Você está na página 1de 50

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perempuan mendapatkan anugerah untuk dapat hamil, melahirkan, dan
menyusui. Menyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu didunia
berhasil menyusui bayinya tanpa membaca buku tentang cara menyusui, bahkan
ibu yang buta huruf mampu untuk menyusui bayinya. Kebanyakan perempuan
memilih untuk segera menyusui bayinya setelah melahirkan dan pada minggu
keenam masa nifas terdapat kurang dari 60 persen perempuan yang masih
menyusui bayinya ( Jones, 2002 ).
Persiapan memberikan ASI dilakukan sejak dalam masa kehamilan. Pada waktu
hamil payudara akan semakin penuh karena retensi air, lemak serta
berkembangnya kelenjar- kelenjar payudara sehingga terasa tegang dan nyeri.
Bersama dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk
proses menyusui makin tampak. Hal itu tampak dari payudara semakin
membesar, putting susu semakin menonjol, areola mammae semakin
menghitam ( mengalami hiperpigmentasi ) dan pembuluh darah semakin
tampak. Dalam rangka menyempurnakan pembentukan ASI maka kedua
payudara harus diperlakukan sama untuk menghindari terjadinya stagnasi dan
tersumbatnya saluran susu serta untuk menghindari kemungkinan infeksi
payudara ( Manuaba, 1998).
Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya
beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu
yang tidak paham akan masalah itu, kegagalan menyusui sering dianggap
problem pada anak saja. Masalah dari ibu yang sering timbul selama menyusui
dapat dimulai sejak masa kehamilan, pada masa pasca persalinan dini, dan
masa pasca persalinan lanjut. Masalah yang sering timbul pada masa kehamilan
antara lain kurang / salah informasi, putting susu tenggelam ( retracted ), atau
putting susu datar. Sedangkan masalah menyusui pada masa pasca persalinan
dini antara lain putting susu datar ataupun tenggelam, putting susu lecet,
payudara bengkak, saluran susu tersumbat, dan mastitis sampai terjadi abses
payudara
( Suradi, 2004).
Salah satu masalah menyusui pada masa nifas adalah bendungan ASI
( engorgement of the breast ). Bendungan ASI terjadi kerena penyempitan
duktus laktiferus atau oleh kelenjar- kelenjar yang tidak dikosongkan dengan
sempurna karena kelainan pada putting susu. Keluhan yang dirasakan antara lain
payudara terasa berat, bengkak, keras, dan nyeri. Pencegahan terjadinya
bendungan payudara sebaiknya dimulai sejak hamil dengan perawatan payudara
untuk mencegah terjadinya masalah pada payudara (Mochtar, 1998).
Salah satu cara mengatasi masalah menyusui tersebut dapat dilakukan dengan
memberikan penyuluhan kesehatan tentang perawatan payudara. Pendidikan
kesehatan merupakan salah satu upaya dalam informasi, pengetahuan pada

masyarakat untuk berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan. Dampak


yang timbul dari cara ini terhadap perilaku kesehatan masyarakat akan
memakan waktu lama. Namun apabila perilaku tersebut diadopsi masyarakat,
maka akan langgeng bahkan selama hidup dilakukan ( Notoadmojo, 2003 ).
Pendidikan kesehatan pada akhirnya bukan hanya meningkatkan pengetahuan
atau kesadaran pada masyarakat saja, namun yang lebih penting adalah
mencapai perilaku kesehatan.
B. TUJUAN
Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan
bendungan ASI sesuai dengan prosedur penatalaksanaan pada masalah
payudara bendungan ASI.
Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengkaji data subjektif maupun objektif pada ibu nifas
dengan bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menginterpretasikan data, menegakkan diagnosa, mengenali
masalah dan menentukan kebutuhan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa potensial pada ibu nifas dengan
bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menentukan antisipasi tindakan segera dan
melaksanakannya pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menyusun rencana tindakan pada ibu nifas dengan
bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menentukan tindakan sesuai rencana yang dibuat.
Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan.
Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan pada ibu
nifas dengan bendungan ASI.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN TEORI
1. Anatomi Payudara
Payudara atau mammae adalah struktur kulit yang dimodifikasi, berglandular
pada anterior thorax. Pada perempuan mengandung unsur untuk mensekresi
susu untuk makan bayi.
Struktur makroskopis
1) Cauda Axillaris
Cauda Axillaris adalah jaringan payudara yang meluas ke axilla.
2) Areola

Areola adalah daerah lingkaran yang terdiri dari kulit yang longgar dan
mengalami pigmentasi dan masing-masing payudara bergaris tengah kira-kira
2,5 cm. Areola berwarna merah muda pada wanitayang berkulit coklat, dan
warna tersebut menjadi lebih gelap waktu hamil.
3) Papilla Mammae
Papilla Mammae terletak di pusat areola mammae setinggi iga (costa) keempat.
Papilla mamae merupakan suatu tonjolan dengan panjang kira-kira 6 cm,
tersusun atas jaringan erktil berpigmen dan merupakan bangunan yang sangat
peka. Permukaan Papilla Mammae berlubang-lubang berupa ostium papillarre
kecil-kecil yang merupakan muara ductus lactifer.
Struktur Mikroskopis
Payudara terutama tersusun atas jaringan kelenjar tetapi juga mengandung
sejumlah jarinagn lemak dan ditutupi oleh kulit. Jaringan kelenjar ini dibagi
menjadi kira-kira 18 lobus yang dipisahkan secara sempurna satu sama lain oleh
lembaran-lembaran jaringan fibrosa.
Setiap lobus tersusun atas bangun sebagai berikut :
1) Alveoli
Alveoli mengandung sel-sel yang menyekresi air susu. Setiap alveolus dilapisi
oleh sel-sel yang menyekresi air susu, disebut acini yang mengekstraksi faktorfaktor dari darah yang penting untuk pembentukan air susu. Di sekeliling
alveolus terdapat sel-sel mioepitel yang kadang disebut sel keranjang, apabila
sel ini dirangsang oleh oksitosin akan berkontraksi sehingga mengalirkan air
susu ke dalam ductus lactifer.
2) Tubulus Lactifer
Tubulus Lactifer merupakan saluran kecil yang berhubungan dengn alveoli.
3) Ductus Lactifer
Ductus Lactifer adalah saluran sentral yang merupakan muara beberapa tubulus
lactifer.
4) Ampulla
Ampulla adalah bagian dari ductus lactifer yang melebar, yang merupakan
tempat penyimpanan air susu. Ampulla terletak di bawah areola.
2. Fisiologi Laktasi
Proses produksi, sekresi dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi. Ketika bayi
menghisap payudara, hormon oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli
melalui saluran susu menuju reservoir susu yang berlokasi di belakang areola,
lalu ke dalam mulut bayi. Pengaruh hormonal bekerja mulai dari bulan ketiga

kehamilan, dimana yubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi


munculnya ASI dalam sistem payudara (Saleha, 2009).
Produksi Air Susu Ibu
Prolaktin merupakan hormon yang disekresi oleh glandula pituitari anterior,
penting untuk produksi air susu ibu. Dalam sirkulasi maternal kadar hormon ini
meningkat. Kerja hormon ini dihambat oleh hormon plasenta. Dengan lepasnya
pada akhir proses persalinan, maka kadar estrogen dan progesteron berangsurangsur turun sampai tingkat pada dilepaskannya dan diaktifkannya prolaktin
(verralls, 1997)
Pengeluaran Air Susu
1) Reflek Produksi
Hisapan bayi pada payudara merangsang produksi hormon prolaktin yang akan
menyebabkan sel-sel sekretori dan alveoli untuk memproduksi susu yang akan
disiapkan dalam lumen. Pembendungan ASI yang terjadi dalam alveolus akan
menyebabkan adanya penekanan pada pembuluh darah, sehingga akan
menyebabkan penurunan prolaktin dalam darah sehingga sekresi ASI berkurang
(Mommies, 2006)
Produksi ASI yang rendah adalah akibat dari kurang seringnya menyusui atau
memerah payudara, bayi tidak bisa menghisap secara efektif dan kurangnya gizi
ibu. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah
frekuensi pemberian susu, berat bayi saat lahir, usia kehamilan saat melahirkan,
usia ibu dan paritas, stress dan penyakit akut, merokok, mengkonsumsi alkohol
dan penggunaan pil kontrasepsi (Saleha, 2009)
2) Reflek Let Down
Hisapan bayi pada payudara dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang
akan menyebabkan kontraksi sel yang terdapat dalam lumen, masuk ke dalam
sinus lacteal di daerah areola. Reflek let down ini sangat sensitif terhadap faktor
kejiwaan ibu dan proses produksinya dapat terhambat jika ibu lelah, merasa
malu atau tidak pasti. Produksi ASI akan lancar apabila ibu merasa bangga dan
yakin akan kemampuannya menyusui.
Faktor-faktor yang akan meningkatkan reflek let down antara lain : melihat bayi,
mendengarkan suara bayi, mencium bayi dan memikirkan untuk menyusui bayi
(saleha 2009).
3. Masalah yang Sering Timbul Dalam Masa Laktasi
Masalah yang biasanya timbul dalam pemberian ASI yang disebabkan karena
masalah pada payudara antara lain : puting susu rata, puting susu lecet,
bendungan payudara, saluran ASI tersumbat, mastitis dan abses payudara. Dan
masalah yang sering timbul dari faktor bayi antara lain : bayi bingung puting dan
enggan menyusu. Sedangkan masalah lain yang sering timbul adalah adanya
sindrom ASI kurang dan ibu bekerja (sarwono, 2005).

