Você está na página 1de 23

SEMINAR TB

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI TB

Disusun oleh :
Claudia Susanto (406148133)
Natalia (406148134)

KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT DALAM


RUMAH SAKIT PENYAKIT INFEKSI PROF. DR. SULIANTI SAROSO
PERIODE 5 OKTOBER 12 DESEMBER 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
rahmat dan bimbingan-Nya sehingga Makalah yang berjudul Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi TB ini dapat selesai tepat pada waktunya. Makalah ini disusun
dalam rangka memenuhi tugas seminar Kepaniteraan Penyakit Dalam di Rumah Sakit
Penyakit Infeksi Prof.Dr.Sulianti Saroso serta agar dapat menambah kemampuan dan
ilmu pengetahuan bagi para pembaca.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan serta
bimbingan dari para dokter pembimbing dan rekan-rekan di Rumah Sakit Penyakit
Infeksi Prof.Dr.Sulianti Saroso selama menjalani kepaniteraan penyakit dalam periode 5
Oktober 12 Desember 2015 ini.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar referat ini dapat disempurnakan di
masa yang akan datang. Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.

Jakarta, 23 November 2015

Penulis

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................3
2.1

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI.................................3

2.2

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI TB............................6

2.3

MANAJERIAL................................................................................6

2.4

PENGENDALIAN ADMINISTRATIF..................................................7

2.5

Edukasi dan penerapan etika batuk........................................................9

2.6

PENGENDALIAN LINGKUNGAN.....................................................9

2.7

Pemanfaatan Sistem Ventilasi............................................................10

2.8

PENGENDALIAN DENGAN PERLINDUNGAN DIRI..........................11

2.9

Pemakaian Respirator Partikulat.........................................................12

2.10

Edukasi dan Penerapan Etika Batuk.....................................................13

2.11

Keselamatan dan Keamanan Laboratorium Tb........................................14

2.12

Keamanan Cara Pengumpulan Sputum.................................................15

2.13

Kebersihan tangan setelah menampung sputum......................................16

2.14

Proteksi saat transportasi pasien.........................................................16

BAB 3 KESIMPULAN.............................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................19

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Etika Batuk......................................................................................................9
Gambar 2.2 Cara pemeliharaan dan penyimpanan yang benar.........................................13
Gambar 2.3 Tempat pengumpulan dahak diluar gedung...................................................15
Gambar 2.4........................................................................................................................16
Gambar 2.5........................................................................................................................16

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Lima Langkah Penatalaksanaan Pasien...............................................................8

BAB 1
PENDAHULUAN
Tuberkulosis masih terus menjadi masalah kesehatan di dunia terutama di negara
berkembang. Meskipun obat anti tuberculosis (TB) sudah ditemukan dan vaksinasi
Bacillus CalmetteGurin (BCG) telah dilaksanakan, TB tetap belum bisa diberantas
habis.1
Insidens TB yang terus meningkat menjadi penyakit reemerging sehingga
Organisasi Kesehatan Sedunia/WHO pada tahun 1995 mendeklarasikan TB sebagai suatu
global health emergency. Laporan WHO (2008) memperkirakan ada 9,2 juta pasien TB
baru dan 4,1 juta diantaranya adalah pasien dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif
dengan angka kematian 1,7 juta pasien pertahun di seluruh dunia. Kondisi ini diperparah
oleh kejadian HIV yang semakin meningkat dan bertambahnya jumlah kasus kekebalan
ganda kuman TB terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) lini pertama atau disebut
Multidrug Resistance TB (MDR) bahkan Extensively atau Extremely Drug Resistance
(XDR), yaitu resistensi terhadap OAT lini kedua. 2 Keadaan ini akan memicu epidemi TB
yang sulit dan terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama.
Upaya penanggulangan TB di Indonesia telah dijalankan mulai dari tahun 1969
dan sejak tahun 1999 telah memakai strategi Directly Observed Treatment, Shortcourse
chemotherapy (DOTS). Meskipun demikian segala upaya tersebut sampai saat ini belum
menunjukkan keberhasilan yang diharapkan. 3
Petugas kesehatan (health care workers) yang menangani pasien TB merupakan
kelompok risiko tinggi untuk terinfeksi TB. Penularan infeksi Rumah Sakit
Mycobacterium tuberculosis dari pasien tuberkulosis (TB) ke petugas kesehatan sudah
diketahui sejak lama dan angka kejadiannya terus meningkat. Pada saat ini TB seringkali
merupakan penyakit akibat kerja (PAK) atau occupational disease untuk petugas
kesehatan. Keadaan ini memerlukan perhatian khusus, karena akan mempengaruhi
kinerja dan produktifitas petugas kesehatan. 1
Untuk meminimalkan resiko terjadinya infeksi TB di Rumah Sakit (RS), penting
dilakukan upaya tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang efektif. Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) di Atlanta, merekomendasikan tindakan
1

