Você está na página 1de 7

ODACE

Komposisi:

Lisinopril dihydrat............... 10,89 mg


Setara dengan Anhydrat....... 10,00 mg

Kelas Terapi:

ACE Inhibitor

Indikasi:

Hipertensi esensial dan renovaskular.


Gagal jantung kongestif.
Dapat digunakan sendiri maupun bersamaan dengan obat hipertensi yang lain.

Kontraindikasi:

Angioedema berkaitan dengan penghambat enzim pengubah angiotensin dan pada


pasien dengan angioedema herediter atau idiopatik.

Efek samping:

Pusing, sakit kepala, diare, kelelahan, batuk, mual, ruam, efek ortostatik, astenia
(lemah/tidak bertenaga).
Jarang : angioedema, infark miokardial, kemungkinan cedera serebrovaskular
sekunder terhadap hipotensi berlebihan pada pasien beresiko tinggi, jantung berdebar,
takhikardia, nyeri perut dan indigesti, mulut kering, hepatitis, sakit kuning, muntah,
perubahan suasana hati, kekacauan mental, vertigo, urtikaria (biduran), diaforesis,
uremia, oliguria/anuria, disfungsi ginjal, gagal ginjal akut, impotensi, suatu gejala
kompleks termasuk demam, vaskulitis, nyeri otot, nyeri sendi / radang sendi, ANA
(antinuklear antibodi) positif, kecepatan sedimentasi eritrosit meningkat, eosinofilia,
dan leukositosis.
Ruam, fotosensitifitas atau menifestasi dermatologikal lainnya.
Peningkatan (biasanya akan hilang bila obat dihentikan) pada urea darah, kreatinin
serum, enzim hati, dan bilirubin serum.
Sedikit penurunan pada hemoglobin dan hematokrit.
Hiperkalemia, hiponatremia, leukopenia, trombositopenia, depresi sumsum tulang,
manifestasi sebagai anemia, parestesia (gangguan perasaan kulit seperti kesemutan),
pankreatitis.
Jarang : anemia hemolitikum.

Dosis:
Hipertensi esensial : diawali dengan 10 mg.
Pemeliharaan : 20 mg.
Maksimal : 80 mg/hari.
Pasien dalam terapi diuretika : dosis awal 5 mg.
Pasien dengan gangguan ginjal : sehari 2,5-10 mg tergantung bersihan kreatinin.
Hipertensi renovaskular : diawali dengan 2,5-5 mg, selanjutnya dosis disesuaikan
berdasarkan respon tekanan darah.
Gagal jantung kongestif pada pasien yang tidak cukup terkontrol oleh Digitalis
dan/atau diuretika : diawali dengan 2,5 mg.

Pemeliharaan : 5-10 mg.


Seluruh dosis diberikan sekali sehari.
Mekanisme Obat:
Pembentukan angiotensin II suatu vasokontriktor kuat yang merangsang sekresi
aldosteron. Dengan menghambat Angiotensin II maka terjadi penurunan retensi
sistemik melalui penghambatan vasokontriksi dan pengurangan retensi cairan akibat
penurunan sekresi aldosteron. Lisinopril mulai bekerja dalam waktu 2 jam setelah
pemberian oral. Konsentrasi puncak dalam plasma tercapai setelah 7 jam dan efeknya
berlanjut 24 jam setelah dosis tuunggal harian. Lisinopril tidak dimetabolisme dalam
hepar dalam jumlah yang nyata. Ikatan plasma protein hampir tidak ada.
Diekskresikan dalam urin dalam bentuk yang tidak berubah.
Interaksi Obat:
Resiko hiperkalemia dengan diuretika hemat Kalium, suplemen Kalium, pengganti
garam yang mengandung Kalium.
Efek antihipertensi bisa dihilangkan oleh Indometasin.
Efek antihipertensi bertambah dengan diuretika.
Bisa mengurangi eliminasi Litium.
Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor) bisa mempotensiasi efek
hipoglikemik insulin dan obat-obat anti diabetes oral.
CLOPIDOGREL
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung :

Clopidogrel bisulfate setara dengan Clopidogrel............................................... 75 mg

Kelas Terapi:

Penghambat agregasi platelet

Indikasi:
Clopidogrel diindikasikan untuk pencegahan kejadian aterotrombosis pada :

Pasien yang menderita infark miokard (dari beberapa hari sampai kurang dari 35
hari), stroke iskemik (dari 7 hari sampai kurang dari 6 bulan) atau penyakit arteri

perifer.
Pasien yang menderita sindrom koroner akut:
- Sindrom elevasi Non-ST segmen koroner akut (angina tidak stabil atau infark
miokard non-Q-wave). Dalam kombinasi dengan asam asetilsalisilat.
- Elevasi ST segmen infark miokard akut. Dalam kombinasi dengan ASA pada pasien
yang dirawat secara medis memenuhi syarat untuk terapi trombolitik

Kontraindikasi:

Hipersensitif terhadap zat aktif atau salah satu zat tambahan pada produk obat.
Kerusakan hati berat.