4. Engorgement
Pengertian
Engorgement yang biasa disebut dengan payudara bengkak disebabkan
pengeluaran ASI yang tidak lancar karena bayi tidak sering menyusu atau terlalu
cepat disapih. Dapat pula disebabkan adanya gangguan let down reflex
(Sarwono, 2005).
Gejala
Gejala yang biasa muncul bila engorgement terjadi antara lain peyudara terasa
penuh, panas, berat dan keras, tidak terlihat mengkilat, edema atau merah. ASI
biasanya mengalir lancar dan kadang-kadang menetes keluar secara spontan,
namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sngat
nyeri. Ibu kadang-kadang menjadi demam, namun biasanya akan hilang dalam
24 jam (Tanaya, 2006).
Penyebab
1) Faktor Hormon
Proses pembentukan ASI dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh hormon oksitosin
dan hormon prolaktin. Ketika payudara mulai digunakan untuk menyusui,
dibawah areola terdapat saluran yang melebar yang disebut sinus lactiferus
yang berfungsi untuk menampung air susu (Rianto, 2009)
Setelah bayi lahir dan placenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun
dalam 2-3 hari. Dengan ini fungsi dari hipotalamus yang menghalangi pituitary
lactogenic hormone ( prolaktin ) waktu hamil sangat dipengaruhi oleh estrogen,
tidak dikeluarkan lagi dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini
menyebabkan alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk
mengeluarkannya dibutuhkan reflek yang menyebabkan kontraksi sel-sel
mioepitel yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut
(Sarwono, 2005)
2) Hisapan Bayi
Proses menyusui tergantung 2 reflek (Sarwono,2005), yaitu :
a)Reflek produksi
Hisapan bayi pada payudra merangsang produksi hormon prolaktin yang akan
menyebabkan sel-sel sekretori dan alveoli untuk memproduksi susu yang akan
disiapkan dalam lumen
b) Reflek let down
Hisapan bayi pada payudara dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang
akan menyebabkan kontraksi sel yang terdapat dalam lumen, masuk ke dalam
sinus lacteal di daerah areola. Reflek let down ini sangat sensitif terhadap faktor
kejiwaan ibu dan proses reproduksinya dapat terhambat apabila ibu lelah,

merasa malu, atau tidak pasti. Produksi ASI akan lancar apabila ibu merasa
bangga dan yakin akan kemampuannya menyusui.
3) Pengosongan Payudara
Ketika susu mulai masuk menggantikan kolostrum pada hari setelah persalinan,
payudara akan menjadi lebih besar, lebih berat dan lebih empuk karena
bertambahnya getah bening dan suplai darah. Pada saat ini akan terjadi
bendungan ASI apabila ibu tidak cukup sering menyusui bayinya dalam jarak
waktu yang lama dan jika menghentikan penyusuan secara mendadak atau
payudara tidak dikosongkan secara memadai (Nellson,1995).
Apabila ASI berlebihan sampai keluar memancar, maka sebelum menyusui
diusahakan ASI dikeluarkan terlebih dahulu, untuk menghindari bayi tersedak
atau enggan menyusu. Pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan cara :
pengeluaran ASI dengan tangan dan pengeluaran ASI dengan pompa.
4) Cara Menyusui
Menyusui merupakan proses ilmiah dan kadang terlihat amat sangat sederhana,
namun bila dilakukan dengan cara yang salah akan menyebabkan terjadinya
puting susu lecet, air susu tidak keluar dengan sempurna sehingga akan terjadi
pembendungan air susu (Inggrid, 2006)
Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai
masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya, seperti
caranya menaruh bayi pada payudara ketika menyusui, hisapan bayi yang
mengakibatkan puting terasa nyeri, dan masih banyak lagi masalah yang lain.
Terlebih pada minggu pertama setelah persalinan seorang ibu lebih peka dalam
emosi. Untuk itu seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya
dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat
membantunya terutama adalah orang yang berpengaruh besar dalam
kehidupannya atau orang yang disegani, seperti suami, keluarga/ kerabat
terdekat atau kelompok kelompok ibu pendukung ASI dan dokter/ tenaga
kesehatan (Christine, 2005)
Saat kembali bekerja, usahakan memerah ASI dan kedua belah payudara
minimal empat jam sekali sebanyak tiga kali selama jam kerja (Saleha, 2009).
a)Posisi menyusui
Posisi yang nyaman untuk menyusui sangat penting. Lecet pada puting susu dan
payudara merupakan kondisi tidak normal dalam menyusui, tetapi penyebab
lecet yang paling umum adalah posisi dan perlekatan yang tidak benar pada
payudara (Varney, 2007)
1.Posisi Madona ( menggendong )
Bayi berbaring miring, menghadap ibu, kepala, leher, punggung atas bayi
diletakkan pada lengan bawah lateral payudara. Ibu menggunakan tangan
sebelahnya untuk memegang payudara jika diperlukan.

2. Posisi Menggendong menyilang


Bayi berbaring miring, menghadap ibu. Kepala, leher dan punggung atas bayi
diletakkan pada telapak kontralateral dan sepanjang lengan bawahnya. Ibu
menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara jika diperlukan.
3. Posisi football (atau mengempit)
Bayi berbaring miring atau punggung melingkar antara lengan dan samping
dada ibu. Lengan bawah dan tangan ibu menyangga bayi. Ibu menggunakan
tangan sebelahnya untuk memegang payudara.
4. Posisi Berbaring Miring
Ibu dan bayi berbaring miring saling berhadapan. Posisi ini merupakan posisi
paling nyaman bagi ibu yang menjalani penyembuhan setelah melahirkan secara
secsio sesaria (Murkoff, 2002 )
b) Lama dan frekuensi menyusui
Rentang frekuensi menyusui yang optimal adalah antara 8-12x setiap hari. Tetapi
sebaiknya menyusui bayi tanpa dijadwal (on demand), karena bayi akan
menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusi bayinya jika bayi
menangis bukan karena sebab lain (kencing, digigit semut/ nyamuk, BAB ) atau
ibu sudah merasa ingin menyusui bayinya.
Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI
dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam ( Inggrid, 2006 ).
Untuk menjaga keseimbangan kedua payudara diusahakan sampai payudara
terasa kosong, agar produksi ASI tetap baik. Setiap menyusui dimulai dari
payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu
mengunakan BH yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.
c. Pencegahan dan Penanganan Engorgement
Sekitar hari ketiga setelah melahirkan, sering kali payudara terasa penuh,
tegang dan nyeri. Kondisi ini disebabkan karena adanya bendungan pada
pembuluh getah bening. Ini merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi.
Jika keadaan ini berlanjut, maka kulit payudara akan tampak lebih mengkilat dan
sering ibu sampai mengalami demam (Suradi 2008 )
1) Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya engorgement apabila memungkinkan, susukan ASI
pada bayi segera setelah lahir dengan posisi yang benar, menyusui bayi tanpa
jadwal, keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi ASI melebihi
kebutuhan bayi, melakukan perawatan payudara pasca melahirkan
( postpartum ) secara teratur serta ibu merasa yakin akan kemampuannya
menyusui bayinya dan memberikan ASI pada bayinya.
2) Pentalaksanaan

Mempersiapkan alat (2 buah kom sedang masing-masing diisi dengan air hangat
dan dingin, 2 buah waslap, 2 buah handuk, minyak kelapa/baby oil secukupnya
dan kapas)
Memberitahu ibu bahwa akan melakukan perawatan pada payudara ibu
Meminta ibu untuk melepas pakaian atas dan duduk tegak di kursi
Mengenakan satu handuk melintang di bawah payudara
Mencuci tangan, lalu menuangkan minyak ke kedua belah telapak tangan
secukupnya.
Melakukan masasse ringan dengan telapak tangan dari pangkal ke arah areola
Menekan areola dengan ibu jari pada sekitar areola bagian atas dan jari telunjuk
pada sisi areola yang lain.
Mengompres dengan air hangat untuk mengurangi stasis pada pembuluh darah
dan mengurangi rasa nyeri, dilakukan selang-seling dengan kompres dingin
untuk melancarkan aliran darah payudara
Mengeringkan payudara dengan handuk
Merapikan ibu dan membantu ibu memakai pakaian
Membereskan alat dan mencuci tangan
Apabila bayi belum menyusui dengan baik atau kelenjar kelenjar tidak
dikosongkan dengan sempurna maka akan terjadi engorgement ( Hamilton, 1999
)
Macklin, 1988 dan Subekti, 2005 mengatakan bahwa pasangan yang bekerja
cenderung melakukan pembagian tugas tugas kewanitaan tradisional daripada
melakukan pembagian tugas tugas keluarga dimana salah satu pasangan atau
keduanya bekerja, khususnya dalam bidang perawatan anak.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kesibukan
keluarga dalam pekerjaan akan menurunkan tingkat perawatan dan perhatian
dalam keluarga, maka dengan adanya kesibukan menurunkan tingkat perawatan
dan perhatian ibu dalam melakukan perawatan payudara sehingga akan
cenderung mengakibatkan terjadinya peningkatan angka kejadian kasus
engorgement.
Kebutuhan yang harus dipenuhi oleh ibu nifas, antara lain ( Saleha, 2009) :
a) Kebutuhan Fisik
Istirahat cukup
Makan makanan yang bergizi
Sering menghirup udara segar
Lingkungan yang bersih
b) Kebutuhan Psikologi
Stress setelah melahirkan dapat distabilkan dari dukungan keluarga yang
menunjukkan rasa simpati, mengakui dan menghargai ibu.
c) Kebutuhan Sosial

