan bentuknya indah. Ukurannya
benar-benar membuatku menelan ludah Wooow. Posisi duduknya berubah,
kakinya disilangkan hingga daster itu sedikit tersingkap. Yeah, betis indah
dengan bulu-bulu halus, Hmm? Wanita 40-an itu benar-benar menantang, wajah
dan tubuhnya mirip sekali dengan Marisa Haque, hanya Tante Fifi kelihatan
sedikit lebih muda, bibirnya lebih sensual dan hidungnya lebih mancung. Aku tak
mengerti kenapa perempuan paruhbaya ini begitu tampak mempesona di
mataku. Tapi mungkinkah..? Tidak, dia adalah istri seorang Kiayi yang
terpandang, orang yang belakangan ini sangat memperhatikanku. Aku di sini
untuk belajar.., atas biaya mereka.., ah persetan!
Tante Fifi mendadak memindahkan acara TVRI ke sebuah TV swasta.?Lho..
kok??.?Ah tante bosan ngeliatin acara di TV itu terus, ..?.?Tapi kan..?.?Sudah
kalau mau kamu mau nonton yang lain nonton aja sendiri di kamar..?, wajahnya
masih biasa saja.?Eh, ngomong-ngomong, kamu sudah hampir setahun di sini
yah??.?Iya tante..?.?Sudah punya pacar??, ia beranjak meminum kopi yang
kubuatkan untuknya.?Belum?, mataku melirik ke arah belahan daster itu,
tampaknya ada celah yang cukup untuk melihat payudara besarnya. Tak sadar
penisku mulai berdiri.?Kamu nggak nyari gitu??, ia mulai melirik sesekali ke
arahku sambil tersenyum.?Alamaak, senyumnya.., oh singkapan daster bagian
bawah itu, uh Tante Fifi.., pahamu?, teriak batinku saat tangannya tanpa sengaja
menyingkap belahan gaun di bagian bawah itu. Sengaja atau tidak sih?
?Eeh Di.kamu ngeliatin apaan sih??.Blarr.., mungkin ia tahu kalau aku sedang
berkonsentrasi memandang satu persatu bagian tubuhnya, ?Nnggak kok tante
nggak ngeliat apa-apa?.?Lho mata kamu kayaknya mandangin tante terus? Apa
ada yang salah sama tante, Di??, ya ampun dia tahu kalau aku sedang asyik
memandanginya.?Eh.., mm.., anu tante.., aa.., aanu.., tante.., tante?,
kerongkonganku seperti tercekat.?Anu apa.., ah kamu ini ada-ada saja,

kenapa..?, matanya semakin terarah pada selangkanganku, ******* aku lupa
pakai celana dalam. Pantas Tante Fifi tahu kalau penisku tegang.?Ta.., ta.., tante
cantik sekali..?, aku tak dapat lagi mengontrol kata-kataku. Dan astaga,
bukannya marah, Tante Fifi malah mendekati aku.?Apa.., tante nggak salah
dengar??, katanya setengah berbisik.?Bener kok tante..?.?Tante yang seumur ini
kamu bilang cantik, ah bisa aja. Atau kamu mau sesuatu dari tante?? ia
memegang pundakku, terasa begitu hangat dan duh gusti buah dada yang sejak
tadi kuperhatihan itu kini hanya beberapa sentimeter saja dari wajahku. Apa aku
akan dapat menyentuhnya, come on man! Dia istri pemilik pondok pesantren ini
batinku berkata?Aah persetan.
Tangannya masih berada di pundakku sebelah kiri, aku masih tak bergeming.
Tertunduk malu tanpa bisa mengendalikan pikiranku yang berkecamuk. Harum
semerbak parfumnya semakin menggoda nafsuku untuk segera berbuat sesuatu.
Kuberanikan mataku melirik lebih jelas ke arah belahan kain daster berbunga itu.
Wow.., sepintas kulihat bukit di selangkangannya yang ahh, kembali aku
menelan ludah.
?Kamu belum jawab pertanyaan tante lho, Di. Atau kamu mau tante jawab
sendiri pertanyaan ini??.?Nggak kok Nyai, ss.., ss.., saya jujur kalau tante
memang cantik, eh.., mm.., dan menarik?. Terus apa lagi ayo bilang..?aaaku
mau pegang susu Nyai. Kuberanikan diriku sambil menatap kedua bola matanya
yang indah itu.?Kamu belum pernah kenal cewek yah?.?Belum, tante?.?Kalau
tante kasih pelajaran gimana??.Ini dia yang aku tunggu, ah persetan walau dia
ini isteri Kiayi Fuad sahabat ayahku aku tak perduli. Anggap saja ini pelajaranku
dari Tante Fifi. Dan juga.., oh aku ingin segera merasakan tubuh wanita cantik
ini.?Maksud tante.., apa??, lanjutku bertanya, pandangan kami bertemu sejenak
namun aku segera mengalihkan.?Kamu kan belum pernah pacaran nih, gimana
kalau kamu tante ajarin caranya menikmati wanita..?.?Ta.., tapi tante?, aku
masih ragu.?Kamu takut sama pak Kiayi suamiku? Tenang.., yang ada di rumah
ini cuman kita, lho?.?Wow hebat?, teriakku dalam hati. Pucuk dicinta ulam pun
tiba. Batinku terus berteriak tapi badanku seperti tak dapat kugerakkan.