pencegahan penularan nosokomial TB dengan 3 pilar, berupa pengendalian administratif,


lingkungan dan perlindungan diri.4 Selain itu, pencegahan dan pengendalian infeksi
menjadi sesuatu yang penting dari upaya penanggulangan TB nasional, dengan
munculnya dampak beban ganda epidemik TB HIV dan kasus MDR TB dan XDRTB,
yang berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian pada pasien Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Belum adanya sistem surveilens terhadap petugas
kesehatan yang sakit sebagai akibat pekerjaannya, serta belum semua fasilitas kesehatan
menerapkan pengendalian infeksi merupakan tantangan kedepan bagi kita semua.
Sehingga dirasakan perlu ada kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas
pelayanan kesehatan. 1

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI


Proses terjadinya infeksi bergantung kepada interaksi antara suseptibilitas pejamu,

agen infeksi (patogenitas, virulensi dan dosis) serta cara penularan. Identifikasi faktor
risiko pada pejamu dan pengendalian terhadap infeksi tertentu dapat mengurangi insiden
terjadinya infeksi (HAIs), baik pada pasien ataupun pada petugas kesehatan.5
Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari :
1. Peningkatan daya tahan pejamu. Daya tahan pejamu dapat meningkat dengan
pemberian imunisasi aktif (contoh vaksinasi Hepatitis B), atau pemberian
imunisasi pasif (imunoglobulin). Promosi kesehatan secara umum termasuk
nutrisi yang adekuat akan meningkatkan daya tahan tubuh.
2. Inaktivasi agen penyebab infeksi. Inaktivasi agen infeksi dapat dilakukan
dengan metode fisik maupun kimiawi. Contoh metode fisik adalah
pemanasan (Pasteurisasi atau Sterilisasi) dan memasak makanan seperlunya.
Metode kimiawi termasuk klorinasi air, disinfeksi
3. Memutus rantai penularan. Hal ini merupakan cara yang paling mudah untuk
mencegah penularan penyakit infeksi, tetapi hasilnya sangat bergantung
kepada ketaatan petugas dalam melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan.
Tindakan pencegahan ini telah disusun dalam suatu Isolation Precautions
(Kewaspadaan Isolasi) yang terdiri dari dua pilar/tingkatan yaitu Standard
Precautions (Kewaspadaan standar) dan Transmissionbased Precautions
(Kewaspadaan berdasarkan cara penularan).
4. Tindakan pencegahan paska pajanan (Post Exposure Prophylaxis / PEP)
terhadap petugas kesehatan. Hal ini terutama berkaitan dengan pencegahan
agen infeksi yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya, yang
sering terjadi karena luka tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya.
Penyakit yang perlu mendapat perhatian adalah hepatitis B, Hepatitis C dan
HIV.
Kewaspadaan standar untuk pelayanan semua pasien:3
3