Adanya informasi konkret yang sangat berharga dari ibu ibu yang
berpengalaman sehingga ibu ibu yang kurang atau tidak berpengalaman dapat
meniru tindakan ibu yang dianggap baik.
d) Dukungan Psikososial
BAB III
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
A. TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS PATOLOGI HARI KETIGA DENGAN PAYUDARA
BENGKAK PADA NY S USIA 34 TAHUN P3Ab2Ah3 DI BPS
Tempat Praktek :
Nomor MR :
Tanggal/jam :
S
Identitas Pasien
IBU SUAMI
Nama : Ny. S Tn. D
Umur : 34 tahun 34 tahun
Agama : Islam Islam
Suku : Jawa / Indonesia Jawa / Indonesia
Pendidikan : SMP SMP
Pekerjaan : Swasta Swasta
Alamat :
Anamnese
Alasan kunjungan
Ibu nifas hari ketiga mengatakan payudara kanan dan kiri terasa penuh dan
nyeri
Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali.Kawin pertama umur 23 tahun. Dengan suami sekarang 10 tahun.
Riwayat Menstruasi
Menarche umur 13 tahun. Siklus 28 hari.Teratur. Lama & hari. Encer. Bau amis.
Tak Dismenore. HPM : 13 Desember 2010. HPL : 20 September 2010

Riwayat Obstetri
P3 Ab2 Ah3
Hamil ke
Persalinan
Nifas
Tgl lahir
UK
(mg)
Jenis
Petrsalinan
Oleh
Komplikasi
JK
BB Lahir
(gram)
Laktasi
Komplikasi
Ibu
Bayi
1 th 1998 39 spontan dukun tidak ada tidak ada laki2 3100 ya,asi eksklusif tidak
ada
2 th 1999 12 abortus dokter tidak ada tidak ada
3 th 2003 39 spontan dukun tidak ada tidak ada laki2 3500 ya,asi eksklusif tidak
ada
4 th 2008 12 abortus dokter tidak ada tidak ada
5 21/09/10 40+1 spontan bidan tidak ada tidak ada laki2 3700 ya, untuk saat ini
hanya ASI tidak ada
Riwayat Kontrasepsi
No JenisAlkon Mulai memakai Berhenti / Ganti Cara
Tgl Oleh Tempat Keluhan Tgl Oleh Tempat Keluhan
1 Pil Th1998 bidan BPS tidak ada Th1998 Bidan BPS tidak ada
Riwayat Kesehatan

Ibu mengatakan dirinya dan keluarganya tidak menderita penyakit seperti darah
tinggi, gula, jantung, asma, dan penyakit menular seperti TBC, HIV/AIDS,
hepatitis B.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Masa Kehamilan : 40+1 minggu
Tempat Persalinan : BPS Sutimah, oleh : bidan
Jenis persalinan : spontan
Komplikasi : tidak ada
Plasenta : lengkap, lahir spontan
Kelainan : tidak ada
Perineum : rupture derajat 2
Perdarahan : kala I :
kala II :
kala III : 70 cc
kala IV : 100 cc
Keadaan BBL
Lahir tanggal : 21September 2010 jam 00.50 WIB
PB/BB : 49 cm/3700 gram
Cacat bawaan : tidak ada
Riwayat post partum
Nutrisi
Makan : 3x per hari ; nasi, sayur, lauk, buah
Minum: 9x per hari ; air putih, susu, teh
Eliminasi,
BAB : 1x per hari
BAK : 5x per hari
Istirahat : jam siang, 7 jam malam
Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi 2 x perhari, ganti celana dalam 3 x perhari, ganti
pembalut 3 x perhari, cebok dari depan ke belakang

Ambulasi
Ibu sudah bisa jalan-jalan
Laktasi
Asi keluar lancar, payudara terasa tegang dan penuh
Riwayat Psikososial
Pengetahuan ibu tentang proses menyusui
Ibu mengatakan menyusui bayinya dengan posisi duduk ditempat tidur
Pengalaman ibu menyusui pada persalinan yang lalu
Ibu mengatakan pengalaman waktu menyusui pada persalinan yang lalu belum
pernah mengalami payudara yang penuh dan terasa nyeri
O
Pemeriksaan Umum
KU : baik
Kesadaran : CM
BB : 65kg
Suhu : 37o C
TD : 110/70 mmHg
Nafas : 20 x permenit
Pemeriksaan Khusus
Kepala
Mata : Sklera putih, konjungtiva merah
muda, tidak ada odem palpebra
Wajah : Segar, tidak pucat, tidak ada odem
Mulut : Bibir lembab, warna merah muda, tidak ada stomatitis, tidak ada caries
gigi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid/limfe, tidak ada
bendungan vena jugularis
Payudara
Bentuk : simetris, membesar, payudara kanan dan kiri tegang dan agak keras
Puting susu : bersih, menonjol

Asi : keluar lancar


Abdomen
Bentuk : dinding perut longgar
Bekas luka : tidak ada
TFU : pertengahan pusat dengan simfisis, teraba keras, kontraksi baik
Ekstermitas
Odem : tidak ada
Varises : tidak ada
Reflek patella : + / +
Genetalia luar
Odem : tidak ada
Varises : tidak ada
Bekas luka : jahitan perineum
Jahitan : masih basah
Sekret : pengeluaran lochea sanguinolenta, berwarna merah, bau amis khas
darah, jumlah satu kali ganti pembalut
Anus : tidak ada hemoroid
A
Tanggal 23 September 2010
Diagnosa kebidanan
Seorang Ny S umur 34 tahun P 3 Ab 2 Ah 2 nifas hari ke tiga, dengan payudara
bengkak, kontraksi baik , TFU pertengahan pusat dengan simpisis, lochea
sanguinolenta
Diagnosa potensial
Payudara bengkak karena produksi ASI yang terlalu banyak potensial menjadi
mastitis payudara bila tidak segera ditangani
P
Tanggal 23 September 2010
Memberitahukan kepada ibu bahwa kondisi ibu baik, rahim dalam proses kembali
ke keadaan sebelum hamil, dan payudara kanan dan kiri
mengalami pembengkakan.Ibu mengerti keadaannya bahwa payudaranya

bengkak
Melakukan perawatan pada payudara bengkak, serta mengajarkan pada ibu.
Mempersiapkan alat (2 buah kom sedang masing-masing diisi dengan air hangat
dan dingin, 2 buah waslap, 2 buah handuk, minyak kelapa/baby oil secukupnya
dan kapas)
Memberitahu ibu bahwa akan melakukan perawatan pada payudara ibu
Meminta ibu untuk melepas pakaian atas dan duduk tegak di kursi
Mengenakan satu handuk melintang di bawah payudara
Mencuci tangan, lalu menuangkan minyak ke kedua belah telapak tangan
secukupnya.
Melakukan masasse ringan dengan telapak tangan dari pangkal ke arah areola
Menekan areola dengan ibu jari pada sekitar areola bagian atas dan jari telunjuk
pada sisi areola yang lain.
Mengompres dengan air hangat untuk mengurangi stasis pada pembuluh darah
dan mengurangi rasa nyeri, dilakukan selang-seling dengan kompres dingin
untuk melancarkan aliran darah payudara
Mengeringkan payudara dengan handuk
Merapikan ibu dan membantu ibu memakai pakaian
Membereskan alat dan mencuci tangan
Perawatan payudara sudah dilakukan
Mengajarkan kepada ibu cara menyusui yang benar dan menganjurkan ibu untuk
melakukan perawatan seperti yang sudah dilakukan di rumah untuk mengatasi
payudara bengkak yang dialami ibu. Lakukan sesuai kebutuhan / sampai ibu
merasa nyaman. Serta menganjurkan ibu untuk menyusui lebih sering dan lebih
lama pada payudara yang bengkak untuk melancarkan aliran ASI dan
menurunkan tegangan payudara.
Ibu dapat menjelaskan kembali, dan akan melakukannya di rumah.
Memberitahu ibu bahwa jahitannya masih basah dan menganjurkan ibu untuk
menjaga kebersihan alat kelamin dengan cara : cebok dengan sabun kemudian
dibilas degan air mengalir sampai bersih dari depan ke belakang, kompres
jahitan dengan kassa betadin 1-2 menit / terasa perih supaya jahitan lekas kering
dan tak infeksi, ganti pembalut sebelum penuh, serta tidak terlalu sering
menyentuh jahitan.
Ibu mengerti cara menjaga kebersihan alat kelamin dan akan melaksanakan
sesuai anjuran bidan.
Melakukan kontrak kunjungan ulang tanggal 29 September 2010 untuk kontrol
nifas dan mengimunisasikan bayinya atau jika ada keluhan.
Ibu bersedia kontrol nifas dan mengimunisasikan anaknya.
B. PEMBAHASAN
Dari pengkajian data subjektif didapat informasi bahwa payudara terasa penuh
dan nyeri,serta dalam data objektif didapatkan hasil pemeriksaan bahwa

payudara kanan dan kiri tegang dan agak keras yang merupakan ciri-ciri
payudara bengkak sehingga diagnose kebidanannya adalah Seorang Ny S umur
34 tahun P3 Ab2 Ah2 nifas hari ke tiga, dengan payudara bengkak, kontraksi baik
, TFU pertengahan pusat dengan simpisis, lochea sanguinolenta.
Dari diagnosa kebidanan yang tepat, maka planning yang dibuat bisa tepat
dalam mengatasi masalah. Cara mengatasi payudara bengkak yang dilakukan
pada pasien sudah sesuai dengan teori.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil asuhan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa asuhan yang
diberikan sesuai dengan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan payudara
bengkak :
Pengkajian data dilakukan secara menyeluruh yang meliputi identitas,
anamnesa, data subjektif dan objektif.
Hasil pemeriksaan didapat TD : 110/70 mmHg, R : 20x/menit, S : 36,7 oC, TFU :
pertengahan pusat dengan sympisis, lochea sanguinolenta.
Berdasarkan pengkajian dan pemeriksaan dapat ditentukan diagnosa
kebidanannya adalah Ny S umur 34 tahun P 3 Ab 2 Ah 3 nifas hari ke tiga,
dengan payudara bengkak, kontraksi baik, TFU pertengahan pusat dengan
simpisis, lochea sanguinolenta
B. SARAN
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan payudara bengkak,
penulis menyarankan agar :
Bagi pasien :
Agar ibu jangan sampai takut menyusukan ASInya pada payudara yang bengkak
supaya menurunkan ketegangan payudara serta lebih sering menyusui bayinya
(on demand). Bagi mahasiswa dapat menerapkan segala pengetahuan yang
didapatkan baik yang di kampus maupun yang di lapangan.
https://heruthefrog.wordpress.com/2013/02/22/askeb-infeksi-payudara-pada-ibunifas/
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berisi tentang Asuhan
Kebidanan pada Ibu Nifas dengan Infeksi Payudara dengan lancar.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan serta
menambah wawasan tentang masalah pada ibu nifas dengan infeksi payudara ,
dimulai dari pengenalan definisi, gejala, penyebab, factor resiko, dan
penatalaksanaannya.Penulisan makalah ini di dasarkan pada data sekunder dari
beberapa informasi baik dari buku maupun internet yang membahas tentang ibu
dengan infeksi payudara.
Saya berharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
dan dapat manambah wawasan kita mengenai lebih dalam tentang nifas dengan
infeksi payudara. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan oleh karena itu kritik dan saran saya harapkan demi
kesempurnaan makalah ini..