Beberapa saat kami berdua terdiam.?Coba sini tangan kamu?, aku memberikan
tanganku padanya, my goodness tangan lembut itu menyentuh telapak
tanganku yang kasarnya minta ampun.?Rupanya kamu memang belum pernah
nyentuh perempuan, Di. Tante tahu kamu baru beranjak remaja dan tante ngerti
tentang itu?, ia berkata begitu sambil mengelus punggung tanganku, aku
merinding dibuatnya, sementara di bawah penisku yang sejak tadi sudah tegang
itu mulai mengeluarkan cairan hingga menampakkan titik basah tepat di
permukaan celana pendek itu.?Tante ngerti kamu terangsang melihat tetek ini,
dan tante perhatiin belakangan ini kamu sering diam-diam memandangi tubuh
tante, benar kan??, ia seperti menyergapku dalam sebuah perangkap,
tangannya terus mengelus punggung telapak tanganku. Aku benar-benar
merasa seperti maling yang tertangkap basah, tak sepatah kata lagi yang bisa
kuucapkan.?Kamu kepingin pegang dada tante kan??. Daarr! Dadaku seperti
pecah.., mukaku mulai memerah. Aku sampai lupa di bawah sana adik kecilku
mulai melembek turun. Dengan segala sisa tenaga aku beranikan diri membalas
pandangannya, memaksa diriku mengikuti senyum Nyai Fifi isteri pak Kiayi itu,
Dan.., astaga.., perempuan cantik ini menuntun telapak tanganku ke arah

payudaranya yang menggelembung besar itu. Oooh lembutnya.?Ta.., ta..,
tante.., oohh?, suara itu keluar begitu saja dari bibirku, dan Tante Fifi hanya
melihat tingkahku sambil tersenyum. Adikku bangun lagi dan langsung seperti
ingin meloncat keluar dari celana dalamku. Istri pak Kiayi itu melotot ke arah
selangkanganku.?Waawww.., besar sekali punya kamu Di??, serunya lalu secepat
kilat tangannya menggenggam kemaluanku kemudian mengelus-elusnya.
Secara reflek tanganku yang tadinya malu-malu dan terlebih dulu berada di
permukaan buah dadanya bergerak meremas dengan sangat kuat sampai
menimbulkan desah dari mulutnya. Aaagghhh?enaaaak, isep Di?.Ooooooooh?
aahh.., mm remas sayang oohh??.teruuuuuuuus Di.
Masih tak percaya akan semua itu, aku membalikkan badan ke arahnya dan
mulai menggerakkan tangan kiriku. Aku semakin berani, kupandangi wajah istri
pak Kiayi itu dengan seksama.?Teruskan, Di.., buka baju tante?, perempuan itu
mengangguk pelan. Matanya berbinar saat melihat kemaluanku tersembul dari
celah celana pendek itu. Kancing dasternya kulepas satu persatu, bagian
dadanya terbuka lebar. Masih dengan tangan gemetar aku meraih kedua buah
dadanya yang putih itu. Perlahan-lahan aku mulai meremasnya dengan lembut,
kedua telapak tanganku kususupkan melewati dasternya.?mm.., tante..?, aku
menggumam merasakan kelembutan buah dada besar Tante Fifi yang selama
sebulan terakhir ini hanya jadi impianku saja. Jari jemariku terasa begitu
nyaman, membelai lembut daging kenyal itu, aku memilin puting susunya yang
begitu lembutnya.
Akupun semakin berani, Dasternya kutarik ke atas dan woowww.., kedua buah
dada itu membuat mataku benar-benar jelalatan.?Mm.., kamu sudah mulai
pintar, Di. Tante mau kamu ..?, Belum lagi kalimat Tante Fifi habis aku sudah
mengarahkan mulutku ke puncak bukit kembarnya dan ?crupp..?, sedotanku
langsung terdengar begitu bibirku mendarat di permukaan puting susunya. ?
Aahh.., Didi, oohh.., sedoot teruus aahh?, tangannya semakin mengeraskan
genggamannya pada batang penisku, celana pendek ku sejak tadi dipelorotnya
ke bawah. Sesekali kulirik ke atas sambil terus menikmati puting buah dadanya
satu persatu, Tante Fifi tampak tenang sambil tersenyum melihat tingkahku
yang seperti monyet kecil menetek pada induknya. Jelas isteri pak Kiayi itu
sudah berpengalaman sekali. Batang penisku tak lagi hanya diremasnya, ia
mulai mengocok-ngocoknya. Sebelah lagi tangannya menekan-nekan kepalaku
ke arah dadanya.
?Buka pakaian dulu, Di? ia menarik baju kaos yang kukenakan, aku melepas
gigitanku pada puting buah dadanya, lalu celanaku di lepaskannya. Ia sejenak
berdiri dan melepas gaun dasternya, kini aku dapat melihat tubuh Nyai Fifi yang
bahenol itu dengan jelas. Buah dada besar itu bergelantungan sangat
menantang. Dan bukit di antara kedua pangkal pahanya masih tertutup celana
dalam putih, bulu-bulu halus tampak merambat keluar dari arah selangkangan
itu. Dengan agresif tanganku menjamah CD-nya, langsung kutarik sampai lepas.
?Eeeiit.., ponakan tante sudah mulai nakal yah?, katanya genit semakin
membangkitkan nafsuku.?Saya nggak tahan ngeliat tubuh tante?, dengusanku
masih terdengar semakin keras.?Kita lakukan di kamar yuk..?, ajaknya sambil
menarik tanganku yang tadinya sudah mendarat di permukaan

selangkangannya.?Shitt!? makiku dalam hati, baru saja aku mau merasakan
lembutnya bukit di selangkangannya yang mulai basah itu.
Isteri pak Kiayi itu langsung merebahkan badan di tempat tidur. Tapi mataku
sejenak tertuju pada foto pak Kiayi yang pakai sorban dengan baju kokonya.?
Ta.., tapi tante??Tapi apa, ah kamu, Di? Tante Fifi melotot.?Tante kan istri pak
Kiayi?.?Yang bilang tante istri kamu siapa??, aku sedikit kendor mendengarnya.?
Saya takut tante, malu sama pak Kiayi?.?Emangnya di sini ada kamera yang bisa
dilihat dari Mesir sana? Didi, Didi.., Kamu nggak usah sebut nama pak Kiayi itu
lagi deh!?, intonasi suaranya meninggi, mungkin Nyai yang cantik ini sudah
sangat benci kepada suaminya yang mempunyai isteri lagi, perempuan cantik ini
memang dimadu oleh pak Kiayi sampai sampai rasa benci terhadap suaminya ia
lampiaskan dengan jalan menggiring gairah nafsuku untuk menyetubuhinya.?
