Você está na página 1de 33

Seminar TB

Penatalaksanaan TB menurut
ISTC dan DOTS

Introduction
TUBERKULOSIS adalah
PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH INFEKSI
MYCOBAKTERIUM TUBERCULOSIS

Epidemiologi
Menurut WHO tahun 2014 2 3 milyar orang yang te
rinfeksi oleh bakteri Mycrobacterium tuberculosis
Pada akhir tahun 2014 hampir 3 juta orang meninggal

WHO mengharapkan penurunan tingkat mortalitas, morbilitas


yang diakibatkan oleh kuman TB dengan diterbitkannya ISTC dan
Strategi DOTS

ISTC
International Standard for Tuberculosis Care
(ISTC)
6 standar diagnosis
7 standar tatalaksana
4 standar untuk mengatasi infeksi HIV d
an ketentuan co-morbid lainnya
4 standar untuk kesehatan masyarakat d
an pencegahan.

Standard Pengobatan
Standard 7
Setiap petugas bertanggung jawab atas kesehatan
publik serta masing-masing pasien sehingga
penyedia harus meresepkan rejimen pengobatan
yang tepat, memantau kepatuhan terhadap rejimen
dan bila perlu mengatasi faktor yang menyebabkan gangguan atau pengh
entian pengobatan.

Dalam memenuhi tanggung jawab ini diperlukan


koordinasi dengan pelayanan kesehatan masyarakat
lokal dan / atau lembaga lainnya

Standard 8
Semua pasien yang belum pernah diobati sebelumnya dan tidak
memiliki faktor risiko lain untuk resistensi obat harus menerima
pengobatan lini pertama rejimen WHO yang sudah disetujui dan
kualitas obat terjamin
Tahap awal harus terdiri dari dua bulan isoniazid, rifampisin ,
pirazinamid , dan etambutol
Fase kelanjutan harus terdiri dari isoniazid dan rifampicin diberikan
selama 4 bulan
Dosis obat antituberkulosis yang digunakan harus sesuai dengan
rekomendasi WHO
Bentuk obat kombinasi dosis tetap membuat pasien lebih nyaman
Etambutol dapat dihilangkan pada anak yang HIV - negatif dan
yang memiliki TB non - kavitas.

Standard 9
Pengobatan dengan pendekatan berpusat pada pasien harus dikembang
kan untuk semua pasien dalam rangka kepatuhan minum obat,
meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi penderitaan
Pendekatan ini harus didasarkan pada kebutuhan pasien dan saling
menghormati antara pasien dan penyedia.

Standard 10
Respon pengobatan pasien dengan TB paru harus dipantau dengan
pemeriksaan sputum BTA. Pemantauan dilakukan setelah selesainya
tahap awal pengobatan yaitu 2 bulan pertama
Jika sputum BTA tetap positif setelah penyelesaian tahap awal,
pemeriksaan sputum BTA harus dilakukan lagi pada bulan ke-3
Jika pada bulan ke 3 hasil tetap positif, tes kepekaan obat molekul
dengan pengujian cepat (line prob assay atau Xpert MTB / RIF) atau
kultur dengan tes resistensi terhadap obat harus dilakukan
Pada pasien dengan TB ekstra paru dan pada anak-anak , respon
pengobatan terbaik dinilai secara klinis .

Standard 11
Penilaian terhadap kemungkinan resistensi obat dinilai berdasarkan
riwayat pengobatan sebelumnya, pajanan dengan sumber yang
mungkin memiliki organisme yang resistan terhadap obat, dan
prevalensi komunitas resistensi obat (jika diketahui), harus dilakukan
untuk semua pasien
Tes resistensi obat harus dilakukan pada awal terapi untuk semua
pasien yang memiliki risiko resistensi obat.

Pasien dengan hasil BTA-positif pada penyelesaian 3 bulan pengobatan


, pasien gagal pengobatan, pasien putus obat atau kambuh setelah
mengikuti satu atau lebih program pengobatan harus selalu dinilai
untuk resistensi obat
Pasien dengan resistensi obat, pemeriksaan Xpert MTB / RIF harus
dilakukan sebagai tes diagnostik awal
Jika resistensi rifampisin sudah terdeteksi, kultur dan pengujian untuk
kerentanan terhadap isoniazid, fluoroquinolones, dan obat suntik lini ke
dua harus dilakukan segera
Edukasi dan konseling pasien, pengobatan dengan rejimen lini kedua,
harus dimulai segera untuk meminimalkan potensi untuk transmisi.
Langkah-langkah pengendalian infeksi harus diterapkan sesuai dengan
peraturan.