Kolaka , 6 Maret 2014

Nur ainun asmawati syam

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..1
1.2 Rumusan Masalah.2
1.3 Tujuan...2

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 Definisi..3
2.2 Penyebab...4
2.3 Etiologi..........5
2.4 Gejala-Gejala.7
2.5 Penatalaksanaan.8
2.6 Pencegahan....9
BAB III PENDOKUMENTASIAN (SOAP)
BAB IV PENUTUP
3.1 Kesimpulan...10
3.2 Saran.10

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2% wanita yang
menyusui. Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan akibat
saluran susu tersumbat dan tidak segera diatasi.
Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya
beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu
yang tidak paham akan masalah itu, kegagalan menyusui sering dianggap
problem pada anak saja. Masalah dari ibu yang sering timbul selama menyusui
dapat dimulai sejak masa kehamilan, pada masa pasca persalinan dini, dan
masa pasca persalinan lanjut. Mastitis ditandai dengan nyeri pada payudara
kemerahan area payudara yang membengkak,demam,menggigil, dan lemah.
Penyebabnya adalah infeksi stafilokokus aureus.
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mamma .Infeksi
terjadi melalui luka pada putting susu,tetapi juga melalui peredaran
darah.Penyakit yang menyerang payudara ternyata tidak hanya kanker saja ,ada
penyakit lain yang tak kalah berbahayanya.Yaitu mastitis atau biasa disebut
dengan radang payudara.
1.2 Rumusan Masalah
a.

Apa pengertian infeksi payudara ?

b.

Apa saja penyebab infeksi payudara ?

c.

Apa saja gejala-gejala infeksi payudara ?\

d.

Bagaimana penatalaksanaan infeksi payudara ?

e.

Cara pencegahan infeksi payudara ?

1.3 Tujuan
a.

Untuk mengatahui pengertian infeksi payudara

b.

Untuk mengetahui Apa saja penyebab infeksi payudara

c.

Untuk mengetahui Apa saja gejala-gejala infeksi payudara

d.

Untuk mengetahui Bagaimana penatalaksanaan infeksi payudara

e.

Untuk mengetahui Cara pencegahan infeksi payudara

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan(Mastitis) pada mammae,
Infeksi terjadi melalui luka pada putting susu, tetapi juga melalui peredarahan
darah. Penyakit yang menyerang payudara ternyata tidak hanya kanker
payudara saja. Ada penyakit lain yang tidak kalah berbahayanya. Yaitu mastitis
atau biasa juga disebut dengan radang payudara.
Mastitis ini biasanya diderita oleh ibu yang baru melahirkan dan menyusui.
Radang ini terjadi karena ibu tidak menyusui atau puting payudaranya lecet
karena menyusui. Kondisi ini bisa terjadi pada satu atu kedua payudara
sekaligus.
Mastitis merupakan peradangan payudara yang dapat disertai atau tidak disertai
infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi sehingga disebut juga mastitis
laktasional atau mastitis puerperalis.
Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2% wanita yang
menyusui. Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan terutama
pada primipara. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin
juga melalui peredaran darah. Mastitis ditandai dengan nyeri pada payudara,
kemerahan area payudara yang membengkak, demam, menggigil dan penderita
merasa lemah dan tidak nafsu makan. Terjadi beberapa minggu setelah
melahirkan. Infeksi ini biasanya terjadi kira-kira 2 minggu setelah melahirkan
yang disebabkan adanya bakteri yang hidup di pemukaan payudara. Kelelahan,
stres, dan pakaian ketat dapat menyebabkan penyumbatan saluran air susu dan
payudara yang sedang nyeri, jika tidak segera diobati bisa terjadi abses.

2.2 Penyebab
Penyebab mastitis antara lain :
1.

Kuman/bakteri staphilococus aureus dan hemilitic streptococcus

2.

Tehnik menyusui yang tidak benar

3.

Penggunaan sabun pada puting susu/perawatan

Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada
kulit yang normal (Staphylococcus aureus).Bakteri seringkali berasal dari mulut
bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit
(biasanya pada puting susu).

Mastitis biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadi
dalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan.Sekitar 1-3% wanita menyusui
mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan.

2.4 Etiologi
Mastitis dapat disebabkan karena keradangan biasa atau oleh agen infeksi
seperti bakteri dan jamur. Bakteri yang dapat menimbulkan mastitis antara alain
adalah :
1. Staphylococcus aureus.
Merupakan bakteri utama yang paling sering menyebabkan mastitis. Dapat
menyebabkan mastitis subklinis maupun klinis. Memiliki protein A pada
membrannya sebagai faktor virulensi, yang bersifat antifagositik dengan cara
berikatan dengan bagian dari IgG untuk mengacaukan opsonisasi. Selain itu,
polisakarida yang ada di kapsulanya juga bersifat antifagositik. Staphylococcus
menghasilkan produk ekstraseluler seperti katalase, koagulase, staphylokinase,
lipase, dan hyaluronidase. Semuanya berperan untuk menembus membran
mukosa, kecuali katalase. Katalase digunakan untuk mengubah oksigen
peroksida menjadi oksigen dan air. Selain itu, lipase juga berfungsi untuk
melindungi bakteri ini dari asam lemak bakterisisdal pada saluran mammae.
Bentukan akut dari Staphylococcus adalah beberapa kebengkakan dan sekresi
purulent dan fibrosis.
2.

Puerperal Mastitis

Disebabkan karena adanya sumbatan pada ductus payudara oleh bakteri


Staphilococcus aureus yang masuk melalui puting payudara ataupun sobekan/
luka pada payudara. Puerparal mastitis ini biasanya menyerang wanita pasca
bersalin hingga 3 bulan selama masa menyusui
3.

Non-Puerparal Mastitis

Dalam banyak kasus, Non-Puerperal Mastitis tidak disebabkan oleh inflamasi


bakteri, namun dapat disebabkan oleh Hyperprolactinemia, kasus hormon tiroid,
merokok, adanya nanah dalam payudara, diabetes dan pengaruh beberapa
faktor pengobatan. Dalam keadaan ini, terjadinya resiko perulangan penyakit,
abses dan infeksi lanjutan lebih besar daripada puerperal mastitis
Faktor Predisposisi
a.

Umur

Sebuah studi retrospektif menunjukan bahwa wanita berumur 21- 35 tahun lebih
sering terkena mastitis
b. Paritas.
Primipara mempunyai faktor resiko lebih besar.

c.

Serangan sebelumnya.

Pada beberapa studi,terdapat bukti bahwa serangan mastitis cenderung


berulang
d. Melahirkan. Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan resiko mastitis.
e. Gizi.Antioksidan dari Vit.E,Vit A, dan selenium diketahui mengurangi resiko
mastitis.
f.

Faktor kekebalan dalam ASI

Faktor kekebalan dalam ASI dapat memberikan mekanisme pertahanan dalam


payudara.

2.5 Gejala
Gejalanya berupa:
1.

nyeri payudara

2.

benjolan pada payudara

3.

pembengkakan salah satu payudara

4.
jaringan payudara membengkak, nyeri bila ditekan, kemerahan dan teraba
hangat
5.

gatal-gatal

6.
pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan
payudara yang terkena
7.

demam dan menggigil

Perbedaan Tanda dan Gejala

Bendungan ASI

Mastitis

Abses Payudara

Nyeri payudara
dan tegang, kadang
payudara mengeras
dan membesar.

Benjolan pada
payudara

Benjolan pada
payudara

Biasanya terjadi
antara hari 3-5
pasca persalinan.

Pembengkakan
pada salah satu
payudara

Jaringan
payudara
membengkak dan

Nyeri payudara

Nyeri payudara


Biasanya
bilateral muncul
bertahap
menyebabkan demam
dan tidak
berhubungan dengan
gejala sistemik.

Payudara
biasanya hangat saat
disentuh

Jaringan
payudara
membengkak, nyeri
bila ditekan,
kemerahan dan
teraba hangat

teraba hangat.