Trus gimana dong tante??, aku tambah tak mengerti.?Sudahlah Di, kamu
lakukan saja, kamu sudah lama kan menginginkan memegang payudara tante??
aku tak bisa menjawab, sementara mataku kembali memandang selangkangan
Tante Fifi yang kini terbuka lebar. Hmm, persetan dari mana dia tahu aku sudah
menantikan ini, itu urusan belakang.
Aku langsung menindihnya, dadaku menempel pada kedua buah payudara itu,
kelembutan buah dada yang dulunya hanya ada dalam khayalanku saat
beronanii sekarang menempel ketat di dadaku. Bibir kamipun kini bertemu, Nyai
Fifi menyedot lidahku dengan lembut. Uhh, nikmatnya, tanganku menyusup di
antara dada kami, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang
besar itu?.Aggggh Di kamu anak yang pintar teruuuus Di.
?mm.., oohh.., Nyai.., aahh?, kegelian bercampur nikmat saat Tante Fifi
memadukan kecupannya di leherku sambil menggesekkan selangkangannya
yang basah itu pada penisku.?Kamu mau sedot susu tante lagi??, tangannya
meremas sendiri buah dada itu, aku tak menjawabnya, bibirku merayap ke arah
dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya
dengan bibirku. Lidahku mulai bekerja dengan liar menjelajahi bukit kenyal itu
senti demi senti.?Hmm.., pintar kamu Di, oohh..? Desahan isteri pak Kiayi mulai
terdengar, meski serak-serak tertahan nikmatnya jilatanku pada putingnya yang
lancip.?Sekarang kamu ke bawah lagi sayang..?. Aku yang sudah terbawa nafsu
berat itu menurut saja, lidahku merambat cepat ke arah pahanya, Tante Fifi
membukanya lebar dan semerbak aroma selangkangannya semakin
mengundang birahiku, aku jadi semakin gila. Kusibak bulu-bulu halus dan lebat
yang menutupi daerah vaginanya. Uhh, liang vagina itu tampak sudah becek dan
sepertinya berdenyut, aku ingat apa yang harus kulakukan, tak percuma aku
sering diam-diam nonton VCD porno sewaktu di Sumatera Lidahku menjulur lalu
menjilati vagina isteri pak Kiayi itu?.Aggggggh ampuuuuuun, ?Ooouuhh.., kamu
cepat sekali belajar, Di. Hmm, enaknya jilatan lidah kamu.., oohh ini sayang?, ia
menunjuk sebuah daging yang mirip biji kacang di bagian atas kemaluannya,
aku menyedotnya keras, lidah dan bibirku mengaduk-aduk isi liang vaginanya.?
oohh, yaahh.., enaak, Di, pintar kamu Di.., oohh?, Tante Fifi mulai menjerit kecil
merasakan sedotanku pada biji kacangnya yang belakangan kutahu bernama
clitoris.
Ada sekitar tujuh menit lebih aku bermain di daerah itu sampai kurasakan tibatiba ia menjepit kepalaku dengan keras di antara pangkal pahanya, aku hampir-

hampir tak dapat bernafas.?Aahh.., tante nggak kuaat aahh, Didii?, teriaknya
panjang seiring tubuhnya yang menegang, tangannya meremas sendiri kedua
buah dadanya yang sejak tadi bergoyang-goyang, dari liang vaginanya
mengucur cairan kental yang langsung bercampur air liur dalam mulutku.?Uff..,
Di, kamu pintar bener. Sering ******* yah?? ia memandangku dengan genit.?
Makasih Di, selama ini tante nggak pernah mengalaminya.., makasih sayang.
Sekarang beri tante kesempatan istirahat sebentar saja?, ia lalu mengecupku
dan beranjak ke arah kamar mandi.
Aku tak tahu harus melakukan apa, senjataku masih tegang dan keras, hanya
sempat mendapat sentuhan tangan Tante Fifi. Batinku makin tak sabar ingin
cepat menumpahkan air maniku ke dalam vaginanya. Masih jelas bayangan
tubuh telanjang isteri pak Kiayi itu beberapa menit yang lalu.., ahh aku meloncat
bangun dan menuju ke kamar mandi. Kulihat perempuan paruhbaya yang cantik
itu sedang mengguyur tubuhnya dengan air?Tante..?. mau saya entot
sekarang ??Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?? ia mengambil handuk dan
mendekatiku. Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih tegang.?
Woowww.., tante baru sadar kalau kamu punya segede ini, Di.., oohhmm?, ia
berjongkok di hadapanku. Aku menyandarkan tubuh di dinding kamar mandi itu
dan secepat kilat Nyai Fifi memasukkan penisku ke mulutnya.
?Ohh.., nikmat Tante Fifi oohh.., oohh.., ahh?, geli bercampur nikmat membuatku
seperti melayang. Baru kali ini punyaku masuk ke dalam mulut perempuan,
ternyata.., ahh.., lezatnya setengah mati. Penisku tampak semakin tegang,
mulut mungil Tante Fifi hampir tak dapat lagi menampungnya. Sementara
tanganku ikut bergerak meremas-remas payudaranya.?uuhh.. punya kamu ini
lho, Di.., tante jadi nafsu lagi nih, yuk kita lanjutin lagi?, tangannya menarikku
kembali ke tempat tidur, Tante Fifi seperti melihat sesuatu yang begitu
menakjubkan. Perempuan setengah baya itu langsung merebahkan diri dan
membuka kedua pahanya ke arah berlawanan, mataku lagi-lagi melotot ke arah
belahan vaginanya. mm.., kusempatkan menjilatinya semenit lalu dengan
tergesa-gesa aku tindih tubuhnya.?Heh.., sabar dong, Di. Kalau kamu gelagapan
gini bisa cepat keluar nantinya?.?Keluar apa, Tante??.?Nanti kamu tahu sendiri,
deh? tangannya meraih penisku di antara pahanya, kakinya ditekuk hingga
badanku terjepit diantaranya. Pelan sekali ibu jari dan telunjuknya menempelkan
kepala penisku di bibir kemaluannya.