Standard 12
Pasien dengan atau sangat mungkin untuk memiliki resistensi obat
(terutama MDR / XDR) seharusnya diobati dengan paduan obat khusus
yang mengandung lini kedua obat antituberkulosis dengan kualitas
terjamin
Dosis obat antituberkulosis harus sesuai dengan rekomendasi WHO


Setidaknya 5 obat, pirazinamid dan empat obat yang organisme
diketahui atau diduga rentan, termasuk agen suntik, harus
digunakan dalam fase intensif 6-8 bulan, dan setidaknya 3 obat yang
organisme diketahui atau dianggap rentan, harus digunakan dalam
fase lanjutan.
Pengobatan harus diberikan paling sedikit 18-24 bulan di luar
konversi kultur. Tindakan berpusat pada pasien, termasuk observasi
pengobatan yang diperlukan untuk memastikan kepatuhan.
Konsultasi dengan spesialis berpengalaman dalam pengobatan
pasien dengan MDR / XDR TB harus diperoleh.

Standard 13
Akses, catatan sistematis semua obat yang diberikan, respon
bakteriologis, hasil dan efek samping harus dipantau untuk semua
pasien.

DOTS
Directly Observed Treatment Short Course

Ada 5 komponen
1.
2.
3.
4.
5.

Komitmen pemerintah untuk menjalankan p


rogram TB nasional
Penemuan kasus TB dengan BTA Mikrosko
pis
Pemberian OAT yang diawasi langsung (DO
T) ada PMO
Pengadaan OAT secara berkesinambungan.
Monitoring serta pencatatan dan pelaporan y
ang baku

Persyaratan PMO
1.
2.
3.

Bersedia mendapat penjelasan oleh petugas DOTS.


Bersedia dengan sukarela membantu pasien TB sampai
sembuh selama pengobatan dengan OAT.
PMO bisa :
- Petugas kesehatan
- Kader Dasawisma
- Kader PPTI
- Kader PKK
- Anggota keluarga yang disegani

Tugas PMO
1.
2.
3.
4.
5.

Melihat langsung saat pasien minum obat.


Mengingatkan pasien saat kontrol
Mengenali efek samping obat dan merujuk bila efek itu memberat.
Menciptakan lingkungan sehat di sekitar penderita sehingga kuman
TB tidak berkembang
Menganjurkan orang sekitar untuk segera kontrol bila ada anggota
keluarga lain dicurigai terkena TB

PENCATATAN DAN PELAPORAN

1.
2.
3.
4.
5.

Kartu Pengobatan (TB 01)


Kartu Identiti Penderita (TB 02)
Register Laboratorium (TB 04)
Formulir Pindah Penderita (TB 09)
Formulir Hasil Akhir Pengobatan dari penderita
TB Pindahan (TB 10)

Pemberantasan TB Dengan Strategi DOTS

Pemberantasan TB sebenarnya telah dimulai sejak lama tetapi hasilnya


belum menggembirakan.
Sebelum ada strategi DOTS (Directly Observe Treatment Shortcourse)
cakupan program sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat
dicapai hanya 40-60% Karena pengobatan yang tidak teratur dan
kombinasi obat yang tidak cukup di masa lalu, kemungkinan telah timbul
kekebalan kuman TB atau multi drug resistance (MDR) terhadap
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara meluas.

Di Indonesia, Program Pengendalian TB disesuaikan dengan Strategi Stop TB


Global, diarahkan dalam upaya mencapai Target Global TB 2005 dan
Tujuan Pembangunan Milenium 2015.
Strategi Pengendalian TB mencakup penerapan Strategi DOTS,
pengelolaan kasus TB yang kebal terhadap obat anti TB (MDR/multi drug
resistance), koinfeksi TB - HIV, memperkuat sistem pelayanan kesehatan,
keterlibatan semua penyedia layanan kesehatan serta meningkatkan kegiatan
penelitian.

Enam elemen kunci dalam strategi stop TB yang direkomendasi WHO:


1. Peningkatan dan ekspansi DOTS yang bermutu, meningkatkan penemuan kasus
dan penyembuhan melalui pendekatan yang efektif terhadap seluruh pasien
terutama pasien tidak mampu
2. Memberikan perhatian pada kasus TB-HIV, MDR-TB dengan aktivitas gabungan
TB-HIV, DOTS-PLUS, dan pendekatan-pendekatan lain yang relevan
3. Kontribusi pada sistem kesehatan, dengan kolaborasi bersama program kesehatan
yang lain dan pelayanan umum
4. Melibatkan seluruh praktisi kesehatan, masyarakat, swasta dan nonpemerintah
dengan pendekatan berdasarkan Public-Private Mix (PPM) untuk mematuhi
International Standards of TB Care
5. Mengikutsertakan pasien dan masyarakat yang berpengaruh untuk berkontribusi
pada pemeliharaan kesehatan yang efektif
6. Memungkinkan dan meningkatkan penelitian untuk pengembangan obat baru,
alat diagnostik dan vaksin. Penelitian juga dibutuhkan untuk meningkatkan
keberhasilan program.