Perdarahan patologis aktif seperti ulkus peptikum atau perdarahan intrakranial. Ibu
menyusui

Efek samping:

Gangguan Hematologi: trombositopenia, meningkatkan waktu perdarahan,


leukopenia, penurunan neutrofil dan eosinofil
Gangguan sistem Saraf Pusat: sakit kepala, pusing, parastesia, jarang vertigo
Gangguan Gastrointestinal: dispepsia, nyeri abdomen dan diare.
Gangguan Kulit: ruam dan pruritus

Dosis:
Dewasa dan orang tua
Clopidogrel harus diberikan sebagai dosis harian tunggal 75 mg dengan atau tanpa
makanan. Pada pasien yang menderita sindrom koroner akut:
- Elevasi Non-ST segmen (angina tidak stabil atau infark miokard non-Q-wave):
pengobatan Clopidogrel harus dimulai dengan dosis 300 mg dan kemudian
dilanjutkan 75 mg sekali sehari (dengan asam asetil salisilat (ASA) 75 mg-325 mg
sehari). Sejak dosis tinggi ASA dikaitkan dengan risiko perdarahan yang lebih tinggi,
direkomendasikan bahwa dosis ASA tidak boleh lebih besar dari 100 mg.
- Elevasi ST segmen infark miokard akut: Clopidogrel harus diberikan sebagai dosis
tunggal harian 75 mg dimulai dengan atau tanpa dosis muatan dalam kombinasi
dengan ASA dan dengan atau tanpa trombolitik. Untuk pasien yang usianya lebih dari
75 tahun Clopidogrel harus dimulai tanpa dosis muatan. Gabungan terapi harus
dimulai sedini mungkin setelah mulai timbul gejala dan dilanjutkan selama setidaknya
empat minggu. Manfaat dari kombinasi Clopidogrel dengan ASA di atas empat
minggu belum diteliti dalam pengaturan ini.
Anak-anak dan remaja
Tidak ada pengalaman pada anak-anak.
Mekanisme Obat:
Setelah pemberian berulang 75 mg per hari, Clopidogrel diabsorbsi dengan cepat.
Namun, konsentrasi plasma sangat sesudah 2 jam pemberian. Absorpsi minimal 50%
berdasarkan pada ekskresi urin dari metabolit Clopidogrel. Clopidogrel secara cepat
dimetabolisme oleh hati dan metabolit utama yang tidak aktif, adalah derivat asam
karboksilat yang mewakili sekitar 85% dari senyawa yang beredar dalam plasma.
Kadar puncak plasma metabolit ini (sekitar 3 mg/l setelah pengulangan dosis oral 75
mg) terjadi sekitar 1 jam setelah pemberian dosis. Metabolit aktifnya, derivat tiol,
dibentuk melalui oksidasi Clopidogrel menjadi 2-oxo-Clopidogrel dan hidrolisis
subsequent
Interaksi Obat:
Warfarin: tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan intensitas perdarahan.
Penghambat Glikoprotein IIb/llla : hati-hati pada pasien yang mungkin berada pada
risiko peningkatan perdarahan karena trauma, operasi atau kondisi patologis lainnya
yang menggunakan penghambat glikoprotein IIb/IIIa secara bersamaan.
Asam Asetilsalisilat (ASA): tidak mengubah penghambatan agregasi platelet yang
diinduksi oleh ADP yang dimediasi oleh Clopidogrel, tetapi Clopidogrel
mempengaruhi efek agregasi platelet pada ASA yang diinduksi kolagen. Namun,
pemberian bersamaan ASA 500 mg dua kali sehari untuk satu hari secara signifikan
tidak meningkatkan perpanjangan waktu perdarahan yang disebabkan oleh