Nipple
discharge (keluar
cairan dari putting
susu, bisa
mengandung nanah)

Gatal-gatal

Pembesaran
kelenjar getah bening
ketiak pada sisi yang
sama

2.7 Pengobatan
1.

Payudara dikompres dengan air hangat

Untuk mengurangi rasa sakit dan demam dapat diberikan pengobatan


analgetika-antipiretik. (asetaminofen, ibuprofen (Thylenol))
Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika.
Pompa pada payudara untuk mengosongkan payudara
Bayi mulai menyusu dari payudara yang mengalami peradangan.
Anjurkan ibu selalu menyusui bayinya serta menggunakan BH yang dapat
menopang payudara
Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan istirahat cukup.
Jika ibu demam tinggi (> 39oC), periksa kultur susu terhadap kemungkinan
adanya infeksi streptokokal.
Pada abses di tangani dengan pembedahan untuk mengeluarkan abses. Jika
terjadi abses, bawa penderita ke Rumah Sakit untuk mendapatkan antibiotik
intravena, aspirasi atau insisi. Setiap cairan aspirasi dilakukan pemeriksaan
histologik untuk menyingkirkan keganasan, dapat pula dilakukan drainase
Segera setelah mastitis ditemukan pemberian susu pada bayi dihentikan dan
diberikan pengobatan sebagai berikut :
1.

Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.

2.

Sangga payudara

3.

Kompres dingin

4.

Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.

5.

Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan

Komplikasi infeksi payudara


Jika infeksi payudara sangat berat maka kemungkinan dapat terjadi abses. Jika
telah terjadi abses maka pengobatannya adalah dengan melakukan drainase
yaitu pembersihan dan pengaliran/mengeluarkan cairan dan nanah pada
payudara yang mengalami abses

2.8 Pencegahan
Sikap bidan untuk dapat meningkatkan usaha preventif dan promotif dalam
mencegah terjadinya mastitis bisa dilakukan beberapa tindakan berikut:
1.

Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan

2.
Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan
payudara dengan cara memompanya
3.
Gunakan teknik menyusui yang baik dan benar untuk mencegah
robekan/luka pada puting susu
4.

Minum banyak cairan

5.

Menjaga kebersihan puting susu

6.

Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.

BAB III
PENDOKUMENTASIAN

HASIL ASUHAN KEBIDANAN POST NATAL CARE PATOLOGI PADA


NY.B P1 A0 POST PARTUM MINGGU 1 DENGAN MASTITIS
DI BLUD RS BENYAMIN GULUH RUANG NIFAS
TANGGAL 28 DESEMBER 2013

No. Reg
Tgl. Masuk RS

:
: 22 februari 2014 jam 10.00 Wita

Tgl. Bersalin

: 22 februari 2014 jam 16.00 Wita

Tgl. Pengkajian

: 28 februari 2014 jam 10. 00 Wita

Identitas Ibu/Suami
Nama

: Ny.B / Tn.S

Umur

: 26 Tahun / 29 Tahun

Nikah

: 1 Kali + 1 Tahun

Suku

: bugis / tolaki

Agama

: islam / islsm

Pendidikan

: SMA / SMA

Pekerjaan

: IRT / wiraswasta

Alamat

: Dawi dawi kec pomalaa

SUBJEKTIF (S)
1.

Ibu melahirkan tanggal 22 desember 2013 , jam 10.00 wita.

2.

Ibu mengeluh nyeri pada payudara hari ketujuh

3.

Ibu merasa demam dan menggigil

4.

Ibu mengatakan payudaranya membengkak

5.

Ibu mengatakan asinya tidak keluar

OBJEKTIF (O)
1.

TTV : TD : 90/70 mmHg

N : 80 x/menit
2.

P : 20 x/menit
S : 37 0C

Tampak adanya pembengkakan dan kemerah-merahan pada payudara ibu

3.
Ekspresi wajah ibu meringis karena nyeri yang dirasakan pada
payudaranya
4.

Tidak ada pengeluaran asi

5.

Palpasi : ibu merasakan nyeri bila payudaranya disentuh/tekan

6.

Bayi tidak menyusui karena payudara terasa nyeri

ASSESMENT

Ny. B umur 26 tahun PIA0 Dalam masa nifas hari ke tujuh dengan infeksi
payudara mastitis

PLANNING
1. menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa keadaan ibu bahwa ada
pembengkakan pada payudara dan terasa nyeri yang merupakan tanda infeksi
pada payudara
hasil : ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan bidan dan merasa gelisah
2. menjelaskan pada ibu supaya ibu segera mendapatkan penanganan yang
tepat untuk infeksi payudara yang diderita yaitu :
a.

payudara dikompres dengan air hangat

b.

untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan pengobatan analgetika

c.

untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika

hasil :penanganan telah dilakukan dan ibu mengerti apa yang disampaikan bidan
3. memberikan KIE kepada ibu tentang perawatan payudara,yaitu dengan
memberikan payudara dulu sebelum meyusui,membantu ibu tentang teknik
menyusui yang benar dengan membantu ibu memperbaiki kenyutan bayi pada
payudara,mendorong untuk sering menyusui,sesering dan selama bayi
menghendaki, tanpa pembatasan,bila perlu peras ASI dengan tangan atau
dengan pompa,samapai menyusui dapat dimulai lagi
hasil : ibu mengerti dan akan melakukannya
4. memberikan KIE kepada ibu supaya bayi mulai menyusui dari payudara
yang mengalami peradangan dan selalu menyusui bayinya
hasil :ibu mengerti dan akan menyusui bayinya
5.

memberikan konseling suportif pada ibu tentang mastitis

mastitis merupakan pengalaman yang sangat nyeri dan membuat frustasi, dan
membuat banyak wanita merasa sangat sakit. Selain dengan penganan yang
efektif dan mengendalikan nyeri.wanita membutuhkan dukungan emosional, ibu
harus diyakinkan kembali tentang nilai menyusui, yang aman untu diteruskan:
bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak akan membahayakan bayinya; dan
bahwa payudaranya akan pulih baik bentuk maupun fungsinya.
hasil : ibu mengerti penjelasan bidan dan tidak merasa takut lagi menyusui
bayinya.
6. Menjelaskan pada ibu untuk tetap mempertahankan pemenuhan pola nutrisi
yang sudah baik dilakukan dengan mengkomsumsi makanan yang mengandung
gizi seimbang yaitu karbohidrat (nasi,kentang roti) protein (tahu,tempe, daging,

ikan ,telur) vitamin( sayur dan buah)dan memperbanyak komsumsi makanan


yang mengandung protein untuk mempercepat penyubahan luka.
hasil : ibu bersedia untuk melakukan pola pemenuhan nutrisi yang sehat dan
seimbang terutama komsumsi protein.
7. Menjelaskan kepada ibu untuk tetap mendapatkan istirahat yang cukup dan
tidak terlalu lelah agar produksi ASI tidak mengganggu dan tidak cepat lelah
hasil : ibu mengerti dan akan melakukannya
8. Bidan menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan genetalia dan
menganjurkan pada ibu untuk membersihkan alat genetali dengan sabun
sesudah BAK ataupun BAB dari arah atas menuju anus.
Hasil : ibu mengerti penjelasan bidan dan mau megikuti anjuran yang diberikan
oleh bidan

BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Mastitis adalah suatu peradangan pada jaringan payudara. Pada infeksi yang
berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di
dalam payudara), yang disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada
kulit yang normal (Staphylococcus aureus). Bakteri seringkali berasal dari mulut
bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit
(biasanya pada puting susu). Dan biasanya terjadi pada wanita yang menyusui
dan paling sering terjadi dalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan. Sekitar 13% wanita menyusui mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama
setelah melahirkan.Abses payudara berbeda dengan mastitis. Abses payudara
terjadi apabila mastitis tidak tertangani dengan baik, sehingga memperberat
infeksi. Dengan gejala sakit pada payudara ibu tampak lebih parah, payudara
lebih mengkilap dan berwarna merah, benjolan terasa lunak karena berisi nanah.

3.2

Saran

Sebagai tenaga kesehatan kita harus tahu dan mampu mengatasi


mastitis.Sehingga presenstase wanita yang mempunyai resiko untuk menderita

mastitis dapat ditangani dengan semaksimal mungkin dan secepat mungkin .


DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo,sarwono.ilmukandungan.binapustakasarwonoprawiroharjojakarta,2
011.
Proverawati,atikah,SKM,MPH. kapita selekta ASI dan menyusui. nuha medika,jln
ringroad selatan,bantul.agustus 2010
CONTOH ASKEB PADA IBU NIFAS DENGAN MASTITIS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS PATOLOGI


Ny. X UMUR 21 TAHUN P1 A0 Ah1 DENGAN MASTITIS
HARI KE 7
Di BPS RIZQY

No. Register

: 01XX

Masuk tgl/jam

: 4 Agustus 2012 / 09.00WIB

Ruang

: R.Nifas

Oleh

: Bidan Baiq

SUBYEKTIF

Identitas
Istri

Suami

Nama

: Ny. X

Tn. R

Umur

: 21 tahun

25 tahun

Agama

: Islam

Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Karyawan

Suku/bangsa

: Jawa/Indonesia

Jawa/Indonesia

SMA

Alamat

: Serangan

Serangan

Telp

: 085728xxx

085725xxx

1.

Alasan masuk ruang nifas

Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaannya dan bayinya.


2.

Keluhan Utama

Ibu mengatakan pada luka jahitan terasa nyeri.


3.

Riwayat Perkawinan
Status Perkawinan

: Perkawinan yang pertama, syah

Menikah sejak umur : ibu 18 tahun suami 22 tahun


Lama perkawinan
4.

: 3 tahun

Riwayat Menstruasi
HPHT

: 22 November 2011

HPL

: 29 Agustus 2012
Menarche

: 14 tahun

Lama Menstruasi

: 7 hari

Teratur/tidak

: Teratur

Siklus

: 28 hari

Banyaknya
: 3x ganti pembalut pada hari pertama dan 2x
ganti pembalut pada hari kedua
Keluhan

5.

: Tidak ada

Riwayat obstetri
P1 A0 .Ah1

6.

Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu


Persalinan
H
a

la
hir

U
K

Nifas
Jenis

Pen
olon

Te
mp

L
/

B
B

Kom
plika

La Kom
kta plika

mi
l
ke
-

Pers
alina
n

18
/1
2
/
20
11

7.

at

P L
a
hi
r

si

bida
n

BP
S

p 3
1
0
0
gr
a
m

Tidak Tid
ada
ak
lan
car

si

Beng
kak
pd
payu
dra

Tanggal persalinan

: 29 Agustus 2012, jam 10.00 WIB

Tempat persalinan

: BPS RIZQY

Jenis persalinan

: Spontan

Penolong

: Bidan

Keadaan Bayi Baru Lahir


Lahir tanggal
BB/PB lahir

: 29 Agustus 2012, jam 10.00 WIB


: 3100 gram/50cm

Jenis kelamin

: perempuan

Pola tidur

: 12 jam/hari

Pola nutrisi

Frekuensi menyusu

: 9 kali/hari

Durasi

: 20 menit

Masalah Pada Ibu dan Bayi

si

Riwayat persalinan ini

8.

4 spon
0 tan
m
g
g

Pola eliminasi

BAK

: 7-8 kali/hari

Konsistensi

: cair

Warna

: khas urin

Bau

: khas urin

BAB

: 3 kali/hari

: tidak ada

Konsistensi

: lembek

Warna

: khas feses

Bau

: khas feses

9.

Riwayat Post partum

Pola kebutuhan sehari-hari

Nutrisi

Porsi makan sehari

: 1 porsi habis

Jenis

: nasi, sayur, lauk, buah

Makanan pantang

: tidak ada makanan pantangan

Pola minum

: 7-8 gelas/hari

Jenis

: Air putih, teh, susu

Keluhan

: Tidak ada

a.

Eliminasi
BAK

Frekuensi : 6-7x/ hari

Jumlah

: 1200 cc

Warna

Keluhan

: tidak ada

Frekuensi : 1x/hari

Jumlah

:-

Warna

Keluhan

: tidak ada

b.

: kuning jernih

BAB

: kuning
Istirahat

Tidur siang

: jam

Tidur malam

: 4 jam, keluhan sering merasa gelisah

Pola Aktivitas

Mobilisasi
bayinya
Pekerjaan

: sudah bisa jalan, dan merawat diri dan belajar merawat


: merawat diri dan bayinya masih dibantu keluarga

Olahraga /senam nifas : melakukan senam nifas sesuai dengan yang diajarkan
bidan, yaitu senam kegle setiap pagi
Keluhan

: tidak ada


Pengalaman menyusui : ibu mengatakan tidak memiliki
pengalaman menyusui

Kebiasaan Menyusui

Posisi

: tiduran dan duduk

Perawatan Payudara : jarang membersihkan putting sebelim menyusui


Masalah

: bayi jarang menyusui karena payudara terasa nyeri

Personal higiene

: mandi 2 kali/hari

gosok gigi 2 kali/hari


keramas 3 kali/minggu
ganti pakaian dalam 2 kali/hari
ganti pakaian luar 2 kali/hari

Pola seksual
: Selama nifas ibu belum melakukan hubungan seksual
dengan suami, Keluhan : tidak ada
10. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi jenis apapun
11. Riwayat Kesehatan
- Ibu mengatakan tidak sedang atau pernah menderita penyakit sistemik
seperti hipertensi, asma, diabetes militus, TBC, dan HIV
- Ibu mengatakan bahwa keluarganya tidak sedang atau pernah menderita
penyakit sistemik seperti hipertensi, asma, diabetes militus, TBC, dan HIV
-

Ibu mengatakan bahwa tidak memiliki keturunan kembar

12. Riwayat Psikososial Spiritual

ibu mengatakan suami dan keluarganya selalu mendukung dia untuk


merawat bayinya dan hubungannya baik.

Ibu mengatakan ia dan keluarganya mengerti tentang keadan masa nifas

Ibu mengatakan Pengambil keputusan di keluarga adalah suami dan ia

Ibu mengatakan taat beribadah dan sering mengikuti pengajian

Ibu mengatakan tinggal bersama suami

Ibu mengatakan tidak memiliki hewan piaraan di rumah

13. Kebiasaan yang menggaggu kesehatan


Ibu mengatakan tidak memiliki kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol,
dan tidak ada pantangan makanan apapun.
OBYEKTIF
1.

Pemeriksaan Fisik

A.

Pemeriksaan Fisik Ibu

a.

Keadaan umum

b.

Status emosional

: gelisah

c.

Tanda vital

d.

: baik

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 84 x per menit

Pernafasan

: 24x per menit

Suhu

: 37,60C

Kesadaran : compos mentis

Antropometri

BB

: 65 kg

e.

PB

: 160 cm

Pemeriksaan Kepala dan Leher

Rambut

: Rambut Bersih, tidak ada ketombe

Wajah

: pucat, Tidak ada oedema dan tidak ada cloasma gravidarum,

Mata

: konjungtiva merah muda, sklera putih

Mulut

: bersih, tidak berbau, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi.

Leher

: tidak ada pembesaran tyroid, kelenjar limfe, dan vena jugularis.

Telinga : Bersih, tidak ada serumen


e.

Pemeriksaan Payudara

Bentuk
: tidak simetris, bengkak dan memerah di sekitar payudara
kanan, ada nyeri palpasi,
Puting susu

: menonjol, tidak lecet

Areola

: hiperpigmentasi, bersih

ASI
f.

: tidak lancar, tidak ada bendungan ASI


Abdomen

Pembesaran

: normal, TFU 2 jari di bawah pusat

Benjolan

: tidak ada

Bekas luka

: tidak ada

g.

Ekstremitas

Oedem

: tidak ada oedema

Varices

: tidak ada varises

Reflek patella : kiri (+), kanan (+)


Kuku
h.

: bersih dan pendek, jika ditekan berwarna merah muda

Genetalia

Varices

: tidak ada

Oedem

: tidak ada

Bekas luka
: Bekas luka episiotomi dijahit dengan teknik jahitan
jelujur secara mediolateral. Keadaan jahitan bagus, sudah kering.
Pengeluaran pervaginam : Lokhea serosa
i.

Anus

Tidak ada hemoroid.


B.

Pemeriksaan Fisik Bayi

a)

Keadaan umum

b)

Tanda Vital

: baik

Suhu

: 36,60C

Pernafasan

: 46 kali/menit

Nadi

c)

Kesadaran

: 144 kali/menit

Antropometri

BB

: 3100 gram

PB

: 50 cm

LD

: 33 cm

LK

: 33 cm
LILA : 10,5 cm

: compo smetis

d)

Kepala

: simetris, ukuran normal, tidak ada benjolan abnormal

e)

Ubun-ubun

: datar, tidak cekung

f)

Wajah

: tidak pucat, tidak kuning, dan tidak ada bekas luka

g)

Mata

: simetris, konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik

h)

Hidung

: simetris, bersih, tidak ada polif

i)

Mulut

: bersih, tidak pucat, tidak ada trush

j)
Leher
ada pelebaran

: tidak ada pembengkakan kelenjar tirod, limfe dan tidak


vena jugularis.

k)

Dada

l)
Abdomen
dan bekas luka
m)

Tali Pusat

n)
Genitalia
vagina

: simetris, tidak ada wheezing


: saat bayi tenang perut teraba lembek, tidak ada benjolan
: bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi
: labia mayora menutupi labia minora, lubang uretra positif,
berlubang.

o)

Ekstermitas

: simetris, gerakan aktif, jumlah jari lengkap

p)
Reflek
: moro (+), burning (+), tonicknenck (+), palmar (+),
babynski(+), rooting(+), suckling(+), swallowing(+)

k. Pemeriksaan Penunjang
tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

i.

Riwayat persalinan terakhir

KALA

LAMA

TINDAKAN

PERDARAH
AN

KET

8 jam

20cc

normal

II

1 jam

Episiotom

100cc

normal

III
IV

15
menit
2 jam

Jumlah

100cc

normal

Penjahitan laserasi
derajat 2 teknik
jelujur secara
mediolateral dengan
benang cutgut

100cc

normal

11 jam
15
menit

320cc

ANALISA
Ny. X umur 21 tahun P1 A0 Ah1 dalam masa nifas hari ke 7 dengan infeksi
payudara mastitis.

PENATALAKSANAAN
Tanggal/jam

: 4 Agustus 2012 / 09.10 WIB

1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa keadaan ibu bahwa ada
pembengkakan pada payudara dan terasa nyeri yang merupakan tanda infeksi
pada payudara.
Evaluasi : Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan bidan dan
merasa gelisah
2.
Menjelaskan pada ibu supaya ibu segera mendapatkan penanganan yang
tepat untuk infeksi payudara yang diderita, yaitu :

Payudara dikompres dengan air hangat.

Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan pengobatan analgetika.

Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika.

Evaluasi : penanganan telah dilakukan dan ibu mengerti apa yang disampaikan
bidan
3.
Memberikan KIE kepada ibu tentang perawatan payudara, yaitu dengan
membersihkan payudara dulu sebelum menyusui, Membantu ibu tentang teknik
menyusui yang benar dengan membantu ibu memperbaiki kenyutan bayi pada

payudara, mendorong untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi


menghendaki, tanpa pembatasan, bila perlu peras ASI dengan tangan atau
dengan pompa atau botol panas, sampai menyusui dapat dimulai lagi.
Evaluasi : ibu mengerti dan akan melakukannya
4.
Memberikan KIE kepada ibu supaya Bayi mulai menyusu dari payudara
yang mengalami peradangan dan selalu menyusui bayinya. Fa
Evaluasi : ibu mengerti dan akan menyusui bayinya

5.