?Sekarang kamu tekan pelan-pelan sayang.., Ahhooww, yang pelan sayang oh
punya kamu segede kuda tahu!?, liriknya genit saat merasakan penisku yang
baru setengah masuk itu.?Begini tante??, dengan hati-hati kugerakkan lagi,
pelan sekali, rasanya seperti memasuki lubang yang sangat sempit.?Tarik dulu
sedikit, Di.., yah tekan lagi. Pelan-pelan.., yaahh masuk sayang oohh besarnya
punya kamu.., oohh?. Oooh enaaak Di, Aaaagggh panjangnya punya kamu
sampai mentok kedasar Di.?Tante suka??. ?Nyai aku entot ya ?…Gimana Nyai
rasanya?.?Suka sayang oohh, sekarang kamu goyangin.., mm.., yak gitu terus
tarik, aahh.., pelan sayang vagina tante rasanya.., oouuhh mau robek, mmhh..,
yaahh tekan lagi sayang.., oohh.., hhmm.., enaakk.., oohh?.?Kalau sakit bilang
saya yah tante??, kusempatkan mengatur gerakan, tampaknya Tante Fifi sudah
bisa menikmatinya, matanya terpejam seraya menggigit bibirnya disertai

desahan manjanya. Oooh Di setubuhi tante, Agggggh enaaaak Di?punyamu
besaaaar.
?Hmm.., oohh..?, Tante Fifi kini mengikuti gerakanku. Pinggulnya seperti
berdansa ke kiri kanan. Liang vaginanya bertambah licin saja. Penisku kian lama
kian lancar, kupercepat goyanganku hingga terdengar bunyi selangkangannya
yang becek bertemu pangkal pahaku. Plak.., plak.., plak.., plak.., aduh nikmatnya
perempuan setengah baya ini. Mataku merem melek memandangi wajah
keibuan Tante Fifi yang masih saja mengeluarkan senyuman. Nafsuku semakin
jalang, gerakanku yang tadinya santai kini tak lagi berirama. Buah dadanya
tampak bergoyang ke sana ke mari, mengundang bibirku beraksi.
?oohh sayang kamu buas sekali. hmm.., tante suka yang begini, oohh.., genjot
terus mm?.?Uuhh tante nikmat tante.., mm tante cantik sekali oohh..?. Oooh
enaknya *******in isteri pak Kiayi. Aku mulai meracau nikmat.?Kamu senang
susu tante yah? oohh sedoot teruus susu tantee aahh.., panjang sekali peler
kamu oohh, Didii.., aahh?.Jeritannya semakin keras dan panjang, denyutan
vaginanya semakin terasa menjepit batang penisku yang semakin terasa keras
dan tegang.?Di..??, dengusannya turun naik.?Yah uuhh ada apa tante..?.?Kamu
bener-bener hebat sayang.., oowww.., uuhh.., tan.., tante.., mau keluar
hampiirr.., aahh..?, gerakan pinggulnya yang liar itu semakin tak karuan, tak
terasa sudah lima belas menit kami berkutat.?oohh memang enaak Nyai, oohh..,
Tante Fifi. Tante Fifi, oohh.., tante, oohh.., nikmat sekali tante memekmu,
oohh..? aku bahkan tak mengerti apa maksud kata ?keluar? itu. Aku hanya
peduli pada diriku, kenikmatan yang baru pertama kali kurasakan seumur hidup.
Tak kuhiraukan tubuh isteri pak Kiayi yang menegang keras berkejat kejat, kukukuku tangannya mencengkeram punggungku, pahanya menjepit keras
pinggangku yang sedang asyik turun naik itu, ?aahh.., Di.., dii.., tante ke..luaarr
laagii.., aahh?, vagina Tante Fifi terasa berdenyut keras sekali, seperti memijit
batangan penisku dan uuhh ia menggigit pundakku sampai kemerahan. Kepala
penisku seperti tersiram cairan hangat di dalam liang rahimnya. ? Agggh Oooh
ampuuuun enak Di penis besarmu?. Sesaat kemudian ia lemas lagi. Tak
kusangka isteri seorang Kiayi, wanita yang kuanggap alim dan terpelajar saat
kusetubuhi bisa menjadi liar bagai penari erotis, tubuhnya meliuk liuk saat
mencapai orgasme.
?Tante capek? Maaf tante kalau saya keterlaluan..?.?mm.., nggak begitu Di, yang
ini namanya tante orgasme, bukan kamu yang salah kok, justru kamu hebat
sekali.., ah, ntar kamu tahu sendiri deh.., kamu tunggu semenit aja yah, uuhh
hebat?.Aku tak tahu harus bilang apa, penisku masih menancap di liang
kemaluannya.?Kamu peluk tante dong, mm?.?Ahh tante, saya boleh lanjutin
nggak sih??.?Boleh, asal kamu jangan goyang dulu, tunggu sampai tante bangkit
lagi, sebentaar aja. Mainin susu tante saja ya??.?Baik tante..?.Kau tak sabar ingin
cepat-cepat merasakan nikmatnya ?keluar? seperti Tante ya. Ia masih diam saja
sambil memandangiku yang sibuk sendiri dengan puting susu itu. Beberapa saat
kemudian kurasakan liang vaginanya kembali bereaksi, pinggulnya ia gerakkan.
?Di..?.?Ya tante??.?Sekarang tante mau puasin kamu, kasih tante yang di atas
ya, sayang.., mmhh, pintar?.Posisi kami berbalik. Kini isteri pak Kiayi
menunggangi tubuhku. Perlahan tangannya kembali menuntun batang penisku

yang masih tegang itu memasuki liang kenikmatannya, dan uuhh terasa lebih
masuk.
Tante Fifi mulai bergoyang perlahan, payudaranya tampak lebih besar dan
semakin menantang dalam posisi ini. Tante Fifi berjongkok di atas pinggangku
menaik-turunkan pantatnya, terlihat jelas bagaimana penisku keluar masuk liang
vaginanya yang terlihat penuh sesak, sampai bibir kemaluan itu terlihat sangat
kencang.?oohh enaak tante.., ooh Tante Fifi.., ooh Nyai.., oo.., hmm, enaak
sekali.., oohh..memek enak? kedua buah payudara itu seperti berayun keras
mengikuti irama turun naiknya tubuh isteri pak Kiayi itu..?Remees susu tante
sayang, oohh.., yaahh.., pintar kamu.., oohh.., tante nggak percaya kamu bisa
seperti ini, oohh.., pintar kamu Didi oohh.., ganjal kepalamu dengan bantal ini
sayang?, Tante Fifi meraih bantal yang ada di samping kirinya dan
memberikannya padaku.?Maksud tante supaya aku bisa.., crup.., crup..?,
mulutku menerkam puting panyudaranya.?Yaahh sedot susu tante lagi sayang..,
mm.., yak begitu teruus yang kiri sayang oohh?.