Clopidogrel. Sebuah interaksi farmakodinamik antara asam asetilsalisilat dengan


Clopidogrel adalah mungkin, yang menyebabkan peningkatan risiko pendarahan.
Heparin: Penggunaan bersamaan dengan heparin tidak berpengaruh pada
penghambatan agregasi platelet yang diinduksi oleh Clopidogrel. Interaksi
farmakodinamik antara Clopidogrel dan heparin mungkin dapat menyebabkan
peningkatan risiko pendarahan. Oleh karena itu, penggunaan secara bersamaan harus
dilakukan dengan hati-hati.
Trombolitik: Penilaian keamanan penggunaan secara bersamaan antara Clopidogrel,
obat-obat trombolitik spesifik fibrin atau non fibrin dan heparin telah dinilai pada
pasien dengan infark miokard akut. Insiden terjadinya perdarahan yang signifikan
secara klinis mirip dengan penilaian pada heparin yang digunakan bersamaan dengan
ASA. Namun penggunaan Clopidogrel bersamaan dengan obat trombolitik harus
dilakukan dengan hati-hati.
Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (AINS): Pada studi klinis yang dilakukan pada
sukarelawan sehat, penggunaan secara bersamaan Clopidogrel dan naproxen
meningkatkan kejadian perdarahan gastrointestinal. Namun, karena kurangnya studi
interaksi dengan AINS lain saat ini tidak jelas apakah terjadi peningkatan risiko
perdarahan gastrointestinal dengan semua AINS. Akibatnya, AINS termasuk
penghambat COX-2 dan Clopidogrel harus dengan hati-hati bila digunakan secara
bersama.
Lain-Lain: Sejumlah studi klinis lainnya telah dilakukan antara Clopidogrel dan
obatobat lainnya bila digunakan secara bersamaan untuk menyelidiki potensi interaksi
farmakodinamik dan farmakokinetik. Tidak ada interaksi farmakodinamik klinis
penting yang diamati ketika Clopidogrel digunakan bersamaan dengan atenolol,
nifedipin, atau keduanya. Juga tidak ada perubahan farmakodinamik secara signifikan
oleh penggunaan bersama dengan fenobarbital, simetidin atau estrogen.
Farmakokinetik dari digoksin atau teofilin tidak berubah saat penggunaan bersama
Clopidogrel. Antasida tidak mempengaruhi absorpsi Clopidogrel. Data dari studi
dengan mikrosom hati manusia menunjukkan bahwa karboksilat dan metabolit
Clopidogrel dapat menghambat aktivitas sitokrom P450 2C9. Hal ini berpotensi
menyebabkan peningkatan kadar plasma obat-obatan seperti fenitoin dan tolbutamid
dan AINS, yang dimetabolisme oleh sitokrom P450 2C9. Data dari penelitian
CAPRIE menunjukkan bahwa fenitoin dan tolbutamid dapat dengan aman digunakan
bersamaan dengan Clopidogrel. Terlepas dari informasi interaksi obat tertentu yang
dijelaskan di atas, studi interaksi Clopidogrel dengan beberapa obat yang biasa
diberikan pada pasien dengan penyakit atherothrombosis belum tersedia. Namun,
pasien mengadakan uji klinis dengan Clopidogrel dan menerima berbagai obatobatan secara bersamaan termasuk diuretik, beta blocker, ACEI, antagonis kalsium,
obat penurun kolesterol, vasodilator koroner, obat antidiabetes (termasuk insulin),
obat antiepilepsi, terapi hormon pengganti dan antagonis GBllb/llla tanpa bukti
interaksi buruk yang signifikan secara klinis.
Kehamilan dan Laktasi: Kehamilan Karena tidak ada data klinis tentang kehamilan
yang tersedia, lebih baik untuk tidak menggunakan Clopidogrel selama kehamilan
sebagai langkah pencegahan. Penelitian pada hewan tidak menunjukkan efek
membahayakan baik langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan kehamilan,
embrio/perkembangan janin, persalinan atau pengembangan pascakelahiran. Laktasi
Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa Clopidogrel dan/atau metabolitnya
diekskresi di dalam susu. Tidak diketahui apakah produk obat ini, diekskresikan
dalam air susu manusia. Clopidogrel tidak dianjurkan diberikan pada ibu menyusui.

CALSIVAS
Komposisi:

Amlodipine 5 mg tablet
Amlodipine 10 mg tablet

Kelas Terapi:

Golongan dihidropiridin (antagonis ion kalsium)

Indikasi:
Amlodipine digunakan untuk:

pengobatan hipertensi, angina stabil kronik, angina vasospastik (angina prinzmetal

atau variant angina).


Amlodipine dapat diberikan sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan
obat antihipertensi dan antiangina lain.

Kontraindikasi:

Amlodipine tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap amlodipine
dan golongan dihidropiridin lainnya.

Efek samping:

Efek samping yang sering timbul dalam uji klinik antara lain : edema, sakit kepala.