1. Kebersihan tangan/Handhygiene
2. Alat Pelindung Diri (APD) : sarung tangan, masker, goggle (kaca mata
pelindung), face shield (pelindung wajah), gaun
3. Peralatan perawatan pasien
4. Pengendalian lingkungan
5. Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen
6. Kesehatan karyawan / Perlindungan petugas kesehatan
7. Penempatan pasien
8. Hygiene respirasi/Etika batuk
9. Praktek menyuntik yang aman
10. Praktek untuk lumbal punksi
Kewaspadaan berdasarkan transmisi.
Dibutuhkan untuk memutus mata rantai transmisi mikroba penyebab infeksi
dibuat untuk diterapkan terhadap pasien yang diketahui maupun dugaan terinfeksi
atau terkolonisasi patogen yang dapat ditransmisikan lewat udara, droplet, kontak
dengan kulit atau permukaan terkontaminasi.
1. Kewaspadaan transmisi Kontak1,3,5
Cara transmisi yang terpenting dan tersering menimbulkan Healthcareassociated infections (HAIs). Ditujukan untuk menurunkan risiko transmisi
mikroba yang secara epidemiologi ditransmisikan melalui kontak langsung
atau tidak langsung. Kontak langsung meliputi kontak permukaan kulit
terluka/abrasi orang yang rentan/petugas dengan kulit pasien terinfeksi atau
kolonisasi. Misal perawat membalikkan tubuh pasien, memandikan,
membantu pasien bergerak, dokter bedah dengan luka basah saat mengganti
verband, petugas tanpa sarung tangan merawat oral pasien HSV atau scabies.
Transmisi kontak tidak langsung terjadi kontak antara orang yang rentan
dengan benda yang terkontaminasi mikroba infeksius di lingkungan,
instrumen yang terkontaminasi, jarum, kasa, tangan terkontaminasi dan
belum dicuci atau sarung tangan yang tidak diganti saat menolong pasien satu
dengan yang lainnya, dan melalui mainan anak. Kontak dengan cairan sekresi
pasien terinfeksi yang ditransmisikan melalui tangan petugas atau benda mati
dilingkungan pasien.
2. Kewaspadaan transmisi droplet 1,3,5
4

Diterapkan sebagai tambahan Kewaspadaan Standar terhadap pasien dengan


infeksi diketahui atau suspek mengidap mikroba yang dapat ditransmisikan
melalui droplet (> 5m). Droplet yang besar terlalu berat untuk melayang di
udara dan akan jatuh dalam jarak 1 m dari sumber. Transmisi droplet
melibatkan kontak konjungtiva atau mucus membrane hidung/ mulut, orang
rentan dengan droplet partikel besar mengandung mikroba berasal dari pasien
pengidap atau carrier dikeluarkan saat batuk, bersin, muntah, bicara, selama
prosedur suction, bronkhoskopi. Dibutuhkan jarak dekat antara sumber dan
resipien < 1m.
3. Kewaspadaan transmisi melalui udara ( Airborne Precautions ) 1,3,5
Kewaspadaan transmisi melalui udara diterapkan sebagai tambahan
Kewaspadaan Standar terhadap pasien yang diduga atau telah diketahui
terinfeksi mikroba yang secara epidemiologi penting dan ditransmisikan
melalui jalur udara. Seperti misalnya transmisi partikel terinhalasi (varicella
zoster) langsung melalui udara.
Ditujukan untuk menurunkan risiko transmisi udara mikroba penyebab
infeksi baik yang ditransmisikan berupa droplet nuklei (sisa partikel kecil <
5m evaporasi dari droplet yang bertahan lama di udara) atau partikel debu
yang mengandung mikroba penyebab infeksi. Mikroba tersebut akan terbawa
aliran udara > 2m dari sumber, dapat terinhalasi oleh individu rentan di ruang
yang sama dan jauh dari pasien sumber mikroba, tergantung pada faktor
lingkungan, misal penanganan udara dan ventilasi yang penting dalam
pencegahan transmisi melalui udara, droplet nuklei atau sisik kulit luka
terkontaminasi (S. aureus).

