Você está na página 1de 7

ADAT ISTIADAT PAPUA BARAT

Mengacu pada perbedaan tofografi dan adat istiadat, penduduk Papua dapat
dibedakan menjadi tiga kelompok besar, masing-masing:
1. Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum rumah di atas
tiang (rumah panggung) dengan mata pencaharian menokok sagu dan
menangkap ikan);
2. Penduduk daerah pedalaman yang hidup di daerah sungai, rawa danau dan
lembah

serta

kaki

gunung.

Umumnya

mereka

bermata

pencaharian

menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan;


3. Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun dan
berternak secara sederhana.

Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa yang masingmasing berbeda. Tribal arts yang indah dan telah terkenal di dunia dibuat oleh
suku Asmat, Ka moro, Dani, dan Sentani. Sumber berbagai kearifan lokal untuk
kemanusiaan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik diantaranya dapat
ditemukan di suku Aitinyo, Arfak, Asmat, Agast, Aya maru, Mandacan, Biak, Arni,
Sentani, dan lain-lain.
Umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan dengan menganut
garis keturunan ayah (patrilinea). Budaya setempat berasal dari Melanesia.
Masyarakat berpenduduk asli Papua cenderung menggunakan bahasa daerah
yang sangat dipengaruhi oleh alam laut, hutan dan pegunungan.
Dalam perilaku sosial terdapat suatu falsafah masyarakat yang sangat unik,
misalnya seperti yang ditunjukan oleh budaya suku Komoro di Kabupaten
Mimika, yang membuat genderang dengan menggunakan darah. Suku Dani di
Kabupaten Jayawijaya yang gemar melakukan perang-perangan, yang dalam
bahasa Dani disebut Win. Budaya ini merupakan warisan turun-temurun dan di
jadikan festival budaya lembah Baliem. Ada juga rumah tradisional Honai, yang
didalamnya terdapat mummy yang di awetkan dengan ramuan tradisional.

Terdapat tiga mummy di Wamena; Mummy Aikima berusia 350 tahun, mummy
Jiwika 300 tahun, dan mummy Pumo berusia 250 tahun.
Di suku Marin, Kabupaten Merauke, terdapat upacara Tanam Sasi, sejenis kayu
yang dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian upacara kematian. Sasi
ditanam 40 hari setelah hari kematian seseorang dan akan dicabut kembali
setelah 1.000 hari. Budaya suku Asmat dengan ukiran dan souvenir dari Asmat
terkenal hingga ke mancanegara. Ukiran asmat mempunyai empat makna dan
fungsi, masing-masing:
1. Melambangkan kehadiran roh nenek moyang;
2. Untuk menyatakan rasa sedih dan bahagia;
3. Sebagai suatu lambang kepercayaan dengan motif manusia, hewan,
tetumbuhan dan benda-benda lain;
4. Sebagai lambang keindahan dan gambaran ingatan kepada nenek moyang.

Budaya suku Imeko di kabupaten Sorong Selatan menampilkan tarian adat Imeko
dengan budaya suku Maybrat dengan tarian adat memperingati hari tertentu
seperti panen tebu, memasuki rumah baru dan lainnya.
Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan
masyarakat di Papua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama di sana
dapat dijadikan contoh bagi daerah lain, mayoritas penduduknya beragama
Kristen, namun demikian sejalan dengan semakin lancarnya transportasi dari
dan ke Papua, jumlah orang dengan agama lain termasuk Islam juga semakin
berkembang. Banyak misionaris yang melakukan misi keagamaan di pedalamanpedalaman Papua.
Mereka memainkan peran penting dalam membantu masyarakat, baik melalui
sekolah misionaris, balai pengobatan maupun pendidikan langsung dalam bidang
pertanian, pengajaran bahasa Indonesia maupun pengetahuan praktis lainnya.
Misionaris juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke
daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler.

KESENIAN DAERAH PAPUA


Budaya Papua Seni Kebudayaan Tradisional Daerah Papua Indonesia - Provinsi
Papua yang terletak di ujung timur negara Indonesia memiliki banyak
kebudayaan yang unik dan menarik. Yuk, kita kenal kebudayaan Papua sebagai
salah satu kekayaan budaya indonesia seperti alat musik tradisionalnya, Tarian
Tradisional dan kesenian lainnya yang terdapat di Papua. Baca juga tempat
wisata di Papua
Seni dan Budaya Papua Indonesia
Alat Musik Tradisional Papua
Ada Salah satu nama alat musik tradisional yang paling terkenal yang berasal
dari Papua yaitu Tifa. Alat musik Tifa merupakan alat musik tradisional yang
berasal dari daerah maluku serta papua. Bentuknya alat musik Tifa mirip
gendang dan cara memainkannya Tifa adalah dengan cara dipukul. Alat
musik Tifa terbuat dari bahan sebatang kayu yang isinya sudah dikosongkan
serta pada salah satu ujungnya ditutup dengan menggunakan kulit hewan
rusa yang terlebih dulu dikeringkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan
suara yang bagus dan indah. Alat musik ini sering di mainkan sebagai
istrumen musik tradisional dan sering juga dimainkan untuk mengiringi tarian
tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi.

Tarian Tradisional Daerah Papua


Terdapat berbagai macam tari-tarian dan mereka biasa menyebutnya dengan
Yosim Pancar (YOSPAN). Di dalam tarian ini terdapat aneka bentuk gerak
tarian seperti tari Gale-gale, tari Pacul Tiga, tari Seka, Tari Sajojo, tari Balada
serta tari Cendrawasih. Tarian tradisional Papua ini sering di mainkan dalam
berbagai kesempatan seperti untuk penyambutan tamu terhormat,
penyambutan para turis asing yang datang ke Papua serta dimainkan adalah
dalam upacara adat.