Secara umum : fatigue, nyeri, peningkatan atau penurunan berat badan.


Pada keadaan hamil dan menyusui : belum ada penelitian pemakaian amlodipine pada
wanita hamil, sehingga penggunaannya selama kehamilan hanya bila keuntungannya
lebih besar dibandingkan risikonya pada ibu dan janin. Belum diketahui apakah
amlodipine diekskresikan ke dalam air susu ibu. Karena keamanan amlodipine pada
bayi baru lahir belum jelas benar, maka sebaiknya amlodipine tidak diberikan pada

ibu menyusui.
Efektivitas dan keamanan amlodipine pada pasien anak belum jelas benar.

Dosis:

Dosis awal yang dianjurkan adalah 5 mg satu kali sehari, dengan dosis maksimum 10

mg satu kali sehari.


Untuk
melakukan

titrasi

dosis,

diperlukan

waktu

7-14

hari.

Pada pasien usia lanjut atau dengan kelainan fungsi hati, dosis yang dianjurkan pada
awal terapi 2,5 mg satu kali sehari. Bila amlodipine diberikan dalam kombinasi

dengan antihipertensi lain, dosis awal yang digunakan adalah 2,5 mg.
Dosis yang direkomendasikan untuk angina stabil kronik ataupun angina vasospastik
adalah 5-10 mg, dengan penyesuaian dosis pada pasien usia lanjut dan kelainan fungsi

hati. Amlodipine dapat diberikan dalam pemberian bersama obat-obat golongan


tiazida, ACE inhibitor, -bloker, nitrat dan nitrogliserin sublingual.
Mekanisme Obat:
Amlodipine merupakan antagonis kalsium golongan dihidropiridin (antagonis ion
kalsium) yang menghambat influks (masuknya) ion kalsium melalui membran ke
dalam otot polos vaskular dan otot jantung sehingga mempengaruhi kontraksi otot
polos vaskular dan otot jantung.
Efek antihipertensi amlodipine adalah dengan bekerja langsung sebagai vasodilator
arteri perifer yang dapat menyebabkan penurunan resistensi vaskular serta penurunan
tekanan darah. Dosis satu kali sehari akan menghasilkan penurunan tekanan darah
yang berlangsung selama 24 jam. Onset kerja amlodipine adalah perlahan-lahan,
sehingga tidak menyebabkan terjadinya hipotensi akut.
Interaksi Obat:
Amlodipine dapat diberikan bersama dengan penggunaan diuretik golongan tiazida,
-bloker, -bloker, ACE inhibitor, nitrat, nitrogliserin sublingual, antiinflamasi nonsteroid, antibiotika, serta obat hipoglikemik oral.
Pemberian bersama digoxin tidak mengubah kadar digoxin serum ataupun bersihan
ginjal digoxin pada pasien normal.
Amlodipine tidak mempunyai efek terhadap ikatan protein dari obat-obat : digoxin,
phenytoin, warfarin dan indomethacin.
Pemberian bersama simetidin atau antasida tidak mengubah farmakokinetik
amlodipine
INFUS ASERING
Komposisi:

Ca++ 3 mEq, Na + 130 mEq, CI- 109 mEq, asetat 28 mEq tiap liter larutan infus

Kelas Terapi:

Golongan infus kristaloid isotonis

Indikasi:

Nutrien & pengobatan asidosis yang berhubungan dengan dehidrasi & kehilangan ion

alkali dalam tubuh.


Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam
berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.

Kontraindikasi:

Gagal jantung kongestif, kerusakan ginjal, edema paru yang disebabkan oleh retensi
Natrium & hiperproteinemia, hipernatremia, hiperkloremia, hiperhidrasi.

Efek samping:

Demam, infeksi pada tempat penyuntikan, trombosis vena atau flebitis (radang
pembuluh balik) pada tempat penyuntikan, hipervolemia (bertambahnya volume
plasma darah yang beredar).

Dosis:

Dosis disesuaikan pada setiap individu

Mekanisme Obat:

Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami
gangguan hati
Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik
dibanding RL pada neonatus
Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi
dengan isofluran.
Mempunyai efek vasodilator
Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA,
dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk
edema serebral
Interaksi Obat:

Pada penggunaan Jangka lama sebaiknya dilakukan evaluasi klinik berupa uji
laboratorium secara periodik untuk memonitor serum ionogram, air dan
keseimbangan asam basa.
Hati-hati penggunaan pada anak-anak dan orang tua, pada pasisn
hipertensi dan toksemia kehamilan.
Jangan diberikan bersama-sama dengan transfusi darah karena dapat menyebabkan
presipitasi