2.2

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI TB


Pencegahan dan pengendalian infeksi TB di Fasilitas Pelayanan Kesehatan terdiri

dari 4 pilar yaitu: 5


1. Manajerial
2. Pengendalian Administratif
3. Pengendalian Lingkungan
4. Pengendalian dengan Alat Perlindungan Diri
2.3

MANAJERIAL
1. Pihak manajerial adalah pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Kepala
Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten /Kota dan/atau atasan dari institusi
terkait.
2. Komitmen, kepemimipinan dan dukungan manajemen yang efektif berupa
penguatan dari upaya manajerial bagi program PPI TB meliputi:
3. Membuat kebijakan pelaksanaan PPI TB yang merupakan bagian dari
program PPI Fasyankes dengan mengeluarkan SK penunjukkan Tim /
Penanggung jawab
4. Membuat kebijakan dan SPO mengenai alur pasien untuk semua pasien
batuk, alur pelaporan dan surveilans
5. Memberi pelatihan PPI TB bagi petugas yang terlibat dalam program PPI TB
6. Membuat perencanaan program PPI TB secara komprehensif
7. Membuat dan memastikan desain, konstruksi dan persyaratan bangunan serta
pemeliharaannya sesuai PPI TB
8. Menyediakan sumber daya untuk terlaksananya program PPI TB meliputi
tenaga, anggaran, sarana dan prasarana yang dibutuhkan termasuk aspek
kesehatan kerja.
9. Monitoring dan Evaluasi
10. Melakukan kajian di unit terkait penularan TB dengan menggunakan daftar
tilik, menganalisa dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan

11. Melaksanakan Advokasi, Komunikasi, Mobilisasi dan Sosialisasi terkait PPI


TB
12. Surveilans petugas (kepatuhan menjalankan SPO dan kejadian infeksi)
Memfasilitasi kegiatan riset operasional
2.4

PENGENDALIAN ADMINISTRATIF

Pengendalian Administratif adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah/mengurangi


pajanan M.Tb kepada petugas kesehatan, pasien, pengunjung dan lingkungan dengan
menyediakan, mensosialisasikan dan memantau pelaksanaan standar prosedur dan alur
pelayanan.
Upaya ini mencakup:
1. Melaksanakan triase dan pemisahan pasien batuk, mulai dari pintu masuk
pendaftaran fasyankes.
2. Mendidik pasien mengenai etika batuk.
3. Menempatkan semua suspek dan pasien TB di ruang tunggu yang mempunyai
ventilasi baik, dan terpisah dengan pasien umum.
4. Menyediaan tisu dan masker, serta tempat pembuangan tisu maupun
pembuangan dahak yang benar.
5. Memasang poster, spanduk dan bahan untuk KIE
6. Mempercepat proses penatalaksanaan pelayanan bagi pasien suspek dan TB,
termasuk diagnostik, terapi dan rujukan sehingga waktu berada pasien di
fasyankes dapat sesingkat mungkin.
7. Melaksanakan skrining bagi petugas yang merawat pasien TB.
8. Menerapkan SPO bagi petugas yang tertular TB.
9. Melaksanakan pelatihan dan pendidikan mengenai PPI TB bagi semua
petugas kesehatan.

Secara ringkas, upaya pengendalian administratif ini dapat dicapai dengan


melaksanakan lima langkah penatalaksanaan pasien sebagai berikut:
Tabel 2.1 Lima Langkah Penatalaksanaan Pasien