Tante Fifi menundukkan badan agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku.
Decak becek pertemuan pangkal paha kami semakin terdengar seperti tetesan
air, liang vaginanya semakin licin saja. Entah sudah berapa puluh cc cairan
kelamin isteri pak Kiayi yang meluber membasahi dinding vaginanya. Tiba-tiba
aku teringat adegan filn porno yang dulu pernah kulihat, ?yap.., doggie style!?
batinku berteriak kegirangan, mendadak aku menahan goyangan Tante Fifi yang
tengah asyik.?Huuhh.., oohh ada apa sayang??, nafasnya tersenggal.?Saya mau
pakai gaya yang ada di film, tante?.?Gaya yang mana, yah..,??.?Yang dari
belakang tante harus nungging?.?Hmm.., tante ngerti.., boleh?, katanya singkat
lalu melepaskan gigitan vaginanya pada penisku.?Yang ini maksud kamu?, isteri
pak Kiayi itu menungging tepat di depanku yang masih terduduk.?Iya Nyai ini
namanya ****** kawin..? Hmm lezatnya, pantat Tante Fifi yang besar itu
kuremas remas dan belahan bibir vaginanya yang memerah membuat nafsuku
memuncak, aku langsung mengambil posisi dan tanpa permisi lagi menyusupkan
penisku dari belakang. Kupegangi pinggangnya, sebelah lagi tanganku meraih
buah dada besarnya.?oohh.., ngg..,Agggh yang ini hebaat Di.., oohh, genjot yang
keras sayang, oohh.., tambah keras lagi.., uuhh..?.Enak ya Nyai?.aku suka
******* sama Nyai?ayo tante jalang goyangin dong pantatnya. Oooooh Di
setubuhi aku sesuka hatimu, tante suka Di. Kata kata kotor Didi membuat isteri
pak Kiayi itu kian terangsang hebat ia goyangkan pantatnya mengikuti irama
tusukan penis yang menerobos liang vaginanya.
Kepalanya menggeleng keras ke sana ke mari, aku rasa Tante Fifi sedang
berusaha menikmati gaya ini dengan semaksimal mungkin. Teriakannyapun
makin ngawur.?oohh.., jangan lama-lama lagi sayang tante mau keluar lagi
ooh..? aku menghentikan gerakan dan mencabut penisku.?Baik tante sekarang..,
mm, coba tante berbaring menghadap ke samping, kita selesaikan dengan gaya
ini?.? Kamu sudah mulai pintar sayang mmhh?, Tante Fifi mengecup
bibirku.Perintahkupun diturutinya, ia seperti tahu apa yang aku inginkan. Ia
menghempaskan badannya kembali dan berbaring menghadap ke samping,
sebelah kakinya terangkat dan mengangkang, aku segera menempatkan
pinggangku di antaranya. Buah penisku bersiap lagi.?aahh tante.., uuhh.., nikmat
sekali, oohh.., Nyai sekarang, oohh.., saya nggak tahan Nyai.., enaak.., oohh?.?

Tante juga Didi.., Didi.., Didi sayaangg, oohh.., keluaar samaan sayaang ooh?
kami berdua berteriak panjang, badanku terasa bergetar, ada sebentuk energi
yang maha dahsyat berjalan cepat melalui tubuhku mengarah ke bawah perut
dan, ?Craat.., cratt.., craatt.., cratt?, entah berapa kali penisku menyemburkan
cairan kental ke dalam rahim isteri pak Kiayi yang tampak juga mengalami hal
yang sama, selangkangan kami saling menggenjot keras. Tangan Tante Fifi
meremas sprei dan menariknya keras, bibirnya ia gigit sendiri. Matanya terpejam
seperti merasakan sesuatu yang sangat hebat, tubuhnya berkejat kejat isteri pak
Kiayi itu mengerang seperti anak kucing.
Beberapa menit setelah itu kami berdua terkapar lemas, Tante Fifi memelukku
erat, sesekali ia mencium mesra. Tanganku tampaknya masih senang membelai
lembut buah dada Tante Fifi. Kupintir-pintir putingnya yang kini mulai lembek.
Mataku memandangi wajah manis perempuan paruh baya itu, meski umurnya
sudah berkepala empat namun aku masih sangat bernafsu melihatnya.
Wajahnya masih menampakkan kecantikan dan keanggunannya. Meski mulai
tampak kerutan kecil di leher wanita itu tapi.., aah, persetan dengan itu semua,
Tante Sofi adalah wanita pertama yang memperkenalkan aku pada kenikmatan
seksual. Bahkan dibanding Devi, Rani, Shinta dan teman sekelasku yang lain,
perempuan paruh baya ini jauh lebih menarik.
?Tante nggak nyangka kamu bisa sekuat ini, Di..?.?Hmm..?.?Betul ini baru yang
pertama kali kamu lakukan??.?Iya tante..?.?Nggak pernah sama pacar kamu??.?
Nggak punya tante..?.?Yang bener aja ah?.?Iya bener, nggak bohong kok, tante..,
tante nggak kapok kan ngajarin saya yang beginian??.?Ya ampuun..? Ia
mencubit genit, ?masa sih tante mau ngelepasin kamu yang hebat gini, tahu
nggak Di, suami tante nggak ada apa-apanya dibanding kamu..?.?Maksud
tante??.?Pak Fuad itu kalau main paling lama tiga menit.., lha kamu? Tante
sudah keluar beberapa kali kamu belum juga, apa nggak hebat namanya?.?