Penemuan kasus TB di Indonesia (CDR=Case Detection Rate) pada tahun


2005 adalah 68%, telah mendekati target global untuk penemuan kasus
pada tahun 2005 sebesar 70% dan target 2007 menjadi 74%. Sedangkan
angka keberhasilan pengobatan (Success Rate = SR) mencapai 89,7%
melebihi target WHO sebesar 85%. Hasil tersebut merupakan kerja keras
dari berbagai pihak di Indonesia dengan dukungan donor internasional
yang meningkat seperti GF ATM, USAID (TBCTA), CIDA, DFID dan
lain-lain serta bantuan teknis dari para mitra Stop TB khususnya WHO
dan KNCV.

Jejaring DOTS dan ISTC


Berdasarkan hasil penelitian oleh Departemen Kesehat
an, 49 % pasien TB di Jawa, 44% pasien TB di Sumatra
dan 31% pasien
TB di Kawasan Timur Indonesia datang berobat perta
ma kali ke rumah sakit.
Hal tersebut menunjukkan bahwa peluang rumah saki
t sangat penting dalam pemberantasan TB, antara lain
dalam meningkatkan CDR (Case Detection Rate) dan C
R (Cure Rate).

Perlu koordinasikan pelayanan TB di rumah sakit untuk mem


bentuk Tim DOTS Rumah Sakit bertugas untuk koordinasi
kegiatan di rumah sakit melalui jejaring internal (internal linka
ge) rumah sakit
maupun koordinasi kegiatan di luar rumah sakit melalui jejarin
g
eksternal (external linkage).
Jejaring eksternal perlu dilakukan untuk koordinasi kegiatan d
engan Dinas Kesehatan, Puskesmas, Dokter Praktek Swasta, d
an lain-lain.

Contoh kegiatan jejaring eksternal antara rumah sakit


dengan puskemas :

Pasien tidak datang untuk periksa ulang/mengam


bil obat pada tanggal yang telah ditentukan.

Bila keadaan ini masih berlanjut hingga lewat 2 h


ari dari tanggal yang ditentukan, maka petugas di unit
DOTS RS harus segera melakukan tindakan di bawah i
ni :
1.
2.

Menghubungi pasien langsung/PMO agar segera


kembali berobat
Petugas di Tim DOTS RS menginformasikan ke
Wasor Kabupaten/Kota atau langsung ke pusk
esmas tentang ada pasien yang tidak ko
ntrol, dengan memberitahukan identitas dan
alamat lengkap untuk segera dilakukan pel
acakan.

Hasil dari pelacakan yang dilakukan


oleh petugas puskesmas segera iinformasikan kep
ada rumah sakit . Bila proses ini menemui hambatan,
harus diberitahukan ke Ketua Tim DOTS rumah sakit.

Kesimpulan
ISTC merupakan suatu pedoman yang diterbitkan oleh WHO di
akhir tahun 2014 terdiri dari 21 standar yang bertujuan agar
setiap tingkat pelayanan kesehatan mampu mengendalikan
penyebaran kuman TB. Sebanyak 13 negara ikut serta dalam
pedoman yang dikeluarkan oleh WHO dan terdapat 25 anggota
dalam menyusun pedoman tersebut. Standar-standar yang dibuat
bertujuan agar setiap tingkat pelayana kesehatan mampu
mediagnosa dengan cepat terhadap individu-individu yang
memiliki gejala TB dimana tercantum dalam standar 1- 6 dan
juga mampu memberikan terapi yang terbaik dan efektif bagi
penderita TB dan tercantum dalam standar 7-13. Dan setiap
tingkat pelayanan kesehatan dapat memberikan pelayanan
tatalaksana terbaik bagi penderita TB-HIV dan penyakit
penyerta lainnya yang tercantum dalam standar 14-17. Standar
18-21 mengatur tentang bagaimana tindakan preventif yang baik
sehingga penyebaran dari kuman TB dapat diatasi seminimal
mungkin.

Kesimpulan
Agar program dapat berjalan dengan baik perlu kerja sama antara
setiap elemen pelayanan kesehatan baik itu dokter, perawat, penga
was minum obat, pemerintah maupun antar negara. Melalui strate
gi DOTS koordinasi pelaporan, pengawasan serta penatalaksanaa
n yang terintegrasi terhadap kasus TB diharapkan dapat tercipta d
engan baik sehingga angka kesembuhan pasien TB di Indonesia d
apat terus meningkat

Daftar Pustaka

1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Iseman MD. Tempus Fugit: TB and the 20th century. Int J Tuberc Lung Dis
2000;4 (1) : 1
Pilheu JA. Tuberculosis 2000 : problems and solutions. Int J Tuberc Lung Dis
1998;2(9): 6
96 703
Badan Penelitian & Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Survei Prevalensi
Tuberkulosis 2004. Jakarta : 2005 , 45
Mansjoer, A.(ed). 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius. P:472
TB CARE I. International Standard for Tuberkulosis Care, Edition 3. TB CARE I. The Hauge 20
06
WHO. WHO Report 2006 Global Tuberculosis Control. Geneve:WHO, 2006
Http//www.pdpersi.co.id/?show_detailnews&kode=897&tbl=kesling
Http//www.minergynews.com/activity/dots.shtml
Http//www.update.tbcindonesia.or.id/module/articlephp?articleid=115