Gambar 2.1 Etika Batuk


2.5

Edukasi dan penerapan etika batuk

Petugas harus mampu memberi pendidikan yang adekuat mengenai pentingnya


menjalankan etika batuk kepada pasien untuk mengurangi penularan. Pasien yang batuk
diinstruksikan untuk memalingkan kepala dan menutup mulut / hidung dengan tisu.
Kalau tidak memiliki tisu maka mulut dan hidung ditutup dengan tangan atau pangkal
lengan. Sesudah batuk, tangan dibersihkan, dan tisu dibuang pada tempat sampah yang
khusus disediakan untuk ini. (kantong kuning / infeksius). 2
Petugas yang sedang sakit sebaiknya tidak merawat pasien. Apabila tetap merawat
pasien, maka petugas harus mengenakan masker bedah. Terutama apabila petugas bersin
atau batuk, dan harus melaksanakan etika batuk.2
2.6

PENGENDALIAN LINGKUNGAN

Pengendalian

Lingkungan

adalah

upaya

peningkatan

dan

pengaturan

aliran

udara/ventilasi dengan menggunakan teknologi untuk mencegah penyebaran dan


9

mengurangi / menurunkan kadar percik renik di udara. Upaya pengendalian dilakukan


dengan menyalurkan percik renik kearah tertentu (directional airflow) dan atau ditambah
dengan radiasi utraviolet sebagai germisida.6
2.7

Pemanfaatan Sistem Ventilasi

Sistem Ventilasi adalah sistem yang menjamin terjadinya pertukaran udara di dalam
gedung dan luar gedung yang memadai, sehingga konsentrasi droplet nuklei menurun.
Secara garis besar ada dua jenis sistem ventilasi yaitu:
1. Ventilasi Alamiah: adalah sistem ventilasi yang mengandalkan pada pintu dan
jendela terbuka, serta skylight (bagian atas ruangan yang bisa dibuka/terbuka)
untuk mengalirkan udara dari luar kedalam gedung dan sebaliknya.Indonesia
sebaiknya menggunakan ventilasi alami dengan menciptakan aliran udara
silang (cross ventilation) dan perlu dipastikan arah angin yang tidak
membahayakan petugas atau pasien lain.
2. Ventilasi Mekanik: adalah sistem ventilasi yang menggunakan peralatan
mekanik untuk mengalirkan dan mensirkulasi udara di dalam ruangan secara
paksa untuk menyalurkan/menyedot udara ke arah tertentu sehingga terjadi
tekanan udara positif dan negatif. Termasuk exhaust fan, kipas angin berdiri
(standing fan) atau duduk.
3. Ventilasi campuran (hybrid): adalah sistem ventilasi alamiah ditambah
dengan penggunaan peralatan mekanik untuk menambah efektifitas
penyaluran udara.
Pemilihan jenis sistem ventilasi tergantung pada jenis fasilitas dan keadaan
setempat. Pertimbangan pemilihan sistem ventilasi suatu fasyankes berdasarkan kondisi
lokal yaitu struktur bangunan, iklim cuaca, peraturan bangunan, budaya, dana dan
kualitas udara luar ruangan serta perlu dilakukan monitoring dan pemeliharaan secara
periodik.
Pengaturan tata letak ruangan seperti antara ruangan infeksius dan non infeksius,
pembagian area (zoning) tempat pelayanan juga perlu memperoleh perhatian untuk PPI
TB.
10

Pemantauan sistem ventilasi harus memperhatikan 3 unsur dasar, yaitu:


1. Laju ventilasi (Ventilation Rate): Jumlah udara luar gedung yang masuk ke
dalam ruangan pada waktu tertentu.
2. Arah aliran udara (airflow direction): Arah aliran udara dalam gedung dari
area bersih ke area terkontaminasi
3. Distribusi udara atau pola aliran udara (airflow pattern): Udara luar perlu
terdistribusi ke setiap bagian dari ruangan dengan cara yang efisien dan udara
yang terkontaminasi dialirkan keluar dengan cara yang efisien.
Kebutuhan ventilasi yang baik, bervariasi tergantung pada jenis ventilasi yang
digunakan, seperti resirkulasi udara atau aliran udara segar. Harus ada dua hasil
pengukuran untuk mengukur laju ventilasi, yaitu (1) dengan menghitung volume ruangan
dan (2) menghitung kecepatan angin Dari hasil perhitungan akan didapat pertukaran
udara per jam (ACH = airchanges per hour). Pertukaran udara yang memenuhi
persyaratan PPI-TB minimal 12x/jam.
2.8