Memberikan Konseling suportif pada ibu tentang mastitis

Mastitis merupakan pengalaman yang sangat nyeri dan membuat frustrasi, dan
membuat banyak wanita merasa sangat sakit. Selain dengan penanganan yang
efektif dan pengendalian nyeri, wanita membutuhkan dukungan emosional. Ibu
harus diyakinkan kembali tentang nilai menyusui; yang aman untuk diteruskan;
bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak akan membahayakan bayinya; dan
bahwa payudaranya akan pulih baik bentuk maupun fungsinya.
Evaluasi : ibu mengerti penjelasan biadan dan tidak mersa takut lagi menyusui
bayinya
6.
Menjelaskan pada ibu untuk tetap mempertahankan pemenuhan pola
nutrisi yang sudah baik dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang
mengandung gizi seimbang yaitu karbohidrat (nasi, kentang,roti), protein (tahu,
tempe, daging, ikan, telur), vitamin (sayur dan buah). Dan memperbanyak
konsumsi makanan yang mengandung protein untuk mempercepat
penyembuhan luka.
Evaluasi : Ibu bersedia untuk melakukan pola pemenuhan nutrisi yang sehat dan
seimbang terutama konsumsi protein
7.
Menjelaskan kepada ibu untuk tetap mendapatkan istirahat yang cukup
dan tidak terlalu lelah agar produksi ASI tidak terganggu dan ibu tidak cepat
lelah.
Evaluasi : ibu mengerti dan akan melakukannya.
8. Bidan menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan genetalia dan
menganjurkan pada ibu untuk membersihkan alat genetalia dengan sabun
sesudah BAK ataupun BAB dari arah atas menuju anus
Evaluasi
: Ibu mengerti penjelasan bidan dan mampu mengulang
penjelasan bidan serta ibu mengatakan akan berusaha melaksanakan anjuran
tersebut
9. Bidan menganjurkan pada ibu untuk tidak melakukan hubungan seksual
terlebih dahulu selama masa nifas dan menjelaskan faktor resikonya

Evaluasi
: Ibu mengerti penjelasan bidan dan bersedia untuk tidak
melakukan hubungan seksual dengan suaminya selama masa nifas
10. Memberitahu ibu cara untuk merawat bayi sehari-hari
Evaluasi
:Ibu mengerti dengan anjuran yang diberikan dan berusaha akan
melakukannya dirumah
11. Memberikan kIE kepada ibu untuk kunjungan ulang 3 hari lagi untuk
memeriksakan perkembangan keadaab ibu.
Evaluasi : ibu mengerti dan akan melakukan kunjungan ulang 3 hari lagi
TTD

( Bid
an Baiq)
BAB 3
TINJAUAN KASUS

Tanggal pengkajian

:24 Januari 2013

No register

:-

I.
A.

PENGKAJIAN
Data Subjektif

1.

Biodata

Nama klien

: Ny. A

Umur

: 22 tahun

Agama

: Katolik

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: IRT

Penghasilan

:-

Alamat

: Kediri, Jawa Timur

Nama suami

: Tn. S

Jam

: 08.30 WIB

Umur

: 25 tahun

Agama

: Katolik

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Swasta

Penghasilan

: Rp 800.000

Alamat

: Kediri, Jawa Timur

2.

Keluhan utama

Ibu mengatakan melahirkan bayinya 10 januari lalu dan sekarang payudaranya


terasa sangat sakit dan nyeri, berwarna merah dan seperti berisi nanah.
3.

Riwayat Kesehatan

a.

Penyakit yang lalu

Ibu tidak pernah menderita penyakit tertentu seperti penyakit menahun (darah
tinggi, penyakit gula darah, TBC, anemia), penyakit menurun (hipertensi,
penyakit gula darah), dan penyakit menular (TBC, penyakit kelamin termasuk
HIV/AIDS).
b.

Penyakit sekarang

Ibu mengatakan saat ini payudaranya sedang sakit tapi tidak sedang menderita
penyakit tertentu seperti penyakit menahun (hipertensi, DM, TBC, anemia),
penyakit menurun (hipertensi, DM, gangguan pembekuan darah), dan penyakit
menular (TBC, IMS termasuk HIV/AIDS).
c.

Penyakit Keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit tertentu
seperti penyakit menahun (darah tinggi, penyakit gula darah, TBC, anemia),
penyakit menurun (hipertensi, penyakit gula darah), dan penyakit menular (TBC,
penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS).
4.

Riwayat Obstetri

a.

Riwayat menstruasi

Amenorhoe : -

Dismenorhoe

: tidak

Menarche

: 13 tahun

Fluor albus

: tidak

Lama

: 3-5 hari

HPHT

Banyak

: 2-3x ganti pembalut TP/HPL

: 10/04/2012
: 03/01/2013

Siklus
b.

: 28 hari/ teratur
Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Persalinan
Tgl/
Bln/
N Th
o pers
alina
n

c.

Keha
mila
n

Te
m
p

Je
ni
s

Pe
no
l.

Pen
yuli
t

Anak

UK

Ni
fa
s

U
si
a
a
n
a
k

J B P
K B B

Riwayat Kehamilan sekarang, persalinan dan nifas sekarang

Ibu mengatakan bayinya ini kehamilan pertama.Dengan usia kehamilan 9 bulan.


Periksa hamil 6 kali , di bidan.
Keluhan selama hamil: awal kehamilannya mual muntah.
Penyuluhan yang pernah didapat: gizi untuk ibu hamil, periksa kehamilan harus
rutin,dan tanda-tanda persalinan.
Riwayat persalinan :
Melahirkan tanggal 10 Januari 2013 jam 10.30 WIB secara normal ditolong oleh
bidan di BPS. Penyulit tidak ada.
JK : perempuan,BBL: 2,9 kg, PBL: 48 cm, bayi langsung menangis, dilakuakn IMD.
Riwayat nifas :
pemberian ASI: Hari pertama setelah bayi lahir, bayi juga diberi susu formula,
sekitar hari ke-7 puting susu ibu lecet dan ibu tidak memberikan ASI lagi pada
bayinya sampai sekarang.

5.

Riwayat KB

Ibu belum pernah menggunakan KB apapun, dan rencananya ibu akan


menggunakan KB pil

6.

Riwayat Perkawinan

Menikah

: 1 kali

Lama

: 1 th

Usia pertama menikah : 21 thn

7.

Riwayat Psikososial

Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan masyarakat baik. Ibu senang dengan
kelahiran bayinya, tapi saat ini ibu sangat cemas dengan keadaanya.

8.

Riwayat Budaya

Ibu mengatakan 7 hari kelahiran bayinya diadakan acara pasaran, ibu juga
dilarang untuk memakan makanan seperti ayam dan ikan asin.

9.

Perilaku kesehatan

Jamu :ibu terkadang minum jamu


Merokok

: ibu tidak merokok

Minum minuman keras

10.

:ibu tidak minum minuman keras/beralkohol

Pola kebiasaan sehari-hari


No

Pola
Kebiasaan

Selama Nifas

Nutrisi

Makan : 3 kali/hari (porsi sedang, nasi, sayur,


tempe, tahu dan terkadang buah.
Minum : air putih 6-7 gelas/hari, terkadang minum
teh dan susu

Eliminasi

BAB : 1-2 kali/hari (konsistenti:lunak)

BAK : 3-4 kali/hari (konsistensi cair, warna khas)


3

Istirahat

Ibu mengatakan sejak 2 hari yang lalu tidak dapat


bersitirahat dengan nyaman karena payudara tersa
sakit dan panas.

Personal
Higiene

Mandi 2x/hari, sekaligus sikat gigi

B.

Data Objektif

1.

Pemeriksaan Umum

Ganti pakian dalam 1-2 kali x/hari

Keadaan umum

: lemah

Kesadaran

: composmetis

Keadaan emosional
TTV

2.

: kooperatif

: TD

: 110 / 60 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 37,8 0 C

Pemeriksaan Khusus

a.

Inspeksi

Rambut

warna hitam, bersih, tidak ada ketombe

Wajah
: simetris, tidak oedema, tidak ada chloasma ekspresi wajah
meringis, ibu tampak cemas dan tidak tenang.
Mata
: simetris kanan/kiri, sclera putih,
tidak ada strabismus.

conjungtiva merah muda,

Hidung

tidak ada polip dan sekret

Telinga

tidak ada serumen

Mulut
caries

bibir kering, lidah bersih, tidak ada pembesaran tonsil, tidak ada

Leher
jugularis

tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe maupun viva

Dada
: tidak ada tarikan intercosta, payudara tidak simetris, pada
payudara sebelah kanan, terdapat pembengkakan, berwarna merah mengkilat
dan puting menonjol.
Abdomen

tampak linea nigra, striae livida, tidak ada luka bekas operasi

Genitalia
: bersih, tidak ada varices maupun odema, bekas jahitan
perineum sudah kering .
Ekstremitas :
b.

simetris kiri/kanan, tidak ada oedema, tidak ada kekakuan sendi

Palpasi

Dada
nanah

: Benjolan pada payudara sebelah kanan lebih lunak karena berisi

TFU

3.

: tidak terba

Pemeriksaan penunjang

Tidak dilakukan.

II.

INTERPRETASI DATA DASAR

Tanggal pengkajian

Diagnosa

: 24 Januari 2013

Jam

: 08.55 WIB

: P1001 post partum hari ke-14 dengan abses payudara

Data Subyektif : Ibu mengatakan melahirkan bayinya 10 januari lalu dan


sekarang payudaranya terasa sangat sakit dan nyeri, berwarna merah dan
seperti berisi nanah.
Data Obyektif:
1.

Pemeriksaan Umum

Keadaan umum

: lemah

Kesadaran

: composmetis

Keadaan emosional

: stabil

TTV

: TD

: 110 / 60 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 37,8 0 C

2.

Pemeriksaan Khusus

a.