Pakaian Adat Tradisional Papua


Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian
adat tersebuta memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa burung

cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta


rumbai-rumbai pada pergelangan kaki.

Rumah Adat Papua


Nama rumah asli Papua adalah Honai yaitu rumah khas asli Papua yang
dihuni oleh Suku Dani. Bahan untuk membuat rumah Honai dari kayu dengan
dan atapnya berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah
tradisional Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak berjendela.
Umumnya rumah Honai terdiri dari 2 lantai yang terdiri dari lantai pertama
untuk tempat tidur sedangkan lantai kedua digunakan sebagai tempat untuk
bersantai, makan, serta untuk mengerjakan kerajinan tangan.

MATA PENCAHARIAN
Pada daerah-daerah Papua yang bervariasi topografinya terdapat ratusan
kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeza.
Dengan mengacu pada perbezaan topografi dan adat istiadatnya maka
secara amnya, penduduk Papua dapat di bezakan menjadi 3 kelompok besar
iaitu:

Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah


diatas tiang (rumah panggung), mata pencaharian menokok sagu dan
menangkap ikan. Berkomunikasi dengan kota dan masyarakat luar sudah

tidak asing bagi mereka.


Penduduk daerah pedalaman yang mendiami dataran rendah yang hidup
pada daerah sungai, rawa, danau dan lembah serta kaki gunung. Pada
umumnya bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan
mengumpulkan hasil hutan. . Adat Istiadat mereka ketat dan selalu

mencurigai pendatang baru.


Penduduk pegunungan yang mendiami lembah .Penduduk daerah dataran
tinggi dengan mata pencaharian bercocok tanam, memelihara babi,
berburu dan memetik hasil dari hutan; pemukimannya berkelompok,
dengan penampilan yang ramah bila dibandingkan dengan penduduk tipe
kedua. Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem
kekerabatan yang menganut garis ayah atau patrilinea. Adat istiadat
dijalankan secara ketat dengan "Pesta Babi". Ketat dalam memegang dan
menepati janji. Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme

dalam mencari keseimbangan sosial melalui "Perang Suku" yang dapat


diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Sifat curiga tehadap

orang asing ada tetapi tidak seketat penduduk tipe 2 (kedua).


Penduduk pegunungan yang mendiami lereng-lereng gunung;
Adat istiadat mereka sangat ketat, sebagian masih "KANIBAL", dan bunuh
diri merupakan tindakan terpuji bila melanggar adat karena akan
menghindarkan bencana dari seluruh kelompok masyarakatnya. Perang
suku merupakan aktivitas untuk pencari keseimbangan sosial, dan curiga
pada orang asing cukup tinggi juga.

KEBUDAYAAN PAPUA
1. Rumah Adat
Salah satu contoh rumah adat Papua dinamakan Honai. Honai merupakan
rumah adat Papua yang dihuni oleh suku Dani. Rumah tersebut terdiri dari
dua lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk
tempat bersantai, makan dan mengerjakan kerajinan tangan. Pintu Honai
amat kecil, tanpa jendela dan atapnya terbuat dari rumput lalang.

Honai terbentuk seperti jamur dengan ketinggian sekitar 4m. Rumah itu
luasnya sekitar12-16m. Dahulu anak laki laki diwajibkan berjaga jaga di Honai
dari malam hingga pagi hari, sedangkan anak perempuan/para gadis boleh
tidur di Honai secara berkelompok. Selain itu terdapat pula rumah yang
berfungsi sebagai kuil animisme. Rumah itu berbentuk kerucut tinggi keatas.
2. Pakaian Adat
Pria Papua mengenakan pakaian adat berupa hiasan kepala, kalung yang
terbuat dari gigi dan tulang hewan, kalung dari kerang, ikat pinggang dan
sarung yang berumbai rumbai. Tombak beserta, tameng dengan hiasan yang
khas ikut menyertai pakaian adatnya.

Wanitanya memakai kalung dari kerang dan gigi binatang, hiasan pada
lengan serta pakaian berumbai rumbai.

3. Tari tarian Daerah Papua


a. Tari Selamat Datang, merupakan tari yang mempertunjukkan kegembiraan
hati penduduk dalam menyambut para tamu yang dihormati.
b. Tari Musyoh, merupakan tari suci/keramat dalam upaya mengusir arwah
orang meninggal karena kecelakaan.
c. Tari Mbes, merupakan tari garapan
penyambutan

tamu.

Yang

unik

yang

dalam

berfungsi

tari

ini

sebagai

adalah

tari

adanya

penggambaran tamu yang digotong dalam posisi berlentang pada sebuah


perisai. Sementara tifa, yang ritmis dinamis ditengah perkikan perkikan
khas, merupakan warna tersendiri bagi tari yang diangkat dari daerha
Asmat ini.

4. Senjata Tradisional
Salah satu senjata tradisional di Papua adalah pisau belati. Senjata ini terbuat
dari tulang burung Kasuari dan bulunya menghiasi hulu belati tersebut.
Senjata utama penduduk asli Papua lainnya adalah busur dan panah. Busur
terbuat dari bumbu dan kayu, sedangkan tali busur terbuat dari rotan. Anak

panahnya terbuat dari bumbu, kayu atau tulang kanguru. Busur dan panah
dipakai untuk berburu atau berperang.

Pisau Belati
5. Suku : Suku dan marga yang terdapat didaerah Papua adalah : Asmat, Dani
dan suku suku lain yang jumlahnya banyak sekali, tergantung pada
keberadaan sukunya, termasuk pula yang tergolong suku Rumpu Melanisia.
6. Bahasa Daerah : Papua.
7. Lagu Daerah : Apuse, Yamko Rambe Yamko.