PENGENDALIAN DENGAN PERLINDUNGAN DIRI

Penggunaan alat pelindung diri pernapasan oleh petugas kesehatan di tempat pelayanan
sangat penting untuk menurunkan risiko terpajan, sebab kadar percik renik tidak dapat
dihilangkan dengan upaya administratif dan lingkungan. 1,3
Petugas kesehatan perlu menggunakan respirator pada saat melakukan prosedur
yang berisiko tinggi, misalnya bronkoskopi, intubasi, induksi sputum, aspirasi sekret
saluran napas, dan pembedahan paru. Selain itu, respirator ini juga perlu digunakan saat
memberikan perawatan kepada pasien atau saat menghadapi/menangani pasien tersangka
MDR-TB dan XDR-TB di poliklinik. 1,3
Petugas kesehatan dan pengunjung perlu mengenakan respirator jika berada
bersama pasien TB di ruangan tertutup. Pasien atau tersangka TB tidak perlu
menggunakan respirator partikulat tetapi cukup menggunakan masker bedah untuk
melindungi lingkungan sekitarnya dari droplet. 1,3

11

2.9

Pemakaian Respirator Partikulat

Respirator partikulat untuk pelayanan kesehatan N95 atau FFP2 (health care particular
respirator), merupakan masker khusus dengan efisiensi tinggi untuk melindungi
seseorang dari partikel berukuran < 5 mikron yang dibawa melalui udara. Pelindung ini
terdiri dari beberapa lapisan penyaring dan harus dipakai menempel erat pada wajah
tanpa ada kebocoran. Masker ini membuat pernapasan pemakai menjadi lebih berat.
Harganya lebih mahal daripada masker bedah. Sebelum memakai masker ini, petugas
kesehatan perlu melakukan fit test. 3
Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan fit test :
1. Memeriksa sisi masker yang menempel pada wajah untuk melihat adanya
cacat atau lapisan yang tidak utuh. Jika cacat atau terdapat lapisan yang tidak
utuh, maka tidak dapat digunakan dan perlu diganti.
2. Memastikan tali masker tersambung dan menempel dengan baik di semua
titik sambungan.
3. Memastikan klip hidung yang terbuat dari logam dapat disesuaikan bentuk
hidung petugas Fungsi alat ini akan menjadi kurang efektif dan aman bila
tidak menempel erat pada wajah.
Beberapa keadaan yang dapat menimbulkan keadaan demikian, yaitu:
1. Adanya janggut atau rambut diwajah bagian bawah
2. Adanya gagang kacamata
3. Ketiadaan satu atau dua gigi pada kedua sisi yang dapat mempengaruhi
perlekatan bagian wajah masker.
Langkah langkah melakukan fit test respirator
1. Genggamlah respirator dengan satu tangan, posisikan sisi depan bagian
hidung pada ujung jari-jari Anda, biarkan tali pengikat respirator menjuntai
bebas di bawah tangan Anda.
2. Posisikan respirator di bawah dagu Anda dan sisi untuk hidung berada di atas
3. Tariklah tali pengikat respirator yang bawah dan posisikan tali di bawah
telinga. Tariklah tali pengikat respirator yang atas dan posisikan tali agak
tinggi di belakang kepala Anda, di atas telinga
4. Letakkan jari-jari kedua tangan Anda di atas bagian hidung yang terbuat dari
12