Ngaak tahu deh tante, mungkin karena baru pertama ini sih..?.?Tapi menurut
tante kamu emang punya bakat alam, lho? Buktinya baru pertama begini saja
kamu sudah sekuat itu, apalagi kalau sudah pengalaman nanti.., pasti tante
kamu bikin KO.., lebih dari yang tadi?.?Terima kasih tante..?.?Untuk??.?Untuk
yang tadi..?. karena saya bisa *******in Nyai, saya sudah lama mengkhayali Nyai
sambil beronani dan malam ini saya puas sekali bisa menyetubuhi isteri pak
Kiayi yang cantik ini he heee.?Tante yang terima kasih sama kamu.., kamu yang
pertama membuat tante merasa seperti ini?.?Saya nggak ngerti..?.?Di.., dua
puluh tahun lebih sudah usia perkawinan tante dengan Pak Fuad. tak pernah
sedetikpun tante menikmati hubungan badan yang sehebat ini. Suami tante
adalah tipe lelaki egois yang menyenangkan dirinya saja. Tante benar-benar
telah dilecehkannya. Belakangan tante berusaha memberontak, rupanya dia
sudah mulai bosan dengan tubuh tante dan seperti rekannya yang lain sesama
Kiayi, ia menyimpan beberapa wanita sebagai isteri kedua untuk melampiaskan
nafsu seksnya. Tante tahu semua itu dan tante nggak perlu cerita lebih panjang
lebar karena pasti kamu sudah sering mendengar pertengkaran tante?,
Suaranya mendadak serius, tanganku memeluk tubuhnya yang masih telanjang.
Ada sebersit rasa simpati mendengar ceritanya yang polos itu, betapa bodohnya
lelaki bernama Kiayi Fuad itu punya Perempuan secantik dan senikmat ini di
biarkan merana.

Tante Sofi terpejam begitu tanganku menyentuh permukaan buah dadanya,
merayap perlahan menyusuri kelembutan bukit indah itu menuju puncak dan, ?
mm a..? aku memintir putingnya yang coklat kemerahan itu. ?Agggh?? telapak
tanganku mulai lagi, meremasnya satu persatu, ?Hmm?, dengan sebelah
tangannya ia meraih penisku yang mulai tegang, jari telunjuk Tante Sofi
mengurut tepat di leher bawah kepala penisku, semakin tegang saja, shitt.., aku
nggak bisa bersuara. Aku tak tahan dan beranjak turun dari tempat tidur itu dan
langsung berjongkok tepat di depan pahanya di pinggiran tempat tidur, menguak
sepasang paha montok dan putih itu ke arah berlawanan.?mmhh.., aahh.., oh
nggak,.., uuhh? lidahku langsung mendarat di permukaan segitiga terlarang itu.?
sshh yaa.., enakk..?,
Lidahku kian mengganas, kelentit sebesar biji kacang itu sengaja kusentuh.?mm
fuuhh.., Tante akan layani kamu sampai kita berdua nggak kuat lagi. Kamu boleh
lakukan apa saja. Puaskan diri kamu sayang aahh?, aku tak mempedulikan katakatanya, lidahku sibuk di daerah selangkangannya.
Malam itu benar-benar surga bagi kami, permainan demi permainan dengan
segala macam gaya kami lakukan. Di karpet, sampai sekitar pukul tiga dini hari.
Kami sama-sama bernafsu, aku tak ingat lagi berapa kali kami melakukannya.
Seingatku disetiap akhir permainan, kami selalu berteriak panjang. Benar-benar
malam yang penuh kenikmatan.
Aku terbangun sekitar jam 11 siang, badanku masih terasa sedikit pegal. Tante
Fifi sudah tidak ada di sampingku.?Tante..?? pangilku setengah berteriak, tak
ada jawaban dari istri pak Kiayi yang semalam suntuk kutiduri itu. Aku beranjak
dari tempat tidur dan memasang celana pendek, sprei dan bantal-bantal di atas
tempat tidur itu berantakan, di banyak tempat ada bercak-bercak bekas cairan
kelamin kami berdua. Aku keluar kamar dan menemukan secarik kertas berisi
tulisan tangan Tante Fifi, ternyata ia harus ke tempat kesekolah tempat ia
mengajar karena ada yang harus dikerjakan.?Hmm.., padahal kalau main baru
bangun tidur pastilah nikmat sekali?, pikiranku ngeres lagi.
Aku kembali ke kamar Tante Fifi yang berantakan oleh kami semalam, lalu
dengan cekatan aku melepas semua sprei dan selimut penuh bercak itu.
Kumasukkan ke mesin cuci. Tiga puluh menit kemudian kamar dan ruang kerja
pak Kiayi kubuat rapi kembali. Siap untuk kami pakai main lagi.?*****..! Aku lupa
sekolah.., ampuun gimana nih?, Sejenak aku berpikir dan segera kutelepon
Tante Fifi. Selamat pagi?, suara operator.?Ya Pagi.., Bu Fifi ada??.?Dari siap,
pak??.?Bilang dari Sonny, anaknya..?.?Oh Mas sonny?.?Huh dasar sok akrab?,
umpatku dalam hati.?Saya, Tante. Didi bukan ..?.?Eh kamu sayang.., gimana?
mau lagi? Sabar ya, tungguin tante..?.?Bukan begitu tante.., tapi saya jadi telat
bangun.., nggak bisa masuk sekolah?.?Oooh gampang.., ntar tante yang telepon
Pak Yogi, kepala sekolah kamu itu.., tante bilang kamu sakit yah??.?Nggak ah
tante, ntar jadi sakit beneran..?.?Tapi emang benar kan kamu sakit.., sakit..,
sakit anu! Nah lo!?.?aah, tante.., tapi bener nih tante tolong sekolah saya di
telepon yah??.?Iya.., iya.., eh Di.., kamu kepingin lagi nggak..?.?Tante genit?.?
Nggak mau? Awas lho Tante cari orang lain..?.?Ah Tante, ya mau dong..,
semalam nikmat yah, tante..?.?Kamu hebat!?.?Tante juga.., nanti pulang jam
berapa??.?Tunggu aja.., sudah makan kamu??.?Belum, tante sudah??.?Sudah..,
mm, kalau gitu kamu tunggu aja di rumah, tante pesan catering untuk kamu..,

biar nanti kamu kuat lagi?.?Tante bisa aja.., makasih tante..?.?Sama-sama,
sayang.., sampai nanti ya, daahh?.?Daah, tante?.