Inspeksi

Wajah
: simetris, tidak oedema, tidak ada chloasma ekspresi wajah
meringis, ibu tampak cemas dan tidak tenang,
Dada
: tidak ada tarikan intercosta, payudara tidak simetris, pada
payudara sebelah kanan, terdapat pembengkakan, berwarna merah mengkilat
dan putting menonjol
Abdomen

: tampak linea nigra, striae livida, tidak ada luka bekas operasi

Genitalia
: bersih, tidak ada varices maupun odema, bekas jahitan perineum
sudah kering .
b.

Palpasi

Dada
nanah
TFU

: Benjolan pada payudara sebelah kanan lebih lunak karena berisi


: tidak terba

Masalah 1: Nyeri

Data subyektif: ibu mengatakan payudaranya terasa sangat sakit dan nyeri

Data obyektif :

-. ekspresi wajah meringis

-. Payudara bengkak dan terdapat benjolan berisi nanah


Masalah 2: Cemas

Data subyektif : Ibu mengatakan sangat cemas dengan keadaanya

Data obyektif

III.

: Ibu tampak cemas dan tidak tenang

IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

Penyebaran infeksi ke bagian tubuh yang lainnya

IV.

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA

Kompres air hangat dan dingin

V.

INTERVENSI

Tanggal: 24 Januari 2013

Jam:09.10

Diagnosa : P1001 post partum hari ke-14 dengan abses payudara


Tujuan : Abses payudara tertasi dan tidak terjadi komplikasi lain.

Kriteria Hasil :
Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: composmetis

Keadaan emosional

: stabil

TTV

: TD

: 100 / 70- <140/90 mmHg

Nadi

: 60-100 x/menit

RR

:16-24 x/menit

Suhu

: 36,5-37,5 0 C

Payudara simetris

Putting menonjol

Tidak adanya pembengkakan dan abses,

Payudara lembek dan tidak tegang

laktasi lancar.

Involusi uterus berjalan normal

Ibu tidak merasa panas dan atau menggigil

Intervensi :
1.

Beri penjelasan pada ibu dan keluarga tentang keadaan ibu saat ini

R : Ibu dan keluarga lebih mengerti kondisi ibu saat ini dan memudahkan bidan
dalam melakukan tindakan selanjutnya.
2.

Lakukan kompres air hangat dan dingin

R : Kompres hangat dingin dapat menimbulkan vasokontriksi dan vasodilatasi


pada pembulu darah yang dapat mengurangi rasa nyeri pada payudara ibu
3.
Beri penjelasan pada ibu untuk tetap menyusui bayi dari payudara yang
sehat

R : Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan mencegah abses pada payudara yang
sehat
4.
Jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa ibu harus dirujuk untuk mendapat
penangan lebih lanjut dari dokter
R : Abses yang terjadi pada payudara harus diinsisi untuk dikeluarkan dan itu
harus dilakukan oleh dokter.

5.

Lakukan persiapan rujukan

R: Rujukan berjalan lancar dan tepat waktu

Masalah1: Nyeri
Tujuan

: Nyeri berkurang

Kriteria hasil

ekspresi wajah ibu tidak meringis

payudara simetris, tidak ada nyeri tekan

proses laktasi lancar.

Intervensi:
-

lakukan kompres air hangat dan dingin

R: Kompres hangat dingin dapat menimbulkan vasokontriksi dan vasodilatasi


pada pembulu darah yang dapat mengurangi rasa nyeri pada payudara ibu

Masalah 2: Cemas
Tujuan

: Cemas berkurang

Kriteria hasil

Ibu tampak tenang

Intervensi

Jelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini dan yakinkan ibu bahwa
keadaanya akan kembali pulih.
R: Dukungan psikologis yang diberikan oleh petugas kesehatan akan membuat
ibu labih memahami kondisinya sekarang.

VI.

IMPLEMENTASI

Tanggal: 24 Januari 2013

Jam: 09.20 WIB

Diagnosa : P1001 post partum hari ke-14 dengan abses payudara


Implementasi:
1.
ini

Memberikan penjelasan pada ibu dan keluarga tentang keadaan ibu saat
TTV: : TD : 110 / 60 mmHg
Nadi

: 88 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 37,8 0 C

Payudara bagian kanan ibu mengalami abses payudara dan yang bagian
kiri dalam keadaan sehat
2.

Makukan kompres air hangat dan dingin


Kompres hangat dan dingin dilakukan secara bergantian masing-masing

15-20 menit untuk mengurangi nyeri


3.
Memberikan penjelasan pada ibu dan membantu ibu untuk tetap
menyusui bayi dari payudara yang sehat
4.
Menjelaskan pada ibu dan keluarga bahwa ibu harus dirujuk untuk
mendapat penangan lebih lanjut dari dokter
5.

Mekukan persiapan rujukan

Masalah1: Nyeri
Implementasi :
Melakukan kompres air hangat dan dingin
Kompres hangat dan dingin dilakukan secara bergantian masing-masing
15-20 menit untuk mengurangi nyeri

Masalah 2: Cemas
Implementasi:

Menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini dan meyakinkan ibu bahwa
keadaanya akan kembali pulih.

VII.

EVALUASI

Tanggal: 24 Januari 2013

Jam: 10.00 WIB

Diagnosa : P1001 post partum hari ke-14 dengan abses payudara


S
:bidan
-

Ibu mengatakan telah mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh

Ibu dan keluarga setuju untuk dilakukan rujukan

Ibu menganggukan kepala saat diberi penjelasan

P1001 post partum hari ke-14 dengan abses payudara

Rujuk Ibu segera untuk mendapat penganganan lebih lanjut

Masalah 1: Nyeri
S

Ibu mengatakan nyeri payudaranya sedikit berkurang

Ekspresi wajah ibu tampak mulai tenang

Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan kompres hangat dan dingin

Masalah 2: cemas
S
:
akan

Ibu mengatakan mengerti dengan penjelasan dari bidan dan yakin


kembali sembuh

Ekspresi wajah ibu tampak sedikit lebih tenang dibandingkan sebelumnya

Masalah teratasi sebagian


P

BAB 4

berikan dukungan psikologis pada ibu dan keluarga

PEMBAHASAN

Dalam melakukan asuhan kebidanan pada NY. A P1001 post partum hari ke-14
dengan abses payudara, pada pembahasan adalah membandingkan antara teori
dan kasus yang ada. Untuk pengkajian baik pada teori maupun kasus tidak
terdapat kesenjangan karena pengkajian dimulai dari data subjektif di mana
data dan keterangan yang diperoleh didapat langsung dari klien, begitu pula
pada data objektif.
Pada interpretasi data dasar tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus yaitu
diagnosa dan masalah yang ditetapkan pada kasus didasarkan pada data yang
telah diperoleh dari hasil pengkajian. Pada diagnose dan masalah potensial pun
disesuaikan dengan teori yang ada.
Untuk identifikasi kebutuhan segera yaitu kompres dengan air hangat dan dingin
yang bisa membantu menurunkan nyeri pada pasien, sesuai yang ada pada
teori. Pada intervensi serta implementasi juga tidak ada kesenjangan yaitu baik
pada teori maupun pada kasus semua yang sudah direncanakan dapat
diimplementasikan.
Pada evaluasi asuhan kebidanan yang diharapkan adalah adanya perubahan ke
arah yang lebih baik dengan adanya tindakan yang diberikan dan pada kasus
didapatkan hasil bahwa dengan dilakukannya kompres dan dukungan psikologis
pada pasien, membantu pasien merasa lebih baik, dan pasien dirujuk untuk
mendapat penanganan lebih lanjut dari dokter.

BAB 5
PENUTUP

5.1

Kesimpulan

Masa nifas merupakan hal penting yang perlu diperhatikan karena pada masa ini
terjadi beberapa perubahan, salah satunya perubahan pada payudara untuk
mempersiapkan masa laktasi atau menyusui. Menyusui bayi adalah salah satu
ekspresi cinta seorang ibu, tetapi banyak kesulitan yang dialami seorang ibu
dalam pelaksanaannya. Salah satu kesulitan yang dihadap ibu adalah terjadinya
abses payudara. Seperti kasus yang telah diuraikan pada bab 3, dalam
menghadapi pasien dengan abses payudara petugas kesehatan harus mampu
memberikan asuhan kebidanan secara komperhensif dan memberikan dukungan
psikologis secara penuh pada pasien.

Akhir dari pelaksanaan asuhan kebidanan, yang diharapkan adalah adanya


perubahan ke arah yang lebih baik dengan adanya tindakan yang diberikan dan
pada kasus didapatkan hasil bahwa dengan dilakukannya kompres dan dukungan
psikologis pada pasien, membantu pasien merasa lebih baik, dan pasien dirujuk
untuk mendapat penanganan lebih lanjut dari dokter.

5.2
5.2.1

Saran
Petugas kesehatan

1.
Diharapkan petugas kesehatan dalam melaksanakan tugasnya harus selalu
sesuai dengan standar prosedure opersional yang berlaku.
2.
Petugas kesehatan harus bisa memberikan solusi ataupun pengobatan
pada pasien terutama pada abses payudara, dan merujuk pasien sesegera
mungkin untuk mendapatkan pengobatan lanjut.
3.
Memberikan penjelasan kepada ibu nifas tentang pentingnya pemberian
ASI eksklusif dan cara menyusui yang benar.
5.2.2

Mahasiswa

Mempelajari secara cermat pemberian asuhan kebidanan terutama pada pasien


post partum dengan abses payudara serta pendokumentasian berdasarkan 7
langkah varney.

DAFTAR PUSTAKA
Bari, dkk. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP.
Cuningham. 2004. Obstetri William, Edisi 21. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, 2009. Ilmu kebidanan. Jakarta: YBP-SP.
Saleha, Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba
Medika.
Soetjiningsih. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC.