Você está na página 1de 3

ANALISIS LIMPASAN PERMUKAAN DAN NERACA AIR PADA

DAS (Daerah Aliran Sungai) BRANTAS HULU


DENGAN MENGGUNAKAN MODEL SWAT (Soil and Water
Assessment Tools)

Disusun oleh :

FEBRIAN ARI NUGROHO


135040207111019

LABORATORIUM FISIKA TANAH


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
DAS Brantas adalah salah satu DAS terbesar ke dua di Jawa Timur yang menghidupi
sebagian besar masyarakat di Jawa Timur yang bermula di derah Sumber Brantas Kota Batu.
DAS Brantas khusunya pada daerah hulu dewasa ini memiliki berbagai masalah yang dihadapi.
Menurut Baperop Jawa Timur permasalahan DAS Brantas adalah mencakup : degradasi
kuantitas sumber-sumber air di daerah pengaliran sungai berupa berkurangnya tegakan kayu di
kawasan hutan lindung, terutama di kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) R.Suryo;
Terjadinya lahan kritis di luar dan di dalam kawasan hutan di DAS Brantas; Pemanfaatan lahan
yang tidak sesuai dengan peruntukannya, sehingga menimbulkan erosi tanah yang berlebihan
serta berkurangnya resapan air permukaan; Tercemarnya air akibat residu pertanian baik dari
limbah pestisida dan pupuk an-organik maupun limbah domestik dari perumahan warga.
Permasalahan tersebut akan memberikan banyak dampak yang buruk terhadap keseimbangan
ekologi maupun lingkungan. Serta akan menyebabkan berbagai macam bencana alam pada
lingkungan kita. Dengan menurunnya kuantitas dan kualitas air pada sungai, kita para makhluk
hidup akan mengalami krisis air bersih yang nantinya akan kita konsumsi, serta akan menjadi
bencana banjir, erosi, bahkan sampai tanah longsor pada saat musim penghujan. Sedangkan pada
waktu musim kemarau kita akan mengalami yang namanya kekeringan. Bahwasanya hal yang
penting juga kadang kita melupakannya. Yaitu masalah limpasan permukaan pada suatu DAS.
Limpasan permukaan (surface run off) merupakan komponen aliran yang besarannya adalah
hujan dikurangi besaran infiltrasi. Didaerah pegunungan (bagian hulu DAS)

limpasan

permukaan dapat masuk kesungai dengan cepat, yang dapat menyebabkan debit sungai
meningkat. Apabila debit sungai lebih besar dari kapasitas sungai maka akan terjadi luapan pada
tebing sungai sehingga terjadi banjir (Adiwikarta,s ,1977).
Bencana yang telah ditimbulkan telah menggugah banyak para ahli untuk melakukan
penelitian guna memecahkan masalah yang ada pada daerah DAS Brantas khususnya pada
daerah hulu. Pada penelitian Deden Fathurrohman pada tahun 2008 dengan judul penelitian
Masalah pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) Brantas di Jawa Timur : Solusi Model

Kolaborasi telah memmberikan suatu pemecahan masalah pengelolaan DAS Brantas dengan
cara one river, one plan, & one management merupakan suatu prinsip di mana dalam suatu
DAS akan ada satu sungai yang mengalir yang di miliki oleh masyarakat yang berada di sekitar
daerah aliran sungai, dan semua aspek masyarakat tersebut harus memiliki satu visi untuk
pengelolaan DAS Brantas untuk menjadi yang lebih baik. Akan tetapi dari solusi yang diberikan
oleh penelitian tersebut masih dalam tahap prinsip kelembagaan, atau masih dalam tahap yang
sederhana. Dalam penelitian tersebut masih belum menunjukkan solusi yang konkrit untuk
memecahkan permasalahan yang ada pada DAS Brantas.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini. Untuk menyempurnakan penelitian yang sudah ada.
Penelitian ini menggunakan pendekatan perhitungan limpasan permukaan air dan neraca air
dengan metode hidroligi SWAT (Soil Water and Assesment Tools). Di dalam penelitian ini yang
menggunakan metode SWAT sebagai alat untuk analisis limpasan permukaan dengan cara
memetakan suatu DAS Brantas daerah hulu dan dengan menghitung neraca air pada daerah
tersebut. Dengan menghitung neraca air dan limpasan permukaan dengan pemetaan, nantinya
kita akan mengetahui daerah-daerah mana saja yang akan mengalami limpasan permukaan
paling besar yang akan berpotensi banjir, dan kita akan menhitung kebutuhan air yang seimbang
pada daerah tersebut. Sehingga permasalahan yang terjadi pada DAS brantas daerh hulu
khususnya akan berkurang.