Tak sampai sepuluh menit seorang delivery service datang membawa
makanan.?Ini dari, Bu Sofi, Mas talong ditandatangan. Payment-nya sudah sama
Bu Fifi?.?Makasih, mang..?.?Sama-sama, permisi..?.
Aku langsung membawanya ke dalam dan menyantapnya di depan pesawat TV,
sambil melanjutkan nonton film porno, untuk menambah pengalaman. Makanan
kiriman Tante Fifi memang semua berprotein tinggi. Aku tahu benar maksudnya.
Belum lagi minuman energi yang juga dipesannya untukku. Rupanya istri pak
Kiayi itu benar-benar menikmati permainan seks kami semalam, eh aku juga
lho.., kan baru pertama. Sambil terus makan dan menyaksikan film itu aku
membayangkan tubuh dan wajah Tante Fifi bermain bersamaku. Penisku terasa
pegal-pegal dibuatnya. Huh.., aku mematikan TV dan menuju kamarku.?Lebih
baik tidur dan menyiapkan tenaga..?, aku bergumam sendiri dalam
kamar.Sambil membaca buku pelajaran favorit, aku mencoba melupakan pikiranpikiran tadi. Lama-kelamaan akupun tertidur. Jam menunjukkan pukul 12.45.
Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Fifi yang ternyata sudah
ada di sampingku.?Huuaah.., jam berapa sekarang tante??.?Hmm.., jam lima,
tante dari tadi juga sudah tidur di sini, sayang kamu tidur terlalu lelap. Tante
sempat tidur kurang lebih dua jam sejak tante pulang tadi, gimana, kamu sudah
pulih..?.?Sudah dong tante, empat jam lebih tidur masa sih nggak seger..?, kami
saling berciuman mesra, ?crup.., crup?, lidah kami bermain di mulutnya.?Eh..,
tante mau jajan dulu ah.., sambil minum teh, yuuk di taman. Tadi tante pesan di
Dunkin.., ada donat kesukaan kamu?, ia bangun dan ngeloyor keluar kamar.?
Uh.., Tante Fifi..?, gumamku pelan melihat bahenolnya tubuh kini terbungkus
terusan sutra transparan tanpa lengan. Bayangan CD dan BH-nya tampak jelas.
Aku masih senang bermalas-malasan di tempat tidur itu, pikiranku rasanya tak
pernah bisa lepas dari bayangan tubuhnya. Beberapa saat saja penisku sudah
tampak tegang dan berdiri, dasar pemula! Sejak sering tegang melihat tubuh
Tante Fifi sebulan belakangan ini, aku memang jarang memakai celana dalam
ketika di rumah agar penisku bisa lebih leluasa kalau berdiri seperti ini.?Hmm,
tante Fifi.., aahh Nyai yang cantik? desahku sambil menggenggam sendiri
penisku, aneh.., aku membayangkan orang yang sudah jelas bisa kutiduri saat
itu juga, tak tahulah.., rasanya aku gila!
Tanganku mengocok-ngocok sendiri hingga kini penis besar dan panjang itu
benar-benar tegak dan tampak perkasa sekali. Aku terus membayangkan
bagaimana semalam kepala penis ini menembus dan melesak keluar masuk
vagina Tante Fifi. Kutengok ke sana ke mari.?Tante..?, panggilku.?Di dapur,
sayang?, sahutnya setengah berteriak, aku bergegas ke situ, kulihat ia sedang
menghangatkan donat di microwave. Dan.., uuhh, tubuh yang semalam
kunikmati itu, dari arah belakang.., bayangan BH dan celana dalam putih di balik
gaun sutranya yang tipis membuatku berkali-kali menelan ludah.?uuhh tante..,
sayang?, tak sanggup lagi rasanya aku menahan birahiku, kupeluk ia dari
belakang, sendok yang ada di tangannya terjatuh, penisku yang sudah tegang
kutempelkan erat di belahan pantatnya.
?Aduuhh.., Didi nakal kamu ah..? ia melirikku dengan pandangan menggoda. Aku
semakin berani, tangan kananku meraih buah dada Tante Fifi dari celah gaun di

bawah ketiaknya. Lalu tangan kiriku merayap dari arah bawah, paha yang halus
putih mulus itu terus ke arah gundukan kemaluannya yang masih berlapis celana
dalam. Telunjuk dan jari tengahku langsung menekan, mengusap-usap dan
mencubit kecil bibir kemaluannya.
?Ehhmm.., nngg.., aahh.., nakaal, Didi?.?Tante.., tante, saya nggak tahan ngeliat
tante.., saya bayangin tubuh tante terus dari tadi pagi? Tangan kiriku menarik
ujung celana dalam itu turun, ia mengangkat kakinya satu persatu dan
terlepaslah celana dalamnya yang putih. Kutarik cup BH-nya ke atas hingga
tangan kananku kini bebas mengelus dan meremas buah dadanya. Dengan
gerak cepat kulorotkan pula celana dalam yang kupakai lalu bergegas tangan
kiriku menyingkap gaun sutranya ke atas. Kudorong tubuh isteri pak Kiayi itu
sampai ia menunduk dan terlihatlah dengan jelas celah vaginanya yang masih
tampak tertutup rapat. Aku berjongkok tepat di belakangnya.
?Idiihh, Didi. Tante mau diapain nih..?, katanya genit. Lidahku menjulur ke arah
vaginanya. Aroma daerah kemaluan itu merebak ke hidungku, semakin
membuatku tak sabar dan.., ?huuhh.., srup.., srup.., srup?, sekali terkam bibir
vagina sebelah bawah itu sudah tersedot habis dalam mulutku.?aahh.., Didi..,
enaakk..?, jerit perempuan setengah baya itu, tangannya berpegang di pinggiran
meja dapur.?aawww.., gelii?, kugigit pantatnya. Uuh, bongkahan pantat inilah
yang paling mengundang birahiku saat melihatnya untuk pertama kali. Mulus
dan putih, besar menggelembung dan montok.