logam. Tekan sisi logam, dengan dua jari untuk masing-masing tangan,
mengikuti bentuk hidung Anda. Jangan menekan dengan satu tangan karena
dapat mengakibatkan respirator bekerja kurang efektif
5. Tutup bagian depan respirator dengan kedua tangan, dan hati-hati agar posisi
respirator tidak berubah. Pemeriksaan Segel Positif
6. Hembuskan napas kuat-kuat. Tekanan positif di dalam respirator berarti tidak
ada kebocoran. Bila terjadi kebocoran atur posisi dan/ atau ketegangan tali.
Uji kembali kerapatan respirator. Ulangi langkah tersebut sampai respirator
benar-benar tertutup rapat.
Pemeriksaan Segel Negatif
1. Tarik napas dalam-dalam. Bila tidak ada kebocoran, tekanan negatif di dalam
respirator akan membuat respirator menempel ke wajah. Kebocoran akan
menyebabkan hilangnya tekanan negatif di dalam respirator akibat udara
masuk melalui celah-celah pada segelnya.
2. Lamanya penggunaan maksimal 1 minggu dengan pemeliharaan yang benar
3. Cara pemeliharaan dan penyimpanan yang benar (setelah dipakai diletakkan
di tempat yang kering dan dimasukkan dalam kantong berlubang)

Gambar 2.2 Cara pemeliharaan dan penyimpanan yang benar


2.10

Edukasi dan Penerapan Etika Batuk

Petugas harus mampu memberi edukasi yang adekuat mengenai pentingnya menjalankan
etika batuk kepada pasien untuk mengurangi penularan. Pasien yang batuk / bersin
diinstruksikan untuk memalingkan kepala dan menutup mulut / hidung dengan tisu.
Kalau tidak memiliki tisu maka mulut dan hidung ditutup dengan tangan atau pangkal
lengan. Sesudah batuk, tangan dibersihkan, dan tisu dibuang pada tempat sampah yang
khusus disediakan untuk ini. 2
13

Petugas yang sedang sakit sebaiknya tidak merawat pasien. Apabila tetap merawat
pasien, maka petugas harus mengenakan masker bedah. Apabila petugas bersin atau
batuk, maka etika batuk dan kebersihan tangan seperti di atas harus diterapkan.
2.11

Keselamatan dan Keamanan Laboratorium Tb

Konsep perlindungan diri petugas Laboratorium tetap mengacu pada Kewaspadaan


Standar dan Kewaspadaan Berdasarkan Transmisi melalui udara (airborne) dan
Transmisi melalui Kontak apabila sedang memproses spesimen. Petugas Lab yang
menangani pemeriksaan BTA dan kultur BTA berhak mendapatkan pemeriksaan
kesehatan rutin setiap tahun. 6
Kehati-hatian dalam melakukan prosedur laboratorium perlu ditekankan terutama
apabila kemungkinan menimbulkan aerosol. Pekerjaan harus dilakukan dalam lemari
Biologic Safety Cabinet kelas I atau IIA dengan keamanan tingkat 2 (Biosafety level 2)
yang dilengkapi laminar-airflow dan filter HEPA. Sebelum bekerja, meja kerja kabinet
dialasi dengan bahan penyerap yang sudah dibasahi larutan disinfektans. Setiap selesai
bekerja, permukaan kabinet harus dibersihkan dengan disinfektans. Lampu UV harus
selalu dinyalakan apabila kabinet dalam keadaan tidak digunakan. Untuk pemeliharaan
biosafety cabinet perlu dilakukan pengecekan berkala minimal 1 (satu) kali dalam
setahun oleh teknisi yang kompeten dan tersertifikasi. Untuk pemeriksaan kultur dan
resistensi perlu dilakukan dengan tingkat keamanan BSL 2 menggunakan BSC 2B
dengan akses yang sangat dibatasi. 5
Sistem ventilasi udara laboratorium Tb harus diatur sedemikian rupa sehingga
udara mengalir masuk sesuai area bersih ke area tercemar dan keluar ke udara bebas yang
tidak dilalui lalu lintas manusia. Ruang pemrosesan dianjurkan selalu terpasang dan
dinyalakan lampu UV bila dalam keadaan tidak digunakan. Lampu harus selalu dalam
keadaan bersih dan efek germisidal lampu diperiksa secara rutin setiap bulan
menggunakan alat pengukur. 3
2.12

Keamanan Cara Pengumpulan Sputum

Pengumpulan sputumPengumpulan sputum oleh pasien harus dilakukan dalam ruangan


terbuka, sputum collection booth, atau ruangan dengan pengaturan sistem ventilasi yang
14

benar. Udara dalam booth dialirkan ke udara bebas di tempat yang bebas lalu lintas
manusia. Apabila didampingi, pedamping harus menggunakan respirator partikulat.
Pasien harus tetap dalam ruangan sampai batuk mereda dan tidak batuk lagi. Ruangan
harus dibiarkan kosong sampai diperkirakan udara sudah bersih sebelum pasien
berikutnya diperbolehkan masuk. Untuk sarana dengan sumber daya terbatas, pasien
diminta mengumpulkan sputum di luar gedung, di tempat terbuka, bebas lalu lintas
manusia, jauh dari orang yang menemani atau orang lain, jendela atau aliran udara
masuk. Jangan menggunakan toilet atau WC sebagai tempat penampungan sputum. 3,6
Untuk pengumpulan sputum yang baik, pasien perlu mendapat penjelasan oleh
petugas. Pasien diminta menarik napas dalam sebanyak 3 x kemudian pada tarikan ke 3
menahan napas kemudian batuk dengan tekanan. Wadah sputum harus bermulut lebar dan
bertutup ulir. Wadah tidak perlu steril tetapi harus bersih dan kering. Selalu menggunakan
wadah yang disediakan khusus oleh laboratorium. Waktu pengumpulan dilakukan dengan
metode SPS yaitu sewaktu saat berobat ke fasyankes, pagi hari keesokannya di rumah
dan sewaktu saat kontrol dan membawa sputum pagi hari ke fasyankes . 3,5,6

Gambar 2.3 Tempat pengumpulan dahak diluar gedung

15

2.13

Kebersihan tangan setelah menampung sputum.

Pasien perlu diberitahu untuk membersihkan tangan setelah menampung sputum baik
dengan air mengalir dan sabun, atau dengan larutan handrubs. Fasilitas pelayanan
kesehatan harus menyediakan sarana tersebut. 6

Gambar 2.4
2.14

Proteksi saat transportasi pasien

Apabila pasien akan ditransportasikan keluar dari ruang isolasi, maka pasien harus
dipakaikan masker bedah untuk melindungi lingkungan sekitar. 6

Gambar 2.5
16

BAB 3
KESIMPULAN
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang dapat ditularkan melalui droplet maupun
udara. Upaya penanggulangan TB-HIV di tujukan agar tidak terjadinya transmisi antara
pasien TB dengan pasien TB, pasien HIV dengan pasien TB maupun pasien TB MDR,
dan juga dengan pasien HIV yang telah mengidap TB atau TB-MDR.
Keberhasilan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi TB di fasilitas pelayanan
kesehatan sangat bergantung pada kebijakan, dedikasi, kerja keras dan kemampuan para
penyelenggara pelayanan serta komitmen bersama untuk mencapai hasil maksimal yang
berkualitas. Termasuk tenaga kesehatan dengan cara penggunaan alat pelindung diri yang
sesuai dan benar.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Tuberkulosis di
Rumah Sakit. Jakarta: Depkes RI; 2010.
2. World Health Organization. WHO Policy on TB Infection Control in Health Care
Facilities, Congregate Settings and Households. Jeneva: WHO; 2009.
3. Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Tuberkulosis di Fasilias Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Bina Husada; 2012.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Guidelines for Prevention the
Transmission of Mycobacterium Tuberculosis in Healthcare Settings. Atlanta: CDC;
2005.
5. Perhimpunan

Pengendalian

Infeksi

Indonesia.

Pedoman

Pencegahan

dan

Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya.


6. Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Teknis Prasarana Sistem Tata Udara pada
Bangunan Rumah Sakit. Jakarta: Bina Upaya Kesehatan; 2012.

18