Lima menit kemudian aku berdiri lagi setelah puas membasahi bibir vaginanya
dengan lidahku. Kedua tanganku menahan gerakan pinggulnya dari belakang,
gaun itu masih tersingkap ke atas, tertahan jari-jari tanganku yang
mencengkeram pinggulnya. Dan hmm, kuhunjamkan penis besar dan tegang itu
tepat dari arah belakang, ?Sreep.., Bleess?, langsung menggenjot keluar masuk
vagina Tante Fifi.?aahh.., Didi.., enaak.., huuhh tante senang yang ini oohh..??
Enak kan tante.., hmm.., oohh.., agak tegak tante biar susunya.., yaakk ooh
enaakk?.?Yaahh.., tusuk yang keras.., hmm.., tante nggak pernah gini
sebelumnya.., oohh enaakk pintarnya kamu sayaang.., oohh enaak.., terus..,
terus yah tarik dorong keeraass.., aahh.., kamu yang pertama giniin tante, Di..,
oohh.., sshh..?, hanya sekitar tiga menit ia bertahan dan, ?Hoohh.., tante..,
mauu.., keluar.., sekarang.., ooh hh.., sekarang Di, aahh..?. Vaginanya menjepit
keras, badannya tegang dengan kepala yang bergoyang keras ke kiri dan ke
kanan.
Aku tak mempedulikannya, memang sejenak kuberi ia waktu menarik nafas
panjang. Aku membiarkan penisku yang masih tegang itu menancap di dalam. Ia
masih menungging kelelahan.?Balik Nyai ..?, Pintaku sambil melepaskan gigitan
di kemaluannya.?Apalagi, sayang.., ya ampun tante nggak kuat.., aahh?.Aku
meraih sebuah kursi.ia mengira aku akan menyuruhnya duduk, ?Eiih bukan
tante, sekarang tante nyender di dinding, Kaki kiri tante naik di kursi ini..?.?
Ampuun, Didi.., tante mau diapain sayang..?, ia menurut saja.Woow! Kudapatkan
posisi itu, selangkangan itu siap dimasuki dari depan sambil berdiri, posisi ini
yang membuatku bernafsu.?Sekarang Nyai sayang.., yaahh..?, aku menusukkan
penisku dari arah depannya, penisku masuk dengan lancar. Tanganku meremas
kedua susunya sedangkan mulut kami saling mengecup.?mmhh.., hhmm..?, ia
berusaha menahan kenikmatan itu namun mulutnya tertutup erat oleh

bibirku.Hmm, di samping kanan kami ada cermin seukuran tubuh. Tampak
pantatku menghantam keras ke arah selangkangannya. Penisku terlihat jelas
keluar masuk vaginanya. Payudaranya yang tergencet dada dan tanganku
semakin membuatku bernafsu.?Cek.., cek.., cek?, gemercik suara kemaluan
kami yang bermain di bawah sana. Kulepaskan kecupanku setelah tampak
tanda-tanda ia menikmatinya.?uuhh hebaat.., kamu sayang.., aduuh mati tante..,
aahh enaak mati aku Di, oohh.., ayo keluarin sayang.., aahh entotin tante yang
kuat Aggggh.., sudah mau sampai lagi niih aahh..? wajahnya tampak tegang lagi,
pipinya seperti biasa, merah, sebagai tanda ia segera akan orgasme lagi. Ayooo
nikmati Nyai ****** besarku?Goyangin dong Nyai pantatnya?duh enaknya *******
sama Nyai.
Kupaksakan diriku meraih klimaks itu bersamaan dengannya. Aku agaknya
berhasil, perlahan tapi pasti kami kemudian saling mendekap erat sambil saling
berteriak keras.?aahh.., tante keluaar..?.?Saya juga Nyai huuhh.., nikmat..,
nikmat.., oohh.., Nyai Fifi.., aahh?, dan penisku, ?Crat.., crat.., crat.., seer?,
menyemprotkan cairannya sekitar lima enam kali di dalam liang vagina isteri pak
Kiayi yang juga tampak menikmati orgasmenya untuk kedua kali.
?Huuhh.., capeekk.., sayang? ia melepaskan pelukannya dan penisku yang masih
menancap itu. Hmm, kulihat ada cairan yang mengalir di pahanya bagian dalam,
ada yang menetes di lantai.?Mau di lap Nyai??, aku menawarkan tissue.?Nggak
sayang.., tante senang, kok. Tante bahagia.., yang mengalir itu sperma kamu
dan cairan kelamin tante sendiri. Tante ingin menikmati terus rasa penismu..?, ia
berkata begitu sambil memberiku sebuah ciuman.?Hmm.., Tante Fifi..?,
Kuperbaiki letak BH dan rambutnya yang acak-acakan, kemudian ia kembali
menyiapkan jajanan yang sempat terhenti oleh ulah nakalku.
Aku kembali ke kamar dan keluar lagi setelah mengenakan baju kaos. Tante Fifi
telah menunggu di taman belakang rumahnya yang sangat luas, kira-kira sekitar
25 acre. Kami duduk santai berdua sambil bercanda menikmati suasana di
pinggiran sebuah danau buatan. Sesekali kami berciuman mesra seperti
pengantin baru yang lagi haus kemesraan. Jadilah dua minggu kepergian pak
Kiayi Fuad itu surga dunia bagiku dan Nyai Fifi. Kami melakukannya setiap hari,
rata-rata empat sampai lima kali sehari!
Menjelang sore, isteri pak Kiayi yang cantik itu mengajakku mandi bersama. Bisa
ditebak, kami melakukannya lagi di kamar mandi. Saling menyabuni dan.., hmm,
bayangin sendiri deh. Itulah pengalaman pribadiku saat pertama mengenal seks
bersama guru seks-ku yang sangat cantik. Tante Fifi alias Nyai Fifi yang anggun
bila berbusana baju panjang dan ber****** itu, kini menjadi kepuasan yang
sempurna bagiku adalah dapat menyetubuhinya selama aku tinggal dirumahnya
tanpa diketahui oleh pak Kiayi Fuad suaminya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful